Proposal Skripsi Hukum Perdata Islam

Document Sample
Proposal Skripsi Hukum Perdata Islam Powered By Docstoc
					                                        BAB I

                                 PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Bangsa    Indonesia    yang   menganut   berbagai   macam   agama   dan

   kepercayaan yang berbeda-beda mempunyai beberapa bentuk kekerabatan dengan

   sistem keturunan yang berbeda-beda. Sistem keturunan ini sudah berlaku sejak

   dahulu kala sebelum masuknya ajaran Islam, Hindu dan Kristen. Sistem

   keturunan yang berbeda-beda ini sangat berpengaruh dalam sistem pewarisan

   hukum adat.

          Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada manusia

   dengan perantara nabi Muhammad SAW. ya ng mengandung beberapa ketentuan

   tentang ‘aqidah dan syari’ah yang terdapat di dalam nas{ al-Qur’an dan

   membawa peraturan-peraturan yang semuanya itu mencakup segala aspek

   kehidupan manusia. Semua ini semata- mata untuk mencapai kesejahteraan dan

   keselamatan hidup bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat.

          Negara Indonesia yang mayoritas warganya adalah penganut agama Islam

   sudah barang tentu al-Qur’an merupakan pemberi informasi utama. Dimana

   informasi itu berupa norma- norma dan aturan-aturan yang menyangkut segala

   dimensi kehidupan manusia termasuk didalamnya informasi hukum kewarisan

   yang biasa disebut fara’id.



                                          1
                                                                                2




       Sejak matinya seseorang seluruh harta benda miliknya beralih kepada ahli

warisnya. Inilah yang disebut “adigium” (pepatah) Perancis yang berbunyi “le

mort saisit le vit” artinya orang yang meninggal dunia itu dengan sendirinya

beralih kepada ahli warisnya yang masih hidup. 1

       Salah satu masalah pokok yang banyak dibicarakan oleh al-Qur’an adalah

kewarisan. Kewarisan pada dasarnya merupakan bagian ya ng tidak terpisahkan

dari hukum, sedangkan hukum adalah bagian dari aspek ajaran Islam yang pokok.

Oleh karena itu dalam mengaktualisasikan hukum kewarisan yang terdapat dalam

al-Qur’an, maka eksistensinya harus dijabarkan dalam bentuk praktik faktualnya.

Dalam hal ini, pelaksanaan hukum kewarisan harus kelihatan dalam sistem

kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat. 2

       Dalam masalah warisan, wanita sama kedudukannya dengan laki- laki,

wanita juga berhak mewarisi harta peninggalan si mayit. Sebagaimana tercantum

dalam al-Qur’an Surah an-Nisa<’ ayat 7 yaitu:

    ? ?? ?             ?
                       µ d? ?
? ? ? ?? ? ? ? ???? ? ? ? ?? ?? ? ? ?? ?? ? ? ? ? ??? ? ? ???? ? ? ? ? ? ? ??
                                      ?         ?? ?              µ
                                                                  ?     ? ?
                                                 ?µ      ?     ? ?
                                       ? ?? ?? ?? ? ? ? ? ?? ?? ? ? ??? ? ??? ?? ?


“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan
kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan
ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah
ditetapkan”. (an-Nisa’:7)3


   1
     Suparman Usman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris, h. 2
   2
     Ali Parman, Kewarisan Dalamal-Qur’an, h. 1
   3
     Depag RI, al Qur'an dan Terjemahnya, h. 16
                                                                                    3




         Mengenai pembagian warisan ini, Ras}ulullah SAW memerintahkan

secara tegas kepada umatnya untuk melaksanakan pembagian waris dengan

ketentuan yang telah digariskan dalam kitab Allah (al-Qur’an). Hal ini

sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud bahwa Ra s}ulullah

SAW bersabda:

                                               ? ?
                                                ?       ? ?          ? ?? ?
                                        ? ? ? ?T ? ? ? ?? ?? ? ?? ? ? ? ? ? ?? ?d??
“Bagikanlah harta warisan diantara para ahli waris menurut kitabullah”. 4

