Fisiologi-Reproduksi-Udang-Windu by hendrascoot

VIEWS: 4,354 PAGES: 34

More Info
									TUGAS KELOMPOK (FISIOLOGI UDANG WINDU)

UDANG WINDU (PENAEUS MONODON)




                                         BAB I

                                   PENDAHULUAN

                                  1.1. Latar Belakang

Di Indonesia, perikanan merupakan salah satu sumber devisa Negara yang sangat potensial.
Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan datang sangat
penting bagi pembangunan di sektor perikanan serta merupakan salah satu prioritas yang
diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan.

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas unggulan Indonesia dalam upaya
menghasilkan devisa negara dari eksport nonmigas. Berbagai upaya telah dilakukan dalam
meningkatkan produksi udang windu. Salah satu diantaranya adalah penerapan sistem
budidaya udang windu secara intensif yang dimulai sejak pertengahan tahun 1986.

Komoditas ini dikenal bernilai ekonomis tinggi dibanding beberapa komoditas lainnya, baik
untuk konsumsi lokal maupun untuk pasar ekspor. Selain itu dipilihnya udang sebagai
andalan utama penggaet devisa tentu beralasan. Alasan pertama, Indonesia memiliki luas
lahan budidaya yang potensial untuk udang, yakni mencapai 866.550 hektar, sementara
sampai tahun 1999 luas tambak yang dibangun baru mencapai 344.759 ha. Artinya, tingkat
pemanfaatannya baru 39,7%. Sementara itu, potensi penangkapan udang di laut diperkirakan
74.000 ton/tahun dan telah dimanfaatkan sekitar 70.000 ton/tahun. Dengan demikian, tingkat
pemanfaatan dari penangkapan di laut sudah mencapai 95% sehingga andalan utamanya
adalah udang hasil budidaya di tambak. Dengan target produksi sekitar 2 juta ton udang per
tahun. Seiring dengan semakin meningkatnya volume permintaan udang di pasaran
internasional maka secara langsung akan mempengaruhi permintaan benur oleh para petani
tambak.
Alasan kedua, secara umum Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk
memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk perikanan,
terutama udang. Kenyataan ini bertolak dari besarnya permintaan produk udang, baik di pasar
domestik maupun pasar ekspor. Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka pengembangan
teknologi pembenihan udang perlu terus ditingkatkan. Menurunnya minat masyarakat akhir-
akhir ini untuk mengembangkan komoditas unggulan ini disebabkan karena ketersediaan
benih udang (post larva) yang belum memenuhi standar.

Untuk dapat mempelajari lebih lanjut cara pembudidayaan udang windu ini, terlebih dahulu
kita harus mengetahui anatomi, morfologi dan fisiologi udang windu. Maka dari itu penulis
membuat paper ini dengan judul ― Fisiologi Udang Windu (Penaeus monodon)‖.




1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan paper fisiologi hewan air ini adalah untuk dapat mengetahui lebih
jelas tentang fisiologi udang windu (Penaeus monodon) yaitu pertumbuhan, sistem
pencernaan, makanan dan kebiasaan makan, daur hidup dan reproduksi.

1.3 Batasan Masalah

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan, maka penulis membatasi masalah yang
dibahas dalam paper ini adalah pertumbuhan, sistem pencernaan, makanan dan kebiasaan
makan, daur hidup dan reproduksi udang windu (Penaeus monodon).
                                          BAB II

                                 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi

Secara umum terdapat beberapa jenis udang di Indonesia, dimana salah satu diantaranya yang
dikenal oleh masyarakat adalah udang windu (Penaeus monodon). Martosudarmo dan
Ranoemiharjo (1983), menyatakan bahwa udang windu dapat diklasifikasikan sebagai berikut
:

Filum : Arthropoda

Subfilum : Mandibulata

Klas : Crustacea

Sub klas : Malacostraca

Ordo : Decapoda

Sub ordo : Natantia

Famili : Penaidae

Genus : Penaeus

Spesies : Penaeus monodon

2.2 Morfologi Udang Windu

Secara garis besar, tubuh udang dapat dibagi atas dua bagian utama, yaitu bagian kepala yang
menyatu dengan dada (cephalothorax), dan bagian tubuh sampai ke ekor (abdomen). Bagian
kepala ditutupi sebuah kelopak kepala (Cerapace) yang di bagian ujungnya meruncing dan
bergigi yang disebut dengan cucuk kepala (rostrum). Udang windu mempunyai rostrum yang
memanjang melewati ujung dari antennular peduncle dengan rumus gigi rostrum 6-8 pada sisi
atas (umumnya 7) dan sisi bawah 2-4 (umumnya 3), serta berbentuk signoid.

Semua tubuh terbagi atas ruas-ruas yang ditutupi oleh kerangka luar yang mengeras, terbuat
dari Chitin. Di bagian kepala terdapat 13 ruas dan di bagian perut 6 ruas. Mulut terletak di
bagian bawah kepala, diantara rahang-rahang (mandibula), dan di kanan kiri sisi kepala yang
tertutup oleh kelopak kepala terdapat insang. Di bawah pangkal cucuk kepala terdapat mata
majemuk bertangkai yang dapat digerak-gerakkan. Ukuran mata juga dapat dipakai untuk
mengenal jenis udang pada tingkat Yuwana, dimana mata udang putih jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan mata udang windu.

Di bagian kepala terdapat beberapa anggota tubuh yang berpasang-pasangan, antara lain
sungut kecil (antenulla), sirip kepala (scophocerit), sungut besar (antenna), rahang
(mandibula), alat pembantu rahang (maxilla) yang terdiri atas dua pasang, dan maxilliped
yang terdiri atas tiga pasang, serta kaki jalan (periopoda) yang terdiri atas lima pasang
dimana tiga pasang di antaranya dilengkapi dengan jepitan yang disebut juga istilah Chela.

Pada bagian perut terdapat lima pasang kaki renang (Pleopoda) yang terletak di masing-
masing ruas, sedangkan pada ruas keenam terdapat kaki renang yang telah berubah bentuk
menjadi ekor kipas atau sirip ekor (uropoda) yang ujungnya embentuk ujung ekor (telson). Di
bawah pangkal ujung ekor terdaapt lubang dubur (anus).

Alat kelamin udang jantan yang disebut juga dengan petasma terletak di antara kaki renang
pertama. Sedangkan alat kelamin udang betina (thelicum), terletak di antara pangkal kaki
jalan ke-4 dan ke-5, dengan lubang saluran kelaminnya terletak di antara pangkal kaki ke
tiga.

Pada waktu masih hidup warna carapace dan bagian tubuh bergaris-garis tebal melintang
berwarna merah dan putih. Antena berwarna coklat keabu-abuan. Kaki jalan dan kaki renang
berwarna coklat dan pinggirnya merah. Bila berada di tambak terutama yang dangkal,
warnanya berubah menjadi coklat tua atau gelap dan sering berwarna kehitam-hitaman
(Sudarmini dan Sulistiyono, 1988).

Tubuhnya terdiri dari sefalotoraks dan abdomen, yang terlindung oleh rangka luar yang
keras. Umumnya hidup di perairan.
           Gambar. Struktur Tubuh Crustacea :Penaeus monodon (udang windu).




Terdiri dari dua kelompok besar.

a. Entomostraka     crustacea miroskopik; hidup sebagai zooplankton. Meliputi ordo
Branchiopoda, Ostrcoda, Branchiura       parasit, Copepoda   parasit beberapa ikan dan
Cirripedia, misalnya : Daphnia sp. dan Mesocyclops sp.




b. Malakostraka crustacea tingkat tinggi; makroskopik.

Meliputi ordo Isopoda, Stomatopoda dan Dekapoda yang memiliki nilai ekonorni bagi
manusia,

misalnya : Portunus sexdentatus (kepiting) dan Penaeus monodon (udang windu).
                   Gambar. Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon)

2.3 Daerah Penyebaran dan Habitatnya

Udang windu tersebar di sebagian besar daerah Indo-Pasifik Barat, Afrika Selatan, Tanzania,
Kenya, Somalia, Madagaskar, Saudi Arabia, Oman, Pakistan, India, Bangladesh, Srilangka,
Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Philipina, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang,
Australia, dan Papua Nugini (Khairul Amri, 2003)

Pada umumnya udang windu terdapat di daerah antara 30o sampai 155o B.T. dan antara 35o
L.U. sampai pada 35o L.S. Oleh karena itulah maka lokasi utama daerah penangkapan
kebanyakan di daerah tropis, terutama di Indonesia, Malaysia dan Philipina.

