Docstoc

ptk ips

Document Sample
ptk ips Powered By Docstoc
					                                    BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

             Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia dan berlangsung

   sepanjang hayat. Sejak kelahirannya ke dunia, anak memiliki kebutuhan untuk

   memperoleh pendidikan. Pendidikan sangat dibutuhkan oleh setiap manusia agar

   dapat melakukan aktivitas sosial di masyarakat tempat mereka berada. Adalah

   suatu kenyataan, anak sebagai makhluk yang belum dewasa harus ditolong,

   dibantu, dibimbing, serta diarahkan agar dapat mengembangkan potensinya

   secara optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui

   pendidikan formal di sekolah.

             Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah tidak hanya berfungsi

   mengembangkan kecerdasan anak tetapi juga mengembangkan kepribadian.

             Bagi guru IPS ............, memberikan soal IPS yang berkaitan dengan

   soal cerita bukanlah hal yang mudah. Seringkali siswa yang telah memahami

   topik IPS secara teoristis mengalami kesulitan ketika bentuk soal atau

   permasalahan disajikan dalam bentuk cerita. Sementara itu, dalam kurikulum

   Pendidikan Dasar 1994, fungsi pengajaran IPS adalah mempersiapkan anak didik

   agar dapat menjadi warga masyarakat yang demokratis dalam kehidupan sehari-

   hari melalui latihan yang praktis, bervariasi, dan aplikatif. Di sisi lain ada

   sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam membaca teks IPS. Sementara
   itu, siswa akan lebih mudah mencerna soal cerita IPS kelas …. sampai ….

   apabila siswa mampu membaca teks dengan baik dan benar, mengerti maksud

   cerita yang ada di dalamnya, serta memahami gambar yang ada. Bagi sebagian

   besar guru IPS, mengajarkan materi IPS yang berkaitan dengan kemampuan

   siswa memahami soal uraian bukanlah hal yang mudah. Meskipun banyak siswa

   yang telah mampu memahami topik IPS secara teoritis, akan tetapi banyak

   mengalami kesulitan ketika bentuk soal atau permasalahan disajikan dalam

   bentuk soal uraian. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu memberikan materi

   yang mudah diterima oleh siswa. Di samping itu pula, hendaknya guru

   memberikan contoh yang kongkret dan jelas berkaitan dengan materi soal

   berbentuk uraian. Bila upaya tersebut dapat dilakukan dengan baik, diharapkan

   hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS juga akan meningkat.

     Berdasarkan situasi tersebut, dilakukan penelitian untuk mengembangkan

   strategi pembelajaran yang efektif dalam memahami materi IPS bagi siswa.

   Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dalam bentuk penelitian

   tindakan kelas.

     Berdasarkan uraian di atas, judul yang diambil oleh peneliti dalam penelitian

   ini adalah “Meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui

   Pembelajaran      Kooperatif   Model    Learning     Together       Pada   Siswa

   …………………………………………….Tahun Pelajaran 2001/2002”



B. Rumusan Masalah
           Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa

   permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:

   1. Apakah pembelajaran kooperatif model learning together berpengaruh

      terhadap      hasil       belajar     Ilmu   Pengetahuan   Sosial    siswa

      …………………………..tahun pelajaran 2001/2002?

   2. Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

      dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning

      together    pada      siswa   Kelas   ……………………………………..               tahun

      pelajaran 2001/2002?



C. Tujuan Penelitian

           Berdasar atas rumusan masalaah di atas, maka tujuan dilaksanakan

   penelitian ini adalah:

   1. Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model learning

      together terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa Kelas

      …………………………………………..tahun pelajaran 2001/2002.

   2. Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran

      Ilmu Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif

      model learning together pada siswa Kelas …………………………………….



D. Pentingnya Penelitian
   1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang

      pembelajaran kooperatif model learning together dalam pembelajaran Ilmu

      Pengetahuan Sosial oleh guru Kelas …………………………………….

   2. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi

      belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

   3. Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran

      yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.

   4. Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk

      saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar.

   5. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Ilmu

      Pengetahuan Sosial dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Ilmu

      Pengetahuan Sosial.

   6. Sumbangan pemikiran bagi guru Ilmu Pengetahuan Sosial dalam mengajar

      dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

E. Definisi Operasional Variabel

          Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu

   didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

   1. Metode pembelajaran kooperatif model learning together adalah:

      Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok-

      kelompok untuk menetapkan tujuan bersama.

   2. Motivasi belajar adalah:
      Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah

      laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan

      kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat

      sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

   3. Prestasi belajar adalah:

      Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor,

      setelah siswa mengikuti pelajaran.

F. Batasan Masalah

          Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah

   meliputi:

   1. Penelitian      ini        hanya     dikenakan    pada      siswa      Kelas

      ……………………………………. tahun pelajaran 2001/2002.

   2. Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran

      2001/2002.

   3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan ………………………
                                    BAB II

                             KAJIAN PUSTAKA



A. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

   1. Pengertian

             Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu

      unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hasil yang telah dicapai

      pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan,

      dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa

      Indonesia, (1995: 787). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah

      penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata

      pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang

      diberikan oleh guru.

             Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau

      memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang

      hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si

      pebelajar.

             Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan

      prestasi belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian

      prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian

      hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi

      lebih dahulu sebaiknya kita simak pendapat yang mengatakan bahwa hasil
belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar

menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu,

satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan

kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan

harian dan sebagainya.

       Nawawi (1981: 100) mengemukakan pengertian hasil adalah sebagai

berikut: Keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah

yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai

sejumlah pelajaran tertentu.

       Pendapat lain dikemukakan oleh Sadly (1977: 904), yang memberikan

penjelasan tentang hasil belajar sebagai berikut, “Hasil yang dicapai oleh

tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu”, sedangkan Marimba

(1978: 143) mengatakan bahwa “hasil adalah kemampuan seseorang atau

kelompok yang secara langsung dapat diukur”.

       Menurut Nawawi (1981: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar

dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

a. Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di

   dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya

   keterampilan menggunakan alat.

b. Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan

   tentang apa yang dikerjakan.

c. Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

              Sejak awal dikembangkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku

   manusia, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang

   efektif.     Para   pakar   dibidang    pendidikan     dan   psikologi   mencoba

   mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Dengan

   diketahuinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar, para

   pelaksana maupun pelaku kegiatan belajar dapat memberi intervensi positif

   untuk meningkatkan hasil belajar yang akan diperoleh.

              Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak,

   yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

   a. Faktor Internal

                 Foktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan

       keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau

       melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain

       pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Untuk

       menjaga agar keadaan jasmani tetap sehat, nutrisi harus cukup. Hal ini

       disebabkan, kekurangan kadar makanan akan mengakibatkan keadaan

       jasmani lemah yang mengakibatkan lekas mengantuk dan lelah.

                 Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar.

       Faktor-faktor tersebut diantaranya:

       -      Adanya keinginan untuk tahu

       -      Agar mendapatkan simpati dari orang lain.
   -    Untuk memperbaiki kegagalan

   -    Untuk mendapatkan rasa aman.

   b.

b. Faktor Eksternal

           Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut

   mempengaruhi belajar anak, yang antara lain berasal dari orang tua,

   sekolah, dan masyarakat.

   1. Faktor yang berasal dari orang tua

               Faktor yang berasal dari orang tua ini utamanya adalah sebagi

        cara mendidik orang tua terhadap anaknya. Dlam hal ini dapat

        dikaitkan suatu teori, apakah orang tua mendidik secara demokratis,

        pseudo demokratis, otoriter, atau cara laisses faire. Cara atau tipe

        mendidik yang dimikian masing-masing mempunyai kebaikannya dan

        ada pula kekurangannya.

               Menurut hemat peneliti, tipe mendidik sesuai dengan

        kepemimpinan Pancasila lebih baik dibandingkan tipe-tipe diatas.

        Karena orang tua dalam mencampuri belajar anak, tidak akan masuk

        terlalu dalam.

               Prinsip kepemimpinan Pancasila sangat manusiawi, karena

        orang tua akan bertindak ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun

        karsa, dan tut wuri handayani. Dalam kepemimpinan Pancasila ini

        berarti orang tua melakukan kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada
   anak untuk dapat diteladani. Orang tua juga selalu memperhatikan

   anak selama belajar baik langsung maupun tidak langsung, dan

   memberikan arahan-arahan manakala akan melakukan tindakan yang

   kurang tertib dalam belajar.

           Dalam kaitan dengan hal ini, Tim Penyusun Buku Sekolah

   Pendidikan Guru Jawa Timur (1989: 8) menyebutkan, “Di dalam

   pergaulan di lingkungan keluarga hendaknya berubah menjadi situasi

   pendidikan, yaitu bila orang tua memperhatikan anak, misalnya anak

   ditegur dan diberi pujian….” Pendek kata, motivasi, perhatian, dan

   kepedulian orang tua akan memberikan semangat untuk belajar bagi

   anak.

