Docstoc

LP BPH miko

Document Sample
LP BPH miko Powered By Docstoc
					   A.PENGERTIAN
Hipertrofi prostat merupakan kelainan yang
  ditemukan, istilah hipertrofi sebenarnya kurang
  tepat karena yang terjadi sebenarnya adalah
  hiperplasia kelenjar peri uteral yang mendesak
  jaringan yang asli ke perifer dan menjadi simpai
  bedah.
                        (R Syamsuhidajat, 1997:1058)
Benigna prostat hipertrofi adalah pembesaran
  kelenjar prostat non kanker yang dijumpai lebih
  sering dari 50% pria berusia diatas 60 tahun yang
  menyebabkan penekanan pada uretra, ditempat
  uretra menembus prostat sehingga berkemih
  menjadi sulit.
BPH adalah pembesaran kelenjar prostat yang
  membesar, memanjang kearah depan
  kedalam kandung kemih dan mennyuimbat
  aliran urine keluar, dapat menyebabkan
  hidronefrosis dan hidroureter
                 (Brunner & Suddart, 1996:115)
Jadi dapat disimpulkan bahwa BPH adalah
  hiperplasia kelenjar periuretral yang
  mendesak jaringan prostat yang asli
  keperifer, kelenjar prostat membesar,
  memanjang kearah depan kedalam kandung
  kemih dan menyumbat aliran urine keluar
  yang sering dialami pada pria diatas usia 60
  B. ETIOLOGI
BPH belum jelas apa penyebabnya, tetapi terdapat
  faktor resiko umur atau penuaan dan keseimbangan
  hormon androgen. Perubahan mikroskopik pada
  prostat telah terjadi pada usia 30-40 tahun. Bila
  perubahan mikroskopik ini terus berlangsung maka
  akan terjadi perubahan patologi anatomi yang ada
  pada usia 50 tahun, angka kejadianya sekitar 50%,
  usia 80 tahun sekitar 80% dan usia 90 tahun sekitar
  100%. Adapun untuk terapi bedah pada BPH bila
  ditemukan adanya retensi urine berulang, hematuri,
  tanda penurunan fungsi ginjal, ISK berulang, tanda-
  tanda obstruksi berat (divertikel, hidroureter,dan
  hidronefrosis) adanya batu saluran kemih.
  C. ANATOMI PATOLOGI
BPH terjadi karena pembesaran prostat terjadi
 secara perlahan-lahan maka efek terjadinya
 perubahan pada traktus urinarius juga terjadi
 secara perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi
 yang disebabkan pembesaran prostat
 sebenarnya disebabkan oleh kombinasi
 resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum
 dan leher vesika, dan kekuatan konstraksi
 detruso. Secara garis besar destrusor
 dipersarafi oleh sistem parasimpatis sedang
 trigonum, leher vesika & prostat dipersarafi
Pada taraf awal setelah terjadinya
 pembesaran prostat akan terjadi
 resistensi yang bertambah pada leher
 vesika dan daerah prostat, kemudian
 detrusor akan mencoba mengatasi
 keadaan ini dengan jalan konstraksi
 lebih kuat. Sebagai akibatnya serat
 detrusor akan menjadi lebih tebal dan
 penonjolan serat detrusor kedalam
 mukosa buli-buli akan terlihat sebagai
 balok-balok yang tampak apabila dilihat
