PTK BIOLOGI SMP MAS

					PENGGUNAAN METODE BELAJAR NUMBERED HEAD TOGETHER
        (NHT) DISERTAI PETA KONSEP DAN LKS
            DITINJAU DARI MOTIVASI DAN
                 KREATIVITAS SISWA

 (Studi Kasus Mata Pelajaran Biologi Pada Materi Pertumbuhan Dan
   Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan Di SMP Negeri I Menden
                     Tahun Ajaran 2009/2010)


                              TESIS
   Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Derajat Magister
                 Program Studi Pendidikan Sains
                Minat Utama : Pendidikan Biologi




                              Oleh :
                         Dwi Setyo Astuti
                          S.830908010


                 PROGRAM PASCASARJANA
                UNIVERSITAS SEBELAS MARET
                           2010
                               PERSETUJUAN


  PENGGUNAAN METODE BELAJAR NUMBERED HEAD TOGETHER
            (NHT) DISERTAI PETA KONSEP DAN
            LKS DITINJAU DARI MOTIVASI DAN
                   KREATIVITAS SISWA

  (Studi Kasus Di SMP Negeri I Menden Mata Pelajaran Biologi Pada Materi
          Pertumbuhan Dan Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan
                        Tahun Ajaran 2009/2010)


                                   Disusun Oleh :
                               Dwi Setyo Astuti

                                   S.830908010


                    Telah disetuhui oleh Tim Pembimbing :
Jabatan             Nama                            Tanda Tangan                Tanggal
Pembimbing I Prof. Dr. H. Widha S, M Pd             .........................   ………….
             NIP 195201161980031001
Pembimbing II Dr. Sugiyarto, MSi     .              .......................     ………….
             NIP 196704301992031002




                                    Mengetahui,
                     Ketua Program Studi Pendidikan Sains,




                      Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M. Pd
                           NIP 195201161980031001
                                 PENGESAHAN


   PENGGUNAAN METODE BELAJAR NUMBERED HEAD TOGETHER
             (NHT) DISERTAI PETA KONSEP DAN
             LKS DITINJAU DARI MOTIVASI DAN
                    KREATIVITAS SISWA

     (Studi Kasus Mata Pelajaran Biologi Pada Materi Pertumbuhan Dan
       Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan Di SMP Negeri I Menden
                         Tahun Ajaran 2009/2010)

                                   Disusun oleh :

                                 Dwi Setyo Astuti
                                    S830908010
                          Telah disetujui oleh Tim Penguji
Jabatan                   Nama                         Tanda tangan               Tanggal

Ketua             Prof. Dr. Ashadi                     .................... ...................
                  NIP. 195101021975011 001

Sekretaris        Dra. Suparmi, MA.,Ph.D               ..................... ..................
                  NIP. 19520915197603 2 001
Anggota Penguji

                  1. Prof. Dr. H. Widha Sunarno,M.Pd   ..................... ...................
                     NIP. 195201161980031 001

                  2. Dr. Sugiyarto, M. Si              ..................... ...................
                     NIP. 196704301992031 002

                                    Mengetahui
        Direktur                                           Ketua
  Program Pascasarjana                        Program Studi Pendidikan Sains



Prof. Drs. Suranto, M.Sc, Ph.D                Prof. Dr. H. Widha Sunarno,M.Pd
NIP 19570820 198503 1 004                        NIP 19520116 198003 1 001
                                   PERNYATAAN



Nama              : Dwi Setyo Astuti
NIM               : S830908010



Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul “PENGGUNAAN
METODE BELAJAR NUMBERED TOGETHER (NHT) DISERTAI PETA
KONSEP DAN LKS DITINJAU DARI MOTIVASI DAN KREATIVITAS
SISWA (Studi Kasus Mata Pelajaran Biologi Pada Materi Pertumbuhan Dan
Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan Di SMP Negeri I Menden Tahun Ajaran
2009/2010) adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya
dalam Tesis ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.



Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademis berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari
tesis tersebut.




                                                    Surakarta,   Februari 2010

                                                    Yang Membuat Pernyataan,




                                                         Dwi Setyo Astuti
                          MOTTO :

       Selalu Berfikir Dan Bergerak Sesuai Qur’an Hadist
                           (Penulis)


Selalu Percaya KepadaNya Bahwa Keajaibannya Benar-Benar Ada,
                     Bila Kau Memintanya
                           (Penulis)
                           Persembahan:

 Sang Maha Perkasa Allah SWT, yang senantiasa memberi ketegaran pada
                          lemah hati dan raga ini,
                          terimakasih Yaa Robb


     Ayah dan Bunda tercinta, sumber inspirasi terbesar dalam hidupku.


Adikku tersayang, yang membuatku merasa memiliki sahabat terbaik di dunia


         Sahabat-sahabat yang menjadikan hidupku tak pernah sepi
                              KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tiada kata terindah selain ucapan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa

melimpahkan rahmat dan hidayahNya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis

ini. Dalam penyusunan tesis ini penulis menyadari tanpa adanya bantuan dari

berbagai pihak yang terkait, maka tidaklah mungkin dapat terselesaikan. Dengan

segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

   1. Prof. Drs. Suranto, MSc. Ph.D. selaku Direktur Program PascaSarjana

       Universitas Sebelas Maret Surakarta.

   2. Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd. selaku Ketua Program Pendidikan Sains,

       Program PascaSarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta serta dosen

       pembimbing dalam penyusunan tesis ini.

   3. Dra. Suparmi, MA. Ph.D. selaku Sekretaris Program Pendidikan Sains,

       Program PascaSarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta sekaligus tim

       penguji tesis ini.

   4. Dr. Sugiyarto, MSi, selaku dosen pembimbing dalam penyusunan tesis ini.

   5. Prof. Dr. Ashadi selaku tim penguji tesis ini.

   6. Keluargaku tercinta atas dorongan dan partisipasinya dengan penuh

       kesabaran.

   7. Teman-teman seperjuangan mahasiswa Program Pendidikan Sains, Program

       PascaSarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dan semua pihak yang

       membantu terselesainya tesis ini.

             Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak

kekurangan. Demi kesempurnaan tesis ini, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan. Semoga tesis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca

pada umumnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



                                                     Surakarta,    Februari 2010



                                                                  Penulis
                                                    DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................                i

HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................                         ii

HALAMAN PENGESAHAN...................................................................                         iii

PERNYATAAN ........................................................................................           iv

MOTTO ....................................................................................... .............   v

PERSEMBAHAN ....................................................................................              vi

KATA PENGANTAR..............................................................................                  vii

DAFTAR ISI.............................................................................. ..............       ix

DAFTAR TABEL.....................................................................................             xi

DAFTAR GAMBAR............................................................... ................                 xii

DAFTAR LAMPIRAN.............................................................. ..............                  xiv

ABSTRAK ................................................................................... ..............    xvi

BAB. I. PENDAHULUAN.......................................................................                    1

     A. Latar Belakang...............................................................................         1

     B. Identifikasi Masalah....................................................... ...............           9

     C. Pembatasan Masalah......................................................................              10

     D. Perumusan Masalah........................................................................             10

     E. Tujuan Penelitian............................................................................         11

     F. Manfaat Penelitian........................................................................            12

BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR,

             HIPOTESIS................................................................................        14

     A. Tinjauan Pustaka..............................................................................        14

     B. Penelitian Yang Relevan.................................................................              56
    C. Kerangka Berpikir...........................................................................          58

    D. Hipotesis.........................................................................................    64

BAB. III. METODE PENELITIAN.........................................................                         65

    A. Waktu dan Tempat Penelitian........................................................                   65

    B. Populasi dan Sampel......................................................................             65

    C. Rancangan Penelitian.....................................................................             66

    D. Variabel Penelitian.........................................................................          68

    E. Teknik Pengambilan Data..............................................................                 73

    F. Instrumen Penelitian.......................................................................           74

    G. Uji Ciba Instrumen .........................................................................          75

    H. Teknik Analisis Data......................................................................            80

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................                                               85

    A. Deskripsi Data ...............................................................................        85

    B. Pengujian Prasyarat Analisis .........................................................                91

    C. Pengujian Hipotesis .......................................................................           93

    D. Pembahasan Hasil Analisis ...........................................................                 101

    E. Keterbatasan Penelitian ................................................................              112

BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ........................                                             113

    A. Kesimpulan ..................................................................................         113

    B. Implikasi.......................................................................................      115

    C. Saran .............................................................................................   116

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..                                                                         118

LAMPIRAN …………………………………………………………….                                                                            120
                               DAFTAR TABEL

Tabel                                                         Halaman

1.1 Nilai Ulangan Akhir semester I Kelas IX SMP Negeri I Menden

   Tahun Ajaran 2009/2010 …………………………………….                         2

2.1 Jadwal Penelitian ……………………………………………                           65

3.1 Rancangan Penelitian ……………………………………….                         66

4.1 Tata Letak Data ………………………………..……………                           72

5.1 Data Skor Motivasi ………………………………………….                          86

6.1 Data Skor Kreativitas ……………………………………….                        87

7.1 Data Skor Prestasi Belajar ………………………………….                     89

8.1 Data Analisis General Linear Model ……………………….                 93

9.1 Data Rangkuman Analisis GLM ……………………………                       94
                               DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                             Halaman

1.1 Metamorfosis Kupu-kupu……………………………………..                           54

2.1 Metamorfosis Katak …………………………………………                              55

3.1 Kerangka Berpikir …………………………………………...                            57

4.1 Grafik Skor Motivasi Berkategori Tinggi………………........            86

4.2 Grafik Skor Motivasi Berkategori Rendah.........………........      86

4.3 Grafik Skor Kreativitas Berkategori Tinggi……………........          88

4.4 Grafik Skor Kreativitas Berkategori Rendah…….…......…...         88

4.5 Grafik Skor Prestasi Belajar Dengan Peta Konsep …......…..       89

4.6 Grafik Skor Prestasi Belajar Dengan LKS…….....……….…              90

4.7 BoxPlot Prestasi Belajar Dengan Peta Konsep……………...              90

4.8 BoxPlot Prestasi Belajar Dengan LKS ……………………..                   90

5.1 Uji Normalitas Prestasi Belajar Menggunakan Peta Konsep          91

5.2 Uji Normalitas Prestasi Belajar Menggunakan LKS ……….             91

6.1 Uji Homogenitas Prestasi Belajar ……………………………                     92

7.1 Uji Lanjut Anava Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap

   Prestasi Belajar Siswa ……………………………………......                       96

7.2 Uji Lanjut Anava Pengaruh Motivasi Terhadap Prestasi Belajar     97

7.3 Uji Lanjut Anava Pengaruh Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar 98

7.4 Uji Lanjut Anava Interaksi Antara Metode Pembelajaran Dengan

   Motivasi Terhadap Prestasi Belajar ………………………......                99

7.5 Uji Lanjut Anava Interaksi Antara Metode Pembelajaran Dengan

   Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar ………………………..                 99
7.6 Uji Lanjut Anava Interaksi Antara Motivasi Dengan Kreativitas

   Terhadap Prestasi Belajar …………………………………….                        100

7.7 Uji Lanjut Anava Interaksi Antara Metode Pembelajaran,

   Motivasi, Dan Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar …………         101
                                       DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                             Halaman

1. Silabus…………..................................................................      121

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Peta Konsep ………..                                 125

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran LKS …………………                                       146

4. Peta Konsep ………………………………………………                                                     158

5. Daftar Nama Siswa Dan Nilai Try Out ……………………                                       164

6. Kisi-kisi Angket Motivasi Try Out ……………………….                                       166

7. Angket Motivasi Try Out …………………………………                                              168

8. Kisi-kisi Angket Kreativitas Try Out ……………………..                                    177

9. Angket Kreativitas Try Out ……………………………….                                           178

10. Kisi-kisi Soal Try Out …………………………………….                                            187

11. Soal Tes Try Out ………………………………………….                                                189

12. Sebaran Nilai Tes Prestasi ...................................................    199

13. Sebaran Nilai Angket Motivasi.............................................        200

14. Sebaran Nilai Angket Kreativitas.........................................         201

15. Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas Angket Dan Soal Tes

    Try Out                                                                           202

16. Daftar Nama Dan Nilai Siswa Penelitian ………………….                                   212

17. Kisi-kisi Dan Soal Tes……………………………………… 216

18. Kisi-kisi Dan Angket Motivasi …………………………….                                        228

19. Kisi-kisi Dan Angket Kreativitas……………………….….                                      239

20. Uji Prasyarat Analisis …………………………………….… 249

21. Uji General Linear Model …………………………………                                            260
22. Uji Lanjut Analisys Of Mean………..……………………..   262

23. Sintak……………………………………………………….                 268

22. Foto-foto Proses Pembelajaran…………………………….    265




1
                                      ABSTRAK
        Dwi Setyo Astuti, S830908010. “Penggunaan Metode Belajar Numbered
Head Together (NHT) disertai Dengan Peta Konsep dan LKS ditinjau dari
Motivasi dan Kreativitas siswa” (Studi Kasus Mata Pelajaran Biologi Pada Materi
Perumbuhan Dan Perkembangan Di SMP NEGERI I Menden Tahun Pelajaran
2009/2010)”. Tesis : Pembimbing I : Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd;
Pembimbing II : Dr. Sugiyarto, M.Si. Program Pascasarjana Universitas Sebelas
Maret Surakarta.2010.
        Numbered Head Together adalah suatu metode pembelajaran yang membantu
siswa dalam proses belajar kelompok dimana setiap siswa memiliki nomor anggota
mereka. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunan metode
pembelajaran Numbered Head Together (NHT) disertai dengan Peta Konsep dan
LKS, motivasi belajar, dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi.
        Penelitian menggunakan metode eksperimen dan dilaksanakan dari bulan
agustus sampai Januari 2010, dengan populasi seluruh siswa kelas VIII SMP N I
Menden tahun pelajaran 2009/2010. Sampel penelitian diambil menggunakan Cluster
Random Sampling, terdiri dari 4 kelas, kelas VIIIB dan VIIIE menggunakan NTH
dengan Peta Konsep , dan kelas VIIIA dan VIIIF menggunakan NHT dengan LKS.
Data dikumpulkan menggunakan tes untuk prestasi belajar dan kuisioner untuk
motivasi dan kreativitas. Pengujian hipotesis menggunakan Anova desain faktorial
2x2x2.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Prestasi belajar siswa dengan
metode NHT menggunakan Peta Konsep lebih tinggi daripada pembelajaran NHT
dengan LKS 2) Prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi tinggi lebih baik
daripada siswa dengan motivasi rendah 3) Prestasi belajar siswa yang memiliki
kreativitas tinggi lebih baik daripada siswa dengan kreativitas rendah 4) tidak
terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi terhadap prestasi
belajar; 5) tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas
terhadap prestasi belajar; 6) tidak terdapat interaksi antara motivasi dan kreativitas
terhadap prestasi belajar; 7) tidak terdapat interaksi antara metode, motivasi dan
kreativitas terhadap prestasi belajar

Kata Kunci : Numbered Head Together, Peta Konsep, LKS, Motivasi, dan
             Kreativitas
                                    ABSTRACT
        Dwi Setyo Astuti, S830908010. “The Use Of The Numbered Head
Together (NHT) Through Learning Method Of Concept Maps And Student’s
Work Sheet Overview From Students Motivation And Creativity “ (The Case
Study On Growth And Development Of Plants And Animals At SMP N I Menden,
Academic Year 2009/2010). Thesis : Advisor I : Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd ;
Advisor II : Dr. Sugiyarto, M.Si. The Post Graduate Program Of Sebelas Maret
University, Surakarta, 2010.
        Numbered Head Together is a learning method to help students in to learn in
small group where everybody has its own number. The puspose of the research were
to know the effect of the used of NHT learning method through concept maps and
student work sheet, student motivation, and creativity to the student achievement.
        The research used experimental method and was conducted from June to
December, academic year 2009/2010. The population was all student in grade VIII
SMP I Menden, and the sample was taken using cluster random sampling, consisted
4 classes, class VIIIB and VIIIE were treated using NHT with Concept Maps, and
class VIIIA and VIIIF were treated using NHT with student work sheet. The data
was collected using test method for student achievement and questinare for the
student motivation and creativity. The hypotheses were tested using Anova with
2x2x2 factorial design, using GLM technique
        The results showed that : 1) The achievement of students that learn using
NHT with concept maps was higher than those who learn using NHT with student
work sheet 2) The achievement of studens who have high motivation was higher than
those who have lower motivation 3) The achievement of students who have high
creativity was higher than those who have lower creativity 4) There is no interaction
between learning method and motivation to the student’s achievement 5) There is no
interaction between learning method and creativity to the student’s achievement6)
There are no interaction between motivation and creativity to the student’s
achievement 7) there are no interaction between learning method, motivation, and
creativity to the student’s achievement.

Key Words : Numbered Head Together, Concept Maps, Student Work Sheet,
            Motivation, and Creativity.
                                       BAB I

                                 PENDAHULUAN

                           A. Latar Belakang Masalah

       Pendidikan merupakan suatu kegiatan universal dalam kehidupan manusia.

Pendidikan bagi manusia adalah proses menemukan dan mengembangkan diri dalam

keseluruhan dimensi kepribadian. Adapun fungsi pendidikan adalah untuk

membimbing manusia kearah suatu tujuan yang bernilai tinggi, yaitu agar manusia

tersebut bertambah pengetahuan dan ketrampilannya serta memiliki sikap yang

benar. Pendidikan informal dapat diberikan kepada anak sejak dini oleh keluarga dan

lingkungan tempat ia berada. Sedangkan pendidikan formal dapat diperoleh di

sekolah-sekolah ataupun lembaga pendidikan yang berperan mendidik dan

mempunyai tujuan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan

mampu beradaptasi dengan IPTEK.

        Kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah bersifat formal, disengaja,

direncanakan, dengan bimbingan guru serta pendidik lainnya. Kegiatan belajar

sangat diperlukan, mengingat semakin banyak dan semakin tingginya tuntutan

kehidupan masyarakat. Setiap jenjang dan jenis pendidikan disediakan untuk

menyiapkan siswa agar mampu memenuhi tuntutan tersebut. Ada dua pendekatan

dalam pelaksanaan pengajaran di sekolah, yaitu pendekatan yang mengutamakan

hasil belajar dan yang menekankan proses belajar. Sesungguhnya antara kedua

pendekatan tersebut tidak terdapat perbedaan prinsipil, sebab suatu hasil belajar yang

baik akan diperoleh melalui proses yang baik, dan sebaliknya proses belajar yang

baik akan memberi hasil yang baik pula.
           Pendidikan Biologi seharusnya lebih mengutamakan hasil belajar dengan

menekankan proses memperoleh ilmu tersebut. Fakta menunjukkan bahwa nilai

Biologi menduduki peringkat paling bawah dibandingkan nilai pelajaran IPA lainnya

yaitu Fisika dan Kimia. Tujuan pembelajaran dikatakan berhasil apabila siswa telah

memiliki kemampuan untuk menguasai materi yang telah diajarkan dan yang telah

ditetapkan dalam kurikulum. Keberhasilan pembelajaran biasanya dapat dilihat dari

nilai siswa yang telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Nilai tersebut

dapat berupa nilai ulangan harian, nilai tes semester, nilai rapot dan nilai ujian.

Namun pada kenyataan sehari-hari masih banyak nilai siswa yang belum mencapai

kriteria ketuntasan minimal. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini yang

menunjukkan nilai Ulangan Akhir Semester I (UAS I) siswa pada mata pelajaran

Biologi VIII Semester I tahun pelajaran 2007/2008 SMP Negeri I Menden.

Tabel 1.1. Nilai Ulangan Akhir Semester I Kelas IX SMP Negeri 1 Menden Tahun
            Pelajaran 2007/2008
                                Tuntas Tidak tuntas Jumlah     Prosentase
 No       Kelas       KKM
                               (siswa)    (siswa)    (siswa) Ketuntasan

   1          IX A         55        23         17         40        57,5 %

   2          IX B         55        23         16         39         59 %

   3          IX C         55        23         17         40        57,5 %

   4          IX D         55        26         14         40         65 %

   5          IX E         55        25         15         40        62,5 %

   6          IX F         55        22         16         38         58 %



           Dari tabel di atas dapat dilihat masih banyak siswa yang belum mencapai

kriteria     ketuntasan   minimal,   ini   mencerminkan   ketidakberhasilan   tujuan
pembelajaran. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakberhasilan tersebut dapat

dilihat dari beberapa segi. Antara lain faktor siswa, guru, sarana, sumber belajar,

lingkungan atau suasana pembelajaran, sistem penilaian, dan kurikulum.

       Biologi masih dianggap sebagai bagian dari pelajaran IPA yang sulit untuk

dikuasai dikarenakan cakupan materinya yang sangat luas dan terkadang bersifat

abstrak. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya perbaikan dalam sistem

pembelajaran Biologi sehingga dapat meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan.

Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua peserta didik

kepada tujuan yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan usaha tersebut mengalami

banyak kendala, diantaranya adalah kurangnya fasilitas penunjang pendidikan,

pembenahan dan penyempurnaan kurikulum, profesionalitas guru, serta inovasi

dalam pembelajaran.

       Ditinjau dari segi siswa, masih banyak proses pembelajaran yang berlangsung

dengan menempatkan siswa sebagai objek dan kegiatan pembelajaran tidak berpusat

pada siswa melainkan pada guru. Aktivitas belajar siswa menjadi sangat rendah

karena mereka cenderung hanya mendengarkan ceramah dan pemberian informasi

dari guru. Proses pembelajaran siswa seperti ini tidak memberi kesempatan kepada

siswa untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki. Mereka sudah terbiasa

menerima informasi yang telah tertata dengan baik dan efisien, tidak dengan cara

belajar melalui penemuan konsep dan eksplorasi sendiri.

       Heterogenitas siswa juga menjadi faktor yang ikut menetukan keberhasilan

proses belajar di kelas. Siswa memiliki banyak perbedaan antara satu dengan yang

lain baik dalam kecerdasan, kepribadian, dan latar belakang siswa. Perbedaan

tersebut bisa menjadi faktor yang menghambat proses pembelajaran di kelas.
Persaingan yang dangkal, kesenjangan antar siswa, hilangnya motivasi, hingga

dominasi kelas oleh siswa-siswa tertentu merupakan beberapa dampak buruk dari

heterogenitas siswa dalam kelas. Heterogenitas siswa dalam kelas akan selalu ada

dan merupakan hal yang sangat alami pada diri siswa. Perbedaan pada siswa

bukanlah hal yang harus dihilangkan, melainkan adalah sesuatu yang harus disikapi

dengan bijak agar menjadi faktor yang menguntungkan bagi siswa, khususnya dalam

proses pembelajaran.

