Sains dan Nilai Humanisme

Document Sample
Sains dan Nilai Humanisme Powered By Docstoc
					                                                                                     1




                             Sains dan Nilai Humanisme
              (Kaji Ulang Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia)

                                        Oleh : Badru Zaman1

                                               Abstraksi
          Ilmuwan Barat, telah berhasil mengembangkan teknologi cloning,
          sebagai terobosan dari pengembang-biayakan makhluk hidup selain
          tumbuhan. Cloning ini diterapkan pada seekor domba. Pengambilan
          cloning pada hewan tersebut, merupakan suatu langkah maju dari hal
          yang biasa. Ilmuwan selalu menjadikan riset pada hewan lain seperti kera
          dan babi. Kera dianggap memiliki karakteristik yang mirip dengan
          manusia—terlepas dari teori Darwin. Sedangkan babi, dalam tinjauan
          medis memiliki organ yang hampir mirip dengan manusia. Kecuali leher,
          ekor dan bagian alat berjalan, DNA babi yang terdapat pada lambung,
          jantung dan organ lain, banyak yang menyerupai manusia.
                  Kembali kepada soal ‘domba.’ Domba—salah satu jenis
          kambing kibas—dipilih menjadi binatang riset karena mengambil filosofi
          dari Yesus yang juga peternak domba. Yesus menjadi semacam inspirasi
          dari keberhasilan ilmuwan cloning, dengan memberikan nama “Dolly”
          pada domba tersebut. Jadi antara; Dolly, domba Yesus, dan cloning
          pengembangan Barat merupakan trilogy yang tidak dapat dipisahkan.
                  Ada banyak sains yang belum seiring dengan nilai humanisme.
          Cloning dan bayi tabung menjadi contoh perdebatan antara saintis dan
          agamawan, termasuk salah satu yang dimaksudkan. 2 tahun setelah riset
          “Dolly,” cloning semakin memantapkan langkah, dengan kesuksesan
          yang dilakukan terhadap manusia, diberi nama Eve—Hawa.
                  Lebih lanjut, bagaimana seharusnya pendidikan Islam di
          Indonesia menyikapi perkembangan sains semisal cloning? Apakah
          harus mengalami stagnasi dengan “terkurung abadi” pada dikotomi ilmu-
          ilmu agama dan umum?

   Keyword; science and religion, fatwa and morality, cloning, biotechnology,
   Islamic studies.

A. Sekelumit Sains—Cloning
   Proyek cloning Dolly berhasil dilakukan oleh Ian Wilmut dari Roslin’s Institute
   pada tahun 2000. Tak ada keterangan yang pasti dari tanggapan pro-kontra dari
   pihak mereka. Kecuali Bart Hansen dan rekan yang mencoba membuka dialog
   “apa” dan “bagaimana” proses cloning dilakukan Roslin’s terhadap dalam
   artikelnya. Dengan nalar kritis ia memberikan satu demi satu pemahaman awal
   cloning, mulai dari definisi hingga problematika yang ditempuh, untuk
   meyakinkan kaum agamawan yang kerap berseberangan dengan pandangan
   mereka.




          1
              Penulis adalah penggiat Islamic studies di tanah air.
                                                                                        2




        Pemahaman sederhana cloning, menurut Hansen sebagai berikut:
        “Cloning refers to a clone, from the Greek word for twig, and by
        extension, cutting and graft. In science it originally referred to a neutered
        animal or plant. In the current setting, the word the word `clone' is used to
        specify a genetically identical copy of a gene, a molecule, a cell, a plant or
        an animal. `Cloning' refers to, if applied to an organism, the production of
        one individual or a group of individuals that share a number of genes
        identical to the genes of the organism that life at the basis of the
        reproduction.” 2

        (“Terjemah bebasnya: cloning berasal dari kata Yunani, yang dalam
        bahasa asli berarti ranting, memperluas, memotong jalur, atau suap
        menyuap (graft). Sedangkan dalam istilah sains, cloning berarti memotong
        dan memindahkan tanaman (menyobek batang unggul) kemudian
        mencangkokkan ke bagian lain, guna menghasilkan bibit yang lebih
        unggul. Cara ini juga terkait dengan hewan, dengan jalan yang agak
        berbeda sebagai langkah tersendiri dalam pengembangbiayakan
        organisme.”)

Selanjutnya, menurut Hansen, dalam zoology (ilmu hewani), cloning alamiah
terlihat dari fenomena kembar-siam (identities species). Sepertinya kedua sel telur
mereka serupa. Ternyata jika dibandingkan dengan induk, sangatlah berbeda.
Perbedaan inilah yang kemudian coba diambil, lalu dipindahkan dengan proses
cloning. Cloning pada hewan, banyak terjadi pada hewan yang vertebrata
(bertulang belakang)—manusia juga termasuk, jika dikatakan hewan. Pemisahan
yang dilakukan dengan mengambil embrio, lalu ditempatkan pada monozygotic
yang cocok dengan habitatnya, misalnya rahim seorang induk hewan yang
spesies. Di dalam monozygotic—semacam rahim—embrio dapat berkembang di
sana. Tentunya, harus pandai memilih embrio yang tetap dan cocok—secara
alamiah—pada monozygotic, misalnya yang sudah pantas seusia hewan
mengandung (hamil).3
         Hemat penulis, cara mudah memahami ini, hampir mirip dengan proses
bayi tabung. Kata “bayi tabung” bukan berarti bayi yang dimasukkan pada sebuah
tabung atau pembiakan luar seperti pemahaman umum. Akan tetapi, sel sperma
jantan yang produktif dari jantan, dimasukkan pada ovum Si-betina. Dengan
begitu, bayi dapat berkembang di sana—dengan izin Allah—tanpa didahului
proses persetubuhan keduanya.
         Hansen berpendapat, peng-kloningan molekul mengacu pada suatu teknik
yang rutin di dalam biologi molekul, bahwa terdiri dari inti/isi molekul dasar yang




         2
           Bart Hansen and Paul Schotsmans, Cloning: The Human as Created Co-Creator?
Ethical Perspectives, hlm. 75.
http://www.kuleuven.be/ep/page.php?LAN=E&FILE=ep_detail&ID=29&TID=112
         3
           Ibid.
                                                                                       3




