skripsi Risda

Document Sample
skripsi Risda Powered By Docstoc
					                                 PENGERTIAN KORELASI

                                    (Suharto, S.E., M.M.)



Persoalan pengukuran, atau pengamatan hubungan antara dua peubah X dan Y, berikut ini akan
kita bicarakan sesuai dengan referensi yang kami peroleh dalam beberapa literatur. Tulisan ini
tentu saja tidak selengkap seperti halnya tulisan tentang Pengertian Korelasi dalam buku
Statistika yang ditulis oleh, Ronald E. Walpole, Sugiono, Murray R. Spiegel, atau beberapa
Statistikawan yang memang saya kagumi ke-pakar-annya. Akan tetapi setidaknya bisa dijadikan
bacaan tambahan bagi mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang persoalan korelasi
atau persoalan-persoalan lain yang berkaitan dengan hubungan antar dua peubah.

Kita tidak akan dan bukan meramalkan nilai Y dari pengetahuan mengenai peubah bebas X
seperti dalam regresi linier. Sebagai misal, bila peubah X menyatakan besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk membeli Pupuk dan Y adalah besarnya hasil produksi padi dalam satu kali
musim tanam, barangkali akan muncul pertanyaan dalam hati kita apakah penurunan biaya yang
dikeluarkan untuk membeli Pupuk juga berpeluang besar untuk diikuti dengan penurunan hasil
produksi padi dalam satu musim tanam. Dalam studi empiris lain, bila X adalah harga suatu
barang yang ditawarkan dan Y adalah jumlah permintaan terhadap barang tersebut yang dibeli
oleh konsumen, maka kita membayangkan jika nilai-nilai X yang besar tentu akan berpasangan
dengan nilai-nilai Y yang kecil. Dalam hal ini kita tentu saja mempunyai bilangan yang
menyatakan proporsi keragaman total nilai-nilai peubah Y yang dapat dijelaskan oleh nilai-nilai
peubah X melalui hubungan linear tersebut. Jadi misalkan suatu korelasi memiliki besaran r =
0,36 bermakna bahwa 0,36 atau 36% di antara keragaman total nilai-nilai Y dalam contoh kita,
dapat dijelaskan oleh hubungan linearnya dengan nilai-nilai X.

Contoh lainnya adalah, misal koefisien korelasi sebesar 0,80 menunjukkan adanya hubungan
linear yang sangat baik antara X dan Y. Karena r2 = 0,64, maka kita dapat mengatakan bahwa 64
% di antara keragaman dalam nilai-nilai Y dapat dijelaskan oleh hubungan linearnya dengan X.

Besaran koefisien korelasi contoh r merupakan sebuah nilai yang dihitung dari n pengamatan
sampel. Sampel acak berukuran n yang lain tetapi diambil dari populasi yang sama biasanya
akan menghasilkan nilai r yang berbeda pula. Dengan demikian kita dapat memandang r sebagai
suatu nilai dugaan bagi koefisien korelasi linear yang sesungguhnya yang berlaku bagi seluruh
anggota populasi. Misalkan kita lambangkan koefisien korelasi populasi ini dengan ρ. Bila r
dekat dengan nol, kita cenderung menyimpulkan bahwa ρ = 0. Akan tetapi, suatu nilai contoh r
yang mendekati + 1 atau – 1 menyarankan kepada kita untuk menyimpulkan bahwa ρ ≠ 0.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana memperoleh suatu peng-uji-an yang akan mengatakan
kepada kita kapan r akan berada cukup jauh dari suatu nilai tertentu ρo, agar kita mempunyai
cukup alasan untuk menolah hipotesis nol Ho bahwa ρ = ρo, dan menerima alternatifnya.
Hipotesis alternatifnya H1 biasanya salah satu di antara ρ < ρo, ρ > ρo, atau ρ ≠ ρo.
   1. Ronald E. Walpole, Pengantar Statistika, Edisi ke-3, Penerbit PT Gramedia Pustaka
      Utama, Jakarta, 1992.
   2. Murray R. Spiegel, Seri Buku Schaum, Teori dan Soal, Statistika, Edisi Kedua. Alih
      Bahasa oleh Drs. I Nyoman Susila, M.Sc. dan Ellen Gunawan, M.M., Penerbit Erlangga,
      1988.
   3. Zaenal Mustafa, Pengantar Statistik Terapan Untuk Ekonomi, Bagian Penerbitan Fakultas
      Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 1995

Ditulis dalam Uncategorized

« PEGUKURAN DATA
PENGERTIAN VARIABEL »

http://suhartoumm.wordpress.com/2009/07/06/pengertian-korelasi/




                              TEORI ANALISIS KORELASI

                           MENGENAL ANALISIS KORELASI



Bab ini membahas masalah pengenalan analisis korelasi dan teori korelasi. Setelah selesai
membaca bagian ini maka pembaca akan dapat memahami:

      Pengertian pengukuran asosiasi
      Pengertian korelasi
      Kegunaan teknik analisis korelasi
      Pengertian korelasi dan kausalitas
      Pengertian korelasi dan linieritas
      Asumsi dalam menggunakan korelasi
      Karakteristik korelasi
      Koefesien korelasi
      Signifikansi
      Interpretasi korelasi
      Uji hipotesis dalam korelasi
      Koefesien determinasi



1.1 Pengertian

      Sepanjang sejarah umat manusia, orang melakukan penelitian mengenai ada dan tidaknya
   hubungan antara dua hal, fenomena, kejadian atau lainnya. Usaha-usaha untuk mengukur
hubungan ini dikenal sebagai mengukur asosiasi antara dua fenomena atau kejadian yang
menimbulkan rasa ingin tahu para peneliti.

    Korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran
asosiasi / hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi merupakan istilah
umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk
mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Diantara sekian banyak teknik-teknik
pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu
Korelasi Pearson Product Moment dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik
tersebut, terdapat pula teknik-teknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi
Coefficient, Goodman-Kruskal, Somer, dan Wilson.

    Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau
kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel
yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel
tersebut disebut independen.

    Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang
lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu, misalnya Pearson data harus berskala
interval atau rasio; Spearman dan Kendal menggunakan skala ordinal; Chi Square
menggunakan data nominal. Kuat lemah hubungan diukur diantara jarak (range) 0 sampai
dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed).
Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai
koefesien korelasi negatif, korelasi disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien
korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika
koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat ketergantungan
antara dua variabel tersebut. Jika koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan
tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan
kemiringan (slope) positif.

Jika koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi
sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.

Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis, karena kedua variabel
mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempengaruhi variabel Y
secara sempurna. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara
kedua variabel tersebut.




    Dalam korelasi sebenarnya tidak dikenal istilah variabel bebas dan variabel tergantung.
Biasanya dalam penghitungan digunakan simbol X untuk variabel pertama dan Y untuk
variabel kedua. Dalam contoh hubungan antara variabel remunerasi dengan kepuasan kerja,
maka variabel remunerasi merupakan variabel X dan kepuasan kerja merupakan variabel Y.
1.2 Kegunaan

       Pengukuran asosiasi berguna untuk mengukur kekuatan (strength) hubungan antar dua
   variabel atau lebih. Contoh: mengukur hubungan antara variabel:

              Motivasi kerja dengan produktivitas

              Kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan

              Tingkat inflasi dengan IHSG

   Pengukuran ini hubungan antara dua variabel untuk masing-masing kasus akan menghasilkan
   keputusan, diantaranya:

          Hubungan kedua variabel tidak ada

          Hubungan kedua variabel lemah

          Hubungan kedua variabel cukup kuat

          Hubungan kedua variabel kuat

          Hubungan kedua variabel sangat kuat

   Penentuan tersebut didasarkan pada kriteria yang menyebutkan jika hubungan mendekati 1,
   maka hubungan semakin kuat; sebaliknya jika hubungan mendekati 0, maka hubungan
   semakin lemah.




1.3 Teori Korelasi



1.3.1 Korelasi dan Kausalitas

       Ada perbedaan mendasar antara korelasi dan kausalitas. Jika kedua variabel dikatakan
berkorelasi, maka kita tergoda untuk mengatakan bahwa variabel yang satu mempengaruhi
variabel yang lain atau dengan kata lain terdapat hubungan kausalitas. Kenyataannya belum
tentu. Hubungan kausalitas terjadi jika variabel X mempengaruhi Y. Jika kedua variabel
diperlakukan secara simetris (nilai pengukuran tetap sama seandainya peranan variabel-variabel
tersebut ditukar) maka meski kedua variabel berkorelasi tidak dapat dikatakan mempunyai
hubungan kausalitas. Dengan demikian, jika terdapat dua variabel yang berkorelasi, tidak harus
terdapat hubungan kausalitas.

          Terdapat dictum yang mengatakan ―correlation does not imply causation‖. Artinya
korelasi tidak dapat digunakan secara valid untuk melihat adanya hubungan kausalitas dalam
variabel-variabel. Dalam korelasi aspek-aspek yang melandasi terdapatnya hubungan antar
variabel mungkin tidak diketahui atau tidak langsung. Oleh karena itu dengan menetapkan
korelasi dalam hubungannya dengan variabel-variabel yang diteliti tidak akan memberikan
persyaratan yang memadai untuk menetapkan hubungan kausalitas kedalam variabel-variabel
tersebut. Sekalipun demikian bukan berarti bahwa korelasi tidak dapat digunakan sebagai
indikasi adanya hubungan kausalitas antar variabel. Korelasi dapat digunakan sebagai salah satu
bukti adanya kemungkinan terdapatnya hubungan kausalitas tetapi tidak dapat memberikan
indikasi hubungan kausalitas seperti apa jika memang itu terjadi dalam variabel-variabel yang
diteliti, misalnya model recursive, dimana X mempengaruhi Y atau non-recursive, misalnya X
mempengaruhi Y dan Y mempengaruhi X.

       Dengan untuk mengidentifikasi hubungan kausalitas tidak dapat begitu saja dilihat
dengan kaca mata korelasi tetapi sebaiknya menggunakan model-model yang lebih tepat,
misalnya regresi, analisis jalur atau structural equation model.



1.3.2 Korelasi dan Linieritas

        Terdapat hubungan erat antara pengertian korelasi dan linieritas. Korelasi Pearson,
misalnya, menunjukkan adanya kekuatan hubungan linier dalam dua variabel. Sekalipun
demikian jika asumsi normalitas salah maka nilai korelasi tidak akan memadai untuk
membuktikan adanya hubungan linieritas. Linieritas artinya asumsi adanya hubungan dalam
bentuk garis lurus antara variabel. Linearitas antara dua variabel dapat dinilai melalui observasi
scatterplots bivariat. Jika kedua variabel berdistribusi normal dan behubungan secara linier,
maka scatterplot berbentuk oval; jika tidak berdistribusi normal scatterplot tidak berbentuk oval.




                                                X

                                                Y
10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

0

0 1 2 3    4 5   6   7 8 9 10




                                Gambar 1.1 Hubungan Linear
Sempurna
        Dalam praktinya kadang data yang digunakan akan menghasilkan korelasi tinggi tetapi
hubungan tidak linier; atau sebaliknya korelasi rendah tetapi hubungan linier. Dengan demikian
agar linieritas hubungan dipenuhi, maka data yang digunakan harus mempunyai distribusi
normal. Dengan kata lain, koefesien korelasi hanya merupakan statistik ringkasan sehingga tidak
dapat digunakan sebagai sarana untuk memeriksa data secara individual.



1.3.3 Asumsi

       Asumsi dasar korelasi diantaranya seperti tertera di bawah ini:

      Kedua variabel bersifat independen satu dengan lainnya, artinya masing-masing variabel
       berdiri sendiri dan tidak tergantung satu dengan lainnya. Tidak ada istilah variabel bebas
       dan variabel tergantung.
      Data untuk kedua variabel berdistribusi normal. Data yang mempunyai distribusi normal
       artinya data yang distribusinya simetris sempurna. Jika digunakan bahasa umum disebut
       berbentuk kurva bel. Menurut Johnston (2004) ciri-ciri data yang mempunyai distribusi
       normal ialah sebagai berikut:
1.      Kurva frekuensi normal menunjukkan frekuensi tertinggi berada di
     tengah-tengah, yaitu berada pada rata-rata (mean) nilai distribusi dengan
     kurva sejajar dan tepat sama pada bagian sisi kiri dan kanannya.
     Kesimpulannya, nilai yang paling sering muncul dalam distribusi normal
     ialah rata-rata (average), dengan setengahnya berada dibawah rata-rata
     dan setengahnya yang lain berada di atas rata-rata.
2.    Kurva normal, sering juga disebut sebagai kurva bel, berbentuk simetris
     sempurna.
3.     Karena dua bagian sisi dari tengah-tengah benar-benar simetris, maka
     frekuensi nilai-nilai diatas rata-rata (mean) akan benar-benar cocok
     dengan frekuensi nilai-nilai di bawah rata-rata.
4. Frekuensi total semua nilai dalam populasi akan berada dalam area
   dibawah kurva. Perlu diketahui bahwa area total dibawah kurva
   mewakili kemungkinan munculnya karakteristik tersebut.
5.    Kurva normal dapat mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Yang
     menentukan bentuk-bentuk tersebut adalah nilai rata-rata dan simpangan
     baku (standard deviation) populasi.



Gambar distribusi normal seperti berikut ini:




        Gambar 1.2 Distribusi Normal untuk Kurva Frekuensi 20 Koin
     X dan Y mempunyai hubungan linier. Hubungan linier artinya hubungan kedua variabel
      membentuk garis lurus.



1.3.4 Karakteristik Korelasi

      Korelasi mempunyai karakteristik-karakteristik diantaranya:

      a. Kisaran Korelasi

             Kisaran (range) korelasi mulai dari 0 sampai dengan 1. Korelasi dapat positif dan
      dapat pula negatif.



      b. Korelasi Sama Dengan Nol

              Korelasi sama dengan 0 mempunyai arti tidak ada hubungan antara dua variabel.
      Jika dilihat dari sebaran data, maka gambarnya akan seperti terlihat di bawah ini:

                                   Gambar 1.3 Korelasi dimana r = 0
     c. Korelasi Sama Dengan Satu

               Korelasi sama dengan + 1 artinya kedua variabel mempunyai hubungan linier
        sempurna (membentuk garis lurus) positif. Korelasi sempurna seperti ini mempunyai
        makna jika nilai X naik, maka Y juga naik seperti pada gambar yang tertera di bawah ini:



                                               X

                                               Y

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1
0

0 1 2 3    4 5    6   7 8 9 10




                                 Gambar 1.4
Korelasi dimana r = + 1
            Korelasi sama dengan -1 artinya kedua variabel mempunyai hubungan linier
     sempurna (membentuk garis lurus) negatif. Korelasi sempurna seperti ini mempunyai
     makna jika nilai X naik, maka Y turun (dan sebaliknya) seperti pada gambar yang tertera
     di bawah ini:




                          Gambar 1.5 Korelasi dimana r = - 1

                                            X

                                            Y

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

0

0 1 2 3   4 5    6   7 8 9 10
1.3.5 Koefesien Korelasi

       Koefesien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua variabel.
   Besarnya koefesien korelasi berkisar antara +1 s/d -1. Koefesien korelasi menunjukkan
   kekuatan (strength) hubungan linear dan arah hubungan dua variabel acak. Jika koefesien
   korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya jika nilai
   variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefesien korelasi
   negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X
   tinggi, maka nilai variabel Y akan menjadi rendah (dan sebaliknya). Untuk memudahkan
   melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel penulis
   memberikan kriteria sebagai berikut (Sarwono:2006):

          o   0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel
          o   >0 – 0,25: Korelasi sangat lemah
          o   >0,25 – 0,5: Korelasi cukup
          o   >0,5 – 0,75: Korelasi kuat
          o   >0,75 – 0,99: Korelasi sangat kuat
          o   1: Korelasi sempurna




1.3.6 Signifikansi

       Apa sebenarnya signifikansi itu? Dalam bahasa Inggris umum, kata, "significant"
   mempunyai makna penting; sedang dalam pengertian statistik kata tersebut mempunyai
   makna ―benar‖ tidak didasarkan secara kebetulan. Hasil riset dapat benar tapi tidak penting.
   Signifikansi / probabilitas / α memberikan gambaran mengenai bagaimana hasil riset itu
   mempunyai kesempatan untuk benar. Jika kita memilih signifikansi sebesar 0,01, maka
   artinya kita menentukan hasil riset nanti mempunyai kesempatan untuk benar sebesar 99%
   dan untuk salah sebesar 1%.
        Secara umum kita menggunakan angka signifikansi sebesar 0,01; 0,05 dan 0,1.
   Pertimbangan penggunaan angka tersebut didasarkan pada tingkat kepercayaan (confidence
   interval) yang diinginkan oleh peneliti. Angka signifikansi sebesar 0,01 mempunyai
   pengertian bahwa tingkat kepercayaan atau bahasa umumnya keinginan kita untuk
   memperoleh kebenaran dalam riset kita adalah sebesar 99%. Jika angka signifikansi sebesar
   0,05, maka tingkat kepercayaan adalah sebesar 95%. Jika angka signifikansi sebesar 0,1,
   maka tingkat kepercayaan adalah sebesar 90%.

       Pertimbangan lain ialah menyangkut jumlah data (sample) yang akan digunakan dalam
   riset. Semakin kecil angka signifikansi, maka ukuran sample akan semakin besar. Sebaliknya
   semakin besar angka signifikansi, maka ukuran sample akan semakin kecil. Unutuk
   memperoleh angka signifikansi yang baik, biasanya diperlukan ukuran sample yang besar.
   Sebaliknya jika ukuran sample semakin kecil, maka kemungkinan munculnya kesalahan
   semakin ada.

       Untuk pengujian dalam SPSS digunakan kriteria sebagai berikut:

           o   Jika angka signifikansi hasil riset < 0,05, maka hubungan kedua variabel
               signifikan.
           o   Jika angka signifikansi hasil riset > 0,05, maka hubungan kedua variabel tidak
               signifikan



1.3.7 Interpretasi Korelasi

       Ada tiga penafsiran hasil analisis korelasi, meliputi: pertama, melihat kekuatan hubungan
dua variabel; kedua, melihat signifikansi hubungan; dan ketiga, melihat arah hubungan.

      Untuk melakukan interpretasi kekuatan hubungan antara dua variabel dilakukan dengan
   melihat angka koefesien korelasi hasil perhitungan dengan menggunakan kriteria sbb:

      Jika angka koefesien korelasi menunjukkan 0, maka kedua variabel tidak mempunyai
       hubungan
      Jika angka koefesien korelasi mendekati 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan
       semakin kuat
      Jika angka koefesien korelasi mendekati 0, maka kedua variabel mempunyai hubungan
       semakin lemah
      Jika angka koefesien korelasi sama dengan 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan
       linier sempurna positif.
      Jika angka koefesien korelasi sama dengan -1, maka kedua variabel mempunyai
       hubungan linier sempurna negatif.
      Interpretasi berikutnya melihat signifikansi hubungan dua variabel dengan didasarkan
   pada angka signifikansi yang dihasilkan dari penghitungan dengan ketentuan sebagaimana
   sudah dibahas di bagian 2.7. di atas. Interpretasi ini akan membuktikan apakah hubungan
   kedua variabel tersebut signifikan atau tidak.



       Interpretasi ketiga melihat arah korelasi. Dalam korelasi ada dua arah korelasi, yaitu
   searah dan tidak searah. Pada SPSS hal ini ditandai dengan pesan two tailed. Arah korelasi
   dilihat dari angka koefesien korelasi. Jika koefesien korelasi positif, maka hubungan kedua
   variabel searah. Searah artinya jika variabel X nilainya tinggi, maka variabel Y juga tinggi.
   Jika koefesien korelasi negatif, maka hubungan kedua variabel tidak searah. Tidak searah
   artinya jika variabel X nilainya tinggi, maka variabel Y akan rendah.

       Dalam kasus, misalnya hubungan antara kepuasan kerja dan komitmen terhadap
   organisasi sebesar 0,86 dengan angka signifikansi sebesar 0 akan mempunyai makna bahwa
   hubungan antara variabel kepuasan kerja dan komitmen terhadap organisasi sangat kuat,
   signifikan dan searah. Sebaliknya dalam kasus hubungan antara variabel mangkir kerja
   dengan produktivitas sebesar -0,86, dengan angka signifikansi sebesar 0; maka hubungan
   kedua variabel sangat kuat, signifikan dan tidak searah.



1.3.8. Uji Hipotesis

       Pengujian hipotesis uintuk korelasi digunakan uji T. Rumusnya sebagai berikut:




   Pengambilan keputusan menggunakan angka pembanding t tabel dengan kriteria sebagai
   berikut:

          Jika t hitung > t table H0 ditolak; H1 diterima

          Jika t hitung < t table H0 diterima; H1 ditolak



Kita dapat juga menggunakan kurva seperti di bawah ini:
0

H0 diterima

t tabel

-t tabel

H0 diterima

Jika t hitung negatif

Jika t hitung positif
Contoh: Hubungan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai



Hipotesis berbunyi sbb:

      H0: Tidak ada hubungan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai
      H1: Ada hubungan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai



Hasil t hitung sebesar 3,6

T table dengan ketentuan α= 0,05 Degree of freedom: n-2, dan n = 30 diketemukan sebesar:
2,048. Didasarkan ketentuan di atas, maka t hitung 3,6 > t table 2,048. Dengan demikian H0
ditolak dan H1 diterima. Artinya ada hubungan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai



Disamping menggunakan cara diatas, cara kedua ialah menggunakan angka signifikansi. Caranya
sebagai berikut:



Hipotesis berbunyi sbb:

      H0: Tidak ada hubungan signifikan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai
      H1: Ada hubungan signifikan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai



Angka signifikansi hasil perhitungan sebesar 0,03. Bandingkan dengan angka signifikansi
sebesar 0,05. Keputusan menggunakan kriteria sbb:



           o   Jika angka signifikansi hasil riset < 0,05, maka H0 ditolak.
           o   Jika angka signifikansi hasil riset > 0,05, maka H0 diterima
Didasarkan ketentuan diatas maka signifikansi hitung sebesar 0,03 < 0,05, maka H0 ditolak dan
H1 diterima. Artinya Ada hubungan signifikan antara kepuasan kerja dengan loyalitas pegawai.



Dalam SPSS pengujian dilakukan dengan menggunakan angka signifikansi. Oleh karena itu
dalam contoh analisis pada bab berikutnya akan hanya menggunakan angka signifikansi.




1.3.9 Koefesien Determinasi

        Koefesien diterminasi dengan simbol r2 merupakan proporsi variabilitas dalam suatu data
yang dihitung didasarkan pada model statistik. Definisi berikutnya menyebutkan bahwa r2
merupakan rasio variabilitas nilai-nilai yang dibuat model dengan variabilitas nilai data asli.
Secara umum r2 digunakan sebagai informasi mengenai kecocokan suatu model. Dalam regresi
r2 ini dijadikan sebagai pengukuran seberapa baik garis regresi mendekati nilai data asli yang
dibuat model. Jika r2 sama dengan 1, maka angka tersebut menunjukkan garis regresi cocok
dengan data secara sempurna.

        Interpretasi lain ialah bahwa r2 diartikan sebagai proporsi variasi tanggapan yang
diterangkan oleh regresor (variabel bebas / X) dalam model. Dengan demikian, jika r2 = 1 akan
mempunyai arti bahwa model yang sesuai menerangkan semua variabilitas dalam variabel Y.
jika r2 = 0 akan mempunyai arti bahwa tidak ada hubungan antara regresor (X) dengan variabel
Y. Dalam kasus misalnya jika r2 = 0,8 mempunyai arti bahwa sebesar 80% variasi dari variabel Y
(variabel tergantung / response) dapat diterangkan dengan variabel X (variabel bebas /
explanatory); sedang sisanya 0,2 dipengaruhi oleh variabel-variabel yang tidak diketahui atau
variabilitas yang inheren. (Rumus untuk menghitung koefesien determinasi (KD) adalah KD = r2
x 100%) Variabilitas mempunyai makna penyebaran / distribusi seperangkat nilai-nilai tertentu.
Dengan menggunakan bahasa umum, pengaruh variabel X terhadap Y adalah sebesar 80%;
sedang sisanya 20% dipengaruhi oleh faktor lain.

       Dalam hubungannya dengan korelasi, maka r2 merupakan kuadrat dari koefesien
korelasi yang berkaitan dengan variabel bebas (X) dan variabel Y (tergantung). Secara umum
dikatakan bahwa r2 merupakan kuadrat korelasi antara variabel yang digunakan sebagai
predictor (X) dan variabel yang memberikan response (Y). Dengan menggunakan bahasa
sederhana r2 merupakan koefesien korelasi yang dikuadratkan. Oleh karena itu, penggunaan
koefesien determinasi dalam korelasi tidak harus diinterpretasikan sebagai besarnya pengaruh
variabel X terhadap Y mengingat bahwa korelasi tidak sama dengan kausalitas. Secara bebas
dikatakan dua variabel mempunyai hubungan belum tentu variabel satu mempengaruhi variabel
lainnya. Lebih lanjut dalam konteks korelasi antara dua variabel maka pengaruh variabel X
terhadap Y tidak nampak. Kemungkinannya hanya korelasi merupakan penanda awal bahwa
variabel X mungkin berpengaruh terhadap Y. Sedang bagaimana pengaruh itu terjadi dan ada
atau tidak kita akan mengalami kesulitan untuk membuktikannya. Hanya menggunakan angka r2
kita tidak akan dapat membuktikan bahwa variabel X mempengaruhi Y.

       Dengan demikian jika kita menggunakan korelasi sebaiknya jangan menggunakan
koefesien determinasi untuk melihat pengaruh X terhadap Y karena korelasi hanya menunjukkan
adanya hubungan antara variabel X dan Y. Jika tujuan riset hanya untuk mengukur hubungan
maka sebaiknya berhenti saja di angka koefisien korelasi. Sedang jika kita ingin mengukur
besarnya pengaruh variabel X terhadap Y sebaiknya menggunakan rumus lain, seperti regresi
atau analisis jalur.




1.4 Ringkasan

        Teknik analisis korelasi merupakan bagian dari teknik pengukuran asosiasi (measure of
association) yang berguna untuk mengukur kekuatan hubungan dua variabel (atau lebih).
Terdapat beberapa teknik analisis korelasi, diantaranya yang paling terkenal dan digunakan
secara luas diseluruh dunia ialah teknik analisis korelasi Pearson dan Spearman.

        Korelasi merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan
dua variabel. Korelasi tidak secara otomatis menunjukkan hubungan kausalitas antar variabel.
Hubungan dalam korelasi dapat berupa hubungan linier positif dan negatif. Interpretasi koefesien
korelasi akan menghasilkan makna kekuatan, signifikansi dan arah hubungan kedua variabel
yang diteliti. Untuk melihat kekuatan koefisien korelasi didasarkan pada jarak yang berkisar
antara 0 -1. Untuk melihat signifikansi hubungan digunakan angka signifikansi / probabilitas /
alpha. Untuk melihat arah korelasi dilihat dari angka koefisien korelasi yang menunjukkan
positif atau negatif.

        Konsep-konsep korelasi dalam bagian ini akan dijadikan sebagai pijakan atau landasan
teori dalam menggunakan teknik korelasi di bagian-bagian berikutnya dalam buku ini. Oleh
karena itu, pembaca perlu memahami konsep dasar korelasi sebelum menggunakannya.



1.5 Pertanyaan-Pertanyaan



       1. Mengapa pengukuran asosiasi penting dalam kehidupan manusia sampai saat ini?

       2. Apa yang dimaksud dengan asosiasi itu?

       3. Sebutkan contoh-contoh teknik analisis yang termasuk dalam pengukuran asosiasi!
      4. Apa kegunaan pokok teknik analisis korelasi?

      5. Bagaimana kedudukan variabel dalam korelasi?

      6. Apa maksud korelasi sama dengan 0?

      7. Apa maksud korelasi tidak sama dengan 0?

      8. Apa maksud korelasi sama dengan + 1?

      9. Apa maksud korelasi sama dengan -1?

      10. Kapan kita dapat menggunakan teknik korelasi?

      11. Apa perbedaan antara korelasi dan kausalitas?

      12. Apa perbedaan antara korelasi dan linieritas?

      13. Apa saja asumsi dalam menggunakan korelasi dan terangkan maksudnya?

      14. Sebutkan karakteristik korelasi!

      15. Apa yang dimaksud dengan koefesien korelasi? Berikan contohnya!

      16. Apa makna signifikansi dalam korelasi? Terangkan dengan jelas!

      17. Apa saja hasil interpretasi dalam analisis korelasi?

      18. Bagaimana melakukan pengujian hipotesis dalam korelasi?

      19. Apa itu koefesien determinasi?

      20. Perlukah kita menghitung koefesien determinasi dalam korelasi? Berikan
         penjelasannya.

http://www.jonathansarwono.info/korelasi/korelasi.htm
Rabu, 25 Maret 2009
KUALITAS DAN KESEJAHTERAAN GURU, MASALAH KLASIK
PENDIDIKAN KITA

Oleh: Arkanudin


Pendahuluan
Sudah banyak didengar komentar tentang mutu pendidikan akhir-akhir ini. Pada umumnya
komentar itu tidak dapat dikatakan hanya sebatas wacana, karena anggota masyarakat melihat
dan merasakan namun sulit untuk membuktikannya. Hal ini disebabkan karena tidak ada data
yang menunjukkan apa dan bagaimana kelemahan yang dikeluhkan masyarakat.
Keluhan atau banyaknya komentar masyarakat sebagai pemakai jasa pendidikan terhadap mutu
pendidikan (guru) saat ini, setidaknya seperti yang diungkapkan oleh Prof.Dr. Fuad Hasan dalam
dialog interaktif TVRI menyatakan bahwa hanya 30 % guru-guru masa kini yang layak mengajar
(http://wwww.mentawai.org/pot9.htm). Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebenaran
ungkapan tersebut, bahwa eksistensi atau keberadaan dan keprofesionalan guru di sekolah dalam
mengajar telah dipertanyakan, lebih-lebih bila dihubungkan dengan merosotnya kualitas
pendidikan nasional yang dirasakan hampir setiap lini pendidikan. Secara garis besar tidaklah
wajar penyebab rendahnya mutu pendidikan kita ditimpahkan kepada guru, tentunya banyak
indikator (purituker) lainnya, yakni ibarat mata rantai satu dengan lainnya.
Dipihak lain ada pendapat yang menyatakan bahwa rendahnya mutu pendidikan saat ini tidak
hanya disebabkan oleh faktor yang berasal dari internal guru itu sendiri tetapi juga berasal dari
luar. Faktor-faktor tersebut antara lain penghasilan yang diperoleh guru belum mampu
memenuhi kebutuhan hidup. Disamping itu minat guru untuk menambah pengetahuan dan
informasi sebagai upaya meningkatkan mutu masih kurang, sebab ada anggapan bertambah atau
tidaknya pengetahuan serta kemampuan dalam melaksanakan tugas tidak berpengaruh terhadap
pendapatan (gaji) yang diterima dalam tiap bulannya. Konsekwensi logis atas hal ini akan
berpengaruh terhadap peningkatan kualitas guru itu sendiri, sehingga dengan kondisi yang
demikian sebaik apapun kurikulum yang akan diterapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional kita tampaknya masih kurang berhasil.
Menurut Usmeidi (1999) setidaknya ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya
perbaikan pendidikan selama ini kurang berhasil yaitu: (1) strategi pembangunan pendidikan
selama ini bersifat input oriented, yaitu pemenuhan semua input pendidikan seperti penyediaan
materi untuk belajar dan mengajar dan alat-alat, akan dapat menghasilkan out put yang sama
mutunya, namun sampai sekarang ini tidak sesuai seperti yang diharapkan; (2) pengelolaan
pendidikan selama ini lebih bersifat makro oriented, artinya lebih orientasi pendidikan banyak
diatur oleh pusat, pada hal banyak yang semestinya dapat dilakukan ditingkat mikro atau sekolah
(http://wwww.mentawai.org/pot9.htm).
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka tulisan ini bermaksud membicarakan masalah
bagaimana potret kualitas dan kesejahteraan guru secara keseluruhan. Diharapkan dapat
memberikan kontribusi positif bagi perbaikan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru.

Potret Kualitas Guru
Salah satu cara melihat kualitas guru dilakukan dengan melihat kualifikasi akademik yang
diperoleh oleh guru. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen bahwa kualifikasi akademik
adalah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru dan dosen sesuai dengan jenis
jenjang dan satuan pendidikan formal ditempat penugasan. Menurut Feisal (2000) apabila kita
ingin memperbaiki salah satu ranah kegiatan masyarakat dan atau pemerintahan, maka yang
harus diperbaiki pertama kali adalah sumber daya manusianya, baru sarana dan prasarana lainnya
apakah itu biaya, struktur organisasi, metodelogi, mekanisme dan sistem eveluasinya. Silverius
(1977:84); Zulfadli (2006) dengan kualitas manusia yang cerdas dan handal akan mampu
bertarung dalam era kompetitif. Kamajuan dan persaingan di dunia yang semakin terbuka tidak
mungkin dihadapi dengan kualitas manusia yang serba pas-pasan.
Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing secara
kompetitif hanya mungkin dicapai dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Pendidikan
yang berkualitas hanya mungkin dilakukan apabila orang-orang yang terlibat dalam dunia
pendidikan (guru) harus berkualitas, sebab tanpa guru yang berkualitas, sulit menghasilkan
murid yang berkualitas. Lalu seperti apa guru yang berkualitas, menurut Muchtaridi (2004) guru
yang berkualitas memiliki ciri-ciri antara lain mengajar dimengerti oleh siswa, wawasan
keilmuannya baik, suri tauladan bagi pendidikan moral siswanya, dan punya keinginan untuk
meng-uprade dirinya, dan totalitas bagi pendidikan. Tilaar (1999) dalam Sihombing (2001:48)
mengatakan bahwa dalam kehidupan abad 21 menuntut manusia unggul dan hasil karya unggul.
Hanya manusia unggul yang dapat survice. Dengan demikian hanya manusia yang unggul atau
berkualitas yang mampu menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Oleh karena itu masalah
sumber daya manusia perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak. Bahkan Aswandi
menyatakan bahwa dalam era globalisasi guru yang berkualitas sudah merupakan tuntutan dalam
pendidikan (Pontianak Post, 25 April 2006).
Dalam hubungan itu, maka tidaklah berlebihan bilamana Muchtaridi (2004) menyatakan bahwa
guru adalah ujung tombak dalam preoses pembelajaran. Meskipun ada sejumlah faktor lainnya
yang ikut menentukan efektivitas dan efisiensi kualitas pembelajaran, faktor guru tetap
menempati posisi yang strategis. Bahkan Bloom (1976) dalam Tangyong (1996) menyatakan
bahwa guru berada digarda paling depan yang paling bertanggungjawab dalam transfer of
knowledge kepada muridnya. Tugas guru mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
Maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika para gurunya banyak yang tidak berkualitas.
Bagaimanapun sistem pendidikannya, jika guru kurang siap melaksanakannya tetap saja hasilnya
sama jelek.
Di sekolah swasta bonafit, guru benar-benar dikontrol kualitasnya dengan berbagai program
yang diadakan Yayasan demi menjaga kualitas sekolah tersebut dan kepercayaan dari orang tua
murid, sehingga hasilnya sangat memuaskan. Sementara di sekolah negeri yang gurunya pegawai
negeri sipil (PNS) sudah terlanjur terjebak oleh kalimat pahlawan tanpa pamrih, sehingga akibat
posisi guru dimasyarakat terasa dipinggirkan dan tersisihkan. Banyaknya kasus pemalsuan ijazah
akhir-akhir ini yang dilakukan baik oleh oknum guru itu sendiri maupun pihak luar merupakan
salah satu indikator bahwa posisi guru diremehkan. Atas dasar ini, maka yang menjadi
pertanyaan adalah bagaimana potret kualifikasi dan kualitas guru-guru saat ini.
Berdasarkan data Bappenas bahwa jumlah guru SD hingga SMA saat ini tercatat 2,7 juta orang
yang terdiri atas 1,7 juta orang guru PNS dan 1 juta orang guru swasta (Kompas, 13 April 2006).
Dari jumlah tersebut Depdiknas mencatat kualifikasi guru mulai dari jenjang SD hingga SMA
sebagai berikut: yaitu pendidikan guru untuk jenjang SD yang memiliki kualifikasi ijazah SLTP
dan SLTA sebanyak 31,3 %; D-1,D-2 dan D-3 sebanyak 53,5 %; Sarjana (S-1) sebanyak 15,2 %
Tingkatan pendidikan guru SMP yang memiliki kualifikasi ijazah D-1, D-2 dan D-3 sebanyak
32,9 %; Sarjana Muda sebanyak 6,5 % dan yang berijazah sarjana (S-1) sebanyak 60,6 %;
Sementara untuk tingkat pendidikan Guru SMA yang memiliki kualifakasi ijazah D-1, D-2 dan
D-3 sebanyak 10, 2 %; Sarjana Muda sebanyak 8,6 % dan Sarjana (S-1) sebanyak 81,2 %.
Selanjut berkaitan dengan kualitas guru, berdasarkan hasil penelitian Lembaga Pengujian Mutu
pendidikan (LPMP) pada bulan Januari 2005 menemukan bahwa sekitar 60 % guru di
Kalimantan Barat tidak layak mengajar (Warta Pemprovinsi, 23 Januari 2006). Bahkan menurut
Aswandi (Pontianak Post, 25 April 2006) sebagian besar guru di Kalimantan Barat belum
memenuhi kualifikasi akademik yang dipersyaratkan oleh sebuah profesi guru yaitu minimal S1
atau D4. Jumlah guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik di semua jenjang pendidikan
adalah sebagai berikut: TK/RA/BA sebesar 94, 41 %; SD/MI sebesar 96,79 %; SMP/Mts sebesar
46,55 % dan SMA/SMK sebesar 35,72 %. Kualifikasi guru yang telah menempuh pendidikan
strata S1 tersebut sangat beragam, terdiri dari sarjana kependidikan dan non kependidikan.
Berpijak pada realitas sebagaimana yang digambarkan diatas, sebenarnya untuk meningkatkan
kualifikasi guru pemerintah telah menetapkan standar latar belakang pendidikan guru Taman
Kanak (TK) dan SD ditingkatkan menjadi minimal lulusan Diploma Dua (D2), lulusan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGTK/PGSD), latar belakang pendidikan guru SMP minimal
lulusan Diploma Tiga (D3), sementara untuk guru SMA minimal Sarjana (S1). Belum tuntas
program peningkatan pendidikan guru dan calon guru tersebut, lahirlah Undang-undang Nomor
14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang menetapkan standar
pendidikan guru minimal D4 atau S1 untuk guru dan calon guru mulai dari jenjang pendidikan
SD hingga SMA.

Potret Kesejahteraan guru
Salah satu persoalan klasik dalam dunia pendidikan yang dirasakan selama bertahun-tahun dan
sampai kini belum terpecahkan adalah masalah kesejahteraan khususnya yang menyangkut
masalah rendahnya gaji guru. Keluhan tentang rendahnya gaji guru sudah dikemukakan
berulangkali pada setiap pembicaraan pendidikan, tetapi belum memperoleh tanggapan serius
untuk perbaikan. Sejak Presiden BJ. Habibie menjadi Presiden, hingga Presiden Susilo Bambang
Yudoyono, selalu ada janji untuk melakukan perbaikan kesejahteraan/gaji guru, tetapi hasilnya
belum signifikan dalam pengertian tidak seimbang antara hak dan kewajiban, menurut Ellis
(dalam Husin, 2003:458) hak dan kewajiban guru bersifat fungsional, hal ini berarti bahwa bila
hak yang diperoleh guru memenuhi kepuasan, maka ia akan memenuhi kewajibannya dengan
baik. Sebaliknya, bila hak tidak sesuai dengan harapannya, maka kewajiban dilaksanakan kurang
optimal. Hal ini akan berdsampak negatif terhadap kualitas kinerja guru dan hasil belajar siswa.
Bila dibandingkan dengan gaji guru-guru di negara lain, bahkan dengan Malaysia, gaji guru di
Indonesia amat rendah karena nilai tukarnya tidak cukup untuk kebutuhan hidup sebulan dengan
empat-lima anggota keluarga. Kalau seorang guru dapat membeli pesawat televisi, radio tape,
sepeda motor, dan barang-barang mewah lainnya atau mengangsur perumahan, hal itu karena
utang dengan menggunakan agunan gaji mereka setiap bulan dipotong. Sedangkan gaji guru di
negara lain cukup untuk kebutuhan satu bulan, berekreasi, membeli buku, dan menabung.
Bila dibandingkan dengan kesejahteraan PNS lain di Indonesia, secara nominal gaji guru lebih
tinggi untuk golongan yang sama, misalnya sama-sama golongan III C antara PNS guru dan non
guru, karena guru mendapat tambahan tunjangan fungsional. Tetapi jam kerja PNS non guru
terbatas, sehari hanya delapan jam atau seminggu 42 jam. Sedangkan jam kerja guru tidak
terbatas. Memang mengajarnya hanya pukul 07.00-12,45, tetapi sebelum mengajar harus
menyiapkan bahan, administrasi (SAP), dan setelah mengajar mereka harus mengoreksi hasil
pekerjaan murid.
Peluang untuk memperoleh pendapatan tambahan diluar gaji bagi PNS non guru lebih terbuka
karena sering ada proyek-proyek atau urusan lain dengan masyarakat. Sedangkan guru,
peluangnya untuk memperoleh tambahan pendapatan hanya bila melakukan penjualan buku
kepada murid dengan mendapat diskon atau persenan dari penerbit. Namun hal itu tidak jarang
mendapat respon negatif dari masyarakat. Hal ini karena harapan masyarakat terhadap guru
memang bukan hanya peranannya di dalam kelas saja, tetapi juiga di luar kelas juiga dapat
memberi teladan. Tetapi peran memberi teladan ini tidak pernah diharga secara material dan
sosial.
Sebenarnya perbaikan kualitas dan gaji guru telah termuat dalam amanat Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 1989, kemudian diperbaharui lagi Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yang tercantum pada pasal 40 ayat 1 butir a, menyebutkan bahwa pendidik
dan tenaga kependidikan berhak memperoleh penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang
pantas dan memadai. Dalam penjelasan atas pasal-pasal yang dimaksud dengan penghasilan yang
pantas dan memadai adalah penghasilan yang mencerminkan martabat guru sebagai pendidik
yang profesional di atas kebutuhan hidup minimum (KHM). Yang dimaksud dengan jaminan
kesejateraan sosial yang pantas dan memadai, antara lain jaminan kesehatan dan jaminan hari
tua.
Komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru tidak hanya diamanat dalam UU
Sisdiknas tetapi dipertegas lagi dalam Undang-undang Guru dan Dosen. Dengan demikian telah
mendapat kekuatan yuridis dalam Undang Nomor 14 Tahun 2005. Dimana dalam pasal 15
mengamanatkan agar guru mendapat penghasilan minimum diatas kebutuhan hidup minimum,
maka guru menerima penghasilan yang meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji,
serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus dan
maslahat tambahan. Sehingga dengan jaminan kesejahteraan itu guru diharapkan dapat lebih
bersemangat dan mempunyai produktivitas yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan
Dalam hal pemberian kesejahteraan, menurut Undang-undang Guru dan Dosen tidak
membedakan antara guru PNS dan Guru Swasta. Juga tak dibedakan jenjang sekolah tempat
mengajar. Berdasarkan pasal 17 Undang-undang Guru dan Dosen, tunjangan fungsional berlaku
umum. Artinya, setiap guru PNS maupun Swasta berhak mendapatkannya dari pemerintah pusat
dan pemerintah daerah meskipun besarnya tidak tersurat. Adapun tunjangan profesi, berdasarkan
pasal 16 Undang-undang guru dan dosen, diberikan kepada guru yang telah meraih sertifkat
pendidik. Khusus bagi guru PNS, besarnya tunjangan profesi ditetapkan setara satu kali gaji
pokok. Tunjangan Khusus, berdasarkan pasal 18 UU ini, diberikan kepada guru yang bertugas di
daerah dengan tingkat kesulitan khusus, seperti daerah terpencil. Bagi PNS, besarnya tunjangan
khusus juga setara gaji pokok.

Penutup
Sebagai penutup tulisan ini, dapat dikemukakan bahwa dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan dan kesejahteraan guru, maka strategi yang harus dilakukan antara lain: (1) adanya
komitmen semua tenaga pendidik dan kependidikan untuk sungguh-sungguh menunaikan
kewajiban sebagai seorang guru, yang memiliki tanggungjawab, dedikasi dan loyalitas tinggi di
dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih; (2) adanya komitmen
Propinsi, Kabupaten dan Kota untuk menganggarkan alokasi dana untuk sektor pendidikan 20 %
seperti amanat UU; (3) adanya komitmen semua semua pihak, baik pemerintah, masyarakat,
sekolah, orang tua, dan murid untuk bersama-sama meningkat mutu pendidikan; (4) Mengangkat
tenaga guru benar-benar yang berasal dari guru yang tamatan dari LPTK, bukan yang berasal
dari tenaga yang tamatan non LPTK dengan berbekal AKTA IV; (5) meningkatkan kualifikasi
guru disemua jenjang pendidikan, baik melalui penyataraan pendidikan, maupun diklat-diklat
dan lain-lain.


BAHAN RUJUKAN

Aswandi. 2006. Sekilas Wajah Pendidikan Kalimantan Barat, Pontianak Post, tanggal 25 April.

Feisal, Jusuf Amir. 2000. Kebijakan Pendidikan Nasional Menghadapi Tantangan Global,
Dalam: Bulletin Penabur, Nomor 10 Th XXVII.

Guru Tunggu Tunjangan Fungsional, Suara Pembaharuan, 1 Mei 2006

Hamdani. 2006. Rekruetmen Guru Demi Masa Depan
Bangsa,http//www.freeligts.org/archives/ppi//02-06.

Husin, H. Zulkifli, H. Rambat Nur Sasongko, 2003. Menata Manajemen Pendidikan, Antara
Perbaikan Kualitas dan gaji Guru di Era Otonomi Daerah, Dalam: Jurnal Pendidikan dan
kebudayaan, Nomor 043, Tahun ke 9, Juli.

Muchtaridi. 2004. Beda Guru Sekolah Negeri, Sekolah Swasta dan Bimbel. Homepage
Pendidikan network

Pasti, Y. Priyono. 2006. Kurikulum (Baru) atau Guru Bermutu, Pontianak Post, 13 Maret.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta:
Depdiknas.

Persoalan Guru Di Pertengahan Masyarakat. http://www.mentawai.org/pot9.htm

Silverius, Suke. 1997. Indikator dan Strategi Pendidikan Menuju Pembangunan Nasional Demi
Kesejahteraan Masyarakat, Dalam: Jurnal Pendidikan dan kebudayaan, Nomor 009 Tahun III,
Juni.

Sihombing, Umberto. 2001. Pendidikan Luar Sekolah Dalam menyongsong Otonomi Daerah,
Dalam: Jurnal Pendidikan dan kebudayaan, Nomor 028 Tahun ke 7, Maret.

Tangyong, Agus. F. 1996. Pengembangan Pendidikan (Pelaksanaan Kurikulum 1994), Dalam :
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 007 Tahun II, Nopember.

Tilaar, HAR. 1999. Beberapa agenda Reformasi Pendidikan Nasional

Tunjangan Fungsional Guru diusulkan Naik menjadi Rp. 500.000,-Harian Kompas, 4 Pebruari
2006.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen.

Zulfadli. 2006. Komitmen Memajukan Pendidikan, Pontianak Post, 4 Mei 2006
                              UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
                                    NOMOR 14 TAHUN 2005

                                              TENTANG

                                         GURU DAN DOSEN

                            DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

                                  PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang           :           a.       bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah
                         upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia
                         Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu
                         pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju,
                         adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
                         Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
                 b.                        bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses,
                         peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan
                         akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan
                         tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan
                         pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana,
                         terarah, dan berkesinambungan;
                 c.                         bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan
                         kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang
                         pendidikan sebagaimana dimaksud pada huruf a, sehingga perlu dikembangkan
                         sebagai profesi yang bermartabat;
                 d.                        bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
                         pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu dibentuk Undang-Undang tentang Guru
                         dan Dosen;

Mengingat       :            1.        Pasal 20, Pasal 22 d, dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar
                         Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

                 2.       Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
                         (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan
                         Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

                                    Dengan Persetujuan Bersama

                        DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                            dan
                                PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

                                           MEMUTUSKAN:

Menetapkan          :           UNDANG-UNDANG TENTANG GURU DAN DOSEN.

                                              BAB I
                                         KETENTUAN UMUM

                                                Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1.                                        Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
      mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
      pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
      menengah.
2.                                             Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan
      tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan,
      teknologi, dan Beni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
3.                                             Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor
      adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan
      tinggi.
4.                                        Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan
      oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran,
      atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
      profesi.
5.                                         Penyelenggara pendidikan adalah Pemerintah, pemerintah
      daerah, atau masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal.
6.                                       Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan
      yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal dalam setiap jenjang dan jenis
      pendidikan.
7.                                             Perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama adalah
      perjanjian tertulis antara guru atau dosen dengan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan
      yang memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para pihak dengan prinsip kesetaraan dan
      kesejawatan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
8.                                          Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja
      adalah pengakhiran perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama guru atau dosen karena
      sesuatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru atau dosen dan
      penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
9.                                           Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan
      akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan
      pendidikan formal di tempat penugasan.
10.                                           Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan,
      dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan
      tugas keprofesionalan.
11.                                          Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk
      guru dan dosen.
12.                                         Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan
      yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.
13.                                          Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan
      hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.
14.                                            Lembaga pendidikan tenaga kependidikan adalah perguruan
      tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada
      pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah,
      serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan.
15.                                         Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas
      pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial secara
      berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
16.                                           Penghasilan adalah hak yang diterira oleh guru atau dosen
      dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesionalan yang ditetapkan dengan
      prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru atau dosen sebagai
      pendidik profesional.
17.                                          Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau
      terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan dengan
      negara lain; daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam
      keadaan darurat lain.
18.                                        Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia
      nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
19.                                         Pemerintah adalah pemerintah pusat.
20.                                         Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah
      kabupaten, atau pemerintah kota.
21.                                          Menteri     adalah   menteri   yang   menangani   urusan
      pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional.


                                             BAB II
                                 KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN

                                               Pasal 2

(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan
    menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan
    peraturan perundang-undangan.
(2)           Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat
      (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

                                               Pasal 3

(1)                                            Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional
      pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2)                                          Pengakuan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
                                                Pasal 4

Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi
untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional.

                                               Pasal 5

Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) berfungsi
untuk meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional.

                                               Pasal 6

Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan
nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
                                              BAB III
                                     PRINSIP PROFESIONALITAS

                                                 Pasal 7

(1)          Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan
      berdasarkan prinsip sebagai berikut:
      a.                                          memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
      b.                                            memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu
          pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
      c.                                           memiliki kualifikasi akademik dan Tatar belakang
          pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
      d.                                          memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai
          dengan bidang tugas;
      e.                                           memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas
          keprofesionalan;
      f.                                           memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai
          dengan prestasi kerja;
      g.                                            memiliki kesempatan untuk mengembangkan
          keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
      h.                                            memiliki jaminan perlindungan hukum dalam
          melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
      i.                                            memiliki organisasi profesi yang rnempunyai
          kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

(2) Pemberdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi dosen diselenggarakan melalui
    pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan
    berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural,
    kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.


                                                 BAB IV
                                                 GURU

                                             Bagian Kesatu
                                Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi

                                                 Pasal 8

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

                                                 Pasal 9

Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana atau program diploma empat.

                                                Pasal 10

(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
    kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
    profesi.
(2)           Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 11

(1)                                          Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
      diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.
(2)                                       Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi
      yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh
      Pemerintah.
(3)                                               Sertifikasi   pendidik   dilaksanakan   secara   objektif,
      transparan, dan akuntabel.

(4)                                           Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik
      sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 12

Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat
menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.

                                                 Pasal 13

(1)                                           Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan
      anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan
      yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,
      dan masyarakat.
(2)                                               Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk
      peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
      dengan Peraturan Pemerintah.

                                              Bagian Kedua
                                            Hak dan Kewajiban

                                                 Pasal 14

(1)        Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:
      a.                                              memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup
           minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
      b.                                               mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai
           dengan tugas dan prestasi kerja;
      c.                                               memperoleh perlindungan dalam melaksanakan
           tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
      d.                                               memperoleh kesempatan untuk meningkatkan
           kompetensi;
      e.                                               memperoleh dan memanfaatkan sarana dan
           prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
      f.                                             memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan
           ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan
           kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundangundangan;
      g.                                              memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan
           dalam melaksanakan tugas;
      h.                                             memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi
           profesi;
      i.                                              memiliki   kesempatan    untuk   berperan    dalam
           penentuan kebijakan pendidikan;
      j.                                             memperoleh kesempatan untuk mengembangkan
           dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/ atau
      k.                                             memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi
           dalam bidangnya.
(2)          Ketentuan lebih lanjut mengenai hak guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
      dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 15

(1)                                              Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum
      sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat
      pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus,
      dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip
      penghargaan atas dasar prestasi.
(2)                                         Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan
      perundang-undangan.
(3) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji
    berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

                                                 Pasal 16

(1)                                           Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana
      dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat
      oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
(2)                                            Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi
      yang sama.
(3)                                         Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran
      pendapatan dan belanja daerah (APBD).
(4)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi guru
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 17

(1)                                            Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan
      tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat
      oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
(2)                                           Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan
      subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada gum yang
      diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan
      perundang-undangan.
(3)                                          Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat
      (1) dan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dialokasikan dalam
      anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah.

                                                 Pasal 18
(1)                                          Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana
      dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang bertugas di daerah khusus.
(2)                                            Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi
      yang sama.
(3)                                           Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah di daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh pemerintah daerah sesuai
      dengan kewenangan.
(4)                                           Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                               Pasal 19

(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) merupakan tambahan
    kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa,
    dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri
    guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.
(2)                                         Pemerintah dan/atau pemerintah         daerah   menjamin
      terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                               Pasal 20


Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
a.                                                merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses
    pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b.                                              ineningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik
    dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
    dan seni;
c.                                              bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar
    pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang
    keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d.                                             menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,
    dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
e.                                              memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan
    bangsa.

                                            Bagian Ketiga
                                     Wajib Kerja dan Ikatan Dinas

                                               Pasal 21

(1)                                          Dalatn keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan
      ketentuan wajib kerja kepada guru dan/atau warga negara Indonesia lainnya yang memenuhi
      kualifikasi akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai guru di daerah khusus di
      wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(2)                                         Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara
      Indonesia sebagai guru dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
      Peraturan Pemerintah.
                                                 Pasal 22
(1)                                            Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat
      menetapkan pola ikatan dinas bagi calon guru untuk memenuhi kepentingan pembangunan
      pendidikan nasional atau kepentingan pembangunan daerah.
(2)                                         Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi
      calon guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.


                                                 Pasal 23

(1) Pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru ikatan dinas berasrama di lembaga pendidikan
    tenaga kependidikan untuk menjamin efisiensi dan mutu pendidikan.
(2) Kurikulum pendidikan guru pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud
    pada ayat (1) hams mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan
    pendidikan nasional, pendidikan bertaraf internasional, dan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

                                          Bagian Keempat
                               Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan,
                                        dan Pemberhentian

                                                 Pasal 24

(1)                                          Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam
      jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin
      keberlangsungan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal serta untuk menjamin
      keberlangsungan pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah.
(2)                                          Pemerintah provinsi wajib memenuhi kebutuhan guru, balk
      dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin
      keberlangsungan pendidikan menengah dan pendidikan khusus sesuai dengan kewenangan.
(3)                                            Pemerintah kabupaten/kota wajib memenuhi kebutuhan
      guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk
      menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal
      sesuai dengan kewenangan.
(4)                                               Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan anak
      usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang diselenggarakan
      oleh masyarakat wajib memenuhi kebutuhan guru tetap, baik dalam jumlah,                  kualifikasi
      akademik, maupun kompetensi-nya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan.

                                                 Pasal 25

(1)     Pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan
    peraturan perundangundangan.
(2)                                        Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan
    pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah atau pemerintah daerah diatur dengan Peraturan
    Pemerintah.
(3)                                            Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan
      pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau satuan
      pendidikan yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.
                                                Pasal 26

(1)                                             Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah dapat ditempatkan pada jabatan struktural.
(2)                                            Ketentuan Iebih lanjut mengenai penempatan guru yang
      diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada jabatan struktural sebagaimana dimaksud
      pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                Pasal 27

Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan pendidikan di Indonesia wajib
mematuhi kode etik guru dan peraturan perundang-undangan.

                                                Pasal 28

(1)                                            Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah dapat dipindahtugaskan antar provinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan maupun
      antarsatuan pendidikan karena alasan kebutuhan satuan pendidikan dan/atau promosi.
(2)                                         Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah dapat mengajukan permohonan pindah tugas, baik antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota,
      antarkecamatan maupun antarsatuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3)                                         Dalam hal permohonan kepindahan dikabulkan,
      Pemerintah atau pemerintah daerah memfasilitasi kepindahan guru sebagaimana dimaksud pada
      ayat (2) sesuai dengan kewenangan.
(4)                                             Pemindahan guru pada satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan
      yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.
(5)                                            Ketentuan lebih lanjut mengenai pemindahan guru
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                Pasal 29

(1)                                             Guru yang bertugas di daerah khusus memperoleh hak
      yang meliputi kenaikan pangkat rutin secara otomatis, kenaikan pangkat istimewa sebanyak 1 (satu)
      kali, dan perlindungan dalam pelaksanaan tugas.
(2)                                         Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah wajib menandatangani pernyataan kesanggupan untuk ditugaskan di daerah khusus paling
      sedikit selama 2 (dua) tahun.
(3)                                           Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah yang telah bertugas selama 2 (dua) tahun atau lebih di daerah khusus berhak pindah tugas
      setelah tersedia guru pengganti.
(4)                                           Dalam hal terjadi kekosongan guru, Pemerintah atau
      pemerintah daerah wajib menyediakan guru pengganti untuk menjamin keberlanjutan proses
      pembelajaran pada satuan pendidikan yang bersangkutan.
(5)                                        Ketentuan lebih lanjut mengenai guru yang bertugas di
      daerah khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan
      Peraturan Pemerintah.
                                               Pasal 30

(1)         Guru dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatan sebagai guru karena:
      a.                                        meninggal dunia;
      b.                                        mencapai batas usia pensiun;
      c.                                        atas permintaan sendiri;
      d.                                         sakit jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat
         melaksanakan tugas secara terns-menerus selama 12 (dua belas) bulan; atau
      e.                                        berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja
         bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan.
(2)         Guru dapat diberhentikan tidak dengan hormat dart jabatan sebagai guru karena:
      a.                                           melanggar sumpah dan janji jabatan;
      b.                                           melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja
         bersama; atau
      c.                                             melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas
         selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus.
(3)          Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai
      dengan peraturan perundangundangan.
(4)          Pemberhentian guru karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
      dilakukan pada usia 60 (enam puluh) tahun.
(5) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang diberhentikan dart jabatan
    sebagai guru, kecuali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan
    sendirinya diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil.

                                               Pasal 31

(1)                                             Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal
      30 ayat (2) dapat dilakukan setelah gum yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela dirt.
(2)                                            Guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
      masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri memperoleh
      kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

                                          Bagian Kelima
                                   Pembinaan dan Pengembangan

                                               Pasal 32
(1)                                          Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan
      dan pengembangan profesi dan karier.
(2)                                              Pembinaan dan  pengembangan    profesi   guru
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
      kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
(3)                                           Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana
      dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui jabatan fungsional.
(4)                                          Pembinaan dan pengembangan karier guru sebagaimana
      dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.

                                               Pasal 33
Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat ditetapkan dengan Peraturan
Menteri.

                                                 Pasal 34

(1)                                          Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan
      mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru pada satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
(2)                                      Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat
      wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
(3)                                          Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan
      anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian guru pada satuan pendidikan yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

                                                 Pasal 35

(1)                                           Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu
      merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai basil pembelajaran,
      membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan.
(2)                                          Beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40
      (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
(3)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja guru
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                             Bagian Keenam
                                              Penghargaan

                                                 Pasal 36

(1)                                        Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau
      bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan.
(2)                                       Guru yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah
      khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

                                                 Pasal 37

(1)                                           Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah
      daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan.
(2)                                       Penghargaan dapat diberikan pada tingkat sekolah, tingkat
      desa/kelurahan, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional,
      dan/atau tingkat internasional.
(3)                                           Penghargaan kepada guru dapat diberikan dalam bentuk
      tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain.
(4)                                           Penghargaan kepada guru dilaksanakan dalam rangka
      memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari
      ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, hari pendidikan nasional, hari guru
      nasional, dan/atau hari besar lain.
(5)                                      Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan
      Pemerintah.

                                                 Pasal 38

Pemerintah dapat menetapkan hari guru nasional sebagai penghargaan kepada guru yang diatur dengan
peraturan perundang-undangan.

                                      Bagian Ketujuh Perlindungan

                                                 Pasal 39

(1)                                       Pemerintah, pemerintah daerah, tasyarakat, organisasi
      profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam
      pelaksanaan tugas.
(2)                                         Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
      perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
(3)                                            Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
      mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif,
      intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, rang tua peserta didik, masyarakat,
                                                                    p


      birokrasi, atau pihak lain.
(4)                                         Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
      mencakup perlindungan terhadap petnutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan
      perundangundangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan
      pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat
      guru dalam melaksanakan tugas.
(5)                                           Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja
      sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan
      kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja,
      dan/atau risiko lain.

                                            Bagian Kedelapan
                                                  Cuti

                                                 Pasal 40
(1)                                           Guru memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-
      undangan.
(2)                                           Guru dapat memperoleh cuti untuk studi dengan tetap
      memperoleh hak gaji penuh.
(3)                                             Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana
      dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                          Bagian Kesembilan
                                    Organisasi Profesi dan Kode Etik

                                                 Pasal 41

(1)                                           Guru membentuk organisasi profesi yang bersifat
      independen.
(2)                                            Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan,
      perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.
(3)                                         Guru wajib menjadi anggota organisasi profesi.
(4)                                           Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud
      pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(5)                                             Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat
      memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi
      guru.

                                              Pasal 42

Organisasi profesi guru mempunyai kewenangan:
a.                                       menetapkan dan menegakkan kode etik guru;
b.                                       memberikan bantuan hukum kepada guru;
c.                                       memberikan perlindungan profesi guru;
d.                                        melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru;
   dan
e.                                       memajukan pendidikan nasional.
                                           Pasal 43

(1)                                         Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan
      martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode
      etik.
(2)                                           Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi
      norma dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan.

                                              Pasal 44

(1)                                     Dewan kehormatan guru dibentuk oleh organisasi profesi guru.
(2)                                         Keanggotaan serta mekanisme kerja dewan kehormatan
      guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar organisasi profesi guru.
(3)                                          Dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada
      ayat (1) dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan memberikan rekomendasi
      pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik oleh guru.
(4)                                             Rekomendasi dewan kehormatan profesi guru
      sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hams objektif, tidak diskriminatif, dan tidak bertentangan
      dengan anggaran dasar organisasi profesi serta peraturan perundang-undangan.
(5)                                        Organisasi profesi guru wajib melaksanakan rekomendasi
      dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (3).


                                               BAB V
                                               DOSEN

                                          Bagian Kesatu
                     Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik

                                              Pasal 45
Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan
memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

                                                   Pasal 46

(1)           Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui
      pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian.
(2)         Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum:
      a.                                          lulusan program magister untuk program diploma
         atau program sarjana; dan
      b.                                         lulusan program doktor untuk program pascasarjana.
(3)        Setiap orang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa dapat diangkat menjadi dosen.
(4)      Ketentuan lain mengenai kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
      dan keahlian dengan prestasi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh
      masing-masing senat akademik satuan pendidikan tinggi.

                                                   Pasal 47
(1) Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi
    syarat sebagai berikut:
    a.                                            memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada
         perguruan tinggi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun;
    b.                                              memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya
         asisten ahli; dan
    c.                                            lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi
         yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang
         ditetapkan oleh Pemerintah.
(2)          Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi untuk menyelenggarakan
      program pengadaan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan.
(3)           Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud pada
      ayat (1) dan penetapan perguruan tinggi yang terakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
      diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                   Pasal 48
(1)        Status dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak tetap.
(2)        Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.
(3)                                             Persyaratan untuk menduduki jabatan akademik profesor
      hams memiliki kualifikasi akademik doktor.
(4)                                          Pengaturan kewenangan jenjang jabatan akademik dan
      dosen tidak-tetap ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan peraturan
      penindang-undangan.

                                                   Pasal 49
(1)                                     Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan
    pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon doktor.
(2)                                      Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya
    ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat.
(3)                                        Profesor yang memiliki karya ilmiah atau karya monumental
      lainnya yang sangat istimewa dalam bidangnya dan mendapat pengakuan internasional dapat
      diangkat menjadi profesor paripurna.
(4)                                      Pengaturan lebih lanjut mengenai profesor paripurna
      sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan
      peraturan perundangundangan.

                                               Pasal 50

(1)                                       Setiap orang yang memiliki kualifikasi akademik dan
      kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 mempunyai kesempatan yang sama untuk
      menjadi dosen.
(2)                                          Setiap orang, yang akan diangkat menjadi dosen
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengikuti proses seleksi.
(3)                                         Setiap orang dapat diangkat secara langsung menduduki
      jenjang jabatan akademik tertentu berdasarkan hasil penilaian terhadap kualifikasi akademik,
      kompetensi, dan pengalaman yang dimiliki.
(4)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi sebagaimana
      dimaksud pada ayat (2) dan pengangkatan serta penetapan jenjang jabatan akademik tertentu
      sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan
      peraturan perundang-undangan.


                                            Bagian Kedua
                                          Hak dan Kewajiban

                                               Pasal 51

(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berhak:
    a.                                          memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup
        minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
    b.                                           mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai
        dengan tugas dan prestasi kerja;
    c.                                          memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas
        dan hak atas kekayaan intelektual;
    d.                                            memperoleh kesempatan untuk meningkatkan
        kompetensi, akses sumber belajar, informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta
        penelitian dan pengabdian kepada masyarakat;
    e.                                          memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan
        otonomi keilmuan;
    f.                                          memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan
        menentukan kelulusan peserta didik; dan
    g.                                          memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi
        profesi/organisasi profesi keilmuan.
(2)          Ketentuan lebih lanjut mengenai hak dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
      dengan Peraturan Pemerintah.

                                               Pasal 52
(1)                                             Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum
      sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat
      pada gaji, serta penghasilan lain yang berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan
      khusus, tunjangan kehormatan, serta maslahat tambahan yang terkait dengan tugas sebagai dosen
      yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.
(2)                                        Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang
      diselenggarakan olch Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan
      perundang-undangan.
(3)                                          Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang
      diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja
      bersama.

                                                 Pasal 53
(1)                                          Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana
      dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang telah memiliki sertifikat pendidik yang
      diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan
      oleh masyarakat.
(2)                                              Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat,
      masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
(3)          Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran
      pendapatan dan belanja negara.
(4)             Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
      ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 54
(1)           Pemerintah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat
      (1) kepada dosen yang diangkat oleh Pemerintah.
(2)          Pemerintah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal
      52 ayat (1) kepada dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh
      masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3)         Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran
      pendapatan dan belanja negara.

                                                 Pasal 55
(1)                                          Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana
      dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang bertugas di daerah khusus.
(2)                                          Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah atau
      pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
(3)                                         Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
(4)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 Pasal 56

(1)                                           Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada
      profesor yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi setara 2 (dua)
      kali gaji pokok profesor yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang
      sama.
(2)                                       Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kehormatan
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                              Pasal 57

(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) merupakan tambahan
    kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa,
    dan penghargaan bagi dosen, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri
    dosen, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.
(2)                                          Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin
      terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)                                           Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                              Pasal 58

Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang
diselenggarakan oleh masyarakat berhak memperoleh jaminan sosial tenaga kerja sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

                                              Pasal 59
(1)                                           Dosen yang mendalami dan mengembangkan bidang ilmu
      langka berhak memperoleh dana dan fasilitas khusus dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
(2)                                         Dosen yang diangkat oleh Pemerintah di daerah khusus,
      berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai
      dengan kewenangan.

                                              Pasal 60

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berkewajiban:
a.         melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat;
b.                                             merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta
    menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
c.                                              meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik
    dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
    dan seni;
d.                                               bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar
    pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, kondisi fisik tertentu, atau latar belakang
    sosioekonomi peserta didik dal am pembelajaran;
e.                                             menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,
    dan kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
f.                                              memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan
    bangsa.

                                           Bagian Ketiga
                                    Wajib Kerja dan Ikatan Dinas

                                              Pasal 61

(1)          Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada
      dosen dan/atau warga negara Indonesia lain yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi
      untuk melaksanakan tugas sebagai dosen di daerah khusus.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara Indonesia sebagai dosen dalam keadaan
    darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

                                              Pasal 62

(1)           Pemerintah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon dosen untuk mcmenuhi .
      kepentingan pembangunan pendidikan nasional, atau untuk memenuhi kepentingan pembangunan
      daerah.

(2)          Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi calon dosen sebagaimana dimaksud
      pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
                                             Bagian Keempat
                              Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan
                                             Pemberhentian

                                              Pasal 63
(1)                                         Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan
      pendidikan tinggi dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-
      undangan.
(2)                                          Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan
      pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah diatur dengan Peraturan Pemerintah.
(3)                                         Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan
      pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan
      atau satuan pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan
      kerja bersama.
(4)                                         Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi
      satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk menjamin tcrselenggaranya
      pendidikan yang bermutu.

                                              Pasal 64
(1)                                          Dosen yang diangkat oleh Pemerintah dapat ditempatkan
      pada jabatan struktural sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2)                                       Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dosen yang
      diangkat oleh Pemerintah pada jabatan struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
      dengan Peraturan Pemerintah.

                                              Pasal 65
Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai dosen pada satuan pendidikan tinggi di Indonesia wajib
mematuhi peraturan perundang-undangan.

                                              Pasal 66
Pemindahan dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh
penyelenggara pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

                                              Pasal 67

(1) Dosen dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatan sebagai dosen karena:
    a.                                         meninggal dunia;
    b.                                         mencapai batas usia pensiun;
      c.                                           atas permintaan sendiri;
      d.                                          tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus
         selama 12 (dua belas) bulan karena sakit jasmani dan/atau rohani; atau
      e.                                           berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja
         bersama antara dosen dan penyelenggara pendidikan.

(2)           Dosen dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan sebagai dosen karena:
      a.                                             melanggar sumpah dan janji jabatan;
      b.                                                melanggar   perjanjian    kerja  atau
           kesepakatan kerja bersama; atau
      c.                                               melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas
           selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus.
(3) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh
    penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan peraturan
    perundang-undangan.
(4)           Pemberhentian dosen karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
      b dilakukan pada usia 65 (enam puluh lima) tahun.
(5)            Profesor yang berprestasi dapat diperpanjang batas usia pensiunnya sampai 70 (tujuh puluh)
      tahun.
(6)           Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang diberhentikan dari jabatan sebagai dosen,
      kecuali sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan
      sebagai pegawai negeri sipil.

                                                  Pasal 68
(1)                                          Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud dalam
      Pasal 67 ayat (2) dapat dilakukan setelah dosen yang bersangkutan diberi kesempatan untuk
      membela dirt.
(2)                                            Dosen     pada    satuan     pendidikan   tinggi  yang
      diselenggarakan oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
      memperoleh kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

                                             Bagian Kelima
                                      Pembinaan dan Pengembangan

                                                  Pasal 69


(1)                                           Pembinaan dan pengembangan dosen meliputi pembinaan
      dan pengembangan profesi dan karier.
(2)                                        Pembinaan dan pengembangan profesi dosen sebagaimana
      dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
      dan kompetensi profesional.
(3)                                          Pembinaan dan pengembangan profesi dosen dilakukan
      melalui jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4)                                         Pembinaan dan pengembangan karier dosen sebagaimana
      dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.