mukosa vesika dapat menerobos keluar
  diantara serat detrusor sehingga terbentuk
  tonjolan mukosa yang apabila kecil
  dinamakan sakula, dan apabila besar disebut
  divertikel.
Fase penebalan detrusor ini disebut fase
  kompensasi yang apabila berlanjut detrusor
  akan menjadi lelah dan akhirnya akan
  mengalami dekompensasi dan tidak mampu
  lagi untuk berkontraksi sehingga akan
  terjadi retensi urine total.
                               (FKUI, 1995: 163)
D. PATOFISIOLOGI
Pada kasus BPH ditemukan gejala dan tanda
  obtruksi dan iritasi, gejala dan tanda obstruksi
  jalan kemih berarti penderita harus menunggu
  permulaan miksi, atau miksi terputus, menetes
  pada akhir miksi, pancaran miksi akan menjadi
  lemah dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala
  iritasi disebabkan oleh hipersensitivitas otot
  detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi,
  nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria, obstruksi
  yang ditimbulkan oleh prostat menyebabkan
  tahanan diuretra prostatika meningkat sehingga
  muskulus detrusor buli-buli harus berkonstraksi
  lebih kuat untuk memompa urine keluar.
Hal ini menyebabkan terjadinya hipertrofi pada
 muskulus detrusor, lama kelamaan terjadi
 gangguan pada persarafan buli-buli sehingga
 timbul gejala iritatif, pada suatu saat
 muskulus detrusor tidak mampu lagi
 memompa urine dan terjadilah retensi urine.
 Kadang-kadang muskulus detrusor memiliki
 kemampuan kontraksi terbatas artinya
 sebelum buli-buli kosong konstraksinya sudah
 berhenti sehingga urine dalam kandung
 kemih masih tersisa(rest urine).
Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi dari
 takanan spingter dan obstruksi akan terjkadi
 inkontinensia paradoks, retensi klronik
 menyebabkan refluk vesikoureter,
 hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal.
 Dan pada waktu miksi penderita harus
 mengedan sehingga lama-kelamaan dapat
 menyebabkan hernia atau hemoroid.
Karena selalu terdapat urine yang sisa sehingga
 dapat terbentuk batu endapan didalam
 kandung kemih yang dapat menimbulkan
 hematuria, sistisis dan bila terjadi refluk dapat
 terjadi pielonefritis.
      E. MANIFESTASI KLINIS
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada pasien
  dengan BPH adalah:
 Sering miksi
 Terbangun untuk miksi pada malam hari(nokturia)
 Perasaan ingin miksi yang sangat
  mendesak(urgensi)
 Nyeri pada saat miksi (disuria)
 Pancaran miksi melemah
 Rasa tidak puas sehabis miksi
 Pada waktu miksi harus mengedan (straining)
 Kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy)
 Kencing terputus-putus (intermittency)
 Waktu miksi memanjang & mengakibatkan retensi
F. PATH WAY
                  Pengaruh umur / penuaan                                                Perubahan hormon (androgen)