2. Faktor yang berasal dari sekolah

           Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata

   pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru

   banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang

   menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Terhadap

   mata pelajaran, karena kebanyakan anak memusatkan perhatianya

   kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang

   diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan,

   kemampuan, dan kemauan belajar anak tidak dapat dilepaskan dari

   pengaruh atau campur tangan orang lain. Oleh karena itu menjadi

   tugas guru untuk membimbing anak dalam belajar.
3. Faktor yang berasal dari masyarakat

            Anak   tidak     lepas   dari     kehidupan    masyarakat.   Faktor

    masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan

    anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung

    atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut

    mempengaruhi.

       Selain beberapa faktor internal dan eksternal di atas, faktor yang

mempengaruhi hasil belajar dapat disebutkan sebagai berikut:

1) Minat

            Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan

   berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap

   objek masalah maka dapat diharakan hasilnya baik. Masalahnya

   adalah bagainama seorang pendidik selektif dalam menentukan atau

   memilih masalah atau materi pelajaran yang menarik siswa.

   Berikutnya mengemas materi yang dipilih dengan metode yang

   menarik. Karena itu pendidik/ pengajar perlu mengenali karakteristik

   siswa,    misalnya      latar   belakang     sosial    ekonomi,   keyakinan,

   kemampuan, dan lain-lain.

2) Kecerdasan

            Kecerdasan memegang peranan penting dalam menentukan

   berhasil tidaknya seserorang. Orang pada umumnya lebih mampu

   belajar daripada orang yang kurang cerdas. Berbagai penelitian
   menunjukkan hubungan yang erat antara tingkat kecerdasan dan hasil

   belajar di sekalah (Sumadi, 1989: 11).

3) Bakat

           Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang

   perlu dilatih dan dikembangkan agar dapat terwujud (Utami, 1992:

   17). Bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan

   dapat dilakukan pada masa yang akan datang. Selain kecerdasan bakat

   merupakan faktor yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam

   belajar (Sumadi, 1989: 12). Belajar pada bidang yang sesuai dengan

   bakatnya akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhasil.

4) Motivasi

           Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri anak untuk

   melakukan sesuatu tindakan. Besar kecilnya motivasi banyak

   dipengaruhi oleh kebutuhan individu yang ingin dipenuhi (Suharsimi,

   1993: 88). Ada dua macam motivasi yaitu motivasi instrinsik dan

   motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang

   ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan. Sedangkan,

   motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul oleh rangsangan dari

   luar atau motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi

   belajar, misalnya angka, ijazah, tingkatan, hadiah, persaingan,

   pertentangan, sindiran, cemoohan dan hukuman. Motivasi ini tetap
             diperlukan di sekolah karena tidak semua pelajaran sesuai dengan

             minat dan kebutuhan siswa.

                    Dengan memiliki kemampuan pada suatu mata pelajaran, baik

             itu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mampu dikembangkan,

             siswa diharapkan dapat mengalih gunakan kemampuan-kemampuan

             tersebut dalam mengahadapi masalah-masalah dalam berbagai bidang

             pelajaran. Kemampuan bernalar, kemampuan memilih strategi yang

             cocok dengan permasalahannya, maupun kemampuan menerima dan

             mengemukakan suatu informasi secara tetap dan cermat merupakan

             kemampuan umum yang dapat digunakan dalam berbagai bidang.



B. Pengajaran Kooperatif

          Pengajaran kooperatif (Cooperatif Learning) memerlukan pendekatan

   pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam

   memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Houlobec, 2001).

   1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

             Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta

      harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, manusia

      dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar

      menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa

      bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
          Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu dengan sama lain.

   Karena sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan

   manusia lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus

   menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya.

   Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang

   silih asih (saling menyayangi atau saling mencintai). Pembelajaran kooperatif

   merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi

   yang saling mengasihi antar sesama siswa.

          Perbedaan antar manusia yang tidak terkelola secara baik dapat

   menimbulkan ketersinggungan dan kesalahpahaman antar sesamanya. Agar

   manusia terhindar dari ketersinggungan dan kesalahpahaman maka diperlukan

   interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Pembelajaran kooperatif

   adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi

   yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang

   dapat menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro

   (200: 78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran

   yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah,

   silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam

   masyarakat nyata”.

2. Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

          Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya

   terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam
pembelajaran kooperatif adalah adanya: “(1) saling ketergantungan positif; (2)

interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk

menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja

diajarkan” (Abdurrahman & Bintoro, 2000:78-79)

a. Saling ketergantungan positif

           Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang

   mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.           Hubungan yang

   saling membutuhan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan

   motivasi ntuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan

   tersebut dapat dicapai melalui: (a) saling ketergantungan pencapaian

   tujuan, (b) saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling

   ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan

   (e) saling ketergantungan hadiah.

b. Interaksi tatap muka

           Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat

   saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak

   hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam

   itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar

   sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat

   penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari

   sesamanya.

c. Akuntabilitas individual
              Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar

      kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui

      penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil

      penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru

      kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa

      anggota kelompok mengetahui siapa anggota yang memerluan bantuan

      dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai

      kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, dan

      karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan urunan demi

      kemajuan kelompok. Penilaian kelompok secara individual inilah yang

      dimaksudkan dengan akuntabilitas individual.

   d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

              Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti

       tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan

       mengkritifk teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak

       mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat

       dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak

       hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak

       dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran

       dari guru tetapi juga dari sesama siswa.

3. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
       Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda

dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran

kooperatif tersebut dapat dikemukan sebagai berikut ini.

1. Merumuskan tujuan pembelajaran. Ada dua tujuan pembelajaran yang

   perlu diperhatikan oleh guru, tujaun akademik (academic objectives) dan

   tujuan keterampilan bekerja sama (collaborative skill objectives). Tujuan

   akademik dirumuskan sesuai dengan taraf perkembangan siswa dan

   analisis tugas atau analisis konsep. Tujuan keterampilan bekerja sama

   meliputi keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang

   lain, dan mengelola konflik.

2. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota

   dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6

   siswa. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok

   belajar. Ketiga faktor tersebut adalah: (1) taraf kemampuan siswa, (2)

   ketersediaan bahan, dan (3) ketersediaan waktu. Jumlah anggota

   kelompok belajar hendaknya kecil agar tiap siswa aktif menjalin

   kerjasama menyelesaikan tugas. Ada 4 pertanyaan yang hendaknya

   dijawab oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kelompok.

   Keempat pertanyaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

   a. Pengelompokkan        siswa    secara     homogen    atau   heterogen?

       Pengelompokkan      siswa    hendaknya     heterogen.   Keheterogenan
   kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama, (kalau mungkin),

   tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.

b. Bagimana menempatkan siswa dalam kelompok? Ada dua jenis

   kelompok belajar kooperatif, yaitu (1) yang berorientasi bukan pada

   tugas (non-task-orientied), dan (2) yang berorientasi pada tugas (task

   oriented). Kelompok belajar kooperatif yang berorientasi bukan pada

   tugas tidak menuntut adanya pembagian tugas untuk tiap anggota

   kelompok. Kelompok belajar semacam ini tampak seperti pada saat

   siswa mengerjakan soal-soal Ilmu Pengetahuan Sosial berbentuk

   prosedur penyelesaian dan mencocokkan pendapatnya. Kelompok

   belajar yang berorientasi pada tugas menekankan adanya pembagian

   tugas yang jelas bagi semua anggota kelompok. Kelompok belajar

   semacam ini tampak seperti pada saat siswa melakukan kunjungan ke

   kebun binatang sehinga harus disusun oleh panitia untuk menentukan

   siapa yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara, seksi transportasi,

   seksi konsumsi, dan sebagainya. Siswa yang baru mengenal belajar

   kooperatif   dapat   ditempatkan   dalam   kelompok     belajar   yang

   berorientasi pada tugas, dari jenis tugas yang sederhana hingga yang

   kompleks.

c. Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru. Kebebasan

   memilih teman sering menyebabkan kelompok belajar menjadi

   homogen sehingga tujuan belajar kooperatif tidak tercapai. Anggota
tiap kelompok belajar hendaknya ditentukan secara acak oleh guru.

Ada 3 teknik untuk menentukan anggota kelompok secara acak yang

dapat digunakan oleh guru. Ketiga teknik tersebut dapat dikemukakan

sebagai berikut.

1) Berdasarkan metode sosiometri. Melalui metode sosiometri guru

   dapat menentukan siswa yang tergolong disukai oleh banyak

   teman (bintang kelas) hingga yang paling tidak disukai atau tidak

   memiliki teman (terisolasi). Berdasarkan metode sosiometri

   tersebut guru menyusun kelompok-kelompok belajar yang di

   dalam tiap kelompok ada siswa yang tergolong banyak teman,

   yang tergolong biasa, dan yang terisolasi.

2) Berdasarkan kesamaan nomor. Jika jumlah siswa dalam kelas

   terdiri atas 30 siswa dan guru ingin membentuk 10 kelompok

   belajar yang dari 1 hingga 10. Selanjutnya, para siswa yang

   bernomor        sama   dikelompokkan   sehingga   terbentuklah   10

   kelompok siswa dengan masing-masing beranggotakan 3 orang

   siswa yang memiliki karakteristik heterogen.

