Docstoc

menstruasi

Document Sample
menstruasi Powered By Docstoc
					                   MAKALAH
           FISIOLOGI MENSTRUASI




                    Disusun Oleh :
        1. Abas Riyadi               (0701028)
        2. Faoji                     (0701040)
        3. Adwinarsih                (0701064)
        4. Dwi Retno Restuningsih    (0701080)
        5. Endah Nuryani             (0701083)
        6. Erni Yuni Lestari         (0701089)




            PRODI DII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
                     GOMBONG
                         2009
                               MENSTRUASI



A. Pengertian

        Menstruasi atau haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita
   yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode
   ini penting dalam reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap
   bulan antara usia pubertas dan menopause. Selain manusia, periode ini hanya
   terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui
   lainnya, yang disebut sebagai siklus estrusi.

        Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai
   dengan pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan.
   Menstruasi yang terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus
   menstruasi. menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung
   hingga anda menopause (biasanya terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun).
   Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari

        Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun
   hal ini berlaku umum tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang
   sama, terkadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya pada
   saat menstruasi wanita memakai pembalut untuk menampung darah yang
   keluar saat beraktivitas terutama saat tidur agar pantat dan celana tidak basah
   dan tetap nyaman. Pembalut harus diganti minimal dua kali sehari.

B. Gejala

   Gejala-gejalanya sebagai berikut :

   a. Suhu badan meningkat (seperti meriang)
   b. Payudara membengkak
   c. Pinggang sakit
   d. Pusing-pusing
   Untuk mengurangi sakit pada saat menstruasi, berikut tips yang dapat
   dilakukan :

   a. Gosok perut dengan minyak kayu putih, dengan tekanan yang agak keras.
   b. Berendam di air hangat
   c. Mengompres perut dengan air hangat (masukan air hangat dalam botol).
   d. Minum kaplet sakit haid
   e. Melakukan Olah Raga ringan (senam).

C. Fisiologi Menstruasi

        Ciri khas kedewasaan manusia ialah adanya perubahan-perubahan siklik
   pada alat kandungannya sebagai persiapan untuk kehamilan. Hal ini adalah
   suatu proses yang kompleks dan harmonis meliputi serebrum, hipotalamus,
   hipofisis, alat-alat genetal, korteks adrenal, glandula tireoidea, dan kelenjar-
   kelenjar lain yang kini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

        Dewasa ini telah banyak diketahui tentang apa yang terjadi pada
   perubahan-perubahan siklik tersebut diatas dengan jalan mempelajari
   perubahan-perubahan siklik yang sama pada kera. Pada siklus haid
   endometrium dipersiapkan secara teratur untuk menerima ovum yang dibuahi
   setelah terjadi ovulasi, dibawah pengaruh secara ritmik hormon – hormon
   ovarium : estrogen dan progresteron. Hormon-hormon ini dapat ditemukan
   ditemukan antara lain dalam air kencing, dan pengeluarannya setiap 24 jam
   dapat diukur, estrogen sebagai estriol dan progesteron sebagai pregnandiol.
   Pemeriksaan urine tiap 24 jam ini dilakukan untuk mengetahui apakah fungsi
   ovarium normal.

        Di klinik untuk mengetahui apakah ada ovulasi cukup dengan
   mengerjakan biopsi endometrium. Biopsi ini dikerjakan pada hari pertama
   haid untuk menghindari kemungkinan mengganggu kehamilan muda. Bila ada
   ovulasi, maka ditemukan bagian-nagian endometrium dalam masa sekresi.
     Perubahan siklik hormonal ini dapat pula dilihat pada suhu basal,
sitologi vaginal, getah serviks, dan pH getah vagina. Adanya ovulasi diikuti
oleh pembentukan korpus luteum yang mengeluarkan progresteron; dapat
dilihat bahwa suhu basal pada saat ovulasi turun untuk kemudian naik dan
menetap disekitar 370C , sampai pada permulaan haid turun lagi. Dalam hal
menilai sitologi vaginal dapat dikemukakan bahwa mukosa vagina memang
mencerminkan keadaan hormonal wanita yang diambil usap vaginanya. Dari
usap vagina yang diambil secara berturut-berturut, dapat ditentukan apakah
ovulasi telah terjadi dan bila ovulasi terjadi, ini dapat diketahui dengan
menentukan persentase indeks kariopiknotik. Dihitung 100 – 200 sel-sel
superfisial, intermedier, dan parabasal. Bila ditemukan 75% sel-sel superfisial
dan 25% sel-sel intermedier, maka ini menunjukan masa proliferasi. Bila
ditemukan 65% sel-sel intermedier dan 35% sel-sel superfisial, maka ini
berarti pascaovulasi. Pemeriksaan sitologi vaginal merupakan usap vagina
yang lebih baik, tidak boleh ada infeksi. Pewarnaan secara Shorr atau
modifikasi menurut Papanicolaou telah cukup memberikan hasil yang
memuaskan bagi yang telah dapat pelatihan dalam sitologi vaginal.

