; 04410013 KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

04410013 KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN

VIEWS: 1,730 PAGES: 156

education

More Info
  • pg 1
									KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN
 MAKNA HIDUP PADA WARGA BINAAN LEMBAGA
       PEMASYARAKATAN ANAK BLITAR




                  SKRIPSI




                     Oleh :
               NINIEK KARTINI
                NIM : 04410013




           FAKULTAS PSIKOLOGI
  UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
                    2008




                       i
KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN
 MAKNA HIDUP PADA WARGA BINAAN LEMBAGA
       PEMASYARAKATAN ANAK BLITAR




                        SKRIPSI




     Diajukan Kepada Dekan Fakultas Psikologi UIN Malang
         Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
           Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S. Psi)




                          Oleh :
                    NINIEK KARTINI
                     NIM : 04410013




           FAKULTAS PSIKOLOGI
  UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
                    2008




                             i
 KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN
MAKNA HIDUP PADA WARGA BINAAN LP ANAK BLITAR



                      SKRIPSI




                       Oleh :
                 NINIEK KARTINI
                  NIM : 04410013


                 Telah Disetujui oleh :
                  Dosen Pembimbing




                Yulia Sholihatun, M. Si
                   NIP 150 368 779


               Tanggal ……April 2008

                     Mengetahui
                       Dekan




               Drs. H. Mulyadi, M. PD. I
                   NIP. 150 206 243




                           ii
       KONSELING LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN
        MAKNA HIDUP PADA WARGA BINAAN LEMBAGA
              PEMASYARAKATAN ANAK BLITAR



                                   SKRIPSI



                                     Oleh :
                               NINIEK KARTINI
                                NIM : 04410013



              Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji
       Dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
               Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)


                         Tanggal………April 2008


SUSUNAN DEWAN PENGUJI
Tanda Tangan

  1. Fathul Lubabin Nuqul, M.Si.(Ketua /Penguji)

  ______________                                                   NIP.150 327 249

  2. Yulia Sholihatun, M.Si
                                  Sekretaris/Pembimbing/Penguji)
  ______________                               NIP. 150 368 779


  3. Drs. Djazuli, M.Ag. (Penguji Utama)

  ______________
  NIP. 150 019 224

                                   Mengesahkan
                              Dekan Fakultas Pssikologi



                              Drs. H. Mulyadi, M. Pd. I
                                NIP. 150 206 243




                                       iii
                      SURAT PERNYATAAN


Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama: Niniek Kartini
NIM: 04410013
Fakultas: Psikologi
Judul Skripsi         : Konseling Logoterapi untuk Meningkatkan Makna Hidup
                    pada Warga Binaan LP Anak Blitar
    Menyatakan bahwa skripsi tersebut adalah karya saya sendiri dan bukan
karya orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk
kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
    Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan
apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sangsi akademis.



                                            Malang,……April 2008
                                            Yang menyatakan,



                                            Niniek Kartini




                                 iv
                         HALAMAN PERSEMBAHAN




         Karya ini aku persembahkan kepada :

        Kakakku Yuma Sri Hartoni yang telah berpulang ke Raahmatullah
        Semoga engkau diampuni dan diberkahi Allah dengan KasihNya

        Ibunda dan ayahanda tercinta
        Yang menyayangiku dan membimbing dengan tulus tanpa kenal
lelah

        Para Guru dan Dosenku
        Yang menjadi pelita ilmu dalam perjalanku menggapai cita-cita
        Karenamu aku dapat menggenggam ilmu

        Anandaku tercinta Ahmad, Himmah, Elang, Rani dan Aji
        Kalianlah motivasi dan harapanku dalam hidup
        Semoga Allah selalu memasukkan kalian dalam golonganNya

     Adik-adikku Hery, Gunawan dan Agus yang mendukungku
     Semoga Allah membimbing kalian dalam membentuk keluarga
sakinah

        Saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang bertobat di penjara
        Semoga Allah menerangimu dengan cahaya hati yang jernih

        Teman-teman kuliahku tersayang
        Bersamamu aku mengerti arti persahabatan sejati
        Semoga kalian mendapat keberkahan dalam hidup

      Ya Allah kuhaturkan ucapan syukur pada-Mu
      Yang telah memberi petunjuk-Mu dan hikmah-Mu sehingga karya ini
terselesaikan
      Dengan seikhlas hati terimalah ini sebagai ibadahku




                                        v
                                    MOTTO



       莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠莠莠莠
        莠莠莠☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
莠莠莠莠莠莠莠莠莠☺☺☺☺☺☺☺ 莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠 莠
 莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠
   莠莠莠莠莠莠莠莠 莠 莠莠莠莠 莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠
     莠莠莠莠莠莠莠莠 莠莠☺☺☺ 莠莠莠莠 莠莠莠
  莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠 莠 莠莠莠莠莠莠 莠莠莠莠莠莠莠莠
    莠莠莠莠莠莠莠莠莠莠☺☺☺☺☺☺☺ 莠莠莠莠莠

  “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan

                                     bantahlah

    mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui

tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang

                                         (QS. An-Nahl: 125)
                        mendapat petunjuk.




                                         vi
                            KATA PENGANTAR



Assalamu ‗alaikum Wr.Wb.
       Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah
memberikan kekuatan batin kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini, karena hanya dengan kekuatan dan bimbinganNya penulisan
skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
       Kedua kalinya shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa dan memberikan kita
penerangan dengan Islam dan membimbing umat ke jalan yang benar.
       Seiring dengan ucapan syukur ahamdulillah, penulis mengucapkan terima
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
   1. Ayahanda Sarjono Sukardi dan Ibunda Rochjati yang telah memberikan
       dukungan baik moril maupun materil, yang setiap waktu berdoa kepada
       Allah untuk kelancaran studi penulis.
   2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Malang beserta
       stafnya.
   3. Ibu Yulia Sholichatun, M.Si. selaku dosen pembimbing yang dengan
       kesabaran dan keikhlasan di tengah kesibukannya meluangkan waktu
       memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripdi ini dapat
       tersusun dengan baik dan rapi.
   4. Kepala Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar Bapak Edi Santoso Bc.Ip,
       SH., beserta stafnya yang telah memberikan waktu dan kesempatan
       sehingga penelitian skripsi ini bisa terlaksana dengan baik.
   5. Teman-teman kuliah yang telah memberikan bantuannya dalam proses
       penyelesaian penulisan skripsi.
       Tiada kata yang pantas penulis ucapkan selain daripada ―Jaza kumullah
ahsanal jaza‖, semoga apa yang telah diberikan diterima baik Allah SWT.
        Akhirnya penulis mengharapkan masukan berupa kritikan yang
membangun sebagai wujud dari perhatian pembaca demi perbaikan karya tulis
yang sederhana ini. Semoga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi para




                                         vii
pembaca dan pemerhati akademis dan khususnya bagi penulis sendiri. Amin ya
Rabbal ‗alamin.
      Wassalamu ‗alaikum Wr. Wb.




                                                  Malang, 16 April 2008




                                                  Penulis




                                   viii
                        DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………i

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….ii

HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………..iii

HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN….………………………………………..v

MOTTO…………………………………………………………………….vi

KATA PENGANTAR……………………………………………………...vii

DAFTAR ISI………………………………………………………………..ix

DAFTAR TABEL…………………………………………………………..xii

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………..xiv

ABSTRAK………………………………………………………….............xv

BAB I PENDAHULUAN

  A. Latar Belakang Masalah……………………………………………..1

  B. Rumusan Masalah……………………………………………………2

  C. Tujuan Penelitian……………………………………………………..9

  D. Manfaat Penelitian……………………………………………………9

BAB II KAJIAN PUSTAKA

  A. Pendekatan Eksistensial..……………………………………………..10

    B.    Logoterapi……………………………………………………………16

         a.   Aksioma...………………………………………………………...17

         b.   Premis..…………………………………………………………...18

  C. Kepribadian Model Logoterapi……………………………………….20




                            ix
    D. Dorongan Kepribadian yang Sehat………………………………….22

    E. Konseling Logoterapi………………………………………………..24

             1. Dasar Konseling logoterapi.…………………………………….24

           2. Tiga cara memberi arti bagi kehidupan………………………...25

           3. Masalah Psikologis Menurut Logoterapi……………………….27

           4. Tahapan Konseling Logoterapi ………………………………...30

    F.     Makna Hidup Menurut Al- Qur‘an..………………………………..32

    G.      Metode Logoterapi……………….……………………………….. 42

    H.      Perkembangan Remaja.………….…………………………………45

    I.      Logoterapi untuk Meningkatkan Makna Hidup…...………………..53

BAB III METODE PENELITIAN

    A. Pendekatan dan Jenis Penelitian……………………………………58

    B. Prosedur Penelitian.…………………………………………….......60

    C. Lokasi Penelitian…………………………………………………...62

    D. Sumber Data………………………………………………………..64

    E. Prosedur Pengumpulan Data…………………………………….....65

    F. Analisa Data …………………………………………………….....67

    G. Pengecekan Keabsahan Temuan…………………………………...71

    H. Tahap-tahap penelitian……………………………………………..72

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................74

         I. Hasil-hasil Penelitian …………….………………………….............74

                         Focus Group Discussion ...……………………....105
         II. Pembahasan Data

     III .Pertimbangan Hasil Penelitian………………………………………112

            1. Proses Konseling Logoterapi pada Warga Binaan LP Anak Blitar..112




                                                  x
          2. Pengaruh Konseling Logoterapi terhadap Peningkatan Makna Hidup

              ……………………………………………………………………..115

                 a.Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Pertama………………115

                 b. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Kedua……………….119

                 c. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Ketiga……………….121

              d. Pertimbangan Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Penelitian..

                   ………………………………………………………………...124

BAB V PENUTUP....................................................................................127

          I. Kesimpulan……………………………………………………….127

         II. Kekurangan Penelitian…………….……………………………..127

        III. Saran …………………………………………………………….128

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….......129

LAMPIRAN……………………………………………………………..131




                                                    xi
                        DAFTAR TABEL

No
Halaman
1. Tabel 1. Asumsi tentang manusia……………………………………15

2. Tabel 2. Asumsi tentang metode…………………………………......16

3. Tabel 3. Hasil awal Tes PIL …………………………………………75

4. Tabel 4. Hasil akhir Tes PIL………………………………………....76

5. Tabel 5. Aspek pengenalan diri subjek 1…………………………….76

6. Tabel 6. Keunikan diri subjek 1………………………………………77

7. Tabel 7. Aspek niali hidup subjek 1…………………………………..78

8. Tabel 8. Analisa nilai diri subjek 1……………………………………79

9. Tabel 9. Aspek peranan diri subjek 1…………………………………80

10.Tabel 10.Aspek penyesuaian diri subjek 1……………………………82

11.Tabel 11.Aspek penghargaan diri subjek 1……………………………83

12.Tabel 12.Hasil tes awal subjek 2………………………………………85

13.Tabel 13.Hasil tes akhir subjek 2………………………………………86

14.Tabel 14. Aspek pengenalan diri subjek 2……………………………..86

15.Tabel 15. Aspek keunikan diri subjek 2………………………………..87

16.Tabel 16. Aspek nilai hidup subjek ke 2……………………………….88

17.Tabel 17. Aspek analisa nilai subjek 2…………………………………89

18.Tabel 18.Aspek peranan diri subjek 2………………………………….91

19.Tabel 19.Aspek penyesuaian diri subjek 2…………………………….93

20.Tabel 20Penghargaan terhadap diri subjek 2…………………………...94

21. Tabel 21. Hasil PIL Test awal…………………………………………..96

22. Tabel 22. Hasil PIL Test Akhir…………………………………………97




                              xii
23. Tabel 23. Pengenalan diri subjek 3……………………………………..98

25. Tabel 25. Keunikan diri sebagai manusia subjek 3…………………….99

26. Tabel 26. Aspek nilai-nilai hidup subjek 3……………………………..99

27. Tabel 27. Analisa nilai hidup subjek 3…………………………………100

28. Tabel 28. Peranan diri subjek 3………………………………………...102

29. Tabel 29.Penyesuaian diri terhadap orang lain subjek 3……………….103

30. Tabel 30. Penghargaan terhadap diri subjek 3………………………….104

31. Tabel 31. Aspek makna hidup………………………………………….106

32. Tabel 32. Aspek kepuasan hidup……………………………………….107

33. Tabel 33. Aspek Tujuan hidup…………………………………………108

34. Tabel 34. Aspek tanggung jawab……...……………………………….109

35. Tabel 35. Aspek sikap terhadap kematian……………………………...109

36. Tabel 36. Aspek sikap terhadap pekerjaan ……….……………………110

37. Tabel 37. Aspek sikap terhadap kebebasan ……….………………….. 111




                                 xiii
                    DAFTAR LAMPIRAN

No
Halaman
1. Langkah- langkah dalam penelitian…………………………………131

                      …………………………………………………133
2. Purpose in Life Test

3. Surat Keterangan Penelitian…………………………………………136

4. Data Konseling Subjek 1…………………………………………….137

5. Data konseling Subjek 2……………………………………………..156

6. Data Konseling Subjek 3…………………………………………….174

                             ……………………………………….188
7. Data Focus Group Discussion




                            xiv
                                  ABSTRAK

Kartini, Niniek. 2008. Konseling Logoterapi untuk Meningkatkan Makna Hidup
pada Warga Binaan LP Anak Blitar, Skripsi , Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Malang.
Pembimbing : Yulia Solichatun S.Psi, M.Si.
Kata kunci : Konseling Logoterapi, Makna Hidup

         Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif terhadap proses
konseling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses konseling
pada warga binaan LP Anak Blitar dan pengaruhnya terhadap peningkatan makna
hidup pada warga binaan LP Anak Blitar.
         Warga binaan LP Anak Blitar dipilih sebagai subjek penelitian karena
mereka berada dalam situasi yang kondisi yang menimbulkan kekosongan makna
hidup atau makna hidup yang negative. Penjara merupakan tempat yang
membosankan dan membuat penghuninya sulit memaknai kehidupannya dengan
positif.
         Konseling Logoterapi merupakan konseling yang bersifat jangka pendek
dan memusatkan diri pada perubahan sikap klien agar dapat memaknai hidupnya
secara positif. Konseling ini bukan berorientasi pada masa lalu , tetapi berorientasi
pada masa depan (future oriented) karena makna hidup harus ditemukan dan
hidup yang bermakna harus benar-benar secara sadar dan sengaja dijadikan
tujuan, diraih dan diperjuangkan (Bastaman:77,2007).
 Makna hidup adalah cara pandang seseorang terhadap diri, kehidupan dan
hubungan antara dirinya dan orang lain. Makna hidup seseorang sangat
dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianut seorang manusia, pola berpikirnya
dalam memandang diri sebagai manusia, sikapnya dalam memandang pengalaman
hidupnya, tujuan-tujuan hidupnya dan kesadarannya akan peran dirinya sebagai
pribadi dalam membuat pilihan hidup dan bertanggung jawab terhadapnya.
         Penelitian dilaksanakan dalam empat tahapan tema konseling. Pengecekan
keabsahan data dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan        Focus
Group Discussion . kematian
Pengukuran peningkatan makna hidup dilakukan dengan menggunakanPurpose
in Life Test yang merupakan karya dari Crumbaugh dan Maholick .
         Analisa data dilakukan dengan metode analisa naratif, yaitu menafsirkan
pernyataan yang diberikan sebagai respon terhadap kalimat-kalimat konseling dari
peneliti yang dikodekan dan dihubungkan dengan aspek-aspek dalam teori
konseling Logoterapi yang mendasari penelitian ini.
         Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah :
    1. Terdapat kekosongan makna pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan
         Anak Blitar.
       2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling Logoterapi berhasil
           meningkatkan makna hidup pada warga binaan LPA Blitar yang menjadi
           subjek penelitian.




                                                                               i
                                   ABSTRACT

Kartini, Niniek. 2008. Logotherapy Counselling for Growing Up the Meaning of
Life at Adolescence that live at LP Anak Blitar, Script , Psychology Faculty
Islamic StateUniversity of Malang.
Advisor : Yulia Solichatun S.Psi, M.Si.
Key Words : Logotherapy Counselling , Meaning of Life

          This is qualitative deskriptif research at counselling process. The aim of
this research are to know how Logotherapy counseling process going on at
adolescence at LP Anak Blitar and the impact of it at adolescence meaning of life
that live at LP Anak Blitar.
          Adolescence that live at LP Anak Blitar are choosen as the subject of this
research because they live in situation and condition that cause negative meaning
of life. Prison is a place where life felt bored and this make the prisoner is difficult
to make positive meaning of life.
          Logotherapy counseling is short term and have focus at attitude
modification for the client can make positive meaning of his life. This Counsel
ling is not past oriented but future oriented, because meaning of life has to be
found and the meaningful life has to be a goal that must be reach as struggle in
life (Bastaman:77,2007).
  Meaning of life is a way of someone to see his self, life and relation
between his self and other people. Meaning of life of someone is very influenced
by the values system that he has, his pattern of thingking when he look at himself
as a human being,his attitude when he look at his experience of life, the goals of
his life.
          Research was doing divided into four step of topic. Validity of data was
checked Focus Group Discussion .Assessment is done by using Purpose in Life
Test that is made by Crumbaugh dan Maholick.
          Data analizing is done by narrative analyze methode by giving
interpretation at statement from subject as respon to question or statemen thar
given by researcher. This interpretation is related to the aspects in Logotherapy
teory.
          Summary of this research are :
1. There are existensial vacuum at adolescence prisoner at Lembaga
       Pemasyarakatan Anak Blitar.
2. Result of research show that Logotherapy counseling have successfully make
       the client‘s meaning of life up.
There are weakness at this research, that the researcher didn‘t include the aspect
of suicide and attitude about death. This weakness caused the faillness to making
up these aspect point at subject of research.
The research is limited by the time that is available from the prison‘s schedule
   that make the counseling process did not get maximal result.




                                                                                    ii
                                  BAB I

                            PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

      Kehidupan modern menimbulkan banyak masalah kekosongan makna di

dalam kehidupan manusia. Manusia sering terlena dengan kehidupan duniawinya,

dan tidak sempat merenungkan kebermaknaan dirinya ( Lukas,1985:15).

Kekosongan makna baru akan sangat terasa pada saat seseorang mengalami

serangkaian kejadian yang mengecewakan di dalam kehidupannya. Misalnya pada

remaja yang merasa gagal menjadi populer di antara teman sebayanya, remaja

yang putus cinta, orang yang menjelang pensiun, pasangan yang bercerai,orang

yang menderita sakit berkepanjangan, dan sebagainya.

      Makna hidup sangat diperlukan oleh manusia untuk menghadapi

kehidupannya dengan bersemangat. Seorang manusia yang menghayati makna

hidupnya akan dapat mengisi kehidupannya dengan penuh makna dan

mendapatkan kebahagiaan dari perjuangannya dalam memberi makna dalam

kehidupannya. Manusia yang hidupnya penuh makna akan selalu termotivasi

untuk memperjuangkan tujuan hidupnya. Mereka tidak akan mengalami

kekosongan atau kehampaan eksistensial yang bisa menimbulkan mental yang

tidak sehat. Orang-orang yang makna hidupnya tinggi akan mampu menetapkan

tujuan-tujuan hidupnya dengan jelas dan terencana, bahkan mereka mampu

menghadapi kegagalan dalam hidupnya dengan kembali menelaah dan mencari

makna hidup yang menyehatkan bagi dirinya.




                                                                          1
       Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar merupakan salah satu tempat di

mana dapat ditemukan remaja yang mengalami kasus kekosongan makna.

Berdasarkan hasil penelitian saat PKLI pada bulan Agustus 2007 oleh Niniek

Kartini mengenai Problem Eksistensial pada 10 orang Warga Binaan LPA Blitar ti

dengan menggunakan daftar pertanyaan yang disadur dari daftar pertanyaan

Viktor Frankl yang digunakan pada pasien di rumah sakit Wina (Koswara,1992)

mengenai cara mereka bersikap terhadap kehidupan, ternyata dari 10 subjek yang

menjawab daftar pertanyaan tadi terdapat 9 orang yang terbukti mengalami

frustasi eksistensial yang menimbulkan kekosongan makna kekosongan makna.

Artinya mereka merasa hampa karena berada di penjara dan tidak dapat memaknai

pengalaman hidupnya di penjara dengan positif.

       Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar pada bulan April 2008

sebanyak 160 orang dengan persentasi yang melakukan pencurian 70 % sedang

untuk kasus asusila sekitar 20 % dan kasus pembunuhan sekitar 10 %.

Penyebabnya yang utama adalah kurang kuatnya bekal nilai hidup positif yang

dimiliki. Mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar umumnya

berasal dari keluarga yang memiliki status social ekonomi rendah, beberapa ada

juga yang berasal dari status ekonomi menengah ke atas. Mereka tidak memiliki

modalitas yang cukup umtuk memilih tindakan yang positif dalam hidupnya

menurut konsep logoterapi disebabkan kurangnya nilai-nilai positif yang dijadikan

pegangan hidupnya (Lukas,1985). Nilai-nilai pedoman ini hidup ini mutlak

diperlukan agar seseorang dapat memaknai hidupnya dengan positif.




                                                                              2
       Selain itu sejak awal sebelum masuk Lembaga Pemasyarakatan atau

penjara mereka sudah mengalami kekosongan makna, dibuktikan denngan

perilaku salah yang menyebabkan mereka masuk ke penjara. Kehidupan di dalam

penjara yang rutin dan penuh keterbatasan menyebabkan penghuninya

mengalami kebosanan. Ketidakpastian akan masa depan setelah keluar dari

penjara semakin menambah kekosongan makna bagi penghuni penjara. Hal ini

menyebabkan mereka apatis dalam menghadapi masa depannya, tidak merasa

dirinya berarti dan merasa menjadi musuh masyarakat. Pada umumnya mereka

bingung atau menjawab tidak tahu bila ditanya tujuan dan makna hidupnya.

       Kekosongan makna ini terkadang menjadikan mereka berusaha

melupakannya dengan menyalahgunakan obat, suatu tindak pelanggaran yang

sering dilakukan oleh mereka di dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar.

Walaupun sanksi dari pihak Lembaga Pemasyarakatan Anak cukup berat, mereka

tidak jera. Hukumannya dapat berupa digunduli rambutnya, diberi hukuman fisik

atau bahkan dimasukkan ke dalam sel pengasingan.

       Penyuluhan tentang penyalahgunaan Narkoba juga sering diadakan, tetapi

manfaatnya terlihat tidak terlalu memuaskan. Aktivitas sehari-hari yang penuh

kemurungan terlihat dari pilihan lagu-lagu yang bersyair sedih, ketika mereka

diminta menyanyikan lagu. Suara tawa dan canda ria jarang terdengar,

pembicaraan mereka berkisar pada kebosanan, kerinduan akan kehidupan bebas

di luar penjara, kesedihan, atau saling mengejek antar teman. Pada kenyataannya

mereka sulit mengambil makna dari kehidupan yang mereka alami di penjara.




                                                                                3
          Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar seperti juga Lembaga

Pemasyarakatan Anak lain di Indonesia , bertujuan membina warganya agar

dapat kembali ke masyarakat dengan baik. Hal tersebut tercantum dalam tujuan

didirikannya Lembaga Pemasyarakatan Anak yang diketahui peneliti dari

informasi tertulis berjudul Sekilas tentan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar.

Tetapi seringkali terjadi, warga binaan yang telah bebas cenderung kembali

melakukan tidak pidana. Hal ini terbukti dengan beberapa warga binaan yang

merupakan residivis yang berulangkali masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Anak

Blitar.

          Fenomena di atas kemungkinan disebabkan tidak adanya kemampuan

memaknai hidup secara positif dalam perasaan dan jiwa mereka.Mereka putus asa

dalam mengubah diri menjadi orang baik karena merasa terjebak dan terhambat

oleh sikap masyarakat yang negative terhadap dirinya. Sikap apatisnya membuat

mereka mudah menyerah dalam perjuangannya menjadi orang yang dapat

diterima masyarakat.

          Kehidupan sehari-hari di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar dimulai

ketika kamar dibuka oleh petugas pada jam 06.00 WIB yang dilanjutkan dengan

apel pagi dan membersihkan diri. Kemudian warga binaan sarapan pagi mulai jam

07.00 WIB sampai sekitar pukul 08.00 WIB. Jam 08.00 – 10.00 WIB mereka

melakukan tugas harian pada pos yang sudah ditetapkan oleh bagian BINADIK

(Pembinaan dan Pendidikan) Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Setelah lewat

jam 10.00 WIB mereka beristirahat menunggu makan siang yang diselingi dengan

apel siang.




                                                                             4
       Sholat Dhuhur dilaksanakan secara berjamaah di masjid Lembaga

Pemasyarakatan Anak,dan diwajibkan bagi warga Setelah itu mereka menunggu

waktu makan sore pada pukul 16.00 WIB sambil bergerombol di pojok-pojok LP

di bloknya masing-masing, kadang main gitar dan bernyanyi atau mendengarkan

radio di kamar. Selepas apel sore mereka menunggu sampai pukul 22.00 malam,

waktunya mereka masuk kamar masing-masing dan pintu kamar dikunci oleh

petugas.

       Menurut penuturan penghuni Lembaga Pemasyarakatan, mereka bosan

dengan kegiatan mereka sehari-hari. Tetapi bila ditanya mengenai rencana mereka

setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan mereka kebanyakan           menyatakan

bingung, tidak tahu, belum memikirkan dan sebagainya. Mereka tidak punya

bayangan apa yang bisa mereka lakukan demi masa depannya. Sikap apatis

terlihat dari cara mereka menjawab yang tampak malas-malasan. Semangat

mereka tampak bila diberi imbalan materi, bisa berupa rokok, kue, atau benda-

benda lain. Tetapi bila tidak ada imbalan mereka cenderung menghindar bila

ditanya tentang pribadinya.

       Terdapat hambatan yang besar dalam mendapatkan cerita yang jujur

mengenai masa lalu mereka sebelum masuk Lembaga Pemasyarakatan atau

mengenai cerita kenapa mereka bisa masuk Lembaga Pemasyarakatan. Antara

cerita dan kenyataan dalam arsip petugas kadang berbeda jauh.

           Karakteristik warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar

kebanyakan adalah liar, susah diatur, agresif, sulit percaya pada orang lain,

berpikir pendek, kurang bisa berempati pada orang lain. Mereka sulit diajak




                                                                                5
berkomunikasi karena konsentrasi mereka mudah terpecah dan cepat bosan. Jika

melakukan komunikasi di antara mereka, yang terjadi adalah penggunaan bahasa

agrsif seperti saling mengejek, menyuruh teman dengan memaksa, dan

sebagainya. Mereka sering mengarang cerita-cerita bohong sekedar ingin

menunjukkan dirinya berarti ataupun sekedar untuk memamerkan dirinya. Salah

satu anak mengaku pernah mencoba bunuh diri karena merasa tidak berguna dan

bosan hidup.

       Walaupun demikian, namun peneliti mendapatkan bahwa sebenarnya

mereka memiliki kebutuhan yang besar untuk disayangi, dicintai dan dimengerti.

Sifat individualistic masih nampak pada mereka, mungkin dorongan hati yang

gelisah dan haus akan kasih sayang yang mendorong mereka dekat dengan

peneliti. Seperti juga yang dialami peserta PKLI yang lain, ada kecenderungan

mereka menginginkan hubungan yang khusus untuk mereka saja. Bila ada subjek

lain yang mendekat mereka meninggalkan kami atau terlihat tidak senang.

Beberapa di antaranya selalu mengajukan permintaan, tapi tidak semua dalam

bentuk benda. Ada yang hanya minta dibalas suratnya, minta dibuatkan puisi atau

sekedar ditemani mengobrol.

        Arah pembicaraan terkadang tidak jelas, berusaha mencurahkan isi hati

namun kesulitan berkata jujur. Peneliti harus mencari trik tertentu agar dapat

mengarahkan pembicaraan ke arah konseling. Mereka tidak serta merta menerima

maksud baik dari peneliti untuk memperbaiki perilaku, ada seorang subjek yang

menolak berbicara lagi dengan peneliti karena permintaannya berupa foto tidak

langsung dikabulkan oleh peneliti. Dari hasil observasi dan wawancara yang ada




                                                                                 6
terlihat bahwa kebanyakan berasal dari keluarga dengan status social ekonomi

yang rendah. Kondisi keluarga yang tidak harmonis, hubungan orang tua dan anak

yang tidak memadai, dan pendidikan yang gagal di sekolah.

       Penelitian mengenai problem eksistensial pada remaja pernah dilakukan di

Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Logoterapi, yaitu

dengan melakukan Bimbingan Logoterapi secara klasikal pada remaja awal.

Penelitian ini dilakukan oleh Cynthia Lynn Wimberly dengan judul    Impact of

Logotherapy on at Risk     African American Elementari Student     (Pengaruh

Logotherapi terhadap Pelajar Negro yang Berisiko) di Lousiana, USA selama

tahun 2006. Beliau mengambil sample pada 1500an anak kelas 5 dan 6 dari

beberapa sekolah dengan diberi perlakuan melalui gurunya dengan Bimbingan

Logoterapi. Para guru diberi modul Bimbingan Logoterapi untuk dimasukkan

dalam program pendidikan di kelas. Anak-anak negro yang dianggap berisiko

adalah mereka terancam drop out akibat dari prestasi akademik yang rendah dan

masalah dalam pergaulan dengan teman-temannya.

        Hasil penelitian yang diuji dengan Purpose In Life (PIL ) Test sebelum

perlakuan menunjukkan adanya kekosongan makna dalam diri mereka. Setelah

menjalani perlakuan terlihat peningkatan yang berarti dalam level hasil PIL test

yang diberikan lagi pada mereka setelah pemberian Logoterapi. Mereka juga

berperilaku lebih baik dalam belajar dan bergaul dengan teman-temannya di

sekolah.

       Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti merasa perlu melakukan

penelitian mengenai Konseling Logoterapi untuk Meningkatkan Makna Hidup




                                                                             7
pada Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Diharapkan penelitian

ini akan menghasilkan peningkatan makna hidup yang berarti bagi mereka

sebagaimana yang dialami pelajar negro di Lousiana tersebut. Hal ini diharapkan

akan membantu mereka untuk merubah kecenderungan perilaku yang buruk

menjadi baik, dan dapat membuat kehidupan yang bermakna di masa kini dan

mendatang.

       Penelitian lanjutan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar mengenai

problem eksistensial yang terdapat pada warga binaannya sangat penting untuk

dilakukan. Hal ini penting untuk memperoleh deskripsi yang jelas mengenai

manfaat konseling yang berfokus pada penemuan makna hidup (Konseling

Logoterapi). Apakah konseling Logoterapi dapat meningkatkan makna hidup

pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar?

