Docstoc

teori gestal

Document Sample
teori gestal Powered By Docstoc
					TEORI GESTALT
March 24, 2009 tiennymakrus

A. Latar Belakang
Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian
komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi
kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya
mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.
Istilah “Gestalt” mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan
bagian-bagiannya.
Aliran Gestalt muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan
Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena
dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang.
      Kelompok Wuerzburg
Selain kelompok Wundt, di Jerman berkembang lagi sebuah kelompok intelektual yang
ikatannya tidak sekuat kelompok Wundt, namun merasa tidak puas dengan pandangan Wundt.
Aliran ini menekankan bahwa aktivitas mental dapat diwujudkan dalam kesadaran nonsensoris,
merupakan awal pemikiran tentang higher mental process. Mind memiliki kategori-kategorinya
sendiri, dan mampu membentuk organisasi mental, tidak harus muncul dalam bentuk aktivitas
sensoris. Bentuk nyata dari pengorganisasian ini adalah pola-pola dari persepsi.
      Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan ini memfokuskan pada observasi dan deskripsi detil dari gejala yang muncul, tanpa
perlu menjelaskan latar belakang gejala atau menyimpulkan sesuatu dari gejala tersebut.
Sehubungan dengan pandangan gestalt, pendekatan fenomenologis dari Edmund Husserl (1859 –
1938) sangat berpengaruh, observasi dan deskripsi detil mengenai aktivitas mental yang
dirasakan individu.

B. Tokoh Gestalt
Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler.
Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari
lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

      Max Wertheimer (1880-1943)
Belajar pada Kuelpe, seorang tokoh aliran Wuerzburg. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler
(1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide
Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan
Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana.
Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan
yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan
manusia melakukan interpretasi).
Dengan konsep ini, Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang
kita terima. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik, tetapi proses mental.
Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai
penjelasan phi phenomenon.

   Kurt Lewin (1890-1947)
Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Lewin adalah salah
seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang.
Lewin lahir di Jerman, lulus Ph.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi thn 1914. Ia
banyak terlibat dengan pemikir Gestalt, yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep
psychological field juga dari Gestalt. Pada saat Hitler berkuasa Lewin meninggalkan Jerman dan
melanjutkan karirnya di Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Cornell University dan
menjadi Director of the Research Center for Group Dynamics di Massacusetts Institute of
Technology (MIT) hingga akhir hayatnya di usia 56 tahun.
Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan
bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan
menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku
individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada
waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Batas ini dapat
dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu
mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.
Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu
mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka
terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan
ini dan mengembalikan keseimbangan.
Apabila individu menghadapi suatu obyek, maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si
individu akan menentukan gerakan individu. Pada umumnya individu akan mendekati obyek
yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Dalam usahanya mendekati
obyek bervalensi positif, sangat mungkin ada hambatan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi
obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut
vektor. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat.
Dengan konsep vektor, daya, dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis
konflik (approach-approach, approach-avoidance, dan avoidance-avoidance).
Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Dasar berpikirnya
adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari
lingkungan, dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan
interpersonal mereka. Apabila hubungan ini bervalensi negatif, maka perilaku anggota akan
menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Sebaliknya,
hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan
kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok.
Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit
dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai
pada level explanatory dan sifatnya deskriptif.

C. Prinsip dasar Gestalt
1.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual
    field memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and
    ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan
    skill yang dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.
2.Prinsip-prinsip pengorganisasian:
   oPrinciple of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun
       ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
   oPrinciple of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah
       yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
   oPrinciple of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk
       sebelumnya
   oPrinciple of   Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola
   oPrincipleof Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi
       kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
   oPrinciple of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat
       dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti
       ukuran, potongan, warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila
       figure dan latar bersifat samar-samar, makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar
       dan figure. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi.
   oPrinciple of   Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.

D. Aplikasi prinsip Gestalt
Belajar
Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi
reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki
cara pandang baru terhadap suatu problem.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

a.Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku.
    Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu
    kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait
   akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna
   hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting
   dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan
   pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya
   memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

c.Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan
    hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan
    tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik
    mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan
    sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

d.Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
    lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki
    keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

e.Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
    tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan
    melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian
    menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd
    menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran
    dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan
    terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
    menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam
    situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk
    menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Insight
Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai
dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada
problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena
penting dalam belajar, ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.

Memory
Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak
ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek.
Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara
sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.
Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai
didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. Para
tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana.
Namun hal ini idak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan
behaviorisme. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun
pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme.
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt.

Implikasi Gestalt
Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan
   pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari
   higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak, namun tetap dapat
   mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya.
Pandangan   Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk
   menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual
   field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti
   persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh: Tolman dan Koehler.
Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang
terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan
organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan
sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.

Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka
hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam
studi mengenai belajar. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku
pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses
belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.


Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form)
dan pola persepsi manusia. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam
kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga
sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory.
Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman
manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian-
bagiannya.


Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1.Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual,
   tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya
2.Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3.Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan
   segala aspek-aspeknya.
4.Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5.Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6.Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi dorongan yang
    mengerakan seluruh organisme.
7.Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8.Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.


Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. Hal ini nampaknya juga
relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar
memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian
bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. Dewey ada 5 upaya
pemecahannya yakni:
1.Realisasi adanya masalah. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat
   merumuskan
2.Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.
3.Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4.Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang
   diperoleh.
5.Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal
   itu.


Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih
daripada kumpulan not, demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai
sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka
toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu
dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah
pada bidang berlatar belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terlihat biru pada latar berwarna
kuning.
Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola yang
sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar
mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni
menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian / detail,
maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin
jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yakni
mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah
pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagai keseluruhan dunia yang bersifat psikologis.
Seseorang beraksi terhadap lingkungan sesuai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat
tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam
fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuan dari prilaku manusia. Individu
menetapkan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Perilakunya
akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada pandai atau tidaknya pemahamannya akan
situasi.


Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok, yaitu hukum Pragnaz, dan
empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –
hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.

                                      DAFTAR PUSTAKA
1. http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/gestalt.html
2. http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1854950-teori-belajar-gestalt/
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Gestalt
4. http://asnaldi.multiply.com/journal/item/5
5. http://hariadhi.wordpress.com/2008/01/17/gestalt-harta-karun-yang-terlupakan/




Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses
yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang
dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian
meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar,
maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu
dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau
prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar,
maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang
menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized
form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan
dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini
terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok
pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman
manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada
bagian- bagiannya.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara
intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap
dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan
yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang
diisi.
Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya
juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar
memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap.
Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5
upaya pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat
merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan
masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan
yang diperoleh.
5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil
pemecahan soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih
daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai
sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi
maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap
lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna
abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna
abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.

Belajar melibatkanproses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola
yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya
belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi,
yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami
bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur
menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang
lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks
yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan
dunia yang bersifat psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan
persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan
secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian
berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu
menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya.
Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya
pemahamanya akan situasi
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan
empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum
–hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:170
posted:7/22/2011
language:Indonesian
pages:9