skripsi OK2

Document Sample
skripsi OK2 Powered By Docstoc
					Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran kepala sekolah dalam (1) perencanaan, (2)
pengorganisasian, (3) pengerahan, dan (4) pengawasan pembelajaran di SD Negeri Cepogo 01
Cepogo Boyolali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naturalistik. Data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara (interview), dan dokumentasi dengan melibatkan
kepala sekolah dan para guru SD Negeri Cepogo 01. Analisis data menggunakan model Miles
dan Hiuberman dengan melakukan catatan lapangan, redaksi data display dan verifikasi.
Keabsahan data diperoleh melalui teknik trianggulasi data dari sumber. Asil penelitian
menunjukkan bahwa peran kepala sekolah SD Negeri Cepogo 01 efektif. Hal ini berkaitan
dengan technical skill, human skill, dan conceptual skill yang baik yang dimilikinya, pendekatan
kepemimpinan transpormasional – instruksionalnya dan dukungan formal maupun nonformal
yang kuat dalam manajemen pembelajaran (yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengerahan, dan pengawasan pembelajaran) sehingga tercipta efektivitas pembelajaran yang
diindikasikan oleh terpuaskannya kebutuhan guru dan siswa, terciptanya kegiatan belajar
mengajar yang kondusif, tercapainya tujuan pembelajaran, berhasilnya kepala sekolah
menjadikannya SD Negeri Cepogo 01 sebagai salah satu sekolah berprestasi di Cepogo. Peran
kepala sekolah dalam perencanaan pembelajaran, kepala sekolah selalu melibatkan guru dalam
menyusun program sesuai dengan tujuan bersama. Peran kepala sekolah dalam pengorganisasian
selalu menghargai guru, dalam pembagian tugas meminta pendapat dan menawarkan terlebih
dahulu kepada guru. Guru diberi kebebasan dalam memilih dan menentukan mata pelajaran yang
akan diambil sesuai dengan kemampuan masing-masing, menentukan program sekolah secara
kekeluargaan sehingga didapat kata sepakat. Dengan demikian guru merasa dihargai sehingga
berdampak pada rasa kepemilikan tanggung jawab terhadap tugasnya. Peran kepala sekolah
dalam pengarahan menerapkan sistem pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan,
membentuk tim kerja setiap program. Peran kepala sekolah dalam pengawasan memberikan hak
penuh kepada guru untuk melakukannya sehingga tercipta suasana yang kondusif.
Peranan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Sekolah Alam.
(Studi Kasus SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya).
Eve Readety



Abstrak


        Sekolah Alam merupakan salah satu sekolah alternatif yang muncul dari adanya fenomena MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah). Konsep sekolah alam ini yaitu memberikan pembelajaran pada anak
sesuai dengan alamnya anak atau sesuai dengan perkembangan psikologi anak. Manajemen sekolah
yang baik sangat penting untuk meningkatkan mutu sekolah dan menghasilkan output pendidikan yang
baik. Manajemen sekolah tidak lain berarti pendayagunaan dan penggunaan sumber daya yang ada dan
yang dapat diadakan secara efisien dan efektif untuk mencapai visi dan misi sekolah. Kepala sekolah
berada di garda terdepan dan dapat diukur keberhasilannya. Dengan demikian kepala sekolah
mempunyai peran yang sangat dominan dalam manajemen sekolah ini. Atas dasar itulah penelitian ini
difokuskan pada peranan kepala sekolah dalam arti luas yaitu peran kepala sekolah dalam manajemen
kurikulum dan pembelajaran sekolah alam. Tujuan penelitian untuk: (1) mendeskripsikan peran kepala
sekolah dalam perencanaan kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS; (2) mendeskripsikan peran
kepala sekolah dalam implementasi kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS; (3) mendeskripsikan
peran Kepala Sekolah dalam evaluasi kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS.




        Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus
observasional yang berkenaan dengan peranan kepala sekolah dan studi kasus tunggal terpancang
memusatkan pada kasus yang telah ditetapkan sesuai dengan focus penelitian yang telah dirumuskan.
Dengan teknik purposif akhirnya ditetapkan sample yang menjadi sumber data adalah: (1) kepala
sekolah; (2) waka sarpras dan humas; (3) waka kesiswaan; (4) guru; (5) administrasi; dan (6)siswa.