                                                 pembesaran prostat


                                                 Fase kompensasi
                                                 -retensi leher bulu-buli
                                                 -retensi daerah prostat meningkat
                                                 -otot detrusor menebal

                                                 Fase dekompensasi
                                                 -detrusor lelah
                                                 -detrusor tak berkontraksi

  Volume darah berkurang                           Retensi urine            Terpasang kateter        Perubahan
                                                                                                     eliminasi BAK
    Aliran darah kesel                            Pembedahan prostat
         menurun                                                                                     Resiko infeksi

                                               perdarahan          Luka post operasi
  Energi ke sel menurun

                                            Resiko kekurangan       Mermerangsang          Kurang informasi
    Kelemahan fisik
                                            volume cairan           reseptor nyeri

   Kurang perawatan                                                    nyeri                    Kurang pengetahuan
         diri
     G. FOKUS PENGKAJIAN
1.   Sirkulasi
     Tanda : peningkatan tekanan darah (efek
     pembesaran ginjal)
2.   Eliminasi
     Gejala : penurunan kekuata atau dorongan
     aliran urine, keraguan pada awal berkemih,
     ketidak mampuan untuk mengosongkan
     kandungkemih dengan lengkap, nokturia,
     disurea, hematuria
     Tanda : masa padat dibawah abdomen bawah
     (distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung
3.   Makanan / cairan
     Gejala : anoreksia, mual, muntah, penurunan
     berat badan.
4.   Nyeri / kenyamanan
     Gejala : nyeri supra bubik, atau nyeri panggul
     bawah.
5.   Keamanan
     Gejala : demam
6.   Seksualitas
     Gejala : masalah tentang efek kondisi / terapi
     pada kemampuan seksual, takut inkontinensia,
     penurunan kekuatan konstraksi ejakulasi.
     Tanda : pembasaran nyeri tekan prostat.
7.   Penyuluhan atau pembelajaran
     Gejala : riwayat pada keluarga dengan kanker,
     hipertensi, dan penyakit ginjal.
                               (Doenges, 1999:671-672)
        H. FOKUS INTERVENSI
   Nyeri berhubungan dengan terangsangnya
    reseptor nyeri ( luka post OP )
                              ( Doenges;1999,209 )
    tujuan : melaporkan nyeri hilang
    terkontrol/hilang
    intervensi :
    kaji tingkat nyeri,lokasi dan intensitas
    pertahankan potensi kateter dan sistem
    drainase
    ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
    posikan pasien senyaman mungkin
    kolaborasi pemberian analgesik
   Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya
    luka post op,saluran infasif: kateter,drainase dan infus.
                                          (Doenges,1999;209)
    Tujuan: pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi.
    Intervensi: Monitor tanda-tanda vital.
    Observasi drainase dari luka sekitar kateter,supra pubik.
    Ganti balutan dengan sering.
    Pertahankan sistem kateter steril.
    Berikan obat sesuai indikasi.
   Kurang pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan
    pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.
                                          (Doenges;1999;209)
    Tujuan: Mengatakan pemahaman prosedur bedah dan
    kebutuhan pengobatan melakukan perubahan perilaku yang
    perlu, berpartisipasi dalam pengobatan.
    Intervensi:Tekankan perlunya nutrisi yang baik, dorong
    konsumsi buah, meningkatkan diit tinggi serat.
    Diskusikan pembatasan aktivitas.
    Kaji tingkat pengetahuan pasien.
    Beri penjelasan tentang kondisi penyakit yang dideritanya.
    Motivasi klien dengan pendekatan spiritual.
   Resiko tinggi terhadap kekurangan volume
    cairan (perdarahan) berhubungan dengan
    perdarahan sekunder terhadap pembedahan
    prostat.

       (Doenges,1999;300)
    Tujuan: Mempertahankan hidrasi adekuat
    dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, nadi
    perifer teraba,pengisian kapiler baik,membran
    mukosa lembab dan pengeluaran urine tepat.
    Intervensi:Dorong pemasukan cairan 300 ml/
    hari kecuali kontra indikasi.
    Monitor tanda-tanda vital.
    Awasi intake dan outputnya.
    Observasi drainase kateter, perhatikan
   Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan
    dengan terpasangnya kateter
                           ( Carpenitto,2000;315 )
    tujuan : berkemih dengan jumlah normal tanpa
    adanya retensi
    intervensi :
    kaji haluaran urine
    dorong pemasukan cairan 300 ml/sesuai
    toleransi
    batasi cairan pada malam hari,setelah kateter
    dilepas
    intruksikan pasien untuk latihan perineal
    ukur volume residu bila ada kateter supra pubik
   Kurang perawatan diri berhubungan dengan
    kelemahan fisik
    ( Carpenitto,2000;315 )
    tujuan : melakukan aktivitas perawatan diri
    dalam tingkat kemampuan sendiri
    intervensi :
    kaji kemampuan dan tingkat klien untuk
    melakukan kebutuhan sehari – hari
    anjurkan pasien untuk melakukan aktivitasnya
    sesuai kemampuan
    bantu aktivitas yang belum dapat dilakukan
    sendiri oleh klien dekatkan alat –alat yang
    dibutuhkan pasien
    libatkan keluarga dalm pemenuhan kebutuhan
    pasien

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:606
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:18