     Cara yang lebih sederhana untuk menilai apakah ada ovulasi ialah
dengan menilai getah serviks. Pada hari ke 9 sampai ke 15 siklus haid getah
serviks lebih cair dan jernih. Bila diambil dari kanalis servikalis dengan
pinset, getah tersebut tidak terputus-putus sampai sepanjang 10-20 cm. Gejala
ini disebut Spinnbarkeit. Bila getah serviks ini dikeringkan diatas kaca objek
dan dilihat dibawah mikroskop, akan tampak kristalisasi getah tersebut dalam
bentuk daun pakis. Bertambahnya getah serviks yang keluar pada ovulasi
dapat mengubah pH getah vagina. Pengukuran perubahan pH ini memerlukan
alat yang sensitif. Lamanya siklus haid yang normal atau yang dianggap
sebagai siklus haid klasik adalah 28 hari ditambah atau dikurangi dua sampai
tiga hari. Siklus ini dapat berbeda-berbeda pada wanita yang normal dan sehat.
Pada setiap siklus dikenal masa utama, ialah sebagai berikut :

1. Masa haid selama dua sampai delapan hari. Pada waktu itu endometrium
   dilepas, sedangkan pengeluaran hormon-hormon ovarium paling rendah
   (minimum).




                     Siklus haid dan pekembangan folikel




                              Bila ada khamilan
2. Masa proliferasi sampai hari ke empat belas. Pada waktu itu endometrium
   tumbuh kembali, disebut juga endometrium mengadakan proliferasi.
   Antara hari kedua belas dan ke empat belas dapat terjadi pelepasan ovum
   dari ovarium yang disebut ovulasi.
3. Sesudahnya, dinamakan masa sekresi. Pada ketika itu korpus rubrum
   menjadi korpus luteum yang mengeluarkan progesteron. Dibawah
   pengaruh progesteron ini, kelenjar endometrium yang tumbuh berkeluk-
   keluk mulai bersekresi dan mengeluarkan getah yang mengandung
   glikogen dan lemak. Pada akhir masa ini stroma endometrium berubah
   kearah sel-sel desidua, terutama yang berada diseputar pembuluh-
   pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan adanya nidasi.

     Sekarang ternyata bahwa dalam proses ovulasi bukan hanya harus ada
suatu kerja sama yang harmonis antara korteks serebri, hipotalamus, hipofisis,
dan ovarium, melainkan ada pengaruh pula dari glandula tireoidea, korteks
adrenal,   dan   kelenjar-kelenjar   endokrin    lain.     Dewasa   ini   ternyata
prostalglandin dan serotonin mempunyai peranan pula dalam ovulasi dengan
mempengaruhi hipotalamus dan hipofisis. Pula ditemukan pengaruh ACTH
terhadap korteks adrenal dikaitkan dengan sistem renin angiotensin di ovarium
pada ovulasi.

     Dalam sistem endokrin beberapa susunan syaraf pusat tertentu seperti
glandula pinealis, glandula amigdalae, dan hipokampus mempunyai hubungan
neural dan humoral yang disebut juga hubungan neurohumoral dengan
hipotalamus dan hipofisis. Didalam hipotalamus sendiri terdapat releasing
hormones dalam jumlah yang sedikit sekali. Zat-zat inilah polipeptida yang
kecil sekali, terdiri atas sejumlah asam amino tertentu.

     Dikenal 1). FSH – RH yang merangsang hipofisis untuk mengeluarkan
FSH (follicle stimulating hormone releasing hormone) ; 2). LH – RH yang
merangsang hipofisis untuk mengeluarkan LH (Luteinizing hormone) ; 3).
PIH (Prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk
mengeluarkan prolaktin ; dan 4). Beberapa RH untuk somatotropin, TSH
(thyroid stimulating hormone), dan ACTH (adenocorticotrophic hormone).