3) Menggunakan teknik acak berstrata. Para siswa dalam kelas lebih

   dahulu dikelompokkan secara homogen atas dasar jenis kelamin

   dan atas dasar kemampuannya (tinggi, sedang, rendah), dan

   sebagainya. Setelah itu, secara acak siswa diambil dari kelompok
         homogen tersebut dan dimasukkan ke dalam sejumlah kelompok-

         kelompok belajar yang heterogen.

3. Menetukan tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa hendaknya disusun

   agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka tetapi cukup terpisah

   antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Susunan tempat

   duduk dapat dalam bentuk lingkaran atau berhadap-hadapan.

4. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif.

   Cara menyusun bahan ajar dan penggunaannya dalam suatu kegiatan

   pembelajaran dapat menetukan tidak hanya efektivitas pencapaian tujuan

   belajar siswa. Bahan ajar hendaknya dibagikan kepada semua siswa agar

   mereka dapat berpartisipasi dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang

   telah ditetapkan. Jika kelompok belajar telah memiliki cukup pengalaman,

   guru tidak perlu membagikan bahan ajar dengan berbagai petunjuk

   khusus. Jika kelompok belajar belum banyak pengalaman atau masih

   baru, guru perlu memberi tahu para siswa bahwa mereka harus bekerja

   sama, bukan bekerja sendiri-sendiri. Ada 3 macam cara untuk

   meningkatkan saling ketergantungan positif. Ketiga macam cara tersebut

   dapat dikemukakan sebagai berikut.

   a. Saling ketergantungan bahan. Tiap kelompok hanya diberi satu bahan

      ajar dan kelompok harus bekerja sama untuk mempelajarinya.

   b. Saling ketergantungan informasi. Tiap anggota kelompok diberi bahan

      ajar yang berbeda untuk selanjutnya disatukan untuk disintesiskan.
       Bahan ajar juga dapat disajikan dalam bentuk “Jigsaw Puzzle”

       sehingga dengan demikian tiap siswa memiliki bagian dari bahan

       yang diperlukan untuk melengkapi atau menyelesaikan tugas.

   c. Saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar. Bahan ajar

       disusun dalam suatu bentuk pertandingan antar kelompok yang

       memiliki kekuatan keseimbangan sebagai dasar untuk meningkatkan

       saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Keseimbangan

       kekuatan antar kelompok pelu diperhatikan Karena pertanding antar

       kelompok yang memiliki kekuatan seimbang atau memiliki peluang

       untuk kalah atau menang yang sama dapat meningkatkan motivasi

       belajar.

5. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif.

   Saling ketergantungan positif dapat diciptakan melalui pembagian tugas

   kepada tiap anggota kelompok dan mereka bekerja untuk saling

   melengkapi. Dalam mata pelajara IPA misalnya, seorang anggota

   kelompok diberi tugas sebagai peneliti, yang lainnya seagai penyimpul,

   yang lainnya lagi sebagai penulis, yang lainya lagi sebagai pemberi

   semangat, dan ada pula yang menjadi pengawas terjalinya kerja sama.

   Penugasan untuk memerankan suatu fungsi semacam itu merupakan

   metode yang efektif untuk melatih keterampilan menjalin kerja sama.
6. Menjelaskan tugas akademik. Ada beberapa aspek yang perlu disadari

   oleh para guru dalam menjelaskan tugas akademik kepada para siswa.

   Beberapa aspek tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

   a. Menyusun tugas sehingga siswa menjadi jelas mengenai tugas

      tersebut. Kejelasan tugas sangat penting bagi para siswa karena dapat

      menghindarkan mereka dari freustasi atau kebingungan. Dalam

      pembelajaran kooperatif siswa yang tidak dapat memahami tugasnya

      dapat bertanya kepada kelompoknya sebelum bertanya kepada guru.

   b. Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman

      siswa di masa lampau.

   c. Menjelaskan berbagai konsep atau pengertian atau istilah, prosedur

      yang harus diikuti atau pengertian contoh kepada para siswa.

   d. Mengajukan      berbagai       pertanyaan   khusus   untuk   mengetahui

      pemahaman para siswa mengenai tugas mereka.

7. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama.

   Menjelaskan tujaun dan keharusan bekerja sama kepada para siswa

   dilakukan dengan contoh sebagai berikut.

   a. Meminta kepada kelompok untuk menghasilkan suatu karya atau

      produk tertentu. Jika karya kelompok berupa laporan, tiap anggota

      kelompok harus menandatangani laporan tersebut sebagai tanda

      bahwa ia setuju dengan isi laporan kelompok dan dapat menjelaskan

      alasan isi laporan tersebut.
   b. Menyediakan hadiah bagi kelompok. Pemberian hadiah merupakan

       salah satu cara untuk mendorong kelompok menjalin kerja sama

       sehingga terjalin pula rasa kebersamaan antar anggota kelompok.

       Semua anggota kelompok harus saling membantu agar masing-masing

       memperoleh skor hasil belajar yang optimal karena keberhasilan

       kelompok ditentukan oleh keberhasilan tiap anggota.

8. Menyusun akuntabilitas individual. Suatu kelompok belajar tidak dapat

   dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkan adanya anggota

   kelompok yang mengerjakan seluruh pekerjan. Suatu kelompok belajar

   juga tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkn

   adanya anggota yang tidak melakukan apa pun demi kelompok. Untuk

   menjamin agar seluruh anggota kelompok benar-benar menjalin kerja

   sama dan agar seluruh anggota kelompok benar-benar menjalin kerja

   sama dan agar kelompok mengetahui adanya anggota kelompok yang

   memerlukan bantuan atau dorongan, guru harus sering melakukan

   pengukuran untuk mengetahui taraf penguasaan tiap siswa terhadap

   materi pelajaran yang sedang dipelajari.

9. Menyusun kerja sama antar kelompok. Hasil positif yang ditemukan

   dalam suatu kelompok belajar kooperatif dapat diperluas ke seluruh kelas

   dengan menciptakan kerja sama antar kelompok. Nilai tambahan dapat

   diberikan jika seluruh siswa di dalam kelas meraih standar mutu yang

   tinggi. Jika suatu kelompok telah menyelesaikan pekerjaannya dengan
   baik, para anggotanya dapat diminta untuk membantu kelompok-

   kelompok lain yang belum selesai. Upaya semacam ini memungkinkan

   terciptanya suasana kehidupan kelas yang sehat, yang memungkinkan

   semua potensi siswa bekembang optimal dan terintegrasi.

10. Menjelaskan kriteria keberhasilan. Penilaian dalam pembelajaran

   kooperatif bertolak dari penilaian acuan patokan (criterion referenced).

   Pada awal kegiatan belajar guruhendaknya menerangkan secara jelas

   kepada siswa mengenai bagaimana pekerjaan mereka akan dinilai.

11. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan. Perkataan kerja sama atau

   gotong royong sereing memiliki konotasi dan penggunaan yang

   bermacam-macam. Oleh karena itu, guru perlu mendifinisikan perkatann

   kerja sama tersebut secara operasional dalam bentuk berbagai perilaku

   tersebut antara lain dapat dikemukakan dengan kata-kata seperti

   “Tetaplah berada dalam kelompokmu”, “Berbicaralah pelan-pelan”,

   Berbicaralah menurut giliran,” dan sebagainya. Jika kelompok mulai

   berfungsi secara efektif, perilaku yang diharapkan dapat mencakup hal-

   hal sebagai berikut.

   a. Tiap anggota kelompok menjelaskan bagaimana memperoleh

       jawaban.

   b. Meminta kepada tiap anggota kelompok untuk mengaitkan pelajaran

       baru dengan yang telah dipelajari sebelumnya.
   c. Memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua anggota kelompok

      memahami      bahan    yang    dipelajari   dan   menyetujui   jawaban-

      jawabannya.

   d. Mendorong semua anggota kelompok agar berpartisipasi dalam

      menyelesaikan tugas.

   e. Memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai apa yang

      dikatakan oleh anggota lain.

   f. Jangan mengubah pikiran karena berbeda dari pikiran anggota lain

      tanpa penjelasan yang logis.

   g. Memberikan kritik kepada ide, bukan kepada pribadi.

12. Memantau perilaku siswa. Setelah semua kelompok mulai bekerja, guru

   harus menggunakan sebagian besar waktunya untuk memantau kegiatan

   siswa. Tujuan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang

   prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan,

   dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan tugas kalau perlu.

13. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaian tugas. Pada saat

   melakukan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang

   prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan,

   dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan tugas kalau perlu.

14. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja sama.

   Pada saat memantau kelompok-kelompok yang sedang belajar, guru

   kadang-kadang menemukan siswa yang tidak memiliki keterampilan
          untuk menjalin kerja sama yang cukup dan adanya kelompok yang

          memiliki masalah dalam menjalin kerja sama. Dalam kondisi semacam

          itu, guru perlu memberikan nasihat agar siswa dapat bekerja efektif.

      15. Menutup pelajaran. Pada saat pelajaran berakhir, guru perlu meringkas

          pokok-pokok pelajaran, meminta kepada siswa untuk mengemukakan ide

          atau contoh, dan menjawab pertanyaan dan hsil belajar mereka.

      16. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa. Guru menilai kualitas

          pekerjaan atau hasil belajar para siswa berdasarkan penilaian acuan

          patokan. Para anggota kelompok hendaknya juga diminta untuk

          memberikan umpan balik mengenai kualitas pekerjaan dan hasil belajar

          mereka.

