Tugas Kebudaya Jepang by ashien

VIEWS: 129 PAGES: 12

									HENGKY FERNANDO
                          KEBUDAYAAN JEPANG

                   1. Samurai dalam budaya Jepang




Daimyō (大名?) berasal dari kata Daimyōshu (大名主? kepala keluarga terhormat)
yang berarti orang yang memiliki pengaruh besar di suatu wilayah. Di dalam
masyarakat samurai di Jepang, istilah daimyō digunakan untuk samurai yang
memiliki hak atas tanah yang luas (tuan tanah) dan memiliki banyak bushi sebagai
pengikut.

Pada zaman Muromachi, Shugoshoku adalah nama jabatan yang diberikan kepada
kelas penguasa untuk menjaga wilayah feodal yang disebut Kuni (provinsi). Penguasa
yang menjabat Shugoshoku kemudian sering disebut sebagai Shugo Daimyō
(守護大名? daimyō yang melindungi).

Di zaman Sengoku, dikenal penguasa wilayah feodal yang disebut Taishin (大身?).
Selain itu dikenal juga samurai lokal yang berperan dalam pembangunan daerah yang
disebut Kokujin (国人?). Sengoku Daimyō (戦国大名?) merupakan sebutan untuk
daimyō yang menguasai lebih dari satu wilayah kekuasaan.

Pada zaman Edo, daimyō adalah sebutan untuk samurai yang menerima lebih dari
10.000 koku dari Keshogunan Edo, sedangkan samurai yang menerima kurang dari
10.000 koku disebut HatamotoDaimyo yang berkunjung ke istana, gambar dari buku
“Sketches of Japanese Manners and Customs”Peringkat daimyō pada zaman Edo
ditentukan oleh tingkatan kebangsawanan (Kakaku), tingkat jabatan (Kan-i), potensi
kekayaan wilayah Han (Kokudaka), dan deskripsi pekerjaan (Yakushoku).



Pada zaman Edo terdapat 3 jenis daimyō:

Kamon Daimyō

      Daimyō yang masih punya hubungan kerabat dengan keluarga shogun
      Tokugawa

Fudai Daimyō

      Daimyō turun temurun yang sudah setia kepada shogun Tokugawa jauh
      sebelum Pertempuran Sekigahara,

Tozama

      Pengikut Tokugawa yang menjadi setia setelah ditundukkan              dalam
      Pertempuran Sekigahara.

Tokugawa Ieyasu memberi wewenang atas kekuasaan wilayah han Owari, Kishū,
Mito untuk ketiga orang putranya. Ieyasu juga memberi wewenang kepada masing-
masing putranya untuk menggunakan nama keluarga Tokugawa, sehingga salah satu
garis keturunan putranya dapat menggantikan garis keturunan utama Tokugawa jika
mata rantai keturunan utama terputus. Selain itu, masing-masing putra Tokugawa
masih menerima tugas penting memata-matai kegiatan para daimyō lain wilayah han
tetangga.

Ieyasu menyebar anggota keluarganya ke seluruh Jepang untuk mengawasi daimyō di
wilayah han tetangga. Putra ke-9 yang bernama Tokugawa Yoshinao ditunjuk sebagai
daimyō wilayah han Owari. Putra ke-10 yang bernama Tokugawa Yorinomu ditunjuk
sebagai daimyō wilayah han Kishū, Putra ke-11 yang bernama Tokugawa Yorifusa
ditunjuk sebagai daimyō wilayah han Mito. Selain itu, Yūki Hideyasu yang
merupakan kakak dari shogun generasi ke-2 Tokugawa Hidetada ditunjuk sebagai
daimyō wilayah han Echizen.

