Docstoc

Proposal Block Grant Olahraga

Document Sample
Proposal Block Grant Olahraga Powered By Docstoc
					                DIREKTORAT KELEMBAGAAN
          DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI


PENDAHULUAN
Peraturan Mendiknas No. 15/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi menyebutkan bahwa Direktorat Kelembagaan
mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan,
pembinaan, pengembangan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan
evaluasi di bidang kelembagaan perguruan tinggi
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Peraturan
Mendiknas tersebut, Direktorat Kelembagaan menyelenggarakan fungsi:
   a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang kelembagaan
      pendidikan tinggi;
   b. penyiapan perumusan standar, kriteria, pedoman, dan prosedur di bidang
      kelembagaan perguruan tinggi;
   c. pelaksanaan pembinaan kelembagaan, kegiatan kemahasiswaan,
      fasilitasi perbantuan kepada perguruan tinggi, kerjasama dan
      pemberdayaan perguruan tinggi;
   d. pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang
      kelembagaan perguruan tinggi;
   e. pelaksanaan urusan ketatausahaan Direktorat.

Berdasarkan tugas pokok dan fungsi tersebut di atas, dan memperhatikan
kondisi kelembagaan perguruan tinggi di Indonesia saat ini yang berjumlah lebih
dari 2700 buah dengan kapasitas dan kemampuan pengelolaan yang sangat
beragam, Direktorat Kelembagaan menetapkan visi dan misi serta tujuan/objektif
sebagai berikut:

Visi:
Terwujudnya Kelembagaan Perguruan Tinggi yang otonom, sehat dan berdaya
saing global

Misi:
Mewujudkan kelembagaan pendidikan tinggi yang otonom dan sehat yang
mampu menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing
global, serta mampu memperbesar pemerataan dan akses pendidikan tinggi bagi
masyarakat

Tujuan/Obyektif:
   1. Memperbesar Pemerataan dan akses
       Memperbesar akses ke pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang
        mampu



                                                                               1
         Meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengelolaan PT dalam
          rangka memperluas akses
         Meningkatan peran serta masyarakat
   2. Meningkatkan Mutu, Relevansi & Daya Saing
       Meningkatkan jumlah PT yang memenuhi standar internasional
        pendidikan
       Meningkatkan jumlah PT unggulan
       Meningkatkan jumlah kegiatan kemahasiswaan yang dapat
        berkompetisi secara regional & internasional
       Meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui kegiatan non akademik
       Meningkatkan jumlah dan kualitas staf pengajar/pendamping
        kemahasiswaan
   3. Memperbaiki Governance, Akuntabilitas & Pencitraan Publik
       Meningkatkan tata kelola Direktorat Kelembagaan
       Meningkatkan kualitas pelayanan Direktorat Kelembagaan
       Meningkatkan jumlah PT yang berbadan hukum
       Meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengelolaan PT

Strategi Pencapaian:
   1. Memperbesar Pemerataan dan akses
       Meningkatkan bantuan beasiswa kepada mahasiswa kurang mampu
       Menjalin kerjasama dengan pihak industri, pemerintah daerah dan
        instansi lain
       Mendorong PT yang sudah siap untuk memperbesar jumlah
        mahasiswa asing
   2. Meningkatkan Mutu, Relevansi & Daya Saing
       Mendorong PT untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan
        pegelolaannya dengan memberikan bimbingan dan block grant
       Mensosialisasikan model dan metode peningkatkan softskill
        mahasiswa
       Memperbesar jumlah mahasiswa penerima beasiswa berprestasi
       Mendorong PT untuk meningkatkan kerjasama antar PT dan dengan
        instansi lain
       Meningkatkan populasi mahasiswa asing pada 20 PT terbaik
   3. Memperbaiki Governance, Akuntabilitas & Pencitraan Publik
       Menyiapkan diri untuk dapat meraih ISO 9001
       Memberikan insentif dan asistensi untuk PT yang akan menjadi BHP
       Menyiapkan perguruan tinggi sesuai standar pengelolaan pendidikan
        tinggi
       Menyiapkan peraturan perundang-undangan kelembagaan pendidikan
        tinggi




                                                                          2
Hasil yang ingin dicapai:
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dalam Rencana Strategisnya telah
menetapkan sasaran yang harus dicapai, yang berkaitan dengan tugas dan
fungsi Direktorat Kelembagaan, sebagai berikut:

                                                         Tahun
             KOMPONEN
                                          2006    2007       2008     2009
 Bantuan bagi mahasiswa miskin (% mhs)    8,5    12,5        15       20
 Mahasiswa asing pada PT terbaik (%)       2       3          4        5
 Jurusan PT masuk 100 besar Asia/ Dunia    1       2          3        4
 Jumlah PTN menjadi BHPT (%)               -      10         20       40
 Memperoleh ISO 9001                       -       -       ISO 9001

Untuk mencapai target tersebut, sejak tahun 2006 telah disusun Program Utama
yang berkelanjutan yaitu:
A. Penataan Kelembagaan Perguruan Tinggi
B. Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan
C. Penguatan Kelembagaan Perguruan Tinggi Dan Perintisan Perguruan Tinggi
   Bertaraf Internasional
Kegiatan-kegiatan yang mendukung Program Utama tersebut di atas diuraikan
secara rinci berikut ini.


