Proposal Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian

Document Sample
Proposal Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian Powered By Docstoc
					                             SARI

Keberhasilan kerja suatu lembaga penelitian antara lain
ditentukan oleh jumlah hasil penelitian, karya ilmiah yang
dipublikasikan, produk baru serta paten yang didaftarkan.
Keberhasilan suatu pusat penelitian tidak terlepas dari peneliti
dan layanan       informasi sebagai penunjang penelitian.
Perpustakaan sebagai pusat informasi secara tidak langsung
dapat dipakai untuk barometer keaktifan peneliti
memanfaatkan sumber informasi dalam penelitiannya. Selama
tiga dekade berkecimpung di perpustakaan pembicara mencoba
mengamati dan melakukan penelitian berdasarkan statistik
kunjungan, permintaan informasi/artikel ilmiah, laporan hasil
penelitian terutama yang dituangkan dalam bentuk karya
ilmiah yang dipublikasikan serta paten yang didaftarkan.

Dalam memberikan gambaran tentang kondisi perpustakaan
penelitian yang berada di bawah naungan suatu pusat penelitian
penulis akan mencoba memfokuskan pada perpustakaan
tempat penulis berkiprah selama 36 tahun, yaitu Perpustakaan
LEMIGAS. Perpustakaan ini termasuk perpustakaan khusus
yang berada dibawah          suatu lembaga penelitian dan
pengembangan di bidang minyak dan gas bumi. Tugas
perpustakaan disini adalah menunjang visi dan misi organisasi
LEMIGAS. Dalam pelaksanaan tugasnya, visi dan misi utama
adalah mendayagunakan koleksinya dan memberikan berbagai
layanan untuk menunjang penelitian.

Era 1970 sampai 1990 saat perpustakaan masih dalam sistem
manual/konvensional sebagai perpustakaan perminyakan yang
terlengkap di Indonesia diharapkan pemakai dari kalangan
peneliti berada pada tingkat tertinggi. Tapi harapan tinggal


                                                              1
harapan karena dari hasil statistik pengunjung dan hasil karya
tulis ilmiah yang dipublikasikan ternyata masih terlihat rendah.
Pemakai umumnya 95% dari tingkat jabatan muda dan madya
yang meningkat ke utama serta jumlah penelitinya pun
terbatas. Keadaan membaik pada periode akhir 2000-an ketika
otomasi sudah diterapkan di perpustakaan. Permintaan
informasi dan pemakai perpustakaan terlihat lebih meningkat
terutama dari kalangan generasi muda usia 30-45 dan jabatan
tingkat muda dan madya. Karya ilmiahpun meningkat serta
berhasil mengeluarkan beberapa paten.




                                                              2
     PERPUSTAKAAN PUSAT PENELITIAN DAN
     PERPUSTAKAAN PUSAT PENELITIAN DAN
   PENGEMBANGAN,, ANTARA KEINGINAN DAN
   PENGEMBANGAN ANTARA KEINGINAN DAN
               KENYATAAN
                KENYATAAN


Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang Terhormat,
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selaku
Pimpinan Sidang Pengukuhan Pustakawan Utama, Para
Anggota Majelis Pustakawan Utama serta para Pejabat
Fungsional Pustakawan, Para Pejabat Struktural dan Staf di
lingkungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Yang terhormat,
Ibu Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan
Sumber Daya Mineral, Bapak Kepala Pusat Penelitian dan
Pengembangan Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, Ibu
Kepala Biro Kepegawaian Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral,       Panitia penyelenggara, Rekan-rekan
pustakawan, para sahabat, keluarga, undangan serta hadirin
yang saya hormati,

Pertama-tama perkenankanlah saya memanjatkan puji syukur
ke Hadirat Allah S.W.T., atas segala rahmat dan karunia yang
telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pada hari ini
kita dapat hadir dan berkumpul di sini dalam keadaan sehat
wal’afiat. Atas ridho dan perkenan-Nya pula pada hari ini saya
mendapat      kesempatan     untuk    menyampaikan      pidato
pengukuhan ini. Kesempatan ini bagi saya merupakan
kulminasi atas pengalaman panjang saya sebagai pustakawan
sejak tahun 1970


                                                            3
Hadirin yang saya mulia,

Dalam rangka memenuhi kewajiban saya sebagai Pustakawan
Utama    perkenankanlah  saya    menyampaikan     pidato
pengukuhan dengan judul : PERPUSTAKAAN PUSAT
PENELITIAN       dan PENGEMBANGAN,            ANTARA
KEINGINAN dan KENYATAAN.

Selama tiga dekade terakhir ini perpustakaan sudah mengalami
perubahan besar. Koleksi perpustakaan yang semula berbentuk
tekstual, secara perlahan sudah meningkat dan beralih ke
bentuk elektronik (digital). Hal ini juga terjadi di perpustakaan
penelitian tempat saya berkiprah. Akan tetapi di sini terdapat
beberapa kenyataan yang kurang menggembirakan. Jumlah
pemakai dari kalangan peneliti atau fungsional memang telah
bertambah akan tetapi peningkatannya belum seperti yang
diharapkan. Keadaan ini sering menimbulkan tanda tanya,
apakah karena kurangnya minat baca di kalangan peneliti
ataukah sistem pelayanan perpustakaan yang masih kurang
menggairahkan. Berbagai usaha sudah ditempuh antara lain
dengan menyusun profile of interest, menerbitkan informasi
kilat dan memberikan layanan current awareness. Ternyata
tanggapan dari kalangan peneliti/pemakai tidak sepenuhnya
seperti yang diharapkan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa
ada korelasi antara pemakai yang rajin ke perpustakaan dengan
karya ilmiah yang dihasilkan. Terlihat bahwa peneliti yang
sering memanfaatkan perpustakaan, merekalah yang produktif
dalam membuat karya ilmiah yang dipublikasikan. Sedangkan
yang meminta informasi kilat kurang terlihat di dalam jurnal
karya tulis mereka.




                                                               4
Era globalisasi menyebabkan terjadinya persaingan atau
kompetisi di berbagai bidang, bukan saja dibidang ekonomi
tetapi juga di bidang informasi dan perpustakaan. Penggunaan
Teknologi Informasi dapat dimanfaatkan untuk membantu
kinerja pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan LEMIGAS
misalnya sejak tahun 1982 sudah mencoba merintis dengan
program CDS/ISIS yang dipopulerkan saat itu. Sayang sistem
ini tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sadar bahwa
teknologi informasi dan komunikasi akan terus berkembang
maka kembali dicoba program baru yaitu program database
karya sendiri. Keterbatasan dana menyebabkan pelaksanaan
teknologi informasi ini tidak pernah tuntas, tersendat dan
bahkan terhenti sampai beberapa waktu. Setelah tahun 1994
secara bertahap dilanjutkan kembali dan sekitar tahun 1997
barulah tampak hasilnya yang positif dengan masuknya Sistem
Informasi Perpustakaan ke jaringan intranet. Pemanfaatan dari
sistem informasi perpustakaan dapat dikatakan           berhasil
apabila pengguna perpustakaan menyebabkan adanya
peningkatan dari kalangan peneliti atau fungsional lainnya.

Teknologi Informasi, bila dihubungkan dengan pusat penelitian
mempunyai tiga peranan utama yaitu:
 Sebagai instrumen dalam mengoptimalkan pekerjaan
   penelitian dan pengembangan.
 Produk dan jasa teknologi informasi dapat menjadi
   komoditas yang mampu meningkatkan pendapatan dari jasa
   teknologi.
 Teknologi informasi dapat menjadi pemersatu serta
   menjalin kerja sama dan komunikasi yang mudah melalui
   pengembangan sistem informasi. Di LEMIGAS, misalnya
   sistem ini sudah terhubung di dalam lingkungan intranet
   dan internet dengan instansi induknya Departemen Energi


                                                              5
     Sumber Daya Mineral (DESDM) juga dengan masyarakat
     luas.

Oleh karena itu, keinginan dan harapan saya ke depan adalah
meningkatkan kemampuan pustakawan untuk dapat mengolah
informasi yang mentah, menjadi hasil olahan yang dikemas
dalam satu bentuk informasi baru yang lengkap, padat dan
bernilai tinggi sehingga dibutuhkan dan dicari oleh pemakai.
Informasi tersebut akan dimasukkan ke dalam Sistem
Informasi Perpustakaan dan Digital Library yang sudah online
dengan jaringan internet.