         Teknik pengumpulan data yaitu: (1) wawancara mendalam (indepth interviewing); (2) observasi
partisipan (participant observation); dan (3) studi dokumentasi (study of documents). Adapun teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan atau verifikasi. Untuk pengecekan keabsahan data agar memperoleh temuan penelitian
yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya dengan menggunakan teknik pengujian
sebagai berikut: (1) kredibilitas; (2) dependabilitas; (3) konfirmabilitas. Kredibilitas merupakan kriteria
untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan untuk memperoleh data
yang valid dapat ditempuh teknik pengecekan data melalui: (1) pengamatan yang terus menerus; (2)
trianggulasi; (3) pengecekan anggota; (4) diskusi teman sejawat; (5) pengecekan atas kecukupan
referensi.
         Dari hasil paparan data di lapangan bahwa SD SAIMS merupakan sekolah alternatif yang
mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan SAIMS dengan sekolah-sekolah konvensional
lainnya. Beberapa karakteristik tersebut dapat dilihat melalui: (1) sarana dan prasarana; (2) kinerja
kepala sekolah; (3) kinerja tenaga kependidikan; (4) konsep kurikulum dan pembelajaran; (5)
implementasi kurikulum dan pembelajaran; dan (6) evaluasi belajar. Sementara untuk temuan penelitian
di lapangan bahwa manajemen kurikulum dan pembelajaran di SD SAIMS ini sangat memprioritaskan
peran kepala sekolah dalam: (1) perencanaan kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS; (2) implementasi
kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS; (3) evaluasi kurikulum dan pembelajaran SD SAIMS. Dalam
perencanaan kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan perannya yaitu: (1)
sebagai manajer merumuskan program tujuan dan tindakan; (2) sebagai pemimpin juga sebagai
motivator sekaligus supervisor; (3) sebagai pemimpin juga sebagai penghubung (liasion) antara
kepentingan sekolah dengan orang tua siswa; (4) sebagai manajer menyelenggarakan manajemen
pengajaran; (5) sebagai pemimpin melakukan koordinasi untuk mengatur pembagian tugas terhadap
semua staff. Untuk implementasi kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan
perannya yaitu: (1) sebagai pemimpin memberikan kepercayaan dengan mendelegasikan tugas; (2)
sebagai pemimpin juga sebagai motivator, memotivasi seluruh tenaga kependidikan untuk
melaksanakan tugasnya masing-masing; (3) sebagai pemimpin juga sebagai monitor melakukan
pengamatan kelas; (4) sebagai pemimpin juga sebagai supervisor; (5) sebagai pemimpin mengendalikan
situasi apabila ada permasalahan selama proses pelaksanaan belajar mengajar. Sementara itu, dalam
evaluasi kurikulum dan pembelajaran, kepala sekolah SD SAIMS menjalankan perannya yaitu; (1) sebagai
pemimpin juga sebagai koordinator; (2) sebagai seorang staf melakukan konsultasi dengan atasan dan
meminta pertimbangan dalam proses evaluasi kurikulum dan pembelajaran; (3) sebagai pemimpin
menyebarluaskan informasi yang telah diperoleh dari hasil konsultasi dengan tim konsultan kepada para
guru; (4) sebagai decision maker; (5) sebagai pendidik, melakukan pemberdayaan guru.

        Berdasarkan kesimpulan tersebut peneliti menyampaikan beberapa saran: (1) Kepala sekolah
hendaknya juga memperhatikan kinerja guru dan staf khususnya dalam pendokumentasian daftar
prestasi siswa yang nantinya bisa dipublikasikan ke masyarakat sebagai bagian dari output yang bisa
dibanggakan; (2) Bagi para pelaku pendidikan dan masyarakat dapat menggunakan tesis ini sebagai
referensi untuk menambah wawasan tentang peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan
pembelajaran sekolah alam; (3) Bagi sekolah yang belum atau sudah menerapkan konsep sekolah alam
dapat menjadikan tesis ini sebagai salah satu referensi mengenai peran kepala sekolah dalam
manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam; (4) Selain mengandalkan yayasan dalam usaha
penyediaan saran dan prasarana baik itu dalam bentuk materi atau non-materi, diharapkan sekolah
dapat menjalin kemitraan dengan dunia bisnis, kelompok masyarakat sekitar untuk memperkuat
dukungan pencapaian tujuan sekolah. Dengan demikian, kepala sekolah diusahakan untuk lebih aktif
untuk mencari peluang kerja sama dengan pihak-pihak luar ini; (5) Bagi peneliti lain yang berminat untuk
meneliti peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah alam agar dapat
menambahkan fokus penelitian bagaimana peran kepala sekolah alam dalam menyesuaikan pola ujian
sekolah dengan ujian nasional yang sampai saat ini masih menjadi kendala khususnya bagi SAIMS.
