; Proposal Sepeda Santai
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Proposal Sepeda Santai

VIEWS: 2,486 PAGES: 29

Proposal Sepeda Santai document sample

More Info
  • pg 1
									Heru

Negosiasi minggu ini saya lakukan dengan seorang penyedia jasa fokolopi di kawasan Karang Bendo, YK. Dalam negosiasi
ini saya bertujuan mencapai kesepakatan transaksi fotokopi buku dengan harapan pesanan saya dapat selesai dalam
tenggat waktu yang saya ajukan. Penyedia jasa tersebut mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi dari saya disebabkan
hari itu hanya ada dua tempat yang melayani jasa fotokopi dan juga jumlah pesanan saya tidak begitu banyak sehingga
peluang untuk mendapatkan potongan terbilang kecil.
Proses negosiasi berjalan cukup baik dengan disampaikannya beberapa alternatif pilihan oleh penyedia jasa sehingga saya
dapat memilih opsi yang terbaik. Penyedia jasa tersebut juga mencoba mendapatkan kepercayaan saya dengan
menunjukkan beberapa pesanan lain yang berjumlah besar dan selesai pada waktunya. Jika ditinjau dari konsep posisi vs.
kepentingan, negosiasi ini berorientasi pada kebutuhan kedua belah pihak; saya membutuhkan satu tempat fotokopi
dengan berharap mendapatkan extra service dengan adanya potongan harga, sementara kawan berunding saya
membutuhkan pesanan untuk dikerjakan demi usahanya. Sebelum menyepakati transaksi, saya memastikan berapa jumlah
yang harus dibayarkan untuk layanan ini dan menanyakan langsung ada tidaknya potongan harga dan deadline pesanan
saya. Hasilnya, kebutuhan saya dan kawan berunding saya tercapai dengan beberapa kemudahan yang saya dapatkan
seperti: ditepatinya tenggat waktu yang saya ajukan, diberikan sedikit potongan harga -walaupun sebenarnya masalah ada
atau tidaknya potongan tidak akan mempengaruhi kesepakatan, persetujuan penyedia jasa dalam hal pembayaran setelah
pesanan selesai. Sementara penyedia jasa mendapatkan pesanan tambahan sehingga berpeluang pada meningkatnya
jumlah transaksinya yang juga berarti meningkatnya pendapatan

***
Aldilla Dhika Velarasi- 06/ 21492

Deskripsi singkat mengenai konteks dan proses perundingan :
Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya menjalani operasi di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Pada hari itu
saya pun berencana menemani operasi setelah kuliah pagi dan ternyata ketika sampai jam besuk sudah selesai. Sesuai
peraturan, saya pun tidak diperbolehkan masuk karena tidak mempunyai kartu pengunjung bebas. Padahal waktu operasi
semakin dekat maka proses perundingan pun terjadi hingga saya akhirnya diperbolehkan masuk tanpa kartu tersebut.
Walaupun perundingan dapat dikatakan cukup alot tetapi saya cukup puas karena kepentingan saya tercapai.
Posisi dan kepentingan perundingan:
Posisi saya di sini adalah pihak yang tidak diizinkan masuk karena tidak mempunyai kartu pengunjung bebas padahal saya
mempunyai kepentingan untuk segera masuk karena teman saya akan menjalani operasi.
Taktik berunding:
Walau sudah mengetahui jika waktu berkunjung sudah habis dan tidak mempunyai kartu bebas berkunjung, saya tetap
berusaha santai serta ramah terhadap penjaga pintu. Ketika menyadari posisi saya maka dengan tegas saya tidak
diperbolehkan masuk. Namun dengan tetap bersikap ramah, saya menerangkan kepentingan saya dan bersedia untuk di
cek kebenaran ucapan saya tersebut.
Analisis perundingan:
Sikap ramah yang saya tunjukkan sejak awal kemungkinan mempunyai andil cukup besar melonggarkan peraturan RS
tersebut belum lagi ketika saya menjelaskan kepentingan serta berani bertanggung jawab (dibuktikan kebenarannya) juga
telah membuat penjaga tersebut percaya kepada saya.

***
Panji Rizki

Negosiasi yang saya lakukan dalam minggu ini salah satunya terjadi antara saya dengan penjual rak buku. Penjual rak
meminta harga Rp 55.000 dan saya menawarnya dengan harga Rp. 30.000. Tawar-menawar harga pun terjadi. Dalam
menawar saya memakai Bahasa Jawa agar lebih mudah dalam menawar karena dianggap lebih menghargai si penjual.
Akhirnya rak buku saya dapat dengan harga Rp 35.000 setelah melakukan penawaran dalam waktu yang relatif singkat.

Posisi :
Penjual       : meminta harga Rp 55.000
Saya          : meminta harga Rp.30.000

Kepentingan      :

                                                                                                                        1
Penjual      : Ingin rak buku terjual dengan harga tinggi agar untung
          Ingin rak buku terjual cepat untuk memenangkan persaingan (mentally) dengan pedagang-pedangang sejenis di
          sebelahnya.
Saya         : Ingin mendapat rak buku dengan harga murah karena keuangan terbatas.

Taktik berunding      :
 Dalam menawar harga rak buku, saya berbicara dengan si penjual menggunakan bahasa daerahnya (Bahasa Jawa)
karena agar lebih mudah dalam „mendapat hati‟ si penjual sehingga ia mau melepas rak buku tersebut dengan harga
seperti yang saya mau. Lalu terus menekan si penjual agar melepas rak buku itu kepada saya karena bagaimanapun ia
membutuhkan rak buku itu terjual (be hard on the problem and soft on person). Jika pada akhirnya si penjual tidak mau
melepas barang dengan haraga yang saya inginkan, maka saya akan meninggalkannya dan beralih kepada penjual lain
(ultimatum). Mungkin si penjual akan memikirkan lagi tentang penawaran saya atau membiarkan saya. Yang jelas pihak
yang rugi bukan saya.

Analisis Perundingan :
Cukup sulit untuk melihat kepentingan masing-masing pihak jika negosiasi yang dilakukan adalah soal tawar-menawar
barang. Apalagi jika dalam konteks kuantitas yang kecil. Yang ada adalah semua pihak lebih memilih bertahan pada
posisinya masing-masing dalam soal harga. Pihak yang satu ingin mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dan yang
lain ingin mendapat barang dengan harga serendah-rendahnya. Kesepakatan harga memang akhirnya terjadi, namun
kadang satu pihak merasa kurang puas terhadap solusi harga tengah tersebut namun terpaksa mengambilnya karena
terdesak oleh kebutuhan. Kepentingan pihak lain itu yang kadang tidak dapat dimanfaatkan pihak lain untuk mendapat win-
win solution atau bahkan untuk menguntungkan dirinya sendiri.

***
Renatha Ayu Rossdiana
SP/21658

   Issue                   : Fotokopi buku Masyarakat Jepang
   Kawan berunding         : Khoirul (HI 2006)
   Proses Perundingan          : Perundingan dilakukan melalui sms. Pertama, Khoirul mengirim sms supaya saya mau
    mengkopi buku Masyarakat Jepang dengan harga 20.000 (padahal saya tidak mengambil mata kuliah ini). Saya
    menjawab sms nya dengan mengatakan tidak mau dan permintaan maaf. Namun, dia kembali sms dengan
    mengatakan bahwa dia akan memotong harganya menjadi 15.000. Setelah saya pikir-pikir saya akhirnya memutuskan
    untuk mengkopi dengan pertimbangan kelak saya memang akan mengambil mata kuliah itu. Walau dengan resiko
    buku yang digunakan akan berbeda atau tetap dipakai karena rentang waktunya tidak beda jauh.
   Posisi                  : Saya ( menolak untuk mengkopi) ; Khoirul (memaksa saya untuk mau mengkopi)
    Kepentingan              : Saya (uang untuk alokasi kepentingan yang lain, Dia akan memberi harga yang lebih murah
    karena terpaksa) ; Khoirul (buku yang tersisa dapat terjual dan keuntungan karena mengkopi dalam jumlah banyak)
   Taktik berunding          : Sebenarnya di awal saya sudah akan mengatakan bersedia namun saya urungkan karena
    buku itu belum terlalu berguna. Namun di saat bersamaan saya sebenarnya sudah memprediksi dia akan memberikan
    potongan harga karena pengalaman semester sebelumnya selalu akan ada potongan harga oleh pihak yang terdesak
    pada orang yang pada awalnya tidak terlalu butuh untuk mengkopi
   Analisis        : Dalam hal ini, supaya mampu membujuk saya, dalam sms Khoirul menuliskan kata-kata yang
    terdengar memaksa namun dia me-rephrase pada sms kedua dengan menggunakan kata “please” yang akhirnya
    membuat saya luluh. Negosiasi ini mampu mengakomodasi kepentingan masing-masing. Dan kami berdua pun puas
    dengan hasil negosiasi.
***
Jenifer

Lawan berunding : Teman satu kampus.
Deskripsi singkat proses perundingan :
   Pada waktu itu, setelah selesai kuliah jam 2 siang, kami para mahasiswi mendiskusikan tempat terbaik ( dilihat dari
kenyamanan dan cita rasa makanan ) untuk makan. Kami memutuskan untuk makan diluar kantin fisipol; yang sangat padat
dan tidak nyaman.


                                                                                                                     2
    Setelah beberapa waktu saling berbicara, akhirnya muncul dua opsi yakni ada yang ingin makan mie ayam dan ada
yang ingin makan bakso. Disebabkan tidak ada titik temu kesepakatan, maka saya pun berinisiatif menawarkan opsi makan
mie ayam bakso saja; “ Ayo Kita Makan Mie Ayam Bakso Saja!!”.
    Opsi ini saya ajukan karena saya menganggap opsi inilah yang paling baik untuk mengakomodir kepentingan kedua
belah pihak. Disamping itu, saya merupakan pecinta mie ayam bakso, desakan perut yang sudah lapar mendorong teman-
teman akhirnya menyetujui ide saya.
Hasil perundingan : Sepakat untuk makan mie ayam bakso.
Posisi saya: Mau Makan Mie Ayam Bakso, posisi teman : mie ayam atau bakso.
Kepentingan saya: lebih kenyang karena ada mie+bakso.
Taktik Perundingan yang saya gunakan:
1.        menggunakan alibi desakan perut yang sudah lapar.
2.        memilih jalan tengah bagi solusi permasalahan. Dengan makan mie ayam bakso, selain lebih komplit juga lebih
kenyang, dan juga bisa sama-sama memuaskan “hasrat” teman-teman yang ingin makan bakso maupun yang ingin makan
mie ayam.
3.        menceritakan keenakan mie ayam bakso tersebut dan meyakinkan bahwa mie ayam bakso yang akan kami
makan merupakan salah satu yang ter enak di jogja dan mereka pasti tidak akan menyesal makan mie ayam bakso
tersebut.

makan mie ayam bakso dan melupakan opsi terdahulu ( mie ayam atau bakso ).

***
Dion Muflia 05 / 21247
Pelaku: Saya dan Agas

Posisi saya: mau meminjam buku.
Posisi Agas: meminjam buku Harry Potter, kalau bisa secepatnya.

Kepentingan : mendapatkan buku dengan gratis, saya untuk menunjang kuliah PolPem Afrika, sedangkan Agas ingin
mengetahui kelanjutan cerita HarPot.

Pengalaman negosiasi kali ini bermula saat weekend. Saya sedang mencari pinjaman buku untuk Politik Pemerintahan
Afrika. Pada hari Jumat Saya menghubungi Agas untuk meminjam bukunya. Agas setuju untuk meminjami saya kalau saya
meminjamkan padanya buku Harry Potter 7. Saya menyetujuinya.
Agas kemudian ingin mengambil buku tersebut secepatnya. Padahal saat itu buku tersebut dipinjam oleh Erlinda jadi saya
tidak bisa langsung memberikannya. Saya menawarkan pada Agas untuk memberikan buku hari Senin di Kampus, tetapi
Agas merasa kurang puas. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil buku itu sendiri di rumah Erlinda, walaupun rumah
Erlinda sangat jauh.

Hasil: Saya tidak direpotkan untuk mencari-cari Agas di Kampus di Hari Senin karena dia sudah mengambil buku itu sendiri
dari tangan Erlinda. Sedangkan Agas sudah puas karena dia bisa membaca buku itu.

***
Darumuti
kejadian ini terjadi pada Minggu petang tanggal 2 September 2007 di kamar kos saya.

ceritanya saya baru saja mengambil uang di ATM untuk membayar kos sebesar 3 juta. dan saya benar-benar hanya
mengambil uang 3 juta, tidak lebih.

sesampainya di kos, kebetulan penjaga kos saya bertandang ( halah.. ). daripada keburu lupa, ditambah saya tidak suka
menyimpan duit banyak-banyak, saya langsung berteriak dengan lantangnya menginformasikan kepada penjaga kos
bahwa saya ingin membayar uang kos selama setahun saat itu juga.

transaksi pun berjalan lancar sampai kemudian tiba-tiba sang penjaga kos meminta uang listrik. memang, saya harus
membayar listrik sebesar Rp. 50.000 per bulan. ternyata penjaga kos saya meminta uang listrik sebanyak 3 bulan terhitung
mulai Juli, Agustus, dan September alias Rp. 150.000

                                                                                                                        3
masalahnya,,,seperti yang telah saya kemukakan di atas, saya cuma mengembil uang 3 juta. tidak lebih!!! sisa uang di
dompet saya kurang lebih hanya tinggal 70 ribu.

lagipula, saya tidak mau mebayar listrik dengan nominal sebesar itu, karena :

1. juli saya ada di kos hanya sampai tanggal 6. setelah tanggal itu saya pulang ke Tangerang.

2. saya tiba di kos lagi tanggal 14 Agustus

jadi paling tidak, saya harusnya hanya membayar listrik untuk 1 setengah bulan ( september full, dan setengah bulan
agustus ) alias Rp.75.000

tapi lagi2 kembali ke uang di dompet saya yang hanya 70 ribu. kemudian saya berdebat alot mengenai hal ini. mengingat
penjaga kos saya pelit, mata duitan, nakal sama duit, dan tidak mau rugi... ( okey, saya akui saya sedang subjektif! )

saya ngotot cuma ingin bayar 50 ribu. supaya at least saya tetap memegang uang di dompet. jurus terakhir saya adalah
dengan mengungkapkan jasa yang telah saya lakukan. jadi, selama agustus, saya embantu dalam 'memasarkan' kos-
kosan saya ke para peminat. jadi misalnya ada yang datang ingin melihat-lihat kos, saya yang melayani. kalau butuh
contact person, no hp saya yang di pakai, mengingat penjaga kos saya tidak tinggal di kos dan tidak punya hp.

walhasil,,,saya berhasil bayar listrik hanya seharga 1 bulan alias Rp. 50.000...!!!!!bagi saya suatu pencapaian besar karena
:
1. uang berapapun sangatlah penting....apalagi ketika kita merasa tidak sepsntasnya bayar segitu

2. saya agak sentimen dengan penjaga kos saya

saya yakin, beliau pasti rada2 keki...
hahahahaaa.....


***
Siska Purantiningsih
05/ 21180

Hari Senin lalu sebenarnya saya tidak ada jadwal kuliah, tetapi ternyata saya tetap harus pergi ke kampus untuk
mengerjakan tugas kelompok Polpem AS pukul 12.30 dan setiap harinya saya pergi ke kampus dengan naik sepeda motor.
Padahal hari itu rencananya motor saya mau dipakai oleh adik saya untuk berangkat les karena motor yang biasa dia pakai
sedang dipakai oleh ibu saya. Jadi posisi kami sama-sama ingin menggunakan motor itu, sementara motornya cuma ada
satu.
Jika saya yang mengalah dan tidak datang ke kampus untuk mengerjakan tugas maka saya pasti akan dimarahin oleh
teman-teman satu kelompok dan kemungkinan besar nama saya akan dicoret dari daftar kelompok dan hal itu akan
mengakibatkan saya tidak mendapatkan nilai. Sementara itu jika adik saya yang tidak masuk les, maka dia akan
ketinggalan pelajaran dan hal ini tentunya akan berpengaruh pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Setelah berunding
dengan taktik bujuk rayu, adik saya bersedia untuk mengalah dan membiarkan motor itu saya gunakan untuk pergi ke
kampus dan sebagai solusinya dia akan minta diantarkan oleh salah seorang kerabat kami, sementara nanti pulangnya
saya yang akan menjemput.