Keadaan pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM) below
zero, imbasnya sangat dirasakan oleh perpustakaan karena
berakibat kekurangan SDM yang berkualitas. Dengan kondisi
SDM yang semakin hari semakin berkurang dan dengan
pengetahuan atau pendidikan yang terbatas agak sulit
mewujudkan perpustakaan digital seperti yang diinginkan.
Perlu secepatnya upaya mendapatkan SDM yang berlatar
belakang pengetahuan di bidang teknologi informasi dan
bidang perminyakan. Kendala lain yang tidak kalah pentingnya
adalah keterbatasan di bidang dana.


I.    PERPUSTAKAAN KONVENSIONAL

Bayangan penulis sewaktu awal melamar ke perpustakaan
khusus di bidang penelitian, adalah akan bertemu dengan
peneliti-peneliti yang sibuk mencari literatur atau informasi
lainnya untuk sumber rujukan bagi penelitiannya. Keadaan
yang dihadapi ketika mulai bekerja sangat berbeda dengan
bayangan yang tergambar di pikiran. Ternyata hanya sebagian


                                                           6
kecil saja yang betul-betul memanfaatkan perpustakaan.
Bahkan banyak dari peneliti yang juga merangkap sebagai
struktural manajemen meminjam buku selama bertahun-tahun
dan tidak pernah dikembalikan. Sebagian dikembalikan ketika
memasuki usia pensiun atau pindah ke tempat lain. Tahun
1970 sampai 1975 masih sedikit sekali karya tulis dari hasil
penelitian yang dipublikasikan, umumnya hanya berbentuk
laporan hasil penelitian. Hasil penelitian yang dituangkan ke
dalam karya tulis ilmiah mulai banyak dipublikasikan sejak
tahun 1976. Suatu lembaga penelitian akan dilihat atau
keberhasilannya ditentukan oleh jumlah hasil penelitian,
publikasi ilmiah baik tingkat regional, nasional, internasional,
serta produk baru atau paten yang telah didaftarkan.

Pada periode 1970–1980 cukup banyak pengunjung dari
peneliti dan luar peneliti yang berkunjung ke perpustakaan
tetapi sebagian dari mereka hanya sekedar untuk membaca
surat kabar. Apakah minat baca dari kalangan peneliti
sedemikian rendahnya ataukah ada alasan lain. Karena itu,
pembicara mencoba melakukan survei untuk mencari akar
permasalahannya. Guna mendapatkan data yang akurat
ditelusuri beberapa sisi yang ada kaitannya dengan peneliti.
Pengamatan selama tiga dekade dimulai dari perpustakaan
dengan sistem pelayanan secara manual sampai pada sistem
layanan yang sudah otomasi/komputer. Sebagai sumber survei
digunakan data statistik pengunjung dibandingkan dengan
karya tulis ilmiah yang diterbitkan, laporan ilmiah baik yang
berasal dari penelitian inhouse research, studi dan jasa
teknologi. Terlihat bahwa presentase peneliti atau fungsional
lainnya sebagai pemakai perpustakaan sangat kecil sekali.
Keadaan yang memprihatinkan ini sudah sering menjadi
pembicaraan di kalangan manajemen. Bila alasan mereka


                                                              7
koleksi tidak lengkap adalah hal yang mustahil, karena
pengguna dari luar baik perguruan tinggi, kontraktor asing dan
kalangan industri perminyakan mengakui perpustakaan
LEMIGAS adalah perpustakaan perminyakan yang terlengkap
di Indonesia saat itu.

Dari data yang dikumpulkan selama ini terlihat bahwa
pengunjung atau pemakai dari kalangan karyawan yang rajin
ke perpustakaan dapat dikorelasikan dengan hasil karya tulis
yang di publikasikan dalam majalah ilmiah. Selama dua
dekade pertama sangat sulit mendapatkan naskah dari peneliti
untuk dimuat dalam jurnal Lembaran Publikasi Lemigas
(LPL) dan Lemigas Scientific Contribution (LSC). Walaupun
permasalahan ini sudah mengemuka berkali-kali dalam
pertemuan di kalangan manajemen tetapi tidak banyak
perubahan. Bahkan manajemen pernah mengeluarkan
ketentuan bagi pegawai yang mendapat tugas belajar termasuk
kunjungan ke luar negeri atau yang mengajukan suatu program
diminta membuat karya tulis dan mempresentasikannya.
Tindakan ini sebenarnya cukup positif dan hasilnya bisa
disebut     menggembirakan.      Terlihat     mulai   banyak
karyawan/peneliti yang mengunjungi perpustakaan. Sayang
keadaan ini tidak berlangsung lama, dan terus menurun bahkan
akhirnya menghilang dari agenda dengan terjadinya pergantian
manajemen. Kondisi ini cukup memprihatinkan bukan saja
bagi pustakawan tetapi juga manajemen mengingat sebagai
instansi yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan
migas ternyata miskin dengan hasil karya ilmiah.

Terdapatnya dua jenis penelitian yang menjadi rencana kerja
instansi, yaitu penelitian inhouse dan studi/jasa teknologi,
tampaknya merupakan pokok permasalahan. Sudah menjadi


                                                            8
rahasia umum bahwa studi/jasa teknologi merupakan lahan
empuk untuk mengumpulkan coin(honorarium) sedangkan
inhouse research hanya menghasilkan point (angka kredit) dan
sedikit coin. Kita tidak munafik bahwa sebagai manusia normal
tentu membutuhkan coin, mungkin itulah salah satu penyebab
lebih banyak peneliti yang memilih aktif di jalur jasa teknologi.
Sehubungan kegiatan ini biasanya kejar tayang maka mereka
akan menfokuskan waktunya lebih banyak pada pekerjaan ini.
Akibatnya penelitian yang berhubungan dengan inhouse
research akan mendapat porsi yang lebih kecil. Sebagai efek
samping, hasil penelitian juga akan terbatas dan karya tulis
sebagai bukti hasil penelitian juga tidak banyak. Walaupun
Inhouse research sebagai suatu penelitian banyak hasilnya
tetapi hanya berupa laporan yang bersifat confidential.

Wawancara           dengan     beberapa     peneliti/fungsional
memperlihatkan bahwa sebagian dari mereka mendapatkan
literatur    atau data untuk penelitian merujuk dari hasil
penelitian yang telah pernah dilakukan sebelumnya.
Berdasarkan hasil pembicaraan di atas              kita dapat
menyimpulkan mengapa sangat sedikit           atau       jarang
peneliti/fungsional menginjakkan kaki di perpustakaan. Dari
statistik pengunjung, maupun dilihat dengan kasat mata, kita
bisa melihat bahwa peneliti yang rajin ke perpustakaan hanya
beberapa orang tertentu saja. Kita berasumsi bahwa minat baca
dari kalangan peneliti dan fungsional lainnya kelihatan masih
rendah. Asumsi ini diambil berdasarkan         korelasi antara
pemakai perpustakaan dengan hasil karya tulis yang
dipublikasikan.




                                                               9
Hadirin yang berbahagia ,

Pembicara telah mencoba mengumpulkan data karya tulis
ilmiah yang telah dipublikasikan antara tahun 1970–1980,
1981–1990 dan 1991-1999/2000 dan terlihat sangat sedikit
bila dibandingkan banyaknya tenaga ahli yang ada. Pada
periode 1970-1990, baru beberapa tenaga ahli yang menjadi
peneliti, karena itu untuk sementara kita anggap semua tenaga
ahli sebagai peneliti. Pembicara mencoba membagi periode
pengamatan atas tiga dekade, yaitu dekade 1980-an, 1990 dan
2000-an. Karya ilmiah yang dipublikasikan pada dekade 80-an
berjumlah 116. Penulis yang produktif sekitar 17 orang (2-6
karya ilmiah per peneliti) rata-rata datang ke perpustakaan
sebulan satu kali. Sedangkan peneliti yang menulis hanya 1-2
tulisan selama 10 tahun, tingkat kunjungan hanya sekitar 6
bulan sekali. Kepangkatan terbanyak adalah tingkat muda dan
sedikit madya dan usia berkisar antara 30–48 tahun.