         Dari uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa hukum melaksanakan dan

mengamalkan pembagian warisan yang sesuai dengan syari’at Islam adalah wajib

(fard{u ‘ain) bagi setiap individu muslim

         Dewasa ini agak sulit untuk menemukan orang yang paham dan

menguasai hukum waris. Kewajiban belajar dan mengajarkan waris tersebut

dimaksudkan agar kalangan kaum muslim khususnya dalam keluarga tidak terjadi

perselisihan. Perselisihan yang disebabkan masalah pembagian harta warisan

yang pada akhirnya akan terjadi perpecahan atau keretakan dalam keluarga. Oleh

karenanya perintah h}adis| Ras}ulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad:

   ?     ? ? ? ?           ?       ?              ? O ??    ?
???? ? ? ? ??? ?? ? ?? ? ??? ? ?? ? ? ? ? ?? ? ? ? ??? d? ? ? ? ?
                   ??        ?           ?     ?      ? ? ? ? a ??
? ? ? ? ? ? ??? ? ?? ? ? ? ?? ? ??? ??? ? ?????? ? ? ?? ???? ?? ? ? ? ??
                               ? ? ? ? ? ? ? ???                          ?
                                                                          T
                    ?? ? ?? ???S? ? ? ? ? ?? ??d?? ? ?p ? ??? ? ? ??? ? ? ?? ? ? ?
“Dari Ibnu Mas’ud dia berkata telah bersabda Ras{ulullah SAW: Pelajarilah al-
Qur’an dan ajarkanlah kepada manusia dan pelajarilah fara’id dan ajarkanlah
kepada manusia karena aku adalah orang yang akan mati dan ilmu pun bakal

   4
       Imam al-Hafid Abu Dawud Sulaiman bin As-as, Sunan Abu Dawud, Juz II, h. 13
                                                                                      4




diangkat. Hampir saja dua orang berselisih tentang pembagian warisan dan
masalahnya tidak menemukan seseorang yang memberikan kepada keduanya”.
(HR. Ahmad)5

       Dan seluruh hukum yang ada dan berlaku dewasa ini disamping hukum

perkawinan, maka hukum kewarisan merupakan bagian dari hukum kekeluargaan

memegang peranan yang sangat penting, bahkan menentukan dan mencerminkan

sistem dari seluruh hukum, maka hukum perkawinan dan kewarisanlah yang

menentukan dan mencerminkan sistem kekeluargaan yang berlaku dalam

masyarakat. 6

       Diantara aturan yang mengatur hubungan sesama manusia yang di

tetapkan oleh Allah SWT adalah aturan tentang harta warisan, yaitu harta dan

pemiliknya yang timbul sebagai akibat dari suatu kematian, bahwa setiap manusia

mengalami peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya. Harta yang

ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal memerlukan peraturan tentang

siapa yang berhak menerimanya, berapa jumlahnya dan bagaimana cara

mendapatkannya. 7

       Hukum kewarisan merupakan hukum kekeluargaan yang didalamnya

terdapat asas-asas yang dianggap mensifati hukum kewarisan Islam, adapun asas-

asas tersebut adalah:




   5
     Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid 14, h. 237
   6
     Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur’an dan Hadis Cet III, h. 11
   7
     Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Isalam, h. 3
                                                                                        5




   1. Asas Ijbari, bahwa para ahli waris memperoleh bagian harta sebagai harta

       peralihan dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih hidup

       berlaku dengan sendirinya secara hukum tanpa rekayasa.

   2. Asas bilateral, bahwa kewarisan beralih dari kedua belah pihak garis keluarga.

   3. Asas individual, bahwa harta warisan yang sesuai dengan haknya.

   4. Asas keadilan yang berimbang, bahwa jumlah nilai bagian antara laki- laki dan

       perempuan mempunyai keseimbangan antara hak dan kewajiban dan

       keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan.

