Docstoc

starbuck story

Document Sample
starbuck story Powered By Docstoc
					 BAGAIMANA “STARBUCKS COFFEE” SUKSES SEBAGAI
        WARALABA, DIPANDANG DARI PERSPEKTIF
               ADVERTISING PUBLIC RELATIONS



                  Dra . Riyodina G. Pratikto, MSi
        Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur



                                Abstract

When we are talking about global marketing, we can find such an
interesting phenomenon to be studied in the last 2 years. This is
including the rapid growth of franchising industry, agency and licensee.
Franchising, as a business concept, was adopted from England and
Europe by American beer industry.

In Indonesia, one of the fastest growing franchising businesses is
Starbucks Coffee. They successfully become a national well known
brand in a very short time.

Starbucks, the world largest multinational chain of coffee shops, was
established in 1971. The company consists of people committed to
offering their customers the world’s best coffee and the finest coffee
experience.

Starbucks likely success because of their public relations acitivities and
also, conducting their business through promotions and related
programs. In other words. Starbucks’s success relies heavily on their
Public Relations Advertising.

Starbucks is not only introducing the finest coffee around the world but
also the unique experience their customers can get. Starbucks are doing
it through their creativity and innovative way.

Basically, Public Relations is a combination of science, art and
creativity. Those principles are adopted by Starbucks in order to
introduce their product. For example, the way Starbucks trying to make
the customers comfortable, relax while listening to jazz music with a cup
of coffee exclusively blended for customer.




 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 19
 dari Perspektif Advertising Public Relations
I.        PENDAHULUAN


          Membicarakan tentang pemasaran global, maka dapat kita lihat
adanya suatu fenomena baru yang menarik untuk dicermati dalam 1-2
tahun terakhir, yaitu makin tumbuh suburnya bisnis waralaba,
keagenan dan lisensi di Indonesia.       Demam kewirausahaan yang
belakangan melanda kaum muda tak dapat dilepaskan dari fenomena
ini. Mereka menginginkan sesuatu yang cepat kalau tak mau disebut
instan dalam membangun bisnis.          Dengan segenggam modal di
tangan, tanpa perlu mempermasalahkan apakah itu hasil keringat
sendiri    atau   pemberian   orang   tua,   tetapi   yang   pasti   ada
kecenderungan suatu pola pemikiran seperti “buat apa bersusah
payah merintis usaha dari nol kalau dapat membeli bisnis yang
membuatnya langsung berlari. Itulah yang membuat bisnis “cepat saji”
ini booming dan terus mengundang peminat baru.

          Anak-anak muda ini, umumnya mereka yang bersekolah di luar
negeri, tidak sedikit yang setelah lulus memboyong bisnis waralaba
ke Tanah Air. Demam anak-anak muda kaya ini mendapat sambutan
hangat dari para pemilik jaringan waralaba internasional.            “Kini
Indonesia telah dijadikan     surganya pasar waralaba asing,” tutur
Utomo Njoto, konsultan waralaba dari FT Consulting. Karena, masih
menurut Utomo, banyak anak muda Indonesia yang tidak rewel dan
mau membayar mahal waralaba yang mereka tawarkan.


          Dari banyak pemain dalam dunia waralaba ini, yang paling
berperan dalam menghadirkan waralaba asing tentunya pengusaha
besar dan mapan.         Dengan jaringan bisnis yang mereka miliki,
kelompok ini bisa lebih cepat membaca peluang dan melobi franchisor
(pewaralaba) untuk mendapatkan hak franchisee (terwaralaba).
Dalam proses ini, dukungan modal dan reputasi bisnis memang akan

20 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
sangat menentukan. Tak ada yang sanggup membayar fee waralaba
mahal kalau bukan mereka para pengusaha bermodal kuat. Dengan
seleksi seperti itu, otomatis waralaba terkenal dari luar negeri hanya
akan jatuh ke tangan pengusaha besar.


       Sehubungan dengan itu, kita mengenal nama-nama besar
yang merajai bisnis waralaba, keagenan dan lisensi asing, sebut saja
PT Mitra Adiperkasa (membawahkan puluhan merek premium seperti
Starbucks, Kinokuniya, Sogo, Debenhams, Nautica, Marks & Spencer,
dan Lacoste), Grup MRA (Hard Rock Café, Cosmopolitan, FHM
Magazine, Harley-Davidson, Ferrari, dan lain-lain), Kawan Lama (agen
perkakas rumah tangga), dan Kenari Djaya (agen kunci-kunci mewah).


       Hal menggembirakan lainnya adalah, kemeriahan bisnis yang
dapat membuat orang cepat sukses dan terkenal ini juga terjadi pada
waralaba lokal. Dari segi jumlah gerai, perkembangan waralaba lokal
jauh melampaui waralaba asing.       Ini karena persyaratan menjadi
terwaralaba lokal jauh lebih ringan dan murah, bahkan ada         yang
dapat memulai dengan modal sekitar Rp 10 juta (misalnya, waralaba
Fresh Corn, Red Crispy).      Hal itulah yang menyebabkan beberapa
waralaba   lokal   berhasil   mencatatkan   diri   karena    mengalami
perkembangan yang luar biasa.