terdapat pada DNA—dalam ilmu genetika.4 DNA dibagi-bagi, lalu di-copy dan
yang kemudian diperbesar pada organisme inang (induk), dengan hasil copy-an
berbentuk suatu bakteri. Tehnik ini serupa yang diterapkan pada produksi
pengobatan-pengobatan penting seperti; hormon insulin, hormon pertumbuhan,
atau seperti teknik jaringan penggerak pada struktur bulu—sayap burung. Teknik
yang sama juga digunakan untuk memecahkan gumpalan-gumpalan pada
serangan jantung. Di dalam salinan atau hasil copy-an peng-kloningan seluler
dibuat dari sel-sel yang menghasilkan dari soma, atau tubuh sebagai media.
Dengan mengacu pertumbuhan sel-sel ini harus cocok pada kultur-nya, atau
misalnya dalam pengembangan luar—dalam laboratorium yang mendukung.
Genetika baru—yang tumbuh—kemudian ditunggu hingga sempurna, atau mirip
seperti yang asli (matang), lalu siap dipindahkan ke media baru yang diperlukan.
Cara ini kerja ini mirip dengan cara pengembangan pengobatan yang tergolong
modern—sebut saja cangkok ginjal, seperti beberapa yang telah disebut di atas.5
        Semua cara cloning yang Hansen maksudkan, tampak bertentangan antara
satu dengan yang lain dalam Bible-nya. Sebagai misal kisah penyembuhan dalam
Injil semisal Matius, Markus, dan lebih spesifik-nya pada surat Genesis
(Kejadian). Karena masing-masing versi belum dapat memastikan cara Yesus
yang sebenarnya dalam penyembuhan manusia. Sebagian lain menuduh, Yesus
menyembuhkan kebutaan mata seorang manusia yang ada dihadapan-nya, lalu
mengambil fungsi mata manusia di alam lain—yang tadinya sehat-sehat saja, tiba-
tiba menjadi buta, untuk orang yang membutuhkan kesembuhan mata di depan
Yesus. Bagi Hansen, pendapat ini yang paling terkuat memahami cloning secara
sederhana. Hanya saja sedikit perbedaan, cloning belum tentu merusak induk,
seperti tuduhan mereka pada metode penyembuhan Yesus.6
        Hansen juga mengatakan ada tehnik cloning lain, yang disebut dengan
Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT), Ovum atau indung telur, digantikan inti
haploid telur dengan diploid yang berasal dari suatu sel somatic yang telah
dibedakan. Mulai dari seorang anak atau satu individu orang dewasa. Dengan
jenis ini dari peng-kloningan, hanya bisa dilakukan pada induk asal genetik, yaitu
induk awal sebelum pengambilan (sel penderma). Proses bersifat percobaan yang
dipimpin kepada kelahiran dari Dolly, dapat dengan singkat digambarkan sebagai
berikut. Pertama, jembatan sel berasal dari kelenjar susu dari suatu domba-domba
orang dewasa. Mereka “kelaparan” sel penderma dengan pemindahan semua
bahan gizi dari medium sebelum perpindahan yang nuclear. 7 Berikutnya sel
penderma, diberikan kepada sel produktif cloning dan “dikawinkan” dalam
sebuah proses. Keduanya juga melewati proses alam—takdir, yang menghasilkan
bibit unggul.


         4
           Yang terlihat mudah untuk menjelaskan DNA—dalam perspektif agama—dapat dilihat
dari Barbour. Ian G Barbour, Isu dalam Agama dan Sains, alih bahasa Damayanti dkk.,
(Yogyakarta: UIN Suka, 2006), hlm. 443-446.
         5
            Bart Hansen and Paul Schotsmans, Cloning: The Human as Created Co-Creator?
Ethical Perspectives, hlm 76.
         6
          Ibid.
         7
           Ibid, hlm 77.
                                                                                                 4




           Bibit ini bisa dikatakan seperti sebuah sperma produktif manusia
   berbanding dengan jutaan sperma, yang siap dibuahi—pada tempat yang
   berfungsi seperti—rahim. Di dalam rahim, sebelumnya sperma produktif bertemu
   dengan ovum, pada proses pembuahan cabang bayi. Namun pada cloning dia
   harus ditemukan pada rahim yang asli, atau rahim induk awal—tempat
   pengambilan sel pertama.
           Clonaid adalah sebuah perusahaan yang didirikan sekte keagamaan
   Realians—asal kata dasar “aliens”—tahun 1997. Mereka mempercayai kehidupan
   di bumi diciptakan mahluk angkasa luar melalui rekayasa genetika. Klaim
   Clonaid, perusahaan biotechnology di Bahama (AS), yang sukses menghasilkan
   manusia cloning pertama di dunia dengan kelahiran bayi cloning pertama wanita
   yang diberi nama “Eve” pada 26 Desember 2002. Clonaid berpendapat
   kesuksesan ini makin mendekatkan pada impian, bahwa manusia unggul seperti
   Einstein-Einstein baru dapat “diciptakan” mereka di masa depan.8
           Menurut pihak Clonaid, walaupun ini masih sebuah awal, Eve merupakan
   bayi pertama yang lahir dari 10 implantasi (embrio pilihan dalam tabung), di
   perusahaan mereka. 5 dari 10 implan mengalami kegagalan. Pihak mereka
   berencana terus meng-implantasi 20 klon manusia. Agar mengurangi pressure
   publik—terutama kaum agamawan, pada saat bersamaan para ahli independen
   akan diundang, sehingga dapat menyaksikan bagaimana contoh cloning,
   pertumbuhan embrio dan tempat berkembang mereka dalam implantansi.9
           Broisselier, salah satu petinggi Clonaid sempat menanggapi salah satu
   kritik dengan menjawabnya:
           “Kami orang-orang serius dan bertanggungjawab karena ini berhubungan
           dengan masalah kemanusiaan. Kami memberikan hak dan pilihan pada
           orang tua untuk memilih anak-anak sesuai gen mereka. Jika dalam proses
           cloning, peneliti Clonaid mendeteksi adanya abnormalitas, janin akan
           digugurkan,”10

B. Dialog Sederhana Sains-Agama
   Dahulu, sebuah riset mengemukakan bahwa babi mengandung cacing pita,
   sebagai alibi pengharaman untuk konsumsi Muslim. Beberapa ilmuwan mencoba
   memberi terobosan dengan menemukan vaksin yang dapat menghilangkan cacing
   pita, yang dapat di-suntik-kan pada manusia, sebagai tindakan pencegahan, jika
   mengkonsumsi babi. Posisi babi, kemudian diperjuangkan menjadi “setengah
   halal” di mata ilmuwan Barat. Yahudi dan Islam tampak tidak dapat menjawab
   hasil temuan mereka. Ketika pengembangan DNA terjadi, ternyata satu-satunya
   makhluk hidup—dari jenis binatang—yang memiliki struktur DNA serupa dengan
   manusia adalah babi, secara alamiah muncullah sebuah wacana baru,
   mengkonsumsi daging babi seperti mengkonsumsi daging manusia. Apakah
   dibolehkan manusia bertindak “setengah kanibal?”

           8
              Manusia Kloning Pertama Bernama Eve Kini Berusia 5 Tahun,
             http://gugling.com/manusia-kloning-pertama-bernama-eve-kini-berusia-5-tahun.html.
   diakses 03 Juni 2010.
            9
              Ibid.
            10
              Ibid.
                                                                                              5




        Sains membantu kehidupan manusia, sekaligus menjauhkan dari nilai-nilai
kemanusiaan serta tuduhan lain yang senada. Begitu pula dalam hal ini
keterlibatan sains terhadap teknologi menganggap kaum agamawan hanya sebatas
kritik. Karena dengan mengabaikan “suara sebatas kritik,” riset ini tetap berjalan
sebagai mana yang diharapkan. Seperti beberapa orang yang menganggap
keduanya tampak sejalan.11
        Cloning manusia sejenis Eve, tentunya sempat mengundang kontroversi
beberapa pimpinan bangsa-bangsa dan pemuka agama dunia. Hansen menuturkan
reaksi pro-kontra mereka terhadap proyek cloning awal pada waktu itu:
        “On January 15th, 1998, the European Parliament accepted a resolution
        that invites the member states to ratify legislation that forbids human
        cloning by criminally sanctioning each violation. At the same time, the EP
        invites the member states and the European Union to work towards a
        worldwide and clearly sanction able ban on the cloning of humans.”12

Anggap-lah kali ini agama secara sekilas melihat kemajuan sains dengan
kacamata akidah-theology. Kegelisahan para ilmuwan bukan “mencari restu”
kaum agamawan, agar mereka dapat terhindar kembali dari bahasan “pahala dan
dosa.” Saintis sepertinya menginginkan agama tidak terlalu cepat menutup
sebelah mata hasil kerja mereka. Secara sekilas, apa yang saintis lakukan seperti
“bergulat” pada wilayah “takdir.” Tuhan sebagai “Creator,” manusia sebagai
makhluk “Co-Creator.”13 Sehingga Tuhan menentukan apa pun aktifitas manusia,
dalam segala hal, termasuk kesembuhan, baik buruk sebuah tabiat, rejeki, jodoh,
dan segala aturan normatif lain yang biasa diulang-ulang agamawan.
        Singkatnya agamawan memandang saintis merasa sukses dalam
penelitiannya dalam pandangan agama dianggap “playing God” atau “playing
with God” karena merasa telah melangkahi takdir—God. Pada kenyataannya
sekilas tindakan Broisselier—dari perusahaan Clonaid, seperti “Tuhan” yang
dapat menghidupkan—dengan cara cloning, dan mematikan—dengan
menggugurkan janin yang dianggap tidak layak. Jika demikian, pertanyaan yang
menjadi kunci, apakah saintis—dalam cloning—termasuk “playing God” dengan
kendaraan eksperimen mereka?