   5. Asas akibat kematian, bahwa peralihan harta seseorang bagi ahli waris hanya

       berlaku setelah pewaris meninggal dunia. 8

           Dengan menggunakan hak kewarisan Islam yang bersumber dari wahyu

   Allah dalam al-Qur’an dan h{adis{ Ras}ulullah SAW yang berlaku wajib ditaati

   oleh umat Islam, dulu, sekarang dan yang akan datang. 9

           Bahwa dasar berlakunya hukum Islam di Indonesia sangat berpengaruh

   dalam pelaksanaan hukum kewarisan di Indonesia. Bahwa pada phase

   pemerintahan Hindia Belanda hukum Islam pertama kali di perlakukan sebagai

   hukum kepada bangsa Indonesia yang beragama Islam ialah berdasarkan dengan

   Regeerings Reglement (RR) berlakunya Undang- undang Islam bagi orang

   Indonesia ditegaskan dalam pasal 75 RR ayat 3 yang berbunyi sebagai berikut:



       8
         Ibid, h. 28
       9
         M. Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan
Menurut Hukum Perdata (BW), h. 3
                                                                               6




“Oleh hakim Indonesia itu hendaklah diperlakukan Undang-undang agama
(gods-di bhstige-wetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia.”10

         Bahwa pengadilan merupakan salah satu simbol dari kekuasaan dan

Pengadilan Agama Islam adalah simbol dari kekuasaan Islam, untuk

melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum Islam, wewenang Pengadilan Agama

dapat mengadili sengketa tentang kewarisan.

         Menurut Undang-undang Peradilan Agama No. 7 tahun 1989 dan Undang-

undang No. 3 tahun 2006 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan

kehakiman. Dalam Undang-undang No. 7 tahun 1989 pasal 51 yaitu:

“Pengadilan Tinggi Agama bertugas dan berwenang mengadili perkara yang
menjadi kewenangan Pengadilan Agama dalam tingkat banding”11

         Dalam kasus perkara di Pengadilan Agama Bojonegoro, Pengadilan

Tinggi Agama Surabaya, dan Mahkamah Agung ini adalah merupakan kasus

waris di mana dalam sengketa harta waris ini seorang saudari kandung

mendapatkan warisan atau tergolong ahli waris dari saudaranya. Sedangkan ahli

warisnya terdiri dari ibu, istri, anak. Di dalam putusan Pengadilan Tinggi Agama

memutuskan bahwa ahli waris dari pewaris adalah ibu, istri, anak, saudari

kandung. Sedangkan semua harta pewaris sudah dikuasai oleh saudari kandung

tersebut bersama ibunya. Selama pewaris meninggal harta peninggalannya tidak

langsung dibagikan kepada ahli waris, sehingga selang beberapa tahun istri

almarhum (pewaris) menggugat saudaranya ke Pengadilan Agama Bojonegoro


   10
        Ibid, h. 17
   11
        Amandemen UU Peradilan Agama, Media Centre
                                                                              7




   guna untuk mendapatkan haknya dan hak anaknya. Karena selama ini haknya dan

   hak anaknya dalam     kekuasaan ibu dan saudari kandung (pewaris), sedang

   menurut hukum kewarisan Islam, hak seorang istri dan anak adalah lebih besar

   dari pada haknya seorang ibu. Apalagi seorang saudari kandung yang bersamaan

   dengan seorang anak. Dan di dalam putusan PengadilanTinggi Agama Surabaya

   tergugat (masri) merasa tidak puas sehinga mengajukan kasasi ke Mahkamah

   Agung.



B. Rumusan Masalah

            Dari latar belakang masalah tersebut dapat di kemukakan beberapa

   rumusan masalah sebagai berikut:

   1. Apa pertimbangan hakim Pengadilan Agama Bojonegoro, Pengadilan Tinggi

      Agama Surabaya, dan Mahkamah Agung tentang kedudukan saudari kandung

      dalam hukum kewarisan?

   2. Bagaimana      analisis hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama,

      Pengadilan Tinggi Agama, dan Mahkamah Agung?