       Contoh, Indomaret yang       kini memiliki 926 gerai (450 di
antaranya gerai waralaba), Alfarmart - 730 gerai, Le Monde Baby’s
World - 100 gerai, Londre - 122 gerai, Es Teler 77 - 160 gerai, dan
Primagama - 380 gerai.

       Hadirnya waralaba lokal telah membangkitkan semangat
kalangan muda, profesional, pensiunan, bahkan juga para ibu rumah
tangga,    untuk turut terjun menjadi pengusaha.            Berdasarkan
penelusuran yang dilakukan oleh kelompok majalah SWA terhadap 54

 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 21
 dari Perspektif Advertising Public Relations
waralaba lokal, ternyata telah melahirkan 1.000 lebih terwaralaba.
Sementara itu dari     pewaralaba asing yang juga berjumlah 54
waralaba baru, telah muncul 284 terwaralaba. Salah satu penyebab
kelambatan pewaralaba asing dalam melahirkan pebisnis baru adalah
mahalnya investasi yang harus ditanggung terwaralaba. Sebab lain,
masih banyak pewaralaba asing yang ingin menikmati sendiri
manisnya bisnis, sehingga belum mau melakukan subwaralaba. Suka
atau tidak, membanjirnya bisnis waralaba asing akan membawa
konsekuensi peningkatan jumlah devisa ke luar. Ini karena mayoritas
barang yang dijual di gerai waralaba masih didominasi produk impor.
Untuk resto, misalnya, porsi terbesar bahan bakunya masih diimpor.
Sementara itu, gerai-gerai ritel waralaba asing juga menjual merek-
merek terkenal dari luar negeri. Untuk mengimbanginya, pemerintah
tidak perlu membendung atau melakukan regulasi (pengaturan),
karena cara-cara seperti itu sudah tidak relevan lagi.      Yang dapat
dilakukan adalah mendorong pengusaha Indonesia agar lebih giat
membangun pasar di luar negeri baik melalui ekspor langsung maupun
membangun waralaba, keagenan dan lisensi di mancanegara.


II.    WARALABA / FRANCHISE
        Franchising sebetulnya bukanlah konsep baru. Menurut Lloyd
Tarbutton dalam Franchising, The How To Book, konsep rantai
pertokoan sudah lahir di Cina setidaknya pada 200 SM ketika Lo Kass,
seorang pebisnis lokal, mulai mengoperasikan beberapa unit ritel di
negeri yang berkebudayaan sangat tua itu.
        Di Eropa, sistem waralaba digunakan oleh para raja untuk
melanggengkan     kekuasaan    mereka.   Caranya,    sang    penguasa
memberikan hak atas lahan kepada beberapa individu kuat. Sebagai
imbalan atas segala kebebasan yang dianugerahkan  dari berburu
sampai menarik pajak di daerah seluas properti itu  individu-individu
yang diangkat jadi bangsawan tadi diwajibkan mempertahankan teritori

22 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
kerajaan dengan membangun pasukan. Selain itu, mereka juga harus
menyerahkan sebagian hasil pajak kepada raja. Di Inggris sistem
pemerintahan seperti ini berlaku sampai dengan sekitar tahun 1562,
ketika The Council of Trent menerbitkan beleid yang melarang.
        Akan tetapi, penemuan dunia baru kemudian membuka
peluang perdagangan internasional di tengah maraknya paham
kolonialisme.   Untuk   memperluas    kendali   kekuasaan,   sekaligus
menegakkannya, beberapa pemerintahan di Eropa mengadopsi
kembali sistem waralaba. VOC dibentuk oleh Belanda pada 1602, dan
kemudian diberi hak untuk melakukan seluruh perdagangan antara
Tanjung Harapan Baik dan Selat Magellan. Mewakili Negeri Kincir
Angin itu, perusahaan yang dimodali melalui penerbitan saham senilai
6,5 gulden punya kedaulatan tersendiri untuk merebut teritori dari
Portugis dan mendirikan markas besar di Jakarta pada 1619. Dari
negeri jajahan ini mereka membangun perdagangan monopoli dengan
Jepang pada 1641 dan memerangi Inggris yang berupaya menembus
perdagangan rempah.
        Penjajahan Inggris di Amerika Utara juga dimulai melalui
sistem waralaba ketika pada 1607 hak atas Virginia diberikan kepada
The London Company. Pengambilalihan wilayah tersebut oleh
Kerajaan Inggris baru dilakukan pada 1624, setelah perusahaan
swasta itu dinilai melakukan mismanajemen dengan terbantainya 347
pemukim kulit putih oleh Indian Powhatan pada 22 Maret 1622.
        Sebagai konsep bisnis, franchising pertama kali diadopsi dari
Inggris dan Eropa oleh industri bir AS. Produsen minuman ini
memberikan bantuan finansial sebagai imbalan dari perjanjian
pembelian produk secara eksklusif oleh rumah-rumah minum yang
tersebar luas. Laiknya franchising, produsen minuman tak memiliki
kendali atas operasional tavern lokal tersebut, selain menempatkan diri
sebagai pemasok tunggal.


