Docstoc

Akar-akar Kekerasan Dalam Islam - Jaringan Islam Liberal _JIL_

Document Sample
Akar-akar Kekerasan Dalam Islam - Jaringan Islam Liberal _JIL_ Powered By Docstoc
					Akar-akar Kekerasan Dalam Islam - Jaringan Islam Liberal (JIL)                http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=121




          Akar-akar Kekerasan Dalam Islam
          OLEH NENG DARA AFFIAH
          KOLOM | 20/01/2002

          Padahal Islam, menurut hemat saya, bukanlah ajaran agama yang rumit, yang jauh di langit sana,
          tetapi ia agama nurani yang merupakan bagian dari ruh detak nafas kita. Diantara ajaran tersebut,
          yang nampaknya sepele, tetapi sangat mendasar adalah bagaimana kita dapat berdamai dengan diri
          sendiri untuk dapat menebar kedamaian kepada sesama dan lingkungan hidup kita. Ala’ bidzikrillahi
          tathmainnal qulub. Wallahu A’lam!

          Pada minggu-minggu terakhir ini, dua organisasi besar Islam, NU dan Muhammadiyah, mengupayakan suatu rekonsiliasi,
          setelah sebelumnya, akibat perseteruan politik antara Amin Rais dan Abdurrahman Wahid, terjadi ketegangan yang
          berbuntut pada perusakan sarana-sarana publik. Menuju ke arah perdamaian pun telah diupayakan oleh dua kelompok
          agama yang bertikai, Islam dan Kristen, yang terjadi di Poso, Ambon dan beberapa daerah lainnya.

          Pertanyaan yang tersisa adalah, apakah upaya perdamaian tersebut benar-benar menuju perdamaian sejati atau masih
          menyisihkan trauma pada masing-masing pihak, sehingga sewaktu-waktu dapat meletup kembali? Tulisan ini mencoba
          melacak akar kekerasan yang terjadi dalam sejarah panjang umat Islam, yang disadari maupun tidak, memiliki rangkaian
          benang merah dengan berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini.

          Secara konsepsional, doktrin Islam yang utama adalah penekanannya pada ajaran perdamaian. Kata Islam sendiri
          bermakna damai, aman, selamat dan penyerahan diri. Dalam ritual salat, yang merupakan kewajiban utama dalam Islam,
          ikrar terakhir yang diucapkan adalah memberikan keselamatan dan kedamaian bagi sesama umat manusia. Sebuah simbol
          bahwa muara akhir dari ajaran ini adalah perdamaian.

          Tetapi dalam sejarahnya, konsepsi di atas tidak selalu seiring dengan perjalanan umat Islam. Pada awal-awal lahirnya
          Islam, tidak kurang dari enam kali peperangan diikuti oleh Nabi, kendati dengan tujuan untuk menegakkan keadilan
          ekonomi, kesetaraan manusia dan bertahan dari penyerangan. Hal ini didukung oleh al-Quran 4:75: “Mengapa kamu tidak
          berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak yang semuanya
          berdo’a: Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung
          dan pertolongan dari-Mu!” serta pada ayat: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi)
          janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

          Demikian pula pada masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Peperangan yang
          dilakukan oleh mereka umumnya bermotifkan ekonomi, seperti penumpasan terhadap kelompok pembangkang yang
          enggan membayar zakat di masa Abu Bakar; pelebaran wilayah Islam, seperti yang terjadi pada masa Umar bin Khattab;
          dan perebutan kekuasaan seperti yang terjadi pada Usman dan Ali.

          Disebutkan dalam sejarah, sepeninggal Nabi Muhammad, tak kurang dari 70.000 orang Islam mati terbunuh dalam medan
          peperangan. Bahkan dua khalifah yang terakhir, yakni Usman dan Ali terbunuh secara mengenaskan dalam suatu peristiwa
          peperangan. Ahmad Amin menyebut peperangan besar dalam sejarah umat Islam ini sebagai fitnah kehidupan yang paling
          besar (al-fitnah al-Kubra).

          Berbagai bencana kekerasan berlangsung sepanjang kekuasaan dinasti Islam, yakni pada masa Dinasti Umayyah dan
          Dinasti Abbasiyah. Kekerasan pada masa ini tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga kekerasan intelektual.

          Kekerasan intelektual diwujudkan dalam wujud pembunuhan terhadap beberapa pemikir yang dianggap dapat merugikan
          kekuasaan, seperti yang terjadi pada Ghaylan al-Dimasyqi dan Al-Ja’d bin Dirham yang berpandangan bahwa kekuasaan
          dalam masyarakat Islam bukanlah monopoli keturunan Arab (bangsa Quraisy) sebagaimana yang menjadi pandangan
          kelompok Sunni, atau dari keturunan Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang menjadi garis politik Syiah, melainkan siapa saja
          dari umat Islam yang disetujui berdasarkan musyawarah (kesepakatan).

