Docstoc

SYNTHESIS OF CHITOSAN LAURATE BY TRANSESTERIFICATION BETWEEN METHYL LAURATE WITH CHITOSAN ACETATE

Document Sample
SYNTHESIS OF CHITOSAN LAURATE BY TRANSESTERIFICATION BETWEEN METHYL LAURATE  WITH CHITOSAN ACETATE Powered By Docstoc
					SINTESIS KITOSAN LAURAT MELALUI REAKSI TRANSESTERIFIKASI
          METIL LAURAT DENGAN KITOSAN ASETAT




                        SKRIPSI



                 SANNI MONITA MANALU
                     NIM : 030802010




                   DEPARTEMEN KIMIA

   FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

              UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

                         MEDAN

                          2008
                                 PERSETUJUAN



Judul                 : SINTESIS KITOSAN LAURAT      MELALUI
                        REAKSI TRANSESTERIFIKASI METIL LAURAT
                        DENGAN KITOSAN ASETAT
Kategori              : SKRIPSI
Nama                  : SANNI MONITA MANALU
Nomor Induk Mahasiswa : 030802010
Program Studi         : SARJANA
Departemen            : KIMIA
Fakultas              : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
                        ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA
                        UTARA


                                 Disetujui di:
                                 Medan, Mei 2008

Komisi Pembimbing            :

Pembimbing 2                                   Pembimbing 1



Juliati Tarigan, SSi., MSi                     Dr. Jamaran Kaban, MSc
NIP. 132 240 153                               NIP. 130 809 723



Diketahui/Disetujui Oleh
Departemen Kimia FMIPA USU




Dr. Rumondang Bulan Nst, MS
NIP. 131 459 466
                                 PENGHARGAAN




      Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat kasih
dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

        Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Dr. Jamaran Kaban, MSc.
selaku pembimbing I dan Ibu Juliati Tarigan, SSi., MSi. selaku pembimbing II yang
telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan saran kepada penulis
selama melakukan penelitian dan penyusunanan skripsi ini hingga selesai. Kepada
Bapak Drs. Adil Ginting, MSc. selaku Kepala Laboratorium Kimia Organik FMIPA
USU yang telah memberikan saran-saran kepada penulis. Ucapan terima kasih juga
ditujukan kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU yaitu Ibu Dr.
Rumondang Bulan Nst.,MS. Dan Bapak Drs. Firman Sebayang, MS., Dekan dan
Pembantu Dekan FMIPA USU, semua dosen pada Departemen Kimia FMIPA USU,
khusunya kepada Bapak Drs. B.L. Tobing selaku dosen wali yang telah meluangkan
waktunya untuk memberikan bimbingan selama penulis mengikuti kuliah di
Departemen Kimia FMIPA USU. Kepada seluruh asisten Laboratorium Kimia
Organik/Proses Kimia FMIPA USU: B’Stev, SSi., Heri, Siti, SSi., William, SSi.,
Raskita, Marisi, Desi, Firdaus, Dewi, dan Ocha, serta teman-teman stambuk 2003
yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Terkhusus buat Jupatman M.Nababan,
S.Farm,Apt yang telah memberikan dukungan dan perhatian selama penulis
menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Akhirnya penulis mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga buat Bapak tersayang T. Manalu dan Ibu tersayang R
br Purba serta abang dan adikku tercinta ( Effendi, SSi., Bukit, ST., Yuni, Johan) atas
dorongan dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan sampai
selesainya skripsi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati kita semua.
                                     ABSTRAK




Telah disintesis kitosan laurat melalui reaksi transesterifikasi antara metil laurat dan
kitosan asetat dengan bantuan katalis natrium metoksida. Kitosan asetat diperoleh dari
hasil reaksi esterifikasi kitosan dengan asetat anhidrida dalam pelarut diklorometana,
dimana gugus amina dalam kitosan diproteksi terlebih dahulu dengan mereaksikan
kitosan dan asetaldehida (sebagai gugus pelindung) membentuk aldimin. Pada akhir
reaksi, penghilangan gugus pelindung menggunakan natrium bikarbonat. Kitosan
laurat didukung oleh data spektroskopi inframerah dengan munculnya υC=O
stretching dari ester pada serapan 1689,5 cm-1 yang biasanya dijumpai sebagai
karbonil (C=O) dari turunan polisakarida yang memiliki β- linkage seperti selulosa,
adanya gugus OH (hidroksil) pada daerah 3456,2 cm-1 dan C–O–C pada daerah 1180,4
cm-1; υ stretching dari CH2 yang rantai panjang pada daerah 709,8 cm-1.
   SYNTHESIS OF CHITOSAN LAURATE BY TRANSESTERIFICATION
       BETWEEN METHYL LAURATE WITH CHITOSAN ACETATE




                                    ABSTRACT




Chitosan laurate had been synthesis throught transesterification between methyl
laurate and chitosan acetate by using sodium metoxide as catalyst. Chitosan acetate
was obtained from result of esterification chitosan with acetate anhydride in
dichloromethane, where as amino group of chitosan was protected at first by reaction
of chitosan with acetaldehyde ( as protecting group) . The deprotecting of protect
group by using sodium bicarbonate at the end of reaction. Chitosan laurate was
support by infrared spectroscopy data with appearing υC=O sterctching of ester at
absorbtion 1689,5 cm-1 with usually found as carbonyl of polysaccharide derivative
which posses β-linkage like cellulose, group OH (hydroxyl) at 3456,2 cm-1 and C-O-C
at 1180,4 cm-1; υ stretching of CH2 as long chain appeared at region 709,8 cm-1.
                                  DAFTAR ISI



                                                      Halaman



Persetujuan                                               ii
Pernyataan                                                iii
Penghargaan                                               iv
Abstrak                                                   v
Abstract                                                  vi
Daftar Isi                                                vii
Daftar Tabel                                              ix
Daftar Gambar                                             x


BAB 1 PENDAHULUAN                                         1
      1.1 Latar Belakang                                  1
      1.2 Permasalahan                                    2
      1.3 Tujuan Penelitian                               2
      1.4 Manfaat Penelitian                              2
      1.5 Lokasi Penelitian                               3
      1.6 Metodologi Penelitian                           3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA                                    4
      2.1 Kitin                                           4
          2.1.1 Sumber                                    4
          2.1.2 Struktur                                  5
          2.1.3 Sifat-sifat Fisika dan Kimia              6
                2.1.3.1 Sifat Fisika                      6
                2.1.3.2 Sifat Kimia                       6
          2.1.4 Penggunaan                                6
      2.2 Kitosan                                         8
          2.2.1 Struktur                                  8
          2.2.2 Sifat-sifat Fisika dan Kimia              8
                2.2.2.1 Sifat Fisika                      8
                2.2.2.2 Sifat Kimia                       9
          2.2.3 Kegunaan                                  10
      2.3 Pemanfaatan Kitosan dalam Bidang Kosmetik       11
      2.4 Kimia Oleo                                      13
          2.4.1 Ester Asam Lemak                          16

BAB 3 METODE PENELITIAN                                   18
      3.1 Alat- alat                                      18
      3.2 Bahan-bahan                                     19
      3.3 Prosedur Penelitian                             19
          3.3.1 Pembuatan Metil Laurat                    19
           3.3.2 Pembuatan Senyawa Aldimin Kitosan                    20
           3.3.3 Pembuatan Kitosan Asetat                             20
           3.3.4 Pembuatan Kitosan Laurat                             20
       3.4 Bagan Penelitian                                           21
           3.4.1 Pembuatan Metil Laurat                               21
           3.4.2 Pembuatan Aldimin Kitosan                            22
           3.4.3 Pembuatan Kitosan Asetat                             23
           3.4.4 Pembuatan Kitosan Laurat                             24

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN                                            25
     4.1 Hasil                                                        25
         4.1.1 Kitosan                                                25
         4.1.2 Metil Laurat                                           26
         4.1.3 Kitosan Asetat                                         26
         4.1.4 Kitosan Laurat                                         28
     4.2 Pembahasan                                                   29
             4.2.1 Reaksi antara Asam Laurat dengan Metanol           29
             4.2.2 Reaksi antara Kitosan dengan Asetat anhidrida      31
             4.2.3 Reaksi antara Kitosan Asetat dengan Metil Laurat   33

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN                                            36
      5.1 Kesimpulan                                                  36
      5.2 Saran                                                       36



DAFTAR PUSTAKA                                                        37
                                DAFTAR TABEL



                                                             Halaman

Tabel 2.1 Sifat-sifat dan Pemanfaatan Kitin dan Turunannya       10
Tabel 2.2 Sifat-sifat dan Pemanfaatan Kitosan                    14
                             DAFTAR GAMBAR




                                                                    Halaman

Gambar 2.1 Struktur Kitin                                                 5
Gambar 2.2 Struktur Selulosa                                              5
Gambar 2.3 Struktur Kitosan                                               8
Gambar 2.4 Turunan-turunan Kitosan dalam Penggunaaan di bidang Kosmetik   13
Gambar 4.1 Spektrum FT-IR Kitosan                                         25
Gambar 4.2 Spektrum FT-IR Metil Laurat                                    26
Gambar 4.3 Spektrum FT-IR Aldimin Kitosan                                 27
Gambar 4.4 Spektrum FT-IR Kitosan Asetat                                  28
Gambar 4.5 Spektrum FT-IR Kitosan Laurat                                  29
                             DAFTAR LAMPIRAN