       Oleh karena itu guru dituntut untuk mampu dan mau melakukan

pengembangan dan pembaharuan pembelajaran. Hal tersebut terkait dengan

keberhasilan yang akan dicapai dalam proses belajar siswa. Dari dahulu

permasalahan yang sering dialami siswa adalah mereka kurang maksimal dalam

menerima dan menguasai pelajaran yang telah disampaikan guru kepada mereka,

sehingga hasil belajar yang dicapai siswa masih jauh dari tujuan yang ditetapkan.

Dalam hal ini guru diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan jalan

melakukan inovasi dan pemilihan pendekatan serta metode pembelajaran yang tepat.

       Prinsip umum penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran adalah

bahwa tidak semua pendekatan dan metode pembelajaran cocok digunakan untuk

mencapai semua tujuan pembelajaran. Hal demikian disebabkan karena setiap

pendekatan maupun metode pembelajaran memiliki kekhasan masing-masing. Salah

satu pendekatan pembelajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran kooperatif

(Cooperative Learning).

       Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dalam kelompok kecil supaya siswa-

siswa dapat berkerjasama dalam kelompok untuk mempelajari isi kandungan

pelajaran dengan berbagai kemahiran sosial. Secara dasarnya, pembelajaran
kooperatif melibatkan siswa bekerjasama dalam mencapai satu-satu objektif

pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki perbedaan dengan strategi

pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif bersifat lebih menekankan kepada

proses kerja sama dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyana (2004

:244) yang menyatakan bahwa ”pelajaran kooperatif adalah pelajaran secara tim. Tim

merupakan tempat untuk mencapai tujuan”. Oleh karena itu, tim harus mampu

membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling

membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah kriteria keberhasilan

pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim tersebut.

       Menurut Slavin (2010), ”The pattern of research findings supports the utility

of cooperative learning methods in general for increasing student achievement,

positive race relations in desegregated schools, mutual concern among students,

student self-esteem, and other positive outcomes”. Ada banyak alasan yang membuat

pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikan. Pembelajaran

kooperatif digunakan untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, dan juga

akibat positif lainnya adalah dapat mengembangkan hubungan antar kelompok,

penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah, dan meningkatkan rasa harga diri.

Alasan lain pemilihan pembelajaran kooperatif adalah peserta didik secara aktif

membangun pengetahuan mereka sendiri, dan akan lebih mudah menemukan serta

mengerti tentang suatu konsep.

       Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga

tujuan pembelajaran penting. Tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu

meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas

akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang
kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Tujuan yang kedua,

pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-

temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut

antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. Tujuan

penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah         untuk mengembangkan

keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain berbagi

tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk

bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan

sebagainya.

       Pembelajaran    kooperatif   memiliki   beberapa   metode    pembelajaran,

diantaranya adalah Number Head Togethers (NHT). NHT merupakan metode

pembelajaran yang menekankan keaktifan dan kerja sama antar siswa. Pembelajaran

menggunakan metode NHT membagi siswa dalam kelas menjadi beberapa kelompok

kecil, dan setiap kelompok beranggotakan 5-7 siswa. Guru memberikan nomor

kepada masing-masing siswa dalam setiap kelompok. Setiap kelompok diberi tugas

untuk didiskusikan dan diselesikan bersama dalam kurun waktu tertentu. Setelah itu

guru akan memanggil nomor siswa secara acak. Siswa dengan nomor yang

disebutkan guru dari setiap kelompok bertugas untuk mempresentasikan hasil kerja

kelompok mereka. Dengan demikian setiap siswa dalam dimasing-masing kelompok

diharapkan dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin, sehingga menuntut kerja

sama dalam kelompok tersebut.

      Guna memaksimalkan efetivitas penggunaan metode NHT, maka dapat

dibantu dengan menggunakan Peta Konsep dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

Menurut Martinis Yamin (2008 : 144) ”peta konsep adalah pernyataan tentang
hubungan-hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-

proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan

oleh kata-kata dalam suatu unit semantik”. Belajar bermakna akan memberikan

makna apabila dihubungkan dengan konsep-konsep yang memiliki arti yang lebih

luas dan berkembang.

       LKS berisi pertanyaan, pernyataan, dan suruhan yang bertujuan untuk

menanamkan konsep atau prinsip bagi siswa secara utuh, sistematis dan diyakini

kebenarannya. Penggunaan LKS dapat melatih siswa untuk menemukan dan

mengembangkan keterampilan proses serta memberi pedoman bagi guru dan siswa

dalam pencapaian pemahaman konsep. LKS dapat menjadi suatu alternatif bagi guru

untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu sebagai

variasi dalam kegiatan belajar mengajar. LKS tersebut tentunya harus dapat

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mendukung siswa untuk

lebih termotivasi yang mengarah pada penguasaan materi.

      Selain faktor-faktor eksternal yang telah diuraikan di atas, terdapat faktor-

faktor internal dalam diri siswa yang juga sangat berpengaruh terhadap pencapaian

tujuan pendidikan serta prestasi belajar. Faktor-faktor internal yang berpengaruh

diantaranya adalah motivasi belajar dan kreativitas siswa. Motivasi merupakan salah

satu diterminan penting dalam belajar. Motivasi berhubungan dengan arah perilaku.

Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk

dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan. Motivasi mendorong

dan mengarah minat belajar untuk tercapainya suatu tujuan. Motivasi dan belajar

merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi belajar dapat timbul karena
faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan

belajar.

       Motivasi pada dasarnya sangat membantu dalam memahami dan menjelaskan

perilaku individu, termasuk perilaku yang sedang belajar. Ada peranan penting

dalam motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain dalam (a) menentukan

hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, (b) memperjelas tujuan belajar yang

hendak dicapai, (c) menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d)

menetukan ketekunan belajar.

           Kreativitas diartikan sebagai pribadi yang mempunyai ciri-ciri pokok yang

ditunjukkan dengan kelincahan mentalnya untuk berfikir dari dan keseluruh arah,

fleksibelitas konseptal dan orisinilitas untuk melahirkan ide, gagasan, ilham,

pemecahan, cara baru dan penemuan. Ditinjau dari aspek kognitf, kreativitas

berkaitan degan intelegensi dan ciri-ciri dalam kreativitas. Berkaitan dengan masalah

intelegensi sampai pada batas tertentu mempunyai hubungan yang cukup kuat

dengan kreativitas. Pada orang dengan IQ di atas 120 bisa kreatif atau tidak kreatif,

sehingga tanpa kecerdasan, kemampuan kreatif tidak akan terbentuk. Ada empat

komponen ciri-ciri kemampuan berfikir kreatif yaitu; kelancaran, keluwesan,

keterincian, dan keterampilan mengevaluasi. Kemampuan berfikir kreatif ini

selanjutnya disebut dengan kemampuan divergen.

           Dalam mata pelajaran Biologi, materi Pertumbuhan Dan Perkembangan

Tumbuhan Dan Hewan memiliki cakupan materi yang cukup luas. Oleh karena itu,

dalam mempelajari materi ini memerlukan suatu pendekatan dan metode

pembelajaran yang sesuai sehingga dapat memaksimalkan aktivitas belajar serta

pencapaian prestasi siswa.
                              B. Identifikasi Masalah

1. Hasil belajar siswa untuk Mata Pelajaran Biologi masih rendah ditandai dengan

   nilai yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal.

2. Siswa masih menganggap Biologi sebagai bagian dari pelajaran IPA yang sulit

   untuk dikuasai.

3. Dalam proses pembelajaran masih didomonasi oleh guru.

4. Aktivitas belajar siswa menjadi sangat rendah karena mereka cenderung hanya

   mendengarkan ceramah dan pemberian informasi oleh guru.

5. Guru belum melakukan pengembangan dan pembaruan model pembelajaran yang

   variatif dan efektif.

6. Siswa kurang termotivasi karena penggunaan metode pembelajaran yang

   monoton.

7. Terbatasnya kemampuan guru dalam membuat variasi model pembelajaran.

8. Siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan kemampuan yang berbeda-

   beda ini kurang diperhatikan oleh guru.

9. Banyak model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran Biologi,

   namun guru Biologi belum banyak menguasainya.

10. Cakupan materi Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan sangat

   luas sehingga menyulitkan siswa menangkap konsep dari pelajaran tersebut.

                             C. Pembatasan Masalah

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT

   yang disertai Peta Konsep dan LKS.

2. Motivasi belajar siswa dalam pelajaran dikategorikan tinggi dan rendah.

3. Kreativitas belajar siswa dalam pelajaran dikategorikan tinggi dan rendah.
4. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan dan

   Perkembangan Tumbuhan Dan Hewan.

5. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri I Menden.

6. KKM yang digunakan adalah KKM SMP Negeri I Menden.

7. Prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi pada aspek penialian kognitif.

                             D. Perumusan Masalah

1. Adakah pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT disertai

    Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi?

2. Adakah pengaruh motivasi siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

    rendah terhadap prestasi belajar Biologi?

3. Adakah pengaruh kreativitas siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

    rendah terhadap prestasi belajar Biologi?

4. Adakah interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

    Peta Konsep dan LKS dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar Biologi?

5. Adakah interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

    peta konsep dan LKS dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi?

6. Adakah interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa yang berkategori tinggi

    dan rendah terhadap prestasi belajar Biologi?

7. Adakah interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

    Peta Konsep dan LKS dengan motivasi dan kreativitas siswa terhadap prestasi

    belajar Biologi?

                               E. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

   disertai Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi.
2. Mengetahui pengaruh motivasi siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

   rendah terhadap prestasi belajar Biologi.

3. Mengetahui pengaruh kreativitas siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

   rendah terhadap prestasi belajar Biologi.

4. Mengetahui interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

   disertai Peta Konsep dan LKS dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar

   Biologi.

5. Mengetahui interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

   disertai Peta Konsep dan LKS dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

   Biologi.

6. Mengetahui interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa yang berkategori

    tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Biologi?

7. Mengetahui interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

   disertai Peta Konsep dan LKS dengan motivasi dan kreativitas siswa terhadap

   prestasi belajar Biologi.

                               F. Manfaat Penelitian

        Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak,

terlebih bagi dunia pendidikan. Adapun manfaat yang dapat diharapkan dari

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan terutama tentang

    penggunaan model pembelajaran.

b. Sebagai bahan pertimbangan dan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
c. Menyediakan alternatif model pembelajaran yang dapat bermanfaat bagi siswa

   dalam mempelajari materi biologi.

d. Untuk mengetahui pengaruh antara motivasi dan kreativitas belajar siswa

   terhadap prestasi belajar siswa.

e. Untuk melihat dan menganalisis interaksi antara penggunaan model belajar NHT

   yang disertai peta konsep dan LKS terhadap prestasi siswa ditinjau dari motivasi

   dan kreativitas siswa.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap upaya peningkatan kompetensi

   siswa dalam pembelajaran.

b. Memberikan gambaran implementasi pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

   disertai Peta Konsep dan LKS dalam pembelajarn Biologi.

c. Memotivasi para guru Biologi pada khususnya dan pada guru-guru lain pada

   umumnya untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran,

   terutama dalam pengembangan dan implementasi model pembelajaran sesuai

   dengan karakteristik KD/ Materi Pokok/ Materi Ajar yang hendak diajarkan dan

   juga karakteristik siswanya.

d. Memberi masukan pada guru Biologi pada khususnya dan guru-guru lain pada

   umumnya     dalam    memilih       metode,   strategi,   pendekatan,   dan   motode

   pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan kondisi

   yang ada.

e. Memberikan wacana atau pemikiran bagi para guru Biologi khususnya dan guru-

   guru lain umumnya untuk menciptakan suasana belajar di kelas yang kooperatif,

   demokratis, aktif, kreatif, dan menyenangkan.
f.   Sebagai bahan pertimbangan bagi guru Biologi tentang penelitian model dan

     pendekatan belajar yang digunakan dalam pembelajaran Biologi di SMP.
                                       BAB II

     TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR, DAN HIPOTESIS

                               A. Tinjauan Pustaka

                           1. Belajar Dan Teori Belajar

a. Belajar

       Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat

fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Menurut

Muhibbin Syah (2004: 89) “Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan

sangat tergantung pada poses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di

sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri”. Belajar adalah

kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar

sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir selalu

mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan

upaya kependidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan

dan makna yang terkandung dalam belajar.

       Sedangkan menurut Suhaenah Suparno (2000 : 2), “Dalam pengertian yang

umum belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang relativ

permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya”. Dalam kenyataan,

perubahan dalam bentuk respon-respon sebagai hasil belajar ada yang mudah dilihat,

tetapi ada pula yang sifatnya potensial, artinya tidak segera terlihat. Respon tersebut

biasanya merupakan hasil dari kegiatan-kegiatan yang diperkuat. Perubahan-

perubahan pada perilaku itu juga merupakan hasil pengulangan-pengulangan yang

berdampak memperbaiki kualitas perilakunya.
b.    Teori Belajar

1).   Teori Belajar Kognitif menurut Piaget.

       Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor

aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan

sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang

tahapan perkembangan individu. Dikemukakan oleh Ratna Willis (1989 : 152),

”Menurut Piaget, setiap individu mengalami tingkat-tingkat intelektual sebagai

berikut : a) sensori motor, b) pra operasional, c) operasional konkret, dan d) operasi

formal”. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu

yaitu asimilasi dan akomodasi. Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih

berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.

Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan

obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya. Guru hendaknya

banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan

lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

       Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun) dengan ciri-ciri perkembangan pada

tahap ini adalah : a) Pertumbuhan kemampuan anak dilihat dari kegiatan motorik dan

persepsinya b) Dilakukan langkah demi langkah c) Melihat dirinya berbeda dari

orang di sekitarnya d) Lebih banyak memakai indra pendengaran dan penglihatan e)

Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.

       Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun) dengan ciri-ciri perkembangan pada

tahap ini adalah : a) telah mampu menggunakan penglihatannya dengan baik ditandai

dengan mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok b)

tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda namun mampu
mengurutkan barang sesuai dengan kriteria c) mulai mengetahui hubungan secara

logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks d) memperoleh prinsip-prinsip secara

benar.

         Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun) dengan ciri-ciri

perkembangan pada tahap ini adalah : (1) sudah mulai menggunakan aturan-aturan

yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversibel dan kekekalan (2) telah memiliki

kecakapan berfikir logis namun hanya benda-benda yang bersifat konkret (3) mampu

melakukan pengklasifikasian namun masih tetap berfikir abstrak.

         Tahap   operasional   formal   (umur 11/12-18     tahun) dengan     ciri-ciri

perkembangan pada tahap ini adalah : a) mampu berfikir abstrak dan logis dengan

menggunakan pola pikir kemungkinan b) bekerja secara sistematis dan efektif c)

menganalisis secara kombinasi.

         Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru

mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan

baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-

baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak

asing. Memberikan peluang kepada anak agar belajar sesuai tahap perkembangannya.

Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan

diskusi dengan teman-temannya.

         Siswa SMP atau yang sederajat menurut Piaget masuk pada pekembangan

kognitif pada tahap operasional formal. Pada tahap ini siswa SMP yang telah

merupakan seorang remaja akan mampu berpikir secara logis dan teoritis formal
berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis serta dapat mengambil keputusan lepas

dari apa yang diamati saat itu. Pada tahap perkembangan kognitif ini menekankan

pentingnya kegiatan siswa yang aktif dalam mengonstruksi pengetahuan. Dengan

pembelajaran menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) siswa akan

dikondisikan untuk aktif dalam pembelajaran secara berkelompok. NHT yang

disertai Peta Konsep akan membantu siswa untuk belajar membangun konsep yang

bersifat abstrak maupun konkret serta berpikir secara sistematis dan efektif.

Sedangkan pembelajaran menggunakan NHT dengan LKS akan mengaktifkan siswa

mengolah bahan ajar, mengerjakan soal, dan mencerna bahan atau materi dengan

kritis, sehingga siswa akan menguasai bahan ajar dengan baik.

2)   Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne.

       Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan

faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil

kumulatif dari pembelajaran. Menurut Ratna Willis (1989 : 49), ”Para ahli psikologi

pemrosesan-informasi     menguraikan     peristiwa-peristiwa    psikologi   sebagai

transformasi-transformasi dari input ke output. Informasi mula-mula diterima oeh

reseptor, lalu masuk ke registor penginderaan”. Dalam hal ini kondisi individu yang

sedang belajar ikut berperan dalam pemrosesan informasi, yakni kondisi internal

maupun eksternal. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang

diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam

individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang

mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses

pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, a) motivasi b) pemahaman c) pemerolehan

d) penyimpanan e) ingatan kembali f) generalisasi g) perlakuan dan h) umpan balik.
       Dengan pembelajaran menggunakan NHT disertai Peta konsep pada materi

pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan, siswa akan mendapatkan

informasi tentang materi pelajaran dari guru dan dari hasil berdiskusi, kemudian

siswa akan menuangkan rangkaian pengetahuan mereka dalam suatu peta konsep.

Dalam hal ini siswa telah melakukan pemrosesan informasi berupa materi yang

berasal dari guru dan berdiskusi (input) menjadi output berupa peta konsep ataupun

konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif mereka. Sedangkan pembelajaran

menggunakan NHT disertai LKS akan membantu siswa secara aktif berdiskusi untuk

menjawab soal dengan bimbingan guru, membuat kesimpulan dan merumuskan

suatu rumusan dengan kata-kata mereka sendiri. Dalam kegiatan ini siswa juga telah

melakukan memrosesan informasi.

3) Teori Vygostky

       Vygostky mengembangkan pemahaman mengenai belajar dari sisi yang

hampir sama dengan Piaget. Vigostky lebih menekankan perlunya konsensus sosial

dalam proses menguasai pengetahuan. Pandangannya hampir sama dengan Bruner

sedangkan pandangan tentang perkembangan mental sangat berbeda dengan para

kognitifis lain. Vigostky lebih menekankan bahwa proses perkembangan terjadi

secara dinamis dari lahir hingga mati. Proses perkembangan mental ini sangat

dipengaruhi   oleh    sosiokultural   tempat    pembelajar    tinggal.   Vygostky

memperkenalkan ide tentang Zona Of Proximal Development (ZPD). ZPD

didefinisikan sebagai fungsi yang belum matang tetapi masih dalam proses

pematangan. Pandangan ini sangat jelas mengisyaratkan pandangan Vygostky yang

membedakan antara perkembangan dengan belajar. Belajar tidak sama dengan

perkembangan, tetapi terkait yaitu bahwa belajar menyebabkan proses perkembangan
terjadi. Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus,

melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan

dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini,

bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi

melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).

       Pembelajaran kooperatif selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa

peningkatan prestasi belajar peserta didik juga mempunyai dampak pengiring seperti

relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, meningkatkan

harga diri, dan pemberian pertolongan kepada yang lain. Sedangkan penggunaan

metode Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran kooperatif bertujuan

untuk memaksimalkan hasil dari proses pembelajaran tersebut. Sesuai teori belajar

Vygotsky, bahwa lingkungan sosial dan kultural juga akan mempengaruhi proses

perkembangan mental seseorang. Dalam proses pembelajaran menggunakan NHT

dengan peta konsep maupun LKS pada materi pertumbuhan dan perkembangan

tumbuhan dan hewan, siswa harus bekerjasama dalam kelompok mereka untuk

mendiskusikan, menganalisis, menyimpulkan, dan menyelesaikan semua tugas yang

diberikan pada mereka. Dengan demikian mereka telah melakukan suatu proses

social learning.

4) Teori Ausubel

       Inti dari teori Ausubel tentang belajar ialah belajar bermakna. Menurut Ratna

Willis (1989 : 110), “Belajar dapat diklasifikasikan dalam dua dimensi. Dimensi

pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa,

melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyakut cara bagaimana siswa

dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada”. Struktur
kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah

dipelajari dan diingat oleh siswa. Bagi Ausubel belajar bermakna merupakan suatu

proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam

struktur kognitif seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar bermakna

ialah sturktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu

bidang studi tertentu pada waktu tertentu.

       Pengunaan peta konsep dan LKS dalam pembelajaran Numbered Head

Together (NHT), akan membantu siswa dalam proses belajar kelompok untuk

mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki

sebelumnya. Materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan

merupakan materi yang sudah tidak terlalu asing bagi para siswa. Siswa dapat

menjumpai proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan dalam

kehidupan mereka sehari-hari, sehingga mereka sudah memperoleh konsep konkret

dalam hal ini. Dalam proses pembelajaran menggunakan NHT dengan peta konsep

dan LKS, siswa akan mendiskusikan, menganalisis, dan menyimpulkan sendiri

konsep baru yang mereka peroleh, lalu mengaitkan dengan konsep-konsep lama yang

telah mereka miliki sebelumnya. Dengan demikian, penggunaan NHT yang disertai

peta konsep dan LKS diharapkan dapat memberikan pembelajaran yang bermakna

bagi siswa.

5)   Teori Konstruktivisme

       Dikemukakan oleh Paul Suparno (1997:18) bahwa “kontruktivisme adalah

salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah

kontruksi (bentukan) sendiri. Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan

bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas)”. Pengetahuan juga bukanlah
gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pegetahuan selalu merupakan akibat dari

suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorang

membentuk skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang diperlukan

untuk pengetahuan. Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat

tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia

sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus-menerus dengan setiap kali

mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.

       Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat

generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui

dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman

demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi

lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum

seperti: a) Siswa aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada

b) Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan

mereka c) Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui

proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran

terbaru d) Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan

dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan

pemahamannya yang sudah ada e) Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi

pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari

gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah f) Bahan

pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar

untuk menarik minat pelajar.
        Menurut teori kontruktivisme, satu prinsip yang paling penting dalam

psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan

pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam

benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan dalam proses ini, dengan memberi

kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan

mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri

untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke

pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan, siswa itu sendiri yang harus memanjat

anak tangga tersebut.

        Hal yang sangat penting dalam teori kontruktivisme adalah bahwa dalam

proses belajar, siswalah yang harus mendapatkan tekanan. Merekalah yang harus

aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan guru ataupun orang lain. Mereka

yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa

aktif ini dalam dunia pendidikan, terlebih di Indonesia, kiranya sangat penting dan

perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk

berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi

orang yang kritis menganalisis semua hal karena mereka berfikir dan bukan meniru

saja.