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MANAJEMEN
PEMBELAJARAN DI SD NEGERI CEPOGO 01
KABUPATEN BOYOLALI
TESIS
Oleh :
SARYANTO
NIM : Q100050122
Program : Magister Manajemen Pendidikan
Konsentrasi : Manajemen Sistem Pendidikan
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2006
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses yang
sistematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan (Muhajir, 2003: 200). Manajemen pendidikan juga dapat diartikan
sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek,
menengah maupun panjang. Dengan demikian, manajemen merupakan
komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara
keseluruhan, alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan
dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien. Konsep tersebut berlaku di
sekolah yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien (Mulyasa, 2003:
20).
Dari kerangka inilah tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perubahan
peningkatan kualitas manajemen pendidikan, baik yang dilakukan oleh
pemerintah ataupun lembaga-lembaga pendidikan. Tentunya model manajemen
yang sentralistik harus diubah menjadi manajemen yang sesuai dengan semangat
otonomi daerah. Jadi, peningkatan mutu sekolah sangat tergantung pada
manajemen pendidikan di sekolah. Apabila manajemen pendidikan di sekolah
bagus, maka hampir dapat dipastikan mutu pendidikan di sekolah tersebut akan
meningkat.
1
2
Manajemen pembelajaran adalah aplikasi prinsif, konsep dan teori
manajemen dalam aktivitas pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
(diadaptasi dari Syafarudin, 2002: 18) Untuk mengorganisir pelaksanaan
pembelajaran diperlukan pengelolaan pembelajaran dengan efektif. Pembelajaran
yang dikelola dengan manajemen yang efektif diharapkan dapat mengembangkan
potensi siswa, sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai
yang mengakar pada individu siswa.
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber
daya manusia (SDM) dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien
untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Hasibuan, 2001: 2) Sedang aktivitas siswa,
membimbing pengalaman siswa, membantu siswa berkembang dan
menyesuaikan diri kepada lingkungan (Nasution, 2000: 5-6).
Dalam pengertian ini mengandung cara guru membelajarkan siswa dalam
proses belajar guna memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap di
lingkungan kelas. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai upaya
menghubungkan pengetahuan lama dan pengetahuan yang baru guna membentuk
struktur kognitif siswa yang baru, dengan melibatkan unsur SDM dalam
manajemen pembelajaran (seperti siswa, guru, kepala sekolah dan tenaga
administrasi dan laboratorium).
Manajemen pembelajaran diartikan sebagai pemanfaatan kemampuan dan
pengetahuan guru secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran
dan pembentukan struktur kognitif baru siswa melalui aktivitas guru dalam
mengelola proses pembelajaran di kelas. Ruang kelas adalah lingkungan
3
paedagogis di mana berlangsung komunikasi antara guru dan siswa. Melalui
komunikasi timbal balik antara guru dan siswa selama proses pembelajaran
berlangsung diusahakan tercapainya berbagai tujuan pendidikan, yang
diantaranya semua tujuan umum pembelajaran dan tujuan khusus pembelajaran
mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Untuk ini perlu diciptakan
suasana belajar yang mendukung berlangsungnya proses pembelajaran di ruang
kelas.
Menciptakan dan mempertahankan suasana di kelas yang mendukung
terbangunnya suasana akademis, membantu siswa untuk dapat berkonsentrasi
dalam belajarnya dan untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, yang
selanjutnya upaya menciptakan dan mempertahankan suasana belajar di kelas
sekarang lebih dikenal dengan istilah “manajemen kelas”. Manajemen kelas ini
dibangun oleh guru sebagai landasan operasional penerapan manajemen
pembelajaran (Winkel, 1999: 380).