                                                  Pasal 70
Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier dosen pada satuan pendidikan
tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau masyarakat ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

                                                Pasal 71
(1)                                   Pemerintah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi
      akademik dan kompetensi dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh
      Pemerintah dan/atau masyarakat.
(2)                                      Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh
      masyarakat wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi dosen.
(3)                                           Pemerintah   wajib memberikan anggaran   untuk
      menirtgkatkan profesionalitas dan pengabdian dosen pada satuan pendidikan tinggi yang
      diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

                                                Pasal 72
(1)                                         Beban kerja dosen mencakup kegiatan pokok yaitu
      merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, melakukan evaluasi
      pembelajaran, membimbing dan melatih, melakukan penelitian, melakukan tugas tambahan, serta
      melakukan pengabdian kepada masyarakat.
(2)                                            Beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
      sekurangkurangnya sepadan dengan 12 (dua belas) satuan kredit semester dan sebanyak-
      banyaknya 16 (enam belas) satuan kredit semester.
(3)                                          Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja dosen
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai
      dengan peraturan perundang-undangan.

                                            Bagian Keenam
                                             Penghargaan

                                                Pasal 73
(1) Dosen yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak
    memperoleh penghargaan.
(2) Dosen yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari
    Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

                                                Pasal 74
(1)                                            Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah
      daerah, masyarakat, organisasi profesi keilmuan, dan/atau satuan pendidikan tinggi.
(2)                                           Penghargaan dapat diberikan pada tingkat satuan
      pendidikan tinggi, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan/atau tingkat
      internasional.
(3)                                           Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa,
    kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain.
(4)                                           Penghargaan kepada dosen dilaksanakan dalam rangka
    memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari
    ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan tinggi, hari pendidikan nasional,
    dan/atau hari besar lain.
(5)                                       Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan
      sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan
      Pemerintah.
                                      Bagian Ketujuh Perlindungan

                                                 Pasal 75
(1)                                           Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi
      profesi, dan/atau satuan pendidikan tinggi wajib memberikan perlindungan terhadap dosen dalam
      pelaksanaan tugas.
(2)                                         Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
      perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
(3)                                           Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
      mencakup perlindungan terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi,
      atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi,
      dan/atau pihak lain.
(4)                                        Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
      mencakup perlindungan terhadap pelaksanaan tugas dosen sebagai tenaga profesional yang
      meliputi pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
      pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan kebebasan akademik, mimbar akademik, dan
      otonomi keilmuan, serta pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat dosen dalam
      pelaksanaan tugas.
(5)                                           Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja
      sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan
      kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja,
      dan/atau risiko lain.

(6) Dalam rangka kegiatan akademik, dosen mendapat perlindungan untuk menggunakan data dan
    sumber yang dikategorikan terlarang oleh peraturan perundangundangan.


                                            Bagian Kedelapan
                                                  Cuti

                                                 Pasal 76

(1) Dosen memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Dosen memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan,
    teknologi, dan seni dengan memperoleh hak gaji penuh.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
    dengan Peraturan Pemerintah.

                                                 BAB VI
                                                 SANKSI

                                                 Pasal 77

(1)                                          Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah
      daerah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi
      sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2)                                            Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
      a.                                            teguran;
      b.                                            peringatan tertulis;
      c.                                            penundaan pemberian hak guru;
      d.                                            penurunan pangkat;
      e.                                            pemberhentian dengan hormat; atau
      f.                                            pemberhentian tidak dengan hormat.
(3) Guru yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 yang tidak melaksanakan
    tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan
    perjanjian ikatan dinas.
(4)                                         Guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau
      satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, yang tidak menjalankan kewajiban
      sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau
      kesepakatan kerja bersama.
(5)                                           Guru yang melakukan pelanggaran kode etik dikenai
      sanksi oleh organisasi profesi.
(6)                                                  Guru yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada
      ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) mempunyai hak membela diri.

                                                Pasal 78

(1)          Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana
      dimaksud dalam Pasal 60 dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundangundangan.
(2)          Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
      a.                                           teguran;
      b.                                           peringatan tertulis;
      c.                                           penundaan pemberian hak dosen;
      d.                                           penurunan pangkat dan jabatan akademik;
      e.                                           pemberhentian dengan hormat; atau
      f.                                          pemberhentian tidak dengan hormat.
(3)                                           Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau
      satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang tidak menjalankan kewajiban
      sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau
      kesepakatan kerja bersama.
(4)                                           Dosen yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud
      dalam Pasal 62 yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan
      kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.
(5)                                               Dosen yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada
      ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) mempunyai hak membela diri.

                                                Pasal 79

(1) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
    sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, Pasal 34, Pasal 39, Pasal 63 ayat (4), Pasal 71, dan Pasal
    75 diberi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2)         Sanksi bagi penyelenggara pendidikan berupa:
      a.                                           teguran;
      b.                                           peringatan tertulis;
      c.                                             pembatasan kegiatan penyelenggaraan satuan
         pendidikan; atau
      d.                                             pembekuan kegiatan penyelenggaraan satuan
         pendidikan.
                                             BAB VII
                                       KETENTUAN PERALIHAN

                                                Pasal 80

(1)           Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini:
      a.                                            guru yang belum memiliki sertifikat pendidik
           memperoleh tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2)
           dan memperoleh maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) paling
           lama 10 (sepuluh) tahun, atau guru yang bersangkutan telah memenuhi kewajiban memiliki
           sertifikat pendidik.
      b.                                            dosen yang belum memiliki sertifikat pendidik
           memperoleh tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2)
           dan memperoleh maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (2) paling
           lama 10 (sepuluh) tahun, atau dosen yang bersangkutan telah memenuhi kewajiban memiliki
           sertifikat pendidik.

                                                Pasal 81

Semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan guru dan dosen tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan barn berdasarkan Undang-Undang ini.

                                             BAB VIII
                                        KETENTUAN PENUTUP

                                                Pasal 82

(1)          Pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi pendidik paling lama dalam waktu 12
      (dua belas) bulan terhitung sejak berlakunya Undang-Undang ini.

(2)          Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud
      pada Undang-Undang ini wajib memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik paling lama
      10 (sepuluh) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini.

                                                Pasal 83

Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Undang-Undang ini hams
diselesaikan selambatlambatnya 18 (delapan belas) bulan sejak berlakunya Undang-Undang ini.
                                             Pasal 84

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

                                                        Disahkan di Jakarta
                                                        pada tanggal 30 Desember 2005

                                                              PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

                                                                              ttd
                                                       DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2005

     MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
        REPUBLIK INDONESIA AD INTERIM,

                         Ttd

             YUSRIL IHZA MAHENDRA

              LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 157




                                         PENJELASAN
                                            ATAS
                               UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
                                     NOMOR 14 TAHUN 2005
                                          TENTANG
                                       GURU DAN DOSEN


I.        UMUM
     Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa
     tujuan nasional adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
     untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kchidupan bangsa, dan ikut mclaksanakan
     ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk
     mewujudkan tujuan nasional tersebut, pendidikan rnerupakan faktor yang sangat menentukan.
     Selanjutnya, Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
     mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) Setiap warga
     negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah
     mengusahakan dan rnenyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan
     keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
     diatur dengan undangundang; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya
     20% (dua puluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran
     pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional;
     dan (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
     agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

     Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut
     kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
     Pendidikan Nasional, yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang
     kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi
     manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
     berubah.
     Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang
     mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia
     Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu,
     guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 Ayat (2)
     Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa
     pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional
     mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip
profesionalitas untuk memenuhi hak yang sarna bagi setiap warga negara dalam memperoleh
pendidikan yang bermutu.
Berdasarkan uraian di atas, pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional
mempunyai misi untuk melaksanakan tujuan Undang-Undang ini sebagai berikut:
1.                        mengangkat martabat guru dan dosen;
2.                        menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen;
3.                        meningkatkan kompetensi guru dan dosen;
4.                        memajukan profesi serta karier guru dan dosen;
5.                        meningkatkan mutu pembelajaran;
6.                        meningkatkan mutu pendidikan nasional;
7.                         mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antardaerah dari
   segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik, dan kompetensi;
8.                        mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah; dan
9.                        meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.
Berdasarkan visi dan misi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk
meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu
pendidikan nasional, sedangkan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi untuk
meningkatkan martabat dosen serta mengembangkan ihnu pengetahuan, teknologi, dan Beni untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan
untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga
negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Untuk meningkatkan penghargaan terhadap tugas guru dan dosen, kedudukan guru dan dosen pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat pendidik. Sertifikat
tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Dalam
melaksanakan tugasnya, guru dan dosen hams memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup
minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.

Selain itu, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran strategis guru dan
dosen yang meliputi penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional,
pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen, perlindungan hukum, perlindungan profesi,
serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Berdasarkan visi, misi, dan pertimbangan-pertimbangan di atas diperlukan strategi yang meliputi:
1.                        penyelenggaraan sertifikasi pendidik berdasarkan kualifikasi akademik
     dan kompetensi;
2.                         pemenuhan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga
     profesional yang sesuai dengan prinsip profesionalitas;
3.                         penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan,
     pemindahan, dan pemberhentian guru dan dosen sesuai dengan kebutuhan, baik jumlah,
     kualifikasi akademik, maupun kompetensi yang dilakukan secara merata, objektif, dan
     transparan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan;
4.                         penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan
     pengembangan profesi guru dan dosen untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian
     para guru dan dosen;
5.                        peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap
     guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas profesional;
6.                        peningkatan peran organisasi profesi untuk menjaga dan meningkatkan
     kehormatan dan martabat guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional;
      7.                        penguatan kesetaraan antara guru dan dosen yang bertugas pada satuan
           pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan guru dan
           dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat;
      8.                         penguatan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan pemerintah
           daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan
           kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional; dan
      9.                        peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban
           guru dan dosen.

      Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari
      pembaharuan sistem pendidikan nasional yang pelaksanaannya memperhatikan berbagai ketentuan
      peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan, kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan,
      dan pemerintahan daerah.

      Sehubungan dengan hal itu, diperlukan pengaturan tentang kedudukan guru dan dosen sebagai
      tenaga profesional dalam suatu Undang-Undang tentang Guru dan Dosen.


II.          PASAL DEMI PASAL

      Pasal 1
         Cukup jelas.

      Pasal 2
         Ayat (1)
              Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat
              dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat
              pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

         Ayat (2)
              Cukup jelas.
      Pasal 3
              Cukup jelas.

      Pasal 4
         Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru
         antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi
         inspirasi belajar bagi peserta didik.

      Pasal 5
         Cukup jelas.

      Pasal 6
         Cukup jelas.

      Pasal 7
                Cukup jelas.

      Pasal 8
         Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental
         yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan balk. Kondisi kesehatan fisik dan
         mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

      Pasal 9
         Cukup jelas.
Pasal 10
   Ayat (1)
       Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola
       pembelajaran peserta didik.
       Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang
       mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
       Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi
       pelajaran secara luas dan mendalam.

       Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi
       dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali
       peserta didik, dan masyarakat sekitar.

   Ayat (2)
      Cukup jelas.

Pasal 11
   Cukup jelas.

Pasal 12
   Cukup jelas.

Pasal 13
   Cukup jelas.

Pasal 14
   Ayat (1)
       huruf a
            Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah
            pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup guru dan keluarganya
            secara wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, maupun
            jaminan hari tua.
       huruf b
            Cukup jelas.
       huruf c
            Cukup jelas
       huruf d
            Cukup jelas.
       huruf e
            Cukup jelas.
       huruf f
            Cukup jelas.
       huruf g
            Cukup jelas.
       huruf h
            Cukup jelas.
       huruf i
            Cukup jelas.
       Huruf j
            Cukup jelas.
       huruf k
            Cukup jelas.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
Pasal 15
   Ayat (1)
       Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan
       berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja.
       Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan
       sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan
       keluarga.
       Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang diberikan kepada guru
       yang memiliki sertifikat pendidik sebagai penghargaan atas profesionalitasnya.
       Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada guru
       sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di
       daerah khusus.
      Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan kesejahteraan yang
      diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.
   Ayat (2)
      Cukup jelas.
   Ayat (3)
      Cukup jelas.

Pasal 16
   Ayat (1)
       Cukup jelas.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
   Ayat (3)
       Tunjangan profesi dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain gaji
                                                                                                .

       pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 49
       ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
       Nasional.
   Ayat (4)
       Cukup jelas.

Pasal 17
   Ayat (1)
       Cukup jelas.
   Ayat (2)
       Cukup jelas
   Ayat (3)
       Tunjangan fungsional dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain
       gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal
       49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
       Nasional.

Pasal 18
   Ayat (1)
       Tunjangan khusus dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain gaji
       pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 49
       ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
       Nasional.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
   Ayat (3)
       Cukup jelas.
   Ayat (4)
       Cukup jelas.

Pasal 19
   Ayat (1)
       Yang dimaksud dengan kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra-putri guru
       adalah berupa kesempatan dan keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah
       memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan dalam satuan pendidikan
       tertentu.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
   Ayat (3)
       Cukup jelas.

Pasal 20
   Cukup jelas.

Pasal 21
   Cukup jelas.

Pasal 22
   Cukup jelas.

Pasal 23
   Cukup jelas.

Pasal 24
   Cukup jelas.

Pasal 25
   Cukup jelas.

Pasal 26
   Cukup jelas.

Pasal 27
   Cukup jelas.

Pasal 28
   Cukup jelas.

Pasal 29
   Cukup jelas.

Pasal 30
   Cukup jelas.

Pasal 31
   Cukup jelas.

Pasal 32
   Cukup jelas.

Pasal 33
   Cukup jelas.

Pasal 34
   Cukup jelas.

Pasal 35
   Cukup jelas.

Pasal 36
   Cukup jelas.

Pasal 37
   Cukup jelas.

Pasal 38
   Cukup jelas.

Pasal 39
   Cukup jelas.

Pasal 40
   Cukup jelas.

Pasal 41
   Cukup jelas.

Pasal 42
   Cukup jelas.

Pasal 43
   Cukup jelas.

Pasal 44
   Cukup jelas.

Pasal 45
   Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental
   yang memungkinkan dosen dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik
   dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

Pasal 46
   Cukup jelas.

Pasal 47
   Cukup jelas.

Pasal 48
   Ayat (1)
       Yang dimaksud dengan dosen tetap adalah dosen yang bekerja penuh waktu yang berstatus
       sebagai tenaga pendidik tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu.
       Yang dimaksud dengan dosen tidak tetap adalah dosen yang bekerja paruh waktu yang
       berstatus sebagai tenaga pendidik tidak tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu.

   Ayat (2)
      Cukup jelas.
   Ayat (3)
      Cukup jelas.
   Ayat (4)
      Cukup jelas.
Pasal 49
   Cukup jelas.

Pasal 50
   Ayat (1)
       Cukup jelas.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
   Ayat (3)
       Yang dimaksud dengan secara langsung adalah tanpa berjenjang.
   Ayat (4)
       Cukup jelas.

Pasal 51
   Ayat (1)
       huruf a
            Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah
            pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dosen dan keluarganya
            secara wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, maupun
            jaminan hari tua.
       huruf b
            Cukup jelas.
       huruf c
            Cukup jelas.
       huruf d
            Cukup jelas.
       huruf e
            Cukup jelas.
       Huruf f
            Cukup jelas.
       huruf g
          Cukup jelas.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.

Pasal 52
   Ayat (1)
       Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan
       berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja.
       Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan
       sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan
       keluarga.
       Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang diberikan kepada dosen
       yang memiliki sertifikat pendidik sebagai penghargaan atas profesionalitasnya.
       Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada dosen
       sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di
       daerah khusus.
      Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan kesejahteraan yang diperoleh
      dalam bentuk asuransi, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.
   Ayat (2)
      Cukup jelas.
   Ayat (3)
      Cukup jelas.
Pasal 53
   Cukup jelas.

Pasal 54
   Cukup jelas.

Pasal 55
   Ayat (1)
       Lihat penjelasan Pasal 52 ayat (1)
   Ayat (2)
       Cukup jelas.
    Ayat (3)
       Cukup jelas.
    Ayat (4)
       Cukup jelas.

Pasal 56
   Cukup jelas.

Pasal 57
   Cukup jelas.

Pasal 58
   Cukup jelas.

Pasal 59
   Ayat (1)
        Yang dimaksud dengan bidang ilmu yang langka adalah ilmu yang sangat khas, memiliki
        tingkat kesulitan tinggi, dan/atau mempunyai nilai-nilai strategis serta tidak banyak diminati.
        Yang dimaksud dengan dana dan fasilitas khusus adalah alokasi anggaran dan
        kemudahan yang diperuntukkan bagi dosen yang mendalami ilmu langka tersebut.
   Ayat (2)
       Cukup jelas.

Pasal 60
   Cukup jelas.

Pasal 61
   Cukup jelas.

Pasal 62
   Cukup jelas.

Pasal 63
   Cukup jelas.

Pasal 64
   Cukup jelas.

Pasal 65
   Cukup jelas.

Pasal 66
   Cukup jelas.
Pasal 67
   Cukup jelas.

Pasal 68
   Cukup jelas.

Pasal 69
   Cukup jelas.

Pasal 70
   Cukup jelas.

Pasal 71
   Cukup jelas.

Pasal 72
   Cukup jelas.

Pasal 73
   Cukup jelas.

Pasal 74
   Cukup jelas.

Pasal 75
   Cukup jelas.

Pasal 76
   Cukup jelas.

Pasal 77
   Cukup jelas.

Pasal 78
   Cukup jelas.

Pasal 79
   Cukup jelas.

Pasal 80
   Cukup jelas.

Pasal 81
   Cukup jelas.

Pasal 82
   Cukup jelas.

Pasal 83
   Cukup jelas.

Pasal 84
   Cukup jelas.
            TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4586



ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG PENINGKATAN
KESEJAHTERAAN GURU (Studi Kasus Pada Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan
Kalimantan Timur)

Master Theses from JIPTUMMPP / 2008-05-19 11:34:59
Oleh : M A S H U R ( 04370021 ), Magister Pendidikan
Dibuat : 2008-05-19, dengan 3 file

Keyword : KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TENTANG PENINGKATAN
KESEJAHTERAAN GURU
Url : http://

Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia.1
Peningkatan kualitas bangsa dapat dilakukan melalui sektor pendidikan, sedangkan peningkatan
kualitas pendidikan salah satunya dapat dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan guru.
Upaya peningkatan kesejahteraan guru tersebut telah dilakukan oleh pemerintah di masa regim
orde lama, orde baru, dan reformasi, meskipun peningkatan kesejahteraan guru tidak
berpengaruh secara langsung terhadap kemampuan daya serap peserta didik. Terkait upaya
peningkatan kesejahteraan guru pada umumnya melalui beberapa tahapan prosedur, baik pada
regim orde lama, orde baru, dan reformasi, yaitu: (1) perumusan masalah terkait dengan
penentuan agenda, (2) peramalan terkait dengan formulasi kebijakan, (3) rekomendasi terkait
dengan adopsi kebijakan, (4) pemantauan terkait dengan implementasi kebijakan, dan (5)
penilaian terkait dengan evaluasi kebijakan.2 Produk dari penerapan tersebut sudah dapat
dikatakan mendapatkan hasil, namun pada level kebijakan pemerintah daerah masih perlu
diupayakan peningkatannya, khususnya terkait dengan peningkatan kesejahteraan guru.

Disisi lain dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang kurang baik,
berkenaan dengan itu dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Trends In
International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) pada tahun 2003, diketahui bahwa para
siswa SLTP kelas 2 (dua) di negara kita, menempati posisi ke 34, jauh dibawah Singapura dan
Malaysia yang masing-masing menempati urutan pertama dan ke sepuluh, pada uji penilaian
kemampuan anak didik di bidang matematika. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pula pada nilai
penguasaan atas ilmu pengetahuan. Tes yang diselenggarakan di bawah payung organisasi
Association for Evaluation of Educational Achievment International (AAEI) ini, kembali
menempatkan para siswa Indonesia pada urutan ke 36, di bawah Mesir dan Palestina yang berada
satu peringkat di atasnya. Sedangkan Negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, masih
menempati nomor pertama dan ke dua puluh dari 50 negara yang dijadikan objek penelitian.
Hasil penelitian di atas merupakan hal yang riel terjadi pada dunia pendidikan. Data ini akan
semakin lengkap, apabila dikaitkan juga dengan laporan dari UNDP yang baru-baru ini
dipublikasikan, dimana berdasarkan laporan, Human Development Report 2004?, tersebut
dinyatakan bahwa angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia mencapai 12,1%,
artinya dari setiap 100 orang Indonesia dewasa yang berusia 15 tahun ke atas, ada 12 orang yang
tidak bisa membaca. Angka ini relatif jauh lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan negera-
negara lain, seperti Thailand (7,4%), Brunai Darussalam (6,1%) dan Jepang (0,0%).
Pada tahun yang sama (2004), UNDP juga telah mengeluarkan laporannya tentang kondisi HDI
(Human Development Index) di Indonesia. Dalam laporan tersebut, HDI Indonesia berada pada
urutan ke 111 dari 175 negara. Posisi ini masih jauh dari Negara-negara tetangga kita, seperti
Malaysia yang menempati urutan ke-59, Thailand yang menempati urutan ke-76 dan Philipina
yang menempati urutan ke-83. Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya menempati satu
peringkat di atas Vietnam, sebuah negara yang baru saja keluar dari konflik politik yang besar
dan baru memulai untuk berbenah diri namun sudah memperlihatkan hasilnya karena
membangun dengan tekad dan kesungguhan hati. Fenomena di atas telah memberi gambaran
secara sekilas kepada kita tentang kondisi dunia pendidikan saat ini di tanah air, dimana kualitas
pendidikan di negara kita memang masih jauh dari yang kita harapkan. Perlu sebuah upaya kerja
keras tanpa henti dengan melibatkan seluruh stakeholders, agar dunia pendidikan kita benar-
benar bangkit dari keterpurukan untuk mengejar ketertinggalannya sehingga mampu
berkompetisi secara terhormat dalam era globalisasi yang semakin menguat. Oleh sebab itu
reformasi pendidikan, dimana salah satunya isu utamanya adalah peningkatan profesionalisme
guru merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mencapai
pendidikan yang lebih berkualitas. Setidak-tidaknya ada 4 (empat) hal yang berkaitan dengan
kondisi dunia pendidikan kita saat ini, yaitu isu seputar masalah guru, kebijakan pemerintah
sebagai penyelenggara Negara, manajemen internal sekolah dan isu sarana dan prasarana belajar
mengajar.
Dalam dunia pendidikan keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang
sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di
jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan
kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan
eksistensi guru itu sendiri. Filosofi sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia telah
menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak
jarang telah diposisikan mempunyai peran ganda bahkan multifungsi. Mereka di tuntut tidak
hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan,
tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru dianggap
sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global.
Adapun mengenai peningkatan kesejahteraan guru di Kalimantan Timur diupayakan melalui
beragam cara seperti melalui perbaikan insentif, kemudahan kenaikan pangkat, kesehatan,
perumahan, tanggungan anak, tanggungan isteri, seragam, tunjangan belajar, buku dan biaya
transportasi.3 Hal ini dilakukan karena kesejahteraan guru di Kabupaten Nunukan merupakan
salah satu cara yang cukup ampuh untuk meningkatkan kinerja guru serta biaya hidup yang
sangat besar jika dibandingkan dengan kabupaten/kota yang berada di wilayah Propinsi
Kalimantan.
Adapun penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan mengenai kesejahteraan guru di
Kalimantan Timur masih perlu dianalisis dengan harapan kajiannya dapat menjawab masalah
utama dari kesejahteraan guru. Dunn, menawarkan analisis kebijakan yang meliputi isu, teknik
peramalan formulasi kebijakan, rekomendasi adopsi kebijakan, pemantauan implementasi
kebijakan, dan penilaian kebijakan.4 Intervensi kebijakan pemerintah daerah dalam upaya
kesejahteraan guru masih diperlukan analisis lain, sebab Kabupaten Nunukan merupakan salah
satu Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan. Pemekaran tersebut berakibat pada
langkanya sumberdaya Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas pendidikan sumberdayanya yang
masih belum memadai untuk merumuskan kebijakan mengenai kesejahteraan guru oleh sebab itu
penelitian ini penting dilakukan dengan harapan hasilnya dapat dijadikan acuan oleh pihak
Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk merumuskan kebijakan kesejahteraan
guru. Bertolak dari pemikiran di atas Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan belum pernah
diteliti terkait dengan ?Analisis Kebijakan Pemerintah Daerah tentang Peningkatan
Kesejahteraan Guru?, sehingga sangat representatif untuk dijadikan tempat kajian penelitian.

Deskripsi Alternatif :

Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya
manusia.1 Peningkatan kualitas bangsa dapat dilakukan melalui sektor pendidikan, sedangkan
peningkatan kualitas pendidikan salah satunya dapat dilakukan melalui peningkatan
kesejahteraan guru. Upaya peningkatan kesejahteraan guru tersebut telah dilakukan oleh
pemerintah di masa regim orde lama, orde baru, dan reformasi, meskipun peningkatan
kesejahteraan guru tidak berpengaruh secara langsung terhadap kemampuan daya serap
peserta didik. Terkait upaya peningkatan kesejahteraan guru pada umumnya melalui beberapa
tahapan prosedur, baik pada regim orde lama, orde baru, dan reformasi, yaitu: (1) perumusan
masalah terkait dengan penentuan agenda, (2) peramalan terkait dengan formulasi kebijakan,
(3) rekomendasi terkait dengan adopsi kebijakan, (4) pemantauan terkait dengan implementasi
kebijakan, dan (5) penilaian terkait dengan evaluasi kebijakan.2 Produk dari penerapan tersebut
sudah dapat dikatakan mendapatkan hasil, namun pada level kebijakan pemerintah daerah
masih perlu diupayakan peningkatannya, khususnya terkait dengan peningkatan kesejahteraan
guru.

Disisi lain dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang kurang baik,
berkenaan dengan itu dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Trends In
International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) pada tahun 2003, diketahui bahwa para
siswa SLTP kelas 2 (dua) di negara kita, menempati posisi ke 34, jauh dibawah Singapura dan
Malaysia yang masing-masing menempati urutan pertama dan ke sepuluh, pada uji penilaian
kemampuan anak didik di bidang matematika. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pula pada
nilai penguasaan atas ilmu pengetahuan. Tes yang diselenggarakan di bawah payung organisasi
Association for Evaluation of Educational Achievment International (AAEI) ini, kembali
menempatkan para siswa Indonesia pada urutan ke 36, di bawah Mesir dan Palestina yang
berada satu peringkat di atasnya. Sedangkan Negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia,
masih menempati nomor pertama dan ke dua puluh dari 50 negara yang dijadikan objek
penelitian. Hasil penelitian di atas merupakan hal yang riel terjadi pada dunia pendidikan. Data
ini akan semakin lengkap, apabila dikaitkan juga dengan laporan dari UNDP yang baru-baru
ini dipublikasikan, dimana berdasarkan laporan, Human Development Report 2004?, tersebut
dinyatakan bahwa angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia mencapai 12,1%,
artinya dari setiap 100 orang Indonesia dewasa yang berusia 15 tahun ke atas, ada 12 orang
yang tidak bisa membaca. Angka ini relatif jauh lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan
negera-negara lain, seperti Thailand (7,4%), Brunai Darussalam (6,1%) dan Jepang (0,0%).

Pada tahun yang sama (2004), UNDP juga telah mengeluarkan laporannya tentang kondisi HDI
(Human Development Index) di Indonesia. Dalam laporan tersebut, HDI Indonesia berada pada
urutan ke 111 dari 175 negara. Posisi ini masih jauh dari Negara-negara tetangga kita, seperti
Malaysia yang menempati urutan ke-59, Thailand yang menempati urutan ke-76 dan Philipina
yang menempati urutan ke-83. Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya menempati satu
peringkat di atas Vietnam, sebuah negara yang baru saja keluar dari konflik politik yang besar
dan baru memulai untuk berbenah diri namun sudah memperlihatkan hasilnya karena
membangun dengan tekad dan kesungguhan hati. Fenomena di atas telah memberi gambaran
secara sekilas kepada kita tentang kondisi dunia pendidikan saat ini di tanah air, dimana
kualitas pendidikan di negara kita memang masih jauh dari yang kita harapkan. Perlu sebuah
upaya kerja keras tanpa henti dengan melibatkan seluruh stakeholders, agar dunia pendidikan
kita benar-benar bangkit dari keterpurukan untuk mengejar ketertinggalannya sehingga mampu
berkompetisi secara terhormat dalam era globalisasi yang semakin menguat. Oleh sebab itu
reformasi pendidikan, dimana salah satunya isu utamanya adalah peningkatan profesionalisme
guru merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mencapai
pendidikan yang lebih berkualitas. Setidak-tidaknya ada 4 (empat) hal yang berkaitan dengan
kondisi dunia pendidikan kita saat ini, yaitu isu seputar masalah guru, kebijakan pemerintah
sebagai penyelenggara Negara, manajemen internal sekolah dan isu sarana dan prasarana
belajar mengajar.
Dalam dunia pendidikan keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang
sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di
jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan
kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan
dengan eksistensi guru itu sendiri. Filosofi sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia telah
menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak
jarang telah diposisikan mempunyai peran ganda bahkan multifungsi. Mereka di tuntut tidak
hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan,
tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru
dianggap sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara
global. Adapun mengenai peningkatan kesejahteraan guru di Kalimantan Timur diupayakan
melalui beragam cara seperti melalui perbaikan insentif, kemudahan kenaikan pangkat,
kesehatan, perumahan, tanggungan anak, tanggungan isteri, seragam, tunjangan belajar, buku
dan biaya transportasi.3 Hal ini dilakukan karena kesejahteraan guru di Kabupaten Nunukan
merupakan salah satu cara yang cukup ampuh untuk meningkatkan kinerja guru serta biaya
hidup yang sangat besar jika dibandingkan dengan kabupaten/kota yang berada di wilayah
Propinsi Kalimantan.
Adapun penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan mengenai kesejahteraan guru
di Kalimantan Timur masih perlu dianalisis dengan harapan kajiannya dapat menjawab
masalah utama dari kesejahteraan guru. Dunn, menawarkan analisis kebijakan yang meliputi
isu, teknik peramalan formulasi kebijakan, rekomendasi adopsi kebijakan, pemantauan
implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan.4 Intervensi kebijakan pemerintah daerah
dalam upaya kesejahteraan guru masih diperlukan analisis lain, sebab Kabupaten Nunukan
merupakan salah satu Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan. Pemekaran
tersebut berakibat pada langkanya sumberdaya Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas
pendidikan sumberdayanya yang masih belum memadai untuk merumuskan kebijakan mengenai
kesejahteraan guru oleh sebab itu penelitian ini penting dilakukan dengan harapan hasilnya
dapat dijadikan acuan oleh pihak Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk
merumuskan kebijakan kesejahteraan guru. Bertolak dari pemikiran di atas Dinas Pendidikan
Kabupaten Nunukan belum pernah diteliti terkait dengan ?Analisis Kebijakan Pemerintah
Daerah tentang Peningkatan Kesejahteraan Guru?, sehingga sangat representatif untuk
dijadikan tempat kajian penelitian.

                           HUBUNGAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA GURU


IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Analisis

Data yang akan penulis analisis adalah data yang terdapat pada tabel 6 dan tabel 9. Penulis dalam melakukan
analisis terhadap kedua variabel yakni mengenai prestasi motivasi kerja guru (variabel independent) dan kinerja guru
(variabel dependent) menggunakan analisa statistika korelasi dari Karl Pearson’s Product Moment. Analisis korelasi
digunakan untuk menunjukkan berapa besarnya hubungan 2 variabel. Variabel yang diketahui disebut variabel
independent atau variabel yang mempengaruhi sedang variabel dependent atau variabel yang dipengaruhi.

Variabel yang mempengaruhi disebut variabel X sedang variabael yang dipengaruhi disebut Y. Pada dasarnya kita
dapat membedakan tiga macam sifat hubungan antara 2 variabel, yakni : 1) hubungan searah atau hubungan positif;
2) hubungan yang bersifat kebalikan atau hubungan negatif; 3) hubungan yang tidak ada. Jadi koefisisen korelasi
yang dinyatakan dengan r menunjukkan arah hubungan antara variabel X dan Y. Pada hubungan yang searah atau
positif, maka nilai r akan terletak antara 0 dan +1, sedangkan pada hubungan yang bersifat kebalikan atau negatif ,
maka nilai r akan terletak antara 0 dan –1.

Dari hasil perhitungan menggunakan aplikasi komputer SPSS Versi 11 diperoleh koefisien korelasi sebesar
0,795. Harga ini perlu diuji signifikansinya dengan mengkosultasikan dengan r tabel. Harga r tabel pada N
= 22, untuk taraf signifikansi 5% = 0,423. Ternyata r hitung lebih besar dari r tabel atau r hitung (0,795) > r
tabel (0,423). Dengan demikian koefisien korelasi 0,795 adalah signifikan. Jadi kesimpulannya adalah :
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan sebesar 0,795 antara motivasi kerja guru dengan kinerja
guru SLTP Negeri 1 Muara Lawa, Tahun Pelajaran 2002/2003.

Untuk mengetahui kuatnya hubungan, maka hasil koefisien korelasi hitung tersebut dikonsultasikan dengan
pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi, maka koefisien korelasi yang
ditemukan sebesar 0,795 berada diantara interval koefisien korelasi 0,60 hingga 0,799 dengan interpretasi
tingkat hubungan “kuat”. Jadi terdapat hubungan yang kuat antara motivasi kerja dengan kinerja guru
SLTP Negeri 1 Muara Lawa, Tahun Pelajaran 2002/2003. Hubungan tersebut baru berlaku untuk sampel
yang berjumlah 22 orang tersebut. Untuk menguji signifikansi hubungan, yaitu apakah hubungan yang
ditemukan itu berlaku untuk seluruh populasi yang berjumlah 28 guru, maka perlu diuji dengan uji t.

Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga t tabel. Untuk kesalahan 5% (taraf
kepercayaan 95%) dan derajat kebebasan (dk) = n - 2 = 22 - 2 = 20, maka diperoleh t tabel = 1,725.
Mengenai harga t tabel dapat dilihat pada lampiran 3. Hasil uji t di atas terlihat t hitung lebih besar dari t
tabel atau t hitung (5,857) > t tabel (1,725), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima. Jadi kesimpulannya
koefisien korelasi antara motivasi kerja dengan kinerja guru SLTP Negeri 1 Muara Lawa, Tahun Pelajaran
2002/2003 sebesar 0,795 adalah signifikan, artinya koefisien tersebut dapat digeneralisasikan atau dapat
berlaku pada populasi di mana sampel yang 22 guru diambil.
B. Pembahasan

Seorang guru yang melakukan aktivitas mengajar karena ada motivasi yang mendasarinya. Motivasi atau motivation
berarti pemberian motif, penimbulan motive atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan
dorongan. Motivasi dapat pula diartikan faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Sedang
motivasi kerja adalah dorongan yang menyebabkan seseorang guru mau melakukan sesuatu kegiatan mengajar.
Dorongan-dorongan itu bertujuan untuk menggiatkan guru agar bersemangat dalam mengajar sehingga mencapai
hasil sebagaimana dikehendaki sesuai tujuan.

Temuan dalam penelitian ini tentang motivasi kerja guru terdapat 20 guru (90,9%) dengan tingkat motivasi kerjanya
sedang, dan hanya 2 guru (9,1%) dengan tingkat motivasi kerja tinggi. Adapun rata-rata motivasi kerja guru adalah
40,2 termasuk tingkat motivasi dengan kriteria “sedang”.

Guru akan termotivasi dalam bekerja jika ada faktor-faktor yang mendorong timbulnya semangat kerja yang
menyentuh kebutuhan hidupnya. Dalam penelitian ini, penulis mengambil teori Abraham Maslow yang telah
membagi hirarki kebutuhan yang meliputi kebutuhan fisik dan kenikmatan (physiological needs), kebutuhan rasa
aman (safety needs), kebutuhan sosial dan afiliasi (social needs), kebutuhan pemenuhan harga diri (esteem needs),
dan kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).

Temuan dalam penelitian ini tentang kinerja guru terdapat 21 guru (95,5%) dengan tingkat kinerjanya sedang, dan
hanya 1 guru (4,5%) dengan tingkat kinerjanya tinggi. Adapun rata-rata kinerja guru adalah 49,8 termasuk tingkat
kinerja dengan kriteria “sedang”.Guru yang tugas pokoknya mengajar dituntut untuk meningkatkan kinerjanya.
Kinerja (performance) seorang guru dalam tugas utamanya sebagai pengajar dapat ditentukan dari kesetiaan dan
komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran , kedisiplinan
dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga
sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing
siswa , dan tanggung jawab terhadap tugasnya.

Hasil uji signifikansi hubungan, yaitu apakah hubungan yang ditemukan itu berlaku untuk seluruh populasi
yang berjumlah 28 siswa, dengan uji t diperoleh = 5,857. Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan
dengan harga t tabel. Untuk taraf signifikansi 5% dan dk= n - 2 = 22 - 2 = 20, maka diperoleh t tabel =
2,086. Ternyata t hitung lebih besar dari t tabel atau t hitung (3,857) > t tabel (2,086), dengan menerima
hipotesis alternatif (Ha).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika kebutuhan guru itu banyak yang terpenuhi maka mampu
mendorong semangat kerjanya sehingga kinerja menjadi meningkat. Prestasi kerja yang meningkat ini
akan menguntungkan guru itu sendiri, murid dan dunia pendidikan. Maka pemberian motivasi dari pimpinan
dan dari pemerintah kepada guru akan berpengaruh terhadap tingginya kinerja atau prestasi kerja guru.
Hal ini sejalan dengan pendapat Soekarno, K (1980 : 17) yang menyatakan :Peran manajer sangat penting
dan menentukan tinggi rendahnya prestasi, semangat tidaknya kerja bawahan sebagian besar tegantung
kepada manajer. Di dalam arti, sampai sejauh mana manajer mampu menciptakan atau menimbulkan
kegairahan kerja, di mana dibelakang ini sampai sejauh mana manajer mampu mendorong bawahan dapat
bekerja sesuai denga kebijaksanaan dan program yang telah digariskan
Oleh karena itu sudah sepantasnya pemberian motif itu selalu dilakukan di dalam sekolah dan diberikan
kepada guru agar tujuan seseorang berpengaruh terhadap tujuan organisasi. Kinerja guru yang termasuk
“cukup baik”, tidak lepas dari kemampuan dan kemauan guru itu sendiri untuk berprestasi. Orang biasa
menyebut dengan motivasi intrinsik atau motivasi individual. Sebutan ini berdasarkan pendapat Richard M.
Steers (1980 : 19), didukung pula oleh E.J. Donal dalam Komaruddin (1983 : 306), membagi motivasi dalam
dua jenis, yaitu: motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri (motivasi intrinsik) dan motivasi yang
berasal dari faktor di luar diri seseorang (motivasi ekstrinsik). Guru-guru SLTP Negeri 1 Muara Lawa telah
memiliki motivasi intrinsik, sebab hanya orang-orang yang terpanggil saja yang mau disebut guru (digugu
dan ditiru), orang yang patut dipercaya dan dijadikan teladan. Motivasi intrinsik (motivasi yang timbul dari
dalam dirinya sendirinya) sangat diperlukan oleh guru dan perlu ditingkatkan agar guru mempunyai
kompetensi dan kepribadian yang tinggi, sehingga prestasi kerjanya menjadi baik dan akhirnya dapat
meningkatkan mutu pendidikan.Peningkatan motivasi intrinsik disebabkan basic/dasar dari motivasi adalah
motivasi yang berasal dari kesadaran diri sendiri (intrinsik), jika guru punya dasar yang kuat maka guru
akan menjadi guru yang terpanggil pada profesinya dan pengabdiannya. Faktor utama yang
mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan kemauan, kemampuan dan kemauan ini dapat terlaksana
jika ada dorongan atau motivasi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

   1.     Motivasi kerja guru SLTP Negeri 1 Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Tahun Pelajaran 2002/2003,
          terdapat 20 guru (90,9%) dengan tingkat motivasi kerjanya sedang, dan hanya 2 guru (9,1%) dengan
          tingkat motivasi kerja tinggi. Adapun rata-rata motivasi kerja guru adalah 40,2 termasuk tingkat motivasi
          dengan kriteria “sedang”. Berdasarkan rumus luas penyebaran nilai dari Anas Sudijono (1995: 50).

   2.     Kinerja guru SLTP Negeri 1 Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Tahun Pelajaran 2002/2003 , terdapat 21
          guru (95,5%) dengan tingkat kinerjanya sedang, dan hanya 1 guru (4,5%) dengan tingkat kinerjanya tinggi.
          Adapun rata-rata kinerja guru adalah 49,8 termasuk tingkat kinerja dengan kriteria “sedang”. Berdasarkan
          rumus luas penyebaran nilai dari Anas Sudijono (1995: 50).

       3. Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara motivasi kerja dengan kinerja guru SLTP Negeri 1
           Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Tahun Pelajaran 2002/2003. Hal ini berdasarkan hasil analisis korelasi
           product moment dengan diperoleh r hitung = 0,795 yang dikonsultasikan dengan harga kritik r tabel, pada N
           = 22, untuk kesalahan 5% (taraf kepercayaan 95%). Kesimpulannya r hitung (0,795) > r tabel (0423). Serta
           melalui uji hipotesis dengan uji t dimana t hitung lebih besar dari t tabel atau t hitung (5,857) > t tabel
           (2,086) untuk taraf signifikansi dk =20, maka hipotesis alternatif (Ha) diterima.

B. Saran

  1.      Motivasi dari luar seperti dari atasan, teman sesama guru, para siswa, lingkungan sekolah, dan siswa
           memang perlu bagi guru namun disarankan guru selalu meningkatkan motivasi yang timbul dari dirinya
           sendiri (motivasi intrinsik) dengan demikian dapat dijadikan pendorong untuk meningkatkan kinerjanya.
           Motivasi guru harus ditingkatkan terutama berkaitan dengan insentif dari Pemkab, tunjangan, honor dan
           asuransi hendaknya dapat dijadikan alat untuk memotivasi diri, kerjasama antar guru perlu ditingkatkan,
        dan ada atau tanpa penghargaan dari kepala sekolah guru hendaknya tetap termotivasi untuk bekerja.
        Kinerja guru perlu ditingkatkan terutama pada komitmen guru yang mengajar , penguasaan bahan
        pengajaran, ketepatan waktu mengajar dan kerajinan guru, inisiatif guru dan tanggung jawab dalam
        melaksanakan tugas yang diberikan Kepala Sekolah.

  2.    Disarankan agar kepala sekolah dapat memotivasi guru meningkatkan kinerjanya. Ada beberapa skor dari
        penilaian kepala sekolah yang rendah dan ini perlu diperhatikan oleh Kepala Sekolah selaku pembina hal-
        hal yang perlu diperhatikan adalah memotivasi guru meningkatkan komitmennya dalam mengajar,
        memotivasi guru untuk menguasai bahan pelajaran, memotivasi guru mengajar tepat waktu dan rajin,
        memotivasi guru untuk peduli dalam memajukan sekolah, serta dalam memotivasi guru agar tugas yang
        diberikan oleh kepala sekolah guru membuat laporannya. Kepala Sekolah juga dituntut untuk dapat
        mencipatakan suasana yang harmonis di sekolah, menghargai guru dan memperhatikan kesejahteraan
        guru terutama berkaitan dengan keuangan guru kesemuanya dilakukan untuk memotivasi guru.

    3. Adanya otonomi daerah dimana pendidikan menjadi wewenang Pemkab maka disarankan pihak Pemkab
       dalam hal ini melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Barat dapat memberikan peningkatan kepada
       guru-guru dengan memberikan motivasi baik berupa insentif dan tunjangan pendidikan lainnya maupun
       peningkatan mutu dan profesionalisme guru agar kinerja guru dan kesejahteraan semakin meningkat
       sehingga dapat mendarmabaktikan keguruannya bagi pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten
       Kutai Barat.

                                               DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono , 1995 , Pengantar Statistik, Rineka Ciptam Jakarta

Buchari Zainun, 1979, Manajemen dan Motivasi, Balai Aksara, Jakarta.

Davis, Keith dan John W. Newstrom, Perilaku Dalam Organisasi, Jilid I, Edisi 7, Erlangga, Jakarta, 1985

Dedi Supriadi, 1998, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta

Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweigt, 1995, Organisasi dan Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta

Harun Alrasyd, 1999, Penarikan Sampel, Unppad, Bandung

Hasibuan, Malayu SP, Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan IV, Bumi Aksara, Jakarta, 2001

__________, SP, 1999, Organisasi dan Motivasi, Bumi Aksara, Jakarta

Sedarmayanti, 2000, Sumber Daya manusia, Bumi Aksara, Jakarta

Soewarno Handayaningrat, 1982, Pengantar Studi Administrasi dan Management, Gunung Agung, Jakarta.

Simamora, Henri, 1999, Manajemen Sumber Daya Manusia, STIE YKPN, Yogyakarta
Simon, Herbert A., 1982, Perilaku Administrasi : Suatu Studi Tentang Proses Pengambilan Keputusan.
       Diterjemahkan oleh St. Dianjung, Bina Aksara, Jakarta.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Cetakan II, 1995

Steers, Richard. M, Efektivitas Organisasi, Erlangga, Jakarta, 1980

Suharsimi Arikunto, 1983, Prosedur Penelitian, Bina Aksara, Jakarta

Sugiyono, 1999, Statistika Untuk Penelitian, Alfabeta, Jakarta

Winardi, 1977, Organisasi Perkantoran Modern, Alumni, Bandung


Tatkala Kapitalisme Kangkangi Pendidikan
TatTATKALA KAPITALISME MENGANGKANGI PENDIDIKAN
(Kritik Terhadap Pendidikan Berbasis Dunia Kerja)
Nanang Wijaya, S.Sos

A. WAJAH AWAL PENDIDIKAN (Sebuah Pendahuluan)

Pendidikan secara umum dapat dipahami sebagai proses pendewasaan sosial manusia menuju
pada tataran ideal. Makna yang terkandung di dalamnya menyangkut tujuan memelihara dan
mengembangkan fitrah serta potensi atau sumber daya insani menuju terbentuknya manusia
seutuhnya (Insan kamil). Benjamin Bloom mengatakan ada tiga fungsi pendidikan yang
kemudian disebutnya sebagai taksonomi pendidikan yaitu (1) fungsi afektif ; untuk membentuk
watak, sikap dan moralitas yang luhur (affective domain) (2). Fungsi kognitif ; Untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan (cognitive domain) (3). Fungsi Psikomotorik ; untuk melatih
keterampilan (psychomotorik domain). Dan ketiga aspek merupakan tolak ukur keberhasilan
pendidikan pada anak didik. Merupakan ketimpangan pendidikan jika hanya satu yang menonjol
dari ketiga fungsi pada anak didik.

Memaknai 3 fungsi diatas maka sesungguhnya pendidikan berbicara mengenai penanaman
kecakapan hidup (life skill) yang didalamnya terdapat kecakapan akademik kognitif, kecakapan
afektif (emosional, sosial dan spritual) serta kecakapan psikomotorik, meminjam rumusan
UNESCO – pendidikan meliputi ; (1) kecakapan untuk berpikir dan mengetahui (learning how to
think). (2) kecakapan untuk bertindak (learning how to do). (3). kecakapan (individual) untuk
hidup (learning how to be). (4). kecakapan untuk belajar (learning how to learn) dan (5)
kecakapan untuk hidup bersama (learning how to life together). Kecakapan-kecakapan itulah
yang kemudian dipergunakan untuk menjalankan hidup secara layak dan manusiawi. Secara
sederhana sesungguhnya tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia (mengerti atas
dirinya, lingkungan dan tujuan hidupnya) bukan pendidikan untuk mencari pekerjaan.

Poulo Freire mengatakan bahwa pendidakan haruslah berorientasi pada pengenalan terhadap
realitas dunia dan diri manusia itu sendiri. Seorang manusia yang tidak mengenal realitas dunia
dan dirinya sendiri, tidak akan sanggup mengenali apa yang ia butuhkan, apa yang akan dia
lakukan dan apa yang ingin dia capai. Pendidikan haruslah menjadi proses pemerdekaan,
pembebasan dan kekuatan penggugah (subversive force) untuk melakukan perubahan dan
pembaharuan. Maka diharapakan output dari pendidkan adalah manusia-manusia yang memiliki
kesadaran kritis atas konstalasi social dimana dia hidup dan mampu melakukan perubahan atas
situasi social yang cenderung merugikan. Output pendidikan adalah sosok pembaharu, pengubah,
pemimpin, teladan dan kreatif.

Untuk mencapai hal tersebut maka pendidikan haruslah diselenggarakan dengan berorientasi
pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai
kecakapan hidup dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan
kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan
pendidikan.

Alih-alih mendapatkan sosok out put pendidikan yang ideal, ternyata tiap hari kita disuguhkan
dengan berita-berita tentang prilaku-prilaku anak bangsa yang mengaku berpendidikan yang
sangat tidak bermoral. Korupsi, narkoba, pembunuhan, penculikan, tawuran massa dan prilaku
kriminal lainnya seolah-olah telah menjadi wajah bangsa ini. Justru yang kita lihat sehari-hari
adalah sosok kriminal, pecundang dengan mental yang sangat rendah. Maka patutlah kita
bertanya : ADA APA DENGAN PENDIDIKAN NEGERI INI ?

B. PERUBAHAN PARADIGMA MASYARAKAT ATAS PENDIDIKAN

Kapitalisme dan materialisme adalah anak kandung dari moderinisasi, sehingga ketika
modernisasi menjamah seluruh lapisan masyarakat. Maka mau tidak mau, kapitalisme dan
materialisme juga ikut mempengaruhi pola pikir masyarakat. Akibat perubahan pola pikir ini
terjadi perubahan yang sangat radikal atas cara pandang masyarakat terhadap pendidikan saat ini.
Cita-cita luhur pendidikan yang begitu luhur saat ini telah terabaikan oleh masyarakat. Keinginan
untuk melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki kecerdasan emosional/spritual, kecerdasan
intelektual serta memiliki keterampilan tereduksi sedemikian rendanya. Pendidikan pada
akhirnya dilihat oleh masyarakat dari cara pandang materialisme dan kapitalisme.

Indikator yang dapat terbaca pada masyarakat adalah motivasi masyarakat untuk mengikuti
pendidikan. Motivasi tersebut tereduksi pada motif untuk mendapatkan pekerjaan yang layak
dengan orientasi penghasilan, bukan lagi berorientasi pengetahuan, kecerdasan dan kesadaran.
Saat ini orang masuk sekolah karena ingin dapat pekerjaan yang menghasilkan.

PENGETAHUAN
PESERTA DIDIK —- SEKOLAH —- KECERDASAN —–PERUBAHAN SOSIAL
KESADARAN

PESERTA DIDIK ————–SEKOLAH ————-IJAZAH ———-PEKERJAAN

Akibatnya sekolah adalah tempat untuk mendapatkan ijazah, karena ijazah adalah syarat utama
untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini berimplikasi pada sikap dan prilaku baik masyarakat
maupun peserta didik yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan ijazah. Tradisi
menyontek, plagiat, menyuap, membayar ijazah, membayar skripsi, dll lahir dari paradigma
materialisme ini.

AWALNYA SEKOLAH ADALAH TEMPAT MENUNTUT ILMU
SEKARANG SEKOLAH ADALAH TEMPAT MENDAPAT IJAZAH
Cara pandang ini juga berpengaruh pada pemilihan masyarakat terhadap jurusan-jurusan
(program) studi yang diminati atau yang dipilih. Program studi yang dianggap berhubungan
dengan dunia industrilah yang banyak dipilih, seperti tekhnik, kedokteran, komputer, dll.
Sementara program-program studi ilmu humainora menjadi jarang untuk dipilih. Untuk tingkat
SMU, jurusan IPA menjadi kebanggan seolah-olah menrupakan jaminan masa depan.

Sehingga saat ini kita akan kesulitan untuk menemukan output pendidikan yang benar-banar
memiliki kesadaran atas arti pentingnya pengetahuan yang memiliki kesadaran kritis atas
realitas, yang memiliki kepekaan humanity dan rasa solidaritas yang tinggi. Yang ada adalah
uotput yang memiliki sikap individual yang tinggi, tidak matang dalam pengetahuan dan tidak
memahami makna hidup. Dan sekarang output seperti inilah yang banyak mengelolah negara ini.

C. HEGEMONI KAPITALISME ATAS PENDIDIKAN
Mengikuti teori Francis Fukuyama yang memprolamirkan kemerdekaan kapitalisme atas
didologi apapun, maka kenyataannya kapitalisme telah menghegemoni dunia pendidikan kita.
Hal ini dapat dilihat dari proses industrialisasi pendidikan kita. Proses industrialisasi pendidikan
dapat dilihat/dipahami dalam dua pengertian, yaitu ; (1). Pendidikan yang dijadikan layaknya
industri yang menghasilkan uang dan keuntungan yang berlipat-lipat. (2). Sistem pendidikan
yang diformat sedemikan rupa (oleh skenario kapitalisme) untuk menyiapkan peserta didik agar
mampu beradaptasi dengan dunia industri-kapitalis.

Peter McLaren mengatakan, dalam dunia kapitalisme, sekolah adalah bagian dari industri, sebab
sekolah adalah penyedia tenaga kerja/buruh bagi industri. Ada tiga pengaruh kapitalisme
terhadap sekolah, yaitu (1). Hubungan antara kapitalisme dan pendidikan telah mengakibatkan
praktek-praktek sekolah yang cenderung mengarah kepada kontrol ekonomi oleh kaum elit. (2).
Hubungan anatar kapitalisme dan ilmu telah menjadikan tujuan ilmu pengetahuan sebatas
mengejar keuntungan. (3). Perkawinan antara kapitalisme dengan pendidikan serta kapitalisme
dan ilmu telah menciptakan pondasi bagi ilmu pendidikan yang menekankan nilai-nilai material
dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan martabat manusia. Pada akhirnya
peserta didik dalam dunia pendidikan kita kehilangan senstifitas kemanusiaan digantikan dengan
kalkulasi kehidupan materialisme.

Sekolah-sekolah terkooptasi oleh mekanisme industri dan bisnis, dimana sekolah menjadi
instrumen produksi ekonomi. Mau tidak mua, kurikulum pendidikan juga ikut terpengaruh,
misalnya dalam hal menentukan ilmu pengetahuan mana saja yang perlu dipelajari oleh peserta
didik, yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri. Maka terciptalan kurikulum yang
sepenuhnya berwatk kapitalistik. Indikator yang dapat kita lihat adalah sedikitnya jam pelajar
untuk ilmu-ilmu humaniora dan moral dibandingkan dengan pelajaran lainnya.

AWALNYA : SEKOLAH —————- MANUSIA SEUTUHNYA
SEKARANG : SEKOLAH —————- TENAGA KERJA UNTUK INDUSTRI
Pada filosofi seperti inilah lahir PENDIDIKAN BERBASIS DUNIA KERJA.

Pertanyaannya adalah apakah kita harus menolak Pendidikan berbasis dunia kerja ???
Sementara realitas telah menuntut kita untuk seperti itu, ketika kita menolak bukankah realitas
akan meninggalkan kita. Pertanyaan ini dijawab oleh tiga paradigma pendidikan dengan jawaban
yang berbeda.
D. TIGA PARADIGMA PENDIDIKAN
1. Paradigma Konservatif, akan menerima keadaan apa adanya dan menyesuaikan diri dengan
tuntutan realitas tanpa mempertanyakan apapun. Dan mayoritas masyarakat
2. Paradigma Liberal/Demorkat, akan mengubah beberapa tuntutan realitas dan sedikit
menyesuaikan diri.
3. Paradigma Kritis, dengan cara mengubah realitas yang dianggap menindas dan merugikan dan
tidak sesuai dengan filosofi pendidikan. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan pembaharuan
dan perubahan yang mendasar (revolusioner) dimasyarakat, dengan melakukan penentangan
terhadap ketidakadilan, ketimpangan dan sistem yang menindas, melalui proses penyadaran kritis
yang mencerahkan dan membebaskan.
E. CARUT MARUT PENDIDIKAN NASIONAL
Terlepas perdebatan atas pendidikan berbasis dunia kerja. Kita tidak boleh melupakan kondisi-
kondisi lain dari pendidikan kita.
1. Anggaran pendidikan yang belum memenuhi kewajiban kenstitusinya. Bangsa ini ternyata
belmu memeliki kesadaran atas pentingnya pendidikan, sehingga lebih mengutamakan
kepentingan-kepentingan yang lain dibandingkan dunia pendidikan. Celakanya lagi, bahwa
anggaran pendidikan (yang sedikit itu) di korup di sana-sini. Sehingga Departemen Pendidikan
Nasional tergolong instansi terkorup oleh BPK
2. Kesejahteraan Guru (Pendidik) yang masih jauh dari harapan. Dimana penghasilan setiap
pendidik masih jauh dari pemenuhan kebutuhan kehidupannya. Akibatnya, konsentrasi dan
kesiapan dalam proses belajar mengajar terganggu dan tidak matang. Guru memang bukanlah
profesi yang menjanjikan secara materi kecuali sekedar gelar ‖pahlawan tanpa tanda jasa‖.
Tingkat kesejahteraan yang rindah inilah memaksa para guru untuk mencari penghasilan diluar
penghasilan sebagai guru untuk menutupi kekurangan kebutuhannya, yang akhirnya akan
menggangu proses belajar-mengajar di sekolah.
3. Fasilitas pendidikan sangat minim dan sangat diskriminatif, dimana terdapat perbedaan yang
sangat mencolok kepemilikan fasilitas pendidikan dibeberapa sekolah, akibatnya output
yangdihasilkan pun sangat terpengaruh. Sehingga kita masih banyak temukan gedung-gedung
sekolah yang hampir ambruk, gedung sekolah yang masih berdinding papan atau berlantai tanah,
sekolah yang tidak memiliki perpustakaan (kalau pun ada, isinya adalah buku-buku lama).
Sekolah yang tidak memiliki laboratorium

F. PENUTUP
Bangsa ini akan maju jika pengelolaan pendidikannya dikelolah secar benar. Sumber daya alam
dan sumber daya manusia yang dimiliki bangsa ini begitu banyak. Dan semuanya menunggu dari
pengelolaan pendidikan yang tepat. Sehingga SDA dan SDM tersebut dapat mensejahterakan
masyarakat bangsa ini. Termasuk Daerah Sulawesi Tengah sebenranya memiliki SDA dan SDM
yang cukup banyak dan beragam.
Dibutuhkan model pendidikan revolusioner (Peter McLaren & Paula Allman) dengan paradigma
kritis yakni pola pendidikan yang menekankan pengembangan danpenguatan kesadaran peserta
didik atas realitas sehingga mereka dapat menempatkan diri sebagai subyek dalam realitas tidak
sekedar obyek. Apalagi hanya sekedar tenaga kerja. Sebab yang dibutuhkan sekarang adalah jiwa
kepemimpinan.

(Disampaikan dalam Seminar Pendidikan dan Dunia Kerja yang diselenggarakan oleh Korwil
Korps PIIWati Sulteng, 09 Maret 2008)

PROFESIONALISME KINERJA GURU
MENYONGSONG MASA DEPAN Presented
by: MUKHLIS
Posted on Oktober 26, 2009 by mukhlis


1 Votes


   ===================================================== PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan karuania-Nya yang
diberikan pada kita semua sehingga kita dapat menjalankan segala aktivitas sehari-hari. Guru
merupakan ujung tombak keberhasilan proses pendidikan di sekolah maka pembinaan dan
pengembangan profesi guru dipandang perlu diperhatikan sebagai wujud komitmen dalam
melakukan pembenahan pola pendidikan agar mencapai mutu pendidikan sesuai harapan.
Penyusunan naskah ini merupakan bentuk respon terhadap program kebijakan bidang
pendidikan, paling tidak kehadirannya mengingatkan kita betapa pentingnya peran guru dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga saatnya nanti segala yang dicita-citakan bersama
tercapai dimana guru mampu memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan melalui wujud
kinerja yang tidak diragukan lagi. Itu semua akan terjadi manakala kita mau belajar dan
menganalisis berbagai unsur yang memiliki nilai pengaruh terhadap kinerja guru. Ucapan terima
kasih disampaikan kepada yang telah memberikan dukungan sehingga naskah ini terwujud.
Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