***

Ainur Rohmah
21532

       Senin pagi kamar mandi kosku penuh semua padahal maksud hati pengen buang hajat. Aku ketuk keduanya dan
mereka bilang kalau sudah ada yang ngantri. Lalu aku memutuskan untuk mendatangi salah satu teman kosku yang ngantri

                                                                                                                           4
untuk mengizinkanku masuk duluan. Kebetulan teman kosku ini sedang sibuk mengetik tugas di komputer. Karena dia
keberatan aku masuk duluan, maka aku menawarkan diri untuk membantu mengetikkan tugasnya selama dia mandi
dengan syarat aku boleh masuk duluan. Horee!dia setuju. Dari sini terlihat kalau masing-masing diantara kami saling
membutuhkan sehingga perundingan ini menghasilkan solusi yang menguntungkan untuk kami berdua. Selain itu ada
konsesi yang aku berikan sehingga dia tergoda untuk menuruti apa yang aku mau.
         Pada suatu siang yang ramai aku memutuskan untuk membeli lemari sendirian. Setelah deal dengan mbak
penjaga toko ttg harga dll, aku bingung bagaimana aku harus membawa lemari itu pulang. Untung saja mbak penjaga toko
mengerti isi hatiku dan menawarkan solusi untuk numpang mibil angkut yang mau mengantarkan kasur ke pembelinya.
Tapi biasanya yang antar pake mobil begini bayar 10 rb. Lalu aku memastikan kepada mbak penjaga toko kalau aku tidak
bayar dan memaksanya memediasi aku dan pak supir untuk mengantarku sampai kost. Akhirnya aku sampai kost tanpa
bayar!
Disini terlihat sekali kepentinganku yaitu membawa lemari pulang tanpa bayar. Taktik perundinganku adalah melalui
mediator yang sudah mengenal pak sopir dekat dan agar aku ”kelihatan” tidak meminta untuk numpang, jaga-jaga kalau
ditolak. Jelas sekali aku diuntungkan, tapi mbak penjaga toko juga untung karena dapat pahala begitu juga pak sopir yang
baik hati.
         Sudah 2 edisi aku magang di suatu majalah yang lumayan ternama. Tapi selama itu juga gak ada kepastian
tentang gaji (hehe). Kadang penasaran pengen nanya tapi gak enak. Karena udah gak tahan, akhirnya aku memberanikan
diri sms redaksi yang kebetulan udah aku kenal. Aku memang gak secara eksplisit menyinggung soal gaji, tapi aku
menggunakan bahasa yang agak ”nyerempet” ke masalah gaji. Seperti pertanyaan: sampai kapan aku magangnya? Kok
gak ada kepastian tentang ”yang lainnya”?. Lalu dia jawab seperti yang aku harapkan yang isinya tentang gajiku dan
statusku sebagai kontributor tetap di majalah itu. Disini aku berusaha menuntut hakku dengan menggunakan cara yang
menurutku aman. Artinya aku menggunakan sms agar aku tidak secara langsung bicara dengannya. Selain itu aku jg
menggunakan bahasa yang halus agar tidak terlalu menyinggungnya. Disini tujuanku tercapai, tapi aku tidak tahu apakah
dia keberatan dengan tindakanku atau tidak.

***
Erlinda Qurrotu Aina
05/185112/SP/20918


Pelaku : Saya dan Kakak sepupu saya.
Posisi saya : Ingin menguasai remote control televisi.
Kepentingan saya : Ingin menonton serial televisi Heroes di Trans Tv. Karena pada hari Senin tersebut ditayangkan
episode yang penting dan seru, dan saya tidak ingin melewatkannya. Karena jika melewatkan satu episode saja, akan sulit
untuk mengikuti jalan cerita selanjutnnya.
Posisi kakak sepupu saya : merebut remote control televisi dari tangan saya.
Kepentingan Kakak sepupu saya : ingin menonton Naruto di Global Tv, karena dia sudah lama tidak menonton naruto
dan harus menonton sekarang.
Deskripsi singkat :
Pengalaman negosiasi penting saya minggu ini adalah mengenai berebut memegang remote televisi dengan kakak sepupu
saya. Jadi, pada hari Senin sore yang lalu kami berdua ingin menonton acara televisi kesukaan kita masing-masing yang
disiarkan di saluran yang berbeda.
Awalnya pada pukul 18.05 saya sudah duduk di depan televisi dan menunggu Heroes dimulai, kemudian kakak sepupu
saya datang dan menyuruh saya mengganti saluran ke global tv. Saya tidak mau melakukannya dan mengatakan bahwa
saya ingin menonton Heroes. Kami berdua lalu terlibat perdebatan kecil. Karena dia tidak pernah menonton Heroes
sebelumnya dia jadi tidak mengetahui daya tarik Heroes, dan karena saya tidak begitu mengerti jalan cerita Naruto, saya
juga tidak ingin menonton anime tersebut. Perdebatan tersebut tidak kunjung usai karena saya adalah orang yang lebih
ngotot dan mampu mengemukakan alasan-alasan kenapa menonton naruto tidak penting dibandingkan kakak sepupu
saya.
Hasil :Akhirnya karena capek menghadapi saya, kakak sepupu saya pun mengalah dan membiarkan saya menonton
Heroes.

***
Annisa Heru Putranti / 21305


                                                                                                                       5
        Pada suatu malam, saya membeli makan malam bersama dengan teman saya. Kami memutuskan untuk membeli
cap jay goreng. Saya ingin membeli setengah porsi karena kalau saya beli 1 porsi isinya terlalu banyak dan biasanya saya
tidak bisa memakannya sampai habis. Namun, penjualnya tidak memperbolehkan pembelian setengah porsi. Lalu saya
berkata pada teman saya, ”Gimana kalau kita beli satu porsi, terus ntar makannnya kita bagi dua, terus kita beli nasinya
juga?”. Teman saya tidak mau dengan alasan dia tidak mau makan malam pakai nasi, takut gendut katanya. Tapi saya
mencoba merayu dia, ”Ayolah, cuma semalem ini aja, engga bakal bikin kamu tambah gendut. Masa kamu rela ngebiarin
aku menjadi pendosa gara-gara buang-buang makanan? Ya ya ya? Mau yaa...?”. Dan akhirnya saya memenangkan
pertarungan itu. Teman saya mengalah dan dia bersedia untuk membagi dua cap jay nya dan membeli nasi juga.

***
Theodora Retno Sis Utami
21802
    Saya mengalami proses perundingan pada hari Jumat, 31 September 2007. Saya berunding dengan teman-teman
tentang menjadi asisten dosen dalam mata kuliah agama Katolik. Saat itu saya diajak menjadi asisten dosen. Saya bisa
langsung diterima tanpa melalui syarat apapun. Sebenarnya saya malas karena pekerjaan ini tidak dibayar dan mata kuliah
agama Katolik berlangsung sore hari jadi pasti akan sangat melelahkan. Namun teman-teman tetap memaksa saya ikut
karena mereka kekurangan tenaga. Lalu saya bertanya apa keuntungan saya ikut asdos ini. Karena saya tidak mau buang-
buang waktu dan tenaga. Lalu mereka merayu bahwa selain banyak pengalaman, kita akan diberi sertifikat. Lalu saya mulai
tertarik dengan sertifikat yang akan saya peroleh. Lagipula tugas saya nanti hanya mendampingi mahasiswa dan memacu
mereka untuk aktif mengeluarkan pendapat dan berbicara. Akhirnya karena merasa tidak enak pada teman-teman bila
menolak dan tertarik dengan sertifikat itu maka saya memutuskan untuk ikut menjadi asdos agama Katolik.
    Melalui deskripsi diatas, kepentingan teman saya adalah membujuk saya ikut karena kekurangan tenaga dan
membutuhkan saya untuk bergabung. Dan posisi saya adalah menolaknya karena malas dan tidak ada keuntungan
yang saya peroleh. Maka taktik yang mereka lakukan adalah memberitahu bahwa bila bergabung akan diberi
sertifikat dan mereka juga memasang tampang memelas. Akhirnya saya mau bergabung karena tergiur dengan
tawaran sertifikat.
    Jadi, perundingan ini akhirnya berhasil. Walaupun saya gagal mempertahankan posisi saya, tapi saya akhirnya
akan mendapat keuntungan bila menerima tawaran teman saya. Dan teman saya pun mendapat keuntungan karena
berhasil memperoleh asdos. Maka perundingan berhasil dijalankan dengan win-win solution.

***
Khanisa (21528)
Pada hari sabtu, 1 september 2007, teman saya meminta saya mengantarkannya untuk membeli celana. Setelah ia selesai
memdapatkan barang yang ia inginkan saya memintanya mengantarkan untuk membeli helm. Dalam perjalanan kami mulai
berdebat tentang siapa yang harus membayar ongkos perjalanan, kami berdua merasa berhutang pada satu sama lain
karena telah bersedia mengantarkan membeli barang yang kami perlukan.
        Karena kami berdua tidak mau saling berhutang (posisi kami berdua), maka pada awalnya kami pun bergantian
membayari. Akan tetapi, jumlah perjalanan ini tenyata adalah ganjil (5 kali naik kendaraan umum), karena itu kami mulai
negosiasi sengit pada perjalanan terakhir. Saya yang merasa lebih berhutang, karena sempat salah menaiki bis, yang
berujung pada pembuangan waktu dan uang sebesar Rp.4000 (kepentingan saya; menghapus rasa berhutang),
memakai alasan itu untuk memenangkan negosiasi. Saya merasa yakin teman saya akan menyetujui hal itu. Tetapi
ternyata tidak, ia memaksa untuk membayari saya dengan alasan ia sudah terlebih dulu mengeluarkan uang. Ia
mendesak saya untuk menghentikan perdebatan kami karena kenek bis sudah menunngu ongkosnya dan
perdebatan kami sudah menarik perhatian nenek di depan kami (kepentingan teman saya: ia ingin segera
mengakhiri negosiasi ini). Akhirnya saya pun menyerah, ia membayari saya dan mengatakan saya bisa balas
membayarinya lain waktu.
        Tentu saja saya tidak puas dengan negosiasi ini. Karena saya kalah. Yang membuat saya agak kesal adalah saya
bisa saja memenangkan negosiasi ini karena alasan saya lebih kuat, yaitu saya lebih merasa berhutang karena saya telah
membuat kami berdua menaiki bis yang salah. Akan tetapi, teman saya membuat tekanan yang lebih besar pada saya
dengan memanfaatkan waktu perdebatan yang sempit dan perhatian yang sudah mulai tertuju pada kami. Andai saja
waktunya lebih panjang dan tidak ada yang menaruh perhatian pada negosiasi kami, saya pasti bisa memenangkan hal ini.
Saya mungkin bisa merangkai kalimat (rephrase) agar alasan saya bisa ia terima lebih baik dan ia lebih bisa menerima
keadaan saya.

***

                                                                                                                      6
Akbar Hakim

Sampai sekarang belum ada satupun transkrip nilai yang keluar dari jurusan hubungan internasional, sedangkan beberapa
jurusan lain sudah mengeluarkan transkrip nilai masing-masing mahasiswanya. Saya agak sedikit merasa rugi, karena saya
membutuhkan transkrip nilai secepatnya untuk kepentingan mendaftar beasiswa di tempat ayah saya bekerja. Maka dari itu
kemarin saya meminta agar saya bisa mengambil transkrip nilai sementara saya, karena seingat saya semua nilai dari mata
kuliah yang saya ambil seudah keluar. Awalnya, saya diminta menunggu hingga minggu depan, tapi saya bersikeras
hingga transkrip nilai sementara saya bisa diambil sore harinya.
Posisi saya adalah meminta agar transkrip nilai saya secepatnya dikeluarkan, karena saya membutuhkan transkrip
nilai saya untuk mengikuti program beasiswa yang kantor tempat ayah saya bekerja selenggarakan. Taktik yang saya
gunakan hanyalah bermodal statement fakultas: 'ketika semua nilai sudah keluar, transkrip nilai akan segera dicetak dan
dibagikan.' Namun pada kenyataannya transkrip nilai tidak keluar juga walaupun nilai sudah seluruhnya keluar sejak
seminggu yang lalu. Akhirnya saya menawar bagian pendidikan untuk bisa mengeluarkan transkrip nilai saya, dan bagian
pendidikan bersedia 'mencomot' transkrip nilai yang ada, untuk lebih dulu diberikan kepada saya. Intinya, dari ratusan
mahasiswa HI yang ada di Fisipol UGM, saya mendapatkan transkrip nilai saya lebih dulu.
Negosiasi ini berjalan dengan baik. Bagian pendidikan belum bisa mengeluarkan transkrip nilai asli karena nantinya akan
dibagikan secara serentak di minggu yang akan datang, tapi saya meminta adanya transkrip nilai sementara agar saya bisa
mengikuti program beasiswa yang diadakan oleh kantor ayah saya. Sementara bagian pendidikan masih menjalani aturan
waktu pembagian transkrip nilai, saya juga bisa mendapatkan transkrip nilai lebih awal, meskipun hanya sementara

***
Elizabeth K. Nugraha
21689
Posisi saya : Ingin berangkat kuliah
Kepentingan saya : Menyerahkan tugas dan mengikuti diskusi di kelas
Posisi teman saya : Tidak ingin saya berangkat kuliah
Kepentingan :Ia ingin saya istirahat saja dan berusaha mencegah saya untuk menyetir sendiri.
Negosiasi terpenting saya minggu ini terjadi pada hari Senin malam antara saya dan teman saya. Malam itu saya merasa
sangat tidak enak badan sehingga ada kemungkinan saya tidak bisa hadir pada kuliah hari berikutnya padahal saya ingin
sekali hadir karena ada tugas yang harus saya kumpulkan dan ingin hadir pada diskusi kelas.
Melihat kondisi saya, teman saya melarang saya untuk berangkat kuliah karena ia khawatir kalau saya tetap memaksa,
kondisi saya bisa tambah parah. Karena saya mengendarai mobil ke kampus, ia juga khawatir tiba-tiba akan terjadi sesuatu
di tengah jalan ketika saya sedang menyetir.
Malam itu saya bersikeras tetap ingin berangkat kuliah tetapi teman saya juga bersikeras melarang saya. Saya berusaha
berkompromi dengannya dengan memintanya untuk mengantar saya ke kampus supaya saya tidak perlu menyetir mobil
sendiri tetapi ia tetap tidak mau menerima tawaran saya. Akhirnya, saya sedikit mengancamnya dengan member dia dua
pilihan. Pertama, memintanya untuk mengantar saya menggunakan mobilnya, dan kedua, saya tetap nekat menyetir mobil
sendiri ke kampus. Menghadapi dua pilihan itu, teman saya hanya menjawab dengan, “Kita lihat saja besok”.
Keesokan harinya, karena saya sudah merasa lebih baik, saya tetap berangkat kuliah dan menyetir sendiri meskipun teman
saya masih tidak setuju saya berangkat.
Di pengalaman ini, saya cukup senang dengan hasilnya karena posisi dan kepentingan saya untuk hadir di kelas dan
menyerahkan tugas terpenuhi meskipun saya harus menyetir sendiri.

***
Ainurvely Gehandiastie Maudy
05/185363/SP/20979

Lawan Berunding : Ibu Kost
Konteks Perundingan : Kenaikan Biaya Penggunaan Barang-Barang Elektronik
Proses Perundingan :
   Awal bulan September 2007, ibu kost menetapkan “harga baru” bagi barang-barang elektronik yang dibawa oleh anak-
anak kost di kost saya. Harga baru yang ditetapkan adalah Rp 30.000,00 untuk setiap alat elektronik yang dibawa seperti
TV, dispenser, heater, laptop dan tape. Harga baru tersebut menimbulkan protes dari sebagian besar anak kost di kost
saya, terutama yang membawa laptop, heater serta dispenser. Itu karena menurut kami, alat-alat tersebut tidak
menghasilkan daya listrik yang besar, karena jarang digunakan dan khusus untuk laptop, menghasilkan daya listrik hanya

                                                                                                                      7
saat di-charge. Akhirnya, pada hari Senin, 3 September 2007, saat saya hendak membayar uang sewa kamar kost, saya
“dipaksa” oleh teman-teman kost untuk berunding mengenai harga baru tersebut dengan ibu kost. Saya tidak menggunakan
taktik apapun, hanya mengatakan terus terang bahwa kami keberatan dengan harga baru tersebut dan ingin agar harga
tersebut diturunkan. Saya berargumen seperti yang telah saya ungkapkan di atas, namun argumen tersebut kemudian
dimentahkan ibu kost. Beliau mengatakan bahwa alat-alat seperti laptop, heater, dan dispenser memang hanya
ditancapkan ke stop kontak sesekali, tapi justru karena di tancap-cabut itulah listrik yang digunakan lebih besar. Ibu kost
memberikan perbandingan antara alat-alat tersebut dengan lemari es, yang ditancapkan terus-menerus tapi daya listriknya
lebih kecil. Saya tidak dapat mempertahankan argumen saya karena tidak punya cukup bukti. Akhirnya ibu kost memberi
saran agar hanya beberapa orang saja yang membawa alat-alat tersebut untuk digunakan bersama-sama dan biayanya
ditanggung bersama. Hasil dari perundingan tersebut, harga tidak turun. Tapi karena setelah perundingan tersebut ada
istilah “laptop milik bersama”, “heater milik bersama”, “TV milik bersama” dan sebagainya, kami, para penghuni kost
tersebut pun tidak terlalu merasa terbebani oleh kenaikan harga tersebut.