Dekade 90–an peneliti menghasilkan kurang lebih 393 karya
ilmiah. 19 peneliti produktif menghasilkan antara 6–36 tulisan
ilmiah dan tingkat kunjungan ke perpustakaan sebulan sekali.
Penulis lainnya hanya menghasilkan sekitar 1–5 tulisan dan
tingkat kunjungan rata-rata tiga bulan sekali. Jabatan terbanyak
madya dan sebagian kecil muda dan usia bekisar sekitar 30–50
tahun.Pada dekade ini sudah terlihat beberapa hasil penelitian
yang bisa dibanggakan, tetapi jumlahnya masih sangat terbatas.

Akhir dekade 2000-an sudah mulai kelihatan peningkatan
walaupun tidak terlalu tinggi, baik ditinjau dari jumlah
fungsional (seperti peneliti, perekayasa)   yang produktif.
Karya ilmiah yang dihasilkan berjumlah 207 judul artikel.
Peneliti yang produktif 65 orang (3–15 tulisan per peneliti)


                                                             10
usia antara 30–53 jabatan terbanyak madya, beberapa di
antaranya tingkat jabatan muda termasuk juga tingkat jabatan
utama. Tingkat kunjungan 2 minggu sekali sekitar 10 orang,
15 orang sebulan 1 kali dan sisanya antara 2 atau 3 bulan
sekali. Rata-rata peneliti yang datang ke perpustakaan per
bulan 10 orang.

Tampaknya ada korelasi antara penghasil tulisan yang
dipublikasikan      dan kunjungannya ke perpustakaan.
Menyaksikan keadaan ini kita mungkin akan berkesimpulan
bahwa peneliti yang rajin membaca jumlahnya sangat terbatas
demikian pula akan terlihat pada hasil karyanya. Bercermin
dari kenyataan ini kita akan mengakui hasil penelitian Gibbs
(1995) yang menyatakan Indonesia        hanya menghasilkan
tulisan ilmiah sebesar 0,012% di antara negara-negara lain
penghasil tulisan ilmiah. Gibbs berpendapat        Indonesia
termasuk salah satu negara “yang           kehilangan ilmu
pengetahuan”. Kita menyadari bahwa ilmu pengetahuan bisa
dikenal bila telah dituangkan dalam bentuk tertulis atau
tercetak. Pernyataan Gibbs ini dapat diterima bila
dihubungkan dengan kondisi LEMIGAS. Salah satu contoh
bisa dibuktikan ketika betapa sulitnya editor majalah LPL
dan LSC memperoleh tulisan ilmiah untuk dipublikasikan.
Bila dihubungkan dengan perpustakaan, presentase yang
rendah memanfaatkan koleksi perpustakaan dapat diasumsikan
kurangnya minat baca dari para peneliti. Karena berdasarkan
data yang dikumpulkan terlihat pemakai perpustakaan lebih
banyak dari mahasiswa (84%), sedangkan peneliti (10%) dan
kalangan industri (6%).

Melihat usia litbang migas yang bisa disebut dewasa (sekitar
40 tahun) secara operasional keberadaan perpustakaan litbang


                                                         11
ini ternyata belum dimanfaatkan secara optimal. Keadaan ini
dengan sistem manual lebih mudah dideteksi melalui buku
tamu, statistik peminjaman, permintaan artikel termasuk karya
tulis ilmiah yang dipublikasikan. Kelemahan pusat penelitian
antara lain karya tulis ilmiah masih banyak yang belum
memenuhi persyaratan terlihat masih terbatasnya yang
dipublikasikan dijurnal ilmiah yang berstandar nasional
maupun internasional.

Seperti kita ketahui suatu pusat penelitian bukti
keberhasilannya antara lain bisa dilihat dari banyaknya laporan
ilmiah hasil penelitian dan karya tulis ilmiah yang dimuat di
jurnal nasional atau internasional. Sehubungan dengan
pernyataan di atas dapat kita simpulkan kelemahan tersebut ada
kaitannya dengan kurangnya minat baca serta terbatasnya
tenaga fungsional (peneliti, perekaya, penyelidik bumi) yang
memanfaatkan jasa dan fasilitas perpustakaan.

Keadaan tersebut di atas tidak membuat perpustakaan berkecil
hati atau tinggal diam saja. Walaupun di satu sisi prihatin
dengan para peneliti tetapi cukup terhibur oleh banyaknya
generasi muda dari kalangan mahasiswa yang rajin
memanfaatkan. Sejak didirikan sampai saat ini mahasiswa dari
berbagai perguruan tinggi serta kalangan industri tidak pernah
sepi mempergunakan informasi yang tersedia. Karena itu
perpustakaan selalu       berusaha berbenah diri mengikuti
kemajuan teknologi agar dapat memberikan layanan yang
sebaik-baiknya pada pemakai.




                                                            12
II. PERPUSTAKAAN OTOMASI

Paradigma baru dalam pengelolaan perpustakaan telah beralih
dari sistem manual ke otomasi atau komputerisasi. Fasilitas
perpustakaan turut berkembang, koleksi yang berbentuk
tekstual beralih ke bentuk elektronik. Layanan berbentuk
manual meningkat ke teknologi informasi. Dengan kemajuan
teknologi informasi akses informasi menjadi semakin cepat dan
dipermudah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita
menyadari, mengakses melalui internet bila berlangganan
secara perorangan tentu membutuhkan biaya yang cukup
tinggi. Tetapi LEMIGAS sebagai instansi yang bergerak di
bidang penelitian dan pengembangan menyadari pentingnya
menyediakan fasilitas tersebut. Selain untuk kebutuhan
manajemen fasilitas ini juga terbuka untuk karyawan guna
menunjang penelitian. Manajemen sangat membantu dan
memberi perhatian yang besar kepada peneliti dengan memberi
kebebasan memanfaatkan jaringan internet untuk keperluan
penelitian.

Dalam usaha memberikan layanan yang maksimal dan
melihat peningkatan yang lumayan setelah otomasi maka
keinginan untuk menjadi perpustakaan digital semakin kuat.
Sudah saatnya SDM perpustakaan mempunyai tingkat
kesadaran, pemahaman dan pendayagunaan Information and
Communications Technology (ICT).

Keuntungan jika perpustakaan telah menerapkan teknologi
informasi antara lain:
 Bisa mempergunakan koleksi bersama (resource atau
    information sharing). Dengan information sharing secara
    tidak langsung bisa memperkaya koleksi.


                                                          13
   Membuka akses ke masyarakat, sehingga masyarakat luas
    juga dapat mengetahui koleksi perpustakaan.
   Memungkinkan untuk memberikan layanan informasi
    secara integratif dan aplikatif. Memenuhi keinginan
    pemakai untuk mendapatkan informasi secara cepat,
    lengkap dan tepat.
   Menghemat tenaga kerja jika mempunyai SDM berkualitas
    teknologi informasi.

Pembicara sudah mencoba melakukan pengamatan dan survei
menyangkut permasalahan mengenai masih terbatasnya
pengguna perpustakaan dari kalangan fungsional (peneliti,
perekayasa, penyelidik bumi dan tenaga fungsional lainnya)
walaupun sistem perpustakaan sudah ditingkatkan ke otomasi.
Penelitian dan pengkajian dirancang sebagai suatu penelitian
deskriptif dengan menggunakan dua variabel pengaruh dan
terpengaruh. Dalam melakukan penelitian ini pengumpulan
data kepada responden dilakukan melalui kuesioner yang
dikirim lewat e-mail, termasuk juga data untuk perbaikan jasa
penyebaran dan pengembangan informasi terseleksi. Analisis
statistik yang digunakan dengan tabulasi silang. Sehubungan
otomasi baru berjalan agak lancar sekitar akhir dekade 2000-an
maka periode penelitian akan dibatasi antara tahun 2000–2005
(Lampiran 1).

Dari data yang dikumpulkan tampak bahwa fungsional/peneliti
dengan tingkat yang lebih tinggi, baik ditinjau dari usia
maupun jabatan, merupakan yang terbanyak memanfaatkan
jasa penyebaran informasi, terutama informasi terseleksi
terbitan luar negeri. Ini membuktikan bahwa peneliti
membutuhkan hasil penelitian terutama di bidang minyak dan
gas bumi serta energi lainnya di samping untuk mengetahui


                                                           14
perkembangan juga dipergunakan sebagai bahan rujukan. Salah
satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti
misalnya di LEMIGAS adalah Sistem Informasi Perpustakaan.
Sistem ini melalui jasa informasi terseleksi berusaha
menyebarkan informasi terbaru kepada pemakai. Fasilitas jasa
informasi ini dapat dimanfaatkan selain untuk keperluan
penelitian juga untuk penyusunan proposal, laporan hasil
penelitian, pembuatan makalah/karya ilmiah, dan bahan untuk
mengajar.