                                                  Halaman

Lampiran 1   Spektrum FT-IR Kitosan                   38
Lampiran 2   Spektrum FT-IR Metil Laurat              39
Lampiran 3   Spektrum FT-IR Basa Schiff Kitosan       40
Lampiran 4   Spektrum FT-IR Kitosan Asetat            41
Lampiran 5   Spektrum FT-IR Kitosan Laurat            42
                                       BAB 1

                                 PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

       Kitosan adalah turunan kitin, merupakan polimer linear β(1→4)-2-amino-2-
deoksi-D-Glukopiranosa yang dihasilkan dari N-deasetilasi kitin. Sifat-sifat kimia dari
kitosan antara lain merupakan poliamin linear, mempunyai gugus amina dan gugus
hidroksil yang reaktif, dapat membentuk kelat dengan ion logam transisi. Sedangkan
sifat biologisnya, kitosan mudah mengalami biodegradasi, tidak beracun, dan bersifat
biokompatibel. Adanya gugus amina (-NH2) dan gugus hidroksil (-OH) menyebabkan
kitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi. Salah satu reaksi yang terjadi pada
gugus amin adalah N-Asilasi dan reaksi schiff. Kitosan akan membentuk senyawa
aldimin dan ketimin jika direaksikan dengan aldehid atau keton. Reaksi dengan asam
keto yang diikuti reduksi oleh natrium borohidrat akan menghasilkan senyawa glukan.
N-Karboksimetil kitosan diperoleh dari asam glioksalat (Dutta, 2006).

       Menurut A Singh (2006), antara kitosan dan senyawa aldehid, misalnya
formaldehid dapat terjadi pembentukan reaksi basa schiff.

       Berdasarkan sifat fisika maupun kimia, kitosan dan turunannya banyak
digunakan dalam berbagai aplikasi misalnya dalam pembuatan produk kosmetik.
Kitosan dan turunannya dapat digunakan sebagai bahan kosmetik, pasta gigi, krim
badan dan tangan serta produk perawatan rambut. Biopolimer ini juga telah diteliti
sebagai bahan formulasi kosmetik khususnya untuk kulit yang sensitif (Dutta, 2006;
Kaban, 2007).

       Asam laurat merupakan asam lemak jenuh yang banyak ditemukan dalam
minyak kelapa dan minyak inti sawit. Asam laurat berbentuk serbuk putih dengan
aroma sabun dan bersifat anti mikroba. Walaupun asam laurat dapat menyebabkan
iritasi pada selaput lendir, asam laurat digunakan sebagai bahan formulasi sabun atau
sampo. Asam laurat terdiri dari rantai hidrokarbon yang bersifat non polar pada ekor
dan gugus asam karboksilat yang bersifat polar pada kepala sehingga dapat digunakan
sebagai bahan surfaktan (Harrison, 2007).

       Peneliti sebelumnya telah mensintesis ester kitosan dengan mereaksikan
klorokitosan dengan natrium oleat (Kemit, 1995)

       Dari uraian diatas, peneliti tertarik untuk mensintesis senyawa asil kitosan
yaitu kitosan laurat yang dapat digunakan sebagai bahan formulasi kosmetik
(Braek, 1989). Kitosan laurat dapat disintesis melalui tahap reaksi pembentukan metil
laurat dan pembentukan kitosan asetat, dimana kitosan terlebih dahulu direaksikan
dengan asetaldehida untuk melindungi gugus amina dalam kitosan. Selanjutnya,
dilakukan reaksi transesterifikasi antara kitosan asetat dan metil laurat yang
menghasilkan kitosan laurat. Kitosan laurat yang diperoleh dianalisis dengan
spektroskopi infra merah.




1.2 Permasalahan

       Apakah kitosan laurat dapat disintesis melalui reaksi transesterifikasi antara
metil laurat dengan kitosan asetat dimana, kitosan terlebih dahulu direaksikan dengan
asetaldehida membentuk aldimin dan kemudian diasetilasi dengan asetat anhidrida?

1.3 Tujuan Penelitian

       Untuk mensintesis kitosan laurat melalui reaksi transesterifikasi antara metil
laurat dengan kitosan asetat dimana, kitosan terlebih dahulu direaksikan dengan
asetaldehida membentuk aldimin dan kemudian diasetilasi dengan asetat anhidrida.

1.4 Manfaat Penelitian

       Pengembangan kimia organik sintesa         dan oleo kimia terutama sintesis
senyawa kitosan laurat yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan formulasi
kosmetik.
1.5 Lokasi Penelitian

       Penelitian dilakukan di laboratorium Kimia Organik FMIPA-USU Medan.
Analisa FT-IR dilakukan di laboratorium Kimia Organik FMIPA-UGM Yogyakarta.




1.6 Metodologi Penelitian

       Kitosan laurat diperoleh dari reaksi transesterifikasi antara metil laurat dan
kitosan asetat. Pembuatan metil laurat dilakukan dengan cara mereaksikan asam laurat
dengan metanol dalam pelarut benzena dan dengan bantuan katalis asam sulfat dalam
kondisi refluks. Selanjutnya, dilakukan pembuatan kitosan asetat dengan cara
mereaksikan kitosan dengan asetat anhidrida dalam pelarut diklorometan. Dimana
sebelum diasetilasi, kitosan terlebih dahulu direaksikan dengan asetaldehida untuk
melindungi gugus amina dalam kitosan.
                                       BAB 2

                              TINJAUAN PUSTAKA




2.1 Kitin

       Kitin tersebar luas di alam terutama pada hewan dan di sejumlah protozoa.
Kitin merupakan bahan organik yang melimpah kedua sesudah selulosa. Produksi
kitin dan kitosan berkisar 700 metrik ton per tahun, dan pemasarannya diperkirakan
sekitar 5 triliun yen. Sekitar 85% kitosan yang diproduksi di Jepang digunakan untuk
pengolahan air limbah industri pangan (Alasalvar & Taylor, 2002).




2.1.1 Sumber

       Kitin merupakan biopolimer alami yang melimpah pada kulit luar kepiting,
udang, dan juga dinding sel jamur dan serangga. Pada saat ini, hanya sedikit jumlah
limbah cangkang yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan sumber kitin,
sehingga pengolahan cangkang menimbulkan pencemaran lingkungan. Akhir-akhir
ini, nilai komersial dari kitin melonjak karena sifat-sifat yang menguntungkan dari
turunannya yang larut dalam air sehingga cocok digunakan dalam industri kimia,
bioteknologi,   bidang   pertanian,   pengolahan   pangan,    kosmetik,   peternakan,
kedokteran, proteksi lingkungan, industri pembuatan kertas dan tekstil. Produksi kitin
masih terbatas pada musim panen Crustaceae, yaitu terbatasnya jumlah limbah
cangkang di beberapa negara. Karena kitin dan turunannya yang larut dalam air,
merupakan komponen utama dari dinding sel beberapa Zygomycetes, perhatian telah
dialihkan ke jamur untuk digunakan sebagai sumber alternatif kitin dengan
menggunakan mikroorganisme pada media yang sederhana dan tersedia dalam jumlah
yang dibutuhkan (Kumar, 2000; Synowiecki and Al-Kateeb, 2003).
2.1.2 Struktur

        Kitin dan selulosa adalah polisakarida yang memiliki struktur yang mirip.
Residu monosakarida pada selulosa adalah β-D-glukosa sedangkan pada kitin adalah
N-asetil-β-D-glukosa; gugus hidroksil (-OH) pada posisi C-2 digantikan oleh gugus
asetamido (-NHCOCH3), dimana monosakaridanya dihubungkan melalui ikatan β(1,4)
(Kumar, 2000; Taranathan & Kittur, 2003).

                                                         CH 3
     HOH 2C                                        O=C               HOH 2C
    H               H                            H C-2           H
                        O                              NH                H            H
                                       HO                                                  O
                                                                     O
   HO                              O
                C-2 NH                                   O           HO                               O
            H                       H
                               H                    H                        H C-2 NH             H
                O=C                     HOH 2C                                       O=C
                        CH 3                                                               CH 3
                                                                                                              n

                    Gambar 2.1 Struktur Kitin


        H OH 2 C                                                             H OH 2 C
        H               H                           H C-2            H
                            O                             OH                     H                H
                                            HO                                                        O
                                                                             O
     HO                                     O
                    C-2 OH                                       O           HO                               O
                H                            H
                                   H                         H                         H C-2 OH           H
                                             HO H 2 C
                                                                                                                  n


                    Gambar 2.2 Struktur Selulosa

        Struktur kitin berdasarkan susunan rantai polimernya, dari hasil difraksi sinar-
X dapat dibagi tiga bagian yaitu kitin α, kitin β, dan kitin γ. Bentuk α terdapat sebagai
susunan antiparalel, bentuk β terdiri atas dua rantai paralel dan fibril. Bentuk ketiga
adalah bentuk γ-kitin yang terdiri dari dua paralel dari tiga rantai dan yang ketiga
antiparalel (            ). Ketiga bentuk struktur kitin tersebut stabil dengan larutan alkali,
namun kitin yang paling stabil adalah bentuk kitin α. Bentuk struktur kitin β dan γ bisa
berubah kepada bentuk kitin α dengan menggunakan larutan litium tiosianat pada
temperatur kamar (Rudal dan Kenchington, 1973).

        Keberadaan ketiga struktur kitin tersebut dialam tergantung kepada fungsi dan
kegunaaanya pada invertebrata. Kitin α didapati pada bagian yang keras sementara
kitin β dan γ didapati pada bagian yang lembut, lentur dan lain sebagainya
(Agusnar, 2006).