***
Nailatul Authary
21286

Negosiasi terpenting dalam minggu ini adalah ketika saya untuk kesekian kalinya meminta kepada orangtua saya untuk
dibelikan motor. Alasan yang saya sampaikan kepada mereka bahwa kegiatan perkuliahan sudah semakin padat, sehingga
membutuhkan kendaraan untuk memudahkan kegiatan. Selain itu, saya belum bisa mengikuti kursus bahsa asing karena
kendala kendaraan. Awalnya mereka tidak mengizinkan dengan alasan jalan di Jogja yang terlalu padat sehingga bahaya
bagi saya untuk mengendarai motor. Lalu, saya mengatakan bahwa saya akan malas kuliah kalau tidak dibelikan
kendaraan. Selain itu, kalau tidak ada kendaraan saya tidak bisa mengikuti kursus bahasa asing seperti teman-teman saya
yang lain. Setelah cukup lama bernegosiasi, mereka mulai bisa berpikiran terbuka dan mengerti akan kebutuhan saya.
Walaupun, akhirnya mereka mengatakan masih akan mempertimbangkan untuk membelikan saya motor, tetapi saya cukup
puas dengan hasil negosiasi saya.
        Dalam hal ini posisi saya adalah ingin dibelikan motor, sedangkan kepentingan saya adalah agar saya bisa
menjalankan kegiatan perkuliahan dengan lebih mudah dan bisa mengikuti kursus bahasa asing. Lalu, posisi orangtua saya
ialah bahwa mereka keberatan untuk membelikan saya motor.
        Negosiasi saya dan orangtua saya lebih berorientasi posisi. Sehingga, cukup sulit untuk bisa mencapai tujuan saya,
karena orangtua saya memiliki posisi yang kuat dalam hal ini. Walaupun akhirnya tujuan akhir saya untuk dibelikan motor
belum tercapai, tetapi dengan negosiasi yang dilakukan berkali-kali sudah cukup mampu untuk membuka pikiran kedua
orangtua saya dan memberikan pengertian keapda mereka.

***

Suci Lestari Yuana
04/175550/SP/20561

“Menebus Kesalahan”
     Negosiasi kali ini dilakukan melalui sms. Dilatarbelakangi oleh kelalaian saya dalam menepati janji yang telah
disepakati. Saya dan Dilla (HI 2006) telah sepakat untuk bertemu dan berdiskusi dengan Pak Muhadi Sugiono tepat setelah
kelas Negosiasi dan Resolusi Konflik berakhir. Namun setalah kelas berakhir, perhatian saya teralihkan untuk terlibat
diskusi dengan Dian (HI 2006) sehingga saya melupakan janji itu, dan setibanya di kost saya lihat di handphone ada
missed call dari Dhila, seketika itu juga saya baru teringat dan merasa bersalah karena telah lupa. Sehingga akhirnya saya
mengirimkan sms untuk meminta maaf dan membuat kesepakatan yang baru.
     Dalam perundingan singkat lewat sms itu, posisi saya adalah meminta maaf untuk kepentingan trust building dan
menghindari kesalahpahaman. Sementara menurut perkiraan saya kepentingan Dilla yang lebih dominan dalam negosiasi
ini adalah bisa berdiskusi dengan Pak Muhadi.
     Strategi yang saya gunakan dalam negosiasi ini adalah meminta maaf dan menawarkan Dilla untuk memilih waktu lain
guna bertemu dan berdiskusi dengan Pak Muhadi dalam waktu terdekat. Dan Dilla memberikan balasan yang menurut saya
memuaskan karena dia memaafkan saya dan dia memberikan pilihan waktu yang sangat sesuai dengan jadwal saya. Dan
strategi yang kedua adalah meminta Dilla untuk mengingatkan kembali supaya saya bisa terhindar dari kelalaian.

***

                                                                                                                         8
FITRI HAPSARI PRAMUDITA
21438

Konteks dan Proses Negosiasi yang dilakukan:
    Ini adalah salah satu negosiasi terpenting yang saya lakukan. Proses negosiasi ini terjadi pada malam minggu ketika
saya ingin menonton konser Andra and The Black Bone juga Dewa 19. Karena ini adalah konser besar dengan banyak
band yang tampil, kemungkinan selesainya larut malam. Padahal kosan saya tutup jam 10. Maka dari itu saya berusaha
untuk bernegosiasi dengan pembantu pemilik kosan agar mau membukakan pintu untuk saya pada saat saya pulang jam
berapa pun nanti saya akan pulang. Awalnya dia menolak karena kemungkinan saya pulang sudah larut malam dan saat itu
dia sudah tidur. Ia menganjurkan saya untuk tidur di kosan teman yang tidak memiliki jam malam. Tetapi saya tidak mau
karena semua teman saya kosanya memiliki jam malam.
    Meskipun ia menolak untuk membukakan pintu, saya masih tetap membujukknya. Karena saya tidak ingin melewatkan
konser besar ini dan ingin masuk kosan setelah menonton konser. Pada akhirnya proses negosiasi pun dapat saya
menangkan setelah melakukan pendekatan yang cukup lama. Saya pun sangat senang karena dapat menonton konser
dan masuk ke kosan larut malam tanpa takut tidak dibukakan pintu gerbang.
Posisi:
Saya ingin dibukakan pintu gerbang kosan jam berapa pun saya pulang
Kepentingan:
Masuk ke kosan dan beristirahat
Teknik berunding:
Saya berusaha untuk memenangkan negosiasi ini dengan terus membujuk pembantu pemilik kosan. Saya juga berusaha
untuk mengingatkan bahwa memang sudah tugasnyalah membukakan pintu kosan. Dalam kontrak perjanjian kosan
memang sudah tertulis jika anak kos pulang terlambat pintu gerbang kosan akan dibukakan. Akhirnya, walaupun agak
memakan waktu lama, akhirnya pembantu pemilik kosan pun setuju untuk membukakan pintu gerbang kosan.

***
RAHMA LILLAHI SATIVA
06/195512/SP/21546
Perundingan terjadi pada hari Senin, 3 September 2007 di depan Toti Disc, Jalan Kaliurang KM 4,5 Gg. Kenari No. 1
Yogyakarta, mengenai mekanisme pembayaran hutang antara saya dan teman saya bernama Beta. Beberapa hari
sebelumnya, kami membeli makan bersama. Karena Beta tidak membawa uang cukup, saya memberinya pinjaman
sebesar Rp 3.500,00. Kemudian pada hari Senin, Beta meminta saya untuk membelikan plester dan obat memar sebesar
Rp 2.200,00, serta meminta saya mengantarkannya mengembalikan VCD yang dia pinjam beberapa hari sebelumnya.
Sambil menunggu saya iseng menghitung jumlah uang yang keluar masuk diantara kami berdua. Kemudian tiba-tiba saya
teringat bahwa teman saya meminta saya untuk mem-burning sebuah film yang disukainya. Kebetulan keuangan saya
menipis, akhirnya saya memutuskan untuk berunding dengan Beta mengenai mekanisme pembayaran hutang melalui
penggantian pembayaran uang dengan meminjamkan film yang saya inginkan.
Kepentingan saya disini adalah mendapatkan film yang saya inginkan tanpa harus mengeluarkan biaya lagi. Kami
mencapai kesepakatan dan Beta bersedia membayar hutangnya dengan meminjamkan film. Saya mendapatkan konsesi
dari hutang yang seharusnya dibayarkan Beta dan Beta sudah menyelesaikan tanggung jawabnya untuk melunasi
hutangnya kepada saya. Kami sama-sama mendapatkan keuntungan dan tidak ada yang merasa dirugikan karenanya.
Beta justru merasa sangat lega karena hutangnya telah terlunasi dan saya pun mendapatkan film yang saya inginkan,
tanpa mengeluarkan biaya lagi. Ini berarti kami telah mencapai win-win solution dalam menyelesaikan masalah mekanisme
pembayaran hutang diantara kami.
Taktiknya, saya mengatakan kepada Beta bahwa semua hutangnya dapat dilunasi hanya dengan meminjamkan saya
sebuah film seharga Rp 2.500,00. Saya kira sudah cukup impas, mengingat menurut perhitungan hutangnya sendiri sudah
terlunasi jika Beta bersedia meminjamkan film. Disini bargaining position saya lebih besar karena saya yang dihutangi, jadi
bagi Beta membantu saya merupakan suatu bentuk tanggung jawab. Toh selama ini memang Beta sangat mudah untuk
diajak berunding, karena kami memang teman dekat. Terbukti dengan adanya koneksi/teman memudahkan kita
mendapatkan sesuatu dengan usaha seminimal mungkin dan hasil yang semaksimal mungkin.

***
Yuliandri Silitonga
20982
 Isu Negosiasi :

                                                                                                                          9
    Memilih opsi I dari 5 opsi yang ditawarkan. Opsi I tersebut Menghendaki dihilangkannya poin IV yang dimuat dalam
    Piagam Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Se-Indonesia (FKMHII). Poin IV Piagam FKMHII itu
    sendiri berisikan ”Melandaskan setiap kegiatan berdasarkan Pedoman Dasar Forum (PDF).”
   Teman Negosiasi :
    Kevin, Ella, Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN).
   Lawan Negosiasi :
    Universitas Wahid Hasyim (UWH).
   Posisi :
    UGM (yang diwakili oleh saya, Kevin, dan Ella), UMY, dan UPN menghendaki opsi I sebagai pilihan bersama wilayah
    IV FKMHII (terdiri dari UGM, UMY, UPN,dan UWH).
    UWH menghendaki opsi V sebagai pilihan bersama wilayah IV FKMHII. Opsi V tersebut menginginkan tidak ada
    perubahan sama sekali dalam Piagam FKMHII yang telah disepakati.
   Kepentingan :
    Universitas-universitas yang setuju akan opsi I menginginkan agar perdebatan dalam FKMHII segera berakhir.
    Perdebatan ini muncul disebabkan oleh substansi yang terdapat dalam poin IV FKMHII tersebut, dimana ada beberapa
    universitas yang ingin mengganti substansi yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu, poin IV itu sendiri tidak begitu
    krusial karena 3 poin sebelumnya sudah dapat mengarahkan FKMHII agar tetap sesuai dengan tujuan
    pembentukannya.
    Sementara itu, UWH memilih opsi V karena mereka menganggap bahwa Piagam yang sudah ada tidak perlu diganggu
    gugat lagi, dan poin IV Piagam FKMHII penting untuk menjaga agar FKMHII sesuai dengan tujuannya.
   Proses :
    Pada awalnya, kita berdebat panjang karena mempertahankan posisi masing-masing. Namun, setelah mengetahui
    terdapat kesamaan kepentingan, yaitu sama-sama menginginkan agar FKMHII tetap sesuai dengan tujuan
    pembentukannya, maka universitas-universitas yang memilih opsi I mencoba meyakinkan UWH dengan alasan bahwa
    poin 1-3 sudah dapat menjamin hal tersebut, dan dengan memilih opsi I kita bisa mengakhiri perdebatan yang
    berkepanjangan tanpa ada pihak yang dirugikan. Kita tidak lagi berdebat dengan mempertahankan posisi yang ada,
    tapi bernegosiasi dengan memanfaatkan persamaan kepentingan.
   Hasil :
    Setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya UWH berhasil diyakinkan untuk menjadikan opsi I sebagai pilihan
    bersama Wilayah IV FKMHII.

***
Maredias M.Y.
SP/21141

                             Sabtu, 1 Sebtember 2007
    Negosiasi ini berlangsung antara saya dan paman melawan sepupu (anak paman). Sepupu saya tersebut meminta
sepeda motor kepada paman saya. Karena belum dapat membelikan sepeda motor tersebut, maka paman menolaknya.
    Saya coba menanyakan kepada sepupu saya kenapa meminta sepeda motor tersebut. Ternyata agar dia dapat
mengantar jemput pacarnya waktu sekolah dan jalan-jalan. Selain itu juga agar dapat bebas main ke mana-mana.
    Saya mencoba menawarkan untuk meminjamkan sepeda motor saya sekali-sekali untuk dia gunakan. Selain itu saya
juga menawarkan alternatif-alternatif lain. Namun sepupu saya tetap menolak dan ngotot ingin punya sepeda motor sendiri.
Dengan demikian baik negosiasi antara saya dengan sepupu maupun negosiasi antara sepupu saya dengan paman tidak
mengalami kesepakatan.
    Dilihat dari peristiwa tersebut dapat dilihat posisi dan kepentingan masing-masing pihak.
    Posisi sepupu saya adalah punya sepeda motor sendiri. Sedangkan kepentingannya adalah agar dapat mengantar
jemput pacarnya dan jalan-jalan
bersama teman-temannya. Posisi paman saya adalah tidak membelikan sepeda motor tersebut. Sedangkan
kepentingannya mungkin untuk memanfaatkan uang yang ada untuk kepentingan lain yang lebih penting.
    Dapat dilihat disini juga bahwa negosiasi yang mempertahankan posisi tidak akan menemui kesepakatan

***
Maria Yeni Wulandari
06/ 195115/ SP/ 21418


                                                                                                                      10
    Pada minggu ini saya mengalami perundingan dengan kakak saya mengenai pemakaian laptop. Pada hari kamis
minggu ini, dia harus menjalani ujian kursus komputernya di salah satu lembaga kursus komputer di Jogja. Sedangkan
laptopnya saya bawa di kos. Setiap hari minggu saya pulang ke rumah di Bantul. Dan hari minggu lalu, kakak saya
mengungkapkan keinginannya untuk memakai laptop, dan kalau bisa tinggal saja dulu laptopnya. Akhirnya kami berunding,
bagaimana agar nanti kakak saya bisa pakai laptop untuk belajar dan saya juga bisa memakainya dahulu. Karena kalau
saya tinggal, dan nanti tiba-tiba ada tugas yang harus saya kerjakan, maka saya akan kelabakan. Dan akhirnya dicapai
kesepakatan, laptop saya bawa dulu, dan hari rabu setelah kursus kakak saya mampir kos untuk mengambil laptop, karena
hari sabtu-minggu saya juga akan makrab di Kaliurang, jadi saya rasa lebih aman juga kalau dibawa pulang, karena teman
saya ada yang sempat kehilangan laptop di kosnya. Maka, akhirnya perundingan yang kami lakukan menghasilkan solusi
yang menguntungkan semuanya. Dalam kasus ini, posisi saya tentu saja ingin membawa laptop ke kos, sedangkan posisi
kakak saya ingin agar laptop ditinggal di rumah dulu. Adapun kepentingan saya, laptop akan saya gunakan untuk
mengerjakan tugas jika ada tugas yang mendadak dalam minggu ini, sedangkan kepentingan kakak saya agar dia bisa
belajar untuk menghadapi ujian kursus komputernya. Namun kami berunding dan berfikir, kenapa tidak diambil jalan
tengahnya saja. Jadi selama beberapa hari saya bisa menggunakan laptop dulu hingga hari rabu, kemudian hari rabu sore,
sepulang kursus kakak akan mengambil laptop di kos saya. Dalam hal ini antara posisi dan kepentingan nampaknya terjadi
keseimbangan, karena kami bisa mengambil jalan tengah, dan posisi kami bisa terpenuhi semua.

***
Tiara Danarianti - 06 / 21422
  Negosiasi terpenting dan yang paling saya ingat minggu ini adalah negosiasi dengan pacar saya sendiri.
Permasalahannya adalah dia ingin menemani temannya (teman dari kecil) ke Malang hari Kamis dan kembali dari Minggu
untuk suatu urusan. Dia menyanggupinya karena jika dia ikut, dia bisa sekalian pulang ke rumahnya yang juga di Malang.
Saya kurang setuju karena beberapa alasan:
Perjalanan itu ditempuh dengan motor. Menurut saya berbahaya karena jarak Jogja - Malang cukup jauh. Terlebih lagi dia
baru saja sembuh dari demam berdarah (plus belum seminggu keluar dari rumah sakit).
Dia jadi bolos kuliah dua hari. Padahal waktu kuliahnya sudah terbuang beberapa hari karena KKN.
Kurang dari sebulan lagi dia bisa pulang juga saat libur lebaran.
Weekend ini ada makrab. Karena dia juga senior di HI, maka dia secara tidak langsung punya kewajiban untuk meramaikan
makrab. Terlebih lagi saya adalah panitia makrab.
Hari pertama makrab bertepatan dengan tanggal kami jadian, perayaan 7 bulan kami jadian. Ini alasan sebenarnya tidak
terlalu penting, makanya saya urutkan di nomer terakhir.
  Mengapa penting? Karena saya hampir tidak pernah melarang dia melakukan sesuatu, sepertinya ini merupakan kali
pertama.
  Awalnya dia tetap bersikeras tidak ikut makrab, tapi hari ini saya seperti mendapat hasil sementara, dia bilang dia akan
membicarakan lagi rencana ke Malang dengan temannya dan sepertinya akan membatalkan acara tersebut.
  Saya puas dengan hasil tersebut karena biasanya keinginan dia susah sekali dibantah, tapi walaupun saya belum
mendapat hasil akhir, keberhasilan saya membuat dia berpikir ulang sekaligus ragu-ragu membuat saya merasa
kemampuan saya bernegosiasi lebih maju. Saya juga puas karena biasanya jika kami berdebat, dia adalah tipe perunding
yang mengutamakan posisi, bukan kepentingan.

