Proposal Kewira Usahaan Desa PROPOSAL KOMPREHENSIF PK AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR

Document Sample
Proposal Kewira Usahaan Desa PROPOSAL KOMPREHENSIF PK AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR Powered By Docstoc
					                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




BAB I I                 RUMUSAN MASALAH
TANGGAPAN ATAS HASIL REVIEW PED
Berdasarkan hasil review terhadap PED Proposal PPK Kota Sukabumi oleh tim
reviewer, ada beberapa substansi yang dikemukakan diantaranya adalah :
      1.        Akar masalah masih merupakan daftar masalah belum mempunyai
                indikator kinerja,
      2.        Pemetaan masalah tidak didasarkan pada data yang relevan dan data
                belum berbunyi ,
      3.        Akar masalah tidak sinkron dengan hasil EFAS-IFAS, dan belum didukung
                oleh data yang faktual,

Setelah dilakukan evaluasi internal oleh tim penyusun Kota Sukabumi, maka
dilakukan perbaikan atas materi yang menjadi catatan tim reviewer yaitu setiap
statement yang di ungkapkan dalam komponen analisis SWOT telah didasarkan
kepada data akurat yang telah dianalisis secara mendalam untuk menemukan akar
permasalahan dan pemetaan masalah yang hendak dicarikan solusinya.
Perumusan akar masalah didasarkan pada            basis data yang aktual dan
menggambarkan kondisi kewilayahan, sosioekonomi dan infrastruktur Kota
Sukabumi, secara umum kondisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

2.1.Penggunaan Lahan
                Penggunaan lahan di Kota Sukabumi digunakan untuk kebun (271,447 Ha),
                kolam (107,073 Ha), perekonomian (88,431 Ha), taman (107,073 Ha),
                pemukiman (815,041 Ha), sawah (2.031,792 Ha) serta ruang terbuka hijau
                (1.415,473 Ha), jadi terlihat bahwa penggunaan lahan di Kota Sukabumi
                masih didominasi oleh persawahan dan ruang terbuka hijau terutama di
                wilayah perluasan (BACILE). Kondisi ini merupakan modal bagi upaya
                pengembangan sektor pertanian dan industri yang mendukungnya untuk
                menciptakan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat.

2.2. Aspek Sosial

                2.2.1. Kependudukan

                Jumlah penduduk dapat merupakan potensi apabila tingkat produktifitasnya
                tinggi serta dibarengi oleh laju pertumbuhan penduduk yang dapat
                dikendalikan. Jumlah penduduk Kota Sukabumi pada tahun 2004 sebanyak
                249.192 orang, 173.170 orang diantaranya terdapat di wilayah CICIGUWA
                dan 76.022 orang berada di wilayah BACILE . Proporsi jumlah penduduk
                Kota Sukabumi adalah 69,5 % berada di wilayah CICIGUWA dan 30,5 %
                                                                                   II - 1
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                berada di wilayah BACILE. Secara umum tingkat Laju Pertumbuhan
                Penduduk Kota Sukabumi rata-rata mencapai 1,12 % per tahun, Laju
                Pertumbuhan Penduduk terendah terdapat di Kecamatan Cikole yaitu
                mencapai    0,10 % per tahun dan tertinggi di Kecamatan Baros yang
                mencapai 3,96 % per tahun. Tingkat kepadatan penduduk Kota Sukabumi
                pada tahun 2004 adalah sebesar 5.192 orang tiap Km2, di wilayah
                CICIGUWA memiliki tingkat kepadatan rata-rata 7.150 orang tiap Km2,
                sedangkan di wilayah BACILE sebanyak 3.197 orang tiap Km2.
                Berdasarkan data yang ada terlihat bahwa untuk wilayah BACILE memiliki
                Jumlah penduduk yang sedikit dengan Laju Pertumbuhan Penduduk yang
                tinggi, sebaliknya untuk wilayah kota lama memiliki jumlah penduduk yang
                tinggi dengan Laju Pertumbuhan Penduduknya rendah.
                Ada beberapa alasan yang mengakibatkan terjadinya kondisi tersebut ialah
                tingkat kepadatan penduduk yang masih rendah di wilayah BACILE
                menimbulkan arus migrasi masuk yang cenderung bertambah, sebaliknya
                untuk wilayah CICIGUWA dengan tingkat kepadatan yang tinggi arus
                migrasi masuk cenderung berkurang bahkan mengarah pada stagnasi Laju
                Pertumbuhan Penduduk. Migrasi masuk tertinggi dialami oleh Kecamatan
                Baros pada tahun 2002. Dengan melihat tingginya Laju Pertumbuhan
                Penduduk di wilayah BACILE mengandung konsekuensi bagi Pemerintah
                Kota Sukabumi untuk menciptakan suasana yang kondusif, yaitu jaminan
                keamanan, memperkecil tingkat kesenjangan sosial serta dari aspek
                kesehatan adalah kelengkapan sanitasi lingkungan.