          11
             Menarik melihat geliat masyarakat Indonesia terhadap pandangan sains dan agama,
lewat poling survey internet yang diadakan, antara tanggal 27 April 2008 [00:49] hingga 7 Maret
2009 [17:30]. Penyelenggara poling adalah www.detik.com . Hasil poling menunjukkan gambaran
dengan prosentase angka tiap pilihan. Poling tersebut dibuka dengan sedikit pengantar dari sang
moderator terkait posisi sains-agama era kekinian dengan sebuah pertanyaan, “Menurut anda,
hubungan antara sains dengan agama sebaiknya yang bagaimana?” Kemudian wacana dibuka
secara sehat dan berimbang, dengan menyerahkan pandangan sebebas mungkin para peserta
poling, tanpa intervensi moderator sedikit pun. Para peserta bukan hanya diberikan untuk mengisi
suaranya dengan mengisi kolom poling. Lebih dari itu, 136 peserta poling diberikan ruang untuk
mengutarakan gagasan bebas mereka. Hasil poling menyebutkan wacana sains dan agama; 1)
Konflik [13.24%]; 2) Independensi [22.06%]; Dialog [8.82%]; dan integrasi [55.88%].
http://forum.detik.com/showthread.php?t=35827 (Akses 26 Juni 2009).
          12
             Bart Hansen dan Paul Schotsman, Cloning, hlm. 79
          13
             Ibid.
                                                                                           6




       Hemat penulis, jawaban pertanyaan ini kembali kepada dasar akidah
pegangan. Di atas telah disinggung soal pandangan umum kristen terhadap
metode penyembuhan Yesus terhadap orang buta dalam Bibel-nya. Perdebatan
mereka dapat dianggap mewakili saintis-kristen. Penulis lebih tertarik mereka
dengan pengembangan pendidikan Islam, bukan pada wilayah akidah atau ilmu
kalam.
       Sekilas, bisa saja mengatakan bahwa tidak ada pernyataan yang resmi
atau mewakili, antara fakta agama yang tertinggal jauh dengan Sains. Sains mulai
berbicara hal-hal yang lebih kompleks dari permasalahan yang ditimpa ummat
manusia. Sedangkan agama masih berkutat pada wilayah nilai dan norma.

Sains dan Nilai-nilai Humanisme
Beijing, terkenal di mata internasional sebagai “ruang tamu” bagi China. Kota
lebih tampak terdengar sebagai kiblat dunia pengobatan selain German. Beberapa
tren pengobatan di Indonesia, juga lebih tertarik dengan Singapura. Sejak zaman
pra-sejarah mengalami lompatan “dahsyat” dalam hal pengobatan. Jika dilihat dari
tingkat penduduk, China menduduki urutan pertama dengan jumlah penduduk
terbesar di dunia. Selain itu China menempati sebagai negara besar dengan
memiliki 300 laboratorium biotechnology, yang tidak terkena hambatan kaum
agamawan dan dewan-dewan standar etika. Hari demi hari ratusan laboratorium
menghasilkan riset-riset bermutu yang diakui dunia, kancah kemajuan kedokteran
misalnya.14Laboratorium yang dibangun sejenis Clonaid (Bahama, As), di China
dipusatkan pada kawasan Shenzhen.15 Mereka diam-diam menyediakan telah
menjadi negara ke-enam untuk pengembangan yang lebih murah proyek genome
manusia (Human Genome Project) setingkat dengan cloning.16 Sedangkan urusan
pengobatan yang terkait soal transplantasi difokuskan pada propinsi Guangzhou.
        Kita harus rela “berpindah” kepada sains untuk sementara, atau keluar
mempertahankan argumentasi bahwa sains mengandung “dosa” berupa bencana
kemanusiaan, atau sebaliknya. Misalnya dalam kasus penjualan organ tubuh yang
seiring dengan perkembangan sains. Sebelum cangkok ginjal marak, belum
pernah terdengar seseorang yang menjual ginjal dengan alasan ekonomi. Jika ada
donor, sumbangan, atau bahkan penjualan ginjal—secara legal, akan menarik ke
cara yang berseberangan—“tidak legal.” Misalnya potensi penculikan seseorang
untuk dibunuh kemudian diambil ginjal-nya. Seorang penyanyi lagu-lagu



        14
           Ted. C. Fishman, China Inc; How to Rice of the Next Superpower Challenges America
and The World, terj. Cet- III (Jakarta: Gramedia, 2006), hlm. 295-299.
        15
            Shenzhen terkenal sebagai pelabuhan toko industri elektronik dan biotechnology.
Fishman dalam bukunya mewakili sebagian dari keperkasaan China dalam industri, serupa dengan
beberapa sumber internet yang mengatakan Shenzhen berarti salah satu “kota hitam” industri
produk bajakan. Secara normatif, penulis melihat bahwa budaya di kota itu hampir seperti
penggambaran masa Jahiliyah—Arab. Dualisme antara kemajuan peradaban dan penindasan
HAM—lewat komunisme—berjalan seiring membentuk suatu China yang sanggup menelan pasar
Amerika dan dunia, di kala malam hari menteror kecemasan gadis-gadis pekerja Shenzhen. Ibid.,
118.
        16
           Ibid., hlm. 300.
                                                                                        7




legendaris, Krisbiantoro menuturkan kisah ginjal-nya yang pelik dengan “makelar
ginjal” di negeri tirai bambu, China. 17
         Kasus Krisbiantoro-Guangzhou soal ginjal “made ini China” menyentuh
nilai kemanusiaan. Krisbiantoro. Seorang penyanyi kondang lagu-lagu kenangan
tahun 70-an, kini muncul di televisi dalam sebuah acara talkshow—Kikck Andy.
Selama ini kedekatan antara Kris—sebutan akrabnya—dengan Titik Puspa, tidak
dapat dilupakan media, kala Kris mengalami kegagalan fungsi ginjal tahun 1972
.18 Sejak tahun tersebut—hingga artikel ini ditulis—Krisbiantoro belasan tahun
tetap bertahan dengan satu ginjal sebelah kanan. Ginjal sebelah kiri—menurut
dokter pribadi Kris, tidak dapat berkerja sebagaimana mestinya. Ia sempat di bawa
ke Guangzhou, China. Dengan motivasi keluarga, bertekad “memperpanjang
kesehatan” dengan melakukan transplantasi ginjal. Setelah berada di negeri itu,
Kris menolak dan lebih memilih pulang kembali tanpa melakukan operasi
pencangkokan sama sekali. Ia memiliki alasan “moral” tentang ginjal yang akan
digunakan tubuhnya. Dalam penuturan-nya, Ia sempat meragukan tentang asul-
usul China yang setiap hari mampu menyediakan ratusan ginjal. Kris sempat
curiga, “China menjadi kuburan manusia, ataukah rakyat China mampu membuat
ginjal tiruan dari suatu bahan, hingga cocok dengan manusia? Dari mana mereka
mendapatkan stock ginjal yang berjumlah ratusan pasang setiap hari?”19