Udang windu bersifat euryhaline yaitu toleran terhadap kisaran salinitas yang lebar dan
menempati habitat yang berbeda dengan stadium dari daur hidupnya. benih udang, juvenile
dan tokolan mempunyai kebiasaan tinggal dekat permukaan pada perairan daerah pantai dan
di daerah estuarin hutan mangrove, sedangkan tingkat dewasa kelamin kebanyakan berada
pada perairan yang kedalamanya sekitar 100-200 m. Larva yang mencapai daerah pantai
biasanya berukuran sekitar 15 mm, akan tetapi kadang-kadang dijumpai yang berukuran lebih
kecil, yakni sekitar 8 mm.di bawah ini gambar tentang siklus hidup udang windu.

Udang windu umumnya menyukai dasar perairan yang berpasir, lumpur berpasir atau
lempung berdebu. Keuntungan yang diperoleh udang windu dengan hidup pada substrat yang
berlumpur adalah bahwa pada substrat yang demikian makanan alami dapat tumbuh. Malam
hari, sedang pada waktu siang hari umumnya mencari tempat berteduh atau bahkan
membenamkan diri ke dalam lumpur bila intensitas cahaya mencapai 600 lux. Induk udang
windu pada umumnya lebih menyukai substrat yang berlumpur pada kedalaman 10-40 m.
Poernomo (1979) menerangkan bahwa udang windu akan lebih cepat tumbuh pada
kedalaman lebih dari 100 cm dan salinitasnya sekitar 10-25 ppt.




          DESKRIPSI DAN MORFOLOGI UDANG WINDU (PENAEUS
                                       MONODON)




Deskripsi dan Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon)
          Udang windu (Penaeus monodon) atau biasa disebut udang pacet memiliki kulit yang
tebal dan keras, berwarna hijau kebiruan dengan garis melintang yang lebih gelap, ada juga
yang berwarna kemerah-merahan dengan garis melintang coklat kemerahan (Wahyudi 2003).
Nama dagang udang ini adalah Tiger shrimp.
          Menurut Suwignyo et al. (1997) dalam Ariesta (2007), udang dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
Filum            : Arthropoda
Sub Filum        : Mandibulata
Kelas            : Crustacea
Sub Kelas        : Malacostraca
Ordo             : Decapoda
Sub Ordo         : Natantia
Famili           : Penaeidae
Genus            : Penaeus
Spesies          : Penaeus monodon
                        Gambar . Udang Windu (Penaeus monodon)
                                 Sumber : www.hk_fish.net


       Tubuh udang windu terdiri dari dua bagian yaitu bagian depan dan bagian belakang.
Bagian depan disebut bagian kepala yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada
yang menyatu. Oleh karena itu dinamakan kepala – dada (Cephalothorax). Pada bagian perut
(abdomen) terdapat ekor di bagian belakangnya ( Suyanto dan Mujiman 2003).
       Semua bagian badan terdiri dari ruas – ruas (segmen). Kepala – dada terdiri dari 13
ruas, yaitu kepala terdiri dari 5 ruas dan dada terdiri dari 8 ruas. Sedangkan bagian perut
terdiri dari 6 ruas. Tiap ruas badan memiliki sepasang anggota badan yang beruas – ruas pula
(Suyanto dan Mujiman 2003).
       Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton yang terbuat dari
bahan chitin. Bagian cephalothorax tertutup oleh sebuah kelopak yang dinamakan kelopak
kepala atau cangkang kepala (carapace). Di bagian depan, kelopak kepala memanjang dan
meruncing yang pinggirnya bergigi atau biasa disebut rostrum. Di bagian perut terdapat 5
pasang kaki renang (pleopoda) yaitu pada ruas pertama sampai kelima. Sedangkan pada ruas
keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas atau ekor (uropoda).
Ujung ruas keenam ke arah belakang membentuk ujung ekor (telson). Di bawah pangkal
ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan Mujiman 2003).
                                          BAB III

                              FISIOLOGI UDANG WINDU

3.1 Pertumbuhan

Udang akan tumbuh setelah ganti kulit (moulting). Kondisi udang pada saat tersebut lemah
dan kulit dalam keadaan belum mengeras (Tricahyo, 1995). Boyd (1998), menyatakan bahwa
selama proses moulting udang menyerap Kalsium dan Magnesium. Kandungan zat tersebut
sangat dibutuhkan dalam jumlah yang tinggi. Pergantian kulit ini merupakan indikator
terjadinya pertumbuhan. Selama udang berganti kulit biasanya udang tidak bernafsu makan,
udang tidak banyak bergerak dan dalam kondisi yang lemah.

Ada 3 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada Udang Windu, yaitu faktor fisika, faktor
kimia dan faktor biologi.

3.1.1 Faktor Fisika

3.1.1.1 Suhu

Suhu kolam air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu
dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran air dan serta kedalaman air. Menurut
Haslan (1995) dalam Effendi (2003), yang menyatakan bahwa peningkatan suhu dapat
menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air, seperti O2, CO2, N2, CH4. Selain itu,
peningkatan suhu perairan sebesar 100C akan menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi
oksigen oleh mikroorganisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat (Effendi, 2003)

Menurut Mulyanto (1992) menyatakan bahwa suhu merupakan salah satu faktor fisik yang
amat penting. Suhu berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan udang. Menurut
Darmono (1995), udang windu cocok pada suhu antara 20-300C. Lebih lanjut Mujiman dan
Suyanto (1999), menyatakan suhu optimal untuk pemeliharaan udang windu adalah antara
28-300C. Suhu air dibawah 130C atau diatas 330C akan menyebabkan naiknya angka
kematian hampir mencapai 90%.
3.1.1.2 Kecerahan

Menurut Mulyanto (1992), faktor yang menentukan kecerahan suatu perairan adalah cahaya
dan partikel-partikel koloid serta jasad renik dalam perairan. Cahaya yang dimaksud adalah
cahaya matahari. Cahaya yang jatuh ke kolom air sebagian dipantulkan dan sebagian lagi
diteruskan ke dalam air.

Kecerahan air dipengaruhi oleh adanya bahan-bahan yang melayang dalam air, misalnya
plankton, jasad renik, detritus, maupun lumpur dan pasir. Menurut Mujiman dan Suyanto
(1999), bila kecerahan (angka secchi disk) menunjukkan 25-45 cm berarti cukup baik
keadaanya. Akan tetapi bila kurang dari 25 cm, berarti fitoplankton terlalu padat, maka perlu
adanya pergantian air 1/3 sampai ½ volume air dengan air yang bersih atau jernih.

3.1.2 Faktor Kimia

3.1.2.1 Salinitas

Salinitas adalah konsentrasi semua ion-ion terlarut dalam air (chlorida, carbonat, dan
bicarbonat, sulfat, natrium, calsium dan magnesium). Bagi pertumbuhan udang, salinitas ini
sangat berpengaruh, walau udang windu bersifat euryhaline. Konsentrasi salinitas sangat
berpengaruh terhadap proses osmoregolasi yaitu upaya hewan air untuk mengontrol
keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkungannya. Jika kondisi salinitas berfluktuasi
maka semakin banyak energi yang dibutuhkan untuk metabolisme. Metabolisme yang
dilakukan merupakan bentuk adaptasi (Fujaya, 2004).

Menurut Darmono (1995), udang Windu dapat hidup pada salinitas di bawah 10‰ dan paling
rendah dapat hidup pada salinitas 2‰. Sementara Mujiman dan Suyanto (1999), menyatakan
bahwa udang Windu dapat hidup sampai 50‰ asalkan perubahan tersebut berlangsung secara
bertahap. Umumnya organisme akuatik dapat menyesuaikan diri dengan perubahan salinitas
dari yang tinggi sampai ke yang paling rendah, asalkan perubahan tersebut berlangsung
secara perlahan-lahan (Mulyanto, 1992). Salinitas air yang optimal bagi udang Windu untuk
hidup normal dan tumbuh baik ialah pada kisaran 15-30‰ (Darmono,1995). Dengan kondisi
salinitas yang optimal ini udang dapat tumbuh dengan baik.

Kisaran salinitas yang rendah berbahaya karena dapat menurunkan oksigen, selain itu dapat
menyebabkan tipisnya kulit udang. Salinitas yang tinggi (> 35) dapat menyebabkan
pertumbuhan udang terhambat (BBPBAP Jepara, 2005). Untuk mengatasi hal tersebut dapat
dilakukan sistem tandon yang tertutup agar salinitas tidak tercampur dari saluran umum,
selain itu dilakukan pergantian air.