Hadirin yang saya hormati,

Dari data kajian menunjukkan bahwa jasa penyebaran
informasi terseleksi terlihat bermanfaat dalam mendukung
berbagai kegiatan responden (Lampiran 2), karena informasi
yang diberikan merupakan hasil penelitian terbaru dan telah
terseleksi disesuaikan dengan minat atau spesifikasi dalam
bidang minyak dan gas bumi dan energi lainnya. Sebenarnya
diharapkan angka tersebut lebih tinggi dari data di atas
mengingat tenaga fungsional yang sudah demikian banyak,
tetapi sayang belum semua aktif mempergunakan layanan yang
disediakan. Masa itu keluhan dari tenaga fungsional tetap
sama tidak terlepas dari kecilnya tunjangan.

Survei memperlihatkan bahwa periode 1996-2000 sudah lebih
banyak tenaga fungsional (peneliti, perekayasa) yang
memanfaatkan jasa perpustakaan dibandingkan periode 1970-
an dan 1990-an. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan
digalakkannya jabatan fungsional di lingkungan Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dan tunjangan untuk fungsional tertentu
jumlahnya cukup menggiurkan. Peningkatan ini berdampak
pada hasil karya ilmiah lebih banyak sehingga editor dari LPL


                                                          15
dan LSC tidak lagi kekurangan naskah. Tetapi bila
dibandingkan dengan banyaknya jumlah tenaga fungsional
peningkatan tersebut tidaklah terlalu signifikan. Tenaga
fungsional yang berjumlah sekitar 231 orang ternyata yang
aktif hanya sekitar 12% dan itupun masih terbatas pada
pemakai tertentu atau orang yang sama.

Yang menjadi pertanyaan           adalah apakah keleluasaan
mengakses ini bisa menjadi salah satu penyebab tidak
signifikannya peneliti atau fungsional lainnya memanfaatkan
fasilitas perpustakaan. Pertimbangan bahwa melalui sarana
intranet dan internet mereka akan lebih mudah mencari
informasi yang dibutuhkan tanpa harus membuang waktu ke
perpustakaan. Dengan duduk di belakang meja saja mereka
sudah dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan.
Tapi apakah kita bisa berkesimpulan semudah itu. Berhubung
peneliti hanya dapat mengakses suatu informasi terbatas pada
data bibliografi saja sedangkan untuk full text dan mencetak
harus      melalui   perpustakaan.     Peningkatan     pemakai
perpustakaan tampak pada akhir dekade 2000-an, hal ini
terlihat dari makin bervariasinya hasil karya tenaga fungsional
(peneliti, perekayasa). Selain peningkatan jumlah karya ilmiah,
mereka berhasil mendapatkan beberapa hak cipta dan juga
sertifikat paten (Lampiran 3).

Hak cipta sebagai hasil karya LEMIGAS ada 8 yang sudah
didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.
Di samping itu 14 paten (2 paten sudah sertifikat dan 12
paten terdaftar) sedang dikembangkan menjadi temuan yang
bermutu dan mempunyai nilai jual. Peranan perpustakaan
dalam penelusuran paten dapat dilakukan dengan
menggunakan fasilitas internet melalui situs Digital Library


                                                            16
Lemigas. Diharapkan dengan makin berkembangnya tenaga
fungsional termasuk peneliti yang menyadari akan kebutuhan
informasi,     peranan perpustakaan bisa lebih ditingkatkan.
Perpustakaan dapat memberikan informasi yang lebih
berkualitas dan bermanfaat dalam menunjang penelitian
sehingga peneliti mampu menghasilkan karya penelitian atau
kajian yang besar.

Sebagai konsekuensi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek) dalam era globalisasi, agar perpustakaan
litbang tidak tertinggal, maka perlu mempersiapkan SDM yang
tepat. Kualitas SDM ditentukan bukan hanya dari pendidikan
formalnya saja, tetapi juga dari kematangan berpikir, sikap
mental dan peran sertanya dalam menyukseskan misi dan
tujuan institusi. Lembaga penelitian dan pengembangan
teknologi yang bertumpu pada tenaga fungsionalnya sebagai
pengguna informasi dengan demikian        juga dituntut untuk
mampu mempersiapkan, memberdayakan dan meningkatkan
secara terus menerus kualitas SDM-nya. Demikian juga dengan
pustakawan sebagai penyedia informasi yang fungsinya
menunjang keberhasilan penelitian tidak boleh lengah dalam
meningkatkan pengetahuan.

III. KEINGINAN DAN HARAPAN

Permasalahan yang dihadapi perpustakaan penelitian adalah
masih belum tingginya peningkatan permintaan informasi atau
masih rendahnya pengguna perpustakaan. Kondisi ini terjadi
karena masih tingginya peran kelompok jasa teknologi
(penelitian yang dilakukan bersama pihak ketiga) sehingga
banyak peneliti lebih memilih pekerjaan tersebut daripada
melakukan penelitian unggulan. Dalam melaksanakan


                                                          17
pekerjaan ini umumnya mereka tidak terlalu tergantung pada
perpustakaan. Kebanyakan dari tenaga fungsional yang terlibat
dalam kegiatan ini mencari informasi/data dari literatur yang
sudah mereka beli sendiri atau mempergunakan rujukan dari
laporan penelitian sebelumnya. Selain itu kegiatan jasa
teknologi yang bersifat kejar tayang tetapi menghasilkan
banyak coin ternyata lebih diminati.

Karena itu fokus yang terpenting bagi pustakawan adalah
mencari pemecahan masalah tersebut di atas. Sering kita
menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk
memecahkan suatu        permasalahan, walaupun sebenarnya di
depan kita sudah terdapat cara mengatasi yang sederhana.
Keinginan pustakawan adalah untuk memberikan layanan
yang maksimal agar sebanyak mungkin atau kalau bisa seluruh
peneliti dan tenaga fungsional lainnya.

Pada dasarnya perpustakaan di pusat-pusat penelitian DESDM
sudah     mengadaptasi     perpustakaan     digital, sebagian
perpustakaan sudah ikut serta dalam jaringan Indonesian
Digital Library Network (IDLN). Pekerjaan selanjutnya adalah
merencanakan secara matang agar dapat dicapai suatu
perpustakaan digital yang ideal. Ideal dalam pengertian
pemakai dapat melihat perpustakaan digital beserta jasa
informasi yang diberikan sebagai suatu kesatuan yang
transparan. Bisa menyediakan akses universal dan tidak
dibatasi pada dokumen pengganti (document surrogates).
Instansi sudah membantu dengan menyediakan jaringan
intranet dan internet dan terdapat beberapa server. Sebagai
contoh, di salah satu pusat litbang, yaitu LEMIGAS, saat ini
sudah lebih dari 300 komputer mulai dari manajemen sampai




                                                          18
ke fungsional sudah tersambung       ke jaringan intranet dan
internet serta fasilitas e-mail.

Terjadinya peningkatan pemakai setelah otomasi bisa juga
sebagai bukti bahwa pemilihan perpustakaan digital cukup
tepat dan beralasan. Bila dibandingkan keadaan sebelum
tahun 1990 dengan kondisi setelah tahun 1990 ketika otomasi
sudah berjalan        kelihatan tampak ada kemajuan. Jika
sebelumnya pemakai kebanyakan dari kalangan usia di atas 50
tahun (terutama sekitar tahun 1990) maka mendekati akhir
dekade 2000-an kelihatan sudah banyak dari kalangan generasi
muda (35–45 tahun). Walaupun pemakai adalah masih orang
tertentu saja tetapi jumlah orang dan tulisan meningkat serta
sudah membuktikan berhasil menciptakan karya yang bisa
disumbangkan serta menaikkan nama instansi.

Sebagai suatu perpustakaan yang melayani peneliti yang
mungkin terlalu sibuk sehingga kekurangan waktu untuk
datang ke perpustakaan maka keinginan memiliki sebuah
perpustakaan digital yang ideal merupakan suatu impian.
Menurut Karen M. Drabenstott dalam Analytical Review of
the Library of the Future (Telaah analitis terhadap
perpustakaan masa depan) banyak definisi mengenai Digital
library(perpustakaan digital) ini. Kadang-kadang disebut
Perpustakaan Elektronik dan adakalanya dinamakan
Perpustakaan Virtual.

