cedera medulla spinalis pp

Document Sample
cedera medulla spinalis pp Powered By Docstoc
					OLEH : KELOMPOK 10
     Agung Mardiana
  Baiq Zaeda Syukriani
          Panca
 Tri Cahyo Hari Suminto
      Wari Oktarina
       Widi Hastuti
       Yeni Isnaeni
     Yuli Rahmawati
   Vertebra yang paling sering mengalami cedera adalah
    medulla spinalis pada daerah servikal (leher) ke-5, -6, dan -7,
    torakal ke-12 dan lumbal pertama.

PENATALAKSANAAN KEDARURATAN
  di tempat kecelakaan, korban harus dimobilisasi pada papan
   spinal (punggung), dengan kepala dan leher dalam posisi
   netral, untuk mencegah cedera komplet.
  salah satu anggota tim harus mengontrol kepala pasien untuk
   mencegah fleksi, rotasi atau ekstensi kepala.
  tangan ditempatkan pada kedua sisi dekat telinga untuk
   mempertahankan traksi dan kesejajaran sementara papan
   spinal atau alat immobilisasi servikal dipasang.
  paling sedikit 4 orang harus mengangkat korban dengan hati-
   hati ke atas papan untuk memindahkan ke RS. Adanya
   gerakan memuntir dapat merusak medulla spinalis
   irreversibel yang menyebabkan fragmen tulang vertebra
   terputus, patah atau memotong medulla komplet.
MANIFESTASI KLINIS
- nyeri
- paralisis sensori dan motorik total., kehilangan
  kontrol kandung kemih dan usus besar
  (biasanya terjadi retensi urine dan distensi
  kandung kemih), penurunan TD
- Masalah pernapasan dikaitkan dengan
  penurunan fungsi pernafasan, beratnya
  tergantung pada tingkat cedera. Otot-otot yang
  berperan dalam pernapasan adalah abdominal,
  interkostal (T1-T11) dan diafragma. Pada
  cedera medulla servikal tinggi, kegagalan
  pernapasan akut adalah penyebab utama
  kematian.
Istilah pilihan yg berkaitan dengan Cedera Medulla
  Spinalis :
 quadriplegia (tetraplegia) diakibatkan oleh lesi yang melibatkan
  salah satu segmen servikal medulla spinalis dengan disfungsi
  kedua lengan, kedua kaki, defekasi, dan berkemih.
 paraplegia diakibatkan oleh lesi yang mengenai lumbal torakal,
  atau bagian sakral medulla spinalis dengan disfungsi
  ekstremitas bawah, defekasi dan berkemih.
 lesi komplet (mis : quadriplegia komplet atau paraplegia
  komplet) merupakan kehilangan sensasi dan kontrol otot
  volunter dibawah cedera total.
 lesi tidak komplet merupakan pemeliharaan serat-serat sensorik
  atau motorik, atau keduanya, dibawah lesi. Lesi tidak komplet
  diklasifikasikan sesuai area medulla spinalis yang rusak :
  sentral, lateral, anterior, atau perifer.
                              (Brunner & Suddarth, 2001 : 2220).
Tipe cedera medulla spinalis
   C1-3 Quadreplegia dg kehilangan fungsi pernapasan/sistem
    muskular total.
   C4-5 Quadreplegia dg kerusakan, menurunnya kapasitas
    paru, ketergantungan total terhadap aktivitas sehari-hari.
   C6-7 Quadreplegia dengan beberapa gerakan lengan/tangan
    yang memungkinkan untuk melakukan untuk melakukan
    sebagian aktivitas sehari-hari.
   C7-8 Quadreplegia dengan keterbatasan menggunakan jari
    tangan,meningkat kemandiriannya.
   T1-L1 paraplegia dengan fungsi tangan dan berbagai fungsi
    dari otot interkostal dan abdomen masih baik.
   L1-2 dan/atau dibawahnya : kehilangan fungsi motorik dan
    sensorik, kehilangan fungsi defekasi dan berkemih.