3.1.2.2 Derajat Keasaman (pH)

Nilai pH suatu perairan akan dapat menunjukkan apakah air bereaksi asam atau basa. Besar
kecilnya nilai pH akan berpengaruh terhadap interaksi dengan beberapa variabel seperti
amoniak, hidrogen sulfida, klorin dan logam (Boyd,1998). Menurut Effendi (2004), yang
menyatakan bahwa semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin
rendah kadar karbondioksida bebas.

Pada perairan laut karbondioksida terdapat dalam jumlah yang banyak, sehingga terbentuk
asam karbonat (H2CO3) yang dihasilkan karena reaksi dengan H2O. Asam karbonat ini
selanjutnya terdisosiasi menjadi ion hidrogen dan ion bikarbonat, kemudian ion bikarbonat
terdisosiasi lagi menjadi ion hidrogen dan ion karbonat. Sistem karbondioksida-asam
karbonat –ion bikarbonat merupakan sistem kimia yang komplek yang cenderung berada
dalam keseimbangan (Nybaken, 1992). Hal inilah yang menyebabkan air laut bersifat buffer
yaitu dapat mempertahankan pH dalam kisaran yang sempit antara 7,5-8,4.

Derajat keasaman yang baik untuk pemeliharaan udang windu berkisar antara pH 7,5 sampai
8,5 (Afrianto, 1991). Sedangkan menurut William (1988), pH yang baik mempunyai kisaran
antara 8-9. Hal ini berbeda dengan pendapat Mujiman dan Suyanto (1999) bahwa kisaran
yang baik bagi udang adalah 8,0-9,5.

3.1.2.3 Alkalinitas

Alkalinitas menggambarkan jumlah basa (alkaline) yang terkandung dalam air yang dapat
ditentukan dengan titrasi asam kuat (H2SO4 atau HCl) sampai pH tertentu. Alkalinitas juga
dapat diartikan sebagai Daya Menggabung Asam (DMA) yang artinya kemampuan air dalam
menyerap asam. Garam-garam asam ini berasal dari kation dapat bereaksi dengan karboat
(CO32-), bikarbonat (HCO3) atau hidroksil (OH-), daya mengapung garam basa ini berasal
dari kation Ca++, Mg++, Na++, K+, NH4+, Fe2. Alkalinitas diukur dengan berdasarkan
jumlah senyawa karbonat dan bikarbonat yang ada dalam air (Mulyanto,1992)

Fungsi dari alkalinitas dapat juga sebagai penetral asam, atau dikenal dengan sebutan acid-
neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air yang dapat menetralkan kation
hidrogen. Alkalinitas juga dapat dikatakan sebagai buffer terhadap perubahan pH air. Satuan
alkalinitas mg/l CaCO3. Nilai alkalinitas yang baik untuk udang berkisar antara 90-130 mg
Ca/l (Taslihan et al, 2005).

3.1.2.4 Nitrit (NO2)

Nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di perairan alami, nitrit banyak
dijumpai diperairan alami jika perairan tersebut banyak pencemarnya (Boyd, 1998). Menurut
Riyono et al., (1997), yang menyatakan bahwa senyawa nitrit yang terdapat dalam air
merupakan hasil reduksi senyawa nitrat atau oksidasi amoniak oleh mikroorganisme.
Menurut Boyd (1998), menyatakan bahwa nitrit merupakan bagian dari proses nitrifikasi
yaitu dari amonium yang bereaksi dengan hidrogen akan menjadi nitrit, melalui bakteri
Nitrosomonas dirubah menjadi nitrat. Selain bagian dari proses nitrifikasi, nitrit juga
merupakan bagian dari proses denitrifikasi yaitu setelah nitrit menjadi nitrat dalam keadaan
anaerob akan dirubah menjadi nitrit lagi oleh bakteri Nitrobacter.



Kadar nitrit dalam perairan untuk budidaya udang windu pada titik amannya sekitar 0,1 mg/l
(Chamberlain,1988). Apabila melebihi ukuran tersebut pertumbuhan udang dapat terganggu
bahkan udang yang kita budidayakan akan mengalami kematian. Salah satu dampak yang
disebabkan oleh nitrit bila dalam keadaan pH rendah adalah teracuninya darah dalam tubuh
biota atau sering disebut dengan penyakit darah coklat (Brown-blood desease). Kondisi ini
terjadi bila pH rendah sehingga nitrit masuk dalam aliran darah, selanjutnya mengoksidasi
besi (Fe) di dalam sel darah merah. Oksidasi ini menghasilkan methemoglobin yang dicirikan
dengan warna coklat dalam darah. Jika konsentrasi methemoglobin melebihi 20% dari total
sel darah merah akan menyebabkan penyakit darah coklat (Brown-blood desease) (Boyd,
1998).

3.1.2.5 Potensial redoks

Potensial redoks dapat dijadikan parameter kualitas sedimen. Menurut Taslihan et al., (2005),
yang menyatakan bahwa nilai redok potensial paling baik untuk tanah dasar tambak adalah
bernilai positif. Potensial redoks menggambarkan jumlah senyawa yang potensial teroksidasi
atau tereduksi. Dalam prosesnya sangat tergantung pada oksigen yang terdapat dalam air atau
tanah Boyd (1995). Menurunnya nilai redok berarti oksigen dalam air banyak dipakai
sedimen dalam melakukan reduksi. Menurut Jaya dan Adiwijaya (1996), yang menyatakan
bahwa nilai redok negatif menunjukkan banyak oksigen yang terserap oleh sedimen.
Banyaknya oksigen yang terserap oleh sedimen menyebabkan perairan menjadi miskin akan
oksigen.

Penentuan nilai redok tanah dasar dapat menggunakan redok potensiometer atau
milivolmeter. Sedimen yang basah diambil dengan pvc core sampler, kemudian elektroda
milivolmeter ditancapkan dalam lapisan tertentu pada sedimen yang ingin diukur
(Utaminingsih et al., 1994)

3.1.2.6 Logam Berat

Terdapat 3 macam logam berat yang berpengaruh dalam budidaya udang antara lain;
cadmium (Cd), merkuri (Hg) dan timbal (Pb). Logam berat dalam media budidaya udang
dapat berpengaruh terhadap kesehatan udang itu sendiri dan bagi manusia yang
mengkonsumsinya. Sebagai contoh cadmium pada konsentrasi 0,5-0,75 mg/l dalam air dapat
menyebabkan nekrosa insang. Sedangkan untuk manusia dapat keracunan karena
mengkonsumsi udang yang terkontaminasi oleh (Hg) (Darmono,1996).

Menurut Bryan (1984) dalam Darmono (1996), faktor yang mempengaruhi kekuatan racun
logam berat terhadap udang dan organisme laut antara lain :

- bentuk ikatan kimia dari logam yang terlarut dalam air

- pengaruh interaksi diantara logam dan jenis racun lainnya

- pengaruh lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, dan DO

- kemampuan hewan untuk menghindar dari kondisi buruk

- kemampuan hewan untuk beradaptasi dengan racun.

Logam berat adalah unsur logam yang mempunyai densitas > 5 g/cm3. Sebenarnya logam
berat di alam dibutuhkan oleh biota untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Phillips,
1980 dalam Horas, 1997). Pencemaran yang disebabkan oleh manusia menyebabkan kadar
logam berat menjadi tinggi, sehingga kadar logam berat yang semula sangat bermanfaat bagi
organisme hidup menjadi berbahaya manakala kadarnya tinggi (Horas, 1997).
3.1.3 Faktor Biologi

3.1.3.1 Plankton

Plankton dalam perikanan sangat penting karena merupkan pakan alami bagi biota yang
dipelihara dan penghasil oksigen. Menurut Mulyanto (1992), yang menyatakan bahwa
plankton dibagi menjadi dua bagian yaitu fitoplankton dan zooplankton.

Fitoplankton yang terdapat dalam tambak udang merupakan pengaruh dari penyuburan atau
proses pemupukan. Menurut Boyd (1998), ada beberapa jenis phytoplankton yang berbahaya
bagi kehidupan biota pemeliharaan. Fitoplankton tersebut antara lain ; prymnesiophytes,
blue-green algae, dinoflagellates, diatoms dan chloromonads. Sedangkan menurut Mulyanto
(1992), fitoplankton yang berbahaya bagi biota pemeliharaan antara lain ; Gymnodinium
brevis, Gonyaulax xantanella, dan Microcystis.

Zooplankton atau plankton yang bersifat hewani adalah plankton yang tidak mempunyai
klorofil dalam tubuhnya (Mulyanto, 1992). Menurut Mclntire dan Bond (1962) dalam Boyd,
(1998), yang menyatakan bahwa dalam kolam yang subur maupun tidak subur didominasi
zooplankton jenis krustase kecil (microcrustaceans) dan rotifer. Golongan microcrustacean
antara lain ; Bosmina, Cyclops, Chydorus, dan Dhiaphanosoma. Untuk golongan rotifer
antara lain Polyarthra, Keratella dan Brachionus.