                2.2.2. Pendidikan

                Tingkat pendidikan penduduk Kota Sukabumi pada Tahun 2004 secara garis
                besar telah dapat menyelesaikan wajar dikdas 9 tahun atau setara Sekolah
                Menengah Pertama, angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) telah mencapai
                8,92 tahun, dan Angka Melek Huruf (AMH) mencapai 99,03 %.
                Melihat jenjang pendidikan dari Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2004,
                penduduk Kota Sukabumi yang telah tamat SD sederajat mengalami
                pertumbuhan rata-rata sebesar 3,45 %, SLTP sederajat sebesar 2,43 %,
                SMU/ SMA sebesar 5,10 %, SMK 3,09 %, Diploma I/ II/ III sebesar 3,28 %
                dan Diploma IV/ S1/S2/ S3 sebesar 15,93 %. Dilihat dari proporsinya rata-
                rata selama Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2004 untuk tingkat SD
                sederajat sebesar 51,72 %, SLTP sederajat sebesar 19,48 %, SLTA
                sederajat sebesa 24,95 %, dan Perguruan Tinggi sebesar 3,85%. Apabila
                dilihat dari kecenderungannya tingkat pertumbuhannya dalam kurun waktu
                Tahun 2000-2004, tingkat pendidikan perguruan tinggi mencapai rata-rata
                pertumbuhan 15,93 % disusul oleh jenjang pendidikan SMU/ SMA yaitu
                mencapai 5,10 %, hal ini menggambarkan bahwa program Pemerintah
                                                                                    II - 2
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                Kota Sukabumi yang berkaitan dengan aspek pendidikan dapat dikatakan
                cukup berhasil
                Keluaran dari semua jenjang pendidikan pada akhirnya akan menempati
                pasar kerja yang ada, secara umum indikator pendidikan Kota Sukabumi
                telah sesuai dengan yang diharapkan pada kondisi ideal IPM yaitu AMH
                100% dan RLS 9 tahun. Apabila dilihat keterkaitan (Link and Match) antara
                pendidikan dan ketenaga kerjaan terlihat bahwa penduduk usia kerja di
                Kota Sukabumi yang berijazah SD sederajat memiliki persentase tertinggi,
                idealnya penduduk usia kerja Perguruan Tinggi memiliki persentase
                tertinggi dan yang berijazah SD sederajat memiliki persentase terendah,
                kondisi ini akan menyebabkan rendahnya daya saing tenaga kerja di pasar
                tenaga kerja dengan kualifikasi tertentu.

                2.2.3. Ketenagakerjaan

                Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam
                kehidupan manusia, karena mencakup dimensi sosial dan ekonomi. Oleh
                karenanya setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan
                kesempatan kerja dan lapangan usaha dengan harapan penduduk dapat
                memperoleh manfaat langsung dari pembangunan.
                Dilihat dari jumlah penduduk usia kerja, Kota Sukabumi selama 5 (lima)
                tahun terakhir (tahun 2000-2004) mengalami pertumbuhan rata-rata
                2,44 %. Dilihat dari jumlah pengangguran tahun 2000 adalah sebanyak
                13,33 % dari jumlah penduduk, tahun 2001 sebanyak 15,51 %, tahun 2002
                sebanyak 17,05 %, tahun 2003 sebanyak 22,89 % dan tahun 2004
                sebanyak 23,60 %, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 18,4 %, terlihat
                bahwa kecenderungan jumlah pengangguran dalam 5 (lima) tahun terakhir
                semakin bertambah persentasenya, jika dilihat dari ratio perbandingan LPE
                dengan tingkat pertumbuhan penduduk usia kerja yang bekerja (Elastisitas)
                memiliki ratio sebesar 0,45. Melihat data pendidikan dan ketenagakerjaan
                tersebut ada beberapa permasalahan yang menjadi penyebab semakin
                bertambahnya jumlah pengangguran di Kota Sukabumi, diantaranya
                adalah:
                1. Tidak sebandingnya lapangan kerja yang ada dengan pertambahan
                   jumlah angkatan kerja / yang bekerja,
                2. Keterampilan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan lapangan
                   kerja, dilihat dari persentase antara pencari kerja yang berhasil
                   ditempatkan dengan pencari kerja terdaftar hanya mencapai rata-rata
                   11,23 % selama periode tahun 2000-2004,