 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 23
 dari Perspektif Advertising Public Relations
          Setelah transportasi berkembang, barulah waralaba di industri
ritel dan resto berkembang. Jaringan resto tertua di AS berakar dari
perusahaan yang didirikan Frederick Henry Harvey pada tahun 1850-
an. Mendapat lisensi dari Atchison, Topeka & Santa Fe Railroad, pada
1876 resto Harvey House membuka cabang pertama di stasiun yang
menjadi    cikal-bakal     rantai   resto   yang    terdiri   dari   120    gerai,
membentang 12 ribu mil sepanjang jalur kereta api milik perusahaan
itu. Setelah itu, barulah lahir nama-nama waralaba resto yang
sekarang mendunia: A & W (didirikan pada 1919 dan diwaralabakan
pada 1924), KFC (1930), Dairy Queen (1940), Dunkin’ Donuts (1950),
Burger King (1954), McDonald’s (1955), dan The International House
of Pancakes (1958).
          Di industri permesinan, franchising lahir pada tahun 1950-an
dengan berdirinya McCormack Harvesting Company, yang kemudian
disusul   oleh   Singer      Sewing     Centers     (tahun     1860-an)     yang
mewaralabakan penjualan dan layanan pascajual mesin jahit Singer.
Waralaba penjualan dan layanan pascajual produk otomotif baru
diluncurkan awal tahun 1900-an oleh General Motors dan Ford Motor
Co.,   hampir    berbarengan        dengan      waralaba      toko   obat   yang
dikembangkan oleh Louis Liggett pada 1902.
          Di bisnis yang lebih kecil, salon perawatan rambut, cikal bakal
waralaba lahir pada 1888 ketika Martha Matilda Harper mendirikan
salon pertamanya di Rochester. Lahir dari keluarga miskin di Ontario,
Kanada, Harper menjadi pembantu seorang dokter yang kemudian
memberikan       formula     rahasia    tonik      rambut     kepadanya      dan
mengajarinya anatomi dan fisiologi. Pada 1882, di usia 32 tahun,
hanya berbekal US$ 60 dan sekaleng tonik rambut dia pindah ke
Rochester, New York.
          Masih jadi pembantu rumah tangga di siang hari, Harper
meracik toniknya pada malam hari lalu menjajakannya kepada para
tetangga, dari pintu ke pintu. Enam tahun kemudian, 1888, setelah

24 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
terkumpul US$ 360, dia mempertaruhkan seluruh kekayaannya itu
dengan membuka salon perawatan rambut di pertokoan primer, di
Rochester. Secara inovatif, dia menggabungkan unsur kesehatan dan
kecantikan serta memperkenalkan penggunaan produk organik secara
eksklusif. Salah satu penemuannya yang sampai saat ini menjadi
peralatan standar salon di seluruh dunia adalah kursi rebah dengan
tempat cuci rambut yang menyangga leher dengan enak di bagian
kepala kursi.
        Dengan segala inovasi tersebut, The Harper Shop yang
memanjakan kalangan atas berkembang cepat. Buat menyediakan
SDM, Harper mendirikan sekolah untuk pelatihan, terutama teknik
memijat kepala dan bahu untuk membuat pelanggan nyaman. Selain
itu, dia juga memperkenalkan salon buka sore untuk para perempuan
yang bekerja dan mengembangkan tempat bermain anak-anak
sehingga para ibu bisa tenang menikmati layanan salonnya.
        Lalu, setelah memformulakan sukses bisnisnya menjadi
format bisnis yang memungkinkan layanan berkualitas secara
konsisten, lengkap dengan manual operasional dalam bentuk Harper
Method Textbook dan pelatihan formal Harper Method, diluncurkanlah
waralaba The Harper House sehingga pada 1928 perusahaan yang
didirikan perempuan dari keluarga sederhana tersebut sudah memiliki
500 franchisee yang beroperasi di berbagai kota, di seluruh dunia.
        Sukses Harper sekaligus membuktikan dua hal. Pertama,
bukan cuma bisnis besar yang bisa mendirikan waralaba. Selain itu,
kedua adalah bahwa perempuan, yang umumnya lebih piawai dalam
masalah kepuasan pelanggan dan luwes berhubungan dengan pihak
lain, berpotensi besar untuk sukses di bisnis waralaba.
        Sekarang,    waralaba     sukses    yang   didirikan   pebisnis
perempuan sudah banyak. Dan bukan hanya di bidang yang terkait
dengan pekerjaan tradisional perempuan, seperti resto dan makanan
(Auntie Anne’s dengan Anne’s Hand Rolled Soft Pretzel-nya, Candy