PROGRAM-PROGRAM TAHUN 2008

A. PENATAAN KELEMBAGAAN PERGURUAN TINGGI
Dewasa ini jumlah perguran tinggi di Indonesia sudah mencapai lebih dari 2700
buah baik berupa universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, maupun akademi
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat. Jumlah tersebut
menggambarkan cukup besarnya upaya pembinaan dan pengembangannya.
Kedepan perguruan tinggi dihadapkan kepada tantangan yang besar: bagaimana
upaya meningkatkan dirinya dalam bidang manajerial, menata dirinya menjadi
perguruan tinggi yang sehat dan memiliki daya saing tinggi. Dalam rangka
penataan perguruan tinggi secara menyeluruh, pemerintah telah memberikan
kebijakan otonomi dan sudah 7 perguruan tinggi berubah status menjadi Badan
Hukum Milik Negara (BHMN). Bahkan, pemerintah besama DPR sedang
merampungkan Undang-Undang BHP. Artinya, diharapkan seluruh perguruan
tinggi pada saatnya nanti akan berubah status menjadi BHP.
Pada kenyataannya perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat
relatif lebih banyak menghadapi berbagai permasalahan baik internal maupun
eksternal. Konflik yayasan pengelola cukup dominan dan persaingan kualitas
justru membuka peluang untuk terjadinya pelanggaran norma penyelenggaraan
pendidikan tinggi disebabkan oleh semakin tingginya kesadaran masyarakat


                                                                                3
pendidikan khususnya bagi calon mahasiswa untuk menentukan          pilihan
perguruan tinggi. Sementara itu, pemerintah dalam hal ini Ditjen Pendidikan
Tinggi untuk sementara tidak membuka perguruan tinggi baru terkecuali
politeknik.
Dalam upaya pembinaan dan regulasi peningkatan kualitas sistem dan hasil
pendidikan tinggi disusunlah program-program dengan tujuan:
1. Menyiapkan bahan kebijakan teknis, Pembinaan dan penataan Kelembagaan
   Pendidikan Tinggi;
2. Melaksanakan pengendalian kelembagaan perguruan tinggi khususnya
   dalam hal kuantitas;
3. Mengentaskan berbagai permasalahan penyelenggaraan pendidikan tinggi;
4. Mewujudkan ketersediaan data dan informasi kelembagaan perguruan tinggi
Kegiatan ini diarahkan pada seluruh perguruan tinggi yang berada di bawah
naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan
Nasional, yang meliputi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah
atau Masyarakat, yang berbentuk Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik
dan Akademi.

A.1. Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi
Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk sementara waktu tidak
membuka pendirian perguruan tinggi baru. Dengan demikian perguruan tinggi
yang diselenggarakan masyarakat lebih diarahkan pada upaya-upaya:
penggabungan (merger), alih kelola yayasan, alih binaan dari departemen lain ke
Depdiknas, pindah lokasi dari kota besar (Provinsi) ke daerah (kabupaten) dan
perubahan nama atau bentuk perguruan tinggi. Sedangkan bagi perguruan tinggi
pemerintah, upaya pengembangan akademik berupa pembukaan program
studi/jurusan/fakultas diserahkan kepada perguruan tinggi masing-masing
dengan konsekuensi pembiayaan secara mandiri.
Dinamika perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen
dan organisasi, kebutuhan pasar kerja; cukup berpengaruh kepada eksistensi
perguruan tinggi Indoensia. Dalam hubungan ini, organisasi dan tata kerja dan
Statuta perguruan tinggi juga mengalami perubahan AD/ART perguruan tinggi
secara besar-besaran.

A.2. Pengentasan Masalah Kelembagaan Perguruan Tinggi
Dalam rangka pengendalian kualitas pendidikan tinggi Ditjen Dikti khususnya
dalam hal penyelenggaraan pendidikan, sudah hampir 15 tahun melakukan
edaran larangan penyelenggaraan perkuliahan dengan model ”kelas Jauh”,
Sabtu-Minggu, Eksekutif, Kelas Khusus” secara terus menerus. Pada
kenyataannya masih banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakannya.
Konflik ditubuh yayasan maupun konflik di perguruan tingi masih sering terjadi.
Bahkan penanganannya sampai ke pengadilan. Dengan demikian Ditjen




                                                                               4
Pendidikan Tinggi terlibat dalam posisinya sebagai saksi ahli akan tetapi juga
sebagai tergugat.

A.2. Pendataan Kelembagaan Perguruan Tinggi
Semua proses penataan kelembagaan dikelola dan didata untuk dijadikan bahan
pengembangan selanjutnya.
Untuk melaksanakan ketiga rencana program di atas dilakukan melalui
mekanisme sebagai berikut.
a. Koordinasi dengan instansi terkait seperti Biro Hukum dan Organisasi
   Depdiknas, Inspektorat Jendral Depdiknas, Kopertis, perguruan tinggi dan
   instansi terkait lainnya.
b. Kajian dan telaah masalah mengacu kepada peraturan perundang-undangan,
c. Melakukan penelitian lapangan berupa supervisi dan klarifikasi langsung,
d. Menjadi saksi ahli baik dalam proses BAP Kepolisian dan persidangan
e. Proses administratif penataan kelembagaan perguruan tinggi
f. Pencatatan dan pengolahan data kelembagaan perguruan tinggi.
g. Pedoman pendampingan untuk penerapan organisasi Badan Hukum
   Pendidikan di lingkungan perguruan tinggi.
Waktu pelaksanaan serangkaian rencana program di atas dilaksanakan
sepanjang tahun.