                                                                                    II - 3
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                3. Rendahnya jiwa kewira usahaan dari angkatan usia verja hal ini terlihat
                   dari kecilnya pertumbuhan massyarakat yang bekerja di sector informal
                   dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,13% untuk sektor formal dan
                   2,92% sektor informal, serta
                4. Pasar lapangan kerja yang ada belum sesuai dengan tingkat pendidikan
                   yang dimiliki.

                2.2.4. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

                Data jumlah keluarga menurut tahap kesejahteraan Kota Sukabumi Tahun
                2004 dapat diuraikan sebagai berikut : untuk tahap Pra Keluarga Sejahtera
                (Pra-KS) penduduk yang masih berada pada tahap ini adalah sebanyak
                1.405 KK atau sebesar 2,20%, Tahap Keluarga Sejahtera I (KS-I) berjumlah
                8.042 KK atau 12,58% dari total Kepala Keluarga sebanyak 63.925 KK.
                Apabila dilihat dari kelompok umur, terlihat bahwa kelompok umur 0-4
                tahun, 5-9 tahun dan 15-19 tahun memiliki persentase tertinggi.
                Dilihat dari sisi pemberdayaan dan kesejahteraan, berdasarkan ukuran
                Angka Beban Tanggungan (ABT) atau dependency burden ratio, di Kota
                Sukabumi secara rata-rata setiap 100 penduduk usia produktif menanggung
                hidup 58,3% penduduk usia non-produktif. ABT dihitung sebagai
                perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif (usia 0-14 dan
                60 ke atas) dengan penduduk usia produktif (usia 15-59).
                Pada tingkat wilayah kecamatan, secara rata-rata ABT tertinggi terdapat di
                tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Cikole (64,41), Kecamatan Warudoyong
                (60,16) dan Kecamatan Cibeureum (59,99). Sementara ABT terendah
                terdapat di Kecamatan Gunungpuyuh (53,44). Dengan demikian, kondisi
                ABT yang paling berat terdapat di Kecamatan Cikole.

                2.2.5. Kesehatan Masyarakat

                Pengembangan sumberdaya manusia di Kota Sukabumi dimulai melalui
                pendekatan sejak dalam kandungan sampai akhir hayat, dirintis melalui
                gerakan Sayang Ibu (Save Motherhood), Child Survival and Development.
                Terdapat 2 (dua) indikator kesehatan yang penting yang mempunyai
                keterkaitan dengan pencapaian IPM yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) dan
                Angka Kematian Bayi (AKB). Secara Umum rata-rata Angka Kematian Bayi
                selama kurun waktu Tahun 2004 adalah sebanyak 83 dari 5.894 kelahiran
                hidup. Selain AKB salah satu komponen yang tidak kalah pentingnya
                adalah Angka Kematian Ibu (AKI) terutama saat persalinan, jumlah Angka
                Kematian Ibu pada Tahun 2004 adalah sebanyak 8 orang dari 5.894
                kelahiran.