 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 25
 dari Perspektif Advertising Public Relations
Bouquet     International,     The     Coffee     Beanary,   Cookies    by
Design/Cookies Bouquet, Pickles and Ice Cream) serta kecantikan (Fit
America dengan metode pendekatan alami untuk penurunan berat
badan). Para perempuan di AS juga berhasil mewaralabakan
pendidikan (ComputerTots dan Computer Explorers) dan layanan
kencan khusus untuk para profesional sibuk (It’s Just Lunch), bahkan
layanan di bidang yang dikuasai kaum Adam, mulai dari pengiriman
barang (Craters & Freighters, Two Men and A Truck) sampai layanan
pascajual otomotif lengkap (Moran Industries, Inc.).
          Dengan masuknya pebisnis dari berbagai latar belakang ke
industri waralaba, memasuki milenium baru saja di seluruh dunia telah
berdiri 3 ribu franchisor lebih yang memiliki 500 ribu franchisee lebih.
Di AS, perkembangan cepat industri waralaba dimulai tahun 1950-an.
Namun      ketika   itu,   seperti   ditulis   William   Rosenberg   dalam
otobiografinya, A Time to Make the Donuts, industri waralaba dinodai
oleh para oknum pencoleng yang dia sebut sebagai “fast-buck artists”
dan “fly-by-nighters.”
          Buat mencegah praktek yang merugikan orang banyak itu,
Rosenberg Sang Pendiri Dunkin’ Donuts memprakarsai berdirinya IFA.
Yang menjadi anggota adalah seluruh pihak yang terlibat dalam
industri waralaba, asosiasi ini mempertemukan kepentingan semua
pihak yang terlibat. Selain itu, asosiasi yang unik ini (karena
anggotanya bukan hanya franchisor sebagai “produsen” waralaba,
melainkan juga franchisee sebagai konsumen lisensi waralaba dan
pemasok sebagai pihak lain lagi), juga membantu Federal Trade
Commission dalam menyusun FTC Rule, perundangan federal AS
yang mengatur industri waralaba.
          Dengan aturan main yang jelas, industri waralaba jadi lebih
aman bagi investor. Franchisee dilindungi dari franchisor yang nakal.
Sebaliknya, infrastruktur hukum yang jelas juga memungkinkan


26 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
lahirnya barisan franchisor, termasuk di bisnis yang sebelumnya tak
terbayangkan.
          Beberapa franchisor menawarkan waralaba yang bersifat
business-to-business. Karena layanannya B2B, franchisee bisa
melakukan pekerjaan dari rumah sehingga tak perlu membeli atau
menyewa tempat dan peralatan berat untuk memulai bisnis. Salah
satunya, yang cukup unik, Bevinco. Diluncurkan pada 1988 oleh dua
pengusaha resto di Toronto, waralaba ini menawarkan layanan
memantau pencurian minuman keras di industri resto dan bar.
          “Setiap bar punya masalah yang satu ini. Kalau para pemilik
bar dengar sistem kami, mereka pasti segera tahu bahwa kami bisa
membantu  dan mereka pasti akan jadi klien kami,” ujar George
Jinagyros, pemilik master franchise untuk kawasan New York. “Mereka
tahu kami bisa menambah pemasukan fulus ke kantong mereka, dan
hasilnya terlihat di laporan rinci inventori alkohol mereka yang kami
bikin.”
          Waralaba lain yang menarik adalah Alphagraphics Inc..
Franchisor asal Tucson, Arizona, ini menawarkan layanan desain,
kopi, dan cetak digital jauh sebelum akses Internet menjadi hal lazim.
Maklum, mereka telah lama mengembangkan jaringan Alphalink.
“Kami berbeda dari print shop berorientasi ritel yang bergaya do-it-
yourself,” ujar Dan Bish, Direktur Pengembangan Waralaba.
          Faktor   geografi   dan   demografi   mendorong   tumbuhnya
franchisor yang unik pula. Kawasan wisata Laut Deerfield Beach,
Florida, melahirkan CruiseOne Inc. Yang menyebut diri sebagai “The
First and the original home-based, cruise-only company.” Yang mereka
tawarkan kepada franchisee yang pada 1999 saja telah mencapai 400
dan tersebar di 45 negara bagian? Sederhana saja: keahlian
menginspeksi kapal serta berbagai teknik pemasaran dan periklanan
buat mendapatkan pembeli kapal melalui pelatihan selama 7 hari di
Fort Lauderdale.
 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 27
 dari Perspektif Advertising Public Relations
        “Yang kami jual adalah turn-key operation yang lengkap,” ujar
Vivian Ewart, VP Operasional perusahaan yang waktu itu telah
mencetak penjualan US$ 85 juta/tahun.
        Sementara itu, kian banyaknya populasi para pensiunan
melahirkan franchisor semacam Handyman Connection. Didirikan oleh
dua pensiunan, perusahaan yang bermarkas di Cincinnati, Ohio, ini
menawarkan bisnis layanan perbaikan dan remodelling sederhana
untuk rumah dan kondo. “Kami menemukan ceruk pasar,” ujar Art
Neuman, salah satu pendiri. “Kecuali mereka berbakat, atau punya
keponakan yang jadi tukang, para pemilik rumah yang nggak tahu mau
minta tolong ke mana akan menelepon kami.”
        Home improvement services  dari penambalan tembok dan
atap yang bocor sampai pembuangan sampah, dari penambahan
ruangan sampai pembuatan patio dan lighting luar rumah  memang
sedang tren. Environmental Protection Agency memperkirakan, pada
2000 sampai 2005 saja tak kurang dari 250 ribu PC bekas harus
dibuang. Padahal, produk teknologi seperti ini mengandung bahan
berbahaya yang tak bisa begitu saja dibuang di tempat sampah biasa.
Keadaan inilah yang mendorong berkembangnya waralaba yang
menawarkan solusi lengkap, cradle-to-grave, untuk barang yang
merupakan hasil samping kemajuan zaman itu.
        Beberapa     franchisor   dengan     cerdik   menggabungkan
kebutuhan masyarakat dengan gaya hidup. Salah satunya, Jeffrey
Hughes, yang mewaralabakan “layanan konsultasi hukum campur
warung kopi” di bawah bendera Legal Grind.
        Ide dasar waralaba unik ini berawal dari ketika 8 tahun lalu
Hughes yang pengacara itu mendirikan kafe di Santa Monica,
Kalifornia, yang menawarkan advis legal plus minuman berbasis kopi.
Setiap siang di hari kerja, ada pengacara nongkrong di kafe milik
Hughes, Legal Grind, yang bisa disewa pengunjung dengan tarif
murah: US$ 25 untuk kira-kira 15 menit.
28 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
         Legal Grind segera menjadi tempat nongkrong favorit para
pengacara muda, terutama yang sedang mengibarkan bisnisnya.
Salah satunya, James Orland, 36 tahun, yang menjadi pelanggan
sejak dua tahun lalu ketika memulai kantor pengacaranya. Sekarang
Orland masih nongol ke kafe tersebut dua minggu sekali, waktu siang
di hari kerja. Kegiatannya berkafe ria di Legal Grind ini mendatangkan
setidaknya 15% kliennya, bahkan mungkin lebih.
         Legal Grind sendiri membuat semacam jadwal. Setiap Senin
pertama dan ketiga, pengunjung bisa memperoleh advis tentang
perselisihan landlord dan penyewa, hak-hak karyawan dan kasus
personal injury, serta perselisihan bisnis. Hari lain konsultasi tentang
kasus kepailitan, tuntutan perdata, dan sebagainya. Di samping itu, di
kafe pelanggan juga bisa memperoleh layanan penyiapan dokumen
legal.
         Keuntungan yang diperoleh Legal Grind? Untuk advis legal,
manajemen kafe mendapatkan US$ 25 yang dibayar oleh pelanggan.
Lalu, kalau ternyata pelanggan itu menjadi klien sang pengacara,
manajemen kafe memperoleh fee 15%-33% dari tagihan. Pendapatan
lain berasal dari penjualan buku-buku hukum yang umumnya bertema
self-help dan, tentu saja, minuman dan makanan yang disajikan.
         Uniknya lagi, layanan Legal Grind tercantum dalam daftar
menu bersama dengan harga minuman kopi yang diberi nama
pelesetan seperti Law’ttes dan Cop’uccinos yang ditawarkan dengan
harga sedikit di bawah kopi Starbucks, US$ 1-3. Untuk US$ 600,
pelanggan bisa mendapatkan dokumen lengkap perceraian (tanpa
tantangan   di   pengadilan),   dan   dengan   fulus   US$   200   bisa
mendapatkan layanan penggantian nama.
         “Kalangan miskin memperoleh bantuan hukum gratis dan
yang kaya punya lebih banyak pengacara ketimbang yang mereka
butuhkan,” ujar Hughes. “Selama ini, golongan menengah kapiran.”