Fatwa; Sebuah Kekuatan Moral dan Struktural?
Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri kebutuhan sains—transplantasi organ—
bukan sebagai pelengkap semata. Dunia transplantasi terkait dengan kesehatan,
bagi penulis tidak mengundang masalah. Sebab, bagaimana pun tujuan cangkok
demi kesembuhan dan kesehatan. Lain hal-nya dengan transplantasi kecantikan
dan organ vital. Beberapa kaum agamawan lebih mengatakan banyak mengatakan
“tidak” dengan alasan mengubah ciptaan, kodrati, fitrah dan lain-lain yang bukan
wilayah dharuriyyah—ushul fiqih.
        Jika ditarik lebih umum, eksistensi agama dan fatwa bertanggungjawab
pada wilayah moral, seperti seorang guru terhadap anak didik-nya secara moral.
Agama berfungsi sebagai aturan yang menjadikan manusia sebagai manusia, atau
sejalan dengan fitrah. Nikah misalnya, menjadikan fitrah pada wilayah kultur
dengan beberapa aturan yang me-manusia-kan. Jika nikah tidak ada dalam
hubungan manusia pria-wanita, dapat ditebak hubungan keduanya mirip dengan
karakter hewani, yang tidak membutuhkan ‘nikah’ sebagai legitimasi seksual yang
dipenuhi tanggungjawab lanjutan.
        Secara tidak langsung—terlepas dari fatwa produk manusia—pertanyaan
terus berlanjut apakah Qur’an tetap aktual dan relevan menjawab problematika
kontemporer, atau manusia sendiri belum mampu menampilkan wajah Qur’an
menjadi aktual dan relevan? Atau dalam bahasa lain, apakah Qur’an yang tidak
dapat sejalan dengan sains—karena selalu berada di langit—atau sebaliknya, sains
yang belum dapat memahami Qur’an? Jika senada dengan pertanyaan kedua,

       17
         Meski Memiliki Banyak Uang Jangan Pertaruhkan Nyawamu,
        http://www.epochtimes.co.id/nasional.php?id=7, di akses tanggal 03 Juni 2009.
       18
         Ibid.
       19
          Ibid.,
                                                                                             8




berarti ada pilihan untuk menggagas sains Islam secara utuh, konseptual berangkat
dari nilai-nilai Qur’ani. Sama halnya dengan pengagum—supaya tidak memakai
kata pemuja—hermeneutic yang memeriksa kandungan mereka dari; otentikasi,
isi dan redaksi yang tertuang dalam redaksi Bible.
        Kitab suci, dengan sebagai syarat untuk “berdirinya sebuah agama”
menekankan perlunya nilai-nilai humanisme seperti kisah nikah di atas.20 Agama
pada kenyataannya yang bergerak pada wilayah moral, kurang menekan pada
wilayah struktural. Sebagai contoh Bush yang tak mau mendengar fatwa Paus
Paulus—yang menjadi “nabi”—terkait agresi militer ke Irak. Atau masyarakat
perokok Indonesia yang tidak tersentuh dengan fatwa Muhammadiyah. Padahal
masyarakat Indonesia menduduki urutan peringkat ke-tiga terbesar di dunia,
setelah China dan India dalam konsumsi rokok. Hampir senada dengan nasib
fatwa MUI. Masyarakat Indonesia—umumnya dunia—tidak lagi menganggap
fatwa pemuka agama sebagai kekuatan moral, hingga patut dijauhi segala
anjurannya?21
        Penulis sepakat—atau mungkin juga Anda—akan mengatakan bahwa
tujuan agama adalah legitimasi pembenaran moral manusia, termasuk kontrol
sosial bagi sains. Islam—terutama—terus mengajak umatnya untuk menggali
spirit Qur’an dalam memandang sains. Mungkin terlalu banyak rangsangan yang
tergambar dari dialektika Qur’an lewat kata, afa laa ya’qilun, afa la yan’dzuruun,
dan ajakan lain yang hampir mirip.22 Hanya saja, para pemeluknya terlalu cepat
meminta penjelasan sains-agama, bukan mencarinya sendiri dengan jalan terus
menggali. Akibatnya, beberapa tinjauan sains pada wilayah agama—terutama di
Indonesia—masih terlihat ketertinggalan-nya. Sebagai contoh, ketika saintis sudah
berbicara cloning, bayi tabung dan DNA, agama masih terus “membujuk” sains
untuk menghentikan segala aktifitas yang dianggap “amoral.” Dengan begitu,
sains tentu saja tidaklah mudah menerima tawaran, seperti remaja yang tidak mau


          20
             Artikel ini tidak akan bergulir pada wilayah pluralitas dan pluralisme agama. Yang
perlu menjadi catatan, jika sebuah kitab suci melarang untuk nikah, perlu dikaji ulang ke-
otentikan-nya, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai humanistik. Contoh lain misalnya secara
umum, manusia dapat bertahan hidup dengan makanan, lalu dianjurkan berpuasa sesuai dengan
kadar kekuatan-nya. Dapat dikatakan anjuran dalam kitab suci masih sejalan dengan sisi
kemanusiaan. Namun sebaliknya, jika kitab suci menganjurkan untuk berpuasa terus-menerus
tanpa berbuka, boleh dikatakan kitab suci tersebut juga perlu dikoreksi. Agama dan kitab suci
sebuah pilihan individualistik .
          21
             Wacana ini tidak bermaksud untuk menegur lapisan-lapisan manapun yang memiliki
otoritas fatwa layaknya Khaled Abou El-Fadl. Titik tekan-nya hanya pada fenomena efektifitas
sebuah fatwa di tengah persaingan masyarakat antara “fatwa ulama” dengan “fatwa infotainment”
di televisi Indonesia.
          22
             Sejujurnya, ketika mengambil program post graduate di kampus ini, penulis terbuka
lebar melihat paradigma baru yang muncul di kampus ini. Hanya saja penulis sempat “kapok”
karena mencantumkan ayat Qur’an atau petikan dari sebuah Hadis dalam sebuah makalah.
Dianggap masih perlu banyak belajar, karena terlihat kedua sumber tersebut sangat normatif-
dogmatif. Terlebih ada seorang guru besar—yang tidak perlu saya sebutkan—tersinggung karena
ada sedikit kutipan dari Ihya—Al-Ghazali. Katanya kitab itu “terlalu tua” untuk dibaca. Dengan
begitu, penulis tidak akan mencantumkan ayat maupun Hadis dalam makalah ini. Terutama
kesalahan sejarah dengan menukil kembali pendapat al-Ghazali. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.
                                                                                               9




   mendengar orang tuanya. Lantas muncullah pertanyaan klasik kembali, “apakah
   agama yang tertinggal dengan sains, atau pemeluknya yang tertinggal?”
           Secara riil kaum beragama di Indonesia, pada 10 tahun terakhir masih
   memfokuskan pada wilayah; agama baru, ajaran-ajaran baru, apostasy—kasus
   Ulil Absar, dan wilayah pemanfaatan teknologi sejenis Facebook. Sebut saja soal
   lain fatwa haram rokok dan kasus waria pada salon kecantikan. Dua hal terakhir
   kaum agamawan, bukan tidak “bermutu,” tetapi di luar sana mereka sudah
   meributkan tentang—meminjam bahasa B. Hansen—“The Creator and Co-
   Creator.”
           Dengan kata lain, wilayah fatwa di Indonesia tidak lagi menjadi sesuatu
   yang kontributif bagi perubahan moral dalam mengimbangi pertumbuhan sains.
   Karena fatwa lebih banyak dikuasai oleh elit kelompok tertentu, diakibatkan pada
   wilayah struktural yang kurang meluas. Faktor lain, secara historis wilayah fatwa
   keagamaan lebih tercium bau politis dari barisan pro-kontra.23 Hal ini terlihat dari
   luntur-nya kepercayaan masyarakat pada legitimasi struktural pemerintah, baik
   legislatif dan yudikatif, bahkan pada kiai.24 Atau dalam bahasa sederhana,
   masyarakat Indonesia sudah mengarah pada degradasi moral, tanpa tergiur
   “pahala dan surga.”
           Dari itu, seperti yang telah disinggung perlu menentukan format awal yang
   utuh membangun sains Islam. Sains yang sejalan dengan nilai-nilai spiritual dan
   humanisme dimulai dengan pengembangan pendidikan Islam. Tentunya, hasil
   pendidikan Islam yang tidak cukup “terkagum” melihat perkembangan sains, dan
   “mengutuk”-nya jika sains melanggar aturan. 25