                                     I PENDAHULUAN

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia,
pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna
meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu
sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003). Fungsi pendidikan harus betul-
betul diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional sebab tujuan berfungsi
sebagai pemberi arah yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan sehingga
penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan kepada (1) pendidikan diselenggarakan secara
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa, (2) pendidikan
diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna, (3)
pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat, (4) pendidikan diselenggarakan dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, (5) pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,
menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat, (6) pendidikan diselenggarakan dengan
memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu layanan pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan
sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Guru merupakan salah satu faktor
penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan mempunyai posisi strategis maka setiap usaha
peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan guru baik
dalam segi jumlah maupun mutunya. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi
dan memegang peran penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah
dunia pendidikan figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut
persoalan pendidikan formal di sekolah. Pendidik atau guru merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal tersebut tidak dapat disangkal
kerana lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. sebagai besar waktu guru ada
di sekolah, sisanya ada di rumah dan di masyarakat (Djamarah, 2000). Guru merupakan faktor
yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi
siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sekolah
guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur
murid dan fasilitas lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan
kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar mengajar. Namun
demikian posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi
oleh kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya. Guru merupakan ujung tombak
pendidikan sebab secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan
peserta didik, sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang
diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar dan kemampuan tersebut tercermin pada
kompetensi guru. Berkualitas tidaknya proses pendidikan sangat tergantung pada kreativitas dan
inovasi yang dimiliki guru. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa Guru merupakan perencana,
pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka peserta didik merupakan
subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Kehadiran guru
dalam proses pembelajaran di sekolah masih tetap memegang peranan yang penting. Peran
tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih
banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain. Guru merupakan faktor
yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi
siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. (Wijaya dan
Rusyan, 1994). Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan
harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai
sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat
dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi
tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang
baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Guru sebagai pekerja
harus berkemampuan yang meliputi penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional
keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk
melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan
bersifat dinamis. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (1)
menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis,
(2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan (3)
memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan
kepercayaan yang diberikan kepadanya. Harapan dalam Undang-Undang tersebut menunjukkan
adanya perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi
bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang
memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi
antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan
guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut
Pidarta (1999) bahwa setiap guru adalah merupakan pribadi yang berkembang. Bila
perkembangan ini dilayani, sudah tentu dapat lebih terarah dan mempercepat laju perkembangan
itu sendiri, yang pada akhirnya memberikan kepuasan kepada guru-guru dalam bekerja di
sekolah sehingga sebagai pekerja, guru harus berkemampuan yang meliputi unjuk kerja,
penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan
cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya. Guru pada
prinsipnya memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi guna meningkatkan kinerjanya.
Namun potensi yang dimiliki guru untuk berkreasi sebagai upaya meningkatkan kinerjanya tidak
selalu berkembang secara wajar dan lancar disebabkan adanya pengaruh dari berbagai faktor
baik yang muncul dalam pribadi guru itu sendiri maupun yang terdapat diluar pribadi guru.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi dilapangan mencerminkan keadaan guru yang tidak sesuai
dengan harapan seperti adanya guru yang bekerja sambilan baik yang sesuai dengan profesinya
maupun diluar profesi mereka, terkadang ada sebagian guru yang secara totalitas lebih menekuni
kegiatan sambilan dari pada kegiatan utamanya sebagai guru di sekolah. Kenyataan ini sangat
memprihatinkan dan mengundang berbagai pertanyaan tentang konsistensi guru terhadap
profesinya. Disisi lain kinerja guru pun dipersoalkan ketika memperbicangkan masalah
peningkatan mutu pendidikan. Kontroversi antara kondisi ideal yang harus dijalani guru sesuai
harapan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dengan
kenyataan yang terjadi dilapangan merupakan suatu hal yang perlu dan patut untuk dicermati
secara mendalam tentang faktor penyebab munculnya dilema tersebut, sebab hanya dengan
memahami faktor yang berpengaruh terhadap kinerja guru maka dapat dicarikan alternatif
pemecahannya sehingga faktor tersebut bukan menjadi hambatan bagi peningkatan kinerja guru
melainkan mampu meningkatkan dan mendorong kinerja guru kearah yang lebih baik sebab
kinerja sebagai suatu sikap dan perilaku dapat meningkat dari waktu ke waktu. Untuk itu, faktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja guru dipandang perlu untuk dipelajari, ditelaah dan dikaji
secara mendalam agar dapat memberikan gambaran yang jelas faktor yang lebih berperan dan
urgen yang mempengaruhi kinerja guru. BAB II KINERJA GURU DAN FAKTOR YANG
MEMPENGARUHINYA A. PROFESI GURU 1. Konsep Profesi Guru Menurut Dedi Supriyadi
(1999) menyatakan bahwa guru sebagai suatu profesi di Indonedia baru dalam taraf sedang
tumbuh (emerging profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada yang telah
dicapai oleh profesi-profesi lainnya, sehingga guru dikatakan sebagai profesi yang setengah-
setengah atau semi profesional. Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerja non profesional
karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan
profesinya dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya
dapat dilakukan oleh mereka yang khususnya dipersiapkan untuk itu. Pengembangan profesional
guru harus diakui sebagai suatu hal yang sangat fundamental dan penting guna meningkatkan
mutu pendidikan. Perkembangan profesional adalah proses dimana guru dan kepala sekolah
belajar, meningkatkan dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai secara tepat.
Profesi guru memiliki tugas melayani masyarakat dalam bidang pendidikan. Tuntutan profesi ini
memberikan layanan yang optimal dalam bidang pendidikan kepada msyarakat. Secara khusus
guru di tuntut untuk memberikan layanan professional kepada peserta didik agar tujuan
pembelajaran tercapai. Sehingga guru yang dikatakan profesional adalah orang yang memeiliki
kemamapuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melaksanakan
tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Ornstein dsn Levine, 1984
(dalam Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1999) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang
sesuai dengan pengertian profesi di bawah ini sebagai berikut : a. Melayani masyarakat,
merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat ( tidak berganti-ganti pekerjaan ) b.
Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai ( tidak
setiap orang dapat melakukan ) c. Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke
praktek ( teori baru di kembangkan dari hasil penelitian ) d. Memerlukan pelatihan khusus
dengan waktu yang panjang e. Terkendali berdasarkan lisensi buku dan atau mempunyai
persyaratan masuk ( untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada
persyaratan khusus yang ditentukan untuk dapat mendudukinya ). f. Otonomi dalam membuat
keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu (tidak diatur oleh orang lain) g. Menerima
tanggung jawab terhadap keputusan yang diabil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang
berhubung dengan layanan yang diberikan ( langsung bertanggung jawab terhadap apa yang
diputuskan, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lain lebih tinggi ). Mempunyai
sekumpulan unjuk kerja yang baku. h. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien dengan
penekanan terhadap layanan yang akan diberikan. i. Menggunakan administrator untuk
memudahkan profesinya relatif bebas dari supervisi dalam jabatan ( misalnya dokter memakai
tenaga adminstrasi untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap
pekerjaan dokter sendiri ) j. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri. k.
Mempunyai asosiasi profesi atau kelompok ‗elit‘ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan
anggotanya ( keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh organisasi Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan). l. Mempunyai kode etik untuk mejelaskan
hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berubungan dengan layanan yang diberikan.
m. Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggin dari publik dan kepercayaan diri sendiri
anggotanya ( anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien yang
dilayaninya). n. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi ( bila dibandingkan dengan
jabatan lain ). Tidak jauh berbeda dengan ciri-ciri di atas, Sanusi et al (1991), mengutarakan ciri-
ciri umum suatu profesi itu sebagai berikut: a. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan
signifikansi sosisal yang menentukan (crusial). b. Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian
tertentu. c. Keterampilan / keahlian yang dituntut jabatan itu dapat melalui pemecahan masalah
dengan menggunakan teori dan metode ilmiah. d. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh
disiplin ilmu yang jelas, sistimatik, eksplisit, yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak
umum. e. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup
lama. f. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai
profesional itu sendiri. g. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu
berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi. h. Tiap anggota profesi
mempunyai kebebasan dan memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang di
hadapinya. i. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari
campur tanggan orang lain, j. Jabatan ini menpunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat,dan
oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula. (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1999).
Khusus untuk jabatan guru,sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun kriterianya.
Misalnya Nasional Education Asociation ( NEA ) ( 1948 ) menyarankan kriteria berikut. a.
Jabatan yang melibatkan kegiatan itelektual. b. Jabatan yang menggeluti suetu batang tubuh ilmu
yang khusus. c. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama ( bandingakan
dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka ). d. Jabatan yang memerlukan
―latihan dalam jabatan ― yang bersinambungan. e. Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan
keanggotaan yang permanen. f. Jabatan yang menentukan baku ( standarnya ) sedndiri. g.
Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi. h. Jabatan yang mempunyai
organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya
dengan baik agar dapat meningkatkan mutu pendidikan maka guru harus memiliki kompetensi
yang harus dikuasai sebagai suatu jabatan profesional. Kompetensi guru tersebut meliputi : a.
Menguasai bahan ajar. b. Menguasai landasan-landasan kependidikan. c. Mampu mengelola
program belajar mengajar. d. Mampu mengelola kelas. e. Mampu menggunakan media/sumber
belajar. f. Mampu menilaik prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran. g. Mengenal
fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan. h. Mengenal penyelenggaraan
administrasi sekolah. i. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
pendidikan guna keperluan pengejaran. 2. Syarat-syarat Profesi Guru Suatu pekerjaan dapat
menjadi profesi harus memenuhi kriteria atau persyaratan tertentu yang melekat dalam
pribadinya sebagai tuntutan melaksanakan profesi tersebut. Menurut Dr. Wirawan, Sp.A (dalam
Dirjenbagais Depag RI, 2003) menyatakan persyaratan profesi antara lain : a. Pekerjaan Penuh
Suatu profesi merupakan pekerjan penuh dalam pengertian pekerjaan yang diperlukan oleh
masyarakat atau perorangan. Tanpa pekerjaan tersebut masyarakat akan menghadapi kesulitan.
Profesi merupakan pekerjaan yang mencakup tugas, fungsi, kebutuhan, aspek atau bidang
tertentu dari anggota masyarakat secara keseluruhan. Profesi guru mencakup khusus aspek
pendidikan dan pengajaran di sekolah. b. Ilmu pengetahuan Untuk melaksanakan suatu profesi
diperlukan ilmu pengetahuan. Tanpa menggunakan ilmu tersebut profesi tidak dapat
dilaksanakan. Ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan profesi terdiri dari cabang
ilmu utama dan cabang ilmu pembantu. Cabang ilmu utama adalah cabang ilmu yang
menentukan esensi suatu profesi. Contohnya profesi guru cabang ilmu utamanya adalah ilmu
pendidikan dan cabang ilmu pembantunya masalah psikologi. Salah satu persyaratan ilmu
pengetahuan adalah adanya teori, bukan hanya kumpulan pengetahuan dan pengalaman. Fungsi
dari suatu teori adalah untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Dengan mempergunakan
teopri ilmu pengetahuan, profesional dapat menjelaskan apanyang dihadapinya dan apa yang
akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Teori ilmu pengetahuan juga mengarahkan
profesional dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan profesi. c.
Aplikasi Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan pada dasarnya mempunyai dua aspek yaitu aspek
teori dan aspek aplikasi. Aspek aplikasi ilmu pengetahuan adalah penerapan teori-teori ilmu
pengetahuan untuk membuat sesuatu, mengerjakan sesuatu atau memecahkan sesuatu yang
diperlukan. Profesi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk mengerjakan, menyelesaikan
atau membuat sesuatu. Kaitan dengan profesi, guru tidak hanya ilmu pengetahuan yang harus
dikuasai oleh guru tetapi juga pola penerapan ilmu pengetahuan tersebut sehingga guru dituntut
untuk mengusai keterampilan mengajar. d. Lembaga pendidikan Profesi Ilmu pengetahuan yang
diperlukan oleh guru untuk melaksanakan profesinya harus dipelajari dari lembaga pendidikan
tinggi yang khusus mengajarkan, menerapkan dan meneliti serta mengembangkan ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu keguruan. Sehingga peran lembaga pendidikan tinggi
sebagai pencetak sumber daya manusia harus betul-betul memberikan pemahaman dan
pengetahuan yang mantap pada calon pendidik. e. Prilaku profesi Perilaku profesional yaitu
perilaku yang memenuhi persyaratan tertentu, bukan perilaku pribadi yang dipengaruhi oleh
sifat-sifat atau kebiasaan pribadi. Prilaku profesional merupakan perilaku yang harus
dilaksanakan oleh profesional ketika melakukan profesinya. Menurut Benard Barber (1985)
(dalam Depag RI, 2003), perilaku profesional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1)
Mengacu kepada ilmu pengetahuan 2) Berorientasi kepada insterest masyarakat (klien) buka
interest pribadi. 3) Pengendalian prilaku diri sendiri dengan mepergunakan kode etik. 4) Imbalan
atau kompensasi uang atau kehormatan merupakan simbol prestasi kerja bukan tujuan dari
profesi. 5) Salah satu aspek dari perilaku profesional adalah otonomi atau kemandirian dalam
melaksanakan profesinya. f. Standar profesi Standar profesi adalah prosedur dan norma-norma
serta prinsip-prinsip yang digunakan sebagai pedoman agar keluaran (out put) kuantitas dan
kualitas pelaksanaan profesi tinggi sehingga kebutuhan orang dan masyarakat ketika diperlukan
dapat dipenuhi. Dibeberapa negara telah memperkenalkan ―Standar Profesional untuk guru dan
Kepala sekolah‖, misalnya di USA dimana National Board of Professional teacher Standards
telah mengembangkan standar dan prosedur penilaian berdasarkan pada 5 (lima) prinsip dasar
(Depdiknas, 2005) yaitu : 1) Guru bertanggung jawab (committed to) terhadap siswa dan
belajarnya. 2) Guru mengetahui materi ajar yang mereka ajarkan dan bagaimana mengajar materi
tersebut kepada siswa. 3) Guru bertanggung jawab untuk mengelola dan memonitor belajar
siswa. 4) Guru berfikir secara sistematik tentang apa-apa yang mereka kerjakan dan pelajari dari
pengalaman. 5) Guru adalah anggota dari masyarakat belajar Standar di atas menunjukkan
bahwa profesi guru merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang
memadai seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebab guru akan selalu
berhadap dengan siswa yang memiliki karakteritik dan pengetahuan yang berbeda-beda maka
untuk membimbing peserta didik untuk berkembang dan mengarungi dunia ilmu pengetahuan
dan teknologi yang secara tepat berubah sebagai ciri dari masyarat abad 21 sehingga tuntutan ini
mengharuskan guru untuk memenuhi standar penilaian yang ditetapkan. g. Kode etik profesi
Suatu profesi dilaksanakan oleh profesional dengan mempergunakan perilaku yang memenuhi
norma-norma etik profesi. Kode etik adalah kumpulan norma-norma yang merupakan pedoman
prilaku profesional dalam melaksanakan profesi.Kode etik guru adalah suatu norma atau aturan
tata susila yang mengatur tingkah laku guru, dan oleh karena itu haruslah ditatati oleh guru
dengan tujaun antara lain : 1) Agar guru-guru mempunyai rambu-rambu yang dapat dijadikan
sebagai pedoman dalam bertingkah laku sehari-hari sebagai pendidik. 2) Agar guru-guru dapat
bercermin diri mengenai tingkah lakunya, apakah sudah sesuai dengan profesi pendidik yang
disandangnya ataukah belum. 3) Agar guru-guru dapat menjaga (mengambil langkah prefentif),
jangan sampai tingkah lakunya dapat menurunkan martabatnya sebagai seorang profesional yang
bertugas utama sebagai pendidik. 4) Agar guru selekasnya dapat kembali (mengambil langkah
kuratif), jika ternyata apa yang mereka lakukan selama ini bertentangan atau tidak sesuai dengan
norma-norma yang telah dirumuskan dan disepakati sebagai kode etik guru. 5) Agar segala
tingkah laku guru, senantiasa selaras atau paling tidak, tidak bertentangan dengan profesi yang
disandangnya, ialah sebagai seorang pendidik. Lebih lanjut dapat diteladani oleh anak didiknya
dan oleh masyarakat umum. Kode etik guru ditetapkan dalam suatu kongres yang dihadiri oleh
seluruh utusan cabang dan pengurus daerah PGRI se Indonesia dalam kongres k XIII di Jakarta
tahun 1973, yang kemudian disempurnakan dalam kongres PGRI ke XVI tahun 1989 juga di
Jakarta yang berbunyi sebagai berikut : 1) Guru berbakti membimbing siswa untuk membentuk
manusia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. 2) Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran
profesional. 3) Guru berusaha memperoleh informasi tentang siswa sebagai bahan melakukan
bimbingan dan pembinaan. 4) Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang
menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar. 5) Guru memelihara hubungan baik dengan
orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab
bersama terhadap pendidikan. 6) Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan
meningkatkan mutu dan martabat profesinya. 7) Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat
kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.         Guru secara bersama-sama memelihara dan
meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. 9) Guru
melaksanakan segala kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pendidikan. Selain kode etik guru
Indonesia, sebagai pernyataan kebulatan tekad guru Indonesia, maka pada kongres PGRI XVI
yang diselenggarakan tanggal, 3 sampai dengan 8 Juli 1989 di Jakarta telah ditetapkan adanya
Ikrar Guru Indonesia dengan rumusan sebagai berikut : IKRAR GURU INDONESIA 1) Kami
Guru Indonesia, adalah insan pendidik bangsa yang beriman dan taqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. 2) Kami Guru Indonesia, adalah pengemban dan pelaksana cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia, pembela dan pengamal Pancasila yang setia pada Undang-
undang Dasar 1945. 3) Kami Guru Indonesia, bertekad bulat mewujudkan tujuan nasional dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. 4) Kami Guru Indonesia, bersatu dalam wadah organisasi
perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia, membina persatuan dan kesatuan bangsa yang
berwatak kekeluargaan. 5) Kami Guru Indonesia, menjunjung tinggi Kode Etik Guru Indonesia
sebagai pedoman tingkah laku profesi dalam pengabdiannya terhadap bangsa, negara, dan
kemanusiaan. 3. Ciri-ciri guru yang efektif Guru yang efektif pada suatu tingkat tertentu
mungkin tidak efektif pada tingkat yang lain, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan-
perbedaan dalam tingkat perkembangan mental dan emosional siswa. Dengan kata lain para
siswa memiliki respons yang berbeda-beda terhadap pola-pola prilaku guru yang sama. Guru
yang baik digambar dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Guru yang baik adalah guru yang
waspada secara profesional. Ia terus berusaha untuk menjadikan masyarakat sekolah menjadi
tempat yang paling baik bagi anak-anak muda. b. Mereka yakin akan nilai atau manfaat
pekerjaannya. Mereka terus berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaannya. c.
Mereka tidak lekas tersinggung oleh larangan-larangan dalam hubungannya dengan kebebasan
pribadi yang dikemukakan oleh beberapa orang untuk menggambarkan profesi keguruan.
Mereka secara psikologi lebih matang sehingga rangsangan-rangsangan terhadap dirinya dapat
ditaksir. d. Mereka memiliki seni dalam hubungan-hubungan manusiawi yang diperolehnya dari
pengamatannya tentang bekerjanya psikologi, biologi dan antropologi kultural di dalam kelas. e.
Mereka berkeinginan untuk terus tumbuh. Mereka sadar bahwa dibawah pengaruhnya, sumber-
sumber manusia dapat berubah nasibnya. Karakteristik atau sifat-sifat guru yang baik dalam
pandangan siswa meliputi : (1). Demokratis, (2). Suka bekerja sama (kooperatif), (3). Baik hati,
(4). Sabar, (5). Adil, (6). Konsisten, (7). Bersifat terbuka, (8). Suka menolong, (9). Ramah tamah,
(10). Suka humor, (11). Memiliki bermacam ragam minat, (12). Menguasai bahan pelajaran,
(13). Fleksibel, (14). Menaruh minat yang maik terhadap siswa. (Oemar Hamalik, 2002).
Menurut Cooper mengutip pendapat B.O. Smith (dalam Suparlan, 2004) yang telah menyarankan
bahwa seorang guru yang terlatih harus disiapkan dengan empat bidang kompetensi agar ia
menjadi guru yang efektif yaitu : a. Command of theoretical knowledge about learning and
human behavior. b. Display of attitudes that fostter learning and genuine human realtionship. c.
Cammand of knowledge in the subject matter to be taught. d. Control of technical skills of
teaching that facilitate student learning. Dengan kata lain guru yang efektif harus memiliki
kemampuan : a. Menguasai pengetahuan teoritis tentang belajar dan tingkah laku manusia b.
Menunjukkan sikap yang menunjang proses belajar dan hubungan antar manusia secara murni. c.
menguasai pengetahuan dalam mata pelajaran yang diajarkan dan d. Memiliki kemapuan
kecakapan teknis tentang pembelajaran yang mempermudah siswa untuk belajar. Sedangkan Leo
R. Sandy (dalam Suparlan, 2004) menguraikan beberapa dimensi kemampuan dan sikap yang
membentuk karakteristik guru efektif. Setidaknya ada 12 karakteristik guru efektif sebagai
berikut : a. Menjadi a learner (pembelajar) b. Menjadi a leader (pemimpin) c. Menjadi a
provocateur (provokator dalam arti positif). d. Menjadi a stranger (pengelana) e. Menjadi an
innovator (inovator). f. Menjadi a comedian/entertainment (pelawak/penghibur). g. Menjadi a
coach or guide (pelatih atau pembimbing). h. Menjadi a genuine human being or humanist
(manusia sejati atau seorang humanis). i. Menjadi a sentinel j. Menjadi optimist or idealist (orang
yang optimis atau idealis). k. Menjadi a collaborator (kolaborator atau orang yang suka bekerja
sama) l. Menjadi a revolusionar (berfikiran maju atau revolusioner). Guru yang efektif memiliki
kualitas kemampuan dan sikap yang sanggup memberikan yang terbaik bagi peserta didik dan
menyenangkan peserta didik dalam proses belajar mengajarnya. Tokoh lain yang mengemukakan
tentang guru efektif menyebutkan karakterisik guru efektif sebagai berikut : a. Senantiasa
memberikan bantuan dalam kerja sekolah pelajar. b. Periang, gembira dan berperawakan
menarik. c. Berprikemanusiaan, pengasih. d. Berminat terhadap dan memahami pelajarnya. e.
Boleh menjadikan suasana pembelajaran menyeronokkan. f. Tegas dan cekap mengawal
kelasnya. g. Adil, tidak pilih kasih. h. Tidak pemanas, pendedam. Perungut dan pemerli. i.
Berpribadi yang menyenangkan. Sementara National Commision for Excellenece in Teacher
Education (USA), mengungkapkan karakteristik guru efektif adalah sebagai berikut : a.
Berketrampilan dalam bidangnya. b. Berkemahirandalam pengajaran. c. Memaklumkan kepada
pelajar perkembangan diri masing-masing. d. Berpengalaman tentang psikologi kognitif. e.
Mahir dalam teknologi. Berdasarkan model karakteristik guru efektif yang dikemukakan
beberapa ahli maka berbagai indikator guru efektif yang dikemukakan Suparlan (2004) sebagai
berikut : 1. Adil dalam tindakan dan perlakuannya. 2. Menjaga perawakan dan cara berpakaian.
3. Menunjukkan rasa simpati kepada setiap pelajar. 4. Mengajar mengikuti kemampuan pelajar.
5. Penyayang. 6. Berkerja secara berpasukan 7. Memuki dab menggalakkan pelajar. 8.
Menggunakan perbagai kaedah dan pendekatan dalam pengajarannya. 9. Taat kepada etika
profesionslismenya. 10. Cerdas dan cejap. 11. Mampu berhubungan secara efektif. 12. Tidak
garang, pemarah, suka membadel, membesarkan diri, sombong, angkuh dan susah menerima
pelajaran orang lain. 13. Memiliki sifat kejenakaan dan boleh menerima jenaka dari pada pelajr-
pelajarnya, dan 14. Berpengetahuan serta senantiasa berusaha menambah pengetahuannya
mengenai perkembangan terbaharu terutamanya dalam bidang teknologi pendidikan. 4. Peran
dan tugas guru Guru memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk watak
bangsa serta mengembangkan potensi siswa. Kehadiran guru tidak tergantikan oleh unsur yang
lain, lebih-lebih dalam masyarakat kita yang multikultural dan multidimensional, dimana
peranan teknologi untuk menggantikan tugas-tugas guru sangat minim. Guru memiliki perana
yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang profesional
diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Profesionalisme guru sebagai ujung tombak
di dalam implementasi kurikulum di kelas yang perlu mendapat perhatian (Depdiknas, 2005).
Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan
memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab
uuntuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan
siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan
dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan
siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada: a. Mendidik dengan titik berat
memberikan arah dan motifasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang. b.
Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai. c. Membantu
perkembangan aspek – aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyusuaian diri, demikianlah
dalam proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan
tetapi lebih dari itu ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa ia
harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang
siswa muntuk belajar aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.
(Slameto, 2002) Begitu pentinya peranan guru dalam keberhasilan peserta didik maka hendaknya
guru mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan yang ada dan meningkatkan
kompetensinya sebab guru pada saat ini bukan saja sebagai pengajar tetapi juga sebagai
pengelola proses belajar mengajar. Sebagai orang yang mengelola proses belajar mengajar
tentunya harus mampu meningkatkan kemampuan dalam membuat perencanaan pelajaran,
pelaksanaan dan pengelolaan pengajaran yang efektif, penilain hasil belajar yang objektif,
sekaligus memberikan motivasi pada peserta didik dan juga membimbing peserta didik terutama
ketika peserta didik sedang mengalami kesulitan belajar. Salah satu tugas yang dilaksanakan
guru disekolah adalah memberikan pelayanan kepada siswa agar mereka menjadi peserta didik
yang selaras dengan tujuan sekolah. Guru mempengaruhi berbagai aspek kehidupan baik sosial,
budaya maupun ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama
yang bertugas sebagai pendidik. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak
melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil
tidaknya proses belajar dan karenya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar di samping
menguasai materi yang disampaikan dengan kata lain guru harus menciptakan suatu konidisi
belajar yang sebagik-baiknya bagi poeserta didik, inilah yang tergolong kategori peran guru
sebagai pengajar. Disamping peran sebagai pengajar, guru juga berperan sebagai pembimbing
artinya memberikan bantuan kepada setiap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan
diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuan diri secara maksimal terhadap sekolah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Oemar H (2002) yang mengatakan bimbingan adalah proses pemberian
bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan
untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.
Sehubungan dengan perananya sebagai pembimbing, seorang guru harus : a. Mengumpulkan
data tentang siswa. b. Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehariu-hari. c. Mengenal
para siswa yang memerlukan bantuan khusus. d. Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan
orang tua siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, untuk memperoleh saling
pengertian tentang pendidikan anak. e. Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga
lainya untuk membantu memecahkan masalah siswa. f. Membuat catatan pribadi siswa serta
menyiapkannya dengan baik. g. Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu. h.
Bekerjasama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah
siswa. i. Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan
lainnya. j. Meneliti kemajuan siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Peran guru sebagai
pengajar dan sebagai pembing memiliki keterkaitan yang sangat erat dan keduanya dilaksanakan
secara berkesinambungan dan sekaligus berinterpenetrasi dan merupakan keterpaduan antara
keduanya. B. KINERJA GURU 1. Konsep Kinerja Guru Setiap individu yang diberi tugas atau
kepercayaan untuk bekerja pada suatu organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukkan
kinerja yang memuaskan dan memberikan konstribusi yang maksimal terhadap pencapaian
tujuan organisasi tersebut. Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan
standar yang telah ditetapkan (Sulistyorini, 2001). Sedangkan Ahli lain berpendapat bahwa
Kinerja merupakan hasil dari fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu yang di dalamnya terdiri
dari tiga aspek yaitu: Kejelasan tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya;
Kejelasan hasil yang diharapkan dari suatu pekerjaan atau fungsi; Kejelasan waktu yang
diperlukan untuk menyelesikan suatu pekerjaan agar hasil yang diharapkan dapat terwujud
(Tempe, A Dale, 1992). Fatah (1996) Menegaskan bahwa kinerja diartikan sebagai ungkapan
kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu
pekerjaan. Dari beberapa penjelasan tentang pengertian kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa
Kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas atau
pekerjaannya. Kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. 2. Indikator-Indikator Kinerja Guru Kinerja merefleksikan
kesuksesan suatu organisasi, maka dipandang penting untuk mengukur karakteristik tenaga
kerjanya. Kinerja guru merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni
keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal (Sulistyorini, 2001). Tingkat
keterampilan merupakan bahan mentah yang dibawa seseorang ke tempat kerja seperti
pengalaman, kemampuan, kecakapan-kecakapan antar pribadi serta kecakapan tehknik. Upaya
tersebut diungkap sebagai motivasi yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan tugas
pekerjaannya. Sedangkan kondisi eksternal adalah tingkat sejauh mana kondisi eksternal
mendukung produktivitas kerja. Kinerja dapat dilihat dari beberapa kriteria, menurut Castetter
(dalam Mulyasa, 2003) mengemukakan ada empat kriteria kinerja yaitu: (1). Karakteristik
individu, (2). Proses, (3). Hasil dan (4) Kombinasi antara karakter individu, proses dan hasil.
Kinerja seseorang dapat ditingkatkan bila ada kesesuaian antara pekerjaan dengan keahliannya,
begitu pula halnya dengan penempatan guru pada bidang tugasnya. Menempatkan guru sesuai
dengan keahliannya secara mutlak harus dilakukan. Bila guru diberikan tugas tidak sesuai
dengan keahliannya akan berakibat menurunnya cara kerja dan hasil pekerjaan mereka, juga
akan menimbulkan rasa tidak puas pada diri mereka. Rasa kecewa akan menghambat
perkembangan moral kerja guru. Menurut Pidarta (1999) bahwa moral kerja positif ialah suasana
bekerja yang gembira, bekerja bukan dirasakan sebagai sesuatu yang dipaksakan melainkan
sebagai sesuatu yang menyenangkan. Moral kerja yang positif adalah mampu mencintai tugas
sebagai suatu yang memiliki nilai keindahan di dalamnya. Jadi kinerja dapat ditingkatkan dengan
cara memberikan pekerjaan seseorang sesuai dengan bidang kemampuannya. Hal ini dipertegas
oleh Munandar (1992) yang mengatakan bahwa kemampuan bersama-sama dengan bakat
merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi individu, sedangkan prestasi ditentukan
oleh banyak faktor diantaranya kecerdasan. Kemampuan terdiri dari berbagai macam, namun
secara konkrit dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : a. Kemampuan intelektual merupakan
kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menjalankan kegiatan mental, terutama dalam
penguasaan sejumlah materi yang akan diajarkan kepada siswa yang sesuai dengan kurikulum,
cara dan metode dalam menyampaikannya dan cara berkomunikasi maupun tehknik
mengevaluasinya. b. Kemampuan fisik adalah kapabilitas fisik yang dimiliki seseorang terutama
dalam mengerjakan tugas dan kewajibannya. (Daryanto, 2001). Kinerja dipengaruhi juga oleh
kepuasan kerja yaitu perasaan individu terhadap pekerjaan yang memberikan kepuasan bathin
kepada seseorang sehingga pekerjaan itu disenangi dan digeluti dengan baik. Untuk mengetahui
keberhasilan kinerja perlu dilakukan evaluasi atau penilaian kinerja dengan berpedoman pada
parameter dan indikator yang ditetapkan yang diukur secara efektif dan efisien seperti
produktivitasnya, efektivitas menggunakan waktu, dana yang dipakai serta bahan yang tidak
terpakai. Sedangkan evaluasi kerja melalui perilaku dilakukan dengan cara membandingkan dan
mengukur perilaku seseorang dengan teman sekerja atau mengamati tindakan seseorang dalam
menjalankan perintah atau tugas yang diberikan, cara mengkomunikasikan tugas dan pekerjaan
dengan orang lain. Hal ini diperkuat oleh pendapat As‘ad (1995) dan Robbins (1996) yang
menyatakan bahwa dalam melakukan evaluasi kinerja seseorang dapat dilakukan dengan
menggunakan tiga macam kriteria yaitu: (1). Hasil tugas, (2). Perilaku dan (3). Ciri individu.
Evaluasi hasil tugas adalah mengevaluasi hasil pelaksanaan kerja individu dengan beberapa
kriteria (indikator) yang dapat diukur. Evaluasi perilaku dapat dilakukan dengan cara
membandingkan perilakunya dengan rekan kerja yang lain dan evaluasi ciri individu adalah
mengamati karaktistik individu dalam berprilaku maupun berkerja, cara berkomunikasi dengan
orang lain sehingga dapat dikategorikan cirinya dengan ciri orang lain. Evaluasi atau Penilaian
kinerja menjadi penting sebagai feed back sekaligus sebagai follow up bagi perbaikan kinerja
selanjutnya. Menilai kualitas kinerja dapat ditinjau dari beberapa indikator yang meliputi : (1).
Unjuk kerja, (2). Penguasaan Materi, (3). Penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, (4).
Penguasaan cara-cara penyesuaian diri, (5). Kepribadian untuk melaksanakan tugasnya dengan
baik (Sulistyorini, 2001). Kinerja guru sangat penting untuk diperhatikan dan dievaluasi karena
guru mengemban tugas profesional artinya tugas-tugas hanya dapat dikerjakan dengan
kompetensi khusus yang diperoleh melalui program pendidikan. Guru memiliki tanggung jawab
yang secara garis besar dapat dikelompokkan yaitu: (1). Guru sebagai pengajar, (2). Guru
sebagai pembimbing dan (3). Guru sebagai administrator kelas. (Danim S, 2002). Dari uraian
diatas dapat disimpulkan indikator kinerja guru antara lain : a. Kemampuan membuat
perencanaan dan persiapan mengajar. b. Penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa c.
Penguasaan metode dan strategi mengajar d. Pemberian tugas-tugas kepada siswa e. Kemampuan
mengelola kelas f. Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi. G. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KINERJA GURU Guru merupakan ujung tombak keberhasilan
pendidikan dan dianggap sebagai orang yang berperanan penting dalam pencapaian tujuan
pendidikan yang merupakan percerminan mutu pendidikan. Keberadaan guru dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal maupun faktor
eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kinerja guru yang dapat diungkap tersebut antara lain : 8. Kepribadian dan
dedikasi Setiap guru memiliki pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki.
Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dari guru lainnya. Kepribadian sebenarnya
adalah suatu masalah abstrak, yang hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara
berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Zakiah
Darajat (dalam Djamarah SB, 1994) bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak,
sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya
dalam segala segi dan aspek kehidupan misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul,
berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang
berat. Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik,
artinya seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan suatu gambaran dari kepribadian orang
itu, dengan kata lain baik tidaknya citra seseorang ditentukan oleh kepribadiannya. Lebih lanjut
Zakiah Darajat (dalam Djamarah SB, 1994) mengemukakan bahwa faktor terpenting bagi
seorang guru adalah kepribadiannya. Kepribadian inilah yang akan menentukan apakah ia
menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya ataukah akan menjadi perusak atau
penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka
yang sedang mengalami kegoncangan jiwa. Kepribadian adalah suatu cerminan dari citra seorang
guru dan akan mempengaruhi interaksi antara guru dan anak didik. Oleh karena itu kepribadian
merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya martabat guru. Kepribadian guru akan
tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing anak didik. Semakin
baik kepribadian guru, semakin baik dedikasinya dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai guru, ini berarti tercermin suatu dedikasi yang tinggi dari guru dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Hal tersebut dipertegas oleh Drosat (1998)
bahwa salah satu dasar pembentukan kepribadian adalah sukses yang merupakan sebuah hasil
dari kepribadian, dari citra umum, dari sikap, dari keterampilan karena ini semua melumasi
proses interaksi-interaksi manusia Kloges (dalam Suryabrata, 2001) mengemukakan bahwa ada
tiga aspek kepribadian yaitu : (1). Materi atau bahan yaitu semua kemampuan (daya) pembawaan
beserta talent-talentnya (keistimewaan-keistimewaan nya), (2). Struktur yaitu sifat-sifat
bentuknya atau sifat-sifat normalnya. (3). Kualitas atau sifat yaitu sistem dorongan-dorongan.
Sedangkan Menurut Freud (1950), kepribadian terdiri tiga aspek yaitu : (1). Das Es (the id) yaitu
aspek biologis, aspek ini merupakan sistem yang original dalam kepribadian sehingga aspek ini
merupakan dunia bathin subyektif manusia dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan
dunia obyektif. (2). Das Ich (the ego) yaitu aspek psikologis, aspek ini timbul karena kebutuhan
individu untuk berhubungan dengan dunia nyata, (3). Das Ueber Ich (the super ego) yaitu aspek
sosiologis kepribadian merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat
sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang dimasukkan dengan berbagai
perintah dan larangan. Aspek-aspek tersebut di atas merupakan potensi kepribadian sebagai
syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Karena
tanpa aspek tersebut sangat tidak mungkin guru dapat melaksanakan tugas sesuai dengan
harapan. Kepribadian dan dedikasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan pekerjaan
dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan seseorang atau kelompok dalam suatu
organisasi. Guru yang memiliki kepribadian yang baik dapat membangkitkan kemauan untuk
giat memajukan profesinya dan meningkatkan dedikasi dalam melakukan pekerjaan mendidik
sehingga dapat dikatakan guru tersebut memiliki akuntabilitas yang baik dengan kata lain prilaku
akuntabilitas meminta agar pekerjaan itu berakhir dengan hasil baik yang dapat memuaskan
atasan yang memberi tugas itu dan pihak-pihak lain yang berkepentingan atau segala pekerjaan
yang dilaksanakan baik secara kualitatif maupun kuantitatif sesuai dengan standar yang
ditetapkan dan tidak asal-asalan. 9. Pengembangan Profesi Profesi guru kian hari menjadi
perhatian seiring dengan perubahan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menuntut kesiapan
agar tidak ketinggalan. Menurut Pidarta (1999) bahwa Profesi ialah suatu jabatan atau pekerjaan
biasa seperti halnya dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Tetapi pekerjaan itu harus diterapkan
kepada masyarakat untuk kepentingan masyarakat umum, bukan untuk kepentingan individual,
kelompok, atau golongan tertentu. Dalam melaksanakan pekerjaan itu harus memenuhi norma-
norma itu. Orang yang melakukan pekerjaan profesi itu harus ahli, orang yang sudah memiliki
daya pikir, ilmu dan keterampilan yang tinggi. Disamping itu ia juga dituntut dapat
mempertanggung jawabkan segala tindakan dan hasil karyanya yang menyangkut profesi itu.
Lebih lanjut Pidarta (1997) mengemukakan ciri-ciri profesi sebagai berikut : (1). Pilihan jabatan
itu didasari oleh motivasi yang kuat dan merupakan panggilan hidup orang bersangkutan, (2).
Telah memiliki ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus, yang bersifat dinamis dan
berkembang terus. (3). Ilmu pengetahuan, dan keterampilan khusus tersebut di atas diperoleh
melalui studi dalam jangka waktu lama di perguruan tinggi. (4). Punya otonomi dalam bertindak
ketika melayani klien, (5). Mengabdi kepada masyarakat atau berorientasi kepada layanan sosial,
bukan untuk mendapatkan keuntungan finansial. (6).Tidak mengadvertensikan keahlian-nya
untuk mendapatkan klien. (7). Menjadi anggota profesi. (8).Organisasi profesi tersebut
menetukan persyaratan penerimaan para anggota, membina profesi anggota, mengawasi perilaku
anggota, memberikan sanksi, dan memperjuangkan kesejahteraan anggota. Bila diperhatikan ciri-
ciri profesi tersebut di atas nampaknya bahwa profesi guru tidak mungkin dikenakan pada
sembarang orang yang dipandang oleh masyarakat umum sebagai pendidik. Pekerjaan profesi
harus berorientasi pada layanan sosial. Seorang profesional ialah orang yang melayani kebutuhan
anggota masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok. Sebagai orang yang memberikan
pelayanan sudah tentu membutuhkan sikap rendah hati dan budi halus. Sikap dan budi halus ini
menjadi sarana bagi terjalinnya hubungan yang baik yang ikut menentukan keberhasilan profesi.
Pengembangan profesi guru merupakan hal penting untuk diperhatikan guna mengantisipasi
perubahan dan beratnya tuntutan terhadap profesi guru. Pengembangan profesionalisme guru
menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi
penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar memiliki
pengetahuan, teknologi dan manajemen tetapi memiliki keterampilan tinggi, memiliki tingkah
laku yang dipersyaratkan. Pengembangan profesional guru harus memenuhi standar sebagaimana
yang dikemukakan Stiles dan Horsley (1998) bahwa ada empat standar pengembangan profesi
guru yaitu: (1). Standar pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para guru
sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan
metode-metode inquiri.; (2) Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi
untuk guru sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan
siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains; (3) Standar pengembangan
profesi C adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan
pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa.; (4) Standar pengembangan
profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan
terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan pengembangan
profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan. Apabila guru di Indonesia telah memenuhi
standar profesional guru sebagaimana yang berlaku di Amerika Serikat maka kualitas Sumber
Daya Manusia Indonesia semakin baik. Tuntutan memenuhi standar profesionalisme bagi guru
sebagai wujud dari keinginan menghasilkan guru-guru yang mampu membina peserta didik
sesuai dengan tuntutan masyarakat, disamping sebagai tuntutan yang harus dipenuhi guru dalam
meraih predikat guru yang profesional sebagai mana yang dijelaskan dalam jurnal Educational
Leadership (dalam Supriadi D. 1998) bahwa untuk menjadi profesional seorang guru dituntut
untuk memiliki lima hal yaitu: (1). Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses
belajarnya, (2). Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta
cara mengajarnya kepada siswa, (3). Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa
melalui berbagai cara evaluasi, (4). Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang
dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5). Guru seyogyanya merupakan bagian dari
masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Guru Indonesia yang profesional
dipersyaratkan mempunyai: (1). Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap
masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan, (2). Penguasaan kiat-kiat profesi
berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan
hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan
dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan
masyarakat Indonesia, (3). Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi
guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK
dengan praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan
terputusnya program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau
manajemen pendidikan yang lemah. (Arifin I, 2000) Dimensi lain dari pola pembinaan profesi
guru yang dapat dilakukan yaitu: (1). Peningkatan dan Pembinaan hubungan yang erat antara
Perguruan Tinggi dengan pembinaan SLTA, (2). Meningkatkan bentuk rekrutmen calon guru,
(3). Program penataran yang dikaitkan dengan praktik lapangan, (4). Meningkatkan mutu
pendidikan calon pendidik. (5). Pelaksanaan supervisi yang baik, (6). Peningkatan mutu
manajemen pendidikan, (7). Melibatkan peran serta masyarakat berdasarkan konsep linck and
matc. (8). Pemberdayaan buku teks dan alat-alat pendidikan penunjang, (9). Pengakuan
masyarakat terhadap profesi guru, (10). Perlunya pengukuhan program Akta Mengajar melalui
peraturan perundang-undangan. dan (11) Kompetisi profesional yang positif dengan pemberian
kesejahteraan yang layak (Hasan A M, 2001). Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas
itu terpenuhi akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan
dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (1991) bahwa pemenuhan persyaratan guru
profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi
berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation
learning environment. Menurut Akadum (1999) bahwa ada lima penyebab rendahnya
profesionalisme guru yaitu : (1). Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara
total, (2). Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, (3).
Pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan
kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan
pencetak tenaga keguruan dan kependidikan, (4). Masih belum smoothnya perbedaan pendapat
tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada calon guru, (5). Masih belum berfungsi PGRI
sebagai organisasi profesi yang berupaya secara maksimal meningkatkan profesionalisme
anggotanya. Upaya meningkatkan profesionalisme guru di antaranya melalui (1). Peningkatan
kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar. (2).
Program sertifikasi (Pantiwati, 2001). Selain sertifikasi, menurut Supriadi (1998) yaitu
mengoptimalkan fungsi dan peran kegiatan dalam bentuk PKG (Pusat Kegiatan Guru), KKG
(Kelompok Kerja Guru), dan MGMP (musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang memungkinkan
para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi
dalam kegiatan mengajarnya. Hal tersebut diperkuat pendapat dari Pidarta (1999) bahwa
mengembangkan atau membina profesi para guru yang terdiri dari : (1). Belajar lebih lanjut. (2).
Menghimbau dan ikut mengusahakan sarana dan fasilitas sanggar-sanggar seperti Sanggar
Pemantapan Kerja Guru. (3). Ikut mencarikan jalan agar guru-guru mendapatkan kesempatan
lebih besar mengikuti panataran-penataran pendidikan. (4). Ikut memperluas kesempatan agar
guru-guru dapat mengikuti seminar-seminar pendidikan yang sesuai dengan minat dan bidang
studi yang dipegang dalam usaha mengembangkan profesinya. (5). Mengadakan diskusi-diskusi
ilmiah secara berkala disekolah. (6). Mengembangkan cara belajar berkelompok untuk guru-guru
sebidang studi. Pola pengembangan dan pembinaan profesi guru yang diuraikan di atas sangat
memungkinkan terjadinya perubahan paradigma dalam pengembangan profesi guru sebagai
langkah antisipatif terhadap perubahan peran dan fungsi guru yang selama ini guru dianggap
sebagai satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan bagi siswa, padahal perkembangan
teknologi dan informasi sekarang ini telah membuka peluang bagi setiap orang untuk dapat
belajar secara mandiri dan cepat yang berarti siapapun bisa lebih dulu mengetahui yang terjadi
sebelum orang lain mengetahuinya, kondisi ini mengisyaratkan adanya pergeseran pola
pembelajaran dan perubahan fungsi serta peran guru yang lebih besar yang bukan lagi sebagai
satu-satunya sumber informasi pengetahuan bagi siswa melainkan sebagai fasilitator yang
mengarahkan siswa dalam pembelajaran. Pengembangan profesi guru harus pula diimbangi
dengan usaha lain seperti mengusahakan perpustakaan khusus untuk guru-guru yang mencakup
segala bidang studi yang diajarkan di sekolah, sehingga guru tidak terlalu sulit untuk mencari
bahan dan referensi untuk mengajar di kelas. Pengembangan yang lain dapat dilakukan melalui
pemberian kesempatan kepada guru-guru untuk mengarang bahan pelajaran tersendiri sebagai
buku tambahan bagi siswa baik secara perorangan atau berkelompok. Usaha ini dapat
memotivasi guru dalam melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya yang berarti
memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan kinerjannya. Menurut W.F. Connell (1974)
bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan
persyaratan yang dituntut oleh profesi keguruan. Peranan profesi adalah sebagai motivator,
supervisor, penanggung jawab dalam membina disiplin, model perilaku, pengajar dan
pembimbing dalam proses belajar, pengajar yang terus mencari pengetahuan dan ide baru untuk
melengkapi dan meningkatkan pengetahuannya, komunikator terhadap orang tua murid dan
masyarakat, administrator kelas, serta anggota organisasi profesi pendidikan. Menyadari akan
profesi merupakan wujud eksistensi guru sebagai komponen yang bertanggung jawab dalam
keberhasilan pendidikan maka menjadi satu tuntutan bahwa guru harus sadar akan peran dan
fungsinya sebagai pendidik. Hal tersebut dipertegas Pidarta (1999) bahwa kesadaran diri
merupakan inti dari dinamika gerak laju perkembangan profesi seseorang, merupakan sumber
dari kebutuhan mengaktualisasi diri. Makin tinggi kesadaran seseorang makin kuat keinginannya
meningkatkan profesi. Pembinaan dan pengembangan profesi guru bertujuan untuk
meningkatkan kinerja dan dilakukan secara terus menerus sehingga mampu menciptakan kinerja
sesuai dengan persyaratan yang diinginkan, disamping itu pembinaan harus sesuai arah dan
tugas/fungsi yang bersangkutan dalam sekolah. Semakin sering profesi guru dikembangkan
melalui berbagai kegiatan maka semakin mendekatkan guru pada pencapaian predikat guru yang
profesional dalam menjalankan tugasnya sehingga harapan kinerja guru yang lebih baik akan
tercapai. 10. Kemampuan Mengajar Untuk melaksanakan tugas-tugas dengan baik, guru
memerlukan kemampuan. Cooper (dalam Zahera, 1997) mengemukakan bahwa guru harus
memiliki kemampuan merencanakan pengajaran, menuliskan tujuan pengajaran, menyajikan
bahan pelajaran, memberikan pertanyaan kepada siswa, mengajarkan konsep, berkomunikasi
dengan siswa, mengamati kelas, dan mengevaluasi hasil belajar Kompetensi guru adalah
kemampuan atau kesanggupan guru dalam mengelola pembelajaran. Titik tekannya adalah
kemampuan guru dalam pembelajaran bukanlah apa yang harus dipelajari (learning what to be
learnt), guru dituntut mampu menciptakan dan menggunakan keadaan positif untuk membawa
mereka ke dalam pembelajaran agar anak dapat mengembangkan kompetensinya (Rusmini,
2003). Guru harus mampu menafsirkan dan mengembangkan isi kurikulum yang digunakan
selama ini pada suatu jenjang pendidikan yang diberlakukan sama walaupun latar belakang
sosial, ekonomi dan budaya yang berbeda-beda (Nasanius Y, 1998). Aspek-aspek teladan mental
guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran pelajar yang diciptakan guru. Guru
harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada
proses belajarnya. Agar guru mampu berkompetensi harus memiliki jiwa inovatif, kreatif dan
kapabel, meninggalkan sikap konservatif, tidak bersifat defensif tetapi mampu membuat anak
lebih bersifat ofensif (Sutadipura, 1994). Penguasaan seperangkat kompetensi yang meliputi
kompetensi keterampilan proses dan kompetensi penguasaan pengetahuan merupakan unsur
yang dikolaborasikan dalam bentuk satu kesatuan yang utuh dan membentuk struktur
kemampuan yang harus dimiliki seorang guru, sebab kompetensi merupakan seperangkat
kemampuan guru searah dengan kebutuhan pendidikan di sekolah, tuntutan masyarakat, dan
perkembang-an ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi Keterampilan proses belajar
mengajar adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Kompetensi dimaksud meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, menyusun program perbaikan dan pengayaan,
serta menyusun program bimbingan dan konseling sedangkan Kompetensi Penguasaan
Pengetahuan adalah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan keluasan dan
kedalaman pengetahuan. Kompetensi dimaksud meliputi pemahaman terhadap wawasan
pendidikan, pengembangan diri dan profesi, pengembangan potensi peserta didik, dan
penguasaan akademik (Rusmini, 2003). Kemampuan mengajar guru sebenarnya merupakan
pencerminan penguasan guru atas kompetensinya. Imron (1995) mengemukakan 10 Kompetensi
dasar yang harus dikuasai oleh guru yaitu : (1). Menguasai bahan, (2). Menguasai Landasan
kependidikan, (3). Menyusun program pengajaran, (4). Melaksanakan Program Pengajaran, (5).
Menilai proses dan hasil belajar, (6). Menyelenggarakan proses bimbingan dan penyuluhan,
(7).Menyelenggarakan administrasi sekolah, (8). Mengembangkan kepribadian, (9). Berinterkasi
dengan sejawat dan masyarakat, (10). Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk
kepentingan mengajar. Sedangkan menurut Uzer Usman (2002) bahwa jenis-jenis kompetensi
guru antara lain (1). Kompetensi kepribadian meliputi: mengembangkan kepribadian,
berinteraksi dan berkomunikasi, melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, melaksanakan
administrasi, melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran; (2). Kompetensi
profesional antara lain mengusai landasan kependidikan, menguasai bahan pengajaran,
menyusun program pengajaran, melaksanakan program pengajaran dan menilai hasil dan proses
belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan
tuntutan standar tugas yang diemban memberikan efek positif bagi hasil yang ingin dicapai
seperti perubahan hasil akademik siswa, sikap siswa, keterampilan siswa, dan perubahan pola
kerja guru yang makin meningkat, sebaliknya jika kemampuan mengajar yang dimiliki guru
sangat sedikit akan berakibat bukan saja menurunkan prestasi belajar siswa tetapi juga
menurunkan tingkat kinerja guru itu sendiri. Untuk itu kemampuan mengajar guru menjadi
sangat penting dan menjadi keharusan bagi guru untuk dimiliki dalam menjalankan tugas dan
fungsinya, tanpa kemampuan mengajar yang baik sangat tidak mungkin guru mampu melakukan
inovasi atau kreasi dari materi yang ada dalam kurikulum yang pada gilirannya memberikan rasa
bosan bagi guru maupun siswa untuk menjalankan tugas dan fungsi masing-masing. 11. Antar
Hubungan dan Komunikasi Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, manusia dapat
saling berhubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari dirumah tangga, di tempat kerja,
di pasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak akan
terlibat komunikasi. Pentingnya komunikasi bagi organisasi tidak dapat dipungkiri, adanya
komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dan begitu pula
sebaliknya. Misalnya Kepala Sekolah tidak menginformasikan kepada guru-guru mengenai
kapan sekolah dimulai sesudah libur maka besar kemungkinan guru tidak akan datang mengajar.
Contoh di atas menandakan betapa pentingnya komunikasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Muhammad A. (2001) bahwa kelupaan informasi dapat memberikan efek yang lebih besar
terhadap kelangsungan kegiatan. Komunikasi yang efektif adalah penting bagi semua organisasi
oleh karena itu para pemimpin organisasi dan para komunikator dalam organisasi perlu
memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka (Kohler, 1981). Guru dalam
proses pelaksanaan tugasnya perlu memperhatikan hubungan dan komunikasi baik antara guru
dengan Kepala Sekolah, guru dengan guru, guru dengan siswa, dan guru dengan personalia
lainnya di sekolah. Hubungan dan komunikasi yang baik membawa konsekwensi terjalinnya
interaksi seluruh komponen yang ada dalam sistem sekolah. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan guru akan berhasil jika ada hubungan dan komunikasi yang baik dengan siswa sebagai
komponen yang diajar. Kinerja guru akan meningkat seiring adanya kondisi hubungan dan
komunikasi yang sehat di antara komponen sekolah sebab dengan pola hubungan dan
komunikasi yang lancar dan baik mendorong pribadi seseorang untuk melakukan tugas dengan
baik. Menurut Forsdale (1981) bahwa ―communication is the process by which a system is
established, maintained, and altered by means of shared signals that operate according to rules‖.
Sedangkan ahli lain berpendapat bahwa komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana
individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat
menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya
dan orang lain (Brent D. Ruben, 1988). Hubungan sosial antar manusia selalu terjadi di
lingkungan kerja. Sebagai peneliti Terence R. Mitchell 1982 (dalam Junaidin, 2006) menemukan
bahwa orang-orang di dalam organisasi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk interaksi
interpersonal. Hubungan yang terjadi antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan bawahan.
Di sekolah hubungan dapat terjadi antara kepala sekolah dengan guru, antara guru dengan guru
serta guru dengan siswa. Hubungan guru dengan siswa lebih sering dilakukan dibandingkan
dengan hubungan guru dengan guru atau hubungan guru dengan kepala sekolah. Setiap hari guru
harus berhadapan dengan siswayang jumlahnya cukup banyak yang terkadang sangat
merepotkan tetapi bagi guru interaksi dengan siswa merupakan hal sangat menarik dan
mengasyikkan apalagi dapat membantu siswa dalam menemukan cara mengatasi kesulitan
belajar siswa. Ada bermacam-macam interaksi di sekolah. Kalau ditinjau dari maksud interaksi
yang terjadi maka ada dua macam interaksi yaitu (1) interaksi dalam konteks menjalankan tugas
yang secara langsung mengarah pada tujuan organisasi dan (2). Interaksi diluar
kontekspelaksanaan tugas, meskipun interaksi terjadi di lingkungan kerja. Hubungan yang sehat
dan harmonis dalam konteks pelaksanaan tugas menjadi prasyarat agar produktivitas lebih
meningkat lagi Komunikasi digunakan untuk memahami dan menukarkan pesan verbal maupun
non verbal antara pengirim informasi dengan penerima informasi untuk mengubah tingkah laku.
Hubungan dan komunikasi yang dikembangkan guru terutama dalam proses pembelajaran dan
pada situasi interaksi lain di sekolah memberi peluang terciptanya situasi yang kondusif untuk
dapat memperlancar pelaksanaan tugas, segala persoalan yang dihadapi guru baik dalam
pelaksanaan tugas utama maupun tugas tambahan dapat diselesaikan melalui penyelesaian secara
bersama dengan rekan guru yang lain, tanpa hubungan dan komunikasi yang baik di dalam
lingkungan sekolah apapun bentuk pekerjaan yang kita lakukan tetap akan mengalami hambatan
dan kurang lancar. Terbinanya hubungan dan komunikasi di dalam lingkungan sekolah
memungkinkan guru dapat mengembangkan kreativitasnya sebab ada jalan untuk terjadinya
interaksi dan ada respon balik dari komponen lain di sekolah atas kreativitas dan inovasi
tersebut, hal ini menjadi motor penggerak bagi guru untuk terus meningkatkan daya inovasi dan
kreativitasnya yang bukan saja inovasi dalam tugas utamanya tetapi bisa saja muncul inovasi
dalam tugas yang lain yang diamanatkan sekolah. Ini berarti bahwa pembinaan hubungan dan
komunikasi yang baik di antara komponen dalam sekolah menjadi suatu keharusan dalam
menunjang peningkatan kinerja. Untuk itu semakin baik pembinaan hubungan dan komunikasi
dibina maka respon yang muncul semakin baik pula yang pada gilirannya mendorong
peningkatan kinerja. 12. Hubungan dengan Masyarakat Sekolah merupakan lembaga sosial yang
tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lingkungannya, sebaliknya masyarakat pun tidak dapat
dipisahkan dari sekolah sebab keduanya memiliki kepentingan, sekolah merupakan lembaga
formal yang diserahi mandat untuk mendidik, melatih, dan membimbing generasi muda bagi
peranannya di masa depan, sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu.
Menurut Pidarta (1999) bahwa suatu sekolah tidak dibenarkan mengisolasi diri dari masyarakat.
Sekolah tidak boleh merupakan masyarakat tersendiri yang tertutup terhadap masyarakat sekitar,
ia tidak boleh melaksanakan idenya sendiri dengan tidak mau tahu akan aspirasi–aspirasi
masyarakat. Masyarakat menginginkan sekolah itu berdiri di daerahnya untuk meningkatkan
perkembangan putra-putra mereka. Sekolah merupakan sistem terbuka terhadap lingkungannya
termasuk masyarakat pendukungnya. Sebagai sistem terbuka sudah jelas ia tidak dapat
mengisolasi diri sebab bila hal ini ia lakukan berarti ia menuju ke ambang kematian. Hubungan
sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk hubungan komunikasi ekstern yang dilaksanakan
atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan. Masyarakat merupakan kelompok individu–
individu yang berusaha menyelenggarakan pendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan.
Dalam masyarakat terdapat lembaga-lembaga penyelenggaran pendidikan, lembaga keagamaan,
kepramukaan, politik, sosial, olah raga, kesenian yang bergerak dalam usaha pendidikan. Dalam
masyarakat juga terdapat individu-individu atau pribadi-pribadi yang bersimpati terhadap
pendidikan di sekolah. Sekolah berada ditengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan
berfungsi sebagai pisau bermata dua. Mata yang pertama adalah menjaga kelestarian nilai-nilai
positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyarakat berlangsung dengan
baik. Mata yang kedua adalah sebagai lembaga yang mendorong perubahan nilai dan tradisi
sesuai dengan kemajuan dan tuntutan kehidupan serta pembangunan. (Soetjipto dan Rafles
Kosasi, 1999). Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara
sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta
kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan
dan pengembangan sekolah. Hubungan sekolah dengan masyarakat ini sebagai usaha kooperatif
untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling
pengertian antara sekolah, personalia sekolah dengan masyarakat. Hal ini dipertegas Mulyasa
(2003) bahwa Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat ditinjau dari dua dimensi yaitu
kepentingan sekolah dan kebutuhan masyarakat. Tujuan hubungan masyarakat berdasarkan
dimensi kepentingan sekolah antara lain : (1). Memelihara kelangsungan hidup sekolah, (2).
Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, (3). Memperlancar kegiatan belajar mengajar, (4).
Memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka pengembangan dan
pelaksanaan program-program sekolah. Tujuan hubungan berdasarkan kebutuhan masyarakat
antara lain : (1). Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, (2). Memperoleh
kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, (3).
Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, dan (4).
Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang terampil dan makin meningkatkan
kemampuannya (Mulyasa, 2003). Dalam melaksanakan hubungan sekolah-masyarakat perlu
dianut beberapa prinsip sebagai pedoman dan arah bagi guru dan kepala sekolah, agar mencapai
sasaran yang diinginkan. Prinsip-prinsip hubungan antara lain : (1). Prinsip Otoritas yaitu bahwa
hubungan sekolah-masyarakat harus dilakukan oleh orang yang mempunyai otoritas, karena
pengetahuan dan tanggung jawabnya dalam penyelenggaraan sekolah. (2). Prinsip kesederhanaan
yaitu bahwa program-program hubungan sekolah masyarakat harus sederhana dan jelas, (3).
Prinisp sensitivitas yaitu bahwa dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan
masyarakat, sekolah harus sensitif terhadap kebutuhan serta harapan masyarakat. (4). Prinsip
kejujuran yaitu bahwa apa yang disampaikan kepada msyarakat haruslah sesuatu apa adanya dan
disampaikan secara jujur. (5). Prinsip ketepatan yaitu bahwa apa yang disampaikan sekolah
kepada masyarakat harus tepat, baik dilihat dari segi isi, waktu, media yang digunakan serta
tujuan yang akan dicapai (Soetjipto dan Rafles Kosasi (1999) Agar hubungan dengan masyarakat
terjamin baik dan berlangsung kontinu, maka diperlukan peningkatan profesi guru dalam hal
berhubungan dengan masyarakat. Guru disamping mampu melakukan tugasnya masing-masing
di sekolah, mereka juga diharapkan dapat dan mampu melakukan tugas-tugas hubungan dengan
masyarakat. Mereka bisa mengetahui aktivitas-aktivitas masyarakatnya, paham akan adat
istiadat, mengerti aspirasinya, mampu membawa diri di tengah-tengah masyarakat, bisa
berkomunikasi dengan mereka dan mewujudkan cita-cita mereka. Untuk mencapai hal itu
diperlukan kompetensi dan perilaku dari guru yang cocok dengan struktur sosial masyarakat
setempat, sebab ketika kompetensi dan perilaku guru tidak cocok dengan struktur sosial dalam
masyarakat maka akan terjadi benturan pemahaman dan salah pengertian terhadap program yang
dilaksanakan sekolah dan berakibat tidak adanya dukungan masyarakat terhadap sekolah,
padahal sekolah dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama dan peran yang strategis
dalam mendidik dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Hubungan dengan masyarakat
tidak saja dibina oleh guru tetapi juga dibina oleh personalia lain yang ada disekolah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Pidarta (1999) yang mengatakan bahwa selain guru, anggota staf yang
lain seperti para pegawai, para petugas bimbingan dan konseling, petugas-petugas medis, dan
bahkan juga pesuruh dapat melakukan hubungan dengan masyarakat, sebab mereka ini juga
terlibat dalam pertemuan-pertemuan, pemecahan masalah, dan ketatausahaan hubungan dengan
masyarakat. Namun yang lebih banyak menangani hal itu adalah guru sehingga guru-gurulah
yang paling dituntut untuk memiliki kompetensi dan perilaku yang cocok dengan struktur sosial.
Kemampuan guru membawa diri baik di tengah masyarakat dapat mempengaruhi penilaian
masyarakat terhadap guru. Guru harus bersikap sesuai dengan norma-norma yang berlaku di
masyarakat, responsif dan komunikatif terhadap masyarakat, toleran dan menghargai pendapat
mereka. Bila tidak mampu menampilkan diri dengan baik sangat mungkin masyarakat tidak akan
menghiraukan mereka. Bertalian dengan hal itu Pidarta (1999) menegaskan bahwa keadaan
seperti itu akan menimbukan cap kurang baik terhadap guru. Citra guru di mata masyarakat
menjadi pudar. Oleh karena itu kewajiban sekolah untuk menegakkan wibawa guru di tengah
masyarakat dengan terus menyesuaikan diri sambil ikut memberikan pencerahan kepada
masyarakat. Hal yang dilakukan guru dalam mendukung hubungan sekolah dengan masyarakat
antara lain: (1). Membantu sekolah dalam melaksanakan tehnik-tehnik hubungan sekolah dengan
masyarakat. Melalui : (a). Guru hendaknya selalu berpartisipasi lembaga dan organisasi di
masyarakat (b). Guru hendaknya membantu memecahkan yang timbul dalam masyarakat. (2).
Membuat dirinya lebih baik lagi dalam masyarakat melalui penyesuain diri dengan adat istiadat
masyarakat karena guru adalah tokoh milik masyarakat. Tingkah laku guru di sekolah dan di
masyarakat menjadi panutan masyarakat. Pada posisi terrsebut guru menjaga perilaku yang
prima. Apabila masyarakat mengetahui bahwa guru-guru sekolah tertentu dapat dijadikan suri
teladan di masyarakat, maka masyarakat akan percaya pada sekolah pada akhirnya masyarakat
memberikan dukungan pada sekolah. (3). Guru harus melaksanakan kode etiknya, karena kode
etik merupakan seperangkat aturan atau pedoman dalam melaksanakan tugas profesinya.
Penjelasan di atas menunjukkan betapa penting peran guru dalam hubungan sekolah dengan
masyarakat. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah-masyarakat membuka peluang
adanya saling koordinasi dan pengawasan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan
keterlibatan bersama memajukan peserta didik. Guru diharapkan selalu berbuat yang terbaik
sesuai harapan masyarakat yaitu terbinanya dan tercapainya mutu pendidikan anak-anak mereka.
Penciptaan suasana menantang harus dilengkapi dengan terjalinnya hubungan yang baik dengan
orang tua murid dan masyarakat sekitarnya. Ini dimaksudkan untuk membina peran serta dan
rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan. Hanya sebagian kecil waktu yang
dipergunakan oleh guru di sekolah dan sebagian besar ada di masyarakat. Agar pendidikan di
luar ini terjalin dengan baik dengan apa yang dilakukan oleh guru di sekolah diperlukan
kerjasama yang baik antara guru, orang tua dan masyarakat. Kewajiban guru mengadakan kontak
hubungan dengan masyarakat merupakan bagian dan tugas guru dalam mendidik siswa dan
mengembangkan profesinya sebagai guru. Sekolah adalah milik bersama antara warga sekolah
itu sendiri, pemerintah dan masyarakat. Dengan adanya perubahan paradigma pendidikan
sekarang ini membuka peluang bagi masyarakat untuk dapat menilai sekolah dan guru dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pengawasan dan evaluasi yang dilakukan masyarakat baik secara perseorangan maupun
kelompok yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung membawa konsekwensi bagi
terciptanya kondisi kerja kearah yang lebih baik karena kelangsungan hidup sekolah sangat
tergantung pula dari keterlibatan masyarakat sebagai unsur pendukung keberhasilan sekolah
maka guru secara langsung terpengaruh dan berdampak pada kinerja guru sebab ketika guru
menunjukkan kinerja yang tidak baik disuatu sekolah maka masyarakat tidak akan memberikan
respon positif bagi kelangsungan sekolah tersebut. Apalagi guru selalu berada ditengah-tengah
masyarakat segala tindak tanduknya akan selalu dicontoh dan diteladani dalam masyarakat.
Manfaat hubungan dengan masyarakat sangat besar bagi peningkatan kinerja guru melalui
peningkatan aktivitas-aktivitas bersama, komunikasi yang kontinu dan proses saling memberi
dan saling menerima serta membuat instrospeksi sekolah dan guru menjadi giat dan kontinu.
Setiap aktivitas guru dapat diketahui oleh masyarakat sehingga guru akan berupaya
menampilkan kinerja yang lebih baik. Hal ini dipertegas Pidarta (1999) yang menyatakan bahwa
bila guru tidak mau belajar dan tidak mampu menampilkan diri sangat mungkin masyarakat tidak
akan menghiraukan mereka. Keadaan ini seringkali menimbulkan cap kurang baik terhadap guru.
Citra guru di mata masyarakat menjadi pudar. 13. Kedisiplinan The Liang Gie (1972)
memberikan pengertian disiplin sebagai berikut Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana
orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah
ada dengan rasa senang. Sedangkan Good‘s (1959) dalam Dictionary of Education mengartikan
disiplin sebagai berikut a. 1). Proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan,
dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud atau untuk mencapai tindakan yang lebih
sangkil. b. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, sekalipun
menghadapi rintangan c. Pengendalian perilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman
atau hadiah. d. Pengekangan dorongan dengan cara yang tak nyaman dan bahkan menyakitkan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan dan ketepatan
pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain
atau suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam tertib, teratur dan semestinya serta tiada
suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuan disiplin
menurut Arikunto, S. (1993) yaitu agar kegiatan sekolah dapat berlangsung secara efektif dalam
suasana tenang, tentram dan setiap guru beserta karyawan dalam organisasi sekolah merasa puas
karena terpenuhi kebutuhannya. Sedangkan Depdikbud (1992) menyatakan tujuan disiplin dibagi
menjadi dua bagian yaitu : (1). Tujuan Umum adalah agar terlaksananya kurikulum secara baik
yang menunjang peningkatan mutu pendidikan (2). Tujuan khusus yaitu : (a). Agar Kepala
Sekolah dapat menciptakan suasana kerja yang menggairahkan bagi seluruh peserta warga
sekolah, (b). Agar guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar seoptimal mungkin dengan
semua sumber yang ada disekolah dan diluar sekolah (c). Agar tercipta kerjasama yang erat
antara sekolah dengan orang tua dan sekolah dengan masyarakat untuk mengemban tugas
pendidikan. Kedisiplinan sangat perlu dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai
pengajar, pendidik dan pembimbing siswa. Disiplin yang tinggi akan mampu membangun
kinerja yang profesional sebab pemahaman disiplin yang baik guru mampu mencermati aturan-
aturan dan langkah strategis dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Kemampuan
guru dalam memahami aturan dan melaksanakan aturan yang tepat, baik dalam hubungan dengan
personalia lain di sekolah maupun dalam proses belajar mengajar di kelas sangat membantu
upaya membelajarkan siswa ke arah yang lebih baik. Kedisiplinan bagi para guru merupakan
bagian yang tak terpisahkan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Dengan demikian
kedisiplinan seorang guru menjadi tuntutan yang sangat penting untuk dimiliki dalam upaya
menunjang dan meningkatkan kinerja dan disisi lain akan memberikan tauladan bagi siswa
bahwa disiplin sangat penting bagi siapapun apabila ingin sukses. Hal tersebut dipertegas Imron
(1995) menyatakan bahwa disiplin kinerja guru adalah suatu keadaan tertib dan teratur yang
dimiliki guru dalam bekerja di sekolah, tanpa ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan baik
secara langsung maupun tidak langsung terhadap dirinya, teman sejawatnya dan terhadap
sekolah secara keseluruhan. Tiga model disiplin yang dapat dikembangkan yaitu : (1). Disiplin
yang dibangun berdasarkan konsep otoritarian. Bahwa guru dikatakan mempunyai disiplin tinggi
manakala mau menurut saja terhadap perintah dan anjuran pejabat atau pembina tanpa banyak
menyumbangkan pikiran-pikirannya. (2). Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep
permissive. Bahwa guru haruslah diberikan kebebasan seluas-luasnya di dalam kelas dan
sekolah. Aturan-aturan di sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada guru. (3).
Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali yaitu memberikan
kebebasan seluas-luasnya kepada guru untuk berbuat, tetapi konsekwensi dari perbuatan itu
haruslah dapat dipertanggung jawabkan (Imron, 1995) Penerapan model disiplin di atas, diikuti
dengan teknik-teknik alternatif pembinaan disiplin guru yaitu : (1). Pembinaan dengan teknik
external control yaitu pembinaan yang dikendalikan dari luar. (2). Pembinaan dengan teknik
internal control yaitu diupayakan agar guru dapat mendisiplinkan dirinya sendiri. Guru
disadarkan akan pentingnya disiplin. (3). Pembinaan dengan teknik cooperative control yaitu
Pembinaan ini model ini, menuntut adanya saling kerjasama antara guru dengan orang yang
membina dalam menegakkan disiplin. Perilaku disiplin dalam kaitan dengan kinerja guru sangat
erat hubungannya karena hanya dengan kedisiplinan yang tinggilah pekerjaan dapat dilakukan
sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Untuk itu dalam upaya mencegah terjadinya indisipliner
perlu ditindak lanjuti dengan meningkatkan kesejahteraan guru, memberi ancaman, teladan
kepemimpinan, melakukan tindakan korektif, memelihara tata tertib, memajukan pendekatan
positif terhadap disiplin, pencegahan dan pengendalian diri (Zahera Sy, 1998). Hal tersebut
dipertegas oleh Nainggolan H. (1990) bahwa upaya-upaya untuk menegakkan disiplin antara
lain: (1). Memajukan tindakan postif, (2). Pencegahan dan penguasaan diri, (3). Memelihara tata
tertib. Kedisiplinan yang baik ditunjukan guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
akan memperlancar pekerjaan guru dan memberikan perubahan dalam kinerja guru ke arah yang
lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Kondisi ini bukan saja berpengaruh pada pribadi
guru itu sendiri dan tugasnya tetapi akan berimbas pada komponen lain sebagai suatu cerminan
dan acuan dalam menjalankan tugas dengan baik dan menghasilkan hasil yang memuaskan. 2.
Kesejahteraan Faktor kesejahteraan menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap kinerja guru
di dalam meningkatkan kualitasnya sebab semakin sejahteranya seseorang makin tinggi
kemungkinan untuk meningkatkan kerjanya. Mulyasa (2002) menegaskan bahwa terpenuhinya
berbagai macam kebutuhan manusia, akan menimbulkan kepuasan dalam melaksanakan apapun
tugasnya. Menurut Supriadi (1999) bahwa tingkat kesejahteraan guru di Indonesia sangat
memprihatinkan, hanya setara dengan kondisi guru di negara miskin di Afrika. Rendahnya
tingkat kesejahteraan tersebut akan semakin tampak bila dibandingkan dengan kondisi guru di
negara lain. Di negara maju, gaji guru umumnya lebih tinggi dari pegawai yang lain, sementara
di Indonesia justru sebaliknya. Profesionalitas guru tidak saja dilihat dari kemampuan guru
dalam mengembangkan dan memberikan pembelajaran yang baik kepada peserta didik, tetapi
juga harus dilihat oleh pemerintah dengan cara memberikan gaji yang pantas serta berkelayakan.
Bila kebutuhan dan kesejahteraan para guru telah layak diberikan oleh pemerintah, maka tidak
akan ada lagi guru yang membolos karena mencari tambahan diluar (Denny Suwarja, 2003). Hal
itu tersebut dipertegas Pidarta (1999) yang menyatakan bahwa rata-rata gaji guru di negara ini
belum menjamin kehidupan yang layak. Hampir semua guru bekerja di tempat lain sebagai
sambilan disamping pekerjaannya sebagai guru tetap disuatu sekolah. Malah ada juga guru-guru
yang melaksanakan pekerjaan sambilan lebih dari satu tempat bahkan ada yang bekerja sambilan
tidak di bidang pendidikan. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka ingin hidup layak bersama
keluargannya. Dunia guru masih terselingkung dua masalah yang memiliki mutual korelasi yang
pemecahannya memerlukan kearifan dan kebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambil
kebijakan yaitu: (1). Profesi keguruan kurang menjamin kesejahteraan karena rendah gajinya.
Rendahnya gaji berimplikasi pada kinerjanya. (2). Profesionalisme guru masih rendah
(Adiningsih, 2002). Journal PAT (2001) menjelaskan bahwa di Inggris dan Wales dalam
meningkatkan profesionalisme guru pemerintah mulai memperhatikan pembayaran gaji guru
diseimbangkan dengan beban kerjanya. Analisa tingkat institusi menyatakan bahwa hubungan
antara kepuasan dan performan rasanya nyata, pendidik yang terpuaskan pada tingkat yang lebih
tinggi memiliki performan pada tingkat yang lebih tinggi dari pendidik yang berada pada tingkat
tidak terpuaskan. Hal tersebut dipertegas Arthur H. Braifiled and Walter H. Crockett (dalam
Sutaryadi, 2001) yang menyatakan bahwa memang terdapat korelasi positif antara kepuasan
kerja dengan performan kerja namun pada tingkat rendah. Peningkatan kesejahteraan berkaitan
erat dengan insentif yang diberikan pada guru. Insentif dibatasi sebagai imbalan organisasi pada
motivasi individu, pekerja menerima insentif dari organisasi sebagai pengganti karena dia
anggota yang produktif dengan kata lain insentif adalah upah atau hukuman yang diberikan
sebagai pengganti kontribusi individu pada organisasi. Menurut Chester l. Barnard (dalam
Sutaryadi, 2001) menyatakan bahwa insentif yang tidak memadai berarti mengubah tujuan
organisasi. Dari uraian di atas disimpulkan bahwa untuk memaksimalkan kinerja guru langkah
strategis yang dilakukan pemerintah yaitu memberikan kesejahteraan yang layak sesuai volume
kerja guru, selain itu memberikan insentif pendukung sebagai jaminan bagi pemenuhan
kebutuhan hidup guru dan keluarganya. Program peningkatan mutu pendidikan apapun yang
akan diterapkan pemerintah, jika kesejahteraan guru masih rendah maka besar kemungkinan
program tersebut tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Jadi tidak heran kalau guru di
negara maju memiliki kualitas tinggi dan profesional, karena penghargaan terhadap jasa guru
sangat tinggi. Adanya Jaminan kehidupan yang layak bagi guru dapat memotivasi untuk selalu
bekerja dan meningkatkan kreativitas sehingga kinerja selalu meningkat tiap waktu. 3. Iklim
Kerja Sekolah merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang membentuk satu
kesatuan yang utuh. Di dalam sekolah terdapat berbagai macam sistem sosial yang berkembang
dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut pola dan tujuan tertentu yang saling
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya sehingga membentuk perilaku dari hasil
hubungan individu dengan individu maupun dengan lingkungannya. Menurut Davis, K &
Newstrom J.W (1996) bahwa sekolah dapat dipandang dari dua pendekatan yaitu pendekatan
statis yang merupakan wadah atau tempat orang berkumpul dalam satu struktur organisasi dan
pendekatan dinamis merupakan hubungan kerjasama yang harmonis antara anggota untuk
mencapai tujuan bersama. Interaksi yang terjadi dalam sekolah merupakan indikasi adanya
keterkaitan satu dengan lainnya guna memenuhi kebutuhan juga sebagai tuntutan tugas dan
tanggung jawab pekerjaannya. Untuk terjalinnya interaksi-interaksi yang melahirkan hubungan
yang harmonis dan menciptakan kondisi yang kondusif untuk bekerja diperlukan iklim kerja
yang baik. Litwin dan Stringer (dalam Sergiovanni, 2001) mengemukakan bahwa Iklim
mempengaruhi kinerja guru. Iklim sebagai pengaruh subyektif yang dapat dirasakan dari sistem
formal, gaya informal pemimpin dan faktor-faktor lingkungan penting lainnya, yang menyangkut
sikap/keyakinan dan kemampuan memotivasi orang-orang yang bekerja pada organisasi tersebut.
Sedangkan menurut Henry A Marray dan Kurt Lewin (dalam Sutaryadi, 1990) mengatakan
bahwa Iklim kerja adalah seperangkat karakteristik yang membedakan antara individu satu
dengan individu lainnya yang dapat mempangaruhi perilaku individu itu sendiri, perilaku
merupakan hasil dari hubungan antara individu dengan lingkungannya. Iklim sekolah memegang
peran penting sebab iklim itu menunjukkan suasana kehidupan pergaulan dan pergaulan di
sekolah itu. Iklim itu mengambarkan kebudayaan, tradisi-tradisi, dan cara bertindak personalia
yang ada di sekolah itu, khususnya kalangan guru-guru. Iklim ialah keseluruhan sikap guru-guru
di sekolah terutama yang berhubungan dengan kesehatan dan kepuasan mereka (Pidarta, 1999).
Jadi Iklim kerja adalah hubungan timbal balik antara faktor-faktor pribadi, sosial dan budaya
yang mempengaruhi sikap individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah yang tercermin dari
suasana hubungan kerjasama yang harmonis dan kondusif antara Kepala Sekolah dengan guru,
antara guru dengan guru yang lain, antara guru dengan pegawai sekolah dan keseluruhan
komponen itu harus menciptakan hubungan dengan peserta didik sehingga tujuan pendidikan dan
pengajaran tercapai. Iklim negatif menampakkan diri dalam bentuk-bentuk pergaulan yang
kompetitif, kontradiktif, iri hati, beroposisi, masa bodoh, individualistis, egois. Iklim negatif
dapat menurunkan produktivitas kerja guru. Iklim positif menunjukkan hubungan yang akrab
satu dengan lain dalam banyak hal terjadi kegotong royongan di antara mereka, segala persoalan
yang ditimbul diselesaikan secara bersama-sama melalui musyawarah. Iklim positif
menampakkan aktivitas-aktivitas berjalan dengan harmonis dan dalam suasana yang damai,
teduh yang memberikan rasa tenteram, nyaman kepada personalia pada umumnya dan guru
khususnya. Terciptanya iklim positif di sekolah bila terjalinnya hubungan yang baik dan
harmonis antara Kepala Sekolah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan pegawai tata
usaha, dan peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Owens (1991) bahwa faktor-faktor
penentu iklim organisasi sekolah terdiri dari (1). Ekologi yaitu lingkungan fisik seperti gedung,
bangku, kursi, alat elektronik, dan lain-lain, (2). Milieu yakni hubungan sosial, (3). Sistem sosial
yakni ketatausahan, perorganisasian, pengambilan keputusan dan pola komunikasi, (4). Budaya
yakni nilai-nilai, kepercayaan, norma dan cara berpikir orang-orang dalam organisasi. Sedangkan
Menurut Steers (1975) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi iklim kerjasama di sekolah
adalah : (1). Struktur tugas, (2). Imbalan dan hukuman yang diberikan, (3). Sentralisasi
keputusan, (4). Tekanan pada prestasi, (5). Tekanan pada latihan dan pengembangan, (6).
Keamanan dan resiko pelaksanaan tugas, (7). Keterbukaan dan Ketertutupan individu, (8). Status
dalam organisasi, (9). Pengakuan dan umpan balik, (10). Kompetensi dan fleksibilitas dalam
hubungan pencapaian tujuan organisasi secara fleksibel dan kreatif. Terbentuknya iklim yang
kondusif pada tempat kerja dapat menjadi faktor penunjang bagi peningkatan kinerja sebab
kenyamanan dalam bekerja membuat guru berpikir dengan tenang dan terkosentrasi hanya pada
tugas yang sedang dilaksanakan. BAB III PERUBAHAN PARADIGMA PERAN GURU 1.
Tantangan Pendidikan di era Perubahan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi yang
sangat cepat selama ini membawa dampak terhadap terhadap jarak antar bangsa didunia sehingga
fenomena ini bersifat global. Perkembangan dan tatanan ekonomi dunia sedang merobah kearah
perdagangan dan investasi bebas. General Agreement of Tariff and Trade (GATT) yang
selanjutnya berkembang menjadi World Trade Organization (WTO), serta dibentuknya
perdagangan regional seperti European Economics Community (EEC), North American Free
Trade Area (NAFTA), dan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) merupakan bentuk nyata
perdagangan global yang bebas dan makin terbuka. Hal ini akan membawa implikasi bahwa
pasar domestik akan menjadi bagian dari pasar dunia sehingga gejolak yang terjadi dalam
ekonomi global berpengaruh pada pasar domestik. Untuk menghadapi persaingan yang makin
ketat haruslah didukung kualitas sumber daya manusia yang unggul dan komitmen terhadap
nilai-nilai.(Idris, J. 2005). Akibat pengaruh globalisasi menghadirkan problem baru berupa
kesenjangan antara kemajuan IPTEK sekarang dengan kurikulum sekolah. Dilain pihak motivasi
dan minat belajar siswa masih rendah mengakibatkan kualitas lulusan sebagai hasil pendidikan
cenderung merendah pula. Wacana mutu pendidikan yang tak menggembirakan itu terindikasi
pada tahun 2000 lalu sebuah organisasi dunia International Association of Educational
Evaluation in Achievemnt (IEA) menerbitkan hasil survei prestasi belajar matematika dan IPA
bagi siswa sekolah Usia 13 tahun pada 42 negera menempatkan negara kita berada pada posisi
yang kurang menggembirakan. Pelaksanaan pendidikan kita selama ini telah menempatkan kata-
kata dan semboyan baku yang mengagumkan namun seperti apa dan bagaimana manusia yang
cerdas dan seutuhnya justru tidak ditemukan dalam paham pendidikan kita. Kehampaan visi dan
filosofi tersebut membuat fokus perhatian hanya tertuju pada masalah metodologi sedangkan inti
yang sebenarnya (ruh pendidikan) belum tersentuh. Mutu hanya terwujud jika proses pendidikan
di sekolah benar-benar menjadikan siswa belajar dan belajar sebanyak mungkin. Mutu
pendidikan harus dilihat dari kemampuan belajar siswa secara mandiri. Pengetahuan apapun
yang mereka kuasai adalah hasil belajar yang mereka lalukan sendiri (Novak & Gowin, 1984,
Arend, 2001 dalam Jalaluddin). Persoalannya sekarang adalah bagaimana menemukan
pendekatan yang terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di dalam mata
pelajaran tertentu sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep
tersebut. Bagaimana setiap individual mata pelajaran dipahami sebagai bagian yang saling
berhubungan dan membentuk satu pemahaman yang utuh bagaimana seorang guru dapat
berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari
sesuatu, arti dari sesuatu dan hubungan dari apa yang mereka pelajari. Bagaimana guru dapat
membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa sehingga mereka dapat
mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat
membuka berbagai pintu kesempatan selama hidupnya. Hal ini merupakan tantangan yang
dihadapi guru setiap hari dan tantangan bagi pengembangan kurikulum. 2. Reorientasi
Paradigma pendidikan yang Diinginkan Untuk menjawab perubahan-perubahan yang terjadi
dalam persaingan global sekarang ini maka seyogyanya perubahan perkembangan kehidupan
diikuti pula dengan perubahan orientasi pendidikan hal ini penting dilakukan sebagai langkah
antisipasi dan tindakan adaptasi guna mempertahankan eksisitensi dalam persaingan global.
Untuk itu perubahan paradigma pendidikan yang diperlu diperhatikan seperti (1) dari schooling
ke learning dimana implikasinya kearah belajar siswa aktif sehingga perlu membuat suasana
belajar inovatif dan kreatif dan juga harus mampu menguasai umlti medote/multi media untuk
mendorong siswa bereksplorasi, belajar dari mengamati ke menjelaskan; (2). Dari knowledge
based learning ke comptenesi based learning dimana pembelajaran tidak disadarkan pada
pencapaian perolehan produk pengetahuan tetapi pada penguasaan keterampilan sehingga tidak
menerima pengetahuan tetapi membangun pengetahuan; (3). Dari instructive ke facilitative
terjadi perubahan dari ekspositorik ke penemuan, inkuiri dan problem solving. Paradigma
pendidikan Indonesia saat ini adalah ingin membangun manusia seutuhnya sehingga proses
pendidikan mengarah pada empat macam olah yaitu pertama : potensi olah hati dimaksudkan
membangun manusia indonesia yang beriman dan bertaqwa yang baik memiliki asas yang mulia
dan berbudi pekertiluhur, Kedua : olah pikir dimana melalui olah pikir diharapkan bisa dibangun
manusia yang intelektual secara akademis, menguasai ilmu poengetahuan dan teknologi, ketiga :
olah rasa dimaksudkan untuk membangun manusia yang halus perasaan, bisa berapresitif, bisa
mensyukuri dan bisa mengekspresikan keindahan sehingga pendidikan dengan keindahan
(pendidikan seni) menjadi sama pentingnya dengan pendidikan hati dengan pendidikan pikir dan
Keempat : olah raga dimaksudkan menabguna manusia dengan basis fisik yang tangguh, kalau
fisik tidak sehat, tidak bugar, bagaimana bisa memiliki produktivitas yang tinggi karenanya olah
ragapun menjadi penting di dalam pendidikan. Jadi pendidikan yang diinginkan sekarang ini
mengembangkan manusia yang komprehensif, mempunyai kecerdasan komprehensif, cerdas
hati, cerdas rasa, cerdas pikir,m cerdas rasa dan cerdas raga. (Pengarahan Mentri Pendidikan
nasional pada kegiatan rakor pembanguan dan evaluasdi pendidikan Riau Kamis 15 Desember
2005 Koran Berita) Mencermati hal demikian maka pendidik bukan lagi sekedar pengajar tetapi
pendidik adalah agen pembelajaran yang membantu peserta didik yang secara mandiri
mengembangkan potensi dirinya melalui olah bathin, olah pikir, olah rasa dan olah raga.
Sehingga pemerintah menetapkan perntahapan dalam dunia pendidikan dari tahun 2005 sampai
tahun 2025 antara lain tahun 2005 – 2010 adalah pentahapan modernisasi dan peningkatan
kapasitas pendidikan, tahun 2010-2015 peningkatan kapasistas dan mutu pendidikan, tahun 2015
-2020 peningkatan mutu, relevansi dan kompetitif dan tahun 2020 – 2025 pematangan.
Pentahapan tersebut sinergi dengan kebijakan pokok pendidikan indonesia yaitu pertama
meningkatkan dan memeratakan partisipasi atau akses pendidikan maksudnya untuk
menciptakan keadilan dan pendidikan dengan memeratakan dan meningkatkan akses pendidikan;
Kedua mewujudkan pendidikan masyarakat yang bermutu, berdaya saing, relevan dengan
kebutuhan masyarakat mengadung makna bahwa out put pendidikan yang dihasilkan haruslah
bermutu, relevan, dan berdaya saing, Ketiga mewujudkan sistem pengelolaan pendidikan yang
efektif, efisien, akuntabel dengan menekankan pada peranan desentralisasi dan otonomi
pendidikan pada setiap jenjang pendidikan dimasyarakat dan meningkatkan citra publik. Strategi
yang harus dilakukan demi terwujudnya visi dan misi pendidikan nasional antara lain dengan
pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan proses
pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Kompetensi dikembangkan untuk memberikan
keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan,
ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk
menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan
bangsanya. Sejalan dengan pengembangan kurikulum tersebut maka fondasi pendidikan yang
dijadikan pilar pendidikan pada era reformasi dan jaringan dalam meraih dan merebut pasar
internasional yaitu Learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan),
learning to beacame (belajar menjadi diri sendiri) dan learning togather (belajar hidup dalam
kebersamaan). 3. Hakekat Belajar Mengajar dalam KBK Selama ini mengajar dianggap sebagai
upaya memberikan informasi atau upaya untuk meragakan cara menggunakan sesuatu, atau
untuk memberi pelajaran melalui mata pelajaran tertentu. Kegiatan belajar mengajar mirip
seperti kegiatan menjual dan membeli. Artinya, kegiatan menjual baru berlangsung kalau ada
kegiatan membeli. Begitu juga dengan kegiatan mengajar – belajar. Guru baru mengajar kalau
siswa belajar. mengacu pada pandangan constructivism, belajar adalah peristiwa dimana
pebelajar secara terus menerus membangun gagasan baru atau memodifikasi gagasan lama dalam
struktur kognitif yang senantiasa disempurnakan. Pandangan ini sejalan dengan pandangan Raka
Joni (1993), ahli pendidikan Indonesia, yang mengungkapkan titik pusat hakekat belajar sebagai
‗pengetahuan-pemahaman‘ yang terwujud dalam bentuk pemberian makna secara
konstruktivistik oleh pebelajar kepada pengalamannya melalui berbagai bentuk pengkajian yang
memerlukan pengerahan berbagai keterampilan kognitif di dalam mengolah informasi yang
diperoleh melalui alat indera. Kalau begitu, dengan pandangan progresif ini, peristiwa ‗belajar‘
tidak cukup sekedar dicirikan dengan menggali informasi temuan ilmuwan (baca mengkaji
materi sejumlah mata pelajaran) tetapi siswa perlu dikondisikan supaya berperilaku seperti
ilmuwan dengan senantiasa menggunakan metoda ilmiah dan memiliki sikap ilmiah sewaktu
menyelesaikan masalah. Dengan demikian, peristiwa belajar meliputi membaca, mendengar,
mendiskusikan informasi (reading and listening to science), dan melakukan kegiatan ilmiah
(doing science) termasuk melakukan .kegiatan pemecahan masalah. Ini berarti, hakekat
‗mengajar‘ dan ‗belajar‘ bergeser dari kutub dengan makna tradisional ke kutub dengan makna
progresif. Kegiatan ‗belajar‘ bergeser dari ‗menerima informasi‘ ke ‗membangun pengetahuan‘
dan kegiatan ‗mengajar‘ bergeser dari ‗mentransfer informasi‘ ke ‗mengkondisikan sehingga
peristiwa belajar berlangsung‘. Kalau begitu, pernyataan guru tentang ‗seberapa jauh kurikulum
sudah disajikan (target kurikulum)‘ lebih tepat diganti dengan ‗seberapa jauh kurikulum sudah
dikuasai, dipahami, dan ‗dibangun‘ siswa (target pemahaman)‘. Implikasi pandangan ini,
kegiatan mengajar yang lazim perlu dimodifikasi dan diubah. Misalnya pada kegiatan mengajar
sains, tidak cukup hanya melalui telling science tetapi perlu mengembangkan kegiatan yang
bersifat doing science atau kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mengembangkan
thinking skill dan bahkan tidak hanya memperluas wawasan kognitif tetapi juga menyentuh
ranah afektif, psikomotor, dan juga metakognitif. Ranah yang terakhir ini para ahli pendidikan
sering menyebutnya sebagai kemampuan tentang ‗belajar bagaimana belajar‘ (learn how to
learn). 4. Pendekatan Pembelajaran sebagai Fokus Perhatian Guru Pendekatan pembelajaran
harus menciptakan suasana teaching-learning yang dapat menumbuhkan rasa dari tidak tahun
menjadi tahu dan guru memposisikan diri sebagai pelatih dan fasilitator. Kehadiran KBK
mengharuskan guru untuk lebih berbenah diri mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan
dengan tugasnya sebab berdasarkan pengamatan selama ini proses belajar disekolah lebih
ditandai oleh proses mengajar guru melalui ceramah dan proses belajar siswa melalui menghafal.
Dalam konteks pembelajaran yang berorietnasi pada KBK fokus perhatian guru tidak lagi
sebagai destroyer (pengganggu peristiwa belajar) tetapi sebagai fasilitator (Mempermudah
peristiwa belajar) yang lebih dicirikan dengan disediakannya peluang seluas-luasnya bagi anak
untuk mengembangkan gagasan kreatif supaya anak selalu aktif menyempurnakan gagasan
miskonsepsi sambil membangun pengetahuan yang lebih ilmiah. Sejalan dengan itu guru
senantiasa melatih anak untuk memliki keterampilan dan sikap tertentu agar dirinya mampu dan
mau belajar sepanjang hayat. Kebiasaan siswa selama ini masih menganut budaya konsumtif
dinatarnya kebiasaan siswa menerima informasi secara pasif seperti mencacat, mendengar,
meniru yang seharusnya akan diubah pada pola budaya produktif dimana siswa terbiasa untuk
menghasilkan gagasan/karya seperti merancang/membuat model, penelitian, memecahkan
masalah dan menemukan gagasan baru. Perubahan peran guru akan bisa dilakukan bilama guru
memahami hakekat pembelajaran yang dinginkan dalam kurikulum berbasis kompetensi
misalnya pembelajaran bisa terjadi di dalam dan diluar kelas dengan metode yangn bervariasi,
maknanya pembelajaran dengan pola ini berdasarkan pada kompetensi dasar yang harus dicapai
sehingga pendekatan pembelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi menuntut guru untuk
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut : a. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan
kewajaran perkembangan mental (developmentally appropriate) siswa. Hubungan antara isi
kurikulum dan metodologi yang digunakan dalam pembelajaran. Hubungan antara isi kurikulum
dan metodelogi yang digunakan dalam pembelajaran harus didasarkan pada kondisi sosial
emosional dan perkembangan intelektual siswa. Jadi usia siswa dan karakteristik individual
lainya serta kondisi sosial dan lingkungan budaya siswa haruslah menjadi perhatian didalam
merencanakan pembelajaran. b. Membetnuk group belajar yang saling tergantung(interdependent
learning group). Siswa saling belajar dari sesamanya di dalam kelompok kecil dan bekerjasama
dalam tim lebih besar merupakan bentuk kerjasama yang diperlukan oleh orang dewasa di
tempat kerja dan konteks lain. c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran
mandiri (self regulated learing) yang memiliki tiga karakteristik yaitu kesadaran berpikir ,
penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa siswa usia 5
– 16 tahun secara bertahap mengalami perkembangan kesadaran terhadap keadaan pengetahuan
yang dimilikinya, karakteristikl tugas-tugas yang mempengaruhi pembelajarannya secara
individual dan startegi belajarnya. Guru harus menciptakan suatu lingkungan dimana siswa dapat
merefleksikan bagaimana mereka belajar, menyelesaikan tugas-tugas sekolah, menghadapi
hambatan dan bekerjasama secara harmonis dengan yang lain d. Mempertimbangkan keragaman
siswa (diversity of student) didalam kelas guru harus mengajar siswa dengan berbagai
keragamannya misalnya latar belakang suku bangsa, status sosial ekonomi, bahasa utama yang
dipakai dirumah dan berbagai kekurangan yang mungkin mereka miliki. e. Memperhatikan
multi-intelegensi (multiple intelegensi) siswa. Dengan penggunakan pendekatan pembelajaran,
cara siswa berpartisipasi di dalam kelas harus mempertimbangkan delapan latar kecerdasanya
yaitu : Liguistic, logical-matematical, spatial bodily-kinaesthetic, misical, interpersoanl dan
intrapersonal. Untuk itu guru harus memadukan berbagai strategi pendekatan pembelajaran yang
tentunya mengurangi dominasi guru. f. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan
pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan tingkat tinggi. g.
Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment) penilaian autentik mengevaluasi
penerapan pengetahuan dan berpikir kompleks seorang siswa, dari pada hanya sekedar hafalan
informasi factual. Kondisi alamiah pembelajaran secara kontekstual memerlukan penilaian
interdisipliner yang dapat mengukur pengetahuan dan keterampilan lebih dalam dan dengan cara
yang bervariasi dibandingkan dengan 5. Visi dan Kompetensi Guru Guru harus memiliki visi
yang tepat dan berbagai aksi inovatif. Visi tanpa aksi adalah bagaikan sebuah impian, aksi tanpa
visi bagaikan perjalanan tanpa tujuan dan membuang-buang waktu saja. Visi dan aksi dapat
mengubah dunia. Guru dengan visi yang tepat memiliki pandangan yang tepat tentang
pembelajaran yaitu (1) pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan, sehingga
kualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajarannya, dan sama sekali bukan pada
aksesoris sekolah, (2) pembelajaran tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan
melalui proses inovasi tertentu, sehingga guru dituntut melakukan berbagai pembaruan dalam hal
pendekatan, metode, tehnik, strategi, langkah-langkah, media pembelajaran mengubah ―status
quo‖ agar pembelajaran menjadi lebih berkualitas, dan (3) harus dilaksanakan atas dasar
pengabdian, sebagaimana pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah pengabdian, bukan
sebagai sebuah proyek. Guru dengan aksi inovatif dan mandiri memiliki pandangan sebuah
harapan tidak akan berarti apa-apa bilamana tidak diiringi dengan berbagai program kerja
pembaruan menuju pembelajaran yang berkualitas (Bafadal I, 2003). Keberadaan visi bagi guru
sangat penting dalam menapaki pekerjaan yang lebih baik. Ketercapaian predikat guru yang
profesional tidak serta merta diperoleh begitu saja paling tidak guru harus memiliki perspektif
atau cara pandang tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagi guru yang lebih komprehensif,
hal ini berarti visi guru harus mengikuti irama perkembangan dan perubahan yang terjadi. Secara
sederhana ada tiga visi yang harus dimiliki guru antara lain pertama visi jangka panjang yang
selalu berorientasi pada tujuan akhir dalam setiap langkah yang diperbuat. Melakukan sesuatu
secara optimal dan sungguh-sungguh, memiliki kendali diri dan sosial karena telah memiliki
kesadaran akan adanya tujuan akhir dari kehidupan ini. Memiliki kepastian akan masa depan dan
ketenangan bathiniah yang tinggi yang tercipta oleh keyanian akan adanya tujuan hidup. Kedua
Visi jangka menengah, yang selalu berorietnasi pada keberhasilan atas segala yang diperbuat,
keinginan untuk mencapai prestasi yang terbaik selalu menjadi cita-cita dan tujuan guru. Ketiga
visi jangka pendek yang selalu berorientasi pada setiap waktu untuk melakukan kegiatan yang
terbaik demi memajukan peserta didik dan meraih keberhasilan dan prestasi yang dicita-citakan.
Untuk nopang ketercapaian visi tersebut, guru harus harus mempunyai kompetensi yang
dipersyaratkan guna melaksanakan profesinya agar mencapai hasil yang memuaskan.
Kompetensi tersebut diantaranya pertama kompetensi paedagogik adalah kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; kedua kompetensi
kepribadian adalah karakteristik pribadi yang harus dimiliki guru sebagai individu yang mantap,
stabil, dewasa, arif dan beribawa, menjadi tauladan bagi peserta didik, dan berahlak mulia; ketiga
kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas
dan mendalam yang memungkinkan mereka membimbing peserta didik dalam menguasaoi nateri
yang diajarkan; keempat kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
bergaul secara efektif, berinteraksi dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua/wali peserta didik dan mayarakat sekitar. Kompetensi itu dipandang perlu sebagai
bagian atau komponen yang tidak terpisahkan dari eksistensi guru dalam melaksanakan
profesinya sebab pekerjaan guru tidak gampang dan tidak sembarangan dilaksanakan melainkan
harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai pendung dan penunjang pelaksanaan profesi. Jika
guru tidak mempunyai kompetensi yang dipersyaratkan sangat mustahil akan terwujud
pelaksanaan kegiatan proses pendidikan di sekolah akan menjadi lebih baik dan terarah.
Kompetensi tersebut merupakan modal dasar bagi guru dalam membina dan mendidik peserta
didik sehingga tercapai mutu pendidikan yang akan menghasilkan peserta didik yang memiliki
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang paripurna. BAB IV LANGKAH STRATEGIS
MENINGKATKAN KINERJA GURU Kinerja guru yang ditunjukkan dapat diamati dari
kemampuan guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang tentunya sudah dapat
mencermikan suatu pola kerja yang dapat meningkatkan mutu pendidikan kearah yang lebih
baik. Seseorang akan bekerja secara profesional bilamana memiliki kemampuan kerja yang
tinggi dan kesungguhan hati untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, seseorang
tidak akan bekerja secara profesional bilamana hanya memenuhi salah satu diantara dua
persyaratan di atas. Jadi betapapun tingginya kemampuan seseorang, ia tidak akan bekerja secara
profesional apabila tidak memiliki kepribadian dan dedikasi dalam bekerja yang tinggi. Guru
yang memiliki kinerja yang baik tentunya memiliki komitmen yang tinggi dalam pribadinya
artinya tercermin suatu kepribadian dan dedikasi yang paripurna. Tingkat komitmen guru
terbentang dalam satu garis kontinum, bergerak dari yang paling rendah menuju paling tinggi.
Guru yang memiliki komitmen yang rendah biasanya kurang memberikan perhatian kepada
murid, demikian pula waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu
pembelajaran yang sangat sedikit. Sebaliknya seseorang guru yang memiliki komitmen yang
tinggi biasanya tinggi sekali perhatiannya dalam bekerja. Demikian pula waktu yang disediakan
untuk peningkatan mutu pendidikan sangat banyak. Sedangkan tingkat abstraksi yang
dimaksudkan di sini adalah tingkat kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran,
mengklarifikasi masalah-masalah pembelajaran, dan menentukan alternatif pemecahannya. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Glickman (dalam Bafadal I, 2003) yang menyatakan bahwa
―guru yang memiliki tingkat abstraksi yang tinggi adalah guru yang mampu mengelola tugas,
menemukan berbagai permasalahan dalam tugas dan mampu secara mandiri memecahkannya‖.
Langkah strategis dalam upaya meningkatkan kinerja guru dapat dilakukan melalui beberapa
terobosan antara lain : 5. Kepala Sekolah harus memahami dan melakukan tiga fungsi sebagai
penunjang peningkatan kinerja guru antara lain : f. Membantu guru memahami, memilih dan
merumuskan tujuan pendidikan yang dicapai. g. Mendorong guru agar mampu memecahkan
masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi dan dapat melihat hasil kerjanya. h. Memberikan
pengakuan atau penghargaan terhadap prestasi kerja guru secara layak, baik yang diberikan oleh
kepala sekolah maupun yang diberikan semasa guru, staf tata usaha, siswa, dan masyarakat
umum maupun yang diberikan pemerintah. i. Mendelegasikan tanggung jawab dan kewenangan
kerja kepada guru untuk mengelola proses belajar mengajar dengan memberikan kebebasan
dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar. j. Membantu memberikan
kemudahan kepada guru dalam proses pengajuan kenaikan pangkatnya sesuai dengan peraturan
yang berlaku. k. Membuat kebijakan sekolah dalam pembagian tugas guru, baik beban tugas
mengajar, beban administrasi guru maupun beban tugas tambahan lainnya harus disesuaikan
dengan kemampuan guru itu sendiri. l. Melaksanakan tehnik supervisi yang tepat sesuai dengan
kemampuannya dan sesuai dengan keinginan guru-guru secara berkesinambungan dalam upaya
memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran. m.
Mengupayakan selalu meningkatkan kesejahteraannya yang dapat diterima guru serta
memberikan pelayanan sebaik-baiknya. n. Menciptakan hubungan kerja yang sehat dan
menyenangkan dilingkungan sekolah baik antara guru dengan kepala sekolah, guru dengan guru,
guru dengan siswa, guru dengan tata usaha maupun yang lainnya. o. Menciptakan dan menjaga
kondisi dan iklim kerja yang sehat dan menyenangkan di lingkungan sekolah, terutama di dalam
kelas, tempat kerja yang menyenangkan, alat pelajaran yang cukup dan bersifat up to date,
tempat beristirahat di sekolah yang nyaman, kebersihan dan keindahan sekolah, penerangan yang
cukup dan masih banyak lagi. p. Memberiukan peluang pada guru untuk tumbuh dalam
meningkatkan pengetahuan, meningkatkan keahlian mengajar, dan memperoleh keterampilan
yang baru. q. Mengupayakan adanya efek kerja guru di sekolah terhadap keharmonisan anggota
keluarga, pendidikan anggota keluarga, dan terhadap kebahagiaan keluarganya. r. Mewujudkan
dan menjaga keamanan kerja guru tetap stabil dan posisi kerjanya tetap mantap sehingga guru
merasa aman dalam pekerjaannya. s. Memperhatikan peningkatan status guru dengan memenuhi
kelengkapan status berupa perlengkapan yang mendukung kedudukan kerja guru, misalnya
tersediahnya ruang khusus untuk melaksanakan tugas, tempat istirahat khusus, tempat parkis
khusus, kamar mandi khusus dan sebagainya. ( Junaidin, 2006). t. Menggerakkan guru-guru,
karyawan, siswa dan anggota masyarakat untuk mensukseskan program-program pendidikan di
sekolah. u. Menciptakan sekolah sebagai lingkungan kerja yang harmonis, sehat, dinamis dan
nyaman sehingga segenap anggota dapat bekerja dengan penuh produktivitas dan memperoleh
kepuasan kerja yang tinggi. Langkah lain yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan
kinerja guru melalui peningkatan pemanfaatan teknologi informasi yang sedang berkembang
sekarang ini dan mendorong guru untuk menguasainya. Melalui teknologi informasi yang
dimiliki baik oleh daerah maupun oleh individual sekolah, guru dapat melakukan beberapa hal
diantaranya : (1) melakukan penelusuran dan pencarian bahan pustaka, (2) membangun Program
Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) untuk memodelkan sebuah rencana pengajaran, (3)
memberi kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan virtual clasroom ataupun virtual
university, (4) pemasaran dan promosi hasil karya penelitian. Dengan memanfaatkan teknologi
informasi maka guru dapat secara cepat mengakses materi pengetahuan yang dibutuhkan
sehingga guru tidak terbatas pada pengetahuan yang dimiliki dan hanya bidang studi tertentu
yang dikuasai tetapi seyogyanya guru harus mampu menguasai lebih dari bidang studi yang
ditekuninya sehingga bukan tidak mungkin suatu saat guru tersebut akan mendalami hal lain
yang masih memiliki hubungan erat dengan bidang tugasnya guna meningkatkan kinerja ke arah
yang lebih baik. 1. Dinas Pendidikan setempat selaku pihak yang ikut andil dalam mengeluarkan
dan memutuskan kebijakan pada sektor pendidikan dapat melakukan langkah sebagai berikut : a.
Memberikan kemandirian kepada sekolah secara utuh b. Mengontrol setiap perkembangan
sekolah dan guru. c. Menganalisis setiap persoalan yang muncul di sekolah d. Menentukan
alternatif pemecahan bersama dengan kepala sekolah dan guru terhadap persoalan yang dihadapi
guru Kinerja guru tidak dapat berdiri sendiri melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor lain
melalui interaksi sosial yang terjadi di antara diri mereka sendiri maupun dengan komponen
yang lain dalam sekolah. Hal lain yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan moral kerja
guru. Moral kerja sebagai suatu sikap dan tingkah laku yang merupakan perwujudan suatu
kemauan yang dibawa serta ke sekolah dan kerjannya. Pemahaman tentang moral kerja yang
belum sempurna menyebabkan tidak dapat mempengaruhi kinerja secara spesifik. Padahal moral
kerja yang tinggi dapat meningkatkan semangat untuk bekerja lebih baik. Moral kerja dapat pula
dipengaruhi oleh motif-motif tertentu yang bersifat subyektif maupun obyektif. Adapun yang
menjadi motif untuk bekerja lebih baik adalah kebutuhan-kebutuhan (needs) yang menimbulkan
suatu tindakan perbuatan yang menimbulkan suatu perbuatan (behaviour) yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut (goals). Bafadal I (2003) memberikan suatu contoh
akan pentingnya pemenuhan kebutuhan sebagai berikut : ―misalnya seseorang pasti
membutuhkan makanan untuk mempertahkankan eksistensi hidupnya. Apabila tidak
mendapatkan makanan orang itu akan mati kelaparan. Makanan pada konteks ini merupakan
kebutuhan (needs). Oleh karena itu makanan merupakan kebutuhan yang memaksa seseorang
melakukan tindakan perbuatan (behaviour)‖. Hubungan kebutuhan dan tindak perbuatan
divisualisasikan melalui gambar berikut : Kebutuhan Tindakan Perbuatan==== ======
Tujuan Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru
dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar-mengajar. Namun demikian,
posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh
kemampuan profesional mengajar dan tingkat kesejahteraannya. Reformasi pendidikan
merupakan respons terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk
mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk
memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang. Melalui reformasi, pendidikan harus
berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azazi manusia
untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal. Menurut Louis V.
Gerstner, Jr.,dkk (1995) (dalam Aqib Z, 2003) mengatakan bahwa : ―Sekolah abad masa depan
memiliki ciri-ciri antara lain (1) kepala sekolah yang dinamis dan komunikatif dengan
kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan, (2) memiliki visi, misi, dan
strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas, (3) guru-guru yang
berkompeten damn berjiwa kader yang senantiasa bergairah dalam melaksanakan tugas
profesionalnya secara inovatif, (4) siswa-siswa yang sibuk, bergairah, dan bekerja keras dalam
mewujudkan perilaku pembelajaran, dan (5) masyarakat dan orang tua yang berperan serta dalam
menunjang pendidikan‖. Upaya mewujudkan sisi guru dalam reformasi pendidikan beberapa
asumsi dasar yang harus mendapat pertimbangan antara lain : a. guru pada dasarnya merupakan
faktor penentu bagi keberhasilan pendidikan b. jumlah guru dengan kecakapan akademik yang
baik, cenderung menurun di masa yang akan datang, sepanjang secara material sosial, jabatan
guru tidak menarik dan menjanjikan bagi generasi muda yang memiliki kualitas akademik yang
cemerlang c. kepercayaan masyarakat terhadap guru sangat bergantung dari persepsi yang
berkenaan dengan status guru terutama yang berkaitan dengan kualitas pribadi, kualitas
kesejahteraan, penghargaan material, kualitas pendidikan, dan standar profesi d. anggaran
belanja pendidikan, imbal jasa (gaji dan tunjangan lainnya), dan kondisi kerja guru merupakan
faktor yang mendasar bagi terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan kinerja yang efektif
e. masyarakat dan orang tua mempunyai hak akan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya f.
disisi lain guru diharapkan menunjukkan kinerja atas dasar moral dan profesional yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dalam kaitan ini, guru mempunyai keterikatan yang erat dengan
kualitas dan hasil pendidikan.(Aqib Z., 2003). Ungkapan di atas bermakna bahwa posisi guru
pada era dalam reformasi pendidikan merupakan posisi yang memiliki peran besar yang harus
dijalankan guru dalam mewujudkan mutu pendidikan yang lebih baik. Sehingga berbagai aspek
yang dapat mempengaruhi kinerja guru perlu dilakukan perbaikan seperti kualitas kesejahteraan,
kualitas moral dan kualitas profesi dan lain-lain yang dimiliki guru sebagai penentu keberhasilan
pendidikan, maka tidak salah jika ada keinginan memperbaiki mutu pendidikan akan berkaitan
dengan memperbaiki posisi guru. Untuk mewujudkan kinerja guru yang profesional dalam
reformasi pendidikan, secara ideal ada beberapa karakteristik citra guru yang diharapkan antara
lain a. guru harus memiliki semangat juang yang tinggi disertai dengan kualitas keimanan dan
ketaqwaan yang mantap. b. guru yang mampu mewujudkan dirinya dalam keterkaitan dan
padanan dengan tuntutan lingkungan dan perkembangan iptek. c. guru yang mempunyai kualitas
kompetensi pribadi dan profesional yang memadai disertai atas kerja yang kuat. d. guru yang
mempunyai kualitas kesejahteraan yang memadai. e. guru yang mandiri, kreatif, dan berwawasan
masa depan. Untuk mewujudkan guru yang memiliki karakteristik seperti di atas maka perlu
dilakukan langkah nyata yang dapat dilakukan pemerintah antara lain : (1) pemerintah harus ada
kemauan politik untuk menempatkan posisi guru dalam keseluruhan pendidikan nasional, (2)
mewujudkan sistem manajemen guru dan tenaga kependidikan lainnya yang meliputi pengadaan,
pengangkatan, penempatan, pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan secara terpadu yang
sistematik, sinergik dan simbolik, (3) pembenahan sistem pendidikan guru yang lebih fungsional
untuk menjamin dihasilkannya kualitas profesional guru dan tenaga kependidikan lainnya, (4)
pengembangan satu sistem pengganjaran (gaji dan tunjangan lainnya) bagi guru secara adil,
bernilai ekonomis, dan memiliki daya tarik sedemikian rupa sehingga merangsang guru untuk
melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi dan memberikan kepuasan lahir batin (Aqiz Z.,
2003). Pada era otonomi daerah, Pendapatan yang diterima guru bervariasi, baik ditinjau dari
jenjang sekolah maupun lokasi daerah. Tunjangan guru di sekolah pada jenjang yang lebih
rendah adalah lebih rendah dari pada tunjangan guru di sekolah yang lebih tinggi. Demikian
pula, tunjangan guru di sekolah yang berada di kota adalah lebih tinggi daripada tunjangan guru
di sekolah yang berada di pinggir kota dan desa. Kondisi ini disebabkan oleh perbedaan
kebutuhan sekolah dan kemampuan orang tua dalam memberikan sumbangan dana terhadap
sekolah. Ekonomi orang tua di perkotaan adalah cenderung lebih kuat dibandingkan dengan
ekonomi orang tua di pinggir kota dan desa. Sedangkan, besarnya tunjangan kepada guru yang
diberikan sekolah didasarkan atas RAPBS dan kekuatan orang tua siswa. Tunjangan kepada guru
memberikan efek yang signifikan terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa. Siswa yang berada
di kota lebih berprestasi daripada siswa di pinggir kota dan desa. Demikian pula, siswa yang ada
di pinggir kota lebih berprestasi dari pada siswa di desa. Meski prestasi belajar siswa dipengaruhi
oleh kemampuan siswa dan daya dukung orang tua, namun presatasi tersebut juga dipengaruhi
oleh tunjangan kepada guru. Tunjangan guru yang berada di kota adalah cenderung lebih besar,
sehingga lebih dapat berkonsentrasi dalam mengajar. Sebaliknya, tunjangan guru di desa adalah
lebih kecil dan hal ini menyebabkan konsentrasi mengajar kurang. Analisis-analisis tersebut
lebih nampak pada ilustrasi studi kualitatif sebagaimana dipaparkan di bawah ini (Husin, Z. dan
Sasongko R.N, 2003) Kalau seorang guru dapat membeli pesawat televisi, radio tape, sepeda
motor, dan barang-barang mewah lainnya atau mengangsur perumahan, hal itu karena utang
dengan menggunakan agunan gaji mereka setiap bulan dipotong. Sedangkan gaji guru di negara
lain cukup untuk kebutuhan satu bulan, berekreasi, membeli buku, dan menabung. Bila
dibandingkan dengan kesejahteraan pegawai negeri sipil lain di Indonesia, secara nominal gaji
guru lebih tinggi untuk golongan yang sama, misalnya sama- sama golongan III C antara
pegawai negeri sipil guru dan non-guru, karena guru mendapat tambahan tunjangan fungsional.
Tetapi, jam kerja pegawai negeri sipil (PNS) non-guru terbatas, sehari hanya delapan jam atau
seminggu 42 jam. Sedangkan jam kerja guru tidak terbatas. memang mengajarnya hanya pukul
07.00-12.45, tetapi sebelum mengajar harus menyiapkan bahan, administratif (buat satuan
pelajaran), dan setelah mengajar mereka harus mengoreksi hasil pekerjaan murid. Disisi lain
peluang untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar gaji bagi PNS non-guru lebih terbuka
karena sering ada proyek-proyek atau urusan lain dengan masyarakat. Adapun guru, peluangnya
untuk memperoleh tambahan pendapatan hanya bila melakukan pungutan tambahan kepada
murid atau bisnis. Namun, hal itu langsung akan mendapat respons negatif dari masyarakat.
Harapan masyarakat terhadap guru memang bukan hanya perannya di dalam kelas saja, tetapi
juga di luar kelas juga dapat memberikan teladan. Tetapi peran memberi teladan ini tidak pernah
dihargai secara material dan sosial. Ada delapan hal yang diinginkan oleh guru melalui kerjannya
yaitu (1) adanya rasa aman dan hidup layak, (2) kondisi kerja yang diinginkan, (3) rasa
keikutsertaan, (4) rerlakuan yang wajar dan jujur, (5) rasa mampu, (6) pengakuan dan
penghargaan atas sumbangan, (7) ikut bagian dalam pembuatan kebijakan sekolah, (8)
kesempatan mengembangkan self respect (Bafadal I, 2003) Sedangkan menurut teori kebutuhan
Maslow bahwa kebutuhan manusia dibagi dalam lima tingkatan antara lain (1) kebutuhan
fisiologi secara universal seperti makanan, minuman, pakaian dan perumahan, (2) kebutuhan rasa
aman (safety or security needs), (3) kebutuhan Kebutuhan sosial , (4) kebutuhan harga diri
(esteem or ego needs), (5) kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Menurut Hopson
and Scally (dalam Husin, Z. dan Sasongko R.N, 2003) bahwa diskursus paradigma pendidikan
antara investment based vs out came based membawa implikasi imperatif terhadap penataan
manajemen pendidikan di era otonomi daerah. Dalam era ini, manajemen perlu ditata secara
demokratis, kreatif, dan menguntungkan bersama. Fungsi pendidikan perlu ditata ulang tidak
hanya sekedar menjalankan tugas rutin mengajar. Namun lebih dari itu, yakni mewujudkan
educated man yang mempunyai life skills berkulitas tinggi. BAB V RELEVANSI PENATAAN
MANAJEMEN DENGAN PENINGKATAN KINERJA GURU Penataan manajemen
pendidikan dan upaya mewujudkan manusia terdidik yang mempunyai kecakapan hidup
memerlukan guru yang handal (the good high teachers). Upaya ini dapat terwujud jika kualitas
dan gaji guru diperbaiki. Rasionalnya, guru yang berkualitas dengan gaji yang cukup, akan lebih
kreatif, antusias, dedikatif, dan konsentrasi pada bidang pekerjaannya semata. Untuk
mengatasinya, manajemen pendidikan perlu ditata sebagai berikut (1) perlu dilakukan need
assessment terhadap kebutuhan guru dan operasional sekolah yang terkait. Untuk itu Pemerintah
Daerah dan Dinas Pendidikan Nasional diharapkan lebih fokus meningkatkan anggaran bagi
perbaikan kualitas guru, terutama untuk gaji/pendapatan guru, studi lanjut, dan kegiatan
pelatihan, (2) perlunya penerapan school based budgeting yang operasional dan out came based.
Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten /kota perlu memberikan wewenang dan pembinaan
kepada sekolah untuk mengatur rumah tangganya (Husain Z dan Sosangko, 2003). Hasil studi
Fiske (1996) di Spanyol, Brazil, Argentina, New Zealand, Mexico, Chili, Cina, dan Venezuela
menunjukkan bahwa sistem desentralisasi pendidikan tidak selamanya membawa berkah. Hal itu
tergantung dari potensi sumber-sumber pendukung di daerah. Otonomi daerah berpotensi
memberikan efek negatif bagi guru yang kreatif, sebab ia tidak bisa mengembangkan dan
melaksanakan tugasnya dengan efektif. Hal itu dikarenakan mereka digaji rendah. Untuk menata
manajemen pendidikan yang efektif di era otonomi daerah, diperlukan need assessment. Need
assessment dilakukan untuk mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan yang sesuai dengan
karakteristik daerah (Ellis, 1994). Faktor keuangan daerah tersebut cukup dominan dalam
keberhasilan otonomi. Need assessment dilakukan terhadap kurikulum, kesiswaan, guru dan
pegawai sekolah, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan masyarakat, dan aktivitas lain yang
mendukung pendidikan. Penataan manajemen pendidikan selanjutnya yaitu mengoperasionalkan
paradigma school based management (SBM) ke dalam school based budgeting (SBB). Hal itu
berarti penganggaran keuangan didasarkan kepada kebutuhan sekolah. Kalau sekolah ingin
menfokuskan kepada peningkatan kualitas guru, berarti membawa implikasi bahwa segala
kebutuhan guru harus terakomodasi. Misalnya pemenuhan gaji, honor, insentif, penghargaan,
promosi, pemotongan birokrasi, pengembangan karier, dan sebagainya. Penerapan school based
budgeting (SBB) ini cukup efektif dalam meningkatkan kualitas guru (Hadderman, 1999).
Penataan manajemen pendidikan, utamanya untuk perbaikan kualitas dan gaji guru memerlukan
persyaratan. Menurut Bray (1996) ada lima syarat yaitu (1) commitment, (2) collaboration, (3)
concern, (4) consideration, and (5) change. Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan Nasional
harus mempunyai komitmen untuk meningkatkan kualitas dan gaji guru. Tanpa adanya
leadership commitment ini otonomi daerah tidak berhasil. Demikian pula syarat kolaborasi, juga
harus dipenuhi. Antara Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan Nasional, LPTK, dan lembaga lain
yang terkait harus bekerja sama secara erat merencanakan dan memecahkan masalah. Kemudian,
kepedulian untuk menerapkan peningkatan juga perlu dioperasionalkan dalam praktik nyata,
utamanya dukungan dana yang cukup dari Pemda. Penyelewengan terhadap rencana harus segera
dimodifikasi dengan pertimbangan yang matang, sehingga perubahan yang diharapkan dapat
tercapai. Lima persyaratan ini sesuai dengan paradigma baru, yakni out came based. Menurut
Husain Z dan Sasongko, (2003) paradigma penataan manajemen pendidikan yang efektif di era
Otonomi Daerah dapat digambarkan sebagai berikut. Pengembangan profesi guru memiliki
hubungan fungsional dan pengaruh terhadap kinerja guru karena memperkuat kemampuan
profesional guru dalam melaksanakan pekerjaan. Pola pengembangan profesi yang dapat
dilakukan antara lain (1) program tugas belajar, (2) program sertifikasi dan (3) penataran dan
work shop. Pengembangan seperti ini mampu menempatkan guru dalam berkerja secara baik.
Karena sangat tidak mungkin seorang guru yang memiliki pengetahuan sangat sempit dapat
menghasilakn dan memberikan pencerahan kepada siswa yang lebih baik. Jika seorang guru
memiliki pendidikan yang baik maka ada kemungkinan dalam bekerja akan selalu
mempertahakan dan memperhatikan profesionalismenya karena merasa malu dengan guru yang
lain yang berpendidikan rendah tetapi kinerjanya lebih baik. Perasaan ini memupuk dan memacu
guru untuk lebih baik dalam bekerja. Menurut Sahertian (dalam Ponco Dewi, 2003) bahwa
pengembangan kinerja guru yang berkaitan pengembangan profesi guru dikenal adanya tiga
program yakni (1) program pre-service education, (2) program in-service education, dan (3)
program in-service trainning. Program pre-service education adalah program pendidikan yang
dilakukan pada pendidikan sekolah sebelum peserta didik mendapat tugas tertentu dalam suatu
jabatan. Lembaga penyelenggaraan program pre-service education adalah suatu pendidikan
mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pada bidang ilmu pendidikan program
pre-service education diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK)
baik non gelar maupun yang bergelar. Program in-service education adalah program pendidikan
yang mengacu pada kemampuan akademik maupun profesional sesudah peserta didik mendapat
tugas tertentu dalam suatu jabatan. Bagi mereka yang sudah memiliki jabatan guru dapat
berusaha meningkatkan kinerjanya melalui pendidikan lanjut yang berijasah D-2 dapat
melanjutkan ke D-3, dari D-3 ke S-1, atau dari S-1 ke S-2 dan S-3 di samping itu dapat berupa
jurusan tertentu ke jurusan lain. Program in-service trainning adalah suatu usaha pelatihan yang
memberi kesempatan kepada orang yang mendapat tugas jabatan tertentu, dalam hal ini adalah
guru, untuk mendapat pengembangan kinerja. Pada umumnya yang paling banyak dilakukan
dalam program in-service trainning adalah melalui penataran yaitu (1) penataran penyegaran
yaitu usaha pengembangan kinerja guru agar sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni serta menetapkan kinerja guru agar dapat melakukan tugas sehari-hari dengan
baik. Sifat penataran ini memberi penyegaran sesuai dengan perubahan yang terjadi di
masyarakat agar tidak ketinggalan jaman, (2) penataran peningkatan kualifikasi adalah usaha
peningkatan kemampuan guru sehingga mereka memperoleh kualifikasi formal tertentu sesuai
dengan standar yang ditentukan, dan (3) penataran penjenjangan adalah suatu usaha
meningkatkan kemampuan guru dalam bidang jenjang struktural sehingga memenuhi persyaratan
suatu pangkat atau jabatan tertentu sesuai dengan standar yang ditentukan. Menurut Uzer Usman
(1992) bahwa kompetensi yang harus dimiliki seorang guru yaitu (1) kemampuan yang ada pada
diri guru agar dapat mengembangkan kondisi belajar sehingga hasil belajar dapat tercapai dengan
lebih efektif, (2) kemampuan sosial yaitu kemampuan guru yang realisasinya memberi manfaat
bagi pemenuhan yang diperuntukan bagi masyarakat. (3) kompetensi profesional adalah
kemampuan yang dimiliki guru sebagai pengajar yang baik. Peningkatan kinerja guru serta
kemampuan profesionalnya diarahkan pada pembinaan kemampuan dan sekaligus pembinaan
komitmennya. Untuk pembinaan dapat dilakukan dalam dua hal yaitu (1) peningkatan
kemampuan profesional guru melalui supervisi pendidikan, program sertifikasi dan tugas belajar
yang diklasifikasikan dalam faktor pengembangan profesi, (2) pembinaan komitmen melalui
pembinaan kesejahteraannya yang diklasifikasikan dalam faktor tingkat kesejahteraan. Pidarta
(1999) mengatakan merupakan kewajiban guru sebagai seorang profesional untuk mengadakan
penelitian dalam profesinya. Penelitian merupakan alat utama dalam mengembangkan ilmu dan
aplikasinya. Dengan penelitian guru akan menemukan materi-materi yang lebih tepat, alat yang
cocok untuk mengajarkan sesuatu, cara mendidik siswa yang lebih aktif, dan cara membina
kemampuan siswa secara lebih baik. Penelitian merupakan bagian dari pengembangan profesi.
Pembentukan ilkim kerja yang baik dalam penyelenggaraan sekolah memberikan nuasa bekerja
yang lebih baik, guru tidak akan ragu dan tetap merasa nyaman dalam bekerja. Sudah menjadi
pengetahuan umum bahwa suasana yang baik di tempat kerja akan meningkatkan produktivitas.
Hal ini disadari dengan sebaik-baiknya oleh setiap guru dan guru berkewajiban menciptakan
suasana yang demikian dalam lingkungannya. Menurut Bafadal I, (2003) bahwa untuk
menciptakan suasana kerja yang baik ada dua hal yang dilakukan dan diperhatikan antara lain (1)
guru sendiri, dan (2) hubungan dengan orang lain dan masyarakat sekeliling. Terhadap guru
sendiri, guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses
pembelajaran. Oleh sebab itu guru harus aktif mengusahakan suasana itu dengan berbagai cara
misalnya (1) di dalam kelas penggunaan metode mengajar yang sesuai maupun penyediaan alat
belajar yang cukup serta pengaturan organisasi kelas yang mantap atau pendekatan lain yang
diperlukan, (2) diluar kelas dapat menciptakan hubungan yang lebih dengan guru lain, pegawai
dan Kepala Sekolah serta siswa itu sendiri. Terciptanya iklim kerja yang lebih baik tidak terlepas
dari kemampuan guru dalam memahami keadaan yang terjadi disekelilingnya, guru berusaha
semaksimal mungkin untuk bersikap terbuka terhadap persoalan-persoalan yang menggangu
kelancaran kerjannya baik dengan guru lain maupun dengan kepala sekolah, guru harus berusaha
membentuk pikiran-pikiran yang positif terhadap persoalan yang dihadapi sehingga memberikan
jalan terselesaikannya persoalan secara baik dan cepat tanpa ada pihak yang dirugikan. Menurut
Pusat Inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (2003)
bahwa terdapat tiga kategori permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu guru dalam
pembangunan pendidikan yaitu (1) sistem pelatihan guru, (2) kemampuan profesional, (3)
profesi, jenjang karier dan kesejahteraan. Ketiga kategori peningkatan mutu guru dalam
pembangunan pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut 1. Untuk kategori sistem pelatihan
dapat diambil langkah-langkah sebagai berikut: a. Perlunya revitalisasi pelatihan guru yang
secara khusus dititikberatkan untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan mutu
pendidikan dan bukan untuk meningkatkan sertifikasi mengajar semata-mata; b. Perlunya
mekanisme kontrol penyelenggaraan pelatihan guru untuk memaksimalkan pelaksanaannya; c.
Perlunya sistem penilaian yang sistemik dan periodik untuk mengetahui efektivitas dan dampak
pelatihan guru terhadap mutu pendidikan; d. Perlunya desentralisasi pelatihan guru pada tingkat
kabupaten/kota sesuai dengan perubahan mekanisme kelembagaan otonomi daerah yang dituntut
dalam UU No. 22/1999. Implikasi dari langkah-langkah yang diambil terhadap sistem pelatihan
dapat berupa (1) adanya sistem pelatihan guru yang didahului dengan ―need assessment‖ sesuai
kondisi daerah masing-masing, (2) adanya sistem monitoring penyelenggaraan pelatihan guru
yang dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga pengelola pendidikan, (3) adanya lembaga
swasta yang independen yang bertugas untuk melakukan penilaian-penilaian proses (formative
evaluation), hasil (output/summative evaluation), dan dampak (outcome/impact evaluation)
pelatihan guru, untuk menemukan model-model pelatihan guru yang efektif dan efisien dalam
meningkatkan mutu pendidikan, (4) pembentukan dan pemberdayaan sentra-sentra pelatihan
guru di kabupaten/kota yang juga bertugas untuk mengembangkan konten dan strategi mengajar
tepat guna yang mampu meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. 1.
Untuk kategori kemampuan profesional dapat diambil langkah-langkah sebagai berikut : a.
Perlunya upaya-upaya alternatif yang mampu meningkatkan kesempatan dan kemampuan para
guru dalam penguasaan materi pelajaran. b. Perlunya tolok ukur (benchmark) kemampuan
profesional sebagai acuan pelaksanaan pembinaan dan peningkatan mutu guru. c. Perlunya peta
kemampuan profesional guru secara nasional yang tersedia di Depdiknas dan Kanwil-kanwil
untuk tujuan-tujuan pembinaan dan peningkatan mutu guru. d. Perlunya untuk mengkaji ulang
aturan/kebijakan yang ada melalui perumusan kembali aturan/kebijakan yang lebih fleksibel dan
mampu mendorong guru untuk mengembangkan kreativitasnya. e. Perlunya reorganisasi dan
rekonseptualisasi kegiatan Pengawasan Pengelolaan Sekolah, sehingga kegiatan ini dapat
menjadi sarana alternatif peningkatan mutu guru. f. Perlunya upaya untuk meningkatkan
kemampuan guru dalam penelitian, agar lebih bisa memahami dan menghayati permasalahan-
permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. g. Perlu mendorong para guru untuk
bersikap kritis dan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan. Implikasi
terhadap langkah-langkah yang diambil terhadap kemampuan profesional dapat berupa (1)
pemberdayaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai organisasi profesi guru yang
berbasis mata pelajaran secara lebih profesional, terprogram, dan secara khusus diarahkan untuk
mengembangkan standardisasi konsep dan penilaian mata pelajaran secara nasional, terutama
untuk mata-mata pelajaran Matematika dan IPA, (2) adanya program-program alternatif
peningkatan kemampuan profesional guru dari organisasi ini, melalui modul-modul/publikasi-
publikasi yang diterbitkan secara berkala, dan dibahas dalam kegiatan-kegiatan tutorial, (3)
pengembangan standar kompetensi guru (SKG) sebagai tolok ukur (benchmark) kemampuan
mengajar yang diberikan oleh organisasi profesi ini, (4) adanya aturan/kebijakan yang lebih
fleksibel dan leluasa serta mampu memberikan motivasi bagi guru untuk semakin
mengembangkan kreativitasnya, (5) adanya keterlibatan perguruan tinggi/ universitas dalam
mengembangkan konsep dan memberdayakan Pengawasan Pengelolaan Sekolah, sebagai media
alternatif peningkatan mutu guru, (6) melakukan pemetaan kemampuan guru di tingkat nasional
secara rutin melalui ―needs assessment‖, (7) adanya pelatihan penelitian tindakan kelas (action
research) bagi para guru, sebagai produk kerja sama antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) yang telah diberdayakan, dengan perguruan tinggi -perguruan tinggi dan lembaga
penelitian lainnya, (8) adanya credit point system terhadap karya penelitian guru yang
memberikan motivasi bagi para guru untuk semakin meningkatkan minat dan kegiatan
penelitiannya. 1. Untuk kategori profesi, jenjang karier dan kesejahteraan dapat diambil langkah-
langkah sebagai berikut a. Memperketat persyaratan untuk menjadi calon guru pada Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). b. Menumbuhkan apresiasi karier guru dengan
memberikan kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan karier. c. Perlunya ketentuan
sistem credit point yang lebih fleksibel untuk mendukung jenjang karier guru, yang lebih
menekankan pada aktivitas dan kreativitas guru dalam melaksanakan proses pengajaran. d.
Perlunya sistem dan mekanisme anggaran yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan guru.
Implikasi dari langkah-langkah yang dilakukan terhadap profesi, jenjang karier dan
kesejahteraan agar dapat berhasil dapat berupa (1) persyaratan akta mengajar bagi mereka, yang
bukan lulusan ilmu kependidikan untuk mengajar SLTP (A2 atau Akta 2) dan SLTA (A3 atau
Akta 3) agar dilaksanakan secara konsekuen, (2) perlunya suatu peraturan jenjang karier tenaga
guru, baik secara struktural maupun fungsional, yang setara dengan tenaga pengajar perguruan
tinggi, (3) adanya kenaikan anggaran pendidikan yang prioritasnya ditekankan pada peningkatan
penghasilan guru, (4) adanya mekanisme penganggaran serta pendanaan yang secara rutin,
sistematik dan bertahap memberikan peluang bagi guru untuk meningkatkan pendapatannya
secara signifikan, (5) penyempurnaan ketentuan/peraturan mengenai sistem credit point yang
fleksibel dan memberikan motivasi bagi guru untuk meningkatkan jenjang karier. Pengaruh
faktor kedisiplinan terhadap kinerja guru masih rendah disebabkan guru kurang menyadari akan
pentingnya sikap disiplin yang harus dimiliki dan ditegakkan oleh guru. Tingkah laku guru yang
timbul atau nampak di sekolah menjadi contoh bagi siswa dan komponen lain di sekolah
sehingga guru dituntut harus memiliki sikap disiplin yang tinggi seperti disiplin waktu dalam
proses pembelajaran, ketika waktu menunjukkan untuk mulai kegiatan pembelajaran maka guru
harus memasuki kelas tidak ada lagi alasan yang membuat guru harus terlambat, jika suatu waktu
guru terlambat dan tidak disiplin dalam memulai pelajaran maka siswapun akan mengikutinya.
Agar disiplin menjadi faktor yang mampu meningkatkan dan mempengaruhi kinerja maka guru
harus sepenuhnya menyadari akan tugas yang diembannya. Guru bebas melakukan kreasi dan
mengembankan potensi yang terdapat dalam dirinya guru meningkatkan kinerjanya namun
konsekuensinya harus dapat dipertanggung jawabkan secara baik, jika hal ini disadari, guru tidak
akan melakukan suatu tindakan di luar koridor profesinya dan tetap memegang teguh kode etik
profesi keguruan. Pengaruh faktor antar hubungan dan komunikasi terhadap kinerja sangat
rendah hal ini disebabkan karena pola hubungan atau interaksi antara komponen yang ada
disekolah belum maksimal, masih terdapatnya beberapa guru yang memiliki rasa lebih tinggi
dari yang lain sehingga memunculkan sifat individualisme yang berbeda-beda, sebagian guru
merasa bahwa kemampuan yang dimilikinya mampu mengatasi masalah yang dihadapi dalam
menjalankan tugas dan kewajibanya maka tidak perlu lagi membutuhkan bantuan orang lain.
Disisi lain guru tidak menyadari akan kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya akibat guru
lebih memunculkan sifat keakuan dan terlalu percaya akan kemampuan diri sendiri tanpa melihat
lebih jauh kemampuan orang lain yang jauh melebihinya. Sifat individual yang menonjol yang
berkembang dikalangan guru dan komponen yang lain di sekolah berdampak terciptanya
interaksi yang kurang harmonis, guru tidak saling membuka diri dan tidak bersikap luwes
sebagaimana seharusnya dilakukan guru. Dampak lain akibat kurang terjalinnya hubungan dan
komunikasi ialah proses pendidikan yang berlangsung di sekolah akan terganggu, program-
program sekolah tidak dapat dilaksanakan serta tidak dapat memenuhi harapan dan keinginan
masyarakat. Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen
persekolahan, apakah itu kepala sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Kinerja guru akan
bermakna bila dibarengi dengan niat yang bersih dan ikhlas, serta selalu menyadari akan
kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk dapat meningkatkan atas kekurangan
tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kearah yang lebih baik yang diikuti dengan
memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian kinerja yang dilakukan
hari ini akan lebih baik dari kinerja hari kemarin, dan tentunya kinerja masa depan lebih baik
dari kinerja hari ini. Mengoptimalkan integrasi seluruh komponen yang terlibat dalam sekolah
melalui pendekatan-pendekatan yang manusiawi dan memahami serta mencermati faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja guru sangat urgen sebagai langkah antisipasi dalam mencari
pemecahan terhadap peningkatan mutu pendidikan secara umum. Sehingga dukungan yang dapat
diberikan dalam manajemen pendidikan yaitu sebagai acuan dan pedoman bagi pengambil
kebijakan tehnis untuk mengelola pendidikan secara profesional terutama dalam mengelola dan
meningkatkan kinerja guru. Penataan manajemen pendidikandalam upaya meningkatkan kinerja
guru harus juga dilihat dalam aspek pengembangan profesionalisme guru maka alternatif
pengembangan profesionalisme guru menjadi program-program yang mampu mempengaruhi
kinerja guru. Menurut Diknas (2005) berdasarkan hasil analisis situsional di masing-masing
daerah ada berbagai alternatif peningkatan profesionalisme guru yang dapat dilakukan oleh : a.
Dinas Pendidikan setempat. b. Dinas pendidikan bekerjasama atau melibatkan instansi lain atau
unsur terkait di masyarakat. c. Masing-masing guru sebagai kegiatan individual dan mandiri. d.
Kerjasama antara Dinas Pendidikan dan guru (sekolah). Dijelaskan pula, beberapa alternatif
program pengembangan Profesionalisme guru sebagai berikut : 1. Program Peningkatan
Kualifikasi Pendidikan Guru. Sesuai dengan peraturan dan memenuhi tuntutan Undang-undang
Guru dan Dosen yang berlaku bahwa kualifikasi pendidikan guru minimal Sarjana (S-1) maka
jika dilihat dari kondisi guru yang ada masih terdapat guru yang belum dapat memenuhi tuntutan
kualifikasi pendidikan sarjana ini berarti guru yang belum mememuhi kualifikasi pendidikan
sarjana harus dilakukan program peningkatan kualifikasi pendidikan sehingga dapat memenuhi
persyaratan tersebut. Program peningkatan kualifikasi pendidikan ini dapat berupa program
kelanjutan studi dalam bentuk tugas belajar. Tujuan dari program ini tiada lain untuk
meningkatkan kualifikasi pendidikan guru sehingga memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh
Pemerintah. Langkah yang dilakukan guna merealisasikan program peningkatan kualifikasi
pendidikan guru ini dapat ditempuh dengan dua cara yaitu : a. Dinas Pendidikan setempat
memberikan beasiswa agar guru bersekolah lagi. b. Guru yang bersangkutan bersekolah lagi
yang dibiayai oleh pemerintah dan guru itu sendiri. c. Guru yang bersangkutan agar bersekolah
lagi dengan menggunakan swadana atau dibiayai sendiri). 1. Program Penyetaraan dan
Sertifikasi Program ini diperuntukan bagi guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikannya atau bukan berasal dari program pendidikan keguruan. Tidak bisa dipungkiri yang
terjadi sekarang ini masih banyak sekolah-sekolah yang mengalami keterbatasan dan kekurangan
guru pada bidang studi atau mata pelajaran tertentu sehingga langkah yang diambil dengan
memberikan tugas guru-guru yang tidak sebidang atau yang masih memiliki hubungan dengan
mata pelajaran yang diajarkan untuk menutupi kekurang dan keterbatasan guru atau guru yang
bukan berasal dari kependidikan, maka keberadaan program penyetaraan dan sertifikasi ini
mereka dapat diberdayakan secara maksimal. Tujuan dari program penyetaraan dan sertifikasi ini
agar guru mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannyaatau termasuk kedalam
kelompok studi pendidikan yang tercantum dalam ijazahnya. Langkah yang dilakukan dengan
cara : a. Guru tersebut dialihkan ke mata pelajaran lain yang merupakan satu rumpun, misalnya
guru PPKn dengan guru IPS. b. Guru tersebut dialihkan ke mata pelajaran yang tidak serumpun
misalnya guru IPS menjadi guru muatan lokal dengan memberikan tambahan penataran khusus
(program penyetaraan/sertifikasi). 1. Program Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guna
meningkatkan profesionalisme guru perlu dilakukan pelatihan dan penataran yang intens pada
guru. Pelatihan yang diperlukan adalah pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan guru yaitu
pelatihan yang mengacu pada tuntutan kompetensi guru. Selama ini terkesan pelatihan yang
dilakukan hanya menghabiskan anggaran, waktu dan sering tumpang tindih akibatnya banyak
penataran yang tidak memberikan hasil yang maksimal dan tidak membawa perubahan pada
peningkatan mutu pendidikan malah justru keberadaan pelatihan tidak jarang mengganggu
aktivitas kegiatan belajar mengajar karena guru sering mengikuti kegiatan pelatihan yang
terkadang satu orang guru bisa mengikuti pelatihan beberapa kali pelatihan sebaliknya ada juga
guru yang jarang bahkan tidak pernah mengikuti pelatihan. Untuk menjawab persoalan tersebut
dimunculkan pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi yang tentunya pelatihan yang menacu
pada kompetensi yang akan dicapai dan diperlukan peserta didik. Tujuan dari pelatihan ini untuk
membekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akumulatif mengarah pada penguasaan
kompetensi secara utuh sesuai profil kemampuan minimal sebagai guru mata pelajaran sehingga
dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. 1. Program Supervisi Pendidikan Pelaksanaan
proses pembelajaran di kelas tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan, ada saja kekurangan dan kelemahan yang dijumpai pada guru saat melaksanakan
proses pembelajaran maka untuk memperbaiki kondisi demikian peran supervisi pendidikan
menjadi sangat penting untuk dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan prestasi kerja guru yang
pada gilirannya meningkatkan prestasi sekolah. Pelaksanaan supervisi bukan untuk mencari
kesalahan guru tetapi pelaksanaan suparevisi pada dasarnya adalah proses pemberian layanan
bantuan kepada guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan
meningkatkan kualitas hasil belajar. Kepala sekolah yang melaksanakan supervisi pada guru
harus mampu menempatkan diri sebagai pemberi bantuan bukan sebagai pencari kesalahan, hal
ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan penafsiran yang berbeda antara guru
dengan kepala sekolah, selain itu untuk memberikan rasa nyaman guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran dan menerima segala perbaikan yang diberikan kepala sekolah.Tujuan akhir
dari kegiatan supervisi pendidikan adalah untuk memperbaiki guru dalam hal proses belajar
mengajar agar tercapai kualitas proses belajar mengajar dan meningkatkan kualitas hasil belajar
siswa. 1. Program Pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). MGMP adalah
forum atau wadah kegiatan profesional guru mata pelajaran sejenis. Hakekat MGMP berfungsi
sebagai wadah atau sarana komunikasi, konsultasi dan tukar pengalaman. Dengan MGMP ini
diharapkan akan dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran
yang bermutu sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Wadah komunikasi profesi ini sangat
diperlukan dalam memberikan kontribusi pada peningkatan keprofesionalan para anggotanya
tidak hanya peningkatan kemapuan guru dalam hal menyusun perangkat pembelajaran tetapi
juga peningkatan kemapuan, wawasan, pengatahun serta pemahaman guru terhadap materi yang
diajarkan dan pengembangannya. Sehingga tujuan dari MGMP ini tidak lain memumbuhkan
kegairahan guru untuk meningkatkan kemapuan dan keterampilan dalam mempersiapkan,
melaksanakan dan mengevaluasi program kegiatan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan
sikap percaya diri sebagai guru; menyetarakan kemampuan dan kemahiran guru dalam
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan
pemerataan mutu pendidikan; mendiskusikan permasalahan yang dihadapi guru dalam
melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari penyelesaian yang sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran, guru, kondisi sekolah dan lingkungan; Membantu guru memperoleh informasi tehnis
edukatif yang berkaitan dengan kegiatan keilmuan dan Iptek, kegiatan pelaksanaan kurikulum,
metodologi, dan sistem evaluasi sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan; Saling berbagi
informasi dan pengalaman dalam rangka menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. 1. Simposium Guru. Peningkatan profesionalisme guru banyak cara yang dilakukan
seperti simposium guru. Kegiatan ini diharapkan para guru dapat menyebar luaskan upaya-upaya
kreatif dalam pemecahan masalah. Forum ini selain sebagai media untuk sharing pengalaman
juga berfungsi untuk kompetisi antar guru dengan menampilkan guru-guru yang berprestasi
dalam berbagai bidang misalnya dalam penggunaan metode pembelajaran, hasil penelitian
tindakan kelas atau penulisan karya ilmiah. 1. Melakukan penelitian (khususnya Penelitian
Tindakan Kelas). Peningkatan profesionalisme guru dapat juga dilakukan melalui optimalisasi
pelaksanaan Penelitian tindakan kelas yang merupakan kegiatan sistimatik dalam rangka
merefleksi dan meningkatkan praktik pembelajaran secara terus menerus sebab berbagai kajian
yang bersifat reflektif oleh guru dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan dalam melaksanakan tugasnya, dan
memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran berlangsung. Kegiatan penelitian tindakan
kelas ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas proses belajar mengajar dan meningkatkan
kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar juga untuk meningkatkan hasil
belajar siswa sebab melalui kegiatan ini guru dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang
dilakukan dan keterbatas yang harus diperbaiki. BAB VI P E N U T U P Untuk memperoleh
keberhasilan pendidikan, keberadaan profesi guru sangat penting untuk diperhatikan dan
ditingkatkan dalam hal ini kinerja guru sebab kinerja guru merupakan kemampuan yang
ditunjukan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Kinerja guru dapat
diamati melalui unsur perilaku yang ditampilkan guru sehubungan dengan pekerjaan dan prestasi
yang dicapai berdasarkan indikator kinerja guru. Kinerja guru sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain pertama faktor kepribadian dan dedikasi yang tinggi menentukan keberhasilan
guru dalam melaksanakan tugasnya yang tercermin dari sikap dan perbuatannya dalam membina
dan membimbing peserta didik; kedua faktor pengembangan profesional guru sangat penting
karena tugas dan perannya bukan hanya memberikan informasi ilmu pengetahuan melainkan
membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi; ketiga faktor
kemampuan mengajar guru merupakan pencerminan penguasaan guru atas kompetensinya;
keempat faktor hubungan dan komunikasi yang terjadi dalam lingkungan kerja memberikan
dukungan bagi kelancaran tugas guru di sekolah; kelima faktor hubungan dengan masyarakat,
peran guru dalam mendukung kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat
meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang ingin direalisasikan
sekolah; keenam faktor kedisiplinan, Suatu pekerjaan akan menuai hasil yang memuaskan semua
pihak bila guru mampu mentaati rambu-rambu yang ditentukan melalui penerapan sikap disiplin
dalam menjalankan tugasnya; ketujuh faktor tingkat kesejahteraan, memberikan insentif yang
pantas sebagai wujud memperbaiki tingkat kesejahteraan guru guna mencegah guru melakukan
kegiatan membolos karena mencari tambahan di luar untuk memenuhi kebutuhan hidup; dan
kedelapan faktor iklim kerja yang kondusif memberikan harapan bagi guru untuk bekerja lebih
tenang sesuai dengan tujuan sekolah. Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan
sehingga perlu melakukan upaya pembenahan baik secara internal maupun eksternal maka hal
yang harus dipenuhi oleh guru dengan memahami dan mengusai kompetensi dasar yang
dipersyaratkan. Dalam proses pembelajaran dalam koridor Kurikulum Berbasis Kompetensi
sangat didukung oleh kemampuan guru dalam memperhatikan beberapa hal yang berkaiatan
dengan pendekatan pembelajaran ala KBK diantaranya perkembangan anak, kemandirian anak,
vitalisasi model hubungan demokratis, vitalisasi jiwa eksploratif, Kebebasan, menghidupkan
pengalaman anak, keseimbangan perkembangan aspek personal dan sosial dan kecerdasan
emosional. Peningkatan mutu pendidikan tidak hanya melakukan perbaikan pada kualitas guru
dalam melaksanakan proses belajar mengajar tetapi juga perlu dan penting diikuti dengan
penataan manajemen pendidikan yang mengarah pada peningkatan kinerja guru melalui
optimalisai peran sekolah dalam hal ini kepala sekolah dan pihak dinas pendidikan setempat
untuk memberikan rasa nyaman bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu optimalisasi
kegiatan penataran harus betul-betul menyetuh kebutuhan guru agar bermanfaat bagi
peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar siswa sehingga kedepan
kegiatan pelatihan dan semacamnya harus mampu diprogramkan supaya tidak tumpang tindih
dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar sebagai dampak guru mengikuti kegiatan
tersebut. DAFTAR PUSTAKA Adiningsih N, 2002. Kualitas dan Profesionalisme Guru. Pikiran
Rakyat 15 Oktober 2002. http://www.Pikiran Rakyat.com/102002/15 Opini Akadum. 1999.
Potret Guru Memasuki Milenium Ketiga. Suara Pembaharuan. (Online) (http://www.Suara
Pembaharuan.com/News/1999/01/220199/OpEd, diakses 7 Juni 2001). Arifin, I. 2000.
Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi.
Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Arikunto, S. 1993.
Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: PT. Rineka Cipta. As‘ad, Moh. 1995.
Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty. Badrun, A. 2005. Prospek Pendidikan dan tenaga kerja
(guru) di kabupaten Dompu. Orasi Ilmiah disampaikan pada saat wisuda mahasiwa Diploma Dua
program PGSD/MI-PGTK/RA STAI Al-Amin Dompu Brent D. Ruben. 1988. Communication
and Human Behavior. New York: Macmilland Publishing Company. Danim S., 2002. Inovasi
Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia. Daryanto, 2001. Administrasi Pendidikan, Jakarta:
Rineka Cipta. Davis, K. & Newstrom, J.W,. 1996. Perilaku dalam Organisasi, Edisi ketujuh.
Jakarta: Penerbit Erlangga. Dedi Supriyadi, 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru..
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Denny Suwarja, 2003. KBK, tantangan profesionalitas guru.
19 Juli 2003. Artikel. Homepage Pendidikan Network Depdiknas, 2005. Pembinaan
Profesionalisme Tenaga pengajar (Pengembangan Profesionalisme Guru). Jakarta: Direktorat
Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Depdiknas.
Departemen Agama RI, 2003. Profesionalisme Pengawas Pendais. Jakarta: Direktorat Jenderal
kelembagaan Agama Islam Depag RI. Djamarah, S.B. 1994. Prestasi belajar dan Kompetensi
Guru. Surabaya. Usaha Nasional. Drost. 1998. Sekolah: Mengajar atau Mendidik ?. Yogyakarta:
Kanisius. Fatah, N. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Forsdale, 1981. Perspectives on Communication. New York: Random House. Freud,S., 1950.
The ego and the id. London: The Hogarth Press. Furkan, Nuril, 2006. Perubahan Paradigma
Guru dalam Konteks KBK. Orasi Ilmiah pada Wisuda Diploma Dua Program PGSD/MI-
PGTK/RA dan Dies Natalis STAI Al-Amin Dompu. Good, V. Carter, 1959. Dictionary of
Education, New York: McGraw-Hill Book Company. Gunawan, 1996. Administrasi Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta. Hasan, Ani M, 2001. Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad
Pengetahuan, 13 Juli 2003. Artikel. Homepage Pendidikan Network. Hoy & Miskel, 1987.
Education Administration.: Theory, Research and Practice. New York: Random Hause. Idris, J,
2005. Kompilasi Pemeikiran Pendidikan,. Taufiqiyah Sa‘adah Banda Aceh dan Suluh Press
Yogyakarta: Banda Aceh dan Yogyakarta. Imron, 1995. Pembinaan Guru di Indonesia, Jakarta:
PT. Dunia Pustaka Jaya. Journal PAT. 2001. Teacher in England and Wales. Professionalisme in
Practice:        the        PAT          Journal.      April/Mei       2001.        (Online),
http://www.members.aol.com/PTRFWEB/journal1040., diakses 7 Juni 2001). Junaidin, Akh,
2006. Kepuasan Kerja Guru, Al-Fikrah Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, Ed. I thn. I
hal. 45-66. Kohler, Jerry. W., Anatol, karl W. E dan Applbaum, Ronald L. 1981. Organizational
Communication: Behavioral Perspective. New York: Holt Rinehart and Winstons. Maister, 1997.
True Professionalism. New York: The Free Press. Mendiknas, 2005. Paradigma Pendidikan
Indonesia, (Koran Berita). Mataram. Muhammad, A. 2001. Komunikasi Organisasi. Ed. 1, Cet.4
Jakarta: Bumi Aksara. Mulyasa, 2002. Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya. _______, 2003. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan
Implementasi) Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Nainggolan H, 1990. Pembinaan Pegawai
Negeri Sipil, Jakarta: PT. Rineka Cipta Nasanius, Y. 1998. Kemerosotan Pendidikan Kita: Guru
dan Siswa Yang Berperan Besar, Bukan Kurikulum. Suara Pembaharuan. (Online),
http://www.suarapembaruan.com/News/081998/08Opini Nur Syam, 2005. Pendidikan di era
Globalisasi ―Tantangan dan Strategi‖. Orasi Ilmiah dalam wisuda Perdana STAI Al-Amin
Dompu. Owens, 1991. Organisational Behavior in education. Bonston: Allyn and Bacon. Oemar
Hamalik, 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar baru Algensindo. Pantiwati,
2001. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Program Sertifikasi Guru Bidang Studi
(untuk Guru MI dan MTs). Makalah Dipresentasikan. Malang: PSSJ PPS Universitas Malang.
Hlm.1-12. Pidarta, 1997. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia.
Jakarta: PT. Bina Rineka Cipta. _______, 1999. Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan.
Jakarta: PT. Bina Aksara. Raka Joni, T, 1992. Pokok-pokok Pikiran Mengenai Pendidikan Guru.
Jakarta : Ditjen Dikti Depdiknas. Robbins, S.P. 1996. Organization Behavior: Concep-
Contraversies Application. New Jersey: Englewood Cliffs: Prentice-Hall, Inc. Rusmini, 2003.
Kompetensi          Guru      Menyongsong           Kurikulum        Berbasis      Kompetensi,
http://www.Indomedia.com/bpost/042003/22 Opini. Semiawan, 1991. Mencari Strategi
Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo. Sergiovanni, T.J.,
1991. The Principalship of reflektive Practice prespectif, Boston : Allyn and Bacon. Soetjipto,
Raflis Kosasi. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta. Stiles, K.E. dan Horsley, S. 1998.
Professional Development Strategies: Proffessional Learning Experiences Help Teachers Meet
the Standards. The Science Teacher. September 1998. hlm. 46-49). Stiles, K.E. dan Loucks-
Horsley, S. 1998. Professional Development Strategies: Proffessional Learning Experiences Help
Teachers Meet the Standards. The Science Teacher. September 1998. hlm. 46-49). Sulistyorini,
2001. Hubungan antara Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah dan Iklim Organisasi dengan
Kinerja Guru. Ilmu Pendidikan: 28 (1) 62-70. Supriadi, 1999. Mengangkat Citra dan Martabat
Guru, Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa. Suparlan, 2004. Beberapa Pendapat tentang Guru
Efektif dan Sekolah Efektif. Fasilitator : Edisi I Thn 2004(23-28). Suryabrata, 2001. Psikologi
Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sutadipura, 1994. Kompetensi Guru dan
Kesehatan Mental. Bandung: Penerbit Angkasa. Sutaryadi, 1990. Administrasi pendidikan.
Surabaya: Usaha nasional. ________, 2001. Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional. Slemato. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Edisi Revisi.
Jakarta: PT. Rineka Cipta. S. Karim A. Karhami, 2005. Mengubah Wawasan dan Peran Guru
dalam era kesejahteraan . Akses Internet. Tempe, A. Dale., 1992. Kinerja. Jakarta : PT.
Gramedia Asri Media. The Liang Gie, 1972. Kamus Administrasi. Jakarta: Gunung Agung. Uzer
usman, Moh. 2002. Menjadi Guru yang Profesional. Edisi kedua. Bandung: Remadja
Rosdakarya. W.F. Connell, 1974. The Foundation of Education. Wijaya, C. Dan Rusyan A.T,
1994. Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya. Zahera Sy, 1997. Hubungan konsep diri dan kepuasan kerja dengan sikap guru
dalam proses belajar mengajar, Ilmu Pendidikan, jilid 4 Nomor 3 hal. 183-194. ________, 1998.
Pembinaan yang dilakukan Kepala Sekolah dan etos kerja guru-guru Sekolah Dasar., Ilmu
Pendidikan, jilid 5 Nomor 2 hal. 116-128.
               KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI GURU ”SEBUAH PEMIKIRAN”
                                   Oleh : Hujair AH. Sanaky
Abstrak: Kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah Kompotensi profesional, kompetensi
pada bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, metode
pembelajaran, sistem penilaian, pendidikan nilai dan bimbingan. Kompetensi sosial, kompetensi
pada bidang hubungan dan pelayanan, pengabdian masyarakat. Kompetensi personal,
kompetensi nilai yang dibangun melalui perilaku yang dilakukan guru, memiliki pribadi dan
penampilan yang menarik, mengesankan serta guru yang gaul dan ”funky.” Guru terpanggil
untuk bersedia belajar bagaimana mengajar dengan baik dan menyenangkan peserta didik dan
terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat. Katakan saja, menjadi guru bukan hanya
suatu profesi yang ditentukan melalui uji kompentensi dan sertifikasi saja, tetapi menyangkut
dengan hati, artinya sejak semula mereka sudah bercita-cita menjadi guru, guru yang mengenal
dirinya, dan sebagai panggilan tugas kemanusian yang muliah yang diikuti dengan
penghargaan yang profesional pula. Kata Kunci : Guru berkompetsni. Sertifikasi, dan
profesional
A. Pendahuluan
      Pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada kapasitas satuan-satuan
pendidikan dalam mentranformasikan peserta didik untuk memperoleh nilai tambah,
baik yang terkait dengan aspek olah pikir, rasa, hati, dan raganya. Dari sekian banyak
komponen pendidikan, guru dan dosen merupakan faktor yang sangat penting dan
strategis dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan.
Berapa pun besarnya investasi yang ditanamkan untuk memperbaiki mutu pendidikan,
tanpa kehadiran guru dan dosen yang kompeten, profesional, bermartabat, dan
sejahtera dapat dipastikan tidak akan tercapai tujuan yang diharapkan [UU No.14Thn
2005:2]
      Pendapat akhir pemerintah atas Rancangan UU tentang guru dan dosen yang
disampaikan pada rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, cukup
menjanjikan kualitas pendidikan Indonesia dengan guru-guru yang profesional, memiliki
kompetensi dan disertfikasi sebagai jabatan profesi guru. Tetapi, konsep dan Undang-
Undang, berbicara pada dataran edial, tetapi realitas pendidikan yang dihadapi saat ini
berbicara lain. Katakan saja, berita dari dunia pendidikan yang menggetarkan para
pengguna pendidikan: Pertama, hampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru di
Indonesia tidak memiliki kompetensi yang layak untuk mengajar. Katakan saja,
kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar disekolah. Dari sini
kemudian
1