Plankton dalam hal ini fitoplankton berpengaruh terhadap kualitas air. Salah satu contoh
adalah DO, DO dapat tersuplai pada siang hari melalui proses fotosintesis, sedangkan pada
malam hari terjadi penurunan kadar DO yang disebabkan oleh proses respirasi (Effendi,
2003). Oleh sebab itu kepadatan populasi fitoplankton perlu dikontrol agar terjadi
keseimbangan dampak yang diakibatkan.

3.1.3.2 Bakteri

Penyakit dalam budidaya udang dapat disebabkan oleh mikroba, protozoa, cacing parasit dan
beberapa penyebab yang lainnya. Salah satu contoh penyebab penyakit yang disebabkan oleh
mikroba adalah bakteri. Bakteri yang menyerang badan dan darah udang akan menyebabkan
aktivitas yang abnormal dan pertumbuhan yang lambat ( Jhonson, 1978 dalam William,
1988). Lebih lanjut Astuti (2004), yang menyatakan bahwa bakteri penyebab penyakit pada
budidaya udang di tambak sebagian besar didominasi oleh genus Vibrio sp. dengan
kepadatan total sekitar 104 cfu/ml.
Terdapat beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain ; insang hitam
dan ekor busuk. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan perlakuan dengan pemberian obat
K-3 Mycin 2 kg/ha untuk 2-3 hari barturut-turut, bubuk antoks 1 kg/ha selama 5 hari berturut-
turut. Langkah selanjutnya yaitu dengan melakukan pergantian air sekitar 30-50%, kemudian
pemberian 250 kg/ha Daimetin setelah pemberian obat-obatan tersebut diatas (William,1988)

Tidak semua bakteri dapat merugikan bagi kehidupan khususnya di bidang akuakultur.
Bakteri juga dapat digunakan sebagai probiotik. Menurut Irianto (2003), bahwa dalam
akuakultur probiotik dapat berasal dari bakteri, yeast, mikroalgae serta bakteriofage. Dalam
kegiatan pembesaran udang, peran bakteri tidak langsung terhadap biota yang dipelihara,
melainkan bakteri digunakan dalam memperbaiki lingkungan yang rusak atau tercemar
(bioremidiasi). Salah satu bentuk pemanfaatan bakteri dalam probiotik adalah penggunaan
bakteri fotosintetik anoksigenik (BFA). Bakteri kelompok ini dapat memanfaatkan senyawa
organik maupun anorganik dalam proses fotosintesis sebagai donor elektronnya, misalnya
H2S sehingga akan dihasilkan sulfur atau bukan oksigen sebagai hasil sampingnya (Atlas dan
Bartha, 1998; Brock dan Madigan, 1991 dalam Widiyanto, 2001). Proses ini biasanya terjadi
pada perairan yang masih terdapat sinar matahari dan terdapat CO2.

CO2 + H2S cahaya (CH2O) + H2O + 2 S

Pada reaksi diatas dapat dilihat bahwa dengan pemanfaatan bakteri kelompok BFA dapat
membantu dalam memperbaiki kualitas air yaitu terurainya H2S gas beracun. Salah satu jenis
bakteri kelompok BFA adalah Rhodobakter sp.

3.2 Sistem Pencernaan, Makanan dan Kebiasaan Makan Udang Windu

Udang windu memiliki sistem pencernaan yang relatif sederhana. Saluran pencernaan udang
windu terdiri atas mulut, oesophagus, perut, usus, dan anus. Pada bagian mulut udang
dilengkapi dengan sepasang mandibula yang berfungsi sebagai penghancur makanan, serta
maxilla 1-2, maxilliped 1-2 dan 3 yang semuanya berfungsi untuk memegang dan menseleksi
makanan.

Oesophagus pada udang umumnya pendek dan tidak banyak tegak lurus dengan
proventriculus. Pada bagian dalam proventriculus dilengkapi dengan lapisan chitin.
Proventriculus terdiri dari dua ruangan yang dipisahkan oleh cardiac ossicle yang juga
berfungsi sebagai tempat penghancuran makanan.
Dari proventriculus makanan melewati usus dan disini mengalami penyerapan sari-sari
makanan. Sisa-sisa makanan selanjutnya dibuang melalui anus.

Makanan udang windu terdiri dari jenis Crustacea tingkat rendah (kepiting dan udang kecil)
dan molusca sekitar 85%. Sisanya terdiri dari anelida 15 % yang terdapat pada saluran
pencernaan makanannya. Udang windu melebihi predator makro invertebrata dasar yang
bergerak lambat dari pada mengaduk sampah atau berkesempatan dalam kebiasaan mencari
makan. Kebiasaan makan timbul pada saat pasang datang (Marte ,1978)

Udang bersifat omnivora, juga pemakan detritus dan sisa-sisa organik lainnya, baik nabati
maupun hewani. Berdasarkan penelitian, di alam udang memang mempunyai sifat pemakan
segala. Kalau diperhatikan makanan udang windu dapat berbeda-beda berdasarkan ukuran
dan tingkatan dari udang itu sendiri, yaitu :

1) Tingkat Nauplius, belum memerlukan makanan dari luar, karena masih mempunyai
kantong kuning telur.

2) Tingkat Zoea, sudah mulai memakan plankton, karena saluran makanan telah berkembang
sempurna.

3) Tingkat Mysis, mulai menggemari makan zooplankton dan mulai bersifat carnivora.

4) Tingkat Post larva, sifatnya sudah mulai senang tinggal di dasar media tempat hidupnya
dan masih senang memakan detritus serta sisa-sisa mikroorganisme yang terdapat di dasar
perairan.

Di alam umumnya udang aktif bergerak mencari makan pada malam hari, oleh karena itu
maka udang dimasukkan dalam kelompok hewan Nocturnal. Aktivitas makan dan jenis
makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu.
Menurut Aquacop (1977) nutrisi yang tidak baik mencegah pematangan gonada udang, dan
juga mungkin mempengaruhi kemampuan hidup lama. Iriana (1975) mengemukakan bahwa
aktivitas udang windu dipengaruhi oleh intensitas cahaya, menurut hasil penelitian Apud et al
(1980) diketahui bahwa hampir setiap saat udang windu memakan makanan yang diberikan.
Akan tetapi makannya akan meningkat sejalan dengan menurunnya intensitas cahaya.
Aktifitas makan udang windu dewasa yang paling tinggi terjadi pada malam hari sekitar
pukul 19.00.
3.3 Daur Hidup

Udang windu mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena
itu udang harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis
didalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal.

Daya tahan hidup organisme dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara cairan tubuh
dengan air (media) lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu dilakukan melalui
mekanisme osmoregulasi. Mekanisme ini dapat dinyatakan sebagai pengaturan keseimbangan
total konsentrasi eklektrolit yang terlarut dalarn air media hidup organisme. Osmoregulasi ini
erat kaitannya dengan daur hidup udang windu tersebut.

Udang Windu memiliki dua lingkungan dalam daur hidupnya yakni laut dan estuary (muara
sungai).

3.3.1 Lingkungan Laut :

Lingkungan laut merupakan daerah dimana udang windu malakukan perkembangbiakan.
Menurut Tricahyo (1995), fase daur hidup udang windu secara berurutan meliputi ; embrio,
larva, juwana, juwana akhir, dewasa awal dan udang dewasa (Tabel1) yang habitatnya
meliputi out littoral, estuarin sampai ke out littoral lagi (Gambar 2) .

Tabel 1. Fase daur hidup udang windu (Tricahyo, 1995)
Fase       Dimulai dari       Waktu         Panjang              Sifat      Habitat
                                            Karapas      (mm) Hidup
                                            Jantan Betina
1          2                  3             4                    5          6
Embrio     Pembuahan          12 jam        0,92                 Planktonis Outer
                                                                            littoral


Larva      Penetasan          20 hari       0,5 2,2              Planktonis Out/iner
                                                                            littoral
Juwana     Perlengkapan       15 hari       2,2 11,0             Bentis     Estuarine
           sistem insang
Juwana     Berkembangnya 4 bulan            11-30 11-37          Bentis     Estuarine
akhir      alat    kelamin
          luar
Dewasa Kematangan            4 bulan    30-37 37-47        Bentis   Iner/outer
awal      seksual awal                                              littoral
(muda)
Udang     Kematangan         10 bulan   37-71 47-81        Bentis   Outer
Dewasa seksual        yang                                          littoral
          sudah       siap
          untuk memijah




Untuk melestarikan lingkungan sumber daya udang maka pengusahanya ataupun para
penangkap udang khusus nya udang laut harus disertai konservasi. Dan untuk konservasi
udang perlu di ketahui daur hidupnya.Pengetahuan tentang daur hidup udang merupakan
pengetahuan dasar yang harus diketahui oleh setiap para Nahkoda ataupun Fishing Master
sehingga mengetahui kapan udang siap di panen atau ditangkap.