        Pembelajaran menggunakan Numbered Head Together (NHT) disertai peta

konsep pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan

mengarahkan siswa secara berkelompok untuk membangun pengetahuan mereka

sendiri melalui kegiatan mengaitkan konsep-konsep dalam bentuk proposisi-

proposisi sehingga menjadi hubungan-hubungan yang bermakna. Sedangkan

pembelajaran NHT dengan LKS pada materi pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan dan hewan berupaya memancing aktivitas belajar dalam kelompok. LKS

berisi materi serta tugas yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi yang pada

akhirnya dapat memudahkan setiap siswa mengonstruk pengetahuan mereka dari

proses pembelajaran tersebut.

                       2. Model Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

       Menurut Slavin (2008:33), “Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran

yang memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman

yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan

bisa memberikan kontribusi”. Sejak semula penelitian mengenai pembelajaran

kooperatif telah memperlihatkan bagaimana strategi ini bisa mengembangkan

pencapaian yang bisa dibuat siswa. Penelian ini juga memperlihatkan berbagai alasan

bahwa pembelajaran kooperatif memang meningkatkan pencapaian dan yang paling

penting, bahwa unsur-unsur pembelajaran kooperatif harus ada pada tempatnya jika

menginginkan pengaruh dan pencapaian maksimal.

       Wina Sanjaya (2007 : 242), mengemukakan bahwa “Pembelajaran kooperatif

merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan tim

kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang

kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda”. Hal yang

menarik dari pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki

dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik juga

mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap peserta

didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap

waktu, dan pemberian pertolongan kepada yang lain.
       Menurut Suhanah Suparno (2000:130), “Pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan

kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami

konsep yang difasilitasi oleh guru”. Model pembelajaran kooperatif adalah model

pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan

keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan

suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan

kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu

yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Jadi pembelajaran

kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara

siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

       Interaksi siswa dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa struktur

kooperatif dibandingkan dengan usaha individual, lebih menunjang komunikasi yang

lebih efektif dan pertukaran informasi diantara siswa. Selain itu juga akan terjadi

usaha saling membantu tercapainya hasil belajar yang baik, berbagi sumber diantara

siswa, perasaan terlibat yang lebih besar, berkurangnya rasa takut akan gagal, dan

berkembangnya sikap saling mempercayai diantara siswa. Pembelajaran kooperatif

menghasilkan keyakinan yang lebih kuat bahwa seseorang merasa disukai, diterima

oleh siswa lain, menaruh perhatian bagaimana temannya belajar dan keinginan untuk

membantu temannya belajar.

       Penekanan pelaksanaan prinsip kerjasama atau kerja kelompok dapat

membentuk anak menjadi manusia demokratis. Manfaat kerjasama lebih besar

daripada persaingan, diantaranya adalah : 1) Kerja kelompok mempertinggi hasil

belajar baik secara kuantitatif maupun kualitatif, motivasi siswa lebih besar dan lebih
sanggup melihat kekurangan-kekurangan untuk segera diperbaiki karena dalam

kelompok lebih banyak orang yang memikirkan 2) Keputusan kelompok lebih

mudah diterima oleh setiap anggota bila mereka turut memikirkan dan memutuskan

bersama-sama 3) Melalui kerja kelompok dapat dikembangkan perasaan sosial dan

pergaulan sosial yang baik. Siswa saling mengenal hak dan kewajiban, kelemahan

dan kekuatan masing-masing. Kerja kelompok menghilangkan antipati dan

prasangka yang merugikan, memperkembangkan kepemimpinan dan kepatuhan

sebagai anggota. Dengan kata lain, kerja kelompok merupakan usaha yang baik

dalam rangka pendidikan sosial.

           Digunakannya pendekatan proses kelompok dalam pembelajaran di kelas

berdasarkan atas prinsip psikologi sosial dan dinamika kelompok. Pendekatan

pembelajaran kelompok lebih menekankan pentingnya ciri kelompok yang ada di

dalam kelas dan saling hubungan antara siswa sebagai anggota kelompok kelas

tersebut. ”Pembelajaran kelompok menggunakan anggapan dasar bahwa kegiatan

siswa di kelas berlangsung dalam kelompok tertentu dan bahwa kelas merupakan

sistem sosial yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dimiliki oleh sistem sosial lainnya”

(Soemarsono, 2007 : 42). Pembelajaran kelompok berasumsi bahwa kegiatan dalam

kelas      berlangsung   dalam   suasana   kelompok.   Disini   tugas   guru   adalah

mengembangkan dan mempertahankan suasana kelompok kelas yang produktif dan

efektif.

b. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

           Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan

materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok

dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, 3)
jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya

jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari

ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4) penghargaan lebih

diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan. Dalam pembelajaran

kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai

suatu tujuan bersama. Untuk itu setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas

keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran

kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus

mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Menurut Sugiyanto

(2008), ”Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat

elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen yang mencirikan pembelajaran

kooperatif tersebut adalah 1) saling ketergantungan positif 2) interaksi tatap muka 3)

akuntabilitas individual 4) keterampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi atau

keterampilan soaial yang secara sengaja diajarkan”.

                       3. NHT (Numbered Head Together)

       Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk

mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan

penguasaan isi akademik. Tipe ini melibatkan para siswa dalam menelaah bahan

yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi

pelajaran tersebut. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada

konsep melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam

suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran

tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan lansung kepada seluruh kelas, guru
menggunakan empat langkah sebagai berikut : a) Penomoran, b) Pengajuan

pertanyaan, c) Berpikir bersama, d) Pemberian jawaban.

       Numbered head together adalah pendekatan yang dikembangkan untuk

melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu

pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Menurut

Langkah-langkah yang dilakukan guru dalam pembelajaran kooperatif dengan

pendekatan ini ada 4 langkah yaitu: penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir

bersama, dan menjawab.

       Menurut Maheady (2006 : 24), “Previous research has shown that Numbered

Heads Together is an efficient and effective instructional technique to increase

student responding and to improve achievement”. Pembelajaran dengan Numbered

Head Together mengupayakan siswa berkonsentrasi terhadap pelajaran, memusatkan

pikiran untuk merasa siap menjawab pertanyaan, berpikir kritis, serta lebih bergairah.

       Menurut Nurhadi (2004 : 67), “Numbered Head Together melibatkan siswa

dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau

memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut”. Dalam penerapan

Numbered Head Together, guru menggunakan 4 langkah sebagai berikut: a)

Penomoran (Numbering) : guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok

atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomors ehingga

setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor yang berbeda b) Pengajuan

pertanyaan (Questioning) : guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa c)

Berpikir bersama (Head Together) : para siswa berpikir bersama untuk

menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap siswa mengetahui jawaban tersebut d)
Pemberian jawaban (Answering) : guru menyebut satu nomor dan siswa dari tiap

kelompok dengan nomor yang sama menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

                              4. Media Pembelajaran

       Menurut Sri Anitah (2008 : 4), “kata media berasal dari bahasa latin, yang

merupakan bentuk jamak dari medium, yang berarti sesuatu yang terletak di tengah

atau suatu alat. Media juga dapat diartikan sebagai perantara atau penghubung antara

dua pihak, yaitu antara sumber pesan dengan penerima pesan”. Oleh karena itu,

media pembelajaran berarti sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara

pemberi pesan kepada penerima pesan. Media sebagai segala bentuk yang digunakan

untuk menyalurkan informasi. Sedangkan menurut Basuki Wibawa (2001 : 9),

“Media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua arah, yaitu

sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media belajar yang dapat digunakan sendiri

oleh siswa”. Media yang digunakan sebagai alat bantu mengajar disebut dependent

media. Sebagai alat bantu, efektivitas media sangat tergantung pada cara dan

kemampuan guru memakainya. Media belajar yang dapat digunakan oleh siswa

dalam kegiatan mandiri, disebut independent media. Media itu dirancang,

dikembangkan, dan diproduksi secara sistematik, serta dapat menyalurkan informasi

secara terarah untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Menurut Sukarno (2008 :

28):

         “Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan.
         Pertama media cetak terdiri atas : majalah, buku-buku, surat kabar, dan
         famlet. Kedua, media digolongkan sebagai media pandang yang terdiri atas
         slide transparansi, filmstrip, model, chart dan grafik, gambar, peta dan globe.
         Ketiga adalah media audio seperti tape dan radio, sedangkan golongan yang
         keempat adalah media audio visual. Media audio visual atau media pandang
         dengar terdiri atas film bersuara, siaran televisi, dan VCD interaktif”
                  .
     Pemilihan media dalam pembelajaran, guru sebenarnya tidak hanya cukup

mengetahui tentang kegunaan, nilai, serta landasannya, tetapi juga harus mengetahui

bagaimana cara menggunakan media tersebut. Dikemukakan oleh Revillia Ardhi

(2008 : 13), “Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media

pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Selain itu media juga harus

merangsang pembelajar untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari selain

memberikan rangsangan belajar baru”. Media yang baik juga akan mengaktifkan

pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa

untuk melakukan praktek-praktek yang secara lebih khusus. Beberapa manfaat dari

penggunaan media pembelajaran diidentifikasikan sebagai berikut: a) penyampaian

materi pelajaran dapat diseragamkan, b) proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan

menarik, c) proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, d) efisiensi dalam waktu

dan tenaga, e) meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, f) media memungkinkan

pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, g) media dapat

menumbuhkan sikap positif terhadap materi dan proses belajar, h) mengubah peran

guru ke arah yang lebih positif dan produktif.

                                  5. Peta Konsep

a. Pengertian

       Salah satu hasil pembelajaran adalah suatu produk atau konsep-konsep.

Konsep ini bisa berupa fakta, konsep ataupun prinsip. Peta konsep merupakan salah

satu alat bantu pembelajaran yang memberikan kemudahan dalam mengaitkan satu

konsep dengan konsep lainnya. Rangkaian yang bermakna ini oleh Novak dinamakan

peta konsep. Novak mengemukakan suatu gagasan bahwa supaya konsep-konsep

yang dimiliki siswa lebih bermakna dapat digunakan dengan peta konsep. Gagasan
ini didasarkan atas teori belajar Ausubel. Ausubel menekankan pentingnya guru

mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa agar belajar bermakna

berlangsung. Pengetahuan atau konsep baru akan dipelajari secara hafalan bila dalam

struktur kognitif siswa tidak terdapat konsep-konsep yang relevan. Tetapi Ausubel

belum menyediakan cara bagi para guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui

siswa, dan Novak inilah yang mengeluarkan gagasan tentang peta konsep atas dasar

pikiran Ausubel.

       Menurut Jenny Vacek (2006 : 421), ”Concept maps facilitate critical thinking

experiences in education”. Pembelajaran dengan peta konsep memberikan

kemudahan dalam memahami suatu materi pelajaran. Produk atau konsep yang sudah

didapatkan dalam pembelajaran tersebut akan lebih bermakna bila dikait-kaitkan

sehingga menjadi rangkaian yang bermakna. Rangkaian yang bermakna akan

membuat ingatan lebih kuat untuk menyimpannya. Dan tidak mungkin seseorang

dapat menghubungkan sesuatu (konsep) apabila orang tidak mengerti benar akan

konsep tersebut.

       Menurut Martinis Yamin (2008 : 144) ”Peta konsep menyatakan hubungan-

hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi”.

Proposisi merupakan dua atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata

dalam suatu unit semantik. Peta konsep yang dibuat terdiri dari satu kata yang dapat

dihubungkan antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk proposisi.

       Menurut Birbili (2006 : 309), “Concept Maps help teachers and students not

only to identify and visually represent their views and knowledge but also to

recognize and depict relationships among concepts”. Peta konsep digunakan untuk

menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk
proposisi-proposisi. Peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh

perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat.

       Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting

melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan

konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan

penyesuaian integratif. Menurut Ausubel, diferensiasi progresif adalah suatu prinsip

penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif

adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang

telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah

berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.

       Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat

ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta

konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang

dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan

disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa

untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru. Dalam pembuatan suatu

peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan

dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-

kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus

pada hubungan sebab akibat.

b. Ciri-ciri

     Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka dikemukakan ciri-ciri

peta konsep sebagai berikut: 1) Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara

untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi,
apakah itu bidang studi Fisika, Kimia, Biologi, Matematika dan lain-lain. Dengan

membuat peta konsep siswa melihat bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari

bidang studi itu lebih bermakna 2) Peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari

suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang

memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah

yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran

tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep 3) Ciri yang ketiga adalah

mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep

memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih

inklusif daripada konsep-konsep lain 4) Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau

lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah

suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

c. Cara Penyusunan

       Peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh

karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa

siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah yang dapat diikuti untuk

menciptakan peta konsep diantaranya adalah sebagai berikut : mengidentifikasi ide

pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep, mengidentifikasi ide-ide atau

konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama menempatkan ide utama di

tengah atau di puncak peta tersebut, mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling

ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide

utama. Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun

peta konsep sebagai berikut: 1) Memilih suatu bahan bacaan 2) Menentukan konsep-

konsep yang relevan 3) Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang
paling inklusif ke yang paling tidak inklusif 4) Menyusun konsep-konsep tersebut

dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas

atau di pusat bagan tersebut. Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut

dihubungkan dengan kata hubung, misalnya ”merupakan”, ”dengan”,”diperoleh”,

dan lain-lain.

                          6. Lembar Kegiatan Siswa

       Menurut Zakiah (2009 : 2), “LKS adalah suatu cara penyajian materi yang

mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, teorema, rumus, pola, aturan, dan

sebagainya, dengan melakukan dugaan, perkiraan, ataupun usaha lainnya”. LKS

merupakan suatu cara untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang dapat

digunakan dalam penyajian mata pelajaran baik secara eksperimen maupun non-

eksperimen. Penyajian secara eksperimen adalah penyajian yang: a) melibatkan

banyak indera, b) banyak keterampilan proses yang dilatihkan, c) menanamkan

disiplin dan tanggung jawab, d) menantang siswa untuk menemukan hal yang baru,

dan e) menggugah ide orisinal siswa. Sedangkan penyajian secara non-eksperimen

adalah penyajian yang: a) menggunakan waktu lebih efisien, b) relatif murah, aman,

hemat tenaga, c) organisasi dan perencanaan lebih terkendali, d) mudah

penggunaannya, dan e) target kurikulum mudah tercapai.

       LKS berisi pertanyaan, pernyataan, dan suruhan yang bertujuan untuk

menanamkan konsep atau prinsip bagi siswa secara utuh, sistematis dan diyakini

kebenarannya. Belajar dengan menggunakan LKS menuntut siswa untuk lebih aktif,

baik mental maupun fisik di dalam kegiatan belajar mengajar. Para siswa dibiasakan

untuk berpikir kritis, logis dan sistematis, karena siswa yang dituntut mencari

informasi sendiri. Penggunaan LKS dapat melatih siswa untuk menemukan dan
mengembangkan keterampilan proses serta memberi pedoman bagi guru dan siswa

dalam pencapaian pemahaman konsep. LKS dapat menjadi suatu alternatif bagi guru

untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu sebagai

variasi dalam kegiatan belajar mengajar. LKS tersebut tentunya harus dapat

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mendukung siswa untuk

lebih termotivasi yang mengarah pada penguasaan materi.

       Salah satu bentuk bahan ajar cetak yang dapat dimanfaatkan dalam proses

pembelajaran adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS merupakan materi ajar yang

dikemas sedemikian rupa agar siswa dapat mempelajari materi tersebut secara

mandiri. Karenanya dalam LKS seharusnya memuat materi, ringkasan, dan tugas

yang berkaitan dengan materi. Dalam LKS, siswa pada saat yang sama diberi materi

dan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut. Selain itu dalam LKS dapat

menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan. Untuk

mendapatkan hasil yang optimal dari LKS, diperlukan persiapan yang matang dalam

perencanaan materi (isi) dan tampilan (desain). Materi LKS harus diturunkan dari

tujuan instruksional. Sedangkan desain dikembangkan untuk memudahkan siswa

berinteraksi dengan materi yang diberikan.

       Lembar kerja siswa (LKS) merupakan salah satu dari sekian banyak cara

yang digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pengajaran mata

pelajaran Biologi, media LKS banyak digunakan untuk memancing aktivitas belajar

siswa. Karena dengan LKS siswa akan merasa diberikan tanggung jawab moril untuk

menyelesaikan sesuatu tugas dan merasa harus mengerjakannya, terlebih lagi apabila

guru memberikan perhatian penuh terhadap hasil pekerjaan siswa dalam LKS

tersebut. Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) misalnya, merupakan suatu upaya
untuk lebih mengefektifkan kegiatan belajar siswa, karena dengan dimanfaatkannya

LKS, siswa akan mengorganisasikan aktivitas belajarnya terkhusus dalam melakukan

latihan mengerjakan soal.

                                    7. Motivasi

a. Hakikat Motivasi
      Menurut Hamzah Uno (2006 : 1) “Setiap individu memiliki kondisi internal,

dimana kondisi internal tersebut turut berperan dalam aktivitas dirinya sehari-hari.

Salah satu kondisi internal tersebut adalah motivasi”. Motivasi adalah dorongan

dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri

seseorang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan

dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi

tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.

       Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan

dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk

mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang

mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan

sebelumnya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan

mental terhadap perorangan. Motivasi dapat juga diartikan sebagai proses untuk

mencoba mempengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan

pekerjaan yang diinginkan, sesuai tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu.

       Menurut Nana Syaodih Sukmadinata ( 2004 : 61), ”Motivasi terbentuk oleh

tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan luar diri individu. Terhadap tenaga-

tenaga tersebut beberapa akan memberikan istilah yang berbeda, seperti : desakan

atau drive, motif atau motive, kebutuhan atau need, dan keinginan atau wish”.
Motivasi memiliki dua fungsi, yaitu pertama : mengarahkan atau directional

function, dan kedua mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan atau activating and

energizing function. Dalam mengarahkan kegiatan, motivasi berperan mendekatkan

atau menjauhkan individu dari sasaran yang akan dicapai. Motivasi juga berfungsi

mengakifkan atau meningkatkan kegiatan. Suatu perbuatan atau kegiatan yang tidak

bermotif atau motifnya sangat lemah, akan dilakukan dengan tidak sungguh-

sungguh, tidak     terarah dan kemungkinan besar tidak akan membawa hasil.

Sebaliknya, bila motivasinya besar atau kuat, maka akan dilakukan dengan sungguh-

sungguh, terarah, dan penuh semangat, sehingga kemungkinan berhasil akan lebih

besar.

         Mengenai hubungan antara motivasi dengan kepribadian, minimal ada empat

macam motif yang memegang peranan penting dalam kepribadian individu, yaitu: 1)

Motif berprestasi (need of achievement), yaitu motif untuk berkompetisi baik dengan

dirinya dan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi 2) Motif berkuasa

(need of power), yaitu motif untuk mencari dan memiliki kekuasaan, dan

berpengaruh terhadap orang lain 3) Motif membentuk ikatan (need of affiliation),

yaitu motif untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi,

atau pun persahabatan 4) Motif takut akan kegagalan (fear of failure), yaitu motif

untuk menghindarkan diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat

perkembangannya.

         Sedangkan menurut Sardiman (1994 : 85) “Motivasi bertalian dengan suatu

tujuan, sehingga motivasi akan mempengaruhi adanya kegiatan”. Sehubungan

dengan hal tersebut, ada tiga fungsi motivasi dalam belajar : 1) Mendorong manusia

untuk bergerak, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi
dalam hal ini motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan 2)

Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan

demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan

sesuai dengan rumusan tujuannya 3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan

perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,

dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan

tersebut.

       Disamping itu, ada juga fungsi-fungsi lain dari motivasi. Motivasi dapat

berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan

usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan

menujukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang

tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan

dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat

menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

b. Motivasi Belajar

       Dikemukakan oleh Hamzah Uno (2006 ; 23) ”Motivasi dan belajar

merupakan dua hal yang saling mempengaruhi”. Belajar adalah perubahan tingkah

laku secara relativ permanent dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek

atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan

tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan

keinginan berhasil, dorongan kebutuhan belajar, dan harapan akan cita-cita.

Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang

kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Menurut Hamzah Uno (2006 : 23) :
        ”Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) adanya
        hasrat dan keinginan berhasil, 2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam
        belajar, 3) adanya harapan dan cita-cita masa depan, 4) adanya penghargaan
        dalam belajar, 5) adanya keinginan yang menarik dalam belajar, 6) adanya
        lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seorang siswa
        dapat belajar belajar dengan baik”

       Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-

siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada

umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang medukung. Hal itu mempunyai

peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.

c. Peran Motivasi Dalam Belajar Dan Pembelajaran

       Peran motivasi dalam belajar dan pembelajaran adalah sebagai penguat dan

memperjelas tujuan belajar. Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila

seseorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan

pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah

dilaluinya. Sesuatu dapat menjadi penguat belajar seseorang apabila dia sedang

benar-benar mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. Dengan perkataan lain,

motivasi dapat menentukan hal-hal apa di lingkungan anak yang dapat memperkuat

perbuatan belajar. Motivasi juga memiliki peran dalam memperjelas tujuan belajar.

Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan

belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya

sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Motivasi juga akan

menentukan ketekunan belajar. Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar

sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan

memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar

menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau
tidak memiiki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama belajar. Dia mudah

tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi

sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.

                                  8. Kreativitas

       Kreativitas menurut Mulyasa (2006 : 124) diartikan sebagai “Pribadi yang

mempunyai ciri-ciri pokok yang ditunjukkan dengan kelincahan mentalnya untuk

berfikir dari dan keseluruh arah, fleksibelitas konseptual dan orisinilitas untuk

melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru dan penemuan”. Ciri-ciri

kreativitas dapat dibedakan ke dalam ciri kognitif dan non kognitif. Kedalam ciri

kognitif termasuk empat ciri berfikir kreatif yaitu kelancaran, keluwesan, keaslian,

dan keterincian. Sedangkan kedalam ciri non kognitif termasuk motivasi, sikap, dan

kepribadian kreatif. Ciri-ciri non kognitif sama pentingnya dengan ciri kognitf,

karena tanpa ditunjang kepribadian yang sesuai, kreativitas seseorang tidak akan

berkembang.

       Ditinjau dari aspek kognitf, kreativitas berkaitan dengan intelegensi dan ciri-

ciri dalam kreativitas. Berkaitan dengan masalah intelegensi sampai pada batas

tertentu mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan kreativitas. Pada orang

dengan IQ di atas 120 bisa kreatif atau tidak kreatif sehingga tanpa kecerdasan,

kemampuan kreatif tidak akan terbentuk. Ada empat komponen ciri-ciri kemampuan

berfikir kreatif yaitu; kelancaran, keluwesan, keterincian, dan keterampilan

mengevaluasi. Kemampuan berfikir kreatif ini selanjutnya disebut dengan

kemampuan divergen.