       Konseling Logoterapi merupakan konseling yang membantu klien

memahami arti kehidupannya yang penuh derita dan mengambil makna yang

positif darinya. Mereka yang hidup di penjara tentu merasakan hidupnya sebagai

penderitaan. Konseling yang membantu mereka memaknai hidupnya di penjara

akan bisa membantunya menhadapi kehidupan di penjara dengan positif dan

bangkit dari masa lalunya yang kelam menuju masa depan yang bermakna postif

dengan menerima dirinya yang terlanjur salah dengan memaafkan diri, dan

bangkit dengan menggunakan potensi-potensi positif yang ada di dalam dirinya di

masa yang akan datang.




                                                                            8
B. RUMUSAN MASALAH

       Penelitian mengenai Konseling Logoterapi untuk Meningkatkan Makna

Hidup pada Warga Binaan LP Anak Blitar dilakukan dengan rumusan masalah

sebagai berikut:

      1. Bagaimana kebermaknaan hidup pada warga binaan Lembaga

          Pemasyarakatan anak Blitar?

      2. Bagaimana pengaruh Konseling Logoterapi terhadap peningkatan

          makna hidup bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar?



C. TUJUAN PENELITIAN

   1. Untuk Mengetahui kebermaknaan hidup pada warga binaan Lembaga

       Pemasyarakatan Anak Blitar.

   2. Untuk mengetahui pengaruh konseling Logoterapi terhadap peningkatan

       makna hidup pada pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak

       Blitar.



D. MANFAAT PENELITIAN

       Penelitian ini diharapkan memberi manfaat   berupa:

a. Secara praktik psikologis :

   1. Peneliti dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Konseling Logoterapi

       dan penerapannya pada remaja khususnya warga binaan LPA Blitar.




                                                                           9
   2. Bagi sesama psikolog dan akademisi psikolog dapat memberikan

        sumbangan bagi penegetahuan mengenai koseling Logoterapi pada

        narapidana remaja.

   3. Deskripsi yang didapat memudahkan bagi akademisi psikologi untuk

        melakukan penelitian lanjutan mengenai konseling Logoterapi pada

        narapidana remaja.

b. Secara praktis:

   1. Membantu Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar dalam membina

        warganya agar dapat kembali kepada masyarakat sebagai warga negara

        yang berguna.

   2.    Bagi para praktisi konseling pada remaja, dapat membantu memberikan

        sumbangan pengetahuan mengenai praktik konseling Logoterapi pada

        remaja khususnya yang mengalami masalah kriminal.




                                                                           10
                                   BAB II

                             KAJIAN PUSTAKA



A. PENDEKATAN EKSISTENSIAL

       Pendekatan eksistensial merupakan aliran psikologis yang memandang

manusia sebagai individu yang berpotensi baik. Pendekatan eksistensial

menekankan renungan-renungan filosofis mengenai apa artinya menjadi

manusia yang utuh. Tujuan dasar psikoterapinya adalah untuk membantu

individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan bersikap dan bertanggung

jawab terhadap tindakan-tindakannya. Terapi eksistensial terutama berpijak pada

premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan bersikap dan

bahwa kebebasan bersikap dan tanggung jawab itu saling berkaitan (Corey,

1988:58).

       Winkel (1997: 424) menuliskan bahwa konseling eksistensial berfokus

pada situasi kehidupan manusia di alam semesta , yang mencakup : kemampuan

kesadaran diri; kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya

sendiri; tanggung jawab pribadi; kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan

batin; usaha menemukan makna dari kehidupan manusia; keberadaan dalam

komunikasi dengan manusia lain; kematian; serta kecenderungan dasar untuk

mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.

       Terdapat berbagai variasi dalam pelaksanaan konseling eksistensial , yaitu

aliran Eropa dengan tokoh-tokoh seperti Paul Tillich, Martin Heidegger, Jean Paul

Sartje, Ludwigh Binswanger, Eugene Minkowski dan sebagainya yang penerapan




                                                                            11
konseling mendasarkan pada kebermaknaan diri pada pasien melalui perenungan

mendalam pada kehidupannya dengan mengungkap pengalaman kehidupannya

dan menganalisis orientasi masa depannya. Rollo May menyatakan manusialah

yang memberi makna bagi dunianya. Rollo May memiliki corak berfikir Eropa

dalam filsafat eksistensialnya (dalam Abidin,2003:67). Untuk corak berfikir Eropa

memberi kebebasan memberi makna pada manusia itu sendiri.

       Yang berikutnya yaitu aliran Amerika dengan tokoh-tokoh seperti Victor

E Frankl, Andrian Von Krom dan sebagainya. Aliran Amerika ini lebih bersifat

terstruktur dalam teknik terapinya. Salah satunya yang memiliki teknik yang jelas

adalah Logoterapi dari Victor E Frankl yang digunakan secara luas di Amerika

dan Eropa. Khusus untuk Victor Frankl, ia berpendapat bahwa makna hidup itu

sudah tersedia dalam dunia manusia, manusialah yang harus berjuang untuk

mewujudkannya (Abidin, 2003:83).

       Analisis eksistensial berbeda dengan analisis psikologi lainnya yang

memandang perilaku manusia merupakan hasil pengaruh biologis atau lingkungan

, aliran inimemandang manusia tidak tergantung pada kendali dari luar dirinya,

tetapi bergantung pada kesadaran dirinya sendiri. Kesadaran yaitu keadaan

waspada terhadap sensasi-sensasi, pikiran-pikiran dan perasaan yang dialami pada

suatu saat tertentu. Kesadaran adalah pengertian subjektif manusia terhadap

lingkungan sekitarnya dan sekaligus terhadap dunia di dalam dirinya, yang tidak

terlihat oleh orang lain selain dirinya sendiri.

          Kesadaran pada dasarnya adalah intensional dan dunia manusia pada

dasarnya merupakan hasil penciptaan (pemaknaan) manusia dan ia hidup dalam




                                                                               12
dunia yang telah diciptakan atau dimaknakannya itu. Hasil analisis atas eksistensi

manusia ini dipaparkan oleh Abidin ( 2003:10) sebagai berikut:

   1. Eksistensi manusia adalah suatu proses yang dinamis, suatu ―menjadi‖

       atau ―mengada‖. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri , yakni

       ― eksistere”, yang artinya ―keluar dari‖ atau ―mengatasi‖ dirinya sendiri.

       Jadi eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti melainkan lentur dan

       mengalami perkembangan atau kemunduran tergantung pada kemampuan

       individu dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya.

   2. Eksistensi adalah pemberian makna. Hal ini sesuai dengan hakekat

       kesadaran manusia itu sendiri sebagai intensionalitas, yang selau mengarah

       ke luardirinya dan melampaui dirinya (transendensi). Manusia tidak

       bersifat imanen (terkurung dalam dirinya sendiri) melainkan      tansenden

       (keluar atau melampaui dirinya sendiri). Realitas yang semula objektif

       lalu diberi makna subjektif sesuai dengan kebutuhannya sehingga realitas

       yang semula liar dan tak terkendai menjadi dunia yang bisa dijinakkan

       dan dikendalikan.

   3. Eksistensi adalah ada dalam dunia (inder-welt-Sein). Manusia tidak hidup

       sendiri dan berada dalam diri sendiri, melainkan berada dalam dunianya.

       Tidak mungkinmanuisa dipisahkan dari dunianya dan sebaliknya tidak

       mungkin dunia dilepaskan dari manusia yang mengkonstitusikanna

       (menciptakan atau memaknakannya). Dunia dalam arti ini terus

       berkembang dan bersifat subjektif, karena berpusatkan pada manusia dan

       bersesuaian dengan keadaan subjektif manusia , sedemikian rupa sehingga




                                                                               13
   setiap kontak manusia dengan sesuatu di luar dirinya (realitas luar) selalu

   ditandai dengan subjektifitasnya.

4. Manusia hidup dalam dunia yang lebih kompleks dari makhluk hidup

                                                 (umwelt), kedua dalam
   lainnya. Pertama dalam dunia kebutuhan biologis

   dunia perhubungan antara manusia (mitwelt) dan ketiga dalam dunia

   kesadaran diri ( Eigenwelt).    Dunia kesadaran diri adalah pusat dari

   prespektif saya dan pusat dari perhubungan saya dengan benda-benda

   atau orang lain. Tanpa kesadaran itu manusia kehilangan orientasi dan

   dengan demikian kehilangan eksistensinya.

5. Eksistensi adalah milik pribadi. Tidak ada dua individu yang identik.

   Tidak ada pula pengalaman yang identik. Oleh sebab itu eksisttensi adalah

   pribadi yang keberadaannya tidak tergantikan oleh siapapun, inilah yang

   menandakan individualitas manusia. Manusia pertama-tama adalah

   individu baru kemudian masyarakat.

6. Eksistensi mendahului esensi. Kalimat ini dinyatakan oleh Sartre. Ini

   berarti bahwa nasib, takdir manusia, struktur hidup manusia dan juga

   konsepsi tentang manusia adalah dipilih dan ditentukan sendiri oleh

   manusia. Bahwa saya (manusia) bereksistensi adalah produk dari

   kebebasan saya. Adalah eksistensi (keberadaan saya) yang mendahului

   esensi saya (menjadi filsuf atau psikolog).

7. Eksistensi adalah otentik atau tidak otentik. Menurut Heidegger (1962)

   dan juga Sarctre (1966) eksistensi sebagian besar manusia tidak otentik.

   Manusia lupa akan dirinya , dikuasai oleh kekuatan massa atau oleh




                                                                            14
       pesona benda, mengabaikan hati nurani gampang terpengaruh oleh iklan

       yang menggoda, dan seterusnya. Padahal manusia bisa memilih dan

       bertindak secara otentik: sadar diri, bertindak atas kekuatan sendiri,

       bersedia mendengarkan hati nurani sendiri. Eksistensi yang otentik adalah

       eksistensi manusia yang sejati , yakni yang setiap perilakunya berasal dari

       hati nurani dan pilihan bebasnya sendiri.

       Dari uraian di atas dapat dlihat bahwa dasar filosofis bagi Psikologi

Eksistensial sangatlah berbeda dengan aliran Psikologi Behavioral maupun

Psikoanalisa. Beberapa asumsi yang membandingkan antara analisis psikologi

yang menggunakan aliran eksistensial dengan aliran behaviorisme dan

psikoanalisis sebagaimana yang ditulis Abidin (2002:23) adalah sebagai berikut.

                      Tabel 1. Asumsi tentang Manusia

                  HAKEKAT        PUSAT                   TABIAT            POSISI
                  MANUSIA        KENDALI/DORONGAN        MANUSIA           MANUSIA
                                 PERILAKU                                  DALAM
                                                                           DUNIA
BEHAVIORISMEOrganisme                  Eksternal             Netral           Tidak Bebas
                 atau materi           (Stimulus)        (Tabula Rasa)      (Deterministik)
PSIKOANALISISOrganismeEksternal                               Jahat           Tidak Bebas
                                           (Id)           (Naluri Jahat)    (Deterministik)
ANALISIS          Tubuh yang            Internal              Baik               Bebas
EKSISTENSIAL      berkesadaran      (Intensionalitas)      (Suara Hati)    (Indeterministik)



       Adanya perbedaan dalam memandang manusia berdasarkan ketiga aliran

psikologi tadi menimbulkan perbedaan dalam asumsi tentang metode yang

digunakan dalam konselingnya. Perbedaan tadi meliputi hukum yang dipakai,

kedudukan teori, sikap peneliti dalam dalam berhubungan dengan subjek

penelitiannya, serta kedudukan subjek dalam penelitian. Abidin (2002:25)

menjelaskan dalam gambaran di bawah ini.




                                                                                  15
                       Tabel 2. Asumsi tentang Metode

                    HUKUMKEDUDUKAN                    SIKAP           KEDUDUKAN
                                TEORI                PENELITI           SUBJEK
                                                                        KAJIAN
BEHAVIORISMEKausalitasSebagai asumsiBerjarak                             Objek
                                                       (Netral)
PSIKOANALISISKausalitasSebagai asumsiBerjarak                           Objek
                                                        (Netral)
  ANALISIS         IntensionalitasReduksi               Terlibat        Subjek
EKSISTENSIAL                        Fenomenologis   (Interpersonal)



       Berdasarkan keterangan dan gambar di atas dapat dimengerti perbedaan

yang jelas tampak dari ketiga aliran Psikologi yang berkembang sekarang ini.

Aliran Eksistensial merupakan aliran satu-satunya yang menempatkan manuisa

sebagai individu yang bebas menentukan pilihan bagi dirinya dengan kekuatan

intensi yang ada dari kekuatan kesadarannya.

B. Logoterapi

       Salah satu ahli psikologi eksistensial adalah Viktor Frankl yang terkenal

dengan Logoterapinya. Viktor Frankl adalah seorang psikiater dari Austria yang

merupakan pelopor bagi aliran ketiga dalam Psikologi yaitu Psikologi

Eksistensial. Beliau mulai menemukan dan membuat pendekatan eksistensial

berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri ketika menjadi tawanan di Kamp

Konsentrasi Nazi Jerman di Austwich. Dalam kehidupan yang penuh penderitaan

di dalam Kamp Nazi tersebut, Viktor Frankl menemukan adanya individu yang

mampu bertahan hidup dengan rasa semangat yang tetap tinggi walaupun hampir

kebanyakan tawanan lain sudah putus asa dan bahkan mencoba bunuh diri

(Koswara:40,1992). Hal ini merupakan keadaan yang sangat mengesankan bagi

Frankl dan menjadi dasar awal bagi teorinya.




                                                                                 16
         Semua analisis eksistensial menyepakati bahwa kesadaran pada dasarnya

adalah intensional dan dunia manusia pada dasarnya merupakan hasil penciptaan

(pemaknaan) manusia dan ia hidup dalam dunia yang telah ―diciptakan‖ atau

dimaknakannya (Abidin,2002). Frankl dalam menerangkan keberadaan makna

memiliki konsep yang lebih jelas. Berdasarkan pengalaman hidupnya di kamp

konsentrasi Jerman ia menegaskan bahwa makna berada di luar manusia.

Manusia harus mengejar dan menemukan makna. Makna menurutnya, berada

dalam dunia dan dunia berada di luar manusia. Manusia harus mengejar dan

menemukan makna. Kepentingan akan makna inilah yang membuat

                                                                  noos menjadi
intensionalitas kesadaran perlu dibangkitkan pada diri manusia agar

kuat dan sehat menghadapi segala masalah dalam kehidupan.

         Viktor Frankl kemudian menemukan bahwa ketahanan hidup dalam

penderitaan didukung oleh kebermaknaan diri individu yang mengalaminya. Cara

seseorang memaknai hidup dan bukan kehidupan seperti apa yang sedang dijalani

yang membuat seseorang mampu menjalani hidupnya dengan baik. Kebahagiaan

diperoleh dalam perjuangan yang dilakukan untuk memenuhi makna hidupnya.

         Konsep Logoterapi dalam Lukas (1985) berdasarkan pada satu aksioma

dan enam premis yang menjelaskan dinamika kepribadian menurut Logoterapi

yaitu:

a. Aksioma Teori Logoterapi

         Manusia memiliki dimensi yang hanya khusus dimiliki manusia yaitu

spirit. Spirit pada manusia memiliki sifat yang khusus hanya dimiliki manusia. Ini

disebut juga sebagai “dimensi noetic”,   berasal dari kata“noos” dalam bahasa




                                                                              17
Yunani yang berarti mind atau pikiran rohani di mana kata ini hanya dikhususkan

bagi karakter manusia saja.

b. Premis Teori Logoterapi

1. Manusia terdiri dari tiga dimensi yaitu fisik, psikis, dan spirit.

2. Masing-masing dari ketiga dimensi bergantung pada keadaan tertentu yang

    berbeda-beda.

    Fisik - tergantung pada suatu keadaan tertentu yang bersifat total dan hampir

    tidak bisa dimanipulasi.

    Psikis – tergantung pada keadaan tertentu yang fleksibel dan sangat mudah

    dimanipulasi.

    Spirit (hanya dimiliki manusia)– terdapat keberadaan yang memberikan

    kemungkinan membuat pilihan-pilihan bebas membuat sikap menghadapi

    keadaan tertentu.

3. Ketiga dimensi manusia membentuk unit yang tidak terpisahkan di mana satu

    sama lain saling berpengaruh.

4. Tidak ada dari ketiga dimensi tersebut yang dapat diabaikan dalam proses

    psikoterapi.

5. Mekanisme umpan balik yang bekerja secara berbeda pada masing-masing

    dimensi tersebut.

    Dimensi biologi – mekanisme umpan baliknya merupakan proses otomatis

    melalui sistem syaraf yang otomatis.

    Dimensi psikis – mekanisme umpan baliknya menggunakan proses

    reinforcemen yang menuntun pada perubahan dalam berperilaku.




                                                                              18
   Dimensi Spirit – berubah dalam self understanding (pengertian akan diri

   sendiri) dan menuntun pada suatu interpretasi baru mengenai diri sendiri.

6. Untuk masing-masing dari ketiga dimensi tersebut, prinsip          homeostatis

   (keadaan kesetimbangannya) memiliki validitas yang berbeda. Fisik selalu

   valid, psikis hampir selalu valid setiap waktu, tetapi spirit tidak valid.

       Menurut Frankl homeostatis dimensi spirit bukan merupakan keadaan

yang diinginkan tetapi lebih pada suatu tanda peringatan dari frustasi eksistensial

(Lukas:24,1985). Ketika orang mengalami keharusan untuk berubah, berkreasi,

untuk menyelesaikan suatu proyek, untuk mengalami, atau setidaknya

menghadapi dengan berani nasib yang tidak dapat diubahnya, kebutuhan kita

untuk hidup menjadi dipertanyakan.

       Frankl menyatakan dinamisme noos yang sehat (healthy noodynamism)

adalah suatu kesadaran antara seperti apa kita sekarang dan pandangan kita untuk

menjadi bagaimana. Noetic yang sehat berdiri dalam membuat kesetimbangan

antara diri kita dan dunia ini. Keseimbangan sangat penting bagi segala bentuk

kehidupan, tetapi bagi manusia tidak pernah terasa cukup.

       Viktor Frankl berusaha membuat teknik terapi yang berbeda dari

pendekatan behavioris maupun psikoanalisa disebabkan oleh adanya kenyataan

terdapatnya    masalah psikologis pada manusia yang bersumber dari Frustasi

Eksistensial yang dialami manusia. Manusia mengalami rasa ketidak amanan

dalam hidupnya. Setiap hal tersasa negative dan penuh pertanyaan. Mereka

mencari-cari tujuan untuk diperjuangkan, sebuah ide untuk percaya, suatu tugas

untuk dipenuhi, karena mereka mendapatkan dirinya dalam           kekosongan yang




                                                                                19
mendalam yang menurut istilah Frankl disebut ―kekosongan eksistensial‖. Jika

pencarian arti ini terjebak dalam keadaan yang permanent dan tak ada

perkembangan lagi, maka keadaan seperti neurotic yang serius, depresi dapat

terjadi (Lukas: 50,1985).



C. Kepribadian Model Logoterapi

       Manusia menurut Viktor Frankl terbagi dalam 3 komponen yang tidak

terpisahkan yaitu fisik atau biologis, psikologis dan ruhani (spiritual / noos).

Ketiga komponen tadi saling berkaitan, bila seseorang mengalami sakit maka

setiap komponen tadi memainkan perannya masing-masing dengan

mekanismenya sendiri-sendiri. Satu-satunya komponen yang membedakan

manusia dari makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan adalah spirit.

       Landasan teori kepribadian logoterapi bercorak eksistensial-humanistik.

Artinya logoterapi mengakui manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan

berkehendak, sadar diri, dan mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya

sesuai dengan julukan kehormatan bagi manusia sebagai the self determining

being (makhluk yang bebas menentukan pilihannya sendiri). Selain itu manusia

memiliki kualitas-kualitas insani   (human qualities ), yakni berbagai potensi ,

kemampuan , bakat, dan sifat yang tidak terdapat pada makhluk-makhluk lain,

seperti kesadaran diri, transendensi diri, memahami dan mengembangkan diri,

kebebasan memilih, kemampuan menilai diri sendiri dan orang lain, spiritualitas

dan religiusitas, humor dan tertawa, etika dan rasa estetika, nilai dan makna, dan

sebagainya. Kualitas insani yang hanya dimiliki manusia. Semuanya secara




                                                                                   20
potensial terpatri dalam dirinya sejak awal kehidupan sebagai potensi dan

kualitas-kualitas yang khas manusia.

       Logoterapi-sesuai dengan makna logos berarti spiritualitas (kerohanian)

dan meaning (makna)-mengakui adanya dimensi kerohanian di samping dimensi

                                                                     (the
ragawi dan kejiwaan serta meyakini bahwa kehendak untuk hidup bermakna

will to meaning) merupakan motivasi utama setiap manusia. Dalam hal ini makna

hidup (the meaning of life)   adalah tema sentral logoterapi dan hidup yang

bermakna (the meaningfull life) adalah motivasi,tujuan, dan dambaan yang harus

diraih oleh setiap orang. Teori kepribadian ini bukan berorientasi pada masa lalu ,

tetapi berorientasi pada masa depan(future oriented) karena makna hidup harus

ditemukan dan hidup yang bermakna harus benar-benar secara sadar dan sengaja

dijadikan tujuan, diraih dan diperjuangkan (Bastaman:77,2007).

       Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam

pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak terjadi begitu saja tetapi merupakan

akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk

hidup bermakna. Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup

yang bermakna(meaningful life) dan ganjaran(reward) dari hidup yang bermakna

                 (happiness).
adalah kebahagiaan

       Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya

                                                      ,
menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningless) hampa, gersang,

merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tidak berarti, bosan, dan

apatis. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan

minat, sedangkan apatis merupakan ketidakmampuan untuk mengambil prakarsa.




                                                                              21
Penghayatan tanpa makna menjelma dalam berbagai upaya kompensasi dan

kehendak yang berlebihan untuk berkuasa(the will to power), bersenang-senang

                                                                   (the
mencari kenikmatan (the will to pleasure) termasuk kenikmatan seksual will

to sex), bekerja (the will to work)   dan mengumpulkan uang (the will to money)

dalam Bastaman (2007: 80).

       Kebanyakan penghuni lembaga pemasyarakatan mengalami kehidupan

tanpa penghayatan makna. Bila hal ini dibiarkan maka mereka justru gagal

mendapatkan pelajaran dari masa hukumannya di penjara. Keluar dari penjara

akan mengakibatkan dendam terhadap sistem hukum yang memicu untuk

melakukan perbuatan melanggar hukum lagi. Kemampuan untuk memberi makna

sangat lemah diakibatkan sistem nilai positif yang dihayati kurang atau tidak ada

sama sekali. Hal ini menyebabkan dorongan emosi dan hawa nafsu sangat

mendominasi perilaku mereka.



D. Dorongan Kepribadian yang Sehat

       Orang-orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti

bagi kehidupan. Orang-orang ini terus-menerus berhadapan dengan tantangan

untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Dan perjuangan yang terus-

menerus ini menghasilkan kehidupan yang penuh semangat dan gembira.

       Orang-orang yang tidak sehat – tidak berusaha mencari – menyebabkan

suatu kekosongan eksistensial dan menimbulkan perasaan bosan, masa bodoh dan

tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai arti, tidak ada alasan untuk

meneruskan kehidupan.Menurut studi yang dilakukan oleh Batista dan Almond




                                                                              22
yang dilakukan untuk menindaklanjuti teori Viktor Frankl, terdapat bukti

individu yang memiliki rasa harga diri yang tinggi diprakirakan    memiliki

perasaan hidup bermakna yang tinggi pula. Dengan kata lain, untuk memperoleh

perasaan hidup bermakna , individu harus terlebih dahulu mengembangkan

perasaan bahwa dirinya pantas dan memiliki identitas (Koswara:168,1992).



E. KONSELING LOGOTERAPI

1. Dasar Konseling Logoterapi

       Konseling merupakan proses belajar yang berlangsung dalam suatu

hubungan antara konselor dan konseli, di mana konseli ditolong untuk mengatasi

aneka tantangan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas perkembangannya

dengan cara memahami diri nya dan hubungannya dengan orang lain, serta

mengembangkan bentuk-bentuk perilaku atau kebiasaan yang akan meningkatkan

perkembangan pribadinya (Shertzer & Stone,1981). Konseling bersifat kuratif

remedial, yaitu memperbaiki apa yang sudah terjadi untuk menjadi lebih baik

(Rogacion,1996:5).

       Konseling Logoterapi merupakan konseling individual untuk masalah

ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan

hilangnya gairah hidup. HD Bastaman menjabarkannya dalam sebuah makalah

pelatihan, karakteristik konseling Logoterapi adalah jangka pendek (short term),

berorientasi masa depan (future oreinted), dan berorientasi pada makna hidup

(meaning oriented). Karakteristik ini memungkinkan perubahan sikap yang relatif

lebih cepat pada klien daripada jenis konseling lain.




                                                                              23
       Dalam proses penemuan makna hidup konselor bertindak sebagai rekan-

yang-berperan-serta(the participating partner) yang sedikit demi sedikit menarik

keterlibatannya bila klien telah mulai menyadari dan menemukan makna

hidupnya. Konselor memandang klien sebagai subjek yang sama-sama mulia

sebagai manusia. Untuk itu relasi konselor dengan klien harus mengembangkan

encounter yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan

keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai , memahami dan

menerima sepenuhnya satu sama lain.

        Fungsi konselor mambantu membuka cakrawala pandangan klien

terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial memungkin

ditemukannya makna hidup, yakni: bekerja dan berkarya         (creative values),

                                              (experential values) sikap yang
menghayati cinta kasih, keindahan dan kebenaran                  ,

                                                    (attitudinal values) ,serta
tepat dalam mengahadapi musibah yang tidak terelakkan

memiliki harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik di masa datang

(hopeful values).   Logoterapi merupakan terapi yang bersifat afektif yang

melakukan modifikasi terhadap sikap.

        Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa apa yang terjadi pada sikap

seorang manusia terhadap kehidupan pada akhirnya akan mempengaruhi individu

tersebut dalam melakukan pilihan-pilihan perilaku. Kebebasan bersikap adalah

satu-satunya kebebasan yang hanya dimiliki oleh manusia. Ini adalah keputusan

yang diambil oleh noos (ruhani) seorang manusia. Hal ini melibatkan kemampuan

individu memandang diri secara transpersonal. Konseling Logoterapi

membimbing konseli agar mampu melakukan pemberian makna bagi




                                                                             24
kehidupannya dengan mandiri. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan tiga

aspek dalam kehidupan yaitu kreasi, pengalaman dan penderitaan dalam hidup.

2. Tiga cara memberi arti bagi kehidupan

       Dalam Logoterapi manusia menentukan sikapnya dalam memberi arti

dengan berpegangan pada nilai-nilai hidup yang dimilikinya. Nilai-nilai yang

dijadikan pegangan hidupnya inilah yang menentukan bagaimana manusia

memberi arti kepada hidupnya. Manusia memberi arti pada hidupnya dengan cara

berikut:

       1. Apa yang manusia berikan bagi dunia berkenaan dengan ciptaan/kreasi

       2. Apa yang manusia ambil dari dunia dalam pengalaman

       3. Sikap yang manusia ambil terhadap penderitaan

 Hal tersebut di atas bisa dilakukan dengan menggunakan system nilai yang ada

pada konseli. Tiga sistem nilai yang mendasar yang berhubungan dengan tiga

cara memberi arti bagi kehidupan adalah nilai-nilai daya cipta (kreatif),nilai-nilai

pengalaman, dan nilai-nilai sikap.

       Nilai-nilai daya cipta    diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan

produktif misalnya melalui perbuatan yang membawa hasil atau ide atau

denganmelayani orang-orang lain yang merupakan ungkapan individu.

       Nilai-nilai pengalaman misalnya diungkapkan dengan menyerahkan diri

sendiri kepada keindahan dalam dunia alam atau seni. Terjadi pada saat seseorang

pecinta musik terhanyut dalam suatu bentuk keindahan yang murni. Satu momen

puncak dari dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang

dengan arti. Faktor yang menentukan bukan berapa banyak puncak yang kita

alami tetapi intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki.



                                                                                25
       Nilai-nilai sikap berperan dalam kondisi-kondisi negative seperti sakit,

kekecewaan, kematian atau situasi seperti yang dialami Frankl di Auschwitz.

Keadaan di mana tidak ada keindahan atau tidak ada kesempatan mengungkapkan

daya cipta. Situasi dan kondisi yang tidak dapat diubah atau dihindari – nasib.

Satu-satunya cara yang rasional adalah menerimanya.

       Cara bagaimana kita menerima nasib kita, keberanian kita dalam menahan

penderitaan, keagungan yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan bencana

merupakan ujian dan ukuran terakhir dari pemenuhan kita sebagai manusia.

Sistem nilai yang sehat adalah sistem nilai yang membawa harapan dalam hidup

dan menimbulkan sikap positif bagi individu dalam memaknai hidupnya. Sistem

nilai ini sudah tersedia dalam dunia manusia, tentunya sistem nilai yang paling

baik adalah sistem nilai agama yang terstruktur dengan baik. Logoterapi

membebaskan individu untuk memakai sistem nilainya masing-masing selama itu

positif dan tidak melemahkan unsur kebebasan manusia terhadap keputusan-

keputusan hidup yang positif.

        Kehidupan manusia meskipun dalam keadaan-keadaan gawat dapat

bercirikan arti dan maksud. Kehidupan manusia dapat mengandung arti sampai

momen kehidupan yang terakhir. Selama individu sadar akan kewajiban untuk

menyadari nilai-nilai yang merupakan tanggung jawabnya dalam

mewujudkannya, maka dia akan menemukan makna hidupnya. Kebermaknaan

hidup yang positif mendatangkan kesehatan mental yang baik.




                                                                              26
3. Masalah Psikologis Menurut Logoterapi

            Salah satu masalah psikologis yang ditimbulkan oleh kekosongan

eksistensial yaitu neurosis kolektif. Neurosis kolektif merupakan salah satu akibat

atau manifestasi dari Frustasi Eksistensial. Dalam keadaan ini individu sulit

menemukan kebermaknaan dirinya yang ditandai oleh gejala sebagai berikut:

a.Sikap masa bodoh terhadap hidup.