Manajemen di sini searti dengan pengelolaan, maka yang dimaksud dengan
manajemen kelas adalah usaha pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru.
Dengan demikian tugas guru yang pertama dalam manajemen kelas adalah
menciptakan kondisi yang sebaik-baiknya agar siswa dapat belajar dengan baik,
merasa nyaman, mendapatkan sesuatu yang diinginkan, bersedia membuka diri
dan bebas dari rasa tertekan. Kedua menyelenggarakan proses pembelajaran
secara baik, sehingga hasil yang diharapkan dapat optimal, artinya proses
pembelajaran tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4
Manajemen kelas pada dasarnya menyangkut beragam aspek pembelajaran,
maka pelaksanaannya hendaknya memperhatikan tahap-tahap yang harus
direncanakan dan disusun secara terarah. Adapun pentahapan dalam manajemen
kelas secara garis besar adalah (1) pengumpulan data atau segala sesuatu yang
akan dikelola dan berhubungan dengan tugas manajemen kelas, (2) perencanaan
terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan dan menindaklanjuti data yang
terkumpul, (3) pengorganisasian data dan personal agar semua menjadi jelas dan
terinci, (4) pelaksanaan manajemen kelas dan usaha untuk menciptakan kondisi
yang optimal untuk proses pembelajaran, (5) pengawasan terhadap jalannya
program yang telah ditentukan dalam manajemen kelas, (6) evaluasi terhadap
kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan manajemen
kelas secara menyeluruh.
Dalam melaksanakan manajemen kelas terdapat beberapa macam
pendekatan yang dapat dipilih guru sesuai dengan karakteristik kelas yang
dihadapi. Pendekatan tersebut antara lain (1) pendekatan managerial yaitu
pendekatan yang berdasarkan pada program kepemimpinan yang diterapkan
dalam manajemen kelas (model kepemimpinan otoriter di sini guru yang paling
tahu dan berkuasa, siswa harus patuh dan tunduk, model kepemimpinan permisif
kepada siswa diberi kebebasan penuh, model kepemimpinan demokratis siswa
diberi kebebasan tetapi dibatasi sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki),
(2) pendekatan psikologis yaitu pendekatan yang berdasarkan pada teori-teori
psikologis tertentu (seperti teori behavioral modification : semua perilaku yang
tidak diharapkan diubah menjadi perilaku yang diharapkan, teori social5
emotional situation : menekankan hubungan antar pribadi yang baik antara guru
dengan siswa, siswa dengan siswa yang mendukung proses pembelajaran),
(3) pendekatan sistem yaitu pendekatan yang menekankan bahwa pengelolaan
kelas merupakan rangkaian komponen yang saling terkait tidak dapat dipisahkan,
sehingga dalam pembelajaran menyangkut komponen-komponen input proses
pembelajaran output, instrument dan lingkungan pembelajaran.
Manajemen pembelajaran merupakan alat untuk mencapai tujuan yang
diinginkan dan manajemen pembelajaran yang baik akan memudahkan
terwujudnya tujuan pembelajaran. Manajemen ini terdiri dari enam (6) unsur
(6M) yaitu Men, Money, Method, Materials, Machines, dan Market. Unsur
manusia (Men) ini berkembang menjadi satu bidang ilmu manajemen yang
disebut Manajemen Sumber Daya Manusia (terjemahan dari man power
management). (Hasibuan, 2001: 9). Implementasi manajemen SDM di sekolah
dalam konteks pembelajaran lebih memfokuskan pada pengetahuan dan
kemampuan guru dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, kedisiplinan,
pemeliharaan dan pengintegrasian, untuk membantu terwujudnya tujuan
pembelajaran.
Manifestasi manajemen bidang ekonomi yang diadopsi ke dalam
pengelolaan pembelajaran adalah (1) perencanaan program pembelajaran
(planning), (2) pengorganisasian bahan ajar (organizing), (3) pelaksanaan proses
pembelajaran (actuating), (4) pengalokasian waktu pembelajaran (coordinating),
dan (5) penilaian hasil pembelajaran (controlling). (diadaptasi dari : Nawawi,
6
2000: 52-105), pandangan yang lain kelima fungsi manajemen ini secara
terperinci terdiri dari langkah-langkah pengelolaan pembelajaran yang
konstruktif yaitu : kegiatan sebelum guru mengajar, kegiatan selama proses
pembelajaran berlangsung, dan kegiatan evaluasi sesudah pembelajaran
(Supriono, 2002: 45-56).