B. PENGEMBANGAN KEGIATAN KEMAHASISWAAN

B.1. Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan Melalui Unit Kegiatan
     Kepramukaan, Unit Bela Negara (Resimen Mahasiswa), Unit
     Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), Unit KSR-PMI Mahasiswa.
Kegiatan kemahasiswaan yang dilaksanakan oleh UKM Kepramukaan, Menwa,
Mapala, dan KSR-PMI pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu
membentuk karakter dan jati diri seseorang, khususnya mahasiswa. Namun
dalam pelaksanaan kegiatan setiap UKM mempunyai ciri khas masing-masing.
1. Kegiatan “Jambore Pramuka Mahasiswa Tingkat Nasional”.
   Kegiatan kepramukaan mempunyai ciri khas, yaitu melakukan kegiatan
   dengan mengadakan kemah di alam terbuka. Hal ini merupakan salah satu
   cara yang efektif dalam proses pembentukan watak dan kepribadian,
   pemantapan mental/moral spiritual, fisik, intelektual, emosional dan sosial
   manusia (mahasiswa). Hidup dalam perkemahan di alam terbuka yang jauh
   dari kota (tempat tinggal) yang penuh dengan kemudahan, kemewahan,
   ketergantungan, mendorong peserta/kaum muda untuk menyadari
   (introspeksi) tentang apa yang perlu dan nyata dalam kehidupan ini. Oleh
   karena itu kegiatan kepramukaan melalui kemah merupakan bentuk aktifitas
   yang rekreatif tetapi bersifat edukatif yang dijadikan bagian kegiatan
   kepramukaan yang esensial dalam proses pendidikan. Kegiatan ini
   merupakan kegiatan dua tahunan dan pada tahun 2007 kegiatan tersebut


                                                                            5
  telah dilaksanakan di Universitas Negeri Gorontalo, dan tahun 2009 akan
  dilaksanakan di Universitas Lampung.
2. Kegiatan “Temu Wicara dan Kenal Medan, Mapala (Mahasiswa Pecinta
   Alam) Tingkat Nasional”
  Kegiatan Mapala mempunyai ciri khas dengan mendekatkan aktifitasnya di
  lingkungan alam semesta, seperti mendaki gunung, arung jeram, dan
  kegiatan sejenis lainnya. Hal ini merupakan bentuk kegiatan yang diharapkan
  dapat menyatukan antara energi manusia dengan alam. Seperti yang terjadi
  akhir-akhir ini hampir di seluruh wilayah Indonesia terjadi bencana alam yang
  cukup membuat derita masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa alam sudah
  tidak bersahabat lagi dengan kehidupan manusia, dan dimungkinkan karena
  tidak mampunya manusia memelihara alam ini dengan baik. Selain itu
  dengan aktifitas di alam pedalaman, mahasiswa akan lebih mudah untuk
  introspeksi diri, yang dapat membentuk sifat manusia untuk saling
  menghormati diantara sesama, walaupun berbeda agama, suku, ras, maupun
  Negara. Pada tahun 2007 kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Universitas
  Lambungmangkurat, Banjarmasin, dan tahun 2009 akan dilaksanakan di
  Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya.
3. UKM Bela Negara atau Menwa (Resimen Mahasiswa) mempunyai salah satu
   kegiatan, yaitu “Napak Tilas Jejak Pejuang”.
  Kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak pejuang jaman
  dulu dengan menempuh jarak berkilo-kilo meter yang seolah-olah para
  mahasiswa seperti melakukan gerilya untuk memerangi penjajah. Selain itu
  di setiap daerah terpencil dilakukan dialog dengan tokoh masyarakat
  pedesaan untuk berdiskusi tentang nilai-nilai persatuan dan kesatuan Negara
  Republik Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kepada
  generasi muda, khususnya mahasiswa agar menghargai semangat pejuang
  dalam membela bangsa demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  Oleh karena itu kegiatan ini perlu didukung dan dikembangkan, karena
  kegiatan ini dapat membentuk mahasiswa mempunyai nasionalisme yang
  tinggi. Pada tahun 2007 kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Universitas
  Islam Indonesia Yogyakarta, dan Perguruan Tinggi pelaksana pada tahun
  2008 akan ditentukan pada Rakornas Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang
  Kemahasiswaan yang akan datang
4. KSR-PMI mempunyai kegiatan “Temu Bhakti KSR-PMI Perguruan Tinggi
   Tingkat Nasional”.
  PMI (Palang Merah Indonesia) sebagai suatu organisasi sosial kemanusiaan
  dalam melaksanakan tugasnya di lapangan sangat tergantung kepada peran
  serta sukarelawan. Kelompok pemuda, khususnya mahasiswa yang menjadi
  sukarelawan PMI disebut KSR-PMI (Korp Sukarela Palang Merah Indonesia).
  Para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan mampu
  sebagai pelopor kaum muda untuk menjadi sukarelawan dan mempunyai
  kepedulian yang tinggi terhadap tugas-tugas kemanusiaan. Karena dengan
  aktifitas tersebut dapat membentuk sikap mental para mahasiswa, dalam


