filsafat islam

Document Sample
filsafat islam Powered By Docstoc
					                                               FILSAFAT DASAR
1. Pengertian filsafat
      a. secara etimologi adalah berasal dari kata yunani yaitu philosophia yang dirangkai
           dari dua kata, philein yang berarti mencintai dan Sophia yang berarti
           kebijaksanaan. Philosophia berarati cita kebijaksanaan ( inggris : love of wisdom,
           Belanda: wijsbegeerte, Arab: muhibul alhikmah ).1 Apakah filsafat itu pada
           hakikatnya filsafat menurut bahasa adalah menggunakan rasio (berfikir).2 Seorang
           berfilsafat yaitu bagaimana dia mengunakan kemampuan berfikirnya secara
           maksimal untuk suatu permasalahan.
      b. Secara terminology adalah, menurut Plato dalam teori etika kenegaraanya
           menyebut empat budi, yang meliputi penguasaan diri, keberanian, kebijaksanaan
           dan keadilan.3 Al-Kindi membagi filsafat menjadi tiga lapangan:
          1) Ilmu fisika (ilmu thobi’iyah) meliputi tingkatan alam nyata, terdiri atas benda-
               benda konkrit yang dapat ditangkap panca indra.
          2) Ilmu matematika (ilmu riyadli) yang berhubungan dengan benda, tetapi
               mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka.
          3) Ilmu ketuhanan (ilmu rububiyyah), ilmu yang tidak berhubungan dengan benda
               sama sekali.4
          Di sini Al-Kindi mengklasifikasikan filsafat menurut objeknya. Kesemuanya
          pengklasifikasian tersebut dipengaruhi oleh kencenderungan Al-kindi pada
          kerangka berfikir materialism.
2. Hubungan filsafat islam dengan Ilmu-ilmu keislaman:
      a. Hubungan filsafat islam dengan ilmu kalam
          Sebagai mana dimaklumi kalm yang di maksud adlah firman Alloh. Pada
           abadmpermulaan hijiriah firman Alloh dipersoalkan baru atau qodim. Baik
           kelompok yang berpendapat bahwa firman Alloh kebaharuan kalam (mu’tazilah),
           maupun yang berpendapat firman Alloh qodim(ibnu Hambal dan As ariyah) dan
           meluas ke persoalan-persoalan yang lainya, meskipun ilmu kalam menggunakan
           dalil-dalil nash-nash agama sebagai sumber pokok agama tetapi dalam
1
  Hasyimsyah Nasution, filsafat islam, (Jakarta gaya media pratama 1999), hlm.1.
2
  Djrumrasah, Filsafat pendidikan (Malang: Bayu Media, 2004), hlm.2.
3
  Ibit.hlm.6.
4
  Ibit.hlm7.
           kenyataanya penggunaan dalil-dalil akal melebihi penggunaan dalil naqli, yang
           tampak dalam pembucaraan mutalim. Atas dasr inilah para pakar memasukan
           ilmu kalam dalam lingkup filsafat islam, seperti ibnu kholdun dalam kitab, Al Iji,
           Musthofa abdul Al-Razik dalam kitab Tamhid li tarikh Al-fasafah Al-islamiyah.
           Namun demikian, antara ilmu-ilmu keislaman dapat dibedakan. Filsafat islam
           mengandalkan akal dalam mengkaji objeknya. Nash-nash agama hanya sebagai
           bukti untuk membenarkan hasil temuan akal. Sebaliknya ilmu kalam hanya
           mengambil dalil aqidah dalam sebagi tertera dalam wahyu yang mutlak
           kebenaraanya, untuk mengkaji objeknya.5
      b. Hubungan filsafat islam dengan tasawuf
           Tasawuf sebagai suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara dan jalan seorang
           hamba bisa sedekat munkin dengan Alloh, dapat dibedakan tasawuf amali/aqlaki
           dan tasawuf falsafi. Dari pengelopokan ini tergambar unsur-unsur kefilsafatan
           dalam ajaran tasawuf, seperti penggunaan logika dalam menjeladkan maqom (al-
           fana’al-baqo’, ittihad, hulul, wahdut al-wujud). Adapu perbedaan antara filsafat
           islam dan tasawuf adalah sebagai berikut: objek yang dikaji filsafat membahas
           segala sesuatu yang ada, baik fisika maupun metafisika yang dikaji dengan
           memmpergunakan argumentasi akal dan logika. Objek tasawuf pada dasarnya
           mengenal Alloh, baik dengan jalan ibadah, ilham dan intuisi. Karena itu sufi juga
           disebut al-ubad (ahli ibadah) atau al-zuhhad (ahli zuhud).6
      c. Hubungan filsafat islam dengan usul fikh
          Dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-qur’an yang berkenaan dengan
          hukum dibutuhkan ijtihat, yaitu suatu usaha yang menggunakan akal dan prinsip
          kelogisan yang dilakukan untuk menentukan hukum-hukum dari sumbernya.
          Mengingat pentingnya ijtihat ini, para pakar hukum islam menganggap sebagai
          sumber hukum ketiga setelah al-qur’an dan hadist.7 Jadi sangat erat hubungan
          filsafat dan usul fikh karena usul fikh sangat membutuhkan pemikiran yang jernih



5
 . Hasyimsyah Nasution, filsafat islam, (Jakarta gaya media pratama 1999), hlm.6.
6. ibit hlm.6.
7. ibit hlm.6.
dan mendalam, sedangkan berfilsafat juga berfikir secara mendalam dan
mendasar.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:218
posted:7/22/2011
language:Indonesian
pages:3