 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 29
 dari Perspektif Advertising Public Relations
          Legal Grind yang membuka gerai keduanya di Inglewood,
dekat Los Angeles, memang masih dalam proses untuk pewaralabaan.
Jika waralaba ini berhasil diluncurkan nanti, berarti Hughes berhasil
menawarkan sesuatu yang sama sekali baru. Franchisor layanan
advisory yang ada saat ini  misalnya penyiapan pajak dari H&R
Block atau dokumen (perceraian, hipotek, dan sebagainya) dari We
the People at Santa Barbara  tak ada yang menawarkan advis legal.
Legal Grindlah yang pertama menawarkan format itu dengan imbalan
sebagian dari future revenue yang diterima franchisee.
          “Sekarang,”   ujar    DeBolt,     “(calon)   franchisee      tertarik
mengoperasikan bisnis berorientasi jasa seperti layanan akunting,
reparasi otomotif, dan elderly-care provider ketimbang yang lain.”
Kendati demikian, menurut dia, bisnis hotel dan resto masih menjadi
pilihan utama di antara para (calon) franchisee.
          Di masa mendatang, kian beragamnya franchisor membuat
para calon investor yang ingin membeli lisensi waralaba punya pilihan
luas yang, sekaligus, membutuhkan kehati-hatian. Namun, kalau bisa
memilih waralaba yang benar, franchisee akan menikmati kebebasan
seorang    pemilik   bisnis    tanpa    harus   bersusah-payah      memulai
usahanya     dari    bawah     karena     franchisor   tidak   hanya     telah
menyediakan sistem yang terbukti andal dan pelatihannya, tetapi juga
merek yang kuat.

III.   BAGAIMANA              “STARBUCKS”          SUKSES        SEBAGAI
       WARALABA

       Ada dua hal penting yang paling mendasar, yang membuat
Starbucks maju. Kedua hal tersebut adalah SEMANGAT / HASRAT
(PASSION), dan KEASLIAN (AUTHENTICITY). Kombinasi dari kedua
hal mendasar tersebutlah yang membuat Starbucks menjadi maju
seperti sekarang yang kita kenal.