2.1.3 Sifat-sifat Fisika dan Kimia

2.1.3.1 Sifat Fisika

       Kitin merupakan bahan yang mirip dengan selulosa yang sama-sama
mempunyai sifat-sifat dalam kelarutannya dan reaktifitasnya yang rendah. Kitin
berwarna putih, keras, tidak elastis, polisakarida yang mengandung nitrogen.
Kitin dapat larut di dalam HCl, H2SO4, H3PO4, dikloroasetat, trikloroasetat, dan asam
formiat. Kitin juga larut di dalam larutan pekat garam netral yang panas (Synowiecki
and Al-Kateeb, 2003).


2.1.3.2 Sifat Kimia

       Karena keberadaan gugus nitrogen, molekul kitin cendrung bergabung dengan
makro molekul lain dan menyebabkan jenis struktur dan sifat fisikokimia baru.
Misalnya, ikatan kovalen antara kitin dan protein yang terbentuk antara N-asetil dari
kitin bereaksi dengan α-asam amino (terutama tirosin), dan protein kutikular akan
membentuk kompleks stabil namun, mudah terdisosiasi setelah pH berubah. Kitin
dapat dianggap sebagai basa lemah, oleh karena itu dapat mengalami reaksi netralisasi
sebagai senyawa yang bersifat alkali. (Taranathan & Kittur, 2003).



2.1.4 Penggunaan

       Keistimewaan sifat-sifat kitin adalah: (1) berasal dari alam (renewable), (2)
biodegradabel dan tidak mencemari lingkungan, (3) biokompatibel tidak hanya pada
hewan juga dengan jaringan tanaman, (4) tidak bersifat toksis, (5) struktur molekulnya
dapat/mudah dimodifikasi. Sifat-sifat yang istimewa inilah menjadi pendorong untuk
digunakan dalam industri yaitu modifikasi metode sehingga biopolimer yang bernilai
ini digunakan sebagai bahan yang multiguna (Taranathan & Kittur, 2003). Adapun
pemanfaatan kitin dan turunananya di bidang industri, adalah untuk pangan yang
berserat, kosmetik, alat pembalut dan untuk toilet.
         Tabel 2.1 Sifat-sifat dan Pemanfaatan Kitin dan Turunannya


 Sifat                    Pemanfaatan

 Bioaktivitas             Antimikroba untuk serat dan produk tekstil, materi
                          pengemasan makanan, merangsang sistem kekebalan,
                          penurun kolesterol, penurun berat badan, penyembuh luka,
                          antikoagulan darah.

 Biodegrabilitas          Sumber karbon untuk protein sel tunggal, pengemas yang
                          biodegradabel, pelepasan obat terkontrol, agrokimia, obat
                          dan nutrien, kosmetik dan bahan untuk toilet.

 Reaktivitas       gugus Immobilasi enzim, media untuk kromatografi afinitas dan
 amino terdeasetilasi     filtrasi gel, pelembab, pelembut rambut, pembentukan
                          polielektrolit .

 Permeabilitas selektif Membran pemisahan bidang kedokteran, bioteknologi dan
 membran kitosan dan pengolahan pangan, penyesuaian atmosfer internal jaringan
 pembentuk film           buah-buahan, memperbaiki afinitas permukaan asam pada
                          cat, mencegah penetrasi mikroba pada luka, sayur dan buah-
                          buahan, produksi membran dialisis dan cairan gigi.

 Kemampuan                Mengurangi polusi air permukaan dan air limbah dengan
 membentuk kelat          pembentukan kelat dengan ion logam berat, dan aktivitas
                          metaloenzim pada makanan.

 Kapasitas menyerap       Menghilangkan      fenol   fari   air   limbah,   elektrostatik
                          pengecatan, pemisahan protein, penjernihan sari buah-
                          buahan.

Sumber: Synowiecki & al-Katheeb (2003)
2.2 Kitosan

2.2.1 Struktur

        Kitosan adalah polisakarida alam yang diperoleh dari deasetilasi kitin. Jika
sebagian besar gugus asetil pada kitin disubstitusikan oleh atom hidrogen menjadi
gugus amino dengan penambahan larutan basa kuat berkonsentrasi tinggi, hasilnya
dinamakan kitosan atau kitin terdeasetilasi. Kitosan mempunyai rumus-rumus umum
(C6H9NO3)n atau disebut sebagai poli (β-(1,4)-2-amino-2-Deoksi-D-Glukopiranosa).
Kitosan bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang
terdeasetilasi sebagian dengan derajat polimerisasi yang berbeda. Kitin dan kitosan
adalah nama untuk dua kelompok senyawa yang dibatasi dengan stoikiometri, kitin
adalah poli N-asetilglukosamin yang terdeasetilasi sedikit. Derajat deasetilasi biasanya
bervariasi diantara 8-15%, tetapi tergantung pada sumber yang digunakan untuk
memperoleh kitin, dan metode yang digunakan untuk isolasi dan pemurnian.
Sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin dengan derajat
deasetilasi antara 50-70% (Bastaman, 1989).


                                                            CH3
     H O H 2C                                       O = C
                                                                              H O H 2C
    H                  H                        H C -2            H
                            O                             NH              H                     H
                                     HO                                                              O
                                                                      O
   HO                                O
                C -2                                        O         HO                                      O
           H               NH2           H                                               C -2
                                 H                    H                            H                NH2
                                                                                                          H
                                         H O H 2C

                  Gambar 2.3 Struktur Kitosan                                                                     n



2.2.2 Sifat-sifat Fisika dan Kimia

2.2.2.1 Sifat Fisika

        Pada umumnya polisakarida alami seperti selulosa, dekstran, pektin, alginat,
agar-agar, karagenan bersifat netral atau sedikit asam, sedangkan kitin dan kitosan
bersifat basa (Kumar, 2000).

        Kitosan adalah padatan amorf putih yang tidak larut dalam alkali dan asam
mineral kecuali pada keadaan tertentu. Kitosan merupakan molekul polimer yang
mempunyai berat molekul tinggi. Kitosan dengan berat molekul yang tinggi didapati
mempunyai viskositas yang baik dalam suasana asam (Onsoyen dan Skaugruad,
1990).

         Kitosan, hasil deasetilasi kitin, larut dalam asam encer, seperti asam asetat,
asam formiat dll. Kitosan dapat membentuk gel dalam N-metilmorpholin N-Oksida
yang dapat digunakan dalam formulasi pelepasan obat terkendali. Kandungan nitrogen
dalam kitin berkisar 5-8% tergantung pada tingkat deasetilasi sedangkan nitrogen pada
kitosan kebanyakan dalam bentuk gugus amino. Maka kitosan bereaksi melalui gugus
amino dalam pembentukan N-asilasi dan reaksi basa schiff, merupakan reaksi yang
penting (Kumar, 2000).

2.2.2.2 Sifat Kimia

         Adanya gugus amino dan hidroksil dari kitosan juga menyebabkan kitosan
mudah dimodifikasi secara kimia antara lain dalam reaksi pembentukan:

a. N-Asil
   Metode yang paling sederhana adalah         dengan mereaksikan asam karboksilat
dengan kitosan, pemanasan larutan kitosan dalam asam formiat 100% pada suhu 90oC
dengan penambahan piridin sedikit demi sedikit untuk menghasilkan N-formilkitosan,
serta N-Asetil dalam asam asetat 20%.

   Pereaksi yang paling banyak digunakan untuk N-Asilasi kitosan adalah Asil
Anhidrida, baik dalam kondisi homogen atau heterogen.

b. O-Asilasi
   Gugus amino kitosan lebih reaktif daripada gugus hidroksilnya. Karenanya gugus
amino perlu diproteksi selama proses asilasi untuk menghasilkan O-Asilkitosan.
Metode proteksi yang dilakukan antara lain melalui pembuatan basa Schiff disusul
O-Asetilasi menggunakan larutan asetat anhidrida-piridin untuk mencegah hidrolisis
asam dari basa schiff.

   Pembuatan O-Asetil kitosan dapat juga dilakukan dengan melarutkan kitosan
terasetilasi dalam asam formiat 90% yang mengandung asetat anhidrida dan HClO4,
dengan asumsi protonasi gugus amino akan mencegah terjadinya N-Asetilasi.
     N- dan O-Asilasi kitosan juga dapat diperoleh bersamaan dengan menggunakan
asil klorida. Caranya dengan merefluks kitosan dalam campur dodekanoil klorida
berlebih-piridin-kloroform dan ditambah asam klorida sesudah direfluks 5 jam.
Produk yang diperoleh sesudah 9 jam larut dalam kloroform, benzen, dietil eter dan
piridin.

c.   Eter Kitosan
     Pembuatan derivat O-Alkil kitosan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu O-
alkilasi kitin disusul pengurangan N-Asetilasi dan O-alkilasi derivat kitosan, dimana
gugus amino diproteksi selama reaksi alkilasi.

     Karboksimetil kitosan yang diperoleh melalui prosedur pertama menghasilkan
garam natrium dengan gugus amin            bebas dalam bentuk basa maupun garam
hidroklorida dari amino dengan gugus karboksimetil dalm bentuk asam. Sensitifitas
terhadap penambahan elektrolit meningkat dengan bertambahnya karboksimetilasi.
Perlakuan alkali kitin dengan epiklorohidrin pada 0-15oC disusul deasetilasi
menghasilkan O-hidroksialkil kitosan (Kaban, 2007).