     diklarifikasi lagi, guru yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah
912.505, terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru AMP, 75.684 guru SMA, dan
63.962 guru SMK. Kedua, tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan
keahlian yang dipunyainya atau budangnya [Kompas, 9/12/2005]. Dengan kondisi,
berapa banyak peserta didik yang mengenyam pendidikan dari guru-guru tersebut?
Berapa banyak yang dirugikan? [Baskoro Poedjinoegroho E: Kompas, 5/1/2006].
Keempat, fakta lain, menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia masih jauh dari
memadai. Berdasarkan statistik 60% guru SD, 40% guru SLTP, 43% SMA, 34% SMK
dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu 17.2% guru
atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Bila SDM guru kita,
dibandingkan dengan negara-negara lain, maka kualitas SDM guru kita berada pada
urutan 109 dari 179 negara berdasarkan Human Development Index [Satria
Dharma:From:http:// suarakita. com/artikel. html]. Apabila data ini valid, maka cukup
mencengankan kita yang bergelut dalam dunia pendidikan selama ini.
      Pekerjaan mengajar telah ditekuni orang sejak lama dan perkembangan profesi
guru sejalan dengan perkembangan masyarakat [Purwanto; From.http: //www.
pustekkom.go.id]. Tetapi, data dan kondisi di atas, cukup memprihatikan kita. Mungkin
kita bertanya, apa yang diperbuat selama ini dalam dunia pendidikan kita? Padahal,
setiap ganti mentri, mesti ganti kebijakan dalam dunia pendidikan, tetapi kondisi dan
realitas tenaga guru yang disebutkan di atas adalah merupakan suatu berita yang
mencengangkan dan bencana untuk dunia pendidikan. Mungkinkah guru dapat menjadi
profesional? Harus disadari kondisi guru seperti pada temuan di atas harus menjadi
keprihatinan bersama.
        Kondisi di atas membuat kita bertanya, apakah ada sesuatu yang salah dalam
sistem rekruiting guru. Siapakah mereka itu? Apakah mereka adalah para calon guru
atau mereka-mereka yang sedang belajar untuk menjadi guru. Apakah mereka itu sejak
semula bercita-cita menjadi guru ataukah lantaran tidak dapat masuk ke fakultas yang
dicita-citakan, lantas memaksa diri untuk menjadi guru yang tidak sesuai dengan
pilihannya? Apakah kegagalan mereka untuk memasuki fakultas nonkeguruan
merupakan indikasi bahwa mereka tidak
2