***
Novitasari Dewi S.
SP 21754
   Tanggal 30 Agustus yang lalu, ada sebuah film baru yang dirilis. Film itu berjudul Cintapuccino. Film itu sudah sangat
saya tunggu-tunggu sejak SMA. Sebenarnya tidak hanya saya, tapi juga teman-teman se-geng saya. Kebetulan, pada
tanggal 1 September, salah satu dari kami ada yang berulang tahun dan dia berencana akan mentraktir kami nonton film
itu. Saya dan teman-teman tentu saja sangat senang. Tapi beberapa hari setelah rencana itu terlontar, tiba-tiba saya
dengar kabar dari teman saya yang lain kalau rencana nonton gratis itu batal, dengan alasan bahwa yang akan mentraktir
sudah ditraktir nonton lebih dulu oleh teman kuliahnya. Kami tentu saja sangat kecewa. Sebisa mungkin kami akan
menegosiasikan hal ini dengan dia. Pada awalnya saya dan teman-teman yang lain berpura-pura saja menanyakan tentang
rencana nonton bareng itu. Tapi kemudian dia mengatakan bahwa rencana itu batal. Dia kemukakan alasannya, sama
seperti yang sudah kami dengar sebelumnya. Kami coba lagi untuk membujuknya, namun dia mengatakan bahwa dia tidak
enak kalau harus menolak ajakan temannya itu. Akhirnya rencana itu benar-benar tidak jadi terlaksana dan kami harus
menelan kekecewaan tidak jadi nonton film itu bersama-sama dan gratis pula...


                                                                                                                       11
       Dari NL di atas, posisi saya - dan teman-teman saya - adalah ingin menonton film Cintapuccino. Sedangkan
kepentingan kami adalah menonton film itu dengan gratis.
       Taktik yang kami gunakan dalam negosiasi itu adalah dengan menanyakan kembali (konfirmasi) tentang rencana
nonton bareng itu dan berpura-pura tidak tahu kalau rencana itu sebenarnya sudah batal.

***
                                               Sewa Kos dan Pajak Listrik
KHOIRUL AMIN
06/197185/SP/21816
Lawan berunding: Pak kos
Posisi (tuntutan) perunding:
-aku: meringankan beban orang tua
-pak kos: mendapat uang sewa kos dari anak-anak kos secara tepat waktu
Kepentingan perunding:
-aku: mendapat tenggang waktu pembayaran sewa kos
-pak kos: memenuhi kebutuhan keluarga
Taktik: meningkatkan kepercayaan lawan berunding terhadap saya (dengan secara jujur mengakui bahwa saya belum
membayar pajak listrik selama 6 bulan)
      Pada sore itu saya berunding dengan pak kos agar saya diberi keringanan dalam pembayaran sewa kos, yaitu dengan
membayar ½ uang sewa terlebih dahulu. Dapat dibilang bahwa pak kos saya bukanlah seperti tipe pak kos kebanyakan
yang langsung menagih uang sewa kos jika masa pembayaran sewa kos telah tiba, mengingat hingga saat sebelum saya
menemui beliau, beliau tidak pernah menanyakan uang sewa. Selain itu pak kos cenderung memberi 'kebebasan' pada
saya dalam hal pembayaran uang listrik di mana sebenarnya ada 'kesempatan besar' bagi saya untuk mengurangi uang
listrik saya. Namun, alih-alih mengambil kesempatan itu, pada saat saya berunding saya justru mengungkapkan kenyataan
bahwa saya belum membayar pajak listrik selama 6 bulan. Selang beberapa menit berunding, akhirnya pak kos
mengizinkan saya u/ membayar uang sewa kos ½ dahulu dan memberi kebebasan pada saya u/ menentukan waktu
membayar pajak listrik.
      Dari perundingan tersebut, menurut saya pak kos sendiri lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan keluarganya
daripada mendapatkan uang sewa kos dari semua anak kos secara tepat waktu sementara saya sendiri lebih menekankan
u/ mendapat ketenggangan waktu dalam pembayaran sewa kos (based on the needs). Selain itu, adanya mutual
understanding dan mutual trust antara saya dan bapak kos juga merupakan faktor yang cukup berperan terhadap
tercapainya kesepakatan tsb. Terlepas dari hal itu, senyum sehari-hari saya saat bertemu beliau dan oleh-oleh yang saya
bawakan dari kampung halaman u/ beliau kemungkinan besar juga merupakan faktor yang amat mendukung. ^-^

***
Katharina
21311 (HI 2006)

Negosiasi yang saya lakukan dalam satu minggu terakhir ini saya lakukan dengan seorang tukang parkir di sebuah atm.
Saya berunding mengenai cara kerja tukang parkir tersebut yang menurut saya tidak sesuai dengan kewajiban yang
seharusnya ia kerjakan. Setiap kali saya parkir di tempat itu, ketika saya memasukkan mobil, tukang parkir itu tidak pernah
membantu saya mengarahkan mobil. Dan setiap kali saya keluar ia hanya menodongkan tangan untuk menagih uang
parkir, setelah itu langsung pergi dan sama sekali tidak membantu menahan mobil dan motor yang berseliweran di jalan
raya. Semua hal yang seharusnya ia kerjakan benar-benar tidak dikerjakan, tukang parkir itu hanya meminta uang tanpa
bekerja.
Karena saya merasa tidak cocok dan sedikit kesal, akhirnya saya memutuskan untuk berbicara tentang cara kerjanya. Saya
menyatakan bahwa seharusnya ia mengerjakan tugasnya dengan baik agar semua orang yang membayar parkirpun puas
dengan pelayanannya. Tetapi setelah saya memberitahu tentang keberatan saya, dia tidak menerima pernyataan yang
saya ajukan, tetap meminta uang parkir, dan seperti biasa langsung pergi tanpa membantu saya mengeluarkan mobil dari
tempat parkir atm itu.
Saya tidak puas dengan perundingan yang saya lakukan dengan tukang parkir itu karena perundingan itu jelas tidak
berhasil dan tuntutan yang saya ajukan tidak terpenuhi. Saya mengajak tukang parkir itu berunding dengan harapan bisa
memenuhi kebutuhan saya, yaitu mendapatkan pelayanan yang sesuai dan membayar karena pelayanan itu. Saya
menempatkan posisi saya sebagai pemakai tempat parkir, karena itu saya juga berhak menuntut agar tukang parkir itu
menjalankan tugasnya dengan baik.

                                                                                                                        12
***
Noviyadha M P
21347/HI'06

Kegiatan negoisasi yang saya lakukan seminggu terakhir salah satunya adalah Ketika saya membeli sebuah lemari pakaian
di salah satu toko furniture di daerah Jalan Kaliurang. Saya membeli lemari pakaian itu karena pada saat itu kebetulan saya
memang membutuhkan lemari pakaian itu. Yang menjadi lawan negoisasi saya adalah Pemilik toko furniture tersebut.
          Harga yang tertera di bandrol harga lemari pakaian itu adalah Rp.1.200.000 , sayapun berniat menawar harga
tersebut agar turun sampai dengan harga Rp.550.000. saya menginginkan harga tersebut karena karena saya mendengar
dari teman saya bahwa ia membeli lemari tersebut dengan harga Rp.600.000,maka sayapun menawar harga Rp.550.000.
          Proses tawar-menawar terjadi cukup lama karena si pemilik toko menetapkan harga sepakat Rp.620.000 dengan
alasan biaya ongkos kirim, tetapi saya tetap menawar dengan harga dibawah Rp.600.000. Akhirnya kami sepakat di harga
Rp.580.000 dan pemilik tokopun menyetujuinya.
          Saya cukup puas dengan hasil negoisasi ini karena walaupun tidak mendapatkan harga yang saya inginkan
pertama kali yaitu 550 ribu, tapi paling tidak saya sudah berhasil menawar sampai dengan setengah harga dan
mendapatkan lemari yang saya inginkan itu dengan harga Rp.580.000.

***
Bondan A.S
SP / 21269
Selasa siang, 4 September 2007, saya beserta tiga orang teman asyik mengobrol berbagai hal yang sebenarnya tidak
terlalu penting, namun menurut kami hal itu menarik untuk dibahas. Di tengah pembicaraan, salah seorang dari kami tiba-
tiba mengusulkan bagaimana kalau akhir pekan ini kita nonton di studio Plaza Ambarukmo. Kami semua pun setuju dengan
ide tersebut. Terlebih lagi, diantara kami berempat ada yang memiliki kartu kredit BCA dimana dengan memakai kartu itu
kita bisa hemat mencapai 50% karena tiket masuk yang seharusnya berharga Rp. 20.000,- dapat menjadi Rp.10.000,- saja.
Kemudian, salah seorang dari kami berkata bahwa alangkah serunya bila rencana itu diadakan pada Sabtu malam yang
mana usul itu langsung di-iya-kan oleh yang lain. Berbeda dengan mereka, saya cenderung keberatan dan mencoba
menentang usul agar rencana itu diadakan pada Sabtu malam karena jika dilakukan pada waktu tersebut maka
kemungkinan besar saya tidak akan ikut. Di sisi lain, mereka sepertinya tetap menginginkan agar dilakukan pada Sabtu
malam. Dengan situasi tersebut, saya mencoba untuk terus membujuk dan merayu mereka agar rencana itu dapat
dilakukan pada hari-hari yang lain. Hal yang sebenarnya saya inginkan disini adalah mendapat hiburan di akhir pekan,
memperoleh rasa kebersamaan, dan dapat menonton film baru yang diputar di bioskop, tentunya dengan mengeluarkan
biaya yang lebih murah. Untuk mencapainya, saya pun mencoba mengeluarkan alasan-alasan yang dapat mendukung dan
memperkuat keinginan saya agar rencana itu tidak dilakukan pada Sabtu malam, diantaranya pada waktu itu saya memiliki
acara untuk menghadiri makrab 2007 dan alasan-alasan lainnya.
       Setelah beberapa saat berunding, dicapailah kesepakatan yang disetujui oleh semua pihak untuk melaksanakan
rencana tersebut pada Jumat malam. Saya pun merasa cukup puas dengan hasil yang diperoleh karena keinginan dan
kebutuhan saya, mungkin juga sama dengan keinginan dan kebutuhan teman-teman yang lain, yaitu untuk memperoleh
rasa kebersamaan melalui media menonton bersama dan sebagai hiburan di akhir pekan dengan biaya yang lebih sedikit
dari yang seharusnya, besar kemungkinan akan tercapai. Situasi ini mungkin akan berbeda apabila kami berempat hanya
memperhatikan posisi masing-masing dimana kami akan mengalami kesulitan untuk memperoleh titik temu.

***
Rizky Safitri

Negosiasi terpenting yang saya lakukan minggu ini, dengan lawan teman kosan saya sendiri, yang notabene adalah anak
dari pemilik kos-kosan yang saya tempati, dan dia di beri tugas oleh bapaknya untuk menagih uang kos. Sebenarnya setiap
membayar, penghuni kos diharuskan membayar penuh untuk kos selama satu tahun, tapi karena orang tua saya merasa
agak berat untuk membayar uang kos-kosan langsung setahun penuh, karena selain membayar uang kosan, beliau juga
harus membayar uang kuliah saya dan kakak saya yang jumlahnya cukup besar, maka,beliau meminta saya untuk
menanyakan kepada si anak pemilik kos ini (sebut saja D), apakah boleh untuk membayar setengahnya dulu. Karena uang
bulanan saya juga terancam terpaksa dipotong dulu bulan ini apabila diharuskan membayar penuh.
    Maka berangkatlah saya menuju kamar D untuk bertanya. Ternyata, D agak keberatan dengan permintaan saya,
dengan alasan bapaknya yang menyuruh dia menagih penuh. Tapi, lalu dengan merayu dia sedikit demi sedikit, dan

                                                                                                                        13
dengan berbagai alasan, diantaranya, saya bilang bahwa saya tidak berani mengambil dan membawa uang dalam jumlah
besar. Sampai akhirnya saya diizinkan membayar kosan setengahnya dulu ;p.
   Saya merasa puas dengan hasil perundingan ini, kerena akhirnya orang tua saya senang, dan saya pun lega karena
uang bulanan tidak jadi berkurang. D mungkin tidak merasa dirugikan, karena alasan yang saya pakai jelas, dan, toh
akhirnya saya harus melunasi uang tersebut.Menurut saya perundingan kali ini berhasil.(^u^)V.

***
Anggia Permatasari

1.        Deskripsi singkat:
Saya tinggal bersama Eyang saya. Beberapa waktu yang lalu Eyang mulai menegur saya karena saya sering pulang terlalu
malam. Menurut Eyang, kebiasaan saya ini dimulai sejak saya semester dua. Eyang keberatan dengan kebiasaan saya
tersebut karena menurutnya, kebiasaan ini membuat saya terlihat seperti perempuan nakal. Lalu Eyang menyuruh saya
untuk menentukan jam malam saya sesuai „batas wajar saya‟.
Setelah berunding, disepakati bahwa saya boleh pulang malam jika ada alasan yang jelas dan mendesak. Jam 9 malam
disepakati sebagai jam malam saya dan jam 10 untuk setiap weekend. Jika saya pulang terlalu malam dan pintu sudah
terkunci, saya diperbolehkan menelepon Eyang atau mengetuk jendela kamar tidurnya. Selain itu jika sudah tidak
memungkinkan untuk pulang, saya diperbolehkan untuk menginap di rumah atau kos teman.
2.        Posisi dan kepentingan:
Posisi Eyang: Pulang ke rumah lebih cepat.
Kepentingan saya: Kelonggaran jam malam karena saya harus mengerjakan tugas yang menumpuk.
3.        Taktik berunding:
Saya mencoba mendengar keinginan Eyang terlebih dahulu, mencerna semuanya dan mencoba mencari celah yang dapat
saya gunakan untuk memuluskan jalan saya. Saya mencoba memberikan janji agar Eyang bisa sedikit melunak dalam
memberikan jam malam saya. Saya juga menegaskan agar Eyang tidak mengunakan kata „batas wajar saya‟ karena batas
wajar setiap orang berbeda-beda. Lebih baik langsung ditetapkan jamnya daripada abstrak seperti sebelumnya.
4.        Analisis:
Saya merasa telah memenangkan perundingan ini karena saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, yaitu kejelasan
dan sedikit kelonggaran untuk jam malam saya. Saya juga merasa telah melakukan beberapa keterampilan yang telah
diinformasikan kepada saya, yaitu listen (mendengarkan apa yang sebenarnya dipermasalahkan) dan reframe (melihat dari
sudut pandang Eyang bahwa Eyang tidak ingin saya terlihat seperti perempuan nakal yang selalu pulang malam). Namun
sepertinya saya belum melakukan rephrase karena saya tidak memilih kata-kata yang lebih bersahabat, saya hanya berjanji
untuk mengurangi kebiasaan tersebut karena saat ini saya sudah difasilitasi dengan komputer sehingga saya bisa
mengerjakan tugas saya di rumah, bukan di warnet.

***
Restu Aji Purwaka
                                             Mulai Lesnya Kapan Mas?
                                        (Sebuah negosiasi jarak jauh via SMS)


      maaf saya baru ngirim skrg krn mpertimbangkan negosiasi mana yg plg penting
1.      Perunding: saya sebagai tentor privat dari sebuah lembaga dengan siswa baru saya, namanya Rifa.
2.      Waktu Perundingan: Selasa, 04 Agustus 2007 pukul 13.00
3.      Ringkasan perundingan: saya mengajukan waktu luang saya sampai 2 kali lalu ditanggapi oleh Rifa, akhirnya deal.
4.      Analisa posisi dan kepentingan:
A. Saya
1.      Posisi: saya menginginkan waktu luang yang cocok (bukan jam kuliah, hari minggu sore dan tidak malam hari)
2.      Kepentingan
       saya tetap bisa memperjuangkan IP
       tetap ada one relaxing day.
       malam hari saya bisa mengerjakan lainnya (baca literatur, nonton film, dll) . Tidak kerja di malam hari
B. Rifa
1.      Posisi: hampir sama, ingin waktu luang yang sama (bukan jam sekolah, les lain atau ekskul) tapi hari minggu atau
malam OK.

                                                                                                                     14
2.       Kepentingan
        Rifa tidak ingin mengorbankan sekolah dan jam les lainnya
        Rifa tetap ingin berekspresi dalam ekskulnya
        bisa malam hari dan minggu sore karena Rifa ingin mengurangi rasa malas belajar pada waktu tersebut.
TAKTIK PERUNDINGAN (menurut saya nei ...):
        konkret, saya langsung mengajukan beberapa pilihan jam dimana saya bisa mengajar (tentu di luar waktu yang
berisi kepentingan2 saya diatas)
        langkah kedua: giving limited menus, setelah Rifa kurang cocok dengan jam-jam yang telah saya berikan. saya
hanya memberi dua jam diantara jam-jam tadi dan sedikit "hambatan". disini, hambatan yang saya berikan adalah: jika
Rifa tetap ga bisa, lebih baik ganti tentor dengan melalui birokrasi lembaga (lagi). begitu ...