Lingkungan ditengah laut merupakan fase peneluran udang dewasa, hidup dan berkembang
baik terbagi dalam beberpa kematangan yaitu:

a) Telur f) Juwana ( adolescent)
b) Nauplius g) Dewasa awal (subeduit)
c) Zoea h) Dewasa (adult)
d) Mysis i) Memijah
e) Post larva
Gambar 4 Daur Hidup Udang

Udang windu dalam perkembangannya mengalami perubahan bentuk dari telur hingga
dewasa. Udang yang akan melakukan perkembangbiakan biasanya mengalami moulting
untuk induk betina. Setelah mengalami moulting pemijahan terjadi pada dasar laut berpasir
dan berlumpur dengan kedalaman 10-40 meter dan salinitas berkisar 35 ‰. Menurut
Darmono (1995), udang biasanya bertelur pada malam hari. Telur yang terbuahi diletakkan di
atas dasar laut dan melayang-layang terbawa arus.

Telur yang melayang tersebut dalam waktu 10-15 jam akan menjadi larva udang pada stadia
pertama atau nauplius (Tricahyo,1995). Stadia nauplius akan mengalami enam tingkatan
sebelum menjadi protozoea. Nauplius dalam perkembangannya masih belum membutuhkan
makanan. Stadia protozoea merupakan stadia yang paling kritis karena harus memulai
mencari makanan sendiri. Dalam perkembangannya protozoea mempunyai tiga stadia
sebelum menjadi mysis. Stadia mysis mempunyai tiga tingkatan sebelum bermetamorfosa
menjadi post larva. Secara planktonik pada stadia ini udang akan terbawa ke pantai atau
muara sungai.
3.3.2 Lingkungan di muara sungai

Stadia post larva udang akan merayap dan menempel pada perairan di daerah muara sungai
atau estuarine (Tricahyo, 1995). Menurut Darmono (1995), yang menyatakan bahwa udang
pada stadia ini disebut dengan Juvenil, pada stadia ini udang bermigrasi ke arah muara
sungai. Di daerah estuarine ini banyak dijumpai udang post larva karena kaya akan makanan
dan sebagai tempat berlindung. Larva udang akan beradaptasi dengan salinitas yang
bervariasi dari 4-35 ‰.

Udang windu untuk mencapai stadia yuwana melewati 14 tingkatan dengan 18-22 berganti
kulit (moulting). Udang dewasa ini kemudian akan kembali ke laut untuk tumbuh dewasa dan
memijah. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan dari menetas sampai
stadia post larva diperlukan waktu satu bulan, dari post larva menjadi juwana diperlukan
waktu sekitar 3-4 bulan, sedangkan dari stadia yuwana untuk menjadi udang dewasa
diperlukan waktu sampai delapan bulan.

3.4 Reproduksi

Toro dan Soegiarto (1979) mengemukakan bahwa udang penaeid termasuk hewan yang
heteroseksual, yaitu mempunyai jenis kelamin jantan dan betina yang masing-masing terpisah
. Perkawinan udang terjadi di laut bebas. Udang jantan biasanya lebih agresif dibanding
betina, perkawinan terjadi setelah betina mengganti kulit (moulting), udang jantan tertarik
kepada betina karena adanya hormon ektokrin yang keluar secara eksternal yaitu pada saat
telur dikeluarkan melaluai saluran telur (oviduk).

Tingkah laku waktu udang melakukan perkawinan menurut Primavera (1979) adalah sebagai
berikut :

1) Fase pertama, udang jantan di bawah yang betina berenang sejajar dari dasar sampai
ketinggian 20-30 cm.

2) Fase kedua, udang jantan membalik menghadap ke bagian bawah (ventral) yang betina.

3) Fase ketiga, kemudian udang jantan membalikkan tubuhnya lagi secara tegak lurus
terhadap tubuh udang betina, dan melengkungkan tubuhnya melingkari yang betina. Kepala
dan ekornya secara serempak bertemu dan menjepit tubuh udang betina. Kepala dan ekornya
secara serempak bertemu dan menjepit tubuh udang betina dengan eratnya. Kemudian
melepaskan diri dari udang betina dan berenang menjauh.
Perkembangan dan penggabungan bagian ventral sampai pada penyentakan kepala dan ekor
berlangsung sangat cepat, hanya memerlukan waktu beberapa detik saja. Keseluruhan proses
awal sampai akhir berlangsung 0,5-3,0 jam. Tadi telah dikemukakan bahwa perkawinan
udang berlangsung pada malam hari setelah udang betina ganti kulit (moulting). Sesaat
setelah ganti kulit dan telah kuat untuk berenang kembali, maka udang betina akan diikuti
oleh satu atau beberapa udang jantan. Perkawinan harus disertai dengan kontak antara sisi
bawah udang jantan dan betina. Kantong sperma yang dilepaskan, kemudian disalurkan
melalui petasma ke thelicum udang betina. Pelepasan dan pemasukan kantong sperma terjadi
pada waktu udang jantan membalik menghadap peroendikular (penutup thelicum) udang
betina (Sudarmini dan Sulistiyono, 1988).

Martidjo (2003) menyatakan udang windu memiliki lima tingkat kematangan gonad.
Selangkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Tingkat kematangan gonad

Kematangan Gonad




Ciri - Ciri

TKG I

Merupakan tingkat belum matang, ovari (kandungan telur) tipis, bening tidak berwarna dan
terdapat pada abdomen.

TKG II

Merupakn tingkat kematangan awal, ovari membesar, bagian depan dan tengah mengembang.

TKG III

Merupakan tingkat kematangan lanjutan, ovari berwarna hijau muda, dapat dilihat dari
eksoskeleton, bagian depan dan tengah berkembang penuh.

TKG IV

Tingkat keempat matang telur, ovari berwarna hijau tua, ovari lebih besar.
TKG V

Telur sudah dilepaskan (spent)

Pemijahan di alam terjadi sepanjang tahun dengan puncak-puncak tertentu pada awal dan
akhir musim penghujan. Penurunan kadar garam pada awal dan kenaikan pada akhir musim
penghujan dibarengi dengan perubahan suhu yang mendadak diduga memberi rangsangan
pada induk yang matang telur untuk memijah. Pada saat inilah benur dapat ditangkap pada
jumlah yang besar. Sedangkan pada pembenihan buatan prinsipnya diperlukan induk betina
matang telur yang sudah dikawini oleh udang jantan di dalam bak peneluran atau didalam bak
larva. Langkah berikutnya adalah menetaskan telur dan memelihara larva dari hasil tetasan
tersebut sampai mencapai tingkat post larva umur 5-10 hari (Prawidihardjo et al. dalam
Poernomo, 1976).

Telur yang telah dibuahi menetas menjadi nauplius berukuran 0,31-0,33 mm dan pada stadia
ini terjadi pergantian kulit sebanyak 6 kali. Zoea dengan bentuk badan lurus ukuran 1,2-2,5
mm, mysis berukuran 3,5-4,56 mm dan post larva berukuran 5 mm (Poernomo, 1976).

3.5 Sifat Udang Windu

Dalam budidaya udang windu dan vanamei kita sejogyanya juga mengenal sifat-sifat
(fisiologi) dari udang windu dan vanamei tersebut. Berikut dismpaikan beberapa sifat udang
windu (Fisiologi Udang Windu-Penaeus monodon) yang perlu diketahui antara lain :
Nocturnal yaitu secara alami udang merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari
untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam
substrat atau lumpur. Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feeding dengan frekuensi
yang lebih banyak untuk memacu pertumbuhannya. Kanibalisme, Udang windu suka
menyerang sesamanya, udang sehat akan menyerang udang yang lemah terutama pada saat
molting atau udang sakit. Sifat kanibal akan muncul terutama bila udang tersebut dalam
keadaan kurang pakan dan padat tebar tinggi.