                                                                             6
   rangka membangun karakter dan jati diri bangsa. Pembinaan dan
   pengembangan KSR-PMI di kalangan mahasiswa dimaksudkan untuk
   mewadai dan membina rasa kesetiakawanan sosial dan jiwa kemanusian
   antara mahasiswa maupun generasi muda pada umumnya. Oleh karena itu
   para mahasiswa diharapkan tidak hanya giat menuntut ilmu dan mengasah
   otak di bidang ilmu yang ditekuni, tetapi juga perlu mempunyai kepedulian
   sosial terhadap lingkungannya. Kegiatan ini merupakan kegiatan dua
   tahunan, pada tahun 2007 kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Universitas
   Abulyatama, Nangroe Aceh Darussalam, dan tahun 2009 akan dilaksanakan
   di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jambi.


B.2. Pengembangan Soft Skills Bagi Mahasiswa
Dampak Globalisasi dan arus informasi yang sangat pesat telah membawa
konsekuensi terhadap pembangunan manusia di seluruh dunia. Segala upaya
telah dipersiapkan oleh manusia dalam menghadapi berbagai perubahan dan
tantangan, diantaranya manusia senantiasa berupaya meningkatkan potensi
dirinya agar menjadi manusia bersumber daya yang berkualitas. Kualitas SDM
Indonesia bukan saja berada dalam taraf yang rendah, namun juga mengalami
penurunan, Hal ini dapat disimak dari laporan World Competitiveness Yearbook
(2004) tentang tingkatan daya saing. Di lingkungan regional, daya saing SDM
Indonesia berada pada urutan paling rendah dibandingkan dengan Singapura
(peringkat 2), Malaysia (peringkat 16), Thailand (peringkat 29) dan Philipina
(peringkat 52). Bila kondisi demikian dipertahankan, maka dalam jangka panjang
dapat diduga bahwa cita-cita untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat akan
menjadi sekedar impian belaka.
Persaingan dalam dunia kerja juga semakin ketat, dan pada umumnya para
pengguna jasa (Stakeholders) menginginkan pekerjanya selain memiliki
kemampuan kognitif (IPK yang tinggi) juga memilikii soft skills yang dibutuhkan,
seperti motivasi yang tinggi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan,
kompetensi interpersonal, dan orientasi nilai yang menunjukkan kinerja yang
efektif. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian NACE (National Association
of Colleges and Employers) pada tahun 2005 yang menyebutkan bahwa pada
umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82% soft
skills dan 18% hard skills.
Perguruan Tinggi yang berperan sebagai sarana bagi peningkatan kualitas
sumber daya manusia diharapkan memainkan peran sentral dalam peningkatan
daya saing bangsa. Oleh karena itu sistem pembinanan kemahasiswaan di
Perguruan Tinggi diharapkan menjadi wahana untuk mengubah pola pikir, pola
sikap mahasiswa untuk menuju terwujudnya lulusan yang handal.
Dalam mempersiapkan lulusan yang berkualitas, setiap Perguruan Tinggi perlu
melakukan Program Pengembangan Kemahasiswaan melalui program-program
berikut: (1) Penalaran dan Keilmuan; (2) Bakat, Minat, dan Kemampuan; (3)
Kesejahteraan; (4) Kepedulian Sosial; (5) Kegiatan Penunjang. Semua program
kemahasiswaan di atas diharapkan dapat meningkatkan kesiapan bersaing