      17. Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok. Meskipun waktu

          belajar di kelas terbatas, diperlukan waktu untuk berdiskusi dengan para

          siswa untuk membahas kualitas kerja sama antar anggota kelompok pada

          hari itu. Pembicaraan dengan para siswa dilakukan untuk mengetahui apa

          yang telah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan

          pada hari berikutnya.



C. Model LT (Learning Together)

         Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang

   per tim dan heterogen kemampuannya. Para siswa bekerja sebagai suatu keompok

   untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok, berbagai gagasan, dan membantu
satu sama lain dengan jawaban, dan meminta bantuan dari teman yang lain

sebelum bertanya kepada guru, dan si guru memberikan penghargaan kepada

kelompok berdasarkan kinerja kelompok.
                                        BAB III

                          METODOLOGI PENELITIAN



A. Bentuk Penelitian Tindakan

          Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena

   penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.

   Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan

   bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang

   diinginkan dapat dicapai.

          Menurut     Oja    dan   Sumarjan     (dalam    Titik   Sugiarti,   1997:   8)

   mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu, (a) guru

   sebagai peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d)

   administrasi sosial eksperimental.

          Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti,

   penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian

   tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru

   secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan,

   pengamatan, dan refleksi.

          Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun,

   kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan
   seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan

   didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.



B. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian

   1. Tempat Penelitian

          Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan

   penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di

   ……………………….

   2. Waktu Penelitian

              Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat

       penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

       September semester ganjil tahun pelajaran 2001/2002.

   3. Subyek Penelitian

              Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ………………………..

      tahun pelajaran 2001/2002 pada pokok bahasan perkembangan teknologi

      untuk produksi, komunikasi dan transportasi.



C. Rancangan Penelitian

          Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut

   Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat

   reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan

   rasional dari tindakan mereka dalam         melaksanakan tugas, memperdalam
pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki

kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis, 2000:

3).

       Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian

yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi

pembelajaran yang dilakukan.

       Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan

pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya

adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).

       Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan,

maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan

Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke

siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action

(tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada

siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,

dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang

berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian

tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut.
                                                                Putaran 1

                        Refleksi            Rencana
                                         awal/rancangan


                       Tindakan/                               Putaran 2
                       Observasi
                                          Rencana yang
                        Refleksi            direvisi

                       Tindakan/                               Putaran 3
                       Observasi

                                          Rencana yang
                        Refleksi            direvisi

                       Tindakan/
                       Observasi


                            Gambar 3.1 Alur PTK

Penjelasan alur di atas adalah:

1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun

   rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di

   dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
   2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti

      sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil

      atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran                model learning

      together.

   3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau

      dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang

      diisi oleh pengamat.

   4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat

      membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

             Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana

      masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan

      membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir

      masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki

      sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.

D. Instrumen Penelitian

          Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

   1. Silabus

             Yaitu   seperangkat    rencana   dan    pengaturan   tentang     kegiatan

      pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.

   2. Rencana Pelajaran (RP)
          Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai

   pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-

   masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan

   pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.




3. Lembar Kegiatan Siswa

          Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses

   pengumpulan data hasil kegiatan belajar mengajar.

4. Tes formatif

          Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,

   digunakan      untuk   mengukur    kemampuan      pemahaman    konsep    Ilmu

   Pengetahuan Sosial pada pokok bahasan perkembangan teknologi untuk

   produksi, komunikasi dan transportasi. Tes formatif ini diberikan setiap akhir

   putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif).

   Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, kemudian

   penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan

   reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang

   baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-

   langkah analisis butir soal adalah sebagai berikut:

   a. Validitas Tes
              Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk

   mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat

   ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini

   dapat dihitung dengan korelasi Product Moment:

                      N  XY   X  Y 
    rxy 
              N  X                                     
                                                                (Suharsimi    Arikunto,
                             X  N  Y   Y 
                       2           2        2          2




   2001: 72)



   Dengan: rxy              : Koefisien korelasi product moment

                 N          : Jumlah peserta tes

                 ΣY         : Jumlah skor total

                 ΣX         : Jumlah skor butir soal

                 ΣX2        : Jumlah kuadrat skor butir soal

                 ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal

b. Reliabilitas

              Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus

   belah dua sebagai berikut:

              2r1 / 21 / 2
    r11                       (Suharsimi Arikunto, 2001: 93)
            (1  r1 / 21 / 2 )

   Dengan: r11              : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan

                 r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes
   Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih besar dari

   harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel.

c. Taraf Kesukaran

             Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal

   adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf

   kesukaran adalah:

        B
   P          (Suharsimi Arikunto, 2001: 208)
        Js

   Dengan: P           : Indeks kesukaran

               B       : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar

               Js      : Jumlah seluruh siswa peserta tes

   Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:

   -   Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 adalah sukar

   -   Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 adalah sedang

   -   Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 adalah mudah

d. Daya Pembeda

             Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk

   membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang

   berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya

   pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk

   menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut:
               B A BB
         D           PA  PB            (Suharsimi Arikunto, 2001: 211)
               JA JB

        Dimana:

         D : Indeks diskriminasi

         BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar

         BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar

         JA : Jumlah peserta kelompok atas

         JB : Jumlah peserta kelompok bawah

                   BA
            PA        Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
                   JA

                   BB
            PB        Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
                   JB

                    Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir

         soal sebagai berikut:

        -    Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 adalah jelek

        -    Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 adalah cukup

        -    Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 adalah baik

        -    Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 adalah sangat baik



E. Metode Pengumpulan Data
          Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui

   observasi pengolahan belajar aktif, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes

   formatif.



F. Teknik Analisis Data

          Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran

   perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis

   deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan

   kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk

   mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon

   siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses

   pembelajaran.

          Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan

   siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara

   memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

   Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

   1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif

               Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang

      selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga

      diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:


       X 
               X
               N
   Dengan         : X       = Nilai rata-rata

                       Σ X = Jumlah semua nilai siswa

                       Σ N = Jumlah siswa

2. Untuk ketuntasan belajar

          Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan

   secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar

   kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar

   bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar

   bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari

   atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar

   digunakan rumus sebagai berikut:


   P
         Siswa. yang.tuntas.belajar x100%
                  Siswa


3. Untuk lembar observasi

   a. Lembar observasi pengelola metode pembelajarn koooperatif model

      Learning Together.

      Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan metode pembelajaran

      kooperatif model Learning Together digunakan rumus sebagai berikut :

            P1  P 2
      X=
               2

      Dimana P1 = Pengamat 1 dan P2 = Pengamat 2
       b. Lembar observasi aktifitas guru dan siswa

           Untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan siswa digunakan

           rumus sebagai berikut :

                  x
           %=       x 100 % dengan
                 x

                 Jumah.hasil. pengama tan   P1  P 2
           X=                             =
                   Jumlah. pengama tan         2

           Dimana : %          = Presentase pengamatan

                       X       = Rata-rata

                       ∑x      = Jumlah rata-rata

                       P1      = Pengamat 1

                       P2      = Pengamat

                                         BAB IV

                   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



       Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data

observasi berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif model learning

together dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data

tes formatif siswa pada setiap siklus.

       Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang

betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat

validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
       Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan

pengelolaan pembelajaran kooperatif model learning together yang digunakan untuk

mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif model learning

together dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan aktivitas

siswa dan guru.

       Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah

diterapkan pembelajaran kooperatif model learning together.



A. Analisis Item Butir Soal

           Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrument penelitian

   berupa tes dan mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan

   dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes

   yang dilakukan meliputi:

   1. Validitas

                Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes

       sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari

       perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari

       validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.



                  Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa

                                  Soal Valid                                    Soal Tidak Valid
        1, 2, 3, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26,   5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24,
        27, 28, 29, 30, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45              31, 32, 33, 34, 35, 40, 46
2. Reliabilitas

           Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya.

   Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 554. Harga

   ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 28)

   dengan r (95%) = 0,374. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah

   memenuhi syarat reliabilitas.

3. Taraf Kesukaran (P)

           Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal.

   Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat:

    -   20 soal mudah

    -   15 soal sedang

    -   11 soal sukar



4. Daya Pembeda

           Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal

   dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang

   berkemampuan rendah.

           Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria

   jelek sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal.

   Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat

   validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
B. Analisis Data Penelitian Persiklus

   1. Siklus I

       a. Tahap Perencanaan

                 Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran

          yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat

          pengajaran yang mendukung.

      b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

                 Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan

          pada tanggal 7 September 2001 di Kelas Kelas ………… dengan jumlah

          siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun

          proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah

          dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan

          pelaksaaan belajar mengajar

                 Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I

          dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses

          belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada

          siklus I adalah sebagai berikut:

                      Tabel 4.1 Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus I

                                                                  Penilaian   Rata-
           No                   Aspek yang diamati
                                                                 P1     P2    rata
       Pengamatan KBM
       A. Pendahuluan
          1. Memotivasi siswa
          2. Menyampaikan tujuan pembelajaran                2   2      2
          3. Menghubungkan dengan pelajaran sebelumnya       2   2      2
          4. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok
              belajar



  I    B. Kegiatan inti
          1. Mempresentasikan langkah-langkah metode         3   3      3
              pembelajaran kooperatif
          2. Membimbing siswa melakukan kegiatan             3   3      3
          3. Melatih keterampilan kooperatif                 3   3      3
          4. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
          5. Memberikan bantuan kepada kelompok yang         3   3      3
              mengalami kesulitan
       C. Penutup
          1. Membimbing siswa membuat rangkuman              3   3      3
          2. Memberikan evaluasi                             3   3      3
 II    Pengelolaan Waktu                                     2   2      2
       Antusiasme Kelas
 III        1. Siswa antusias                               2    2     2
            2. Guru antisias                                3    3     3
       Jumlah                                               32   32    32
    Keterangan       :     Nilai      : Kriteria
                        1) : Tidak Baik
                        2) : Kurang Baik
                        3) : Cukup Baik
                        4) : Baik

         Berdasarkan tabel di atas aspek-aspek yang mendapatkan kriteria

kurang    baik   adalah    memotivasi      siswa,      menyampaikan   tujuan

pembelajran, pengelolaan waktu, dan siswa antusias. Keempat aspek

yang mendapat nilai kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan

yang terjadi pada siklus I dan akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi

dan revisi yang akan dilakukan pada siklus II.

         Hasil observasi berikutnya adalah aktivitas guru dan siswa seperti

pada tabel berikut :
           Tabel 4.2. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus I

 No                     Aktivitas Guru yang diamati               Presentase
  1   Menyampaikan tujuan                                             5,0
  2   Memotivasi siswa                                                8,3
  3   Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya                         8,3
  4   Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi                  6,7
  5   Menjelaskan materi yang sulit                                  13,3
  6   Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep          21,7
  7   Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan      10,0
  8   Memberikan umpan balik                                         18,3
  9   Membimbing siswa merangkum pelajaran                            8,3
 No                     Aktivitas siswa yang diamati              Presentase
  1   Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru                    22,5
  2   Membaca buku                                                   11,5
  3   Bekerja dengan sesama anggota kelompok                         18,7
  4   Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru                  14,4
  5   Menyajikan hasil pembelajaran                                   2,9
  6   Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide                          5,2
  7   Menulis yang relevan dengan KBM                                 8,9
  8   Merangkum pembelajaran                                          6,9
  9   Mengerjakan tes evaluasi                                        8,9



        Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang

paling dominan pada siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa

dalam menemukan konsep, yaitu 21,7 %. Aktivitas lain yang

presentasinya cukup besar adalah memberi umpan balik/ evaluasi, tanya

jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar

13,3 %. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan adalah

mengerjakan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 22,5 %. Aktivitas lain

yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesama anggota

kelompok, diskusi antara siswa/ antara siswa dengan guru, dan membaca

buku yaitu masing-masing 18,7 % 14,4 dan 11,5 %.
        Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar

dengan metode pembelajaran kooperatif model Learning Together sudah

dilaksanakan   dengan     baik,   walaupun    peran   guru         masih   cukup

dominanuntuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model tersebut

masih dirasakan baru oleh siswa.

                Table 4.3. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I

                           Keterangan                                Keterangan
  No. Urut     Nilai                    No. Urut      Nilai
                            T      TT                                T       TT
      1          60                 √     15           60                     √
      2          50                 √     16           70            √
      3          80         √             17           70            √
      4          70         √             18           80            √
      5          60                 √     19           70            √
      6          80         √             20           50                     √
      7          50                 √     21           70            √
      8          70         √             22           70            √
      9          80         √             23           60                     √
     10          50                 √     24           80            √
     11          60                 √     25           70            √
     12          60                 √     26           60                     √
     13          80         √             27           70            √
     14          70         √             28           80            √
   Jumlah       920         7       7   Jumlah        960            10       4
 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2800
 Jumlah Skor Tercapai 1880
 Rata-Rata Skor Tercapai 67,14




Keterangan:        T                                        : Tuntas

                   TT                                       : Tidak Tuntas

                   Jumlah siswa yang tuntas                 : 17

                   Jumlah siswa yang belum tuntas           : 11

                   Klasikal                                 : Belum tuntas
          Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I

     No                             Uraian                   Hasil Siklus I
      1     Nilai rata-rata tes formatif                        67,14
      2     Jumlah siswa yang tuntas belajar                       17
      3     Persentase ketuntasan belajar                       60,71



             Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan

   pembelajaran kooperatif model learning together diperoleh nilai rata-rata

   prestasi belajar siswa adalah 67,14 dan ketuntasan belajar mencapai

   60,71% atau ada 17 siswa dari 28 siswa sudah tuntas belajar. Hasil

   tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa

   belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya

   sebesar 60,71% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki

   yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih baru dan asing

   terhadap metode baru yang diterapkan dalam proses belajar mengajar.

c. Refleksi

            Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi

   dari hasil pengamatan sebagai berikut:

   1) Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan

      tujuan pembelajaran

   2) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu

   3) Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung.

d. Refisi
               Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih

       terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya refisi untuk dilakukan pada

       siklus berikutnya.

       1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas

          dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak

          untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

       2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan

          informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan

       3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa

          sehingga siswa bisa lebih antusias.

2. Siklus II

   a. Tahap perencanaan

               Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran

       yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat

       pengajaran yang mendukung.




   b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan

               Pelaksanaan   kegiatan   belajar   mengajar   untuk    siklus   II

       dilaksanakan pada tanggal 14 September 2001 di Kelas ………………

       dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai

       guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran
dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau

kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan

(observasi)     dilaksanakan   bersamaan      dengan       pelaksanaan     belajar

mengajar.

       Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II

dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses

belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah

tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai

berikut:

              Tabel 4.1. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus II

                                                               Penilaian   Rata-
 No                     Aspek yang diamati
                                                              P1     P2    rata
       Pengamatan KBM
       D. Pendahuluan
          1. Memotivasi siswa                                 3       3      3
          2. Menyampaikan tujuan pembelajaran                 3       4     3,5
          3. Menghubungkan dengan pelajaran sebelumnya
          4. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok
              belajar
       E. Kegiatan inti
                                                                  3   4     3,5
          1. Mempresentasikan langkah-langkah metode
  I                                                               4   4      4
              pembelajaran kooperatif
                                                                  4   4      4
          2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
          2. Melatih keterampilan kooperatif
                                                                  4   4      4
          3. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
          4. Memberikan bantuan kepada kelompok yang
                                                                  3   3      3
              mengalami kesulitan
       A. Penutup
          1.   Membimbing siswa membuat rangkuman                 3   4     3,5
          2.   Memberikan evaluasi                                4   4      4
 II    Pengelolaan Waktu                                          3   3      2
       Antusiasme Kelas
 III      1.   Siswa antusias                                  4      3     3,5
          2.   Guru antisias                                   4      4      4
       Jumlah                                                  41     43    42
    Keterangan       :     Nilai      : Kriteria
                     1)   : Tidak Baik
                     2)   : Kurang Baik
                     3)   : Cukup Baik
                     4)   : Baik



       Dari tabel di atas, tanpak aspek-aspek yang diamati pada kegiatan

belajar mengajar (siklus II) yang dilaksanakn oleh guru dengan

menerapkan metode pembelajarn kooperatif model Learning Together

mendapatkan penilaian yang cukup baik dari pengamat. Maksudnya dari

seluruh penilaian tidak terdapat nilai kurang. Namun demikian penilaian

tesebut belum merupakan hasil yang optimal, untuk itu ada beberapa

aspek yang perlu mendapatkan perhatian untuk penyempurnaan penerapan

pembelajaran selanjutnya. Aspek-aspek tersebut adalah memotivasi siswa,

membimbing siswa merumuskan kesimpulan/ menemukan konsep, dan

pengelolaan waktu.

        Dengan penyempurnaan aspek-aspek I atas alam penerapan

metode pembelajarn kooperatif model Learning Together diharapkan

siswa dapat menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dan

mengemukakan pendapatnya sehingga mereka akan lebih memahami

tentang apa ynag telah mereka lakukan.

Berikut disajikan hasil observasi akivitas guru dan siswa :



           Tabel 4.2. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II

 No                   Aktivitas Guru yang diamati               Presentase
  1   Menyampaikan tujuan                                               6,7
  2   Memotivasi siswa                                                  6,7
  3   Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya                           6,7
  4   Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi                   11,7
  5   Menjelaskan materi yang sulit                                    11,7
  6   Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep            25,0
  7   Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan         8,2
  8   Memberikan umpan balik                                           16,6
  9   Membimbing siswa merangkum pelajaran                              6,7
 No                     Aktivitas siswa yang diamati                Presentase
  1   Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru                      17,9
  2   Membaca buku                                                     12,1
  3   Bekerja dengan sesama anggota kelompok                           21,0
  4   Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru                    13,8
  5   Menyajikan hasil pembelajaran                                     4,6
  6   Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide                            5,4
  7   Menulis yang relevan dengan KBM                                   7,7
  8   Merangkum pembelajaran                                            6,7
  9   Mengerjakan tes evaluasi                                         10,8

       Berdasarkan tabel I di atas, tampak bahwa aktifitas guru yang

paling dominan pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa

dalam menentukan konsep yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus I,

aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami

penurunan adalah memberi umpan balik/evaluasi/ Tanya jawab (16,6%),

mnjelaskan materi yang sulit (11,7). Meminta siswa mendiskusikan dan

menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan membimbing siswa merangkum

pelajaran (6,7%).

       Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus

II adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (21%). Jika

dibandingkan dengan siklus I, aktifitas ini mengalami peningkatan.

Aktifitas    siswa           yang      mengalami        penurunan       adalah

mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (17,9%). Diskusi antar
siswa/ antara siswa dengan guru (13,8%), menulis yang relevan dengan

KBM (7,7%) dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun aktifitas

siswa yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%),

menyajikan    hasil     pembelajaran    (4,6%),    menanggapi/mengajukan

pertanyaan/ide (5,4%), dan mengerjakan tes evaluasi (10,8%)



                Table 4.3. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II

                           Keterangan                           Keterangan
  No. Urut     Nilai                    No. Urut     Nilai
                            T      TT                           T       TT
      1          80         √              15         70        √
      2          70                 √      16         60                 √
      3          90         √              17         80        √
      4          50         √              18         70        √
      5          70         √              19         70        √
      6          70                 √      20         70        √
      7          70         √              21         60                 √
      8          60                 √      22         90        √
      9          70         √              23         80        √
     10          80         √              24         60                 √
     11          80         √              25         80        √
     12          70         √              26         60                 √
     13          70         √              27         90        √
     14          70         √              28         70        √
   Jumlah       1000       11       3    Jumlah      1010       10       4
 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2800
 Jumlah Skor Tercapai 2010
 Rata-Rata Skor Tercapai 71,79




Keterangan:        T                                     : Tuntas

                   TT                                    : Tidak Tuntas

                   Jumlah siswa yang tuntas              : 21
                      Jumlah siswa yang belum tuntas      :7

                      Klasikal                            : Belum tuntas



              Tabel 4.4. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II

    No                           Uraian                    Hasil Siklus II
     1   Nilai rata-rata tes formatif                          71,79
     2   Jumlah siswa yang tuntas belajar                        21
     3   Persentase ketuntasan belajar                         75,00



          Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa

   adalah 71,79 dan ketuntasan belajar mencapai 75,00% atau ada 21 siswa

   dari 28 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada

   siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami

   peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil

   belajar siswa ini karena siswa mambantu siswa yang kurang mampu

   dalam mata pelajaran yang mereka pelajari. Disamping itu adanya

   kemampuan guru yang mulai meningkat dalam prose belajar mengajar.

c. Refleksi

          Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil

   pengamatan sebagai berikut:



   1) Memotivasi siswa

   2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

   3) Pengelolaan waktu
   d. Revisi Rancangan

                Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat

       kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan

       pada siklus II antara lain:

       1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih

          termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.

       2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut

          dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.

       3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan

          kesimpulan/menemukan konsep.

       4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan

          pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

       5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi

          soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan

          belajar mengajar.




3. Siklus III

   a. Tahap Perencanaan
          Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran

   yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat

   pengajaran yang mendukung.

b. Tahap kegiatan dan pengamatan

          Pelaksanaan        kegiatan   belajar    mengajar   untuk   siklus   III

   dilaksanakan       pada    tanggal    21       September   2001    di   Kelas

   ……………dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti

   bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada

   rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga

   kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus

   III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan

   belajar mengajar.

          Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III

   dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses

   belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah

   tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah

   sebagai berikut:




           Tabel 4.1. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus III
                                                            Penilaian   Rata-
 No                    Aspek yang diamati
                                                           P1     P2    rata
       Pengamatan KBM
       A. Pendahuluan
          1. Memotivasi siswa                              3       3     3
          2. Menyampaikan tujuan pembelajaran              4       4     4
          3. Menghubungkan dengan pelajaran sebelumnya
          4. Mengatur siswa dalam kelompok-kelompok
              belajar
       B. Kegiatan inti
                                                               4   4     4
          1. Mempresentasikan langkah-langkah metode
  I                                                            4   4     4
              pembelajaran kooperatif
                                                               4   4     4
          2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
          3. Melatih keterampilan kooperatif
                                                               4   3     3,5
          4. Mengawasi setiap kelompok secara bergiliran
          5. Memberikan bantuan kepada kelompok yang
                                                               3   3     3
              mengalami kesulitan
       C. Penutup
          1.   Membimbing siswa membuat rangkuman              4   4     4
          2.   Memberikan evaluasi                             4   4     4
 II    Pengelolaan Waktu                                       3   3     3
       Antusiasme Kelas
 III      1.   Siswa antusia                               4       4     4
          2.   Guru antisias                               4       4     4
       Jumlah                                              45      44   44,5
    Keterangan       :     Nilai      : Kriteria
                     1 : Tidak Baik
                     2. : Kurang Baik
                     3. : Cukup Baik
                     4. : Baik



         Dari tabel di atas, dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada

kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru dengan

menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Learning Together

mendapatkan penilaian cukup baik dari pengamat adalah memotivasi

siswa, membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep,

dan pengelolaan waktu.
        Penyempurnaan aspek-aspek diatas dalam menerapkan metode

pembelajaran kooperatif model Learning Together diharapkan dapat

berhasil semaksimal mungkin.

           Tabel 4.2. Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III

 No                     Aktivitas Guru yang diamati               Presentase
  1   Menyampaikan tujuan                                             6,7
  2   Memotivasi siswa                                                6,7
  3   Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya                        10,7
  4   Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi                 13,3
  5   Menjelaskan materi yang sulit                                  10,0
  6   Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep          22,6
  7   Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan      10,0
  8   Memberikan umpan balik                                         11,7
  9   Membimbing siswa merangkum pelajaran                           10,0
 No                     Aktivitas siswa yang diamati              Presentase
  1   Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru                    20,8
  2   Membaca buku                                                   13,1
  3   Bekerja dengan sesama anggota kelompok                         22,1
  4   Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru                  15,0
  5   Menyajikan hasil pembelajaran                                   2,9
  6   Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide                          4,2
  7   Menulis yang relevan dengan KBM                                 6,1
  8   Merangkum pembelajaran                                          7,3
  9   Mengerjakan tes evaluasi                                        8,5



        Berdasarkan tabel diatas tampak bahaw aktivitas guru yang

paling dominan pada siklus III adalah membimbing dan mengamati siswa

dalam menemukan konsep yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas menjelaskan

materi yang sulit dan memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab

menurun masing-masing sebesar (10%), dan (11,7%). Aktivitas lain yang

mengalami peningkatan adalah mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya

(10%), menyampiakan materi/strategi             /langkah-langkah (13,3%),

meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan (10%), dan
membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun aktivitas ynag

tidak menglami perubahan adalah menyampaikan tujuan (6,7%) dan

memotivasi siswa (6,7%).

        Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus

III adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (22,1%) dan

mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%), aktivitas yang

mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa (13,1%) dan diskusi

antar siswa/antara siswa dengan guru (15,0%). Sedangkan aktivitas yang

lainnya mengalami penurunan.



               Table 4.3. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III

                           Keterangan                          Keterangan
  No. Urut     Nilai                    No. Urut    Nilai
                            T      TT                          T       TT
      1          60                 √     15         80        √
      2          80         √             16         90        √
      3          80         √             17         80        √
      4          70         √             18         70        √
      5          70         √             19         80        √
      6          90         √             20         60                 √
      7          80         √             21         80        √
      8          60                 √     22         90        √
      9          80         √             23         80        √
     10          90         √             24         70        √
     11          70         √             25         80        √
     12          80         √             26         70        √
     13          90         √             27         70        √
     14          70         √             28         90        √
   Jumlah       1070       12       2   Jumlah      1090       13       1
 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2800
 Jumlah Skor Tercapai 2160
 Rata-Rata Skor Tercapai 77,14
   Keterangan:        T                                    : Tuntas

                      TT                                   : Tidak Tuntas

                      Jumlah siswa yang tuntas             : 25

                      Jumlah siswa yang belum tuntas       :3

                      Klasikal                             : Tuntas



              Tabel 4.4. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III

    No                           Uraian                    Hasil Siklus III
     1   Nilai rata-rata tes formatif                          77,14
     2   Jumlah siswa yang tuntas belajar                        25
     3   Persentase ketuntasan belajar                         89,29



          Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif

   sebesar 77,14 dan dari 28 siswa yang telah tuntas sebanyak 25 siswa dan

   3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal

   ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 89,29% (termasuk kategori

   tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari

   siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi

   oleh adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mempelajari materi

   pelajaran yang telah diterapkan selama ini serta ada tanggung jawab

   kelompok dari siswa yang lebih mampu untuk mengajari temannya

   kurang mampu.

c. Refleksi
          Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik

   maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan

   penerapan pembelajaran kooperatif model learning together. Dari data-

   data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:

   1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua

      pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum

      sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing

      aspek cukup besar.

   2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif

      selama proses belajar berlangsung.

   3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya           sudah mengalami

      perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

   4) Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.

d. Revisi Pelaksanaan

          Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran kooperatif

   model learning together dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta

   hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan

   dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang

   perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan

   mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan

   proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran kooperatif
         model learning together dapat meningkatkan proses belajar mengajar

         sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.