                                                                                     II - 4
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                Jumlah persalinan 6.420 kali 4.824 atau rata-rata sebesar 73,51 %
                diantaranya ditangani oleh tenaga kesehatan, dan persentas terkecil ada di
                kecamatan Baros, Cibeureum dan Lembursitu.
                Adanya kemiskinan dapat berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan
                masyarakat salah satunya pada kualitas gizi terutama pada balita serta
                sulitnya untuk mengakses sarana dan prasarana pelayanan dasar,
                pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan data yang ada, perkembangan
                situasi gizi balita di Kota Sukabumi pada Tahun 2004 dapat diuraikan
                sebagai berikut : dari jumlah balita yang ada yaitu 22.380 orang, 156 orang
                diantaranya mengalami gizi buruk, 1.475 orang mengalami gizi kurang,
                16.721 orang memiliki gizi yang baik serta 89 orang mengalami gizi lebih.
                Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat
                diperlukan adanya dukungan sarana dan prasarana kesehatan yang
                memadai baik kualitas maupun kuantitasnya, salah satunya adalah
                Puskesmas dan Pustu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan
                masyarakat. Sampai dengan akhir Tahun 2004 Kota Sukabumi telah
                memiliki 15 unit Puskesmas, 18 unit Pustu serta 10 Puskesmas Keliling yang
                tersebar di seluruh kecamatan. Selain Puskesmas dan Pustu, yang tidak
                kalah pentingnya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat
                adalah adanya bidan desa. Bidan desa yang dimiliki Kota Sukabumi sampai
                dengan akhir Tahun 2004 adalah sebanyak 57 orang yang tersebar di 33
                kelurahan.

2.3. Perekonomian
                2.3.1.    PDRB dan PDRB Per Kapita

                PDRB sebagai ekspresi dari kemampuan sektor-sektor yang ada di Kota
                Sukabumi dalam membentuk perekonomian daerah, merupakan jumlah nilai
                tambah bruto (Gross Value Added) yang timbul dari seluruh sektor
                perekonomian dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan PDRB per Kapita
                adalah indikator untuk melihat sampai seberapa jauh masyarakat menikmati
                potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah. Secara umum Laju Pertumbuhan
                PDRB (LPE) Kota Sukabumi dalam kurun waktu Tahun 2000-2005 rata-rata
                mencapai 5,19 %, Laju Pertumbuhan rata-rata tertinggi dicapai sektor
                Industri Pengolahan sebesar 12,13 % dan sektor Pertanian sebesar 9,19 %,
                kondisi seperti ini memperlihatkan kemampuan sektor Industri Pengolahan
                dan sektor Pertanian dalam membentuk perekonomian Kota Sukabumi yang
                dapat dikembangkan.Apabila melihat besarnya kontribusi sektor-sektor
                terhadap PDRB Kota Sukabumi Tahun 2004 terlihat bahwa dalam kurun
                waktu Tahun 2000-2004, sektor Perdagangan, hotel dan restaurant dan
                sektor Jasa-Jasa yaitu sebesar 44,70 % dan 16,28 %. Namun demikian
                apabila melihat kecenderungan pertumbuhannya dari tahun ke tahun relatif
                                                                                     II - 5
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                konstan, Hal ini berarti tidak terjadi peningkatan potensi dan aktifitas pada
                sektor-sektor tersebut.
                Data PDRB Per Kapita penduduk Kota Sukabumi dalam kurun waktu Tahun
                2000-2004 per kecamatan dapat diuraikan sebagai berikut : PDRB per
                kapita tertinggi dicapai oleh Kecamatan Citamiang yaitu sebesar Rp.
                8.458.206,68, sedangkan yang terendah adalah Kecamatan        Cibeureum
                sebesar      Rp. 3.071.680,74.     Untuk      wilayah CICIGUWA (Cikole,
                Citamiang,      Gunungpuyuh,     Warudoyong)        rata-rata  mencapai
                Rp. 7.537.427,14 dan wilayah BACILE (Baros, Cibeureum, Lembursitu)
                rata-rata mencapai Rp. 3.612.980,54. Melihat ketimpangan PDRB per kapita
                yang sangat tinggi antara kedua wilayah diatas, maka pentingnya peran
                dunia usaha / swasta , dalam menanamkan invetasinya di Kota Sukabumi
                menjadi suatu keniscayaan, untuk mendorong agar dapat mendongkrak
                LPE yang cukup tinggi yaitu sebesar 7 %, dengan melalui terobosan-
                terobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota Sukabumi melalui
                reformasi kebijakan yang menarik bagi investasi.
                Dari data terlihat bahwa kecamatan-kecamatan yang merupakan bagian
                dari Kota lama yang bertumpu pada sektor perdagangan, hotel dan
                restaurant, memiliki PDRB perkapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan
                kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah BACILE yang bertumpu pada
                sektor pertanian, namun demikian Laju Pertumbuhan PDRB sektor
                pertanian cenderung meningkat. Kondisi ini merupakan salah satu kekuatan
                yang dapat digunakan sebagai modal untuk membangun perekonomian
                masyarakat BACILE dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapitanya
                serta memperkecil kesenjangan antar wilayah CICIGUWA dan BACILE.