                                                                              7
mahasiswa, melatih mahasiswa dalam memecahkan masalah dan mengambil
keputusan, serta meningkatnya soft skills mahasiswa.
Realisasi peningkatan kualitas lulusan yang memiliki kompetensi pada
bidangnya, berkepribadian dengan penguasaan soft skills, serta siap pakai dapat
diupayakan melalui pembelajaran yang optimal dan mengarah kepada
pengembangan soft skills. Melalui program ini para lulusan Perguruan Tinggi
diharapkan menguasai keterampilan meraih sukses (akademik dan non
akademik) yang meliputi keterampilan belajar, berpikir, dan keterampilan
mengelola hidup. Untuk itu diperlukan kerja keras bersama, bukan hanya dari
pihak manajemen Perguruan Tinggi saja, namun juga seluruh civitas akademika
agar seluruh atmosfir yang akan tercipta merupakan potret visi bersama dalam
lingkungan pendidikan yang berpihak pada intelektual, moral, sikap kritis,
persistensi tinggi dan memiliki karakter kesiapan daya saing.
Dalam rangka mewujudkan harapan tersebut di atas, Direktorat Kelembagaan,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah menyusun Buku Panduan
Penyusunan Proposal Program Pengembangan Soft Skills bagi Mahasiswa
yang dapat digunakan sebagai acuan bagi pihak Manajemen Perguruan Tinggi
dalam mengajukan proposal untuk mendapatkan dana yang diperlukan dari
Pemerintah. Program ini dirintis mulai tahun 2007 dengan mengalokasikan dana
untuk 15 proposal, masing-masing proposal maksimal Rp 100.000.000,- (seratus
juta rupiah), namun berdasarkan proposal yang masuk ternyata di luar dugaan,
yaitu sebanyak 194 proposal. Oleh karena itu Direktorat Kelembagaan Ditjen
Pendidikan Tinggi mengupayakan agar alokasi yang telah direncanakan dapat
ditambah, dan akhirnya menjadi 20 proposal yang dibiayai kegiatannya.
Mengacu pada pengalaman tahun 2007, maka pada tahun 2008, Direktorat
Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi menambah alokasi untuk 50 proposal
yang akan dibiayai kegiatannya dan masing-masing proposal maksimal Rp
150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).


B.3. Penyertaan Mahasiswa Indonesia Mengikuti Event Olahraga Di Luar
     Negeri (Asean, Asia, Dan Dunia).
Kompetisi antar mahasiswa melalui olahraga pada tingkat internasional
merupakan bentuk aktifitas yang cukup strategis untuk meningkatkan daya saing
bangsa, sekaligus untuk mempererat persahabatan sesama mahasiswa dalam
rangka mewujudkan perdamaian dunia. Mengingat prestasi olahraga di
Indonesia belum menggembirakan, maka Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti
telah mengalokasikan dana untuk mengikutsertakan mahasiswa mengikuti event
olahraga di luar negeri dengan memprioritaskan cabang olahraga yang
diproyeksikan dapat bersaing dengan atlet/mahasiswa dari Negara peserta
lainnya. Proyeksi tersebut berdasarkan hasil seleksi POMNas (Pekan Olahraga
Mahasiswa tingkat Nasional) dan Kejurnas (Kejuaraan olahraga tingkat Nasional)
Antar Perguruan Tinggi, dan pertimbangan Induk Cabang Olahraga yang
bersangkutan berdasarkan data-data prestasi atlet/mahasiswa. Sebagai contoh



                                                                             8
prioritas cabang olahraga yang diikutsertakan pada event olahraga di luar negeri,
antara lain; Badminton, Tennis, Catur, dan Bridge.
Olahraga antar mahasiswa pada tingkat internasional telah dikelola oleh
organisasi yang bernama FISU (Federation Internationale du Sport
Universitaire). Oleh karena itu penyertaan mahasiswa Indonesia dalam mengikuti
event internasional harus melalui organisasi Bapomi (Badan Pembina Olahraga
Mahasiswa Indonesia) yang dibentuk oleh Direktorat Kelembagaan Ditjen
Pendidikan Tinggi. Sebagai contoh event olahraga internasional yang pernah
diikuti Bapomi, antara lain (1) Pada tahun 2006, Bapomi mengikuti ASEAN
University Games XIII di Vietnam, dan Indonesia dapat meraih urutan ke tiga
setelah Vietnam (tuan rumah) dan Thailand, (2) Pada tahun 2007 mengikuti
olahraga tingkat dunia, yaitu Universiade XXIV di Bangkok, dan Indonesia
mendapatkan 3 medali perunggu, yaitu 1 medali perunggu dari cabang olahraga
Badminton beregu putra, 1 medali perunggu dari cabang olahraga Tennis
tunggal putri, dan 1 medali perunggu dari cabang olahraga Tennis beregu putra.
Pada tahun 2008 Indonesia akan mengikuti ASEAN University XIV di Kuala
Lumpur - Malaysia, pada tanggal 11 s.d. 21 Desember 2008.


B.4.   Beasiswa PPE (Peningkatan Prestasi Ekstra Kurikuler)
Ada 3 (tiga) macam beasiswa yang diberikan Ditjen Dikti kepada mahasiswa:
1. Beasiswa PPA (Peningkatan Pretasi Akademik), yaitu beasiswa untuk
   mahasiswa yang mempunyai prestasi di bidang akademik.
2. Beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa), yaitu beasiswa untuk
   mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu secera ekonomi.
3. Beasiswa PPE (Peningkatan Prestasi Ekstrakurikuler), yaitu beasiswa untuk
   mahasiswa yang mempunyai prestasi di bidang ekstra kurikuler.
Beasiswa PPA dan BBM, pengelolaanya diserahkan kepada Perguruan Tinggi
Negeri dan Kopertis. Beasiswa PPE dirintis oleh Direktorat Kelembagaan,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai tahun 2007. Beasiswa PPE tercetus
dengan adanya berbagai pendapat para pakar, dan pihak-pihak yang kompeten
bahwa prestasi akademik mahasiswa belum cukup untuk berkompetisi setelah
mereka lulus untuk memasuki dunia kerja, baik sebagai pencari kerja di
pemerintah, dunia usaha maupun menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu
masih diperlukan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa di bidang ekstra-
kurikuler, untuk menjadi lulusan yang mempunyai nilai tambah. Mengingat
mahasiswa yang mempunyai prestasi akademik diberikan insentif dalam bentuk
beasiswa untuk meningkatkan prestasinya, maka alangkah adilnya apabila
mahasiswa yang mempunyai prestasi di bidang ekstrakurikuler juga diberikan
beasiswa. Selain itu beasiswa PPE juga diharapkan dapat menimbulkan
semangat baru bagi mahasiswa yang belum terlibat dalam kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler, menjadi aktif mengikutinya.
Mahasiswa calon penerima Beasiswa PPE, dikelompokan menjadi 4 (empat),
yaitu:



                                                                               9
1) Kegiatan ekstrakurikuler yang dipertandingkan, sebagai contoh kegiatan
   olahraga, lomba seni, musabaqoh, paduan suara gerejawi, dan kegiatan
   sejenis lainnya.
2) Kegiatan pelatihan, sebagai contoh LKMM (Latihan Ketrampilan Manajemen
   Mahasiswa), Latihan Penerbitan Pers Kampus, Pelatihan Pendidikan
   Pencegahan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS, dan kegiatan
   sejenis lainnya.
3) Kegiatan kepedulian sosial, sebagai contoh; Membantu masyarakat yang
   terkena bencana alam (musibah banjir, gempa bumi, tanah longsor), dengan
   mempertimbangkan lamanya waktu pengabdian.
4) Kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa pada bidang keorganisasian, sebagai
   contoh; Pengurus organisasi yang diprioritaskan untuk Ketua atau Sekretaris
   (BEM, UKM, Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis, Himpunan Mahasiswa),
   dan organisasi sejenis lainnya.
Alokasi beasiswa PPE ini untuk tahun 2007 sebanyak 35232 mahasiswa_bulan
dan untuk tahun 2008 direncanakan sebanyak 57960 mahasiswa_bulan dengan
beasiswa perbulan Rp. 250.000,-


B.5.   Pelayaran Kebangsaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang kaya akan
beragam sumber daya alam dan manusia dalam konteks Negara Bangsa.
Persatuan dan kesatuan merupakan modal utama untuk membangun sebuah
bangsa yang mampu bersaing di dunia Internasional. Nasionalisme disesuaikan
sebagai kesadaran jati diri setiap masyarakat yang merefleksikan loyalitas di
tingkat lokal/primordial ke tingkat Nasional/Negara. Nasionalisme merupakan
State of Mind yang memandang setiap warga negara loyal kepada Bangsa dan
Negara. Pemantapan wawasan kebangsaan dalam perspektif Nasionalisme tidak
hanya membangun rasa cinta kepada tanah air tetapi juga memberi makna yang
hidup bagi semboyan Bhineka Tunggal Ika, disertai keinginan untuk membela
dan menjaga kelangsungan Negara Bangsa. Oleh sebab itu, Semangat
kebangsaan sekaligus spiritualisme watak kebangsaan harus senantiasa
diperkokoh dan menjadi perekat kehidupan kebangsaan yang harmonis.
Dalam sejarah peradaban bangsa bangsa di dunia pada kenyataannya tidak
terlepas dari ancaman munculnya konflik sosial, konflik agama, konflik suku
bahkan sampai perpecahan sebuah negara. Fenomena konflik yang disebabkan
perbedaan pandangan baik sisi kepentingan politik, kerusuhan, maupun SARA
apabila tidak diwaspadai, akan senantiasa merupakan ancaman disintegrasi
bangsa. Oleh sebab itu perlu dikaji akar permasalahannya dengan pendekatan
kultural, keagamaan serta akademis. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah
dengan metode dialog nasional didalam satu kegiatan Pelayaran Kebangsaan
yang sangat strategis. Forum ini akan menjadi wahana pembelajaran yang
efektif, serta berfungsi sebagai clearing house untuk mencari solusi dan
membedah akar masalah, apabila muncul konflik yang bersifat laten maupun



                                                                           10
sporadis. Secara fungsional Pelayaran Kebangsaan sekaligus menjadi forum
dialog untuk memperkuat spirit kebangsaan.
Pelayaran Kebangsaan ini dilaksanakan atas kerjasama antara Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi dengan TNI Angkatan Laut. Kegiatan ini
dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 2001. Pelayaran Kebangsaan VIII yang
diadakan tanggal 14 – 23 Juli 2008 akan mengambil tema: “MENINGKATKAN
KESADARAN BAHARI, MEMBANGUN BUDAYA DAN PERADABAN BANGSA
DEMI KOKOHNYA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)”
dengan rute Jakarta – Tarakan – Nunukan – Jakarta.