Keinginan untuk mewujudkan perpustakaan digital karena
pembicara merasakan banyak manfaat yang bisa didapat antara
lain Informasi lebih mudah disimpan, menghemat tempat,
ketepatan dan ketelitian data lebih tinggi, tidak dibatasi oleh
ruang dan waktu serta pengoperasiannya relatif lebih mudah.


                                                            19
Hal ini sangat penting mengingat kesibukan fungsional/peneliti
sehingga mereka ingin memperoleh informasi dengan cara
yang mudah tapi cepat, tepat dan lengkap. Kemudahan ini lebih
menarik tenaga fungsional memanfaatkan jasa perpustakaan.

Sebelum melangkah lebih jauh maka segala sesuatu yang
behubungan dengan digital library harus dipersiapkan lebih
dulu secara matang agar tidak berhenti di tengah jalan. Sebagai
gambaran kita harus mengetahui dulu apa itu perpustakaan
digital (digital library). Digital library adalah sebuah sistem
untuk melakukan pendekatan kepada komunitas informasi
dunia. Dengan digital aktivitas pencarian pustaka telah
bergeser dari “Book Searching” ke “Participating World
Information Community”. Diharapkan selain bisa melakukan
search, browse dan download anggota perpustakaan digital
bisa melakukan order atau pemesanan untuk peminjaman
maupun mendapatkan copy/salinan langsung dari domisilinya.

Kita menyadari bahwa sebuah perpustakaan digital
memerlukan dukungan teknologi informasi dan komunikasi
yang cukup kompleks. Terdapat beberapa unsur utama yang
terkait dengan digital library antara lain komunitas pengguna,
koleksi digital, staf sebagai pengatur dan pengelola sehingga
pemakai dapat memanfaatkannya setiap saat dalam waktu yang
singkat, cepat dan ekonomis.

Memang diakui untuk mencapai keinginan tersebut dalam
upaya meningkatkan layanan dan pemanfaatan perpustakaan
perlu dilakukan pembenahan dari berbagai bidang. Langkah
pertama selain meningkatkan kemampuan SDM dan yang
tidak kalah penting adalah memperjuangkan dana agar
program berjalan lancar.


                                                            20
Hadirin yang saya hormati,

Masih banyak tantangan yang harus dihadapi karena ada yang
berpendapat bahwa         keberadaan perpustakaan digital atau
tersedianya fasilitas internet, menyebabkan perpustakaan tidak
diperlukan lagi. Hal ini kurang tepat, karena tidak semua
informasi didapat dengan mudah. Belum tentu semua informasi
bisa didigitalisasi, pemakaian/akses internet saat ini juga sudah
dibatasi oleh peraturan baik nasional maupun internasional.
Selain itu untuk publikasi (buku, jurnal) yang bernilai
komersial tidaklah mudah mengaksesnya. Untuk publikasi
sejenis ini, harus mentaati ketentuan dari penerbit mengenai
peraturan yang menyangkut copyright dan Inter Library Loan
(ILL). Kita menyadari berlangganan jurnal ilmiah/e-Journal
sangat mahal, dan bila mengikuti peraturan diatas maka untuk
mencetak atau men-download tentu akan dibutuhkan biaya
yang tidak sedikit. Sebagian koleksi perpustakaan sudah
dikonversikan ke bentuk digital. Jika sudah ada kepastian dari
manajemen menetapkan perpustakaan digital masuk program
kerja perpustakaan, pelaksanaan sudah tidak terlalu sulit.
Selain itu juga harus ada keputusan dari manajemen bahwa
hasil produk penelitian berupa laporan ilmiah dan lain-lainnya
diserahkan ke perpustakaan dalam bentuk hardcover dan
looseleaf.     Sehingga      akan    memudahkan         pekerjaan
perpustakaan. Hardcover dokumen perlu menjalani proses
pembongkaran sebelum di scan sedangkan           looseleaf masih
harus melalui berbagai pengolahan lebih lanjut maka disinilah
dibutuhkan peranan SDM yang berlatar belakang teknologi
informasi yang mempunyai kemampuan, motivasi                  dan
ketelitian yang cukup tinggi.




                                                              21
Untuk menunjang terwujudnya keberadaan perpustakaan
digital perlu usaha persiapan. Persiapan menyangkut SDM,
membenahi dan melengkapi koleksi dengan informasi yang
tepat. Supaya cakupan layanan lebih luas perlu membentuk
jaringan informasi, tidak terbatas pada jaringan di dalam
negeri saja tapi juga dengan perpustakaan di luar negeri. Juga
harus aktif dalam information sharing atau network dengan
perpustakaan sejenis, agar dapat menyediakan informasi
dengan cepat, tepat dan lengkap. Disamping itu pustakawan
juga      ditingkatkan     kemampuan        memilah        dan
menginterpretasikan informasi, agar mampu menciptakan
informasi dengan output berupa produk informasi yang dapat
membantu pemakai dalam mengambil keputusan. Dalam
membuat informasi skill yang penting adalah membuat kemas
ulang informasi (information repackaging)

Pustakawan harus rajin mencari sumber informasi dari portals
dan website untuk melengkapi informasi yang diperlukan, dan
selalu berusaha menyediakan informasi yang up to date serta
relevan dengan pengguna. Sebaiknya perpustakaan juga
menyediakan informasi yang siap pakai. Dalam membuat
informasi kemas ulang pustakawan harus memperhatikan
minat dari pemakai, tujuan dari kemas ulang, isi dari informasi
baru tersebut dan juga memahami implikasi legal dari suatu
proses kemas ulang informasi. Idealnya perpustakaan
melengkapi koleksi jurnal ilmiah yang selama ini masih
berbentuk tercetak untuk beralih ke e-journal. Hal ini sangat
membantu karena majalah yang berbentuk elektronik aksesnya
sangat cepat. Kita menyadari bahwa untuk berlangganan e-
journal memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk mengatasi
hal tersebut pustakawan dituntut selalu berusaha mencari
peluang di internet karena kemungkinan bisa ditemukan


                                                            22
jurnal yang dapat diakses secara gratis. Kita memaklumi
peneliti cukup sibuk, dengan         menyediakan berbagai
kemudahan tersebut diharapkan akan memancing keinginan
mempergunakan layanan fasilitas perpustakaan digital.

Selain pembenahan ke dalam (perpustakaan) juga perlu
melibatkan tenaga fungsional agar keinginan di atas bisa
tercapai. Diharapkan terjadinya hubungan timbal balik antara
penyedia informasi dan pemakai. Sasaran utama adalah
menyadarkan tenaga fungsional (peneliti, perekayasa,
penyelidik bumi) sebagai pemakai tentang keberadaan suatu
perpustakaan dan fasilitas yang disediakan. Dari sisi
perpustakaan, pustakawan harus aktif         mensosialisasikan
berbagai kemudahan yang tersedia seperti fasilitas otomasi,
Online Public Access Cataloguing (OPAC) dan koleksi digital
beserta manfaat nya. Beragamnya informasi siap pakai,
bertambahnya informasi baru yang sudah didigitalisasi dan bisa
diakses diharapkan akan memancing lebih banyak permintaan
dari peneliti. Mereka bisa mengakses dari tempat sendiri dan
untuk permintaan informasi dapat dilayani dengan datang
sendiri ke perpustakaan atau bisa juga melalui e-mail.

Dari pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. Terdapat korelasi yang jelas antara pemakai perpustakaan
   dari kalangan tenaga fungsional(peneliti, perekayasa,
   penyelidik bumi) dengan banyaknya karya ilmiah yang
   dipublikasikan.
2. Digitalisasi atau perpustakaan digital tampaknya cukup
   memancing generasi muda/fungsional dalam tingkat
   jenjang jabatan muda dan madya memanfaatkan untuk
   penelitian dan karya ilmiah mereka. Terlihat mereka lebih


                                                           23
   produktif menghasilkan tulisan dan berhasil mengeluarkan
   karya cipta dan paten
3. Perpustakaan digital diharapkan dapat digunakan sebagai
   sarana untuk mengelola, menyimpan, menyebarkan dan
   menginformasikan pada masyarakat hasil penelitian , hak
   karya cipta dan paten yang telah dihasilkan, di samping
   koleksi lainnya.
4. Di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya
   Mineral jaringan digital akan mencakup seluruh
   departemen, sehingga informasi akan menyebar dan dapat
   dimanfaatkan secara luas termasuk untuk manajemen
   dalam pengambilan keputusan.
5. Perpustakaan digital akan menggali kreatifitas pustakawan
   untuk menciptakan informasi baru dalam meningkatkan
   pemakai terutama dari kalangan tenaga fungsional
   (peneliti, perekayasa, penyelidik bumi) yang bisa disebut
   sedikit manja.