     Pada tiap siklus haid FSH dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis yang
menimbulkan beberapa follicle primer yang dapat berkembang dalam
ovarium. Umumnya satu folikel, kadang-kadang juga lebih dari satu,
berkembang menjadi folikel de Graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini
menekan produksi FSH, sehingga lobus anterior hipofisis dapat mengeluarkan
hormon gonadotropin yang kedua, yakni LH. Seperti telah diuraikan, produksi
kedua hormon gonadrotropin (FSH dan LH) adalah dibawah pengaruh
realeasing hormone (RH) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis.
Penyaluran RH ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen
terhadap hopotalamus. Pula oleh pengaruh dari luar, seperti cahaya, bau-bauan
melalui bulbus olfaktorius, dan hal-hal psikologik. Salah satu contoh ialah
dinegara bermusim dingin dan panas kehamilan terjadi lebih banyak pada
musim semi (mulai ada cahaya) dan musim panas (adanya banyak cahaya).
Sampai dimana bau-bauan mempunyai pengaruh terhadap manusia masih
harus diselidiki lebih lanjut. Akan tetapi apa yang ditemukan pada percobaan
dengan pheromones (bau-bauan yang merangsang berahi) pada kera
menyokong dugaan bahwa bulbus olfkatorius mempunyai peranan untuk
mempengaruhi pengeluaran realeasing hormone. Pheromones terdiri atas
berbagai macam asam lemak, seperti asam asetat, propionat, isobitirat,
isovaleriat, dan isokaproat. Bahwa faktor psikologik mempunyai peranan pula
dapat ditemukan antara lain pada wanita dengan pseudocyesis.
     Hubungan antara hipotalamus, hipofisis, ovarium dan endometrium



     Bila penyaluran releasing hormones normal berjalan dengan baik, maka
produksi gonadotropin-gonadotropin akan baik pula, sehingga folikel de graaf
selanjutnya makin lama makin menjadi matang dan makin banyak berisi
likuor follikuli yang mengandung estrogen. Estrogen mempunyai pengaruh
terhadap    endometrium      :   menyebabkan       endometrium   tumbuh   atau
berproliferasi terjadi disebut masa proliferasi.
         Dibawah pengaruh LH folikel de graaf menjadi lebih matang, mendekati
   permukaan ovarium, dan kemudian terjadilah ovulasi (ovum dilepas oleh
   ovarium). Pada ovulasi ini kadang-kadang terdapat pendarahan sedikit yang
   akan merangsang peritonium di pelvis, sehingga timbul rasa sakit yang disebut
   intermenstrual pain (Mittelschmerz). Pula dapat diikuti oleh adanya
   pendarahan vagina sedikit. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korbus rubrum
   (berwarna merah oleh kerena pendarahan tersebut di atas), yang akan menjadi
   korpus luteum (warnanya menjadi kuning) di bawah pengaruh hormon-
   hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones), suatu hormon gonadotropin
   juga. Korpus luteum menghasilkan hormon progesteron. Progesteron ini
   mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang telah berproliferasi dan
   menyebabkan kelenjar-kelenjarnya berkeluk-keluk dan bersekresi (masa
   sekresi).

         Bila tidak ada pembuahan, korpus luteum berdegenerasi dan ini
   mengakibatkan bahwa kadar estrogen dan progesteron menurun. Menurunnya
   kadar estrogen dan progesteron menimbulkan efek pada arteri yang berkeluk-
   keluk di endometrium. Tampak dilatasi dan stasis dengan hiperemia yang di
   ikuti oleh spasme dan iskemia. Sesudah itu terjadi degenerasi serta pendarahan
   dan pelepasan endometrium yang nekrotik. Proses ini disebut haid atau
   mensis. Bilamana ada pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum
   tersebut di atas dipertahankan, bahkan berkembang menjadi korpus luteum
   graviditatis.

D. Siklus Menstruasi

         Pada siklus menstruasi normal, terdapat produksi hormon-hormon yang
   paralel dengan pertumbuhan lapisan rahim untuk mempersiapkan implantasi
   (perlekatan) dari janin (proses kehamilan). Gangguan dari siklus menstruasi
   tersebut dapat berakibat gangguan kesuburan, abortus berulang, atau
   keganasan. Gangguan dari siklus menstruasi merupakan salah satu alasan
   seorang wanita berobat ke dokter.
     Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari, 2-8 hari adalah
waktu keluarnya darah haid yang berkisar 20-60 ml per hari. Penelitian
menunjukkan wanita dengan siklus mentruasi normal hanya terdapat pada 2/3
wanita dewasa, sedangkan pada usia reproduksi yang ekstrim (setelah
menarche <pertama kali terjadinya menstruasi> dan menopause) lebih banyak
mengalami siklus yang tidak teratur atau siklus yang tidak mengandung sel
telur. Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisis-
ovarium.

     Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita
memiliki siklus 25 – 35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus
28 hari, namun beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini
bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan.

     Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi
– hari dimana pendarahan dimulai disebut sebagai hari pertama yang
kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir – yaitu 1 hari sebelum
perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai.

     Sikuls menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus
ovarium (indung telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi
lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus folikular dan siklus luteal, sedangkan siklus
uterus dibagi menjadi masa proliferasi (pertumbuhan) dan masa sekresi.

     Perubahan di dalam rahim merupakan respon terhadap perubahan
hormonal. Rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium (lapisan terluar
rahim), miometrium (lapisan otot rehim, terletak di bagian tengah), dan
endometrium (lapisan terdalam rahim). Endometrium adalah lapisan yangn
berperan di dalam siklus menstruasi. 2/3 bagian endometrium disebut desidua
fungsionalis yang terdiri dari kelenjar, dan 1/3 bagian terdalamnya disebut
sebagai desidua basalis.
Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:

1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang
   dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan
   hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk
   mengeluarkan prolaktin




                              Siklus Hormonal

     Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis
merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur).
Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan
dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de
graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga
hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH
maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan
hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan
balik estrogen terhadap hipotalamus.
     Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan
menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen.
Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh
LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi
terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di
bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon
gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan
maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar
estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan
degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut
haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka
korpus luteum tersebut dipertahankan.

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:

1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu
    endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan
    hormon-hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah

2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah
    menstruasi   berakhir,   dimulailah   fase   proliferasi   dimana   terjadi
    pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk
    perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari
    ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur
    (disebut ovulasi)

3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi.
    Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan
    endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi
    (perlekatan janin ke rahim)
Siklus ovarium :

1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel
    telur yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus
    dan siap untuk proses ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur).
    Waktu rata-rata fase folikular pada manusia berkisar 10-14 hari, dan
    variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi keseluruhan

2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan
    jangka waktu rata-rata 14 hari

Siklus hormonal dan hubungannya dengan siklus ovarium serta uterus di
dalam siklus menstruasi normal:

1. Setiap permulaan siklus menstruasi, kadar hormon gonadotropin (FSH,
    LH) berada pada level yang rendah dan sudah menurun sejak akhir dari
    fase luteal siklus sebelumnya

2. Hormon FSH dari hipotalamus perlahan mengalami peningkatan setelah
    akhir dari korpus luteum dan pertumbuhan folikel dimulai pada fase
    folikular. Hal ini merupakan pemicu untuk pertumbuhan lapisan
    endometrium

3. Peningkatan level estrogen menyebabkan feedback negatif pada
    pengeluaran FSH hipofisis. Hormon LH kemudian menurun sebagai
    akibat dari peningkatan level estradiol, tetapi pada akhir dari fase folikular
    level hormon LH meningkat drastis (respon bifasik)

4. Pada akhir fase folikular, hormon FSH merangsang reseptor (penerima)
    hormon LH yang terdapat pada sel granulosa, dan dengan rangsangan dari
    hormon LH, keluarlah hormon progesteron

5. Setelah perangsangan oleh hormon estrogen, hipofisis LH terpicu yang
    menyebabkan terjadinya ovulasi yang muncul 24-36 jam kemudian.
    Ovulasi adalah penanda fase transisi dari fase proliferasi ke sekresi, dari
    folikular ke luteal
6. Kedar estrogen menurun pada awal fase luteal dari sesaat sebelum ovulasi
   sampai fase pertengahan, dan kemudian meningkat kembali karena
   sekresi dari korpus luteum

7. Progesteron meningkat setelah ovulasi dan dapat merupakan penanda
   bahwa sudah terjadi ovulasi

8. Kedua hormon estrogen dan progesteron meningkat selama masa hidup
   korpus luteum dan kemuadian menurun untuk mempersiapkan siklus
   berikutnya




                         Siklus Menstruasi Normal
                             DAFTAR PUSTAKA




http://www.klikdokter.com/illness/detail/171

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/cd/MenstrualCycle2.

Wiknjosastro, Hanifa. (dr.prof). 1976. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:289
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:15