 Mencampakkan gagasan mengenai perencanaan masa depan ataupun

pengorganisasian hidup ke arah tujuan hidup yang pasti . Manusia masa kini

hidup secara sementara (provisional) dari hari satu ke hari berikutnya, tidak

mengetahui secara persis apa yang hilang dari dirinya dan tidak menyadari apa

yang sudah terjadi. Bagi yang sehat mental , kehidupan yang penuh derita dan

ketidakpastian merupakan tes pengukuhan bagi keberadaan mereka. Hal ini

disebabkan bagi mereka penderitaan tidak berlangsung selamanya, tetapi

merupakan proses menuju masa depan yang ingin mereka tuju.

b.Sikap fatalistic terhadap hidup

       Menganggap masa depan sebagai sesuatu yang mustahil dan menganggap

rencana masa depan sebagai sesuatu yang sia-sia. Mereka melihat diri sebagai

korban (mainan) dari berbagai mekanisme psikis atau sekedar sebagai produk

                                                      „homunkulisme‟.
lingkungan ekonomis. Nihilisme ini disebut Frankl sebagai

       Renungan tentang hal-hal yang sifatnya spiritual atau agama diremehkan

oleh manusia kontemporer dengan bantuan psikoanalisis yang disalahtafsirkan

yang mereduksi manusia hanya sebagai mesin yang dikuasai oleh dorongan




                                                                                27
bawah sadarnya. Perilaku manusia merupakan hasil dari pengaruh lingkungannya

atau reinforcemen yang membentuknya.

c. Pemikiran konformis dan kolektivis

       Melaksanakan hasrat untuk sedapat mungkin tidak menarik perhatian

atau sama rata dengan orang lain, melebur diri ke dalam massa. Keadaan massa

berbeda dengan komunitas. Di dalam komunitas, kepribadian para warganya

yang unik dibutuhkan demi terciptanya suatu komunitas yang sungguh-sungguh

dan para warga membutuhkan komunitas sebagai lingkup aktivitas (Koswara,

1992). Hal tertulis di atas dapat diartikan bahwa seorang individu harus memiliki

kemandirian dalam mengambil keputusan dalam setiap perilaku hidupnya agar dia

bisa berperilaku sehat.

       Pemikiran konformis dan kolektivis di dalam massa menghancurkan

kepribadian dan menekan kebebasan individu-individu dan sehingga kemudian

berakibat individu-individu itu mengingkari kepribadiannya sendiri. Keunikan

keberadaan atau individualitas bisa menjadi factor yang merusak bagi massa,

tetapi bagi komunitas merupakan hubungan yang indah saling melengkapi

sehingga tercipta kebersamaan yang harmonis. Terdapat perbedaan mendasar

antara situasi dan kondisi yang mendasari suatu komunitas dengan situasi dan

kondisis yang mendasari suatu massa.

        Massa menekan keunikan , nilai dan martabat manusia serta hanya

memperhitungkan apa yang bisa digunakan dari manusia itu. Bila seorang

individu bertindak sebagai sekedar bagian dari massa, maka dia kehilangan

kualitasnya yang paling intrinsic : tanggung jawab. Bila seorang individu selalu




                                                                              28
mengikuti kemauan massa tanpa memikirkan hati nuraninya sendiri inilah yang

menyebabkan tindakan yang tidak bertanggung jawab atas nama massa. Misalnya

yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia berupa pengeroyokan pada pelaku

kejahatan yang berakibat kematian pada pelaku kejahatan itu. Oleh karenanya

setiap individu sudah seharusnya bertindak berdasarkan tanggung jawab

pribadinya dalam suatu komunitas yang sehat.

d. Fanatisme

      Fanatisme merupakan suatu sikap berlebihan dalam mengingkari

kepribadian individu. Tidak ada orang yang mengatasi mereka dan tidak ada

pendapat yang benar kecuali pendapat mereka. Kenyataannya mereka berpegang

pada pendapat yang mencerminkan opini public atau penguasa, berlebihan

pengagungan pendapat seseorang di dalam atau di luar dirinya.

      Menurut Frankl konflik moral atau konflik hati nurani bisa mengarahkan

kepada neurosis eksistensial. Sepanjang manusia sanggup mengalami konflik hati

nurani, maka dia akan kebal terhadap fanatisme serta neurosis   kolektif pada

umumnya. Sebaliknya , seseorang yang menderita neurosis kolektif akan mampu

pulih dari neurosisnya jika dia mau mendengar hati nuraninya sendiri(Koswara:

1992:72). Kemampuan mendengar hati nurani dan mengaktualisasikannya inilah

yang dibangkitkan dalam konseling Logoterapi.



4. Tahapan Konseling Logoterapi

      Konseling ini berangkat menuju arah yang telah pasti, tidak

menitikberatkan hanya pada penyesuaian tetapi lebih menuju pada tanggung




                                                                            29
jawab. Ini memperlihatkan bahwa manusia tidak diatur oleh dorongan nafsu

tetapi menuju pada pemberian makna. Logophilosophis membantu memperkuat

keyakinan individu bahwa ia dapat membebaskan diri dari paham reduksionis

yang memandang manusia hanya sebagai korban dari lingkungan atau hanya

sebagai suatu makhluk yang seperti mesin dikendalikan nafsu. Orang yang

berpikir secara logoterapi , mereka adalah manusia yang sadar akan tugas-

tugas,nilai-nilai, tujuan-tujuan dan tanggung jawab (Fabri, 1980). Untuk

menuntun ke arah sikap yang didasari cara berpikir logoterapi dilakukan terapi.

       Empat tahap terapi yang perlu diperhatikan dalam konseling Logoterapi:

 a. Menolong pasien memisahkan diri dari gejala

     Mereka dapat melihat dirinya bukanlah korban tanpa daya dari system

     biologis, psikologis maupun nasib sosiologis, tidak harus menyerah pada

     keadaannya dan dapat berdiri tegak dalam keadaan seburuk apapun (Fabri,

     1980). Seorang manusia bukanlah korban dari keadaan yang ada,

     kemampuan mereka untuk meyakini bahwa mereka mampu merubah diri

     seberat apapun keadaan yang berlangsung sangatlah penting di sini. Mereka

     diajak untuk menilai segala kemungkinan keadaan yang dapat terjadi bila

     mereka memutuskan pilihan secara berani dan bebas.

 b. Memodifikasi sikap

     Pasien memiliki pilihan dalam bersikap.Jika suatu pilihan sikap gagal dia

     bisa memilih sikap lain dan mengambil jalan yang baru bagi tujuan

     hidupnya (Fabri, 1980).

 c. Mengurangi gejala




                                                                             30
     Pasien mengalami semacam umpan balik positif dari sikapnya yang baru

     sehingga mereka dapat membuka diri menuju pemaknaan (Fabri, 1980).

     Hal ini adalah hasil dari sikapnya yang berubah menghadapi gejala.

 d. Prophylaxis

     Prophylaxis adalah mengamankan kesehatan mental pasien di masa depan

     di mana pasien dibimbing menuju pemaknaan. Semua arti potensial dalam

     hidupnya dan situasi khususnya didiskusikan, diperkaya, dan dikembangkan.

     Hirarki nilai diklarifikasi sehingga mereka dapat terlindung dari frustasi

     eksistensial di masa depan. Mereka dipimpin muntuk memikul tanggung

     terhadap dirinya sendiri (Fabri, 1980).

       Di dalam proses terapi yang dilaksanakan di atas disertakan bimbingan

rohani di dalamnya. Bimbingan rohani merupakan metode yang secara eksklusif

diarahkan pada unsur rohani atau roh, dengan sasaran penemuan makna oleh

individu atau pasien melalui nilai-nilai terakhir yang bisa ditemuinya yaitu nilai-

nilai bersikap. Hal ini disesuaikan dengan keyakinan agama yang telah ada pada

klien. Roh manusia akan tetap sehat selama dia sadar akan tanggung jawabnya

(Frankl, 1968). Tanggung jawab terakhir tentunya kepada Tuhannya.

       Tanggung jawab yang dimaksud berupa tanggung jawab merealisasikan

nilai-nilai termasuk nilai bersikap(misalnya bagaimana menghadapi penderitaan

dengan cara yang positif) seperti tertulis dalam Bastaman( 2007: 25). Pada

seorang muslim misalnya diwujudkan dengan sabar dan tawakal.




                                                                                  31
F. Makna Hidup Menurut Al Quran

       Agama memiliki system nilai yang cukup kuat dijadikan sebagai pegangan

dalam bersikap dan memaknai hidup. Agama Islam dengan nilai-nilai moralnya

sangat menolong bagi pemeluknya yang taat dalam menjalani kehidupan yang

bermakna. Orang-orang yang taat beragama biasanya juga merupakan merupakan

pribadi-pribadi yang tangguh dalam menjalani kehidupan yang penuh liku-liku.

Nilai-nilai seperti sabar, tawakal, istiqomah bila dihayati dan diamalkan akan

menghasilkan hidup yang bermakna. Hidup di dalam tuntunan Allah merupakan

kehidupan yang penuh makna bagi orang mukmin.

       Logoterapi membimbing individu untuk memilih nilai-nilai yang ingin

diwujudkan pada kehidupannya dengan persyaratan nilai-nilai tersebut membawa

kekuatan pada pemaknaan yang positif dan optimistik. Salah satunya adalah nilai-

nilai agama. Semua agama menyediakan sistem nilai yang positif bagi manusia.

Nilai-nilai dalam agama Islam merupakan salah satu sistem nilai yang memenuhi

syarat tersebut. Oleh karenanya nilai-nilai dalam agama Islam dapat digunakan

dalam pemberian konseling Logoterapi.

       Makna hidup seorang manusia sesungguhnya sudah ditetapkan oleh Allah

sebagai Pencipta dan Pemilik seluruh alam semesta ini. Oleh karena sepantasnya

manusia melaksanakan ketetapan Allah dalam kehidupannya. Dialah yang tahu

apa saja yang menjadi kebutuhan manusia dan memberi petunjuk bagi manusia di

dalam kiat suci Al Qur,an. Dalam ayat-ayat berikut terungkap makna hidup

manusia, yaitu sebagai khalifah yang memiliki potensi-potensi yang melebihi

ciptaan Allah lainnya. Salah satunya kemampuan manusia dalam memberi makna




                                                                                 32
pada setiap hal yang ada dalam kehidupannya, seperti dalam surat Al Baqarah

ayat 30 sampai 34, Allah mengajarkan kepada manusia kemampuan memberi

nama-nama pada setiap hal di dunia ini, termasuk pada kemampuan kognitif

manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.




Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka
berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."




Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-
orang yang benar!"




Artinya : Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"




                                                                           33
Artinya : Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama
benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu,
Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan?"




Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah
kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

       Dalam Al-Qur‘an surat Al Israa‘ ayat 62 allah berfirman :




Artinya : Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang
Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh
kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan
keturunannya, kecuali sebahagian kecil."


       Kemampuan manusia yang berkaitan dengan nama-nama yang diajarkan

kepada Nabi Adam adalah       menurut Imam Nawawi dalam Tafsir Marooh Labiid

nama-nama setiap apa yang telah diciptakan oleh Allah dari jenis-jenis kejadian.

Imam Nawawi juga mengatakan bahwa ayat ini mengandung arti menciptakan

dalam hati Nabi Adam ilmu pengetahuan dengan nama-nama sebagai jalan

permulaan (Sudirman, 1995). Inilah yang membuat kedudukan manusia lebih

mulia dari makhluk ciptaan Allah lainnya, termasuk dari malaikat dan iblis. Hal

ini sangat sesuai dengan titik awal asumsi filsafat eksistensial yang menyatakan

manusia itu pada dasarnya adalah baik, dan mampu menjadi baik.




                                                                              34
       Konsep logoterapi yang berkaitan dengan sikap manusia untuk dapat

memberi arti yang positif dalam menghadapi penderitaan juga terdapat dalam ayat

berikut ini. Berita gembira dalam ayat ini juga dapat diartikan sebagai

kebahagiaan yang didapatkan oleh orang-orang yang dapat melalui deritanya

dengan tetap optimis (jiwa yang tetap sehat).


       Dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah berfirman :




Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

       Selain memilki kemampuan memberi makna bagi kehidupannya, manusia

juga sudah dibekali jiwa yang berkesadaran (hati nurani) manusia untuk

menyuarakan kebenaran yang sudah menjadi fitrah setiap manusia. Dalam

Logoterapi noetic yang sehat adalah noetic yang mempunyai kesadaran yang

mendominasi dalam perilaku manusia, memiliki kemampuan mengendalikan

bagian manusia yang lain seperti fisik dan psikologis. Dalam Islam berarti dapat

mengendalikan hawa nafsunya.


       Dalam surat Ar Ruum ayat 30 Allah berfirman :




Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.



                                                                              35
Di dalam surat Al A‘raaf ayat 172 Allah berfirman :




Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

       Konsep tanggung jawab terhadap pilihan hidup yang diambil manusia

terdapat dalam Al Qur‘an surat Al Israa‘ ayat 36 berikut ini.




Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya

Tanggung jawab yang dikenakan pada manusia juga tertera dalam firman Allah

Surat Al insaan ayat 36 yaitu:




Artinya : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggung jawaban)?


       Allah juga menyatakan bahwa manusia akan mampu mengendalikan diri




                                                                          36
dan memiliki kontrol penuh terhadap perilakunya selama manusia tetap

mendengarkan suara hatinya walaupun iblis menggodanya, hal ini karena

keputusan manusia dalam berperilaku sesungguhnya tergantung pada pilihan

manusia itu sendiri. Kemampuan manusia untuk memiliki kontorl penuh akan

dirinya ini difirmankan Allah dalam surat Al Israa‘ ayat 65 yang berbunyi :




Artinya : Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas
mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga."

       Selain itu manusia juga dibekali dengan kemampuan dan potensi yang

sempurna sehingga mampu mengatasi masalah-masalah dalam kehidupannya.

sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mu‘minun ayat 78 yang berbunyi :




Artinya : Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran,
penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur

       Manusia membutuhkan nilai-nilai dalam kehidupannya. Bukan berarti

manusia bisa seenaknya sendiri, karena manusia ditakdirkan menjadi makhluk

yang harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di dunia ini. Hal ini

sudah menjadi ketetapan Allah. Di manapun di dunia ini manusia selalu membuat

hkum untuk kebutuhan mereka. Tentunya nilai-nilai terbaik adalah yang berdasar

pada nilai-nilai yang diturunkan Allah untuk manusia, hal ini terdapat dalam Al

Qur‘an surat Shaad ayat 26 berikut ini :




                                                                              37
Artinya : Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di
muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat
azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Di dalam Al Qur‘an surat Al Jaatsiyah ayat 23 juga difirmankan Allah bahwa

manusia yang tidak menjadikan petunjuk Allah sebagai nilai-nilai yang diamalkan

dalam kehidupannya sebagai orang yang sesat. Dalam hal ini menurut Logoterapi

adalah orang yang mengalami kekosongan makna.




Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah
telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

       Manusia yang mengalami kekosongan makna dalam Al Qur‘an salah satu

penyebabnya karena menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Ketiadaan

petunjuk merupakan kekosongan makna karena tidak berfungsinya hati nurani

sebagai pertimbangan utama dalam berperilaku. Surat Al Jaatsiyah ayat 23 di atas

memperlihatkan kondisi tersebut, demikian juga dengan ayat Al Qur‘an berikut ini

di surat Muhammad ayat 14 memperlihatkan kebingungan yang melanda manusia



                                                                             38
dalam kehidupannya bila individu tersebut tidak memiliki pegangan dalam

hidupnya. Dalam Islam pegangan hidup berupa nilai-nilai yang diturunkan Allah

melalui Al Qur‘an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW beserta contoh

perilaku nya bisa mencegah kekosongan makna dalam hidup manusia.




Artinya : Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari
Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik
perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?

       Tujuan hidup manusia sesungguhnya dalam Islam bukanlah sesuatu yang

bisa ditawar-tawar lagi. Tujuannya adalah untuk beribadah kepada Allah, tujuan

hidup ini disertai tanggung jawab yang akan dituntut Allah di akhirat nanti.

Walaupun demikian dalam perjalanan hidup manusia selalu dihadapkan pada

pilihan-pilihan hidup sehingga hasil dari keputusan pemilihan perilaku ini yang

merupakan tanggung jawab manusia. Hal ini disebabkan manusia tidak punya

alasan untuk menghindar dari tanggung jawab karena manusia punya kemampuan

sebagai makhluk yang sempurna dan paling baik diciptakan Allah dengan segala

potensinya bisa membedakan yang baik untuk dirinya atau yang buruk dengan

mendengarkan hati nuraninya. Di dalam surat Adz Dzaariyat ayat 56 firman Allah

menjelaskan hal tersebut.




Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.




                                                                               39
       Dalam surat Al Munaafiquun ayat 3 juga difirmankan Allah bahwa

kembalinya manusia atau tujuan akhirnya adalah kembali kepada Allah.




Artinya : Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu
dan dibaguskanNya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu).

Dalam Al Qur‘an surat Al Qiyaamah ayat 36 Allah berfirman bahwa manusia

diminta pertanggung jawabannya.




Artinya : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggung jawaban)?

Dalam surat At-Taubah Tiin ayat 4 Allah berfirman mengenai kesempurnaan

manusia :




Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.

       Dalam Al Qur‘an surat Asy Syam ayat 7 – 8 Allah berfirman mengenai

kemuliaan manusia dan kebebasannya memilih tindakan apakah sesat atau lurus.

Hal ini sesuai sekali dengan kosep Logoterapi yang menkankan manusia untuk

memilih tindakan yang positif berdasarkan nilai-nilai positif atau dengan kata lain

nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang memuliakan manusia.




                                                                               40
7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
    dan ketakwaannya.
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.




       Berdasarkan semua ayat di atas menurut Sayyid Qutb dalam tafsir Fii

Zhilalil Qur‘an maka bisa dibuat suatu dasar mengenai ke manusia dan makna

hidupnya yaitu sebagai berikut:

   1. Manusia mempunyai derajat yang mulia berkaitan dengan kedudukannya

       sebagai khalifah di bumi ini.

   2. Manusia memiliki kelengkapan fisik, mental psikis dan spiritual yang

       mampu digunakan untuk memberi makna pada hidupnya.

   3. Dimensi spiritual (ruhani) manusia memungkinkan manusia mengadakan

       hubungan dan mengenal Tuhan melalui cara-cara yang diajrkanNya.

   4. Manusia memiliki kebebasan berkehendak        (freedom of will)   yang

       memungkinkan manusia untuk secara sadar mengarahkan dirinya ke arah

       keluhuran atau ke arah kesesatan




                                                                             41
   5. Manusia memiliki akal sebagai kemampuan khusus dan dengan akalnya

      itu dapat mengembangkan ilmu dan teknologi untuk memenuhi

      kebutuhannya.

   6. Manusia tidak dibiarkan hidup tanpa bimbingan dan petunjuk dari Allah

      yang menciptakannya sebagai wujud kasih sayang Allah kepada manusia.

   7. Tujuan hidup manusia yang sesungguhnya adalah untuk beribadah kepada

      Penciptanya.

Semua yang tertulis di atas sebenarnya sudah diakui oleh manusia, tetapi dalam

kenyataannya manusia seringkali mendustakannya. Terkadang melupakan semua

hal di atas dan menenggelamkan diri dalam memenuhi tuntutan hawa nafsunya

yang tidak pernah terpuaskan.

      Hanna Djumhana Bastaman (1993) juga mengungkapkan hal yang serupa

seperti di atas yang menurut beliau sudah merupakan fitrah dari manusia. Manusia

yang tidak berlaku sesuai dengan fitrahnya akan mengalami kekosongan hidup

sebagaimana yang dirumuskan oleh Victor Frankl dalam Logoterapinya.

      Sesungguhnya terlepas darimana sebuah teknik psikologi berasal, selama

hal tersebut bersesuaian dengan prinsip-prinsip Islam maka dapat digunakan

dengan memasukkan nilai-nilai Islami ke dalamnya. Karena sesungguhnya

kebenaran itu asalnya dari Allah yang menciptakan dan memiliki alam semesta ini

beserta manusia di dalamnya.



G . Metode Logoterapi




                                                                              42
       Dalam Logoterapi menggunakan beberapa metode yang digunakan untuk

membangkitkan kesadaran konseli terhadap eksistensi dirinya. Metode ini

dimasukkan di dalam tahapan terapi yang dilaksanakan di dalam konseling.

Konseling Logoterapi yang melibatkan diri dengan konseli tanpa memandangnya

sebagai objek, menghargai dan melatih konseli agar belajar memutuskan pilihan

hidup dengan bertanggung jawab. Metode tersebut adalah:

a. Socratic Dialogue

       Socratic Dialogue atau diskusi penemuan diri, membuat pasien mampu

bersentuhan dengan ketidaksadaran ruhaninya dan menjadi sadar pada evaluasi

yang jujur terhadap dirinya dan potensi-potensinya, tujuan-tujuan yang

disukainya, dan makna terdalam dalam hidupnya.

       Terapis akan menolak alasan-alasan mengenai situasi tanpa daya walau

fakta yang ada memang penuh dengan keluhan. Logoterapis menghadapkan

pasien pada tantangan untuk membuat pilihan-pilihan,menerima tanggung jawab

dan komitmen, dan mengambil langkah - bahkan sekecil apapun – dalam arah

baru menjauhi masalah. Terdapat perdebatan antara terapis dan pasien yang akan

mereda bila pasien berhasil mendapatkan kemandiriannya (Fabri, 1980 ; Lukas,

1985; dan Dryden, 2002). Pada tahap ini konseli melepaskan topengnya akan

penilaian yang membela diri untuk keadaannya.

b . Paradoxical Intention

       Membuat pasien melihat dirinya dari luar sebagai objek sehingga mampu

melawan, menertawakan diri sendiri, hal ini muncul dari kekuatan ketuhanan pada

                                                                           ,
jiwa manusia juga dari perasaan humor kita. Misalnya padaobsessive kompulsiv




                                                                           43
diminta mengharapkan terjadinya perilaku      obsessivedan menertawakannya

sebagai suatu kelucuan. Ini juga menuntun pasien untuk jujur terhadap dirinya

sendiri. Bahwa perilakunya tadi adalah sesuatu yang tidak seharusnya

dipertahankan, bukan menyerah pada keinginan melakukannya tapi melawannya.

c. Dereflection

       Memindahkan perhatian dari terpusat pada diri sendiri menjadi ke orang

lain (partner) sehingga terhindar dari     hyperintention dan hyperreflection.

Dereflection memunculkan kapasitas manusia untuk mencapai transendesi diri

(terhadap manusia lain atau terhadap pemberian makna). Digunakan misalnya

pada kesulitan tidur, masalah disfungsi sexual.

d. Pembukaan topeng

Penghentian bertopeng diri akan menghentikan dengan segera perlawanan

terhadap ketulusan, dan keaslian (ikhlas) pada manusia. Sehingga keinginannya

pada hidup yang penuh nilai akan menjadi mungkin. Jika penopengan tetap

dilakukan sama saja dengan mengkhianati aspirasi ruhaninya terhadap orang lain

(Fabri,1980). Pembukaan topeng ini membuat seseorang berani menunjukkan

kemandiriannya dalam bersikap.




                                                                            44
H. PERKEMBANGAN REMAJA

       Kekosongan makna berkaitan erat dengan perkembangan moral yang

terjadi pada masa remaja, hal ini juga berkaitan dengan self understanding yang

dimiliki remaja berkaitan dengan fisik dan kepribadiannya yang unik dan mampu

menghadapi masalah dengan sebagai manusia yang eksis dalam dunianya.

       Remaja merupakan sosok individu yang penuh dengan perubahan dalam

tugas perkembangannya. Subjek penelitian yang merupakan remaja yang dibina di

Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar juga mengalami hal yang sama dengan

remaja lainnya. Untuk memahami bagaimana mereka menghadapi kehidupannya

dan juga bagaimana mereka menjadi anak yang bermasalah, perlu bagi peneliti

untuk memasukkan kajian pustaka yang berkaitan dengan psikologi

perkembangan pada remaja.

       Beberapa hal yang dialami    remaja dalam tahap perkembangannya

berkaitan dengan hal-hal yang menyebabkan seorang remaja mengalami kesulitan

dalam menemukan makna hidupnya . Karena perkembangan kedewasaan tidak

sama kecepatannya dengan perkembangan fisiknya. Sedangkan kemampuan

manusia menemukan makna hidupnya berkaitan erat dengan kematangan

psikologisnya.

1. Perkembangan Remaja Dalam Self-Understanding




                                                                            45
       William Damon dan Daniel Hart (1982,1988) menyimpulkan bahwa

terdapat serangkaian tahapan yang kompleks dan berurutan dalam self-

understanding. Aspek pertama adalah bagaimana seseorang memisahkan dirinya

sebagai individu yang berbeda dari orang lain. Bagaimana mereka memandang

dirinya sendiri. Di sini remaja yang memandang dirinya sebagai pribadi yang

positif sudah tentu memiliki penghargaan diri terhadap diri yang positif.

       Aspek objektif dan subjektif dalam cara mereka memandang dirinya

tergantung pada kognisinya terhadap dirinya. Misalnya membedakan diri

berdasarkan fisik lebih mudah bagi mereka dibandingkan membedakan

kepribadiannya dengan orang lain (Scrimptel, 2000). Remaja yang memiliki fisik

yang ideal memiliki kepercayaan diri yang baik, namun bila remaja memiliki nilai

yang positif dengan menerima dirinya apa adanya dan mensyukuri keadaannya,

walaupun fisiknya tidak ideal remaja yang demikian kan mampu menghargai

dirinya secara subjektif dengan sikap yang positif.

       Self understanding merupakan unsur dalam kesadaran intrapersonal yang

harus dioptimalkan. Semakin baik seorang remaja dalam        self understanding ,

maka kemampuannya dalam mengendalikan konflik dalam dirinya otomatis akan

semakin baik. Semakin baik remaja memberi makna bagi dirinya maka semakin

baik pula makna hidupnya.

2. Perkembangan Remaja dan Hubungan Keluarga

       Orang tua dan remaja menghabiskan waktu bersama lebih sedikit daripada

saat mereka kanak-kanak. Banyak remaja menjadikan ayah mereka sebagai

sumber informasi dan mempercayai mereka sebagai sumber informasi yang lebih

baik daripada ibu mereka yang dahulunya sangat erat dengan mereka. Ayah




                                                                              46
merupakan tempat bertukar pikiran secara rasional. Sedang ibu merupakan tempat

mereka mencurahkan permasalahan pribadi yang berkaitan dengan persoalan

pribadi yang melibatkan perasaan.

       Interaksi yang terjalin antara orang tua dan remaja lebih banyak

menampilkan sisi asertif , bahkan terkadang ketidak setujuan di antara mereka

(Scrimptel, 2000). Dalam hal ini terjadi perkembangan moral yang menggunakan

proses identifikasi oleh anak kepada orang tuanya. Munculnya sisi asertif ini

menunjukkan tumbuhnya kemandirian remaja terhadap identitas dirinya.

       Sisi ketidak setujuan yang muncul pada remaja ini seringkali tidak mampu

disikapi dengan tepat oleh orang tua dan memperburuk hubungan orang tua

dengan anak remajanya. Konflik ini bila tidak terselesaikan dengan baik

membawa akibat yang buruk bagi remaja yang kemudian mencari pengakuan

dengan teman sebayanya yang sama-sama beresiko mengambil cara yang salah

dalam berperilaku.

       Kemampuan remaja untuk meraih otonomi dan kendali atas perilakunya

dicapai melalui reaksi-reaksi orang dewasa yang tepat terhadap keinginan remaja

untuk memperoleh kendali (Santrock, 1995:41). Pada permulaan masa remaja

umumnya individu tidak memiliki pengetahuan untuk mengambil keputusan-

keputusan yang tepat dan dewasa dalam semua bidang kehidupan. Ketika remaja

menuntut otonomi , orang dewasa yang bijaksana melepaskan kendali di bidang-

bidang di mana remaja dapat mengambil keputusan-keputusan yang masuk akal

tetapi tetap terus membimbingnya pada bidang-bidang di mana pengetahuan

remaja terbatas.




                                                                                47
       Attachment yang kokoh dengan orang tua pada masa remaja membantu

kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja seperti dalam ciri-ciri harga

diri, penyesuaian emosional dan kesehatan fisik ( Allen, dkk, 1994; Kobak dkk,

1993 dalam Santrock, 1995: 43). Berdasarkan hal tersebut di atas dapatlah

dimengerti kurangnya perhatian orang tua terhadap anak remajanya membawa

masalah dalam penghargaan diri remaja terhadap dirinya. Pada akhirnya hal ini

membuat remaja memaknai diri secara negatif.

3. Kegiatan Remaja dengan Teman Sebaya

       Kelompok teman sebaya sesungguhnya merupakan wadah bagi remaja

untuk mematangkan identitas diri dalam perjalanannya menjadi individu yang

dewasa. Scrimptel (2000) menyatakan remaja-remaja pria membuat kelompok-

kelompok bukan hanya karena keperluan mereka untuk mendapatkan rasa aman

dalam banyaknya bilangan teman. Hal ini lebih disebabkan banyak dari

kepentingan remaja yang tidak dapat diungkapkan kecuali melalui kegiatan

berkelompok.

       Konformitas dengan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja

dapat bersifat positif maupun negatif (Camarena, 1991 dalam Santrock, 1995 : 44)

umumnya remaja terlibat dalam semua bentuk konformitas yang negatif seperti

mencuri, berkata jorok, merusak dan mengolok-olok orang tua dan guru. Tapi

banyak pula konformitas yang bersifat positif seperti kegiatan-kegiatan prososial

pada klub-klub sosial (Santrock,1995:46). Pada masa remaja mereka lebih

mengikuti standar-standar teman sebaya daripada pada masa anak-anak.

       Salah satunya adalah penyaluran perasaan yang berkaitan dengan agresi.

Maka pertandingan olahraga membekali remaja dengan jalan yang diterima oleh




                                                                             48
masyarakat, dapat mengurangi rasa agresi, sebagaimana terjadi pada anak-anak di

umur sekolah dasar. Namun demikian remaja dapat terdorong dengan sepenuh

hati dan jiwanya dalam kegiatan, bahkan mungkin olahraga bagi mereka menjadi

lebih penting daripada sekedar permainan (Scimptel, 2000).

       Semangat berlebihan yang diungkapkan sebagian besar disebabkan oleh

dorongan jasmani di samping dorongan emosi lainnya yang telah sampai pada

puncaknya, misalnya rasa cemas terhadap gadis-gadis menimbulkan perasaan

terhalang yang amat sangat yang kemudian menimbulkan rasa agresi. Demikian

pula persaingan remaja dengan orang-orang yang lebih kuat daripada mereka,

merangsang timbulnya rasa agresi terhadap mereka (Scrimptel, 2000).

       Pada remaja kebutuhan akan pengakuan yang didapatkan dari kelompok

teman sebaya sangat besar atau konformitas dapat menjerumuskan mereka ke

dalam perilaku yang salah. Hal demikian terjadi bila kesadaran untuk mandiri

dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab pada perilakunya tidak atau

belum dimiliki karena lemahnya penanaman nilai-nilai positif dari orang tua yang

kurang perhatian..

4. Perselisihan Keluarga

       Perselisihan sering terjadi antara anak dengan keluarganya, khususnya

dengan orang tuanya. Hal ini merupakan cara lain yang digunakan remaja untuk

menyalurkan perasaan agresi terhadap orang dewasa dengan melanggar norma-

norma yang dibuat untuk melindungi mereka(Scrimptel, 2000).