       Berfikir divergen adalah berfikir yang menghasilkan sesuatu yang baru, atau

respon yang berbeda, yang pada umumnya orang lain tidak melakukan. Kreativitas
sebagai proses mental yang unik, adalah semata-mata dilakukan untuk menghasilkan

sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil, maka kreativitas mencakup pemikiran yang

spesifik dan disebut pemikiran menyebar atau divergen. Ciri-ciri berfikir divergen

adalah kelancaran, keluwesan, keaslian, dan keterincian. Kelancaran dapat diartikan

sebagai kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, jawaban, atau pernyataan,

memberikan banyak cara atau saran untuk menyelesaikan masalah, dan selalu

memikirkan lebih dari satu jawaban.

       Keluwesan adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan, jawaban, atau

pernyataan yang bervariasi. Keluwesan juga dapat dilihat sebagai suatu masalah dari

sudut pandang yang berbeda-beda, serta mampu merubah cara pendekatan atau cara

pemikiran terhadap penyelesaian suatu masalah. Keaslian adalah kemampuan untuk

menghasilkan ide-ide yang baru dan unik, kemampuan menghasilkan solusi yang

tidak lazim atau jarang terjadi, serta kemampuan membuat kombinasi dari usur-unsur

atau bagian-bagian dengan cara yang tidak lazim atau unik. Sedangkan keterincian

adalah kemampuan untuk menguraikan secara terinci detil-detil suatu ide atau

gagasan, sehingga menjadi jelas dan menarik.

       Ciri-ciri kreativitas menurut Utami Munandar dalam Kartono (2004: 49)

yaitu: a) Dorongan ingin tahu besar b) Sering mengajukan pertanyaan yang baik c)

Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah d) Bebas dalam

menyatakan pendapat e) menonjol dalam salah satu bidang seni f) Mempunyai

pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain

g) Rasa humor tinggi h) Daya imajinasi tinggi i) Keaslian tinggi atau tampak dalam

ungkapan, gagasan, karangan dan sebagainya, dalam pemecahan masalah
menggunakan cara-cara orisinil j) Dapat belajar sendiri k) Senang mencoba hal-hal

baru l) Kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan.

       Menurut Mohammad Asrori (2006 : 74), ”Kreativitas pada mulanya

dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimiliki oleh individu tertentu. Dalam

perkembangan selanjutnya ditemukan bahwa kreativitas tidak dapat berkembang

secara otomatis tetapi membutuhkan rangsangan lingkungan”. Utami Munadar

(1988) dalam Mohamad Asrori (2006 : 74) menyatakan bahwa ”faktor-faktor yang

mempengaruhi kreativitas adalah : 1) Usia 2) tingkat pendidikan orang tua 3)

tersedianya fasilitas 4) penggunaan waktu luang”. Potensi kreatif dimiliki oleh setiap

orang, meski dalam taraf yang berbeda-beda. Kira-kira seperlima dari kemampuan

manusia adalah kamampuan kreatif atau yang disebut produk divergen. Penggunaan

potensi kreatif oleh setiap siswa dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah

secara kreatif, dapat ditingkatkan melalui upaya pelatihan yang sistematis.

                                9.    Prestasi Belajar

       Dikemukakan oleh Nana Sudjana (1991 : 46), ”Prestasi belajar siswa pada

hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam

pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris”. Penilaian

prestasi belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang

dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran atau

perubahan tingkah laku siswa. Prestasi belajar ditunjukkan dengan berubahnya

proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah afektif dan psikomotoris.

Kenyataan yang ada, intensitas penggunaan ranah kognitif ini lebih banyak, namun

pengukuran prestasi belajar tetap harus dilakukan terhadap tiga ranah tersebut, yakni

kognitif, afektif, dan psikomotorik
       Sedangkan     menurut    Muhibbin    Syah    (2004:150)    pada   prinsipnya,

mengungkapan ”Hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah

sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa”. Namun demikian,

pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa

murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat

intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal

ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting

dan diharap dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa,

baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa. Kunci pokok

untuk memperoleh ukuran prestasi belajar siswa adalah dengan mengetahui garis-

garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis

prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.

       Prestasi belajar bisa juga disebut kecakapan aktual (actual ability) yang

diperoleh seseorang setelah belajar, suatu kecakapan potensial (potensial ability)

yaitu kemampuan dasar yang berupa disposisi yang dimiliki oleh individu untuk

mencapai prestasi. Kecakapan aktual dan kecakapan potensial ini dapat dimasukkan

kedalam suatu istilah yang lebih umum yaitu kemampuan (ability).

       Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam

memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar

maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang

diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapaun prestasi dapat

diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan.

Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah
mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa

belajar adalah menyerap pengetahuan.

       Menurut Derek Wood (2005 : 22), ”Kesulitan belajar dapat berlangsung

dalam waktu yang lama. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa kesulitan ini

mempengaruhi banyak bagian dalam kehidupan seseorang, baik itu di sekolah,

pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam

hubungan    persahabatan   dan   bermain”.   Kesulitan   belajar   menjadi   bagian

permasalahan yang harus dipecahkan dalam dunia pendidikan. Diantara sekian

permasalahan kesulitan belajar yang dialami siswa, diantaranya adalah tentang

pendekatan pembelajaran yang diberikan pada mereka. Guru dituntut untuk dapat

memberikan pendekatan pembelajaran yang tepat dengan materi dan kondisi siswa

sehingga dapat meminimalkan kesulitan belajar yang mugkin dialami siswa.

       Secara global, factor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa

dapat dibedakan menjadi tiga macam.

a. Faktor internal siswa

       Faktor-faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa anatar lain : 1)

Intelegensi Siswa. Tingkat kecerdasan siswa tak dapat diragukan lagi akan sangat

mempengaruhi dan menentukan tingkat keberhasilan siswa. Ini bemakna, semakin

tinggi kemampuan intelegensi seseorang maka semakin besar peluangnya untuk

meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa

maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses. 2) Sikap siswa, yakni sikap

siswa yang positif terhadap suatu mata pelajaran maka akan membawa kemudahan

bagi proses belajar siswa itu sendiri. Sebaliknya, sikap siswa yang negativ terhadap

suatu mata pelajaran akan menyulitkan siswa itu sendiri dalam prosesnya
mempelajari mata pelajaran tersebut. 3) Bakat Siswa, bakat akan dapat

mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh

karena adalah tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya

menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih

dahulu bakat yang dimiliki anaknya. Ketidaksadaran siswa terhadap bakatnya sendiri

sehingga ia memilih jurusan keahlian tertentu yang sebenarnya bukan bakatnya, akan

berpengaruh    buruk    terhadap    prestasi   belajarnya    4)   Motivasi,    dalam

perkembangannya, motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik

dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri siswa

sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Adapun motivasi

ekstrintik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga

mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.

b. Faktor Eksternal Siswa

       Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain

adalah: 1) Lingkungan Sosial, lingkungan sosial yang banyak mempengaruhi

kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua

dan praktik pengelolaan keluarga dapat memberikan dampak baik ataupun buruk

terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa. 2) Lingkungan

Nonsosial, faktor-faktor yang termasuk nonsosial diantaranya adalah gedung sekolah

dan letaknya, rumah tempat tinggal keluargan siswa dan letaknya, alat-alat belajar,

keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang

turut menentukan keberhasilan belajar siswa.
c. Faktor Pendekaatan Belajar

       Faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan

proses pembelajaran siswa. Pendekatan belajar digunakan siswa untuk menunjang

efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Pemilihan jenis

pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran dan tujuan

yang dikehendaki untuk dicapai oleh siswa. Pemilihan dalam penggunaan

pendekatan belajar yang tepat menjadi hal yang menentukan dalam pencapaian

keberhasilan belajar siswa.

              10. Pertumbuhan Dan Perkembangan Mahluk Hidup

a. Pertumbuhan Dan Perkembangan Tanaman

       Pertumbuhan tanaman sering didefinisikan sebagai pertambahan ukuran,

berat, dan atau jumlah sel. Indikator pertumbuhan dapat dilihat dengan mengukur

tinggi tanaman, mengukur luas permukaan daun, atau mengukur volume akar. Tinggi

tanaman merupakan indikator pertumbuhan yang paling mudah untuk diukur. Tinggi

tanaman sebagai indikator pertumbuhan dapat diterapkan pada tanaman yang

berbatang tunggal dengan cabang yang terbatas dan tumbuh pada kondisi yang

optimal.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan Tanaman

       Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh

dua faktor, yaitu faktor luar(eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor luar yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan antara lain adalah

makanan, air, suhu, cahaya, dan kelembaban.

       Bagi tumbuhan yang dianggap makanan adalah garam-garam mineral atau

zat-zat hara. Makanan yang berupa garam-garam mineral masuk ke tubuh tumbuhan
sebagian besar melalui akar bersama dengan air, tetapi ada makanan yang diambil

melalui udara, yaitu karbon dioksida. Makanan atau zat bagi tanaman pada dasarnya

hampir sama dengan zat pada manusia, yaitu terdiri atas unsur-unsur yang kemudian

membentuk suatu zat yang berupa air, karbon dioksida, atau dalam bentuk pupuk

seperti urea dan ZA. Unsur-unsur tersebut ada yang diperlukan tumbuhan dalam

jumlah besar, ada juga diperlukan dalam jumlah sedikit. Unsur yang diperlukan

dalam jumlah besar disebut makroelement. Sedangkan unsur yang diperlukan dalam

jumlah sedikit disebut mikroelement.

       Air merupakan komponen yang paling penting dalam pertumbuhan tanaman.

Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh. Bagi tanaman, air berfungsi untuk

fotosintesis, membantu proses reaksi kimia, menjaga kelembaban, dan membantu

perkecambahan biji. Kekurangan air berakibat lebih fatal daripada kekurangan zat

makanan.

       Untuk proses tumbuh dan berkembang, tanaman memerlukan suhu yang

sesuai. Suhu tersebut disebut suhu optimum. Suhu paling rendah yang masih

memungkinkan pertumbuhan disebut suhu minimum. Sedangkan suhu paling tinggi

yang memungkinkan tanaman untuk bisa tumbuh disebut suhu maksimum. Jenis

tumbuhan satu dengan yang lain memiliki suhu yang bebeda-beda. Bagi tanaman,

suhu lingkungan berpengaruh berpengaruh terhadap aktivitas kerja enzim.

Umumnya, tanaman tidak dapat tumbuh pada suhu di bawah 00C dan di atas 400C.

Kisaran suhu masih memungkinkan tumbuh dengan baik adalah 220C- 370C.

       Setiap jenis tumbuhan memerlukan jumlah cahaya yang berbeda-beda.

Seperti telah diketahui bahwa cahaya diperlukan untuk fotosintesis. Jumlah cahaya

yang berlebihan justru dapat menghambat pertumbuhan karena merusak kerja
hormon pertumbuhan (auksin). Tumbuhan yang kurang mendapat cahaya atau berada

di tempat gelap akan terjadi pertumbuhan yang sangat cepat atau disebut denga

istilah etiolasi. Walaupun lebih cepat tumbuh, tanaman tersebut menunjukkan gejala

tidak normal seperti warna daun yang pucat.

       Cahaya juga dapat mempengaruhi masa perkembangan tanaman tersebut.

Ada tanaman berbunga saat siang hari (ada cahaya) lebih panjang dibandingkan

malam hari (gelap). Kelompok tanaman ini disebit tanaman berhari panjang. Ada

juga tanaman berbunga saat malam hari (keadaan gelap) lebih panjang dibandingkan

siang hari (keadaa terang). Kelompok tanaman ini disebut tanaman berhari pendek.

Ada juga tumbuhan berbunga saat panjang siang dan malam sama. Tanaman

demikian ini disebut tanaman berhari netral. Lama penyinaran juga berpengaruh

terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif dai suatu tanaman.

       Tiap spesies tanaman memerlukan kelembaban yang berbeda-beda. Pada

kondisi kelembaban tinggi, umunya pertumbuhan tanaman lebih cepat. Namun

kelembaban yang rendah diperlukan beberapa tanaman untuk pertumbuhan generatif

sehingga tanaman tersebut berbunag pad musim kemarau.

       Faktor dalam (internal) yang berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah gen

dan hormon. Gen merupakan faktor penentu sifat-sifat yang akan diwariskan kepada

generasi berikutnya. Gen juga berperan dalam pengendalian metabolisme zat di

dalam sel, misalnya proses sintesis protein. Protein merupakan komponen dasar

penyusun mahluk hidup termasuk tanaman. Dengan demikian gen dapat mengatur

pola pertumbuhan denga cara menurunkan sifat-sifatnya dan sintesis-sintesis yang

dikendalikannya. Oleh karena itu, genetis tanaman yang satu denga yang lainnya
akan memiliki pola pertumbuhan yang berbeda akibat susunan gen yang berbeda-

beda.

        Hormon tanaman merupakan suatu senyawa organik yang disintesis dalam

suatu bagian tanaman, kemudian diangkut kebagian lain tanaman. Bila jumlah

hormon sangat rendah, akan mempengaruhi pertumbuhan. Hormon juga dikenal

denga istilah lain, yaitu zat tumbuh atau fitohormon. Hormon atau zat tumbuh dibagi

menjadi dua sifat, yaitu merangsang pertumbuhan dan menghambat pertumbuhan.

Hormon juga mempunyai sifat dapat berpindah dari bagian tanaman ke bagian yang

memerlukannya. Beberapa jenis hormon tanaman yang perlu diketahui diantaranya

adalah auksin, geiberelin, sitokinin, asam absitat, dan etilen.

        Istilah auksin berasal dari bahasa yunani auxein yang artinya meningkatkan.

Istilah ini pertama kali digunakan oleh Fritts Went, seorang mahasiswa pascasarjana

dari Belanda pada tahun 1926. Auksin yang ditemukan oleh Went sekarang dikenal

sebagai Asam Indolasetat disingkat IAA. Dari berbagai penelitian, para ahli

mengemukakan beberapa pengaruh auksin terhadap pertumbuhan antara lain :

mendorong pemanjangan batang atau pucuk tanaman, merangsang pertumbuhan akar

pada batang atau setek batang, memacu dominasi tunas apikal (tunas di ujung

batang).

        Hormon Giberelin pertama kali d temukan di Jepang tahun 1930. Pada tahun

1930an Yabutada Hyoshi berhasil mengisolasi senyawa aktif dari cendawan tersebut.

Senyawa itu diberi nama Giberelin. Jadi, Giberelin dan auksin ditemukan hampir

bersamaan. Beberapa pengaruh hormon Giberelin terhadap tanaman adalah :

memacu pertumbuhan batang, merangsang pertumbuhan biji dan tunas, merangsang

pembentukan bunga, merangsang perkembangan buah tanpa biji (Parthenocharpy).
       Hormon sitokinin pada dasarnya merupakan suatu senyawa yang merangsang

proses sitokinesis (pembelahan sel). Hal ini di dasarkan pada penelitian yang

dilakukan oleh Gottlieb. Haberland di Australia sekitar 1913. Haberlandt

menemukan suatu senyawa tak dikenal yang memacu pembelahan sel yang

menghasilkan kambium gabus dan memulihkan luka pada umbi kemtang yang

terpotong. Jenis sitokinin yang paling aktif adalah zeatin dan zeatin ribosida yang

terdapat pada endosperma jagung. Sitokonin juga terdapat pada lumut, ganggang

coklat, dan ganggang merah. Jadi sitokinin tersebar luas pada berbagai tanaman.

Beberapa fungsi dari hormon sitokinin diantaranya adalah memacu pembelahan sel

dan pembentukan organ, menunda penuaan, memacu perkembangan kuncup

samping, memacu pembesaran sel pada kotiledon dikotil.

       Zat ini merupaka zat penghambat tumbuh yan umum dijumpai pada tanaman.

Zat ini dijumpai pada semua tanaman tingkat tingg, beberapa jenis jamur, lumut,

ganggang hijau, namun tidak ditemukan pada bakteri. Asam Absitat pertama kali

ditemukan dan dicirikan secara kimia pada tahun 1963 di California oleh Frederick

T. Addicott dan beberapa pembantunya saat mempelajari sentawa yang

menyebabkan gugurnya bah kapas. Namun baru pada tahun 1967 disepakati untuk

menamakan senyawa penyebab dormansi dan pemacu pengguguran buah dan bunga.

       Etilen adalah gas atau uap yang dihasilkan oleh buah yang sudah tua. Pada

tahun 1934, R. Gane berhasil membuktikan bahwa etilen disintesis oleh tanaman dan

berperan mempercepat pematangan bauh, merangsang pembungaan, merangsang

penuaan dan pengguguran daun serta menghambat pemanjangan batang.
       Jadi, pertumbuhan dan perkembanga tanaman dipengaruhi oleh faktor luar

dan faktor dalam dari tanaman tersebut. Faktor luar diantaranya adalah suhu,

kelembaba, air, dan makanan,. Sedangkan faktor dalam meliputi gen dan hormon.

c. Pertumbuhan Dan Perkembangan Hewan Dan Manusia

       Berbeda dengan pertumbuhan tanaman yang terjadi pada bagian-bagian

tertentu, pertumbuhan dan perkembangan hewan dan manusia terjadi diseluruh

bagian tubuh. Pertumbuhan pada hewan dan manusia tampak pada bertambah

besarnya ukuran organ. Pertumbuhan ini merupakan hasil pembelahan sel secara atau

karena pembesara ukuran sel atau keduanya. Sedangkan perkembangan pada hewan

dan manusiaditandai denga perubahan sel-sel menuju ke bentuk dewasa. Proses ini

mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk tubuh. Pola pertumbuhan dan

perkembanga antar spesies memang beragam. Namun pola-pola tersebut memiliki

tahapan-tahapan yang hampir sama, meliputi : 1) pembelahan (cleavage) 2)

morfogenesis 3) differensiasi 4) pertumbuhan

       Tahapan pertama sampai ketiga disebut tahapan embrio. Ketiga tahap ini

adalah merupakan masa-masa perkembangan utama suatu hewan.

1) Pembelahan (Cleavage)

       Selama tahap ini zigot yang merupakan hasil peleburan inti sperma dan telur

mengalami serangkaian pembelahan mitosis.Pada tahap ini hanya sedikit terjadi

proses pertumbuhan, bahkan tidak terjadi pertumbuhan. Disini proses yang terjadi

adalah masa telur hanya semata-mata hanya dibagi-bagi menjadi satuan-satuan yang

makin kecil.

       Zigot yang semual berupa sebuah inti sel terbelah secara mitosis, lalu

muncullah alur memanjang secara membujur melalui kutub telur sehingga telur
menjadi menjadi 2 belahan. Setiap satu jam setelah pembelahan pertama, setiap sel

anak membelah lagi. Alur belahannya mengarah tegak lurus dari alur pertama,

sehingga membentuk empat bauh sel. Empat bauh sel tersebut kemudian membelah

lagi secara membujur sehingga terbentuk delapan sel.

2) Morfogenesis

       Setelah tahap blastula, pembelahan sel tetap berlanjut. Bagian kutub-kutub sel

tetap membelah secara mitosis. Saat jumlah sel semakin bertambah, kemudian terjadi

perpindahan sel ke bagian kuning telur kutub. Pada saat bersamaan, sebagian sel-sel

kutub juga mulai berpindah, sehingga sel-sel tersebut terdorong ke dalam massa sel,

sehingga terbentuk lekukan berbentuk sabit yang disebut blastopor. Poses ini

menandakan dimulainya proses gastrula, prosesnya disebt gastrulasi. Selama ini

terjadi pembentukan tiga lapis sel, yaitu ektoderm (lapisan luar), mesoderm (lapisan

tengah), dan endoderm (lapisan dalam). Pada ketiga lapisan ini berkembanglah

berbagai organ dan sistem organ hewan. Pada proses gastrulasi ini terjadi

pemantapan pola dasar embrio. Sel-sel berkumpul pada lokasi tertentu dalam

mempersiapkan jaringan, organ, dan sistem organ. Proses pembentukan ini

melibatkan juga proses perpindahan sel dan penumpukan sel pada etiga lapisan sel

tersebut. Perkembangan pola inilah yang disebut morfogenesis. Namun sel-sel

embrio selama proses morfogenesis semuanya hampir serupa pada strukturnya.

3) Differensiasi

       Pada proses ini sel-sel embrio yang sedang berkembang mulai membetuk

struktur dan fungsi khusus yang akan dimiliki pada saat dewasa, seperti sel-sel saraf,

sel-sel otot, dan sebagainya. Pada proses inilah disebut differensiasi.
4) Pertumbuhan

       Tahap ini terjadi setelah seluruh sistem organ hewan terbentuk. Selama tahap

ini organisme menjadi besar karena berlangsungnya proses pembelahan sel atau

kedua-duanya. Proses pertumbuhan tergantung kepada pengambilan bahan dan

energi. Walaupun semua jaringan dan organ tubuh hewan mengalami pertumbuhan,

tidak semanyan mempunyai laju pertumbuhan yang sama. Misalnya, tulang mampu

tumbuh dan jadi panjang hanya selam punya daerah tulang rawan yang disebut

daerah cakra epifisis.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan Hewan

   Dan Manusia

       Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan dan manusia dipengaruhi oleh

faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam berupa gen dan hormon , sedangkan

faktor luar berupa makanan, air, aktivitas, dan cahaya matahari. Faktor dalam dan

faktor luar tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri atau bergiliran dalam mempengaruhi

pertumbuhan, namun secara bersama-sama saling menunjang atau saling

menghalangi.

       Faktor dalam yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan

hewan dan manusia adalah gen dan hormon. Banyak yang berpendapat bahwa gen

merupakan penent semua struktur dan fungsi yang berkaitan dengan ciri-ciri hewan

dan manusia. Ciri tersebut antara lain bentuk tubuh, warna kulit, dan warna rambut.

Bahkan laju pertumbuhan dan perkembangan juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

       Hormon berasal dari bahasa Yunani Hormaein yang berarti menggerakkan.

Hormon pertama kali ditemukan pada tahun 1902 oleh Williams Baylis da Ernest
Starling. Hormon yang pertama ditemuka adalah sekretin yang dihasilkan oleh usus

halus yang berfungsi merangsang pengeluaran getah pankreas.

Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu dan melepaskan

hormonnya ke dalam aliran darah untuk dibawa ke organ sasaran sehingga

mempengaruhi pertumbuhan. Ada beberapa hormon yang hanya bekerja pada jaringa

tertentu, ada juga yang bekerja diselurh tubuh.