Sifat berikutnya dari udang windu adalah berupa, Pakan dan kebiasaan makan (Feeding
behaviour), Udang windu hidup dan mencari makan di dasar perairan (benthic). Udang windu
merupakan hewan pemakan lambat dan terus-menerus dan digolongkan ke dalam hewan
pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau pemakan detritus dan
karnivora yang memakan krustacea kecil, amphipoda dan polychaeta.
Molting, Udang windu melakukan ganti kulit (molting) secara berkala. Frekuensi molting
menurun seiring dengan makin besarnya ukuran udang. Pada stadium larva terjadi molting
setiap 30-40 jam pada suhu 280 C. Sedangkan juvenile dengan ABW 1-5 gram mengalami
molting setiap 4-6 hari, selanjutnya pada ABW 15 gram periode molting terjadi sekitar 2
minggu sekali. Kondisi lingkungan dan makanan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi frekuensi molting. Sebagai contoh, suhu yang tinggi dapat meningkatkan
frekuensi molting. Penyerapan oksigen oleh udang kurang efisien selam molting, akibatnya
selama proses ini beberapa udang mengalami kematian akibat hypoxia atau kekurangan
oksigen dalam tubuh. Ammonothelic, Amonia dalam tubuh udang windu dikeluarkan lewat
insang.

3.6 Sirklus Hidup Udang windu

Udang windu Merupakan spesies katadromus, udang dewasa memijah di laut lepas,
sedangkan udang muda (juvenile) bermigrasi ke daerah pantai.
Setelah telur-telur menetas, larva hidup di laut lepas menjadi bagian dari zooplankton. Saat
stadium post larva mereka bergerak ke daerah dekat pantai dan perlahan-lahan turun ke dasar
di daerah estuari dangkal. Perairan dangkal ini memiliki kandungan nutrisi, salinitas dan suhu
yang sangat bervariasi dibandingkan dengan laut lepas.
Setelah beberapa bulan hidup di daerah estuari, udang dewasa kembali ke lingkungan laut
dalam dimana kematangan sel kelamin, perkawinan dan pemijahan terjadi.
Proses Molting
Semua golongan arthropoda, termasuk udang mengalami proses pergantian kulit atau molting
secara periodik, sehingga ukuran tubuhnya bertambah besar. Agar udang bisa tumbuh
menjadi besar, secara periodik akan melepaskan jaringan penghubung antara epidermis dan
kutikula ekstraseluler, segera melepaskan diri dari kutikula (cangkang), menyerap air untuk
memperbesar tubuh dan eksoskeleleton yang baru dan selanjutnya terjadi proses pengerasan
dengan mineral-mineral dan protein. Proses molting ini menghasilkan peningkatan ukuran
tubuh (pertumbuhan) secara diskontinyu dan secara berkala. Ketika molting, tubuh udang
menyerap air dan bertambah besar, kemudian terjadi pengerasan kulit. Setelah kulit luarnya
keras, ukuran tubuh udang tetap sampai pada siklus molting berikutnya.


Dalam kondisi molting, udang sangat rentan terhadap serangan udang-udang lainnya, karena
disamping kondisinya masih sangat lemah, kulit luarnya belum mengeras, udang pada saat
molting mengeluarkan cairan molting yang mengandung asam amino, enzim dan senyawa
organik hasil dekomposisi parsial eksoskeleton yang baunya sangat merangsang nafsu makan
udang. Hal tersebut bisa membangkitkan sifat kanibalisme udang yang sehat.
Ekdisis (proses molting) merupakan suatu rangkaian proses yang sangat kompleks yang
dimulai beberapa hari atau bahkan beberapa minggu sebelumnya. Pada dasarnya setiap
jaringan terlibat dalam persiapan untuk molting yang akan datang, yaitu :


1. Cadangan lemak dalam jaringan hepatopankreas dimobilisasi.
2. Pembelahan sel meningkat.
3. Diproduksi mRNA yang baru, diikuti oleh sintesis senyawa protein baru.
4. Terjadi perubahan tingkah-laku.


Proses yang rumit ini melibatkan kordinasi sistem hormonal dalam tubuh udang. Siklus
molting berlangsung melalui beberapa tahapan. Pada beberapa spesies, masing-masing
mempunyai tahapan dan definisi sendiri-sendiri. Pada udang ada 4 tahapan, yaitu:
Postmolt, Postmolt adalah tahapan beberapa saat setelah proses eksuviasi (penanggalan
eksoskeleton yang lama). Pada tahapan ini terjadi pengembangan eksoskeleton yang
disebabkan oleh meningkatnya volume hemolymph akibat terserapnya air ke dalam tubuh.
Air terserap melalui epidermis, insang dan usus. Setelah beberapa jam atau hari (tergantung
pada   panjangnya     siklus   molting),   eksoskeleton     yang    baru    akan   mengeras.
Intermolt, Pada tahapan ini, eksoskeleton menjadi semakin keras karena adanya deposisi
mineral dan protein. Eksoskeleton (cangkang) udang relatif lebih tipis dan lunak
dibandingkan dengan kepiting dan lobster.
Early Premolt, Pada tahapan early premolt (premolt awal) mulai terbentuk epicuticle baru di
bawah lapisan endocuticle. Tahapan premolt dimulai dengan suatu peningkatan konsentrasi
hormon molting dalam hemolymph (darah).


Late Premolt, Pada tahapan premolt akhir terbentuk lagi lapisan exocuticle baru di bawah
lapisan epicuticle baru yang terbentuk pada tahapan early premolt. Kemudian diikuti dengan
pemisahan cangkang lama dengan cangkang yang baru terbentuk. Eksoskeleton (cangkang)
lama akan terserap sebagian dan cadangan energi dimobilisasi dari hepatopankreas. Ecdysis
(pemisahan cangkang) sebagai suatu tahapan hanya berlangsung beberapa menit saja, dimulai
dengan membukanya cangkang lama pada jaringan penghubung bagian dorsal antara thorax
dengan abdomen, dan selesai ketika udang melepaskan diri dari cangkangnya yang lama.
Siklus molting dikendalikan oleh hormon molting yang dihasilkan oleh kelenjar molting yang
terdapat di dalam ruang anterior branchium, dan disebut Y - organ.



3.7 PERSYARATAN BIOLOGIS DAN KEBIASAAN MAKAN UDANG WINDU

A. PERSYARATAN BIOLOGIS


Udang windu (Penaeus monodon) termasuk dalam familia Penaidae. Sub Ordo Natantia,
Ordo Decapoda dan Klas Crustacea. Kelompok ini hidup di dasar perairan/bentik, tidak
menyukai cahaya terang dan bersembunyi di lumpur pada siang hari. Bersifat kanibal,
terutama dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan tersedia, mempunyai ekskresi amoniak
yang   cukup   tinggi   dan      untuk   pertumbuhan   diperlukan    ganti   kulit   (moulting).
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan
udang adalah sebagai berikut :


1. Suhu


Udang membutuhkan kisaran suhu antara 25 hingga 32°C agar dapat hidup dan tumbuh
secara normal. Semakin tinggi suhu perairan, semakin tinggi laju metabolisme di dalam tubuh
udang. Kondisi ini akan diimbangi dengan meningkatnya laju konsumsi pakan. Bila suhu
terus meningkat, udang akan stres dan akan mengeluarkan lendir yang berlebihan. Sebaliknya
bila suhu terlalu rendah, udang akan kurang aktif makan dan bergerak, sehingga
pertumbuhannya akan lambat.


2. Salinitas


Udang windu mempunyai toleransi hidup pada kisaran salinitas 4 - 40 permil dan tumbuh
dengan baik pada kisaran 12 - 30 permil. Jika salinitas terlalu rendah atau terlalu tinggi, nafsu
makan masih ada, tetapi konversi pakan menjadi tinggi karena energi tubuh banyak terbuang.
3. pH


Untuk pertumbuhan, udang windu memerlukan kisaran pH 7,4 - 8,5 dan akan mematikan bila
pH mencapai angka terendah 6 dan tertinggi 9. Bila pH air terlalu rendah atau sering rendah
pada malam hari, maka lapisan kapur di kulit udang akan berkurang karena terserap secara
internal. Pada kondisi ini konsumsi oksigen meningkat, permeabilitas tubuh menurun dan
insangnya rusak.


4. Kelarutan Oksigen (DO)


Oksigen diperlukan udang untuk membakar zat-zat makanan yang dikonsumsi udang dan
diserap tubuh atau diuraikan menjadi energi. Kelarutan oksigen yang baik bagi pertumbuhan
udang adalah antara 85 % - 125 % jenuh atau 4 - 6 ppm. Dalam air yang mengandung cukup
oksigen, aktivitas udang yang terlihat adalah beristirahat dan sesekali bergerak mencari
makan. Sebaliknya dalam air yang kandungan oksigennya rendah, udang akan tampak aktif
bergerak dan berenang karena stres. Akan tetapi, pada kadar oksigen yang kelewat jenuh
dapat menyebabkan penyakit gelembung gas (Gas Bubble Disease).