        Remaja harus melalui berbagai pengalaman dengan belajar bahwa aturan-

aturan dan ketentuan-ketentuan yang menggusarkan yang diharuskan oleh

peraturan social dalam pengawasan orang dewasa. Bahaya dan larangan itu akan




                                                                               49
berkurang daya tariknya bila ia belajar dan mengetahui bahwa orang dewasa juga

tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang mereka tantang dan langgar itu

(Scrimptel, 2000).

       Sebab-sebab perselisihan khusus pada tiap kasus tergantung kepada cara

hidup dalam keluarga dan kepribadian remaja, umumnya disebabkan oleh

pertentangan antara keinginan remaja untuk bebas dalam mengambil keputusan

bagi dirinya dan berpegangnya orang tua akan haknya untuk mengendalikan

kelakuan anak-anaknya (Scrimptel, 2000).

       Kurangnya kebiasaan berkomunikasi yang dibina dengan baik dalam pola

asuh yang dilakukan orang tua kepada anaknya akan memperuncing perselihan

antara remaja dengan orang tuanya. Hal ini sangat sering terjadi pada keluarga

yang mengalami perceraian, berlatar pendidikan rendah serta sosial ekonomi

rendah. Juga dapat terjadi pada orang tua yang sibuk bekerja sehingga kurang

memperhatikan dan mengenal karakter anak-anaknya sendiri.

5. Masa Remaja dan Kecerdasan Moral

 Logoterapi mendasarkan eksistensi manusia pada perjuangan

mewujudkan nilai-nilai moral yang dianut oleh individu. Oleh sebab itu penting

untuk memperhatikan apa yang terjadi selama tahapan perkembangan moral yang

dilalui oleh seorang remaja.

       Sakdiah dalam makalahnya (Sakdiah,2005) menuliskan mengenai tahapan

perkembangan moral pada manusia. Moralitas berasal dari kata latin ‖moralis‖

yang artinya pola perilaku yang sesuai standar kelompok. Pada setiap tahap usia

individu selalu dinilai apakah perilakunya sesuai dengan standar kelompok

(bermoral) atau tidak sesuai (tidak bermoral).




                                                                             50
        Pembahasan tentang standar perkembangan moral berkisar pada proses

internalisasi suatu aturan, nilai-nilai, prinsip atau standar yang ada pada individu.

Moralitas berkembang sejak masa kanak-kanak sampai dewasa. Perkembangan

moralitas merupakan suatu proses yang panjang dan lama, serta bersifat gradual,

dalam arti perkembangannya tidak begitu saja terjadi, tetapi melalui tahap-tahap

tertentu (Sakdiah, 2005).

        Menurut Sakdiah (2005) proses perkembangan tingkah laku moral

melalui :

   1. Proses pengajaran langsung dengan pemberian pengertian tentang apa

       yang benar dan apa yang salah oleh orang tua atau tokoh-tokoh lain di luar

       dirinya. Anak diajarkan untuk mengenal dan mematuhi aturan-aturan yang

       diberikan oleh orang tua atau orang lain yang memiliki otoritas.

   2. Melalui identifikasi. Seorang anak mengidentifikasikan diri dengan

       seorang tokoh atau model (misalnya; orang tua), maka anak cenderung

       mencontoh pola-pola tingkah laku moral dari tokoh atau model tersebut,

       seringkali tanpa tekanan atau terjadi tanpa disadari. Anak akhirnya

       mengambil ingkah laku moral dari model dan menjadikan tingkah laku

       tersebut bagian dari dirinya sendiri.

   3. Melalui proses coba salah. Anak belajar mengembangkan tingkah laku

       dengan cara mencoba-coba suatu tingkah laku. Tingkah laku yang

       mendatangkan pujian dari lingkungannya akan dikembangkan oleh anak,

       sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuma atau cacian dari

       lingkungan, maka anak akan mencari dan mencoba tingkah laku lain




                                                                                 51
      yang sekiranya dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan mendapatkan

      bimbingan dan pengarahan serta sikap lingkungan yang konsisten

      terhadap tingkah laku anak yang patut mendapat pujian atau hukuman,

      diharapkan anak dapat makin mengembangkan tingkah laku moralnya

      (Sakdiah, 2005).

      Resiko terbesar dari pola penanaman moral terjadi bila anak berada dalam

lingkungan pergaulan yang menanamkan nilai-nilai yang negatif. Pergaulan dalam

kelompok teman sebaya yang buruk membuat anak terjebak dalam konflik nilai

yang bisa menimbulkan banyak masalah bagi dirinya bila orang tua tidak dapat

membimbingnya dengan baik melaui masa remajanya.

      Proses perkembangan moral melalui proses coba salah riskan terjadi pada

remaja yang lebih mementingkan pendapat teman sebayanya daripada nilai-nilai

yang diajarkan orang tuanya. Karena sesungguhnya remaja membutuhkan

perhatian orang tuanya agar tidak melakukan proses coba salah di kelompok

teman sebaya yang negatif.Anak yang menginjak masa remaja menuntut banyak

perhatian orang tua. Remaja tentu saja sudah sadar diri dan oleh karenanya

mudah mengundang perhatian kepada diri mereka sendiri walaupun seringkali

mengatakan tidak menginginkan perhatian semacam itu (Coles,1997).

       Sudah lazim bahwa keprihatinan orang tua terhadap kaum remaja

seringkali tidak disambut baik oleh mereka, dianggap ikut campur dan

mengakibatkan pembangkangan dari para pria dan wanita muda yang cemas dan

berniat meraih kebebasan yang makin besar. Pencarian kebebasan ini tentu saja




                                                                            52
didorong sekaligus dihambat dengan berbagai cara oleh para orang tua dan guru,

juga oleh masyarakat kita (Coles,1997).

       Menurut Coles (1997) pilihan-pilihan seperti itu mengatakan kepada

orang tua suatu pemberontakan, penegasan yang gigih, pengucilan dan kesepian,

kemurungan, kisah akrab masa remaja: kaum pria dan wanita muda yang mencoba

segala sesuatu, memeluk suatu sinisme terhadap orang tua, seringkali merasa

sendirian, sedikit istimewa dan tidak ketinggalan merasa marah. Pilihan-pilihan

seperti itu juga memiliki akibat-akibat moralnya , analogi-analogi moralnya.

        Andaikata pencapaian kebebasan itu      merupakan tugas dan tujuan masa

remaja yang menentukan, dan seandainya usaha mengejar kebebasan itu dapat

menimbulkan pengucilan yang lazimnya murung, sifat suka mengelompok, sikap

lain yang membangkang yang seringkali membingungkan orang tua

(Coles,1997: 67). Keadaan di mana orang tua tidak mampu memahami anak

remajanya membawa resiko yang besar pada pemilihan nilai-nilai yang akan

menjadi pedoman bagi remaja di masa depannya.

       Semua kesulitan dan kebingungan yang dialami orang tua tidak lain

disebabkan tahap perkembangan remaja yang mencapai krisis identitas dan

kemandirian. Krisis di mana remaja berusaha memiliki identitas sendiri dengan

nilai-nilai yang diyakininya. Keinginan mandiri dalam bersikap tanpa dibarengi

kematangan karena pengalaman dan pemahamannya akan tanggung jawab yang

masih kurang (Lukas, 1985: 27). Pengaruh dari teman sebaya yang sangat kuat

membuat remaja justru tidak mandiri dalam bersikap ketika dia beraktifitas di

dalam kelompok teman sebayanya.




                                                                                53
I. LOGOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN MAKNA HIDUP

       Manusia mengalami berbagai kejadian sepanjang perjalanan

kehidupannya. Terkadang mereka mengalami kekosongan makna pada saat-saat

tertentu dalam hidupnya. Hal ini bisa disebabkan oleh penderitaan hidup,

kekecewaan karena tidak berhasil mencapai keinginannya, nasib yang buruk dan

sebagainya. Individu yang demikian menurut Lukas (1985: 20) bisa dibedakan

dalam dua kelompok sebagai berikut:

1. Manusia Yang Berada Dalam Keraguan

       Kebanyakan manusia yang mengalami hal ini adalah orang muda, tetapi

ada juga yang sudah berusia tua mengalami ketidak amanan seperti yang dialami

remaja. Bagi manusia yang berada dalam keraguan segalanya terlihat negatif dan

penuh pertanyaan. Mereka dilanda kebingungan. Mereka sedang mencari tujuan

untuk diperjuangkan , suatu ide untuk dipercayai, suatu tugas untuk dipenuhi

karena mereka mendapati dirinya dalam suatu kekosongan makna yang

mencekam dalam dirinya yang disebut Frankl sebagai                 “eksistensial

vacum‖(Lukas,1985).

       Jika pencarian makna ini berhenti pada keadaan keraguan yang permanen

dan tidak ada peningkatan lebih baik, suatu keadaan yang serius berupa neurotik,

psikotik atau depresi bisa timbul karenanya (Lukas,1985). Hal ini karena

kesetimbangan ruhani goncang.

2. Manusia Dalam Keputusasaan




                                                                               54
       Orang-orang yang mengalami keputusasaan dalam hidupnya sebenarnya

pernah mengalami suatu keadaan hidup yang penuh makna, namun hal itu hilang

ditelan nasib atau sekarang menjadi mengecewakan. Ketahanan manusia dalam

menghadapi peristiwa dalam hidupnya tergantung pada penghayatannya terhadap

nilai hidupnya. Karena nilai hidup ini bisa membuatnya memandang peristiwa

secara positif atau sebaliknya.

       Stanislaw Kratochil (1968) membagi orang-orang yang memiliki

orientasi nilai menjadi 2 kelompok yaitu:

   1. Mereka yang telah mendapatkan perasaan aman dalam sistem nilai yang

       piramidal.

   2. Mereka yang telah mendapatkan perasaan aman dalam sistem nilai yang

       paralel.

Kratochil (Lukas: 1985) menyatakan orang-orang yang merasa aman dalam sistem

nilai paralel memiliki beberapa nilai yang kuat secara sejajar dalam hidupnya,

yang semuanya sangat berarti atau penuh makna bagi dirinya. Mereka memiliki

ketahanan ruhani yang baik. Ini berarti para terapis psikologis harus menolong

kliennya agar dapat membentuk struktur nilai piramidal yang dimilikinya menjadi

suatu sistem nilai paralel dan akan secara langsung menstabilkan kondisi klien

(Lukas,1985).

       Menurut Kratochil, orang-orang dengan sistem nilai piramidal berada

dalam kondisi kesehatan psikologis yang tidak stabil. Bila nilai yang berada pada

puncak struktur nilai piramidalnya gagal dipenuhi, mereka dengan segera mudah

mengalami “existensial vacum ‖. Orang-orang dengan sistem nilai paralel lebih




                                                                             55
baik atau lebih stabil kesehatan psikologisnya dikarenakan mereka memiliki

sistem nilai yang sama berharganya untuk dipenuhi, bila salah satu nilainya gagal

dipenuhi (Lukas, 1985).

        Menurut Lukas (1985) hanya dengan kematanganlah kebebasan menjadi

penuh makna. Kebebasan untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab

mengenai apa yang seorang manusia pikirkan, kerjakan dan tolak untuk

mengerjakan. Kematangan atau kedewasaan merupakan kondisi awal yang sangat

menentukan untuk mencapai kebermaknaan dalam hidup.

3. Modifikasi Dalam Bersikap Untuk Meningkatkan Makna Hidup

       Terapis dalam Logoterapi harus memperhatikan agar mereka berada

dalam dimensi di mana dirinya dan konseli tidak saling menyakiti satu sama lain.

Peningkatan makna hidup bagi konseli dijalankan dengan cara melakukan

modifikasi terhadap cara konseli bersikap dalam hidupnya. Hal ini dilakukan

dengan ― Socratic Dialogue ‖. Socratic dialogue merupakan teknik di mana

konseli diajak menggali kekuatan spirit yang terpendam dalam dirinya, dibimbing

menuju kemandirian bersikap yang berlandaskan pada tanggung jawab terhadap

dirinya sendiri. Modifikasi bersikap memiliki karakteristik sebagai berikut:

   1. Dalam situasi di mana konseli tidak mendapatkan arti hidupnya

       diakibatkan perjalanan nasib yang buruk seperti kecelakaan, penyakit yang

       tidak tersembuhkan, pemutusan hubungan dengan orang yang

       menyakitkan hati, pemutusan hubungan kerja dan sebagainya. Menjadi

       penting dan menyembuhkan bila konseli dapat membuat sikap yang

       penuh arti dalam situasi yang sebenarnya miskin arti.




                                                                               56
   2. Modifikasi terhadap cara berpikir atau bersikap yang merusak, negatif atau

       melemahkan. Seorang terapis tidak memutuskan apakah sikap konseli

       benar atau bermoral akan tetapi apakah sikap itu sehat (Fabri, 1980:43).

Contoh sikap negatif‖ Tidak ada yang berarti dalam usaha saya. Semua hal selalu

salah dengan saya, saya tidak ingin berhubungan dengan orang lain sebab

semuanya jahat‖. Pernyataan tadi menunjukkan individu yang menyatakan berada

dalam sikap yang tidak sehat dalam memandang diri dan lingkungannya. Sikap

negatif semacam inilah yang ingin diubah dalam modifikasi sikap Logoterapi.

Sikap yang positif menuntun konseli pada tujuan yang penuh arti bagi mereka

atau setidaknya membuka jalan menuju beberapa tujuan.

       Logoterapi meningkatkan makna hidup dengan mendidik untuk

bertanggung jawab tidak hanya bagi konseli tetapi juga konselor. Merupakan

tanggung jawab konselor untuk mengajak konseli keluar dari kekosongan

eksistensialnya dan menuju eksistensi yang penuh makna. Adalah tanggung

jawab konselor untuk berkata tidak kepada konseli yang merasa dirinya

tergantung pada nasib, sehingga tidak membangun kepribadiannya.

       Individu menyadari bahwa sikapnya yang bertanggung jawab dalam

memandang hidupnya akan menentukan arti hidupnya. Hal ini membuat dia

bersemangat untuk berusaha mengisi hidupnya dengan penuh arti dan dapat

menikmati apa saja yang terjadi dalam hidupnya dengan cara pandang yang sehat.

Bagi mereka pilihan hidup akan dipertimbangkan dengan segala dampaknya.

Tidak menyerah pada dorongan keinginan sesaat saja, hidupnya tergantung pada

usahanya sendiri, pilihannya sendiri.




                                                                              57
                                     BAB III

                            METODE PENELITIAN



A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

       Penelitian mengenai Konseling Logoterapi untuk meningkatkan makna

bagi warga binaan LPA Blitar ini menggunakan pendekatan kualitatif namun

untuk asesmen juga digunakan alat bantu Purpose in Life Test yang digunakan

untuk memperlihatkan peningkatan kualitas makna hidup pada subjek penelitian..

       Jenis penelitian kualitatif deskriptif terhadap proses konseling memiliki

pendekatan yang bersifat khusus. Penelitian terhadap konseling merupakan suatu

desain penelitian yang menempatkan focus pada pengaruh tema-tema yang

dibicarakan dalam konseling terhadap perubahan sikap yang diperlihatkan subjek

penelitian. Interpretasi-interpretasi terhadap perilaku yang diperlihatkannya baik

verbal maupun non verbal selama penelitian (Bogdan, 1993).

       Penelitian kualitatif dalam konseling dan terapi berbeda secara mendasar

dari tradisi kualitatif yang sudah ada. Penelitian dalam konseling bukan lagi

sekedar melakukan penelitian dengan interpretasi yang bersifat fenomenologis

semata (mengidentifikasi dan mengklarifikasi arti, mempelajari bagaimana arti

dari aspek-aspek dunia sosial dibentuk), tetapi melakukan interpretasi terhadap

pekerjaan dalam terapi ( membuat arti baru, meraih insight dan pengertian,

mempelajari bagaimana makna pribadi dibentuk). Sehingga penelitian kualitatif

dalam terapi cenderung menuju pada arah mempertanyakan asumsi-asumsi dasar




                                                                                   58
dan praktek-praktek yang diterima dalam konseling Logoterapi (Mc Leod ,2001 :

59).

          Aplikasi metode kualitatif dalam konseling dan terapi tidak dapat

menghindarkan diri dari dekonstruksi dan rekonstruksi teori-teori dan praktek

dalam terapi (Mc Leod,2001:104). Hal ini dikarenakan di dalam penelitian

kualitatif di dalam konseling dapat ditemukan hal-hal yang melengkapi prosedur

konseling yang sudah ada untuk kasus yang khusus diteliti dalam hal ini konseling

logoterapi pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar untuk

meningkatkan makna hidup mereka yang rendah.

         Oleh karenanya perlu diperhatikan batasan istilah berikut :

1. Konseling Logoterapi

       Konseling Logoterapi merupakan konseling yang berlandaskan pada

munculnya kesehatan mental melalui pemenuhan kebutuhan manusia akan

makna dirinya, kehidupan yang penuh makna, dan sikap memaknai hidup secara

sehat dengan melakukan realisasi nilai-nilai dan pemberian makna kepada hidup

dengan penuh tanggung jawab. Tahapan konseling Logoterapi terdiri dari empat

tahap terapi (Fabry,1980)yaitu:

 1. Menolong pasien memisahkan diri dari gejala

 2. Memodifikasi sikap

 3. Mengurangi gejala

 4. Prophylaxis

         Penelitian dilaksanakan mengikuti keempat tahap terapi di atas dengan

memasukkan keempat tahap tadi dalam konseling terhadap subjek penelitian

menurut langkah-langkah penelitian yang disadur sebagian dari langkah konseling



                                                                              59
yang dibuat Cyntia Kimberly dalam penelitiannya terhadap anak negro di

Amerika. Langkah-langkah konseling dapat dilihat pada lampiran.

2. Makna Hidup

       Makna hidup merupakan suatu konsep yang dimiliki seseorang mengenai

dunia dalam dirinya dan di luar dirinya. Suatu persepsi seorang individu terhadap

arti dirinya di dalam dunia ini berkaitan dengan transpersonalitasnya dengan dunia

dan kehidupannya. Bagaimana individu menilai dirinya dan menilai dunia di

sekitarnya berdasarkan nilai-nilai dasar yang dimilikinya (Lukas,1985).

Contohnya nilai jujur dalam mencapai suatu keinginan, memperhatikan hak orang

lain, mengikuti norma agama terhadap perbuatan yang benar dan salah, dan

sebagainya.Semakin positif nilai yang digunakan seseorang memaknai diri dan

kehidupannya maka dia semakin sehat secara mental.

B. Prosedur Penelitian

       Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah bertindak sebagai partisipan

yang berperan sebagai konselor. Peneliti mengajak subjek penelitian berbincang

dari hati ke hati mengenai pengalaman hidup mereka, cara mereka bersikap dalam

hidup, tujuan-tujuan dalam kehidupan mereka di masa mendatang, terutama

setelah keluar dari penjara. Peneliti berusaha agar terjadi perubahan sikap yang

cukup berarti dalam cara mereka memandang hidupnya, memaknai hidupnya.

       Konseling yang berlangsung setiap minggu satu kali dengan lama sekitar

60 sampai 90 menit untuk setiap pertemuan. Peneliti sangat memperhatikan

perkembangan dari sikap subjek pertemuan yang tentunya berubah dalam setiap

tahap konseling. Pertemuan konseling yang pertama lebih bersifat membina

rapport dengan subjek penelitian dengan memperkenalkan diri peneliti dan



                                                                             60
mengajak subjek penelitian bercerita tentang dirinya dengan tema pembicaraan

mengenai sejarah asal mula nama subjek., kemudian peneliti mengajak subjek

mengenal dirinya dengan konsep dasar sebagai manusia unik yang merupakan

makhluk yang mulia ciptaan Tuhan.

       Untuk ketiga subjek diceritakan tentang firman Allah dalam kitab suci Al

Qur‘an mengenai kemuliaan manusia dan kebebasannya memilih tindakan agar

mulia. Pertemuan berikut baru bertujuan merubah sikap subjek penelitian. Peneliti

mengendalikan pembicaraan dalam konseling agar tetap terfokus pada konsep

Konseling Logoterapi dengan menggunakan tema-tema khusus mengenai aspek-

aspek kebermaknaan hidup sebagaimana tercantum dalam lampiran mengenai

langkah-langkah konseling logoterapi.

       Dalam setiap pertemuan subjek dan peneliti membahas tema-tema

kebermaknaan hidup tersebut dan peneliti mempertimbangkan pernyataan atau

kalimat yang sesuai untuk membangkitkan kesadaran subjek penelitian akan

makna hidup positif. Masing-masing subjek memberikan kalimat respon yang

berbeda sesuai dengan kebermaknaan hidupnya masing-masing. Semakin cepat

terjadi perubahan sikap pada tema tertentu maka konseling berjalan dengan tanya

jawab yang singkat, bila perubahan sikap lambat maka tanya jawab mengenai

tema tertentu dari aspek Logoterapi akan berlangsung lebih lama.

       Oleh karenanya terdapat perbedaan jumlah kalimat pada antara setiap

subjek penelitian dikarenakan setiap subjek memiliki kekhususan sendiri terhadap

aspek-aspek yang dibutuhkan waktu lebih lama membahasnya. Hal ini disebabkan

subjek lebih sulit merubah sikap pada aspek-aspek yang dibahas lebih lama.




                                                                             61
         Peneliti menggunakan    socratic dialogue    pada pada kebanyakan

pembicaraan dalam konseling, namun pada subjek ketiga kurang terdapaat respon

aktif sehingga lebih banyak pembicaraan yang bersifat didaktik daripadasocratic

dialogue. Socratic dialogue mendapat respon positif pada subjek pertama dan

kedua.

         Pada focus group discussion peneliti berusaha agar subjek penelitian

mengungkapkan pendapatnya tanpa paksaan dari peneliti. Di sini pendapat subjek

penelitian menjadi alat untuk mengecek keabsahan data dari pembicaraan

konseling dan data PIL Test.



C. LOKASI PENELITIAN

          Lokasi penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar yang terletak

jalan Bali kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur. Lokasi ini merupakan salah satu

dari sedikit Lembaga Pemasyarakatan khusus anak yang ada di Indonesia.

Lembaga Pemasyarakatan Anak ini menampung narapidana anak, anak negara

dan tahanan polisi. Jenis kasus yang menyebabkan anak remaja ini menjadi

penghuninya beragam mulai dari pencurian ringan, pemerkosaan, pembunuhan,

penggelapan, penyalahgunaan obat dan narkoba, penculikan dan sebagainya.

Jumlah penghuni pada bulan April 2008 sebanyak 160 jiwa. Presentasi kasusnya

sekitar 70 % pencurian, 23 % pemerkosaan atau kasus asusila dan 7 % melakukan

kasus pembunuhan.

         Warga LP Anak Blitar sangat memenuhi syarat untuk dijadikan subjek

penelitian, selain karena keragaman kasus yang tersedia, juga karena mereka




                                                                              62
senang ikut berperan serta dalam penelitian untuk membunuh kejenuhan dari

kehidupan penjara yang monoton. Lokasi ini juga sangat mudah dijangkau oleh

transportasi karena berada di jalur antar kota Malang dan Blitar.

       Warga Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar kebanyakan mengalami

kekosongan makna. Hal ini terbukti berdasarkan hasil penelitian peneliti pada

saat PKLI pada bulan Agustus 2007 yang berjudul Problem Eksistensial pada

Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Hasil penelitian yang

melibatkan 10 subjek memperlihatkan 9 dari 10 subjek mengalami kekosongan

makna hidup dengan berdasarkan jawaban yang mereka berikan pada daftar

pertanyaan yang mengungkapkan aspek kebermaknaan hidup saduran dari daftar

pertanyaan Viktor Frankl (Koswara, 1992 : 56).

       Kamar narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar terbagi dalam

beberapa blok, yaitu blok Dahlia, Cempaka, Bougainfile. Setiap antar blok ada

batas pagar dan pintu pengaman. Setiap kamar dihuni maksimal 10 anak

tergantung banyaknya penghuni yang berubah-ubah jumlahnya sesuai masuk dan

lepasnya narapidana penghuninya.

       Menu makanan terdiri dari makanan yang memenuhi kriteria 4 sehat.

Makanan diberikan sebanyak tiga kali, dilakukan di ruang makan khusus. Setiap

waktu sholat Dzuhur diadakan shalat berjamaah. Sekolah yang tersedia di dalam

Lembaga Pemasyarakatan bernama SDN Istimewa juga ada SMP Terbuka yang

memanggil guru dari luar Lembaga Pemasyarakatan.

       Di dalam Lembaga Pemasyarakan juga tersedia lapangan olahraga, kantin,

fasilitas kesehatan , bengkel latihan kerja dan salon. Ada pula perpustakaan dan




                                                                            63
tempat belajar komputer. Di dalam lembaga pemasyarakatan ada dapur besar yang

di sudut penjara. Latihan kerja yang disediakan adalah salon, komputer, kerajinan

kayu, mesin dan sebagainya. Setiap narapidana memiliki tugas harian mulai dari

membantu di kantor Binadik, membersihkan lantai, menjaga tempat kunjungan,

memasak di dapur, membuat ketrampilan, sekolah dan sebagainya. Pekerjaan

yang dianggap warga binaan paling tinggi adalah di kantor dan paling rendah

adalah tugas mengepel.

        Waktu bertugas adalah pada pagi hari jam 8 sampai jam sebelas siang pada

hari kerja. Di luar waktu tersebut di atas dihabiskan dengan di kamar, menonton

televisi di aula, berbincang dengan sesama narapidana, merokok, dan sebagainya.

Kebanyakan dari mereka merasa bosan dan pada narapidana pria sering terjadi

agresi mulai dari kata-kata , pencurian, sampai pada perkelahian.

        Penelitian dilakukan di ruang sidang tempat staf Lembaga Pemasyarakatan

anak mengadakan sidang pelepasan narapidana. Ruangan ini merupakan ruangan

terbuka dengan 2 meja panjang dengan sederet kursi serta sebuah meja kerja di

depan ruangan. Waktu konseling hanya ada peneliti dan seorang subjek penelitian,

biasanya berlangsung mulai jam 9 pagi atau jam 9.30 sampai waktu bel apel siang

terdengar yaitu jam 11 siang. Setiap hari penelitian hanya dapat melangsungkan

satu kali konseling dengan satu subjek yang berlangsung pada hari Senin sampai

dengan Kamis. Dimulai pada tanggal 22 Januari 2008 sampai dengan 22 Februari

2008.




                                                                              64
D. Sumber Data

       Sumber data didapat dari hasil wawancara konseling antara peneliti

dengan subjek penelitian, kemudian juga diambil dari data kasus arsip LP Anak

Blitar. Setiap pertemuan konseling memiliki tema yang berkesinambungan dengan

tema konseling sebelumnya.

        Data juga diambil dari hasil Purpose in Life Test yang dilakukan sebagai

asesmen pada awal dan akhir penelitian. Hal ini untuk mendapatkan gambaran

mengenai peningkatan makna yang dialmi oleh subjek penelitian setelah proses

penelitian berlangsung.

        Data terakhir didapat dari diskusi yang dilakukan pada pertemuan terakhir

peneltian yang melibatkan semua subjek penelitian dengan peneliti yang

berlangsung selama sekitar dua jam.



E. Prosedur Pengumpulan Data

        Pengumpulan data dilakukan melalui pencatatan pembicaraan yang

berlangsung selama proses konseling. Hal ini dilakukan dengan hati-hati dan teliti

sehingga dapat diperoleh data yang bisa digunakan sebagai dasar untuk dianalisa

kemudian.

       Sistematika dalam tahapan penelitian kualitatif perlu diperhatikan

sebagaimana Mc Leod (2001) menuliskan bahwa mengumpulkan data yang

didapat dari hasil formulasi pertanyaan peneliti yang penting dan bersifat terbuka.

Karena ini adalah penelitian proses konseling, maka pertanyaan yang diajukan

berhubungan dengan metode konseling Logoterapi yang bersifat dialog antar




                                                                              65
konseli dan klien dalam penelitian. Tahapan menggunakan teknik yang disadur

dari   Instructinal Lesson Plan yang disusun oleh Cintya W Kimberly dalam

penelitiannya pada siswa negro di Louisiana Amerika Serikat. Untuk melihat

adanya peningkatan makna hidup dilakukan dengan memakai alat test yang

merupakan skala sikap yaitu Purpose in Life Test . Alat tes yang dirancang oleh

Crumbaugh dan Maholick untuk mengungkap respon-respon yang menunjukkan

seberapa tinggi individu mengalami hidup bermakna. Tes ini dilakukan pada

awal dan pada akhir konseling, sehingga dapat melihat peningkatan makna yang

dihasilkan setelah mengikuti konseling Logoterapi.

       Data yang dikumpulkan adalah data yang berasal dari proses konseling

dengan beberapa subjek dengan pencatatan untuk masing-masing subjek

dipisahkan karena konseling berlangsung secara individual. Data terdiri dari hasil

tes asesmen awal dan akhir disertai hasil wawancara dalam konseling. Data yang

didapat dideskripsikan sedemikian rupa sehingga akan didapatkan gambaran

mengenai bagaimana konseling Logoterapi dapat meningkatkan makna hidup

pada subjek penelitian.

       Responden penelitian terdiri dari warga binaan Lembaga Pemasyarakatan

Anak Blitar dengan kriteria sebagai berikut:

   1. Warga binaan yang memiliki masalah eksistensial berdasarkan PIL Tes

       dengan nilai di bawah 100.

   2. Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar yang berusia remaja

       (13 – 18 tahun).




                                                                              66
Pemilihan usia ini dilakukan agar jalannya penelitian bisa memperlihatkan hasil

yang cukup berarti dalam meningkatkan makna hidup warga binaan LP Anak

Blitar. Usia di mana remaja sudah tertarik membicarakan arti dirinya. Dalam

pelaksanaan pemilihan responden ini peneliti dibantu oleh pihak Pembinaan dan

Pendidikan LP Anak Blitar, mereka memberikan tiga subjek penelitian yang

diperkirakan bisa diajak bekerja sama dengan peneliti. Ketiga subjek ini terdiri

dari:

    1. Septi Rosida Prayogo

    2. Wijanarko

    3. Edi Santoso

        Ketiganya memliki kasus yang berlainan mewakili populasi yang ada di

LP Anak Blitar. Septi melakukan kasus pencurian dan penggelapan, Wijanarko

melakukan kasus pemerkosaan pada anak di bawah umur, sedangkan Edi Santoso

melakukan pemerkosaan disertai pembunuhan pada anak di bawah umur.

Wijanarko memiliki tingkat pendidikan tidak tamat SD, Edi Santoso bersekolah

sampai SMP kelas I dan lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, sedangkan Septi sekolah

sampai kelas II SMP. Agama yang dianut oleh Septi adalah Kristen, sedang dua

subjek lainnya beragama Islam.