       Beberapa faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

adalah makana, air, aktivitas tubuh, dan cahaya matahari. Zat makanan yang

diperlukan oleh tubuh hewan termasuk manusia adalah karbohidrat, lemak, protein,

vitamin, dan mineral. Zat makana yang paling penting dalam pertumbuhan hewan

dan manusia adalah protein. Protein selain berfungsi sebagai zat pembangun tubuh

juga berfungsi sebagai pembentuk hormon, yang nantinya juga berperan dalam

pertumbuhan.

       Air merupakan medium paling baik untuk proses-poses kimia di dalam tubuh.

Dari proses kimia tersebut secara langsung maupun tidak langsung maupun tidak

langsung akan dihasilkan energi. Energi tersebut kemudian untuk membantu

pembentukan sel-sel baru atau perbaikan jaringan tubuh.

       Aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh dapat mempengaruhi pertumbuan apabila

dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan

otot seorang binaragawan yang secara rutin dan dalam jangka waktu panjang selalu

dibiasakan denga aktivitas fisik.

       Peran cahaya matahari terhadap pertumbuhan adalah dalam proses

pembentukan tulang. Perlu diingat bahw auntuk mengubah provitamin D menjadi

vitamin D diperlukan cahaya matahari. Kemudian vitamin D yang          terbentuk
digunakan untuk pembentukan tulang. Jika seorang jarang terkena sinar matahari,

tentu saja proses pembentukan vitamin D juga terganggu.

e. Metamorfosis

       Metamorfosis merupakan proses perubahan mencolok dari larva sampai

dewasa. Beberapa hewan yang mengalami metamorfosis adalah hewan-hewan

kelompok serangga dan katak.

       Ada dua jenis metamorfosis pada serangga, yaitu metamorfosis sempurna dan

metamorfosis   tidak   sempurna.    Metamorphosis    sempurna   kebalikan   dari

metamorphosis sempurna. Contoh proses metamorphosis sempurna terjadi pada

katak dan kupu-kupu. Pertama-tama, kupu-kupu akan bertelur. Telur tersebut akan

menetas menjadi Larva (ulat), ulat tersebut akan berubah bentuknya menjadi

panjang. Ulat tersebut nantinya akan menempel pada pohon dan daun-daunan

sehingga menjadi kepompong. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan

keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Kemudian tidak berapa lama menjadi

kupu-kupu dewasaSeperti terlihat pada gambar di bawah.




                       Gambar 1. Metamorfosis Kupu-kupu
       Metamorphosis tidak sempurna umumnya terjadi pada hewan jenis serangga

seperti capung, belalang, jangkrik dan lainnya. Mengapa dikatakan tidak sempurna ?

Jawabannya adalah karena hewan tersebut hanya melewati 2 tahapan, yaitu dari telur

menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa

       Pada metamorfosisi katak, awalnya katak betina dewasa akan bertelur,

kemudian telur tersebut akan menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak

tersebut menetas menjadi Berudu. Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai

insang luar yang berbulu untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu

akan tertutup oleh kulit. Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang. berudu akan

terbentuk kemudian membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu,

kaki depannya mulai berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan

paru-paru. Setelah pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan

berubah menjadi katak dewasa.




                         Gambar 2. Metamorfosis Katak

f. Metagenesis

       Ada dua cara yang dilakukan mahluk hidup untuk berkembang biak. Pertama

dengan reproduksi seksual dan yang kedua dengan reproduksi aseksual. Reproduksi
seksual terbentuk dengan tergabungnya dua sel kelamin jantan dengan sel kelamin

betina. Proses ini melibatkan dua individu. Reproduksi aseksual terbentuk tanpa

adanya peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina tetapi berasal dari bagian

tubuh induk. Beberapa tumbuhan dan hewan melakukan dua cara reproduksi tersebut

dengan cara bergantian selama siklus hidupnya. Proses semacam ini yang disebut

metagenesis.

                           B. Penelitian Yang Relevan

       Penelitian yang relevan dengan penelitian Penulis antara lain :

       Penelitian yang dilakukan oleh Maulida Hayati (2008) dengan judul

”Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas I SMP Negeri Danau Panggang

Kalimantan Selatan Melalui Metode Numbered Head Together”, menyimpulkan

bahwa pembelajaran kooperatif numbered head together dapat meningkatkan

aktivitas siswa dalam berkelompok, mengerjakan tugas-tugas, berfikir bersama,

menjawab kuis, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SMP Negeri 1

Danau Panggang. Penelitian yang penulis lakukan adalah penggunaan metode

Numbered Head Together yang disertai peta konsep dan LKS, dengan harapan

bahwa efektivitas pembelajaran NHT lebih dapat ditingkatkan dengan bantuan

penggunaan peta konsep dan LKS.

       Penelitian yang dilakukan oleh Teti Rostikawati (2008) tentang ”Peta Konsep

Dalam Metode Quantum Learning Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Dan

Kreativitas Siswa”, menyimpulkan bahwa proses belajar dengan metode Quantum

Learning menggunakan teknik peta konsep memiliki manfaat yang sangat baik untuk

meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang

terdapat dalam diri siswa. Penelitian yang penulis lakukan adalah penggunaan
Numbered Head Together (NHT) dengan peta konsep dan LKS, sedangkan variabel

moderator yang digunakan terdiri dari motivasi belajar dan kreativitas siswa.

       Penelitian yang dilakukan oleh Thomas Suharmanto (2006) ”Pengaruh

Pembelajaran Berbasis Lembar Kegiatan Siswa Dan Media Komputer Terhadap

Kemampuan Kognitif Ditinjau Dari Aktivitas Belajar Siswa”, menyimpulkan bahwa

penggunaan Lembar Kegiatan Siswa dapat merangsang siswa agar secara aktif

terlibat dengan materi yang dibahas. Penelitian yang penulis lakukan adalah

pembelajaran dengan peta konsep dan Lembar Kegiatan Siswa tang dikemas dalam

metode Numbered Head Together (NHT)

       Dalmudi (2004) dalam penelitiannya ”Pengaruh Strategi Pembelajaran

Dengan Pendekatan Peta Konsep Dan Metode Diskusi Terhadap Prestasi Belajar

Fisika Ditinjau Dari Motivasi Berprestasi Dan Kreativitas Siswa”, menyimpulkan

bahwa strategi pembelajaran dengan peta konsep memiliki rerata prestasi belajar

yang lebih tinggi daripada rerata pembelajaran dengan metode diskusi, serta motivasi

dan kreativitas berpangaruh terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian yang penulis

lakukan adalah pembelajaran dengan metode Numbered Head Together (NHT)

disertai peta konsep dan LKS dengan menggunakan variabel moderator motivasi

belajar dan kreativitas siswa.

       Dewi Nurmalasari (2009) dalam penelitiannya ”Pembelajaran Kimia Dengan

Strategi PQ4R Dan Concept Mapping Ditinjau Dari Kemampuan Memori Dan

Kreativitas Siswa”, menyimpulkan bahwa penggunaan stategi belajar Concept

Mapping memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap prestasi belajar siswa

daripada penggunaan strategi belajar PQ4R, serta kreativitas siswa berpengaruh

terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian yang penulis lakukan adalah penggunaan
metode pembelajaran NHT dengan peta konsep dan LKS, sedangkan variabel

moderator yang digunakan adalah motivasi belajar dan kreativitas siswa.

                              C. Kerangka Berfikir

                             Proses Pembelajaran NHT




                      Peta Konsep                        LKS




                                Prestasi Belajar Siswa



                         Motivasi                    LKS

                           Gambar 3. kerangka berpikir

1. Pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

   Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi.

   Materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan merupakan materi

   yang baru namun dirasakan tidak terlalu asing bagi siswa. Siswa dapat

   menjumpai proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan dalam

   kehidupan sehari-hari mereka, sehingga mereka telah memperoleh konsep

   konkret dalam hal ini. Pada materi pertumbuhan dan perkembangan terdapat

   banyak konsep, baik yang bersifat konkret maupun abstrak. Oleh karena siswa

   telah memiliki konsep konkret, maka akan memudahkan bagi siswa untuk

   mendiskusikan materi ini saat proses pembelajaran menggunakan metode

   Numbered Head Together (NHT). Metode pembelajaran NHT adalah metode

   pembelajaran yang lebih banyak melibatkan siswa dalam menelaah materi yang
   tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengembangkan diskusi dan kerja

   kelompok. Kegiatan ini memberikan aktivitas lebih banyak pada siswa.

   Pembelajaran NHT menggunakan peta konsep pada materi pertumbuhan dan

   perkembangan akan memudahkan siswa untuk membangun konsep mereka

   tentang materi tersebut. Konsep-konsep tersebut akan lebih bermakna jika

   dikaitkan sehingga menjadi rangkaian yang bermakna. Hal ini sesuai dengan teori

   belajar Ausubel bahwa belajar bermakna akan terjadi jika siswa dapat

   mengaitkan konsep yang baru diperoleh dengan konsep lama yang telah dimiliki

   sebelumnya. Penggunaan LKS dalam proses pembelajaran pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan dapat memberikan kesempatan kepada siswa

   untuk mengungkapkan kemampuan dan keterampilan dalam mengembangkan

   proses berpikirnya. Penggunaan metode pembelajaran NHT yang disertai peta

   konsep diduga dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan daripada pembelajaran

   dengan NHT menggunakan LKS.

2. Pengaruh motivasi siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan rendah

   terhadap prestasi belajar Biologi.

   Selain faktor eksternal yang berupa metode pembelajaran, terdapat faktor internal

   yang juga berpengaruh terhadap pencapaian prestasi siswa. Diantara faktor

   internal tersebut adalah motivasi siswa. Motivasi adalah dorongan dasar yang

   menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri

   seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan

   dorongan dalam dirinya. Pada pembelajaran materi pertumbuhan dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan, siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam
   belajar akan menujukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya

   usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang

   belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Pada penelitian ini aspek

   motivasi dibagi menjadi dua kategori yaitu tinggi dan rendah. Oleh karena

   intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian

   prestasi belajarnya, maka diduga siswa dengan motivasi tinggi memiliki prestasi

   belajar yang lebih baik daripada siswa dengan motivasi yang rendah pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

3. Pengaruh kreativitas siswa kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar

   Biologi.

   Kreativitas siswa berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide

   unik atau kreatif. Kreativitas ini akan sangat membantu siswa dalam membangun

   konsep-konsep pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan. Potensi kreatif dimiliki oleh setiap siswa, meski dalam taraf yang

   berbeda-beda. Siswa dengan kreativitas tinggi memiliki ciri-ciri : dorongan ingin

   tahu besar, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah,

   mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, dan memiliki

   kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan. Dengan kemampuan

   seperti tersebut diatas, maka tingkat kreativitas sangat menunjang perolehan

   prestasi belajar yang lebih baik. Pada penelitian ini kreativitas siswa dibagi

   menjadi dua kategori, yakni tinggi dan rendah, dan siswa dengan tingkat

   kreativitas tinggi diduga mempunyai prestasi belajar yang lebih baik pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan daripada siswa dengan

   tingkat kreativitas rendah.
4. Interaksi antara model pembelajaran kooperetif tipe NHT yang disertai peta

   konsep dan LKS dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar Biologi.

   Pada proses pembelajaran materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan, model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan peta konsep dan LKS

   merupakan faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan

   pembelajaran. Sedangkan motivasi yang merupakan faktor internal juga dapat

   berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi

   tinggi saat diberikan pembelajaran dengan NHT disertai peta konsep akan

   mengalami penguatan sehingga mudah menangkap dan memahami konsep yang

   disampaikan guru. Penguasaan konsep siswa yang bermotivasi belajar tinggi

   akan lebih baik bila dibandingkan siswa yang bermotivasi belajar rendah.

   Penggunaan NHT dengan LKS pada proses pembelajaran bagi siswa yang

   bermotivasi tinggi akan mendorong mereka untuk berpikir kritis, logis, dan

   analitis dalam berdiskusi serta kegiatan kelompok lainya. Interaksi antara

   penggunaan metode pembelajaran NHT yang disertai peta konsep dan LKS

   dengan motivasi diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

5. Interaksi antara metode pembelajaran NHT yang disertai peta konsep dan LKS

   dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi.

   Proses pembelajaran pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan, metode pembelajaran NHT dengan peta konsep dan LKS merupakan

   faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran.

   Sedangkan kreativitas merupakan faktor internal juga dapat berpengaruh

   terhadap keberhasilan pembelajaran. Bagi siswa yang memiliki kreativitas tinggi,

   penggunaan NHT disertai peta konsep pada pembelajaran materi pertumbuhan
   dan perkembangan akan memudahkan pembentukan rangkaian konsep dalam

   struktur kognitif mereka. Hal demikian terjadi karena semakin kreatif pola pikir

   seseorang, maka akan semakin mampu dalam mengaitkan satu konsep dengan

   konsep yang lain. Sedangkan penggunaan NHT disertai LKS pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan bagi siswa berkreativitas tinggi akan tertuang

   dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif serta kemampuan

   berpendapat dan mengungkapkan pendapatnya. Interaksi antara penggunaan

   model pembelajaran NHT yang disertai peta konsep dan LKS dengan kreativitas

   diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

6. Interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa yang berkategori tinggi dan rendah

   terhadap prestasi belajar Biologi.

   Setiap siswa memiliki kondisi internal, dimana kondisi internal tersebut turut

   berperan dalam aktivitas dirinya dalam proses belajar pada materi pertumbuhan

   dan perkembangan tumbuhan dan hewan. Diantara kondisi internal tersebut

   adalah motivasi dan kreativitas. Motivasi adalah dorongan dasar yang

   menggerakkan seseorang bertingkah laku. Sedangkan kreativitas diartikan

   sebagai pribadi yang mempunyai ciri-ciri pokok yang ditunjukkan dengan

   kelincahan mentalnya untuk berfikir dari dan keseluruh arah. Penggunaan potensi

   kreatif oleh setiap siswa dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah secara

   kreatif. Dengan demikian interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa diduga

   berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa pada materi pertumbuhan dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan.

7. Interaksi antara metode pembelajaran NHT yang disertai peta konsep dan LKS

   dengan motivasi dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi.
Prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal

yang ada padanya. Faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi antara lain

adalah metode pembelajaran. Proses pembelajaran pada materi pertumbuhan dan

perkembangan tumbuhan dan hewan menggunakan metode belajar NHT disertai

peta konsep akan membantu siswa untuk memahami suatu rangkaian materi

secara terpadu. Peta konsep merupakan suatu teknik visual yang menunjukkan

struktur informasi pada kognitif seseorang, yaitu tentang bagaimana konsep-

konsep dalam domain tertentu saling berhubungan. Sedangkan proses

pembelajaran pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan

menggunakan metode belajar NHT disertai LKS akan mendorong siswa

menemukan      konsep-konsep     pada    materi   tersebut   melalui   berdiskusi,

merumuskan, menganalisis, dan menyimpulkan berbagai persoalan dalam LKS.

Selain faktor eksternal tersebut, terdapat faktor internal diantaranya adalah

motivasi dan kreativitas. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling

mempengaruhi, karena motivasi belajar adalah dorongan internal pada siswa

yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku. Hal ini

mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seorang siswa dalam belajar.

Potensi kreatif siswa dalam pembelajaran akan tampak pada kemampuan untuk

menghasilkan gagasan, jawaban, atau pernyataan yang bervariasi, dan mampu

merubah cara pendekatan atau cara pemikiran terhadap penyelesaian suatu

masalah dengan ide-ide yang baru dan unik, serta menghasilkan solusi yang tidak

lazim atau jarang terjadi. Dengan kata lain, metode pembelajaran NHT dengan

peta konsep dan LKS merupakan faktor eksternal yang dapat berpengaruh

terhadap keberhasilan pembelajaran. Sedangkan motivasi dan kreativitas yang
merupakan faktor internal yang juga dapat berpengaruh terhadap keberhasilan

pembelajaran. Interaksi antara penggunaan model pembelajaran NHT yang

disertai peta konsep dan LKS dengan motivasi dan kreativitas diduga

berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

                                 D. Hipotesis
Penelitian ini mengemukakan beberapa hipotesis sebagai berikut :

1.   Ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT disertai

     Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi.

2.   Ada pengaruh motivasi siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

     rendah terhadap prestasi belajar Biologi.

 3. Ada pengaruh kreativitas siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan

     rendah terhadap prestasi belajar Biologi.

 4. Ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

     Peta Konsep dan LKS dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar

     Biologi.

 5. Ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

     Peta Konsep dan LKS dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

     Biologi.

 6. Ada interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa yang berkategori tinggi

     dan rendah terhadap prestasi belajar Biologi.

 7. Ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai

     peta konsep dan LKS dengan motivasi dan kreativitas siswa terhadap

     prestasi belajar Biologi.
                                     BAB III
                         METODOLOGI PENELITIAN
                           A. Tempat dan Waktu Penelitian
                               1. Tempat Penelitian
               Penelitian ini dilaksanakan di SMP N I Menden, Blora
                               2. Waktu Penelitian
              Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut :

a. Tahap persiapan meliputi : pengajuan judul, pembuatan proposal, permohonan

   pembimbing, dan permohonan perijinan kepada lembaga terkait.

b. Tahap pelaksanaan meliputi : uji coba instrumen penelitian, pelaksanaan

   mengajar dan pengambilan data.

c. Tahap penyelesaian meliputi : analisis data dan penyusunan laporan.

Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus 2009 sampai bulan Januari 2010.

Adapun jadwal penelitian sebagai berikut :

                            Tabel 1.3. Tahap Penelitian
              Kegiatan                       Bulan
                                 8    9      10   11   12     1
        Proposal penelitian     √     √
        Permohonan ijin         √     √
        Pembuatan dan uji             √      √
        instrumen
        Pengambilan data              √      √    √
        penelitian
        Penyusunan                    √      √    √       √   √
        laporan
                             B. Populasi dan Sample
                            1. Populasi Penelitian

       Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri I Menden

Tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 6 kelas.

                             2. Sampel Penelitian

       Dalam penelitian ini sebagai sampel adalah 4 kelas dari 6 kelas yang ada.

Dari 4 kelas tersebut, dua kelas akan diberi perlakuan pembelajaran dengan metode

Numbered Head Together dengan peta konsep dan dua kelas lainnya akan diberi

perlakuan pembelajaran dengan metode Numbered Head Together dengan LKS.

                           3. Pengambilan Sampel

       Dalam penelitian ini sampel diambil secara acak (Cluster Random Sampling),

yakni mengambil empat kelas dari enam kelas yang tersedia, dua kelas diberi

perlakuan pembelajaran dengan metode Numbered Head Together menggunakan

peta konsep dan dua kelas lainnya akan diberi perlakuan pembelajaran dengan

metode Numbered Head Together menggunakan LKS.

                            C. Rancangan Penelitian
       Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan rancangan faktorial

tiga jalur 2x2x2 sebab jumlah variabel bebas ada tiga, setiap variabel bebas terdiri

dari dua level. Adapun gambar rancangan penelitian sebagai berikut :




                          Tabel 3.1. Rancangan Penelitian
                                                  Metode Pembelajaran NHT (A )

                 Komponen                        Peta Konsep
                                                                       LKS (A2 )
                                                        (A1)

   Motivasi        Kreativitas Tinggi (C1)          A1B1C1              A2B1C1

  Tinggi (B1)      Kreativitas Rendah (C2)          A1B1C2              A2B1C2

   Motivasi        Kreativitas Tinggi (C1)          A1B2C1              A2B2C1

 Rendah (B2)       Kreativitas Rendah (C2)          A1B2C2              A2B2C2



        Dari tabel 3.1 di atas, A menunjukkan variabel pembelajaran kooperatif

dengan metode Numbered Head Together (NHT) , A1 menunjukkan kelompok siswa

yang diberi pembelajaran kooperatif dengan metode Numbered Head Together

(NHT) yang disertai Peta Konsep, dan A2 menunjukkan kelompok yang diberi

pembelajaran kooperatif dengan metode Numbered Head Together (NHT) yang

disertai LKS . Sedangkan B menunjukkan variabel motivasi, dimana dibagi menjadi

dua kategori, yaitu : B1 adalah siswa yang mempunyai motivasi tinggi, B2 adalah

siswa yang mempunyai motivasi rendah. Sedangkan C menunjukkan variabel

kreativitas siswa, yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu : C1 adalah siswa yang

memiliki kreativitas tinggi, C2 adalah siswa yang memiliki kreativitas rendah.

        Dari tabel 3.1 di atas, A1B1C1 menunjukkan siswa yang diberi pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Peta Konsep yang memiliki

motivasi tinggi dan kreativitas tinggi. A1B1C2 menunjukkan siswa yang diberi

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Peta Konsep

yang memiliki motivasi tinggi dan kreativitas rendah.
         A1B2C1 menunjukkan siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Head Together (NHT) dengan Peta Konsep yang memiliki motivasi

rendah dan kreativitas tinggi. A1B2C2 menunjukkan siswa yang diberi pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Peta Konsep yang memiliki

motivasi rendah dan kreativitas rendah.

         Adapun A2B1C1 adalah siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Head Together (NHT) dengan LKS yang memiliki motivasi tinggi dan

kreativitas tinggi. A2B1C2 menunjukkan siswa yang diberi Pembelajaran kooperatif

tipe Numbered Head Together (NHT) dengan LKS yang memiliki motivasi tinggi

dan kreativitas rendah.

         Adapun A2B2C1 menunjukkan siswa yang diberi pembelajaran kooperatif

tipe   Numbered Head Together (NHT) dengan LKS yang mempunyai motivasi

rendah dan kreativitas tinggi. A2B2C2 menunjukkan siswa yang diberi pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) denganLKS yang mempunyai

motivasi rendah dan kreativitas rendah.

                               D. Variabel Penelitian
          Variabel pada penelitian ini melibatkan tiga variabel bebas dan satu

variable terikat. Selanjutnya dijelaskan sebagai berikut :

                              1. Variabel bebas pertama

          Metode pembelajaran berperan sebagai variable bebas pertama yang terdiri

dari metode Numbered Head Together (NHT) yang telah dikembangkan menjadi

dua, yakni NHT yang disertai dengan Peta Konsep dan LKS. Variabel bebas berskala

nominal sebab dikategorikan menjadi dua yaitu ya dan tidak. Variabel bebas tersebut

antara lain :
a. Metode Numbered Head Together dengan Peta Konsep

     Peranan : Variabel aktif yaitu variabel yang dimanipulasi.