C. Bagaimana Seharusnya Pendidikan Islam Menjawab ?
   Setuju atau tidak, secara nyata di lapangan pendidikan Islam di tanah air telah
   terjadi dikotomi. Wilayah ini tidak dijumpai pada kerangka normatif-konseptual.
   Karena secara umum, Islam tidak membedakan dari segi keilmuan tapi dari segi
   kemanfaatan. Namun begitu, wilayah dasar epistemologi—yang pada bagian
   berikutnya sempat disinggung—perlahan larut pada kerangka yang tidak kokoh
   sehingga terjadi pembelahan orientasi studi di Indonesia. Fenomena MAN-SMU,
   MTs-SMP dan seterusnya merupakan bagian dari sejarah dikotomi pendidikan
   Islam di negeri ini.26 Akibat pemisahan ini, ternyata merambah ke paradigma


           23
                Amin Abdullah, kata pengantar dalam bukunya, Islamic Studies di Perguruan Tinggi;
   Pendekatan Integratif-Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. x.
             24
                Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris, Cet ke-II (
   Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 188.
             25
                Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Cet-II (Yogyakarta; Pustaka
   pelajar, 2004), hlm. 266 .
             26
                 Mengenai sejarah dikotomi keilmuan pendidikan Islam, mohon dilihat pada
   Abduracahman Asseegaf, kata pengantar dalam Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam
   Integratif; Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam, (Yogyakarta:
   Pustaka Pelajar, 2005), hlm. vi-ix. Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan
   Islam,(Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006), hlm. 186. Muhaimin, Pengembangan Kurikulum
   Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta; Raja Grafindo
   Persada, 2005), hlm. 15-17. Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam..., hlm. 70-71 .
                                                                                            10




sempit wajah keilmuan agama lebih bernuansa “akhirat” dan rival-nya berbau
“dunia.”
        Setidaknya Kant mencatat bahwa sejak masanya—bisa lebih lama dari
itu—peran agama di Barat pudar lewat kerangka Newtonian dan Darwinism.
Potret liberalisasi agama bertarung hebat antara wahyu—akal, ilmu pengetahuan-
moral, dalam pandangan Kant lewat kacamata Barbour. 27 Senada dengan hal ini,
masalah dikotomi ilmu yang sudah meruncing sejak Abad ke-XVII, masih
dirasakan oleh para cendekiawan Muslim Abad ke-XXI.
        Barangkali, pandangan Kant dan Barbour dipinjam Amin Abdullah
dengan menilai, bahwa ketika agama tidak mampu menjawab temuan-temuan
sains, Tuhan kembali menepati eksistensi dan intervensi-Nya terhadap manusia.
Atau dalam bahasa lain, sekedar pengisi kekosongan semata bagi kaum agamawan
dalam menjawab sains.28 Kerangka dasar pemikiran inilah yang menurut Amin
perlu diakhiri demi perkembangan Islamic studies di Indonesia. Amin dalam salah
satu bukunya mengatakan:
        “…Kesulitan epistemologis ini rupanya berdampak secara struktural-
        politis dengan berdirinya Departemen Pendidikan Nasional dan
        Departemen Pendidikan Agama di awal kemerdekaan republik ini.
        Terpisah-nya dua departemen ini, khususnya dalam hal pendidikan
        menambah sempurna-nya dikotomi dimaksud.”29

Masih menurut Amin, potret jurang pemisah diantara kedua keilmuan di tanah air
terlihat “mencolok,” jika di bandingkan dengan Turki yang terlihat “tegang.”
Amin menggambarkan pendidikan di negara sebagai berikut:
        “…sebutlah Turki dengan penduduk sekitar 60 juta jiwa misalnya,
        kewajiban negara untuk menyelenggarakan pendidikan umum dan agama
        sepertinya telah diserahkan kepada Kementerian Pendidikan (Mili Egitim).
        Bahkan penyelenggara pendidikan agama yang mirip-mirip dengan MTs
        dan MAN di tanah air, (disebut dengan Khatib School/lisesi) juga
        diselenggarakan oleh Kementerian Kependidikan. Ketika perkembangan
        Imam Khatib begitu pesat dan tamatan-nya menyebar ke berbagai lapisan
        masyarakat, pemerintah yang “sekuler” menaruh curiga kiprah alumni-nya
        dan menutup sekolah tersebut karena dianggap tidak sejalan dengan
        nasionalisme-sekuler. Hubungan antara agama dan negara di sana memang
        tidak mudah dan kaku, tidak se-fleksibel den selentur hubungan agama dan
        negara di tanah air.” 30

        27
             Ian G Barbour, Isu dalam Agama dan Sains, alih bahasa Damayanti dkk…., hlm. 101-
105.
        28
            Amin Abdullah, dalam kata pengantar, Isu dalam Agama dan Sains, hlm. ii. Lihat juga
Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-Interkonektif…hlm.
93.
         29
           Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-
Interkonektif… hlm. viii.
         30
             Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-
Interkonektif… hlm. 122. Bandingkan “Qaul Qodim”-nya yang tampak berbeda memandang Turki
dalam, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? Cet. ke-II, (Yogyakarta: Pustaka pelajar,
2002), hlm. 194-195.
                                                                                              11




        Terlepas dari stagnasi Turki dalam dunia pendidikan, dalam hal
pengembangan pendidikan Islam jika ditarik mundur sejarah, pada tahun 1961
perombakan kurikulum di al-Azhar, Kairo baru terjadi. Penambahan ini meliputi;
teknik, kedokteran, ekonomi, sastra dan pertanian. Gagasan ini setelah Gamal
Abdul Nasir menduduki otonomi al-Azhar, dengan perangkat militer-nya.
Sebelumnya upaya ini juga telah dilakukan secara parsial oleh Muhammad
Abduh, dengan memasukkan; al-Jabar, matematika, ilmu ukur, dan ilmu bumi.31
        Bertalian dengan hal itu, tetangga Indonesia, telah melakukan terobosan
pada tahun 1983, dengan memasukkan; ilmu hukum, ilmu-ilmu dasar (The Center
of Fundamental Knowledge), ekonomi, dan pusat bahasa (Center of Languages),
pada     Universitas   Islam     Antarbangsa      Malaysia     (UIAM).     Seiring
perkembangannya, pada tahun 1990, Malaysia telah menambah dengan Kulliyyah
of Enginering, Kulliyyah of Science, Kulliyyah of Architecture and Environmental
Design.32
        Di tanah air, ada UIN Syarif Hidayatullah dan UIN lainnya yang juga
senada dengan dua contoh di atas, perlu penggalian sains lebih mendalam dengan
dasar ideologi yang kokoh. Perdebatan pada wilayah visi-misi konversi
pendidikan Islam di Indonesia, akan berputar kembali pada wilayah dikotomi
agama-umum, dan terkurung sebuah definisi yang belum tentu selesai. Yang
terpenting, langkah saat ini memperbaiki dan mengamati perkembangan lokal
yang baru tumbuh, lalu berusaha memperbaiki keadaan.
        Secara normatif, sekilas corak filsafat pendidikan Islam terbagi kepada 4
hal; Pertama, landasan Teosentris. Kedua, aqliyah dan amaliyah. Ketiga, ber-
akhlak mulia. Keempat, pendidikan kesehatan (jasmaniah).33 Jika ditarik pada
wilayah ini, persoalan belum tentu selesai. Persoalan filsafat pendidikan Islam
terlalu banyak kontribusi dari berbagai tokoh empunya. Wilayah pencarian
definisi akan meruncingkan perdebatan lama yang kembali diangkat, “apa yang
dimaksud dengan filsafat pendidikan Islam?”34 Dengan begitu, dasar visi dan
misi-lah yang dapat sekilas memotret sebuah langkah gerak menuju
pengembangan pendidikan Islam. Gambaran kecil yang tampak berbeda dari