   (Dongoes, 1999 : 338).
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Sinar X spinal
- Skan CT
- MRI
- Mielografi
- Foto rontgen thorak
- Pemeriksaan fungsi paru
- Pemantauan EKG kontinu
- GDA
DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
 aktivitas/istirahat
  tanda : kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama
  syok spinal) pada/dibawah lesi.
 sirkulasi
  gejala : berdebar-debar, pusing saat melakukan
  perubahan posisi atau bergerak.
  Tanda : hipotensi, hipotensi postural, bradikardi,
  ekstrimitas dingin dan pucat. Hilangnya keringat
  pada daerah yang terkena.
 eliminasi
  tanda : inkontinentia defekasi dan berkemah.
  Retensi urine. Distensi abdomen, peristaltik usus
  hilang. Melena, emesis berwarna seperti kopi
  tanah/hemetemesis.
   makanan/cairan
    tanda : mengalami distensi abdomen, peristaltik
    usus hilang (ileus paralitik).
   neurosensori
    gejala : kebas, kesemutan, rasa terbakar pada
    lengan/kaki. Paralisis flaksid/spastisitas dapat
    terjadi saat syok spinal teratasi, tergantung pada
    area spinal yang sakit.
    Tanda : kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat
    berkembang saat terjadi perubahan pada syok
    spinal sembuh). Kehilangan tonus otot/vasomotor.
    Kehilangan refleks/refleks asimetris termasuk
    tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis,
    hilangnya keringat dari bagian tubuh yang terkena
    karena pengaruh trauma spinal.
   nyeri/kenyamanan
    gejala : nyeri/nyeri tekan otot, hiperestesia tepat
    diatas daerah trauma.
    Tanda : mengalami deformitas, postur, nyeri tekan
    vertebral.
   pernapasan
    gejala : napas pendek, “lapar udara”, sulit bernapas.
    Tanda : pernapasan dangkal/labored, periode
    apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat,
    sianosis.
   seksualitas
    gejala : keinginan untuk kembali ke fungsi normal.
    Tanda : ereksi tidak terkendali (priapisme),
    menstruasi tidak teratur.
   STUDI KASUS
 PENGKAJIAN
 Kasus X
  Tn. A datang ke RS PKU MUH Gombong tgl. 06-03-
  2007 pkl. 11:00 wib dengan keluhan nyeri
  punggung, kedua kaki tidak terasa (kehilangan
  sensasi) dan juga tidak bisa digerakkan. Pasien
  mengatakan baru jatuh dari pohon kelapa.
 Pengkajian tgl. 08-03-2007 pkl. 10:00 wib
  Tn. A (35 th) mengeluh punggung masih nyeri,
  kedua kaki masih tidak bisa merasakan sensasi dan
  tidak bisa digerakkan, tidak BAB selama 2 hari, BAK
  2x sehari, air kencing sedikit.
   Pemeriksaan fisik
    1. kedaan umum             : pasien tampak lemah dan
                                 harus tirah baring
    2. kesadaran        : CM
    3. kepala
       - rambut         : lurus, tidak kusam
       - kulit kepala          : tidak berketombe
       - wajah          : tampak meringis menahan nyeri
       - mata           : tak anemis
        - hidung        : tidak ada polip
       - mulut                 : mukosa mulut lembab,
    gigi                               bersih
       - telinga        : tidak ada serumen
    4. leher            : tidak ada pembesaran kel. thyroid
5. thorak
  - paru-paru                : ronchi (-), wheezing (-)
  - jantung          : ritme teratur
6. abdomen                   : peristaltik 2x/m
7. ekstremitas
  - eks. Superior dekstra : reflek bisep & trisep (+), berespon
    terhadap sentuhan, tusukan peniti, kompres panas/dingin.
  - eks. Superior sinistra : reflek bisep & trisep (+), berespon
    terhadap sentuhan, tusukan peniti, kompres panas/dingin.