                2.3.2.    Pertanian

                Sektor pertanian di Kota Sukabumi pada Tahun 2004 memiliki laju
                pertumbuhan PDRB tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya yaitu
                mencapai 14,46 %. Luas lahan pertanian yang dimiliki Kota Sukabumi
                menurut data Tahun 2004 adalah sebagai berikut : lahan sawah 2.031,792
                hektar, 1.062,753 hektar berada di wilayah BACILE sedangkan di wilayah
                CICIGUWA 969,038 hektar. Untuk lahan darat adalah seluas 2.699,064
                hektar dimana 1.039,145 hektar berada di wilayah BACILE dan 1.659,520
                hektar berada di wilayah CICIGUWA, lahan pertanian yang lain adalah
                kolam yaitu seluas 107,073 hektar 41,490 hektar berada di wilayah BACILE
                dan 65,583 berada di wilayah CICIGUWA.
                Dengan luas lahan dan laju pertumbuhan PDRB yang tinggi dibandingkan
                dengan sektor-sektor lainnya, sektor ini merupakan potensi untuk
                dikembangkan dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat dan

                                                                                       II - 6
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                pendapatan perkapitanya terutama untuk wilayah BACILE yang pendapatan
                per kapitanya lebih rendah dibandingkan dengan wilayah CICIGUWA.

                Pemerintah daerah perlu memelopori penggunaan teknologi Inkonvensional
                salah satunya adalah pertanian organik yang diyakini akan memperbaiki
                kualitas hara lahan dan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi bila
                dibandingkan dengan pengolahan konvensional, terlebih lagi dalam konteks
                wilayah perkotaan, lahan pertanian akan cenderung berkurang dan harga
                tanah akan semakin tinggi.

                2.3.3.    Industri dan Koperasi

                Koperasi dan industri kecil dan menengah (KUKM) merupakan sektor
                perekonomian yang lebih dekat ke masyarakat mengingat mekanisme
                pengelolaan, teknologi dan pemasaran yang lebih sederhana dan mudah.
                Sektor ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam upaya
                peningkatan pendapatan per kapita masyarakat.
                Perkembangan Koperasi di Kota Sukabumi hingga Tahun 2004 yaitu KUD
                sebanyak 2 unit, Non KUD sebanyak 297 unit, Kopontren sebanyak 24 unit
                dengan jumlah anggota sebanyak 30.346 orang.
                Industri di Kota Sukabumi pada umumnya lebih banyak dalam bentuk
                industri kecil dan menengah, potensi industri kecil komoditi IKAHH (Industri
                Kimia Agro dan Hasil Hutan) pada Tahun 2004 adalah sebanyak 1.088 unit
                usaha yang menyerap tenaga kerja sebanyak 5.262 orang dengan nilai
                investasi sebesar Rp. 18.249.878.000,00.
                Selain industri kecil komoditi IKAHH, di Kota Sukabumi juga terdapat
                potensi industri kecil komoditi ILMEA (Industri Logam, Mesin, Elektronika
                dan Aneka) dimana pada Tahun 2004 terdapat 565 unit usaha. Tenaga
                kerja yang terserap adalah sebanyak 4.650 orang dengan nilai investasi Rp.
                16.617.023.000.
                Dari tabel konsentrasi jenis teknologi IKAHH dan ILMEA menggambarkan
                jumlah investasi yang ditanamkan per tenaga kerja (capital-labor ratio)
                yang lebih besar pada industri kecil jenis ini, yaitu sebesar Rp. 3.403.430,
                sementara pada industri kecil komoditi ILMEA sebesar Rp. 3,806.000.
                Sebaliknya, dilihat dari jumlah investasi per unit usaha, tampak bahwa
                konsentrasi investasi lebih pada pengembangan di jenis industri kecil
                komoditi ILMEA dengan nilai investasi per unit usaha yang lebih besar,
                yaitu Rp. 25.596.000, sementara pada industri kecil komoditi IKAHH
                sebesar Rp. 16.162.210.
                Dalam kaitannya dengan pengembangan produk agro di wilayah BACILE,
                pada tahun-tahun mendatang nampaknya pengembangan pasca panen (Of
                Farm) merupakan pilihan strategis yang perlu didorong dan dikembangkan
                                                                                      II - 7
                   PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                   AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                   PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                antara lain, KUKM yang berkaitan dengan aktifitas agro, pola pemasaran
                dan penggunaan teknologi informasi untuk memperluas jejaring usaha.