        31
            Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam.., hlm. 184.
        32
            Akh. Minhaji dan Kamaruzzaman, Masa Depan Pembidangan Ilmu di perguruan
Tinggi Agama Islam, (Yogyakarta: ar-Ruzz Media, 2003), hlm. 68.
         33
            Zuharini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, Cet. Ke-VI (Jakarta : Bumi Aksara, 2000),
hlm. 18-50.
         34
            Disini penulis hampir terjebak antara “Ilmu pendidikan Islam” dan “filsafat pendidikan
Islam.” Penulis hampir sukar menemukan mana filosofi yang lebih dekat dari kedua term tersebut.
Senada dengan Muhaimin, bahwa ada beberapa warna definisi dari berbagai tokoh misalnya;
Noeng Muhajir, Mastuhu, Azyumadi Azra, dan Ahmad tafsir. Penggalian definisi, menurut
Muhaimin, terbagi 2 corak yang saling bersinggungan. Antara lain, pihak yang ingin tetap
menampilkan format pendidikan sebagaimana berpedoman dengan nash, berlandaskan Qur’an.
Kedua, kelompok yang menginginkan pola keterbukaan terhadap non-islami, dengan memasukkan
konsep pemikiran mereka terhadap pendidikan Islam.
         Pada akhirnya, Muhaimin sendiri yang menyimpulkan bahwa, “filsafat pendidikan Islam
adalah kumpulan teori pendidikan Islam, yang hanya dapat dipertanggungjawabkan secara logis
dan tidak dapat dibuktikan secara empiris.” Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan
Islam, hlm. 119-120.
                                                                                              12




sebuah mutu pendidikan misalnya sisi etika dan moral, juga nampak dari
bangunan sebuah rumusan visi dan misi.

Konversi IAIN ke UIN Sunan Kalijaga; Sebuah Studi Kasus
Dua contoh luar negeri yang telah disebut—Kairo dan Malaysia, jika meminjam
istilah Minhaji, berangkat dari pendekatan normatif-deduktif. 35 Sementara
pengembangan produk perguruan tinggi lokal, berangkat dari empiris-induktif.
Yang menarik, bagi Minhaji pengembangan metode empirik-induktif dalam
konteks keindonesiaan tidaklah tepat. Ia meramalkan bahwa paradigma pemikiran
ulama di tanah air lebih dominan berpikir tradisional-konvensional, sehingga sulit
di cerna jika beriringan dengan pemikiran konversi UIN . 36
        Sedangkan cara tersebut dipakai oleh Amin Abdullah dengan istilah lain—
historisitas (kajian historis). Bagi Amin cara yang pertama, membuat
perkembangan agama tetap terlihat “kaku” dalam pengembangan paradigma
luar—semisal sains. Tampaknya Amin setuju dengan Rahman, bahwa cara lama
hanya akan kembali berputar masalah “pembakuan” dan “pembekuan” Islamic
studies.37 Berbeda dengan Iqbal yang menilai kebekuan Islamic studies bukan
hanya dari faktor tersebut.38 Namun menurut Amin dan Rahman, Islam tidak
bergeser, tetap berada dalam kerangka sakralitas nash dalam pemaknaan dan
pemahaman. Dengan begitu, hasilnya menurut Amin Islamic studies telah terjadi
saling tumpang-tindih antara keilmuan dan keagamaan. Pada akibatnya, untuk
menghadapi dilema tersebut, diperlukan pendekatan lain seperti; kritis, analitis,
empiris dan historis.39
        Sebagai contoh, bagi Amin selama ini fenomena pendidikan Islam pada
era klasik hingga kini—meminjam istilah Amin— terlalu banyak campur tangan
pada Islamic studies. Ia memberi contoh pada wilayah kajian Hadis, yang terlihat
pada metodologi Mustalahu al-Hadis, Rijalul al-Hadis, dan sejenisnya.40
Pemikiran Islam kontemporer harus lebih “luar” dalam memandang Hadis-Hadis,

        35
            Minhaji menilai bahwa transformasi kedua negara tersebut memiliki “modal” yang
lebih kokoh dalam aspek linguist. Dua bahasa asing sebagai pengantar kuliah, dirasa cukup
mewakili perkembangan pendidikan dari pendekatan normatif—deduktif. Ibid., hlm. 77.
         36
           Meskipun pada kajian kenegaraan, ada pantas-nya Minhaji sempat menyinggung
pendekatan studi Islam. Minhaji kata pengantar dalam buku Kamaruzzaman, Relasi Islam dan
Negara; Perspektif Modernis dan Fundamentalis, (Mengelang : IndonesiaTera, 2001), hlm. xvi-
xxiv.
         37
           Terkait pembukuan dan pembekuan, Fazlur Rahman mempertanyakan kapan masa
penutupan ijtihadiah. Selain itu apa/siapa yang telah menutup pintu ijtihadiah? Lihat dalam Fazlur
Rahman, Islamic Methodology in History (Karachi: tp, 1965), hlm. 227. Bandingkan dengan
Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-Interkonektif…, hlm.
140.
         38
           Iqbal menilai, bahwa pembekuan jika ditarik lebih umum, bukan hanya terletak pada
wilayah epistemologi semata. Setidaknya Iqbal menyimpulkan bahwa ada faktor lain seperti;
penutupan ijtihad, pengaruh zuhud, dan kehancuran Abbasiyah. Mohammad Iqbal, The
Reconstruction of Religions Thought in Islam, (terj.) Osman Raliby, (Jakarta: Bulan Bintang,
1966), hlm. 174-176.
         39
           Amin Abdullah, “Al-Ghazali di Muka Cermin Immanuel Kant; Kajian Kritis Konsepsi
Etika dalam Agama, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 1, Vol. V, 1994. hlm. 45-46.
         40
            Amin Abdullah, Islamic Studies di…,hlm. 141-142.
                                                                              13




kecuali pada persoalan ibadah murni—shalat, puasa, haji, dan zakat. Kenyataan
dari cara pandang Amin inilah yang membuka mata para penggiat kajian Hadis di
lingkungan akademisi. Bisa dikatakan, hal ini memberikan rangsangan
metodologi baru bagi dalam studi Hadis—lebih umumnya studi Islam, bahwa
dalam pengembangan ilmu harus value free, sama sekali tidak ada campur tangan
kepentingan (rahmatan lil alamin). 41
        Pada akhirnya, metode Amin dan kawan-kawan, dapat diaplikasikan
dalam mengembangkan konversi IAIN menjadi UIN di Sunan Kalijaga,
Yogyakarta. Secara budaya, wilayah ini kemudian lebih dikenal dengan iklim
kultur yang “tidak terlalu heroik” menyikapi berbagai pergolakan baru pemikiran
Islam di perguruan tinggi tersebut.