C. Kajian Pustaka

            Hukum kewarisan yang ada dan berlaku dewasa ini disamping hukum

   perkawinan, maka hukum kewarisan merupakan bagian dari hukum kekeluargaan

   yang memegang peranan yang sangat penting. Bahkan menentukan dan

   mencerminkan sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat yang
                                                                                         8




   membahas masalah waris ini sangat banyak antara lain adalah skripsi Maulana

   Asfuroh Bhinawati12 dalam skripsinya “Studi Komparasi Tentang Ahli Waris

   Pengganti Antara Hukum Islam Dan Hukum Perdata” (2002) yang intinya

   ahli waris pengganti menurut hukum Islam adalah ahli waris yang menggantikan

   seseorang untuk memperoleh bagian warisan yang tadinya akan diperoleh orang

   yang digantikan itu, sebabnya ialah karena orang yang digantikan itu adalah orang

   yang seharusnya menerima warisan kalau orang itu masih hidup, tetapi dalam

   kasus bersangkutan ia telah meninggal terlebih dahulu dari pewaris.

            Muhammad Yusuf 13 dalam skripsinya: “Persepsi Masyarakat Islam Bali

   Terhadap Kompilasi Hukum Islam Pasal 185 Ayat 1 Tentang Ahli Waris

   Pengganti (Studi Kasus Masyarakat Desa Kampung Kusambuh Dan Desa

   Kampung Gelgel)” (2005). Yang intinya pandangan masyarakat Islam Bali

   terhadap Kompilasi Hukum Islam merupakan pembaharuan hukum tentang

   kewarisan. Namun masyarakat Islam Bali kampung Kusamba dan kampung

   Gelgel memandang belum memahami dan bahkan belum menerima tentang

   adanya KHI ini. Karena masyarakat tersebut masih berpedoman dengan sistem

   kewarisan fara>’id dan berdasarkan dari al-Qur’an sehingga masyarakat itu




       12
           Maulana Asfouroh Bhinawati adalah alumni tahun 2002 IAIN Sunan Ampel Surabaya
Fakultas Syari'ah dengan judul skripsi "Studi Komparasi Tentang Ahli Waris Pengganti Antara
Hukum Islam Dan Hukum Perdata".
        13
           Muhammad Yusuf adalah alumni tahun 2005 IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas
Syariah dengan judul skripsi "Persepsi Masyarakat Islam Bali Terhadap Kompilasi Hukum Islam
Pasal 185 Ayat 1 Tentang Ahli Waris Pengganti (Studi Kasus Masyarakat Desa Kampung
Kusambuh Dan Desa Kampung Gelgel)"
                                                                                   9




   mengira bahwa KHI tersebut hanya merupakan hasil pemikiran manusia atau

   pemikiran Ijtihad.

           Dalam hal ini penulis juga membahas tentang ahli waris pengganti tetapi

   masalahnya berbeda dari yang dikemukakan karya-karya ilmiah lainnya. Penulis

   mengangkat suatu kasus: Analisis hukum Islam terhadap putusan Pengadilan

   Agama, Pengadilan Tinggi Agama, dan Mahkamah Agung tentang

   kedudukan saudari kandung dalam hukum kewarisan, dan setelah itu penulis

   akan menjelaskan apa pertimbangan dan dasar hukum yang dipakai hakim

   Pengadilan Agama Bojonegoro, Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Mahkamah

   Agung, dalam menyelesaikan perkara tersebut.



D. Tujuan Penelitian

           Sesuai dengan permasalahan di atas, maka penelitian skripsi ini bertujuan

   antara lain:

   1. Untuk       mengetahui   pertimbangan   hukum    hakim    Pengadilan    Agma

       Bojonegoro, Pengadilan Tinggi Agma Surabaya, dan Mahkamah Agung.

       Dalam memberikan bagian waris kepada saudari kandung dalam hukum

       kewarisan.

   2. Untuk mengetahui putusan Pengadilan Agama Bojonegoro, Pengadilan Tinggi

       Agama Surabaya, dan Mahkamah Agung dalam menyelesaikan perkara

       tersebut menurut hukum Islam.
                                                                             10




E. Kegunaan Hasil Penelitian

          Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran

   bagi disiplin keilmuan secara umum, dan sekurang-kurangnya dapat digunakan

   untuk dua aspek yaitu:

   1. Aspek teoritis, sebagai upaya bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

      khususnya di bidang hukum keluarga Islam yang berkaitan dengan masalah

      pembagian harta waris.