***
Marsiano Maestro Hastoro
05/185707/SP/21082
    Pengalaman berunding saya minggu ini adalah ketika saya berniat melakukan service sepeda motor di AHASS (Astra
Honda Authorized Service Station) Tunas Jaya Magelang. Hari itu merupakan hari minggu yang cerah. Pada hari minggu
memang AHASS hanya buka sampai pukul 12.00 . Pada hari itu saya datang pukul 10.30, dan menurut petugas penerima
di bagian pendaftaran service, hari itu pelayanan sudah penuh, dan sudah tidak memungkinkan lagi untuk menerima order
service sepeda motor. Petugas pendaftaran tersebut menyarankan agar saya datang kembali esok hari. Posisi saya adalah
saya harus service hari itu, karena saya berkepentingan untuk membawa sepeda motor saya untuk melakukan perjlanan
jauh, yaitu ke Yogyakarta pada sore harinya, dan sepeda motor saya sudah melampaui batas waktu service yang
dianjurkan. Melakukan service di tempat lain sudah tidak memungkinkan. Posisi petugas pendaftran adalah, ia harus
menghentikan penerimaan pendaftaran service hari itu karena sudah penuh, selain itu juga, mekanik yang bertugas pada
hari itu tidak banyak. Ia berkepentingan untuk menolak agar tidak menambah lagi beban kerja untuk hari itu, dan juga
membantu para mekanik yang bertugas agar tidak mendaptkan pekerjaan yang berlebih.
    Menanggapi hal itu saya berusaha membujuk petugas pendaftaran itu. Saya mengatakan bahwa saya ini sudah
langganan lama, dan selalu datang ke situ setiap kali service. Saya juga mengatakan bahwa saya sudah terburu buru
waktu untuk segera ke Yogyakarta. Jadi saya berusaha meakinkan petugas pendaftaran tersebut agar menerima order
service sepeda motor saya. Namun jawaban petugas tersebut tetaplah menolak pendaftaran saya. Ia tetap menyarankan
hal yang sama yaitu agar saya datang keesokan harinya. Karena lawan berunding saya tetap bersikukuh menolak, maka
saya meminta bantuan pihak ketiga, yaitu Chief Mechanic yang sudah saya kenal baik. Saya meyakinkan dia agar
menerima service sepeda motor saya. Akhirnya Chief mechanic ini berbicara kepada petugas pendaftaran, dan
mengatakan kepadanya agar menerima sepeda motor saya untuk disservice. Chief Mechanic tersebut mengatakan bahwa
masih cukup waktu jikalau hanya mendapat tambahan kendaraan saya. Pada akhirnya sepeda motor saya disservice pada
hari itu.
    Saya melihat perundingan saya ini dapat berhasil karena saya meminta bantuan kepada pihak ketiga, yaitu bapak Chief
Mechanic tadi. Ia memberikan pengertian kepada petugas pendaftaran tadi sehingga petugas itu mau menerima kendaraan
saya. Seperti yang kita tahu, perundingan yang berdasarkan pada posisi tidak akan membawa kita kemana mana, tetapi
yang berdasarkan kepentingan di balik posisi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Begitu juga yang saya alami.
Kepentingan petugas pendaftaran tadi adalah mengatur agar beban mekanik pada hari itu tidak berlebih dengan adanya
pembatasan. Namun karena chief mechanicnya sendiri menyatakan bahwa hal itu bukan masalah, maka kepentingannya
tidak terganggu, dan kepentingan saya dapat terpenuhi.

***
Eko Pujosantoso
21058
     Di semester ini saya mengambil mata kuliah Ilmu Sosial Dasar dikarenakan saya telah menge-drop beberapa mata
kuliah pengantar ilmu sosial yang setelah pergantian kurikulum ditiadakan. Saya tetap berkewajiban memenuhi jumlah sks
mata kuliah wajib fakultas sehingga mau tidak mau saya harus mengambil mata kuliah tersebut meskipun di antara anak-
anak angkatan baru saya satu-satunya angkatan tua. Mengikuti kuliah yang di dalamnya mayoritas beda angkatan
berdampak pada bedanya jadwal kuliah lain yang diambil. Ketika dosen kuliah tersebut mendadak ingin memindahkan
jadwal kuliah tersebut, terjadi sedikit keributan di ruang kelas. Dosen menawarkan dua pilihan yaitu hari rabu (tanpa
menyebutkan jam) dan hari Jumat siang. Sejumlah anak menginginkan rabu jam tujuh pagi dan sejumlah anak lainnya
menginginkan jumat siang. Saya sendiri tidak bisa setuju dengan kedua pilihan dari kedua kelompok anak tersebut karena


                                                                                                                    15
tabrakan dengan mata kuliah lain yang saya ambil. Kemungkinan yang bisa diikuti hanya pada pilihan dosen yang
menawarkan hari Rabu yaitu selain jam tujuh pagi.
    Posisi pihak-pihak tersebut sudah jelas yaitu menginginkan waktu kuliah sesuai pilihannya masing-masing. Namun,
kepentingannya berbeda-beda. Ada di antaranya yang bertabrakan dengan jadwal mata kuliah lain yang diambil, atau
kesibukan lain di luar kuliah, atau alasan personal lainnya seperti malas dan lain-lain.
    Dilihat dari jumlah proprsional kelas, suara saya dalam perundingan kelas tersebut serasa tidak terdengar karena satu
berbanding banyak. Perundingan tersebut masih belum mencapai final karena keputusan perubahan jadwal masih
menunggu konfirmasi dari dosen yang bersangkutan. Jika waktu yang ditentukan bertabrakan dengan kepentingan saya,
maka saya akan memutuskan untuk merevisi KRS saya mengambil kelas yang lain dengan mata kuliah yang sama.

***
S. Indah A. /20943
 (1) Konteks dan proses perundingan
     Konteks perundingan ini adalah dalam rangka meminta tumpangan/tebengan waktu pulang kuliah. Saat itu berhubung
panas dan bawaan berat maka saya memutuskan untuk meminta tebengan seorang teman yang membawa motor.
Kemudian seusai kuliah saya memberanikan diri untuk meminta tebengan pada teman saya tersebut. Dia setuju tapi
dengan syarat saya yang harus memboncengkan dia memakai motornya. Akhirnya kami sepakat.
(2) Posisi dan kepentingan perunding
     Dalam perundingan tersebut posisi saya adalah mendapatkan tebengan untuk pulang ke kos. Sedangkan kepentingan
saya adalah mengirit uang ongkos naek bus dan tidak capek karena harus membawa banyak barang di tas (kebetulan saat
itu baru saja pulang dari rumah_Purworejo dan langsung kuliah). Adapun posisi teman saya adalah berbuat amal
memberikan tebengan kepada saya. Sedangkan kepentingannya adalah dia tidak perlu membawa motornya sendiri karena
saya yang menyetir.
(3) Taktik berunding
     Taktik berunding saya adalah saya menyetujui untuk memboncengkan teman saya tersebut dengan motornya agar dia
mau mengantar saya. Akan tetapi, saya juga meminta dia untuk membawakan barang-barang saya yang cukup berat.
Dalam hal ini saya merasa cukup puas dan mungkin teman saya tidak cukup puas.
(4) Analisis perundingan
     Sesuai dengan konsep yang diajarkan bahwa perundingan/negosiasi umumnya dilakukan guna mencapai keinginan
tertentu DAN mencapai kondisi yang lebih baik. Begitu juga dengan perundingan yang saya lakukan dengan teman saya
tersebut, yaitu bertujuan agar keinginan saya untuk pulang ke kos lebih hemat dan tidak capek membawa bawaan yang
berat. Perundingan tersebut juga berorientasi kepada kepentingan bukan posisi semata. Kami sama-sama mengetahui
kepentingan masing-masing hingga hasil yang diperoleh adalah win-win solution.

***
Inta Arum Minarasa / 21357
    Dalam Negotiator log kali ini saya mencoba mengangkat negosiasi mengenai “Pembagian buah mangga”. Dalam
negosiasi ini saya berunding dengan penjaga kost saya demi mendapatkan mangga “warisan” dari ibu kost. Mangga
tersebut dibagikan kepada anak kost yang kebetulan lewat dan bertemu dengan penjaga kost saja, dan secara kebetulan
saya lewat dan melihat mangga tersebut, lalu kemudian saya meminta mangga tersebut. Malamnya saya kembali untuk
meyakinkan penjaga kost saya tersebut, lalu kami pun merundingkan pembagian tersebut. Dalam negosiasi tersebut saya
berkepentingan untuk mendapatkan mangga dengan jumlah yang lebih banyak dari yang lain, karena saya sangat
menyukai buah mangga. Sekitar 10 menit setelah selesai berunding saya mendapat kepuasan dengan mendapatkan
mangga yang lebih banyak dari yang lain yaitu 2 buah, dengan kata lain negosiasi saya berhasil.
    Dalam konteks hal ini, sesuai dengan yang saya pelajari dalam negosiasi dan resolusi konflik, saya melihat bahwa
adanya kepentingan saya yang kuat untuk mendapatkan mangga lebih banyak dengan cara me-lobby penjaga kost
tersebut, tanpa dengan maksud membuat anak yang lain merasa iri, karena rata-rata mereka tidak menginginkan buah
tersebut. Dapat di lihat pula bahwa penjaga kost saya tidak dirugikan sama sekali karena ia mendapat jumlah yang lebih
banyak dari yang lain yaitu 3 buah. Dalam perundingan ini saya menggunakan tehnik berbicara secara meyakinkan denagn
mengatakan bahwa saya sangat menyukai buah tersebut dan saya berharap untuk mendapat jumlah yang lebih besar,
tentu saja dengan penggunaan kata-kata yang sopan serta meyakinkan.

***
Gede Anditya Putra Pradana / 21505


                                                                                                                       16
     Saya mencoba membahas salah satu negosiasi yang saya lakukan dalam seminggu ini, yaitu negosiasi tentang
penentuan jalur jurit malam untuk acara malam keakraban Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) UGM. Saya selaku
anggota seksi acara dan beberapa anggota yang lain melakukan negosiasi dengan beberapa anggota seksi keamanan
mengenai tingkat kesulitan jalur jurit malam. Proses perundingan ini terjadi setelah panitia mengadakan survey bersama
melintasi jalur yang sebelumnya direkomendasikan oleh seksi keamanan.
     Seksi acara menginginkan konsep acara yang berbeda dari tahun lalu sehingga menganggap jalur yang dilalui terlalu
panjang dan monoton tanpa ada rintangan berarti. Jalur yang panjang dan monoton dianggap menghabiskan banyak waktu
dan kurang menarik antusisasme peserta makrab. Sementara seksi keamanan menganggap jalur tersebut adalah yang
paling aman dilihat dari penerangan yang cukup, penempatan pos di tempat-tempat yang dianggap berbahaya, dan
kenyamanan warga sekitar. Panitia sepakat untuk berdiskusi ulang menata jalur yang baru dibantu beberapa warga sekitar
yang juga dilibatkan untuk memberikan saran. Seksi acara mengubah susunan acara disesuaikan dengan medan yang
dilalui dengan membuat variasi game, sementara seksi keamanan memperpendek jalur yang diarahkan pada jalan setapak
dan mendapat bantuan sukarela dari warga yang bersedia menjadi keamanan di tiap pos.
     Dari perundingan ini dapat dilihat posisi dan kepentingan seksi acara sebagai pembuat konsep yang menginginkan
acara yang atraktif. Sementara seksi keamanan sebagai penjaga keselamatan dan keamanan peserta makrab
berkepentingan kelangsungan acara yang aman tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan serta memperhatikan
kenyamanan warga. Adanya pihak ketiga yang memberikan saran sangat membantu dalam proses negosiasi. Pada
akhirnya saya selaku seksi acara tetap dapat menghadirkan acara yang atraktif dan seksi keamanan tetap dapat menjamin
keselamatan peserta makrab.

***

Raras Cahyafitri
05/185225/SP/20949

Ternyata dalam kurang lebih seminggu terakhir, ternyata banyak sekali perundingan yang telah saya lakukan. Namun
tentunya tidak mungkin dituliskan semuanya mungkin hanya dua diantaranya (coz masalahnya hampir sama).
Beberapa hari yang lalu ada tugas mencari film yang berhubungan dengan AS dari kelas PolPem AS. Singkat cerita saya
mendapat beberapa film, dan memutuskan untuk memilih “The Manchurian Candidate” sebagai tugas pertama tsb.
Kebetulan film tersebut dibintangi Denzel Washington yang merupakan salah satu aktor favorit teman saya (anak 2005 juga
dan ambil PolPem AS). Saya pun meng-SMS dia tentang film tsb. Dan SMS pun dibalas dengan telepon bahwa dia juga
memakai film tsb. Sebenarnya tidak masalah jika film kami sama, dia pun tidak keberatan saya memakai film tsb. Saya pun
memutuskan untuk memakai film lainnya, bukan karena masalah “sama”, tapi karena alasan ada film lainnya dan kalau
mungkin menghindari tugas yang sama, kenapa tidak memakai film yang lain saja…..
Menurut saya kepentingan saya dan teman saya tsb adalah sama, yaitu mencari film yang sesuai dan menggambarkan isu-
isu yang berkembang di AS. Agak sulit menyebutkan posisi kami, tapi saya rasa hampir sama yaitu tugas selesai.
Keesokan harinya di kelas PolPem AS, setelah pembacaan beberapa laporan film-film yang telah dibuat oleh peserta kelas,
kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan topik-topik yang ingin dijadikan studi kasus, setelah
melihat film masing-masing tentunya. Kelompok saya terdiri dari 5 orang, 2 menulis mengenai rasisme di AS, 2 mengenai
media massa (saya salah satunya), dan satu lagi menulis mengenai 3 film yang berbeda temanya, salah satunya adalah
“Fast Food Nation”. Diskusi kelompok kami dimulai dengan menceritakan film masing-masing. Pendeknya, setelah cerita-
cerita tsb usai kami menarik satu garis dari film-film kami kami yaitu bahwa media massa di AS lah yang membentuk opini
publik dan mensosialisasikan serta mentransfer konsep-konsep (termasuk mengenai stereotype rasisme) yang masih
berkembang hingga sekarang. Peran sebagai pembentuk opini publik tsb, tentunya tidak lepas dari politik yang dilakukan
baik oleh politikus, pengusaha, aktifis dsb. Artinya dengan topik utama media massa kami telah mencakup hampir semua
aspek dalam masyarakat di AS; politik, kebiasaan sehari-hari, stereotyping, rasisme, dsb.
Dalam diskusi (atau bisa disebut perundingan ini) saya rasa kami juga memiliki kepentingan yang sama yaitu mencari
sebuah isu yang dapat diusulkan dalam kelas ini. Posisi kami pun sama dan berimbang, tidak ada yang memaksakan tema
masing-masing lah yang harus dipilih. Tujuan dari negosiasi pun tercapai dalam diskusi kami yaitu mencapai keinginan
(mencari topic tertentu) dan mencapai kondisi yang lebih baik (kondisi yang bisa menampung ide-ide yang kami peroleh
dari menonton film).
Kalau dilihat sekilas mungkin ada kejanggalan mengenai apa hubungan media massa dengan ide dalam film Fast Food
Nation. Hubungannya adalah bahwa media lah yang selama ini ikut ambil bagian dalam perkembangan restoran-restoran
fast food asal AS. Pengusaha-pengusaha ini tentunya tidak segan meng-iklankan produk mereka melalui TV. Dari iklan-


                                                                                                                    17
iklan tsb, yang bahkan sampai ke TV kita, pembantukan identitas pun terjadi i.e Fast Food Nation. Artinya, satu garis yang
kami tarik ini dapat mengakomodasi semua ide-ide kami.
Saya tidak yakin dengan taktik yang mungkin telah saya gunakan ketika berdiskusi. Mungkin karena mereka adalah teman-
teman sendiri dan kami tidak berada dalam posisi “ide yang satu harus mengalahkan ide yang lain” dan karena kami
mungkin lebih mengutamakan bagaimana menampung semua ide yang ada. Sikap terbuka dalam menerima ide-ide lain
adalah factor yang membuat kami memperoleh topik yang menampung semua ide.

***
Kartika Widayati

Konteks perundingan sederhana yang dalam seminggu ini saya alami, yaitu ketika saya sedang melakukan transaksi tukar
tambah sepeda di sebuah toko sepeda. Saya telah membeli sepeda pertama saya seharga Rp 550.000 di toko tersebut,
kemudian sepeda yang ingin saya tukarkan seharga Rp 1.150.000. Dalam mencapai kepentingan masing-masing, telah
terjadi suatu proses negosiasi mengenai harga jual sepeda tersebut.
     Saya menginginkan harga jual sepeda saya ini, dihargai setengah dari harga aslinya. Kemudian Si penjual tidak bisa
menyetujui keinginan saya, karena kondisi sepeda tersebut, tidak sebanding dengan harga yang saya inginkan. Si penjual
mengahargai sepeda saya seharga Rp 200.000, namun saya tidak setuju begitu saja.
     Kemudian terjadi proses lobying yaitu saya menawarkan apabila ia menyetujui keinginan saya, saya bisa
mempromosikan kembali toko sepedanya kepada teman-teman saya yang tertarik untuk membeli sepeda, karena
sebelumnya, saat saya membeli sepeda pertama saya, beberapa teman saya ikut tertarik untuk membeli di toko tersebut
dan saya ikut menemani. Hal tersebut salah satu bukti nyata, bahwa saya bisa mempromosikan toko sepedanya.
     Setelah adanya proses tersebut, Si penjual tetap tidak bisa mengahargai setengah dari harga asli sepeda saya. Namun
ia menaikkan harga jual sepeda menjadi Rp 230.000. Alhasil saya setuju, dengan syarat ia mengurangi harga kunci sepeda
yang saya inginkan, yaitu dari harga asli Rp 10.000 kemudian ia kurangi menjadi Rp 8.000.
     Setelah proses tukar tambah sepeda ini selesai, masing-masing mendapatkan keuntungan, walaupun saya tidak
mendapat setengah dari harga asli sepeda saya, namun saya mendapat potongan dari kunci sepeda yang ingin saya beli,
selain itu saya juga mendapat nilai tambah dari harga awal yang ia tawarkan (200.000 menjadi 230.000). Sedangkan
keuntungan Si penjual sepeda itu, sepeda barunya terjual dan mendapatkan sepeda pertama saya yang masih bisa dijual
dengan harga yang lebih tinggi. Kemudian tokonya pun bisa saya promosikan kepada teman-teman saya.
Tips : - Memberikan kepercayaan kepada perunding
                  Adanya proses asosiasi dalam bernegosiasi
                  Benar-benar mengetahui kepentingan masing-masing dan mengetahui target kepentingannya
                  Memiliki alternative kepentingan tambahan, apabila targetnya tidak tercapai.