2.2.3 Kegunaan

           Kitosan merupakan turunan kitin yang paling bermanfaat. Hal ini karena berat
molekul yang tinggi, sifat polielektrolit, keberadaan gugus fungsional, kemampuan
untuk membentuk gel, dan kemampuan mengabsorbsi. Selanjutnya, kitosan dapat
dimodifikasi      secara kimia dan      enzimatik dan     bersifat   biodegradabel   dan
biokompatibel dengan sel dan jaringan manusia. Untuk pemanfaatannya, berat
molekul dan tingkat deasetilasi sangat berperan, karena kedua parameter ini
mempengaruhi bukan hanya kelarutan tetapi juga sifat-sifat fisikokimianya termasuk
sifat biokompatibilitas serta aktivitas immunitas. Kapasitas mengabsorbsi kitin dan
kitosan meningkat dengan meningkatnya kandungan gugus amino yang bebas
(Synowiecki and Al-Kateeb, 2003).
        Sifat-sifat dan pemanfaatan kitosan dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah:




        Tabel 2.2 Sifat-sifat dan Pemanfaatan Kitosan

 Sifat-sifat                                        Pemanfaatan

 Kationik: Polielektrolit linier bermuatan tinggi   Pemurnian air
               Mengkelat ion logam beracun          Flokulan yang baik
 Kimiawi: Berat Molekul tinggi                      Viskositas tinggi, film
               Gugus amino dan hidroksil            Modifikasi kimia
 Biologis: Biokompatibel, biodegradabel             Non-toksis, film pengemas
           Bioaktivitas                             Antimikroba, antitumor
 Farmasi: Biokompatibel, biodegradabel              Penyembuh luka, pelepasan obat,
                                                    kulit sintesis, kontak lensa
 Umum-kosmetik:                                     Produk          merawat        kulit,
 Pelembab, pakan, penyalut pelindung                perawat/pemeliharaan rambut.
 Makan dan Pertanian :                              Penurun kolersterol, antikanker,
 Pengikat ion (asam empedu             atau asam serat pangan, anti luka
 lemak)                                             Meningkatkan produksi
 Fungistatik                                        Bahan penjerat
 Bakteriologis: Penjerat dan adsorben
Sumber: Taranathan & Kittur ( 2003).


2.3 Pemanfaatan Kitosan dalam Bidang Kosmetik

    Kitosan merupakan hasil dari deasetilasi kitin oleh basa. Garam-garam kitosan
yang larut dalam air diperoleh dengan menetralkan kitosan dalam berbagai asam
seperti asam klorida, asam asetat, asam laktat atau asam formiat. Pada tahun 1976,
Gross, Konrad dan Mager telah menemukan bahwa beberapa garam-garam kitosan
sangat efektif digunakan dalam bahan perawatan rambut, kulit dan mulut. Garam-
garam kitosan tidak larut dalam larutan netral dan basa dan juga dalam bahan yang
mengandung deterjen yang bermuatan negatif. Sifat-sifat ini menjadikan adanya
batasan penggunaan kitosan dalam bidang kosmetik.
     Beberapa penelitian tentang sintesis kitosan, telah menghasilkan turunan kitosan
yang sesuai dengan deterjen yang bermuatan negatif sehingga dapat digunakan untuk
semua jenis kosmetik.

1.   Reaksi antara kitosan dengan senyawa epoksida
     Reaksi kitosan dengan etilena oksida, propilena oksisda, butilena oksida dan
     glisidol menghasilkan turunan kitosan yang larut dalam air dan sesuai dengan
     deterjen yang bermuatan negatif. Turunan kitosan ini dapat dibuat membran dan
     digunakan dalam produk-produk kosmetik seperti sampo, pelembab dan sabun.
2.   Reaksi antara kitosan dan gabungan senyawa epoksida yang bermuatan positif
     dan negatif.
     Reaksi antara glisidiltrimetilamonium klorida dan etilena oksida, propilena oksida
     dan glisidol dengan kitosan yang bermuatan menghasilkan senyawa polimer yang
     dapat digunakan pada hampir seluruh produk kosmetik. Hasil reaksi ini terbukti
     dapat digunakan dalam perawatan kulit dan rambut.
3.   Reaksi dengan senyawa epoksida dan alkilhalogenida
     Apabila kitosan dimodifikasi dengan senyawa yang sesuai dapat digunakan
     sebagai resin pada hair spray. Senyawa ini dapat dihasilkan dari reaksi N-
     Hidroksilpropil kitosan dengan senyawa alkilhalogenida (mis: etil bromida dan
     etil klorida). Hasil reaksi ini larut dalam berbagai pelarut organik.
4.   Asil kitin
     Dari hasil penelitian terdahulu, telah dibuktikan senyawa asil kitin tidak dapat
     digunakan untuk hair spray tapi senyawa asil kitin/kitosan ini dapat digunakan
     dalam pembentuk membran atau senyawa resin dalam nail polish.
5.   Sulfoalkil Kitosan
     Reaksi kitin atau kitosan yang bersifat basa dengan 1,3 propana sulfonat akan
     menghasilkan ampholitik dimana gugus sulfopropil akan mensubtitusi atom yang
     tidak bermuatan, yang dapat digunakan dalam kosmetik kulit.
     (Gudmund, Thorleif dan Paul, 1989).
 H3C - H2C - O - H2C                                                                   HOH2C
             H              H                                                          H         H
             O                  O                                                      O              O
                     H                                                                       H
             HO                              O                                         HO                      O
                    H                   H                                                   H             H
                                N - CH2 -CH - CH3                                                     N - CH2 -CH - OH
                                                 O - CH2 - CH3                                                     CH2 - N - (CH3)3

                                                                                                     CH2 - CH - CH2         Cl
                                CH2 - CH - CH3
                                            OH                                                             OH OH
                                                                                            shampoo
                        Hair spray
                                                                       CH2OH
                                                           H            H
                                                          O                 O
                                                                   H
                                                          HO                       O
                                                                  H        NH2 H
                                                                 kitosan

                 CH2 - O - C - (CH2)n - CH3                                            HOH2C
      H             H                                                                  H         H
      O                 O                                                              O             O

             H                                                                               H
      HO                            O                                                  HO                      O
             H      NH2 H                                                                   H             H
                                                                                                     N - CH2 -CH - OH Cl
                                                                                                               CH2 - N - (CH3)3
           Nail polish
                                                                                                     CH2 - CH - (CH2) - CH3
                                                                                                              OH
                                                                                            surfaktan


Gambar 2.4 Turunan- turunan kitosan dalam penggunaan di bidang kosmetik




2.4 Kimia oleo

           Kimia oleo dihasilkan melalui pemecahan dan reaksi lanjutan dari minyak dan
lemak, asam lemak dan amina, misalnya turunan asam lemak dari metil esternya
(Ang et al., 1989).
         Produk–produk yang didasarkan pada kimia oleo adalah turunan kimia lemak
seperti pada diagram alur berikut.

 Bahan Dasar          Bahan Dasar Kimia Oleo           Beberapa Turunannya
 Minyak         dan Asam Lemak                         Sabun, Asil Klorida, Amida, Ester
 Lemak Alami
                       Alkohol         Amina           Etoksida,     Epoksida,    Alkanol
                      As. Lemak        As. Lemak       Amida
                      Metil Ester                      Sulfat, Sulfonat, Ester , Aldehida
                      Asam Lemak                       Ester, Amida, Aldehida, α-SFMe


                      Gliserin                         Alkid resin, Dinamit, Mono &
                                                       Digliserida
 Nafta
 Propilen
 Etilena
(Richtler, 1984)

         Keterangan    :         berasal dari minyak dan lemak alami
                       :         berasal dari produk petrokimia

         Beberapa kimia oleo dapat dihasilkan dari petrokimia. Perbedaanya adalah
bahwa kimia oleo alam diperoleh dari minyak dan lemak, kimia oleo sintetik dari
petrokimia misalnya alkohol asam lemak dari etilena dan parafin serta gliserin dari
propilena.

         Minyak dan lemak alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewani
memiliki asam lemak yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh minyak kelapa
sawit (palm karnel oil) yang berasal dari inti lembaga buah kelapa sawit.

         Minyak kelapa sawit kaya akan kandungan asam palmitat (41-47%) dan asam
oleat (37-40%), sedangkan minyak inti sawit relatif kaya dengan kandungan asam
laurat (40 – 55%) dan asam miristat (14-18%) yang mendekati komposisi asam lemak
yang dikandung minyak kelapa (Bhat, 1990).
         Komposisi kandungan asam lemak yang berbeda antara berbagai minyak dan
lemak alami menyebabkan penggunaannya juga berbeda dalam industri kimia oleo.
Asam palmitat (C15H31COOH), asam stearat (C17H35COOH), dan asam oleat
(C17H33COOH) bila dibandingkan dengan asam laurat (C11H23COOH), dan asam
miristat (C13H27COOH)       memiliki kedudukan sebagai bahan detergen pemantap,
maupun penggunaannya sebagai bahan kosmetika ( Shoog and Leary, 1992).