C. PENGUATAN KELEMBAGAAN PERGURUAN TINGGI DAN PERINTISAN
   PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL
Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa pendidikan dilakukan dalam rangka
pencerdasan kehidupan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.              Sebagai
Departemen yang bertanggung jawab terhadap pendidikan nasional, maka guna
merealisasikan amanah tersebut Departemen Pendidikan Nasional telah
menetapkan tiga pilar kebijakan pendidikan nasional yaitu:
   (1) Perluasan dan pemerataan akses pendidikan
   (2) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta
   (3) Penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pendidikan
Penguatan tata kelola serta akuntabilitas telah pula dicermati oleh Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi sebagai sebuah strategi yang penting bilamana
perguruan tinggi akan berperan besar dalam mendorong daya saing bangsa.
Oleh sebab itulah kesehatan organisasi menjadi salah satu strategi dari tiga
strategi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan
dipandang sebagai dasar bagi terlaksananya otonomi perguruan tinggi yang
baik.
Sebagai bagian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, sesuai Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 15 tahun 2005 Direktorat Kelembagaan
yang memiliki tugas, antara lain, pembinaan, pengembangan dan pemberian
bimbingan teknis bidang kelembagaan, Direktorat Kelembagaan mengem-
bangkan program dengan sub-program sbb.:
I. Perintisan Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional
   1. Seminar Perguruan Tinggi bertaraf Internasional
   2. Seleksi Perguruan Tinggi bertaraf Internasional
   3. Diseminasi Perguruan Tinggi berpotensi taraf Internasional
   4. Perintisan kerjasama perguruan tinggi
   5. Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang
II. Penguatan Kelembagaan Perguruan Tinggi
    1. Pengembangan Forum Komunikasi dan Konsultasi Perguruan Tinggi
       dengan pemangku kepentingannya
    2. Program Belajar Bekerja Terpadu



                                                                            11
C.I. Perintisan Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional

C.I.1. Seminar Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional
Diratifikasinya Perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia oleh Indonesia pada
tahun 1994 melalui Undang-undang nomor 7 mengikat Indonesia untuk turut
berperan dalam pelaksanaan liberalisasi.
Sebagai pelaku pendidikan, lembaga pendidikan tinggi mempunyai peran besar
terhadap keberhasilan Indonesia untuk bersaing dalam pasar bebas barang dan
jasa, melalui hasil penelitan yang berkualitas serta ahli-ahli yang memiliki
kompetensi dalam bidangnya.
Pelaksanaan liberalisasi ASEAN 2010, ASIA PASIFIK 2015 dan WTO 2025
mengharuskan perguruan tinggi Indonesia segera merubah cara kerja agar karya
serta lulusannya dapat diakui di tingkat dunia. Melalui sentuhan langsung
dengan lembaga pendidikan asing diharapkan perguruan tinggi Indonesia dapat
cepat belajar untuk memperbaiki kualitas pengelolaan serta penyelenggaraan
pendidikannya Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendorong pengelolaan
perguruan tinggi Indonesia berpotensi menjadi perguruan tinggi yang berkualitas
internasional. Pada tahun 2006, topik seminar adalah “Konsep dan Standar PT
Bertaraf Internasional” yang melibatkan 34 PT. Tahun 2007 dengan topik
“Mobilitas Mahasiswa Dalam Rangka Internasionalisasi Pendidikan” yang
melibatkan 48 PT. Direncanakan pada tahun 2008 akan mengambil topik
“Benchmarking Perguruan Tinggi Indonesia Melalui Kerjasama Dengan
Perguruan Tinggi Asing” yang diperkirakan akan melibatkan 70 PT.


C.I.2. Seleksi Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional
Kebutuhan Indonesia untuk memiliki perguruan tinggi yang diakui memiliki
kualitas internasional yang mampu menghasilkan lulusan yang dapat
berkompetisi dengan lulusan lembaga pendidikan tinggi asing berkualitas serta
menghasilkan karya yang dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sudah
sangat mendesak. Program terencana serta berkesinambungan yang dapat
mendorong perguruan tinggi untuk terus menerus memperbaiki kualitas
pendidikannya diharapkan dapat mempercepat pengakuan internasional akan
kualitas perguruan tinggi Indonesia. Dengan menggunakan kriteria yang sejenis
dengan kriteria yang dilakukan oleh lembaga di luar negeri, Tim reviewer
menyeleksi semua PT. Hasil seleksi ini diterbitkan dalam buku “Promising
Universities in Indonesia”. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendorong
kompetisi antar perguruan tinggi Indonesia untuk terus menerus berupaya
mempertahankan dan memperbaiki kinerja serta mempertahankan citranya di
khalayak nasional maupun internasional. Secara langsung maupun tidak
langsung kegiatan ini mempengaruhi jumlah mahasiswa asing yang belajar di
Indonesia. Jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia meningkat dari
4731 mahasiswa pada tahun 2006 menjadi 5366 mahasiswa di tahun 2007.