        Latar belakang kasus, pendidikan dan agama yang berbeda ini diharapkan

membantu peneliti untuk melihat faktor-faktor yang berbeda di antara ketiga

subjek dan pengaruhnya terhadap hasil konseling.




                                                                               67
F. Analisa Data

        Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen adalah suatu proses

pengolahan data dengan cara mengorganisasikan , memilah-milah menjadi satuan

yang dapat dikelola, mensintesiskan , mencari dan menemukan pola serta

mendapatkan apa yang penting dan dapat dipelajari dari data yang telah

dikimpulkan. Kemudian memutuskan apa yang dapat diceritakan terhadap orang

lain (Moelong, 2004).

       Prosesnya menurut Sciddel (Moleong,2004) mengikuti langkah-langkah

sebagai berikut:

   1. Mencatat data di lapangan dan memberinya kode agar sumber data tetap

       dapat ditelusuri.

   2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklarifikasikan, mensintesiskan,

       membuat ikhtisar dan membuat indeksnya.

   3. Berpikir bagaimana data yang diperoleh mempunyai makna, mencari dan

       menemukan pola serta hubungan sehingga mendapatkan temuan-temuan

       baik khusus maupun umum.

       Akhirnya peneliti membuat kesimpulan dari hasil penelitian yang didapat.

Dalam proses ini dibutuhkan penafsiran kembali secara deskriptif dari

kesimpulan yang ada guna mendapatkan penjelasan dan telah dikorelasikan

dengan teori-teori yang dibutuhkan akan tetapi tetap mengacu pada prosedur

penelitian kualitatif fenomenologi.

       Dengan demikian analisis data akan berproses secara induksi-interpretasi-

konseptualisasi. Hal ini akan memberikan hasil data yang detail (induksi)




                                                                            68
sehingga data lebih mudah dipahami, mencari makna sehingga ditemukan

pikiran apa yang tersembunyi di balik perilaku verbal maupun non verbal subjek.

        Analisa data dalam penelitian ini menggunakan ―Analisa Naratif‖.

Menurut Riessman dalam Mc Leod (2001) analisa ini menggunakan prinsip-

prinsip sebagai berikut:

   1. Serangkaian jadwal wawancara yang digunakan untuk menyemangati

       informan untuk bercerita.

   2. Data wawancara dikumpulkan dari beberapa subjek untuk memungkinkan

       melengkapi pengertian dari pengalaman dan tema yang berbeda.

   3. Cerita subjek dipilih yang dipandang sebgai tema-tema yang khusus

       dalam data.

   4. Materi interview ditulis dengan teliti.

   5. Naratif dipilih dalam penulisan.

   6. Laporan ditulis secara lengkap.

   7. Tujuan analisa untuk membantu pembaca mengerti arti pengalaman dari

       subjek.

 Ide kunci dari analisa naratif adalah membuat arti dari pengalaman subjek,

mengkomunikasikan pengalamannya kepada orang lain dalam bentuk cerita

(Riessman, 1993).

       Karena penelitian ini merupakan penelitian terhadap konseling, maka

analisa data yang dilakukan mengungkapkan tema-tema yang didapat dari hasil

wawancara konseling sesuai aspek-aspek yang ditekankan dalam Logoterapi. Sifat

dari konseling Logoterapi bersifat direktif persuasif. Tema wawancara sudah




                                                                              69
ditentukan oleh peneliti dengan tujuan meningkatkan makna hidup subjek

penelitian. Hal ini dilakukan agar dapat dilihat secara jelas proses peningkatan

makna hidup yang dialami oleh subjek penelitian.

       Interpretasi terhadap wawancara konseling ini merupakan jenis analisa

data secara tematik (Poerwandari, 2005:158). Berdasarkan analisa tematik ini

diharapkan dapat melihat tingkat kesesuaian antara landasan teori dengan

pelaksanaan konseling Logoterapi pada subjek penelitian. Langkah-langkah yang

dilakukan dalam analisa tematik konseling logoterapi ini peneliti susun sebagai

berikut:

   1. Transkrip dari hasil konseling dianalisa awal dengan mengidentifikasikan

       kata-kata kunci yang ada dalam wawancara, membuat makna materi-

       materi yang secara awam terlihat tidak saling terkait.

   2. Karena dalam konseling tema wawancara diarahkan oleh peneliti, tema

       yang ingin diungkapkan oleh subjek penelitian merupakan respon dari

       kata-kata yang diucapkan oleh peneliti.

   3. Tema-tema tadi dikategorikan sesuai dengan aspek-aspek yang ada dalam

       teori logoterapi untuk menilai sikap yang dimiliki subjek penelitian.

   4. Melalui hasil kategori tadi dilihat hubungan antar kategori atau pola yang

       menunjukkan kesesuaian dengan teori konseling Logoterapi atau

       pengembangan teori yang diterapkan pada subjek penelitian.

   5. Dilakukan koding mengenai kondisi yang bersifat kausalistis berkaitan

       dengan gejala dan fenomena yang timbul pada subjek

   6. Pendeskripsian pengaruh konseling terhadap fenomena yang timbul




                                                                               70
   7. Dibuat perbandingan proses konseling yang terjadi antara subejek

       penelitian beserta faktor-faktor yang membuat perbedaan hasil pada setiap

       subjek penelitian

   8. Kondisi intervening atau antara yang berlangsung selama proses konseling

       digambarkan beserta kejadian di luar wawancara yang menyertainya.

   9. Aksi atau strategi yang digunakan peneliti selama konseling

       dideskripsikan

   10. Konsekuensi atau hasil dari proses konseling yang telah berlangsung

       terhadap perubahan sikap subjek penelitian dideskripsikan.

Dengan tahapan di atas peneliti dapat memberikan pembahasan yang menyeluruh

terhadap data yang ada sehingga dapat diambil keimpulan terhadap pertanyaan-

pertanyaan yang mendasari dilakukannya penelitian ini.



G. Pengecekan Keabsahan Temuan

       Pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian kualitatif terhadap proses

konseling dilakukan dengan mengadakanFocus Group Discussion . Karena yang

diamati di sini adalah peningkatan dalam bentuk perubahan sikap maka akan

dilihat bagaimana persepsi subjek penelitian terhadap tema-tema yang menjadi

pembicaraan selama konseling dijalankan, hal ini berupa sikapnya terhadap

hidupnya, pengahargaannya terhadap diri sendiri, sikapnya terhadap pengalaman

hidup sehari-hari di penjara dan aspek-aspek lain yang diukur dalam alat tes yang

digunakan.. Hal ini perlu untuk melihat apakah jawaban tes sesuai dengan

persepsi subjek yang sebenarnya.




                                                                             71
       Focus Grup Discussion      pada akhir penelitian melibatkan semua subjek

penelitian, berguna sebagai cross checking terhadap data yang didapat selama

penelitian. . Respon yang didapat selama diskusi ini juga dapat digunakan untuk

mencegah terjadinya bias dalam menganalisa hasil wawancara konseling. Hasil

diskusi dibandingkan dengan persepsi subjek penelitian (Sabarguna: 2005).

Tentunya juga bisa dilihat pengaruh konseling Logoterapi dalam meningkatkan

makna hidup pada subjek penelitian yang tergambar dari pendapat-pendapat yang

diutarakan oleh para subjek penelitian .

H. Tahap-tahap Penelitian

       Penelitian ini berlangsung dalam 5 tahapan, 4tahapan berupa konseling

sedang tahap terakhir berupa diskusi bersama antara peneliti dengan ketiga subjek

penelitian. Tahapan-tahapan ini sebagai berikut:

   1. Tahapan pertama dilakukan konseling dengan tema pengenalan diri dan

       pengenalan cara berpikir Logoterapi, hal ini dilakukan dengan melakukan

       diskusi mengenai keunikan manusia, kemuliaan manusia dibandingkan

       makhluk lainnya.

   2. Tahapan kedua tema konseling berupa pengenalan diri dengan melakukan

       analisa terhadap perjalanan hidup subjek, rencana-rencana masa depan dan

       pilihan-pilihan hidupnya di masa depan (ditulis dalam pita kertas).

   3. Tahapan ketiga tema konseling adalah peranan diri dalam mencapai

       tujuan hidup subjek penelitian (yang sudah ditulis dalam pita kertas).

   4. Tahapan keempat tema konseling adalah penyesuaian diri terhadap dunia

       dan penghargaan terhadap diri sendiri.




                                                                                72
   5. Tahapan kelima merupakan penutupan penelitian dan sekaligus

      pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian. Di sini peneliti

      melakukan Focus Group Discussion bersama ketiga subjek penelitian

      dengan tema-tema : pendapat subjek terhadap kehidupan di dunia ini;

      sikap terhadap kejadian-kejadian dalam hidup sehari-hari; tujuan hidup

      subjek penelitian; pendapat subjek tentang tanggung jawab dalam hidup;

      dan pendapat subjek tentang kematian.

Semua tahapan tadi berlangsung dari tanggal 22 Januari 2008 sampai dengan 22

Februari 2008. Semua tahapan tadi merupakan rancangan dari peneliti dengan

menyadur beberapa bagiannya dari tahapan bimbingan yang dilakukan oleh

Cynthia W Kimberly dalam penelitiannya pada anak negro yang berisiko di

Amerika Serikat. Penyesuaian perlu dilakukan karena keadaan subjek yang

berbeda, juga kebutuhan terhadap tema-tema tertentu yang hanya spesifik untuk

warga binaan LP Anak Blitar. Hal ini khususnya berjaitan dengan masa depan

mereka setelah keluar dari LP Anak, bagaimana mereka mempersiapkan diri

menghadapinya.




                                                                           73
                                     BAB IV

                                PEMBAHASAN



I. HASIL-HASIL PENELITIAN

       Berdasarkan data yang didapat dari pihak Lembaga Pemasyarakatan Anak

Blitar, jumlah penghuninya pada bulan April 2008 sebanyak 160 orang, 70 % di

antaranya merupakan pelaku kasus pencurian, 23 % pelaku kasus asusila sedang 7

% sisanya adalah pelaku kasus pembunuhan. Jumlah warga binaan Lembaga

Pemasyarakatan yang perempuan sebanyak 2 orang. Dari pihak Lembaga

Pemasyarakatan Anak Blitar mengajukan tiga subjek penelitian dengan

pertimbangan seorang perempuan untuk mewakili warga binaan yang wanita dan

2 pria. Ketiga subjek memiliki kasus yang berbeda : subjek pertama terkena kasus

pencurian dan penggelapan; subjek kedua terkena kasus asusila disertai

pembunuhan ; sedang subjek ketiga terkena kasus asusila. Ketiga subjek memiliki

nilai PIL Test   di bawah 100 dengan beberapa nilai item berada pada posisi

minimum.

       Ketiga subjek pada awal konseling tidak mengenal konsep Logoterapi dan

memiliki sikap yang negatif dalam memaknai hidupnya berdasarkan hasil

wawancara konseling dengan peneliti.

       Berdasarkan data konseling yang telah didokumentasikan dan dikodekan

terdapat urutan tema-tema dalam kalimat-kalimat yang dituturkan oleh subjek

penelitian. Tema-tema itu merupakan respon dari subjek penelitian terhadap

kalimat-kalimat peneliti. Kalimat peneliti terdiri dari pernyataan tentang konsep-




                                                                                74
konsep Logoterapi dan juga pertanyaan yang bersifat menggugah kesadaran diri

subjek penelitian agar merubah sikap hidupnya menjadi sikap hidup yang sehat

secara mental menurut konsep Logoterapi.

I. A. Data Konseling Subjek Pertama

Nama: Septi Rosyida Prayogo

Usia: 16 tahun

Alamat: Jl. Jati No. 22 Blitar

Agama: Kristen

Ayah: Muhamad Katijan Prayogo

Ibu: Yunita Sari

Pendidikan         : SMP

Jenis kelamin      : Perempuan

I.A.1. Hasil Assessment Psikologis

Hasil dari Purpose in Life Test yang dilakukan sebelum konseling dan setelah

konseling digunakan untuk mengukur peningkatan makna hidup pada subjek.

Hasilnya dapat dilihat pada table di bawah ini.

                           Tabel 3. Hasil Tes PIL Awal

AspekTinggiSedangRendahJumlahJml
                                                                      max
 Makna hidup7,17,20-3,4,8,11,12,2756
Kepuasan hidup1,2,5,19-6,9,3042
Kebebasan hidup18-13,141021
Sikap terhadap           --1517
kematian
Pikiran tentang bunuh 16--77
diri
Kepantasan hidup10--77
Jumlah nilai tes awal82140




                                                                          75
                          Tabel 4. Hasil Akhir Tes PIL

AspekTinggiSedangRendahJumlah                                      Jml
                                                          nilai    max
 Makna hidup3,7,8,11,17,20-4,123356
Kepuasan hidup1,2,6,9,19-534
Kebebasan hidup13,14,18--20
Sikap terhadap         15--77
kematian
Pikiran tentang        16--77
bunuh diri
Kepantasan hidup--1011
Jumlah nilai tes akhir112140


                                              Purpose in Life Test sebanyak
       Peningkatan makna hidup berdasarkan hasil

30. Ini merupakan peningkatan sebanyak 37,4 %. Tetapi pada item kepantasan

hidup subjek mengalami penurunan nilai sebanyak 6 poin, hal ini disebabkan

kesadaran subjek atas kesalahannya sebenarnya merupakan pilihannya sendiri.

bukan disebabkan oleh perceraian orang tua atau kesalahan pacar yang

memutuskan hubungan.

I.A. 2.Pembahasan Hasil Wawancara Konseling

I.A. 2. I. Tahap Konseling I

I. A.2.I.a.Aspek Pengenalan Diri

       Subjek diajak berdiskusi dengan menggunakan tema-tema diskusi yang

sudah ditetapkan sebelumnya. Hasil perubahan sikap dinilai dari respon kalimat

yang didapat dari subjek yang menggambarkan perubahan sikapnya.

                                     Tabel 5

 KodeAspek Pengenalan DiriPenilaian
                                                            sikap
 A.1.1Tidak begitu suka dengan namaku sejak bertengkarNegatif



                                                                             76
        dengan keluarga (ayah).
 A.1.2Berdoa agar terbuka hatiku. Cerita ketika dulu terlibat   Proses
        konflik dengan orang tua.                               pengenalan
                                                                diri.
 A.1.3Cerita tentang keterlibatanku dengan konflik orang tua    Proses
        yang menyebabkan beretngkar dengan ayahku.              pengenalan
                                                                diri
 A.1.4Istri ayah ada 4. Ayah nggak pulang-pulang sampai aku     Proses
         berhenti sekolah.                                      pengenalan
                                                                diri.
 A.1.5Setuju dengan peneliti bahwa namanya punya arti           Proses
        bagus                                                   pengenalan
                                                                diri
 A.1.6Nama gunanya untuk panggilan.Proses
                                                                pengenalan
                                                                diri
 A.1.7Nama sama tapi yang satu terkenal yang satu tidak         Proses
        karena posisinya.                                       pengenalan
                                                                diri.
 A.1.8Setuju nama diingat orang sesuai dengaqn perilaku si      Positif
        empunya nama.
 A.1.9Setuju dengan peneliti untuk berperilaku baik dan         Positif .
        senang dengan namanya.                                  Sasaran
                                                                konseling
                                                                tercapai.

       Penilaian sikap terhadap subjek menunjukkan subjek mengalami

perubahan sikap yang positif sesuai sikap yang sehat dalam menghargai dan

memahami diri menurut konsep Logoterapi.

I.A.2.I.b. Aspek keunikan manusia

       Subjek diajak diskusi dengan tema keunikan manusia, hasil yang didapat

   berdasarkan respon subjek yang diberikan selama konseling.

                                    Tabel 6

 KodeAspek keunikan diri sebagai manusiaPenilaian sikap
 B.1.1Beda manusia dan hewan ada pada akalnya.Negatif. Tidak
                                                        sesuai dengan
                                                        konsep logoterapi.
 B.1.2Tidak tahu persamaan hewan dan manusia.Proses perubahan
                                                        cara berpikir



                                                                             77
 B.1.3Binatang punya perasaan sama dengan manusia.Proses perubahan
                                                       cara berpikir.
 B.1.4Bertanya bedanya hewan dan manusia.Proses perubahan
                                                       cara berpikir.
 B.1.5Setuju dengan peneliti bahwa manusia mulia       Positif.Sasaran
         sebab punya jiwa yang bebas memilih.          konseling tercapai.
 B.1.6Setuju dengan peneliti karena bebas memilih      Positif sasaran
         manusia harus terkena tanggung jawab.         konseling tercapai.
 B.1.7Setuju dengan peneliti pernah mengalami          Positif.sasaran
         konflik memilih tindakan pada saat buat kasus konseling tercapai.
         karena dendam dengan mantan pacar.
 B.1.8Menyimpulkan dari hasil pembicaraan bahawa       Positif sasaran
         aku mampu jadi mulia bila mau berusaha.       konseling tercapai.


       Subjek dinilai mengalami perubahan sikap yang positif terhadap cara

berpikir yang sesuai dengan konsep keunikan dirinya sebagai manusia yang mulia.

Hal ini sesuai denga sasaran konseling Logoterapi.

I.A.2.I.c. Aspek Nilai-Nilai Hidup

       Aspek nilai hidup positif sangat penting bagi subjek untuk menemukan

makna hidupnya. Walaupun setiap manusia mengerti bahwa dia harus berbuat

baik, namun pada kenyataannya hal ini sering tidak dihayati dan diamalkan. Oleh

karenanya subjek banayak diajak berdiskusi untuk nilai hidup positif yang sangat

dibutuhkan agar subjek mampu berubah menjadi manusia yang bersikap mulia.

                                     Tabel 7

 KodeAspek nilai-nilai hidupPenilaian sikap
 C.1.1Bersikap positif dalam perjuangan hidup, tidak      Positif
         putus asa,tidak sombong,pemaaf,memberi pada
         yang miskin, berbakti pada orang tua,tidak
         dendam,pemaaf, ambil hikmah dari kejadian dalam
         hidup.
 C.1.2Nilai yang didapat di LP yaitu sopan santun.Positif




                                                                             78
       Penilaian terhadap nilai hidup ini positif berdasarkan jawaban subjek, tapi

untuk menilai apakah subjek benar-benar menjalaninya dalam kehidupan

diperlukan analisa lebih lanjut melalui tahap konseling berikutnya.



I.A.2.II. Tahap Konseling II

I.A.2.II.d. Aspek Pengenalan Diri dan Analisa Nilai Hidup

       Pengenalan diri melalui penulisan sejarah hidup dan rencana hidup subjek

penelitian yang kemudian dianalisa bersama antara subjek dengan peneliti, untuk

membangkitkan kesadaran subjek agar bertindak dengan fokus masa depan dan

secara bertanggung jawab.

                                    Tabel 8

 KodeAspek pengenalan diri lewat analisa sejarah         Penilaian sikap
         hidup
 D.1.1Sejarah hidup dan rencana masa depanProses analisa
                                                         diri
 D.1.2Kejadian yang berkesan waktu kecil sampai SD       Proses analisa
         senang. SMP mulai bertengkar dengan keluarga. diri
 D.1.3Pikiran yang ada ketika berbuat kasus:dendam,      Proses analisa
         sakit hati, bawa kabur motor mantan             diri
         pacar,ditangkap polisi,sadar kalau salah.
 D.1.4Kesalahan yang diperbuat pada waktu berbuat        Proses
         kasus:dendam, iri hati, bohong, merugikan diri  pengenalan diri
         sendiri dan orang lain.
 D.1.5Niatnya memang ambil motor mantan pacar untuk      Proses
         diri sendiri.                                   pengenalan diri.
 D.1.6Salahnya:karena egois, emosian dan cemburu.Proses
                                                         pengenalan diri.
 D.1.7Supaya tidak terjadi lagi: tidak dendam,jujur,     Proses
         meminta maaf, bersikap baik, sopan, tidak iri,  pengenalan diri.
         tidak mencuri, tidak merugikan orang lain.
 D.1.8Setuju dengan peneliti untuk memperhatikan masa    Positif,sasaran
         depan dengan bekerja membantu ibu dan belajar. konseling
                                                         tercapai.
 D.1.9Setuju dengan peneliti untuk bekerja keras berubah Positif, sasaran
         untuk mencapai cita-cita.                       konseling



                                                                              79
                                                            tercapai
 D.1.10Setuju dengan peneliti untuk pilih teman yang        Positif, sasaran
        baik.                                               konseling
                                                            tercapai
 D.1.11Selalu ingat resiko pengaruh teman yang buruk.Positif,sasaran
                                                            konseling
                                                            tercapai
 D.1.12Setuju untuk mengambil hikmah dan menikmati          Positif, sasaran
        hidup.                                              konseling
                                                            tercapai.


         Proses konseling berdasarkan data di atas berhasil mencapai sasaran

dengan baik, karena subjek bersedia bekerja keras dalam mencapai tujuan

hidupnya dan berhati-hati dalam melakukan tindakan dengan bertanggung jawab.

Hal ini sesuai dengan konsep Logoterapi mengenai sikap dalam menghadapi

hidup.

I.A.2.III. Konseling tahap III

I.A.2.III.e.   Peranan Diri dalam Mencapai Tujuan Hidup

         Peranan diri dalam mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting

dalam mencapai tujuan hidup. Subjek dibimbing untuk merubah sikapnya agar

mandiri dalam bertanggung jawab terhadap kejadian yang akan terjadi di masa

depannya. Hal ini termasuk penting dalam konsep makna hidup menurut

Logoterapi.

                                    Tabel 9

 KodeAspek peranan diri dalam mencapai tujuanPenilaian
                                                                 sikap
E.1.1Sekarang fokus ke masa depan, tidak cengeng                 Positif.
         lagi.Memperhatikan pendidikan untuk mencapai
         tujuan.
 E.1.2Dulu pergaulan yang buruk karena ayah dan ibu sering       Proses
         bertengkar. Belajar perilaku buruk dari teman.          menyadari
                                                                 peranan



                                                                               80
                                                                    diri.
 E.1.3Dulu belajar minum, rokok, drug, dugem, diputus pacar         Proses
         kemudian kasus penggelapan motor mantan pacar.             menyadari
                                                                    peranan
                                                                    diri.
 E.1.4Setuju dengan peneliti kalau merokok sulit dapat              Proses
         cowok keren. Sekarang merokok kalau di blok.               menyadari
                                                                    peranan
                                                                    diri.
 E.1.5Tahu kalau merokok bisa dihukum penjagaProses
                                                                    menyadari
                                                                    peranan diri
 E.1.6Tahu resiko merokok tapi tidak bisa lepas dari rokok.Proses
                                                                    menyadari
                                                                    peranan
                                                                    diri.
 E.1.7Alasan tidak berhenti merokok karena stres,frustasi dan       Proses
         jenuh.                                                     menyadari
                                                                    peranan
                                                                    diri.
 E.1.8Setuju untuk mengalihkan merokok kepada kegiatan              Positif,ada
         lain yang berguna.                                         perubahan
                                                                    sikap.
 E.1.9Setuju untuk mengajak diskusi teman sekamar.Positif ada
                                                                perubahan
                                                                sikap.
 E.1.10Berhasil mengurangi merokok dan mau mencoba              Positif, ada
         berhenti sama sekali.                                  perubahan
                                                                sikap.
       Subjek dinilai berhasil merubah sikapnya sesuai dengan konsep memilih

tindakan yang bertanggung jawab sesuai dengan konsep kebebasan yang disertai

tanggung jawab yang dimiliki manusia dalam Logoterapi.

I.A.2.IV. Konseling Tahap IV

I.A.2.IV.f. Penyesuaian Diri terhadap Orang Lain

       Konsep penyesuaian diri dalam Logoterapi berdasarkan pada kemampuan

manusia untuk menyesuaikan diri antara hak dan kewajiban diri , dengan hak dan

kewajiban orang-orang yang berhubungan dengan dirinya, berdasarkan nilai-nilai




                                                                                  81
universal yang positif yang berlaku dalam pergaulan antara manusia. Data yang

didapat dinilai berdasarkan konsep ini.

                                   Tabel 10

 KodeAspek Penyesuaian diri terhadap orang lainPenilaian sikap
F.1.1Merasa senang dan mampu karena temanku                Positif merasa
          terkesan denganku setelah diajak diskusi olehku. percaya diri.
 F.1.2Senang karena merasa dibutuhkan teman.Positif
                                                           menyadari
                                                           kebutuhan
                                                           penyesuaian diri.
 F.1.3Setuju untuk terus diskusi dengan teman karena       Positif
          merasa senang bersahabat dan tidak kesepian.     penyesuaian
                                                           dirinya
 F.1.4Sering diganggu teman di kelas, merasa bingung       Mengalami
          dan capek di kantor karena terlalu banyak yang   kesulitan
          memberi perintah                                 penyesuaian diri.
 F.1.5Pilihan yang ada di penjara:nurut,sopan santun,      Positif
          tidak boleh kurang ajar.                         menyadari perlu
                                                           penyesuaian diri.
 F.1.6Setuju untuk tidak terlalu bingung di kantor.Di      Positif ada
          kamar sungkan ajak teman kerja sama.             sedikit
                                                           penyesuaian diri.
 F.1.7Setuju dengan peneliti untuk mengajak teman          Positif ingin
          kerjasama mengurus kamar.                        melakukan
                                                           penyesuaian diri


       Berdasarkan paparan data di atas subjek dinilai berhasil merubah sikapnya

dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya secara positif sesuai dengan

kosep Logoterapi. Hal ini ditandai dengan kemauan yang ditunjukkan subjek

untuk berperan aktif dalam berhubungan dengan orang lain secara asertif. Hal ini

sesuai dengan konsep Logoterapi yang ada mengenai kebermaknaan diri dalam

hubungan antara diri sendiri dan orang lain.




                                                                            82
I.A.2.IV.b. Penghargaan terhadap Diri Sendiri

       Penghargaan diri sendiri sangat penting berkaitan dengan kebebasan dalam

memilih tindakan dan lkemampuan menyesuaikan diri dengan orang secara positif

sesuaia dengan konsep Logoterapi. Di bawah ini terlihat data yang didapat dalam

konseling yang mendiskusikan pengahrgaan terhadap diri sendiri.

                                   Tabel 11

 KodePenghargaan terhadap diri sendiriPenilaian sikap
 G.1.1Setuju kalau memiliki kelebihan diri:Tidak             Positif
        cengeng, tidak topeng (berpura-pura),menerima apa
        adanya, tidak iri,dipercaya orang,tidak egois, tidak
        emosian, tidak keras kepala seperti dulu lagi.
 G.1.2Gimana cara menghadapi teman sekamar supaya            Positif mau
         senang padaku?                                      berusaha, ada
                                                             percaya diri.
 G.1.3Setuju dengan peneliti untuk bersikap asertif.Positif
                                                             menghargai diri.
 G.1.4Supaya cocok dengan orang lain harus berbuat           Positif
         baik padanya.                                       menghargai
                                                             orang lain
 G.1.5Cerita tentang ibu yang suka selingkuh.Proses memilih
                                                             perilaku
 G.1.6Setuju dengan peneliti untuk tidak meniru perilaku     Positif dalam
         ibu yang tidak bertanggung jawab.Aku berjuang       memilih perilaku
         agar sukses.                                        betanggung
                                                             jawab.
 G.1.7Kehebatanku:disuka teman,disuka ibu binadik,           Positif
         disetiai pacar, tapi kakak dan bude tidak setuju.   menghargai
                                                             diri.Proses
                                                             memilih
                                                             tindakan.
 G.1.8Anak bude tidak ada yang nakal.Proses memilih
                                                             tindakan.
 G.1.9Mengakui Galih (pacar) sering menyakiti perasaan.      Proses memilih
         Ragu akan cinta sang pacar.                         tindakan
 G.1.10Senang melihat hasil tes PIL yang meningkat.Positif
                                                             menghargai diri
 G.1.11Senang melihat hasil tes yang meningkatPositif
                                                             menghargai diri
 G.1.12Subjek diam mendengar pertanyaan penelitiProses memilih
                                                             sikap



                                                                            83
 G.1.13Tidak takut untuk berubah dan setuju dengan       Positih dalam
         penuturan peneliti bahwa dapat membuat hidupnya bersikap
         pantas.
 G.1.14Setuju dengan saran peneliti untuk membuat        Positif dalam
         kegiatan yang bermanfaat agar tidak bosan       bersikap


       Berdasarkan paparan di atas subjek dinilai mengalami perubahan sikap

dalam penghargaan terhadap diri yang positif sesuai dengan konsep Logoterapi

bahwa manusia itu unik dan punya kelebihan sebagai makhluk yang mulia.

       Sampai di sini konseling Logoterapi pada subjek pertama berakhir. Subjek

dinilai berhasil meningkatkan makna hidupnya secara positif. Tanda peningkatan

makna hidup ini yaitu: Subjek bisa menentukan tujuan hidupnya, bisa merancang

usaha untuk mencapainya, bersikap positif menghadapi masa depan dengan

kepercayaan bahwa dirinya mampu merubah masa depannya menjadi cerah,

penghargaan diri yang meningkat, subjek berusaha mensyukuri hidup dan

mengambil hikmah dari pengalamannya yang telah lalu.

       Berdasarkan penuturan subjek mengenai masa lalunya, subjek merupakan

remaja yang tumbuh dalam keluarga yang pecah (broken home). Subjek juga

mengalami penanaman nilai moral yang kurang baik dari kedua orang tuanya

yang saling selingkuh. Hal ini mengakibatkan subjek terlibat konflik dengan

kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya cenderung egois dan kurang

memperhatikan kebutuhan pendidikan subjek, yang berakibat subjek putus

sekolah dan terjebak dalam pergaulan remaja yang negatif. Jadi rendahnya makna

hidup subjek disebabkan pola asuh yang buruk dari kedua orang tuanya yang

mengakibatkan subjek mengambil nilai-nilai negatif sebagai pegangan dalam

hidupnya.




                                                                              84
I.B. Data Konseling Subjek Kedua

Nama: Edi Santoso

Usia: 15 tahun

Alamat: Desa Terik, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo

Agama: Islam

Ayah: Sopiyan

Ibu: Kujaimah

Pendidikan          : SMP

Jenis kelamin       : Laki-laki



I.B. 1. Hasil Assessment Psikologis

           Hasil Purpose in Life Test pada subjek kedua terlihat pada table berikut

ini. Hasil tes awal pada subjek ini lebih tinggi namun peningkatannya paling

sedikit.