***
Aditya Rahmana Sani
04/175698/SP/20625

Saya seorang penyanyi dengan suara rendah, cenderung bass, David adalah seorang gitaris beraliran punk dan reggae,
dan Aji adalah seorang gitaris beraliran pop. Kami mendapatkan permintaan untuk tampil dalam sebuah acara di kampus.
Kami berdebat mengenai lagu yang layak untuk kami mainkan bersama, sementara aliran musik kami berbeda. Perbedaan
ini menyebabkan kami harus mengesampingkan kepentingan masing-masing, dan fokus pada tujuan kami untuk bermain
bersama dgn baik.
Pada awalnya kami sama-sama ingin membawakan lagu berdasarkan aliran masing-masing, tetapi sudah barang tentu
tidak akan terjadi harmonisasi dalam musik yg kami mainkan. Kami mengambil jalan tengah dengan mengundi aliran dan
menghasilkan keputusan yang bagi kami cukup memuaskan. Saya tetap bernyanyi dengan suara rendah, cenderung
bossa, David tetap memainkan ritme reggae-nya dengan tempo yang lebih lambat, dan Aji mengikuti kami dengan
memainkan melodi untuk mengisi interlude dan bagian-bagian yang kami anggap kosong dalam lagu yang kami mainkan.
Akhirnya kami mampu menampilkan permainan yang menurut teman-teman audiens, bisa dinikmati.

Taktik Berunding

Problem Solving, kami terus membicarakan keinginan dan kelemahan yang mungkin kami timbulkan dengan keadaan
masing-masing, sehingga kemudian menemukan apa yang menjadi keputusan bersama dengan keuntungan bagi semua,
yaitu menciptakan harmoni.

                                                                                                                       18
***
Nama          : Adhe Nuansa Wibisono
NIM          : 21713
                                                     “Kerja Rodi”

Minggu lalu adalah salah satu minggu tersibuk yang pernah saya lalui. Saya memikul beberapa aktivitas organisasi dalam
waktu yang hampir bersamaan, bahkan beberapa diantaranya bertabrakan waktu dan dengan sangat kejam menetapkan
deadline pada tanggal yang sama. Saya bertugas membuat publikasi pada satu organisasi dan harus mengikuti rapat pada
organisasi yang lain dan ternyata saya hampir lupa, saya juga menjadi panitia makrab HI07!!.
Sumber masalahnya adalah pada hari sabtu dan ahad (1-2 September 2007) saya ternyata menjadi sie acara di sebuah
kepanitiaan yang lain lagi!. Padahal jumat malam dan sabtu pagi ada survey dan rapat makrab(Ya Allah, apa yang harus
saya lakukan?). Akhirnya dengan beberapa pertimbangan saya memilih meninggalkan survey dan rapat makrab. Saya
meminta ijin kepada Angga HI06, ketua Makrab, untuk tidak mengikuti survey dan rapat makrab. Kepentingan saya
jelas!!(saya benar-benar butuh istirahat!!) Saya berbicara langsung dengan Angga dan memberikan alasan bahwa saya
menjadi sie acara pada suatu kepanitiaan lain pada sabtu dan ahad, 1-2 september 2007.
Untuk itu saya mengajukan Arie HI06 yang sama-sama menjadi PJ Jurit Malam untuk menggantikan saya pada saat survey
dan rapat. Setelah saya menjelaskan kondisinya pada Angga, dia mengerti dan saya sudah mencari pengganti. Taktik saya
berhasil saya telah mencarikan pengganti untuk kedua acara tersebut (dan paling tidak beberapa jam paling tenang dalam
minggu tersibuk saya).(Enggak juga besok pagi jam 7 ternyata saya sudah menjadi panitia dalam kepanitiaan yang lain,
bebaskan aku dari kerja nonstop ini!!!)

He he itulah sekelumit kisah dari hari-hariku yang membosankan
Matur Nuwun....

***
Sangaji Budi Utomo
04/175691/SP/20623

Deskripsi Singkat
     Ada beberapa perundingan yang saya lakukan selama seminggu ini. Salahsatunya berlangsung di tengah kantin Fisipol
yang sangat ramai kala itu. Perundingan ini kami lakukan untuk mencapai kesepakatan tentang peralatan musik yang akan
digunakan untuk mengisi salahsatu sesi pada acara pembukaan kuliah S2 HI. Pelakunya adalah saya, sebagai pengisi
acara, dan salah seorang panitia acara tersebut. Proses perundingannya sendiri awalnya cukup alot walaupun pada
akhirnya menghasilkan kesepakatan yang dapat memuaskan kedua pihak.
Posisi dan Kepentingan Perunding
     Ada dua orang perunding. Yang pertama saya sendiri dengan membawa kepentingan memperoleh alat musik dan
sound yang tepat, nyaman dimainkan dan tidak perlu repot mencari atau membawa alat musik sendiri. Sedangkan pihak
kedua adalah panitia acara pembukaan kuliah S2 HI yang memiliki kepentingan menyediakan alat dengan budget
seminimal mungkin tetapi tetap berkualitas.
Taktik Berunding
     Panitia awalnya hanya mau menyediakan sound system saja, tanpa alat, dengan suatu pemikiran bahwa menyewa alat
akan menyebabkan budget membengkak. Sedangkan kami sebagai pengisi acara tentu tidak ingin ikut kerepotan mencari
peralatan, dengan berpijak pada satu argumen bahwa „tugas kami hanya menghibur peserta‟ dan panitia menghubungi
kami „hanya untuk mengisi satu sesi acara saja‟, bukan untuk ikut bekerja sebagai panitia. Benturan kepentingan yang
terjadi terasa cukup rumit saat itu karena kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.
     Pintu penyelesaian mulai terbuka ketika kemudian saya mengusulkan untuk mengontak ketua dari Forum Musik Fisipol
(FMF) -berasal dari HI 2004 juga- yang sudah berpengalaman mengadakan konser akustik dua minggu sekali di kantin
Fisipol. Ternyata panitia setuju. Akhirnya negosiasi dapat dianggap selesai ketika ketua FMF menyanggupi permintaan dari
saya untuk menyediakan alat-alat yang kami inginkan sekaligus meyakinkan panitia acara bahwa budget yang dikeluarkan
untuk alat-alat tersebut tidak besar.
Analisis Perundingan
     Melihat pada kasus di atas, perundingan yang sempat buntu akhirnya selesai dengan hasil memuaskan setelah
perunding mendatangkan pihak ketiga yang dipercaya oleh kedua belah pihak dan mempunyai solusi yang dapat diterima
aktor-aktor kepentingan di dalam negosiasi.

                                                                                                                     19
***
Adel Hamnur Effendy
21710

Isu    : Negosiasi sewa alat

         Pada hari selasa sore, saya menerima seorang tamu dari panitia musik yang akan merental peralatan sound
system. Dalam pembicaraan itu orang tersebut memaparkan spesifikasi alat yang dia ingin gunakan, setelah saya hitung
biayanya ternyata biaya rental yang mereka anggarkan tidak sesuai dengan harga rental alat, akan tetapi orang tersebut
bersikeras tetap ingin spesifikasi alat itu dan dengan anggaran mereka. Sebelumnya saya sudah memberikan opsi-opsi alat
yang di gunakan agar sesuai dengan harga rental yang di keluarkan, tetap orang itu bersikeras minta yang sama dengan
merayu-rayu saya. Setelah sekian lama berdebat, saya memberikan opsi terakhir yaitu menurunkan spesifikasi alat dan
mengurangi jumlah lampu yang di pakai dan mereka menyetujui dengan opsi tersebut walaupun harga rental lebih sedikit di
atas anggaran mereka. Pada saat bernegosiasi sebetulnya saya kasihan terhadap orang itu, dari raut wajah mereka
tampak seperti sudah kehabisan akal atau itu hanya taktik mereka agar mendapat simpati dari saya.
         Mengacu pada posisi dan kepentingan, posisi adalah suatu dasar dalam tercapainya suatu kepentingan dalam hal
ini situasi, kepentingan adalah adalah suatu tujuan yang ingin di capai. Menurut pada teori di atas posisi saya pada pihak
yang menawarkan jasa dan posisi saya lebih tinggi karena saya yang menentukan harga dalam proses tawar menawar,
dan kepentingan saya mempertahankan harga demi mendapat keuntungan. Sementara posisi si panitia menawar harga
dan kepentingan si panitia mendapatkan harga lebih murah dari harga yang saya tawarkan.

***
Rosma/21512

Minggu ini saya membeli buku cukup banyak di Shopping. Oleh karena itu saya mengupayakan harga semurah mungkin
untuk buku yang saya beli. Sebelum memutuskan menawar dan membeli buku, saya menyurvei harga di kios lantai satu
dan lantai dua. Harga di kios-kios lantai dua lebih murah daripada di lantai satu.
Saya menanyakan harga suatu buku setelah didiskon, kemudian menawarnya. Ketika menawar, saya mempertimbangkan
kondisi buku yang akan saya beli, baru atau second hand, tebal halaman, dan harga bila membelinya di Toga Mas atau
Social Agency. Apabila harga yang saya kehendaki tidak disepakati oleh penjualnya, maka saya meninggalkan kios
tersebut dan mencari kios yang lain.
Cara ini berhasil di beberapa kios, tetapi tidak mempan untuk kios terakhir yang saya kunjungi. Akhirnya saya membeli
buku tersebut tidak dengan harga yang saya kehendaki, tetapi tetap lebih rendah dari harga yang diberikan si penjual pada
awalnya. Di kios lain, ketika menawar, saya mengatakan bisa mendapatkan buku yang sama dengan harga yang lebih
murah di kios lain. Cara ini sedikit trickie, karena saya sebenarnya hanya menanyakan harga buku tersebut setelah
didiskon, tanpa menawar. Dan harga yang saya katakan hanya perkiraan saya saja.
Meskipun menginginkan harga semurah mungkin, harga penawaran saya tetap disesuaikan dengan pertimbangan di atas.
Rata-rata buku baru yang saya beli berharga Rp 25.000,00, sesuai harga penawaran saya. Ketika saya akhirnya membeli
buku dengan harga diantara harga penawaran saya dan penjual, karena kios tersebut memang yang paling murah dari kios
lainnya, dan saya memang memerlukan buku tersebut. Toh, harga yang disepakati tidak memberatkan, karena sesuai
dengan anggaran yang saya miliki.
Harga penawaran saya lebih murah dua atau tigaribu rupiah dari harga diskon yang diberikan penjual, agar proses tawar
menawar berlangsung lebih cepat, karena saya masih ada acara lain hari itu. Selain itu, harga tersebut juga jauh lebih
murah daripada harga bila buku tersebut difotokopi.
Dari para penjual, kepentingan mereka menyepakati harga yang saya berikan salah satunya untuk membangun relasi
dengan pembeli. Agar pembeli tersebut kembali ke kios mereka jika ingin membeli buku lagi. Selain itu, mereka memang
mendapatkan diskon tertentu dari penerbit. Mereka tidak menyepakati harga penawaran yang lebih dari setengah harga
karena resiko rugi. Jika harga hanya terpaut dua atau tigaribu lebih murah, mereka masih mendapat keuntungan dari
penjualan tersebut. Penyebab mereka mempertahankan harga, karena saat ini merupakan tahun ajaran baru, dan
permintaan buku meningkat. Walaupun mereka menahan harga, pembeli tetap berdatangan.
Untuk buku bekas, mereka melepasnya walaupun saya menawar lebih dari setengah harga, dilihat dari kondisi buku
tersebut. Selain itu, kemungkinan harga beli mereka lebih murah, ataupun buku tersebut merupakan stok lama, dan mereka
juga memerlukan adanya sirkulasi pada stok buku yang mereka punya.


                                                                                                                       20
***
Pradita Tria Wirawan
06/196111/SP/21733
    Pengalaman negosiasi yang paling penting minggu ini bagi saya adalah mengenai penawaran kerjasama dengan pihak
Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Penawaran ini dimulai saat progam Ramadhan di Fisipol digulirkan dan salah satu
rangkaian acaranya adalah bakti social di panti jompo. Saat itu penanggungjawab acara bakti social mengalami
kebingungan mengenai kegiatan yang cocok untuk panti tersebut. Sebagai penanggungjawab seluruh rangkaian acara
Ramadhan di Fisipol, saya merasa berkepentingan untuk membantu memecahkan solusi yaitu dengan cara membuat suatu
progam acara yang dapat berguna bagi penghuni panti jompo. Akhirnya, terlintas ide untuk mengadakan pemeriksaan
kesehatan gratis bagi penghuni panti. Pertanyaan pertama yang saya pikirkan adalah dengan siapa saya bisa kerjasama
untuk acara ini. Kemudian berlanjut mengenai bentuk kerjasama, kontraprestasi yang dapat saya tawarkan, dan
mekanisme penyelenggaraan.
    Beberapa saat setelah ide progam mengenai pelayanan kesehatan gratis tersebut saya mulai memetakan kebutuhan
yang diperlukan. Saya menargetkan LSM yang bergerak di bidang kesehatan, salah satunya adalah Bulan Sabit Merah
Indonesia (BSMI). Point yang saya tekankan disini adalah kesamaan kepentingan, dalam hal ini adalah kesamaan misi
social. Saat pertama kali menghubungi pihak BSMI, yang terlintas dalam benak saya adalah apa yang bisa saya berikan
kepada pihak BSMI. Akhirnya saya tawarkan bahwa progam ini mempunyai kesamaan misi dan dapat menjadi salah satu
bentuk pertanggungjawaban BSMI kepada para penyandang dana bahwa misi social telah dilakukan.
    Setelah pihak BSMI menyetujui tawaran kerjasama untuk mengadakan tenaga medis, saya menawarkan kerjasama
kembali untuk pengadaan obat-obatan secara gratis. Pihak BSMI tidak keberatan dengan ide yang saya tawarkan, justru
sangat senang dengan rangkaian progam yang saya ajukan termasuk pengadaan obat. Tidak ada bentuk kontraprestasi
dalam bentuk materi yang dapat saya berikan, karena saya tahu pasti misi dan tujuan dari didirikannya BSMI sebagai follow
up rumahsakit darurat pasca gempa. Pihak BSMI juga tidak keberatan dengan tidakadanya kontraprestasi materi yang saya
berikan. Strategi negosiasi yang bisa saya berikan adalah dengan mengetahui kepentingan pihak lain. Dengan hal tersebut
kita dapat menyelaraskan kepentingan yang kita bawa.

***
Nama : Bagus Handoko
NIM : 05/185742/SP/21087

Deskripsi Perundingan & Posisi Serta Kepentingan Perunding:
Saya sempat bersitegang dengan kakak perempuan mengenai pembagian kamar di rumah kami yang baru. Kami berdua
sama-sama tidak mau menempati kamar yang ada di lantai atas. Bagi saya, kamar atas yang sempit tidak cocok untuk
menampung barang-barang saya yang banyak, untuk itu saya lebih memilih kamar tengah yang dekat dengan garasi.
Selain itu peralatan bengkel saya yang berat akan sangat menguras tenaga untuk mengangkutnya lewat tangga. Di sisi
lain, kakak perempuan saya tidak mau menempati kamar atas karena sempit dan takut sendirian. Untunglah ada kakak
tertua saya. Dia mau mengalah untuk menempati kamar atas. Sebelumnya dia menempati kamar paling depan karena
selain laki-laki juga mempermudah aktivitas kerjanya yang sering pulang malam. Akhirnya saya menmpati kamar depan
dan kakak perempuan saya menmpati kamar tengah.

Taktik Berunding:
Saya memakai argumen mengenai peralatan bengkel yang berat, menguras tenaga untuk mengangkutnya ke atas. Kalau
peralatan di taruh di garasi, sering hilang. Jadi paling aman ditaruh di kamar saya saja. Toh yang sering utak-atik mesin
motor adalah saya. Selain itu di kamar saya juga terdapat komputer dengan monitornya yang berat.
Kakak perempuan saya beragurmen bahwa kamar atas yang menyendiri tidak cocok untuk anak perempuan, saru
(memangnya Batgirl atau Cat Woman?). Selain itu, dia takut sendirian, apalagi penerangan kamar atas kurang lampu.
Kakak laki-laki saya mau menempati kamar atas, dengan alas an bahwa barang miliknya sedikit sehingga cocok dengan
kamar yang kecil. Meskipun sering pulang malam, dia punya kunci rumah cadangan jadi tidak perlu mengganggu orang
tidur.