       mempunyai kemampuan yang mencukupi? Apabila demikian, apakah mereka
dapat dikatakan terdampar menjadi guru? Ini adalah persoalan serius yang dihadapi
untuk mewujudkan kompetensi, sertifikasi dan profesionalisme guru. Bukankah hampir
tidak pernah terdengar tentang sebuah ciri-cita untuk menjadi guru, sekalipun dari anak
guru? Apakah ini semua, ada korelasinya dengan kualifikasi, kompetensi, dan
profesionalisme para guru? [Baca: Baskoro Poedjinoegroho E: Kompas, 5/1/2006].
B. Idealisme dunia guru sebagai tenaga kependidikan
       Guru bukanlah seorang tukang dan perkerjaan ”sambilan”, tetapi seorang
intelektual yang harus menyesuaikan diri dengan situasi dan persoalan yang dihadapi.
Apabila pendidikan di Indonesia ini ingin maju dan berhasil, maka memang para guru,
yang menjadi ujung tombaknya harus sungguh profesional, baik dalam bidang
keahliannya [kompetensi], dalam bidang pendampingan, dan dalam kehidupannya yang
dapat dicontoh oleh sisiwa [Paul Suparno,2004:vii].
       Guru perlu melakukan beberapa usaha yang dilakukan untuk membangun
kompetensi : Pertama, guru harus memiliki rasa tidak puas dengan keadaan atau
dengan apa yang telah diperoleh, terutama sekali dalam bidang usaha mengajar.
Kedua, guru harus dapat memahami anak sebagai pribadi yang unik, yang satu sama
lain memiliki kekuatan dan kecerdasannya masing-masing. Ketiga, sebagai guru dituntut
untuk menjadi pribadi yang fleksibel dan terbuka. Fleksibel menghadapi situasi yang
selalu maju dalam dunia pendidikan [Agus Listiyono:From:www.kompas.com]. Keempat,
guru harus merasa terpanggil untuk menekuni profesinya sebagai guru, dan bukan
pekerjaan ”sambilan”.
       Rasa terpanggil dengan profesi guru, David Hansen dalam bukunya The Call to
Teach [1995], mengungkapkan bahwa menjadi guru adalah panggilan hidup.
Menurutnya, ada dua segi dalam panggilan, yaitu : Pekerjaan itu membantu
mengembangkan orang lain [ada unsur sosial], dan pekerjaan itu juga mengembangkan
dan memenuhi diri kita sebagai pribadi [Paul Suparno,2004:9]. Jelas pekerjaan guru
terlibat dengan suatu pekerjaan yang mempunyai arti dan nilai sosial, yaitu berguna
bagi perkembangan orang lain. Dalam pekerjaan guru,
3

        sangat jelas bahwa mereka melakukan sesuatu pekerjaan yang berguna bagi
perkembangan hidup anak-anak, di lingkungan sekolah dan bahkan menyarakat dimana
mereka tinggal. Dengan menjalankan tugas sebagai guru yang baik, dengan membantu
anak-anak berkembang dalam semua aspek kehidupan, seorang guru semakin merasa
hidup berarti, semakin menemukan identitas dirinya, semakin merasakan kepuasan
batin yang mendalam [Paul Suparno,2004:11-12].
        Apakah cukup itu idealisme seorang guru yang profesional. Hemat penulis, guru
haruslah berusaha untuk meningkatan kualitas dan memenuhi kompetensinya. Guru
harus selalu berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: memahami tuntutan
standar profesi, jika ingin meningkatkan profesionalismenya, mencapai kualifikasi dan
kompetensi yang dipersyaratkan, membina jaringan kerja atau networking, yang akan
memperoleh akses terhadap inovasi-inovasi di bidang profesinya, mengembangkan
etos kerja atau budaya kerja yang mengutamakan pelayanan bermutu tinggi kepada
pengguna pendidikan. Guru, memberikan pelayanan prima kepada pengguna
pendidikan: siswa, orangtua dan sekolah sebagai stakeholder. Tugas guru, termasuk
pelayanan publik vang didanai, diadakan, dikontrol oleh dan untuk kepentingan publik.
Maka, guru harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada publik,
guru harus berusaha mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreativitas dalam
pemanfaatan teknologi komunikasi agar tidak ketinggalan atau “gaptek” [gagap
teknologi] dalam kemampuannya mengelola pembelajaran [baca:Purwanto,
http://www.pustekkom...,]. Maka, sikap yang harus senantiasa dipupuk dan dimiliki guru
adalah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kesedian untuk mengenal
profesinya, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru dan bukan
pekerjaan sambilan.
        Guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem
pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggungjawab [UU No.14Th.2005:psl.6].
4

       Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan
berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: Memiliki bakat, minat, penggailan jiwa, dan
idealisme. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimaman,
ketaqwaan, dan akhlak mulia. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang
pendidikan sesuai dengan bidang tugas. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai
dengan bidang tugas. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
Memperoleh pengahsilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. Memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas profesional, dan memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan
mengatur hal-hal yang berkaitan dengan fungsi keprofesionalan guru [UU No.14
Th.2005:psl.7].
       Esensi penlindungan hukum jabatan profesi guru dan dosen dimaksud untuk : [1]
memberikan jaminan kepastian bagi peserta didik, orang tua dan masyarakat untuk
mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, [2] memberikan jaminan pada
tersedianya calon guru dan dosen yang profesional kerana jabatan guru dan dosen
akan kembali dihormati dan dihargai secara layak, [3] memberikan jaminan bahwa
jabatan/pekerjaan guru dan dosen akan menjadi jabatan yang menarik dan kompetitif,
[4] memberikan jaminan bahwa para guru dan dosen akan memiliki motivasi kerja yang
tinggi dalam melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab, [5] meningkatkan
kesadaran dan tanggungjawab profesionalitas guru dan dosen dalam bekerja dengan
terus-menerus berusaha meningkatkan kompetensi profesionalitasnya, [6] memberikan
jaminan perlindungan hukum bagi guru dan dosen untuk memperoleh hak-haknya
sebagai pengemban profesi yang tidak saja layak secara manusiawi, tetapi juga sesuai
dengan keterampilan dan keahlian yang dimilikinya, [7] memberikan jaminan
perlindungan hukum bagi guru dan dosen dalam menghadapi ancaman dan/atau
tindakan yang tidak manusia dari peserta didik, orang tua/wali siswa, dan anggota
masyarakat, dan [8] menjamin kesetaraan semua satuan pendidikan antara satuan
pendidikan yang
5

      diselenggarakan oleh pemerintah [Pendapat Akhir Pemerintah,2005, dalam UU
No.14Th.2005:3].

C. Standan Kompetensi Guru
       Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Kompetensi dasar yang harus dimiliki guru meliputi kompetensi paedagogik,
kompetensi persolan atau kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional
yang diperoleh melalui pendidikan profesi [UU No.14 Th.2005:psl. 8 dan 10].
Depdiknas, [2001], merumuskan beberapa kompetensi atau kemampuan yang sesuai
seperti,   kompetensi    kepribadian,    bidang    studi, dan      kompetensi     pada
pendidikan/pengajaran [Paul Suparno, 2004:47]. Kompetensi ini, berkaitan dengan
kemampuan guru dalam mengajar, membimbing, dan juga memberikan teladan hidup
kepada siswa. Berdasarkan hasil penelitian, banyak guru kita masih rendah dalam
kompetensi pengajaran, maka dalam pendidikan profesi dan sertifikasi kemampuan
keterampilan mengajar harus diutamakan [Paul Suparman, KR,15/11/2005:10].
       Standar kompetensi yang diperlukan seorang guru dalam menjalankan
pekerjaannya adalah: Kompetensi bidang substansi atau bidang studi. Mengharuskan
guru untuk menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, memahami kebijakan-
kebijakan pendidikan, pemahaman pada karakteristik dan isi bahan pembelajaran,
menguasai konsepnya, memahami konteks ilmu tersebut dengan masyarakat dan
lingkungan, memahami bagaimana dampak dan relasi ilmu tersebut dalam kehidupan
masyarakat dan dengan ilmu yang lain [Paul Suparno, 2004: 51]. Kompetensi bidang
pembelajaran. Menguasai teknik pengelolaan kelas dan metode mengajar. Kompetensi
bidang pendidikan nilai dan bimbingan. Mencakup aktualisasi diri, kepribadian yang
utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral, peka, objektif, luwes,
berwawasan luas, berpikir kreatif, kritis, refletif, mau belajar sepanjang hayat”, dan
Kompetensi bidang hubungan dan pelayanan/pengabdian masyarakat. Dapat
berkomunikasi dengan orang lain, mampu menyelesaikan masalah, dan mengabdi
pada kepentingan masyarakat [Baca: Purwanto, http://www. pustekkom].
6
        Tugas guru merupakan pekerjaan yang cukup berat dan mulia, karena selain
memperoleh amanah dan limpahan tugas dari masyarakat dan orang murid, guru juga
harus memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan dan kebudayaan,
keterampilan menjalani kehidupan [life skills], nilai-nilai [value] dan beliefs. Dari life
skills, guru diharapkan dapat menciptakan suatu kondisi proses pembelajaran yang
didasarkan pada leaning competency, sehingga outputnya jelas. Guru dituntut memiliki
kompetensi bidang keilmuan dan kompetensi bidang keguaruan. Guru dituntut
meningkatan kinerjanya [performance], meningkatkan kemampuan, wawasan, serta
kreativitasnya.
        Bagaimana guru ideal yang dibutuhkan untuk mencapai kualitas pendidikan.
Kata kuncinya, adalah guru harus diajak berubah dengan dilatih terus menerus. Guru
harus terus ditingkatkan sensifitasnya dan kreatifitasnya. Kemampuan guru
mengembangkan kepekaan paedagogisnya untuk kepentingan pembelajaran dan
kualitas pendidikan. Guru harus benar-benar kompeten pada bidangnya dan memiliki
komitmen tinggi pada profesinya. Kompetensi guru yang dibicarakan sebenarnya
merupakan pengejewantahan dari falsafah dan prinsip pendidikan yang dikemukakan Ki
Hajar Dewantoro, yang mencakup Tut Wuri Handayani [dibelakang memberi dorongan],
Ing Madyo Mangun Karso [di tengah membangun prakarsa], dan Ing Ngarso Sung
Tulodo [di sepan meberi keteladanan] [Pendapat Akhir Pemerintah, 2005:4]. Tetapi
konsep dasar Ki Hajar Dewantoro ini, kadang hanya menjadi ”selogan” pendidikan dan
dilupakan dalam proses pendididkan. Aspek kompetensi secara serius digali dari
konsep dasar Ki Hajar Dewantoro tersebut, sebanranya kompetensi guru dan
pendidikan kita sudah jauh lebih berkualitas dan maju.
D. Langkah, Tujuan dan Sasaran Sertifikasi Guru
      Langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru adalah untuk meningkat kualitas
guru sesuai dengan kompetensi keguruannya. Dalam UU guru ada beberapa hal yang
dapat dikelompokan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas atau mutu guru
antara lain: [1] sertifikasi guru, [2] pembaharuan sertifikat, [3] beberapa fasilitas untuk
memajukan,                 diri           [4]          sarjana             nonpendidikan
7
      dapat menjadi guru. Semua guru harus mempunyai sertifikat profesi guru,
sebagai standar kompetensi guru.
      Sertifikasi guru jangan dipandang sebagai satu-satunya jalan atau sebagai satu-
satunya alat ukur mutu guru. Sebab sertifikasi guru belum tentu menjamin peningkatan
kualitas guru. Maka, birokrasi dalam hal ini pemerintah jangan hanya memikirkan agar
guru dapat disertifikasi dan dipaksa menjadi baik secara ”instan” dengan mengabaikan
kondisi guru. Sebab, jika kesiapan para guru dan lingkungan kerja guru tidak
mendukung penggunaan maksimal kompetensinya, kesejahteraan guru kurang layak,
maka sulit diharapkan perubahan dapat terjadi. Secara makro hal ini disebabkan
karena secara nasional maupun lokal guru tidak ditempatkan sebagai SDM yang
strategis untuk melakukan perubahan. Disamping kualitas guru yang masih rendah,
mereka juga masih dibayar rendah.
        Dari hasil riset lapangan, banyak guru mengatakan bahwa sertifikasi profesi guru
sangat baik dan dapat mengangkat derajat dan wibawa para guru di Indonesia. Tetapi,
dalam penerapannya ada hal yang perlu diperhatikan yaitu : [1] kebanyakan guru di
Indonesia setelah menjadi pengajar tidak memperdalam pengetahuannya. Artinya,
banyak guru kita masih rendah dalam kompetensi pengajaran, [2] harus
dipertimbangkan model yang bagaimana yang tepat untuk guru-guru di Indonesia, dan
kesiapan para guru untuk disertifikasi, [3] perlu dilakukan pelatihan-pelatihan sebelum
sertifikasi dilaksanakan dan perlu dipikirkan tindak lanjut bagi guru yang tidak lolos
sertifikasi, [4] apabila kebijakan sertifikasi tersebut dilakukan secara ”mentah” dan
”instan”, tanpa sosialisasi dan pelatihan-pelatihan akan merugikan para guru yang
sudah cukup lama mengabdi [Hasil wawanancara].
        Pandangan lain diperoleh dari para guru, yaitu penghargaan terhadap guru
belum sebanding dengan beberapa profesi lain [seperti profesi dokter, dan lain-lain].
Hal ini menjadi permaslah mendasar bagi profesi guru itu sendiri, yaitu: Pertama,
persoalan yang mendasar adalah kebanyakan guru yang belum memenuhi kualifikasi
minimal untuk mengajar, baik dari segi ilmu maupun keterampilan. Kedua, penghasilan
guru                 yang              kurang              memadai               apabila
8
        dibandingkan dengan penghasilan profesi lain dan hal ini berimbas pada profesi
guru itu sendiri kurang diminati. Profesi guru tidak lebih dari sebuah pekerjaan
”terpaksa” dilakukan ketika tidak mampu menemukan pekerjaan lain yang ”lebih baik”.
Sebagai contoh saja, seorang guru akan segera berpindah pada pekerjaan lain, ketika
mendapatkan kesempatan bekerja ditempat lain yang menjanjikan dan memberikan
fasilitas serta penghasilan yang lebih memadai. Menurut mereka, hanya beberapa -
”segelintir” – guru yang menyenangi dan menekuni profesinya karena memiliki sumber
pengahsilan lain. Ketiga, banyak guru yang tidak memiliki standar kualifikasi yang
dituntut oleh masyarakat. Menurut mereka, bahwa seorang guru – berbeda dengan
profesi dokter, akuntan, dan pengacara – sangat banyak bekerja dengan
mengandalkan keterampilan berelasi. Guru banyak dituntut untuk bekerja dalam suatu
tim kerja, berinteraksi secara intensif setia hari dengan siswa dan berkomunikasi
dengan orang tua siswa. Keempat, guru kurang dihargai, karena pekerjaan yang
diembannya dianggap kurang membutuhkan keterampilan yang sangat khusus dan
memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi profesional [Hasil wawanancara]
        Para guru, mengatakan apabila program sertifikasi ini dapat secara langsung
menjawab persoalan-persoalan di atas, akan membuat profesi guru menjadi baik,
pekerjaan guru akan menjadi sebuah profesi yang menarik dan dikejar orang. Tetapi,
tampaknya program tersebut tidak akan sanggup menjawab beberapa persoalan
mendasar dari profesi guru itu sendiri. Maka kritik yang disampaikan mereka, apabila
yang dipercaya sebagai perancang program ini adalah sejumlah universitas eks IKIP,
ini menjadi pertanyaan, mengapa mereka yang tidak berhasil mengangkat martabat
guru dan bahkan merubah IKIP menjadi universitas, kenapa dijadikan dan dilibatkan
dalam penyusun program nasional yang sedemikian penting? [Hasil wawanancara]
        Mengenai sasaran sertifikasi guru, dilaksanakan untuk semua guru, baik guru
lama maupun calon guru. Bagi guru yang lama perlu diberikan pelatihan-petihan profesi
keguruan baru dilakukan ujian sertifikasi. Bagi calon guru yang berkualifikasi Sarjana
kependidikan           perlu          mengikuti      program       sertifikasi       guru
9
        dengan menempuh beberapa mata kuliah dalam kurikulum S1 kependidikan atau
yang SKS-nya belum setara dengan kurikulum program sertifikasi. Sedangkan bagi
calon guru yang berkualifikasi sarjana atau Diploma non-kependidikan wajib menempuh
program sertifikat guru dengan mengambil seluruh kurikulum program sertifikat guru.
      Agar sertifikasi itu sungguh bermutu, ujian profesi keguruan harus objektif, bebas
dari ”kkn”, dan ”suap”. Katakan saja, bila guru dan calon guru dalam ujian sertifikasi
memang terbukti tidak kompetens dan tidak lulus, tidak mendapatkan sertifikat [Paul
Suparno, KR:15/11/2005:10]. Kemudian guru tersebut, ”diparkirkan” atau diistirahatkan
sementara untuk mengikuti pelatihan kompetensi keguruan dan kemudian diuji kembali.
Dengan demikian, keobjektifan dalam penilaian sangat penting, sehingga tidak terjadi
orang mendapatkan sertifikat dengan cara membeli, koneksi atau ”koncoisme”. ”Bila hal
ini terjadi, maka mutu guru tetap tidak terjamin dan pendidikan tetap terpuruk” [Paul
Suparno, KR:15/11/2005:10].
      Selain itu, agar sertifikasi itu sungguh menunjukkan kemampuan dan keterampilan
guru dalam mengajar dengan segala kompetensi yang dimiliki. ”Badan sertifikasi” guru
sungguh harus objektif untuk menguji dan menilai sertifikasi guru. Tapi pertanyaan
mendasar yang dikemukakan Paul Suparno di atas, apakah badan tersebut benar-
benar ”objektif” untuk menguji kompetensi dan sertifikasi. Pertanyaan, lembaga mana
yang dapat ditunjuk secara ”objektif” untuk diberikan kualifikasi melakukan sertifikasi
dan uji kompetensi guru? Maka, untuk menguji kompetensi dan sertifikasi, diperlukan
suatu ”lembaga” atau ”badan independen” yang akan menilai kompetensi guru.
Perhatikan, kritik yang disampaikan para guru di atas, ”apabila sejumlah universitas eks
IKIP dipercaya sebagai perancang program ini, dipertanyakan”. Kritik para guru
tersebut, perlu menjadi pertimbangan untuk menunjuk lembaga penyelenggaran uji
sertifikasi.
        Aspek sertifikasi guru yang akan diuji adalah mengacu pada kompetensi dasar
yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi profesional, persolan, kepribadian, dan
sosial. Pertama, kompetensi profesional, aspek pada kompetensi ini berkaitan dengan
kemampuan                      mengajar,               meliputi              kemampuan
10
        dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, kemampuan
dalam menganalisis, penyusunan program perbaikan dan pengayaan, kemampuan
dalam membimbing dan konseling. Kemampuan dalam bidang keilmuan, terkait dengan
keluasan dan kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan ditransformasikan
kepada peserta didik, pemahaman terhadap wawasan pendidikan, dan kemampuan
memahami kebijakan-kebijakan pendidikan. Keduan, kompetensi persolan, aspek pada
kompetensi ini berkaitan dengan aktualisasi diri dan menekuni profesi, jujur, beriman,
bermoral, peka, luwes, humanis, berwawasan luas, berpikir kreatif, kritis, refletif, mau
belajar sepanjang hayat. Ketiga, kompetensi kepribadian, aspek pada kompetensi ini
berkait dengan kondisi guru sebagai individu yang kepribadian yang utuh, mantap,
dewasa, berwibawa, berbudi luhur dan anggun moral, serta penuh keteladanan.
Keempat, kompetensi sosial, aspek pada kompetensi ini berkait dengan kemampuan
berkomunikasi secara efektif dan efesien dengan peserta didik, sesama pendidik dan
tenaga kependidikan, kemampuan menyelesaikan masalah, dan mengabdi pada
kepentingan masyarakat.
       Proses sertifikasi para guru sebaiknya ditangani oleh lembaga atau badan
independen yang kompetensi dan objektif. Katakan saja, Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan [LPTK] yang merupakan lembaga pendidikan tinggi yang
mengembangkan ilmu pendidikan dan keguruan, memiliki kewenangan dan
pengalaman pengadaan tenaga kependidikan, serta memiliki sumber daya manusia
yang kompeten di bidang kependidikan dan nonkependidikan. Lembaga tersebut harus
didukung dengan berbagai sarana kependidikan, seperti Sekolah Laboratorium, Pusat
Sumber Belajar, Praktek Pengalaman Lapangan, dan Pusat Penelitian Kependidikan.
       Hemat penulis, uji kompetensi dan sertifikasi harus dilakukan secara ”by proses”
dan bukan ”instan”. Katakan saja, dari pengamatan di lapangan tentang uji dan evaluasi
pendidikan dan pembelajaran, biasanya kita terpaku pada hasil pembelajaran dan
mengbaikan proses pelaksanaan secara ”holistik”. Contoh terdekat, adalah Ujian Akhir
Nasional [UAN] bagi siswa-siswa yang menuai protes dan bahkan merenggut beberapa
nyawa                 siswa              karena              kecewa.             Maka,
11
       apabila uji kompetensi dan sertifikasi guru juga pelaksanaan seperti itu dan
aspek-aspek kompetensi hanya diujikan dengan sistem tes saja, ”apalagi yang kurang
atau tidak objektif”, maka hal itu tentu belum menjamin kepastian tingkat kompetensi
dan sertifikasi sebagai profesi guru.
       Agar sertifikasi itu dapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan guru dalam
mengajar, maka uji kompetensi dan sertifikasi harus dilakukan secara ”by proses”.
Artinya, bagi para guru yang berasal dari ”fakultas keguruan” sebelum diuji perlu
disegarkan kembali pada aspek ”materi keilmuan”, ”keterampilan dan strategi
mengajar”. Sedangkan bagi guru-guru yang berasal dari nonkependiddikan, sebelum uji
kompetsnsi dan sertifikasi, perlu dilakukan pelatihan atau mengambil pendidikan profesi
keguruan dengan bobot sejumlah 36 – 40 sks. Aspek materi keguruan, yang dipelajari :
Ilmu Pendidikan atau Landasan Pendidikan, Metode dan Strategi Pembelajaran,
Psikologi Perkembanagan, Perencanaan Pembelajaran, Evaluasi Pembelajaran,
Psikologi Belajar, Media Pembelajaran, Bimbingan dan Konseling, Komunikasi
Pendidikan, Profesi Keguruan, Telaah Pengembangan Kurikulum, Penelitian dan
Evalusi Sistem Pendidikan, serta Praktek Pengenalan Lapangan [PPL]. Setelah itu baru
dilakukan uji profesi atau kompetensi dan sertifikasi. Apabila proses ini dilakukan
secara terencana, sistimatik, dan objektif, serta terhindar atau bebas dari KKN, ”suap”
atau dengan cara ”membeli sertifkat”, maka mutu keilmuan guru dikemudian hari akan
meningkat dan kualitas dan kompetsnsi guru dapat dipertanggungjawabkan.
       Cacatan akhir sebagai sebuah renungan, sertifikasi dan kompetensi itu penting,
tetapi pendidikan lebih dari itu. Pendidikan pascamodern tidak lagi mono-sentralistik.
Pusat-pusat pengembangan dapat saja berada di mana-mana [J.Bismoko, KR,
3/12/2005, hlm.12]. Katakan saja, sumber ilmu pengetahuan yang selama ini dianggap
terpusat pada institusi pendidikan formal yang konvensional, mungkin saja akan
tergeser. Sebab, sumber ilmu pengetahuan akan tersebar di mana-mana dan setiap
orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan kerena diperoleh
melalui sarana ”internet” dan ”media informasi” lainnya. Paradigma ini dikenal dikenal
sebagai                                                                      distributed
12
        ]. Pertanyaan, guru seperti apa yang dibutuhkan dalam model pembelajaran
seperti itu? intelligence [distributed knowledge]. Dengan paradigma ini, tampaknya
fungsi guru/dosen/lembaga pendidikan akan beralih dari sebuah sumber ilmu
pengetahuan menjadi mediator dari ilmu pengetahuan [Hujair AH. Sanaky, 2004: 94].
Hal ini, menunjukan bahwa di masa depan sekolah akan berubah dari format kelas
menjadi sekolah bersama dalam satu kota, sekolah bersama dalam satu negara,
bahkan bersama di dunia atau sekolah global [Baca:Purwanto, http://www.pustekkom
E. Catatan Penutup
      Sertifikasi guru, merupakan kebijakan yang sangat strategis, karena langkah dan
tujuan melakukan sertifikasi guru untuk meningkat kualitas guru, memiliki kompetensi,
mengangkat harkat dan wibawa guru sehingga guru lebih dihargai dan untuk
meningkatkan kualitas pendidiakan di Indonesia.
      Sikap yang harus dibangun para guru dalam kompetensi dan sertifikasi ini adalah
profesionalisme, kualitas, mengenal dan menekuni profesi keguruan, meningkatkan
kualitas keguruan, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru, kerasan
dan bangga atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang memiliki
kualifikasi dan kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi keguruan.
      Sertifikasi guru merupakan proses yang dapat mengangkat harkat dan wibawa
guru. Namun, sertifikasi guru jangan sampai dipandang sebagai satu-satunya jalan
yang menjamin kualitas guru. Sangat tidak tepat apabila pemerintah memaksakan
program ini menjadi program yang ”instan”, sementara lingkungan kerja guru tidak
mendukung penggunaan maksimal kompetensi. Jika program ini dipaksakan secara
”instan”, maka sulit diharapkan sebuah perubahan yang signifikan akan terjadi pada
wajah pendidikan di Indonesia.
      Hal yang penting adalah membangun ”kesadaran” dan ”budaya” bahwa guru
adalah ”ujung tombak”, memiliki peran yang besar, merupakan faktor penting dan
strategis dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan, yang didukung dengan
kesejahteraan        guru    yang     layak    dan    memadai,       sehingga       mau
13
      tidak mau, senang tidak senang, guru harus meningkat diri dengan profesi yang
ditekuninya. Dengan demikian, kata kuncinya semua kebijakan yang dilakukan untuk
meningkat kualitas, kompetsnsi dan sertifikasi guru adalah ”by proses” dan bukan
”instan
14
                                   DAFTAR PUSTAKA
Bismoko, J., Standarisasi dan Sertifikasi Guru: Modern, Sektarian, Politis, Kedaulatan
    Rakyat, Kolom OPINI, 3 Desember 2005.
Hasil Observasi dan Wawancara Mahasiswa Program Akta IV, Angkatan XVIII, Jurusan
    Tarbiyah UII, dengan bebarapa Guru di Yogyakarta, tentang Pandangan Para Guru
    Terhadap Kebijakan Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Juni - Juli 2005.
Listiyono, Agus, Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Guru, From:http:// www.kompas.
    com/kompas-cetak/0311/03/Didaktika/659708.htm. akses, Rabu, 13 April 2005.
Poedjinoegroho E, Baskoro, 2005, Guru Peofesional, Adakah?, Kompas, 5 Januari
     2006, kolom, 7.
Purwanto, Profesionalisme Guru, From: http://www.pustekkom.go.id/teknodik/t10/10-
     7.htm, akses, senin, 14-2-2005.
Sanaky, Hujair AH., 2004, Tantangan Pendidikan Islam di Era Informasi [Pergeseran
     Paradigma Pendidikan Islam Indonesia di Era Informasi], Jurnal Stusi Islam
     MUKADDIMAH, Kopertais Wilayah III dan PTAIS DIY, No. 16TH.X/2004,
     ISSN:0853-6759, Yogyakarta.
Sudibyo, Bambang dan Hamid Awaludin, 2005, Pandapat Akhir Pemerintah Atas
     Rancangan Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, Disampaikan pada Rapat
     Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Undang-Undang R.I.
     Nomor. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
Suparno, Paul, 2004, Guru Demokratis di Era Reformasi, Grasindo, Jakarta.
-----------,2005, Dampak RUU Guru Terhadap Kualitas dan Kesejahteraan Guru,
     Kedaulatan Rakyat, 15/11/2005, Yogyakarta.
Undang-Undang R.I. Nomor. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kerja guru merupakan kumpulan dari berbagai tugas untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Kepuasan dalam menjalankan tugas merupakan aspek penting bagi kinerja atau
produktivitas
seseorang, ini disebabkan sebagian besar waktu guru digunakan untuk bekerja. Pada
umumnya
pekerjaan guru dibagi dua yakni pekerjaan berhubungan dengan tugas-tugas mengajar,
mendidik
dan tugas - tugas kemasyarakatan (sosial). Di lingkungan sekolah, guru mengemban
tugas
sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru memberikan pengetahuan
(kognitif), sikap
dan nilai (afektif), dan keterampilan (psikomotorik), Guru memiliki tugas dan tanggung
jawab moral
yang besar terhadap keberhasilan siswa, namun demikian guru bukanlah satu-satunya
faktor
penunjang keberhasilan siswa. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah faktor
perangkat
kurikulum, faktor siswa sendiri, faktor dukungan masyarakat, dan faktor orang tua,
sementara
sebagai pendidik, guru harus mendidik para siswanya untuk menjadi manusia dewasa.
Guru dituntut untuk untuk bekerja dengan memberikan pelayanan sebaik-baiknya
kepada
pemakai sekolah seperti siswa, orang tua, dan masyarakat. Salah satu faktor yang
menunjang
guru untuk bekerja dengan sebaik-baiknya yaitu kepuasan kerja. Artinya jika guru puas
terhadap
perlakuan organisasi (sekolah) maka mereka akan bekerja penuh semangat dan
bertanggung
jawab.
Kepuasan kerja (job satisfaction) guru merupakan sasaran penting dalam manajemen
sumber daya manusia, karena secara langsung maupun tidak langsung akan
mempengaruhi
produktivitas kerja. Suatu gejala yang dapat membuat rusaknya kondisi organisasi
sekolah adalah
rendahnya kepuasan kerja guru dimana timbul gejala seperti kemangkiran, malas
bekerja,
banyaknya keluhan guru, rendahnya prestasi kerja, rendahnya kualitas pengajaran,
indisipliner
guru dan gejala negatif lainnya. Sebaliknya kepuasan yang tinggi dinginkan oleh kepala
sekolah
karena dapat dikaitkan dengan hasil positif yang mereka harapkan. Kepuasan kerja
yang tinggi
menandakan bahwa sebuah organisasi sekolah telah dikelola dengan baik dengan
manajemen
yang efektif. Kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan kesesuaian antara harapan guru
dengan
imbalan yang disediakan oleh organisasi.
Meningkatkan kepuasan kerja bagi guru merupakan hal yang sangat penting, karena
menyangkut masalah hasil kerja guru yang merupakan salah satu langkah dalam
meningkatkan
mutu pelayanan kepada siswa. Ada beberapa alasan mengapa kepuasan
kerja guru dalam tugasnya sebagai pendidik perlu untuk dikaji lebih lanjut :
Pertama : Guru memainkan peranan yang begitu besar di dalam sebuah negara. Tugas
mereka bukan hanya sekedar memberikan pelajaran seperti yang terkandung di dalam
garis
besar pengajaran dalam kurikulum formal, malah meliputi seluruh aspek kehidupan
yang lain
mungkin tidak tercantum dalam mata pelajaran secara nyata, tetapi meliputi pelajaran-
pelajaran
yang terkandung dalam kurikulum yang tersembunyi dalam sistem pendidikan negara.
Kemajuan
suatu bangsa punya kaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan di sini bukan sekedar
sebagai
media (perantara) dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi,
melainkan suatu
proses yang diharapkan akan dapat mengubah dan mengembangkan kehidupan
berbangsa yang
baik. Bagi suatu bangsa yang sedang membangun terlebih-lebih bagi keberlangsungan
hidup
bangsa di tengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian
canggih. Semakin
akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin, tercipta, dan terbinanya
kesiapan
1
Studi Korelasional Antara Iklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Kepuasan Kerja Guru
Copyright © http://www.geocities.com/guruvalah
2
dan keandalan sebagai manusia pembangunan. Oleh karena itu peningkatan kepuasan
kerja yang
diperoleh para guru akan mendorong guru untuk melaksanakan fungsinya sebaik
mungkin.
Kedua : adanya fenomena mengenai penurunan kinerja guru, hal ini dapat terlihat dari
guru yang mangkir dari tugas, guru yang mengajar saja tapi fungsi mendidiknya
berkurang.
Sebagaimana pernah disinggung oleh Menteri Pendidikan Nasional : ”akhir-akhir ini
jumlah
tenaga guru semakin sedikit, sebaliknya jumlah pengajar terus membengkak. Menurut
Menteri
Pendidikan Nasional dalam sambutan pelantikan rektor Universitas Surabaya (Unesa)
di Surabaya
mengatakan :”Indonesia saat ini minus tenaga guru, yang banyak adalah tenaga
pengajar. Dia
bekerja per jam, dan setiap jam minta bayaran”. Guru, menurut Malik Fadjar, lebih dari
sekedar
pengajar. Guru merupakan pusat teladan dan panutan. Guru punya pengaruh terhadap
siswanya.1
Apa yang dilontarkan di atas bisa disebabkan oleh rendahnya kepuasan kerja guru
sehingga guru
tidak lagi menghayati peranannya sebagai seorang pendidik.
Ketiga : Peningkatkan mutu pendidikan secara formal aspek guru mempunyai peranan
penting dalam mewujudkannya, disamping aspek lainnya seperti sarana/prasarana,
kurikulum,
siswa, manajemen, dan pengadaan buku. Guru merupakan kunci keberhasilan
pendidikan, sebab
inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru
di
dalamnya.
Berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan
dalam prestasi belajar siswa (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar
(22%), dan
sarana fisik (19%). Aspek yang berkaitan dengan guru adalah menyangkut citra/mutu
guru dan
kesejahteraan.2 Sementara itu Tilaar menyatakan “peningkatan kualitas pendidikan
tergantung
banyak hal, terutama mutu gurunya”3 Dengan demikian jelaslah bahwa keberhasilan
pendidikan
yang terutama adalah faktor guru sebagai tenaga pendidikan yang profesional. Salah
satu hal
yang patut dipertimbangkan adalah bagaimana upaya untuk meningkatkan kualitas
guru adalah
dengan cara meningkatkan kepuasan kerjanya, sebab dengan kepuasan guru yang
meningkat
maka guru akan berusaha untuk meningkatkan profesi dan mutunya dengan demikian
diharapkan
keberhasilan pendidikan akan tercapai. Kepuasan kerja guru itu bisa dilaksanakan
dengan
beberapa cara diantaranya adalah organisasi dapat membuat iklim organisasi yang
berpihak pada
kesejahteraan guru, terbuka dan menekankan pada prestasi, bisa pula kepuasan
ditingkatkan
menggunakan faktor motivasi terutama motivasi berprestasi guru, karena hal tugas guru
menyangkut dengan keberhasilan siswa yang merupakan keberhasilan pendidikan.
Pada tahun 1980-an masyarakat, kalangan akademisi, organisasi profesi dan
pemerintah
Amerika serikat secara serempak bertanya : “dari titik mana peningkatan mutu
pendidikan Amerika
dimulai?”. Setelah dilakukan kajian mendalam dan luas tentang penentu-penentu mutu
pendidikan,
akhirnya mereka sepakat : langkah itu mesti dimulai dengan meningkatkan
kesejahteraan guru.
Keadaan di Amerika Serikat memang berbeda dengan dinegara-negara Eropa meski
gaji guru
telah dinaikkan, dibandingkan dengan karyawan pada profesi lain dengan tingkat
pendidikan yang
sama, gaji guru tetap lebih kecil. Di Indonesia, rata-rata gaji guru sama besar bahkan
lebih kecil
dari gaji pekerja pabrik berpendidikan SD.4
1 Mendikbud   melantik Rektor Unesa, dalam Republika, Sabtu 4 Mei 2002
2 IndraDjati Sidi, Pendidikan dan Peran Guru Dalam Era Globalisasi, dalam majalah Komunika
No. 25 /tahun VIII/2000
3 H.A.R, Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, Dalam Perspektif Abad 21
(Magelang: Tera Indonesia, 1999) p. 104
4 Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Yogyakarta : Adicita Karya Nusa, 1998) p
.8
Studi Korelasional Antara Iklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Kepuasan Kerja Guru
Copyright © http://www.geocities.com/guruvalah
3
Fenomena yang terjadi di SMK Negeri Samarinda berdasarkan hasil pantauan penulis
dan
wawancara dengan beberapa guru masih terdapat ketidak puasan kerja guru, walaupun
gaji guru
saat ini telah lebih baik daripada sebelumnya. Kenaikan gaji guru yang dimulai dari
pemerintahan
BJ. Habibie, dan pemerintahan Abdurahman Wachid, masih belum terlihat nyata
hasilnya dalam
peningkatan kepuasan kerja guru.
Keempat : otonomi daerah yang menumbuhkan kesadaran pentingnya pembangunan
kualitas SDM di masyarakat adalah menjadi tugas Pemkab/Pemkot dan Depdiknas.
Depdiknas
berupaya menghasilkan SDM unggul yang dapat menjawab tantangan pembangunan,
dan kualitas
SDM akan dirasakan bagi keberlangsungnya pembangunan daerah. Keberhasilan
otonomi daerah
mempersyaratkan tersedianya SDM unggul untuk menggali dan mengembangkan
potensi
daerahnya. Jadi Pemerintah Kabupaten/Kota berperan penting dalam peningkatan
kualitas
pendidikan. Kesempatan ini oleh pihak Pemkab/Pemkot dapat digunakan untuk
mengupayakan
kepuasan kerja guru, karena dapat dijadikan sebagai sarana untuk peningkatan kualitas
pendidikan.
Salah satu langkah yang diambil oleh pemkot kota Samarinda adalah dengan
pemberian
insentif Rp 150.000,00 per bulan. Uang ini telah diberikan tiga bulan sekali sehingga
jumlahnya
menjadi Rp 450.000,00. Kemudian pada saat hari raya, pemkot juga telah berupaya
untuk
memberikan THR kepada para guru. Fenomena yang ada di SMK sesuai dengan hasil
wawancara
penulis dengan beberapa guru di SMK di kota Samarinda, masih terdapat ketidak
puasan kerja
diantara mereka. Masih terdapat gejala-gejala kemangkiran, rendahnya semangat kerja
dan
ketidak puasan terhadap keadaan tempat kerja serta keadaan siswa. Guru mengeluh
tidak hanya
faktor insentif yang dirasa rendah bagi mereka dan kurang memenuhi kebutuhan
ekonomi yang
semakin lama semakin meningkat, namun faktor lain seperti kerja yang menjenuhkan,
suasana
lingkungan kerja yang tidak kondusif seperti teman yang tidak saling mendukung,
pimpinan yang
kurang bijak serta siswa yang tingkah lakunya menjengkelkan. Di lain pihak ada dari
mereka yang
menurun semangatnya dalam mengajar, merasa bosan, jenuh dengan pekerjaan.
Kepuasan kerja dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satu diantaranya adalah iklim
organisasi. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa para guru bekerja selain untuk
mengharapkan
imbalan baik material maupun non material namun mereka juga menginginkan iklim
yang sesuai
dengan harapan mereka seperti terdapat keterbukaan dalam organisasi, terdapat
perhatian,
dukungan, penghargaan, pendapatan yang yang layak dan dirasa adil. Penciptaan iklim
yang
berorientasi pada prestasi dan mementingkan pekerja dapat memperlancar pencapaian
hasil yang
diinginkan.
Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap kepuasan kerja adalah motivasi
berprestasi.
Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa bekerja tanpa motivasi akan cepat bosan, karena
tidak
adanya unsur pendorong agar semangat kerja tetap stabil. Motivasi merupakan
komoditi yang
sangat diperlukan oleh semua orang termasuk guru. Motivasi diperlukan untuk
menjalankan
kehidupan, memimpin sekelompok orang dan mencapai tujuan organisasi. Motivasi
berprestasi
merupakan dorongan yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri guru untuk
melakukan
pekerjaan sebaik mungkin sehingga tujuan akan tercapai. Motivasi berprestasi bisa
terjadi jika guru
mempunyai kebanggaan akan keberhasilan. Padahal tugas mengajar adalah tugas
yang
membanggakan dan penuh tantangan, sehingga guru-guru seharusnya mempunyai
motivasi
berprestasi.
Pada tahun 2003 Sunardi mengadakan penelitian tentang hubungan supervisi kepala
sekolah dan motivasi kerja guru SMK Negeri se kota Samarinda. Dari hasil penelitian
tersebut
terungkap bahwa terdapat hubungan poitif antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja
adalah
dengan koefisien r = 0,52.
Studi Korelasional Antara Iklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Kepuasan Kerja Guru
Copyright © http://www.geocities.com/guruvalah
4
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi masalah yang akan di
teliti
yaitu :
1. Apakah terdapat hubungan antara iklim organisasi dengan kepuasan kerja ?
2. Apakah terdapat hubungan antara kompetensi guru dengan kepuasan kerja ?
3. Apakah terdapat hubungan antara supervisi dengan kepuasan kerja ?
4. Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan kepuasan kerja ?
5. Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja?
6. Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja ?
7. Apakah terdapat hubungan antara disiplin guru dengan kepuasan kerja ?
8. Apakah terdapat hubungan antara pengembangan karir dengan kepuasan kerja ?
C. Pembatasan Masalah
Masalah utama penelitian adalah kepuasan kerja sebagai variabel dependen, yang
dibatasi hubungannya dengan iklim organisasi sebagai variabel independen 1 dan
motivasi
berprestasi sebagai variabel independen 2.
D. Perumusan Masalah
1. Apakah terdapat hubungan antara iklim organisasi dengan kepuasan kerja guru ?
2. Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan kepuasan kerja guru
?
3. Apakah terdapat hubungan secara bersama-sama antara iklim organisasi dan
motivasi
berprestasi dengan kepuasan kerja guru ?.
E. Kegunaan Penelitian
1. Dalam kajian penelitian dapat bermanfaat dibidang keilmuan yaitu ilmu perilaku
organisasi
dan manajemen. Kajian ini merupakan sumbangan pada materi iklim organisasi,
motivasi
berprestasi dan kepuasan kerja tentang ada tidaknya korelasi diantara ketiga variable
tersebut.
2. Dalam kajian penelitian ini diharapkan dapat menemukan faktor-faktor yang
berpengaruh
terhadap kepuasan kerja guru. Selanjutnya kajian ini diharapkan dapat dimanfaatkan
sebagai
masukan (urun rembug) kepada dunia pendidikan dalam kerangka meningkatkan mutu
dan
profesionalitas guru.
3. Jika hasil penelitian ini ternyata terbukti dengan pembuktian secara empirik dimana
ada
hubungan yang positif antara iklim kerja dengah kepuasan kerja, dan hubungan
motivasi
berprestasi dengan kepuasan kerja, serta secara bersama-sama terdapat hubungan
positif
antara iklim organisasi dan motivasi berprestasi dengan kepuasan kerja, maka hasil
penelitian
ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi Pemerintah Kota Samarinda dan Dinas
Pendidikan
Kota Samarinda dalam merancang program yang berkaitan dengan peningkatan
kepuasan
kerja guru.
4. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan kepada sekolah-
sekolah
khususnya Sekolah Menengah Kejuruan diutamakan bagi pimpinan (Kepala Sekolah)
sebagai
bahan evaluasi kinerjanya, dan masukan bagi guru-guru sebagai bahan untuk
mengevaluasi
kinerjanya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok sehingga secara bersama-
sama
dapat merencanakan langkah yang konkrit untuk menentukan kepuasan kerja di masa-
masa
selanjutnya. Adanya hasil penelitian dimana iklim organisasi dan motivasi berprestasi
secara
Studi Korelasional Antara Iklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Kepuasan Kerja Guru
Copyright © http://www.geocities.com/guruvalah
5
bersama-sama dengan kepuasan kerja, maka upaya untuk meingkatkan kepuasan guru
dapat dilakukan dengan memperbaiki iklim organisasi dan meningkatkan motivasi
berprestasi.
5. Hasil penelitian ini juga diharapkan berguna bagi „Stakeholder‟ yaitu pihak dunia
industri/dunia
kerja sebagai partner Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam program „Pendidikan
Sistem
Ganda‟, serta „Masyarakat‟ sebagai pelanggan dan pengguna Sekolah, sebagai
masukan
mereka untuk merancang program-program yang berkaitan dengan kepuasan kerja,
semangat kerja, maupun produktivitas dan kinerja guru. Sebab dalam rangka
pendidikan
berbasis masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah keikut sertaan Stakeholder
dalam
ikut memikirkan pendidikan yang bermutu sangat diharapkan.
[Ke Bab 2]
POKOK BAHASAN PERTAMA
PENDAHULUAN
A. URAIAN
1. Pengertian
Sebelum mempelajari secara mendalam, tentang model-model pembelajaran IPS,
sangat penting untuk mengetahui pengertian-pengertian berikut ini:
a. Pengertian belajar. adalah suatu kegiatan, di mana seseorang membuat atau
menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan,
sikap, dan keterampilan. Belajar merupakan proses kegiatan yang dilakukan oleh peserta
didik/anak didik secara sadar dan sengaja, setelah belajar terdapat perubahan tingkah
laku yang berarti pada dirinya
b. Pengertian mengajar adalah suatu kegiatan agar proses belajar seseorang atau
sekelompok orang dapat terjadi. Mengajar merupakan aktivitas pendidik/guru yang
mengakibatkan anak didik untuk belajar, meliputi: memberikan stimulus, bimbingan
pengarahan, dan dorongan sehingga terjadi proses belajar.
c. Pengertian pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar yaitu setiap kegiatan yang
dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu pengetahuan, keterampilan,
sikap atau nilai yang baru. Pembelajaran merupakan komponen yang tidak kalah
pentingnya dibandingkan dengan kurikulum. Usaha perbaikan pendidikan senantiasa
terfokus pada silih pergantian kurikulum, pada hal jika kurikulum menjawab
pertanyaan what to teach, pembelajaran menjawab pertanyaan how to teach. Perbaikan
kurikulum melahirkan materi ajar yang lebih baik, perbaikan pembelajaran melahirkan
cara belajar dan mengajar yang lebih baik. Pembelajaran merupakan kegiatan untuk
menjawab pertanyaan bagaimana agar peserta didik mau dan mampu belajar. Untuk itu
terdapat tiga komponen utama yang saling berinteraksi yaitu: guru yang mengajar,
peserta didik (anak didik) yang belajar, dan kurikulum (materi) yang
diajarkan/dipelajari. Jadi, pembelajaran merupakan interaksi pendidik dengan peserta
didik melalui suatu rancangan kegiatan yang sistematis untuk menghasilkan luaran
yang berkualitas.
d. Pengertian model pembelajaran. Model adalah kerangka konseptual yang digunakan
sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Jadi, model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para
guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Syarifuddin Sagala (2005:175) model
dapat dipahami sebagai: (1) suatu tipe atau desain, (2) suatu deskripsi atau analogi yang
dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan
langsung diamati, (3) suatu sistem asumsi-asumsi, data-data, dan inferensi-inferensi
yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu obyek atau peristiwa, (4)
suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan realitas
yang disederhanakan, (5) suatu deskripsi dari suatu sistem yang dimungkinkan atau
imajiner, dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan
sifat bentuk aslinya.
e. Pengertian Ilmu pengetahuan sosial (IPS), yaitu terjemahan dari social studies di dunia
pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Edgar B. Wesley (1952:9)
mengartikan “those portions or aspects of social sciences that have been selected and adapted
for
use in the school or in other instructional situation”. Dikatakannya pula bahwa “the social
studies are social sciences sumplified for paedagogical purpose”.
74 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
John Jarolimek, (1971:4) mengatakan “the social studies have been defined as those portion of
the social sciences selected for instructional purpose”. Kemudian disebut pula bahwa ilmuilmu
sosial yang mendukung social studies, adalah history, sosiology, political science, Social
psychologi, philosophy, antroplogy and economic.
Diana Nomida Musnir dan Maas DP (1998) mendeskripsikan hakikat Pendidikan IPS
adalah berbagai konsep dan prinsip yang terdapat dalam ilmu-ilmu sosial, misalnya
tentang kependudukan, kriminalitas, tentang korupsi dan kolusi dan sebagainya yang
dikemas untuk kepentingan pendidikan dalam rangka upaya pencapaian tujuan
pendidikan diberbagai jenjang pendidikan. Berbagai realitas tersebut dijelaskan melalui
pendekatan multi dimensi arah dalam melakukan berbagai prinsip dan generalisasi yang
terdapat dalam ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi sosial,
geografi dan ilmu politik
Nu’man Somantri, (2001) menegaskan bahwa program pendidikan IPS merupakan
perpaduan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora termasuk didalamnya
agama, filsafat, dan pendidikan. Bahkan IPS juga dapat mengambil aspek-aspek tertentu
dan ilmu-ilmu kealaman dan teknologi.
Dengan pengertian di atas berarti IPS adalah terjemahan dari “Social Studies” dari
Amerika Serikat yang dipolakan untuk kebutuhan pembelajaran di persekolahan. IPS
adalah ilmu pengetahuan tentang manusia dalam lingkungan hidupnya, yaitu mempelajari
kegiatan hidup manusia dalam kelompok yang disebut masyarakat dengan menggunakan
berbagai disiplin ilmu sosial (social sciences), sepertinya: sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah,
antropologi, psikologi sosial, dan sebagainya, juga dengan humaniora dan ilmu kealaman.
2. Masalah-masalah Pembelajaran
Upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan dengan melakukan
perubahan kurikulum, baik struktur maupun prosedur perumusannya dan akan lebih
bermakna bila diikuti oleh perubahan praktik pembelajaran yang mendukung keberhasilan
implementasi kurikulum tersebut.
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran peserta didik baik
secara eksternal maupun internal diidentifikasikan sebagai berikut. Faktor-faktor eksternal
mencakup dosen/guru, materi, pola interaksi, media dan teknologi, situasi belajar dan
sistem. Masih ada guru/dosen yang kurang menguasai materi pelajaran dan dalam
mengevaluasi peserta didik menuntut jawaban yang persis seperti yang ia jelaskan; dengan
kata lain, peserta didik tidak diberi peluang untuk berpikir kreatif, identik dengan burung
beo. Dosen/guru juga mempunyai keterbatasan dalam mengakses informasi baru yang
memungkinkan ia mengetahui perkembangan terakhir di bidangnya (state of the art) dan
kemungkinan perkembangan yang lebih jauh dari yang sudah ada dicapai sekarang (frontier
of knowledge). Sementara itu materi pelajaran dipandang oleh peserta didik terlalu teoritis,
kurang memberi contoh-contoh yang kontekstual. Metode penyampaian bersifat menoton,
kurang memanfaatkan berbagai media secara optimal. Dosen/guru yang demikian ini,
menganggap pembelajaran hanya tugas transfer pengetahuan kepada peserta didik,
sehingga yang dianggap terpenting asal memiliki buku teks untuk itu sudah bisa mengajar.
Paradigma yang demikian mendangkalkan pengertian pembelajaran yang perlu diubah
sebagai “tanggung jawab” dalam upaya “penguasaan” dan “pengembangan” kemampuan
peserta didik kearah perubahan yang lebih baik sesuai tujuan instruksionalnya.
Faktor-faktor yang bersifat internal, dari peserta didik itu sendiri, mencakup
motivasi, kemampuan awal, kemampuan belajar mandiri penguasaan bahasa dan
kesenjangan belajar (learning gap). Motivasi yang rendah ditandai dengan cepatnya mereka
merasa bosan, berekspektasi instan (quick yielding) sukar berkonsentrasi, tidak dapat
mengatur waktu, dan malas mengerjakan pekerjaan rumah. Kemampuan awal yang lemah
75 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
ditandai dengan sulitnya mereka mencerna pelajaran (termasuk sulit memahami buku teks),
sulit memahami tugas-tugas, dan tidak menguasai strategi belajar. Kesenjangan belajar yang
cukup besar terjadi antara: a) hafalan dengan pemahaman, b) pemahaman dengan
kompetensi, c) kompetensi dengan kemampuan untuk melakukan, d) kemampuan untuk
melakukan dengan benar-benar melakukan, dan e) benar-benar melakukan dengan
menghasilkan perubahan secara terus-menerus.
3. Pentingnya Kualitas Pembelajaran
Direktorat Ketenagaan Dikti-Diknas (2007:5) mengemukakan bahwa Konsep kualitas
pendidikan mengandung atribut pokok, yaitu relevan dengan kebutuhan masyarakat dan
pengguna lulusan, memiliki suasana akademik (academic-atmosphere) dalam
menyelenggarakan program studi, serta efisiensi program secara selektif berdasarkan
kelayakan dan kecukupan. Dimensi-dimensi tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi
yang sangat strategi untuk merancang dan mengembangkan usaha penyelenggaraan
pendidikan yang berorientasi kualitas pada masa yang akan datang.
Kualitas perlu diperlakukan sebagai dimensi kriteria yang berfungsi sebagai tolok
ukur dalam kegiatan pengembangan profesi, baik yang berkaitan dengan usaha
penyelenggaraan lembaga pendidikan maupun kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini
diperlukan karena beberapa alasan berikut.
a. Lembaga pendidikan akan berkembang secara konsisten dan mampu bersaing di era
informasi dan globalisasi dengan meletakan aspek kualitas secara sadar dalam kegiatan
pendidikan dan pembelajaran.
b. Kualitas perlu diperhatikan dan dikaji secara terus menerus, karena substansi kualitas
pada dasarnya terus berkembang secara interaktif dengan tuntutan kebutuhan
masyarakat dan perkembangan teknologi
c. Aspek kualitas perlu mendapat perhatian karena terkait bukan saja pada kegiatan sivitas
akademika dalam lingkungan kampus, tetapi juga pengguna lain di luar kampus sebagai
“stake-holders”.
d. Suatu bangsa akan mampu bersaing dalam percaturan internasional jika bangsa tersebut
memiliki keunggulan (excelence) yang diakui oleh bangsa-bangsa lain.
e. Kesejahteraan masyarakat dan/atau bangsa akan terwujud jika pendidikan dibangun
atas dasar keadilan sebagai bentuk tanggung jawab sosial masyarakat bangsa yang
bersangkutan
4. Indikator kualitas pembelajaran
Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti (2007:6) merumuskan indikator kualitas
pembelajaran dapat dilihat dari berbagai aspek, antra lain: perilaku pembelajaran oleh
pendidik (dosen/guru), perilaku dan dampak belajar peserta didik, iklim belajar; materi,
media, dan sistem pembelajaran yang berkualitas. Masing-masing aspek tersebut dapat
dijabarkan sebagai berikut:
a. Perilaku pembelajaran pendidik (guru), dapat dilihat dari kinerjanya sebagai berikut:
1) membangun persepsi dan sikap positif peserta didik
2) menguasai substansi keilmuan dari materi yang diajarkan
3) memberikan layanan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik
4) menguasai pengelolaan pembelajaran yang mendidik
5) mengembangkan kepribadian dan keprofesionalan sebagai kemampuan yang
mandiri
76 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
b. Perilaku dan dampak belajar peserta didik, dapat dilihat dari kompetensinya sebagai
berikut:
1) Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar, termasuk di dalamnya persepsi
dan sikap terhadap mata pelajaran, guru, media, dan fasilitas belajar serta iklim
belajar
2) Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan
keterampilan serta membangun sikapnya
3) Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan
serta memantapkan sikapnya
c. Iklim pembelajaran mencakup:
1) Suasana kelas yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan
pembelajaran yang menarik, menantang, menyenangkan dan bermakna bagi
pembentukan profesionalitas kependidikan
2) Perwujudan nilai dan semanagat ketauladanan, prakarsa, dan kreatifitas pendidik
3) Suasana sekolah dan tempat praktek lainnya yang kondusif bagi tumbuhnya
penghargaan peserta didik dan pendidik terhadap kinerjanya
d. Materi pembelajaran yang berkualitas yang dapat dilihat dari:
1) Kesesuaiannya dengan tujuan dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik
2) Ada keseimbangan antara keluasan dan kedalaman materi dengan waktu yang
tersedia
3) Materi pembelajaran sistematis dan kontekstual
4) Dapat mengakomodasikan partisipasi aktif peserta didik dalam belajar semaksimal
mungkin
5) Dapat menarik manfaat yang optimal dari perkembangan dan kemajuan bidang
ilmu, teknologi, dan seni
6) Materi pembelajaran memenuhi kriteria filosofis, profesional, psikopedagogis, dan
praktis
e. Kualitas media pembelajaran, yaitu:
1) dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna
2) Mampu memfasilitasi proses interaksi antara peserta didik dan pendidik, sesama
peserta didik, serta peserta didik dengan ahli bidang ilmu yang relevan
3) Media pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik
4) Melalui media pembelajaran, mampu mengubah suasana belajar dari peserta didik
pasif dan pendidik sebagai sumber ilmu satu-satunya, menjadi peserta didik yang
aktif berdiskusi dan mencari informasi melalui berbagai sumber belajar yang ada.
f. Sistem pembelajaran disekolah mampu menunjukkann kualitasnya apabila:
1) Sekolah dapat menonjol ciri khas keunggulannya
2) Memiliki perencanaan yang matang dalam bentuk rencana strategis dan rencana
operasional sekolah, agar semua upaya dapat sinergis oleh seluruh komponen sistem
pendidikan dalam wadah sekolah
3) Ada semangat perubahan yang dicanangkan dalam visi dan misi sekolah yang
mampu membangkitkan upaya kreatif dan inovatif dari semua sivitas akademika
melalui berbagai aktivitas pengembangan
4) Dalam rangka menjaga keselarasan antar komponen sistem pendidikan di sekolah,
pengendalian dan penjaminan mutu perlu menjadi salah satu mekanismenya
77 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
5. Strategi mencapai Kualitas
Untuk mencapai kualitas pembelajaran dapat dikembangkan antara lain
menggunakan strategi sebagai berikut:
a. Di tingkat kelembagaan
1) mengembangkan berbagai fasilitas kelembagaan dalam membangun sikap,
semangat, dan budaya perubahan yang terkait dengan kinerja perofesional
dosen/guru
2) Meningkatkan kemampuan pembelajaran para dosen/guru melalui berbagai
kegiatan profesional secara periodik dan berkelanjutan.
3) Peningkatan kualitas LPTK sebagai penjamin mutu lulusan calon guru yang
profesional
b. Dari pihak individu dosen/guru.
1) memiliki kesadaran atas tugasnya yang mulia, sehingga dalam melakukan tugas
pembelajarannya merupakan panggilan hati nurani, bukan keterpaksaan.
2) melakukan perbaikan pembelajaran secara terus menerus berdasarkan hasil
penelitian tindakan kelas atau catatan pengalaman kelas dan/atau catatan perbaikan
3) mencoba menerapkan berbagai model pembelajaran yang relevan untuk
pembelajaran baik teori tatap muka maupun praktikum.
4) berupaya membangun sikap positif terhadap belajar, yang bermuara pada
peningkatan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik.
c. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar (pembelajaran)
1) pembelajaran yang Menyenangkan
2) menantang
3) mendorong aktivitas untuk bereksplorasi
4) mengembangkan keterampilan berpikir
5) memberi kesempatan untuk berhasil
6) memberi umpan balik dan koreksi
B. PELATIHAN
1. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian pertama), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Ada apa dengan pembelajaran?
Jawaban:
Yang menjadi masalah pembelajaran: …………………………………………………
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
b. Pentingkah kualitas pembelajaran?
Jawaban:
Konsep kualitas pembelajaran:
1) ……………………………………………………………………………………..
2) ……………………………………………………………………………………..
3) …………………………………………………………………..............................
4) ……………………………………………………………………………………..
78 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
c. Kemukakan yang menjadi indikator kualitas pembelajaran!
Jawaban:
Indikator kualitas pembelajaran:
1) .................................................................................................................................
2) .................................................................................................................................
3) ................................................................................................................................
4) ................................................................................................................................
d. Deskripsikan strategi pencapaian kualitas!
Jawaban:
Strategi pencapaian kualitas:
Di tingkat institusi (sekolah dan LPTK): .......................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
Dari pihak individu dosen/guru: ..................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
2. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang mengenai masalahmasalah
pembelajaran dan pentingnya kualitas pembelajaran, dan laporkan hasilnya pada
instruktur/petatar!
79 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
POKOK BAHASAN KEDUA
BERBAGAI MODEL DALAM PEMBELAJARAN IPS
A. URAIAN
1. Arti dan Berbagai Model Pembelajaran
Pada Bab I sudah dikemukakan bahwa “model pembelajaran” adalah kerangka
konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam
melaksanakan aktivitas pembelajarannya.
Komaruddin, (2000:152) memahami model dalam pembelajaran sebagai:
a. suatu tipe atau desain
b. suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi
sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati,
c. suatu sistem asumsi-asumsi, data-data, dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk
menggambarkan secara matematis suatu obyek atau peristiwa;
d. suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan realitas
yang disederhanakan;
e. suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner; dan
f. penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya
Jadi model pembelajaran dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak terjadi secara
kebetulan, melainkan didesain sedemikian rupa agar pelaksanaan proses pembelajaran
terstruktur, sistematis, dan mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik sesuai
dengan situasi dan kebutuhan, serta tujuan tertentu. Sebagai desain pelaksanaan proses
pembelajaran, model pembelajaran meskenariokan strategi dan metode pembelajaran sesuai
pendekatan yang digunakan. Penggunaan strategi, media dan pendekatan yang digunakan
untuk pembelajaran akan memberi label dari model pembelajaran tersebut.
Berkenaan dengan model pembelajaran ini, masing-masing ahli ada perbedaan
pendapat, berbeda penekanannya, maka model pembelajarannya juga mengalami
perbedaan. Walaupun nampak juga persamaan-persamaan dalam model mereka. Beberapa
model yang ditawarkan oleh para ahli, misalnya model desain sistem instruksional dari
Banathy yang mengandung enam unsur yaitu: 1) perumusan tujuan, 2) mengembangkan tes,
3) menganalisis kegiatan belajar mengajar, 4) menyusun pola system, 5) melasksanakan test
output, dan 6) merubah untuk memperbaiki.
Model disain pembelajaran dari vermon S. Gerlach, Donal F. Ely yang mengandung
sepuluh unsur, yaitu: 1) pengkhususan tujuan pengajaran, 2) menyeleksi isi pelajaran, 3)
mengakses kemampuan dasar murid, 4) strategi yang akan dilaksanakan, 5)
mengorganisasikan murid ke dalam kelompok-kelompok, 6) alokasi waktu, 7) alokasi unit
tempat-tempat belajar, 8) menyeleksi sumber-sumber belajar yang tepat, 9) mengevaluasi
penampilan guru dan siswa dan , 1) suatu analisis bahan umpan balik oleh guru dan murid.
Masih banyak model desain sistem instruksional dari ahli sepertinya: Model
Kaufman, Model Jerrald E. Kempt, Model Malcoln Skilbeck, Model Hilda Taba, dan Model
PPSI yang diperkenalkan pada kurikulum 1975/1976 dan masih berlaku dalam kurikulum
1984. Model PPSI ini, dengan prosedur pengembangan seperti gambar: 2.1
Selain itu, masih banyak model pembelajaran dengan pengutamaan tertentu,
misalnya: Model pembelajaran behavioral yang terdiri dari model belajar tuntas (masteri
learning), belajar kontrol diri sendiri, dan simulasi; Model pembelajaran alam sekitar, Model
pemrosesan informasi, Model pembelajaran sekolah kerja, model pembelajaran pemecahan
masalah sosial, model pengembangan kepribadian individu, dan model pembelajaran
80 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Portofolio. Namun yang diuraikan di sini adalah model pembelajaran yang bersifat inovatif
dan partisipatif, yang dapat diterapkan pada bidang studi IPS, sepertinya: model
pembelajaran contextual teaching and learning (CTL), model pembelajaran berdasarkan
masalah sosial atau problem based instruction (PBI), model pembelajaran kreatif dan produktif,
model pembelajaran tematik, model pembelajaran kooperatif, dan Model pembelajaran IPS.
2. Model Pembelajaran CTL
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasimtarget penguasaan materi terbukti berhasil
dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak
memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Pembelajaran CTL adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan
situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat.
Syaiful Sagala (2005:87) dan Masnur Muslich (2007:41) “Pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat
Gambar: 2.1 Prosedur Pengembangan System Instruksional (Model PPSI)
- Merumuskan TIK berdasarkan
TIU, pokok bahasan/sub pokok
bahasan (GBPP)
- TIK harus bersifat operasional,
spesifik tunggal tingkah laku
yang merupakan hasil belajar
(dapat diukur)
- Sesuai dengan tujuan
- Sesuai dengan pokok
bahasan (GBPP)
- Sesuai dengan kegiatan
- Sesuai dengan alokasi
waktu yang tersedia
- Menetapkan metode
- Merumuskan langkah-langkah
kegiatan B-M
- Menetapkan alat, media, dan
sumber bahan
- Menetapkan alokasi waktu
pelaksanaannya
- Menyusun item-item test dari
TIK
- Bentuk items harus sesuai
dengan tingkah laku yang
dilukiskan dalam TIK:
objective test, essay test,
performance test, attitude test
- Menetapkan Jenis kegiatan atau
B-M yang perlu ditempuh;
yang tidak perlu ditempuh
- Mengadakan pra-test
- Menyampaikan materi pelajaran
- Mengadakan post test
- Balikan (perbaikan pelajaran)
MENETAPKAN KEGIATAN
BELAJAR MENGAJAR
Langkah I Langkah IV
Langkah II Langkah V
Langkah III Langkah VI
PERUMUSAN TUJUAN
INSTRUKSIONAL MEMILIH MATERI
MENGEMBANGKAN ALAT
EVALUASI
MERENCANAKAN PROGRAM
KEGIATAN
MELAKSANAKAN PROGRAM
BELAJAR MENGAJAR
Umpan
balik
81 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari.
Jadi, landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang
menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau
membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang
mereka alami dalam kehidupannya.
Banyak padanan istilah yang visi dan misinya hampir sama dengan CTL, yaitu:
experiencial learning
real world education
active learning
learner centered instruction
learning-in-context
Untuk memahami secara mendalam, kata-kata kunci (keywords) yang dapat dipakai
sebagai pengingat bagi guru ketika melaksanakan pembelajaran berbasis CTL, yaitu:
a. Belajar pada hakikatnya real world learning
b. Mengutamakan pengalaman nyata
c. Berpikir tingkat tinggi
d. Berpusat pada siswa
e. Siswa aktif, kritis, dan kreatif
f. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
g. Dekat dengan kehidupan nyata
h. Perubahan tingkah laku
i. Siswa praktek bukan menghafal
j. Learning bukan teaching
k. Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction)
l. Pembentukan manusia
m. Memecahkan masalah
John A. Zahorik dalam Masnur Muslich (2007:52) mengemukakan ada lima elemen
yang harus diperhatikan dalam pembelajaran CTL, yaitu:
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge),
b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara
keseluruhan dulu, kemudian memerhatikan detailnya
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun: 1)
konsep sementara, (hipotesis), 2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat
tanggapan (validasi), dan atas dasar tanggapan itu 3) konsep tersebut direvisi dan
dikembangkan
d. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan
tersebut.
Di dalam melakukan pembelajaran CTL dengan melibatkan tujuh komponen utama,
yaitu:
a. Konstruktivisme (Constructivism)
b. Bertanya (Questioning)
c. Menemukan (Inquiry)
d. Masyarakat belajar (Learning Community)
e. Pemodelan (Modeling)
f. Refleksi (Reflection)
g. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
82 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Prosedur, strategi, dan metode yang digunakan dalam pembelajaran CTL secara
konstruktivisme, dideskripsikan secara visualisasi seperti gambar 2.2, 2.3, dan 2.4
Gambar 2. 2 Prosedur Pembelajaran Model Konstruktivisme
(Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:45)
Orientasi
Penggalian ide
Aplikasi
ide Reviu perubahan
ide
Membandingkan
dengan ide
sebelumnya
Restrukturisasi ide
Klarifiasi dan
pertukaran
Ekspose pada
situasi konflik
Konstruksi
ide baru
Evaluasi
Driver dalam Fraser dan Walberg, 1995
83 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Gambar 2.3 Strategi yang digunakan dalam Pembelajaran Konstruktivisme
(Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:48)
8/14/2010
Pemb. Pendahuluan:
Klasikal
Orientasi
Penggalian ide
Pemb. Inti: Klasikal
Restrukturisasi Ide:
Klarifikasi dan pertukaran ide;
Ekspose pada situasi konflik;
Konstruksi ide baru; Evaluasi
Pemb. Inti: Kel,
Individual
Restrukturisasi
Ide:
Klarifikasi dan pertukaran
ide; Ekspose
pada
situasi konflik;
Konstruksi
ide baru; Evaluasi
Aplikasi ide
Tugas Terstruktur: Kel,
Individual, Tutorial
Restrukturisasi Ide
Aplikasi ide
Tugas Mandiri: Kel.
Individual,
Restrukturisasi Ide
Aplikasi ide
Tatap Muka
Non Tatap Muka
Pemb. Penutup: Klasikal
• Review perubahan ide
84 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Pemb. Pendahuluan: Klasikal
Pemb. kelompok besar
Demonstrasi, diskusi kelas
Pemb. Inti: Klasikal
Pemb. kelompok besar
Demonstrasi, diskusi kelas
Pemb. Penutup: Klasikal
• Pembelajaran kelompok besar
Pemb. Inti: Kel, Individual
“Sindikat”
Pemb. kelompok kecil
Triad
Praktikum
Seminar
Penugasan
Tugas Terstruktur:
Kelompok, Individual
Penugasan
Tutorial, responsi
Tugas Mandiri: Kelompok,
Individual