                                  Tabel 12. Hasil Tes Awal

AspekTinggiSedangRendahJumlah                                               Jml
                                                                  nilai     max
 Makna hidup3,4,7,8,20-11,12,173856
Kepuasan hidup6,9-1,2,5,191842
Kebebasan hidup13,14,18--2121
Sikap terhadap kematian15--77
Pikiran tentang bunuh diri16--77
Kepantasan hidup--1017
Jumlah nilai tes awal92140




                                                                                85
                          Tabel 13. Hasil Tes PIL Akhir

AspekTinggiSedangRendahJumlah                                              Jml
                                                             nilai         max
 Makna hidup3,4,7,8,17,20-11,124256
Kepuasan hidup6,9,512,192742
Kebebasan hidup13,18-141521
Sikap terhadap kematian15--77
Pikiran tentang bunuh diri16--77
Kepantasan hidup--1017
Jumlah nilai tes akhir101140


       Peningkatan makna subjek berdasarkan hasil tes sebanyak 9 atau 8,9 %dari

hasil tes awal.Peningkatan terjadi pada aspek makna hidup dan kepuasan hidup,

namun pada aspek kebebasan hidup terjadi penurunan sebanyak enam poin. Hal

ini disebabkan subjek berdasarkan penuturannya merasa kebebasannya

terbelenggu di penjara dan menghalanginya mencapai cita-citanya.


I.B. 2. Hasil Wawancara

I.B.2.I. Tahap Konseling I

I.B.2.I.a.Aspek Pengenalan Diri

       Subjek diajak berdiskusi dengan menggunakan tema pengenalan diri.

Karena subjek sudah menunjukkan pengenalan diri dengan sikap positif yang

ditandai dengan kesukaannya terhadap namanya, konseling dilanjutkan dengan

tema yang merupakan kelanjutan pengenalan diri.

                                     Tabel 14

   KodeAspek Pengenalan DiriPenilaian
                                                                   sikap
   A.2.1Suka dengan namaku. Arti namaku bagus.Positif




                                                                             86
       Hasil konseling menunjukkan subjek memiliki sikap yang positif awal

yang baik dalam menghargai dan memahami diri menurut konsep Logoterapi,

Kemudian ditindak lanjuti untuk melihat sikap yang sebenarnya lewat konseling

dengan tema yang berikutnya..

I.B.2.I.b. Aspek keunikan manusia

       Subjek diajak diskusi dengan tema keunikan manusia, hasil yang didapat

   berdasarkan respon subjek yang diberikan selama konseling.

                                    Tabel 15

 KodeAspek keunikan diri sebagai manusiaPenilaian sikap
 B.2.1Nama untuk panggilan seseorang.Proses
                                                            perubahan cara
                                                            berpikir.
 B.2.2Binatang tidak memakai nama.Proses
                                                            perubahan cara
                                                            berpikir
 B.2.3Setuju dengan peneliti setiap manusia beda dengan     Proses
         yang lainnya.                                      perubahan cara
                                                            berpikir
 B.2.4Sifat baik bantu orang tua bekerja.Proses
                                                            perubahan cara
                                                            berpikir.
 B.2.5Sifat yang tidak disuka:mencuri, sombong,             Proses
          pendiam.                                          perubahan cara
                                                            berpikir.
 B.2.6Masuk penjara karena mencuri (subjek berbohong ,      Proses
        sebenarnya pemerkosaan dan pembunuhan)              perubahan cara
                                                            berpikir
 B.2.7Hukuman 7 tahun.Proses
                                                            perubahan cara
                                                            berpikir
 B.2.8Ada korban jiwa ketika berbuat kasus.Proses
                                                            perubahan cara
                                                            berpikir.
 B.2.9Korban perempuan muda, dibunuh tanpa senjata          Proses
         tajam.                                             perubahan cara
                                                            berpikir
 B.2.10Hewan dan binatang bedanya pada akal.Proses
                                                            perubahan cara



                                                                             87
                                                             berpikir
 B.2.11Tidak tahu kesamaan hewan dan manusiaProses
                                                          perubahan cara
                                                          berpikir
 B.2.12Ingin tahu sebenarnya perbedaan binatang dan       Proses
         manusia.                                         perubahan cara
                                                          berpikir
 B.2.13Setuju dengan peneliti bahwa manusia mulia         Positif sasaran
         karena bebas memilih dan bertanggung jawab.      konseling
         Cara mulia dengan meresapi kesalahan, belajar dantercapai.
         berpikir
 B.2.14Bung Tomo pahlawan SurabayaProses
                                                          perubahan cara
                                                          berpikir
 B.2.15Setuju manusia mulia karena berbuat baik, tidak    Positif, sasaran
         ikut-ikutan teman berbuat buruk                  konseling
                                                          tercapai.


       Subjek dinilai mengalami perubahan sikap yang positif terhadap cara

berpikir yang sesuai dengan konsep keunikan diri dalam Logoterapi yaitu sebagai

manusia yang mulia tidak bisa hanya sekedar ikut-ikutan teman, tetapi harus

membuat pilihan yang bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan sasaran

konseling Logoterapi yang ingin dicapai

I.B.2.I.c. Aspek Nilai-Nilai Hidup

       Aspek nilai hidup positif sangat penting bagi subjek untuk menemukan

makna hidupnya. Walaupun setiap manusia mengerti bahwa dia harus berbuat

baik, namun pada kenyataannya hal ini sering tidak dihayati dan diamalkan. Oleh

karenanya subjek banyak diajak berdiskusi untuk nilai hidup positif yang sangat

dibutuhkan agar subjek mampu berubah menjadi manusia yang bersikap mulia.

                                     Tabel 16

 KodeAspek nilai-nilai hidupPenilaian sikap
 C.2.1Kehidupan di penjara senang kalau di luar , jenuh      Proses konseling
        kalau dikunci di kamar.



                                                                              88
 C.2.2Baik itu bantu orang tua dan adikPositif
 C.2.3Nilai yang diajarkan orang tua:mandiri, ingat         Positif
         adik,bantu orang tua, tidak menyakiti hati orang
         tua, tidak mencuri,bekerja
 C.2.4Nilai dari sekolah:ibadah dan akhlak yang baikPositif
 C.2.5Saya pilih pekerjaan mulung daripada berbuat jahatPositif
 C.2.6Tukang sampah lebih mulia darpada malingPositif
 C.2.6Setuju jadi orang jahat itu rugi.Positif


       Penilaian terhadap nilai hidup ini positif berdasarkan jawaban subjek, tapi

untuk menilai apakah subjek benar-benar menjalaninya dalam kehidupan

diperlukan analisa lebih lanjut melalui tahap konseling berikutnya.

I.B. 2.II. Tahap Konseling II

I.B.2.II.d. Aspek Pengenalan Diri dan Analisa Nilai Hidup

       Pengenalan diri dilakukan melalui penulisan sejarah hidup dan rencana

hidup subjek penelitian yang kemudian dianalisa bersama antara subjek dengan

peneliti, untuk membangkitkan kesadaran subjek agar bertindak dengan fokus

masa depan dan secara bertanggung jawab. Di sini juga bisa dilihat bagaimana

subjek menerapkan nilai-nilai hidupnya di masa lalu dan bagaimana subjek harus

menerapkan sikap hidupnya di masa depan setelah melakukan penilaian terhadap

dirinya sendiri.

                                    Tabel 17

 KodeAspek pengenalan diri lewat analisa sejarah          Penilaian sikap
         hidup
 D.2.1Sejarah hidup dan rencana masa depanProses analisa
                                                          diri
 D.2.2Berhenti sekolah karena kemauan sendiriProses analisa
                                                          diri
 D.2.3Cerita kasus perkosaan dan pembunuhan yang          Proses analisa
         dilakukan dulu.                                  diri
 D.2.4Membunuh tidak sengaja dengan menutup mulut         Proses analisa
         korban.                                          diri



                                                                              89
D.2.5Melakukan kasus karena ada bisikanProses analisa
                                                           diri.
D.2.6Mengakui kalau sebenarnya berpikir ketika             Proses analisa
       berbuat kasus                                       diri
D.2.7Mengaku ada niat ketika berbuat kasusProses analisa
                                                           diri.
D.2.8Tidak mengucapkan bantahan.Proses analisa
                                                          diri
D.2.9Dapat ide melakukan kasus dari berita di koranProses analisa
                                                          diri
D.2.10Tidak tahu apa yang salah pada saat kejadian        Proses analisa
        kasus.                                            diri
D.2.11Mengaku sebenarnya berpikir ketika berbuatProses analisa
                                                          diri
D.2.12Untuk menghindari kesalahan seperti kasus harus     Positif, sasaran
        mengendalikan diri,menghayati kesalahan yang      konseling
        dilakukan                                         tercapai.
D.2.13Setuju kalau manusia untuk mengambil gadis          Positif sasaran
        harus menikah dulu dan bertanggung jawab.         konseling
                                                          tercapai
D.2.14Sering sendiri di rumahProses analisa
                                                          diri
D.2.15Berhenti sekolah tanpa alasan yang jelasProses analisa
                                                          diri
D.2.16Kesepian, kalau main sore sama teman.Proses analisa
                                                          diri
D.2.17Teman yang tidak sekolah hanya tiga, yang lain      Proses analisa
        sekolah                                           diri
D.2.18Selain main jalan ke alun-alunProses analisa
                                                          diri
D.2.19Jadi ingin berbuat asusila karena baca komik        Proses analisa
        teman dan dari kasus.                             diri
D.2.20Teman yang lain tidak berbuat karena                Proses analisa
        mengendalikan diri                                diri
D.2.21Menyadari kalau kesalahannya akibat pilihan         Positif sasaran
        perbuatannya sendiri dan akibatnya merugikan diri konseling
        sendiri                                           tercapai
D.2.22Setuju kalau nasib bisa berubah dengan              Positif sasaran
        memperbaiki diri                                  konseling
                                                          tercapai
D.2.23Ingin mondok untuk belajar Al Qur‘anProses analisa
                                                          diri
D.2.24Pengalaman beribadah yang menghasilkan              Proses analisa
        kelebihan bisa melihat kejadian yang akan datang. diri
D.2.25Kejadiannya terbuktiProses analisa




                                                                             90
                                                          diri
 D.2.26Ditolong orang waktu diganggu orang jahatProses analisa
                                                          diri
 D.2.27Mengerti kalau sebenarnya pondok bukan untuk       Positif sasaran
         belajar kesaktian tapi belajar kebaikan.         koseling tercapai
 D.2.28Setuju bahwa sholat untuk mencegah perbuatan       Positif sasaran
         keji dan akan berusaha supaya bisa seperti itu.  konseling
                                                          tercapai


       Proses konseling berdasarkan data di atas berhasil mencapai sasaran

dengan baik, karena subjek bersedia merubah sikapnya mengenai konsep

beribadah untuk melakukan kebaikan, bukan untuk kesaktian. Subjek juga mau

mengendalikan perilakunya dan menghayati kesalahannya. Hal ini sesuai dengan

konsep Logoterapi yang menempatkan manusia sebagai pengendali atas

perilakunya.

I.B. 2.III. Konseling Tahap III

I.B.2.III.e. Peranan Diri dalam Mencapai Tujuan Hidup

       Peranan diri dalam mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting

dalam mencapai tujuan hidup. Subjek dibimbing untuk merubah sikapnya agar

mandiri dalam bertanggung jawab terhadap kejadian yang akan terjadi di masa

depannya. Hal ini termasuk penting dalam konsep makna hidup menurut

Logoterapi.

                                  Tabel 18

 KodeAspek peranan diri dalam mencapai tujuanPenilaian sikap
 E.2.1Saya memiliki kelebihan pada kekuatan fisik dan     Positif.
         pikiran
 E.2.2 Niat mondok belajar Al Qur‘an dan agama anProses
                                                          menyadari
                                                          peranan diri.
 E.2.3Belajar untuk bekal di hari nanti.Proses
                                                          menyadari



                                                                          91
                                                         peranan diri.
E.2.4Berbuat baik pada orang tua contoh amal yang        Proses
        baik.                                            menyadari
                                                         peranan diri.
E.2.5Makanan haram membawa dosaProses
                                                         menyadari
                                                         peranan diri
E.2.6Jenis makanan haramProses
                                                         menyadari
                                                         peranan diri.
E.2.7Tidak tahu apa lagi yang haram.Proses
                                                          menyadari
                                                          peranan diri.
E.2.8Setuju dengan peneliti untuk menyayangi diri         Positif,ada
        sendiri dengan tidak berbuat salah dan makan yang perubahan sikap.
        haran karena yang menanggung diri sendiri
E.2.9Setuju kalau memenuhi kebutuhan baik diri            Positif ada
        maupun nafsu dengan cara yang halal. Mau pindah perubahan sikap.
        ke Maluku agar bisa mencapai cita-cita.
E.2.10Tidak terlalu senang karena itu rencana orang tua,  Positif, ada
        lebih ingin ke Jakarta. Tapi menyadari harus      perubahan sikap.
        menurut orang tua
E.2.11Menyadari kalau orang tua perhatian.Proses
                                                          menyadari diri
E.2.12Beribadah untuk langkah pertama mencapai cita-      Positif
        cita.                                             menyadari
                                                          peranan diri
E.2.13Tidak tahu apa yang dilakukan selain sholat untuk   Proses
        mendapat ketenangan jiwa pada manusia.            menyadari
                                                          peranan diri
E.2.14Pernah minum-minum sebelum masuk penjaraProses
                                                          menyadari
                                                          peranan diri
E.2.15Tahu tentang cerita orang yang bertobat dari ustad Proses
        di pondok.                                        menyadari
                                                          peranan diri
E.2.16Mengerti kalau bertobat itu butuh perjuangan dan    Positif
        akan dibalas karena perjuangan dihargai Allah.    menyadari
                                                          peranan diri
E.2.17Penghalang cita-cita karena masuk penjaraProses
                                                          menyadari
                                                          peranan diri
E.2.18Sementara di penjara sering konsultasi pada yang    Positif
        lebih tua, cari pengalaman.                       menyadari
                                                          peranan diri




                                                                         92
 E.2.19Masalah terbesar kalau pulang takut dendam dari     Proses
        keluarga korban, jadi berdoa biar selamat.         menyadari
                                                           peranan diri
 E.2.20Ortu menyuruh pindah dari rumah ke MalukuProses
                                                         menyadari
                                                         peranan diri
 E.2.21Menyadari pindah ke Maluku untuk masa depan.Positif
                                                         menyadari
                                                         peranan diri
 E.2.22Pilihan lain pindah ke JakartaProses
                                                         menyadari
                                                         peranan diri
 E.2.23Menyadari belum bisa mengatur diri jadi menurut   Positif
         pada orang tua                                  menyadari
                                                         peranan diri
 E.2.24Menyadari nanti tiba saatnya mandiri.Positif
                                                         menyadari
                                                         peranan diri


       Subjek dinilai berhasil merubah sikapnya sesuai dengan konsep memilih

tindakan yang bertanggung jawab sesuai dengan konsep kebebasan yang disertai

tanggung jawab yang dimiliki manusia dalam Logoterapi.

B. 2. IV.f. Konseling Tahap IV

f. Penyesuaian Diri terhadap Orang Lain

       Konsep penyesuaian diri dalam Logoterapi berdasarkan pada kemampuan

manusia untuk menyesuaikan diri antara hak dan kewajiban diri , dengan hak dan

kewajiban orang-orang yang berhubungan dengan dirinya, berdasarkan nilai-nilai

universal yang positif yang berlaku dalam pergaulan antara manusia. Data yang

didapat dinilai berdasarkan konsep ini.

                                    Tabel19

 KodeAspek Penyesuaian diri terhadap orang lainPenilaian sikap
 F.2.1Cara supaya cocok dengan orang lain dengan           Positif
        perilaku yang baik, perkataan dan perbuatan pas    penyesuaian diri
        dengan orang lain.                                 yang baik



                                                                          93
 F.2.2Setuju untuk membantu teman dengan                       Positif
         kelebihannya dengan musyawarah dan belajar            penyesuaian diri
         ngaji.                                                yang baik.
 F.2.3Setuju kerja yang ikhlas biar dapat pahala walau         Positif
         pekerjaannya ngepel                                   penyesuaian diri
                                                               yang baik..
 F.2.4Setuju dengan peneliti untuk bersabar dan bisa           Positif
         berubah nantinya.                                     penyesuaian diri
                                                               yang baik


       Berdasarkan paparan data di atas subjek dinilai sudah memiliki

penyesuaian diri yang relatif baik dengan orang di sekitarnya . Hal ini ditandai

dengan cara subjek untuk berperan aktif dalam berhubungan dengan orang lain di

kamarnya. Hal ini sesuai dengan konsep Logoterapi yang ada mengenai

kebermaknaan diri dalam hubungan antara diri sendiri dan orang lain.

B.2.IV.g. Penghargaan terhadap Diri Sendiri

       Penghargaan diri sendiri sangat penting berkaitan dengan kebebasan dalam

memilih tindakan dan kemampuan menyesuaikan diri dengan orang secara positif

sesuai dengan konsep Logoterapi. Di bawah ini terlihat data yang didapat dalam

konseling yang mendiskusikan pengahargaan terhadap diri sendiri.

                                    Tabel 20

   KodePenghargaan terhadap diri sendiriPenilaian
                                                                  sikap
   G.1.1Kelebihan diri:mau belajar, sopan, mau kerja.Positif


       Berdasarkan paparan di atas subjek sudah memiliki sikap yang positif

dalam penghargaan terhadap diri yang positif sesuai dengan konsep Logoterapi

bahwa manusia itu unik dan punya kelebihan sebagai makhluk yang mulia.




                                                                               94
      Sampai di sini konseling Logoterapi pada subjek kedua berakhir. Subjek

dinilai berhasil meningkatkan makna hidupnya secara positif. Tanda peningkatan

makna hidup ini yaitu: Subjek bisa menentukan tujuan hidupnya, bisa merancang

usaha untuk mencapainya, bersikap positif menghadapi masa depan dengan

kepercayaan bahwa dirinya mampu merubah masa depannya menjadi cerah,

penghargaan diri yang positif, subjek berusaha beribadah dan mengamalkan

perilaku yang baik, menghayati kesalahannya dan bertobat.

      Berdasarkan penuturan subjek mengenai masa lalunya, subjek merupakan

remaja yang tumbuh dalam keluarga petani di mana kedua orang tuanya sibuk

bekerja keras sepanjang hari. Subjek juga sudah mendapatkan penanaman nilai

moral yang cukup baik dari kedua orang tuanya. Namun subjek mengalami

konflik dalam kebutuhan seksual yang meningkat yang tidak dibarengi dengan

pendidikan seks yang bertanggung jawab. Subjek menyadari semua kesalahannya

adalah kegagalannya mengendalikan diri.

      Sebenarnya subjek memiliki nilai-nilai agama yang baik namun tidak

diamalkan pada masa lalunya, subjek cenderung tertarik pada praktek ibadah

dengan tujuan yang mengarah pada kekuatan paranormal tapi tidak pada

pengamalan dalam bentuk perilaku sehari-hari.




                                                                           95
I.C. Data Konseling Subjek Ketiga

Nama: Wijanarko

Usia: 17 tahun

Alamat: Puri Mojo Baru Blok A 22 I Mojokerto

Agama: Islam

Ayah: Mujiat

Ibu: Suhartin

Pendidikan       : SD

Jenis kelamin    : Laki-laki

I.C.1. Hasil Assessment Psikologis

 Hasil dari       Purpose in Life Test terhadap subjek kedua yang dilakukan di

awal dan akhir penelitian tertera dalam tabel di bawah ini. Subjek kedua

merupakan subjek yang memiliki nilai tes awal yang paling rendah, namun

mengalami peningkatan yang paling banyak dibandingkan subjek penelitian

lainnya.

                         Tabel 21. Hasil PIL Test Awal

AspekTinggiSedangRendahJumlahJml
                                                                           max
Makna hidup12,17113,4,7,8,202656
Kepuasan hidup6,921,5,192342
Kebebasan hidup13,14,6--1921
Sikap terhadap           --1527
kematian
Pikiran tentang bunuh    -16-57
diri
Kepantasan hidup--1017
Jumlah nilai tes awal76140




                                                                             96
                       Tabel 22. Hasil PIL Test Akhir

AspekTinggiSedangRendahJumlah                                                  Jml
                                                                   nilai       max
 Makna hidup3,4,8,11,12,17,2074656
Kepuasan hidup2,5,6,91193042
Kebebasan hidup13,14,181921
Sikap terhadap           1577
kematian
Pikiran tentang bunuh                                   117
diri
Kepantasan hidup1067
Jumlah nilai tes akhir108140

        Berdasarkan hasil di atas terlihat peningkatan makna hidup sebanyak 32

poin atau 43 %., namun pada item tentang bunuh diri terdapat angka yang tetap

rendah. Hal ini disebabkan subjek merasa teraniaya dimasukkan penjara. Menurut

subjek sebenarnya subjek tidak memperkosa korban, tetapi suka sama suka. Kasus

baru dilaporkan setahun setelah kejadian. Keluarga korban juga membeli saksi,

karena sebenarnya tidak ada yang saksi yang bisa membuktikan bahwa subjek

bersalah.   Selain itu penanaman nilai agama kurang sekali, terbukti dengan

pernyataan subjek yang merasa berbuat asusila itu tidak berdosa. Subjek juga baru

belajar mengaji di penjara, subjek mengaku sangat senang karena sudah khatam

iqra.

        Pendidikan subjek hanya sampai SD dan subjek bekerja sebagai kuli

sebelum masuk LP Anak. Subjek terlibat dalam pergaulan dengan anak-anak

jalanan. Subjek ikut-ikutan temannya main remi, minum minuman keras, goda

perempuan atau nonton film porno bersama teman-temannya.




                                                                              97
I.C.2. Pembahasan Hasil Wawancara Konseling

I.C.2.I.Tahap Konseling I

I.C.2.I.a.Aspek Pengenalan Diri

       Subjek diajak berdiskusi dengan menggunakan tema-tema diskusi yang

sudah ditetapkan sebelumnya. Hasil perubahan sikap dinilai dari respon kalimat

yang didapat dari subjek yang menggambarkan perubahan sikapnya.

                                    Tabel 23

 KodeAspek Pengenalan DiriPenilaian
                                                                sikap
 A.3.1Suka namanyaNegatif
 A.3.2Tidak tahu kenapa manusia punya namaProses
                                                                pengenalan
                                                                diri.
 A.3.3Tidak tahu guna nama untuk manusia Orang disukai          Proses
         orang lain bila karena baik                            pengenalan
                                                                diri
 A.3.4Orang disukai orang lain bila karena baikProses
                                                                pengenalan
                                                                diri.

       Penilaian sikap terhadap subjek menunjukkan subjek mengalami

perubahan sikap yang positif sesuai sikap yang sehat dalam menghargai dan

memahami diri menurut konsep Logoterapi.

I.C.2.I.b. Aspek keunikan manusia

       Subjek diajak diskusi dengan tema keunikan manusia, hasil yang didapat

berdasarkan respon subjek yang diberikan selama konseling. Aspek keunikan

manusia ini sangat penting untuk meningkatkan makna diri yang positif. Konsep

Logoterapi menyatakan bahwa manusia itu unik karena jiwanya yang bebas

memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.




                                                                            98
                                       Tabel 24

           Aspek keunikan diri sebagai manusiaPenilaian
  Kode                                                           sikap
          Manusia dan binatang sama-sama punya perasaanProses
   B.3.1                                                         perubahan
                                                                 cara berpikir
   B.3.2Beda manusia dan binatangProses
                                                                 perubahan
                                                                 cara berpikir
   B.3.3Setuju manusia diingat orang namanya baik , bila dia     Positif
          berbuat baik                                           manusia
                                                                 mulia karena
                                                                 perilakunya
                                                                 baik.
   B.3.4Saya menghamili orang, mau berubah jadi baik kalau       Positif ingin
          sudah bebas                                            memperbaiki
                                                                 diri
  Subjek dinilai mengalami perubahan sikap yang positif terhadap cara berpikir

  yang sesuai dengan konsep keunikan dirinya sebagai manusia yang mulia. Hal ini

  sesuai denga sasaran konseling Logoterapi.

  I.C.2.I.c. Aspek Nilai-Nilai Hidup

         Aspek nilai hidup positif sangat penting bagi subjek untuk menemukan

  makna hidupnya. Walaupun setiap manusia mengerti bahwa dia harus berbuat

  baik, namun pada kenyataannya hal ini sering tidak dihayati dan diamalkan. Oleh

  karenanya subjek banayak diajak berdiskusi untuk nilai hidup positif yang sangat

  dibutuhkan agar subjek mampu berubah menjadi manusia yang bersikap mulia.

                                       Tabel 25

KodeAspek nilai-nilai hidupPenilaian sikap
C.1.1Orang baik itu ya orang baikPositif namun konsep
                                                               nilai tidak jelas
C.1.2Setuju dengan kriteria orang baik dari penelitiPositif konsep nilai
                                                               sesuai dengan tujuan
                                                               konseling




                                                                                99
        Penilaian terhadap nilai hidup ini positif berdasarkan jawaban subjek, tapi

untuk menilai apakah subjek benar-benar menjalaninya dalam kehidupan

diperlukan analisa lebih lanjut melalui tahap konseling berikutnya. Disayangkan

subjek sulit dibangkitkan respon aktifnya, dan cenderung menerima secara pasif

nilai-nilai dari peneliti.

I.C.2.II. Tahap Konseling II

I.C.2.II.d. Aspek Pengenalan Diri dan Analisa Nilai Hidup

        Pengenalan diri melalui penulisan sejarah hidup dan rencana hidup subjek

penelitian yang kemudian dianalisa bersama antara subjek dengan peneliti, untuk

membangkitkan kesadaran subjek agar bertindak dengan fokus masa depan dan

secara bertanggung jawab.

                                    Tabel 26

 KodeAspek pengenalan diri lewat analisa sejarah hidupPenilaian
                                                                      sikap
 D.3.1Subjek menulis sejarah hidup dan rencana masa                   Proses
        depannya.                                                     analisa diri
 D.3.2Senang pada korban yang cantik.Proses
                                                                      analisa diri
 D.3.3Tiga kali berbuat asusila dengan korbanProses
                                                                      analisa diri
 D.3.4Korban sukarelaProses
                                                                      pengenalan
                                                                      diri
 D.3.5Yang lapor kasus ibu korbanProses
                                                                      pengenalan
                                                                      diri.
 D.3.6Mengakui kalau sebenarnya memaksa korbanPositif
                                                                      menyadari
                                                                      diri
 D.3.7Kerja sebagai kuliProses
                                                                      analisa diri
 D.3.8Penghasilan sebagai kuli 20.000.Proses
                                                                      analisa diri
 D.3.9Uang dipakai untuk minum, main, main kartuProses



                                                                              100
                                                                  analisa diri
 D.3.10Tidak punya konsep tentang orang baikNegatif
                                                                  konsep
                                                                  kosong
 D.3.11Keinginan asusila itu baik menurut KokoNegatif
                                                                  konsep nilai
                                                                  salah
 D.3.12Korban masih sekolahProses
                                                                  analisa diri
 D.3.13Supaya tidak berbuat seperti kasus dengan menghindar       Positif
        dan sabar                                                 menyadari
                                                                  kesalahan
                                                                  diri
 D.3.14 Baru tahu asusila dosa setelah di penjaraPositif
                                                                  merubah
                                                                  nilai
 D.3.15Dulu tahu perbuatan asusila dari menonton fillmProses
                                                                  analisa diri
 D.3.16Sering bergaul dengan anak jalananProses
                                                                  analisa diri
 D.3.17Lebih menurut ke teman daripada orang tua.Proses
                                                                  analisa diri
 D.3.18Mengerti seharusnya patuh pada orang tuaPositif
                                                                  merubah
                                                                  nilai
 D.3.19Orang tua sedih dan mengusahakan damai waktu terkena       Proses
        kasus.                                                    analisa diri

 D.3.20Merasa sedih karena membuat kasusPositif
                                                                 menyadari
                                                                 diri
 D.3.21Mengiyakan untuk melatih kepekaan perasaan agar tidak Positif
         merugikan orang lain                                    merubah
                                                                 sikap
       Proses konseling berdasarkan data di atas berhasil mencapai sasaran

dengan cukup baik, karena subjek bersedia nilai-nilai hidupnya yang kurang

bertanggung jawab yang menyebabkan subjek terjerumus dalam kasus asusila.




                                                                             101
I.C.2.III.e. Konseling tahap 3

e. Peranan Diri dalam Mencapai Tujuan Hidup

       Peranan diri dalam mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting

dalam mencapai tujuan hidup. Subjek dibimbing untuk merubah sikapnya agar

mandiri dalam bertanggung jawab terhadap kejadian yang akan terjadi di masa

depannya. Hal ini termasuk penting dalam konsep makna hidup menurut

Logoterapi.

                                  Tabel 27

   KodeAspek peranan diri dalam mencapai tujuanPenilaian
                                                               sikap
   E.3.1Modal mendapatkan perempuan dengan rayuan.Positif.
   E.3.2Keberhasilan rayuan hanya sebentar.Proses
                                                               menyadari
                                                               peranan diri.
   E.3.3Untuk dapat perempuan selamanya harus punya            Proses
           tanggung jawab, pekerjaan (setuju dengan peneliti). menyadari
                                                               peranan diri.
   E.3.4Merubah diri menjadi sabar, telaten dan bisa           Proses
           dipercaya agar berhasil dalam rencana masa depan.   menyadari
                                                               peranan diri.
   E.3.5Akan membantu orangProses
                                                               menyadari
                                                               peranan diri
   E.3.6Anak bungsu dari tiga bersaudaraProses
                                                               menyadari
                                                               peranan diri.
   E.3.7Setuju pada peneliti tentang berbakti pada orang       Proses
           tua.Dulu ngambek bila keinginan tidak dituruti      menyadari
           orang tua.                                          peranan diri.
   E.3.8Uang dari orang tua untuk main.Positif,ada
                                                               perubahan
                                                               sikap.
   E.3.9Akan pindah rumah karena takut korban traumaPositif ada
                                                               perubahan
                                                               sikap.
   E.3.10 Akan ikut kerja dengan kerabat dari ayahPositif, ada
                                                               perubahan
                                                               sikap.



                                                                           102
   E.3.11Akan tidak berbuat buruk lagi karena sayang orang    Positif ada
          tua.                                                perubahan
                                                              sikap
   E.3.12Tidak akan menggunakan uang untuk kegiatan           Positif ada
           yang negative                                      perubahan
                                                              sikap
   E.3.13Kelebihan diri bisa mengaji, fisik sehat, wajah      Positif
          ganteng, tinggi                                     menghargai
                                                              diri
   E.3.14Mau berhenti minum tapi merokok tidak nggak bisa     Positif mau
          berhenti.                                           berperan
                                                              untuk tujuan
   E.3.15Masalah terbesar ingin kerjaPositif
                                                              menetapkan
                                                              tujuan
   E.3.16Di penjara belajar mengendalikan diriPositif
                                                              merubah
                                                              sikap


       Subjek dinilai berhasil merubah sikapnya sesuai dengan konsep memilih

tindakan yang bertanggung jawab sesuai dengan konsep kebebasan yang disertai

tanggung jawab yang dimiliki manusia dalam konsep Logoterapi.