B. KEBIASAAN MAKAN


Di alam, udang windu biasa memakan berbagai jenis Crustacea besar, Brachyura, benda-
benda nabati, Polychaeta, Mollusca, ikan-ikan kecil dan Crustacea kecil dalam jumlah yang
terbatas. Sedangkan udang yang dipelihara di tambak banyak memakan Copepoda. Walaupun
udang penaid merupakan hewan pemakan segala (Omnivora), akan tetapi pada umumnya
udang     merupakan      predator    bagi    invertebrata    yang     pergerakannya      lambat.
Hasil pemeriksaan terhadap isi perut udang windu yang dipelihara di tambak menunjukkan
bahwa makanannya terdiri dari plankton jenis Lyngbya sp, Spirulina, Skeletonema dan dari
jenis zooplankton yaitu Brachionus sp (Ranoemihardjo, 1980). Walaupun demikian, keadaan
lingkungan tempat hidup udang akan berpengaruh terhadap jenis makanan yang dimakan.
Dalam usaha pemeliharaan udang, makanan yang diberikan selain harus mempunyai kualitas
yang baikjugajumlahnya harus cukup, sebab kekurangan makanan akan lebih mempercepat
kematian hewan yang dibudidayakan. Sampai saat ini nauplius Artemia merupakan salah satu
makanan udang yang paling efektif bagi udang stadium Pasca larva maupun Juvenil. Selain
itu, nauplius Artemia dapat berperan sebagai penunjang pertumbuhan udang windu. Jika
digunakan sebagai suplemen dengan makanan lainnya, ternyata Artemia mempunyai
keunggulan dibandingkan dengan makanan udang lainnya. Keunggulan tersebut di antaranya
adalah : Artemia diperjual-belikan dalam bentuk kista (Cyst), sehingga praktis dalam
penggunaannya, nauplius Artemia mempunyai kisaran ukuran yang cocok bagi kebanyakan
larva udang, dapat beradaptasi terhadap berbagai lingkungan dan dapat tumbuh pada
kepadatan yang tinggi (Sorgeloos, 1980). Selain itu, Artemia juga mempunyai kandungan
nutrisi yang cukup tinggi. Pada beberapa perkembangan stadia udang windu, kebiasaan
makannya terangkum seperti pada Tabel 1.


Tabel 1. Kebiasaan Makan Udang Windu (Panaeus Monodon) Pada Beberapa Perkembangan
Stadia




                     Udang windu merupakan udang asli Indonesia

.


Udang ini telah dibudidayakan sejak akhir tahun 70-an. Masalah utama yang dihadapi budi
daya udang windu dewasa ini adalah serangan penyakit yang hingga, kini masih sukar diatasi
dan pencemaran lingkungan. Yang dimaksud budi daya udang windu di laut dalam tulisan ini
adalah dalam bentuk pentokolan benur sebelum di tebar di tambak. Salah satu tujuan
pentokolan di laut adalah untuk mengurangi mortalitas akibat serangan penyakit pada tahap
awal budi daya.

A. Sistematika
Famili : Penaeidae
Spesies : Penaeus monodon
Nama dagang : tiger shrimp
nama lokal : doang




B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi



1. Ciri fisik



Ujung depan rostrum lengkung mengarah ke atas dengan gigi atas rostrum 7-8 buah dan gigi
bawahnya 3buah. Terdapat sebuah duri pada buku kedua pasangan pertama dan kedua dari
kaki jalannya. Buku ketiga pasangan kaki jalan pertama dilengkapi pula dengan sebuah duri.
Badannya berwarna kecokelatan dengan bercak-bercak biru dan berbelang-belang.


2. Pertumbuhan dan perkembangan



Udang windu mulai dewasa pada umur 18 bulan. Udang yang telah matang telur dapat dilihat
dari gonadnya yang berwarna hijau di bagian punggungnya, dari mulai bagian kepala hingga
pangkal ekor. Udang jantan dapat dengan mudah dibedakan dari betinanya dengan
pengamatan alat kelaminnya. Udang jantan memiliki petasma yang terletak pada pasangan
kaki renang pertama. Sementara itu, betina memiliki thellycum yang terletak di antara
pasangan kaki jalan ke 5.



Pada saat memijah, udang jantan akan memasukkan sperma ke dalam thellycum dengan
bantuan petasma-nya segera setelah udang betina berganti kulit. Udang windu memiliki daur
hidup dimulai dari telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi larva pertama yang disebut
nauplius (N).



Nauplius terdiri dari 6 substadia, yaitu nauplius I—VI. Larva tersebut kemudian akan
bermetamorfosa menjadi zoea (Z) yang terdiri dari 3 substadia, yaitu Z I—Z III. substadia
berikutnya adalah mysis (M) 1-111 vane, pada saatnya akan bermetamorfosa menjadi post
larvae (PL). Udang windu mulai ukuran PL 8 sudah banyak yang dijual ke petambak sebagai
benur. Pentokolan benur windu dari PL-12 dilakukan selama dua minggu sampai satu bulan.
Stadia berikutnya adalah juwana dan dewasa.

C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Udang laut yang memiliki toleransi tinggi terhadap faktor lingkungan adalah udang windu.
Udang ini dapat hidup dan tumbuh dengan cepat pada salinitas air tawar hingga 35 ppt.
Namun demikian, salinitas optimal bagi kehidupan dan pertumbuhannya antara 15-25 ppt.
Udang windu juga memerlukan lingkungan perairan dengan kisaran suhu 28-30 derajat
celcius, kadar oksigen terlarut antara 4-7 mg/l, dan bebas dari basil metabolisme, khususnya
NH3 dan H2S serta cemaran lainnya. Kadar aman NH 3-N bagi PL 30-50 adalah 0,15 mg/l.
Sementara itu, bagi udang muda dan dewasa masing-masing kadar tertingginya o,1 mg/l dan
o,08 mg/l.



D. Wadah budi Daya

ProdukSi tokolan udang windu menggunakan hapa pada unit karamba jaring apung di laut.
Hapa terbuat dari kain kasa warna hijau ukuran 4 m X 2 m X 1 m. hapa diikatkan pada rakit
berukuran 6 m x 6 m. Pelampung rakit terbuat dari drum plastik bervolume 200 liter
sebanyak 9 buah per unit. Rakit dilengkapi jangkar sehingga posisinya selama pemeliharaan
tidak mengalami perubahan. Untuk menjaga agar benur tetap dalam kondisi optimal, setiap
hapa dilengkapi dengan selter secukupnya (minimal 40 untaian setara dengan 3 m waring
utuh dengan lebar 90 cm). Separuh permukaan hapa ditutup gedek bambu untuk mengurangi
intensitas cahaya matahari secara langsung.
E. Pengelolaan Budi Daya



1. Pentokolan

Produksi tokolan udang windu sebenarnya sudah dikenal sejak 20 tahun yang lalu dengan
beragam istilah, seperti pengipukan, pendederan, dan pentokolan. Namun demikian,
pemanfaatan tokolan baru menunjukan perkembangan nyata sejak 5 tahun terakhir seiring
dengan makin meluasnya serangan penyakit udang di tambak.

Budi daya udang windu yang biasa dilakukan dalam KJA di laut adalah pentokolan.
Pentongkolan merupakan stadia awal setelah dari panti benih (hatchery). Manfaat
penggunaan tokolan antara lain masa pemeliharaan di petak pembesaran lebih singkat (90
hari) dan peluang keberhasilan panen cukup besar karena tokolan sudah tahan terhadap
perubahan lingkungan.

Selain itu, produktivitas tambak meningkat karena musim pemeliharaan bisa ditingkatkan
menjadi tiga kali per tahun, sintasan antara 70-90%, dan efisien dalam penggunaan pakan.
Sistem pentokolan udang windu di KJA laut telah dikembangkan dengan modifikasi dari
teknologi yang telah ada. Benur yang digunakan adalan post larvae (PL)12 yang diperoleh
dari   hatchery   sekitar   lokasi.   Padat   penebaran    antara   2.000-3.000    ekor/m2.


2. pemberian pakan

Udang windu merupakan pemakan detritus dan benthos (mahluk yang hidup dasar perairan).
Namun, udang ini sangat tanggap terhadap, pakan buatan berbentuk pelet yang berkadar
protein tinggi (40-42%). Adapun pemberian pakan dalam KJA berupa pelet. komersial
dengan dosis menurun sesuai dengan bobot total/hari, yaitu hari ke-1 sampai hari ke-6
sebesar 50%; hari ke-6 sampal hari ke-15 sebesar 25%; hari ke-16 sampai hari ke-25 sebesar
8%; hari ke-26 sampai hari ke-36 sebesar 6%; dan hari ke-36 sampai hari ke-42 sebesar 5%.

Frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, yaitu pukul 07.00, 12.00,17.00, dan 22.00. Produksi
tokolan terbaik di KJA laut diperoleh pada masa pemeliharaan 15-3o hari dengan sintasan
mencapai 73%.
F. Pengendalian Hama dan penyakit

Pentokolan benur dilakukan dalam hapa sehingga jarang ditemukan hama yang mengganggu.
Mortalitas benur terutama disebabkan adanya perubahan salinitas yang mendadak dan
perubahan suhu air yang mendadak.

G. Panen

Pemanenan dilakukan setelah masal pemeliharaan 15-3o hari dari benur PL 12 atau saat ada
permintaan dari konsumen. Caranya yaitu dengan mengangkat waring sampai airnya
kelihatan tinggal sedikit, kemudian tokolan diambil pakai serok yang terbuat dari bahan
halus/lunak. Tongkolan tersebut dimasukan ke ember plastik yang berisi air untuk dilakukan
penghitungan.

Transportasi benih dilakukan secara terbuka atau tertutup. pengangkutan secara terbuka
hanya dilakukan untuk pengangkutan jarak dekat dan jumlah tokolan tidak banyak. Untuk
pengangkutan jarak jauh, tokolan dimaksukan ke dalam kantong plastik (dirangkap dua) yang
berisi air (2 liter) dan tokolan sekitar 1000 ekor, kemudian dimasukan oksigen. Perbandingan
oksigen dengan air adalah 3 : 1. Kantong-kantong plastik ini dimasukan ke dalam boks
styrofoam, lalu diselipkan es yang sudah dikemas kantong plastik antara kantong plastik.'
tujuannya agar suhu di dalam boks sekitar 20-22 derajat celcius.



H. Kebutuhan Fosfor udang windu ( Penaeus monodon ) ?



Studi tentang kebutuhan unsur makro dalam pakan seperti protein, lemak dan karbohidrat
pada berbagai ukuran udang windu telah banyak dilakukan, sedangkan penelitian tentang
vitamin dan mineral masih sangat terbatas. Selanjutnya dikatakan bahwa secarakuantitatif
kebutuhan mineral pada udang windu belum banyak diketahui sehingga informasi tentang
kebutuhannya     didasarkan    pada    jenis   udang     lainnya   seperti   P.   javonicus.
Secara umum fungsi mineral dalam pakan memegang peranan penting antara lain sebagai
unsur pokok dari eksoskeleton, menjaga keseimbangan tekanan osmosa, unsur pokok dalam
struktur jaringan, berperan dalam transisi syaraf pusat dan konstruksi otot, sebagai komonen
enzim, vitamin, hormone, pigmen, ko-faktor dalam metabolisme, katalisator dan activator
enzim.
Salah satu jenis mineral yang paling penting diantara 20 jenis mineral yang diidentifikasi
mempunyai peranan dalam tubuh udang adalah mineral fosfor. Secara spesifik mineral fosfor
banyak berperan dalam proses metabolic seperti sebagai komponen fosfolipid, asam-asam
nukleat, fosfoprotein, senyawa berenergi tinggi (ATP), berperan sebagai metabolisme
intermediate dan ko-faktor.


Secara umum fungsi mineral dalam pakan memegang peranan penting antara lain sebagai
unsur pokok dari eksoskeleton, menjaga keseimbangan tekanan osmosa, unsur pokok dalam
struktur jaringan, berperan dalam transmisi syaraf pusat dan kontraksi otot, sebagai
komponen enzim, vitamin, hormone, pigmen, ko-faktor dalam metabolisme, katalisator dan
activator enzim.


Salah satu jenis mineral yang paling penting diantara 20 jenis mineral yang diidentifikasi
mempunyai peranan dalam tubuh udang windu adalah mineral fosfor, secara spesifik mineral
fosfor banyak berperan dalam proses metabolic seperti sebagai komponen fosfolipid, asam-
asam nukleat, fosfoprotein, senyawa berenergi tinggi (ATP), berperan dalam metabolisme
intermediate dan ko-faktor.


Sebagai bagian penting dari materi biologi, fosfor memainkan peranan utama dalam
metabolisme energi dalam sel karena hampir semua metabolisme dalam tubuh (protein,
lemak, karbohidrat, mineral dan energi) mempunyai kaitan yang erat dengan fosfor.
Keberadan fosfor dalam perairan alami konsentrasinya sangat rendah diperkirakan hanya
0,02 mg/l dan di air payau juga terbatas sehingga perlu ditambahkan dalam pakan.
Pakan murni tanpa penambahan mineral menyebabkan hilangnya nafsu makan ikan rainbow
trout, pertumbuhan lambat, mortalitas tinggi, pembentukan tulang yang tidak sempurna.
Udang memerlukan mineral tertentu karena eksoskeleton yang banyak mengandung mineral
akan hilang selama ganti kulit. Udang windu memerlukan mineral tertentu selama ganti kulit
karena   selama    proses     ganti   kulit   eksoskeleton   yang   mineral   akan   hilang.
Fosfor ditambahkan dalam pakan karena jumlah fosfor yang terdapat dalam tubuh udang
lebih besar dari fosfor di air laut. Selanjutnya dikatatakan kebutuhan udang akan fosfor dan
kalsium lebih tinggi dibanding unsur-unsur lainnya dimana penambahan fosfor yang baik
sekitar 2 %. Udang mampu mengabsorpsi mineral langsung dari lingkungan akuatik melalui
insang dan permukaan tubuh. Kandungan mineral kalsium di lingkungan air payau cukup
tinggi, sedangkan keberadaan fosfor dalam perairan alami sangat rendah sehingga perlu
ditambahkan dalam pakan.


                                          BAB IV

                                        PENUTUP

                                      4.1 Kesimpulan

4.1.1 Pergantian kulit merupakan indikator terjadinya pertumbuhan. Ada 3 faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan pada Udang Windu, yaitu faktor fisika, faktor kimia dan faktor
biologi.

4.1.2 Udang windu memiliki sistem pencernaan yang relatif sederhana. Saluran pencernaan
udang windu terdiri atas mulut, oesophagus, perut, usus, dan anus. Udang bersifat omnivora,
yaitu pemakan detritus dan sisa-sisa organik lainnya, baik nabati maupun hewani. Makanan
udang windu dapat berbeda-beda berdasarkan ukuran dan tingkatan dari udang itu sendiri, Di
alam umumnya udang aktif bergerak mencari makan pada malam hari, oleh karena itu maka
udang dimasukkan dalam kelompok hewan Nocturnal.

4.1.3 Daya tahan hidup organisme dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara cairan
tubuh dengan air (media) lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu dilakukan melalui
mekanisme osmoregulasi. Osmoregulasi ini erat kaitannya dengan daur hidup udang windu
tersebut. Udang Windu memiliki dua lingkungan dalam daur hidupnya yakni laut dan estuary
(muara sungai).

4.1.4 Udang penaeid termasuk hewan yang heteroseksual, yaitu mempunyai jenis kelamin
jantan dan betina yang masing-masing terpisah. Perkawinan udang berlangsung pada malam
hari setelah udang betina ganti kulit (moulting). Sesaat setelah ganti kulit dan telah kuat
untuk berenang kembali, maka udang betina akan diikuti oleh satu atau beberapa udang
jantan. Perkawinan harus disertai dengan kontak antara sisi bawah udang jantan dan betina.

4.2 Saran

Diharapkan kepada penulis lain yang akan membahas materi ini untuk memakai literatur
yang lebih banyak agar mendapatkan hasil yang lebih sempurna.
                                  DAFTAR PUSTAKA

Darmono. 1995. Budidaya Udang Penaeus. Kanisius 1991.

http://akuakulturunhas.blogspot.com/2008/09/biologi-udang-yang-dibudidayakan-dalam.html

http://118.98.213.22/choirul/how/i/ikan/udang_windu.HTM

http://lamadiaquaculture.blogspot.com/2009/11/pembenihan-udang-windu-penaeus-
monodon.html

http://www.musida.web.id/?q=indo/mengapa-ikan-perlu-melakukan-osmoregulasi

http://ielismail.blogspot.com/

http://akuakultur.blogspot.com/2011/04/kebutuhan-fosfor-udang-windu.html

Poernomo, A.1979. Usaha Mini Hatchery dan Pertokolan Udang Windu, FaktorPendukung
Strategis bagi Keberhasilan Budidaya Udang Pola Sederhana. Puslitbangkan. Jakarta.34 hal.

Sudarmini, E dan B. Sulistiyono, 1988. Biologi Udang Windu dan Perkembangannya. Balai
Budidaya Air Payau Jepara.

								
To top