Sebagai pustakawan yang selalu prihatin pada kurangnya minat
baca terutama di kalangan fungsional ingin kami
menyampaikan sedikit saran.

1. Sudah saatnya manajemen membuat kebijakan yang
   mengharuskan tenaga fungsional untuk membaca buku
   teks minimal satu judul setiap bulan, dibuat ringkasannya
   dan sebaiknya dipresentasikan. Usaha          ini penting
   disamping menggalakkan minat baca juga demi
   meningkatkan mutu dan kemajuan hasil penelitian di masa
   depan
2. Tenaga fungsional yang mengajukan suatu program
   diharuskan menyampaikan berapa literatur yang telah




                                                         24
   dibaca dan sebagai kompensasinya adalah meloloskan atau
   menyetujui program tersebut.
3. Instansi sebaiknya lebih memperhatikan dan meningkatkan
   anggaran perpustakaan demi terciptanya digital library
   yang ideal guna menunjang kegiatan penelitian
4. Sudah saatnya diwujudkan forum perpustakaan litbang,
   khususnya di lingkungan Departemen ESDM, yang selama
   ini sempat tertunda agar dapat dijalin kerjasama dalam
   berbagai kegiatan termasuk sistem jaringan dan digitalisasi
5. Belum tersentuhnya perpustakaan khusus (perpustakaan
   penelitian) dalam Rencana UU Perpustakaan tampaknya
   tidak ada yang memikirkan atau memperjuangkan
   keberadaannya. Hal ini terlihat dari kenyataan
   perpustakaan khusus tidak mendapat tempat yang pantas
   dalam struktur organisasi pusat-pusat litbang. Kelihatannya
   Perpustakaan penelitian harus menggalang kerjasama
   dalam memperjuangkan nasib sendiri.

Hadirin yang berbahagia,

Demikianlah     sajian orasi ilmiah pengukuhan sebagai
Pustakawan Utama merupakan karya, pandangan dan pendapat
dari hasil perjalanan saya meniti karir di bidang ke
pustakawanan selama lebih dari 36 tahun.
Mudah-mudahan Konsep Perpustakaan Pusat Penelitian dan
Pengembangan antara keinginan dan kenyataan dapat
diimplementasikan sehingga bermanfaat dalam menunjang
salah satu program pemerintah di bidang penelitian dan
khususnya untuk meningkatkan kualitas Pustakawan.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya
melalui forum yang mulia ini menyampaikan ucapan terima


                                                           25
kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mendorong,
membimbing, membagi ilmu, memberi semangat,         serta
memberikan kesempatan dan kepercayaan pada saya untuk
tampil di depan forum ini.

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan
YME karena dengan rahmat, dan karunianya kita diberi
kesempatan berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Terima kasih setulus-tulusnya juga saya sampaikan kepada
Bapak Drs Dady P. Rachmananta, MLIS, Kepala Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia dan seluruh jajarannya, rekan-
rekan pustakawan, teman sejawat, Majelis Pengukuhan, Bapak
Ketua dan Anggota Panitia Penilai Pusat Jabatan Fungsional
Pustakawan, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya
untuk mengemban tugas sebagai Pustakawan Utama. Kepada
panitia, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bantuan dan
dukungan yang diberikan sehingga sidang Majelis Pengukuhan
ini terselenggara dengan sebaik-baiknya.

Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Kepala Biro
Kepegawaian beserta staf, Ibu Kepala Badan Litbang Energi
dan Sumber Daya Mineral, dan Bapak Kepala
PPPTMGB”LEMIGAS” beserta jajarannya yang telah banyak
membantu serta adik-adik saya pustakawan LEMIGAS yang
lebih dari setengah usia kami, selalu bekerja sama dalam
susah dan senang, telah banyak membantu serta memberi
semangat sampai terwujudnya pengukuhan ini.

Tidak lupa pula saya menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Bapak Hernandono MLS, MA, Bapak Drs Supriyanto
M.Si, Bapak Blasius Sudarsono MLS, dan Ibu Sunarti Subadio


                                                        26
yang selalu membantu, mendorong dan memberi semangat
pada saya agar terus mengembangkan wawasan dalam bidang
ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Dan ucapan terima kasih yang tidak mungkin dapat saya bisa
membalasnya ingin saya sampaikan kepada kedua orang tua
saya alm Papa Harun Al Rasyid/almh Mama Maria Harun
karena atas jasa beliau yang telah membesarkan, mendidik,
membimbing dan memberi kesempatan mengikuti pendidikan
semaksimal mungkin sampai batas kemampuan saya. Tanpa
jasa dan kasih sayang beliau mungkin saya tidak akan berdiri di
depan majelis sekalian. Semoga kedua orang tua saya yang
sudah almarhum mendapatkan balasan sesuai dengan amal
ibadah beliau dan mendapatkan tempat yang mulia disisi-
NYA. Amien

Ucapan terimakasih juga ingin saya sampaikan kepada kedua
mertua saya Bapak R.M Sunartio (alm) terutama ibunda R.Aj.
Sudiati Suryosumanto Sunartio (almh) yang semasa hidup
dengan kelemah lembutan beliau mengasihi dan banyak
membantu serta memberi nasihat pada saya. Ucapan
terimakasih dan penghargaan terakhir yang tidak cukup hanya
diucapkan dengan kata-kata karena makna dan andilnya sangat
besar ingin saya sampaikan kepada keluarga tercinta, terutama
pada alm suami ayah dari anak-anak saya, Bapak Nugroho
Sunartio sebagai teman hidup, pelindung, penasehat dan
pembimbing yang baru kurang lebih 40 hari meninggalkan
kami sehingga tidak sempat menghadiri acara ini serta kedua
putera, menantu dan cucu, atas segala pengertian, pengorbanan,
dorongan serta semangat yang telah diberikan kepada saya
selama ini.




                                                            27
Akhir kata, dengan segala hormat, saya sampaikan terima
kasih kepada para hadirin yang telah meluangkan waktu dan
dengan sabar mengikuti pidato ini. Saya mohon maaf jika ada
kekurangan atau kesalahan yang tidak berkenan dihati para
hadirin atas ucapan maupun isi pidato yang telah saya bacakan
tadi.

Wabillahi Taufiq Walhidayah
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

                                 Jakarta, 5 Juni 2007


                                 Harmaini Harun N. Sunartio




                                                          28
                    DAFTAR BACAAN


Arikunto, Suharsimi.1992. Prosedur Penelitian :          Suatu
Pendekatan Praktek. Edisi Revisi

Christiansen, Dorothy; Davis,C Roger and Jutta Reed-
Scoot.1983. Guide to Collection Evaluation Through Use and
Use Studies. Chicago: American Library Association.

Dempsey, L. “The network and the library: working in a new
shared space. Infrastructure and Institutions”.University of
Bah, UK, Electronic Library, Vol.17, No.4, August 1999.

Dwiyanto, Arif Rifai . Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia.
Kongres IX dan Seminar Ilmiah Ikatan Pustakawan Indonesia ,
2002

Fahmi, Ismail. 1999. Service Jaringan Perpustakaan Digital
Online. Bandung : Digital Library ITB.

Fieldman, Robert S.1987. Belief, Attitude, Intention and
Behaviour: an Introduction to Theory and Research.
Massachussetts : Addison Wesley

Gibbs.,W.W. (1995) “Lost Science in the Third World.
Scientific American, 275 (August) 76 - 83

Harun, Harmaini. 1996. Pasang Surut Koleksi Majalah Ilmiah
Sebagai Sumber Informasi di PPPTMGB”LEMIGAS”. Jakarta:
Perpustakaan LEMIGAS.