  - eks. Inferior dekstra : reflek patella & achilles (-), tidak
    berespon terhadap sentuhan, tusukan peniti, kompres
 panas/dingin.
  - eks. Inferior sinistra : reflek patella & achilles (-), tidak
    berespon terhadap sentuhan, tusukan peniti, kompres
    panas/dingin.
8. urogenitalia              : distensi kandung kemih
9. TTV                       : N = 80x/m
                             : TD = 110 mmhg
                             : RR = 18x/m
                             : S = 37° C
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 nyeri akut b.d cedera medulla spinalis yang ditandai dengan pasien
  mengeluh punggung masih nyeri, tampak meringis menahan nyeri.
 kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular yang ditandai
  dengan pasien mengeluh kedua kaki tidak bisa digerakkan, reflek patella &
  achilles pada ekstremitas inferior dekstra & sinistra (-).
 perubahan sensori b.d kerusakan traktus sensori yang ditandai dengan
  pasien mengeluh kedua kaki masih tidak bisa merasakan sensasi, kedua kaki
  tidak berespon terhadap sentuhan, tusukan peniti, kompres panas/dingin.
 retensi urinarius b.d gangguan dalam persarafan kandung kemih yang
  ditandai dengan pasien mengeluh BAK 2x sehari, air kencing sedikit, distensi
  kandung kemih.
 konstipasi b.d gangguan persarafan usus dan rektum yang ditandai dengan
  pasien mengeluh tidak BAB selama 2 hari, peristaltik 2x/m.
 resti thd kerusakan integritas kulit b.d kehilangan sensasi/sensori dan
  immobilitas yang ditandai dengan pasien mengeluh kedua kaki tidak bisa
  digerakkan, pasien tampak lemah dan harus tirah baring.
INTERVENSI
1. nyeri akut b.d cedera medulla spinalis.
   intervensi :
    mandiri :
   kaji thd adanya nyeri. Bantu pasien mengidentifikasikan
    nyeri, mis : lokasi, tipe nyeri, intensitas pada skala 0-10.
    Ras : pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat
    cedera. Mis: dada/punggung atau kemungkinan sakit kepala
    dari alat stabiliser. Setelah fase syok spinal, pasien
    melaporkan spasme otot dan nyeri fantom dibawah tingkat
    cedera.
   Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
    Ras : Nyeri terbakar dan spasme otot dicetuskan/dipeberat
    oleh banyak faktor, mis: ansietas, tegangan, suhu eksternal,
    ekstrem, duduk lama, distensi kandung kemih.
   Berikan tindakan kenyamanan, mis : perubahan posisi,
    masase, kompres hangat/dingin sesuai indikasi.
    Ras : tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk
    keuntungan emosional, selain menurunkan kebutuhan obat
    nyeri/efek tak diinginkan pada fungsi pernapasan.
   Dorong penggunaan tekhnik relaksasi, mis : pedoman
    imajinasi, visualisasi, latihan napas dalam. Berikan aktivitas
    hiburan, mis : televisi, radio, telepon, kunjungan tak terbatas.
    Ras : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa
    kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
    Kolaborasi :
   Berikan obat sesuai indikasi : relaksan otot, mis : dantren
    (dantrium), analgesik, antiansietas, mis : diazepam (valium).
    Ras : berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang
    berhubungan dengan spastisitas (kejang).
2. kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular.
     Intervensi :
    Mandiri :
   kaji secara teratur fungsi motorik.
    Ras : Mengevaluasi keadaaan secara khusus (gangguan sensori
    motorik dapat bermacam-macam dan atau tidak jelas). Pada
    beberapalokasi trauma memepengaruhi tipe dan pemilihan
    intervensi.
   Bantu/lakukan latihan ROM pada ekstremitas dan sendi, pakailah
    gerakan perlahan dan lembut. Lakukan hiperekstensi pada paha
    secrara teratur (periodik).