                2.3.4.   Perdagangan dan Jasa
                Aktifitas perdagangan di Kota Sukabumi terbagi kedalam beberapa jenis
                perdagangan, yaitu pedagang besar, pedagang menengah, pedagang kecil
                dan swalayan / department store. Berdasarkan data Tahun 2004 jumlah
                keseluruhan jenis pedagang tersebut adalah sebanyak 3.300 buah. Dilihat
                dari tempat berdagangnya terdiri dari pasar sebanyak 7 (tujuh) unit yaitu
                Pasar Dewi Sartika, Pasar Kaum, Pasar Pelita, Pasar Tipar Gede, Pasar
                Degung, Pasar Bungbulang dan Pasar Lembursitu dari ketujuh pasar
                tersebut hanya dua yang berada di wilayah BACILE. Selain pasar tempat
                berdagang yang ada di Kota Sukabumi adalah Ruko sebanyak 128 unit
                yang kesemuanya berada di wilayah CICIGUWA, Kios sebanyak 1.478 unit
                dimana 1.446 diantaranya berada di wilayah CICIGUWA dan Los sebanyak
                628 unit dimana 534 unit diantaranya berada di wilayah CICIGUWA. Dari
                data terlihat bahwa kegiatan perdagangan masih terpusat di wilayah
                CICIGUWA.
                Dengan demikian terlihat bahwa aktifitas perekonomian yang memiliki
                kontribusi terbesar terhadap PDRB Kota Sukabumi masih terpusat di
                wilayah CICIGUWA yang merupakan kota lama, kondisi ini sejalan dengan
                pendapatan per kapita masyarakatnya dimana wilayah CICIGUWA memiliki
                pendapatan per kapita yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah
                BACILE, hal ini dapat menyebabkan timbulnya ketimpangan perkembangan
                wilayah antara wilayah CICIGUWA dengan wilayah BACILE, salah satu
                upaya untuk memperkecil ketimpangan tersebut adalah dengan memacu
                pertumbuhan ekonomi di wilayah BACILE melalui sektor yang dominan di
                wilayah tersebut, yaitu pertanian yang juga memiliki Laju Pertumbuhan
                PDRB yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Untuk
                bidang jasa yang beraktifitas di Kota Sukabumi terdiri dari Perbankan
                sebanyak 17 buah, Non Perbankan sebanyak 3 buah, Asuransi sebanyak 5
                buah, Hotel sebanyak 38 buah dan pergudangan sebanyak 106 buah.
                Penyebaran pusat-pusat jasa dan perdagangan di wilayah BACILE pada
                tahun-tahun mendatang perlu didorong, oleh karena itu kebijakan
                pemerintah daerah yang berorientasi           Pemerataan Utara-Selatan
                merupakan pilihan strategis yang perlu diimplementasikan secara konsisten.




                                                                                     II - 8
                     PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                     AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                     PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                2.3.5. Infrastruktur