Kegiatan sebelum guru mengajar, adalah perencanaan program
pembelajaran (planning). Salah satu pengertian perencanaan yang dapat
dikemukakan di sini adalah bahwa perencanaan adalah kegiatan persiapan yang
dilakukan melalui perumusan dan penetapan keputusan, yang berisi langkahlangkah
penyelesaian suatu masalah atau penyelesaian suatu pekerjaan yang
terarah pada pencapaian tujuan tertentu.
Essensi perencanaan sebagai fungsi manajemen dalam pembelajaran adalah
pengambilan keputusan (yang dimaksud adalah penentuan tujuan pembelajaran,
mengidentifikasi kemampuan awal siswa, pretest) dengan memilah dan memilih
alternatif kegiatan pembelajaran yang akan atau tidak dilaksanakan, agar usaha
mencapai tujuan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Perencanaan khususnya dalam pelaksanaan pembelajaran berusaha
mewujudkan sistem pembelajaran yang secara teknis dapat dilaksanakan
berdasarkan sumber daya manusia dan sumber dana yang tersedia. Perencanaan
pembelajaran harus bersifat akseptabel dalam arti mampu memprediksi dan
mengadaptasi karakteristik siswa ke depan. Salah satu syarat akseptabel dalam
perencanaan pembelajaran adalah harus layak secara ekonomis dan tidak
membebani secara mental, dengan mempertimbangkan pengaruhnya terhadap
7
peningkatan dan pertumbuhan kecerdasan siswa dalam rangka memberdayakan
siswa untuk meraih kepuasan atas keinginannya.
Pengorganisasian bahan ajar (organizing). Pengorganisasian bahan ajar
adalah sistem kerjasama antara guru dengan sejumlah individu siswa di kelas,
yang dilakukan dalam satuan perbidang studi dengan membentuk sejumlah
satuan pelajaran, dilanjutkan dengan pembagian tugas dan kewajiban masingmasing
berdasarkan hubungan vertikal (hubungan guru dengan seniornya, pakar/
ahlinya dan hubungan guru dengan siswa) maupun horizontal (hubungan antara
guru dengan teman sejawat, teman seprofesi) dalam konteks pembelajaran
(Nanawi, 2000: 108-117)
Satuan pelajaran merupakan satu jaringan kerja internal guru yang akan
diwujudkan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam pengertian lain disebut
prosedur pengembangan pembelajaran (instructional procedure), yang berarti
sebagai strategi penyampaian bahan ajar. Dengan demikian pengorganisasian
bahan ajar dalam konteks manajemen pembelajaran sebagai proses mewujudkan,
memelihara, mempertahankan, mengembangkan strategi pembelajaran untuk
menckapai tujuan pembelajaran dengan bertumpu pada kepuasan siswa.