          Kekerasan pada aspek politik lebih mengerikan lagi. Pada masa Dinasti Umayyah, tepatnya dimasa Yazid bin Muawiyah,




1 of 2                                                                                                                    5/11/2006 6:40 AM
Akar-akar Kekerasan Dalam Islam - Jaringan Islam Liberal (JIL)                http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=121


          kepala Husain bin Ali dipenggal dari tubuhnya, dan kepala tersebut dibawa ke istana untuk dipermainkan. Seorang tua
          yang tahu masa kecil Husain dengan gusar berkata: “Saya pernah melihat wajah itu diciumi oleh Rasulullah”. Peristiwa ini
          disebut sebagai “tragedi Karbala”, sebuah momentum perpecahan antara kelompok Islam Sunni dan Syiah pada tahun 64
          Hijriah.

          Demikian halnya pada masa Dinasti Abbasiyah. Akbar S Ahmed menggambarkan upaya kudeta militer Dinasti Abbasiyah
          terhadap Dinasti Umayyah sebagai berikut: “Sekali waktu Abdullah, seorang Jendral Abbasiyah mengundang 8 orang
          pemimpin Umayyah untuk makan malam pada musim panas bulan Juni tahun 750 M di rumahnya yang terletak di Jaffa.
          Ketika para tamu sedang makan, mereka ditangkap oleh para tentara. Setelah para tentara menikam semua pimpinan
          Umayyah tersebut, para pelayan menggelar tikar di atas tubuh mereka yang masih menggeliat-geliat dan para tamu
          lainnya melanjutkan makan malam sambil bersuka ria.” (Discovering of Islam).

          Menjelang keruntuhan kekuasaan Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah yang terbentang dari wilayah Afrika dan seluruh
          jazirah Arab itu, tentara Kristen dari Eropa Barat menyerang dua dinasti Islam tersebut. Dengan misi perang suci untuk
          menaklukkan orang-orang “kafir”, umat Islam saat itu dihadapkan pada dua pilihan: beralih ke agama Kristen atau keluar
          dari wilayah kekuasaannya (migrasi). Perang ini kemudian diikuti oleh sebuah perang lain yang dalam sejarah dunia
          disebut perang salib, sebuah perang yang menghabiskan waktu tidak kurang dari seratus tahun dan menyisakan trauma
          pahit bagi Kristen dan Islam.

          Pada awal-awal abad 20-an, beberapa wilayah yang berbasiskan umat Islam pun terdesak oleh negara-negara kolonial dari
          Eropa. Misalnya, Indonesia oleh Belanda; Mesir, Maroko, Aljazair oleh Perancis, Malasyia, Nigeria, oleh Inggris dan Libia
          oleh Italia. Dan panggung sejarah umat Islam yang sempat penuh gemerlap itu terbenam ke bawah dasar permukaan,
          bagai sebuah cerita yang ditutup secara tiba-tiba.

          ^^^

          Jejak-jejak kekerasan tersebut, disadari ataupun tidak, masih membekas pada diri sebagian umat Islam sekarang. Sikap
          pemerintah Amerika terhadap wilayah-wilayah muslim, seperti Afganistan, setelah tragedi pemboman gedung WTC tanggal
          11 September 2001 lalu, mengusik kembali emosi sebagian umat Islam akan peristiwa pahit yang dipaparkan di atas.

          Akibat dari perasaan sakit tersebut, sebagian umat Islam mencari identitas primordialnya dengan mengungkap kembali
          nilai-nilai keagamaan yang dimiliki. Hanya saja, nilai-nilai tersebut cenderung hanya menonjolkan identitas yang berupa
          atribut, tidak berupa ruh yang terekspresi dalam prilaku.

          Dalam konteks Indonesia, atribut-atribut tersebut diekspresikan melalui maraknya tuntutan pemberlakuan syariat Islam di
          beberapa daerah. Tuntutan itu tak jarang dilakukan dengan cara-cara kekerasan, misalnya membentuk berbagai kelompok
          komando jihad, menyerang tempat-tempat hiburan, memaksa perempuan menggunakan pakaian tertentu, intoleran
          terhadap pemikiran lain, memutlakkan kebenaran pemikiran kelompoknya dan anti dialog.

          Cara-cara tersebut semakin menguatkan anggapan bahwa Islam, sebagaimana yang ditulis Max Weber, adalah agama
          yang memiliki etos keprajuritan, tetapi tidak memiliki etos kewiraswastaan. Penyebaran Islam bahkan sering difahami
          dengan gambaran seseorang yang “memegang al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya”.

          Padahal Islam, menurut hemat saya, bukanlah ajaran agama yang rumit, yang jauh di langit sana, tetapi ia agama nurani
          yang merupakan bagian dari ruh detak nafas kita. Diantara ajaran tersebut, yang nampaknya sepele, tetapi sangat
          mendasar adalah bagaimana kita dapat berdamai dengan diri sendiri untuk dapat menebar kedamaian kepada sesama dan
          lingkungan hidup kita. Ala’ bidzikrillahi tathmainnal qulub. Wallahu A’lam!




          Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=121


         Hak cipta ©2001-2005, Jaringan Islam Liberal (JIL). Kontak: redaksi@islamlib.com




2 of 2                                                                                                                     5/11/2006 6:40 AM

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:35
posted:7/26/2011
language:Indonesian
pages:2