30 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
       Starbucks seperti yang kita kenal kini, didirikan pada tahun
1971. Starbucks yaitu sebuah perusahaan yang begitu ‘keranjingan’
akan kopi, serta selalu berusaha menanamkan pengertian pada para
pelanggannya tentang kehebatan kopi yang dapat disajikan.       Melalui
visi dan nilai-nilai yang dibangun, yang merupakan kombinasi antara
dorongan persaingan dan keinginan yang luar biasa untuk meyakinkan
bahwa setiap orang dalam perusahaan dapat secara bersama-sama
memperoleh kemenangan.


       “Saya ingin mencampur kopi dengan romansa, berani untuk
mencapai apa yang kata orang mustahil, menantang kebiasaan yang
aneh-aneh dengan ide-ide inovatif, dan melakukan semua ini dengan
elegan dan gaya.” (Howard Schultz, Chairman dan CEO Starbucks).


       Bila dilihat, kesuksesan yang diperoleh oleh Starbucks,
sebagian besar, atau boleh dikatakan semua karena adanya praktek
kehumasan yang dilakukan, baik dalam bentuk kegiatan dan dalam
menjalankan prinsip-prinsipnya, maupun dalam melakukan promosi,
dapat dikatakan melakukan kegiatannya melalui        “Public Relations
Advertising”.


       Yang diperkenalkan oleh pihak Starbucks       bukanlah melulu
mengenai        produk   kopinya,   melainkan   keberaniannya   dalam
melakukan penerobosan, melakukan suatu hal yang tidak lazim, yang
awalnya hanya bermodalkan keberanian, dan kreativitas.


       Pada dasarnya Public Relations merupakan gabungan antara
ilmu, seni dan kreativitas.     Maka itulah yang dilakukan Starbucks
dalam memperkenalkan produknya, antara lain, dengan cara membuat
konsumen ketika singgah di Starbucks        serasa menemukan oasis,
suatu tempat lingkungan kecil, ketika Anda dapat beristirahat,
mendengarkan musik Jazz, dan merenungkan segala sesuatu yang

 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 31
 dari Perspektif Advertising Public Relations
melintas dibenak Anda, merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang
bersifat personal, universal, atau bahkan yang aneh-aneh sambil
menikmati secangkir kopi.


       Kopi dan coffehouse merupakan telah menjadi bagian penuh
arti dari kehidupan komunitas selama berabad-abad, di Eropa dan juga
di Amerika. Hal tersebut dikaitkan pula dengan adanya pergolakan
politik, gerakan-gerakan para penulis, dan perdebatan intelektual di
Venesia, Vienna, Paris, dan Berlin.


       Starbucks menggetarkan siapapun, terutama penggemar kopi,
karena ia memiliki warisan keberhasilan dari masa lalu.      Starbucks
memperoleh kekuatan kesuksesan dari sejarahnya sendiri, serta dari
ikatannya dengan masa lalu yang panjang. Itulah yang membuatnya
lebih dari sekedar perusahaan yang tumbuh menjamur di era 1990-an.
Kekuatan-kekuatan itulah yang membuatnya tetap bertahan.


       Para pendiri Starbucks     pada dasarnya bukanlah golongan
pelaku bisnis handal.   Starbucks     dirintis oleh tiga orang sahabat,
Jerry, seorang guru bahasa Inggris, berasal dari Bay Area, dan setelah
tamat pada mata kuliah utama Literatur pindah ke Seattle. Gordon,
seorang penulis memang berasal dari Seattle, dan yang terakhir
adalah Zev Siegl, seorang pengajar sejarah. Zev merupakan putra
pemimpin orkestra untuk Seattle Symphony. Mereka bertiga sama-
sama menyukai produksi film, penulisan, penyiaran, musik klasik,
gourmet, anggur yang bagus, dan kopi yang istimewa.


       Tak seorang pun dari mereka bertiga memimpikan untuk
memiliki perusahaan sebesar Starbucks seperti yang kita kenal kini,
yang telah menjlema menjadi sebuah kerajaan bisnis. Tetapi satu hal
yang pasti adalah, mereka mendirikan Starbucks dengan satu alasan:


32 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
MEREKA MENCINTAI KOPI, dan memiliki tekad untuk menjadikan
Seattle memiliki akses menuju yang terbaik.

        Kakek spiritualis Starbucks    adalah Alfred Peet, berusia 70
tahunan, beruban, keras kepala, mandiri dan blak-blakan, berasal dari
Belanda, memperkenalkan dark-roasted coffe ke Amerika. Ia orang
yang tidak sabaran, tidak suka berpura-pura, tetapi ia akan kuat duduk
berjam-jam dengan siapapun yang mempunyai perhatian tulus untuk
belajar mengenai dunia kopi dan teh. Memang tidak mengherankan,
karena Alfred Feet merupakan putra pedagang kopi dari Amsterdam.
Ia tumbuh, beranjak dewasa dalam eksotisme kopi Indonesia, Afrika
Timur dan Karibia. Peet kecil masih mengingat betul bila ayahnya
pulang dengan membawa berkantung-kantung kopi yang dimasukkan
ke dalam saku jasnya.       Kemudian ibunya akan membuat tiga pot
sekaligus,    menggunakan      campuran   yang    berbeda-beda,   dan
memberikan pendapatnya.