I.C.2.IV.f. Konseling Tahap IV

f. Penyesuaian Diri terhadap Orang Lain

       Konsep penyesuaian diri dalam Logoterapi berdasarkan pada kemampuan

manusia untuk menyesuaikan diri antara hak dan kewajiban diri , dengan hak dan

kewajiban orang-orang yang berhubungan dengan dirinya, berdasarkan nilai-nilai

universal yang positif yang berlaku dalam pergaulan antara manusia. Data yang

didapat dinilai berdasarkan konsep ini.

                                   Tabel 28

 KodeAspek Penyesuaian diri terhadap orang lainPenilaian sikap
 F.3.1Kalau jadi orang tua yang bertanggung jawab          Positif mengerti
         mendidik dan menafkahi anak.                      konsep hak dan
                                                           kewajiban.



                                                                         103
 F.3.2Supaya tidak ribut ,saling menolong dengan orang        Positif sikap
         lain (orang tua)                                     penyesuaian dirinya.
 F.3.3Setuju dengan peneliti untuk tidak melanggar hak        Positif sikap
         orang lain.                                          penyesuaian dirinya
 F.3.4Paling sayang sama ibuProses perubahan
                                                              sikap
 F.3.5Uang dari ibu untuk kegiatan negatif.Proses perubahan
                                                            sikap
 F.3.6Sahabat mencuri, pengangguran, main remi.Proses perubahan
                                                            sikap
 F.3.7Ada juga teman yang baikProses perubahan
                                                            sikap
 F.3.8Iya bisa berteman dengan orang yang baikPositif merasa
                                                            mampu memilih
 F.3.9Nanti kalau ikut dulur bapak cari teman baru yang     Positif pemilihan
         baik, sudah kapok                                  sikapnya
       Berdasarkan paparan data di atas subjek dinilai berhasil merubah sikapnya

dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya secara positif sesuai dengan

kosep Logoterapi. Hal ini ditandai dengan kemauan yang ditunjukkan subjek

untuk berperan aktif dalam berhubungan dengan orang lain secara asertif dengan

memilih pergaulan yang baik bila keluar dari LP. Hal ini sesuai dengan konsep

Logoterapi yang ada mengenai kebermaknaan diri dalam hubungan antara diri

sendiri dan orang lain.

I.C.2.IV.g. Penghargaan terhadap Diri Sendiri

       Penghargaan diri sendiri sangat penting berkaitan dengan kebebasan dalam

memilih tindakan dan lkemampuan menyesuaikan diri dengan orang secara positif

sesuaia dengan konsep Logoterapi. Di bawah ini terlihat data yang didapat dalam

konseling yang mendiskusikan pengahargaan terhadap diri sendiri.

                                   Tabel 29

 KodePenghargaan terhadap diri sendiriPenilaian sikap
G.3.1Tidak tahu kelebihan diriNegatif penghargaan
                                                            terhadap dirinya
 G.3.2Bertanya apa kelebihan dirinyaProses menghargai



                                                                           104
                                                            diri.
 G.3.3Saya punya kebaikan/kelebihanPositif menghargai
                                                            diri.
 G.3.4Setuju untukmenghargai diri dan kerja keras           Positif menghargai
         mencapai cita-cita                                 diri
 G.3.5Belajar di bimker, ingin bisa.Proses meningkatkan
                                                           harga diri
 G.3.6Setuju dengan peneliti untuk terus belajar kerja     Positif dalam
          setelah keluar dari LP                           memilih perilaku
 G.3.7Setuju untuk tidak memikirkan bunuh diri.Positif menghargai
                                                           diri
 G.3.8Bosan dan menyakitkan karena tugas ngepel.Proses memilih
                                                           tindakan.
 G.3.9Setuju dengan peneliti untuk sabar dengan tugas      Positif menghargai
          di LP.                                           jasa diri
 G.3.10. Kalau ikut pakde nanti kerja yang baik, tidak     Positif menghargai
          nakal, menghindar dari pergaulan buruk.          diri
 G.3.11Tidak menuruti teman yang menyuruh negativePositif menghargai
                                                           asertif
 G.3.12Tidak ikut teman yang buruk, kapok.Positif menghargai
                                                           diri
 G.3.13 Tidak akan melupakan pelajaran dari konselingSasaran konseling
 .                                                         tercapai


       Berdasarkan paparan di atas subjek dinilai mengalami perubahan sikap

dalam penghargaan terhadap diri yang positif sesuai dengan konsep Logoterapi

bahwa manusia itu unik dan punya kelebihan sebagai makhluk yang mulia. Subjek

bersikap asertif dalam menghadapi pengaruh teman yang buruk. Berdasarkan hasil

wawancara subjek berpendidikan SD dan kurang mendapatkan pendidikan agama

yang baik. Hal ini terungkap dengan penuturan subjek yang menyatakan

perbuatan asusila tidaklah berdosa dan subjek baru bisa mengaji setelah di LP.



II.Pembahasan Data Focus Group Discussion

       Focus Group Discussion digunakan untuk melihat kesesuaian datra dengan

fakta yang sesungguhnya dari data yang didapat selama konseling dan hasil PIL



                                                                          105
Test. Tema yang digunakan dalam diskusi disesuaikan dengan tema yang ada

pada PIL Test.

a. Aspek Makna Hidup

       Pada ketiga subjek terdapat perbedaan respon terhadap tema yang sama,

hal ini terlihat pada table di bawah ini.

                                      Tabel 30

 KodingAspek makna hidupPenilaian sikap
 A.1.1Hidup tidak mudah harus berjuangPositif sesuai
                                                               dengan konsep
                                                                Logoterapi
 A.1.2Sabar mencapai hasil.Positif sesuai
                                                              konsep
 A.1.3Hidup dinikmati, diambil hikmahnyaPositif sesuai
                                                              konsep.
 A.2.1Hidup ada senang ada susahPositif sesuai
                                                              konsep
 A.2.2Susah kalau lagi sakitNegatif dalam
                                                              bersikap
 A.2.3Merasa sendiriNegatif dalam
                                                              bersikap
 A.2.4Setuju dengan peneliti untuk tetap bersyukur dengan     Positif dalam
          apa yang ada                                        bersikap
 A.3.1Pendapat tentang hidup sama dengan EdiPositif dalam
                                                              bersikap
 A.3.2Kadang teman baik kadang menjengkelkanPositif sesuai
                                                               konsep
 A.3.3Teman yang paling tua di kamar yang ngajar ngajiPositif dalam
                                                               bersikap


       Dalam aspek makna hidup ketiga subjek memiliki sikap positif, namun

pada subjek kedua dan ketiga sikap positifnya belum maksimal. Pada subjek

pertama sikap positifnya sudah mendominasi dalam pernyataan pendapatnya.

Subjek kedua walaupun bersikap positif namun ada kecenderungan tidak mandiri




                                                                          106
dalam bersikap. Hal ini kurang baik dalam aspek kebebasan membuat pilihan

hidup.

b. Aspek Kepuasan Hidup

         Kepuasan hidup di dalam LP sebenarnya sulit untuk dirasakan oleh

manusia, namun menurut konsep Logoterapi seorang manusia harus mampu

menyikapi dengan positif seberat apapun kenyataan hidup yang dihadapinya.

Hasil respon pada table di bawah ini menunjukkan bagaimana subjek penelitian

memaknai pengalaman hidupnya di LP.

                                   Tabel 31

 KodingAspek kepuasan hidupPenilaian sikap
 B.1.1Keadaan di LP menyenangkanPositif sesuai
                                                                 konsep
 B.1.2Sadar kalau hidup menyenangkanPositif sesuai
                                                                konsep
 B.2.1Sering kesal daripada senangnya, ambil hikmahnyaPositif sesuai
                                                                dengan konsep
 B.2.2Ada masalah saya cari jalan damai untuk menghindari       Positif sesuai
           akibat buruk                                         konsep
 B.2.3Kala tidak disukai sipir hukuman bisa maksimumPositif
                                                                mengambil
                                                                pilihan
 B.3.1Kadang teman bikin senang bikin susahPositif sesuai
                                                                konsep
 B.2.4Menyelesaikan masalah dengan menghindari agresiPositif memilih
                                                                sikap
 B.2.5Mengalah kalau tidak ada jalan lain daripada              Positif memilih
           menimbulkan masalah yang lebih besar                 sikap
       Pada aspek kepuasan hidup, ketiga subjek dinilai sudah dapat mengambil

makna terhadap kehidupannya di penjara dengan relative baik, terutama pada

subjek pertama. Pada subjek kedua dan ketiga, kehidupan penjara terasa lebih

keras namun mereka mampu mengatasinya dengan pilihan sikap yang relative

baik sesuai dengan konsep Logoterapi.




                                                                            107
c. Aspek Tujuan Hidup

        Aspek berikutnya mengenai tujuan hidup, berkaitan dengan caranya

memandang tujuan hidupnya.

                                   Tabel 32

KodingAspek Tujuan HidupPenilaian
                                                                    sikap
C.1.1Mencapai tujuan hidup penuh tantangan. Tidak patah             Positif sesuai
         semangat. Apa yang ada harus disyukuri .                   konsep
C.2.1Tujuan hidup untuk mencari kesenangan, memohon                 Positif sesuai
         ampunan Allah, memperbaiki diri.                           konsep
C.3.1Sama dengan Edi. Dulu kasus karena ikut-ikutan teman.Positif
                                                                    merubah
C.3.2Berbuat kasus bersama temanPositif
                                                                    mnyadari diri
C.3.3Sering cerita kasus ke teman karena dimintaPositif
                                                                    mengambil
                                                                    makna
C.3.4      Selalu teringat kasus nggak nggak bisa lupaPositif
C.2.2                                                               mengambil
                                                                    makna
C.3.5Hanya tiga kali berbuat asusila karena bosanPositif
                                                                    mengambil
                                                                    makna
C.2.3Selalu ingat kasus untuk memperbaiki diri.Positif
                                                                    mengambil
                                                                    makna


        Subjek pertama memandang tujuan hidup dan masa depan dengan positif.

Pada subjek kedua dan ketiga memandang tujuan hidup dengan positif namun ada

kecenderungan terbelenggu dengan pengalaman masa lalunya . Positifnya subjek

kedua dan ketiga mengambil makna dari pengalaman masa lalunya.

d. Aspek Tanggung Jawab

        Aspek tanggung jawab akan mencegah terjadinya masalah dalam hidup

manusia. Karena jiwa manusia sudah tercipta dengan perasaan bersalah yang




                                                                           108
menimbulkan neurosis noogenik bila dia tidak bertanggung jawab secara positif

terhadap hidupnya.

                                   Tabel 33

 KodingAspek tanggung jawabPenilaian
                                                                     sikap
 D.1.1Kalau bertanggung jawab tidak kena resiko.Positif sesuai
                                                                     konsep
 D2.1Kalau tidak tanggung jawab pasti ketahuan.Positif sesuai
                                                                     konsep
 D.3.1Tanggung jawab pada keluarga.,pekerjaanPositif sesuai
                                                                     konsep
 D.3.2Setuju dengan peneliti : Tanggung jawab utama terhadap         Positif sesuai
          perilaku diri sendiri agar tidak kena masalah.             konsep


       Pada ketiga subjek penelitian konsep tanggung jawab yang mereka miliki

sudah baik. Diharapkan bisa bertahan sebagai sikap hidup mereka.

e. Aspek Sikap terhadap Kematian

       Sikap terhadap kematian menunjukkan sikap manusia yang berkaitan

dengan kesadaran keberadaan dirinya.

                                   Tabel 34

 KodingAspek sikap terhadap kematianPenilaian
                                                                     sikap
 E.1.1Kematian itu pasti.Positif
 E.2.1Nggak tahu.Tidak jelas
 E.3.1Nggak tahuTidak jelas
 E.3.2Pernah lihat orang tersiksa menjelang kematiannyaTidak jelas


       Subjek pertama memberikan respon sikap positif, sedangkan dua subjek

lainnya tidak jelas. Ini disebabkan tema tentang kematian memang tidak

dibicarakan ketika konseling secara mendalam. Hal ini menunjukkan konsep




                                                                             109
kematian tidak didapat dalam penanaman nilai yang dimiliki oleh subjek

penelitian kedua dan ketiga.

f. Aspek Sikap terhadap Pekerjaan

       Aspek sikap terhadap pengalaman hidup sehari-hari berarti bagaimana

cara memaknai hidup dalam pekerjaan sehari-hari.

                                    Tabel 35

 KodingAspek sikap terhadap pekerjaanPenilaian
                                                                    sikap
 F.1.1Senang dengan pekerjaan di LPPositif
 F.2.2Kurang senang dengan pekerjaan di LPNegatif
 F.3.1 Kurang senang dengan pekerjaan di LPNegatif
 F.2.2Tugas rutin sehari-hari.Proses diskusi
 F.2.3     Ngisi air di kamar pakai selangProses diskusi
 dan
 F.3.2
 F.3.3Di kamar bekerja bersama-sama dengan temanProses diskusi
 F.2.4Yang mimpin kerja bersama Abdul Falak.Proses diskusi


       Subjek pertama bersikap positif dalam memaknai hidup terhadap

pengalaman sehari-hari. Namun pada subjek kedua dan ketiga mengalami

kesulitan bersikap positif disebabkan pekerjaan yang mereka kerjakan di LP

dalam pandangan mereka merupakan pekerjaan yang rendah.



g. Sikap terhadap kebebasan

       Sikap ketiga subjek terhadap kebebasan memperlihatkan sikap mereka

terhadap keunikannya sebagai manusia. Kesadaran akan kebebasan ini yang

menentukan kemandirian seoramg manusia dalam membuat keputusan hidupnya.

Respon subjek penelitian memperlihatkan sikap mereka terhadap kebebasan.




                                                                             110
                                    Tabel 36

 KodingAspek sikap terhadap KebebasanPenilaian
                                                                     sikap
 G.1.1Kebebasan dalam hidup harus yang baik.Positif
 G.2.1Kebebasan tanpa tekanan batin, ingat pada Tuhan biar           Positif
         selamat.
 G.3.1Pendapat tentang kebebasan sama dengan Edi.Positif


         Ketiga subjek memperlihatkan sikap positif berkaitan dengan kebebasan.

Diharapkan hal ini akan mencegah mereka berperilaku yang kurang bertanggung

jawab.

         Berdasarkan pengecekan data di atas, hasil konseling tidak berbeda jauh

dengan pengecekan datanya. Sikap yang sulit diubah pada subjek adalah pada

aspek kepuasan hidup. Pada aspek yang lain tidak terdapat perbedaan jauh antara

hasil tes, hasil wawancara dan pengecekan data.




                                                                               111
C. PERTIMBANGAN HASIL PENELITIAN

1. Proses Konseling Logoterapi pada Warga Binaan LP Anak Blitar

       Berdasarkan hasil penelitian proses konseling logoterapi pada subjek

penelitian berlangsung dengan baik dengan memperhatikan karakteristik

individual dari subjek penelitian. Proses konseling pada narapidana remaja

dilakukan dengan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menggugah

kesadaran mereka untuk mengambil sikap yang positif dalam menghadapi

kehidupannya di penjara, memaknai pengalaman yang terjadi pada saat berbuat

kasus agar dapat menjauhkan dari gejala. Sesuai dengan apa yang dituliskan Fabri

(1980) mengenai metode Logoterapi, berdasarkan penelitian maka proses

konseling telah memasukkan langkah-langkah sebagai berikut:

     1. Menolong pasien memisahkan diri dari gejala

        Hal ini dilakukan peneliti dengan melakukan analisa terhadap perjalanan

       hidup subjek terutama pada kasus yang menyebabkannya masuk ke LP

       Anak. Berdasarkan respon yang diperlihatkan dari pernyataan subjek, cara

       ini sangat membantu subjek penelitian memisahkan diri dari gejala

       perilaku salah yang dilakukan karena pemakaian nilai negative yang

       mendasari perilaku mereka. Analisa ini membantu mereka mengenali

       dirinya yang terjebak pada kesalahan mengambil sikap yang tidak

       bertanggung jawab. Diharapkan mereka tidak lagi mengambil sikap yang

       salah dengan memaknai kejadian ini berdasarkan konsep Logoterapi yang

       memakai nilai yang positif. Subjek pada awal mulanya kebanyakan

       mengambil sikap membela diri terhadap perilaku mereka dengan




                                                                             112
 menyalahkan factor luar dirinya seperti pengaruh teman, konflik orang tua,

 dan sebagainya. Di akhir tahapan ini subjek berhasil merubah sikapnya

 dengan menyadari bahwa kesalahan utama mereka adalah tanggung jawab

 mereka pribadi akibat memilih tindakan yang salah.

2. Memodifikasi sikap

   Hal ini dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan peneliti

 yang menggugah kesadarannya sebagai manusia yang unik yang memiliki

 potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Subjek merespon dengan

 perubahan sikap yang positif. Misalnya pada subjek pertama, pemikiran

 bahwa dia mampu menjadikan dirinya mulia sangat membantunya keluar

 dari belenggu pandangan negative terhadap dirinya sendiri yang tidak

 pantas untuk disebut orang baik. Subjek menjadi bersikap positif terhadap

 dirinya dan kemampuannya merubah nasibnya di masa depan.

3. Propilaxis

   Teknik ini dilakukan pada tema konseling peranan diri dalam mencapai

 tujuan hidup. Dalam tahapan ini subjek merubah sikapnya agar mampu

 dan memiliki ketahanan sikap yang positif dalam menuju masa depannya.

 Semua subjek penelitian menunjukkan sikap yang positif dengan

 menunjukkan sikap untuk berperan aktif dalam pencapaian tujuan

 hidupnya dengan mempertimbangkan kemampuan dirinya secara realistis.

4. Memisahkan diri dari gejala

   Hal ini dilakukan dengan membahas perilaku sehari-hari yang negative

 seperti bergaul dengan teman yang membawa pengaruh buruk, melakukan




                                                                     113
       perilaku negative seperti merokok, minum minuman keras, penggunaan

       uang untuk kegiatan negative. Misalnya pada subjek pertama berdasarkan

       penuturannya berhasil mengurangi perilaku merokok dan bertekad

       menghilangkannya sama sekali, sedang pada subjek kedua dan ketiga

       setuju untuk tidak minum minuman keras lagi.

Semua hal di atas memperlihatkan penerapan proses konseling pada warga binaan

LP Anak Malang. Peneliti menyadari peneliti terlupa memasukkan aspek sikap

terhadap kematioan dan bunuh diri ke dalam proses konseling. Peneliti kemudian

menyadari bahwa hal ini sangat penting bagi subjek penelitian , terutama pada

subjek kedua dan ketiga.

       Proses konseling pada subjek pertama berjalan lebih lancar, hal ini

disebabkan subjek seorang perempuan dan memiliki hubungan yang lebih baik

dengan peneliti dikarenakan sudah lebih dulu dan lama mengenal subjek waktu

PKL. Pada subjek kedua dan ketiga peneliti harus membina hubungan dari awal

sekali, mereka juga mengalami perlakuan yang lebih keras dari lingkungan di

kamar dan penjara yang penuh dengan kekerasan hidup yang menyebabkannya

lebih sulit merubah sikap kea rah positif. Pertimbangan kasus juga berpengaruh

besar pada keberhasilan proses konseling, semakin berat kasus menimbulkan

perasaan bersalah dalam diri subjek, semakin berat dia bisa memaknai hidupnya

secara positif. Walaupun demikian peningkatan makna yang dicapai subjek patut

disyukuri oleh peneliti.

       Berdasarkan penanaman nilai moral yang dipaparkan Sakdiah (2005), bisa

dilihat pengaruh penanaman nilai moral sangat mempengaruhi kemampuan subjek




                                                                             114
merubah sikapnya. Misalnya saja pada subjek kedua nilai ibadah disalah artikan

kepada kemampuan luar biasa seperti mampu melihat hal gaib, hal ini

menyebabkan subjek gagal menjalankan agama dengan benar karena terpaku pada

sikap yang salah mengenai ibadah. Kesalahan nilai ini tidak dapat diperbaiki

dalam waktu yang tersedia selama penelitian. Diperlukan perombakan sistim nilai

yang memerlukan waktu lama. Penanaman nilai yang didapat dari lingkungan

pergaulan teman sebaya yang buruk juga terbukti mengakibatkan sikap yang salah

dalam berperilaku pada subjek penelitian.

2. Pengaruh Konseling Logoterapi terhadap Peningkatan Makna Hidup

       Konseling Logoterapi yang dilaksanakan pada penelitian ini berhasil

meningkatkan makna hidup subjek penelitian. Berdasarkan hasil tes pada subjek

pertama peningkatan makna hidup 37,4 % dan subjek ketiga peningkatannya

sebanyak sekitar 43%, namun pada subjek ketiga hanya sekitar 8.9 %. Konseling

Logoterapi berhasil meningkatkan makna hidup karena kemampuanya

meningkatkan kekuatan kesadaran dalam jiwa untuk mengambil kendali terhadap

hidup yang dijalaninya dengan bersikap positif. Hal ini sesuai dengan model

kepribadian sehat berdasarkan konsep Logoterapi menurut Victor Frankl.

a. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek pertama

       Proses konseling berdasarkan analisa naratif terhadap pernyataan subjek

pada konseling dan focus grup discussion di atas berhasil mencapai sasaran

dengan cukup baik, karena subjek bersedia merubah nilai-nilai hidupnya yang

kurang bertanggung jawab yang menyebabkan subjek terjerumus dalam kasus

asusila. Hal ini dapat dilihat pada kalimat berkode G.1.13 pada konseling , juga




                                                                              115
pada focus group discussion yang berkode C.1.1 di mana berpendapat tujuan

hidup itu untuk diperjuangkan dan tidak patah semangat.

       Proses konseling pada subjek pertama berjalan lebih lancar, hal ini

disebabkan subjek seorang perempuan dan memiliki hubungan yang lebih baik

dengan peneliti dikarenakan sudah lebih dulu dan lama mengenal mengenal

peneliti waktu PKLI pada bulan Agustus 2007.

       Proses konseling pada subjek kedua dan ketiga berjalan kaku pada

awalnya karena peneliti harus membina rapport dari awal sekali, mereka juga

mengalami perlakuan yang lebih keras dari lingkungan di kamar dan penjara yang

penuh dengan kekerasan hidup yang menyebabkannya lebih sulit merubah sikap

ke arah positif. Pertimbangan kasus juga berpengaruh besar pada keberhasilan

proses konseling, semakin berat kasus menimbulkan perasaan bersalah dalam diri

subjek, semakin berat dia bisa memaknai hidupnya secara positif. Walaupun

demikian peningkatan makna yang dicapai subjek patut disyukuri oleh peneliti.

       Berdasarkan proses perkembanganan tingkah laku moral yang dipaparkan

Sakdiah (2005), bisa dilihat pengaruh proses coba salah yang dilakukan subjek

penelitian ketika berbuat kasus. Semua terjadi karena kurangnya bimbingan orang

tua. Pada subjek kedua nilai ibadah yang melaui proses pengajaran disalahartikan

akan menghasilkan kemampuan luar biasa seperti mampu melihat hal gaib pada

kalimat berkode D.2.23 pada data konseling, hal ini menyebabkan subjek gagal

menjalankan agama dengan benar karena terpaku pada sikap yang salah mengenai

ibadah. Kesalahan nilai ini tidak dapat diperbaiki dalam waktu yang tersedia

selama penelitian.




                                                                               116
2. Pengaruh Konseling Logoterapi terhadap Peningkatan Makna Hidup

a. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Pertama

       Berdasarkan hasil PIL Test subjek pertama mengalami peningkatan hasil

tes sebanyak 37,4 %. Pada aspek makna hidup meningkat 6 poin atau secara

kualitatif meningkat positif. Hal ini juga terbukti dari data konseling berkode

B.1.5 yang menyatakan subjek dirinya setuju bahwa ia manusia yang

mulia.tempat yang penuh dengan penderitaan. Pada aspek kepuasan hidup

meningkat 4 poin di mana subjek merubah sikapnya terhadap pekerjaan sehari-

hari di LP sebagai suatu kehormatan karean dipercaya, daripada dulu yang

dipandangnya membuatnya lelah dan bingung. Subjek juga bisa mensyukurinya

karena merasa disayang oleh ibu-ibu Binadik. Semua ini hasil dari konseling

mengenai penyesuaian diri dengan orang lain.

       Sedang berdasarkan pembahasan data konseling perubahan sikap positif

terlihat pada pernyataan subjek dengan kode D.1.12 bahwa subjek setuju untuk

mengambil hikmah dan menikmati hidup.

       Pada aspek kebebasan hidup subjek mengalami peningkatan nilai

sebanyak 10 poin karena subjek merasa dia sekarang bisa membuat pilihan-

pilihan untuk masa depannya dan bisa memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang

berguna bagi masa depannya walau masih berada di dalam penjara.

       Sedang berdasarkan pembahasan konseling perubahan sikap subjek pada

aspek di atas terlihat pada kalimat berkode B.1.8 yaitu subjek menyimpulkan dari

pembicaraan dengan peneliti bahwa subjek mampu menjadi mulia pada masa

depan. Dahulunya subjek merasa tanpa masa depan. Setelah konseling dengan




                                                                                  117
tema peranan diri mencapai tujuan subjek merubah sikap menjadi positif pada

kebebasan hidupnya.

       Aspek sikap terhadap kematian dan bunuh diri mencapai nilai maksimal

pada akhir konseling, karena subjek merasa mampu menjadi orang baik di akhir

hidupnya dan percaya pada kasih sayang Tuhan melalui konseling pengenalan diri

sebagai manusia yang mulia.

       Aspek sikap terhadap kepantasan hidup subjek mengalami penurunan

sebanyak 6 poin karena subjek menyadari kesalahan yang dilakukannya

sebenarnya akibat pilihannya sendiri dan ada rasa malu menyandang status

sebagai narapidana. Sebelumnya rasa bersalahnya ditimpakan pada kesalahan

orang tua dan pacarnya hal ini dapat dilihat pada kalimat berkode D.1.3 dan

D.1.2. Subjek bahkan mencoba menutupi bahwa niatnya memang untuk

menggelapkan sepeda mantannya dengan mengatakan hanya ingin pinjam. Setelah

melalui konseling subjek mengakui bahwa di dalam dirinya ada iri dan dendam

yang membuatnya memilih tindakan yang salah dan mengakui semua itu murni

kesalahannya memilih tindakan. Hal ini terdapat pada kalimat dengan kode D.1.4.

       Subjek mengakui bahwa orang tuanya bukanlah contoh yang baik, dan

tidak akan meniru cara hidup mereka yang kurang bertanggung jawab terhadap

subjek pada kalimat berkode G.1.6.

        Kasus yang terjadi pada subjek menurut peneliti berdasarkan Santrock

(1995:41) yang menyatakan kendali atas perilaku remaja dicapai melalui reaksi-

reaksi orang dewasa yang tepat terhadap keinginan remaja. Di sini kurang

perhatian dari orang tua di mana ibu sering keluar rumah dan selingkuh pada




                                                                           118
kalimat dengan kode G.1.5 dan ayah juga sering tidak pulang dan selingkuh pada

kalimat berkode A.2.2 positif menyebabkan subjek tidak belajar melakukan

kendali diri dengan baik. Subjek memandang kekayaan orang lain dengan rasa iri

pada kalimat berkode D.1.4.

       Apa yang terjadi pada subjek memperlihatkan bahwa subjek melakukan

perilaku coba salah dalam proses perkembangan tingkah laku moralnya

sebagaimana yang dinyatakan oleh Sakdiah (2005) di mana tingkah laku tanpa

kontrol orang tua untuk mendapatkan standar memiliki motor seperti teman-

temannya membuat subjek menggelapkan motor mantan pacarnya.

       Keberhasilan subjek meningkatkan makna hidupnya karena subjek

memiliki pengenalan diri sebagai manusia yang unik dan mulia sehingga

menghargai diri dengan memaknai hidup dengan positif pada konseling analisa

nilai diri . Sebagaimana Lukas (1985) menyatakan bahwa sikap positif terhadap

diri akan membuat manusia mampu menyikapi diri dan hidupnya dengan positif.

Hal ini termasuk juga memaknai pengalaman hidup secara jujur.

       Subjek juga menanggalkan topeng (Fabry !980) yaitu memperlihatkan

kejujuran dalam memandang dirinya dan orang lain seperti pada kalimat dengan

kode G.1.1 di mana subjek menyatakan tidak bertopeng lagi, menerima apa

adanya, tidak iri, merasa dihargai karena dipercaya orang dan seterusnya.. Sikap

ini sangat penting agar subjek bisa menilai diri dengan nilai-nilai kejujuran yang

akan membebaskan subjek dari konflik di dalam diri. Semakin subjek menerima

dirinya dan berusaha memanfaatkan dirinya untuk masa depannya dengan mandiri

maka makna hidupnya akan meningkat




                                                                              119
b. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Kedua

       Peningkatan nilai makna hidup pada subjek kedua sebesar 8,9 %.

Peningkatan pada aspek makna hidup sebesar 4 poin. Nilai akhir sudah tinggi

karena dari awal nilai subjek untuk aspek ini sudah lebih tinggi dari subjek

lainnya karena nilai-nilai agama subjek yang kuat, hal ini karena subjek memiliki

pengetahuan agama yang baik. Dia bersekolah di madrasah ibtidaiyah dan pandai

mengaji ketika diminta membaca Al Qur‘an oleh peneliti. Hal ini terungkap pada

kalimat berkode C.2.4 di mana subjek bercerita waktu kecil bersekolah di

madrasah.

       Peningkatan aspek kepuasan hidup mencapai 9 poin karena subjek

memandang hidupnya di LP sebagai tempat menimba pelajaran hidup, tidak

sekedar sebagai tempat hukuman. Semua ini terjadi setelah subjek mengikuti

konseling pada tahap penyesuaian diri dan peranan diri mencapai tujuan.Subjek

mengisi hari-harinya dengan sholat berjamaah di kamar bersama teman-temannya,

hal ini dapat dilihat pada kalimat berkode D.2.28 dan E.2.18..

       Pada aspek kebebasan hidup mengalami penurunan sebanyak 6 poin

karena subjek menyadari dirinya belum cukup bijaksana untuk mandiri membuat

pilihan hidup sehingga akan menurut pada pilihan orang tuanya. Hal ini terungkap

pada tahap konseling yang terakhir sikap terhadap kematian dan bunuh diri subjek

mencapai nilai maksimal pada awal dan akhir tes yang tentunya terjadi karena

dasar agama subjek yang kuat dapat dilihat pada kalimat berkode C.2.4.

       Pada aspek kepantasan hidup mengalami penurunan karena subjek setelah

melakukan tahap analisa diri menjadi sadar bahwa dia melakukan kasus bukan




                                                                               120
sekedar dorongan nafsu tapi karena keputusannya memilih tindakan yang salah

karena pengaruh bacaan komik porno. Ketidak mampuannya mengendalikan diri

ini sangat disesali subjek terlihat dari kata-kata subjek mengenai meresapi

kesalahan diri untuk memperbaiki diri yang diungkapkan subjek dalam beberapa

kali pertemuan konseling dapat dilihat pada kalimat berkode D.2.11 ; D.2.20 dan

C.2.2 pada focus group discussion.