   2. Aspek praktis, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi praktisi

      hukum di lingkungan Pengadilan Agama dalam menyelesaikan hukum waris

      secara bijaksana.
                                                                              11




F. Definisi Operasional

          Untuk mempermudah memahami judul skripsi ini. Penulis akan

   menguraikan maksud dari keseluruhan judul agar tidak timbul salah faham

   “Analisis Hukum Islam Terhadap Putusan Pengadilan Agama, Pengadilan

   Tinggi Agama, dan Mahkamah Agung Tentang Kedudukan Saudari

   Kandung Dalam Hukum Kewarisan. Adapun yang perlu dijelaskan dalam

   definisi operasional tersebut adalah:

   1. Hukum Islam: yaitu hukum yang mengatur kehidupan orang Islam, misalnya

      hukum perkawinan, hukum perwakafan, hukum kewarisan dan lain

      sebagainya. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian tentang kewarisan.

      Jadi dasar hukum yang digunakan adalah al-Qur’an, al-H{adis|, pendapat para

      fuqaha serta buku-buku yang mengatur tentang hukum kewarisan dan juga

      undang-undang yang mengatur tentang waris.

   2. Putusan     Pengadilan:    putusan   Pengadilan   Agama   dengan   perkara

      No.1329/pdt.G/2004/PA. Bjn, Pengadilan Tinggi Agama dengan perkara

      No.150/Pdt.G/2005/PTA.Sby, putusan Mahkamah Agung dengan perkara

      No.149k/AG/2006, pengadilan yang berwenang untuk menyelesaikan

      sengketa atau perkara serta beberapa pertimbangan untuk mengadili perkara

      tersebut.

   3. Kedudukan saudari kandung: saudari dalam keluarga merupakan keluarga

      yang sama ayah dan ibu dengan pewaris. Kedudukan saudari kandung dalam
                                                                               12




      kewarisan merupakan ahli waris kekerabatan di dasarkan pada hubungan

      darah oleh pewaris, yaitu ahli waris kelompok samping.



G. Metode Penelitian

   1. Data yang dikumpulkan

              Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis mengumpulkan data yang

      sesuai dengan kebutuhan dalam menjawab permasalahan. Adapun data-data

      tersebut antara lain:

      a. Data       yang      berkaitan   putusan       PTA     Surabaya     No.

          150/Pdt.G/2005/PTA.Sby.

      b. Data       yang      berkaitan   putusan       PA     Bojonegoro    No.

          1329/Pdt.G/2004/PA.Bjn.

      c. Data yang berkaitan dengan putusan MA No.149K/AG/2006

      d. Data tentang dasar hukum yang digunakan oleh hakim dalam memutus

          perkara tersebut.

      e. Data yang berkaitan dengan bahan penelitian.

   2. Sumber Data

              Sumber data adalah sumber dari mana data akan digali. Sumber data

      dalam penelitian ini dari buku-buku serta dokumentasi yang berkaitan dengan

      penelitian. Sementara data yang diambil dalam penelitian ini terdiri atas

      sumber data primer dan sumber data sekunder, yaitu:

      a. Sumber data primer
                                                                                 13




              Merupakan      data   yang    bersifat   utama   dan   penting   yang

      memungkinkan untuk mendapatkan sejumlah informasi yang diperlukan

      dan berkaitan dengan penelitian. 14 Data yang diperoleh langsung dari

      sumber pertama:

      1) Putusan PTA Surabaya No. 150/Pdt.G/2005/PTA.Sby.

      2) Putusan PA Bojonegoro No. 1329/Pdt.G/2004/PA.Bjn.

      3) Putusan MA No. No.149K/AG/2006

      4) Hakim.

b.     Sumber data sekunder

              Merupakan data yang bersifat membantu atau menunjang dalam

      melengkapi dan memperkuat serta memberikan penjelasan mengenai

      sumber data primer. 15

      1) Hukum Kewarisan Islam, Amir Syarifuddin

      2) Hukum Waris Islam, Suhrawardi K. Lubis, Komis Simanjuntak

      3) Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan

          Kewarisan Menurut Hukum Perdata (BW), M. Idris Ramulyo.