                Kondisi kelengkapan infrastruktur yang ada di Kota Sukabumi dikaitkan
                dengan fungsi pelayanannya di tiap kecamatan dianalisis dengan metoda
                Indeks Sentralitas yang secara garis besar dapat digambarkan sebagai
                berikut : kecamatan Baros, Cibeureum dan Lembursitu yang merupakan
                kecamatan-kecamatan hasil perluasan masih memiliki fungsi pelayanan
                yang kurang, sedangkan kecamatan Cikole mempunyai fungsi pelayanan
                yang lengkap mengingat kecamatan Cikole merupakan pusat Kota
                Sukabumi. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap tingkat dan fungsi
                pelayanan wilayah-wilayah kecamatan perluasan.
                Infrastruktur jalan yang dimiliki Kota Sukabumi adalah           sepanjang
                329,496 Km dengan perincian : jalan propinsi sepanjang 36,890 Km, jalan
                kota sepanjang 101,136 Km dan jalan lingkungan sepanjang 191,470 Km.
                Dilihat dari segi kondisi jalan, sepanjang 211,315 Km memiliki kondisi yang
                baik, 76,632 Km kondisinya sedang dan sepanjang 60,260 Km dalam
                kondisi rusak.
                Selain infrastruktur jalan, dalam menunjang kesehatan dan kualitas
                lingkungan permukiman adalah fasilitas MCK dan pelayanan air bersih.
                Kondisi infrastruktur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Untuk air
                bersih jumlah rumah dengan air bersih telah mencapai 94,6 % dari total
                jumlah keseluruhan rumah yang ada di Kota Sukabumi yaitu 60.397 rumah.
                Keadaan ini menggambarkan bahwa hampir seluruh rumah yang ada di
                Kota Sukabumi telah mempunyai fasilitas air bersih. Untuk fasilitas jamban
                keluarga dari jumlah 60.397 rumah baru 37,3 % saja yang memiliki fasilitas
                jamban keluarga, hal ini memcerminkan masih dibutuhkan adanya
                intervensi pemerintah untuk membangun fasilitas tersebut. Jumlah
                kelengkapan jamban keluarga ini berada di Kecamatan Cikole yaitu sebesar
                4.946 rumah
                Berdasarkan kondisi infrastruktur tersebut di atas, maka untuk pemerataan
                pembangunan infrastruktur, prioritas pembangunannya akan diarahkan
                pada ibu kota kecamatan di 3 (tiga) kecamatan yang termasuk ke dalam
                wilayah BACILE.

Berdasarkan pada kondisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan
akar masalah yang terdiri dari :
                1)    Adanya kesenjangan pendapatan perkapita antar wilayah kota lama
                      dengan perluasan yang berdampak terhadap daya beli;
                2)    Tingkat kemiskinan yang masih tinggi yang diperparah lagi dengan
                      bertambahnya angka kemiskinan pasca regulasi kenaikan BBM Tahun
                      2005 dari 33.712 jiwa menjadi ± 38.000 jiwa;

                                                                                      II - 9
                     PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK)
                     AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI
                     PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN
KOTA SUKABUMI




                3)    Kemampuan dalam hal kewirausahaan masih rendah,
                4)    Keterampilan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan lapangan
                      kerja;
                5)    Akses kelompok rawan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
                      berkualitas masih kurang; serta
                6)    Masih kurangnya kemampuan akses masyarakat terhadap fasilitas-
                      fasilitas perekonomian yang ada.

Akar masalah yang perlu disikapi dari rendahnya indeks daya beli untuk
meningkatkan pencapaian IPM adalah :
                1. Kemiskinan, yang disebabkan oleh :
                       bertambahnya angka kemiskinan pasca regulasi kenaikan BBM
                       Tahun 2005 dari 33.712 jiwa menjadi ± 38.000 jiwa;
                       Keterampilan dan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan
                       lapangan kerja;
                       Produktifitas angkatan usia kerja masih rendah.
                2. Rendahnya kemampuan wirausaha;
                3. Kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap sentra ekonomi kota
                   sukabumi.
                Untuk mempercepat akselerasi pencapaian IPM tidak hanya bertumpu pada
                daya beli saja tetapi juga memperhatikan aspek pendidikan dan kesehatan.
                Dimana untuk aspek pendidikan dan kesehatan akar permasalahan yang
                perlu disikapi adalah :
                1. Kualitas Pendidikan
                       Belum Optimalnya Link and Match pendidikan dengan pasar kerja,
                2. Budaya Hidup Sehat.
                       Akses kelompok rawan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
                       yang berkualitas masih kurang.




                                                                                  II - 10
This document was created with Win2PDF available at http://www.win2pdf.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:148
posted:7/19/2011
language:Indonesian
pages:11
Description: Proposal Kewira Usahaan Desa document sample