        Ketika remaja Peet bekerja magang pada salah satu importir
besar di kotanya.         Dan sebagai pedagang teh, ia berlayar
menyeberangi lautan, menuju perkebunan-perkebunan di Jawa dan
Sumatra, mengasah dan memperhalus cita rasanya, sampai ia dapat
mencium perbedaan tipis kopi-kopi dari negara-negara dan daerah
yang berbeda.

        Tahun 1955, Peet pindah ke Amerika.         Ia merasa begitu
terkejut.    Di sinilah negara terkaya di dunia, tetapi kopinya begitu
‘mengerikan’.

        Kebanyakan kopi yang diminum orang Amerika adalah kopi
dengan kualitas rendah, sehingga para pedagang kopi dari London
dan Amsterdam memperlakukannya sebagai komoditi murahan.
Sangat sedikit kopi arabika yang memiliki kualitas tinggi, dibawa ke

 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 33
 dari Perspektif Advertising Public Relations
Amerika Utara, kebanyakan dibawa ke Eropa, tempat cita rasa lebih
dibeda-bedakan.

       Sebetulnya Peet sejak tahun 1950-an telah mulai mengimpor
kopi arabika ke Amerika. Namun di sana tidak banyak permintaan.
Mungkin karena belum banyak orang Amerika yang mengenal dan
mendengarnya.      Maka pada tahun 1966, ia membuka sebuah toko
kecil, Peet’s Coffee and Tea, di Vine Street, Berkeley, yang
dikelolanya hingga tahun 1979. bahkan ia mengimpor alat penyangrai
sendiri, karena ia berpikir bahwa perusahaan-perusahaan Amerika
tidak tahu bagaimana menyangrai sejumlah kecil kopi arabika kualitas
tinggi tersebut.


       Salah satu kekhasan yang dimiliki Starbucks adalah roasted
coffee dark penemuan Peet. Kopi yang dibuatnya dengan cara Eropa,
yang diyakininya sangat penting untuk mengeluarkan aroma biji-biji
kopi yang berbeda. Ia selalu menganalisis setiap kantung biji kopi,
dan menyarankan cara pemanggangan yang sesuai untuk karakteristik
yang dimiliki masing-masing kopi.

       Starbucks mulai melakukan pengembangan secara profesional,
atau   menurut     istilah   Howard   Schultz,pada   18   Agustus    1987
merupakan hari kelahiran Starbucks modern.

       Dari situlah mulai dipikirkan apa saja yang harus dilakukan
secara pemikiran bisnis.       Perhatian paling utama ditujukan pada
masalah manajemen.            “manajemen yang kurang pengalaman”,
merupakan salah satu faktor paling riskan dalam catatan Howard
Schultz.   Selain manajemen, hal yang membuat Starbucks             begitu
pesat perkembangannya adalah masalah kepercayaan.             Starbucks
dapat lebih cepat berkembang dan menjadi lebih berhasil lagi, kalau
orang-orang yang terlibat di dalamnya termotivasi dengan semangat

34 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
yang sama, semangat untuk percaya terhadap apa yang mereka
lakukan dengan semangat dan kegairahan, akan menghasilkan
sesuatu yang menggembirakan.             Dan satu-satunya cara untuk
menanamkan rasa percaya diri pada karyawan Starbucks                 adalah
bersikap jujur kepada mereka, sama-sama saling berbagi rencana-
rencana, dan kegembiraan. Melaksanakan dan menepati apa yang
sudah dijanjikan kepada mereka, serta selalu tak lupa untuk menepati
apa-apa yang telah dikatakan pada mereka.              Memberikan dengan
tepat apa yang sudah dijanjikan. Memang hal ini cukup memakan
waktu,    tetapi   itulah   public   relations,    salah   satunya   adalah
menanamkan kepercayaan, baik terhadap karyawan ( ke dalam)
maupun terhadap publik di luar.


         Ketika memasuki pemasaran internasional, maka Starbucks
harus      mulai     memikirkan       dan         memperhitungkan      serta
mempertimbangkan segala sesuatunya secara jangka panjang. Ada
target yang direncanakan, dan harus dicapai.               Harus dipikirkan,
bagaimana membuka 125 store baru dalam lima tahun, sesuai dengan
yang telah dijanjikan kepada investor. Seiring dengan bertambah dan
berkembangnya keterampilan di lingkungan Starbucks, maka harus
dapat membuka 15 store pada tahun pertama, kemudian 20 store
pada tahun kedua, 25 store pada tahun ketiga, 30 store pada tahun
keempat, dan terakhir adalah 35 store pada tahun kelima. Di atas
kertas rencana itu terlihat begitu besar, bahwa penjualan akan tumbuh
dengan cepat menjadi $60 juta dan laba akan tumbuh dalam waktu
bersamaan. Starbucks harus bergerak cepat, salah satunya adalah
dengan merekrut manajer-manajer berpengalaman, serta segera
melangkah untuk memperoleh dukungan dan antusiasme dari
lingkungan Starbucks sendiri.