         Asam lemak merupakan turunan dari lemak atau minyak alami berupa rantai
panjang alifatis yang tidak bercabang dengan atom karbon minimal delapan buah.
Pada umumnya, asam lemak memiliki jumlah atom karbon yang genap. Hal ini
disebabkan oleh biosintesis yang melibatkan asetil koenzim A, suatu koenzim yang
terdiri dari dua atom karbon. Asam lemak terdiri atas asam lemak jenuh dan asam
lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang pada rantai
karbonnya tidak terdapat ikatan rangkap. Kata ”jenuh” pada asam lemak berhubungan
dengan jumlah hidrogen maksimum yang dapat diikat oleh atom karbon selain yang
terdapat pada gugus karboksilat (-COOH). Asam laurat adalah salah satu asam lemak
jenuh yang banyak ditemukan dalam minyak kelapa dan minyak inti sawit. Asam
laurat berupa serbuk berwarna putih dan dapat bersifat antimikroba. Walaupun asam
laurat dapat menyebabkan iritasi pada selaput lendir, tetapi asam laurat sering
digunakan dalam berbagai produk sabun atau sampo. Natrium Lauril Sulfat adalah
senyawa turunan asam laurat yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun dan
sampo.

         Asam laurat terdiri dari rantai hidrokarbon yang bersifat non polar (ekor) dan
gugus asam karboksilat yang bersifat polar (kepala). Adanya sifat polar dan non
polar, asam laurat dapat berinteraksi dengan pelarut polar dan lemak sehingga lemak
dapat larut dalam pelarut polar, dimana hal ini dapat dilihat pada sampo yang dapat
melepas minyak pada kulit kepala dengan bantuan air sebagai pelarut yang polar
(Harrison, 2007).

         Keuntungan lain dari minyak/lemak alami juga mengandung asam lemak
jenuh seperti asam palmitat, asam laurat, asam kaplirat (C7H15COOH), asam kaprat
(C9H19COOH), asam miristat dan asam stearat. Biarpun sebenarnya asam lemak jenuh
tersebut lebih banyak diproduksi secara sintetis dari olefin pada industri petrokimia,
akan tetapi asam lemak jenuh tersebut terdapat bersamaan dengan asam lemak tidak
jenuh dalam minyak/lemak alami                   bila dibandingkan dengan produk petrokimia,
dikarenakan asam lemak yang dikandung minyak/lemak alami terdiri atas berbagai
jenis asam lemak (Bhat, 1990).




2.4.1 ESTER ASAM LEMAK

       Yang dikelompokkan sebagai ester asam lemak meliputi:

a.     Ester karboksilat tunggal dengan panjang rantai karbon dari C6 sampai
       dengan C20.
b.     Ester asam lemak yang hanya mengandung C, H, dan O.
c.     Ester alkohol dari asam lemak termasuk juga dalam kelompok ester asam
       lemak.
Ester asam lemak dalam garis besarnya terbagi atas:
a.     Ester asam lemak dengan poliol,
b.     Etoksilat asam lemak dan ester, dan
c.     Ester alkohol tunggal

       Senyawa alkil asetat dapat dihasilkan dari reaksi esterifikasi suatu alkohol
monohidroksi maupun polihidroksi dengan asetat anhidrida (March, 1984). Hal ini
didukung dengan teori asam basa Person yang dikenal dengan teori HSAB (hard soft
acid base) dimana hard acid lebih kuat bereaksi dengan hard base dan soft base
dengan soft acid (Tse-Lok HO, 1997). Reaksinya dapat dilihat sebagai berikut:

                              O     O                         O



                R-OH +    CH3C - O - C - CH3            CH3 - C - OR + CH3COOH
                Alkohol       asetat anhidrida                           asam asetat
                                                          Alkil asetat




       Berdasarkan konsep diatas, maka apabila dilakukan reaksi antara suatu metil
ester asam lemak dengan suatu alkil asetat, dimana reaksinya dapat dilihat sebagai
berikut:
                      O              O                 O           O


                  R1-C-OCH3 + R2-O-C-CH3            R1-C-OR2 + CH3C-OCH3
                  metil ester alkil asetat                     metil asetat

               Dari reaksi diatas diketahui

                  O



       Bahwa   R1C+       yang soft acid dari metil ester bereaksi dengan R2 O- yang soft
                                                           O


base dari alkil asetat membentuk ester baru yaitu    R1-C-O-R2
                                                                         sedangkan CH3O-
                                                           O


dari metil ester yang hard base bereaksi dengan     CH3C+        yang hard acid dari alkil
asetat membentuk metil asetat (Tse- Lok HO, 1977).
                                       BAB 3
                             METODE PENELITIAN




3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
   -   Labu leher dua                                   Pyrex
   -   Termometer 210oC                                 Fisons
   -   Kondensor bola                                   Pyrex
   -   Rotarievaporator                                 Heidolph
   -   Hotplate stirer                                  Fisons
   -   Oven                                             Fisons
   -   Botol Aquades
   -   Magnetik bar
   -   Corong pisah                                     Pyrex
   -   Tabung CaCl2                                     Pyrex
   -   Spektrofotometer IR                              Shimadzu
   -   Alat vakum                                       Fisons
   -   Kertas saring                                    Whatman
   -   Neraca analitis                                  Mettler PM 480
   -   Gelas ukur                                       Pyrex
   -   Gelas erlenmeyer                                 Pyrex
   -   Statif dan klem
3.2 Bahan-bahan
   -   Kitosan                                          Sigma-Aldrich Germany
   -   Metanol                                          p.a. E. Merck
   -   Benzena                                          p.a. E. Merck
   -   n-Heksana                                        p.a. E. Merck
   -   Asam Sulfat 98%                                  p.a. E. Merck
   -   Akuades
   -   Asam Asetat Anhidrida                            p.a. E. Merck
   -   Asam Laurat (s)                                  p.a. E. Merck
   -   Asam Asetat Glatsial                             p.a. E. Merck
   -   Kalsium Klorida Anhidrous                        p.a. E. Merck
   -   Asam Sitrat (s)                                  p.a. E. Merck
   -   Natrium Metoksida (s)                            p.a. E. Merck
   -   Natrium Bikarbonat (s)                           p.a. E. Merck
   -   Asetaldehida                                     p.a. E. Merck
   -   Diklorometana                                    p.a. E. Merck




3.3 Prosedur Penelitian


3.3.1 Pembuatan Metil Laurat


       Sebanyak 17,6 gram (0,1 mol) asam laurat dimasukkan kedalam labu leher dua
yang dilengkapi dengan kondensor yang dialiri air dan ujungnya dihubungkan dengan
tabung yang berisi CaCl2 anhidrous dalam kapas, serta pengaduk magnet. Selanjutnya
ditambahkan 20 ml metanol dan 40 ml benzena. Melalui corong penetes sambil
diaduk diteteskan sebanyak 2 ml H2SO4 (p). Campuran direfluks selama 5 jam. Hasil
reaksi yang diperoleh diuapkan pelarutnya untuk menghilangkan benzena dan
kelebihan metanol yang digunakan. Residu dimasukkan kedalam corong pisah dan
dikestraksi dengan 200 ml n-Heksana. Lapisan atas dicuci dengan akuades,
ditambahkan CaCl2 anhidrous dan didiamkan selama 30 menit, kemudian disaring.
Filtrat hasil saringan diuapkan dan residu yang diperoleh adalah metil laurat,
kemudian dianalisis dengan spektroskopi infra merah.
3.3.2 Pembuatan senyawa aldimin kitosan


       Sebanyak 1 gram (~0.00096 mmol) kitosan dilarutkan dalam 100 ml asetat
1% dimasukkan ke dalam labu leher dua yang dihubungkan dengan kondensor yang
dialiri air. Melalui corong penetes diteteskan 3 ml asam asetat glatsial sambil diaduk
dengan pengaduk magnet. Setelah 1 jam, ditambahkan 2 ml (0,035 mol) asetaldehida
lalu direfluks pada suhu kamar selama 6 jam. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan
spektroskopi infra merah.


3.3.3 Pembuatan Kitosan Aldimin Asetat


       Sebanyak 2 gram (~0,00084 mmol) aldimin kitosan dimasukkan kedalam
labu leher dua, ditambahkan pelarut diklorometana 100 ml. Kemudian, dihubungkan
dengan kondensor yang ujungnya dihubungkan dengan tabung yang berisi CaCl2
anhidrous dalam kapas. Melalui corong penetes, kemudian ditetesi asetat anhidrida
sebanyak 2,16 gram (0,02 mol) sambil diaduk dengan pengaduk magnet, setelah itu
direfluks selama 6 jam. Hasil yang diperoleh, dimasukkan dalam corong pisah.
Lapisan bawah ditampung dan dicuci dengan akuades sebanyak dua kali, lalu disaring.
Residu yang diperoleh dan dikeringkan, kemudian dianalisis dengan spektroskopi
infra merah.