Analisis:
Perundingan harus dilakukan dalam situasi yang tenang. Kesepakatan tidak selalu bisa dicapai dengan melakukan
kekerasan, terutama dalam kasus ini. PErundingan ini harus diselesaikan dengan cara nirkekerasan dan kekeluargaan.
Pihak ketiga yang dihormati kedua belah pihak yang sedang berseteru pun dibutuhkan guna memberikan jalan
keluar/solusi alternatif.

                                                                                                                        21
***
Amin Salasa          05/185605/SP/21054
 Deskripsi Singkat: (Konteks & Proses Perundingan)
    Konteks : Negosiasi soal adopsi kucing antara aku (dibantu kakak + adikku) dengan mama
    Waktu jalan-jalan pagi tepat hari minggu yang lalu, aku dan adikku secara tidak sengaja menemukan seekor anak
    kucing persis di pinggir jalan dekat rumah kami, dan kelihatannnya sih si anak kucing itu emang sengaja dibuang oleh
    si empunya. Karena kasihan, akhirnya aku putuskan untuk membawa anak kucing tersebut pulang ke rumah untuk
    diadopsi. Waktu sampai dirumah, mamaku ternyata nggak setuju aku mengadopsi kucing baru lagi, disitulah negosiasi
    kemudian berjalan. Singkat cerita aku, kakak dan adikkku berhasil melobi mama untuk bersedia mengadopsi si anak
    kucing yang malang itu (yah walaupun harus berkorban sebagian uang jajan dan waktu aku)
 Posisi dan Kepentingan
    Posisi Mama : Tidak boleh nambah kucing maupun pets baru lain lagi di rumah
    Kepentingan Mama : - Prevensi membengkaknya defisit anggaran belanja (dirumahku udah ada 4 ekor kucing dan
    seekor anjing), Kalkulasi biaya yang harus dikeluarkan (alasan ekonomis) pets dirumahku at least perlu makan 3 kali
    sehari belum lagi biaya untuk suplemen, vitamin, dan susu setiap bulan dan minimal vaksinasi setiap 6 bulan (dan
    kelihatannya mamaku benar-benar pusing mikirin anggarannya)
            - Nggak mau repot dan kotor, pets di rumahku sering berulah, misal ngotorin sofa dan lantai yang baru saja
    dibersihin, belum lagi setiap minggu harus ngebersihin kandang petsnya (walaupun yang paling sering membersihkan
    kandangnya aku)
            - Kenyamanan, mamaku sebenarnya alergi sama bulu
    Posisi Aku : Tetep adopsi si anak kucing (posisi adik dan kakakku relatif sama denganku)
    Kepentingan Aku : - Jujur, aku memang suka dengan binatang yang satu ini (habis lucu dan menggemaskan)
             - Merasa kasihan
             - Sudah terlanjur commit (udah terlanjur berjanji dalam hati dan memang udah kepalang basah, si anak kucing
    udah aku bawa pulang)
 Taktik Berunding
    Pertama mama tetep kekeh nggak mau kasih ijin ngadopsi anak kucing itu, bahkan ngancam bakal menstop anggaran
    makan berikut dana yang lain buat kelima pets yang lain. Aku akhirnya nawarin supaya uang jajan aku dipotong khusus
    buat si anak kucing (biaya makan dll-sedangkan biaya untuk ke 5 pets terdahulu tetap di tanggung mama) dan aku
    juga berjanji bakal ngurusin kucing-kucing yang lain dengan lebih baik. Setelah berpikir barang sebentar, akhirnya
    mamaku pun setuju.
 Analisis Perundingan
    Walaupun pada akhirnya aku harus merelakan sebagian uang jajanku dan harus meluangkan lebih banyak waktu buat
    ngurusin binatang peliharaan dirumah, toh aku merasa puas, pertama karena berarti aku tetap dapat mempertahankan
    kommitmen aku dan lagi pula sebenarnya aku nggak terlalu rugi (uang jajan kan tetep dari mama, itu berarti tetep
    mama yang membiayai si anak kucing itu, dan lagi kalau uang jajanku kurang aku masih bisa minta tambah dari papa)

***
Riyanto Lesmana

Negosiasi yang saya lakukan terjadi pada hari Jumat. Hari itu, saya dan partner buddy (untuk angkatan 2007) telah berjanji
untuk mempertemukan kedua belah pihak (Kelas A dan B) untuk memutuskan jadwal pertemuan mingguan buddy.
Perbedaan jadwal kuliah yang berbeda antara kami berdua dan kelas A & B sangat merepotkan saya dalam mengatur
waktu.
     Karena Job Desk buddy minggu pertama adalah pengenalan seputar kuliah dan sosialisasi Curriculum Vitae dan telah
hampir memasuki minggu kedua, saya dan partner buddy harus segera membuat keputusan. Sebelumnya kami semua
telah mengadakan beberapa pertemuan/rembukan, tetapi selalu mengalami impasse dan stalemate. Posisi saya dan
partner waktu itu adalah, pertemuan buddy harus pada hari kerja dan bukan hari libur. Sedangkan, angkatan 2007
menginginkan hari sabtu. Dengan tegas saya menolak permintaan itu karena sabtu adalah waktu di luar kuliah.
     Akhirnya saya menawarkan waktu yang sangat fleksibel untuk semua, yaitu Senin jam 12.00. Namun yang
keberatan adalah partner buddy saya yang kebetulan pada hari itu dia hanya ada kelas pada jam 2.30, dan kelas B yang
sama sekali tidak ada pada hari itu. Kelas A OK, kelas B dan partner saya tidak menyetujui tawaran saya karena (mungkin)
malas datang ke kampus.
     Hampir mengalami deadlock, angkatan 2007 tiba-tiba menanyakan masalah buku kuliah yang ingin kita pinjamkan

                                                                                                                       22
kepada mereka. Lalu, peminjaman buku itu saya jadikan sebagai alat untuk menekan mereka.”Take it or leave it, jika Senin
tidak ada pertemuan maka jangan harap kami akan meminjamkan buku-buku tersebut,” kata saya. Akhirnya, kelas A dan B
sepakat untuk mengadakan pertemuan rutin setiap Senin jam 12.00. Walaupun tanpa partner (kebetulan berhalangan hadir
karena flu), pertemuan buddy minggu pertama dapat terlaksana. Saya merasa puas atas keputusan ini karena sebelumnya
mereka sering bertanya,”Kapan kumpul, Kak?” dan cukup membingungkan kami sebagai buddy dalam menentukan
waktu yang pas. Yang penting reputasi saya sebagai buddy dapat diandalkan!

***
Kevinder/21310

Negosiasi yang saya lakukan adalah ketika saya ingin bertemu dengan bapak pembina osis sma BOPkri satu,
Yogyakarta.Pertama saya menemui masalah di pihak security yang tidak mengijinkan saya bertemu dengan
Bapak pembina OSIS.Namun saya dengan modal nekad,berani untuk bernegosiasi dengan bapak security, dan setelah
pada akhirnya kami berdebat cukup panjang, Saya pun diperbolehkan masuk,dan pada akhirnya saya bertemu dengan
bapak pembina OSIS nya walaupun hanya sebentar namun waktu tersebut sangat berharga,dan saya merasa puas dengan
negosiasi tersebut.

Posisi & kepentingan : kepentingan untuk acara jogja peace day Taktik yang digunakan : berani nekad

***
Sita Sari T. / 21048
    Pengalaman saya sebenarnya tidak terlalu besar namun saya menganggap ini penting. Negosiasi saya lakukan tidak
dengan orang lain, namun dengan saya sendiri. Saya bingung antara memilih satu dari dua mata kuliah. Saya berencana
untuk mengikuti mata kuliah HI Asteng yang diampu oleh Bu Ilien dan saya juga berencana mengikuti mata kuliah Ekonomi
Internasional yang diampu oleh dosen FE. Sebenarnya saya sangat tertarik dengan silabus matkul EI, namun saya juga
membutuhkan ilmu dari matkul Asteng yang notabene menjadi kawasan yang ingin saya pelajari.
    Karena saya juga tidak mau lulus terlalu lama, maka faktor nilai dari dosen sangat saya perhatikan, pertimbangan
mengikuti kuliah HI Asteng lebih besar karena kemungkinan untuk mendapatkan nilai lebih tinggi. Tetapi saya merasa lebih
enjoy dengan perkuliahan+topik yang menarik serta penjelasan dosen yang smart, maka EI menjadi lebih unggul. Saya
kemudian bertanya dengan teman2 apakah mendapat nilai bagus di matkul EI bisa terjamin, ternyata mereka berpendapat
sangat spekulatif karena dosen memang tidak dikenal.
    Akhirnya saya memilih untuk mengikuti kuliah HI Asteng dengan harapan dapat menssupport skripsi saya nantinya di
kawasan Asteng, selain itu saya tetap akan mengikuti matkul EI secara ilegal (sit in) dengan harapan mendapat
pengetahuan yang lebih luas tentang perkembangan ekonomi internasional. Taktik ini menurut saya menjadi yang terbaik
karena saya mendapat dua keuntungan sekaligus: kemungkinan mendapat nilai cukup baik dan mendapat ilmu yang lebih
tanpa takut berspekulasi.

***
Dewa Ayu Ratih Dwipayanti
192397/06/21281

     Negosiasi terpenting yang saya lakukan pada minggu ini adalah negosiasi mengenai jadwal diklat anggota baru Teater
Gadjah Mada (TGM), lawan negosiasinya adalah teman-teman saya di komunitas itu. Awalnya perundingan ini berjalan
lancar, namun pada sesi penentuan jadwal kami sempat beradu argument tentang kesepakatan jadwal diklat. Jadwal diklat
yang diajukan oleh ketua panitia adalah tanggal 22-23 September 2007 dengan alasan agar tidak terlalu lama memulai
latihan lanjutan, namun berhubung saya ikut serta dalam kegiatan “International Day of Peace (IDP)” yang pada tanggal itu
juga merupakan rangkaian acara tersebut, saya menolak jadwal diklat yang semula sudah di tentukan, alasan saya adalah
hari itu saya ada kegiatan di kampus. Dalam perundingan itu saya mengajukan saran agar diklatnya diundur sampai
minggu depannya, agar disetujui saya juga menyatakan kesediaan untuk menjadi sie konsumsi yang semula pernah saya
tolak, kebetulan juga ada sebagian teman-teman yang menyetujui usul saya karena sebagian dari mereka jadwalnya ada
yang berbenturan dengan makrab di jurusannya masing-masing, hal itu membuat saya merasa memiliki posisi yang cukup
kuat. Perundingan itu sempat hampir terjadi deadlock karena tidak ditemukannya kesepakatan diantara kami. Namun kami
sepakat menunda perundingan untuk hal itu sampai keesokan harinya dan mempertimbangkan kembali jadwal yang
semula diajukan oleh ketua panitia.


                                                                                                                      23
   Keesokan harinya terjadilah lagi perundingan yang temanya masih seperti itu yaitu, menentukan jadwal diklat. Namun
sebelum perundingan itu dimulai saya sempat menawarkan kepada teman-teman di komunitas TGM untuk ikut serta dalam
acara IDP yang akan diselenggarakan pada tanggal 21-25 September nanti. Perundinganpun dimulai dan saya masih tetap
mempertahankan tuntutan saya agar diklat diundur namun ketua panitia juga kekeh agar diklat tetap berjalan dengan hari
yang semula ia tentukan. Perundingan yang sama-sama mempertahankan posisi ini tidak menemukan jalan keluarnya dan
kepentingan kita masing-masingpun terancam tidak berjalan. Namun si ketua panitia seperti mencari kelemahan saya dan
beberapa teman-teman yang lain dengan mengatakan kami lebih mementingkan urusan pribadi daripada kepentingan
bersama dan acara IDP dijadikan alat untuk menekan posisi saya saat itu, dari situ saya mengalami keterpojokan sampai
akhirnya saya mengalah dan secara terpaksa menyetujuinya. Saya kecewa karena tidak bisa mempertahankan
kepentingan saya itu.

***
Rochmy

Selasa malam sepulang kursus bahasa Jepang,saya hendak browsing ke Net2U(warnet di selokan mataran sebelah rumah
makan gudeg bu Amad).Kebetulan mbak penjaga warnetnya sedang sibuk mengurusi orang-orang yang mau membayar
tarif pemakaian.Kerumunan orang yang banyak membuat mbak penjaga membolehkan saya langsung mengakses dan
saya bilang saya member.Reaksi si mbak hanya “ho-oh saja”.Tiga setengah jam lebih saya browsing dan kelopak mata
sangat tidak bisa dikompromikan lagi artinya saya akan berhenti akses dan tentunya bayar.Saya tanya mbak penjaga itu
tarif pemakaiannya.Si mbak berkata;”Rp.8500,-“.Saya langsung menyahut;”Member lho dipotong ya!”.Mendengar hal itu alis
mbak penjaga terangkat keatas dan berkata bahwa seharusnya saya membawa kartu member bukannya menyebut nomor
pin kartu saja seperti biasanya.Kemudian saya bilang kalau itu kesalahan mbak sebab tidak menanyakan kartu member
atau dengan kata lain pemberitahuan aturan baru.Padahal saya sendiri juga salah sebab tidak menyebutkan nomor pin
yang biasa saya lakukan sebelum adaaturan baru itu,tapi agar saya tidak disudutkan dengan kesalahan ini atau agar dia
tidak menyinggung hal tersebut saya mencoba membobardir si mbak dengan keteledorannya memberitahukan aturan
tersebut.2 menit lebih saya berunding tiba-tiba muncul pihak ketiga yaitu pacar si mbak sekaligus penjaga warnet yang
kenal baik dengsn saya.Awalnya sangat jelas sekali dia tentu membela si mbak itu dan menyuruh saya membayar sesuai
tariff yang tertera.Ops uang saya hanya 10ribu dikantong dan rencana saya 5ribunya saya buat makan mie di
Burjo.kemudian saya teringat dia penggila Enka(Japanese Pop) dan sedang berburu lagunya Ai Otsuka .Saya bilang
kepada mas itu kalau mas mau lagunya Ai Otsuka lengkap mas cukup membayar Rp.3500,- saja kepada saya sebagai
ganti biaya download atau saya diperbolehkan membayar 5 ribu saja.Mata si mas membelalak sekaligus tersenyum simpul
kemudian dia membicarakannya baik-baik dengan si mbak.Alhamdulillah walhasil saya cukup membayar 5ribu dengan
syarat jika saya tidak membawa kartu member lagi tarif pemakaian akan dihitung biasa dan tentunya menyerahkan mp3nya
ke mas itu.Yang jadi penasaran saya adalah kenapa si mbak itu juga menyetujui usul saya.Ternyata mas tersebut
menambahkan Rp.3500,- pada pembayaran saya.

***
Merike
Negosiasi yang saya lakukan minggu ini adalah ketika saya meminta ijin kepada orang tua saya untuk melanjutkan les
bahasa jerman saya. Alasan yang saya sampaikan adalah bahwa saya tidak ingin pelajaran bahasa jerman yang pernah
saya dapatkan sia-sia jika tidak dilanjutkan karena apabila terlalu lama ditunda saya akan semakin lupa tentang apa yang
telah saya dapatkan. Sedangkan alasan keberatan orang tua saya adalah karena selain bahasa jerman saya juga
meneruskan les bahasa inggris saya. Yang menurut orang tua saya selain tentang besarnya biaya yang akan dikeluarkan,
juga akan mempengaruhi konsentrasi saya karena saya tidak akan fokus mempelajari dua-duanya. Setelah beberapa saat
bernegosiasi, merayu dan membujuk, akhirnya keputusannya adalah saya diperbolehkan mengikuti kedua les tersebut
namun dengan syarat kegiatan selain kuliah dan les dikurangi. Dalam masalah ini, posisi saya adalah ingin melanjutkan les
jerman sedangkan kepentingannya adalah agar saya tidak perlu mengulang level lagi karena bila terlalu lama postpone,
maka saya harus mempelajari dari ulang lagi dan menyia-nyiakan level yang telah saya lalui.

Sedangkan posisi orang tua saya adalah ragu-ragu memberi ijin karena kepentingannya adalah takut akan mempengaruhi
konsentrasi saya,juga kesulitan dalam membagi waktu dan gagal dalam dua-duanya. Negosiasi ini lebih berorientasi pada
kepentingan, karena akhirnya ditemukan jalan keluar selain kegiatan les tersebut saya harus mengurangi kegiatan lainnya
(seperti jalan-jalan, dsb) agar saya dapat lebih berkonsentrasi, dan tujuan les tersebut membantu perkuliahan saya
tercapai.


