Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

PROFILE DAN JASA PERJUANGAN

VIEWS: 56 PAGES: 9

									             “PROFILE DAN JASA PERJUANGAN”
                          PAHLAWAN NASIONAL

              Alm. K.H. Noer Alie (1914 – 1992)




Tahun 1937 K.H. Noer Alie bersama Hasan Basri membentuk organisasi Persatuan Pelajar

Betawi, dimana beliau menjadi ketuanya. Setelah Agresi Militer I Belanda, beliau mendirikan

organisasi gerilya baru dengan nama Markas Pusat Hizbullah Sabililah, di Tanjung Karekok,

Cikampek. Saat meletus pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, bersama rekan-rekan perjuangan

di organisasi Islam, beliau ikut menumpas gerakan tersebut khususnya di daerah Bekasi dan

Jakarta sekitarnya. Atas jasa-jasa beliau, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional

dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
        Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)




R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda

Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi. Melalui surat

kabar   Medan   Prijaji,   pemikiran   beliau   menjadi   cikal   bakal   nasionalisme   dengan

memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat Indonesia tentang

hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap

ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai

Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah

RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra

Adipradana.
         Alm. Opu Daeng Risadju (1880 – 1964)




Pada tahun 1946, Opu Daeng Risadju beserta Pemuda Republik melakukan serangan terhadap

tentara NICA. Tapi sebulan kemudian, tentara NICA melakukan serangan balik terhadap

pasukan beliau. Beberapa bulan kemudian beliau ditangkap di Latonro dan dipaksa berjalan kaki

sejauh 40 km menuju Watampone. Karena banyak mengalami penyiksaan, beliau menjadi tuli

seumur hidup. Perjuangan beliau telah memegang peranan penting dan secara aktif dalam

perjuangan kebangkitan nasional dan masa revolusi fisik kemerdekaan RI di wilayah Tanah

Luwu khususnya, dan Sulsel umumnya. Atas jasa-jasa Opu Daeng Risadju, pemerintah RI

menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra

Adipradana.
                  Alm. Pangeran Mangkubumi/


     Sultan Hamengku Buwono I (1717 – 1792)




Setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta, maka Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan

Hamengku Buwono I. Hasil perjuangan HB I sejak tahun 1746 dirumuskan dengan

ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tahun 1755. Ini merupakan bukti semangat nasionalisme

dan patriotisme HB I dalam membela kepentingan rakyat dalam menegakkan kewibawaan dan

kedaulatan Mataram. Perjuangannya itu menjadi cikal bakal tumbuhnya gerakan nasional

kebangsaan. Atas jasa-jasanya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan

Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna.
        Alm. H. Pajonga Daeng Ngalie Karaeng

                Polongbangkeng (1901 – 1958)




Untuk mempertahankan proklamasi, Pajonga Daeng Ngalie membentuk Laskar Gerakan Muda

Bajoang sebagai wadah perjuangan bersenjata yang diketuainya sendiri. Hal ini menunjukkan

beliau memiliki karakter pejuang yang tidak mau kompromi dengan penjajah Belanda. Pada

bulan Juli 1946 ketika Van Mook melakukan Konferensi Maleno untuk membentuk negara

boneka Indonesia Timur, maka Lascar Lipan Bajoang Pajonga Daeng Ngalie melaksanakan

konferensi antar laskar se-Sulawesi Selatan guna menyatukan visi strategis dan kekuatan

perjuangan. Perjuangan dan pengabdian beliau mengundang nilai-nilai persatuan dan berskala

nasional. Atas jasa-jasanya itu, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan

Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
   Alm. Andi Sultan Daeng Radja (1894 – 1963)




Sejarah perjuangan Andi Sultan Daeng Radja menentang kehadiran pemerintah Kolonial

Belanda di Indonesia telah dilakukannya sejak masih menjadi siswa pada opielding School Voor

Indiandsche Ambtenar di Makassar. Pada akhir Agustus 1945, ia mendirikan wadah untuk

membela negara PPNI (Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia). Atas jasa-jasanya, pemerintah

RI menganugerahi Andi Sultan Daeng Radja gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan

Bintang Mahaputera Adipurna.
       Alm. Izaak Huru Doko (1918 – 1985)




Izaak Huru Doko memimpin dan mengorganisir tenaga-tenaga nasional untuk menghadapi

Pemerintah Reaksioner Belanda (NICA) dan kaki tangannya. Ia pernah menjabat Menteri

Penerangan N.I.T yang membantu perjuangan RI dan mengembalikan Presiden dan Wakil

Presiden serta pemerintah RI ke Yogya. Karena perjuangan inilah, maka dalam tahun 1948, NIT

diakui secara resmi oleh Pemerintah RI. Izaak Huru hampir menjadi korban G30S/PKI, dan

termasuk dalam daftar utama orang yang harus dilenyapkan. Atas jasa-jasanya itu pemerintah RI

menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra

Adipradana.
     Alm. DR. Mr. H. Teuku Muhammadd Hasan

                                (1906 – 1997)




Bulan Agustus 1945, Muhammad Hasan diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan

Kemerdekaan Indonesia perwakilan Sumatera. Beliau ikut membahas UUD 1945 beserta pasal-

pasal serta ikut memilih Presiden dan Wakil Presiden pertama. Beliau wafat tahun 1997 dan

dimakamkan di TMP Kalibata. Pemerintah RI menganugerahi Teuku Muhammadd Hasan gelar

Pahlawan Nasional.

								
To top