      4) Ilmu Waris, Fathur Rahman

      5) Fiqh Mawaris, Ahmad Rofiq

      6) Pembagian Waris Menurut Islam, Muhammad Ali As-Sabuni

      7) Fiqh Mawaris, Suparman Usman dan Yusuf Somawinata


14
     Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, h. 116
15
     ibid, h. 117
                                                                           14




      8) Hukum Kewarisan Islam, Sayuti Tholib

      9) Hukum Waris Islam, Otje Salman dan Mustofa Haffas

      10) Hukum Kewarisan Bilateral Menurut AL-Qur’an dan H{adis|,

          Huzairin.

3. Teknik Pengumpulan Data

          Teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar

   untuk memperoleh data yang di perlukan.

   a. Untuk memperoleh data primer dilakukan dengan cara:

      1) Kajian terhadap dokumen putusan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya

          dengan perkara No. 150/Pdt.G/2005/PTA.Sby. serta dokumen putusan

          PA Bojonegoro denga n perkara No. 1329/Pdt.G/2004/PA.Bjn. dan

          putusan Mahkamah Agung RI dengan No.149K/AG/2006

      2) Melakukan interview (wawancara) dengan hakim atau panitera dalam

          menangani kasus tersebut.

   b. Untuk memperoleh data sekunder adalah melakukan kajian terhadap

      buku-buku (bahan pustaka) yang berkaitan dengan permasalah yang

      diteliti.

4. Teknik Analisis Data

          Hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif

   verifikatif dengan pola pikir induktif yakni dengan menggambarkan

   permasalahan yang bersifat khusus tentang putusan dan aturan hukumnya,

   kemudian mengemukakan kenyataan yang bersifat umum serta menilai
                                                                                   15




      putusan hakim yang dipakai dalam menyelesaikan perkara sengketa harta

      waris di Pengadilan Tinggi Agama Surabaya menurut pandangan hukum

      Islam, yang kemudian di analisis menggunakan teori-teori sehingga

      mendapatkan gambaran yang jelas mengenai masalah tersebut.



H. Sistematika Pembahasan

          Untuk memudahkan dalam memahami dan mempelajari apa yang ada

   dalam pembahasan maka sistematikanya dibagi menjadi beberapa bab, dan setiap

   bab terdiri dari beberapa subbab. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut:

   Bab I : Berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan

            masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian,

            definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

   Bab II : Berisi tentang kedudukan saudari kandung dalam hukum kewarisan

            Islam, meliputi: pengertian saudari kandung dalam hukum kewarisan

            Islam, bagian waris saudari kandung dalam hukum kewarisan Islam,

            dasar hukum saudari kandung dalam hukum kewarisan Islam, syarat dan

            rukun kewarisan saudari kandung dalam hukum kewarisan Islam

   Bab III : Berisi hasil penelitian terhadap putusan PA Bojonegoro, PTA Surabaya

            dan Mahkamah Agung RI tentang kedudukan saudari kandung dalam

            hukum kewarisan Islam: kedudukan dan kewenangan PA, PTA dan MA

            dalam peradilan di Indonesia, putusan dan dasar hukum dalam memutus
                                                                            16




        perkara tentang kedudukan saudari kandung dalam hukum kewarisan

        Islam.

Bab IV : Berisi analisis hukum Islam terhadap putusan PA Bojonegoro, PTA

        Surabaya dan MA RI tentang kedudukan saudari kandung dala m hukum

        kewarisan Islam. Subbab pertama analisis terhadap pertimbangan hakim

        PA Bojonegoro, PTA Surabaya dan MA RI. Subbab kedua analisis

        Hukum Islam terhadap putusan PA Bojonegoro, Pengadilan Tinggi

        Agama Surabaya dan MA RI tentang kedudukan saudari kandung dalam

        hukum kewarisan Islam

Bab V : Bab ini berisi tentang kesimpulan berikut saran dalam kaitannya dengan

        topik pembahasan skripsi ini.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5095
posted:7/19/2011
language:Indonesian
pages:16
Description: Proposal Skripsi Hukum Perdata Islam document sample