                                                            29
Harun, Harmaini. 2000. Peranan Fungsional Sebagai
Penyumbang Karya Tulis Bagi Publikasi Lemigas Ditinjau dari
Sudut Pandang Pustakawan.Jakarta: Perpustakaan LEMIGAS.

Harun , Harmaini. 1996. Peranan Majalah Ilmiah Sebagai
Sumber Informasi Bagi Peneliti( Pemakai dan Penghasil
Informasi) di PPPTMGB”LEMIGAS”. Jakarta: Perpustakaan
LEMIGAS.

Harun, Harmaini. 1997. Minat Baca di Lingkungan Pegawai
LEMIGAS. Jakarta : Perpustakaan LEMIGAS

Hermawan. Di ITB Bandung Era Perpustakaan Digital (telah)
Dimulai. Jakarta : Republika, 6 Februaru 2000

Jasjfi, E : Fungsional dan Pemberdayaannya. Jakarta : KAE,
2001

Kemp,D.Alasdair. 1990. “Users” dalam User Education in
Academic Libraries. London: The Library Association

Kent, Peter.Penuntun 10 menit untuk Internet.Diterjemahkan
oleh Sigit WasiWasisto.Cet. ke 2.Yogyakarta: Andi, 1999.

McGrath, R.E., etc. “Digital Library Technology fo Locating
and Accessing Scientific Data”. In Proceedings of the Fourth
ACM Conference on Digital Libraries.

Pendit, Murtini S;Relevansi antara Perpustakaan dan koleksi
perpustakaan, 1983

Peraturan Menteri 0030/2005 : Struktur Organisasi LEMIGAS


                                                         30
Rifai, Mien A :Peran Pustakawan Indonesia dalam
Meningkatkan Nilai Tambah Hasil Penelitian di Abad ke XXI :
Sebuah Harapan. Rapat Kerja Pusat ke – 9 Seminar Ilmiah
Pustakawan Indonesia. Jakarta : 9-11 Desember 1997

Sayuti, Barkah . 2006. Pemanfaatan Jasa Informasi Terseleksi
oleh Pengguna Perpustakaan Lemigas. Perpustakaan Lemigas.

Sondang, Elisabeth. 1995. Kajian Kebutuhan Informasi Staf
Analis Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
Sebagai Pemakai Perpustakaan CSIS, Skripsi Sarjana. Depok:
Fakultas Sastera Universitas Indonesia

Sudarsono,      Blasius.  Visi Perpustakaan    Mendatang.
Disampaikan dalam Workshop Penerapan Jaminan Mutu untuk
Perpustakaan Menurut SNI seri 19-9000. Pusat Standarisasi –
LIPI. Jakarta: 2 Maret 1999




                                                         31
                  DAFTAR RIWAYAT HIDUP

                      Nama : Dra. Harmaini Harun N.Sunartio
                      Tempat dan        : Bengkulu, 9 Juli
                      Tgl. Lahir   1946
                      Agama             : Islam
                      Status            : Menikah 16 Mei 1971
                      NIP               : 100003150
                      Jabatan           : Pustakawan Utama
Pangkat/Golongan             : Pembina Utama Madya / Gol.
IVd
Instansi                   : Departemen Energi dan Sumber
                              Daya       Mineral     Badan
                              Penelitian dan Pengembangan
                              Energi dan Sumber Daya
                              Mineral
                              PPPTMGB”Lemigas”.
Alamat Instansi            : Jalan Ciledug Raya Kav.109
                              Cipulir,           Kebayoran
                              Lama,Jakarta
                              Selatan. PO Box 12230
Alamat Rumah               : Komplek Lemigas C/11A, Jl
                              Panjang, Cidodol, Kebayoran
                              Lama, Jakarta Selatan 12220.
KELUARGA
Nama Orang Tua             : Bapak Harun Al Rasjid (Alm)
                            Ibu Maria Harun Machmud St
                   Pahlawan(Almh.)
Nama Suami                 : Drs. H.       R.M. Nugroho
                           Sunartio (Alm.)
Anak 2 (dua) orang       : 1. Ir. R.M. Anindhita N.
                           Sunartio, MT.


                                                       32
                            2. R.M. Baswara N. Sunartio,
                             ST.MM
Anak + Menantu             :     Ir.    R.M.    Anindhita
                             N.Sunartio,MT + Eveline
                             M.Husen      Anindhita    N
                             Sunartio, ST
Cucu                       :    R.M.     Nakama    Chatra
                           Anindhita N Sunartio


Sesuai SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.
1505K/732/MPE/1995 Tanggal 5 September 1995 menjadi
Pustakawan Madya terhitung tanggal 1 Oktober 1994 pada
Pusat Penelitian dan Pengembangan PPPTMGB”Lemigas”
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pustakawan Utama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “Lemigas”, Badan Penelitian
dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 193/M Tahun 2004 , tertanggal 8
November 2004 , terhitung 1 Oktober 2003. NIP. 100003150
dengan pangkat Pembina Utama Madya Golongan IVd .

RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SD, Lulus tahun 1958 di Padang
2. SMP, Lulus tahun 1961 di Pangkal Pinang
3. SLA, Lulus tahun 1964 di Padang
4. Sarjana Muda Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra
   Universitas Indonesia, Jakarta 1967
5. Sarjana Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas
   Indonesia, 1976.


                                                      33
RIWAYAT PENGALAMAN KERJA
- Pegawai Bulanan pada Perpustakaan Pusat Unversitas
  Andalas 1968-1969
- Pegawai PPPTMGB”Lemigas “ 1970- sekarang

Jabatan Fungsional
- Diangkat Pustakawan Madya, 1 Oktober 1994
- Pustakawan Utama, 1 Oktober 2003
- Tim Penilai Jabatan Pustakawan tingkat instansi
   PPPTMGB “Lemigas” sejak 1 April 1994 ( SK No. 39
   K/70/KDML/94)
- Tim Penilai Jabatan Pustakawan Departemen Energi dan
   Sumber Daya Mineral terhitung 1 Juni 1997 (SK Menteri
   Pertambangan dan Energi No. 529.K/702/MPE/1997, 21
   Mei 1997)
- Tim Penilai Pusat Jabatan Pustakawan terhitung 1 April
   2002 (SK Kepala perpustakaan Nasional RI Nomor 18
   Tahun 2002)

Riwayat Organisasi
- Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia Cabang Jakarta
   Selatan Seksi Pengembangan Profesi 1997–1999
- Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia Cabang Jakarta
   Selatan, Wakil Ketua 1999-2003
- Forum Komunikasi Perpustakaan Khusus, Komisi Sumber
   Daya (SDM) ; 1999-
- Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia DKI Jakarta .
   Bendahara , 2003-




                                                     34
Membina dan Melatih Pustakawan
  1. 1995 : Maxus Training on librarianship. Memberikan
     Kursus dan Pelatihan pustakawan dari Kontraktor
     Production Sharing
  2. 1997 : Kondur Record Management : Memberikan
     Kursus dan Pelatihan untuk 20 pustakawan ,sekretaris ,
     petugas administrasi dan informasi
  3. 1998 : Maxus Training on Librarianship. Memberikan
     Kursus dan Pelatihan pustakawan dari Kontraktor
     Production Sharing

Riwayat Diklat/Seminar /Simposium Dalam Negeri
- Informasi dan Introduksi Perminyakan 2(dua) minggu di
   Jakarta dan Cepu tahun 1972
- Lokakarya Pengawasan Bibliografi Nasional. Jakarta, Dep.
   P&K , 1977
- Penataran P4 tipe A , 1979
- Temukarya Pemantapan Rancangan TLSK. Jakarta, Dirjen
   Migas, 1982
- Kursus non teknis SEPALA, Analysis Jabatan, 1983
- Kursus Manajemen Modul I dan II di Jakarta, 1991
- Teknis Penilaian Angka Kredit Pustakawan, 1998
- Hak atas Kekayaan Intelektual, 1998
- Training Quality System Documentation ISO 9001 : May
   2000
- Musyawarah Nasional dan Seminar Ilmiah Forum
   Perpustakaan Khusus di Bogor, 07- 09 Nopember 2000
- Forum Komunikasi Jabatan Fungsional Departemen Energi
   dan Sumber Daya Mineral, Juni 2001
- Teknis Penyusunan dan Penilaian Angka Kredit Jabatan
   Fungsional Peneliti. Jakarta, September 2001