     Simbol : A1

     Definisi Operasional :

            Metode    Numbered     Head    Together    adalah     bagian   pembelajaran

     kooperatif, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari

     sekitar 4 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang

     beragam, ada yang pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya

     kurang. Penggunaan pembelajaran Numbered Head Together dengan peta konsep

     dimulai dengan penyajian materi pelajaran secara umum oleh guru dengan

     menggunakan peta konsep. Setelah itu dilakukan penomoran (Numbering), yakni

     guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang

     beranggotakan 4 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga setiap

     siswa dalam kelompok tersebut memiliki nomor yang berbeda. Setelah itu guru

     mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Tahap berikutnya adalah berpikir

     bersama (Head Together), yaitu disaat para siswa berpikir bersama untuk

     menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap siswa mengetahui jawaban tersebut.

     Tahap terakhir adalah pemberian jawaban (Answering) dengan cara guru

     menyebut satu nomor dan siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama

     dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas. Siswa diminta untuk menyajikan

     jawaban mereka dalam bentuk peta konsep, dengan harapan akan membantu

     siswa untuk membangun konsep.

b.   Metode Numbered Head Together dengan LKS

     Peranan : Variabel aktif yaitu variabel yang dimanipulasi
Simbol : A2

Definisi Operasional :

         Metode   Numbered   Head   Together   adalah   bagian   pembelajaran

kooperatif, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari

sekitar 4 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang

beragam, ada yang pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya

kurang. Penggunaan pembelajaran Numbered Head Together dengan LKS

dimulai dengan penyajian materi pelajaran secara umum oleh guru. Setelah itu

dilakukan penomoran (Numbering), yakni guru membagi para siswa menjadi

beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4 hingga 5 orang dan memberi

mereka nomor sehingga setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor yang

berbeda. Setelah itu guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Tahap

berikutnya adalah berpikir bersama (Head Together), yaitu disaat para siswa

berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap siswa

mengetahui jawaban tersebut. Tahap terakhir adalah pemberian jawaban

(Answering) dengan cara guru menyebut satu nomor dan siswa dari tiap

kelompok dengan nomor yang sama dan menyiapkan jawaban untuk seluruh

kelas.

         Guru memberikan Lembar Kegiatan Siswa yang harus dikerjakan oleh

setiap kelompok. Lembar Kegiatan Siswa mencakup soal-soal dari seluruh materi

yang akan disajikan oleh semua kelompok. Dengan demikian, diharapkan saat

suatu kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka, maka

kelompok yang lain akan memperhatikan dengan seksama agar mampu

menjawab soal-soal dalam LKS tersebut.
                                 2. Variabel Bebas Kedua

           Variabel Motivasi sebagai variabel bebas kedua, merupakan variabel atribut

yaitu variabel yang dapat diukur tapi tidak dimanipulasi secara eksperimental.

Variabel ini dimasukkan dalam rancangan penelitian untuk dijadikan sebagai

variabel moderator sehingga dapat dilihat interaksinya dengan variabel yang lain

dalam mempengaruhi variabel terikat.

a. Skala Pengukuran : ordinal, yang terdiri dari tinggi dan rendah.

b. Definisi Operasional :

              Motivasi sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan belajar, karena

    hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Semakin tinggi motivasi

    yang dimiliki siswa, akan semakin berhasil pula dalam menguasai pelajaran.

    Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.

    Motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.

    Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil prestasi yang

    baik. Penilaian motivasi pada siswa ditandai dengan skor jawaban siswa dari

    angket motivasi dengan skala rentang 1 sampai 4.

c. Simbol : B1 untuk siswa yang mempunyai motivasi tinggi

               B2 untuk siswa yang mempunyai motivasi rendah

                                 3. Variabel Bebas Ketiga

           Variabel kreativitas sebagai variabel bebas ketiga, merupakan variabel atribut

yaitu variabel yang diukur tapi tidak dimanipulasi secara eksperimental. Variabel ini

dimasukkan dalam rancangan penelitian untuk dijadikan variabel moderator sehingga

dapat dilihat interaksinya dengan variabel yang lain dalam mempengaruhi variabel

terikat.
a. Skala Pengukuran : Ordinal, yang terdiri dari tinggi dan rendah

b. Definisi Operasional :

        Kreativitas diartikan sebagai pribadi yang mempunyai ciri-ciri pokok yang

   ditunjukkan dengan kelincahan mentalnya untuk berfikir dari dan keseluruh arah,

   fleksibelitas konseptal dan orisinilitas untuk melahirkan ide, gagasan, pemecahan

   masalah, cara baru dan penemuan. Penilaian kreativitas pada siswa ditandai

   dengan skor jawaban siswa dari angket kreativitas dengan skala rentang 1 sampai

   4.

c. Simbol : C1 untuk siswa yang mempunyai kreativitas tinggi

            C2 untuk siswa yang mempunyai kreativitas rendah.

                                 4. Variabel Terikat

        Variabel terikat pada penelitian berupa prestasi belajar SMP Negeri I Menden

dalam mata pelajaran Biologi.

a. Skala Pengukuran          : Interval

b. Definisi Operasional      :

        Prestasi belajar Biologi adalah hasil proses pembelajaran siswa yang

   menunjukkan kecakapan yang dicapai dalam bentuk angka yang diperoleh dari

   tes prestasi Biologi pada pokok bahasan Pertumbuhan Dan Perkembangan

   Tumbuhan Dan Hewan.

c. Simbol                    :Y

        Untuk memperjelas rancangan penelitian dan analisis ststistiknya, dapat

diperlihatkan pada rancangan tata letak data yang dikembangkan berikut ini :

                    Tabel 4.1. Tata Letak Data
                                                  Metode Pembelajaran NHT (A )

                 Komponen                        Peta Konsep
                                                                      LKS (A2 )
                                                     (A1)

   Motivasi        Kreativitas Tinggi (C1)          A1B1C1             A2B1C1

  Tinggi (B1)      Kreativitas Rendah (C2)          A1B1C2             A2B1C2

   Motivasi        Kreativitas Tinggi (C1)          A1B2C1             A2B2C1

 Rendah (B2)       Kreativitas Rendah (C2)          A1B2C2             A2B2C2



                           E. Teknik Pengambila Data
       Untuk mengumpulkan data yang digunakan dalam pengujian hipotesis

digunakan beberapa teknik pengumpulan data. Teknik-teknik yang digunakan adalah

teknik dokumentasi, teknik angket dan teknik tes. Teknik-teknik tersebut diuraikan di

bawah ini :

                              1. Teknik Dokumentasi

       Suharsimi Arikunto (2006 : 158) menyatakan bahwa “Dokumentasi, dari asal

katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan

metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,

majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan

sebagainya”.

                                 2. Teknik Angket

       Suharsimi Arikunto (2006 : 151) mendefinisikan angket atau kuesioner

sebagai berikut “Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan

untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya,

atau hal-hal yang ia ketahui”. Dalam penelitian ini angket digunakan untuk
mengetahui seberapa besar motivasi dan kreativitas siswa dalam pelajaran Biologi,

yang dibagi dalam kategori tinggi dan rendah. Bentuk angket yang digunakan berupa

angket tertutup dengan empat alternatif jawaban. Pengukuran skor angket ini

menggunakan skala 4 dengan lambang (angka) 1,2,3,4. Kategori tinggi bila nilai ≥

rata-rata + ½ standard deviasi. Kategori sedang bila rata-rata – ½ standard deviasi <

nilai < rata-rata + ½ standard deviasi. Kategori rendah : nilai ≤ rata-rata – ½ standard

deviasi. Sebelum angket ini digunakan pada obyek penelitian, angket diujicoba

terlebih dahulu untuk mengetahui validitas dan reliabilitas angket.

                                    3. Teknik Tes

       Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 150), “Tes adalah serentetan pertanyaan

atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan,

pengetahuan intelejensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau

kelompok”. Dalam penelitian ini teknik tes digunakan untuk mengetahui penguasaan

siswa terhadap konsep dari mata pelajaran yang telah dipelajari.

       Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap pelajaran, sampel diberi tes

yang berupa soal-soal konsep pertumbuhan dan perkembangan Tumbuhan Dan

Hewan. Bentuk soal berupa tes obyektif pilihan ganda dengan empat alternatif

jawaban dengan satu jawaban yang benar. Soal tersebut disesuaikan dengan kisi-kisi

yang telah disusun yang didasarkan pada silabus. Sebelum diujikan pada sampel

penelitian, soal tes terlebih dahulu harus diadakan tryout untuk menentukan validitas

dan reliabilitas, yang pada akhirnya dapat menentukan layak tidaknya soal tes

digunakan untuk mengambil data penelitian.
                             F. Instrumen Penelitian
       Instrumen penelitian ini terdiri dari dua yaitu instrumen pelaksanaan

penelitian dan instrumen pengambilan data.

                        1. Instrumen pelaksanaan penelitian

       Instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian berupa satuan

pelajaran Number Head Together dengan Peta Konsep dan satuan pelajaran LKS.

                          2. Instrumen pengambilan data

       Instrumen untuk pengambilan data ada tiga yaitu instrumen Motivasi,

instrumen kreativitas, dan instrumen prestasi belajar Biologi. Instrumen Motivasi dan

Instrumen kreativitas berupa angket. Instrumen prestasi belajar berupa tes dengan

bentuk pilihan ganda dimana siswa tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah

disediakan.

                              B. Uji Coba Instrumen

       Sebelum melakukan eksprimen yang sebenarnya perlu terlebih dahulu

dilakukan uji coba terhadap instrumen-instrumen yang akan digunakan dalam

penelitian. Pelaksanaan uji coba instrumen dilaksanakan pada kelas yang mempunyai

level sama dengan kelas sebagai tempat penelitian. Tujuan uji coba adalah untuk

melihat apakah instrumen yang telah disusun benar-benar valid dan benar-benar

reliabel atau tidak. Selain itu, uji coba dipakai juga untuk melihat derajat kesukaran

dan indeks daya pembeda, untuk melihat keterbacaan instrumen, untuk melihat

apakah waktu yang direncanakan disediakan telah cukup atau tidak , dan apakah

masih diperlukan alat-alat yang diperlukan atau hal-hal lain yang perlu.

                                    1. Validitas
       Analisis uji validitas tes prestasi belajar Biologi, validitas angket motivasi

dan angket kreativitas menggunakan tehnik korelasi dari pearson. Yaitu dengan

membandingkan skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total. Untuk

menentukan validitas item-item dalam angket digunakan rumus korelasi product

moment yang dikemukakan oleh Karl Pearson sebagai berikut:

                                 NåXY - (åX )(åY )
                     rxy =
                             [NSX   2
                                        - (SX )
                                              2
                                                  ] [NSY   2
                                                               - (SY )
                                                                         2
                                                                             ]
                    dimana: rxy = koefisien korelasi

                             X = skor item

                             Y   = skor total item

                             N   = jumlah responden

                                                               (Suharsimi Arikunto, 2006 : 72)

       Dari hasil uji coba yang telah dilakukan di SMP N 2 Menden, diperoleh hasil

dari 40 angket motivasi belajar siswa, terdapat 7 item tidak valid dan 33 item valid.

Item motivasi yang tidak valid adalah nomor 7, 8, 15, 21, 22, 25, dan 33. Item yang

tidak valid tersebut tidak digunakan dalam penelitian selanjutnya. Pada angket

kreativitas, dari 40 angket kreativitas terdapat 9 item tidak valid dan 31 item valid.

Item tersebut meliputi item dengan nomor 3, 7, 12, 16, 20, 24, 26, 35, dan 39. Untuk

selanjutnya item kreativitas yang tidak valid tersebut tidak diujikan kepada siswa.

Sedangkan pada soal tes prestasi, dari 40 soal yang diujikan terdapat 6 soal tidak

valid dan 34 soal valid. Butir soal tidak valid tersebut adalah soal dengan nomor 14,

18, 25, 26, 27, dan 29. Adapun butir soal yang tidak valid tersebut tidak akan

digunakan dalam penelitian. Untuk hasil uji validitas selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 16.
                                   2. Reliabilitas

       Suatu instruman disebut reliabel apabila hasil pengukuran dengan instrumen

tersebut adalah sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang

sama pada waktu yang berlainan atau atau pada orang-orang yang berlainan (tetapi

mempunyai kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang

berlainan.

       Analisis uji reliabilitas instrumen angket motivasi, dan angket kreativitas

pada penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach. Teknik analisis reliabilitas

menggunakan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:

                        é n ùé åd i ù
                                      2

                  r11 = ê      úê 1- 2 ú
                        ë n - 1û ê
                                 ë  dt úû

                   Dimana: r11     = reliabilitas

                            n      = banyaknya item

                            S δi2 = jumlah varians skor tiap-tiap item

                            δt2    = varians total

                                                     (Suharsimi Arikunto, 2006 :

                            109)

       Analisis uji reliabilitas instrumen tes dengan skor 0 - 1 menggunakan rumus

K-R. 20. Teknik analisis reliabilitas butir soal dengan K-R. 20 adalah sebagai

berikut:

                        é n ù é S - å pq ù
                                   2

                  r11 = ê      úê        ú
                        ë n - 1û ê
                                 ë   S2  ú
                                         û

                 Dimana : r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
                               P = proporsi subjek yang menjawab item dengan

                                      benar

                               q   = proporsi subjek yang menjawab item dengan

                                      salah (q = 1-p)

                               ∑pq= jumlah hasil perkalian antara p dan q

                               n   = banyaknya item

                               S = standard deviasi dari tes

                                                        (Suharsimi Arikunto, 2006 : 100)

       Hasil analisis reliabilitas angket motivasi menggunakan Alpha Cronbach.

diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,925, koefisien korelasi untuk angket kreativitas

sebesar 0,910, dan koefisien korelasi untuk tes prestasi menggunakan K-R 20 sebesar

0,911. Untuk hasil uji Reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16.

                           3. Derajat Kesukaran Soal Tes

       Soal yang baik untuk alat ukur adalah soal yang mempunyai derajat

kesukaran yang memadai, dalam arti soal tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.

Untuk mengetahui derajat kesukaran soal ditunjukkan dengan indeks kesukaran.

Besarnya indeks kesukaran dicari dengan rumus:

                          B
                     P=
                          Js

                    di mana:       P = indeks kesukaran

                                   B = banyaknya siswa yang menjawab benar

                                   Js = jumlah responden (siswa)

        Menurut ketentuan yang diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan

sebagai berikut:
                    a). Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar

                    b). Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang

                    c). Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah

                    Dari klasifikasi diatas, soal yang dianggap baik adalah yang

                    mempunyai indeks kesukaran 0,30 sampai 0,70.

                                                (Suharsimi Arikunto,2006 : 208-210)

        Hasil analisis terhadap uji coba instrumen diketahui bahwa indeks kesukaran

soal tergolong sedang. Dari 34 soal, terdapat 32 soal dengan kategori sedang dan 2

soal dengan kategori mudah. Data indeks kesukaran soal untuk selengkapnya dapat

dilihat pada lampiran 16.

                                 4. Daya Pembeda Soal

       Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara

siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang tidak pandai

(berkemampuan rendah) (Suharsimi Arikunto, 2006: 211). Rumus untuk menentukan

daya pembeda (indeks diskriminasi) setiap item adalah:

                         B A BB
                   D=       -   = PA - PB
                         JA JB

                    di mana:

                    JA      = banyaknya peserta kelompok atas

                   JB       = banyaknya peserta kelompok bawah

                   BA    = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal

                              dengan benar

                  BB        = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal

                              dengan benar
                    PA    = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

                   PB     = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.

                    Adapun klasifikasi daya pembeda sebagai berikut :

                    D : 0,00 - 0,20 = jelek

                    D : 0,20 - 0,40 = cukup

                    D : 0,40 - 0,70 = baik

                    D : 0,70 - 1,00 = baik sekali

                    D : negatif berarti soal tidak baik

                                                          (Suharsimi Arikunto, 2006 : 213)

       Hasil analisis terhadap uji coba instrumen diketahui bahwa daya pembeda

soal dari 34 butir soal, 6 diantaranya berkategori baik. Sedangkan 26 diantaranya

berkategori cukup dan 2 soal mempunyai daya pembeda yang jelek. Daya pembeda

soal untuk selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12.

                                 C. Teknik Analisis Data

                                 1. Uji Prasyarat Analisis

a. Uji Normalitas

         Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian diambil dari

populasi yang normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan

software Minitab 15. Prosedurnya sebagai berikut :

1) Penentuan Hipotesis

H0 : data terdistribusi tidak normal

H1 : data terdistribusi normal

2) Statistik uji
       Statistik uji menggunakan normality test dengan pendekatan ryan-joiners.

Ketentuan pengambilan kesimpulan H0 diterima ketika P-value> 0,1, selain itu H0

ditolak. Tingkat signifikansi (a) yang digunakan adalah 0,05.

b. Uji Homogenitas

       Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah populasi mempunyai

variansi yang sama atau tidak. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan

software Minitab yang prosedurnya adalah sebagai berikut :

1) Penentuan Hipotesis

H0 : data tidak homogen

H1 : data homogen

2) Statistik Uji

       Statistik uji menggunakan tes for equal variances dengan ketentuan H0

diterima ketika P-value> 0,05, selain itu H0 ditolak. Tingkat signifikansi (a) yang

digunakan adalah 0,05.

                                  2. Uji Hipotesis

a. Anava

       Anava (Analisys Of Varians) merupakan teknik analisis yang digunakan

untuk menguji hipotesis komparatif rata-rata k sampel jika datanya berbentuk

interval atau rasio (Mohammad Pribadi, 2008). Pada penelitian ini setelah dilakukan

uji prasyarat analisis, jika populasi berdistribusi normal dan homogen maka

dilakukan uji analisis menggunakan anava tiga jalan dengan bantuan software

Minitab 15 menggunakan teknik GLM (General Linear Model). GLM adalah salah

satu teknik statistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif
yang jumlahnya lebih dari tiga sampel secara serempak dengan setiap sampel terdiri

atas dua faktor atau lebih. Adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut:

Hipotesisnya (Ho) :

1) Pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT disertai Peta

   Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi.

   H0A : Tidak terdapat pengaruh penggunakan model pembelajaran Numbered

             Heads Together ( NHT) menggunakan peta konsep dan LKS terhadap

             prestasi belajar biologi

   H1A     : Terdapat pengaruh penggunakan model pembelajaran Numbered Heads

             Together ( NHT) menggunakan peta konsep dan LKS terhadap prestasi

             belajar biologi

2) Pengaruh motivasi siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan rendah

   terhadap prestasi belajar Biologi.

   H0B      : Tidak terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi

              belajar biologi

    H1B     : Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar

              biologi

3) Pengaruh kreativitas siswa dalam belajar Biologi kategori tinggi dan rendah

   terhadap prestasi belajar Biologi.

   H0C      : Tidak terdapat pengaruh kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

              biologi

   H1C      : Terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar biologi

4) Interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai Peta

   Konsep dan LKS dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar Biologi.
   H0A        : Tidak terdapat interaksi      antara model pembelajaran kooperatif

               Numbered Heads Together ( NHT) menggunakan Peta Konsep dan

               LKS dengan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar biologi

    H1A       : Terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif Numbered

               Heads Together ( NHT) menggunakan Peta Konsep dan LKS dengan

               motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar biologi

5) Interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai Peta

   Konsep dan LKS dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi.

   H0A        : Tidak Terdapat interaksi      antara model pembelajaran kooperatif

               Numbered Heads Together ( NHT) dan The Power Of Two dengan

               gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar biologi.

   H1A        : Terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif Numbered

               Heads Together ( NHT) dan The Power Of Two dengan gaya belajar

               siswa terhadap prestasi belajar biologi.

6) Interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa yang berkategori tinggi dan rendah

   terhadap prestasi belajar Biologi.

   H0A        : Tidak terdapat interaksi antara motivasi belajar siswa dengan kreativias

               siswa terhadap prestasi belajar biologi.

   H1A        : Terdapat interaksi antara motivasi belajar siswa dengan kreativitas

               siswa terhadap prestasi belajar biologi

7) Interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang disertai peta

   konsep dan LKS dengan motivasi dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

   Biologi.
   H0A     : Tidak terdapat interaksi       antara model pembelajaran kooperatif

               Numbered Heads Together ( NHT) yang disertai peta konsep dan LKS

               dengan motivasi belajar siswa dan kreativitas siswa terhadap prestasi

               belajar biologi.

   H1A     : Terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif Numbered

               Head Together ( NHT) yang disertai peta konsep dan LKS dengan

               motivasi belajar siswa dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar

               biologi.



b. Ui Lanjut

      Uji anava memiliki ketentuan H1 diterima ketika P-value>0,05. Jika H1 pada

uji anava diterima maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji Analysis Of Mean

menggunakan software minitab 15.
                                 BAB IV
                   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                             A. Deskripsi Data

         Berkaitan dengan hipotesis pada Bab III dan diperolehnya data hasil

penelitian, maka pada Bab IV ini akan disajikan deskripsi data dan hasil keputusan

uji. Data tersebut meliputi data tentang motivasi siswa, kreativitas siswa, dan data

prestasi belajar Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

hewan.