3.3.4 Pembuatan Kitosan Laurat


       Sebanyak 2 gram (~0,0014 mmol) kitosan aldimin asetat dan 19 gram (0,088
mol) metil laurat dimasukkan kedalam labu leher dua, ditambahkan 0,5 gram (0,01
mol) natrium metoksida sebagai katalis. Campuran direfluks selama 6 jam pada suhu
130-140oC. Hasil yang diperoleh, dimasukkan ke dalam corong pisah. Lapisan bawah
ditampung dan dicuci dengan larutan asam sitrat 20%, kemudian disaring dan
kelebihan asam sitrat dicuci dengan akuades sebanyak dua kali lalu disaring. Residu
yang diperoleh ditambahkan natrium bikarbonat yang diikuti pencucian dengan
akuades lalu dikeringkan. Kitosan laurat yang diperoleh dianalisis dengan
spektroskopi infra merah.
3.4 Bagan Penelitian
3.4.1 Pembuatan Metil Laurat

                            17,6 gram asam laurat

                                             Ditambah 20 ml metanol
                                             Ditambah 40 ml benzena
                                             Diaduk dan diteteskan 2 ml H2SO4

                                 Campuran


                                             Direfluks pada suhu 80oC selama 5 jam
                                             Dirotari evaporasi pada suhu 80oC


    Residu                                                          Pelarut


                 Diekstraksi dengan 200 ml n-Heksana
                 Dicuci dengan akuades


 Lapisan atas                                                   Lapisan bawah

                 Ditambah CaCl2 anhidrous dan didiamkan selama 30 menit
                 Disaring

     Filtrat                                                        Residu

                 Dirotari evaporasi



  Metil laurat                                                      Pelarut



Analisis FT - IR
3.4.2 Pembuatan Aldimin Kitosan



                         2 gram kitosan
                                          Ditambah 100 ml CH3COOH 1%
                                          Diaduk dan ditetesi 3 ml CH3COOH
                                          glatsial secara perlahan-lahan selama 1
                                          jam

                           Campuran


                                          Diteteskan 2 ml asetaldehida
                                          Direfluks pada suhu kamar selama 6 jam

                        Aldimin kitosan




                        Analisis FT-IR
3.4.4 Pembuatan Kitosan aldimin asetat


                          2 gram Aldimin kitosan
                                           Ditambah 100 ml diklorometana
                                           Diaduk dan ditetesi 2,16 g asetat
                                           anhidrida


                               Campuran


                                           Direfluks pada suhu 60oC selama 6 jam
                                           Dimasukkan dalam corong pisah


 Lapisan bawah                                                  Lapisan atas


               Dicuci dengan akuades
               Disaring


     Residu                                                        Filtrat

               Dikeringkan

Kitosan aldimin asetat



Analisis FT - IR
3.4.4 Pembuatan Kitosan Laurat


                        2 gram kitosan aldimin asetat
                                          Ditambah 0,5 gram natrium metoksida
                                          sebagai katalis
                                          Diaduk dan diteteskan 19 gram metil
                                          laurat

                             Campuran


                                          Direfluks pada suhu 130-140oC selama 6
                                          jam
                                          Dimasukkan kedalam corong pisah


Lapisan bawah                                                 Lapisan atas


             Dicuci dengan larutan asam sitrat 20%
             Disaring


   Residu                                                        Filtrat

             Dicuci dengan akuades



   Residu                                                        Filtrat

             Ditambahkan natrium bikarbonat dan akuades
             Disaring



   Residu                                                        Filtrat

             Dikeringkan

   Residu


Analisis FT-IR
                                      BAB 4


                          HASIL DAN PEMBAHASAN




4.1 Hasil
4.1.1 Kitosan


       Kitosan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan produk dari Sigma-
Aldrich Germany yang diperoleh dari kulit kepiting dengan derajat deasetilasi
minimum 77%.. Dari data spektroskopi FT-IR, spektrum kitosan memberikan puncak-
puncak serapan pada daerah bilangan gelombang (cm-1) 3431,1; 2877,6; 2146,6;
1637,5; 1419,5; 1380,9; 1323,1; 1074,3; 1035,7; 894,9 (gambar 4.1).




                Gambar 4.1 Spektrum FT-IR Kitosan
4.1.2 Metil Laurat

       Metil Laurat merupakan hasil reaksi esterifikasi antara asam laurat dan
metanol. Asam laurat yang digunakan merupakan asam laurat 98%. Dari 17,6 g asam
laurat yang digunakan untuk reaksi esterifikasi dengan metanol diperoleh 14,15 g
metil laurat. Dari data spektroskopi FT-IR, spektrum metil laurat memberikan puncak-
puncak serapan pada daerah bilangan gelombang (cm-1) 2923,9; 2854,5; 1743,5;
1458,1; 1365,5; 1118,6; 725,2 (gambar 4.2).




              Gambar 4.2 Spektrum FT-IR Metil Laurat

Bab 4.1.3 Kitosan Aldimin Asetat.

       Kitosan asetat merupakan hasil reaksi antara kitosan dengan asetat anhidrida.
Dimana gugus NH2 pada kitosan terlebih dahulu diproteksi dengan cara mereaksikan
kitosan dengan asetaldehida membentuk aldimin. Kemudian aldimin kitosan ini
direaksikan dengan asetat anhidrida dalam pelarut diklorometana, direfluks selama 6
jam pada suhu 60oC. Hasil refluks kemudian dipisahkan antara residu dan pelarut.
Residu dicuci dengan akuades sebanyak dua kali. Residu yang diperoleh berupa
kitosan asetat dikeringkan dan ditimbang sebesar 1,6 g yang selanjutnya dianalisis
strukturnya secara spektroskopi FT-IR. Dari data spektroskopi FT-IR, spektrum
aldimin kitosan memberikan puncak-puncak serapan pada daerah bilangan gelombang
(cm-1) 3448,5; 2923,9; 2854,5; 1558,4; 1427,2; 1380,9; 1072,3; 848.6 (gambar 4.3).




              Gambar 4.3 spektrum FT-IR Aldimin Kitosan

Sedangkan, spektrum FT-IR kitosan asetat memberikan puncak-puncak serapan pada
daerah bilangan gelombang (cm-1) 3448,5; 2962,5; 2893,0; 1635,5 ; 1558,4; 1380,9;
1319,2; 1118,6; 1072,3 ;948,9 (gambar 4.4).
              Gambar 4.4 Spektrum FT-IR Kitosan Aldimin Asetat

4.1.4 Kitosan Laurat

       Senyawa kitosan laurat merupakan senyawa ester yang dibuat dengan
mereaksikan kitosan asetat dan metil laurat dengan bantuan katalis natrium metoksida,
direfluks selama 6 jam pada suhu 130-140oC. Residu yang diperoleh dicuci dengan
natrium sitrat 20% dan diikuti penambahan natrium bikarbonat dan akuades lalu
disaring dan dikeringkan. Residu yang diperoleh berupa kitosan laurat sebesar 1,5 g
yang selanjutnya dianalisis strukturnya secara spektroskopi FT-IR. Hasil analisis
secara spektroskopi FT-IR memberikan spektrum dengan puncak-puncak serapan
pada daerah bilangan gelombang (cm-1) 3456,2; 2893,0; 2677,0; 1689,5; 1427,2;
1380,9; 1296,1; 1180,4 ; 1072,3; 709,8; 555,5 (gambar 4.5).
               Gambar 4.5 Spektrum FT-IR Kitosan Laurat

4.2 Pembahasan

4.2.1 Reaksi antara Asam Laurat dengan Metanol

       Reaksi asam laurat dengan metanol menghasilkan metil laurat merupakan
reaksi esterifikasi. Reaksinya sebagai berikut:

                        O
                                                             O
                                        H2SO4
              C11H23C - OH + CH3OH                C11H23C - OCH3 + H2O

                asam laurat   metanol              metil laurat

       Reaksi esterifikasi antara asam laurat dan metanol terjadi dengan adanya
bantuan katalis asam yaitu asam sulfat. Tahap reaksinya diawali dengan protonasi
terhadap gugus karbonil pada asam laurat sehingga menaikkan muatan positif pada
atom karbon karbonil dan menjadikannya sasaran baik bagi serangan nukleofil. Adisi
nukleofil oleh metanol terhadap asam laurat yang telah diprotonasi akan membentuk
ikatan C-O yang baru (ikatan ester). Selanjutnya, terjadi kesetimbangan dalam suasana
asam dimana oksigen-oksigen melepas atau mendapatkan proton serta terjadinya
protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil yang mengakibatkan pemutusan ikatan
C-O dan lepasnya air. Pada akhir reaksi ester yang berproton melepas protonnya(Hart,
1990). Mekanisme reaksi diperkirakan sebagai berikut sebagai berikut:


                                  +              -
                                                                                 O-H
     O                             O-H               HSO4        OH

                                                            C11H23C - OH   C11H23C - O - H
C11H23C - OH + H - HSO4       C11H23C - OH + CH3 - OH
                                                                                     H
 asam laurat                                     metanol                      CH3O
                                                            CH3 - O - H
                  -
                  HSO4                       O

C11H23C = O - H       + H2O     C11H23C - OCH3 + H2SO4

   CH3O                       metil laurat

          Dari hasil analisis spektroskopi FT-IR, spektrum metil laurat (gambar 4.2)
memberikan puncak-puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 2923,9 cm-1
dan 2854,5 cm-1 menunjukkan vibrasi stretching dari C-H sp3 serta didukung dengan
daerah bilangan gelombang 1458,1 cm-1 dan 1365,5 cm-1 yang menunjukkan vibrasi
bending dari C-H sp3 dan C-H sp2. Munculnya puncak serapan pada daerah bilangan
gelombang 1743,5 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi stretching gugus karbonil C=O
dari ester dan didukung oleh puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 1118,6
cm-1 menunjukkan vibrasi stretching C-O-C dari ester serta didukung vibrasi dari alkil
rantai panjang pada daerah bilangan gelombang 725,2 cm-1 yang mengidentifikasikan
terbentuknya metil laurat.




4.2.2 Reaksi antara Kitosan dengan Asetat anhidrida

          Reaksi antara kitosan dengan asetat anhidrida menghasilkan senyawa ester
yang merupakan kitosan asetat. Dalam hal ini kitosan terlebih dahulu direaksikan
dengan asetaldehida membentuk aldimin.