Perlukah Pesantren-Pesantren di-UIN-kan?
Dalam catatan kecil perjalanannya selama 2 hari, Amin memotret corak
pendidikan pesantren—klasik di Jombang pada November 1995. Entah apa pasti
ia lakukan disana, yang pasti Amin mampu memberikan kesimpulan-kesimpulan
singkat yang hampir mengena. Tradisi belajar di pesantren yang ia kunjungi masih
bercorak dogmatis, dengan metode kitab-kitab klasik—supaya tidak menyebut
kuno. Baginya, cara belajar dengan metode seperti itu, tidak membebaskan peserta
didik untuk menggapai nilai kritis. Bahkan tampaknya agak geram, manakala
wilayah ilmu kalam di tempat itu dikunci rapat dalam ranah pendidikan. 42
        Jika sekilas membaca biografi Amin, saat itu ia sudah bergelut dengan
dunia akademisi. Tentunya berangkat dari pemahaman awal ini, posisinya
termasuk—meminjam istilah Rahman—outsider bagi pondok klasik, tradisional,
salafi, atau sebutan apa pun yang pantas mewakilinya. Jelasnya, Amin tidak
masuk pada wilayah struktural.
        Masih juga dalam catatan biografi, Amin sempat mondok di pesantren
modern Gontor, Ponorogo. Dari sini juga dapat disimpulkan pendidikan corak
pondok yang pernah diterimanya, juga berbeda dengan yang ia kunjungi waktu
itu, sangat ke-NU-an. Lantas yang perlu menjadi catatan, mengapa dengan
setumpuk literatur dalam kunjungan singkat, mampu menarik kesimpulan umum,
bahwa pondok pesantren hanya dapat berkembang jika mampu mengkolaborasi
antara ‘kitab kuning’ dan ‘kitab putih’?
        Sebelum mencoba memberi jawaban, ada kalanya sekilas perlu dilirik
sejarah singkat kemunculan pesantren di Indonesia. Dengan harapan, berangkat
dari pemahaman ini dapat disimpulkan, bagaimana sejarah kemunculan pesantren
di Indonesia, mampu langsung “terbang” membaca “kitab-kitab putih,” memiliki
nalar kritis—layaknya anak kampus, tidak selalu normatif, dan mampu menjawab
tuntutan sains, seperti pertanyaan pembuka, ”perlukah pesantren di-UIN-kan?”
        Dalam catatan singkat penulis, sejarah kelahiran pesantren erat kaitannya
dengan sejarah pendidikan Islam dan sejarah kemerdekaan Indonesia. Pendidikan
Islam merupakan salah satu jalan untuk membebaskan manusia bukan hanya dari
kolonialisme Belanda, tapi menyadarkan bangsa Indonesia terhadap realitas-

       41
        Ibid., hlm. 104.
       42
        Ibid., 310.
                                                                                             14




realitas.43 Dengan begitu, pendekatan budaya ini mampu memotret arah gerak
pendidikan Islam ala Indonesia sendiri.
         Pesantren mulai bermunculan dengan berbagai bentuk-bentuk sederhana
mulai dari langgar (Jakarta), surau (Sumatra barat), dan pondok (Jawa), dan
daerah-daerah lain di Indonesia seperti Ternate-Tidore, merupakan langkah untuk
melawan penjajahan dengan nalar-nalar identitas agama Islam. Ada sejumlah
nama pendiri seperti KH. Zarkasy, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dan
lain-lain, termasuk nama yang jarang disebut, Nawawi al-Bantani al-Tanara.
Periode ini berlangsung sekitar akhir tahun 1800-an hingga 1945. Dengan kata
lain, ada motif standar ganda, yakni; sisi politik—perjuangan RI dan pendidikan
bangsa.
         Jika dilihat dari model pendidikan secara umum, pola kurikulum terbagi
kepada 3 jenis, antara lain; model tradisional dengan basis pemikiran Nahdahatul
Ulama (NU), semi-tradisional Muhammadiyah, dan modern yang menekankan
pada aspek linguistik (Arab-Inggris). Untuk model pertama dan kedua, tampaknya
lebih umum. Misalnya NU dengan corak Jombang, Jawa Timur dan
Muhammadiyah dengan corak Kauman, Yogyakarta. 44 Sementara modern,
misalnya Gontor (Ponorogo), dan Raudhatul Ulum (Sumatra Utara), dan lain-lain.
         Keberadaan pesantren berangkat dari dua hal; pertama, eksistensi secara
ekonomi, budaya dan spiritual; kedua, kontribusi keilmuan. Dari sisi yang
pertama, bahwa corak pondok punya beragam alasan sehingga sedemikian rupa
lingkungan kecil masyarakat sekitar merasa lebih nyaman dengan keberadaan
corak pendidikan seperti itu, karena berangkat dari lekatnya budaya sekitar.
         Penulis ingin menampilkan corak pesantren yang berbeda dengan ketiga
corak tadi. Misalnya corak pondok yang dengan ideologi Jamaah Tabligh. Pondok
pesantren al-Fattah di Temboro, Magetan, Jawa timur dan Sirajul Mukhlasin,
Kauman, Magelang. 45 Dua pondok yang penulis sebut, memiliki kesamaan basis
pemikiran dengan Jamaah Tabligh di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Hanya saja,
perbedaan kultur yang berkembang—namun sama belum tercemar—Kebon Jeruk
dengan dua pondok Jateng dan Jatim tadi terlihat kontras. Di satu sisi, Kebon
Jeruk hanya berupa Masjid yang berada di tengah kota Jakarta dengan “pagar”
diskotik dan tempat pelacuran terkenal bernama Jalan Gajah Mada dan Jalan
Hayam wuruk, diapit dengan pusat hiburan malam bernama Lokasari sekitar
Jakarta Barat. Sementara al-Fattah dan Sirajul Mukhlasin terletak di desa dengan
kultur yang sangat berbeda dari yang pertama.
         Ideologi Jamaah Tabligh bersumber dari “hasil impor” India, Pakistan, dan
Bangladesh. Sentral pusat gerakan ini berada di Nizamudin berdekatan dengan
kota New Delhi, India. Tentu saja sangat berbeda dengan corak pondok pesantren

        43
            Abdurrahman Mas’ud, “Eksistensi, Peran, dan Tantangan Pesantren di Indonesia,”
dalam epilog “Agama, Pendidikan Islam dan Tanggung Jawab Sosial Pesantren,” (Yogyakarta;
Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 215. Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam…,
hlm. 186.
         44
            Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam…hlm. 69-81 .
         45
             Irwan Abdullah (ed.) “Agama, Pendidikan Islam dan Tanggung Jawab Sosial
Pesantren,” (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 215. Abdullah Idi dan Toto Suharto,
Revitalisasi Pendidikan Islam…, hlm. 35-37 dan 61-65.
                                                                               15




   yang notabene lebih banyak disebut sebagai “hasil impor” dari al-Azhar, Kairo.
   Dengan kata lain, iklim sekitar mendukung eksistensi corak pondok “aneh” yang
   berlangsung hingga kini.
           Kedua, dari sisi kontribusi ragam pondok tersebut masih sangat
   diharapkan keberadaannya, karena selalu bergerak pada wilayah moralitas—
   sufistik. Mereka tidak terlalu menekankan untuk “mencetak ulama” seperti
   kebanyakan pondok lain. Segala aktifitas mereka nyaris tidak pernah terkena
   perubahan iklim politik rezim apa pun, karena tidak pernah sama sekali
   “menyenggol” pemahaman aliran-aliran lain, dan kebijakan-kebijakan
   pemerintah. Sekali pun ada, pendapat itu hanya bersifat personality. Mereka
   membebaskan siapa pun untuk menjadi apa pun, yang terpenting dalam kerangka
   normatif. Figur yang tepat untuk mewakili orang-orang yang demikian hingga
   akhir hayat, adalah almarhum Gito Rolies (rocker klasik Indonesia).
           Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa corak pesantren di atas sangat
   jauh sekali jika harus bertemu dengan konsep keilmuan Amin Abdullah. Apa lagi
   jika “dipaksa” harus bisa menjawab cloning manusia dalam ilmu genetika—sains.