                                  1. Data Skor Movitasi

         Motivasi belajar siswa dibagi menjadi dua kategori yakni tinggi dan rendah

berdasarkan skor rataan pada kedua kelas eksperimen. Rataan untuk skor motivasi

adalah 123. Siswa yang memiliki skor diatas rerata tersebut dikelompokkan dalam

kategori tinggi dan yang sama dengan rerata serta yang lebih kecil dari rerata

dikelompokkan sebagai kategori rendah. Penelitian ini menggunakan empat kelas

eksperimen, dua kelas yakni kelas VIIIB dan VIIIE dengan perlakuan pemberian

pembelajaran Numbered Head Together (NHT) menggunakan Peta Konsep dan dua

kelas yang lain yakni kelas VIIIA dan VIIIF dengan perlakuan pemberian

pembelajaran Numbered Head Together (NHT) menggunakan LKS. Dari 62 siswa

kelas eksperimen dengan metode pembelajaran NHT menggunakan Peta Konsep dan

65 siswa kelas eksperimen dengan metode pembelajaran NHT menggunakan LKS,

terdapat 68 siswa bermotivasi tinggi dan 59 siswa memiliki motivasi rendah. Secara

rinci dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut:
       Tabel 5.1 Jumlah siswa yang memiliki Motivasi Tinggi dan Rendah

                                   Kelas VIII B dan VIII E
                                                                            Kelas VIII A dan VIII F (LKS)
                                           (Peta Konsep)
     Motivasi
                                                       Prosentase                                  Prosentase
                                  Frekuensi                                   Frekuensi
                                                           (%)                                             (%)

      Tinggi                          45                    73                    23                       35

     Rendah                           17                    27                    42                       65

     Jumlah                           62                   100                    65                       100

       Perolehan skor siswa yang memiliki motivasi berkategori tinggi dan rendah
dapat dilihat pada gambar 4.1 dan 4.2

                            35

                            30
                Frekuensi




                            25

                            20

                            15

                            10

                             5

                             0
                                  106 - 110 111 - 115 116 - 120 121 - 125 126 - 130 131 - 135 136 - 140

                                                         Motivasi Rendah



            Gambar 4.1 Grafik Skor Motivasi Siswa Berkategori Rendah

                             35
                             30
                             25
               Frekuensi




                             20
                             15
                             10
                              5
                              0
                                   106 - 110 111 - 115 116 - 120 121 - 125 126 - 130 131 - 135 136 - 140


                                                          Motivasi Tinggi



            Gambar 4.2 Grafik Skor Motivasi Siswa Berkategori Tinggi
                                  2. Data Skor Kreativitas

       Skor kreativitas diperoleh dari angket kreativitas siswa. Berdasarkan data

yang telah diperoleh, kemudian dikelompokkan dalam dua kategori yaitu tinggi dan

rendah berdasarkan rataan pada kedua kelas eksperimen. Rataan skor angket

kreativitas adalah 121. Siswa yang memiliki skor diatas rataan dikelompokkan pada

kategori tinggi dan yang sama dengan rataan serta lebih kecil dari rataan

dikelompokkan sebagai kategori rendah. Dengan kriteria tersebut dari 127 siswa

yang terdiri dari 62 siswa kelas eksperimen dengan metode pembelajaran NHT

menggunakan Peta Konsep dan 65 siswa kelas eksperimen dengan metode

pembelajaran NHT menggunakan LKS, terdapat 72 siswa memiliki kreativitas tinggi

dan 55 siswa memiliiki kreativitas rendah. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 6.1

Tabel 6.1 Jumlah siswa yang memiliki Kreativitas tinggi dan rendah

                    Kelas VIII B dan VIII E
                                                   Kelas VIII A dan VIII F (LKS)
                            (Peta Konsep)
 Kreativitas
                                     Prosentase                       Prosentase
                   Frekuensi                         Frekuensi
                                        (%)                              (%)

   Tinggi              36                   58           36               55

   Rendah              26                   42           29               45

   Jumlah              62               100              65              100


       Perolehan skor siswa yang memiliki kreativitas berkategori tinggi dan rendah

dapat dilihat pada gambar 4.3 dan 4.4
                                 25


                                 20




                     Frekuensi
                                 15


                                 10


                                  5


                                  0
                                      101 - 105   106 - 110   111 - 115   116 - 120   121 - 125   126 - 130   131 - 135


                                                              Kreativitas Rendah




                   Gambar 4.3 Grafik Skor Kreativitas Berkategori Rendah


                                 35

                                 30

                                 25
                 Frekuensi




                                 20

                                 15

                                 10

                                  5

                                  0
                                      101 - 105   106 - 110   111 - 115   116 - 120   121 - 125   126 - 130    131 - 135


                                                              Kreativitas Tinggi




                      Gambar 4.3 Grafik Skor Kreativitas Berkategori Tinggi

                                       3. Data Skor Prestasi Biologi

       Prestasi belajar pada kelas eksperimen dengan metode NHT menggunakan

Peta Konsep nilai terendah 47,50, nilai tertinggi 92,50, nilai rata-rata 73,98, dan

standar deviasi 11,52. Prestasi belajar pada kelas eksperimen dengan metode NHT

menggunakan LKS nilai terendah 37,50, nilai tertinggi 82,50, nilai rata-rata 60,25

dan standar deviasi 11,85.
Tabel 7.1 Daftar Prestasi Belajar Siswa

                                        Kelas VIII B dan
                                                                               Kelas VIII A dan
            Nilai                                 VIII E
                                                                                   VIII F (LKS)
                                          (Peta Konsep)

          Terendah                                49,50                                  37,50

          Tertinggi                               92,50                                  82,50

          Rata-rata                               73,98                                  60,25


       Peneliti menggunakan histogram untuk memperjelas sebaran frekuensi

prestasi siswa dengan metode NHT menggunakan Peta Konsep dan LKS. Distribusi

frekuensi dari data prestasi belajar masing-masing ditunjukkan pada gambar 4.3, 4.4,

dan 4.5. Selain itu untuk mengidentifikasi nilai extrim pada data, peneliti

menggunakan boxplot pada software Minitab. Nilai Ektrim pada data akan terlihat

ketika ada tanda (*) di luar diagram.


                         25



                         20
             Frekuensi




                         15



                         10



                          5



                          0

                              37 - 44   44,5 - 51,5   52 - 59   59,5 - 66,5   67- 74   74,5 - 81,5   82 - 89   89,5 - 96,5



                                                            Prestasi Belajar LKS




                   Gambar 4.4 Grafik Prestasi belajar Dengan Peta Konsep
                        16

                        14

                        12




            Frekuensi
                        10

                         8

                         6

                         4

                         2

                         0
                                                       37 - 44              44,5 - 51,5   52 - 59   59,5 - 66,5   67- 74   74,5 - 81,5   82 - 89   89,5 - 96,5


                                                                                          Prestasi Belajar Peta Konsep


           Gambar 4.5 Histogram Prestasi belajar menggunakan LKS


                                                                                      Boxplot of Prestasi Belajar Peta Konsep


                                                                       90
                                       Prestasi Belajar Peta Konsep




                                                                       80



                                                                       70



                                                                       60



                                                                       50




Gambar 4.6. Boxplot Hasil Belajar dengan metode NHT menggunakan Peta Konsep

                                                                                          Boxplot of Prestasi Belajar LKS


                                                                      80



                                                                      70
                             Prestasi Belajar LKS




                                                                      60



                                                                      50



                                                                      40




Gambar 4.7. Boxplot Hasil Belajar dengan metode NHT menggunakan LKS
                         B. Pengujian Prasyarat Analisis

                                 1.   Uji Normalitas

       Uji normalitas digunakan untuk mengetahui sampel berasal dari populasi

yang berdistibusi normal atau tidak. Pada penelitian ini alat yang digunakan adalah

                                                            Ryan-joiner,
software minitab 15 dengan menggunakan statistik Normalitas Ryan joiner, jika uji

                   i
normalitas terpenuhi maka analisis selanjutnya dapat diteruskan. Hasil Uji

Normalitas data prestasi belajar ranah kognitif kelas dapat dilihat pada gambar 5.1




Gambar 5.1 Uji normalitas pada prestasi belajar dengan menggunakan Peta Konsep




     Gambar 5.2Uji normalitas pada prestasi belajar dengan menggunakan LKS
       Berdasarkan hasil uji normalitas diatas dapat disimpulkan bahwa data prestasi

                                                                             H1
belajar siswa terdistribusi normal. Sesuai dengan ketentuan di Bab III bahwa H :

                                                           P-value>0,1.
data prestasi belajar berdistribusi normal diterima ketika P

                                 2.   Uji Homogenitas

       Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah populasi mempunyai

variansi yang sama atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan software minitab. Hasil dari Uji homogenitas prestasi belajar Biologi

dapat dilihat pada gambar 6.1.




                    Gambar 6.1 Uji homogenitas Prestasi belajar

                                        P-value>0,05.
       Dari hasil diatas terlihat bahwa P value>0,05. Sesuai dengan ketentuan pada

bab III maka H1: data prestasi homogen diterima, berarti data prestasi belajar Biologi

dapat dinyatakan homogen. Karena data telah terdistribusi normal dan homogen,

maka selanjutnya dapat dilakukan uji Anova.
                                C. Pengujian Hipotesis

                   1. Anava Tiga Jalan GLM (General Linear Model)

        Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis tiga jalan

 dengan sel tak sama yaitu GLM (General Linear Model), dan uji lanjut pasca anava

 dilakukan jika hipotesis nol ditolak. Adapun hasil komputasi GLM menggunakan

 software minitab 15 adalah sebagai berikut:


 Tabel 8.1 Hasil analisis General Linear Model: Prestasi Belajar versi Model
           Pembelajaran, Motivasi, Kreativitas
                                                      SE
                             Nilai   PValu     Mea          StDe   Minim     Medi    Maxi
 General Linear Model                                 Me
                              F        e        n             v     um        an     mum
                                                      an
                                               73.9   1.4   11.3
  Model Pembelajaran         6.72    0.011                         47.50     75.00   92.50
                                                8      4     2
                                               74.8   1.3   11.1
        Motivasi            29.16    0.000                         50.00     76.25   92.50
                                                2      5     2
                                               73.6   1.3   11.3
       Kreativitas          15.89    0.000                         42.50     75.00   92.50
                                                9      5     5
       Model                                   60.0   3.0   10.2
                             0.07    0.796                         42.50     60.00   77.50
Pembelajaran*Motivasi                           9      8     0
        Model                                  72.9   2.6
                             0.13    0.724                  8.65   52.50     72.50   82.50
Pembelajaran*Kreativitas                        5      1
                                               65.3   2.5
  Motivasi*Kreativitas      145.9    0.193                  7.69   47.50     68.50   72.50
                                                9      6
 Model Pembelajaran                            79.5   1.3
                             27.6    0.570                  8.40   55.00     80.00   92.50
 *Motivasi*kreativitas                          0      3


        Dari hasil uji analisis menggunakan General Linear Model dapat disimpulkan

 penolakan dan penerimaan hipotesis seperti yang terangkum pada table 9.1.
       Tabel 9.1. Rangkuman Hasil Analisis GLM

           No    Hipotesis   P-Value     Alpa (α)    Hasil
           1     H0A         0,011       0,050       Ditolak
           2     H0B         0,000       0,050       Ditolak
           3     H0C         0,000       0,050       Ditolak
           4     H0D         0,796       0,050       Diterima
           5     H0E         0,724       0,050       Diterima
           6     H0F         0,193       0,050       Diterima
           7     H0G         0,570       0,050       Diterima

       Dari hasil uji GLM tersebut diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

a. Tidak ada pengaruh antara metode pembelajaran Numbered Head Together

   (NHT) menggunakan Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi

   pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan ditolak. Hal

   ini ditunjukkan oleh P value = 0,011 < α 0,050 sehingga H1 diterima yang berarti

   ada pengaruh antara metode pembelajran Numbered Head Together (NHT)

   menggunakan Peta Konsep dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi pada

   materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

b. Tidak ada pengaruh antara motivasi siswa terhadap prestasi belajar Biologi pada

   materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan ditolak. Hal ini

   ditunjukkan oleh P value = 0,000 < α 0,050 sehingga H1 diterima yang berarti ada

   pengaruh antara motivasi dengan prestasi belajar Biologi pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

c. Tidak ada pengaruh antara kreativitas siswa terhadap prestasi belajar Biologi

   pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan ditolak. Hal

   ini ditunjukkan oleh P value = 0,000 < α 0,050 sehingga H1 diterima yang berarti

   ada pengaruh antara kreativitas dengan prestasi belajar Biologi pada materi

   pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.
d. Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi terhadap

   prestasi belajar Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan diterima. Hal ini ditunjukkan oleh P Value = 0,796 > α 0,050 sehingga H1

   ditolak yang berarti tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

   motivasi      terhadap    prestasi    belajar    Biologi   materi   pertumbuhan   dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan diterima.

e. Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas terhadap

   prestasi belajar Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan diterima. Hal ini ditunjukkan oleh P Value = 0,724 > α 0,050 sehingga H1

   ditolak yang berarti tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

   kreativitas    terhadap    prestasi    belajar   Biologi   materi   pertumbuhan   dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan diterima.

f. Tidak ada interaksi antara motivasi dengan kreativitas terhadap prestasi belajar

   Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan diterima.

   Hal ini ditunjukkan oleh P Value = 0,193 > α 0,050 sehingga H1 ditolak yang

   berarti tidak terdapat interaksi antara motivasi dengan kreativitas terhadap

   prestasi belajar Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

   hewan diterima.

g. Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi dan kreativitas

   terhadap prestasi belajar Biologi materi pertumbuhan dan perkembangan

   tumbuhan dan hewan diterima. Hal ini ditunjukkan oleh P Value = 0,570 > α

   0,050 sehingga H1 ditolak yang berarti tidak terdapat interaksi antara metode

   pembelajaran dengan motivasi dan kreativitas terhadap prestasi belajar Biologi

   materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan diterima.
                   2. Uji Lanjut Pasca Analisis Variasi Tiga Jalan

       Uji lanjut anava menggunakan software Minitab 15 adalah uji Analysis Of

Mean. Uji ini diperlukan untuk mengetahui karakteristik pada variabel bebas dan

variabel terikat. Hasil uji lanjut tersebut diperlihatkan pada gambar berikut :




         Gambar 7.1 Uji lanjut pasca anava pengaruh metode pembelajaran terhadap
                                       prestasi

       Pada gambar 7.1 penggunaan metode belajar Numbered Head Together

(NHT) dengan LKS dikodekan dengan angka 1, sedangkan penggunaan Peta Konsep

            ngan
dikodekan dengan angka 2, untuk selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. Baik

pembelajaran dengan LKS maupun Peta Konsep keduanya telah melewati batas garis

merah yang berarti penggunaan metode belajar berpengaruh signifikan terhadap

                              materi
prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan

hewan. Pada gambar tersebut terlihat bahwa dengan metode pembelajaran dengan

NHT menggunakan Peta Konsep yang dikodekan dengan angka 2 berpengaruh

                                                    Penggunaan
kearah yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar. Penggunaan pembelajaran dengan

NHT disertai LKS yang dikodekan dengan angka 1 berpengaruh kearah yang lebih

rendah terhadap prestasi belajar.
    Gambar 7.2 Uji lanjut pasca anava pengaruh motivasi tehadap prestasi belajar
                                      Biologi

       Pada penelitian ini, motivasi belajar berkategori tinggi dikodekan dengan

angka 2, sedangkan motivasi berkategori rendah dikodekan dengan angka 1, seperti

                                                              berkategori
yang terlampir pada lampiran 5. Pada gambar 7.2 baik motivasi berkategori tinggi

maupun motivasi berkategori rendah, keduanya telah melewati batas garis merah

yang berarti motivasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar Biologi pada

materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan. Pada gambar tersebut

   lihat
terlihat bahwa motivasi berkategori tinggi yang dikodekan dengan angka 2

berpengaruh kearah yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar. Motivasi berkategori

rendah yang dikodekan dengan angka 1 berpengaruh kearah yang lebih rendah

terhadap prestasi belajar.
        Gambar 7.3 Uji lanjut pasca anava pengaruh kreativitas terhadap prestasi
                                     belajar

       Pada penelitian ini, kreativitas berkategori tinggi dikodekan dengan angka 2,

sedangkan kreativitas berkategori rendah dikodekan dengan angka 1, seperti yang

terlampir pada lampiran 5. Pada gambar 7.3 baik kreativitas berkategori tinggi

maupun kreativitas berkategori rendah, keduanya telah melewati batas garis merah

yang berarti kreativitas berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar Biologi pada

    ri
materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan. Pada gambar tersebut

terlihat bahwa kreativitas berkategori tinggi yang dikodekan dengan angka 2

berpengaruh kearah yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar. Kreativitas

                        dikodekan
berkategori rendah yang dikodekan dengan angka 1 berpengaruh kearah yang lebih

rendah terhadap prestasi belajar.
           Gambar 7.4 Interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi
                           terhadap prestasi belajar
      Pada gambar 7.4 terlihat bahwa metode pembelajaran NHT menggunakan

                        rata-rata
Peta Konsep menunjukkan rata rata nilai yang lebih tinggi daripada pembelajaran

dengan LKS, baik pada siswa yang bermotivasi tinggi maupun rendah.




                 interaksi
      Gambar 7.5 interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas terhadap

                                 prestasi belajar
       Pada gambar 7.5 terlihat bahwa metode pembelajaran NHT menggunakan

                        rata-rata
Peta Konsep menunjukkan rata rata nilai yang lebih tinggi daripada pembelajaran

                                 memiliki
dengan LKS, baik pada siswa yang memiliki kreativitas tinggi maupun rendah.




       Gambar 7.6 interaksi antara motivasi dan kreativitas terhadap prestasi belajar

       Pada gambar 7.6 terlihat bahwa tidak ada persinggungan atau interaksi antara

motivasi dengan kreativitas terhadap prestasi belajar siswa. Siswa yang memiliki

motivasi tinggi tidak selalu memiliki kreativitas yang tinggi pula. Begitu juga

sebaliknya, siswa dengan kreativitas yang tinggi tidak selalu memiliki motivasi yang

                                              berinteraksi
tinggi pula, dan kesemuanya tida tidak saling berinteraksi untuk berpengaruh

terhadap prestasi belajar siswa.
Gambar 7.7 interaksi antara metode pembelajaran, motivasi, dan kreativitas terhadap

                                    prestasi belajar

       Pada gambar 7.7 memperlihatkan tidak terdapat garis yang bersinggungan

berarti tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran, motivasi, dan kreativitas

terhadap prestasi belajar.

                             D. Pembahasan Hasil Analisis

                                 1. Hipotesis Pertama

       Dari hasil analisis diperoleh P value = 0,011 < α 0,050 sehingga hipotesis nol

ditolak dan hipitesis alternativ diterima, maka terdapat pengaruh pembelajaran

Biologi dengan metode Number Head Together (NHT) menggunakan Peta Konsep

dan LKS terhadap prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan

 erkembangan
perkembangan tumbuhan dan hewan. Pembelajaran NHT menggunakan peta konsep

pada materi pertumbuhan dan perkembangan akan memudahkan siswa untuk

membangun konsep mereka tentang materi tersebut. Penggunaan LKS dalam proses

pembelajaran pada materi pertumbuhan dan perkembangan dapat memberikan

kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan kemampuan dan keterampilan
dalam mengembangkan proses berpikirnya

       Dari gambar 7.1 hasil uji lanjut dapat dilihat bahwa rerata prestasi belajar

siswa yang dikenakan perlakuan pembelajaran dengan metode NHT menggunakan

Peta Konsep lebih besar dari rerata prestasi belajar siswa yang dikenakan perlakuan

pembelajaran dengan metode NTH menggunakan LKS. Hal ini menunjukkan bahwa

pembelajaran dengan metode NHT menggunakan Peta Konsep lebih baik

pengaruhnya dibanding pembelajaran dengan metode NHT menggunakan LKS

terhadap prestasi belajar Biologi siswa pada materi pertumbuhan dan perkembangan

tumbuhan dan hewan.

       Pembelajaran Biologi pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

dan hewan dengan metode NHT menggunakan peta konsep lebih baik daripada

pembelajaran dengan metode NHT menggunakan LKS, hal ini dikarenakan

penggunaan peta konsep mempunyai keunggulan dibanding dengan penggunaan

LKS. Michael Roth (2009) menyatakan, “Peta konsep menolong siswa dalam

pembelajaran berarti, terutama sekali ketika mengerjakan aktivitas kelompok, bahkan

sebagian siswa akan mengerti proses sederhana selama pelajaran tersebut

berlangsung”. Pembelajaran dengan peta konsep memberikan kemudahan dalam

memahami suatu materi pelajaran. Produk atau konsep yang sudah didapatkan dalam

pembelajaran tersebut akan lebih bermakna bila dikait-kaitkan sehingga menjadi

rangkaian yang bermakna. Rangkaian yang bermakna akan membuat ingatan lebih

kuat untuk menyimpannya. Tidak mungkin seseorang dapat menghubungkan sesuatu

(konsep) apabila orang tidak mengerti benar akan konsep tersebut. Dengan

meningkatnya penguasaan konsep siswa terhadap suatu materi, maka akan

berdampak kepada meningkatnya hasil belajar siswa.
       LKS adalah media yang dianggap tepat sebagai salah satu penunjang kegiatan

belajar mengajar. LKS merupakan materi ajar yang dikemas sedemikian rupa agar

siswa dapat mempelajari materi tersebut secara mandiri. Karenanya dalam LKS

seharusnya memuat materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi.

Dalam LKS, siswa pada saat yang sama diberi materi dan tugas yang berkaitan

dengan materi tersebut. Selain itu dalam LKS dapat menemukan arahan yang

terstruktur untuk memahami materi yang diberikan.Namun demikian, tak jarang

kegiatan pembelajaran yang menggunakan LKS akan menimbulkan kecenderungan

pada sebagian siswa untuk hanya menghafal jawaban.

       Dalam penelitian Joko Sutriso (2009), menyatakan bahwa “Penggunaan LKS

secara tidak terarah dapat mempengaruhi kemampuan siswa untuk memahami

bacaan, berpikir kritis dan kreatif tidak akan berkembang”. Pada saat pembelajaran

menggunakan LKS siswa hanya berorientasi pada menjawab soal dalam LKS.

Meskipun jawaban dalam LKS tersebut diperoleh dari hasil berdiskusi dengan

kelompok, berpikir bersama, menganalis, namun siswa masih belum dapat

menangkap konsep secara terpadu dari menjawab soal LKS tersebut. Oleh sebab itu

perlu diadakan pola pembelajaran yang efektif dan komprehensif (kognitif,

psikomotorik dan afektif). Siswa tidak hanya dituntut pandai menjawab soal-soal

LKS tetapi mereka dapat berpikir logis, menganalisis dan membandingkan, serta

mempertanyakan dan mengevaluasi, kemudian dapat menkontekstualisasikan dengan

cara memecahkan problem-problem yang terjadi di sekitar masyarakat.

       Oleh karena itu     dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran

Numbered Head Together (NHT) dengan Peta Konsep lebih baik daripada
penggunaan pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dengan LKS terhadap

prestasi belajar pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

                                2. Hipotetsis Kedua

       Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah

laku. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan

dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan sesuatu untuk

mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang

mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan

sebelumnya. Dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental

terhadap perorangan. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling

mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relativ permanen dan

secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan yang dilandasi

tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor

intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar,

harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan,

lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik.

       Dalmudi (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ”Tingkat motivasi

yang dimiliki siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, terlepas dari

berbagai macam metode pembelajaran yang digunakan”. Selama siswa memiliki

tingkat motivasi yang tinggi, maka siswa tersebut cenderung memperoleh prestasi

belajar yang baik. Hal tersebut karena motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong

usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan usaha karena adanya motivasi.

Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.

Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari
adanya motivasi, maka seorang siswa yang belajar akan dapat melahirkan prestasi

yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat

pencapaian prestasi belajarnya. Siswa yang memiliki motivasi berkategori tinggi

akan mengalami penguatan, sehingga mudah menangkap dan memahami konsep

yang disampaikan guru dan penguasaan konsep akan lebih baik bila dibandingkan

dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah.