• Browsing internet
Proyek, praktikum
Non Tatap Muka
Tatap Muka
Gambar 2.4 Metode yang dipakai dalam Pembelajaran Konstruktivisme
(Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:49)
3. Model Pembelajaran Keterampilan Pemecahan Masalah Sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat individu merupakan ”aktor sosial”.
Salah satu kemampuan yang dituntut untuk menjadi seorang aktor
sosial yang baik adalah mengambil putusan secara nalar atau well
informed and reasoned decision making (Banks dalam Direktorat
ketenagaan Ditjen Dikti, 2007:121).
Kemampuan tersebut akan tercermin melalui proses pembelajaran yang memungkinkan
individu terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan pemecahan masalah sosial baik secara
individu maupun kelompok. Karena itu kemampuan pemecahan masalah sosial diperlukan.
85 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
a. manusia sebagai mahluk sosial (homo sapiens)
b. kecerdasan berkembang secara individual dalam konteks sosial budaya
c. rasa ingin tahu (curiousity) sebagai bagian dari proses kecerdasan
d. kemampuan memecahkan masalah merupakan sarana berpikir kritis-reflektif
Selanjutnya, pembelajaran keterampilan pemecahan masalah sosial ini diperlukan:
a. kebutuhan individu sebagai akator sosial
b. kemampuan membuat putusan sebagai atribut personal aktor sosial
c. partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan publik sebagai bentuk kontribusi aktor
sosial terhadap masyarakat
d. demokratis, cerdas dan bertanggungjawab sebagai watak aktor sosial
Adapun sarana pengembangan kemampuan pemecahan sosial, yaitu:
a. akses terhadap media massa
b. studi pustaka
c. berdialog dengan nara sumber
d. pertemuan sosial, dan
e. partisipasi sosial
Materi
Materi pokok yang cocok untuk dijadikan fokus pembelajaran model, adalah:
a. Masalah-masalah sosial, politik, yuridis, ideologis, dan lain-lain yang ada dalam
masyarakat sekitar.
b. Strategi komunikasi untuk mempengaruhi pejabat terkait
c. Pemecaham masalah yang mencerminkan konsep dan prinsip demokratis
d. Hubungan fungsional masalah dengan kebijakan publik
Strategi Pembelajaran
Model pembelajaran ini menerapkan pendekatan fungsional (functional approach) atau
pendekatan berbasis masalah (problem based approach) dengan strategi instruksional yang
digunakan pada dasarnya bertolak dari esensi strategi inquiry, discovery, problem solving, dan
research-oriented yang dikemas dalam model ”proyect” dengan menggunakan multi metode
dan aneka media dan sumber. Sebagai multi metode, pembelajaran dilakukan secara
kombinasi: presntasi dosen, diskusi umum, diskusi kelompok, survei lapangan, studi
kepustakaan, workshop, dan simulasi dengar pendapat (simulated-shearing). Sebagai aneka
media dan sumber seperti: media cetakan, media terekam, media tersiar, dan nara sumber
(pakar, praktisi, manusia kunci, pelaku sejarah)
Untuk kepentingan perekaman proses belajar dan pengemasan hasil belajar
dikembangkan portofolio pembelajaran secara terpadu atau pengalaman belajar yang
terpadu dialami oleh siswa dalam melakanakan tugas-tugas beelajarnya.
Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah
a. mengidentifikasi masalah kebijakan publik dalam masyarakat
b. memilih suatu masalah untuk dikaji oleh kelas
c. mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah itu
d. mengembangkan fortofolio kelas
e. menyajikan portofolio
f. melakukan refleksi pengalaman belajar.
86 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Penerapan dalam Lingkungan Persekolahan
Evaluasi
Hasil Belajar
a. Kepekaan dan ketanggapan terhadap masalah kebijakan publik dan implikasinya
b. Keterampilan merumuskan alternatif kebijakan
c. Melaksanakan proses demokrasi
d. Kemampuan bernalar dan rasa tanggung jawab
e. Keterampilan mensosialisasikan usulan kebijakan
86
Tatap Muka
Mandiri
Pendahuluan: Klasikal
Orientasi
Penggalian ide
Inti: Klasikal
IDENTIFIKASI MASALAH MELALUI
CURAH PENDAPAT, DISKUSI KLP KECIL
Penutup: Klasikal
Review dan refleksi
Inti: Klasikal
PEMILIHAN MASALAH MELALUI
VARIASI DISKUSI KELOMPOK,
SIMULASI, GAMES
Penyajian Portofolio
Dalam Simulasi Dengar
Pendapat
Tugas Mandiri Individual,
Kelompok:
Pengembangan Portofolio
Kelas
Tugas Terstruktur
Individual, Kelompok:
Pengumpulan data
Model pembelajaran ini menggunakan evaluasi
melalui unjuk kerja, portofolio, dan kebijakan
baik secara individu maupun dengan kelompok
87 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
4. Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan
mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pendekatan tersebut antara lain: belajar aktif,
kreatif, konstruktif, serta kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap
pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang
memungkinkan peserta didik menegembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk
yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji. Beberapa
karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keterlibatan peserta didik secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran
b. Peserta didik didorong untuk menemukan/mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang
dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi,
diskusi, atau percobaan
c. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanggungjawab menyelesaikan
tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan
rekreasi.
d. Untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras berdedikasi tinggi, antusias, serta
percaya diri
Tujuan (Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring). Dampak Instruksional yang
dapat dicapai melalui model pembelajaran ini antara lain:
a. pemahaman terhadap suatu nilai, konsep, atau masalah tertentu
b. kemampuan menerapkan konsep/memecahkan masalah, serta
c. kemampuan mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.
Dari segi dampak pengiring (nurturant effects), melalui model pembelajaran kreatif dan
produktif diharapkan dapat dibentuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bertanggung
jawab, serta bekerja sama; yang semuanya merupakan tujuan pembelajaran jangka panjang.
Tentu saja dampak pengiring hanya mungkin terbentuk, jika kesempatan untuk
mencapai/menghayati berbagai kemampuan tersebut memang benar-benar disediakan
secara memadai. Hal itu akan tercapai, jia model pembelajaran ini diterapkan secara benar
dan memadai.
Materi yang sesuai disajikan dengan model kreatif dan produktif merupakan materi
yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep, atau masalah aktual di
masyarakat; serta keterampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya
nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti masalah sosial ekonomi
dari bidang studi IPS, masalah kehidupan demokrasi dari Pendidikan Kewarganegaraan,
masalah apresiasi sastra dari Bahasa Indodnesia, atau masalah polusi dari IPA
Mengenai prosedur pembelajaran kreatif dan produktif dapat dibagi menjadi empat
langkah, yaitu orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi. Setiap langkah dapat
dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen, dengan berpegang pada hakikat setiap langkah,
sebagai berikut.
Orientasi
Seperti halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan orientasi untuk
mengkomunikasikan garis besar tugas (termasuk tujuan, materi, kegiatan) dan penilaian
yang akan diterapkan, serta terciptanya kesepakatan antara dosen dan mahasiswa dalam
mengimplementasikannya.
88 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Eksplorasi
Pada tahap ini, dilakukan dengan berbagai cara seperti mencari dan membaca buku
sumber, melakukan observasi, wawancara, percobaan dan sebagainya. Kegiatan ini dapat
dilakukan secara individu mapun kelompok sesuai kesepakatan pada orientasi. Waktunya
disesuaikan dengan luasnya bidang yang harus dieksplorasi, jika memerlukan waktu lama
dikerjakan di luar jam tatap muka (kuliah). Agar dapat lebih terarah sebaiknya ada panduan
yang memuat tentang tujuan, materi, waktu, cara kerja, dan hasil akhir yang diharapkan.
Interpretasi
Tahap interpretasi, hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi,
tanya jawab, kemudian dirumuskan konsepnya dan disajikan pemahamannya di dapan
kelas dan ditanggapi oleh mahasiswa dan dosen
Re-Kreasi
Pada tahap re-kreasi, dibuat suatu simpulan sebagai hasil ciptaan dari pemahaman
terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Re-kreasi
dapat dilakukan secara individu atau kelompok sesuai pilihannya masing-masing. Hasil
rekreasi
merupakan produk kreatif yang dapat ditampilkan, dipresentasikan,
dipajang/dipamerkan/dipublikasikan, atau ditindaklanjuti
Evaluasi belajar dilakukan selama proses pembelajaran dan pada akhir pelajaran.
Evaluasi selama proses pembelajaran dilakukan secara observasi mengenai sikap,
kemampuan berpikir, dan bekerja sama. Evaluasi pada akhir pelajaran dilakukan secara test
pemahaman konsep sebagai hasil dari eksplorasi dan interpretasi, juga dengan produk
kreatif yang dihasilkan.
Model pembelajaran kreatif dan produktif tidak terlepas dari kelemahan di samping
kekuatan yang dimilikinya. Kelemahan tersebut terkait pada masalah kesediaan guru
berubah dari kebiasaan pembelajaran secara tradisional, membutuhkan waktu yang cukup
panjang dan diburuh target penyelesaian materi yang relatif banyak.dan kelas yang besar.
Terlepas dari kelemahannya, model pembelajaran kreatif dan produktif mempunyai
kekuatan, yaitu adanya keterlibatan secara optimal peserta didik dalam belajar dan
terbentuknya dampak pengiring berpikir kreatif, bekerja sama, berdisiplin, bertanggung
jawab, dll.
Pembelajaran kreatif dan produktif secara visualisasi seperti gambar: 2.5
Gambar: 2.5 Visualisasi Pembelajaran Kreatif Produktif
(Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti, 2007:111)
89 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
5. Model PembelajaranTematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema
tertentu. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan tema adalah pokok pikiran;
dasar cerita atau gagasan pokok mengenai yang dipercakapkan. (1996:p.1029). Oleh karena
itu siswa, dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan
sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang telah dipahaminya.
Dalam aplikasinya, pembelajaran tematik itu berkaitan dengan berbagai masalah
atau mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta
didik. Sebagai contoh: pengembangan materi IPS terpadu dari konsep ekonomi “Pasar”
dapat dikembangkan dengan lebih luas lagi secara multi disipliner, yaitu digeneralisasi
dengan dikaitkan pada disiplin ilmu geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik,
psikologi, ilmu budaya, dan ilmu pengetahuan alam.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi pendidik/guru, antara lain sebagai berikut:
1) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik
dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
2) Hubungan antara mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami
3) Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kentinyu, tidak terbatas
pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan dinding kelas. Guru dapat membantu
peserta didik memperluas kesempatan belajar ke berrbagai aspek kehidupan
4) Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut
pandang.
5) Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan pada kompetensi bisa
dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi
Keuntungan pembelajaran tematik bagi peserta didik/siswa antara lain sebagai
berikut:
1) Siswa mudah memusatkanperhatian pada suatu tema tertentu;
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi
dasar antarmata pelajaran dalam tema yang sama
3) Pemahaman terhadapmateri pelajaran lebih mendalam dan berkesan
4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkanm mata pelajaran
lain dengan pengalaman pribadi siswa
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan
dalampelajaran sekaligus mat konteks tema yang jelas
6) Siswa mampou lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,
untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus
mempelajari mata pelajaran lain.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses
belajar secara aktif dan berorientasi pada konsep belajar sambil melakukan (learning by
doing). Oleh karena itu, pembelajaran tematik memiliki ciri khas, antara lain:
1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan
kebutuhan anak usia sekolah dasar
2) Kegitan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari
minat dan kebutuhan peserta didik
3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil
belajar dapat bertahan lebih lama;
4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik;
90 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang
sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya;
6) Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerja sama, toleransi,
komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain
Dengan pelaksanaan pembelajaran tematik, akan diperoleh manfaat sebagai berikut:
1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata
pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi
bahkan dihilangkan.
2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi
peembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir;
3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan mendapat pengertian mengenai
proses dan materi yang tidak terpecah-pecah
4) Dengan adanya pemaduan antarmata pelajaran maka penguatan konsep akan semakin
baik dan meningkat.
a. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah, pembelajaran tematik memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1) Berpusat pada peserta didik (siswa)
2) Memberikan pengalaman langsung
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
4) Menyajikan konsep dari berbagai disiplin ilmu (multidisipliner)
5) Bersifat fleksibel
6) Hasil pelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik
7) Menggunakan prinsip belajar sambil melakukan (learning by doing)
b. Cara Merancang Pembelajaran Tematik IPS
Pembelajaran tematik memerlukan perencanaan dan pengorganisasian.
Agar dapat berhasil dengan baik. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam merancang
pembelajaran tematik IPS, yaitu: (1) memilih tema IPS, (2) mengorganisasikan tema IPS, (3)
mengumpulkan bahan dan sumber yang berkaitan dengan tema, (4) merancang kegiatan
dan proyek, dan (5) mengimplementasikan satuan pelajaran.
Memilih Tema
Topik untuk pembelajaran tematik IPS dapat berasal dari beberapa sumber,
diantaranya:
a) Topik-topik dalam kurikulum
b) Isu-isu masyarakat
c) Masalah-masalah sosial
d) Event-event khusus dalam
e) Minat peserta didik
f) Literatur
91 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Mengorganisasi Tema
Pengorganisasian tema IPS dilakukan dengan menggunakan jaringan topik web
seperti contoh gambar 2.6
Gambar: 2.6 Pengorganisasian Tema Secara Topik Web
Dengan topik web kita dapat mengembangkan bahan secara multi disipliner, yaitu:
bahan yang bertemakan konsep atau generalisasi dari suatu disiplin ilmu tertentu (pasar –
sebagai konsep ekonomi), sedangkan disiplin-disiplin ilmu lainnya bersifat mendukung
(sosiologi, antropologi, sejarah, geografi, psikologi, politik, ilmu budaya dasar, dan IPA). Di
samping itu dapat pula mengembangkan bahan-bahan problematik yang saling berkaitan
sehingga materi akan lebih komprehensip dan sistimatis.
Mengumpulkan Bahan dan Sumber
Pembelajaran tematik berbeda dengan pembelajaran berdasarkan buku paket tidak
hanya dalam mendesain, melainkan juga berbagai bahan yang digunakan. Inilah beberapa
sumber:
a) Sumber-sumber yang tercetak
b) Sumber-sumber visual
c) Sumber-sumber literatur
d) Artrifac
Mendesain Kegiatan dan Proyek
Beberapa saran, diantaranya:
a) Integrasikan bahasa-membaca, menulis, berbicara, dan mendengar
b) Hendaknya bersifat holistik
c) Tekankan pada pendekatan ”hands-on, minds-on”
d) Sifatnya lintas kurikulum
Konsep
Ekonomi
(Pasar)
Geografi
Sejarah IPA
Politik Sosiologi
Antropologi Psikologi
Ilmu Budaya
Budaya
92 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik
Dalam Beberapa kemungkinan implementasi:
a) Lakukan pembelajaran tematik sepanjang hari, untuk beberapa hari
b) Lakukan pembelajaran tematik selama setengah hari untuk beberapa hari
c) Gunakan pembelajaran tematik untuk satu atau dua mata pelajaran
d) Gunakan pembelajaran tematik untuk beberapa mata pelajaran
e) Gunakan pembelajaran tematik untuk kegiatan lanjutan
6. Model Pembelajaran Kooperatif
Cooverative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan
bersama. Dalam kegiatan kooperatif, peserta didik secara individual mencari hasil yang
menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif
terdapat saling ketergantungan positif di antara peserta didik untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses.
Kegiatan belajar berpusat pada peserta didik dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas
bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui
interaksi belajar yang efektif peserta didik termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan
strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model
pembelajaran kooperatif memungkinkan semua peserta didik dapat menguasai materi pada
tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.
Ciri-ciri model pembelajaran koperatif adalah:
a. belajar bersama secara aktif dengan teman
b. selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman,
c. saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok,
d. belajar dari teman sendiri dalam kelompok
e. belajar dalam kelompok kecil, (sebaiknya 3 – 6 orang)
f. produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat,
g. keputusan tergantung pada peserta didik sendiri,
h. berbagi kepemimpinan dan tanggung jawab
i. membentuk keterampilan sosial
Dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif di dalam kelas, ada beberapa
konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh pendidik. Konsep dasar
tersebut, yaitu:
a. Perumusan tujuan belajar harus jelas
b. Penerimaan secara menyeluruh oleh peserta didik tentang tujuan belajar
c. Ketergantungan yang bersifat posistif
d. Interaksi yang bersifat terbuka
e. Tanggung jawab individu
f. Kelompok bersifat heterogen
g. Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
h. Tindak lanjut
i. Kepuasan dalam belajar
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga
tujuan pembelajaran penting, yaitu:
a. hasil belajar akademik
b. penerimaan keragaman
c. pengembangan keterampilan sosial
93 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Mengenai prosedur pembelajaran kooperatif dapat ditempuh dalam empat langkah,
yaitu: orientasi, bekerja kelompok, kuis, dan pemberian penghargaan. Setiap langkah dapat
dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen, dengan berpegang pada hakikat setiap langkah,
sebagai berikut:
Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran , kegiatan diawali dengan orientasi
untuk memahami dan menyepakati bersama tentang apa yang akan dipelajari serta
bagaimana strategi pembelajarannya. Dosen/guru mengkomunikasikan tujuan, materi,
waktu, langkah-langkah serta hasil akhir yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa/siswa,
serta sistem penilaiannya. Pada langkah ini terjadi negosiasi dalam rangka memperoleh
kesepakatan dalam implementasinya.
Kerja Kelompok
Pada tahap ini, dilakukan kerja kelompok sebagai inti kegiatan pembelajaran. Kerja
kelompok dapat dalam bentuk kegiatan memecahkan masalah, atau memahami dan
menerapkan suatu konsep yang dipelajari. Kerja kelompok dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti berdiskusi, melakukan eksplorasi, observasi, percoban, browsing lewat
internet, dan sebagainya. Waktu untuk bekerja kelompok disesuaikan dengan luas dan
dalamnya materi yang harus dikerjakan. Kegiatan yang memerlukan waktu lama dapat
dilakukan di luar jam pelajaran, sedangkan kegiatan yang memerlukan sedikit waktu dapat
dilakukan pada jam pelajaran
Agar kegiatan kelompok lebih terarah, perlu diberikan panduan singkat sebagai
pedoman kegiatan yang memuat tentang tujuan, materi, waktu, cara kerja, dan hasil akhir
yang diharapkan untuk dicapai. Pada saat kerja kelompok, dosen/guru berperan sebagai
fasilitator, dinamisator bagi masing-masing kelompok dengan cara memantau terhadap
pelaksanaan kegiatan kelompok, mengarahkan keterampilan kerja sama, dan memberikan
bantuan pada saat diperlukan.
Tes/Kuis
Pada akhir kegiatan kelompok diharapkan semua mahasisw/siswa telah mampu
memahami konsep/topik/masalah yang sudah dikaji bersama. Kemudian masing-masing
mahasiswa/siswa menjawab tes atau kuis untuk mengetahui pemahaman merek terhadap
konsep/topik/masalah yang dikaji. Penilaian individu ini mencakup penguasaan ranah
kogitif, afektif , dan keterampilan. Misalnya, bagaimana melakukan analisis pembelajaran?
Mengapa perlu melakukan analisis pembelajaran sebelum mengembangkan media?
Mahasiswa/siswa dapat juga diminta membuat prototype media tepatguna yang memiliki
tingkat interaktif tinggi dalam pembelajaran, dsb.
Penghargaan Kelompok
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berhasil memperoleh kenaikan skor dalam tes individu. Kenaikan skor dihitung dari selisih
antara skor dasar dengan sekor tes individu. Menghitung skor yang didapat masing-masing
kelompok dengan cara menjumlahkan skor yang didapat di dalam kelompok tersebut
kemudian dihitung rata-ratanya. Selanjutnya berdasarkan skor rata-rata tersebut ditentukan
penghargaan masing-masing kelompok. Misalnya, bagi kelompok yang mendapat rata-rata
kenaikan skor sampai denga 15 mendapat penghargaan sebagai ”good team”. Keanaikan skor
lebih dari 15 hinga 20 mendapat penghargaan ”great team”. Sedangkan kenaikan skor lebih
dari 20 sampai 30 mendapat penghargaan sebagai ”super team”.
Anggota kelompok pada priode tertentu dapat diputar, sehingga dalam satu satuan
waktu pembelajaran anggota kelompok dapat diputar 2–3 kali putaran. Hal ini
94 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
dimaksudkan untuk meningkatkan dinamika kelompok di antara anggota kelompok dalam
kelompok tersebut
Di akhir tatap muka, dosen/guru memberikan kesimpulan terhadap materi yang lebih
dibahas pada pertemuan itu, sehingga terdapat kesamaan pemahaman pada semua
mahasiswa.
Model pembelajaran kooperatif secara visualisasi seperti gambar: 2.
Gambar: 2. Visualisasi Pembelajaran Kooperatif
(Direktorat Ketenagaan Ditjen Dikti, 2007 – power point)
7. Model Pembelajaran IPS
Model-model pembelajaran yang telah disebutkan terdahulu dapat digunakan dalam
bidang studi IPS, hanya saja dengan penekanan tertentu sesuai dengan karakteristik bidang
studi IPS. Dalam kurikulum sekolah, IPS termasuk dalam kelompok program pendidikan
akademik, memiliki sifat yang berbeda dengan bidang pelajaran yang bersifat akademik
lainnya, seperti matematika, IPA, dan Bahasa. Karena itu, uraian berikut ini merupakan hal
yang perlu mendapat perhatian dalam skenario model pembelajaran IPS.
Sudah disebutkan terdahulu bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan tentang manusia
dalam lingkungan hidupnya, yaitu mempelajari kegiatan hidup manusia dalam kelompok
yang disebut masyarakat dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu sosial, sepertinya:
sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, psikologi sosial, dan sebagainya, bahkan
pada humaniora dan juga ilmu kealaman. Karena itu IPS adalah bidang studi yang
merupakan paduan (fusi) dari sejumlah mata pelajaran ilmu sosial, humaniora, dan ilmu
kealaman.
Sebagai program dalam kurikulum sekolah dikenal dua pendekatan, yaitu
pendekatan integrated dan pendekatan subject matter masing-msing cabang ilmu sosial (SD
dan SMP integrated, SMA subject matter yaitu: sosiologi antropologi budaya, geografi dan
kependudukan, ekonomi dan akuntansi, dan sejarah)
Program pengajaran IPS mengembang dua fungsi utama, yaitu:
a. membina pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang bermanfaat bagi
perkembangan dan kelanjutan pendidikan selanjutnya
b. Membina sikap-sikap yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945
Tujuan program pengajaran IPS meliputi 3 aspek yaitu:
a. penyampaian pengetahuan dan pengertian
b. pembentukan nilai dan sikap
c. melatih keterampilan
95 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Bentuk pengajarannya berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi menurut
IPS yang penting untuk dapat memahami dan memecahkan masalah-masalah sosial.
Misalnya di dalam geografi siswa perlu memahami sebab akibat erosi. Dalam ekonomi
mengenal hubungan antara penawaran dan permintaan, dalam sejarah anak didik mengenal
tentang pertanda-pertanda zaman dan sebagainya.
Sesuai dengan bentuk dan sifat program pengajaran IPS yang multi dimensional,
maka para guru IPS diharuskan berfikir lebih jauh dalam pengembangan program
pembelajarannya. Secara teoritik, penerapan asas-asas di atas akan melahirkan
a. Proses pembelajaran IPS yang manusiawi dan demokratis
b. Prinsip dan teknik pengembangan materi IPS secara terintegrasi
c. Penggunaan metode mengajar secara bervariasi
d. Mengajar secara tim (team teching)
Sumber-sumber materi pengajaran IPS ada tiga, yaitu:
a. teori keilmuan (ilmu-ilmu sosial, humaniora, filsafat, pendidikan, dan juga ilmu-ilmu
kealaman)
b. masyarakat, dan
c. pribadi anak didik
Prinsip penyusunan materi pengajaran IPS seharusnya mempertimbangkan hal-hal
berikut:
a. kemanfaatan
b. kesesuaian
c. ketepatan,
d. sikon masyarakat, dan
e. kemampuan guru
Pola pengorganisasian materi ada beberapa kemungkinan, yaitu:
a. Pola pengorganisasian terpisah (separated)
b. Pola pengorganisasian yang meluas (broadfild) dengan cara: korelasi, integrasi, fusi atau
unifikasi – kompetensi profesional pengembangan IPS
c. Pola pengorganisasian lintas rumpun ilmu, misalnya ilmu kealaman, humaniora, agama,
pendidikan dan sebagainya.
Secara visualisasi dapat dilihat gambar berikut ini:
96 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
97 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
B. PELATIHAN (TUGAS)
2. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian kedua), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Kemukakan arti pentingnya model pembelajaran!
Jawaban:
Arti model pembelajaran:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Pentingnya model pembelajaran:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
b. Skenario model pembelajaran diimplementasikan dalam proses pembelajaran dengan
langkah-langkah kegiatan. Pilih salah satu model untuk pembelajaran IPS dan susun
landasan teori dan langkah-langkah pembelajarannya!
Jawaban:
Nama model : ...............................................................................................................
Landasan teori: ...............................................................................................................
Langkah-langkahnya: .....................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
98 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
c. Kemukakan hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam skenario model pembelajaran
IPS!
Jawaban:
Bentuk dan sifat program materialnya:.........................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
Aplikasinya dalam proses pembelajaran: ......................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
Pengembangan materinya:..............................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
d. Model pembelajaran IPS di SD dan SMP berbeda dengan di SMA. Deskripsikan letak
perbedaannya!
Jawaban:
Pendekatannya di SD dan SMP ...................................................................................
.....................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Pendekatannya di SMA ................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Pengembangan materi IPS di SD dan SMP ................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Pengembangan materi IPS di SMA ..............................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
e. Kemukakan relevansinya pengorganisasian tematik IPS dengan pola topik web dan
contohnya!
Jawaban:
Pengorganisasian tematik ...............................................................................................
.......................................................................................................................................
Kebaikan pola topik web ...............................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
Contoh pola topik web
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
99 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
3. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang berikut ini
1) Untuk apa model-model pembelajaran itu dilakukan?
2) Kemukakan model pembelajaran yang tergolong inovatif dan partisipatif dengan
alasannya!
3) Hampir semua model pembelajaran dapat digunakan untuk pembelajaran IPS.
Bagaimana model pembelajaran IPS dilakukan?
4) Pilih pokok bahasan dalam kurikulum Anda.Identifikasi konsep-konsep dari berbagai
disiplin ilmu yang relevan dengan menggunakan jaringan topik web!
100 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Pola Evaluasi
Multi Evaluasi
Sifat IPS
Multi Dimensional
& Sumber
Pola Metodologis
Multi Metode &
Media serta CBSA
POKOK BAHASAN KETIGA
STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN IPS
A. URAIAN
1. Pengertian
Dalam menggunakan model mengajar sudah barang tentu guru yang tidak mengenal
strategi dan metode pembelajaran jangan diharap bisa melaksanakan proses belajar
mengajar dengan sebaik-baiknya. Untuk mendorong keberhasilan guru dalam proses belajar
mengajar, berikut ini disajikan strategi dan metode mengajar yang mungkin dapat
dilaksanakan oleh guru IPS
Strategi belajar mengajar adalah pola umum kegiatan belajar mengajar (transaksi
pengajaran) yang seyogyanya terjadi di kelas – pada saat pembelajaran. Juga adalah garis
besar rancangan kegiatan guru – siswa dalam melakukan pencapaian tujuan instruksional.
Metode mengajar atau metodik berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan tertentu. Metodologi adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk
melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan
peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses
belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
Jadi, strategi lebih luas dari metode, artinya dalam strategi belajar mengajar
menggunakan berbagai metode.
Penentuan strategi pembelajaran ini sangat penting, karena akan menentukan:
a. pola interaksi/kegiatan belajar mengajar
b. tahap-tahap pencapaian tujuan pengajaran dan bahkan juga
c. tingkat dan kadar serta jenis hasil belajar mengajar.
Sebagai rambu-rambu, faktor penentu strategi pembelajaran antara lain:
a. tujuan yang harus dicapai,
b. sifat dan jumlah materi pelajaran,
c. keadaan dan kemampuan siswa,
d. keadaan dan kemampuan sekolah/kelas,
e. keadaan dan kemampuan guru/dosen,
f. situasi dan keadaan, dan
g. faktor lain yang tidak terduga.
Adapun prinsip pokok yang harus terserap dalam pembelajaran IPS apapun bentuk
strategi dan mtodenya, adalah:
a. keharusan penggunaan asas multi metode
b. keharusan penggunaan asas multi media
c. keharusan asas multi evaluasi
d. keharusan penggunaan asas CBSA berkadar tinggi.
Bahwa semua asas itu harus dianut, konsisten dengan sifat karakteristik IPS yang
multi dimensional dan multi sumber. Secara visualisasi seperti gambar berikut ini.
Gambar: 3.1 Prinsip Pokok Pembelajaran IPS
101 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
2. Penggolongan Strategi Pembelajaran
Gagne dan Briggs, mengelompokkan strategi pembelajaran atas dua jenis, yaitu:
strategi pembelajaran ekspositorik dan strategi pembelajaran heuristic atau hipotetik. Apabila
dikaji berbagai literatur, masih banyak jenis strategi yang dapat diketahui, sepertinya
strategi deduktif yang hampir sama dengan expository, induktif yang hampir sama dengan
inquiry/discopery, strategi belajar tuntas atau maju berkelanjutan (mastery learning), dan
berdasarkan domein tujuan, seperti strategi domein kognitif, strategi domein affektif, dan
strategi domein psikomotor. Namun yang dijelaskan berikut ini hanalah strategi
ekspositorik dan heuristik
a. Strategi Pembelajaran Ekspositorik
Strategi pembelajaran ekspository disebut juga dengan mengajar secara
konvensional, mengajar secara verbal adalah pengajaran yang menyampaikan pesan dalam
keadaan telah siap. Strategi ini, berpandangan bahwa tingkah laku kelas pengajaran dan
distribusi pengetahuan itu dikontrol dan ditentukan oleh guru. Maka hakikat mengajar
menurut pandangan ini adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang
dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan dari guru. Peserta didik
mendengar dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru, sekali-sekali bertanya pada
guru. Jadi, guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan
siswanya yang berperan lebih pasif hanya menerima bahan ajaran yang disampaikan
kepadanya. Dalam interaksi hanya terjadi “komunikasi satu arah atau komunikasi aksi.
Supaya tingkat CBSA menjadi tinggi diperlukan alat bantu/media pembelajaran dan variasi
dengan memberi contoh soal, metode tanya jawab dan sebagainya.
Apabila pembelajaran ekspositori dibuat dalam bentuk bagan seperti gambar: 3.2 dan 3.3
Gambar: 3.2 Ekspositori Ditinjau dari Sudut Guru
Guru bertanya pada
peserta didik
Guru menyampaikan
informasi/bahan pada anak didik
Anak didik menjawab
Ekspository
1 – 2a – 3 - 4
Guru memilih tingkah laku
(tujuan)
1–2-4
(1)
(2a)
(2)
(3)
(4)
Keterangan: Jalur yang ditempuh Atau
102 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
(1)
(2a) (2b) (2b)
(3) (4)
Keterangan: jalur yang ditempuh
Atau
b. Strategi Pembelajaran Heuristik
Strategi pembelajaran heuristik atau hipotetik, pengajaran yang mengharuskan
pengolahan oleh peserta didik sendiri. Dalam strategi pengajaran heuristik meliputi dua
substrategi yaitu Discovery (penemuan) dan inquiry (penyelidikan)
Penemuan, yaitu para peserta didik diharuskan menemukan prinsip atau hubungan
yang sebelumnya tidak diketahuinya yang merupakan akibat dari pengalaman belajarnya
yang telah “diatur” secara cermat dan seksama oleh guru
Penyelidikan, yaitu peserta didik sebagai subjek di samping sebagai objek pengajaran
(belajar). Mereka dilepas bebas untuk menemukan sesuatu melalui proses “asimilasi” yaitu
“memasukkan” hasil pengamatan ke dalam struktur kognitif peserta didik yang telah ada
dan proses “akomodasi” yakni mengadakan perubahan-perubahan atau “penyesuaian”
dalam struktur kognitif yang lama hingga cocok/tepat dan sesuai dengan penomena baru
yang diamati. Apabila pembelajaran inquiry/disecovery dibuat dalam gambar/bagian
seperti gambar: 3.4
Peserta didik bertanya
Guru mengarahkan lagi pertanyaan
pada peserta didik
Guru menjawab pertanyaan
peserta didik
Eksposisi Guru menjawab/memberikan
informasi
1-2-3
1 - 2a - 2b - 3
Gambar: 3.3 Ekspositori Ditinjau dari sudut Kegiatan
Peserta Didik
103 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
(1)
(2)
(3)
(4a) (3a)
(4b)
(5 )
Prinsip pendekatan heuristik oleh Rusyan (1993:115) adalah: (1) aktivitas peserta didik
menjadi fokus perhatian utama dalam belajar, (2) berfikir logis adalah cara yang paling
utama dalam menemukan sesuatu, (3) proses mengetahui dari sesuatu yang sudah diketahui
menuju kepada yang belum diketahui adalah jalan pelajaran yang paling rasional dalam
pelajaran di sekolah, (4) pengalaman yang penuh tujuan adalah tonggak dari usaha
pembelajaran peserta didik kearah belajar berbuiat, bekerja dan berusaha; (5) perkembangan
mental seseorang berlangsung selama ia berpikir dan belajar mandiri. Dengan prinsip ini
menunjukkan bahwa strategi heuristik dapat mendorong peserta didik bersikap berani
untuk berpikir ilmiah dan mengembangkan berpikir mandiri.
Dalam kegiatan belajar mengajar dengan kadar CBSA yang tinggi dan keberhasilan
pencapaian tujuan pengajaran secara manusiawi, melalui operasionalisasi fungsi dan
peranannya sebagai guru inquiry, di mana guru berperan sebagai:
- motivator
- dinamisatorpemberi kejelasan(clarity)
- pendorong semangat (probing)
- penanya yang terarah
- fasilitator yang fungsional
- pemberi hadiah (reward/reinforement)
- manajer kelas/kelompok
- pengarah (directors)
- pengambil putusan yang
- penilai (evaluator), dll
Guru memilih tingkah laku
(tujuan)
Guru bertanya yang dapat memancing
Pendapat peserta didik
Peserta didik mengajukan hipotesis
untuk dikaji/dipelajari lebih lanjut
Individu/kelompok peserta didik
menjelajahi data/informasi
untuk menguji hipotesis
Peserta didik tidak mencari
informasi untuk menguji
hipotesisi
Peserta didik menarik kesimpulan Guru mendorong peserta didik
mencari data/informasi
INQUIRY Peserta didik mengidentifikasi
jawaban/menarik simpulan
Gambar: 3.4 Pembelajaran Inquiry/Discovery
104 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Peran-peran tadi dijalankan baik untuk peserta didik secara individual, kelompok
maupun klasikal serta di dalam maupun di luar kelas/sekolah sepanjang peserta didik
dalam proses interaksi belajar. Dan peran ini akan lebih mantap serta berhasil bila guru
mampu menempatkan dirinya seperti bandul jam yang berayun antara dua kutub yang
berbeda karakteristiknya (lihat gambar). Kapankah bandul ini berayun ke kiri atau ke kana,
antara lain ditentukan oleh keadaan peserta didik itu sendiri, keadaan dan kepatutannya.
100 100
- Otoriter - Demokratis
- Serba tahu/manusia sumber - penanya/inkuiri
- Penentu/pemberi perintah - kawan/motivator/pendorong
Gambar: 3.5 Peran Guru Sebagai Bandul Jam
GURU Sebaiknya
Motivator, fasilitator, evaluator
, dll. Jangan sebaliknya
`?
EKSPOSITORY INQUIRY
? CBSA
Sebaiknya
Interaktif, partisipatif, pengamat,
Tidak pasif atau sebagai penonton
PESERTA DIDIK
Gambar: 3.6 Implementasi strategi dalam Pembelajaran Menggunakan strategi dalam
kegiatan belajar mengajar, seperti tabel 3.1 yang perlu dilengkapi dengan merujuk pada
salah satu model pembelajaran yang dipilih
Guru sebagai Bandul Jam
105 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Tabel 3.1 Strategi dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Ekspository Inquiry/Discovery
Kegiatan Awal Kegiatan Ahir
- Orientasi - Refleksi
…………………………………….. ………………………………………
…………………………………….. ………………………………………
……………………………………. ………………………………………
……………………………………. ……………………………………..
3. Berbagai Strategi Metode Pembelajaran
Metode mengajar, sangat banyak dan beraneka ragam. Setiap metode mempunyai
keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan yang lain. Seperti halnya dengan tidak
ada obat yang mujarab di dunia ini hanyalah mujarab karena cocok penyakitnya. Juga tidak
ada satu pun metode yang dianggap ampuh untuk segala situasi. Suatu metode dapat
dipandang ampuh untuk suatu situasi, namun tidak ampuh untuk situasi lain.
Seringkali terjadi pengajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai metode
secara bervariasi. Dapat pula suatu metode dilaksanakan secara berdiri sendiri. Ini tergantun
kepada pertimbangan didasarkan situasi belajar mengajar yang relevan. Agar dapat
menerapkan suatu metode yang relevan dengan situasi tertentu perlu dipahami keadaan
metode tersebut.
Dari sekian banyak metode mengajar, dalam penggunaannya dapat dikategorikan ke
dalam tiga pendekatan, yaitu:
a. pendekatan kelompok/klasikal
b. pendekatan bermain, dan
c. pendekatan individu
Metode mengajar dengan pendekatan kelompok/klasikal pada umumnya ditujukan
untuk membimbing kelompok atau klasikal dalam belajar. Pendekatan bermain
menunjukkan para peserta didik untuk belajar dengan menghayati, melakoni perasaanperasaan
tertentu dalam suatu keadaan terkontrol melalui latihan/permainan. Pendekatan
bermain ini umumnya dilakukan secara kelompok walaupun juga dapat dilakukan secara
individu. Pendekatan individu memungkinkan setiap anak didik dapat belajar sesuai
dengan bakat, keinginan, dan kemampuan masing-masing individu. Namun demikian,
pendekatan kelompok, bermain pun harus tetap memperhatikan adanya perbedaan individu
pada anak didik. Hal ini tercermin dalam penetapan penggunaan metode secara bervariasi
disesuaikan dengan tujuan dan bahan yang dipelajari
Adapun macam metode mengajar dari ketiga kategori pendekatan tersebut,
dideskripsikan seperti pada gambar: 3.7. Selain itu, jenis ragam metode mengajar dari segi
strategi pembelajaran dideskripsikan dalam tabel 3.2 dan klasifikasi metode mengajar
menurut domain seperti gambar 3.8
106 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Tabel 3.2 Jenis Ragam Metode mengajar dari Segi Strategi
Ekspository Inquiry/Discopery
- Ceramah
- Demonstrasi
- Tanya jawab
- Simulasi/pengamatan dan Percobaan
- Diskusi
- Pemecahan masalah
- Pemberian tugas
- Latihan/drill
COGNITIVE AFFECTIVE PSIKOMOTOR
1. DISKUSI 1. ROLE FLAYING 1. SIMULASI
2. CERAMAH 2. GAMES 2. SOSIODRAMA
3. PARTISIPATORI 3. V C T 3. STUDY PROYEK
4. PROBLEM SOLVING 4. PENGKONDISIAN 4. DEMONSTRASI
5. SEMINAR 5. MODELING 5. LATIHAN
6. DLL. 6. DLL. 6. DLL.
Gambar 3.8 Jenis Ragam Metode Mengajar dari Segi Domain
DOMAIN
Gambar 3.7 Klasifikasi Strategi Metode Pembelajaran
107 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
4. Kriteria Pemilihan Metode Mengajar IPS
Paradigma lama mengajar sebagai usaha mentransfer atau menyampaikan (relay)
sesuatu pengetahuan guru kepada peserta didik sebanyak mungkin, sudah saatnya perlu
ditingkatkan lebih dari itu. Dengan usaha membina, membantu, memotivasi, mendorong
dan memberikan fasilitas kepada peserta didik dalam mencapai keberhasilannya secara
mantap dan wajar. Untuk itu, keharusan penggunaan asas multi metode dalam kegiatan
belajar mengajar. Dalam upaya menentukan jenis ragam metode kearah multi metode
mengajar yang akan digunakan dalam rangka pembelajaran IPS perlu dipertimbangkan halhal
sebagai berikut:
1) tujuan berbagai jenis dan fungsinya
2) Subjek didik yang berbagai tingkat kematangannya/jenjangnya
3) Situasi dalam berbagai keadaan/kondisinya
4) Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya
5) Pribadi guru/calon guru serta kemampuan profesi yang berbeda-beda
Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar 3.8. Aplikasi memilih metode dalam
kegiatan belajar mengajar, seperti matriks 3.3 yang perlu dilengkapi dengan merujuk pada
pendekatan dan domain pembelajaran.
Gambar 3.9 Kriteria Pemilihan Metode Mengajar
METODE SITUASI SUBJEK
DIDIK
TUJUAN
PRIBADI
GURU FASILITAS
108 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Matriks 3.3 Pemilihan Metode Pembelajaran
MATRIK PEMILIHAN METODE
PENDEKATAN
KAWASAN
KELOMPOK BERMAIN INDIVIDU
KOGNITIF CERAMAH ……………… ……………..
………………... ......................... .......................
........................... ......................... .......................
AFEKTIF ......................... ROLE FLAYING ........................
......................... ......................... .......................
......................... ......................... ........................
PSIKOMOTOR .............................. ............................... LATIHAN
.............................. ............................... .......................
.............................. ............................... ........................
B. PELATIHAN
3. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian ketiga), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Apa arti dan pentingnya perancangan strategi pembelajaran!
Jawaban:
Pengertian strategi pembelajaran:
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
Pentingnya perancangan strategi pembelajaran:
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
b. Kemukakan rambu-rambu pembelajaran IPS!
Jawaban:
Rambu-rambu pembelajaran IPS: ..................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
c. Prinsip pokok pembelajaran IPS yaitu Multi metode, multi media dan multi evaluasi.
Deskripsikan pengimplementasiannya dalam pembelajaran
Jawaban:
Implementasi multi metode dalam pembelajaran IPS:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
109 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Implementasi multi media dalam pembelajaran IPS:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Implementasi multi evaluasi IPS:
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
d. Identifikasi metode mengajar yang berkaitan dengan strategi pembelajaran berikut ini!
Strategi Pembelajaran Kawasan/domein Metode Pembelajaran
Ekspository c. .......................................
d. Sikap
e. Keterampilan
Ceramah, demonstrasi
...............................................
...............................................
Inquiry/Discovery 1. .......................................
2. .........................................
3. .........................................
...............................................
...............................................
...............................................
e. Penyempurnaan apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam implementasi strategi
pembelajaran ekspositori dan inquiry sehingga diperoleh strategi yang lebih bermakna.
Jawaban:
Penyempurnaan pemebelajaran ekspository:
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
Penyempurnaan pembelajaran inquiry/discovery:
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
2. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang berikut ini
a. Kemukakan dengan singkat alasan mengapa tidak ada satu pun metode mengajar yang
tepat untuk segala kompetensi/tujuan pembelajaran!
b. Pengisian tabel 3.1 (dalam materi uraian pokok bahasan ketiga) dengan memilih salah
satu model pembelajaran yang akan dirancang.
c. Pengisian Matriks 3.3 (dalam materi uraian pokok bahasan ketiga) dengan mengambil
salah satu pokok bahasan dari GBPP mata kuliah yang diemban.
110 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
POKOK BAHASAN KEEMPAT
PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN IPS
A. URAIAN
1. Media Pembelajaran IPS
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media Pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas.
Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk
menciptakan pengalaman yang dapat membelajarkan peserta didik sehingga pada akhirnya
tercipta suatu lulusan yang berkualitas.
Istilah media berasal dari bahasa Latin, yaitu bentuk jamak dari “medium” yang
secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu
yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Istilah media itu lebih populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada
dasarnya adalah aplikasi komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran
disebut media pembelajaran.
Association for Education and Communication Technologi (AECT) mengartikan
media sebagai segala sesuatu yang dipergunakan orang untuk proses penyaluran informasi.
Sedangkan Nation Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala benda
yang dapat dimanipulasikan dilihat, di dengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen
yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Di samping itu Brown (Modul Akta Mengajar
V-B, Nomor 15, 1982/1983, P.19) mengatakan bahwa media yang digunakan dengan baik
dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas proses instruksional.
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, yang dapat
merangsang pikiran, perasaan, dan kemampuan anak didik sehingga dapat mendorog
terjadinya proses belajar pada dirinya.
Dari uraian di atas dapat ditarik suatu simpulan bahwa media adalah segala sesuatu
yang dapat menyalurkan pesan (massage), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Dan penggunaaan media secara kreatif dapa memungkinkan peserta didik untuk belajar
lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan performens
mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Dewasa ini, kadang membingunkan antara media dan alat praga. Karena pada alat
atau benda yang sama kadang orang menyebutnya sebagai media dan bagi orang yang lain
menyebutnya sebagai alat praga. Untuk mengetahui perbedaan antara media dan alat
praga/alat bantu hanyalah pada fungsinya, bukan pada substansi. Suatu sumber belajar
dikatakan alat praga jika hal tersebut digunakan untuk mempragakan fakta, konsep, prinsip,
atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/konkret, misalnya dengan mengajar
tumbuhan dengan membawa gambar tumbuhan atau benda aslinya tersebut ke kelas.
Sebagai alat bantu jika alat/benda itu digunakan untuk mempermudah tugas mengajar,
fungsinya hanya sebagai alat bantu saja, tidak terkandung pesan/isi/bahan pelajaran.
Dalam pelajaran tentang kuman misalnya, bantuan mikroskop sebagai alat pengajaran
sangat penting. Demikian pula dalam pelajaran menggambar, mistar atau kuas berfungsi
sebagai alat pengajaran yang sering diperlukan. Lain halnya dengan media, yaitu, selalu
mengandung pesan atau isi pelajaran didalamnya, merupakan bagian integral dari seluruh
kegiatan belajar dan ada pembagian tanggung jawab antara guru kelas atau dosen di satu
pihak dan sumber lain di lain fihak. Untuk mengetahui secara jelas perhatikan pola-pola
instruksional pada gambar 4.1
111 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
MEDIA
Pada gambar 4.1 terlihat adanya empat pola pembelajaran, yaitu:
Dalam pola 1 sumber gambaran belajar anak didik atau peserta didik hanyalah berupa orang
saja. Guru kelas atau dosen memegang kendali yang penuh atas terjadinya
kegiatan belajar mengajar
Dalam pola 2 sumber belajar berupa orang dibantu oleh sumber lain. Walaupun demikian
dalam pola ini guru kelas atau dosen masih memegang kendali, hanya saja
tidak mutlak, karena dia dibentu oleh sumber lain. Dalam pola instruksional
ini sumber yang berfungsi sebagai alat bantu disebut alat praga
3
124
Gambar 4.1 Perbedaan Media dengan Alat Pembelajaran
Dalam pola 3 sumber berupa orang bersama-sama dengan sumber lain berdasarkan suatu
pembagian tanggung jawab. Dalam hal ini kontrol terhadap kegiatan belajar
mengajar dibagi bersama antara sumber manusia dan sumber lain. Dan
sumber lain tersebut merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan belajar.
Dalam pola kegiatan ini sumber lain tersebut dinamakan media
Dalam pola 4 anak didik belajar hanya dari satu sumber yang bukan manusia. Keadaan ini
terjadi dalam suatu pengajaran melalui media. Dan, sumber bukan manusia
tersebut dinamakan media.
b. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar
interaksi antara guru dengan siswa sehinga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan
efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci, yaitu:
1) menyampaikan materi pembelajaran dapat diseragamkan
2) proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
3) proses pembelajaran lebih intensif
4) efisiensi dalam waktu dan tenaga
5) meningkatkan kualitas hasil belajar anak didik
6) media memungkinkan proses belajar dapat didlakukan di mana saja dan kapan saja
KURIKULUM
ALAT
PRAGA
GURU
KELAS
GURU
KELAS
GURU
KELAS
MEDIA
ANAK DIDIK
112 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
7) media dapat menumbuhkan sikap positif anak didik terhadap materi dan prfoses belajar
8) mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif
c. Jenis Media Pembelajaran
Kemajuan teknologi masuk di dunia pendidikan (persekolahan) dan di dalam
ruangan lingkup kelas sangat mengembangkan media pembelajaran. Aderson (Etin
Solihatin, 2007:p.26) mengelompokkan media menjadi sepuluh golongan seperti tabel 1
Tabel 1 Klasifikasi Media Menurut Anderson
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Colongan Media
Audio
Cetak
Audio Cetak
Proyeksi visual Diam
Proyeksi Audiovisual Diam
Visual gerak
Audiovisual gerak
Obyek fisik
Manusia dan lingkungan
Komputer
Contoh dalam Pembelajaran
Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
Buku Pelajaran, modul, brosur, leaflet,
gambar
Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
Overhead Transparancy (OHP), film
bingkai (slide)
Film bingkai (slide) bersuara
Film bisu
Film gerak bersuara, video/ved, televisi
Benda nyata, model, specimen
Guru, pustakawan, laboran
CAI (pembelajaran berbantuan computer),
CBI (pembelajaran berbasis computer)
Klasifikasi media yang dikemukakan oleh Anderson dalam tabel 1 pada dasarnya
dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu: media cetak, media elektronik, dan
media objek nyata atau realita.
1) Media Cetak. Istilah “media cetak” biasanya diartikan sebagai bahan yang diproduksi
melalui percetakan profesional, seperti buku, majalah, dan modul. Selain itu,
tulisan/bagan/gambar yang difoto kopi ataupun hasil reproduksi sendiri, dapat juga
dikategorikan sebagai media cetak.
Ada beberapa keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan media cetak ini, yaitu:
a) Keuntungan , di samping relatif murah pengadaannya, juga lebih mudah dalam
pengunaannya, dalam arti tidak memerlukan peralatan khusus, serta lebih luwes
dalam pengertian mudah digunakan, dibawa agtau dipindahkan.
b) Kelemahan, jika kurang dirancang dengan baik, cenderung untuk membosankan. Di
samping itu, media ini kurang dapat memberikan suasana yang “hidup” bagi peserta
didik.
2) Media Elektronik. Ada berbagai macam media elektronik yang lazim dipilih dan
digunakan dalam pengajaran antara lain:
a) Perangkat Slide atau film bingkai
b) Film strips
c) Rekaman
d) Overhead Transparansi
e) Vidio Tape/Video Casette
113 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Seperti halnya dengan media cetak, media elektronik juga mempunyai beberapa
keuntungan dan kelemahan, yaitu:
a) Keuntungan. Pada umumnya ialah dapat memberikan suasana yang lebih “hidup”
penampilannya lebih menarik, dan di samping itu dapat pula digunaan untuk
memperlihatkan suatu proses tertentu secara lebih nyata.
b) Kelemahan, terutama terletak dalam segi teknis dan juga biaya. Penggunaan media
ini memerlukaan dukungan sarana dan prasarana tertentu seperti listrik serta
peralatan/bahan-bahan khusus yang tidak selamanya mudah diperoleh di tempattempat
tertentu. Di samping itu, pengadaan maupun pemeliharaannya ceenderung
menuntut biaya yang mahal.
3) Media Realita, adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan atau sumber belajar.
Pemanfaatan media realita tidak harus dihadirkan secara nyata dalam ruang kelas,
melainkan dapat juga dengan cara mengajak peserta didik melihat langsung (observasi)
benda nyata tersebut ke lokasinya. Media realita sangat bermanfaat terutama bagi
peserta didik yang tidak memiliki pengalaman terhadap benda tertentu. Misalnya untuk
mempelajari binatang langka, peserta didik diajak melihat anoa, badak, harimau, yang
ada di kebun binatang.
Seperti dengan media lainnya, media realita juga memiliki keuntungan dan kerugian,
yaitu:
a) Keuntungan,
- Dapat memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada peserta didik untuk
mempelajari sesuatu ataupun melaksanakan tugas-tugas dalam situasi nyata,
juga
- Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami sendiri situasi
yang sesungguhnya dan melatih keteampilan mereka dengan menggunakan
sebanyak mungkin alat indra
b) Kelemahan,
- Membawa peserta didik ke berabagai tempat di luar sekolah kadang-kadang
mengandung risiko dalam bentuk kecelakaan dan sejenisnya
- Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai obyek nyata kadang-kadang
tidak sedikit, apalagi ditambah dengan kemungkinan kerusakan dalam
menggunakannya
- Tidak selalu dapat memberikan semua gambaran dari objek yang sebenarnya,
seperti peembesaran, pemotongan, dan gambar bagian demi bagian, sehingga
pengajaran harus didukung pula dengan media lain.
d. Kriteria Kualitas Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di
sekolah. Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk
mengefektifkan pembelajaran. Karena itu, kualitas media pembelajaran diperlukan untuk
menghasilkan lulusan yang berkualitas.
1) dapat menciptakan pengalaman yang bermakna
2) menfasilitasi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan ahli lainnya
3) memperkaya pengalaman belajar siswa
4) mampu mengubah suasana belajar menjadi aktif mencari informasi melalui berbagai
sumber
e. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran IPS
Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media
pembelajaran, adalah:
1) Tujuan pembelajaran
2) Prinsip-prinsip IPS (integrated, scop, sequence)
114 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
3) Manfaat dan ketepatgunaan
4) Sasaran didik
5) Karakteristik media yang bersangkutan
6) Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media
7) Keluwesan atau fleksibilitas dalam penggunaannya
8) Kesesuaian dengan alokasi waktu dan sarana pendukung yang ada
9) Biaya
10) Ketersediaannya
11) Mutu teknis
f. Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran
Etin Solihatin dan Raharjo (2007:32) mengemukakanp prinsip umum yang perlu
diperhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran IPS, yaitu:
1) Setiap jenis media memiliki kelebihan dan kelemahan. Tidak ada satu jenis media yang
cocok untuk segala macam proses belajar dan dapat mencapai semua tujuan belajar.
Ibaratnya, tidak ada satu jenis obat yang manjur untuk semua jenis penyakit
2) Penggunaan beberapa macam media secara bervariasi memang perlu. Namun harap
diingat, bahwa penggunaan media yang terlalu banyak sekaligus dalam suatu kegiatan
pembelajaran, justru akan membingungkan siswa dan tidak akan meperjelas pelajaran.
Oleh karena itu, gunakan media seperlunya, jangan berlebihan.
3) Penggunaan media harus dapat memperlakukan siswa secara aktif. Lebih baik
menggunakan media sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh siswa daripada media
canggih, namun justru membuat siswa terheran-heran pasif.
4) Swebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan
rencana pelajaran. Tentukan bagian materi mana saja yang akan disajikan dengan
bantuan media. Rencanakan bagaimana strategi dan teknik penggunaannya.
5) Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar
pengisi waktu kosong. Jika siswa sadsr bahwa media yang digunakan hanya untuk
mengisi waktu kosong maka kesan ini akan selalu muncul setiap kali guru
menggunakan media.
6) Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaan media.
Kurangnya persiapan bukan saja membuat proses kegiatan belajar mengajar tidak efektif
dan efisien, tetapi justru mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini terutama
perlu diperhatikan ketika akan menggunakan media eletronik.
Berkenaan dengan tahapan-tahapan pemanfaatan alat/media pembelajaran adalah
sebagai berikut: pertama, membuat daftar kebutuhan melalui identifikasi alat pembelajaran
yang diperlukan untuk kegiatan belajar mengajar di kelas atau disekolah.
Kedua, golongkan ketersediaan alat/media tersebut. Ketiga, bila alat/media tersebut
tersedia, pikirkan kesesuaian penggunaannya, bila belum sesuai lakukan modifikasi bila
diperlukan. Keempat, media/alat yang belum tersedia dapat dilakukan dengan jalan
meminjam, membuat, atau membeli.
115 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Tersedia
Belum
tersedia
Sesuai
Berkenaan dengan tahapan-tahapan pemanfaatan media/alat pembelajaran dapat
dilihat pada gambar 4.2. Mengenai analisis kebutuhan media dengan tebel 4.2
Gambar 4.2 Tahapan Pemanfaatan Media Pembelajaran
Tabel 4.2 Analisis Kebutuhan Media
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Spesifiksi
materi
Metode Bentuk layanan Jenis media/alat
Orientasi
Pengertian
Sosiologi
……………….
……………….
Ceramah,
Tanya jawab
………………..
………………..
……………….
……………….
Klasikal
…………………….
…………………….
…………………….
…………………….
Pembesar suara, Lactop,
LCD……….
…………………………….
…………………………….
…………………………….
…………………………….
2. Sumber Belajar (learning resources)
Sering didengar istilah sumber belajar (learning resources), guru juga dalam
merencanakan pembelajarannya mencantumkan sumber belajarnya, namun yang dituliskan
adalah sejumlah buku-buku perpustakaan sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak
terasa apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber
belajar. Roestiyah (1982:59) mengartikan sumber-sumber belajar ialah segala sesuatu yang
dapat dipergunakan sebagai tempat atau asal untuk belajar seseorang. Dengan demikian
tempat ini merupakan bahan untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung halhal
yang baru. Sebab belajar pada hakikatnya adalah mendapatkan hal-hal baru.
Di mana-mana orang dapat belajar, dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan,
sebab itu, sumber belajar pun ada di mana-mana, baik berupa manusia maupun non
Membuat
daftar
kebutuhan
melalui
identifikasi
alat
pembelajaran
Tidak
sesuai
Disesuaikan
dengan
modifikasi
Digunakan
Pinjam
Buat
Beli
116 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
manusia, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
pembelajaran. Dengan perkataan lain sumber belajar itu merupakan apa saja, baik yang
direncanakan maupun yang menurut sifatnya dapat dimanfaatkan untuk membantu proses
belajar.
Departemen P & K, Proyek PIPT (1981:163-164), mengatakan bahwa sumber-sumber
belajar itu haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga dapat berfungsi untuk:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan:
- mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktunya secara
lebih baik
- Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak
membina dan mengembangkan gairah belajar siswa
b. Memberi kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan:
- mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional
- memberikan kesempatan bagi siswa untukberkembang sesujai dengan
kemampuannya
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran denganjalan:
- perencanaan program pendidikan yang lebih sistematis
- pengembangan materi pelajaran yang dilandasi oleh penelitian tentang perilaku
d. Lebih memantafkan pengajaran dengan jalan:
- meningkatkan kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi
- penyajian informasi dan data secara lebih konkrit
e. Memungkinkan belajar secara seketika, karena dapat:
- mengurangi jurang pemisah antara pelajaran yang bersifat verbal dan abstrak
dengan realitas yang sifat konkrit
- memberikan peengetahuan yang sifatnya langsung
f. Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama dengan adanya media
massa, dengan jalan:
- pemanfaatan bersama secara lebih luas tenaga ataupun kejadian yang langka
- penyajian informasi yang mampu menembus batas geografi
Selain itu, juga dapat dikatakan bahwa sumber-sumber belajar tu dapat berfungsi
teoritis dan praktis. Secara teoritis sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk:
a. Perencanaan, sehinggga dapat diperoleh bahan sajian yang berdaya guna dan tepat guna
yang dapat dipakai sebagai sumber belajar
b. Penelitian, dengan maksud untuk menguji pengetahuan yang berhubungan dengan
sumber belajar – siswa – kegiatan peembelajaran , yang kegiatannya meliputi juga
pembahasans sumber pustaka, pemilihan informasi yang dapat diterapkan.
Secara praktis dapat dimanfaatkan untuk:
a. Kegiatan pengadaan (produktif), seperti misalnya membuat makalah, buku, film, grafis,
slide dan sebagainya. Termasuk juga di dalamnya melaksanakan penataran, latihan.
b. Pelayanan dan pemanfaatan, tidak saja pelayanan terhadap kegiatan peembelajaran di
lembaga yang bersangkutan, tetapi juga pemanfaatan sumber belajar tersebut oleh
masyarakat pemakai (eksponen lainnya).
Abdul Majid (2007:170) mengkategorikan sumber belajar sebagai berikut:
a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan
belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan
sebagai tempat belajar yang berarti belajar, misalnya: perpustakaan, pasar, museum,
sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan, dan sebagainya.
b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi
peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya
situs, candi, benda peninggalan lainnya.
117 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat
belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikateggorikan sebagai sumber belajar.
Misalnya: guru, ahli geologi, polisi, dokter, dan ahli-ahli lainnya.
d. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik
dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks,
kaamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya
e. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa
bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai
sumber belajar
PELATIHAN
4. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian keempat), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Deskripsikan bahwa media merupakan bagian tak terpisahkan dari kualitas
pembelajaran..
Jawaban:
Untuk mencapai kualitas pembelajaran dengan pemanfaatan media
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
b. Kemukakan dengan kata-kata sendiri manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan
media dalam pembelajaran IPS!
Jawaban:
Manfaat penggunaan media dalam pembelajaran IPS:
........................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
c. Deskripsikan dengan singkat bahwa media dapat menghasilkan keseragaman dan
pengalaman yang integral
Jawaban:
Media dapat menghasilkan keseragaman:
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
Media dapat memberikan pengalaman yang integral:
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
d. Tidak semua media dapat menjamin keberhasilan pembelajaran jika guru tidak dapat
menggunakannya dengan baik. Bagaimanakah agar media yang dipilih itu dapat
digunakan dengan baik?
Jawaban:
Agar media yang sudah dipilih dapat digunakan dengan baik:
......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
118 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
e. Kemukakan pengertian dan fungsi sumber belajar!
Jawaban:
Pengertian sumber belajar:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
Fungsi sumber belajar:
......................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
5. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang berikut ini
a. Tentukan salah satu kompetensi dasar mata kuliah dengan indikatornya kemudian
isikan tujuan, jenis media yang digunakan, dan secara singkat alasan pilih tersebut
dalam lajur tabel di bawah ini
Nama Sekolah : .......................................................................................................
Mata Pelajaran : ......................................................................................................
Kelas/Semester : ......................................................................................................
Alokasi Waktu : ......................................................................................................
Standar Kompetensi: ……………………………………………………………….
……………………………………………………………….
Indikator : .....................................................................................................
.....................................................................................................
Tujuan Jenis Media Penggunaan Alasan pilihan
b. Buat salah satu jenis media yang tercantum dalam tabel latihan 1 diatas, dan cara
penggunaannya!
Jawaban:
Nama media yang dibuat: .........................................................................................
Cara penggunaannya: ................................................................................................
.......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
c. Berikan deskripsi bahwa pada hakikatnya sumber belajar itu terdapat di mana-mana!
Jawaban:
Sumber belajar itu ada dimana-mana sebab: ...........................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
119 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
POKOK BAHASAN KELIMA
METODE ASESMEN PEMBALAJARAN IPS
A. URAIAN
1. Pengertian dan Prosedur Asesmen
a. Pengertian Asesmen
Asesmen adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang
prestasi atau kinerja seseorang yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi. Asesmen
dilakukan untuk mengethui seberapa tinggi kinerja atau prestasi seseorang. Informasi
tersebut diperoleh dari hasil pengolahan data pengukuran dan non pengukuran. Informasi
disajikan dalam bentuk profil peserta didik untuk menetapkan apakah peserta didik
dinyatakan sudah atau belum menguasai kompetensi yang ditargetkan.
Pengukuran dan non pengukuran adalah proses untuk memperoleh deskripsi
tentang karakteristik seseorang dengan aturan tertentu. Hasil pengukuran berupa data
numerik atau kuantitatif, sedangkan hasil non pengukuran berupa data kualitatif. Contoh
pengukuran antara lain memberikan ulangan dan tugas, sedangkan contoh nonpengukuran
antara lain tentang tingkatan karakteristik yang dimiliki seseorang dengan aturan tertentu.
Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa tes dan/atau
non tes. Tes adalah alat ukur berupa satu pertanyaan untuk mengukur sampel tingkah laku
dan jawaban yang diberikan dapat dikategorikan menjadi benar dan salah. Non tes juga
merupakan alat ukur untuk mengukur sampel tingkah laku, tetapi jawaban yang diberikan
tidak dapat dikategorikan benar dan salah, misalnya kategori positif dan negatif, setuju dan
tidak setuju, atau suka dan tidak suka. Pelaksanaan pengukuran dalam IPS harus
menerapakan prinsip keseimbangan antara formal tes dan non formal tes dengan instrumen
tes dan non tes
Evaluasi merupakan tindakan untuk menetapkan keberhasilan suatu program
pendidikan, termasuk menetapkan keberhasilan peserta didik dalam program atau
kelompok peserta didik. Sebagai contoh guru harus mengevaluasi apakah program
pembelajaran yang dirancang sudah menunjukkan hasil yang diharapkan. Demikian pula,
suatu program studi harus mengevaluasi apakah seluruh peserta didik yang menempuh
suatu program berhasil atau gagal, sehingga dapat untuk menyatakan tingkat keberhasilan
program.
Dalam proses asesmen, bagi peserta didik yang belum menguasai kompetensi
ditindaklanjuti dengan program remedial atau mengulang, sedangkan yang sudah
menguasai tetapi belum maksimal diberi program pengayaan. Gambar 5.1 mengilus-trasikan
keterkaitan antara kegiatan pengumpulan data, proses asesmen beserta tindak lanjutnya.
Gambar 5.1. Proses Asesmen dan Tindak Lanjutnya
Asesmen
Non-pengukuran Pengukuran
Profil peserta didik
Tindak lanjut hasil asesmen
120 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
b. Karakteristik Asesmen Berbasis Kompetensi
1) Berfokus pada hasil, sehingga anak didik yang mengalami kesulitan
2) Dilaksanakan untuk setiap individu dan untuk menentukan dia sudah menguasai
atau belum menguasai kompetensi yang diajarkan
3) Mengacu kepada standar/kriteria dan tidak untuk membandingkan keberhasilan
seseorang dengan orang lainnya.
4) Memberikan kesempatan mahasiswa dapat mengevaluasi diri sendiri sehingga hasil
akan lebih bermakna, baik bagi pendidik, peserta didik, maupun administrator.
5) Bersifat autentik, terbuka, holistik, dan integratif. Autentik, terfokus kepada
kompetensi yang didemonstrasikan. Terbuka, memberi peluang anak didik
merespons secara kreatif. Holistik, mencakup semua kemampuan dan kompetensi;
sehingga pendekatan integratif yaitu dari beberapa menjadi satu kesatuan
6) Kelulusan menurut ketercapaian standar yang ditentukan untuk semua kompetensi
utama, dinyatakan kompeten atau tidak (lulus atau tidak lulus). Tidak kompeten
atau tidak lulus apabila tingkat penguasaannya kurang dari 70 %
2. Metode dan Bentuk Instrumen Asesmen
a. Tes (Gradasi benar – salah)
1) Tes formal adalah tes yang dilakukan dalam waktu khusus, terpisah/di luar waktu
untuk kegiatan pembelajaran, yaitu:
a) tes tulis dengan bentuk instrumennya diklasifikasikan dalam tiga jenis soal, yaitu:
(1) soal dengan memberi jawaban, meliputi
Item tes isian atau melengkapi
Item tes jawaban singkat atau pendek
Item tes uraian (tes uraian terbatas dan bebas)
(2) Soal dengan memilih jawaban, meliputi:
Item tes pilihan ganda
Item tes dua pilihan (benar salah, ya - tidak)
Item tes menjodohkan
Item tes sebab akibat
(3) Soal gabungan memilih dan memberi jawaban, sepertinya:
Item tes pilihan ganda beralasan
Item tes dua pilihan beralasan
Dll.
b) tes lisan, dengan bentuk instrumennya
Daftar pertanyaan
c) tes kinerja, dengan bentuk instrumennya
Item tes paper and pencil
Item tes identifikasi
Item tes simulasi
Item tes uji petik kerja
2) Tes non-formal adalah tes yang dilakukan menyatu dengan kegiatan pembelajaran
atau dilaksanakan tidak khusus dalam suasana tes, yaitu:
a) Observasi, dengan bentuk instrumennya
Lembar observasi
b) Penugasan, dengan bentuk instrumennya
Tugas proyek
Tugas portofolio
Tugs rumah
Dll.
121 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
b. Non-tes (positif-negatif, setuju-tidak setuju, suka-tidak suka)
1) Observasi, dengan bentuk instrumen lembar observasi
2) Wawancara, dengan bentuk instrumen pedoman wawancara
3) Inveentori, dengan beentuk instrumen skala inventori
4) Self report, dengan bentuk kuesioner, ceklis, catatan harian (angket, daftar cek, daftar
catatan harian)
Rangkuman metode asesmen beserta bentuk instrumen asesmennya disajikan
dalam Tabel 5.1
3. Strategi Pengembangan Asesmen
Dalam mengembangkan sistem asesmen berbasis kompetensi meliputi langkahlangkah:
a. menentukan kompetensi
b. menjabarkan kompetensi menjadi sejumlah subkompetensi
c. menjabarkan subkompetensi menjadi sejumlah indikator capaian
d. menentukan metode asesmen dan bentuk instrumen sesuai dengan indikator
e. menyusun profil hasil belajar anak didik
Tabel 5.1 Klasifikasi Metode dan Bentuk Instrumen Asesmen
No. Metode Asesmen Tehnik
Penilaian
Bentuk Instrumen Asesmen
1 Tes (gradasi benar-salah)
a. Tes formal (dilakukan
secara khusus seperti
ujian
sisipan/midsemester,
ujian akhir, ujian
responsi)
Tes tulis Tes isian (melengkapi)
Tes jawaban pendek
Tes uraia
Tes pilihan ganda
Tes dua pilihan (ya–tidak)
Tes menjodohkan
Dll.
Tes lisan Daftar pertanyaan
Tes kinerja Tes tulis keterampilan
Tes identifikasi
Tes simulasi
Uji petik kerja
b.
Tes non formal
(dilakukan menyatu
dengan proses
pembelajaran)
Penugasan Tugas proyek
Tugas portofolio
Tugas rumah
Observasi Lembar observasi
2
Nontes (gradasi positifnegatif,
setuju-tidak
setuju, suka-tidak suka)
Observasi Lembar observasi
Wawancara Pedoman wawancara
Inventori Skala inventori
Self report Kuesioner
Instrumen asesmen yang baik haruslah memenuhi persyaratan kesahihan dan
keandalan. Untuk itu, kegiatan pengembangan instrumen perlu mengikuti langkah yang
dapat dipertanggungjawabkan, yaitu: penyusunan kisi-kisi, pengembangan item, instrumen,
telaah dan revisi item instrumen, uji coba instrumen, analisis empiris kualitas instrumen.
122 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
a. Penyusunan Kisi-kisi
Kisi-kisi digunakan untuk acuan pengembangan instrumen, baik bentuk maupun
item instrumen. Dosen dalam penyusunan kisi-kisi perlu menelusuri dan mengacu pada
pengembangan kurikulum, silabus, dan pengalaman belajar mahasiswa.
Kisi-kisi asesmen berbasis kompetensi digunakan untuk menunjukkan keterkaitan
antara kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian, dan strategi asesmen yang
direncanakan (yang meliputi metode asesmen, bentuk asesmen, dan item instrumen).
Kisi-kisi asesmen berbasis kompetensi tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk Tabel
5.2
Tabel 5.2 Kisi-kisi Asesmen Berbasis Kompetensi untuk Tingkat Mata Kuliah
Program Studi: …………………………………….....................................................
Mata kuliah: ……………………………………..........................................................
Standar kompetensi: ....................................................................................................
...................................................................................................
Kompetensi
dasar
Indikator
pencapaian
Strategi Asesmen
Metode Teknik Bentuk
instrumen
Nomor item
instrumen
b. Pengembangan Instrumen
Pengembangan item instrumen harus selalu mengacu pada kisi-kisi yang telah
ditetapkan agar dihasilkan item instrumen yang sahih. Berikut ini disajikan hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pengembangan item instrumen tes maupun nontes.
1) Pengembangan item tes tulis
Hal yang diperhatikan dalam mengembangkan tes tulis yaitu
a) Memperhatikan persyaratan penyusunan instrumen, baik dari aspek
materi/isi/konsep, konstruksi, maupun bahasa.
b) Mengacu pada karakteristik indikator kompetensi yang ditargetkan.
c) Memilih bentuk instrumen yang sesuai dengan indikator, apakah bentuk tes
isian, uraian, pilihan ganda atau lainnya.
d) Membuat kunci jawaban atau pedoman penyekoran.
123 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
2) Pengembangan item tes keterampilan
a) Hal yang diperhatikan dalam mengembangkan item tes keterampilan adalah
sebagai berikut.
(a) Persyaratan penyusunan instrumen keterampilan, baik dari aspek
materi/isi/konsep, konstruksi, maupun bahasa.
(b) Jenis tes keterampilan yang dipakai, apakah tes tulis keterampilan, tes
identifikasi, tes simulasi, atau uji petik kerja/work sampel test.
(c) Indikator kompetensi yang ditargetkan.
(d) Pedoman penskoran atau rubrik.
b) Langkah pengembangan item instrumen keterampilan adalah sebagai berikut.
(1) Tes tulis keterampilan untuk menghasilkan desain/rangkaian, gambar, dll.
(a) menentukan aspek produk yang akan dinilai.
(b) menentukan cara penskoran secara holistik atau analitik.
(c) menentukan bobot skor.
(d) menentukan klasifikasi peringkat penilaian.
(2) Tes identifikasi untuk mengukur kinerja seseorang atas dasar tanda-tanda
atau sinyal yang diberikan saat diberikan tes.
(a) menentukan jenis kemampuan kinerja yang akan diidentifikasi.
(b) menentukan banyaknya hal/aspek yang akan diidentifikasi.
(c) membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan
kategorisasi keberhasilan identifikasi.
(3) Uji petik kerja untuk mengukur kinerja dalam situasi yang sebenarnya atau
uji simulasi untuk mengukur kinerja dalam situasi yang mirip dengan situasi
yang sebenarnya
(a) mengidentifikasi aspek kinerja yang dinilai.
(b) menentukan model skala yang dipakai untuk penskoran yaitu rating scale
atau check list.
(c) membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan
kategorisasi keberhasilan kinerja.
3) Pengembangan instrumen observasi
(a) mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan.
(b) mengidentifikasi langkah kerja yang diobservasi.
(c) menentukan model skala yang dipakai untuk menskor, yakni rating scale atau
check list.
(d) membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan kategorisasi
keberhasilan kompetensi yang dikembangkan.
4) Pengembangan instrumen penugasan
(a) mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan.
(b) mengacu pada jenis tugas yang dikerjakan.
(c) mengidentifikasi aspek tugas yang dikerjakan.
(d) menentukan model skala yang dipakai untuk menskor, yakni rating scale atau
check list.
(e) membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan kategorisasi
keberhasilan tugas.
5) Pengembangan item instrumen nontes
Instrumen nontes yang mencakup observasi, wawancara, inventori, dan self report,
antara lain digunakan untuk mengukur kompetensi yang berkait dengan ranah
afektif seperti sikap terhadap mata kuliah. Observasi dan wawancara dapat
dilaksanakan dengan pedoman observasi dan daftar wawancara, sedangkan self
report berbentuk angket. Agar dapat mengases penguasaan kompetensi maka
124 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
diperlukan sejumlah indikator pencapaian. Indikator ini digunakan sebagai dasar
penulisan item pernyataan atau pertanyaan. Langkah-langkah pengembangan
instrumen nontes yaitu:
(a) mengacu pada bentuk instrumen/inventori yang akan dikembangkan (skala
Thurstone, skala Likert, skala berdiferensi semantik, dll.),
(b) mengacu pada indikator yang ditentukan,
(c) memilih pernyataan/pernyataan yang tidak menuntut respon yang tidak
mengandung social desirability yang tinggi,
(d) tidak ada jawaban/pernyataan yang benar atau salah, dan
(e) menentukan gradasi skala yang dipilih dan penskorannya.
Instrumen asesmen untuk kinerja dapat menggunakan dua kemungkinan instrumen,
yaitu (a) daftar cek (ya – tidak), (b) skala rentang (sangat kompeten, - kompoten – agak
kompoten – tidak kompeten). Kemungkinan keduanya dapat digabungkan.
c. Telaah dan Revisi Instrumen
Setelah penyusunan instrumen asesmen selesai, hasilnya tidak langsung dapat
digunakan atau diterapkan, melainkan perlu ditelaah lagi, dan atas hasil telaah itu dilakukan
revisi untuk memperbaiki item instrumen yang kurang baik. Beberapa hal yang perlu
ditelaan, yakni telaah dari segi:
1) substansi isi, konsep, dan bahasa,
2) persyaratan item sesuai bentuk instrumen, dan
3) indikator pencapaian ksompetensi.
d. Uji Coba Instrumen
Meski sudah ditelaah dan direvisi, belum berarti instrumen asesmen tersebut siap
digunakan. Instrumen tersebut perlu diujicoba terlebih dulu sebelum digunakan. Uji coba
bisa dilakukan sebelum instrumen dipakai untuk pengumpulan data penilaian yang disebut
dengan ujicoba terpisah. Uji coba dapat pula dilakukan bersamaan dengan pengumpulan
data penilaian, yang disebut dengan uji coba terpakai. Dalam uji coba terpisah analisis
didasarkan pada data uji coba yang digunakan untuk perbaikan instrumen. Pada uji coba
terpakai analisis instrumen didasarkan pada data awal dan data penilaian didasarkan pada
item instrumen yang memenuhi syarat. Hal yang diujicobakan selain berkait dengan aspek
substansi juga menyangkut aspek keterbacaannya.
e. Analisis Empiris Kualitas Instrumen
Analisis data statistik terhadap data empiris hasil uji coba baik melalui uji coba
terpisah maupun uji coba terpakai akan memberikan informasi tentang kesahihan dan
keandalan instrumen sebagai indikator dari kualitas instrumen. Hasil analisis empiris
digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki item instrumen yang kurang memenuhi syarat
dan menggani item instrumen yang tidak memenuhi syarat.
Sesuai dengan karakteristik asesmen berbasis kompetensi yang mengacu pada acuan
kriteria maka analisis keandalan item bukan didasarkan pada „indek kesukaran item“ dan
„daya beda item“, karena kedua indeks tersebut digunakan untuk pemenuhan persyaratan
keandalan item instrumen beracuan norma. Keandalan item instrumen beracuan kriteria
diukur dengan menggunakan “persentase konsistensi” dan „indeks sensitivitas item“.
Persentase konsistensi digunakan untuk mengetahui konsistensi mahasiswa yang menguasai
(mastery) dan yang tidak menguasai (nonmastery) atas dasar konsistensinya dalam
mengerjakan dua perangkat intsrumen yang ekuivalen. Indeks sensitivitas item yang
dihitung berdasar hasil pengukuran suatu item yang diujikan pada peserta yang belum
diajar dan yang telah diajar untuk mengetahui penguasaan (mastery) materi telah dipelajari.
125 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Soal
Nyatakan benar (dengan cara menuliskan kode B di dalam kurung) atau salah
(dengan cara menuliskan kode S di dalam kurung) pernyataan di bawah ini, dan
berilah alasannya!
A. (.....) Konsep kualitas pembelajaran merupakan tugas dan tanggung jawab
Guru untuk mengelola pembelajarannya
B. (.....) Rancangan pembelajaran IPS diarahkan atau difokuskan sesuai dengan
kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang
dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa.
C. (.....) Model pembelajaran inovatif dan partisipatif menggunakan strategi
pembelajaran pada guru yang memposisikan diri yang aktif menyajikan
materinya
Penskoran dan Kunci Jawaban
Skor = 9
Kunci Jawaban: 1. A ( B )
Alasannya: tugas utama guru adalah pendidikan dan pengajaran, dalam
menjalankan tugasnya ia membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan
pembelajaran, dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik (siswa)
Kunci Jawaban: 1. B ( B )
Alasannya: Misi pendidikan IPS yaitu membina pengetahuan kecerdasan, dan
keterampilan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, masyarakat dan studi lanjut.
Selain itu membina sikap-sikap yang selaras dengan nilai-nilai pansasila dan
UUD 45
Kunci Jawaban: 1. C ( S )
Alasannya: sasaran pembalajaran adalah menjadikan siswa yang belajar. Model
pembelajaran inovatif dan partisipatif berfokus pada siswa aktif yang
diasumsikan belajar terjadi jika individu (siswa)
yang belajar aktif terlibat secara optimal baik secara intelektual, emosional,
maupun fisik.
4. Contoh Bentuk-bentuk instrument
Contoh instrumen asesmen yang dikemukakan berikut ini, bukanlah satu-stunya
bentuk instrumen, hanyalah salah satu dari sekian banyak bentuk instrumen asesmen yang
berbasis kompetensi, diharapkan dengan contoh tersebut dapat memancing untuk lebih
kreatif dalam mendesain asesmen pembelajaran yang tepat bagi keperluan pengembangan
pembelajaran yang diampuhnya. Sebagai contoh bentuk-bentuk instrumen, diantaranya:
a. Contoh: Instrumen asesmen bentuk isian (benar-salah) beralasan
126 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
b. Contoh: Instrumen asesmen bentuk uraian
Soal:
Pak Syamsu Alam adalah seorang kepala sekolah SMP. Di lingkungannya, Pak
Syamsu dipandang sebagai seorang tokoh karena sering memimpin shalat di
masjid. Pada pemilihan umum tahun 2004, ia menjadi ketua pelaksana
pemungutan suara.
Ia memiliki anak yang bernama Martinus yang bersekolah di kelas dua SMP
tersebut. Martinus rajin menyiram bunga yang ditanam di halaman rumahnya.
Ia aktif sebagai anggota perkumpulan remaja di tempat tinggalnya.
Berdasarkan kasus di atas, buatlah daftar klasifikasi yang mencakup lingkup
sosial, tokoh sosial, status sosial, peran sosial, dan jenis status sosial mulai dari
tingkat rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan negara!
Pedoman penskoran
No Lingkup Tokoh Status Sosial Peran Sosial Jenis
Status
Skor*
1.
Keluarga Martinus
Anggota
keluarga Pak
Syamsu
Alam
Mengerjakan
pekerjaan
rumah
Ascribed
status
5
Syamsu
Alam
Kepala
keluarga
Memimpin
keluarga
Achieved
status
4
2 Sekolah
Syamsu
Alam
Kepala
Sekolah
Memimpin
sekolah
Achieved
status
5
Martinus siswa SMP Belajar Achieved
status
4
3 Masyarakat Syamsu
Alam
Imam Pemimpin
shalat
Achieved
status
dan/atau
Assigned
status
5
Martinus Pengurus
perkumpulan
remaja
Anggota
perkumpulan
remaja
Achieved
status
4
4 Negara Syamsu
Alam
Ketua PPS Pemimpin
proses
pemilu
Assigned
status
5
Skor maksimum 32
*Setiap pengisian sel secara tepat memperoleh skor 1
127 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
c. Contoh: Instrumen asesmen bentuk pilihan ganda beralasan
Di bawah ini diberikan contoh tentang hubungan antara jumlah pekerja
dengan produktivitas kerja dalam pengolahan sebidang lahan pertanian
untuk budidaya lada hitam.
Tabel: Produktivitas Pertanian
Jumlah Pekerja Hasil panen (dalam kg)
1
2
3
4
5
10
22
36
49
59
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tabel di atas adalah ….
A. peningkatan produktivitas berbanding lurus dengan penambahan
tenaga kerja
B. semakin banyak tenaga kerja semakin efisien hasil panen yang
diperoleh
C. penambahan tenaga kerja akan meningkatkan produktivitas secara
konsisten
D. penambahan tenaga kerja tidak selalu diikuti dengan produktivitas
secara konsisten
Alasan…………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………….
Kunci jawaban: D
Alasan: Semakin menambah tenaga kerja yang tidak diikuti dengan penambahan
produktivitas akan menyebabkan pengangguran yang tidak kentara.
d. Contoh: Instrumen asesmen bentuk hubungan sebab akibat
Petunjuk:
Soal terdiri atas tiga bagian, yaitu: PERTANYAAN, kata SEBAB dan
ALASAN yang disusun berurutan. Pilihlah:
A. Jika pernyataan betul, alasan betul dan keduanya menunjukkan
hubungan sebab akibat
B. Jika pernyataan betul dan alasan betul, tetapi keduanya tidak
menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Jika pernyataan betul dan alasan salah
D. Jika pernyataan salah dan alasan betul
Soal:
1) Perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha mengusir kaum penjajah
sebelum tahun 1908, termasuk perjuangan yang bersifat regional
SEBAB
Perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha mengusir kaum penjajah
dipimpin oleh tokoh-tokoh dari seluruh wilayah Indonesia
128 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
2) Perjanjian Saragosa 1526 merupakan perjanjian antara Portugal dan
Spanyol
SEBAB
Perjanjian Saragosa menetapkan batas timur bagi pelayaran Spanyol
di globe dunia yang memisahkan dengan wilayah Portugal.
Kunci Jawaban:
1) D
2) A
e. Contoh: Instrumen asesmen bentuk rating scale
Petunjuk:
Beri lingkaran pada angka yang sesuai untuk setiap kemampuan yang teramati
pada waktu guru mengajar:
1.sangat tidak baik dalam mempersiapkan pelajaran
2.tidak baik/rendah
3.biasa/cukup
4.baik/tinggi
5.sangat baik/sangat tinggi
Nama guru : .....................................................................................................
Sekolah : .....................................................................................................
Program studi: ......................................................................................................
Tanggal : ......................................................................................................
Aspek yang dinilai Deskriptor Skala Nilai
I. Kompetensi Pedagogik
A. Kesungguhan dalam mempersiapkan pelajaran
12345
B. Keteraturan dan ketertiban penyelenggaraan
pelajaran
12345
C. dst.
II. Kompetens Profesional
A. Dst.
III. Dst.
JUMLAH Skor: ..........
Pedoman Penskoran
skor maksimal (N x 5 = N5) 5 skala nilai tertingi N = Jumlah deskriptor
skor minimal (N x 1 = N1) 1 skala nilai terendah
129 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
f. Contoh: Instrumen asesmen bentuk Checklist
Beri tanda centang (...√...) di belakang angka di mana kemampuan guru teramati
pada waktu mengajar
Nama Guru : ...............................................................................................................
Sekolah : .................................................................................................................
Program studi: ................................................................................................................
Tanggal : .................................................................................................................
PENGAMATAN KEMAMPUAN MENGAJAR
Centang No. Kinerja yang diamati
...... 1. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
...... 2. Menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran
...... 3. Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi
pelajaran
..... 4. Mendorong dan menggalakkan keterlibatan siswa dalam
pembelajaran
..... 5. Mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan
relevansinya
...... 6. Menggunakan waktu pembelajaran secara efisien
...... 7. Menyediakan lingkungan belajar yang menarik dan teratur
..... 8. Melakukan evaluasi hasil belajar dalam proses pembeelajaran
...... 9. Melakukan refleksi
...... 10. Memberikan tugas terstruktur
g. Contoh: Instrumen asesmen bentuk Proyek
Tugas :
Dalam lingkungan masyarakat sekitar kita terdapat berbagai masalah sosial yang timbul
akibat dari suatu kebijakan publik, berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah.
Kebijakan publik itu misalnya tentang pelebaran jalan, izin pendirian pabrik, pendirian
super market, penataan pasar, penanganan masalah sampah, banjir dan lain-lain. Tugas
Anda adalah sebagai berikut.
1. Pilihlah satu bentuk kebijakan publik yang diberlakukan di lingkungan sekitar
Anda! Berikan penjelasan tentang urgensi atau pentingnya kebijakan tersebut
untuk didiskusikan!
2. Berikan analisis Anda bahwa kebijakan tersebut menimbulkan berbagai masalah
sosial, misalnya dari segi sosiologis, historis-kultural, ekonomis, demografis,
politik, hukum dan sebagainya.
3. Berikan saran Anda kepada para pengambil kebijakan publik (misalnya
Gubernur, Bupati/Walikota), para wakil rakyat di DPRD, maupun masyarakat
sendiri dalam menyikapi masalah tersebut. Kaitkan saran Anda tersebut dengan
proses demokratisasi dan upaya pengembangan civil society atau tatanan
masyarakat madani!
Pedoman Penskoran
Tiap tanda centang (√) bernilai satu. Skor maksimal 10. 70% dari 10 = 7, kompetensi
minimal yang dapat dinyatakan menguasai kompetensi.
130 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Rambu-rambu/kunci penilaian Skor maksimal
1. Kebijakan publik yang dipilih misalnya tentang Pemberian Izin
Pendirian Super Market oleh Bupati di suatu wilayah Kecamatan
tertentu. Kebijakan tersebut telah menimbulkan keresahan
masyarakat. Tunjukkan bukti-bukti yang mendukung pernyataan
tersebut, misalnya berita surat kabar atau yang lain.
15
2. Adanya Super Market di suatu wilayah Kecamatan, apalagi
pedesaan akan menimbulkan berbagai masalah sosial bagi
sebagian besar. Misalnya, dari segi ekonomi akan mematikan
pasar-pasar tradisional terdekat, sekaligus mempersempit
kesempatan berusaha para pedagang kecil (bakul) dan tidak sejalan
dengan kebijakan pemerataan penghasilan dsb. Dari segi sosiologi,
akan merubah perilaku masyarakat dalam berjual-beli dan
merubah fungsi sosial pasar sebagai media berinteraksi sosial.
Secara kultural, super market tidak/belum sesuai dengan budaya
pasar masyarakat pedesaan, sehingga akan terasa asing. Secara
geografis dapat merubah struktur lingkungan, baik lingkungan
phisik maupun sosial. Secara politis dapat menimbulkan isue
politik yang mengurangi partisipasi atau dukungan masyarakat
terhadap pemerintah sebagi pengambil kebijakan publik. Selain
itu, kebijakan tersebut juga berifat kapitalistik.
50
3. Bupati perlu meninjau kembali kebijakan yang telah dikeluarkan,
demi kesejahteraan dan ketenangan masyarakat. Kebijakan
publik harus lebih berpihak pada kepentingan rakyat kecil. DPR
Kabupaten harus lebih aspiratif, dengan memperjuangkan
melalui proses legislatif dan politis, demi kepentingan rakyat
banyak. Elemen-elemen masyarakat dan LSM perlu lebih
menunjukkan peran aktifnya dalam memperjuangkan hak dan
kewajiban warga dalam bidang sosisl-ekonomi, sekaligus sebagai
proses pemberdayaan masyarakat ke arah pengembangan
masyarakat sipil (civil society), masyarakat warga, atau
masyarakat madani.
35
Skor Total maksimum 100
5. Pelaporan Hasil dan Tindak Lanjut Asesmen
a. Pelaporan Hasil Asesmen
Pelaporan hasil asesmen adalah putusan dari respon peserta didik pada instrumen
yang diberikan, apakah dapat dikatakan telah menguasai kompetensi dengan dinyatakan
lulus atau belum menguasai kompetensi yang dinyatakan tidak lulus.
Pada setiap proses penyekoran, guru harus memanfaatkan rubrik/ pedoman
penskoran atau kunci jawaban sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. Hal ini
dilakukan untuk menjamin objektivitas dan meminimalkan kesalahan pengukuran.
Cara tradisional untuk memberikan skor pada tes pilihan ganda adalah
menghitung jawaban yang benar untuk setiap mahasiswa. Pada instrumen lain, skor mentah
untuk setiap mahasiswa dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan skor pada setiap soal
atau tugas. Kadang-kadang, skor mentah ini dikonversikan ke dalam bentuk persentase.
Sebagai contoh, peserta didik yang mendapat skor 30 dari 40 soal adalah 30/40 x 100% =
75%.
131 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Batas kelulusan dalam pendekatan kurikulum berbasis kompetensi harus
ditentukan dengan mengacu pada pencapaian standar kompetensi. Hal ini dilakukan untuk
menjamin kualitas hasil pembelajaran. Batas kelulusan untuk kompetensi utama adalah 70%
dari skor total dengan kualifikasi nilai B, sedangkan batas kelulusan untuk kompetensi
pendukung dan kompetensi lainnya boleh 60% dari skor total dengan kualifikasi nilai C.
Untuk nilai A kalau mencapai kualifikasi penguasaan kompetensi utama mencapai 85 –
100%
Penjenjangan nilai kelulusan harus dikaitkan dengan standar kompetensi sesuai
aturan akademik yang telah disepakati. Salah satu contoh penjenjangan nilai yang dapat
dijadikan acuan kelulusan seperti tabel 5.3
b. Program Tindak Lanjut Asesmen
Kegiatan belajar mengajar (pembelajaran) pada hakikatnya suatu upaya agar
peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dapat menguasai bahan-bahan belajarnya
Tabel 5.3 Contoh Penjenjangan Nilai yang Dicapai dalam Penguasaan Kompetensi
Simbol Kriteria Keterangan
A: 85 − 100 1. Menguasai hampir semua konsep yang
diberikan
2. Memiliki keterampilan yang hampir
sempurna
3. Sangat siap untuk belajar lanjut.
B: 70 − 84 Menguasai sebagian besar konsep yang
diberikan
Memiliki keterampilan di atas minimum
Memenuhi syarat untuk belajar lanjut
TL: 0 − 69 Menguasai sebagian kecil konsep yang
diberikan
Memiliki keterampilan di bawah batas
minimum
Kurang memenuhi syarat untuk belajar
lanjut.
Jika ada kompetensi dasar
yang belum lulus, mahasiswa
dinyatakan TL kemudian
mengikuti remedi dalam
batas waktu yang ditentukan
dan menempuh ujian lagi.
sesuai tujuan-tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkannya. Untuk itu, guru melakukan
berbagai upaya mulai dari penyusunan rencana pelajaran, penggunaan strategi belajar
mengajar yang relevan, sampai dengan pelaksanaan penilaian dan umpan balik. Namun
demikian, kenyataannya setelah kegiatan belajar mengajar berakhir masih saja ada peserta
didik yang tidak menguasai materi pelajaran dengan baik sebagaimana tercermin dalam
nilai atau hasil belajar lebih rendah dari kebanyakan peserta didik lainnya. Mereka
memerlukan pendekatan khusus untuk dapat mencapai hasil-hasil belajar yang diharapkan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan hasil belajar dengan
memberikan layanan bimbingan belajar.
Berkenaan dengan masalah kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik ini, ada
beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru, antara lain melaksanakan remedial dengan
strategi dan pendekatan seperti apa yang disebut: perbaikan/pengulangan, pengayaan dan
pengukuhan serta pencepatan (aceleration).
Secara visual konsep dasar strategi dan teknik-teknik pendekatan remedial untuk
program tindak lanjut seperti gambar 5.2
132 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Program perbaikan merupakan bentuk khusus dari pengajaran yang diberikan
kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar berat. Dilaksanakan secara individu
atau kelompok sesua tingkat homogenitas dan kuantitas peserta didik yang
Akhir satuan program
(uji kompetensi)
Tatap muka/
Unit pelajaran
(uji diagnosis)
Gambar 5.2 Program Tindak Lanjut
mengalami kesulitan belajar. Perbaikan dilakukan setiap akhir jam pertemuan atau setiap
unit pelajaran. Namun jika terjadi pada setiap akhir satuan program dilakukan
pengulangan.
Program pengayaan dan pengukuhan merupakan bentuk khusus dari pengajaran
yang diberikan kepada peserta didik yang mempunyai kesulitan belajar ringan (penguasaan
yang belum tuntas/masteri). Bentuk pengajaran pengayaan yang mungkin
dapat ditempuh dengan cara mengerjakan soal-soal/tugas tambahan khususnya kompetensi
yang belum tercapai secara tuntas, dilaksanakan di kelas atau di rumah. Tugas-tugas yang
diberikan baik dalam bentuk pekerjaan ruamah maupun dikerjakan di kelas apabila ada
peningkatan patut diberikan penghargaan dengan penambahan nilai yang menjadi insentif
baginya.
Program pencepatan merupakan bentuk khusus dari pengajaran yang diberikan
kepada peserta didik yang berbakat dan menunjukkan penguasaan kompetensi secara
menyeluruh dari program studi yang ditempuhnya dengan luar biasa. Peserta didik yang
demikian ini ada dua kemungkinan pelaksanaannya yaitu secara promosi status akademik
ketingkat yang lebih tinggi atau program maju berkelanjutan tetap pada kelas yang diduki
dan diangkat sebagai tutor sebaya.
Sebagai tindak lanjut dari penggunaan hasil asesmen, selain untuk memperbaiki
hasil dengan rencana program remedial bagi semua atau sebagian siswa seperti yang telah
disebutkan di atas, juga dengan perbaikan program kegiatan pembelajaran, khususnya yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang sulit dipahami oleh sebagian besar atau semua
siswa. Perbaikan program kegiatan dengan merubah strategi dan metode yang digunakan.
Atau mungkin juga dengan memperbaiki tingkat kesulitan soal yang digunakan, yaitu soal
yang tingkat kesulitannya kurang dari 40 % (soal terlalu sulit) sehingga tidak terjawab oleh
peserta didik. Sebaliknya soal yang tingkat kesulitannya lebih dari 90 % juga perlu
diperbaiki karena terlalu mudah. Dan pada akhirnya akan ditemukan soal yang standar.
PBM I
ASESMEN
EVALUASI 1 2
Program
Pengayaan
3
Perbaikan PBM II
133 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Menentukan tingkat kesulitan soal dapat digunakan rumus yaitu: jumlah peserta yang jawab
benar dibagi jumlah peserta dikali seratus = prosentasi
B. PELATIHAN
1. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian kelima), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Kemukakan hakikat dilaksanakan asesmen dalam pembelajaran
Jawaban:
Hakikat asesmen dalam pembelajaran: ....................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
b. Bagaimanakah keterkaiatan antara asesmen dan evaluasi?
Jawaban:
Asesemen: …………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
Evaluasi: ………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Kedudukan asesmen terhadap evaluasi: …………………………………………
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
c. Coba tentukan metode, teknik dan bentuk asesmen dengan mengisi tabel berikut ini
Metode Teknik Bentuk Instrumen
..................................... ............................................. sebab akibat
..................................... ............................................ Paper and pensil
Nontes ............................................. ............................................
..................................... Tes kinerja .............................................
.....................................
........................................... Menjodohkan
.................................... Observasi
............................................
Tes nonformal ............................................ ............................................
Soal c ini, termasuk bentuk instrumen apa? ....................................................................
d. Deskripsiskan dengan kata-kata sendiri manfaat dari pelaksanaan asesmen sebelum
pelajaran dimulai!
Jawaban:
Manfaat pelaksanaan asesmen sebelum pelajaran dimulai: .................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
e. Putusan apa sajakah, yang mungkin dapat diambil seorang guru, bila menghadapi hasil
asesmen, kurang 70 %, 70 – 85 %, 86 - 100 %? Deskripsikan tindak lanjutnya
134 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Keterangan:
X =benar
_ =salah
Jawaban:
Hasil asesmen kurang 70 %: ......................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Hasil asesmen 70 – 85 %: ..................................................................................
................................................................................................................................
......................................................................................................................................
Hasil asesmen 86 – 100 %: ………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
2. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang berikut ini
ii. Coba Anda tentukan satu unit pelajaran IPS dan buat kisi-kisi asesmen dengan
menggunakan tabel 5.2 yang ada pada pokok pembahasan kelima.
iii. Data asesmen yang digambarkan dalam tabel berikut ini, deskripsikan tindakan apa
yang tampaknya perlu Anda lakukan sebagai upaya tindak lanjut.
Nomor Soal Tes
SISWA JML TL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1XXXXXX-XXX9
2XX--XX-X-X6
3XX-----X-X4
4-X-XX-XX-X6
5-XXXXX--X-6
6X-XXXX-XXX8
7X---X----X3
8----X---XX3
9XX--XXX-XX7
10 - - X - X - - X X X 5
JML 4 6 4 4 9 5 1 6 6 9
TL
135 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
POKOK BAHASAN KEENAM
PENGEMBANGAN SILLABUS DAN RPP
A. URAIAN
1. Pengembangan Silabus
Dalam kaitannya dengan desentralisasi pendidikan dalam bidang kurikulum
menggunakan prinsip “Kesatuan dalam kebijakan dan keragaman dalam pelaksanaan”.
Kesatuan dalam kebijakan terwujud dalam ketentuan umum, standard kompetensi bahan
kajian, beserta pedoman pelaksanaannya yang disusun secara nasional (kurnas) terwujud
dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Keragaman dalam pelaksanaan
terwujud dalam silabus dan RPP yang disusun oleh daerah dan sekolah (kurikulum
implementatif).
Sebagai kerangka dasarnya menyatakan bahwa pemerintah pusat (Depdiknas)
bertanggungjawab dalam penyempurnaan dan pengembangan:
a. Standar kompetensi anak didik dan warga/rombongan belajar
b. Standar materi pokok
c. Pembelajaran dan penilaian hasil belajar secara nasional
d. Pengendalian mutu
Pemerintah Daerah bertanggungjawab dalam penjabaran dan pelaksanaan
kurikulum yang mencakup:
a. Pengembangan kurikulum dalam bentuk silabus
b. Rencana pelaksanaan pembelajaran dan penilaian
c. Pelaksanaan dan pengelolaan pembelajaran, serta pelaksanaan dan pengelompokan
penilaian hasil belajar
Jadi, silabus dikembangkan oleh guru melalui forum musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP) atau kelompok kerja guru (KKG) sesuai ketentuan yang berlaku. Karena
itu, dalam hal tertentu (standar kompetensi dan kompetensi dasar) merupakan kesatuan
dalam kebijakan, tetapi dalam hal komponen, bentuk dan pelaksanaan merupakan
keragaman, memungkinkan setiap sekolah berbeda menurut karakteristiknya masingmasing.
a. Pengertian Silabus
Silabus dapat didefinisikan sebagai “garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokokpokok
isi atau materi pelajaran”. Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu pokok
pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi (SK) dan
kompetensi dasar (KD) yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu
dipelajari anak didik dalam rangka penncapaian SK dan KD yang dikembangkan oleh pusat
(kurnas). Selanjutnya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran,
dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Selain itu, silabus
harus dikaji dan dikembangkan secara berkesinambungan dengan memperhatikan masukan
hasil evaluasi hasil belajar, hasil evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan hasil
evaluasi rencana pembelajaran. Oleh karena itu, siklus pengembangan silabus diawali dari
perencanaan, pelaksanaan, penilaian, kemudian jadi balikan untuk perbaikan dan
pemantapan selanjutnya.
b. Isi Silabus
Pada umumnya suatu silabus berisi uraian program yang mencantumkan: 1) bidang
studi yang diajarkan, 2) jenjang pendidikan/sekolah, dan semester, 3) pengelompokan
kompetensi dasar, 4) materi pokok, 5) indikator, 6) strategi pembelajaran, 7) alokasi waktu,
dan 8) sumber bahan/alat/media.
136 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
c. Manfaat Silabus
Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran lebih
lanjut, seperti pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pengelolaan kegiatan
belajar mengajar (KBM), dan pengembangan sistem asesmen/penilaian. Artinya guru dalam
membuat RPP, melaksakan KBM, dan asesmen/penilaian selalu mengacu pada silabus.
d. Pinsip Pengembangan Silabus
Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum dan pembelajaran
yang berisikan garis-garis besar materi pembelajaran. Beberapa prinsip yang mendasari
pengembangan silabus antara lain: ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan
anak didik, sistematis, relevansi, konsisten, kecukupan, aktual dan kontekstual, fleksibel,
dan menyeluruh
e. Langkah-langkah Pengembangan Silabus
Langkah-langkah pengembangan silabus, dapat ditemukan berbagai pariasi dari
yang menyusun silabus. Namun secara umum proses pengembangan silabus berbasis
kompetensi terdiri atas tujuh langkah utama sebagaimana tercantum dalam Buku Pedoman
Umum Pengembangan Silabus (Depdiknas 2004), yaitu:
1) penulisan identitas mata pelajaran;
2) perumusan standar kompetensi
3) penentuan komptensi dasar;
4) rumusan indikator pencapaian;
5) penentuan materi pokok dan uraiannya;
6) penentuan pengalaman belajar
7) penentuan alokasi waktu; dan
8) penentuan sumber bahan
Penulisan identitas mata pelajaran, yang perlu diisi adalah nama sekolah, nama
mata pelajaran, kelas dan semester. Dengan informasi tersebut guru akan mendapatkan
kejelasan tentang tingkat pengetahuanprasyarat, pengetahuan awal dan karakteristik siswa
yang akan diberi pelajaran
Contoh: Penulisan Identitas Mata Pelajaran
SILABUS
Nama Sekolah : ...............................................................................................................
Mata Pelajaran : ......................................................................................................
Kelas/Semester : ......................................................................................................
Penentuan Standar Kompetensi. Standar kompetensi adalah standar kompetensi
mata pelajaran berupa pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus
dikuasai serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata
pelajaran”. Karena Standar kompetensi telah disusun secara nasional, maka dalam membuat
silabus tinggal menyalin untuk mata pelajaran yang termuat dalam kurikulum (kurnas). Dan
untuk mata pelajaran muatan lokal (mulok) disusun sendiri oleh sekolah yang bersangkutan.
Penentuan kompetensi dasar. Kompetensi dasar merupakan perincian atau
penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi. Kompetensi dasar adalah pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang minimal harus dikuasai peserta didik untuk menunjukkan
bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang ditetapkan. Rumusan kompetensi
dasar mengandung unsur pembentukan tercapainya standar kompetensi. Artinya dengan
tercapainya semua kompetensi dasar, maka standar kompetensi akan terbentuk.
137 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Rumusan Indikator Pencapaian. Indikator adalah indikator kompetensi mata
pelajaran yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan/atau respons yang dilakukan atau
ditampilkan oleh peserta didik. Indikator, yaitu:
a. sesuatu yang dapat menjadi petunjuk atau keterangan kompetensi dasar mata pelajaran
b. merupakan jabaran dari kompetensi dasar mata pelajaran yaitu satu kompetensi dasar
terdiri dari dua atau lebih indikator
c. mengacu pada rumusan kompetensi dasar mata pelajaran
d. dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi
e. digunakan sebagai dasar menyusun instrumen asesmen
Penentuan Materi Pokok. Materi pokok adalah pokok-pokok materi pembelajaran
yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dan yang akan dinilai
dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian
belajar. Karena sttandar matterii pokok ttellah diittettapkan secara nasiionall,, maka matterii
pokok
ttiinggall diisalliin darii buku sttandar Kompettensii matta pellajjaran.. Sementtara ttugas para
pengembang siillabus memberiikan jjabaran/matterii pokok ttersebutt ke dallam uraiian
matterii
pokok yang biiasa diisebutt dengan matterii attau bahan yang akan diipellajjarii/diiajjarkan
dan
diiharapkan diikuasaii settellah pembellajjaran.. Hall yang perllu diiperhattiikan dallam
mengembangkan bahan pellajjaran ttersebutt,, yaiittu membenttuk ttercapaiinya kompettensii
dasar
matta pellajjaran,, merupakan matterii yang esensiiall,, dan diittuangkan dallam benttuk pokok
bahasan besertta sub pokok bahasan.. Sellaiin iittu,, perllu pulla memperttiimbangkan::
ttiingkatt
perkembangan pesertta diidiik,, kebermanffaattan bagii pesertta diidiik,, sttrukttur keiillmuan,,
kedallaman dan kelluasan matterii,, rellevansii kebuttuhan dan ttunttuttan lliingkungan sertta
allokasii
wakttu..
Penentuan pengalaman belajar. Pengalaman belajar adalah kegiatan fisik maupun
mental yang perlu dilakukan oleh anak didik dalam mencapai standard kompetensi dan
kompetensi dasar serta materi pelajaran. Dapat diperoleh baik di dalam kelas secara teori
tatap muka dan praktek maupun di luar kelas dengan kunjungan pada objek studi di
lapang.
Pengalaman dan kegiatan belajar di sini berpusat pada siswa (CBSA), dan hal yang
perlu diperhatikan adalah semua aktivitas siswa dalam interaksinya dengan materi
pembelajaran (bukan interaksi guru-siswa) untuk menguasai kompetensi yang ditetapkan.
Contoh: - menyalakan bola lampu dengan menghubungkan dua beterei dengan kabal dan
bola lampu
- Mengidentifikasi macam-macam jual beli yang terjadi di masayarakat secara
berkelompok.
Selanjutnya dalam merumuskan pengalaman belajar perlu memahami modus atau
pola pengalaman belajar siswa dan kemungkinan hasil belajar yang dicapainya, dalam
”kerucut pengalaman belajar” seperti gambar 6.1
Gambar 6.1 memberikan makna dalam pembelajaran bahwa dengan memberi
pengalaman belajar hanya dengan membaca berarti yang diingat hanya 10 %. Jika
138 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Gambar 6.1 Kerucut Pengalaman Belajar
Pembelajaran hanya dalam bentuk ceramah – yang berarti siswa hanya mendengakan,
maka siswa hanya mampu mengingat 20 % dar apa yang didengarnya itu. Kalau mengajar
dengan mengemas dalam bentuk siswa mengerjakan tugas-tugas kelompok dan melaporkan
hasilnya maka siswa mampu mengingat sampai 90 % dari apa yang dikerjakan (secara
berkelompok) dan dikatakan (dalam bentuk laporan lisan atau tulis).
Oleh karena itu, dosen/guru ketika akan menentukan strategi pembelajarannya
seharusnya berpikir dari bawah ke atas, bukan sebaliknya dari atas ke bawah. Pilih strategi
yang memberikan peluang siswa untuk melakukan dan melaporkan yaitu hasilnya 90 %.
Apabila tidak memungkinkan, barulah berpikir kearah satu tingkat di atasnya yaitu
mengatakan sesuatu baik secara lisan maupun tulis dengan hasilnya 70 %. Begitulah
seterusnya sampai pada hanya menyuruh siswa untuk membaca dengan hasilnya hanya 10
%.
Penentuan Alokasi Waktu. Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar
didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu
dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat
kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan
dalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk
menguasai kompetensi dasar.
Penentuan Sumber Bahan Ajar. Sumber bahan ajar adalah rujukan, objek dan/atau
bahan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran. Sumber bahan ajar
dapat berupa sumber primer (objek langsung) sekunder, dan tersier. Penentuan sumber
bahan ajar yaitu secara fungsional mendukung pengalaman belajar yang dilakukan oleh
siswa dan ketersediaan secara efisien dan efektif. Sumber bahan ajar akan terhindar dari
kesalahan konsep dan plagiat. Teknik penulisannya, yaitu: nama pengarang, tahun terbit,
judul buku, tempat dan nama penerbit, disusun secara abjad.
f. Format Silabus
Sudah disebutkan terdahulu bahwa pelaksanaan silabus merupakan ketentuan
keragaman menurut karakteristik sekolah masing-masing, sehingga hasil pengembangan
silabus dapat dikemas ke dalam beberapa jenis format. Klasifikasi format silabus pada
hakikatnya ada dua bentuk, yaitu format silabus disusun dalam bentuk vertikal dan dalam
Yang diingat
10 % …………………. baca
20 % ………………...
30 % ……………
50 % ………..
70 % ........
lihat
dengar
lihat dan dengar
katakan
Katakan dan lakukan 90%   …
Modus:
Verbal
Visual
Berbuat
Sheal, Peter (1989)
How to develop and
present staff Training
courses,
London:Kogan Page
Ltd
139 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
bentuk horizontal. Pengembang silabus dapat memilih salah satu di antaranya. Sebagai
contoh format silabus adalah sebagai berikut.
Contoh: Silabus Bentuk Horizontal
SILABUS
Nama Sekolah : …………………………………………………………………….
Mata Pelajaran : ……………………………………………………………………
Kelas/Program : ……………………………………………………………………
Semester : ……………………………………………………………………
Standar Kompetensi: …………………………………………………………………….
…………………………………………………………………….
No.
Kompetensi
Dasar
Materi Pokok Pengalaman
Belajar
Alokasi
waktu
Sumber
bahan/alat
Contoh: Silabus Bentuk Vertikal
SILABUS
Nama Sekolah : …………………………………………………………………….
Mata Pelajaran : ……………………………………………………………………
Kelas/Program : ……………………………………………………………………
Semester : ……………………………………………………………………
I. Standar kompetensi : ..................................................................................................
II. Kompetensi Dasar : .................................................................................................
III. Materi Pokok : .................................................................................................
IV. Pengalaman Belajar : ..................................................................................................
V. Indikator : ................................................................................................
VI. Penilaian : ................................................................................................
VII. Alokasi waktu : ...................................................................................................
VIII. Sumber/Bahan/Alat: ...............................................................................................
140 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
a. Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Berdasarkan silabus, guru mengembangkannya menjadi rancangan pelaksanaan
pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswanya.
Banyak istilah yang biasa digunakan untuk rancangan pelaksanaan pembelajaran, yaitu
satuan pelajaran (SP) satuan acara pelajaran (SAP), review overview presentation exercise
summary (ROPES), model satuan pelajaran (MSP), dan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Semua istilah ini, hakikatnya adalah persiapan mengajar dimuka kelas setiap
pertemuan atau setiap unit (kompetensi dasar atau pokok bahasan). Berikut ini yang
disajikan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai yang diterapkan dalam KTSP
dewasa ini.
Rencana pelakanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata
pelajaran setiap pertemuan atau per unit yang akan diterapkan guru (baik yang menyusun
RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara
terprogram.
Silabus dan RPP adalah dokumen pengembangan kurikulum yang dioperasikan
dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi guru dan anak didik (siswa). Kalau silabus
merupakan program untuk jangka waktu agak panjang (semesteran/tahunan), maka RPP
merupakan program untuk jangka waktu singkat dan merupakan tahapan program
pelaksanaan silabus.
b. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan RPP
1) Fungsi Guru dalam Persiapan Mengajar
Silabus yang dibuat, walaupun dinyatakan sebagai kurikulum implementasi, masih
cenderung belum operasional dan belum menjangkau suasana riil dalam kelas. Karena itu,
guru diberi kewenangan secara leluasa untuk menganalisis silabus tersebut sesuai
karakteristik dan kondisi sekolah serta kemampuan dalam menjabarkannya menjadi
persiapan mengajar yang siap dijadikan pedoman pembentukan kompetensi peserta didik.
Guru, murid, dan bahan ajar merupakan unsur yang dominan dalam proses
pemeblajaran. Ketiga unsur ini saling berkaitan , mempengaruhi serta tunjang menunjang
antara satu dengan lainnya. Jika salah satu unsur tidak ada, maka kedua unsur yang lain
tidak dapat berhubungan secara wajar dan proses pembelajaran tidak akan berlangsung
dengan baik. Jika proses belajar mengajar itu ditinjau dari segi kegiatan guru, maka terlihat
bahwa guru memegang peranan prima. Ia berfungsi sebagai pembuat keputusan yang
berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian/evaluasi
Sebagai perencana, guru hendaknya dapat:
- mendiagnosis kebutuhan siswa
- merumuskan tujuan instruksional
- menetapkan strategi dan media pengajaran
Sebaga pengimplementasi, guru hendaknya dapat mempertimbangkan berbagai
situasi dan kondisi yang ada dan berusaha ”memoles” setiap situasi yang muncul menjadi
situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar menagajar.
Sebagai evaluator harus dapat menetapkan prosedur dan teknik asesmen yang
tepat. Jika kompetensi dasar yang telah ditetapkan pada kegiatan perencanaan belum
tercapai, maka ia harus meninjau kembali rencana serta implementasinya dengan maksud
melakukan perbaikan
Secara visualisasi dapat dilihat pada gambar 6.2
141 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
2) Prinsip-prinsip Persiapan Mengajar
Untuk membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses
peembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan
pembelajaran yang baik, antara lain:
- Rumusan kompetensi harus jelas
- Persiapan mengajar sederhana, fleksibel, dan dapat dilaksanakan
- KBM yang disusun menunjang ketercapaian kompetensi
Gambar: 6.2 Fungsi Guru dalam Persiapan Mengajar
- Pengembangan RPP secara utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaiannya
- Terkordinasi dengan komponen pelaksana program sekolah, terutama yang dilaksanakan
secara team teaching atau moving class.
3) Perumusan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan komponen utama yang terlebih dahulu harus
dirumuskan guru dalam proses pembelajaran. Tujuan-tujuan tersebut merupakan tujuan
instruksional sebagai sasaran dari proses pembelajaran yaitu perilaku hasil belajar yang
diharapkan dimiliki peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran.
Dijabarkan dari Kompetensis dasar dan pokok materi yang diorientasikan pada kepentingan
peserta didik.
Sebagai penjabaran kompetensi, tujuan instruksional memiliki ciri-ciri, yaitu:
a) memuat spesifikasi tingkah laku dan materi
b) operasional dalam arti kongkret dan dapat diamati
c) dapat diukur melalui alat ukur yang ada
Sehubungan dengan ciri-ciri tersebut dalam merumuskannya harus ada subjek didik,
kata kerja operasional/tindakan, kondisi, dan standar atau kriteria keberhasilan.
Sebagai contoh: subjek didik – murid, siswa, mahasiswa,
kata kerja operasional/tindakan – mendeskripsikan
kondisi – konsep ilmu ekonomi
kriteria keberhasilan - pengertian kelangkaan sumber daya
Rumusannya: Siswa dapat mendeskripsikan pengertian kelangkaan sumber
daya dalam konsep ilmu ekonomi.
Perencanaan Implementasi
Perencanaan
Evaluasi
Balikan
- mendiagnosis kebutuhan siswa
- merumuskan tujuan
instruksional
- menetapkan strategi dan media
pembelajaran
- mempertimbangkan
berbagai situasi dan
kondisi (keterampilan
profesional)
- dapat menetapkan
prosedur dan teknik
asesmen
-
-
-
- tepat
-
142 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
4) Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran adalah skenario proses pembelajaran yang
dilakoni setiap unit pelajaran, yaitu:
- Setiap unit (pertemuan – tatap muka) kegiatan pembelajaran dikelompokkan dalam tiga
bagian, yaitu: pendahuluan, kegiatan Inti, dan penutup
- Jika dibutuhkan dua kali pertemuan, setiap pertemuan dikelompokkan seperti satu
pertemuan (pertama, kedua)
- Bagian pendahuluan, yaitu: menarik perhatian, memotivasi, memberi acuan, dan
membuat kaitan (maksimal 15 menit). Bentuknya secara klsikal
- Kegiatan inti yaitu interaksi peserta didik terhadap materi sesuai model
pembelajaran/strategi yang digunakan – sfesifikasi tingkah laku dan materi. Lamanya 90
menit dikurang 15 menit pendahuluan kurang 15 menit penutup = 60 menit.
Bentuknyaklasikal/kelompo/individu.
- Bagian penutup – refleksi (mengulas rangkuman kegiatan), reinforcemen, tugas
rumah/terstruktur (maksimal 15 menit) Bentuknya klasikal.
c. Langkah-langkah Penyusuna RPP
Langkah yang patut dilakukan guru dalam penyusunan RPP adalah sebagai berikut:
1) Ambillah satu unit pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran
2) Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit tersebut
3) Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dasar tersebut
4) Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator tersebut.
5) Rumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut
6) Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/dikenakan kepada siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan
7) Pilihlah metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan tujuan
pembelajaran
8) Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan rumusan
tujuan pembelajaran yang bisa dikelompokkan menjadi kegiatan awal, kegiatan inti,
dan kegiatan penutup
9) Jika alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar lebih dari 2 (dua) jam
pelajaran, bagilah langkah-langkah pembelajaran menjadi lebih dari satu pertemuan.
Pembagian setiap jam pertemuan bisa didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran
atau sifat/tipe/jenis materi pembelajaran
10) Sebutkan sumber/media belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran secara
konkret dan untuk setiap bagian/unit pertemuan
11) Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian yang akan
digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Jika instrumen penilaian berbentuk tugas,
rumuskan tugas tersebut secara jelas dan bagaimana rambu-rambu penilaiannya. Jika
instrumen penilaian berbentuk soal, cantumkan soal-soal tersebut dan tentukan
rambu-rambu penilaiannya dan/atau kunci jawabannya. Jika penilaiannya
berbentuk proses, susunlah rubriknya dan indikator masing-masingnya.
d. Format RPP
Sudah dikemukakan bahwa Silabus dan RPP merupakan kurikulum implementatif,
disusun sesuai ketentuan keragaman menurut karakteristik sekolah masing-masing. RPP
dibuat sebagai persiapan mengajar di muka kelas, sehingga proses pembelajaran dapat
terarah secara sistematis, efisien, dan efektif.
143 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Karena ketentuan keragaman dan tidak ada format baku dalam penyusunan
persiapan mengajar, maka guru diharapkan dapat mengembangkan format-format baru.
Ada beberapa alternatif format penyusunan persiapan yang bisa dikembangkan, Format
yang dipilih guru sangat bergantung pada sifat materi pembelajaran dan selera/kehendak
kurikulum yang sedang berlaku. Yang penting adalah ketika memutuskan penggunaan
format tertentu harus dilakukan secara sadar dan rasional
Berikut ini dikemukakan tiga contoh format rencana persiapan mengajar sebagai
bahan pembanding dan stimulus untuk lahirnya kreativitas guru dalam membuat modelmodel
baru.
Cantoh 1. Format Ropes
PERSIAPAN MENGAJAR MODEL ROPES
I. Identitas Rencana Pembelajaran
Mata Pelajaran :………………………………………………………………
Materi Pokok :………………………………………………………………
Kelas/Semester: ………………………………………………………………
Pertemuan : ………………………………………………………………
Waktu : …………………………………………………………………
II. Kemampuan Dasar/Tujuan
Standar Kompetensi: …………………………………………………………
Kompetensi Dasar : …………………………………………………………
Indikator : …………………………………………………………
III. Prosedur dan Materi
1. Review: ……………………………………………………………………..
………………..……………………………………………………………..
……………………………………………………………………………….
2. Overview: …………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
3. Presentation:
telling: ………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
showing: ………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
doing: ……………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
4. Exercise: ………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
atau dengan kata lain, head heart and hand
5. Summary: ………………………………………………………………….
144 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
IV. Sumber Bahan/Media/Alat
Sumber bahan: ………………………………………………………………..
Media/Alat: …………….……………………………………………………..
V. Penilaian (instrumen dan prosedur yang digunakan untuk menilaia pencapaian
belajar siswa, misalnya: tes tulis, kinerja, produk, p;royek, portofolio, serta tindak
lanjut hasil penilaian, misalnya remedial, pengayaan, atau pencepatan
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Diketahui oleh Guru ybs.
Kepala Sekolah,
……………………. ...……………
Contoh 2. Format Satuan Pelajaran (SP)
SATUAN PELAJARAN
(S P)
Bidang Studi : …………………………………………………………………
Pokok Bahasan: …………………………………………………………………
Kelas/semester: …………………………………………………………………
Pertemuan : …………………………………………………………………
Waktu : ……………………………………………………………………
a. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
…………………………………………………………………………………………
__________b. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSU (TIK)
2.1………………………………………………………………………………………
2.2……………………………………………………………………………………...
Dst.
c. BAHAN PELAJARAN (MATERI PELAJARAN)
…………………………………………………………………………………...........
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
145 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
d. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
4.1 Metode: ……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
4.2 Kegiatan Guru dan Siwa
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1. ...............................................................
2. ...............................................................
3. ...............................................................
dst.
1. ................................................................
2. ................................................................
3. ................................................................
dst.
e. ALAT DAN SUMBER BAHAN
5.1 Alat: ..……………………………………………………………………………
......…………………………………………………………………………
5.2 Sumber bahan: ..………………………………………………………………….
…………………………………………………………………...
f. EVALUASI
6.1 Prosedur: ……………………………………………………………………….
6.2 Istrumen Evaluasi: (lembaran tes dan kunci jawaban atau rubriknya)
…………………………………………………………………………………..
6.3 Matriks: (Kesesuain TIK dengan alat evaluasi)
Mengetahui Guru mata pelajaran
Kepala Sekolah
…………………………………… ………………………………
Catatan: Jika Satuan Peljaran dioperasikan lebih dari satu kali pertemuan, maka pada
rumusan TIK dan KBM (kegiatan guru dan siswa) dinyatakan pertemuan pertama,
kedua, dst.
146 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Contoh 3 Format RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(R P P)
Satuan Pendidikan : ……………………………………………………………………
Mata Pelajaran : ……………………………………………………………………
Kelas/Semester : ……………………………………………………………………
Standar Kompetensi: ..…………………………………………………………………..
Alokasi waktu : … x … menit (pertemuan ke …)
Kompetensi Dasar : …....………………………………………………………………
Indikator : 1. …...…………………………………………………………….
2. …………………………………………………………………
dst. ……………………………………………………………….
A. Tujuan Pembelajaran
1. ……………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………
dst.
(Satu atau lebih indikator dapat dirumuskan dengan satu tujuan pembelajaran)
e. Materi Pembelajaran
………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………
…………………………………….
………………………………………………………………………………………….
……………………………………
………………………………………………………………………………………….
(Satu kompetensi dasar dapat dirumuskan dengan satu atau lebih pokok materi. Tiap
pokok materi mengandung unsur pembentukan untuk tercapainya kompetensi dasar dan
standar kompetensi, selanjutnya dengan akumulasi ketercapaian beberapa standar
kompetensi membentuk standar lulusan yang menjadi mutu luaran.)
147 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
f. Metode Pembelajaran
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
g. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
No. Kegiatan Belajar Alokasi Waktu
(menit)
1. Kegiatan Awal
- kegiatan prasyarat
- membuka pelajaran
- memotivasi peserta didik
Kegiatan Inti
………………………………………………………………
………………………………………………………………
Kegiatan Penutup
- siswa dan guru melakukan refleksi
- tugas terstruktur (pekerjaan rumah)
max. 15 menit
………………….
max. 15 menit
2. Kegiatan Awal
- kegiatan prasyarat
- dst.
max. 15 menit
3. Dst. Dst.
h. Sumber/media/alat belajar
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
i. Strategi Asesmen
Prosedur:
……………………………………………………………………………………
Metode/teknik
…………………………………………………………………………………………
Instrumen (soal/tugas) ditambah dengan kunci jawaban atau rubriknya
…………………………………………………………………………………………
Mengetahui Guru mata pelajaran
Kepala Sekolah
…………………………………… ………………………………
148 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
B. PELATIHAN
3. Tugas Individu
Setelah mempelajari bahan tersebut di atas (materi bagian kelima), jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
iv. Deskripsikan mengapa Silabus dan RPP disebut sebagai kurikulum implementatif?
Jawaban:
Silabus dan RPP sebagai kurikulum implementatif:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
b. RPP disusun dengan prinsip nutturen effect. Kemukakan apa maksudnya!
Jawaban:
Maksud nutteren effeck dalam penyusunan RPP:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
1. Kemukakan yang dimaksud dengan Indikator dan cara penenetuannya!
Jawaban:
Indikator: ……………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………
Cara menentukan indikator: ………………………………………………………..
.....................................................................................................................................
......................................................................................................................................
2. Komponen apa sajakah dalam format RPP?
Jawaban:
Komponen RPP:
.......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
3. Deskripsikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran!
Jawaban:
Pendahuluan: ................................................................................................................
Kegiatan Inti: ................................................................................................................
................................................................................................................
................................................................................................................
Penutup : .................................................................................................................
4. Tugas Kelompok
Bagi yang menginginkan tugas kelompok, diskusikan 3 - 6 orang berikut ini.
Coba Anda menentukan satu unit pelajaran dan mengisi format Silabus dan RPP (Contoh 3)
yang ada dalam materi pokok keenam di atas.
149 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Lampiran-Lampiran
KATA KERJA OPERASIONAL
Abdul Majid (2007:263) mengemukakan sejumlah kata kertja operasional yang
dapat dipakai dalam perumusan Standar kompetensi dan Kompetensi dasar sebagai
berikut:
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendefinisikan
Menerapkan
Mengkonstruksikan
Mengidentifikasikan
Mengenal
Menyelesaikan
Menyusun
Menunjukkan
Membaca
Menghitung
Menggambarkan
Melafalkan
Mengucapkan
Membedakan
Mendefinisikan
Menafsirkan
Menerapkan
Menceriterakan
Mengidentifikasi
Menguraikan
Menggunakan
Menentukan
Menyusun
Menyimpulkan
Menginterpretasikan
Mendemonstrasikan
Menterjemahkan
Merumuskan
Menyelesaikan
Mendeskripsikan
Menganalisis
Mensintesis
Mengevaluasi
Keterangan:
Satu kata kerja dapat dipakai pada standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Perbedaannya adalah pada standar kompetensi cakupannya lebih luas dari kompetensi
dasar. Satu standar kompetensi dapat dipecah menjadi 3 – 6 atau lebih kompetensi
dasar. Satu kompetensi dasar harus ddipecah menjadi minimal 2 indikator.
150 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
RUMUSAN TUJUAN PEMBELAJARAN MENURUT AHLI
A. Benyamin S. Bloom (Sumber: Roestiyah NK. – 1982:139-140)
TAXONOMI TUJUAN PENDIDIKAN – COGNITIVE DOMAIN
KATEGORI DARI
TAXONOMI
TUJUAN UMUM
PENGAJARAN
ISTILAH HASIL
BELAJAR YANG
BEHAVIORISTIS
1. Pengetahuan: mengingat
materi yang telah dipelajari
dari fakta-fakta hingga
teori abstrak. Merupakan
tingkat terendah dari hasil
belajar
Mengetahui istilah-istilah,
mengetahui fakta tertentu,
mengetahui metode dan
prosedur, mengetahui konsep
dasar, mengetahui
prinsip-prinsip
Mendefinisikan, menggambarkan,
mengenal,
menamai, menyusun,
men-cocokkan, menghasilkan,
memilih, menyatakan,
mengelompokkan,
menjodohkan
2. Pengertian: kemampuan
menangkap arti materi
dengan menterjemahkan,
menginterpretasi bahan
meramalkan. Satu tapak
lebih tinggi dari no. 1
Mengerti fakta dan prinsip.
Menginterpretasi bahan
ver-bal. Menginterpretasi
diag-ram dan grafik.
Menter-jemahkan materi
verbal ke dalam rumus
matematik. Mengestimasi
penggunaan data.
Mempertimbangkan
metode dan prosedur
Mengerti, mempertahankan,
membedakan, memperkirakan,
menerangkan,
memperluas, menunjukkan,
merangkaikan, meramalkan,
menuliskan,
mengikhtisarkan. Menterjemahkan,
mengumpulkan, memberi
contoh, memberi hipotesis
3. Aplikasi atau penggunaan
kemampuan: menggunakan
bahan yang telah
dipelajari ke dalam situasi
baru dan kongkrit, misalnya
aturan metode,
konsep, prinsip hukum &
teori. Lebih tinggi dari no.
1 & no. 2 di atas.
Menggunakan prinsip &
konsep, menggunakan hukum
& teori dalam
praktek, memecahkan soal
mate-matis, membuat
diagram dan grafik,
menggunakan metode &
prosedur secara benar.
Mengubah, menghitung,
menunjukkan, menemukan,
menggunakan, merombak,
melakukan, menyediakan,
menghubungkan,
mencemohkan
4. Analisis: kemampuan
memecahkan bahan ke
dalam komponen bagianbagiannya,
sehingga struktur
organisasinya bagian
menganalisis hubungan &
prinsip organisasinya
Mengenal asumsi yang tak
dinyatakan. Mengenal
kesa-lah berpikir logis.
Mem-bedakan fakta &
petunjuk. Mengevaluasi
relevansi da-ta.
Menganalisis struktur organisasi
dari suatu pekerjaan
seni, musik, tulisan
Memecahkan, membuat
diagram, membedakan,
memisahkan, mengenal,
menggambarkan, menunjukkan,
menggabungkan,
memilih, membagi.
151 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
KATEGORI DARI
TAXONOMI
TUJUAN UMUM
PENGAJARAN
ISTILAH HASIL
BELAJAR YANG
BEHAVIORISTIS
5. Sintesis: kemampuan
meletakkan bagian-bagian
untuk satu keseluruhan,
meliputi menghasilkan
mengkomuniksikankhusus
merencanakan tindakan
menyusun suatu
hubungan abstrak.
Mengenakan tingkatan
kreatif dengan tekanan
pada formulasi pada
struktur baru
Memilih suatu tema terorganisasi.
Berbicara dengan
bahasa baik, menulis
ceritera pendek, merencanakan
eksperimen integrasi
pengalaman kearah
problem solving, Mempormulasi
suatu skema baru
untuk mengklasifikasikan
objek
Mengategorikan, menggabungkan,
mengumpulkan,
menciptakan, membuat,
merencanakan, menerangkan,
mengubah,
mengorga-nisasikan,
menyusun,
menghubungkan,
merevisi, menceritakan,
menyimpul-kan.
6. Evaluasi: kemampuan
mempertimbangkan nilai
dari materi untuk suatu
tujuan tertentu. Pertimbangan
ini didasarkan
krirteria yang jelas. Merupakan
hasil belajar
tertinggi
Mempertimbangkan konsistensi
logis dari materi
tertulis. Mempertimbangkan
kesesuaian dengan
kon-klusi yang ditunjang
de-ngan data. Mempertimbangkan
nilai suatu pekerjaan
dengan menggunakan
kriteria internal. Mempertimbangkan
nilai suatu pekerjaan
dengan menggunakan
standard kebenaran
eksternal
Menilai, membandingkan,
menyimpulkan, mengeritik,
menggambarkan, mendeskripsiskan,
mempertim-bangkan,
menginterpreta-sikan,
menghubungkan,
menyimpulkan.
B. David Krathwohl (Sumber: Roestiyah NK. – 1982:141-142
TAXONOMI TUJUAN PENDIDIKAN – AFFECTIVE DOMAIN
KATEGORI DARI
TAXONOMI
TUJUAN UMUM
PENGAJARAN
ISTILAH HASIL
BELAJAR YANG
BEHAVIORISTIS
1. Menerima: kemauan
murid melihat fenomena
atau stimuli: aktivitas klas
texbook, musik, usaha
menimbulkan,
memelihara dan
mengarahkan perhtian
murid. Tingkat terrendah
Mendengarkan penuh perhatian.
Menunjukkan kesadaran
belajar.
Menunjukkan sensitifitas
terhadap kebu-tuhan
manusia & problem sosial.
Mengikuti sungguhsungguh
aktifitas sekolah
Bertanya, memilih, menggambarkan,
mengikuti,
memberi, memegang,
mengidentifikasi, menempatkan,
merasakan, menunjuk,
menjawab, menggunakan.
152 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
KATEGORI DARI
TAXONOMI
TUJUAN UMUM
PENGAJARAN
STILAH HASIL BELAJAR
YANG BEHAVIORISTIS
2. Menjawab: partisipasi
aktif dari murid. Tidak
sekedar melihat
fenomena, tetapi
mereaksinya terma-suk di
sini, interest mencari dan
menyenangi.
Mengerjakan pekerjaan rumah.
Menurut aturan sekolah.
Berpartisipasi dalam
diskusi. Menyelesaikan
ker-ja lab. Melapori tugas
ter-tentu. Menunjukkan
interest dalam pelajaran
suka meno-long yang lain
Menjawab, menolong, bertindak
menyesuaikan,
men-diskusikan,
menghormati, membantu,
menamai, membentuk,
melakuka, memberikan
membaca, mencatat,
melaporkan, membagi,
mempelajari, mengerjakan
3. Menilai: kemampuan
meletakkan niali terhadap
objek, fenomena atau
tingkah laku. Penilaian
dari hal sederhana sampai
yang kompleks. Penilaian
berdasarkan internalisasi.
Juga sikap & appresiasi
Kepercayaan dalam satu
proses yang demokratis.
Appresiasi terhadap literatur.
Appresiasi peranan
science dalam hidup kita.
Memperhatikan kesejahteraan
orang lain. Menunjukkan
sikap mampu
meme-cahkan soal. Partisipasi
dalam pekerjaan sosial
Menyelesaikan, menggambarkan,
membedakan,
men-deskripsikan,
membentuk, memakai,
mengundang, menyatakan,
mempertim-bangkan,
merencakan, membaca,
memilih, me-laporkan
membagi, mem-pelajari,
melakukan
4. Organisasi:
menyatukan nilai-nilai
yang berbeda
memecahkan
pertentangan
pembangunan sistem nilai
yang konsisten. Tekanan
pada perbandingan hubungan
& sintesa nilainilai
. Meliputi konsep nilai
filsafat hidup
Mengenal balans antara
kemerdekaan diri dan
tang-gung jawab.
Mengenal pe-ranan
perencanaan yang
sistematis & problem solving.
Mempertanggungjawabkan
tingkah lakunya.
Menyadari kekuatan dan
kelemahannya.
Menyelaras-kan hidupnya.
Mendekatka, mengubah
menyusun, menyatukan,
membandingkan, mengidentifikasi,
mengintegrasikan,
mengatur, menyiapkan,
menghubungkan,
men-sintesakan
5. Karakterisasi dari nilai
atau kelompok nilai indiviud
mengontrol tingkah
lakunya hingga
tercer-min corak hidup
tertentu. Tingkah lakunya
menjadi berisi/berpasive ,
konsisten dan diktabel. Di
sini meliputi pola umum
dari penyesuaian pribadi,
sosial dan emosi.
Menunjukkan kesadsaran
akan keselamatannya. Menunjukkan
kepercayaan
diri. Mempraktekkan kerja
sama. Menunjukkan disiplin
diri. Membiasakan hidup
yang sehat
Melakukan, membedakan,
menunjukkan, mempengaruhi,
mendengarkan,
meng-ubah, membentuk,
mem-praktekkan,
mengkualifika-sikan,
menanyakan, memperbaiki,
memecahkan,
menggunakan, menverifikasikan
153 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
C. Norman E. Gronlund dan R.W.de Maelay (Roestiyah NK. – 1982:141-142)
TAXONOMI TUJUAN PENDIDIKAN – PSYCHOMOTOR DOMAIN
KATEGORI DARI
TAXONOMI
TUJUAN UMUM
PENGAJARAN
ISTILAH HASIL
BELAJAR YANG
BEHAVIORISTIS
1. Persepsi: Menunjuk
kepada proses kesadaran
akan adanya perubahan
setelah keaktifan: melihat
mendengar, menyentuh,
merasakan, membau, serta
gerak dari urat syaraf kita
Simulasi sensoris mende-ngar
isyarat, melihat ben-tuk, angka!.
Menyentuh bentuk sesuatu.
Merasakan pahit, manis.
Membau dan memegang
sesuatu. Diskri-minasi dari
tanda-tanda: mengikuti
perubahan, men-catat
pengalaman, menja-wab dengan
grak memi-sahkan konsep.
Melihat, mendengar, menyentuh,
mengecap, membau
memegang
2. Kesiapan: menunjuk
langkah lanjut setelah adanya
persepsi kemampuan
dalam membedakan, memilih
menggunakan
neoro-muscular yang
tepat dalam membuat
respon
Kesiapan mental memilih dan
membuat sintessis. Ke-siapan
fisik: dalam menye-suaikan
kemampuan neu-romuscular.
Kesiapan emo-sional dalam
merespons menurut sikap yang
tepat.
Memilih, memisahkan,
menunjukkan, mengambil,
menggunakan,
melaku-kan, menimbang,
menger-jakan, menjawab,
meme-cahkan,
memperlihatkan.
3. Response terpimpin: dengan
persepsi dan
kesiapan di atas,
mengembangkan
kemampuan dalam aktifitas
mencatat dan membuat
laporan
Imitasi, mempertunjukkan
sesuatu. Trial and error memecahkan
problem. Meng-ikuti
petunjuk sampai de-ngan yang
belum dikenal. Mengadakan
eksperimenta-si: membuat
singkatan, menggambar,
menyusun, dan sebagainya
Menirukan, meragakan,
menggerakkan,
mengguna-kan,
memisahkan, meng-ubah,
menyusun, mem-buat,
merangkaikan menyingkat,
menyimpulkan
4. Mekanisme penggunaan
sejumlah skill dalam
aktivitas yang kompleks,
meliputi 1,2 dan 3 di atas
Memilih: bahan, alat, perlengkapan.
Merencanakan:
aktivitas, dan waktu. Me-latih:
skill menyusun dan
merangkaikan melakukan:
tugas dengan baik, bertanggungjawab
dan cepat
memperkirakan hasil
Memilih, menentukan,
me-masang,
menggunakan,
memperbaiki, melakukan,
mengubah, menyusun,
membentuk
5. Response yang kompleks
menggunakan sikap
dan pengalaman1, 2, 3,
dan 4 di atas, penggunaan
perencanaan test, pengembangan
model
Adapsi: terhadapsumber perencanaan
dan prosedur yang
tepat. Penggunaan skill dan
memilih profesi. Melaporkan
menjelaskan
Menyesuaikan, merencanakan,
menggunakan, melakukan,
melaporkan,
men-deskripsikan
154 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
PEDOMAN KEGIATAN PELATIHAN
1. Praktek model-model pembelajaran = 12 jam,
2. Pelaksanaan praktek dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu:
Dua kali praktek, tiap praktek = 6 jam (2 x 6 = 12 jam)
Satu kali praktek dengan lama 12 jam
3. Praktek dengan cara 2.1 bagian pertama untuk kompetensi dasar pertama dengan materi
model-model pembelajaran, strategi dan metoda, serta media/alat dan sumber
pembelajaran. Menggunakan format 1 Tugas pelatihan
4. Praktek dengan cara 2.1 bagian kedua untuk kompetensi dasar kedua dengan materi
asesmen berbasis kompetensi. Menggunakan format 2 pelatihan asesmen
5. Praktek dengan cara 2.2 satu kali praktek dengan materi kompetensi dasar ketiga dengan
materi utama pengembangan silabus dan RPP. Materi sebelumnya tetap merupakan
bahan dasar untuk praktek.
6. Peserta dibagi menjadi kelompok, tiap kelompok beranggotakan 3 – 6 orang
7. Tugas dikerjakan secara kelompok dan memilih calon presenter dalam sidang pleno
8. 65 – 85 menit terakhir dilakukan pleno dan refleksi
ALOKASI WAKTU
Tahapan Kegiatan Waktu
1. Pendahuluan Orientasi dan pembagian kelompok 15 menit
2. Kegiatan Inti Kerja kelompok untuk praktek pertama 225 menit
Kerja kelompok dan pleno praktek kedua 225 menit
Kerja kelompok untuk satu kali praktek 500 menit
3. Kegiatan Pleno Presentase tugas kelompok 60 - 70 menit
4. Penutup Refleksi 10 - 15 menit
Catatan: Jumlah kelompok maksimal 6 (enam) kelompok
FORMAT: 1. TUGAS PELATIHAN
Nama Sekolah : ...............................................................................................................
Mata Pelajaran : ......................................................................................................
Kelas/Semester : ..............................................................................................................
Standar Kompetensi: …………………………………………………………………..
……………………………………………………………………
Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok
155 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
A. TUJUAN PEMBELAJARAN:
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
...................................................................................................................................
B. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
1. Nama Model : ......................................................................................................
2. Landasan Teori: ......................................................................................................
3. Metode : .......................................................................................................
C. MEDIA/ALAT/SUMBER:
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
D. LANGKAH-LANGKAH POKOK:
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
...................................................................................................................................
..................................................................................................................................
E. PERTANYAAN/TUGAS:
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
FORMAT: 2. PELATIHAN ASESMEN
Nama Sekolah : ......................................................................................................
Mata Pelajaran : ......................................................................................................
Kelas/Semester : ......................................................................................................
Alokasi Waktu : ......................................................................................................
Standar Kompetensi: …………………………………………………………….
…………………………………………………………….
A. TUJUAN PEMBELAJARAN:
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
156 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
B. KISI-KISI STRATEGI ASESMEN
Strategi Asesmen
Kompet. Dasar Indikator
Metode Bentuk
Instrumen
C. INSTRUMEN ASESMEN
Instrumen Asesmen dibuat berdasarkan nomor butir instrumen yang telah ditentukan
dalam kisi-kisi strategi asesmen disertai dengan kunci jawaban atau penskoran
FORMAT 3 RANCANGAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah : ......................................................................................................
Mata Pelajaran : .............................................................................................
Kelas/Semester : ......................................................................................................
Alokasi Waktu : ......................................................................................................
Standar Kompetensi: …………………………………………………………….
…………………………………………………………….
Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok
A. TUJUAN PEMBELAJARAN:
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
B. PENGALAMAN BELAJAR
........................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
C. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
1. Nama Model : ......................................................................................................
2. Landasan Teori: ......................................................................................................
3. Metode : .......................................................................................................
No. butir
instrumen
n
157 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
D. PROSES PEMBELAJARAN
Tahap Langkah (rinci) Waktu Media/alat
Pendahuluan
Kegiatan Inti
Penutup
E. SUMBER BELAJAR/DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................................................................
......................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
F. STRATEGI ASESMEN
1. Prosedur: .................................................................................................................
.....................................................................................................................................
2. Strategi Asesmen
Metode Bentuk No Item Test
3. Instrumen (soal/tugas) ditambah dengan kunci jawaban atau rubriknya
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
158 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
ASESMEN BEKAL AWAL
(FREE TEST)
Soal: 1
Nyatakan benar (dengan cara menuliskan kode B di dalam kurung) atau salah (dengan cara
menuliskan kode S di dalam kurung) pernyataan di bawah ini, dan berilah alasannya!
A. (.....) Konsep kualitas pembelajaran merupakan tugas dan tanggung jawab Guru
untuk mengelola pembelajarannya
B. (.....) Rancangan pembelajaran IPS diarahkan atau difokuskan sesuai dengan kondisi
dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benarbenar
berguna dan bermanfaat bagi siswa.
C. (....) Model pembelajaran inovatif dan partisipatif menggunakan strategi
pembelajaran pada guru yang memposisikan diri yang aktif menyajikan
materinya
Penskoran dan Kunci Jawaban
Skor = 9
Kunci Jawaban: 1. A ( B )
Alasannya: tugas utama guru adalah pendidikan dan pengajaran, dalam menjalankan
tugasnya ia membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan
menilai proses dan hasil belajar peserta didik (siswa)
Kunci Jawaban: 1. B ( B )
Alasannya: Misi pendidikan IPS yaitu membina pengetahuan kecerdasan, dan
keterampilan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, masyarakat dan studi lanjut.
Selain itu membina sikap-sikap yang selaras dengan nilai-nilai pansasila dan UUD 45
Kunci Jawaban: 1. C ( S )
Alasannya: sasaran pembalajaran adalah menjadikan siswa yang belajar. Model
pembelajaran inovatif dan partisipatif berfokus pada siswa aktif yang diasumsikan
belajar terjadi jika individu (siswa) yang belajar aktif terlibat secara optimal baik
secara intelektual, emosional, maupun fisik.
159 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Soal: 2
Penggolongan Strategi pembelajaran yaitu ekspository dan inquiry. Kemukakan skala
kegiatan guru dan siswa yang ideal dan cocok untuk pembelajaran IPS dengan
memperhatikan gambar berikut ini
GURU
A : .......................................
CMGA ........................................
.…………………………
………………………….
Ekspository Inquiry
B: ....................................... CBSA
………… ……… ………