D. Catatan Akhir
   Harus diakui, kehadiran sains menjadi pertimbangan tersendiri bagi pergumulan
   dikotomi pengembangan pendidikan Islam. Berangkat dari metode mana pun,
   sains perlu jawaban-jawaban secepat mungkin. Ada benarnya pendapat Hadis
   yang menyatakan bahwa,” awal masuk Islam terasa asing. Dan Islam akan
   kembali terasa menjadi asing.”
           Terkait dengan sains, corak pendidikan Islam berbasis pesantren perlu
   perbaikan. Motif pendirian pondok pesantren dengan aroma perjuangan melawan
   penjajah, sudah semestinya digeser. Misalnya dengan penambahan kitab-kitab
   baru abad yang tidak terlalu jauh dari abad ke-7 M. Sebut saja dengan tafsir
   Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan kajian-kajian Ibnu Khaldun, yang
   berbasis abad ke-19 dan ke-20. Jika tidak, tradisi tafaqquh fi ad-din akan
   memudar. Ulama akan kesulitan menjawab problematika kontemporer. Terlebih
   kajian-kajian sains.
           Saat ini fakultas-fakultas teknik yang di transplantasi-kan dari umum-
   agama menjawab kebutuhan sains belum membuahkan hasil yang nyata. Gagasan
   Nurcholis Madjid tentang insan ulil abab, manusia yang peka sains, humanis,
   kritis, dengan tidak mengurangi nilai-nilai spiritualism, ada baiknya dijadikan
   landasan cara pandang baru terhadap corak keilmuan Islam. Karena secara
   sederhana pola nilai pendidikan humanisme dalam Islam, dapat diambil dari
   adigum “ketinggian nilai spiritual seseorang, berbanding lurus dengan nilai
   kontribusi terhadap peradaban.” Sebagai contoh Nabi Idris—peradaban pakaian
   berjahit, Nabi Nuh—transportasi, Nabi Daud—peradaban logam, dan lain-lain.
           Sebaliknya titik tekan pengembangan pendidikan Islam, secara umum
   yang difokuskan pada wilayah pencangkokan agama-umum, mulai dari PTAI dan
   sederajat, dengan bahasa; Integrasi, interkoneksi, rekonstruksi, transformasi,
   revitalisasi dan lain-lain, barang kali perlu ada tawaran dengan lebih berbeda,
   dengan tetap mempertahankan wilayah-wilayah etika-normatif. Misalnya
   meminjam istilah Cak Nur, “orang sekolah dimasukkan ke pondok atau orang
                                                                               16




pondok dimasukkan ke sekolah.” Berangkat dari pemahaman pertama lanjutan
konsep ini akan mempermudah percepatan dari ketertinggalan agama terhadap
sains. Obyek didik pada wilayah ini secara alamiah terus menggeluti dunia sains
pada wilayah dasar mereka, diberikan basement nilai spiritual yang kokoh sejak
dini. Salah satu nasehat Nurcholis Madjid “…konversi IAIN menjadi UIN kurang
tepat, karena minat menjadi ulama agaknya akan mengalami marginalisasi.”
        Jika dengan alasan ketertinggalan epistemologi keilmuan pesantren dipikul
rata, hingga menyimpulkan bahwa lembaga ini harus juga di-UIN-kan, maka
tampak nyata sebuah kecelakaan sejarah akan bermunculan. Kecuali jika corak
pesantren modern seperti yang pernah dijajaki para cendekiawan muslim di tanah
air pada usia remaja. Terlalu banyak yang harus di rancang-bangun jika nasib
masa depan pesantren dipaksakan dengan konsep ke-UIN-an. Bisa jadi bukan
malah maju, tapi sebaliknya hancur berantakan. Sebagai contoh pada wilayah
nalar kritis. Kira-kira pesantren mana yang rela kiyai mereka digugat dengan nalar
kritis—terlepas dari cara santun-tidaknya—oleh para santrinya? Wilayah
struktural mereka terlalu rapih dengan bungkusan ta’dzim kepada ulama, terlihat
sepintas dari peringatan “haul” sebagai wujud mengenang keilmuan para
pencetusnya hingga akhir hayat. Jarang sekali terdengar seorang petinggi
akademisi—yang tidak masuk wilayah struktural pesantren—mendapat
penghargaan berupa do’a secara berkesinambungan sebagai wujud rasa terima
kasih terhadap kontribusi keilmuan mereka meski jasad sudah tiada.

   Wallahu a’lam bi ash-Shawab.
                                                                           17




                          DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-
       Interkonektif , Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
_______, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? Cet. ke-II,
       (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2002.
Abdullah, Irwan (ed.), Agama, Pendidikan Islam dan Tanggung Jawab Sosial
       Pesantren, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2008.
Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris, Cet
       ke-II, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2008.
Barbour, Ian G, Isu dalam Agama dan Sains, alih bahasa Damayanti dkk.,
       Yogyakarta: UIN Suka, 2006.
Fishman, Ted. C., China Inc; How to Rice of the Next Superpower Challenges
       America and The World, terj. Cet- III, Jakarta: Gramedia, 2006.
Holmes Roston III, Science and religion, terj. Yogyakarta: UIN Sunan kalijaga,
       2006.
Idi, Abdullah dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta :
       Tiara Wacana, 2006.
Kamaruzzaman, Relasi Islam dan Negara; Perspektif Modernis dan
       Fundamentalis, Magelang : IndonesiaTera, 2001, hlm. xvii.
Minhaji, Akh. dan Kamaruzzaman, Masa Depan Pembidangan Ilmu di
       Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta: ar-Ruzz Media, 2003.
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Cet-II, Yogyakarta,
       Pustaka Pelajar, 2004.
_________, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah,
       Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
       2005.
Muliawan, Jasa Ungguh, Pendidikan Islam Integratif; Upaya Mengintegrasikan
       Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka
       Pelajar, 2005.
Rahman, Fazlur, Islamic Methodology in History, Karachi: tp, 1965.
Zuharini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, Cet. Ke-VI, Jakarta : Bumi Aksara,
       2000.
Lainnya :
Amin Abdullah, “Al-Ghazali di Muka Cermin Immanuel Kant; Kajian Kritis
       Konsepsi Etika dalam Agama, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 1, Vol. V,
       1994.
Meski Memiliki Banyak Uang Jangan Pertaruhkan Nyawamu,
       http://www.epochtimes.co.id/nasional.php?id=7, di akses tanggal 03
       Juni 2009.
Manusia Kloning Pertama Bernama Eve Kini Berusia 5 Tahun,
       http://gugling.com/manusia-kloning-pertama-bernama-eve-kini-berusia-
       5-tahun.html. Akses 03 Juni 2010.
Menurut anda, hubungan antara sains dengan agama sebaiknya yang
       bagaimana? http://forum.detik.com/showthread.php?t=35827 (Akses 26
       Juni 2009).
                                                                 18




Bart Hansen and Paul Schotsmans, Cloning: The Human as Created Co-
      Creator?    Ethical   Perspectives.  Akses  03   Juni    2009.
      http://www.kuleuven.be/ep/page.php?LAN=E&FILE=ep_detail&ID=29
      &TID=112

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:426
posted:7/23/2011
language:Malay
pages:18