                                                        35
-     Rapat Koordinasi Tim Penilai Jabatan Fungsional
      Pustakawan, Jakarta: 1-2 Nopember 2002
-     Rapat Koordinasi Tim Penilai Jabatan Fungsional. Jakarta:
      21-23 September 2005

Riwayat Diklat Luar Negeri
- Training in Library Science         di Engineering Library/
   Wendt Library , Madison,The University of Wisconsin ,
   Amerika Serikat, September – Desember 1986
- Studi banding /kunjungan ke berbagai perpustakaan antara
   lain, Belanda, Australia (Sidney), Malaysia dan Thailand

Riwayat Tanda Jasa/Penghargaan
- Satyalancana Karya Satya XX tahun
- Satyalancana Karya Satya X tahun




                  DAFTAR KARYA ILMIAH

    1984   Diskusi Ilmiah V : Peranan Sistem Informasi Dalam
           Penanganan Data Informasi,
           Jakarta , Dirjen Migas
    1992   Diskusi Ilmiah VII : Peningkatan Pelayanan


                                                            36
       Perpustakaan di Lemigas, Jakarta, Dirjen Migas
1995   Diskusi Ilmiah VIII : Informasi sebagai Komoditi Jasa
       di Lemigas, Jakarta, Dirjen Migas
1995   Pembinaan Karier di Lingkungan Pegawai Negeri
       Sipil Melalui Jalur Pustakawan, Sekilas Pemikiran
       Mengenai Kendala dan Imbalan, Kongres IPI, Jakarta
1996   Peranan Majalah Ilmiah Sebagai Sumber Informasi
       Bagi Peneliti (Pemakai dan Penghasil Informasi) di
       PPPTMGB “LEMIGAS”, Jakarta, Buletin Informasi
1997   Minat Baca di Lingkungan Pegawai Lemigas, Jakarta,
       Buletin Informasi
1997   Manajemen Informasi Literatur, Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas
1997   Mengkaji Database Sebagai Sarana Penyimpanan
       Informasi di Perpustakaan, Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas
2000   Peranan Fungsional Sebagai Penyumbang Karya Tulis
       Bagi Publikasi Lemigas di Tinjau dari Sudut Pandang
       Pustakawan, Jakarta, Perpustakaan Lemigas
2001   Kinerja Pustakawan Madya di Perpustakaan
       PPPTMGB “LEMIGAS”. Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas
2001   Seminar Sehari Jurnal Ilmiah Elektronik, Solusi atau
       Beban Baru; Sebuah Kajian. Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas
2001   Kesan-Kesan dalam Memberikan                Pelatihan
       Perpustakaan Kepada Karyawan Perpustakaan KPS.
       Jakarta , Perpustakaan Lemigas
2001   Sekilas Perkenalan dengan Internet, Warnet dan
       Warintek Sebagai Salah Satu Sarana dalam
       Mendapatkan Informasi. Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas


                                                         37
2002   Kebijakan Pembinaan Personil. Jakarta, Seskoal
2002   Konsepsi Pembangunan Virtual            Library di
       Lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya
       Mineral . Jakarta, Perpustakaan Lemigas
2002   Persiapan Pembangunan Perpustakaan Digital
       PPPTMGB “LEMIGAS”. Jakarta, Perpustakaan
       Lemigas
2003   Jabatan Fungsional Sebagai Pilihan Pengembangan
       Karir dalam Mengantisipasi cepatnya Perubahan
       Kepegawaian PNS. Jakarta, Diskusi Ilmiah IX
2004   Pemasaran informasi di Bidang Migas dalam Lemigas
       Mandiri. Jakarta, Perpustakaan Lemigas
2005   Pembinaan Fungsional Pustakawan Departemen
       Energi dan Sumber Daya Mineral
2005   Pustakawan Terampil Jangan Segan Menambah Ilmu
       Merubah Nasib Melalui alih Jalur. Jakarta , Seminar
       Sehari diselenggarakan oleh Balitbang ESDM
2005   Upaya Peningkatan Profesionalisme Tim Penilai
       Jabatan Fungsional Pustakawan
       Rapat Koordinasi Tim Penilai Jabatan Fungsional. 21-
       23 September
2006   Sekilas Sejarah Perpustakaan Lemigas. Jakarta.
       Artikel dalam buku Aksentuasi Perpustakaan dan
       Pustakawan (IPI DKI)
2006   Fungsional Pustakawan sebagai salah satu pilihan di
       Balitbang ESDM. Jakarta, Sosialisasi pada Orientasi
       CPNS Balitbang ESDM
2006   Fungsional Pustakawan dan Pemberdayaannya..
       Artikel dalam buku Aksentuasi Perpustakaan dan
       Pustakawan (IPI DKI)




                                                        38
Lampiran 1

Karakteristik responden:
Umur : Responden yang berumur lebih dari 50 tahun (dengan
kisaran antara 28 sampai 60 tahun) : 53%.




                                                      39
Pendidikan : Terbanyak responden berpendidikan S2 sebanyak
64%, Pendidikan S3 sebanyak 24% ,Pendidikan S1 sebanyak
12%

Jabatan
Jabatan sebagian besar dari responden relatif tinggi mulai dari
yang terendah peneliti muda sampai yang lebih tinggi peneliti
utama sekitar 71% , sedangkan peneliti dengan jenjang
jabatan dibawahnya sekitar 19%.

Penelitian yang dilakukan berdasarkan               masa kerja,
karakteristik dan pendidikan responden. Masa kerja responden
berkisar antara 4 – 30 tahun, dengan rata-rata 17 tahun

Responden dengan masa kerja : kurang dari 10 tahun : 5 orang
                             11 – 20 tahun         : 6 orang
                             21 – 30 tahun         : 6 orang

Karakteristik
Responden              Frekuensi               Persentase
Usia
<30 tahun                   3                      17.65
31 – 40 tahun               2                      11.76
41 – 50 tahun               3                      17.65
>50 tahun                   9                      52.94

Pendidikan
S1                          2                       11.76
S2                          11                    64.71
S3                          4                     23.53

Masa Kerja
< 11 tahun                  5                     29.42



                                                            40
11 – 20 tahun              6     35.29
21 – 30 tahun              6     35.29

Jabatan Fungsional
Ahli Peneliti Utama        3     17.65
Peneliti Madya             4     23.53
Peneliti Muda              4     23.53
Ajun Peneliti              0       0
Peneliti Non klas          6     35.29

Akses ke Perguruan Tinggi
Tidak pernah              12     70.59
< 5 kali                   5     29.41

Akses ke Lembaga Penelitian
Tidak pernah                7    41.18
1 – 5 kali                  6    35.29
6 – 10 kali                 2    11.76

Akses ke Perpustakaan LEMIGAS
Tidak pernah              4      23.53
1 – 5 kali                9      52.94
6 – 10 kali               0        0
> 10 kali                 4      23.53

Akses ke Sumber Informasi Lain
Tidak pernah                7    41.18
1 – 5 kali                  5    29.41
6 – 10 kali                 1     5.88
> 10 kali                   4    23.53
Tulisan yang dipublikasikan
< 5 judul                   13   76.47
6 – 10 judul                4    23.53

Lampiran 2


                                         41
Untuk mengetahui pemanfaatan jasa informasi terseleksi
terdapat 7 jenis kegiatan yang dipakai untuk pengamatan .Hasil
penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Pemanfaatan Jasa             Rata-Rata Skor     Keterangan
Menyusun Proposal                    4.29       Sangat bermanfaat
Melakukan Penelitian                 3.06       Bermanfaat
Menyusun Laporan Penelitian          4.06       Sangat Bermanfaat
Menyusun Bahan Seminar               3.18       Bermanfaat
Menambah Pengetahuan                 2.82       Cukup Bermanfaat
Menyusun Materi unruk Mengajar       2.18       Cukup Bermanfaat
Menyusun Karya Tulis Ilmiah /Populer 3.65       Bermanfaat

Rata-rata                            3.82          Bermanfaat

Lampiran 3
Peningkatan hasil penelitian dapat dilihat dari hak cipta dan
paten yang sudah dikeluarkan pada periode tahun 1999/2000 –
2005

   Judul    1999/2000     2001    2002        2003     2004     2005
 1. Hak         3           -      1           3         -        1
    Cipta
 2. Paten        2         2        1          3        3        3




                                                                  42
43
44

				
DOCUMENT INFO
Description: Proposal Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian document sample