       Subjek memiliki nilai dasar yang kuat namun karena pengaruh pergaulan

dan kurangnya perhatian orang tua subjek sampai membuat kasus perkosaan

disertai pembunuhan. Subjek merasa ibadah sebagai jalan untuk menebus

kesalahannya itu. Terungkap pada rencana yang ingin dilakukan subjek selepas

penjara, yaitu ingin mondok terlihat pada D.2.21.

       Peningkatan nilai PIL Test subjek memang rendah, namun nilai subjek

sudah berada di atas 100 yang berarti sudah baik. Subjek sulit meningkatkan

makna hidupnya karena rasa bersalah atas tindakannya pada korban yang

merupakan tetangga dan teman baiknya terungkap pada D.2.3 pada data

konseling.

c. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Ketiga

       Peningkatan makna hidup pada subjek ketiga berdasarkan hasil PIL Test

sebesar 43 %. Pada aspek makna hidup terjadi peningkatan sebesar 20 poin. Hal

ini karena subjek berangkat dari nilai yang kosong terbukti ketika ditanya tentang

apa itu orang baik subjek tidak bisa menjawab pada kalimat berkode D.3.10 pada

data konseling. Demikian pula pengakuan subjek yang baru tahu perbuatan asusila




                                                                              121
itu dosa setelah di LP Anak Blitar memperkuat bukti kekosongan nilai agama

pada kalimat berkode D.3.14.

        Karakter subjek lugu dan mudah dipengaruhi membuat subjek mudah

merubah sikapnya menjadi positif tampak pada kalimat berkode A.3.1 ; 7.3.1 pada

focus group discussion dan pada data konseling dalam kalimat berkode A.3.2 dan

D.3.17. Namun setelah analisa diri subjek menyadari kalau dia harus asertif

terhadap pengaruh buruk dari teman—temannya di masa datang tampak pada

kalimat berkode G.3.12 pada data konseling .

       Pada aspek kepuasan hidup terdapat peningkatan nilai sebesar 7 poin. Hal

ini menunjukkan subjek merubah sikap terhadap kehidupan di penjara yang

membosankan menjadi tempat belajar kerja terutama di Bimker pada kalimat

berkode G.3.5. Subjek juga menerima pendapat peneliti untuk merubah

pandangannya mengenai tugas mengepelnya sebagai latihan kerja untuk menjadi

sabar di kalimat berkode G.3.9.

       Pada aspek kebebasan hidup nilai subjek tidak berubah. Subjek mengakui

dia akan menurut pada orang tuanya dan menjauhi temannya yang buruk setelah

keluar dari penjara dapat dilihat pada kalimat berkode G.3.10 pada data konseling.

Namun subjek belajar bersikap asertif di penjara dan akan berusaha begitu setelah

keluar dari penjara karena dia sudah jera.

       Sikap terhadap kematian nilainya meningkat sebanyak 5 poin dibarengi

pengertian baru yag didapat subjek mengenai bertobat dari percakapan konseling

pada tahap pengenalan diri pada kalimat berkode A.3.4 mengenai Umar sahabat

Nabi yang bertobat .




                                                                              122
       Sikap terhadap bunuh diri menurun, karena subjek tidak mengerti nilai

agama tentang hal tersebut. Subjek memiliki pendidikan samapi SD dan

pengetahuan agamanya sangat minim. Konseling yang dilaksanakan peneliti juga

tidakl memasukkan tema ini ke dalam tahapamn konseling, dan baru peneliti

masukkan setelah melihat hasil tes akhir subjek ketiga. Jawaban subjek ketika

membahas hal tersebut pada focus group discussion adakah tidak tahu.

       Sikap terhadap kepantasan hidup pada subjek meningkat 5 poin, karena

subjek memiliki harapan untuk merubah keadaan dan pindah dari rumahnya yang

lama bila subjek keluar dari LP. Kesadaran bahwa subjek bisa merubah masa

depannya menjadi cerah tumbuh setelah subjek mengikuti konseling peranan diri

dalam mencapai tujuan hidup.

e. Pertimbangan terhadap Peningkatan Makna Hidup pada Subjek

Penelitian

       Ketiga subjek penelitian sama-sama mengalami peningkatan makna,

peningkatan pada subjek pertama menggembirakan karena subjek memiliki

rapport yang baik dengan peneliti dan bersikap terbuak dalam konseling. Subjek

kedua mengalami sedikit peningkatan makna hidup karena memang nilai awalnya

sudah lebih tinggi dari subjek lainnya dan tumbuhnya kesadaran yang lebih

mendalam dalam meresapi kesalahannya setelah analisa diri saat konseling.

       Subjek ketiga mengalami peningkatan yang paling tinggi karena

pembawaan subjek yang penurut dan menerima penanaman nilai dari peneliti

tanpa ragu. Hal ini membantu subjek meningkatkan makna hidupnya lebih tinggi

dari subjek lain.




                                                                          123
       Nilai ketiga subjek pada akhir konseling berkisar pada angka di atas 100

menunjukkan sebagai nilai makna hidup yang tinggi dibandingkan nilai maksimal

yang mencapai 140. Hasil focus group discussion juga mendukung hasil tes dan

konseling. Terutama sangat terlihat dari penuturan subjek pertama mengenai

hidupnya yang kini dirasa membahagiakan walaupun di dalam penjara. Sedang

bagi subjek kedua dan ketiga, focus group discussion malah menjadi tempat

mencurahkan oerasaan hati mengenai pengalaman hidupnya yang penuh dengan

agresifitas di dalam penjara. Tidak maksimalnya konseling pada subjek kedua dan

ketiga karena rapport yang baik baru terbina setelah pertemuan kedua

berlangsung.



       Pada subjek pertama peningkatan makna hidupnya sebesar 36 % dengan

perincian kenaikan sebesar 6 poin pada aspek makna hidup disebabkan subjek

berhasil merubah sikapnya yang tadinya sering menangisi nasibnya, menjadi

mensyukuri kehidupannya di penjara. Hal ini bisa dilihat pada penuturan subjek

dalam diskusi di akhir penelitian dengan pernyataan subjek yang merasa di LP

sebagai wadah untuk belajar dan menikmati perhatian yang diberikan ibu-ibu

Binadik kepadanya. Alasan yang sama juga mendasari perubahan sikap terhadap

aspek kepuasan hidup sebanya 4 poin.

       Pada aspek kebebasan hidup peningkatannya sebesar 10 poin dikarenakan

subjek tidak memandang terkurung di penjara mengurangi kebebasannya dalam

menetukan pilihan hidup. Subjek menerima keadaannya dan mengambil hikmah..

Sikap terhadap kematian meningkat sebanyak 6 poin karena subjek meyakini




                                                                           124
kasih sayang tuhan dan yakin akan berhasil menjadi orang baik. Namun pada

sikap terhadap kepantasan hidup subjek mengalami penurunan sebagai hasil

analisa nilai diri di mana subjek kini menyadari terjadinya kasus karena

pilihannya sendiri. Subjek menyesali dan tidak menyalahkan faktor luar sebagai

penyebabnya.

               Konseling Logoterapi meningkatkan makna hidup pada subjek

penelitian yang merupakan narapidana dengan membuatnya tidak menimpakan

kesalahan pada factor    di luar dirinya dengan analisa sejarah hidupnya. Perasaan

bersalah ini diarahkan untuk membangun sikap yang positif pada masa depannya.

Bahwa walaupun mereka sudah melakukan kesalahan, potensinya sebagai

manusia yang mulia masih ada dan bisa digunakan untuk meningkatkan makna

hidupnya.

       Karakteristik konseling Logoterapi menurut HD Bastaman berorientasi

pada masa depan diwujudkan dalam penelitian ini dalam propilaxis dan orientasi

makna hidupnya dijabarkan dalam membuat makna yang positif pada kenyataan

hidup yang dialami selama di penjara sebagai pelajaran yang bermanfaat untuk

masa depannya, bukan sebagai hukuman.

       Peneliti menemukan bahwa factor yang paling perlu diberikan pada subjek

pertama adalah penghargaan terhadap dirinya. Karena pada saat pertama subjek

memandang negatif terhadap dirinya yang menyandang status sebagai narapidana

yang membuat subjek memandangnya sebagai ketidak pantasan dalam hidupnya.

       Menurut subjek ayah dan ibu subjek bukanlah teladan yang baik, namun

subjek sebenarnya memiliki nilai-nilai yang memadai karena di luar kedua orang




                                                                           125
tuanya ada bude yang mengajarkan nilai-nilai yang baik. Pergaulan dengan teman

sebayalah yang menyebabkan subjek berperilaku salah karena nilai-nilai

negatifnya yang dipelajari dari teman-temannya.

       Nilai-nilai baik ini teringat oleh subjek setelah melaui analisa nilai diri

lewat pembahasan kasus ketika konseling. Subjek juga sangat menghargai

konseling dan mengikuti dengan baik karena hubungan antara subjek dengan

peneliti sudah berlangsung lebih dahulu yaitu pada saat PKLI.

b. Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Kedua

       Peningkatan subjek sebanyak 8,9 % dari nilai aewal hasi tes PIL.

Peningkatan pada makna hidup sebesar 4 poin. Hal ini disebabkan subjek bisa

memaknai hidup dengan positif dengan nilai-nilai agama yang terbangkitkan

dalam konseling. Yaitu dengan membicarakan sahabt Umar yang berhasil

memperbaiki diri setelah perilaku salahnya sebelum masuk Islam. Nilai agama

sangat mudajh diingat subjek karena dasar pendidikan subjek dari Madrasah.

       Pada aspek kepuasan hidup subjek mengalami peningkatan sebanyak 9

poin. Hal ini didukung sikap baru dai subjek yang menganggap di LP sebenarnya

hanyalah sebagian kecil dari perjalanan hidup yang ingin diraihnya sebanyak 107

tahu, dan subjek merasa bisa beribadah menebus dosa-dosanya, meresapi

kesalahannya yang telah membunuh korban yang sebenarnya teman baiknya.

Subjek rela di penjara dan meresapi kesalahannya. Topik ibadah sangat sering

muncul dalam pembicaraan konseling dengan subjek.

       Pada aspek kebebasan hidup terdapan penurunan nilai sebanyak 6 poin,

diakibatkan kesadaran subjek penjara membuatnya tidak bebas menetukan pilihan




                                                                                     126
tindakan karena pergaulan antara narapidana pria penuh dengan agresi yang

dibarengi dengan hukuman keras bila berani menuntut hak dengan membalas

agresi narapidana lain. Hal ini terungkap pada diskusi akhir di mana kedua subjek

pria menceritakan dukanya dihukum di penjara.

Subjek juga merasa belum bebas menentukan pilihan masa depannya dan

memutuskan mengikuti pilihan orang tuanya karena menyadari dirinya belum bisa

mandiri serta percaya pada kasih sayang orang tuanya.

       Pada sikap terhadap kematia dan bunuh diri tidak terdapat perubahan nilai

karena dari awal subjek sudah mencapai nilai maksimal, tentunya karena latar

belakang nilai agamanya yang relatif kuat.

       Namun pada aspek kepantasan hidup menurun sebanyak 6 poin karena

subjek menjadi menyadari setelah melaui analisa diri bahwa kesalahan subjek

disebabkan niat buruknya sendiri. Subjek yang tadinya berbohong tidak mengakui

kasus yang sebenarnya, setelah tahap analisa diri mau menganalisa kembvali

tidakannya yang membawa korban jiwa dan mengakui bahwa itu senmata karena

kesalahannya yang tidak mampu mengendalikan diri.

       Ada beberapa hal yang menari pada subjek berkaitan dengan nilai ibadah.

Subjek menganggap ibadah sebagai sarana mendapat kelebihan supra natural.

Sikap ini sebenarnya salah menurut sudut pandang Islam, karena ibadah fungsinya

untuk menuntun manusia beramal saleh dan menjauhi kekejian. Oleh karenanya

penelioti memberi hadiah berupa Al-Qur‘an terjemah agar subjek bisa belajar

agama dari sumber aslinya dan bukan dari sumber yang tidak dapat dipertanggung




                                                                           127
jawabkan.        adalah penanaman nilai-nilai positif sebagai modal dasar dalam

memaknai hidup.

       Penafsiran yang terhadap niali ibadah yang salah dibarengi bacaan dari

komik porno akhirnya membuat subjek melakukan kasus. Seharusnya nilai ibadah

ini mencegah perbuatan keji dan mungkar harus diresapi lebih dalam daripada

sekedar efek ketenangan hati yang ditimbulkan oleh ritualnya.

c. Peningkatan Makna Hidup Subjek Ketiga

         Subjek ketiga mengalami peningkatan makna hidup berdasarkan hasil

PIL Test sebanyak 43 % dari hasil tes awal. Peningkatan aspek makna hidup

sebanyak 20 poin, peningkata ini merupakan peningkatan yang sangat

menggembirakan. Hal ini disebabkan subjek berangkat dari memiliki nilai-nilai

negatif dan kosong menjadi memiliki nilai-nilai positif setelah diberi konseling

oleh peneliti.

           Kecenderungan subjek yang mudah menurut, terlihat dari seringnya

subjek mengucapkan persetujuan tanpa bantahan dan bertanya lebih lanjut. Bisa

dibilang subjek ini memiliki sifat lugu dan dari pertama langsung mengakui

kasusnya dengan polosnya. Berbeda dengan kedua subjek yang lain yang

cenderung menutupi kasusnya pada pertemuan konseling awal, dan baru

membuka pada saat analisa nilai diri. Hal ini mempermudah subjek menerima

nilai baru yang diberikan oleh peneliti.

         Aspek kepuasan naik sebanyak 7 poin, tentunya hal ini disebabkan

subjek merubah sikap terhadap pekerjaannya mengepel yang dianggap rendah

menjadi sarana belajar sabar dan rajin. Subjek juga mensyukuri kerja sama di




                                                                               128
kamar dan kekompakan di kamar bersama teman-temannya. Sunbjek belajar

mengaji pada teman sekamarnya dan subjek merasa bangga setelah lulus Iqra.

        Aspek kebebasan hidup tetap, karena subjek relatif merasa bebas

menentukan pilihan hidupnya, contohnya dari pernyataan subjek yang tidak mau

menuruti permintaan temannya yang menyuruhnya meminta uang dengan

memaksa pada narapidana lain. Di sini sifat asertif subjek sudah ada sebab subjek

menyadari penyebab subjek masuk penjara karena pengaruh teman

       Penyebab dari hal tersebut di atas yaitu kurangnya perhatian dari orang tua

terhadap penanaman nilai ini, terjadi dalam bentuk penanaman nilai positif yang

kurang, bersifat parsial, atau bahkan salah. Pengaruh teman sebaya mengisi

kekosongan nilai yang terjadi pada mereka. Hal ini sesuai dengan tahapan

perkembangan remaja yang mengembangkan identitas dirinya dengan

menempatkan diri dalam pergaulan dengan teman sebaya. Sebagaimana yang

diutarakan Scrimptel (2000) bahwa remaja pria dan wanita memerlukan kelompok

teman sebaya sebagai wadah untuk mematangkan identitas dirinya.

       Proses pematangan identitas diri yang tidak disertai bekal nilai positif yang

memadai menyebabkan mereka melakukan pemaknaan hidup yang bersifat

negative yang akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam perilaku bermasalah.

Konseling Logoterapi berhasil meningkatkan makna hidup subjek penelitian

dengan cara memperbaiki pola berpikir mereka untuk menyadari diri sebagai

manusia yang unik (Lukas, 1985) serta membuat mereka menganalisa dan

memahami kesalahan nilai yang mereka ambil sebagai dasar pemilihan tindakan

yang menyebabkan mereka masuk ke penjara.




                                                                              129
       Konseling logoterapi pada subjek penelitian juga menekankan pentingnya

mereka menghargai diri dan menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk

berperan aktif merencanakan masa depan dan mewujudkannya. Subjek penelitian

didorong untuk bersikap aktif dan bertanggung jawab dengan memanfaatkan

kelebihan dirinya sendiri. Standar kelebihan diri ini haruslah dengan memakai

konsep bahwa mereka merupakan manusia unik dan memiliki kelebihan yang

hanya dimiliki mereka saja. Perjalanan hidup setiap manusia adalah unik dan

harus dipandang dengan dimaknai dengan positif sehingga menimbulkan

optimisme yang realistis.

       Konseling Logoterapi berhasil meningkatkan makna hidup pada subjek

penelitian. Hal ini merupakan bukti seberat apapun masalah perilaku pada remaja

narapidana, terdapat harapan untuk merubah sikap mereka menjadi positif dalam

memaknai hidupnya. Semakin tinggi makna hidup mereka, akan semakin mudah

bagi mereka untuk melakukan pilihan perilaku yang benar bagi diri mereka pada

saat ini maupun pada masa depan mereka.

itu dosa setelah di dia berada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar

memperkuat bukti bahwa subjek mengalami kekosongan nilai agama pada kalimat

berkode D.3.14 pada data konseling.

       Karakter subjek lugu dan mudah dipengaruhi menyebabkan subjek mudah

merubah sikapnya menjadi positif tampak pada kalimat berkode A.3.1 ; G.31 pada

data focus group discussion . Pada dua kalimat tersebut subjek menyatakan

pendapatnya sama dengan subjek kedua. Di sini tampak kecenderungan subjek

untuk stuju dengan tanpa pertimbangan menggunakan pemikirannya demgam




                                                                           130
lebih mendalam terhadap pendapat orang lain. Kecenderungan ini juga tampak

pada kalimat berkode A.3.2 dan D.1.17 pada data konseling. Namun setelah

analisa diri subjek menyadari kalau dia harus asertif bila menghadapi pengaruh

buruk dari teman-temannya di masa datang tampak pada kalimat berkode G.3.12

pada data konseling. Pada aspek kepuasan hidup terdapat peningkatan nilai

sebesar 7 poin pada data PIL Test. Hal ini menunjukkan subjek merubah sikapnya

dalam menghadapi pengalaman hidup di penjara yang membosankan menjadi

tempat untuk belajar kerja terutama di bengkel bimbingan kerja di penjara. Hal

ini terbukti pada kalimat subjek pada data konseling yang berkode G.3.5. Subjek

juga menerima pekerjaan hariannya mengepel sebagai sarana untuk belajar kerja

dengan sabar di kalimat berkode G.3.9 pada data konseling.

       Pada aspek kebebasan hidup nilai subjek berdasarkan data PIL Test tidak

mengalami peningkatan. Subjek menyadari bahwa dia harus menurut pada orang

tuanya dan menjauhi temannya yang buruk setelah keluar dari penjara pada

kalimat yang berkode G.3.10 yang menunjukkan subjek merasa belum siap untuk

mandiri atau menggunakan kebebasan membuat pilihan tindakan dalam

hidupnya. Namun subjek memilih orang tua dan bukan teman yang membawa

pengaruh buruk untuk membantu subjek melakukan pilihan tindakan. Sikap ini

diambil subjek karena subjek merasa jera dia masuk penjara karena melakukan

kasus asusila disebabkan meniru adegan di film porno dan melakukan kasus

tersebut bersama temannya di rumah subjek pada kalimat berkode D.3.15 pada

data konseling dan pada kalimat berkode C.31 pada datafocus group discussion.




                                                                          131
Sikap untuk asertif terhadap pengaruh buruk teman ini juga terbukti pada kalimat

subjek yang berkode G.3.11 dan G.3.12.

       Pada aspek sikap terhadap kematian pada data hasil PIL Test terdapat

peningkatan sebanyak 5 poin yang berarti secara kualitatif merupakan

peningkatan yang tinggi. Hal ini terjadi setelah subjek mendapat cerita tentang

Umar yang bertobat dari percakapan konseling pada tahap pengenalan diri pada

kalimat berkode A.3.4. Namun pada aspek pikiran terhadap bunuh diri terdapat

penurunan sebanyak 4 poin atau secara kualitatif berarti sangat rendah karena

subjek merasa dirinya direndahkan orang karena tugas mengepel dan masuk

penjara akibat fitnah karena sebenarnya korban dan subjek melakukan perbuatan

asusila dengan subjek secara suka rela terbukti pada kalimat berkode G.3.8 dan

D.3.6 pada data konseling. Sepengetahuan peneliti seorang pemerkosa dipandang

paling rendah di kalangan narapidana dan punya julukan gombloh yang sering

digunakan untuk memanggil pelaku kasus tersebut.

       Pada aspek kepantasan hidup meningkat sebanyak 5 poin atau secara

kualitatif tinggi karena subjek merasa dirinya bisa merubah diri menjadi orang

yang mulia pada kalimat berkode B.3.4 pada data konseling.

d. Pertimbangan Peningkatan Makna Hidup pada Subjek Penelitian

       Makna hidup yang rendah pada subjek penelitian pada awal penelitian

disebabkan beberapa hal berikut ini yaitu:

     1. Kurangnya perhatian orang tua, pada orang tua pada subjek pertama

     terjadi karena mereka bercerai dan sibuk dengan selingkuhannya. Sedang

     pada subjek kedua dan ketiga karena kedua orang tua mereka sibuk bekerja .




                                                                            132
Kurangnya perhatian ini mendorong mereka menghabiskan waktu lebih

banyak bersama kelompok teman-teman sebaya dan melakukan proses coba

salah dalam melakukan tindakan. Proses perkembangan tingkah laku coba

salah ini sesuai dengan yang dinyatakan Sakdiah (2005) dalam makalahnya

sebagai salah satu proses perkembangan perilaku moral pada remaja. Hal ini

menjadi masalah bila orang tua sama sekali tidak membimbing anaknya

dalam membuat keputusan-keputusan tindakan yang mereka sebenarnya

belum memiliki pengetahuan yang mencukupi (Santrock, 1995) pada kasus

perbuatan asusila yang dilakukan subjek kedua dan ketiga. Sedang pada

subjek pertama standar teman yang memiliki sepeda motor membuatnya

melakukan penggelapan motor didukung oleh pendapat Santrock (1995)

bahwa pada remaja standar yang dimilikinya lebih banyak berdasarkan pada

apa yang dimiliki teman atau pendapat teman sebaya daripada orang tua.

2. Kurangnya perhatian orang tua terhadap nilai-nilai moral yang digunakan

anaknya membuat remaja melakukan pemaknaan yang salah dan membuat

pilihan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Karena sistim nilai

seseorang sangat mempengaruhi cara seseorang memaknai hidupnya

(Lukas,1985).

3. Peningkatan makna hidup berhasil pada ketiga subjek penelitian setelah

proses konseling membangkitkan kesadaran diri mereka akan makna

hidupnya sebagai manusia yang unik dengan pengenalan diri atau       self

understanding yang positif. Materi konseling mengenai manusia pada

dasarnya adalah makhluk mulia ini membuat mereka memandang dirinya




                                                                     133
dengan positif. Sebagaimana pendapat Scrimptel (2000) bahwa             self

understanding merupakan unsur kesadaran intrapersonal yang harus

dioptimalkan karena semakin baik self understanding seorang remaja maka

kemampuannya dalam mengendalikan konflik di dalam dirinya akan

semakin baik. Pendapat Scrimptel tadi merupakan dukungan terhadap

konsep Logoterapi yang menyatakan sikap diri yang positif dalam

menhargai diri sendiri membuat seseorang memaknai hidup secara positif

pula (Lukas,1985). Dan hal ini dibuktikan dengan hasil konseling yang

didapat pada penelitian.

4. Konseling yang menekankan peranan diri pada pencapaian tujuan yang

terdapat di dalamnya konsep tanggung jawab terhadap pilihan tindakan

merupakan konsep yang mendasar berkaitan dengan konsep transedensi diri

manusia dalam Logoterapi (Fabry,1980 , Koswara, 1992 dan Bastaman,

2007). Konseling pada tema ini meningkatkan kesadaran subjek bahwa dia

mampu berubah menjadi orang baik bila mau berusaha bertanggung jawab

pada dirinya. Ketiga subjek penelitian memperlihatkan perubahan sikap

positif terlihat pada data konseling berkenaan dengan tema tersebut di atas.

5. Tema peranan diri dan tanggung jawab ini juga merupakan upaya tahapan

propylaxis (Fabry,1980) yaitu tahapan untuk mengamankan kesehatan

secara mental pada subjek penelitian bila sikap positif berkaitan dengan

peranan diri dan tanggung jawab ini tetap dihayati oleh subjek penelitian.

6. Terdapat beberapa penyebab mengapa terjadinya perbedaan peningkatan

makna hidup pada subjek penelitian : perbendaharaan nilai awal subjek




                                                                        134
sebelum penelitian; karakter subjek , rencana orang tua terhadap narapidana

selepas dari penjara; perbedaan pengalaman yang dialami di penjara, kasus

yang menyebabkan subjek masuk penjara. Beberapa hal di atas sejalan

dengan factor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kekosongan

makna menurut Lukas (1985). Sebagian lagi sejalan dengan tahapan

perkembangan remaja yang membutuhkan bimbingan orang tua (Santrock,

1995; Scrimptel, 2000 dan Coles, 2000). Semua itu karena kematangan

seseorang secara mental lebih lambat daripada kematangan fisik (Lukas,

1995).




                                                                    135
                                    BAB V

                                  PENUTUP



I. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya terdapat beberapa

kesimpulan :

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna hidup pada warga binaan

   Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar adalah rendah karena menyandang

   status narapidana .

2. Peningkatan makna hidup setelah konseling Logoterapi berdasarkan hasil data

   Purpose in Life Test ,     data konseling dan      focus group discussion

   menunjukkan peningkatan makna hidup positif pada ketiga subjek penelitian.



II. Kekurangan Penelitian

1. Terdapat kekurangan dalam penelitian ini di mana sikap terhadap kematian dan

bunuh diri tidak dimasukkan sebagai tema dalam konseling yang baru disadari

peneliti setelah konseling berakhir, hal ini mengakibatkan tidak meningkatnya

nilai sikap pada aspek tersebut terhadap sebagian subjek penelitian.

2. Keterbatasan waktu konseling karena peraturan jadwal di dalam Lembaga

Pemasyarakatan Anak Blitar menyebabkan beberapa tahapan konseling tidak

berjalan optimal.




                                                                           136
III. SARAN

       Saran yang peneliti ajukan bagi para akademisi yang ingin melanjutkan

penelitian serupa terhadap narapidana remaja sebagai berikut:

   1. Perlunya rancangan konseling yang memasukkan semua aspek Logoterapi

       secara menyeluruh dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan

       subjek penelitian sebagai narapidana remaja dengan permasalahan yang

       khusus dimiliki oleh mereka. Permasalahan utama yang ada pada

       narapidana remaja adalah kasus yang menyebabkan mereka masuk

       penjara, masalah kurang memadainya nilai-nilai positif yang menjadi

       pegangan untuk melakukan pilihan tindakan, kehidupan penjara yang

       membosankan dan dipandang merendahkan harga diri.

   2. Implikasi penelitian ini pada bidang psikolog yaitu membantu psikolog

       untuk melaksanakan konseling Logoterapi pada remaja narapidana ;

       membantu pihak LP Anak untuk mengantarkan binaannya menjadi warga

       Negara yang berhasil memperbaiki diri terutama dalam sikapnya dalam

       memaknai hidup dan menuntunnya memilih perilaku yang positif ; sebagai

       sumbangsih bagi penanganan remaja narapidana di LP Anak.




                                                                              137
                             DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal (Penyunting). 2002. Analisis Eksistensial untuk Psikologi &
       Psikiatri. Bandung: Refika Aditama.

Ancok, Jamaludin dan Fua Nashori. 1994. Psikologi Islami Solus atas Problem-
       problem Psikologi. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Bastaman, HD. 2007.Logoterapi Psikologi Untuk Menemukan Makna
      Hidup. Jakarta : Rajawali Press.

Bodgan,Robert.1993.Kualitatif Dasar-dasar Penelitian .Surabaya: Penerbit Usaha
      Nasional.

                                                         .
Coles, Robert. 1997.Menumbuhkan Kecerdasan Moral Pada AnakJakarta:
       Gramedia.

Dryden,Windy. 2002. Fundamental of Rational Behavior
      Therapy.Philadelphia:Whurr Publisher

Tim Dep. Agama. 2000. Al Qur‟an dan terjemahannya.Jakarta : Dep. Agama RI.

Fabri,Joseph B. 1980.The Pursuit of Meaning.New York:Harper and Row
       Publisher.

                                                  .
Lukas,Elisabeth. 1985.A Logotherapy Guide To health Boston: Grove Press.

Koswara,E.1992.Logoterapi Psikoterapi Viktor Frankl .Yogyakarta : Kanisius.

Kartini, Niniek. 2007. Laporan PKLI, Problem Eksistensial pada Warga Binaan
        Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Malang: UIN.

Mc Leod, John. 2001.Qualitaif Research in Conselling and Psychotherapi.
      London: Sage Publication.

Najati, M Usman. 1985. Al Qur‟an dan Ilmu Jiwa. Bandung: Penerbit Pustaka

Poerwandari, E.Kristi. 2005. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku
      Manusia. Jakarta: Perfecta.

                            Tumbuh Bersama Sahabat 2 Konseling sebaya
Rogacion, Mary Rebecca. 1996.
      sebuah gaya hidup.Yogyakarta: Kanisius.

                       Understanding Psychologi. New York: Mc Graw Hill
Feldman, Robert S. 1999.
      College.




                                                                             138
Qutb, Sayyid. 2004.Tafsir Fii Zhilalil Qur‟an.   Jakarta : Gema Insani Press.

                      Analisis Data Pada Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI
Sabarguna, Boy S. 2005.
      Press.

Sakdiah, Halimatus. 2005.Makalah Perekembangan moral pada Anak, Bahan
      Ajar kuliah psikologi Perkembangan. UIN Malang.

                                            Jakarta : Erlangga
Santrock, John W. 1995.Life Span Development.

Schultz,Duane. 2005.PsikologiPertumbuhan, Model-model Kepribadian Sehat.
       Yogyakarta: Kanisius.

                                              .Minnesota: University of
Srcimptell,Norman. 2000. Adolescence Development
      Minnesota.

Sudirman, Moh Basofi. 1995. Eksistensi Manuis dan Agama Islam.Jakarta : an
      Nash.

                  Psikologi Bimbingan. Bandung:PT Eresco.
Wijaya,Juhana.1988.

Wimberly,Cynthia Lynn. 2006. Impact of Logotherapy on at Risk African-
                                  .
     American Elementary Student http://etd.lib.ttu.edu/theses/available/etd-
     07272006-154120/unrestricted/Wimberly-Cynthia-Diss.pdf.

Winkel, W.S. 1997, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:
       Grasindo.




                                                                                139

								
To top