 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 35
 dari Perspektif Advertising Public Relations
      Dalam memasuki pemasaran modern, ada beberapa hal yang
dijual oleh Starbucks , bukan hanya produk, tetapi lebih kepada
kegiatan PR Pemasaran, yaitu dengan menanamkan kesan, citra, atau
image kepada pelanggan, bahwa bila pelanggan singgah di Starbucks,
maka mereka akan mengalami, atau menemukan hal-hal sbb:


1. CITA RASA ROMANTIKA, pada Starbucks cafe atau store, orang
   dapat singgah dan beristirahat beberapa waktu, yang membawa
   mereka jauh dari kegiatan rutin kehidupan sehari-hari. Kemana lagi
   pelanggan akan menemukan dan memperoleh aroma Sumatra,
   Kenya, atau Costa Rica. Dimana lagi pelanggan akan menemukan
   dan memperoleh citarasa Verona, atau Milan.       Hanya dengan
   memanfaatkan       kesempatan   memesan     minuman     seeksotik
   esspresso macchiano ditambah sepercik romansa untuk menikmati
   hari luar biasa.


2. SUATU KEMEWAHAN YANG TERJANGKAU.                     Di Starbuck
   pelanggan dapat melihat seorang buruh pabrik atau bangunan
   berdiri dalam antrean di depan seorang dokter ahli bedah yang
   kaya dan terkenal. Buruh tersebut mungkin tidak memiliki mobil
   mewah keluaran terbaru, namun dia dapat memesan minuman
   yang sama dengan yang dipesan si dokter ahli bedah hanya
   dengan harga $2,00. keduanya sama-sama memanjakan diri dan
   memberi hadiah pada diri sendiri, dan menikmati suatu kenikmatan
   kelas dunia.


3. SEBUAH OASIS.         Ditengah kekacauan suasana yang tidak
   menentu, membuat gerah, Starbucks Stores menawarkan dan
   menyediakan saat yang tenang, sehingga pelanggan dapat
   kembali memusatkan diri pada pemikiran-pemikirannya.       Orang-
   orang Starbucks akan melayani dengan cepat, serta senantiasa

36 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations
   memberi senyum, dan tidak mengganggu pelanggan. Kunjungan
   ke Starbucks dapat dijadikan sebagai pelarian sejenak ketika para
   pelanggan banyak menemui masalah yang menekan. Starbucks
   telah menjadi suatu udara yang membuat pelanggan dapat
   bernapas dengan segar.


4. INTERAKSI SOSIAL yang SANTAI.                  Salah satu agen iklan
   Starbucks mewawancarai pelanggan di Los Angeles. Dan dapat
   ditarik suatu kesimpulan bahwa “Starbucks itu sangat sosial. Kami
   pergi ke Starbucks karena rasa sosial.”


       Kunci kesuksesan lainnya dari Starbucks adalah bahwa “setiap
karyawan Starbucks adalah partner.”               Hal tersebut dilakukan
manajemen Starbucks sebagai cara dan usaha untuk berbagi, baik
dalam hal kepemilikan perusahaan maupun berbagi imbalan, atas
kesuksesan di bidang keuangan dengan orang-orang di Starbucks.


       Kehadiran Starbucks di Indonesia masih relatif muda. Tetapi
dengan hadirnya Starbucks store, maka semakin menunjukkan
kesungguhan       dan      keberhasilan        dari    Starbucks     dalam
mengembangkan diri.


       Bila dilihat dari segi budaya, maka kehadiran Starbucks bukan
merupakan suatu hal yang luar biasa, karena sebagian besar
penduduk Indonesia, pada umumnya minum kopi. Bila dilihat dari segi
sosial, maka kecenderungan menjamurnya waralaba, membawa
dampak positif maupun negatif. Dikatakan membawa dampak negatif,
karena dapat menimbulkan budaya konsumtif masyarakat. Dengan
dihadapkan    pada      berbagai   pilihan   yang     semuanya     memberi
kemudahan, maka mereka sedikit demi sedikit akan meninggalkan
tradisi yang selama ini telah mereka jalani.

 Bagaimana “Starbucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba Dipandang 37
 dari Perspektif Advertising Public Relations
       Dilihat dari segi ekonomi, jelas sangat menguntungkan, karena
dengan semakin menjamurnya waralaba di Indonesia, maka akan
mendatangkan investor, dan diharapkan mereka akan menanamkan
investasinya




DAFTAR PUSTAKA
   1. Howard Schultz dan Dori Jones Yang, Pour Your Heart Into It,
       Bagaimana STARBUCKS Membangun Sebuah Perusahaan
       Secangkir Demi Secangkir, Gramedia, Jakarta, 2003
   2. Warren J. Keegan, Manajemen Pemasaran Global, Edisi
       Revisi, PT. Prenhallindo, Jakarta, 1996
   3. Danny Moss and Barbara deSanto (edt), Public Relations
       Cases, International Perspectives, Routledge, London and
       New York, 2002


SUMBER LAINNYA :
http://www. franchise.com/
http://www. vivisimo.com/
http://www. mlmindonesia.com/
http://www. google.com/
http://www. suarapembaruan.com/
http://www. kompas.com/
http://www. republika.com/
http://www. Assoy.net/
http://www.2.rnw.nl/rnw/id/news/
http://www. Swa.com/




38 Bagaimana “ Strabucks Coffee” Sukses Sebagai Waralaba ,
   Dipandang Dari Perspektif Advertising Public Relations

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:437
posted:7/21/2011
language:Indonesian
pages:20