Pelaksanaan proses pembelajaran (actuating). Selama proses pembelajaran
berlangsung di kelas yang menjadi inti aktivitas adalah terciptanya komunikasi
pembelajaran (instructional communication) yang efektif. Komunikasi
pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian dan penerimaan bahan ajar
dari guru kepada siswa, untuk memperoleh, mempengaruhi atau merubah respon
siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Untuk mewujudkan komunikasi yang
8
efektif dalam komunikasi pembelajaran pada umumnya harus dipenuhi beberapa
asas yaitu (1) Asas kejelasan apesan (clearity), pesan yang disampaikan dalam
komunikasi pembelajaran hendaknya jelas mudah dimengerti tidak menimbulkan
berbagai penafsiran. Jika pesan tidak jelas akan menyulitkan siswa menangkap
isinya, hal ini bisa dikurangi dengan cara penggunaan bahasa, bahasa harus
sederhana, penggunaan istilah tidak berlebihan, penggunaan ini harus
mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa, (2) Asas konsistensi
(consistency), pesan pembelajaran yang disampaikan secara berulang-ulang atau
bertahap harus konsisten supaya tidak membingungkan, tidak bertentangan
dengan informasi sebelumnya, (3) Asas ketepatan (adequacy), pesan
pembelajaran hendaknya tepat dalam arti cukup lengkap, karena bila tidak
akan berakibat sulit memahami, respons yang muncul tidak seperti yang
diharapkan guru pada akhir pembelajaran, (4) Asas ketepatan waktu
(timelessness), pesan pembelajaran atau bahan ajar dari suatu bidang studi
waktu penyampaiannya harus mempertimbangkan waktu. Jam-jam pelajaran
waktu pagi dipasang bidang studi yang memerlukan konsentrasi dan tingkat
keseriusan siswa yang tinggi, makin siang dipilih bidang studi yang ringan
dan tidak memerlukan konsentrasi otak penuh, (5) Asas distribusi pesan
(massage distribution), pendistribusian pesan pembelajaran atau bahan ajar
harus didasarkan pada tingkat pengalaman siswa dan jenjang kelasnya, untuk
pokok bahasan yang sama tetapi jenjang kelas berbeda seperti di SD, SLTP,
SMU dan Perguruan Tinggi, harus dibedakan dalam penjelasan, pemberian
contoh, dan illustrasinya, (6) Asas pesan yang menarik dan mudah dipahami
9
(interest & acceptance), artinya pesan pembelajaran yang disampaikan guru
pada siswa harus dikemas dalam format yang menarik perhatian siswa. Pesan
atau bahan ajar disajikan dengan berorientasi pada masalah yang aktual dan
tidak kadaluwarsa, sesuai dengan dunia dan alam pikiran siswa yang dihadapi
(Nawawi, 2000: 105-107).
Pengalokasian waktu pembelajaran (coordinating). Bahan ajar yang
dipaketkan dalam satu tahun terbagi dalam satuan semester, dari satuan semester
dijabarkan dalam satuan pelajaran, kemudian satuan pelajaran disampaikan
dalam satuan jam pelajaran pertatap muka di kelas. Setiap tatap muka di kelas
diurai menjadi tiga tahap yaitu (1) persiapan sebelum mengajar, (2) proses
pembelajaran, (3) evaluasi pembelajaran. Guru sebelum mengajar dituntut
mempersiapkan beberapa instrument yaitu satuan pelajaran, rencana pretest,
media pembelajaran, buku sumber untuk guru, buku siswa, dan lembar kerja
siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung guru menerapkan strategi
pembelajaran, metode mengajar yang dipilih, menyampaikan bahan ajar sesuai
dengan peta konsep yang disusun. Pada akhir tatap muka di kelas guru
selanjutnya mengadakan posttest dengan menggunakan lembar kerja siswa yang
telah disiapkan, dan mengadakan test formatif untuk akhir pokok bahasan, serta
mengkoreksi hasil pekerjaan siswa dan mengembalikan kepada siswa. Pada akhir
tahun pelajaran atau akhir jenjang direncanakan dan dilaksanakan test sumatif
sebagai indek prestasi siswa untuk dapat naik kelas atau lulus dari sekolah
kemudian melanjutkan belajar ke jenjang di atasnya.
10
Tahap akhir dari aktifitas pembelajaran adalah mengadakan penilaian hasil
pembelajaran (controlling). Kontrol atau penilaian dalam pembelajaran diartikan
sebagai proses mengukur (measurement), menilai (evaluation) tingkat efektifitas
belajar siswa dalam melaksanakana tugas pembelajaran dan mengukur tingkat
efisiensi penggunaan sarana pembelajaran dan kontribusinya pada pencapaian
tujuan pembelajaran. Setiap kegiatan penilaian (evaluasi) memerlukan tolok ukur
atau kriteria untuk mengukur keberhasilan dalam aktivitas pembelajaran, tanpa
tolok ukur atau standard penilaian, maka evaluasi tidak bisa dilaksanakan secara
efektif. Penilaian pembelajaran biasanya terdiri dari (1) menentukan standard
penilaian menggunakan penilaian acuan patokan (PAP) atau penilaian acuan
norma (PAN), (2) proses penilaian menggunakan instrumen berupa test obyektif,
essay test, tugas observasi atau penelitian, (3) koreksi pekerjaan siswa dan
memberikan hasil belajar siswa dan menyusun peringkat siswa, (4) tindak lanjut
terdiri dari program pengayaan atau perbaikan prestasi siswa.