                                                                            12
C.I.3. Diseminasi Perguruan Tinggi Berpotensi Taraf Internasional
Dalam rangka merealisasikan keinginan Departemen Pendidikan Nasional untuk
menambah lebih banyak program studi berstandar internasional, ditetapkan
jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia berpotensi pada tahun
2010 sebanyak 10.000 orang. Masuknya mahasiswa asing di Indonesia dapat
dalam bentuk kerjasama maupun individual. Promosi perguruan tinggi Indonesia
melalui Perwakilan Negara RI di luar negeri dengan menggunakan buku
“Promising Universities in Indonesia”, maupun keikutsertaan Indonesia dalam
pameran dan konperensi internasional diharapkan dapat membuka mata
perguruan tinggi asing maupun mahasiswa asing terhadap potensi maupun
kualitas perguruan tinggi Indonesia. Pada tahun 2006 Dikti mengikuti 1 (satu)
pameran yang diikuti oleh 27 PT. Tahun 2007 mengikuti 2 (dua) pameran yang
melibatkan 50 PT. Tahun 2008 direncanakan sama dengan tahun 2007. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan jumlah kerjasama antara PT
Indonesia dengan perguruan tinggi asing dan jumlah mahasiswa asing di
Indonesia. Seperti halnya pada kegiatan sebelumnya, kegiatan ini
mempengaruhi jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Pada tahun
2006 jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia sebanyak 4731
mahasiswa dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 5366 mahasiswa.


C.I.4. Perintisan Kerjasama Perguruan Tinggi
Tuntutan akan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sudah sangat
mendesak dengan semakin dekatnya masa penyelenggaraan liberalisasi di
tingkat Asean dan Asia Pasifik. Intervensi dalam bentuk transformasi budaya
penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas internasional melalui twinning
program antara PT Indonesia yang berkualitas serta antara PT Indonesia dengan
PT asing diharapkan dapat mempercepat proses peningkatan kualitas
penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi. Pada tahun 2006 telah dirintis
10 kerjasama PT Indonesia dan PT asing. Pada tahun 2007 perintisan
meningkat menjadi 18 kerjasama. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi Indonesia yang berperan dalam
kancah pergaulan berbagai sektor di tingkat internasional


C.I.5. Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang
Komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat dunia
diuraikan dengan jelas dalam pembukaan UUD 45. Dalam rangka melaksanakan
komitmen Indonesia untuk menjaga ketertiban dunia serta semangat
persaudaraan, Indonesia memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing untuk
belajar di perguruan tinggi berkualitas di Indonesia di berbagai bidang ilmu dalam
jenjang studi S1 dan magister. Pemberian beasiswa bagi mahasiswa asing
merupakan diplomasi budaya Indonesia, namun juga dapat mendorong PT
Indonesia untuk memperbaiki kualitas pendidikannya. Tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk meningkatkan citra Indonesia di mata dunia serta membuka


                                                                               13
wawasan masyarakat perguruan tinggi. Jumlah mahasiswa asing yang telah
diberi beasiswa tahun 2006 dan 2007 masing-masing 64 dan 89 mahasiswa.
Sedang pada tahun 2008 dialokasikan beasiswa sebanyak 110 mahasiswa.


C.II. Penguatan Kelembagaan Perguruan Tinggi

C.II.1. Pengembangan Forum Komunikasi dan Konsultasi Perguruan Tinggi
        dengan pemangku kepentingan
Lamanya masa tunggu lulusan serta tidak dapat dimanfaatkannya hasil
penelitian perguruan tinggi oleh dunia usaha menunjukkan adanya kesenjangan
antara perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Komunikasi aktif
antara perguruan tinggi diharapkan dapat menghilangkan kesenjangan tersebut
serta dapat mensinergikan potensi masing-masing bagi percepatan
pembangunan daerah dan peningkatan daya saing bangsa. Tujuan dari kegiatan
ini adalah untuk meningkatkan mutu dan relevansi perguruan tinggi terhadap
kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Pada tahun 2006, PT yang terlibat
sebanyak 3 PT, dan pada tahun 2007 sebanyak 6 PT. Pada tahun 2008
direncanakan akan melibatkan 9 PT.


C.II.2. Progran Belajar Bekerja Terpadu
Sesuai pembukaan UUD 1945 pendidikan dilaksanakan dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kecerdasan bangsa. Adanya
kesenjangan antara kebutuhan masyarakat akan kompetensi lulusan perguruan
tinggi dengan lulusan perguruan tinggi mengakibatkan pemborosan biaya akibat
tidak dapat diserapnya lulusan PT oleh dunia kerja, serta harusnya dilakukan
pendidikan tambahan oleh dunia usaha apabila lulusan perguruan tinggi akan
dimanfaatkan sebagai tenaga kerja. Maksud dari kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan kompetensi lulusan dan produktivitas dunia usaha. Kegiatan tahun
2006 melibatkan 10 PT, 138 mahasiswa dan 107 UMKM. Tahun 2007
melibatkan 15 PT, 251 mahasiswa dan 177 UMKM. Sedangkan pada tahun 2008
direncanakan akan melibatkan 20 PT, 300 mahasiswa dan 200 UMKM.




                                                                          14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:721
posted:7/19/2011
language:Indonesian
pages:14
Description: Proposal Block Grant Olahraga document sample