Pengikut (Kashin) berasal dari keluarga yang sudah turun temurun mengabdi kepada
klan Tokugawa dijadikan Fudai Daimyō. Dalam menjalankan pemerintahan, shogun
Tokugawa selalu dikelilingi oleh Fudai Daimyō yang ditunjuk sebagai menteri senior
(Tairō) dan penasehat shogun (Rojū)

Jika dibandingkan dengan daimyō lainnya, Fudai Daimyō menerima jumlah
Kokudaka yang rendah, sebaliknya klan Torii, klan Sakakibara, dan klan Honda
mempunyai kokudaka yang tinggi. Klan Ii yang menjadi Fudai Hitto di Hikone
mempunyai kokudaka yang sangat tinggi hingga mencapai 350.000 koku. Cuma ada
segelintir daimyō yang menerima di atas 100.000 koku, misalnya: klan Sakai, klan
Abe, klan Hotta, klan Yanagisawa, dan klan Toda.




Seorang samurai dengan pakaian tempur, 1860.

Samurai (侍 atau 士?) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman
industrialisasi di Jepang. Kata “samurai” berasal dari kata kerja “samorau” asal
bahasa Jepang kuno, berubah menjadi “saburau” yang berarti “melayani”, dan
akhirnya menjadi “samurai” yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.

Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (harafiah: “orang bersenjata”) yang
digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk
prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan contohnya, ashigaru atau tentara
berjalan kaki. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan
(daimyo) disebut ronin (harafiah: “orang ombak”). Samurai yang bertugas di wilayah
han disebut hanshi.

Samurai dianggap mesti bersopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa
berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa,
samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang
mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19,
samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional
menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal
sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana
aspek cara hidup mereka yang lain.
Etimologi

Perkataan samurai berasal pada sebelum zaman Heian di Jepang di mana bila
seseorang disebut sebagai saburai, itu berarti dia adalah seorang suruhan atau
pengikut. Hanya pada awal zaman modern, khususnya pada era Azuchi-Momoyama
dan awal periode/era Edo pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 perkataan
saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu,
artinya telah lama berubah.

Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan
sebagai gelar kehormat bagi sejumlah kecil panglima perang, walaupun pemain
pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepang (kyujutsu), masih berkaitan erat
dengan dewa perang Hachiman.

Berikut adalah beberapa istilah lain samurai.

Buke (武家) – Ahli bela diri

Kabukimono – Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada gaya samurai
berwarna-warni.

Mononofu (もののふ) – Istilah silam yang berarti panglima.

Musha (武者) – Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.

Si (士) – Huruf kanji pengganti samurai.

Tsuwamono (兵) – Istilah silam bagi tentara yang ditonjolkan oleh Matsuo Basho
dalam haiku terkemukanya. Arti harafiahnya adalah orang kuat.

SenjataSamurai mengunakan beberapa macam jenis senjata, tetapi katana adalah
senjata yang identik dengan keberadaan mereka, Dalam Bushido diajarkan bahwa
katana adalah roh dari samurai dan kadang-kadang digambarkan bahwa seorang
samurai sangat tergantung pada katana dalam pertempuran. Mereka percaya bahwa
katana sangat penting dalam memberi kehormatan dan bagian dalam kehidupan.
Sebutan untuk katana tidak dikenal sampai massa Kamakura (1185–1333), sebelum
masa itu pedang Jepang lebih dikenal sebagai tachi dan uchigatana, Dan katana
sendiri bukan menjadi senjata utama sampai massa Edo.

Apabila seorang anak mancapai usia tiga belas tahun, ada upacara yang dikenali
sebagai Genpuku. Anak laki-laki yang menjalani genpuku mendapat sebuah wakizashi
dan nama dewasa untuk menjadi samurai secara resmi. Ini dapat diartikan dia diberi
hak untuk mengenal katana walaupun biasanya diikat dengan benang untuk
menghindari katana terhunus dengan tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi
dikenali sebagai Daisho, yang berarti besar dan kecil.