C. Pembahasan

  1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa

            Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran

     kooperatif model learning together memiliki dampak positif dalam

     meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin

     mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah

     disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II,

     dan III) yaitu masing-masing 60,71%, 75,00%, dan 89,29%. Pada siklus III

     ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

  2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

            Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses

     pembelajaran kooperatif model learning together dalam setiap siklus

     mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan

     prestasi belajar siswa dan penguasaan materi pelajaran yang telah diterima

     selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa

     pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

  3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran

            Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses

     pembelajaran Matematika dengan pembelajaran kooperatif model learning
together   yang paling dominan adalah, mendengarkan/memperhatikan

penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat

dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif.

         Sedangkan   untuk   aktivitas   guru   selama   pembelajaran   telah

melaksanakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model learning

together dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di

antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan

kegiatan, menjelaskan materi yang tidak dimengerti siswa, memberi umpan

balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup

besar.
                                       BAB V

                                   PENUTUP



A. Kesimpulan

          Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus,

   dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat

   disimpulkan sebagai berikut:

   1. Pembelajaran kooperatif model learning together memiliki dampak positif

      dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan

      ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (60,71%), siklus II

      (75,00%), siklus III (89,29%).

  2. Penerapan pembelajaran kooperatif model learning together mempunyai

      pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam

      belajar matematika, hal ini ditunjukan dengan antusias siswa yang

      menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pembelajaran

      kooperatif model learning together sehingga mereka menjadi termotivasi

      untuk belajar.
  3. Pembelajaran kooperatif model learning together memiliki dampak positif

     terhadap kerjasama antara siswa, hal ini ditunjukkan adanya tanggung jawab

     dalam kelompok dimana siswa yang lebih mampu mengajari temannya yang

     kurang mampu.




B. Saran

           Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses

  belajar mengajar matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang

  optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

  1. Untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif model learning together

     memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu

     menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan

     pembelajaran kooperatif model learning together dalam proses belajar

     mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.

  2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih

     sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai, walau

     dalam taraf yang sederhana,       dimana siswa nantinya dapat menemukan

     pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa

     berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
   3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya

       dilakukan    di   ………………………………………….                       tahun   pelajaran

       2001/2002.

   4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar

       diperoleh hasil yang lebih baik.




                               DAFTAR PUSTAKA


Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
       Algesindon.

Arikunto, Suharsimi. 1989. Penilaian Program Pendidikan. Proyek Pengembangan
       LPTK Depdikbud. Dirjen Dikti.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta:
       Rineksa Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
       Rineksa Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
       Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
       Rineksa Cipta.

Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon,
      Inc. Boston.

Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif. Lembaga Penelitian
      Pendidikan dan Penerangan Ekonomi.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Djamarah. Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Foster, Bob. 1999. Seribu Pena SLTP Kelas I. Jakarta: Erlangga.

Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi
       Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.

Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Hamalik, Oemar. 1999. Kurikuum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
      Rosdakarya.

Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah PanitianPelatihan
      Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.

Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars.

Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
      Rosdakarya.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press.
      Universitas Negeri Surabaya.

Poerwodarminto. 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Bina Ilmu.

Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina
      Aksara.

Slameto, 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.

Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI,
      Universitas Terbuka.

Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
Suryosubroto, b. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa
      Cipta.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung:
      Remaja Rosdakarya.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan
      Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars.




          MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU

     PENGETAHUAN SOSIAL MELALUI PEMBELAJARAN

         KOOPERATIF MODEL LEARNING TOGETHER

                PADA SISWA KELAS ………………….

                      KEC. …………………………

                            TAHUN 2001/2002




            KARYA TULIS ILMIAH
                                     OLEH

                        ………………………………

                        NIP: …………………………………




            DINAS PENDIDIKAN KOTA …………………

               ………………………………………………..



                           LEMBAR PENGESAHAN


Laporan penelitian ini telah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi perpustakaan
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan dapat diajukan sebagai salah satu Karya
Ilmiah untuk Penetapan Angka Kredit Jabatas Guru pada Golongan IVa ke IVb.

                                                         ……………………..
       Kepala Sekolah


………………………                                                    ………………….




       Mengetahui                                           Mengetahui
 Pustakawan ……………………                                Kepala Cab. Din. Pendidikan
    Kecamatan …………….                                             Kecamatan ……



 ………………………                                             …………………………..
                                NIP: …………………


       Mengetahui                Mengetahui
 Kepala Dinas Pendidikan        Ketua P G R I
       Kota ……………….                     Kota ………



……………………..                 ………………………………
  Pembina Utama Muda            NPA:
…………………..
   NIP: …………………
                              KATA PENGANTAR



       Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan

limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan

karya ilmiah dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Melalui Pembelajaran Kooperatif Model learning together Pada Siswa Kelas

………………………………. Tahun Pelajaran 2001/2002”, penulisan karya ilmiah

ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai

sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak

didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja.

       Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari

berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya

kepada:

   1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ……………..

   2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………..

   3. Yth. Rekan-rekan Guru ……………………………

       Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk

itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis

harapkan.




                                                            Penulis
                                      ABSTRAK



…………………, 2001. Meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
   Melalui Pembelajaran Kooperatif Model learning together Pada Siswa
   ………………………………. Tahun Pelajaran 2001/2002


Kata Kunci: pembelajaran ips, kooperatif model learning together


        Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut
seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan
perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. Yang
diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja
kelompok, melainkan pada penstrukturannya. Jadi, sistem pengajaran cooperative
learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang
termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson, 1993),
yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal,
keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
        Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Apakah pembelajaran kooperatif
model learning together berpengaruh terhadap hasil belajar ilmu pengetahuan sosial?
(b) Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran ilmu pengetahuan sosial
dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together?
        Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengungkap pengaruh
pembelajaran kooperatif model learning together terhadap hasil belajar ilmu
pengetahuan sosial. (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya pembelajaran
kooperatif model learning together
        Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak
tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan
pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas
……………………………………. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif,
lembar observasi kegiatan belajar mengajar.
         Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami
peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (60,71%), siklus II (75,00%),
siklus III (89,29%).
        Simpulan dari penelitian ini adalah metode kooperatif model learning
together dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa
……………………………………….., serta model pembelajaran ini dapat digunakan
sebagai salah satu alternative ilmu pengetahuan sosial.
                                                      DAFTAR ISI



                                                                                                                        Halaman
Halaman Judul .................................................................................................
Halaman Pengesahan ......................................................................................
Kata Pengantar ................................................................................................
Abstrak ............................................................................................................
Daftar Isi ..........................................................................................................
BAB           I       PENDAHULUAN
                      A. Latar Belakang Masalah ...................................................

                      B. Perumusan Masalah ...........................................................

                      C. Tujuan Penelitian ..............................................................

                      D. Pentingnya Penelitian ........................................................

                      E. Definisi Operasional Variabel ...........................................

                      F. Batasan Masalah ................................................................

BAB          II       TINJAUAN PUSTAKA
                      A. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial .............................
                      B. Pengajaran Kooperatif ......................................................
                      C. Metode Learning Together ................................................


BAB         III       METODOLOGI PENELITIAN
                      A. Bentuk Penelitian Tindakan ..............................................

                      B. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian ............................

                      C. Rancangan Penelitian .......................................................

                      D. Instrumen Penelitian ..........................................................
                   E. Metode Pengumpulan Data ...............................................

                   F. Teknik Analisis Data .........................................................

BAB       IV       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                   A. Analisi Item Butir Soal ....................................................

                   B. Analisis Data Penelitian Persiklus ...................................

                   C. Pembahasan .......................................................................

BAB       V       PENUTUP
                   A. Kesimpulan .......................................................................

                   B. Saran-saran ........................................................................

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
Lampiran 4

       LEMBAR PENGAMATAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
           KOOPERATIF MODEL LEARNING TOGETHER
Nama Sekolah : …………………                             Nama Guru       : …………………
Mata pelajaran : …………………                           Hari/Tanggal    : …………………
Sub konsep     : …………………                           Pukul           : …………………

Petunjuk
Berikan penialaian anda dengan memberikan tanda cek ( √ ) pada kolom yang sesuai.
                                                                        Penilaian
 No                 Aspek yang diamati
                                                         Ya       Tidak     1     2   3   4
 1     Pelaksanaan
       A. Pendahuluan
           1. Memotivasi siswa.
           2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
       B. Kegiatan Inti
           1. Mendiskusikan        langkah    kegiatan
               bersama siswa.
           2 Membimbing           siswa     melakukan
               kegiatan.
           2. Membimbing siswa mendiskusikan
               hasil kegiatan dalam kelompok.
           3. Memberikan kesempatan pada siswa
               untuk       mempresentasikan      hasil
               penyelidikan.
           4. Membimbing         siswa     merumuskan
               kesimpulan /menemukan konsep.
       C. Pentup
          1. Membimbing siswa membuat
               rangkuman.
          2. Memberikan evaluasi.
  II   Pengelolaan waktu
          1.    Antusiasme kelas
 III
          2.    Guru Antusias


Keterangan :
     1. Kurang baik                                       …………, ……….2005
     2. Cukup baik                                            Pengamat
     3. Baik
     4. Sangat baik



