Takut untuk berbuat by ricisan

VIEWS: 375 PAGES: 3

More Info
									Takut untuk berbuat

Kawan, kalau kau takut pada hasil akan sesuatu yang akan kau lakukan, lalu memutuskan
untuk berhenti disini, kapan kau pernah tahu, apakah keputusanmu untuk berhenti karena
“ketakutan” itu benar atau salah..?!

Itulah sebuah kalimat pendek yang terlintas dipikiran saya, rencananya untuk dituliskan di
update status facebook, namun saya memilihnya untuk menuliskannya aja. Dengan usia
yang sedang beranjak 25 tahun, banyak ketakutan dalam berbagai versi yang sedang saya
alami, takut bagaimana nanti masa depan yang belum jelas gimana, takut untuk memilih
jalan hidup yang tepat, takut untuk memulai usaha untuk masa depan hingga takut
bagaimana nanti setelah menikah, apakah saya mampu memberikan anak orang (istri saya)
nanti atau tidak.

Ketakutan itu bukan saat ini saja terdeteksi kehadirannya di hati dan pikiran saya, namun
sudah berkali-kali dan beberapa minggu ini kedatangannya lebih sering, mungkin karena
semakin meningkatnya harapan tau cita-cita dari dalam diri, atau adanya tekanan dari yang
lain, saudara, keluarga ataupun dari yang lainnya. tapi yang pasti, semua hal itu
menimbulkan kegalauan yang mendalam…

Rasa takut, sebenarnya, jika ingin dikelola, merupakan sifat naluriah manusia untuk
menghalanginya dari sesuatu yang akan mencelakainya jika tetap dilaksanakan, ataupun
dari rasa bersalah (penyesalan) dari perbuatan yang sebenarnya takut untuk dilakukan. Rasa
takut menjadi sebuah sifat proteksi manusia secara alamiah, dan dimiliki oleh seluruh
manusia dibumi ini, bayangkan saja ketika rasa takut itu tak ada, pasti kekacauan akan
timbul dimana-mana.

Kepastian yang tak pasti

Sifat manusia, selalu mengharapkan sebuah kepastian, karena kepastian lah yang menjadi
tujuan, maka dari itu sedikit sekali ada yang mau melakukan sesuatu tapi tidak memiliki
kepastian, kita lebih memilih melakukan hal-hal yang susah dan berat namun pasti,
dibandingkan melakukan hal-hal kecil dan ringan namun tak pasti ujung dan tujuannya.
Kepastian menjadi justifikasi utama otak dalam merencanakan cita-cita, impian dan usaha,
lihat saja, apakah ada yang ketika kecil sudah mencita-citakan diri menjadi (maaf
sebelumnya) pengangguran, atau preman?? Saya rasa pasti tidak ada, kita merencanakan
sesuatu karena kita yakin akan ada sesuatu yang besar dan bisa didapatkan dari ren
								
To top