Senjata samurai yang lain adalah yumi atau busar komposit dan dipakai selama
beberapa abad sampai masa masuknyah senapan pada abad ke-16. Busur komposit
model Jepang adalah senjata yang bagus. Bentuknya memungkinkan untuk digunakan
berbagai jenis anak panah, seperti panah berapi dan panah isyarat yang dapat
menjangkau sasaran pada jarak lebih dari 100 meter, bahkan bisa lebih dari 200 meter
bila ketepatan tidak lagi diperhitungkan, Senjata ini biasanya digunakan dengan cara
berdiri dibelakang Tedate (手盾) yaitu perisai kayu yang besar, tetapi bisa juga
digunakan dengan menunggang kuda. Latihan memanah di belakang kuda menjadi
adat istiadat Shinto, Yabusame (流鏑馬). Dalam pertempuran melawan penjajah
Mongol, busur komposit menjadi senjata penentu kemenangan, Pasukan Mongol dan
Cina pada waktu itu memakai {busur komposit]] dengan ukuran yang lebih kecil,
apalagi dengan keterbatasannya dalam pemakaian pasukan berkuda.
              2. Perayaan Hanami dalam budaya Jepang




Perayaan Hanami merupakan salah satu perayaan tahunan di negara Jepang yang ada
pada musim semi, tepatnya pada bulan April.

Perayaan Hanami ini adalah perayaan untuk melihat bunga sakura, yang merupakan
Bunga khas dari negara Matahari Terbit. Budaya merayakan mekarnya bunga ini,
tidak adda di negara Indonesia.

Hanami, merupakan perayaan yan gdiselenggarakan secara sederhana akan tetapi
dengan kesederhanaanya itu, perayaan hanami justru menjadi kesenangan terbesar
bagi orang-orang Jepang dalam setahun kehidupan mereka.

Budaya seperti ini yang sudah mulai luntur pada diri sebagian masyarakat Indonesia.
Dewasa ini, masyarakat Indonesia, pada umunya masyarakat ekonomi kelas atas,
lebih suka mencari kesenangan dengan cara menghambur-hamburkan uang, seolah
kemewahan merupakan simbol mutlak dari kebahagiaan. Padahal dari kesederhanaan
seperti yang yang terdapat pada perayaan hanami di Jepang itu juga bisa tercipta
kebahagiaan tersendiri, karena pada saat perayaan hanami, orang-orang Jepang tidak
hanya sekedar menikmati keindahan bunga sakura, akan tetapi orang-orang Jepang
juga mempunyai waktu tersendiri untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-
orang tersayang.

Perayaan Hanami yang dalam sejarah berarti melihat-lihat bunga sakura, dalam
perkembangannya perayaan ini lebih bersifat sebagai ajang rekreasi.Bisa kita
bayangkan kebahagiaan orang-orang Jepang pada saat mereka merasakan kehangatan
berkumpul bersama keluarga diantara rimbun pepohonan sakura yang sedang mekar.
Sebuah rekreasi keluarga dalam kehangatan budaya tradisional yang tidak goyah oleh
hadirnya gaya hidup modern.

Kenyataan ini sungguh berbeda dengan keadaan masyarakat Indonesia. Budaya
Indonesia yang ketimuran justru mulai terkikis oleh hadirnya budaya-budaya barat
yang menyebabkan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota, terkesan
menjadi masyarakat yang individual. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-
masing, sehingga jarang mempunyai waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Perayaan Hanami ini tidak bisa dianggap sebagai perayaan yang biasa, karena
meskipun sekedar menyaksikan mekarnya bunga sakura, dengan adanya perayaan
hanami menunjukkan kecintaan masyarakat Jepang terhadap bunga sakura.

Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang
menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan Budaya hanami, meskipun
di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya
dengan pergi ke tempat karaoke.

Masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di
bawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura.

Keteguhan masyarakat Jepang dalam melestarikan budaya tradisional mereka, patut
untuk diteladani. Tidak hanya hanami, kebiasaan berkirim nengajo (kartu pos) pada
saat tahun baru dan menjelang musim panas juga tetap berlangsung ditengah
masyarakat Jepang. Sekalipun kecanggihan teknologi telah memungkinkan mereka
untuk meninggalkan kartu pos, tapi masyarakat Jepang masih melaksanakan budaya
tradisional tersebut.