                                                          ( ………………………… )
Lampiran 5

          LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA DAN GURU DALAM KBM

Nama Sekolah                 : …………………                   Tanggal            : …………………
Kelas/ Semester              : …………………                   Waktu              : …………………
Bahan Kajian                 : …………………                   Nama Guru          : …………………
Petunjuk Pengisian
Amatilah aktivitas gur dan siswa dalam kelompok sample selama kegiatan belajar berlangsung, kemudian isilah
lembar observasi dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan duduk di tempat yang memungkinkan dapat melihat semua aktivitas
    siswa yang diamati.
2. Setiap 2 menit pengamat melakukan pengamatan aktivitas guru dan siswa yang dominan, kemudian 1 menit
    pengamat menuliskan kode kategori pemngamatan.
3. pengamatan ditujukan untuk kedua kelompok yang melakukan secaraa bergantian setiap periode waktu tiga
    menit .
4. kode-kode kategori dituliskan secaraa berurutan sesuai dengan kejadian pada baris dan kolom yang tersedia.
5. Pengamatan dilakukan sejak guru memulai pelajaran dan dilakukan secaraa serempak.
                    Aktivitas Guru                                          Aktivitas Siswa
1. Menyampaikan tujuan
2. Memotivasi siswa/ merumuskan masalah                     1. Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan
3. mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya.                      guru.
4. menyampaikan langkah-langkah/ strategi.                  2. Membaca buku.
5. Menjelaskan materi yang sulit.                           3. Bekerja dengan sesamaa anggota kelompok.
6. membimbing menemukan konsep.                             4. Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru.
7. Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan               5. Menyediakan hasil pembelajaran.
    hasil kegiatan.                                         6. Mengajukan/ menanggapi pertanyaan/ ide.
8. Memberi umpan balik/ evaluasi/ tanya jawab.              7. Menulis yang relevan dengan kbm.
9. Membimbing siswa merangkum pelajaran.                    8. Merangkum pembelajaran.
                                                            9. Mengerjakan tes evaluasi.


                             Nama Guru :




 Nama Murid                                                 Nama Murid




 Nama Murid                                                 Nama Murid




 Nama Murid




 Nama Murid
                                                                                 ……………., ………..2003
                                                                                     Pengamat,

                                                                                        ( ……………………… )
Lampiran 6

                  Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran I

 No       Nama (Guru – Siswa)                                     RP I (90 menit)                              Jumlah
                                    P
                                         1       2       3       4       5       6        7      8       9
              ……………….              P1    2       2       2       1       6       4        2      6       5       30
                                   P2    2       1       2       1       4       5        4      7       4       30
                Rata-rata          X     2      1,5      2       1       5      4,5       3     6,5     4,5      30
               Prosentase          %    6,67     5      6,67    3,3     16,67    15       10    21,67   15      100
              ………………               P1    2       2       5       6       2       4        3      2       4       30
  1
              ………………               P2    2       2       5       5       0       8        2      2       4       30
              ………………               P1    4       5       6       3       1       3        2      3       3       30
  2
              ………………               P2    5       5       7       3       1       2        3      2       2       30
              ………………               P1    6       2       5       5       1       4        3      2       2       30
  3
              ………………               P2    7       2       6       4       1       3        3      2       2       30
              ………………               P1    3       5       4       5       1       4        3      3       2       30
  4
              ………………               P2    4       4       6       4       1       3        4      2       2       30
              ………………               P1    6       3       6       4       1       1        4      3       2       30
  5
              ………………               P2    7       4       3       5       2       3        2      2       2       30
              ………………               P1    6       4       6       4       0       2        2      2       4       30
  6
              ………………               P2    8       4       3       5       0       2        4      2       2       30
              ………………               P1    5       4       6       3       2       3        2      2       3       30
  7
              ………………               P2    5       4       4       5       3       2        3      2       2       30
              ………………               P1    4       4       5       4       2       4        2      2       3       30
  8
              ………………               P2    6       4       6       4       2       3        3      1       1       30
                                   P1    36     29       43      34      10      25       21     19     23      240
                Jumlah
                                   P2    44     29       40      35      10      26       24     15     17      240
             Rata-rata             X     40     29      41,5    34,5     10     25,5     22,5    17     20      240
        Prosentase rata-rata       %    16,67   12,08   17,29   14,38   4,16    10,63    9,38   7,08    8,33    100




Keterangan:

                 Jumlahhasilpengama tan
Rata-rata (x)                           x 100%
                    jumlahrata  rata



                                   rata  rata
Prosentase rata-rata (%) =                        x 100%
                                jumlahrata  rata




                                                                                                                   76
Lampiran 7

                 Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran II

 No       Nama (Guru – Siswa)                                 RP I (90 menit)                         Jumlah
                                    P
                                         1     2       3     4       5      6      7     8      9
              ……………….              P1    1     3       2     1       6      5      3     7      2       30
                                   P2    3     3       1     2       4      4      3     8      2       30
                Rata-rata          X     2     3      1,5    5      4,5     3     7,5    2      2       30
               Prosentase          %    6,67   10      5     5      16,67   15     10    25    6,67    100
              ………………               P1    4     4       6     4       2      2      2     2      4       30
  1
              ………………               P2    6     3       5     5       1      3      2     2      3       30
              ………………               P1    4     4       7     5       1      2      2     2      3       30
  2
              ………………               P2    7     3       5     4       2      2      2     2      3       30
              ………………               P1    4     4       6     4       2      2      2     2      3       30
  3
              ………………               P2    5     4       7     4       1      1      3     2      3       30
              ………………               P1    6     6       6     2       2      2      2     2      2       30
  4
              ………………               P2    5     4       7     4       1      1      3     2      3       30
              ………………               P1    5     4       6     4       2      2      2     2      3       30
  5
              ………………               P2    8     2       6     4       1      2      2     2      3       30
              ………………               P1    5     2       7     6       0      1      3     2      1       30
  6
              ………………               P2    6     3       7     6       0      1      2     2      3       30
              ………………               P1    6     4       6     2       2      2      2     2      1       30
  7
              ………………               P2    4     3       9     4       1      0      4     2      3       30
              ………………               P1    4     4       6     4       2      2      2     2      4       30
  8
              ………………               P2    7     4       5     4       2      1      2     2      3       30
                                   P1    38    32      50    31      13     15     17    16     28     240
                Jumlah
                                   P2    48    26      51    35      9      11     20    16     24     240
             Rata-rata             X     43    29     50,5   33      11     13    18,5   16     26     240
        Prosentase rata-rata       %    17,9   12,1    21    13,8    4,6    5,4   7,7    6,7   10,8    100




Keterangan:

                 Jumlahhasilpengama tan
Rata-rata (x)                           x 100%
                    jumlahrata  rata



                                   rata  rata
prosentase rata-rata (%) =                        x 100%
                                jumlahrata  rata




                                                                                                          77
Lampiran 8

                 Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran III

 No       Nama (Guru – Siswa)                                 RP I (90 menit)                          Jumlah
                                    P
                                         1      2      3      4      5      6      7      8      9
              ……………….              P1    2      2      4      4      2      7      2      4      3       30
                                   P2    2      2      2      4      4      6      4      3      3       30
                Rata-rata          X     2      2      3      4      3     6,5     3     3,5     3       30
               Prosentase          %    6,7    6,7     10    13,3   10     22,6    10    11,7    10     100
              ………………               P1    5      2      7      5      2      2      2      2      3       30
  1
              ………………               P2    6      3      6      5      1      1      3      2      3       30
              ………………               P1    6      5      6      4      2      1      2      2      2       30
  2
              ………………               P2    6      5      4      7      1      0      2      3      2       30
              ………………               P1    5      4      10     2      0      3      1      2      3       30
  3
              ………………               P2    5      3      6      6      1      3      1      3      2       30
              ………………               P1    6      4      6      5      1      2      1      2      2       30
  4
              ………………               P2    8      5      4      6      0      2      1      2      2       30
              ………………               P1    7      4      7      4      1      0      2      2      3       30
  5
              ………………               P2    9      5      7      4      0      1      0      2      2       30
              ………………               P1    6      4      8      4      1      1      2      2      2       30
  6
              ………………               P2    8      3      7      4      0      0      3      2      3       30
              ………………               P1    4      5      7      3      2      2      2      2      3       30
  7
              ………………               P2    7      3      6      6      0      0      3      3      2       30
              ………………               P1    5      5      7      2      1      2      2      2      4       30
  8
              ………………               P2    7      4      8      4      1      0      2      2      2       30
                                   P1    44     33     58     29    10      13     14     16     23     240
                Jumlah
                                   P2    56     30     48     43     4      7      15     19     18     240
             Rata-rata             X     50    31,5    53     36     7      10    14,5   17,5   20,5    240
        Prosentase rata-rata       %    20,8   13,1   22,1    15    2,9    4,2    6,1    7,3    8,5     100




Keterangan:

                 Jumlahhasilpengama tan
Rata-rata (x)                           x 100%
                    jumlahrata  rata



                                   rata  rata
prosentase rata-rata (%) =                        x 100%
                                jumlahrata  rata




                                                                                                           78
79

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:1670
posted:7/28/2011
language:Indonesian
pages:79