Reaksi diperkirakan sebagai berikut :
   HOH2C                                       HOH2C                                O      O
   H             H                             H           H
  O                   O             CH3CHO                     O
                                              O                               CH3 - C - O - C - CH3
  HO                           O              HO                      O
         H           NH2                                    N
                           H        n                 H         H         n
                                                           HC
      kitosan
                                                            CH3
                                                    aldimin kitosan
                           O

                CH2 - O - C - CH3
    H             H
  HO                  O
                                        + CH3COOH
   HO                          O
          H       N   H             n
                 HC
                  CH3

        kitosan asetat



         Aldimin kitosan ini kemudian direaksikan dengan asetat anhidrida dalam
pelarut diklorometana dengan kondisi refluks. Senyawa anhidrida seperti asetat
anhidrida termasuk ke dalam elektron sink yang baik dan bersifat reaktif apabila
adanya serangan suatu nukleofil yang menyebabkan pecahnya ikatan pada C-O-C
anhidrida. Dari reaksi antara aldimin kitosan dan asetat anhidrida, pasangan elektron
bebas dari oksigen pada gugus alkohol posisi C-6 yang bersifat nukleofil dari aldimin
kitosan akan bereaksi dengan gugus asil pada senyawa asetat anhidrida dalam pelarut
diklorometan akan menghasilkan senyawa kitosan O-asetat. Mekanisme reaksi
diperkirakan sebagai berikut:
                                                                                                             HOH2C
         O                                                              O-H
                                                                                                             H                 H
                                                                                                         O                         O
CH3 - C - H           CH3COO - H                                   CH3 - C - H       +
                                                                                                         HO                                         O
                                                                                                                     H             N-HH

                                                                                                                               H


     HOH2C                                                                               HOH2C
     H                H                                                                  H           H
                             O                                                       O                   O
  O

  HO                                                                                 HO                                  O
                                             O
                          NH - H                                                             H       N - HH
             H

                                                                                                             C H - OH              CH3COO - H
                             C H - OH                CH3COO

                             CH3                                                                             CH3


                     HOH2C                                                                       HOH2C
                     H                       H                                                   H               H
                                                 O                                           O                        O
                     O

                     HO                                                                      HO                                     O
                                                             O
                                             N-H                                                         H           N - HH
                                 H

                                                 C H - OH2            CH3COO                                          CH
                                                                                                                                       CH3COO
                                                                                                                      CH3
                                                 CH3

                 HOH2C
                 H                       H
                 O                           O

                 HO                                      O           + H2O + CH3COOH
                             H           N           H
                                         CH

                                         CH3


                                                                                                                                                H O          Ο
         HOH2C                                                                                                                           CH2O - C - O - C - CH3
         H                H                                           O          O
                                                                                                                          H                 H
      O                          O
                                                                                                                         O                      O CH3

      HO                                                 +       CH3 - C - O - C - CH3
                                                 O                                                                       HO                                 O
                 H           N           H                                                                                                  N
                                                                                                                                   H                    H
                             CH                                                                                                             CH
                             CH3                                                                                                            CH3



                                                                                                                                        O
                             H O

                     CH2O - C                                                                                            CH2 - O - C - CH3
  H                  H                                                                               H                     H
 O                        O CH3                                                                      O                         O
                                                                                                                                                            + CH3COOH
 HO                                          O               CH3COO                                  HO                                         O
             H           N                                                                                       H         N   H
                                     H
                                                                                                                          HC
                         CH
                                                                                                                           CH3
                         CH3
                                                                                                         kitosan asetat
       Terbentuknya aldimin kitosan dan kitosan asetat diidentifikasi dengan
spektroskopi FT-IR. Dari hasil analisis spektroskopi FT-IR, spektrum aldimin kitosan
(gambar 4.3) memberikan puncak-puncak serapan pada daerah bilangan gelombang
2923,9 cm-1 dan 2854,5 cm-1 menunjukkan vibrasi stretching dari C-H sp3. Munculnya
puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 3448,5 cm-1 menunjukkan vibrasi
stretching gugus O-H dari kitosan dan puncak serapan pada daerah bilangan
gelombang     1558,4        cm-1 menunjukkan              vibrasi    stretching       dari   C=N         yang
mengidentifikasikan terbentuknya aldimin kitosan. Sedangkan, spektrum                                   FT-IR
kitosan asetat (gambar 4.4) memberikan puncak serapan pada daerah bilangan
gelombang 1635,5 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi stretching gugus karbonil C=O,
serta didukung oleh puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 1118,6 cm-1
menunjukkan vibrasi stretching C-O-C dari ester. Dalam hal ini, vibrasi stretching
gugus karbonil yang muncul saling tumpang tindih dengan gugus karbonil pada
asetamida yaitu pada 1740 – 1630 cm-1 yang didukung oleh munculnya puncak
serapan N-H bending asetamida pada 1257,5 cm-1. Pada spektrum FT-IR kitosan
asetat ini masih ditemukan puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 1558,4
cm-1 yang menunjukkan vibrasi stretching dari C = N aldimin (Silverstein, 1981).

4.2.3 Reaksi antara kitosan asetat dengan metil laurat

Reaksi antara kitosan asetat dan metil laurat menghasilkan kitosan laurat

Reaksi diperkirakan sebagai berikut :

                        O                                                               O

            CH2 - O - C - CH3                                                CH2 - O - C - C11H23
   H          H                                                     H          H
 HO                O                                            HO                 O
                                                      NaOCH3                                        NaHCO3
                                   + C11H23COOCH3
  HO                        O                         refluks       HO                       O
        H     N                        metil laurat                               N
                  H                n                                     H              H           n
             HC
              CH3                                                                 CH - CH3
  kitosan asetat
                        O

            CH2 - O - C - C11H23
   H          H
 HO                O

  HO                        O
        H         NH2
                        H          n
       kitosan laurat
          Senyawa kitosan laurat yang diperoleh merupakan hasil dari reaksi
transesterifikasi antara kitosan asetat dan metil laurat dengan bantuan katalis natrium
metoksida dalam kondisi refluks.

               Hal ini didukung berdasarkan teori HSAB, dimana C11H23C+O dari metil
laurat merupakan elektrofilik yang hard acid, akan tetapi lebih lunak bila
dibandingkan dengan CH3C+O dari kitosan asetat. Demikian juga CH3O- dari meti
laurat merupakan nukleofilik yang hard base akan tetapi lebih keras bila dibandingkan
dengan RCH2O- dari kitosan asetat. Sehingga, gugus asil C11H23C+O dari metil laurat
akan bereaksi dengan RCH2O- dari kitosan asetat membentuk kitosan laurat dan
CH3C+O dari kitosan asetat akan bereaksi dengan CH3O- dari metil laurat membentuk
metil asetat (Smith,1994; Brahmana,1991).
          Berdasarkan dukungan teori ini maka mekanisme reaksi transesterifikasi antara
kitosan asetat dan metil laurat dapat diperkirakan sebagai berikut ( Ginting, 1999)
                                   O                                                                                             O


                  CH2 - O - C - CH2                                                                          CH2 - O - C - CH2
                                                           OCH3
      H                H                      H                                              H                    H
   O                       O                                                              O                              O
              H                                                                                          H                                           H OCH3
   HO                                         O                                          HO                                              O
           H           N              H                                                              H               N           H

                       CH                                                                                            CH

                       CH3                                                                                           CH3


                                                                                                                                     O           O
                                  O

              CH2 - O - C - CH2                                                                                  CH2 - O - C - CH2 - C - C11H23
                                                                  O                              H                       H
   H               H                                                                                                         O
  O                       O                                                                   O                                                  OCH3
          H                                                                                                  H
                                                       + C11H23 - C - OCH3                    HO                                             O
  HO                                       O
                      N                                                                                      H           N           H
          H                       H
                                                                                                                                                 H OCH3
                      CH                                                                                                 CH
                                                   H OCH3

                      CH3                                                                                                CH3


                                                   O         O                                                               O               O

                                  CH2 - O - C - CH2 - C - C11H23
                                                                                                         CH2 - O - C - CH2 - C - C11H23
                  H                    H
               O                              O                                          H                       H
                                                                                         O                           O       OCH3
                              H                                   OCH3
               HO                                      O                                             H
                                                                                         HO                                          O
                           H              N        H
                                                                                                     H           N           H

                                          CH                  H OCH3                                                                             H OCH3
                                                                                                                 CH
                                          CH3
                                                                                                                 CH3
                                                                                                                                         O

                                  CH2 - O                                                                                CH2 - O - C - C11H23
                                                                  O          O
                  H                       H                                                              H                   H
                  O                            O                                                                                         CH2 - C = O
                                                                                                     O                               O
                              H                                   C - CH2 - C - C11H23                                                                OCH3
                                                                                                                     H
                  HO                                    O                                            HO                                          O
                              H           N        H                                                                 H           N
                                                                  OCH3                                                                   H

                                          CH                                                                                  CH
                                                            H OCH3                                                                               H OCH3
                                          CH3                                                                                 CH3
                                               O                                                                                                  O

                               CH2 - O - C - C11H23                                                                                    CH2 - O - C - C11H23
               H                   H
                                       O                                                                                   H              H
               O                                                                                                          O                   O
                           H                                                                                                       H
               HO                                   O           CH2 - C =O                                                HO                              O
                           H       N           H                                                                                          N
                                                                                                                                  H                   H
                                                                         OCH3
                                   CH                                                                                                     CH
                                                            H OCH3
                                   CH3                                                                                                    CH3

                   O

         + CH3 - C - OCH3              + OCH3




                           O
                                                                                                         O
               CH2 - O - C - C11H23
                                                                                              CH 2 - O - C - C11H23
    H              H                                    O
                       O                                                     H                  H
HO                                                                                                  O
                                                                         HO                                           H OH
                                           + Na - O - C - O - H
    HO                             O                                         HO                               O
          H         N          H           n                                          H          N       H            n
                    CH - CH3
                                                                                                 CH - CH3
                                                                                                 O - C - OH
                           O
                                                                         O                           O                                            O
               CH2 - O - C - C11H23
    H              H                                          CH2 - O - C - C11H23                                                     CH2 - O - C - C11H23
HO                     O                            H           H                                                          H             H
                                                   HO                O                                   O                HO                  O
    HO                             O
                    NH                             HO                             O           H -O - C - O - H            HO                              O
          H                    H           n
                                                        H        NH                                                               H        NH2 H
                                                                         H                n                                                                   n
                    CH - CH3
                            OH                                   CH - CH3
                                                                                                                               kitosan laurat
                    O - C - OH
                                                                 O
                           O
           O                           O

+    CH3 - C - H + Na - O - C - O - H


Smith,B.M.1994. Organic Synthesis. Volume II. New York: Mc Graw Hill
International edition.