…………………………
SISWA
Pedoman Penskoran
A. skor maksimal = 10 B = skor maksimal = 5
motivatorDinamisator
Pemberi Kejelasan(Clarity)
Pendorong semangat (Probing)
Penanya yang terarah
Fasilitator yang fungsional
Pemberi Hadiah (Reward/reinfor-cement)
Manajer Kelas/Kelompok
Pengarah (Directors)
Pengambil Putusan yang
Penilai (Evaluator)
Interaktif,
partisipatif,
pengamat,
penanya,
penginisiatif
Soal: 3
Coba isi kolom metode, teknik, dan bentuk instrumen dari kolom jawaban pada tabel
berikut ini.
Metoded Teknik Bentuk Instrumen Jawaban
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
.............................
Tes non formal, sebab akibat,
tes kinerja, tes tulis, tes
formal, non tes, tes lisan,
simulasi, tugas proyek, tugas
portofolio, self report,
penugasan, kuis, daftar
pertanyaan, tes identifikasi,
cek list, observasi, lembar
obser-vasi, menjodohkan, kuesioner,
uji petik kerja,
wawancara, interview guide,
160 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
MEDIA
Pedoman Penskoran
Metode Teknik Bentuk Instrumen Skor maks. = 23
1. tes formal,
2. tes non formal,
3. nontes
tes tulis,
tes lisan
tes kinerja,
penugasan,
observasi,
wawancara
self repor
tes sebab akibat, menjodohkan.
Kuis, daftar pertanyaan
uji petik kerja, simulasi,
tes identifikasi
tugas portofolio, tugas
proyek,
cek list, lembar observasi
interview guide
kuesioner
Setiap penempatan
jawaban
secara benar, skor
1
Soal: 4.
Isilah gambar berikut ini sehingga jelas perbedaannya antara media dan alat peraga. Berikan
penjelasannya!
A3
124
BBC
KURIKULUM
GURU
KELAS
GURU
KELAS
ANAK DIDIK
161 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Scor : 3
Kunci Jawaban: A
Alasan: Pemanfaatan media menciptakan pengalaman yang dapat membelajarkan
siswa bukan pengalaman guru
A. ……………….
Deskripsinya: ………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
B. ……………….
Deskripsinya: ………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
C. ……………….
Deskripsinya: ………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..
Pedoman Penskoran
A. Skor = 3 B. Skor = 3 C. Skor = 3
Alat praga: Anak didik
belajar dari Guru sesuai
kurikulum dibantu
dengan alat praga
Guru kelas: Anak didik belajar
dari guru sesuai kurikulum
dengan
mengguna-kan media
Media: Anak didik belajar
sesuai kurikulum melalui
media tanpa guru
Soal: 5.
Yang TIDAK termasuk kualitas media sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
pembelajaran. Berikan alasannya
A. media menciptakan pengalaman guru yang kreatif
B. media menfasilitasi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan ahli lainnya
C. media memperkaya pengalaman belajar siswa
D. media mampu mengubah suasana belajar menjadi aktif mencari informasi melalui
berbagai sumber
Skor dan Kunci Jawaban
Soal: 6, 7, dan 8
Soal terdiri atas tiga bagian, yaitu: PERTANYAAN, kata SEBAB dan ALASAN yang
disusun berurutan. Pilihlah:
E. jika pernyataan betul, alasan betul dan keduanya menunjukkan hubungan sebab
akibat
F. jika pernyataan betul dan alasan betul, tetapi keduanya tidak menunjukkan
hubungan sebab akibat
G. jika pernyataan betul dan alasan salah
H. jika pernyataan salah dan alasan betul
162 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
INSTRUMEN TES
Pedoman Penskoran dan Kunci Jawaban
Skor : 9 (tiap jawaban bobot 3)
Kunci jawaban instrumen tes Sebab Akibat 4. D, 5. A, 6. B
Soal: 9
Berikan tanda centang pada kolom benar jika pernyataan benar, dan kolom salah jika
pernyataan salah.
No. Pernyataan Benar Salah
a. Model pembelajaran adalah desain yang
mendeskripsikan pembelajaran untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan merupakan pedoman bagi guru
untuk merencanakan dan melaksanakan aktivtas
pembelajaran.
.........
........
b. Strategi pembelajaran digolongkan dengan ekspository
dan inquiry. Strategi ekspositori :
1) CBSA
2) guru yang otoriter
Strategi inquiry
3) dominasi guru berceramah secara bervariasi
4) Interaksi multi arah
..........
..........
..........
..........
...........
...........
...........
...........
c. Asesmen adalah tindakan untuk menetapkan
keberhasilan peserta didik setelah mengikuti program
pembelajaran
.........
...........
d. Model pembelajaran kooperatif
1) Pembelajaran dilakukan secara team teching
2) Belajar dari teman sendiri dalam kelompok
3) Saling ketergantungan positif antar anggota
4) Guru bertindak sebagai moderator
...........
...........
...........
...........
...........
...........
...........
...........
6. Silabus dan RPP disusun menurut format yang dianjurkan secara nasional
SEBAB
Silabus dan RPP merupakan kurikulum implementatif
7. Silabus dan RPP adalah dokumen pengembangan kurikulum yang dioperasikan
dalam kegiatan belajar mengajar bagi guru dan peserta didik (siswa)
SEBAB
RPP merupakan program untuk jangka waktu singkat dan merupakan tahapan
program pelaksanaan silabus.
8. Tugas utama seorang guru adalah mengelola pembelajaran yang berkualitas.
Karena itu, guru seyogyanya membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan
pembelajaran, dan menilai proses dan hasil belajar siswa
SEBAB
Salah satu kompetensi dalam PPRI No 19 ayat (3) adalah kompetensi profesinal yaitu
guru harus menguasai substansi materi keilmuan Bidang studi yang diembannya.
163 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
e. Model pembelajaran IPS secara tematik
1) pengembangan materi secara subject matter
2) pendekatan interdisipliner
3) penggunaan metode secara khusus
4) prinsip belajar learning by doing
…….
…….
…….
…….
……
……
……
……
Penskoran
Pernyataan Benar Salah
Pernyataaan benar jawab benar 1 0
Pernyataan salah jawab salah 0 1
Skor maksimal: 14
KUNCI JAWABAN
a. Benar,
b.1) Salah, 2) Benar, 3) Salah, 4) Benar
c. Salah
d. 1) Salah, 2) Benar, 3) Benar, 4) Salah
e. 1) Salah, 2) Benar, 3) Salah, 4) Benar
Soal: 10
Pernyataan Setuju
(3)
Ragu-ragu
(2)
Tidak setuju
(1)
1. Membuat RPP dengan mengimplementasikan
model-model pembelajaran
2. Berceramah hanya dalam kegiatan orientasi
pelajaran
3. Skenario pembelajaran dengan interaksi
siswa terhadap materi pelajaran bukan
guru kepada siswa
4. Tidak perlu asesmen bekal awal, karena
mengurangi jam tatap muka
5. Tidak perlu dilakukan refleksi untuk
menutup pelajaran
6. Siswa yang mengalami kesulitan belajar
tidak perlu remedial karena dapat diulangi
tahun/semester berikutnya
...........
...........
..........
...........
...........
............
................
................
................
.................
.................
.................
..................
..................
..................
..................
..................
..................
Berikan tanda centang pada kolom (setuju/ragu-ragu/tidak setuju) untuk setiap
pernyataan tentang aktivitas model pembelajaran IPS yang kemungkinan Anda
lakukan
164 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
Pedoman Penskoran
Pernyataan yang bermakna negatif (nomor 4, 5, dan 6) diskor berbanding terbalik dengan
pernyataan yang bermakna positif (1, 2, dan 3). Skor maksimal = 18
Rentangan Skor Kategori Sikap
5 - 6 Sangat negatif
7 – 9 Negatif
10 – 12 Netral
13– 15 Positif
16 – 18 Sangat Positif
CATATAN:
- Jumlah soal = 10 dengan skor 100
- Jawaban 70 % ke atas dinyatakan menguasai kompetensi (Lulus)
- Jawaban 69 % ke bawah dinyatakan tidak menguasai kompetensi (Tidak Lulus)
- Bagi yang mencapai 70 % tetapi belum cukup 100 % masih perlu remedial
- Bagi yang kurang 70 % mengalami kesulitan berat dan perlu program khusus atau
mengulang
165 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
PENUTUP
A. TEST
Untuk mengetahui seberapa jauh Anda mengetahui, memahami dan dapat
mengerjakan seperti apa yang diharapkan dalam tujuan instruksional umum (TIU) maupun
tujuan instruksional khusus (TIK), maka berikut ini Anda diminta mengerjakan tes yang
diambil dari pokok bahasan pertama sampai dengan keenam.
Selanjutnya Anda dipersilahkan untuk menilai kemampuan Anda sendiri
dibandingkan dengan yang diharapkan. Dengan membandingkan kedua hal tersebut Anda
dapat memperkirakan apakah masih ada kesenjangan ataukah tidak. Jika jawaban Anda
“masih”, maka Anda perlu lebih mencermati pokok bahasan yang berdasarkan evaluasi
Anda masih kurang memadai.
1. Pokok Bahasan Pertama: Pendahuluan
a. Kemukakan arti pentingnya kualitas pembelajaran!
b. Deskripsikan faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran!
c. Bagaimanakah kriteria kualitas pembelajaran yang diharapkan?
d. Deskripsikan suatu sistem yang ideal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran!
e. faktor-faktor apakah yang perlu diubah untuk menghasilak lulusan yang
berkualitas?
2. Pokok Bahasan Kedua: Berbagai Model dalam Pembelajaran IPS
a. Model-model Pembelajaran IPS mengembang standar kompetensi pedagogik dengan
dua kompetensi dasar, Sebutkan keduanya beserta indikatornya!
b. Dalam suasana pembelajaran dikenal beberapa model pembelajaran. Kemukakan tiga
model pembelajaran yang relevan dengan IPS dan landasan filosofis pengembangannya.
c. IPS merupakan mata pelajaran dalam kurikulum sekolah SD, SMP, dan SMA.
Berikan ulasan adakah perbedaan model pembelajarannya?
d. Pengembangan materi pembelajaran IPS dituntut pendekatan interdisipliner.
Deskripsikan dengan sebuah contoh!
e. Isi jawaban yang benar dengan pengisian matriks secara tematik berikut ini!
Nama Sekolah : ..........................................................................................................
Mata Pelajaran : ..........................................................................................................
Kelas/Semester : .........................................................................................................
PB/SPB dalam
Kurikulum *)
Disiplin ilmu Lingkup
Bahan **)
Pokok-pokok Materi/Konsep
.......................... 1. Sosiologi
2. Sejarah
3. Geografi
4. Ekonomi
5. Lainnya
....................
.......................
.......................
......................
.......................
.......................
..................................................
.................................................
.................................................
..................................................
..................................................
..................................................
..................................................
*) Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan sesuai kurikulum (GBPP) yang diemban.
**) Siswa, Keluarga, Lingkungan, Regional, Negara, atau Dunia.
166 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
3. Pokok Bahasan Ketiga: Strategi dan Metode Pembelajaran IPS
a. Berikan uraian pengertian strategi mengajar sehingga jelas perbedaannya dengan model
pembelajaran dan metode pembelajaran
b. Ada dua golongan strategi mengajar, deskripsikan paradigma dari keduanya
c. Situasi lapangan, fakta menunjukkan bahwa guru-guru IPS banyak yang berlatar
belakang bukan pendidikan IPS atau IPS secara subjek matter. Apa yang bnisa
dilakukan?
d. Mengajar IPS dengan strategi inquiry sebaiknya menggunakan berbagai metode.
Lakukan identifikasi dengan contohnya dalam sbuah kasus
e. Isi jawaban yang benar pada lajur berikut ini
No. Tujuan Spesifikasi Materi Strategi/Metode
1. Ingatan ........................................... Ekspositori, Ceramah
2. Pemahaman ........................................... ..............................................
3. Aplikasi Masalah Ekonomi ..............................................
4. Sikap Terjadinya banjir ..............................................
5. Keterampilan ........................................... Inquiy, Drill
4. Pokok Bahasan Keempat: Pengembangan Media dan Sumber Belajar IPS
a. Kemukakan dengan alasannya, mengapa medoia diperlukan dalam pembeajaran?
b. Kemukakan dengan uraian singkat minimal tiga nilai-nilai praktis dari suatu media!
c. Mengapa unsur tujuan pengajaran penting untuk dipertimbangkaan dalam memilih
media!
d. Sejauh manakah suatu alat praga dapat dipandang sebagai suatu media?
e. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Apa alasannya?
5. Pokok Bahasan Kelima: Metode Asesmen dalam Pembelajaran IPS
a. Berikan alasan yang tepat, perlunya asesmen dalam pembelajaran!
b. Apa beda antara pengukuran dan penilaian
c. Kemukakan karakteristik asesmen yang berbasis kompetensi
d. Observasi adalah salah satu metode asesmen yang dapat dinalai sebagai tes dan juga
non tes. Dalam hal bagaimanakah observasi dikatakan tes dan non tes
e. Apakah tindak mlanjut dari asesmen yang berbasis kompetensi?
6. Pokok Bahasan Keenam: Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
a. Silabus dan RPP adalah dokumen pengembangan kurikulum implementasi. Berikan
penjelasan maksudnya!
b. Silabus dan RPPkeduanya adalah rencana pengajaran yang dibuat oleh guru.
Kemukakan beberapa perbedaannya!
c. RPP disusun sebagai tahapan operasional dari silabi. Kemukakan dengan uraian
singkat cara peengembangannya!
d. Deskripsikan berbagai hal yang termuat dalam pengembangan langkah-langkah
pembelajaran!
e. Kemukakan sumber bahan yang dapat dipergunakan dalam pengembangan materi
pembelajaran IPS!
167 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
B. TINDAK LANJUT
Setelah Anda meengerjakan tes tersebut pada huruf A dengan sungguh-sungguh.
Anda tentu dapat memperkirakan penguasaan materi yang dimuat dalam masing-masing
pokok bahasan. Bila tingkat penguasaan Anda kira-kira mencapai 80 % ke atas, berarti Anda
sudah memahami materi yang dimuat dalam modul-Modul Pembelajaran IPS ini.
Namun demikian, jika tingkat penguasaan Anda kira-kira masih di bawah 80 %,
maka Anda harus remedia; sekitar Pokok-Pokok Bahasan yang belum Anda kuasai dengan
baik.
Semoga Anda berhasil dalam mempelajari modul Model-Model Pembelajaran IPS,
dan menerapkan dalam mengembang tugas mengajar secara profesional di tempat tugas
masing-masing.
168 Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid. 2007. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,
Bandung, Rosdakarya
Anonim. 1982/1983. Program Pengajaran IPS, Modul Akta V-B, Depdikbud-Dikti-P2PT.
Bistok Ssirait. 1989. Bahan Pengajaran Untuk Mata Kuliah Evaluasi Hasil Belajar Siswa, Jakarta,
Depdikbud, Dirjen-Dikti, P2LPTK.
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Meenengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama
Diana Nomida Musnir, Maas DP. 1998/1999. Ilmu Sejarah dalam Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial, Deppdikbud-BPPG-SLTP Setara DIII
Etin Solihatin, & Raharjo. 2007. Cooperative Learning: Analisis Model Peembealajaran IPS,
Jakarta,Bumi Aksara.
Ibrahim, dkk. t.t. Pembelajaran Kooperatif, Jakarta,
Maharuddin Pangewa, 1996. Strategi Belajar Mengajar: Bidang Studi Administrasi Perkantoran
(Komponen Mata Kuliah Proses Belajar Mengajar, Ujungpandang, FPIPS
------------. 1987. Perencanaan Program Pengajaran, Ujungpandang, FPIPS.
Masnur Muslich. 2007. KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan: Pedoman Bagi
Pengelola
Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Komite sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru, Jakarta,
Bumi Aksara.
Muhammad Ali. 1983. Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Baandung, Sinar Baru Algensindo.
Nasution S. 1999. Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta, Bumi Aksara.
R. Ibrahim, Nana Syaodah S. 2003. Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta Kerja sama
Depdikbud.
Rostiyah N.K. 1982. Masalah-masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem, Jakarta, Bina Aksara
----------. 1982. Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Jakarta, Bina Aksara
Rohani, Ahmad. t.t. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta, PT Rineka Cipta.
Salameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Bina Aksara
Sunaryo. 1989. Strategi Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial, Malang, IKIP
Suparno, Ruslan Efendy, Sulaiman Sahlan. 1988. Dimensi-dimensi Mengajar, Bandung, Sinar
Baru.
Suwardi. 1981. Pengembangan Program Pengajaran (Mengenal Moel-model Program
Pengajaran
Bidang Studi IPS) Model Pengajaran Unit, Jakarta, Penlok tahap II P3G- Depdikbud.
Thamrin Talut. 1981. Strategi Inkuiry (Suatu Model) Ilmu Pengetahuan Sosial, Jakarta, Penlok
tahap II P3G- Depdikbud.
Zianal Abidin. 1981. Pengembangan Program Pengajaran IPS (Mengenal Model-Model
Program
Pengajaran Bidang Studi IPS), Jakarta, Penlok tahap II P3G- Depdikbud.