Jadi, manajemen pembelajaran merupakan penerapan manajemen dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan manajemen sumber daya
manusia dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Keberhasilan pada sektor ekonomi dengan penerapan fungsi
manajemennya telah mampu menunjukkan kualitas produk yang lebih
menjanjikan dan dapat memenuhi kepuasan dan permintaan masyarakat
pelanggannya. Penerapan manajemen dalam proses pembelajaran ini diharapkan
akan berdampak pula pada kualitas produk pembelajaran yang bisa memenuhi
permintaan dan kebutuhan masyarakat pelanggan dan pemakainya.
11
Ditjen Didasmen (2001: 21) memberi isyarat tentang dimensi-dimensi yang
dapat digarap oleh sekolah dalam kerangka peningkatan mutu adalah
1) Perencanaan, 2) Pengelolaan kurikulum, 3) Pengelolaan proses belajar
mengajar, 4) Pengelolaan keteanagaan, 5) Pengelolaan peralatan dan
perlengkapan, 6) Pengelolaan keuangan, 7) Pengelolaan siswa, 8) Hubungan
sekolah dengan masyarakat, 9) Pengelolaan iklim sekolah.
Kesembilan komponen tersebut haruslah dikelola atau dimenej dengan
baik, agar tercipta suatu proses belajar mengajar yang lancar, sehingga nantinya
output dari lembaga pendidikan tersebut dapat dibanggakan kualitasnya. Namun
apabila pengelolaan terhadap kesembilan komponen manajemen pendidikan
tersebut tidak baik atau profesional, maka hal itu dapat berpengaruh terhadap
kualitas pembelajaran pada lembaga pendidikan tersebut.
Keterburukan tersebut diperparah lagi dengan kondisi sarana dan prasarana
yang jauh dari standar. Salah satu lokal bangunan di sekolahan tersebut
dindingnya retak dan hampir saja roboh. Berbagai upaya untuk menyelamatkan
sekolah dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan melakukan
pergantian kepala sekolah pada tahun 2002. Selain itu, pihak sekolah juga
menjalin kerjasama dengan TK dan Play Group di sekitar Desa Cepogo agar
lulusannya masuk ke SD Negeri Cepogo 01. Upaya-upaya yang dilakukan oleh
pihak sekolah terutama oleh kepala sekolah mulai membuahkan hasil. Hal ini
dapat terlihat dengan semakin bertambahnya jumlah murid dan meningkatnya
prestasi akademik.
12
Untuk prestasi akademik, pada tahun 2004, SD Negeri Cepogo 01
berhasil menempati posisi pertama dari tingkat SD se Kecamatan Cepogo. Dan
pada tahun 2005 sekolah tersebut berhasil meluluskan seratus persen siswa
kelas enamnya. Berdasarkan temuan awal tersebut, maka dalam tesis atau
penelitian ini akan diteliti mengenai bagaimana pengelolaan manajemen
pendidikan di SD Negeri Cepogo 01 (khususnya terhadap sembilan komponen
manajemen sekolah) dan pengaruhnya terhadap kualitas pembelajaran. Penelitian
tersebut mengambil judul “PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM
MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI SD NEGERI CEPOGO 01
KABUPATEN BOYOLALI”.
B. Fokus
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan di atas,
maka penelitian ini penulis fokuskan pada masalah-masalah pokok bagaimana
karakteristik SD Negeri Cepogo 01 untuk menjawab dari fokus atau persoalan
pokok tersebut, maka ada beberapa pertanyaan yang perlu dicari jawabannya
sebagai berikut
1. Bagaimana karakteristik peran kepala sekolah dalam perencanaan (planning)
pembelajaran di SD Negeri Cepogo 01
2. Bagaimana peran kepala sekolah dalam pengorganisasian (organizing)
pembelajaran di SD Negeri Cepogo 01
3. Bagaimana peran kepala sekolah dalam pengerahan (actuating) pembelajaran
di SD Negeri Cepogo 01
4. Bagaimana peran kepala sekolah dalam pengawasan (controlling)
pembelajaran di SD Negeri Cepogo 01
13
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui
a. Peran kepala sekolah dalam perencanaan (planning) pembelajaran di SD
Negeri Cepogo 01.