Hal-hal tersebut itulah yang sering terlupakan oleh sebagian masyarakat lain, katika
mereka disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, mereka tidak lagi mempunya waktu
khusus untuk berkumpul bersama keluarga.

Begitu juga ketika kecanggihan teknologi telah merambah masyarakat modern, hanya
sebagian kecil dari mereka yang tetap menggunakan jasa kantor pos untuk berkirim
kartu pos ataupun surat.
Harusnya kita bisa bercermin pada orang-orang Jepang bagaimana meraka tetap
mampu melestarikan budaya tradisional tersebut. Karena dari hal-hal sepele seperti
itulah akan tercipta kesempurnaan, akan tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang
sepele.

Berbicara tentang hanami tentu tidak akan terlepas dari bunga sakura. Konon
kabarnya bunga sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari.

Secara umum bunga sakura bermekaran dimulai dari daerah selatan yang berudara
lebih hangat, yaitu di pulau Okinawa, kemudian merambat ke utara, dan berakhir di
Hokkaido. Pada sebuah web di internet pernah dijelaskan bahwa hikmah besar
mengenai kehidupan ini tersimpan pada keberadaan bunga sakura. Di balik ukurannya
yang mungil, bunga yang memiliki berbagai mcam variasi warna, yang pada setiap
tangkainnya berkembang lima hingga ratusan bunga ini telah memberi contoh pada
kita bahwa hal-hal kecil jika dirangkai dalam sebuah untaian besar dapat memberi
sebuah keindahan, dan hal-hal kecil berarti besar bila dipadukan. Bisa jadi karena
beberapa keistimewaan yang terdapat pada bunga sakura itulah, mengapa orang-orang
Jepang begitu antusias merayakan hanami untuk menyaksikan mekarnya bunga
sakura yang hanya berlangsung selama tujuh sampai sepuluh hari.

Semoga saja kelak dalam perjalanan hidup kita bisa turut menjadi kuncup kecil yang
bersatu bersama dengan yang lainnya untuk menciptakan indahnya kebersamaan,
seindah kebersamaan orang-orang Jepang ketika merayakan hanami dibawah pohon
sakura.
                      3. GEISHA dalam budaya Jepang




Geisha (bahasa Jepang:芸者 "seniman") adalah seniman-penghibur (entertainer)
tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu
tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai
sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. "Geisha" dilafalkan dalam bahasa
Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ ("gei-" - "may"). Di Kansai, istilah "geiko" (芸妓) dan geisha pemula
"maiko" (舞妓) digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah "maiko" hanya digunakan di
distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa ("gei-" - "key") atau "gadis geisha" umum digunakan
pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi.
Di Republik Rakyat Cina, kata yang digunakan adalah "yi ji," yang pengucapannya
mirip dengan "ji" dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur
pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha ("Okiya")
membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian
melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu,
kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

Pada bulan Desember 2007, distrik Asakusa di Tokyo telah menjadi saksi atas debut
Sayuki (紗幸), geisha Barat non-Jepang pertama di sejarah Jepang. Asalnya, Sayuki
menjadi geisha untuk proyek akademik, tapi sekarang berniat untuk melanjutkan
pekerjaannya itu. “Sayuki: inside the flower and willow world” akan dipublikasikan
oleh Pan Macmillan Australia. Sebuah film dokumenter tentang hidup seorang geisha
juga sedang direncanakan.

           MAKALAH KEBUDAYAAN JEPANG




                                DI SUSUN

                                  OLEH :

                             1.Desi Kurniati
                             2. Yennie Sesmitha
                             3. Yuli
                             4. Faisal Saputra
                             5. Dwi Prasetya



                        SMA N 1 BENAI
KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

								
To top