__
MENGAJAR DARI KEDALAMAN CINTA

1. Mengajar untuk Kebahagiaan

Untuk mencapai kebahagiaan pengajaran, lakukanlah:

      Mengajarlah selalu sambil mengingat Allah, dengan mengingat Allah lah hati menjadi
       tentram, Allah menjadi ridho atas profesi Anda dan tekananhidup akan terasa ringan.
      Atas pengajaran yang anda berikan, jangan menantikan ucapan terima kasih dari siapapun
       juga. Cukuplah pahala dari zat yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Tak perlu risau
       dan tak perlu Anda melakukan apapun terhadap murid yang membangkang, mendengki
       dan iri.
      Pada setiap pengajaran yang Anda lakukan, bersihkanlah jiwa dari dengki, dan jernihkan
       dari iri . Keluarkan semua penyakit kesombongan sebagai guru terhadap siswa yang
       bodoh.
      Sebelum mengajar, belajarlah! Jadikan buku teman bercakap-cakap, bersahabatlah
       dengan ilmu dan bertemanlah dengan pengetahuan.

Mengajar untuk kebahagiaan adalah vitamin bagi kesuksesan pengajaran Anda, dia akan
menghilangkan kemalasan mental dan kebosanan serta ketakutan Anda menghadapi peristiwa-
peristiwa yang tidak terbayangkan.

2. Mengajar untuk Kesadaran

Teori terpenting dalam ilmu perubahanperilaku manusia adalah kemampuan seseorang untuk
sadar atas apa yang akan dilakukan. Kesadaran (awareness) menduduki urutan pertama dalam
perubahan perilaku seseorang.

Mengajar untuk kesadaran, tidak hanya dimaksudkan untuk siswa tetapi juga bagi para
pengajarnya. dengan mengajar, guru akan mengalami proses penyadaran dalam diri terhadap
kemampuan dan ketidak mampuan

Tugas guru adalah memfasilitasi anak yang belum bisa untuk bisa, yang malas jadi rajin, yang
agresif jadi terkendali, yang sombong jadi rendah hati. Intinya guru jadi fasilitator siswa menuju
kepada keberhasilan yang unik untuk setiap pribadi.

Guru memfungsikan dirinya bagi kesadaran siswa untuk menjadi lebih baik, yakni kesadaran
siswa untuk kebutuhan akan belajar, kesadaran siswa bahwa belajar adalah jembatan menuju
cita-cita sukses dan kesadaran-kesadaran lainnya.

Para Ahli psikologi perilaku menempatkan pendekatan belajar sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi perubahan (kesadaran) perilaku seseorang. Tujuannya adalah:

      Adanya kebutuhan siswa untuk belajar
      Adanya upaya siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut
       Adanya pengetahuan siswa sebagai bahan dasar proses berpikir, memahami dan
        melakukan perubahan atas diri dan masa depannya.

Sesungguhnya mengajar untuk kesadaran adalah fokus pada perubahan perilaku dasar, yakni
terciptanya keinginan dan kebutuhan untuk belajar.

Setidaknya ada 4 pengetahuan utama yang menjadi sasaran pengajaran untuk kesadaran, yaitu:

   1.   Pengetahuan tentang diri sendiri
   2.   Pengetahuan tentang Tuhan
   3.   Pengetahuan tentang dunia dan pelajaran-pelajaran wajib
   4.   Pengetahuan tentang akhirat dan kehidupan hakiki

3. Mengajar untuk Memahami

Proses memahami lebih penting dari pada proses dipahami, karena sikap memahami
membutuhkan sikap pro-aktif bagi pelakunya. Sikap pro-aktif akan memberikan kesempatan
bagi proses pengembangan diri seseorang.

Mengajar untuk memahami, memberikan kesempatan lebih bagi profesi seorang guru. Di
samping mengajar sebagai pekerjaan utama, guru juga membutuhkan kemampuan interpersonal
dengan para anak didiknya.

Konsekuensi dari profesi guru, selain memiliki kemampuan generalis sebagai pengajar juga
harus memiliki kemampuan spesialis sebagai fasilitator dan konselor siswa. setidaknya guru
memiliki standar anak secara personal, untuk mengukur tingkat kemajuan siswa dari semester ke
semester. karena itulah sangat dibutuhkan yang namanya ‗data base‘ siswa. Tidak hanya data
lahiriyah saja, yang lebih penting adalah data psikologis anak secara spesifik.

4. Mengajar untuk Pembebasan

Kata pembebasan memngandung makna bebas dari ketertindasan, keterikatan dan belenggu.
Mengajar untuk pembebasan adalah menemukan jalan menuju pada kemerdekaan diri dari
kebodohan, egois dan merasa diri tahu segalanya.

Bagi Freire, mengajar haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri siswa sendiri.
pengenalan tersebut harus bersifat objek dan subjek.

Poulo menambahkan bahwa pengajaran untuk pembebasan, tidak saja menyangkut teknik-teknik
refleksi fisik tetapi juga menghubungkan diri siswa-siswai dengan hal-hal yang lebih besar,
dengan sejarah, dengan nilai-nilai, dan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Pengajaran untuk pembebasan adalah membebaskan diri dari hal-hal sebagai berikut:

       Guru belajar murid belajar
       Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
        Guru berpikir, murid dipikirkan
        Guru bicara, murid mendengarkan
        Guru mengatur, murid diatur
        Guru memilih dan memaksa pilihannya, murid menuruti
        Guru bertindak, murid mengikuti tindakan guru
        Guru menentukan apa yang ingin diajarkan, murid menyesuaikan diri
        Guru mengikat kemauan murid dengan aturan profesionalisme yang dipertentangkan
         dengan kebebasan murid
        Guru adalah subjek pengajaran, murid adalah objek pengajaran

5. Mengajar untuk Kompetensi

Dalam sebuah kelas, guru tidak mengajar untuk murid-murid yang sudah mengerti. Tugas guru
adalah mengubah perilaku murid yang belum sadar menjadi sadar, belum paham menjadi paham,
belum bisa menjadi bisa. Kompetensi bukan merupakan sesuatu yang harus distandarkan.Karena
itulah kemajuan seorang siswa tidak bisa diukur dalam parameter yang sama dan dibandingkan
dengan siswa yang lain.

Bukti bahwa kompetensi bukan sebuah standar yang sama bagi semua siswa adalah penggalan
pendapat para ahli tentang kompetensi tersebut:

        Kompetensi adalah manusia yang memiliki pribadi baik, bermoral dan berbudi luhur

                                        (Buya Hamka)

 Kompetensi adalah kekuatan persepsi, pembelajaran (learning), pengertian dan pengetahuan;
                                suatu kemampuan mental.

                                         (AS. Hornby)

       Kompetensi berarti sempurna perkembangan akal budinya (pandai, tajam pikiran dsb);
                    sempurna pertumbuhan tubuhnya (seperti sehat, kuat dsb).

                                   (WJS. Poerwadarminta)

       Kompetensi adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ada untuk
                             memecahkan masalah-masalah baru.

                                       (Donald Sterner)

               Kompetensi adalah kemampuan untuk melakukan pemikiran abstrak.

                                      (Lewis M. Terman)

  Kompetensi adalah kualitas bawaan sejak lahir, sebagai hal yang berbeda dari kemampuan
                           yang diperoleh melalui proses belajar.
                                      (Herbert Spencer)

Kompetensi adalah kemampuan untuk menghadapi masalah dengan sikap yang tak terprogram
                                     (Kreatif)

                                     (Stephen J. Gould)

Setidaknya ada 2 kompetensi yang harus dicapai dalam pengajaran guru:

      Kompetensi diri: meliputi, pemahaman talenta diri, penguatan mentalitas, moralitas, dan
       spiritualitas serta penanaman cita-cita/visi, kemampuan memimpin (leaderships) dan
       kemampuan mengelola diri dan belajar (manajement)
      Kompetensi belajar: meliputi, pemahaman tentang cara dan gaya belajar, kecerdasan
       diri dan pengetahuan-pengetahuan akademis, sesuai bidang jalur studi.

6. Mengajar untuk Belajar

Untuk kebaikan pengajaran Anda secara fisik lakukanlah hal sebagai berikut ini:

      Di sela-sela waktu mengajar Anda, keluarlah di tempat-tempat yang lapang, lihatlah
       kebun-kebun nan indah, dan belajarlah dari ciptaan dan kreasi sang pencipta.
      Anda harus berjalan-jalan dan berolah raga, jauhi kemalasan dan ketidakberdayaan.
       Tinggalkanlah kekosongan dan waktu yang melalaikan.
      Perhatikan selalu kebersihan diri, pakaian, dan penampilan luar Anda. Jangan lupa
       menggosok gigi dan menggunakan parfum khas Anda.
      Jauhi dan kurangi makanan-makanan perangsang, seperti kopi, hati-hati terhadap rokok,
       dan barang-barang berbau narkoba.

Untuk kebaikan mental pengajaran Anda, lakukanlah hal-hal berikut ini:

      Perbaharui hidup Anda, jadikanlah pengajaran Anda lebih bervariasi. Ubahlah rutinitas
       pengajaran Anda.
      Jangan membaca buku-buku yang memanjakan pesimisme dan membuka jalan
       keputusasaan bagi hidup Anda.
      Apapun materi pengajaran Anda, sempatkan baca sejarah, pikirkan keajaiban-
       keajaibannya, renungkan keanehan-keanehannya, simak kisah-kisah teladannya.
      Hiduplah bersama Al-Qur‘an, baik dengan cara menghafal, membaca dan mendengarkan,
       atau merenungkannya. Ingatlah, inilah obat paling mujarab bagi semua persoalan batin
       dan mental Anda.

Untuk menstabilkan emosi pengajaran Anda, lakukanlah hal-hal berikut ini:

      Maafkanlah siswa-siswi yang pernah melakukan kezaliman kepada Anda. sambung
       Silaturahmi dengan mereka, jadikan kebodohan mereka sebagai energi bagi pengajaran
       guna mengubahnya menjadi lebih baik.
       Berilah pengajaran meskipun mereka tidak membutuhkannya, dan bersabarlah terhadap
        watak dan perilaku buruk siswa-siswi Anda.
       Tersenyumlah, bila Anda merasa terbebani suasana kelas yang menjengkelkan.

Untuk memperbaiki nilai-nilai spiritual Anda, maka lakukanlah hal-hal berikut ini:

       Bersyukurlah atas kemampuan dan profesi Anda. Bersyukurlah atas nikmat agama, akal,
        kesehatan, pendengaran, penglihatan, rezeki keluarga, siswa-siswi Anda.
       Perbanyak membaca istighfar sepanjang pengajaran yang nda lakukan, semoga
        dengannya akan ada rezeki, akan ada jalan keluar, dan akan ada ilmu yang berguna.
       Optimislah, berbaik sangkalah pada Allah dan terimalah pilihan-Nya dengan rasa
        gembira

Bila dipetakan manusia pembelajar dapat dikelompokkan dalam 4 kuadran utama, yaitu:

       Guru yang mengajar dan tetap belajar. Tipe Ideal: disebut dengan ‗Pembelajar dengan
        kedalaman cinta atau jiwa yang hidup (Biofili)‘
       Guru yang mengajar tetapi tidak belajar. Tipe guru yang disebut dengan ‗Pembelajar
        yang mengalami kekosongan jiwa (nekrofili)‘
       Guru yang tidak mengajar tetapi selalu belajar. Inilah tipe guru yang ilmunya tidak
        bermanfaat
       Guru yang tidak mengajar dan tidak belajar. Guru yang hidupnya sia-sia (rendah dan
        bodoh)

                       (Dikutip dari buku Menjadi guru Idola punyanya Pak Amir Tengku Ramly )

Pengaruh Disiplin Mengajar Guru Terhadap Aktivitas
Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama Etika
Pontianak
Samion Ar
(STKIP PGRI Pontiaqnak)
Abstrak
Usaha meningkatkan aktivitas belajar siswa salah satu diantaranya dengan pemberian motif. Pemberian
motif terhadap siswa dalam belajar dapat
dilakukan melalui disiplin mengajar guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan
kejelasan secara objektif tentang apakah ada
pengaruh disiplin mengajar guru terhadap aktivitas belajar siswa dilingkungan SMP Etika Pontianak.
Penelitian ini bermaksud memecahkan
masalah berdasarkAn fakta yang aktual dan sebagai mana adanya pada saat penelitian di laksanakan.
Sehubungan dengan itu metode yang di
pergunakan adalah merode diskriptif, bentuk penelitian “corelation studies”. Populasi dalam penelitian ini
siswa kelas II SMP Etika Pontianak
sebanyak 41 orang. Mengingat jumlah populasi dalam penelitian sebanyak 41 orang siswa, dengan
demikian seluruh populasi dijadikan sampel
atau dengan kata lain penelitian ini adalah penelitian populasi. Teknik pengumpulan data yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik
komunikasi tidak langsung. Dalam teknik komunikasi tidak langsung dipergunakan alat pengumpul
datanya berupa angket. Dalam penelitian ini
teknik stastistik yang dipergunakan untuk mengolah data adalah “Analisa Regresi dan Analisa Korelasi”
sebagai perhitungan yang bermaksud
untuk mengetahu pola hubungan fungisional dan daya determitif antara suatu variabel dengan variabel
lain. Hasil penelitian ini menunjukkan
terdapat pengaruh disiplin mengajar guru terhadap aktivitas belajar siswa di lingkungan SMP Etika
Pontianak.
Kata Kunci: Disiplin mengajar guru, aktivitas belajar, pemberian motif, hasil belajar, kesadaran siswa,
dan kondisi lingkungan.
i lingkungan organisasi tertentu,
khususnya di lingkungan lembaga
Pendidikan formal mempunyai tujuan yang harus
diusahakan untuk dicapai. Untuk mencapai tujuan
yang dimaksud sudah semestinya melibatkan berbagai
unsur yang ada didalamnya, sehingga yang diharapkan
dapat terpenuhi keinginan dari masyarakat sebagai
pemakai lulusan maupun pemerintah sebagai pembina
utama dalam pelaksanaan pendidikan tersebut.
Mengacu pada bahasan tersebut diatas, peneliti
berusaha untuk memaparkan beberapa kesenjangan
yang nampak berdasarkan pengamatan dalam praktek
di lembaga Pendidikan, baik yang ada dibawah
naungan pemerintah maupun swasta. Adapun
kesenjangan yang penulis maksudkan di mana masih
terdapat kecenderungan bagi pengelolaan pendidikan
khususnya dalam hal ini guru dalam membelajarkan
siswa belum sepenuhnya melaksanakan tanggung
jawabnya sebagai pendidik yang profesional dalam hal
ini disiplin mengajar guru masih dirasakan kurang
sehingga berakibat menurunnya aktivitas belajar siswa.
Hal seperti ini nampak dalam pelaksanaan sehari-hari
terdapat dikelas-kelas kosong yang sebetulnya dapat
dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas atau latihanlatihan
oleh siswa.
Kekosongan ini disebabkan oleh ketidak
hadiran guru dalam mengajar. Kemudian disisi lain
,masih ada di antarta guru yang tidak mengindahkan
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, baik secara
moril maupun sprituil, seperti masih ada diantara guru
pada saat mengajar di depan kelas menggunakan
pakaian yang tidak rapi, rambut gondrong, tugas
diberikan kepada siswa tetapi tidak pernah dikoreksi
dan tugas lain yang masih belum dilaksanakan secara
utuh oleh setiap guru dalam proses pembelajaran di
Sekolah.
Menurut Hadari Nawawi (1985:140) dikatakan
bahwa “disiplin adalah usaha untuk membina secara
terus-menerus kesadaran dalam bekerja atau belajar
dengan baik dalam arti setiap orang menjalankan
fungsinya secara efektif. Kemudian pendapat lain
dikatakan bahwa “Disiplin pada hakikatnya adalah
kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk
tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai
dan bertentangan dengan sesuatu yang telah
ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung
dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan”
(Soedijarto;1989:51). Sedangkan yang dimaksud
dengan mengajar, dikatakan oleh LL Pasaribu (1983:7)
mengajar adalah “suatu kegiatan mengorganisasikan

D
Samion, Pengaruh Displin No. 1/XXV/2006
            62
Mimbar Pendidikan

atau mengatur lingkungan sebai-baiknya dan
menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses
belajar”.
Disiplin yang berasal dari dalam atau diri sendiri
timbul disebabkan oleh kemauan sendiri dalam
mematuhi ketentuan yang berlaku. Untuk setiap guru
di harapkan melaksanakan ketentuan dan peraturan
yang berlaku tanpa harus menunggu perintah dan
teguran dari atasan atau Kepala Sekolah. Disiplin yang
terwujud berdasarkan kesadaran guru dapat
menumbuhkan suasana yang harmonis, karena
didasari rasa saling percaya, sehingga terciptalah iklim
yang sehat, rasa persaudaraan yang erat dan rasa
tentram dalam melaksanakan tugas. Apabila disiplin
dalam pribadi setiap guru telah tumbuh maka
memungkinkan proses pembelajaran yang efektif dan
efisien. Guru akan senang melaksanakan tugasnya
sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku
seperti ia akan berbuat sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan, meskipun ia tidak dapat melaksanakan
tugasnya namun ia berusaha agar kelas tidak kosong
dengan jalan memberikan tugas atau latihan kepada
siswa, atau tugas lain yang berkenaan dengan
pembelajaran.
Tugas guru adalah berat akan tetapi mulia,
tugas tersebut hanya dapat terwujudkan oleh orangorang
yang memiliki profesional, cinta terhadap
pekerjaan mendidik, yang pada hakekatnya bersumber
dari rasa kecintaan pada siswa. Guru perannya sebagai
penggantu orang tua disekolah, dengan demikian guru
merupakan pemegang amanah dimana hal ini sangat
memberi corak kehidupan serta pola sikap laku siswa
untuk masa yang akan datang.
Keputusan untuk melaksanakan peraturan dan
ketentuan yang berlaku harus didasarkan oleh sikap
positif dalam usaha memungkinkan terciptanya
keselarasan tingkah laku guru dengan tuntutan normanorma
yang terdapat di dalam pembinaan tata tertib
sekolah. Kesadaran itu sangat penting artinya dalam
mewujudkan fungsi-fungsi disiplin untuk menciptakan
suasana tertib yang mengarahkan siswa untuk
meningkatkan aktivitas belajarnya.
Untuk mencapai suatu tujuan terutama dalam
proses pembelajaran siswa harus melakukan aktivitas
belajar. Tanpa aktivitas siswa tidak mungkin
mengalami perubahan tingkah laku. Perubahan
tingkah laku tidak akan terjadi jika pembelajaran
bersifat verbalistis, akan tetapi siswa harus diberikan
kesempatan untuk melakukan aktivitas yang
berhubungan dengan materi yang dipelajarinya. Guru
hendaknya berusaha membangkitkan aktivitas belajar
siswa dalam mempelajari setiap materi pembelajaran.
Aktivitas belajar siswa dapat berbentuk aktivitas
jasmani dan aktivitas rohani. Sehubungan dengan itu
dikemukakan oleh Piaget (1981:25) “seseorang anak
berfikir, sepanjang ia berbuat. Tanpa berbuat anak tak
berfikir, agar ia berfikir sendiri ia harus diberikan
kesempatan untuk berbuat sendiri “.
Untuk mengaktivitaskan dalam belajar, guru
harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya
kepada siswa sesuai dengan kemampuan masingmasing.
Guru bertugas sebagai pemberi ransangan
dengan jalan memberikan suri teladan kepada setiap
siswa untuk aktivit belajar. Sebagaimana dikemukakan
oleh S.S Chauhan (1979:14), tugas guru adalah sebagai
berikut: 1) explaining informing , 2) initiating, directing and
administering, 3) uniflying the group, 4) giving security, 5)
clarilying attitudes, beliefs and problems, 6) diagnosing learning
problems, 7) making curriculum material, 8) evaluating,
recording and reporting, 9) encicling communiy aktivity, 10)
arranging and organising classroom, 11) participating in sechol
activity, and 12) participating in profesional life.
Dari kenyataan yang penulis utarakan di atas,
merupakan sesuatu yang berakibat vatal di dalam
pembinaan sikap mental siswa terutama sekali
aktivitasnya dalam belajar apabila tidak ditunjang oleh
disiplin mengajar guru yang baik. Untuk memperoleh
hasil belajar yang memuaskan, sangat diutamakan
aktivitas belajar siswa yang bersifat positif. Aktivitas
belajar siswa yang bersifat positif dimaksud adalah
segala kegiatan yang mendukung keberhasilan belajar
siswa, seperti; siswa harus belajar dengan tekun dan
ulet, rajin meringkas atau menggaris bawahi hal-hal
yang dianggap penting, mengulang materi pelajaran di
rumah, memiliki buku catatan khusus untuk setiap
mata pelajaran dengan kata lain catatan tidak
dicampur adukan dalam satu buku, dan aktivitas lain
yang dianggap mendukung proses pembelajaran di
sekolah.
Hal-hal yang telah dipaparkan di atas, sudah
merupakan konsekuensi logis yang harus dilakukan
baik oleh guru sebagai pengajar maupun oleh siswa
sebagai pelajar. Mengingat setiap lembaga pendidikan
formal mempunyai tujuan yang jelas sebagai mana
No. 1/XXV/2006 Samion, Pengaruh Dis[plin
            63
Mimbar Pendidikan
yang telah dirumuskan dalam Undang-undang Nomor
20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
dirumuskan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka di dalam
penelitian ini dapat menemukan secara jelas dan
objektif mengenai disiplin mengajar guru yang
diharapkan nantinya sesuai dengan tuntunan
sebagaimana yang telah dituangkan dalam kode etik
jabatan guru. yang akhirnya memberikan konstribusi
positif terhadap siswa untuk lebih meningkatkan
aktivitas belajarnya. Sehingga diharapkan nantinya
akan terwujud manusia yang cerdas, terampil, serta
bersikap luhur sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Dengan demikian maka peneliti merasa perlu untuk
meneliti tentang pengaruh disiplin mengajar guru
terhadap aktivitas belajar siswa di lingkungan Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama Etika Pontianak.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah umum dalam penelitian ini
sebagai mana telah disingung di atas adalah “Apakah
ada Pengaruh Disiplin Mengajar Guru Terhadap
Aktivitas Belajar Siswa SMP Etika Pontianak“. Dari
rumusan masalah umum tersebut, kemudian
dijabarkan menjadi sub masalah sub masalah sebagai
berikut: 1) Seberapa besar tingkat keberartian disiplin
mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. 2) Apakah
terdapat hubungan fungsional antara disipilin mengajar
guru dan aktivitas belajar siswa. 3) Seberapa besarkah
derajat keterikatan antara disiplin mengajar guru dan
aktivitas belajar siswa.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah
diungkapkan diatas, maka dalam penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan infomrasi dan kejelasan
mengenai “Pengaruh Disiplin Mengajar Guru
Terhadap Aktivitas Belajar Siswa SMP Etika
Pontianak”, sehingga diharapkan nantinya dapat
menjadi acuan bagi setiap guru dalam menentukan
sikap yang lebih positif terutama dalam proses
pembelajaran di sekolah. Secara rinci tujuan dari
penelitian yang diharapkan dalam tulisan ini dapat
dipaparkan sebagai berikut: 1) Untuk mendapat
informasi dan kejelasan secara objektif tentang
keberartian disiplin mengajar guru dan aktivitas belajar
siswa 2) Untuk mendapat informasi dan kejelasan
secara objektif tentang apakah terdapat hubungan
fungsional antara disiplin mengajar guru dan aktivitas
belajar siswa. 3) Untuk mendapat informasi dan
kejelasan secara objektif tentang seberapa besar derajat
keterikatan antara disiplin mengajar guru dan aktivitas
belajar siswa di lingkungan SMP Etika Pontianak.
Tinjauan Pustaka
Tindakan mengajar apabila tindakan yang
didasarkan atas rencana yang matang dan teliti.
Rencana tersebut disusun dengan maksud untuk
menimbulkan aktivitas belajar siswa. Jadi seorang guru
yang berdiri di depan kelas tetapi keberadaannya di
depan kelas tersebut tidak didasarkan atas suatu
rencana dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan
kondisi serta perbuatan belajar pada diri siswa, maka
aktivitasnya itu tidak dapat dikatakan bahwa seorang
guru sedang mengajar. Oleh sebab itu seorang guru
dituntut untuk disiplin dalam mengajar, disiplin
mengajar guru merupakan upaya yang dilakukan oleh
setiap guru dalam mengembangkan tugasnya sebagai
pendidikan untuk selalu patuh dan taat terhadap
peraturan dan tata tertib yang berlaku, sehingga
memungkinkan kondisi belajar yang efektif. Untuk itu
jelas sekali bahwa peranan guru sangat menentukan
keberhasilan belajar, karena kedudukannya sebagai
pemimpin pendidikan diantara siswa pada suatu
lembaga pendidikan umumnya dan di dalam kelas
khususnya.
Tugas guru adalah berat akan tetapi mulia,
tugas tersebut hanya dapat terwujudkan oleh orangorang
yang memiliki profesional, cinta terhadap
pekerjaan mendidik, yang pada hakekatnya bersumber
dari rasa kecintaan pada siswa. Guru perannya sebagai
penggantu orang tua disekolah, dengan demikian guru
merupakan pemegang amanah dimana hal ini sangat
memberi corak kehidupan serta pola sikap laku siswa
Samion, Pengaruh Displin No. 1/XXV/2006
            64
Mimbar Pendidikan
untuk masa yang akan datang. Keputusan untuk
melaksanakan peraturan dan ketentuan yang berlaku
harus didasarkan oleh sikap positif dalam usaha
memungkinkan terciptanya keselarasan tingkah laku
guru dengan tuntutan norma-norma yang terdapat di
dalam pembinaan tata tertib sekolah. Kesadaran itu
sangat penting artinya dalam mewujudkan fungsifungsi
disiplin untuk menciptakan suasana tertib yang
mengarahkan siswa untuk meningkatkan aktivitas
belajarnya. Menurut Moekijat (1984:260) dikatakan
bahwa disiplin itu dapat dibedakan dua bentuk yakni:
1) Self inpose discipline (disiplin atas kesadaran diri). 2)
Command Discipline (disiplin yang diperintahkan).
Disiplin atas kesadaran diri adalah kepatuhan
terhadap tata tertib yang berlaku karena secara pribadi
setiap guru harus menyadari pentingnya suasana yang
tertib dan tentram. Kesadaran ini akan timbul apabila
diri pribadi yang bersangkutan merasa bertanggung
jawab moral terhadap keberhasilan apa yang telah
dilimpahkan kepadanya, disisi lain juga seperti ini akan
timbul apabila pihak atasan memberikan teladan atau
contoh yang baik dalam tindakan dan aktivitasnya.
Apabila disiplin dalam pribadi setiap guru telah
tumbuh maka memungkinkan proses pembelajaran
yang efektif dan efisien. Guru akan senang
melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan dan
peraturan yang berlaku seperti ia akan berbuat sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan, meskipun ia tidak
dapat melaksanakan tugasnya namun ia berusaha agar
kelas tidak kosong dengan jalan memberikan tugas
atau latihan kepada siswa, atau tugas lain yang
berkenaan dengan pembelajaran. Sedangkan Disiplin
atas dasar perintah merupakan sikap patuh atau
tunduk terhadap segala pekerjaan disebabkan oleh
adanya perintah dan pengawasan dari pihak atasan
langsung. Disiplin ini tidak akan pernah ada atau
muncul tanpa paksaan, ancaman, dan hukuman
apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang
berlaku. Setiap guru mau melaksanakan tugasnya
apabila disebabkan oleh adanya teguran atau sanksu
bahkan lebih dari pada itu. Setiap guru patuh dan
tunduk terhadap semua perintah bukan atas dasar
kesadarannya sendiri, tetapi karena merasa dipaksa dan
takut kepada hukuman yang dijatuhkan oleh atasan
atau Kepala Sekolah. Oleh karena itu apabila Kepala
Sekolah. Pada suatu saat tidak berada ditempat, maka
guru cenderung bertindak tidak mau mematuhi
ketentuan serta peraturan yang belaku.
Untuk mencapai suatu tujuan terutama dalam
proses pembelajaran siswa harus melakukan aktivitas
belajar. Tanpa aktivitas siswa tidak mungkin
mengalami perubahan tingkah laku. Perubahan
tingkah laku tidak akan terjadi jika pembelajaran
bersifat verbalistis, akan tetapi siswa harus diberikan
kesempatan untuk melakukan aktivitas yang
berhubungan dengan materi yang dipelajarinya. Guru
hendaknya berusaha membangkitkan aktivitas belajar
siswa dalam mempelajari setiap materi pembelajaran.
Aktivitas belajar siswa dapat berbentuk aktivitas
jasmani dan aktivitas rohani. Untuk mengaktivitaskan
siswa dalam belajar, guru harus memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Guru bertugas
sebagai pemberi ransangan dengan jalan memberikan
suri teladan kepada setiap siswa untuk beraktivitas
belajar.
Aktivitas belajar siswa memungkinkan di
dalam dirinya mengalami pola perubahan tingkah laku
yang disadari dan dirasakan. Tugas utama guru adalah
memberi suri tauladan, mendorong, memberikan
inspirasi, dan memimbing siswa dalam usaha
pencapaian tujuan yang diinginkan. Seorang guru tidak
sekedar sebagai pemberi informasi dengan
menerangkan materi yang terdapat dalam buku
pelajaran. Pada dasarnya guru itu mempunyai
tanggung jawab untuk membawa siswa kepada suatu
taraf kematangan tertentu yakni pencapaian
kedewasaan. Dengan demikian sudah semestinyalah
sikap aktivitas guru ditujukan untuk merubah sikap
mental siswa. Setiap guru harus berusaha mencari jalan
dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa untuk
memperoleh hasil yang diinginkan. Usaha
meningkatkan aktivitas belajar itu sering disebut
pemberian motif, salah satu daripada cara pemberian
motif siswa dalam belajar adalah menanamkan disiplin
terhadap diri guru itu sendiri terlebih dahulu. Menurut
S. Nasution (1982:81-85) di dalam menggiatkan belajar
siswa, guru harus mampu menggunakan macammacam
bentuk motif, antara lain: 1) memberi angka, 2)
hadiah, 3) saingan, 4) hasrat untuk belajar, 5)
egoinvolvement, 6) sering memberikan ulangan, 7)
mengetahui hasil, 8) kerjasama, 9) tugas yang
“challenging”, 10) pujian, 11) teguran dan kecaman, 12)
No. 1/XXV/2006 Samion, Pengaruh Dis[plin
            65
Mimbar Pendidikan
sarkasme dan celaan, 13) hukuman, 14) standar atau
taraf aspirasi (level of aspiration), 15) suasana yang
menyenangkan, 16) minat, 17) tujuan yang dan
diterima baik oleh murid, dan 18) beberapa petunjuk
singkat
Metode Penelitian
Penelitian ini bermaksud memecahkan masalah
berdasarkn fakta yang aktual dan sebagai mana adanya
pada saat penelitian di laksanakan. Sehubungan
dengan itu metode yang di pergunakan adalah merode
diskriptif. Disamping itu karena penelitian ini akan
mengungkap variabel disiplin mengajar guru dengan
variabel aktivitas belajar siswa, maka dipergunakan
bentuk penelitian “corelation studies”. Populasi dalam
penelitian ini siswa kelas II SMP Etika Pontianak
sebanyak 41 orang. Mengingat jumlah populasi relatif
kecil, maka seluruh seluruh populasi dijadikan sampel
atau dengan kata lain penelitian ini adalah penelitian
populasi.
Teknik dan Alat Pengumpul Data
Teknik pengumpulan data yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik
komunikasi tidak langsung. Dalam teknik komunikasi
tidak langsung dipergunakan alat pengumpul datanya
berupa angket. Angket yang dipergunakan adalah
angket berstruktur dengan jawaban tertutup. Dalam
setiap item angket disediakan sejumlah alternatif
jawaban yang dapat dipilih salah satu sebagai jawaban
yang paling tepat. Alternatif-alternatif jawaban
tersebut merupakan data yang bersifat kualitatif, maka
sebelum data tersebut diolah dengan perhitungan
statistik perlu diubah menjadi data kuantitatif dengan
mempergunakan simbol-simbol berupa angka. Untuk
alternatif jawaban yang terbaik tidak selalu terdapat
pada alternatif (a), dan yang terburuk tidak selalu
terdapat pada alternatif (d) atau sebaliknya. Dengan
demikian dapat ditegaskan bahwa dalam penelitian ini
alat pengumpul data yang dipergunakan adalah angket
yang ditujukan kepada siswa sebagai populasi.
Analisis Data
Dalam penelitian ini teknik stastik yang
dipergunakan untuk mengolah data adalah “Analisa
Regresi dan Analisa Korelasi” sebagai perhitungan
yang bermaksud untuk mengetahui pola hubungan
fungisional dan daya determitif antara suatu variabel
dengan variabel lain. Perhitungan-perhitungan
dilakukan untuk mencari nilai-nilai rata-rata,
simpangan baku, variasi, regreasi, dan korelasi. Analisis
data dilakukan untuk mendapat estemasi dan
signifikan data-data berupa signifikan regresi dan
korelasi. Hasil analisis data dipergunakan untuk
pengujian hipotesis. Selanjutnya untuk menemukan
kesimpulan yang didasarkan pada hasil pengujian
tersebut. Perhitungan pertama dilakukan untuk
mencari hubungan fungsional antara variabel disiplin
mengajar guru (X) dan variabel aktivitas belajar siswa
(Y). Dari analisis data melalui perhitungan dengan
menggunakan rumus „Regresi” diperoleh hasil terdapat
pengaruh disiplin mengajar guru terhadap aktivitas
belajar siswa di lingkungan SMP Etika Pontianak.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pengujian
hipotesis yang telah dikemukakan pada bahasan
terdahulu, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Disiplin mengajar guru dan aktivitas belajar siswa
di lingkungan SMP Etika Pontianak menunjukkan
aktivitas yang tinggi. Maksudnya kedua aktivitas
yakni disiplin mengajar guru dan aktivitas belajar
siswa sudah baik. Hal ini dibuktikan dari hasil ratarata
variabel disiplin mengajar guru (X) diperoleh
hasil 3,18, sedang nilai rata-rata untuk variabel
aktivitas belajar siswa (Y) adalah 3,04.
2. Pola hubungan fungsional antara disiplin
mengajar guru dan aktivitas belajar siswa di
lingkungan SMP Etika Pontianak berpola
signifikan dan linier, artinya kenaikan pada disiplin
mengajar guru diikuti oleh kenaikan aktivitas
belajar siswa atau dengan kata lain terdapat
pengaruh yang berarti antara disiplin mengajar
guru terhadap aktivitas belajar siswa.
3. Daya determinatif atau derajat keterikatan antara
disiplin mengajar guru dan aktivitas belajar siswa
hasil penelitian menunjukkan 9,61%, berarti
bermakna walaupun hasilnya masih rendah atau
Samion, Pengaruh Displin No. 1/XXV/2006
           66
Mimbar Pendidikan

dengan kata lain pengaruh disiplin mengajar
terhadap aktivitas belajar siswa menunjukkan
keberartian, memiliki positif.
Rekomedasi
Berdasarkan analisis data, pengujian hipotesis,
dan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka
pada bahasan ini peneliti berupaya dengan segenap
kemampuan dan keterbatasan untuk mencoba
memberikan sumbangan pemikiran kepada setiap guru
khususnya di lingkungan SMP Etika Pontianak, guna
penyempurnaan dan perbaikan proses pembelajaran di
masa mendatang.
Adapun pokok-pokok pikiran yang dapat
peneliti tuangkan dalam kesempatan ini sebagai berikut
:
1. Hendaknya selalu diupaya pada waktu jam
sekolah atau bel dibunyikan pukul 12.45 wiba,
bahkan kalau mungkin agak lebih awal 10 menit
sebelumnya dan kesempatan ini dapat
dimanfaatkan untuk mempersiapkan siswa di
kelas, membuang sampah dan kegiatan yang
dianggap penting.
2. pada saat guru tidak masuk usahakan ada guru
yang menggantikan, dan dapat diusahakan guru
yang kebetulan tidak masuk tadi agar
memberitahukan kepada Kepala Sekolah dengan
catatan memberikan tugas atau latihan , minimal
memberikan catatan sesuai dengan materi yang
diajarkan pada hari itu.
3. dalam memberikan tugas kepada siswa usahakan
adanya kerjasama antara guru yang satu dengan
yang lain, maksudnya jangan sampai terjadi setiap
hari siswa diberikan tugas untuk dikerjakan
dirumah oleh semua guru. mengingat
kemampuan dan keterbatas yang dimiliki oleh
siswa.
4. diusahakan kepada setiap guru didalam
memberikan ulangan harian kepada siswa agar
dapat terencana maksudnya pemberian ulangan
harian siswa hendaknya diberikan minimal dua
minggu sekali atau setiap setelah satuan pokok
bahasan selesai disampaikan.
Daftar Pustaka
Ametembun (1981). Manajemen Kelas Penuntun Bagi Guru dan Calon Guru,
Bandung: IKIP.
Arikunto, S (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka
Cipta.
Baeley, D.K (1982). Methods of Social Research, New York: A Devision of Mac Millan
Publishing Co. Inc.
Chuhan, S.S (1979). Innovations in Teaching Learning Process, Delhi: Vikas Publishing
Hause PVT.
Decco, P. J. and William, C.R (1974). The Paychology of Learning and Instruction,
Second Edition, Prentice Hall, New Jersey (London): Inc Englewood Cliffs.
Howell, R.G (1979). Discipline In The Classroom Solving The Teaching Purezle, Reston
Virginia: A Prentice Hall Company.
Hamalik, O (1990). Pendekatan Baru Strategi Pembelajaran Berdasarkan CBSA,
Bandung: Sinar Baru.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (2003). Petunjuk Pelaksanaan Sistem
Pendidikan Nasional 2003, Jakarta: CV.Eko Jaya.
Lemhanas (1997). Disiplin Nasional, Jakarta: PT Balai Pustaka..
Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar,
Bandung: Jemmars
Nawawi.H (1990). Metode Penelitian Bidang Sosial, Yoyakarta: Gajah Mada
University Press.
Pannen, P. dkk (1994). Mengajar di Perguruan Tinggi Bagian Satu, Jakarta: PAUPPAI
(University Terbuka.
Power, E.J. (1982). Philosophy of Education Studies Philosophies Schooling and
Educational Policies, New Jersey: A Prentice Hall Inc.
Poerwadarminta, W.J.S. (1984). Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Redaksi Bumi Aksara (1992). Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(UU RI No. 2 th. 1989) dan Peraturan Pelaksanaannya, Jakarta: Sinar
Grafika.
Samion, A.R (1996). Peranan Teknologi Pembelajaran Dalam Pengembangan Sekolah
Unggul : Pandangan Masyarakat, Malang: IKIP Malang.
Sardiman (2003). Interaksi & Motivasi Pembelajaran, Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada.
Surakhmad.W (1985). Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Bandung:
Tarsito.
Sirait, R.T (1996). Cara Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, Jakarta: Mitra Utama.
Sudirman, M.B. (1995). Disiplin Nasional Tantangan dan Jawabannya, Makalah
Seminar Nasional, Malang: IKIP Malang.
Soedijarto, (1989). Pendidikan Sebagai Sarana Reformasi Mental Dalam Upaya
Pembangunan Bangsa, Jakarta: Balai Pustaka.
Soemanto, W. (1984). Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bina Aksara
Sudjana (1984). Motoda Statistika, Edisi ke 3, Bandung: Tarsito.
Surya, S. (1985). Psikologi Pendidikan, Bandung: Ofset IKIP Bandung .
Tenner N.L (1977). Classroom Discipline for Effective Teaching and Learning, USA:
Holt, Renehart and Winston.
Wahab,A dan Winataputra, U.S. (2000). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
( PPKn ), Jakarta: Universitas terbuka.
Winataputra U.S (2001). Strategi Pembelajaran, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka.
Penulis :
Dr. Samion Ar, M.Pd adalah Dosen STKIP PGRI
Pontioanak
No. 1/XXV/2006 Samion, Pengaruh Dis[plin
Mimbar Pendidikan   67
Pengertian Mengajar
Ditulis oleh rastodio pada August 10th, 2009   4 Comments »

MENGAJAR merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup
berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru
dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan ―guru adalah kreator proses
belajar mengajar‖. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk
mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-
batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan
bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan
aktivitas siswa dalam belajar.

Gambaran aktivitas itu tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam kegiatan
proses belajar mengajar yang memungkinkan siswa aktif belajar. Oleh karena itu mengajar tidak
hanya sekedar menyampaikan informasi yang sudah jadi dengan menuntut jawaban verbal
melainkan suatu upaya integratif ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam konteks ini guru
tidak hanya sebagai penyampai informasi tetapi juga bertindak sebagai director and facilitator of
learning.

Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas
kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya
dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses
dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama
interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada
prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung
pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam
hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses
belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai
organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik
ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.

Burton (dalam Usman, 1994:3) menegaskan “teaching is the guidance of learning activities‖.
Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai (1) menyampaikan
pengetahuan kepada siswa, (2) mewariskan kebudayaan kepada generasi muda, (3) usaha
mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, (4) memberikan
bimbingan belajar kepada murid, (5) kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara
yang baik, (6) suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tardif (dalam Adrian, 2004) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an
individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the
learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini
pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik)
melakukan kegiatan belajar.

Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga
macam pengertian yaitu (1) Pengertian Kuantitatif. Mengajar diartikan sebagai the transmission
of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai
pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah
berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar. (2) Pengertian institusional.
 Mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala
kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap
mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe
belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya. (3) Pengertian kualitatif. Mengajar
diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan
belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Burton (dalam Sagala, 2003:61)
mengemukakan mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan
dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.

Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan
kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain
adalah (1) mengatur kegiatan belajar siswa, (2) memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas
maupun yang ada di luar kelas, dan (3) memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan
dorongan kepada siswa.

Daftar Rujukan

   1. Adrian. (2004). Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. [Online] Tersedia:
      http://www. artikel.us_art05-65.html [18 Maret 2006]
   2. Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara
   3. Nasution, S. (1982). Azas-azas Kurikulum. Bandung: Jemars.
   4. Sagala, Syaiful. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan
      Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
   5. Usman, Moh. Uzer. (1994). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
   6. Zamroni. (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2371
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:243
ashien ashien
About