       Pada hasil uji analisis penelitian, diketahui P value = 0,000 < α 0,050

sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternative diterima, terdapat pengaruh

antara motivasi berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Biologi pada

materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan. Dari gambar 7.2 hasil

analisis uji lanjut dapat dilihat bahwa motivasi berkategori tinggi mempunyai

pengaruh yang lebih baik dibanding motivasi berkategori rendah terhadap

penguasaan konsep pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

                                3. Hipotesis Ketiga

       Dari hasil analisis penelitian didapatkan P value = 0,000 < α 0,050 sehingga

hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternativ diterima, terdapat pengaruh antara

kreativitas berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Biologi pada

materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan. Dari gambar 7.3 hasil

analisis uji lanjut dapat dilihat bahwa kreativitas berkategori tinggi mempunyai

pengaruh yang lebih baik dibanding kreativitas berkategori rendah terhadap

penguasaan konsep pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

       Kreativitas sebenarnya dimiliki oleh setiap orang, meski dalam taraf yang

berbeda-beda. Kira-kira seperlima dari kemampuan manusia adalah kamampuan

kreativ atau yang disebut produk divergen. Penggunaan potensi kreativ oleh setiap
siswa dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah secara kreativ, dapat

ditingkatkan melalui upaya pelatihan yang sistematis dengan penggunaan berbagai

metode pembelajaran. Kreativitas dapat diartikan sebagai pribadi yang mempunyai

ciri-ciri pokok yang ditunjukkan dengan kelincahan mentalnya untuk berfikir dari

dan keseluruh arah, fleksibelitas konseptal dan orisinilitas untuk melahirkan ide,

gagasan, ilham, pemecahan, cara baru dan penemuan.

       Teti Rostikawati (2008) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa

kreativitas memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Siswa dengan

kreativitas tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan

kreativitas rendah, terlepas dari berbagai macam metode pembelajaran yang

digunakan.

       Potensi kreativ pada diri seseorang akan selalu mendorong orang tersebut

untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga sering mengajukan pertanyaan

yang baik dan memiliki kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan

serta pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinil. Dengan kemampuan

demikian, tingkat kreativitas sangat menunjang perolehan prestasi belajar yang baik.

Siswa dengan kreativitas tinggi cenderung menunjukkan hasil belajar yang selalu

tinggi dibandingkan siswa dengan tingkat kreativitas yang rendah.

                               4. Hipotesis Keempat

       Dari hasil analisis penelitian didapatkan P value = 0,796 > α 0,050 sehingga

hipotesis nol diterima dan hipotesis alternativ ditolak. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

motivasi terhadap prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan

perkembangan tumbuhan dan hewan.
       Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wiwik Dwi Erminingsih (2008),

yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara metode pembelajaran dengan

motivasi terhadap prestasi belajar siswa. Tidak adanya interaksi antara metode

pembelajaran dengan motivasi dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

berdasarkan hipotesis pertama, pembelajaran dengan NHT disertai Peta Konsep lebih

baik daripada metode NHT disertai LKS terhadap prestasi belajar Biologi.

Sedangkan pada hipotesis kedua motivasi diperlukan oleh siswa dalam meningkatkan

prestasi belajar. Pada proses pembelajaran Biologi melalui metode NHT

menggunakan Peta Konsep maupun LKS, semakin tinggi tingkat motivasi, akan

semakin tinggi pula prestasi belajar. Siswa yang memiliki motivasi tinggi saat

diberikan pembelajaran dengan NHT disertai peta konsep akan mengalami penguatan

sehingga mudah menangkap dan memahami konsep yang disampaikan guru.

Penguasaan konsep siswa yang bermotivasi belajar tinggi akan lebih baik bila

dibandingkan siswa yang bermotivasi belajar rendah. Penggunaan NHT dengan LKS

pada proses pembelajaran bagi siswa yang bermotivasi tinggi akan mendorong

mereka untuk berpikir kritis, logis, dan analitis dalam berdiskusi serta kegiatan

kelompok lainya.

       Oleh karena itu apapun pembelajaran yang diterapkan, baik metode NHT

disertai Peta Konsep maupun metode NHT disertai LKS, siswa yang memiliki

motivasi berkategori tinggi akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada

siswa yang memiliki motivasi rendah. Sebaliknya berapapun tingkat motivasi belajar

siswa, baik tinggi maupun rendah, siswa yang menerima pembelajaran Biologi

melalui metode NHT dengan menggunakan Peta Konsep memiliki prestasi belajar

yang lebih baik daripada siswa yang menerima pembelajaran melalui metode NHT
dengan menggunakan LKS. OLeh karena demikian dapat disimpulkan bahwa tidak

terjadi interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi.

                                5. Hipotesis Kelima

       Dari hasil analisis penelitian didapatkan P value = 0,796 > α 0,050 sehingga

hipotesis nol diterima dan hipotesis alternativ ditolak. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan

kreativitas terhadap prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan

perkembangan tumbuhan dan hewan.

       Tidak adanya interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas siswa

dapat dijelaskan sebagai berikut: berdasarkan hipotesis pertama, pembelajaran

Biologi dengan metode NHT menggunakan Peta Konsep lebih baik terhadap prestasi

belajar daripada menggunakan LKS. Sedangkan pada hipotesis ketiga kreativitas

dibutuhkan oleh siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. Proses pembelajaran

pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan, metode

pembelajaran NHT dengan peta konsep dan LKS merupakan faktor eksternal yang

dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Sedangkan kreativitas

merupakan    faktor internal   juga dapat     berpengaruh   terhadap   keberhasilan

pembelajaran. Bagi siswa yang memiliki kreativitas tinggi, penggunaan NHT disertai

peta konsep pada pembelajaran materi pertumbuhan dan perkembangan akan

memudahkan pembentukan rangkaian konsep dalam struktur kognitif mereka. Hal

demikian terjadi karena semakin kreatif pola pikir seseorang, maka akan semakin

mampu dalam mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lain. Sedangkan

penggunaan NHT disertai LKS pada materi pertumbuhan dan perkembangan bagi

siswa berkreativitas tinggi akan tertuang dalam bentuk pemikiran dan pemecahan
masalah secara kreatif serta kemampuan berpendapat dan mengungkapkan

pendapatnya.

       Pada proses pembelajaran Biologi dengan metode NHT menggunakan Peta

Konsep maupun LKS, semakin tinggi tingkat kreativitas, akan semakin tinggi pula

prestasi belajar. Oleh karena itu apapun metode pembelajaran yang diterapkan, baik

metode NHT dengan menggunakan Peta Konsep maupun LKS, siswa yang memiliki

kreativitas tinggi akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang

memiliki kreativitas rendah. Sebaliknya berapapun tingkat kreativitas siswa, baik

tinggi maupun rendah, siswa yang menerima pembelajaran Biologi melalui metode

NHT menggunakan Peta Konsep akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik

daripada dengan menggunakan LKS.

       Pada beberapa macam metode pembelajaran tertentu memerlukan tingkat

kreativitas yang tinggi dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah peta konsep.

Dalam penelitian ini, kreativitas mutlak berpengaruh terhadap prestasi belajar, tanpa

dipengaruhi oleh berbagai metode pembelajaran yang digunakan. Hal demikian dapat

dijelaskan bahwa potensi kreativ pada diri seseorang akan membuat orang tersebut

menjadi pribadi yang mempunyai ciri-ciri pokok yang ditunjukkan dengan

kelincahan mentalnya untuk berfikir dari dan keseluruh arah, fleksibelitas konseptual

dan orisinilitas untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru dan

penemuan. Selain itu pribadi yang kreativ memiliki kemampuan untuk menghasilkan

banyak gagasan, jawaban, atau pernyataan, memberikan banyak cara atau saran

untuk menyelesaikan masalah, dan selalu memikirkan lebih dari satu jawaban serta

mampu merubah cara pendekatan atau cara pemikiran terhadap penyelasaian suatu

masalah. Dengan demikian, asalkan memiliki kreativitas yang tinggi, seorang siswa
akan memiliki peluang yang lebih besar dalam pencapaian prestasi belajar yang

maksimal. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara

metode pembelajaran dengan kreativitas siswa dalam belajar Biologi.

                                6. Hipotesis Keenam

       Setiap siswa memiliki kondisi internal, dimana kondisi internal tersebut turut

berperan dalam aktivitas dirinya dalam proses belajar. Diantara kondisi internal

tersebut adalah motivasi dan kreativitas. Motivasi adalah dorongan dasar yang

menggerakkan seseorang bertingkah laku. Sedangkan kreativitas diartikan sebagai

pribadi yang mempunyai ciri-ciri pokok yang ditunjukkan dengan kelincahan

mentalnya untuk berfikir dari dan keseluruh arah. Dari hasil analisis penelitian

didapatkan P value = 0,796 > α 0,050 sehingga hipotesis nol diterima dan hipotesis

alternativ ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

interaksi antara motivasi dengan kreativitas terhadap prestasi belajar Biologi pada

materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dan hewan.

       Tidak adanya interaksi ini antara motivasi dengan kreativitas dapat dijelaskan

sebagai berikut: berdasarkan hipotesis hipotesis kedua, motivasi diperlukan oleh

siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. Sedangkan pada hipotesis ketiga

kreativitas juga dibutuhkan oleh siswa dalam meningkatkan prestasi belajar.

Berapapun tingkat motivasi, baik tinggi maupun rendah, siswa yang memiliki

kreativitas tinggi akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang

memiliki kreativitas rendah. Sebaliknya berapapun tingkat kreativitas siswa, baik

tinggi maupun rendah, siswa yang memiliki motivasi tinggi akan memiliki prestasi

yang lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi rendah. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara motivasi dan kreativitas siswa.
                                 7. Hipotesis Ketujuh

       Dari hasil analisis penelitian didapatkan P value = 0,570 > α 0,050 sehingga

hipotesis nol diterima dan hipotesis alternativ ditolak. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran, motivasi,

dan kreativitas terhadap prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan

perkembangan tumbuhan dan hewan.

       Dari Hipotesis pertama, kedua, dan ketiga, dapat disimpulkan bahwa siswa

yang menerima pembelajaran Biologi dengan metode NHT menggunakan Peta

Konsep memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang diajar dengan

metode NHT menggunakan LKS, tingkat motivasi berpengaruh terhadap prestasi

belajar, dan kreativitas juga berpengaruh terhadap prestasi belajar. Dari analisis data

dapat dilihat, berapapun tingkat motivasi dan kreativitas siswa, siswa yang menerima

pembelajaran dengan metode NHT menggunakan Peta Konsep akan memiliki

prestasi belajar yang lebih baik daripada dengan menggunakan metode NHT disertai

LKS. Sedangkan jika dilihat dari segi motivasi, apapun metode pembelajaran yang

diterapkan dan berapapun tingkat kreativitas siswa, siswa yang memiliki motivasi

tinggi akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang memiliki

motivasi rendah. Sedangkan jika dilihat dari segi kreativitas, apapun metode

pembelajaran yang diterapkan, dan berapapun tingkat motivasi, siswa yang memiliki

kreativitas tinggi akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang

memiliki kreativitas rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

interaksi antara metode pembelajaran, motivasi, dan kreativitas siswa.
                             E. Keterbatasan Penelitian

       Dalam penelitian yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh mungkin tidak

sesuai dengan harapan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi

atau membatasi hasil penelitian ini. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Item soal nomor 14, 18, 25, 26, 27, 29 belum dilakukan uji validitas dan

   reliabilitas.

2. Efektivitas kerja kelompok masih rendah, sehingga saat pembelajaran dengan

   metode Numbered Head Together (NHT) hanya beberapa orang siswa saja yang

   aktif. Meskipun berdasarkan statistik siswa terdistribusi secara homogen, namun

   kenyataannya setelah bekerja dalam kelompok sistem kerja kurang kooperatif.
                                      BAB V

                  KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

                                 A. Kesimpulan

        Dari data yang dikumpulkan dan hasil analisis data yang telah dikemukakan

dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan metode Number Head Together (NHT) dengan Peta Konsep

   memberikan rerata nilai sebesar 92,50 dan berpengaruh lebih baik terhadap

   prestasi belajar Biologi pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

   dan hewan daripada pembelajaran NHT dengan LKS yang memberikan rerata

   nilai sebesar 47,50. Pembelajaran dengan NHT membantu siswa membentuk

   rangkaian atau proposisi-proposisi konsep secara terpadu dalam struktur kognitif

   mereka. Sedangkan pembelajaran NHT dengan LKS, siswa hanya berorientasi

   pada menjawab soal dalam LKS. Meskipun jawaban dari LKS diperoleh dari

   hasil berdiskusi, berpikir bersama, dan menganalisis, namun siswa masih belum

   dapat menangkap konsep secara terpadu dari menjawab soal tersebut.

2. Motivasi belajar berkategori tinggi memberikan rerata nilai sebesar 92,50 dan

   berpengaruh lebih baik terhadap prestasi belajar siswa pada materi pertumbuhan

   dan perkembangan tumbuhan dan hewan daripada motivasi berkategori rendah

   yang memberikan rerata nilai sebesar 50,00. Siswa yang memiliki motivasi tinggi

   akan mengalami penguatan sehingga mudah menangkap konsep yang

   disampaikan oleh guru dan penguasaan konsep akan lebih baik bila dibandingkan

   dengan siswa yang memiliki motivasi yayng rendah.

3. Kreativitas berkategori tinggi memberikan rerata nilai sebesar 92,50 dan

   berpengaruh lebih baik terhadap prestasi belajar siswa pada materi pertumbuhan
   dan perkembangan tumbuhan dan hewan daripada kreativitas berkategori rendah

   yang memberikan rerata nilai 42,50. Penggunaan potensi kreatif oleh setiap siswa

   tertuang dalam bentuk pemikiran dan penyelesaian masalah secara kreativ.

   Semakin kreativ pola pikir seseorang, maka semakin kreativ pula dalam

   menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain.


4. Tidak ada interaksi antara pembelajaran Biologi dengan metode Numbered Head

   Together (NHT) menggunakan peta konsep dan LKS dengan tinggi dan rendah

   motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar materi pertumbuhan dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan. Tidak terjadi, misal metode pembelajaran

   NHT bagus untuk siswa dengan motivasi kategori tinggi, tetapi tidak bagus untuk

   siswa dengan motivasi kategori rendah. Ini berarti tidak ada interaksi antara

   metode pembelajaran dengan motivasi belajar siswa.


5. Tidak ada interaksi pada pembelajaran Biologi dengan metode Numbered Head

   Together (NHT) menggunakan Peta konsep dan LKS serta tinggi dan rendah

   kreativitas siswa terhadap prestasi belajar pada materi pertumbuhan dan

   perkembangan tumbuhan dan hewan. Tidak terjadi, misal metode pembelajaran

   NHT bagus untuk siswa dengan kreativitas kategori tinggi, tetapi tidak bagus

   untuk siswa dengan kreativitas kategori rendah. Ini berarti tidak ada interaksi

   antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa.


6. Tidak ada interaksi pada pembelajaran Biologi antara tinggi dan rendah motivasi

   siswa dengan tinggi dan rendah kreativitas siswa dalam belajar biologi terhadap

   prestasi belajar. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi dan kreativitas berbanding
   lurus dengan prestasi belajar pada materi pertumbuhan dan perkembangan

   tmbuhan dan hewan.


7. Tidak ada interaksi pada pembelajaran Biologi dengan metode Numbered Head

   Together (NHT) menggunakan Peta Konsep dan LKS dengan tinggi dan rendah

   motivasi belajar siswa serta tinggi dan rendah kreativitas siswa dalam belajar

   Biologi terhadap prestasi belajar pada materi pertumbuhan dan perkembangan

   tumbuhan dan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang

   berbeda yang disampaikan oleh guru tidak akan merubah kategori atau motivasi

   dan kreativitas siswa.

                            B. Implikasi Hasil Penelitian

           Berdasarkan kesimpulan di atas, implikasi yang dapat peneliti sampaikan

adalah :

1. Implikasi Teoritis

   Implikasi teoritis dari penelitian ini adalah untuk memperluas pengetahuan

   mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar Biologi yang

   berkaitan dengan metode pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

   menggunakan Peta Konsep dan LKS, motivasi, dan kreativitas siswa.

2. Implikasi Praktis

   Implikasi Praktis yang dapat dikemukakan berdasarkan kesimpulan tersebut

   antara lain:

a. Untuk pembelajaran Biologi pada materi pertumbuhan dan perkembangan

   tumbuhan dan hewan sebaiknya menggunakan metode Numbered Head Together

   (NHT) yang disertai Peta Konsep, karena dapat meningkatkan prestasi belajar

   siswa.
b. Perlu memperhatikan motivasi siswa sebagai faktor internal yang mempengaruhi

   prestasi belajar Biologi.

c. Perlu   memperhatikan        kreativitas   siswa   sebagai   faktor   internal   yang

   mempengaruhi prestasi belajar Biologi.

                                        C. Saran

    Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dari penelitian maka peneliti mengajukan

saran-saran sebagai berikut :

1. Untuk Pejabat Pengambil Keputusan

   Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan sebagai bahan dalam penyusunan

   kurikulum dan perangkat pembelajaran, sehingga kurikulum yang akan datang

   menjadi kurikulum yang menempatkan siswa sebagai pusat dalam proses

   pembelajaran.

2. Untuk Para Guru

a. Dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan metode NHT disertai peta

   konsep perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah:

1) Guru hendaknya memberikan referensi materi atau bahan ajar yang seragam

   sehingga mempermudah siswa dalam menemukan konsep yang terpadu untuk

   penyusunan peta konsep.

2) Dalam pembuatan peta konsep masih banyak terdapat miskonsepsi pada siswa,

   maka guru hendaknya melakukan klarifikasi diakhir pembelajaran.

3) Pembelajaran dengan metode NHT disertai peta konsep merupakan metode yang

   berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga sangat dimungkinkan kelas

   menjadi ramai. Guru diharapkan selalu memantau dan mendampingi siswa

   selama proses pembelajaran sehingga suasana belajar tetap kondusif.
b. Dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan metode NHT disertai LKS

   perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah:

1) Pembuatan soal-soal dalam LKS supaya menekankan pada berpikir kritis dan

   analitis dengan mengambil contoh peristiwa pada kehidupan sehari-hari.

2) Pembelajaran dengan metode NHT disertai LKS merupakan metode yang

   berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga sangat dimungkinkan kelas

   menjadi ramai. Guru diharapkan selalu memantau dan mendampingi siswa

   selama proses pembelajaran sehingga suasana belajar tetap kondusif

c. Siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruk konsep dengan memperbanyak

   diskusi antara siswa dengan guru atau antar sesama siswa.

d. Dalam proses belajar perlu untuk memperhatikan motivasi pada diri siswa

   dengan cara mengukur tingkat motivasi belajar. Jika motivasi belajar rendah,

   dapat diupayakan meningkatkan motivasi tersebut dengan memberikan berbagai

   inovasi metode pembelajaran.

e. Dalam proses belajar perlu untuk memperhatikan kreativitas pada diri siswa

   dengan cara mengukur tingkat kreativitas. Jika tingkat kreativitas rendah, dapat

   diupayakan memunculkan kreativitas tersebut dengan memberikan berbagai

   inovasi metode pembelajaran.

3. Untuk Siswa

a. Keberhasilan anda akan lebih bernilai jika dapat membawa keberhasilan pada

   orang lain. Jika anda mengajari teman anda, tanpa anda sadari kemampuan anda

   meningkat.
b. Selalu aktif bergabung dengan orang lain akan menambah banyak wawasan.

   Dengan memberi lebih banyak pada orang lain, anda juga akan menerima lebih

   banyak lagi.
                             DAFTAR PUSTAKA

Basuki Wibawa. 2001. Media Pengajaran. Bandung : Maulana.

Birbili, Maria. 2006. Mapping Knowledge: Concept Maps in Early Childhood
        Education. Journal of Research in Science Teaching Vol. 8 No. 2, 309-324.

Derek Wood. 2005. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Yogyakarta : Katahati.

Fuad Nasroni. 1999. Membangun Paradigma Psikologi Islam. Yogyakarta :
      Sipress.

Hamzah, b, Uno. 2006. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis Dibidang
     Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Kartono. 2004. Pembelajaran IPA Terbimbing Ditinjau Dari Kreativitas Dan
      Kemandirian Siswa SD. Surakarta : UNS.

Martinis Yamin. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta : GP
       Press.

Maheady, Larry. 2006. The Effects of Numbered Heads Together with and Without
      an Incentive Package on the Science Test Performance of a Diverse Group
      of Sixth Graders. Journal Of Behaioral Education.Volume 15, Number
      1/March, page 24-38.

Mohammad Asrori . 2006. Psikologi Pembelajaran. Bandung : Wacana Prima.

Mohammad Pribadi. 2008. Minitab 15. Surakarta : UNS.

Muhibbin Syah. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung :
      Remaja Rosdakarya.

Mulyasa. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nana Sudjana. 1991. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
      Rosdakarya.

Nana Syaodah Sukmadinata. 2005. Landasan Psiklogi Proses Pendidikan Edisi
      Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nasution. 1988. Ditaktik asas-asas mengajar. Bandung : Jemmars.

Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual Dan Penerapannya Dalam KBK.
      Malang: UMPRESS.
Paul Suparno. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakata:
      Kanisius.
Ratna Willis Dahar. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga.

Revillia Ardhi. 2008. http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library?e=d-00000-00---
        0skripsi--00-1--0-10-0-00

Robert K.Yin. 2002. Studi Kasus Desain Dan Metode. Jakarta : Raja Grafindo
       Persada

Roth, Michael. 2009. The concept map as a tool for the collaborative construction
       of knowledge: A microanalysis of high school physics students. Journal of
       Research in Science Teaching Volume 30 Issue 5, Pages 503 – 534.

Sardiman. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo
      Persada.

Slavin. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung : Nusa
       Media.
Slavin. 2000. Cooperative Learning. Review of Educational Research, Vol. 50,
       No.2, Page 315-342
Soedomo Hadi. 2003. Pendidikan Suatu Pengantar. Surakarta : UNS.

Soemarsono. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : UNS Press.

Sri Anitah. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta : UNS Press.

Suhaenah Suparno. 2000. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta : Depdiknas.

Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta
       : Bumi Aksara.

Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
       Jakarta : Rineka Cipta.

Slamet. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta : UNS Press.

Vacek, Jenny. 2009. Using a Conceptual Approach with Concept Mapping to
      Promote Critical Thinking. Journal of Nursing Education Vol. 48 No. 1,
      421-448.

Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
     Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4072
posted:7/20/2011
language:Indonesian
pages:137