b. Peran kepala sekolah dalam pengorganisasian (organizing) pembelajaran
di SD Negeri Cepogo 01.
c. Kepala sekolah dalam pengerahan (actuating) pembelajaran di SD Negeri
Cepogo 01.
d. Kepala sekolah dalam pengawasan (controlling) pembelajaran di SD
Negeri Cepogo 01.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan
kajian dalam upaya untuk mendalami manajemen pendidikan di suatu
lembaga pendidikan tingkat menengah, khususnya SD Negeri Cepogo 01.
Selanjutnya temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi
terhadap rencana pengembangan sekolah (RPS) khususnya
pengembangan manajemennya.
14
b. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
terhadap upaya peningkatan kualitas manajemen pembelajaran atau
pendidikan di SD Negeri Cepogo 01. Secara terinci, hasil penelitian ini
diharapkan berguna :
1) Bagi Institusi
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau
masukan kepada pengelola dalam mengelola sekolahnya khususnya
manajemennya. Sehingga dapat dijadikan tolak ukur untuk
mengetahui dengan jelas berhasil tidaknya dalam melaksanakan dan
mengelola manajemen di sekolah. Di samping itu hasil penelitian ini
agar dapat dijadikan suatu perbaikan bila dalam pelaksanaannya
masih terdapat kekurangan.
2) Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
informasi tambahan atau pembanding bagi peneliti lain yang masalah
penelitiannya sejenis.
D. Definisi Istilah
Kepemimpinan adalah “kepengikutan”, adanya kemauan orang lain untuk
mengikuti, juga seni atau proses menggerakkan, mempengaruhi, dan
membimbing orang lain dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
bersama.
15
Kepala sekolah adalah pemimpin tertinggi di mana sekolah itu berada.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah seni atau cara dari kepala sekolah dalam
mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan
orang lain (guru, karyawan, siswa, orang tua siswa, dan pihak terkait) untuk
bekerja atau berperan serta guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Secara eksplisit, pengertian tersebut juga terdapat konsep bahwa manajemen
merupakan kemampuan pimpinan (manajer) dalam mendayagunakan orang lain
melalui kegiatan menciptakan dan mengembangkan kerjasama dalam mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Pembiayaan pendidikan adalah upaya dan pengorbanan yang diberikan dalam
setiap aktivitas baik berupa uang maupun bukan uang untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Manajemen pembiayaan pendidikan adalah proses atau
rangkaian kegiatan pembiayaan pendidikan yang dirancang oleh pimpinan dan
diimplemtasikan bersama bawahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber
daya manusia (SDM) dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien
untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Hasibuan, 2001: 2) Pembelajaran adalah
membimbing aktivitas siswa, membimbing pengalaman siswa, membantu siswa
berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan.
Manajemen pembelajaran adalah pemanfaatan kemampuan dan
pengetahuan guru secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran
dan pembentukan struktur kognitif baru siswa melalui aktivitas guru dalam
16
mengelola proses pembelajaran di kelas. Ruang kelas adalah lingkungan
paedagogis di mana berlangsung komunikasi antara guru dan siswa.
17
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Manajemen Pendidikan
1. Definisi
Mary Parker Fallet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Handoko, 1995: 3). Definisi ini
mengandung arti bahwa para manajer dalam mencapai tujuan organisasi
melalui pengaturan orang lain untuk melakukan tugas-tugas yang mungkin
diperlukan. Jadi manager tidak bekerja sendirian.
Sementara itu James A.F Stoner mengartikan manajemen sebagai
proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan
upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber
daya organisasi untuk tujuan yang telah ditetapkan (Subardi, 2001: 5). Dari
definisi tersebut di atas, maka manajemen pendidikan adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian usaha-usaha
personal pendidikan untuk mendayagunakan semua sumber daya dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan.
2. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan
Sampai saat ini belum ada consensus baik diantara praktisi maupun
para teorisi mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen. Namun
pada hakikatnya, fungsi manajemen ada empat, yakni perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan pembinaan.
17

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:233
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:12
ashien ashien
About