                                                                                                                      24
***
Sofia Ariani (21291)

   Mata kuliah Politik dan Pemerintahan Amerika Latin, 5 September 2007…

    Kelas sedang berusaha untuk membuat payung-payung tema dari shopping lists yang telah dipresentasikan satu-
persatu oleh peserta mata kuliah. Beberapa di antara poin-poin di shopping list adalah national liberation movement, irish
diaspora, masalah sosial budaya dan politik di Amerika Latin, pionir „pink tide‟ sampai Bolivarian Revolution. Beberapa
peserta mata kuliah ikut berunding dan menawarkan opsi-opsi payung tema serta sub-tema apa yang termasuk di
dalamnya. Saya pun, karena merasa sangat berminat pada masalah penduduk, aspek sosial politik, budaya
masyarakatnya, perubahan komposisi penduduk dan kebudayaan asli, merasa bahwa payung tema demografi haruslah
dimasukkan, agar saya bisa mendalaminya lebih jauh. Dosen kemudian menawarkan agar payung tema demografi itu
dispesifikkan menjadi demographic changes atau semacamnya, agar perkuliahan ini juga berfokus pada analisa perubahan
dan perkembangan, jadi bukan sekedar mengetahui. Saya menyetujui usulan ini (walaupun suara saya tenggelam dan lagi-
lagi akan „menghilang‟ karena saya sedang sakit tenggorokan…). Saya merasa puas dengan payung tema itu, karena
betul-betul mengakomodasi minat saya.

   Mata kuliah Amerika Latin will never be the same…

***
Lina Andayanti Lumbanraja
SP/20826


Negosiasi yang terpenting yang saya alami dalam minggu ini adalah dengan teman saya yang akan berangkat ke Jepang
pada akhir September. Dia punya banyak buku bagus dan berkualitas yang saya tidak punya dan saya ingin miliki. Dan
saya berharap dia akan menitipkan buku-bukunya pada saya. Sepertinya dia sudah menyadari niat saya dari awal dan dia
menitipkan buku-bukunya pada pacarnya bukan pada saya, teman baik dan teman kosnya juga. Saya sempat kesal karena
tidak mendapat kepercayaan untuk menjaga koleksi bukunya. Akhirnya saya bicara empat mata dengan dia. Saya
bertanya, “Kenapa ga kau titip bukumu sama aku?”. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia takut ketika dia kembali saya
sudah lulus dan tidak akan berada di Jogja lagi. Dia khwatir saya hilang entah kemana sewaktu dia kembali. Menyebalkan
juga sih, dia punya pikiran seperti itu. Kemudian saya meyakinkan dirinya bahwa saya ga akan kemana-mana sewaktu dia
pulang. Kalaupun saya kembali ke kota kelahiran saya, saya akan mengabarinya dan ga akan membawa kabur buku-
bukunya. Saya mengatakan bahwa saya membutuhkan buku-buku dia untuk penyusunan proposal dan skripsi dan untuk
mengisi waktu saya yang semakin lama semakin luang.

Akhirnya kami mencapai kesepakatan, saya boleh meminjam sebagian buku-bukunya (hanya yang berkaitan dengan studi
saya) selama satu tahun plus novel-novelnya yang masih dipinjam orang lain yang belum dikembalikan sampai saat dia
berangkat. Saya bertanggung jawab atas pengembalian novel-novel itu dan menjaganya selama satu tahun juga. Ketika
saya lulus dan berkenan meninggalkan Jogja saya harus menitipkan semua titipan dia kepada kenalannya, siapa pun itu,
yang punya kredibilitas baik. Begitulah, rak buku saya sudah bertambah dengan beberapa buku kepunyaannya. Dan akan
bertambah lagi ketika novel-novelnya dikembalikan pada saya. Saya senang melihat rak buku penuh dengan buku-buku
bermutu walaupun waktu untuk membacanya tidak bisa dipastikan. Saya merasa menang ketika dia mempercayakan buku-
bukunya kepada saya. Tuntutan dan kebutuhan saya dipenuhi walau tidak sepenuhnya (novelnya yang keren-keren tetap
dititipkan pada pacarnya). Saya punya pertanyaan: dalam perundingan apakah mungkin melibatkan posisi (tuntutan ) dan
kepentingan (kebutuhan) dan mencapai perolehan maksimal untuk keduanya?

***
Primada NH
21751

        1.

   Konteks: Penjualan kucing

                                                                                                                       25
  *

    Negosiasi dilakukan pada Rabu, 5 September 2007 dengan Rio, cowok yang tertarik dengan iklan penjualan kucing
yang saya pasang.
  *

      Rio ingin kucing yang saya jual seharga 1,5 juta dilepas dengan harga 1 juta.
  *

      Saya tetap bersikeras menjual dengan harga awal.

Proses perundingan:

  *

    Rio datang ke kos melihat kucing saya dan melakukan nego dengan pertimbangan bahwa kucing yang saya jual
warnanya kurang menarik, dan harga 1,5 juta terlalu mahal untuk ukuran kucing berusia 9 bulan.
  *

    Saya mengatakan bahwa harga segitu sudah sangat lazim karena kucing saya memang peranakan kucing Persia asli
dan betina. Lagipula harga segitu sudah bonus travel case. Sudah begitu, kucing saya uda ditawar orang lain yang berani
pasang harga 1,4 juta dan akan mengambil kucingnya seminggu dari waktu dia nego. Berarti logikanya, rio harus pasang
harga yang lebih tinggi dari penawar sebelumnya.
  *

      Rio bersikeras bahwa harga itu terlalu mahal.
  *

    Saya bersikeras dengan harga paling mentok 1,45 karena tidak mau rugi berhubung sudah ada yang menawar 1,4 dan
saya tidak bisa balik modal kalau melepas pada harga 1 juta karena biaya perawatan kucing yang mahal.
  *

      Akhirnya rio bilang mau pikir-pikir lagi.

 2.

      Posisi saya: menjual kucing dengan harga 1,5 jt

Kepentingan saya: balik modal & keuntungan yang maksimal

Posisi rio: ingin kucing tapi kantong kempes

Kepentingan rio : ingin membeli kucing bagus dengan harga murah

 3.

      Taktik berunding : Memberikan “harga” maksimal

Menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan

Kenali lawan

Perhitungan dan hati-hati dalam nego


                                                                                                                      26
Kalu perlu jadi Pragmatis

 4.

      Analisis perundingan :

Saya berada di posisi ingin menjual kucing dengan harga 1,5 karena kepentingan saya adalah balik modal dan mencari
untung penjualan. Kontra dengan posisi rio yang ingin kucing tetapi tidak memiliki cukup uang, sedangkan kepentingannya
adalah membeli kucing dengan harga murah.

Hasil perundingan, dalam konteks ini tidak ada yang menang. Tapi dalam sudut pandang saya, saya tetap menang karena
kucing saya akan terjual dengan harga 1,4. karena sebenarnya harga maksimal kucing saya (tanpa kandang) cuma 1,3 jt.

***
Rizka Pramadita

Negosiasi yang saya lakukan adalah antara saya dengan ibu saya. Minggu lalu, ibu saya mengikuti sebuah pelatihan
bahasa Inggris di Jakarta selama lima hari dari hari Senin sampai Jumat. Saya melihat kegiatan ibu saya sebagai
kesempatan untuk meminta beliau berkunjung ke kos saya di daerah Terban, karena selama satu tahun saya kuliah di
Jogjakarta, beliau sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat kos atau bahkan hanya di Jogjakarta karena
kesibukan yang padat di Surabaya.
   Awalnya beliau menolak karena merasa pasti akan kelelahan dan Senin berikutnya harus langsung masuk kantor. Tetapi
saya terus melakukan persuasi dengan merajuk, meningkatkan aktivitas kegiatan tanpa diimbangi dengan asupan makanan
dan istirahat yang cukup hingga terkena flu, dan menunjukkan pencapaian-pencapaian positif di luar kampus agar beliau
luluh sekaligus tertarik melongok saya serta berpelesir di Jogjakarta. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengunjungi saya
meskipun hanya singkat sekali. Beliau datang pada Sabtu sore dan pulang ke Surabaya pada Minggu malam.
   Sebetulnya, cara yang saya rasa sangat mempengaruhi beliau untuk datang ke Jogja bukanlah karena rajukan saya
tetapi malah pengertian saya dengan mengatakan, "Ya sudah, kalau mama tidak bisa datang, tidak apa-apa. Saya bisa
jaga diri kok. Saya juga takut mengganggu jadwal mama." Dan bukannya malah ngotot menggunakan kata-kata keras atau
terlampau manja untuk meminta beliau datang.

Analisa: Pemilihan diksi sangat penting. Mungkin bila saya bernegosiasi dengan teman-teman atau keluarga wanita
(terutama yang lebih tua), pilihan kata-kata menjadi lebih penting lagi. Dan ketika saya menuntut/meminta sesuatu dari
lawan berunding saya dalam konteks suatu permasalahan, jauh lebih baik bila saya menuntut tapi juga menyediakan satu
opsi jalan keluarnya, jadi tidak hanya menuntut saja. Sempat terjadi tarik-ulur dalam perundingan kali ini karena kesibukan
beliau yang padat. Dan karena saya yang mempunyai kepentingan, maka saya harus bersabar.
***

I.G.N Teguh Putra Negara
05/183523/SP/20862

    Pada minggu ini,saya melakukan perudingan dengan penjaga rental vcd untuk mendapatkan kembali SIM saya.
Permasalahannya adalah, saya membutuhkan SIM saya untuk saya pakai, karena saya akan pergi keluar kota
menggunakan mobil. Tetapi SIM saya berada di rental vcd. Saya telah menghilangkan vcd yang saya pinjam. Saya
berusaha berunding dengan pihak kedua yaitu penjaga rental. Saya berusaha berunding dengan penjaga tersebut agar
saya bisa mendapatkan SIM saya kembali tetapi tanpa harus membayar denda yang sudah saya tanggung. Saya sudah
meminta pengertian dari penjaga tersebut namun tetap saja hasilnya saya harus mengganti vcd yang hilang tersebut dan
juga membayar denda yang saya tanggung karena sudah terlambat mengembalikan vcd pada waktunya.

    Posisi saya disini adalah saya membutuhkan SIM itu untuk pergi keluar kota. Kepentingan saya disini adalah saya ingin
SIM saya kembali ytetapi saya tidak ingin membayar denda dan juga ganti rugi. Posisi penjaga rental vcd itu dalah dia ingin
saya membayar denda dan juga mengganti rugi vcd yang telah saya hilangkan. Kepentingan dia adalah dia tidak ingin rugi
dan juga tidak ingin dimarahi oleh atasannya karena dianggap tidak bertanggung jawab dan nantinya dia harus rela
dipotong gajinya untuk mengganti kerugian tersebut.


                                                                                                                         27
    Untuk menyelesaikan masalah ini, saya mencoba berunding dengan dia agar kita bisa sama-sama tidak dirugikan.
Saya meminta agar saya mengganti vcd yang hilang saja tetapi dia bersikeras agar saya tetap mengganti rugi dan juga
membayar denda. Saya berusaha agar tidak banyak mengalami kerugian dengan terus membujuknya agar tidak menyuruh
saya membayar dendanya. Setelah mengalami perundingan yang cukup alot akhirnya saya memcapai kesepakatan
denganya. Saya bisa mandapatkan kembali SIM saya hanya dengan membayar ganti rugi vcd yang hilang saja dengan
syarat saya bisa mencicil denda yang saya tanggung sebesar 150 ribu dan mencicilnya selama 1bulan.

    Saya kurang puas dengan hasil perundingan tersebut karena saya tetap saja rugi. Tapi apa boleh buat, saya sangat
membutuhkan SIM saya agar bisa pergi keluar kota. Ini sudah menjadi konsekuensi yang harus saya terima. Walaupun ada
pihak ketiga, yaitu teman saya, namun tetap saja tidak membantu. Penjaga itu tetap berpegang teguh dengan
keputusannya. Disini kepentingan saya tidak dapat terpenuhi dan kepentingan penjaga itu dapat terpenuhi.sungguh sial
nasib saya.

***
Cecilia Novarina
“Putus Cinta”
1st week of September, 2007
Permasalahan muncul ketika seorang teman (sebut saja mas D dari kota S) selalu memainkan lagu (50% pop – 50%
dangdut – 100% norak) dari suatu band lokal bernama Pemuda Harapan Bangsa yang bertajuk “Putus Cinta”
menggunakan komputer saya secara berulang-ulang setiap kali bertandang. Berhubung lagu yang dimainkan beresiko
untuk merusak pendengaran dan juga kewarasan, maka dengan bijak saya mengusulkan untuk memainkan lagu yang lain.
Masalahnya, lagu ini sepertinya cukup dikeramatkan oleh teman saya itu sehingga usul yang saya ajukan mendapat
perlawanan.
Posisi saya ketika itu adalah agar sang teman memainkan lagu yang lain saja dan bukannya lagu itu serta menghapuskan
lagu itu selamanya dari playlist sementara kepentingan saya adalah agar saya tidak perlu lagi mendengarkan lagu itu
berulang-ulang setiap hari. Posisi lawan adalah agar lagu tersebut tetap ada di playlist dan dapat dimainkan kappanpun
sementara kepentingannya adalah tetap mendengarkan lagu yang disukainya tersebut.
Setelah menyatakan posisi saya, hal yang saya lakukan adalah menyatakan alasan-alasan mengapa posisi saya sebaiknya
dipenuhi. Berbekal argumen bahwa saya ingin mendengarkan lagu lain, saya berusaha membujuk sang teman untuk
mengikuti keinginan saya. Respon yang ditunjukkan sang teman adalah memperlihatkan sikap tidak percaya akan alasan
saya tersebut dan berusaha meyakinkan saya bahwa lagu tersebut menyenangkan untuk dinikmati bersama dalam
suasana santai dan bersahabat. Meskipun begitu, saya tetap pada pendirian saya untuk memperjuangkan tuntutan awal
yang telah saya buat. Hal ini saya lakukan dengan mengeluarkan argumen selanjutnya, yaitu bahwa dengan memutar lagu
tersebut setiap kali akan menurunkan nilai rasa yang dimiliki oleh lagu tersebut dan dengan begitu akan mengurangi
kenikmatan yang dirasakan setiap kali mendengarkan lagu itu.
Mungkin karena argumen yang cukup meyakinkan atau mungkin karena proses negosiasi yang melelahkan, sang teman
mulai menunjukkan sikap mengerti akan maksud saya. Setelah itu tercetuslah ide, bagaimana bila kami menggunakan
kecanggihan teknologi untuk menyelesaikan masalah ini. Setelah proses perumusan yang (tidak sebegitu) rumit, maka
kami memutuskan untuk memasukkan berbagai lagu pilihan kami (termasuk lagu yang memicu permasalahan tersebut) ke
dalam playlist winAMP. Penyelesaian masalah ini adalah dengan mengaktifkan fungsi shuffle setiap kali memutar lagu dan
membiarkan winAMP memilih bagi kami sehingga kami tetap dapat menikmati lagu pilihan masing-masing tanpa ada
dominasi salah satu pihak.

***
Prijsti
Percakapan yang menurut saya kurang lebih menyerupai negosiasi terjadi dengan kakak sepupu saya, belum lama ini. Dia
menanyakan apakah tanggal 9 September saya bisa ikut arisan keluarga. Karena tanggal itu masih ada Makrab H.I jelas
saya jawab tidak bisa. Mungkin pikirnya saya menolak mentah-mentah, kakak sepupu saya meminta agar saya bisa balik
minggu pagi jadi saya bisa ikut arisan. Dia mulai kesal karena menganggap saya terlalu sibuk. Dia mulai melontarkan
pertanyaan-pertanyaan kenapa saya harus ikut, kepentingan saya apa, posisi saya di makrab ini apa, etc,etc. Akirnya saya
menjelaskan bahwa saya tidak bisa mundur begitu saja, melepas partisipasi dan tanggung jawab saya di makarab ini. Saya
menjelaskan bahwa saya sudah menawarkan diri untuk berpartisipasi di makrab H.I sejak sebelum liburan semester, oleh
karena itu tidak mungkin sudah di hari-H tau-tau saya mundur. Saya bilang kalau begitu mending dari awal-awal masuk
kemarin sudah mengundurkan diri, jadi tidak merepotkan. Saya juga berkata bahwa masa-masa yang terlalu banyak
kegiatan hanya terjadi di awal semester satu saja. Untungnya kakak sepupu mau menerima kalau saya tidak bisa ikut

                                                                                                                     28
arisan keluarga, saya berkata mungkin nanti di arisan berikutnya saya ikut. Tetapi saya tidak mengatakan itu sebagai janji.

Konteks perundingan : kepentingan keluarga dan pribadi
Posisi     : kakak sepupu ingin saya ikut arisan
Kepentingan : ikut makrab tanpa menyakiti hati kakak sepupu
Taktik berunding : - menjelaskan seolah-olah harus mengikuti makrab
Analisa perundingan : mungkin ada sedikit unsur face saving disini, karena di makrab saya memang tidak masuk
kepanitian, bukan posisi penting tetapi saya berkata bahwa saya sudah ”terlanjur nyemplung”. Dari perundingan ini saya
memang tidak bisa memberi konsesi yang setimpal untuk kakak sepupu saya, walaupun menurut saya tidak ada unsur
perolehan untung ruginya karena saya ikut atau tidak arisan akan tetap jalan. Saya disini hanya berperan untuk menemani
kakak sepupu sebagai perwakilan.
Hasil perundingan : kakak sepupu saya tidak lagi mempermasalahkan keikutsertaan saya ke arisan. Tetapi untuk dibilang
puas saya tidak terlalu puas karena tetap timbul rasa tidak enak terhadap kakak sepupu.




                                                                                                                         29

								
To top
;