           Hasil analisis spektroskopi FT-IR, spektrum kitosan laurat (gambar 4.5)
memberikan puncak-puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 3456,2 cm-1
menunjukkan vibrasi stretching gugus O-H dari kitosan yang saling tumpang tindih
dengan vibrasi stretching N-H dari kitosan dan munculnya puncak serapan pada
daerah bilangan gelombang 1689,5 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi stretching gugus
karbonil C=O, vibrasi C=O karbonil yang diperoleh lebih rendah dari vibrasi C=O
karbonil khas pada ester, yaitu 1740 cm-1; ini disebabkan karena adanya tumpang
tindih vibrasi bilangan gelombang antara vibrasi C=O karbonil asetamida dari
senyawa kitosan yang masih mengandung gugus asetamida dengan vibrasi C=O
karbonil ester dari kitosan laurat. Rendahnya serapan vibrasi C=O karbonil yang
diperoleh juga disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen intermolekul dalam struktur
kitosan laurat.
                       O                   H

             CH2 - O - C - C11H23       H- N

                  O         O       H              O
             H
   O                                      O
         H
                                    CH2 - O - C - C11H23
                 H-N
                   H                           O


Ikatan hidrogen ini menyebabkan lemahnya ikatan C=O, sehingga mempengaruhi
penyerapan bilangan gelombang pada vibrasi C=O karbonil menjadi lebih rendah
dibandingkan vibrasi C=O karbonil khas pada ester, yaitu 1740           cm-1. Hal ini
didukung oleh literatur yang menyebutkan bahwa adanya ikatan hidrogen
intermolekul dalam suatu struktur akan mengurangi penyerapan pada bilangan
gelombang pada gugus karbonil C=O dalam bentuk monomer dan dimer yaitu
menjadi 1710-1680 cm-1(Silverstein,1991), dan didukung oleh puncak serapan pada
daerah bilangan gelombang 1180,4 cm-1 yang menunjukkan vibrasi stretching C-O-C
dari ester serta didukung vibrasi dari alkil rantai panjang pada daerah bilangan
gelombang 709,8 cm- dimana vibrasi dari alkil rantai panjang ini mengalami overlap
(saling tumpang tindih)1 , dengan vibrasi bending N-H pada 909-666 cm-1 (Silverstein,
1981).

         Dari hasil analisis FT-IR antara kitosan asetat dan kitosan laurat, gugus CH3
pada kitosan asetat telah tergantikan oleh gugus (CH2)n dari metil laurat dengan
munculnya puncak serapan vibrasi alkil rantai panjang pada bilangan gelombang
709,8 cm-1.
                                       BAB 5


                          KESIMPULAN DAN SARAN




5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

   1. Esterifikasi asam laurat sebanyak 17,6 gram dengan 20 ml metanol dalam
       pelarut benzen dan dengan bantuan katalis H2SO4 diperoleh metil laurat
       sebesar 141,5 gram.
   2. Kitosan asetat dihasilkan melalui reaksi antara kitosan dengan asetat anhidrida
       dalam pelarut diklorometana dan dalam kondisi refluks selama 6 jam. Dimana,
       gugus amin dalam kitosan diproteksi terlebih dahulu dengan menggunakan
       asetaldehida sebagai gugus pelindung membentuk aldimin.
   3. Transesterifikasi antara kitosan asetat dan metil laurat dilakukan dengan
       bantuan katalis natrium metoksida dan dalam kondisi refluks. Pada akhir
       reaksi dilakukan deproteksi terhadap gugus pelindung dengan menambahkan
       natrium bikarbonat pada hasil reaksi yang selanjutnya dianalisis dengan
       spektroskopi infra merah.



5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya :

       Melakukan uji HLB untuk melihat pemanfaatan kitosan laurat dalam bidang
kosmetik.
                               DAFTAR PUSTAKA




Agusnar, H. 2006. Penggunaan Kitosan dan Turunannya sebagai Penyalut Silika Gel

        dan Filter Fiber Glass Untuk Menyerap Logam Ni dan Cr Dalam Sistem

        Aquatik dengan Ekstraksi Fasa Padat. Disertasi, Medan: Universitas

        Sumatera Utara.


Ang, A.S.H., et al. 1989. “Oleochemicals from palm oil and Palm Karnel Oil”. Dalam

       ELAESIS.


Alsalvar, C., dan Taylor, T. 2002. Seafoods-Quality, Rechnology and nutraceuticals

       Applications. Berlin: Springer


Bastaman, S. 1989. Studies on Degradation and Extracktion of Chitin and Chitosan

       from Prawn Shells. England: The Queen’s University of Belfast.


Bhat, S.G. 1990. Oleic Acid- A Value Added Produck from Palm Oil. Proc. Of 1989,

       Int.P.O. Dev.Conference Chemistry,Technologt and marketing, Porin, Kuala

       Lumpur. Malaysia. 130.


Duke, S.F., Floyd A.J., Sainsbury M. and R.S Theobald. 1978. Organic Spectroscopy

       An Introduction London: Longman.


Dutta, P.K. 2006. Chitin & Chitosan: The Spectacular Worldof Bio-Macromolecules.

       India: Departement of Chemistry Motilal Nehru National Institute of

       Technology Allahabad.


Ginting, H.D.,1999. Proses Transesterifikasi Mentega Coklat dengan Minyak Kelapa

       dalam Pembentukan Bahan Penyalut Coklat. Skripsi. Medan.
Harison,   K.   2007.   Dodecanoic    acid,   Lauric   acid,   Saturated   fatty   acid.

        http://www.3dchem.com/moremolecules.asp?ID=392&othername=Lauric%2

        0acid. Diakses tanggal 20 Januari 2008.


Hart, H. 1990. Kimia Oraganik. Jakarta: Erlangga.


Kaban, J. 2007. Studi Karekteristik dan Aplikasi Film Pelapis Kelat Logam Alkali

        Tanah Alginat-Kitosan. Disertasi. Medan.


Kemit, R. 1995. Sintesa Ester Kitosan Oleat dari Hasil Reaksi Esterifikasi

        Klorokitosan dengan Natrium Oleat. Skripsi. Medan.


Kumar, M.N.V.R. 2000. A Review of Chitin and Chitosan Application. Reactive &

        Functional Polymers 46(1): hal 27.


March,J. 1984. Advanced Organic Chemistry.             International Student Edition

        .Singapura: Mc. Graw Hill. International Book Co.


Onsoyen, E. and . and Skaugrud, O. 1990. Metal Recovery Using Chitosan. J. Chem.

        Technol. Biotechnol. Vol 49. pp. 395-404.


Rudall, K.M. and W. Kenchington. 1973. The Chitin System Biology. Review 49 :

        497.


Richtler,H.J. and Knault, J. 1984. Challenges To A Nature Industry, Marketing and

        Economics of Oleochemicals in Western Europe. J.am.oil. chem..soc. vol. 61


Shoog, D.A. and J.J. Leary. 1992. Principles of Instrumental analysis. Fourth Edition.

        London: Saunders college Publishing.
Silverstein, R.M., Bassler, G.C. and Terence C.M. 1981. Spectrometric Identification

        of Organic Compounds. Fourth Edition. New York: John Wiley & Sons.


Singh,A., S.S., Narvi., P.K. Dutta. and d. Pandey. 2005. External Stimuli Response on

        A Novel Chitosan Hydrogel Crosslinked with Formaldehyde. India:

        Department of Chemistry Motilal Nehru National Institute of Technology

        Allahabad.


Skjak-Braek, G., Anthonsen, T. and Sandford, P. 1989. Chitin and Chitosan : Sources,

        Chemistry, Bochemistry, Physical Properties and Applications. London:

        ElSevier Applied Science.


Swern, D.1982. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Fourth Edition. Volume 2.

        New York: John Wiley & Sons.


Synowiecki, J. and N.A . Al-Khateeb. 2003. Production, Properties and Some New

        Application of Chitin and its Derivatives. Critical Review in food Science and

        Nutrition, 43(2); hal 145-171.


Tharanathan, R.N. and F.S. Kittur. 2003. Chitin : The Undisputed Biomolecule of

        Great Potential. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 43(1);

        ProQuest Medical Library.


Tse-Lok-Ho. 1997. Hard and Soft Acids and Bases Principles in Organic Chemistry.

        London: Academic Press.