    Ras : meningkatkan sirkulasi, mempertahankan tonus otot dan
    mobilisasi sendi, meningkatkan mobilisasi sendi dan mencegah
    kontrktur dan atrofi otot.
   Persiapkan pasien pada saat akan melakukan aktivitas
    membebani tubuh, misalnya gunakan :meja pengangkat” untuk
    posisi tegak lurus, latihan untuk menguatkan/untuk
    mengkondisikan bagian tubuh yang normal.
    Ras : latihan BB sendiri dapat mengurangi terjadinya
    osteoporosis pada tulang panjang dan mengurangi terjadinya
    infeksi saluran kemih dan batu ginjal.
   Anjurkan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi.
    Ras : mengurangi ketegangan otot/kelelahan dapat membantu
    mengurangi nyeri, spasme otot, spastisitas/ kejang.
    Kolaborasi :
   tempatkan pasien pada tempat tidur kinetik jika diperlukan.
    Ras : immobilisasi yang efektif dari kolumna spinal dapat
    menstabilkan kolumna spinal dan meningkatkan sirkulasi
    sistemik yang dapat mengurangi komplikasi karena
    immobilisasi.
   Gunakan kaos kaki/stoking antiembolik, alat SCD (sequential
    compression device) pada kaki.
    Ras : Membatasi bendungan darah pada ekstremitas bawah
    atau abdomen, selanjutnya meningkatkan tonus vasomotor dan
    mengurangi pembentukan trombus dan emboli paru.
   Konsultasi dengan ahli terapi fisik/terapi kerja
    dari tim rehabilitasi.
    Ras : Membantu dalam merencanakan dan
    melaksanakan latihan secara individual dan
    mengidentifikasi/mengembangkan alat-alat
    bantu untuk memepertahankan fungsi,
    mobilisasi dan kemandirian pasien.
   Berikan relaksan otot sesuai kebutuhan dan
    diazepam (valium), baklopen (lioresal),
    kontrolen (dantrium).
    Ras : berguna untuk membatasi dan
    mengurangi nyeri yang berhubungan dengan
    spastisitas (kejang).
3. perubahan sensori b.d kerusakan traktus
    sensori
    intervensi :
    mandiri :
   kaji/dokumentasikan fungsi sensori atau
    kekurangan (dengan sentuhan, tusukan peniti,
    kompres panas/dingin, dan sebagainya). Yang
    berlanjut dari area defisit ke area yang secara
    neurologis utuh.
    Ras : perubahan mungkin tidak terjadi selama
    fase akut tetapi saat syok membaik,
    perubahan harus didokumentasikan dengan
    kartu dermatom atau tanda peta anatomik,
    mis: “2 inci di ataa garis puting”.
   Lindungi dari bahaya tubuh, mis : jatuh.
    Ras : Pasien mungkin tidak merasa nyeri atau
    tidak sadar tentang posisi tubuh.
   Bantu pasien mengenali dan mengkompensasi
    perubahan sensasi.
    Ras : Dapat membantu menurunkan ansietas
    ttg ketidaktahuan dan mencegah cedera.
   Jelaskan prosedur sebelum dan selama
    perawatan, identifikasi bagian tubuh yang
    terlibat.
    Ras : Meningkatkan persepsi ttg “keutuhan”
    tubuh.
4. retensi urinarius b.d gangguan dalam persarafan
     kandung kemih.
     Intervensi :
    Mandiri :
   kaji pola berkemih, seperti frekuensi dan jumlahnya.
    Bandingkan haluaran urine dan masukan cairan dan
    catat berat jenis urine.
    Ras : mengidentifikasi fungsi kandung kemih (mis :
    pengosongan kandung kemih, fungsi ginjal dan
    keseimbangan cairan).
   Palpasi adanya distensi kandung kemih dan observasi
    pengeluaran urine.
    ras : Disfungsi kandung kemih bervariasi,
    ketidakmampuan berhubungan dengan hilangnya
    kontraksi kandung kemih untuk merilekskan sfingter
    urinarius (retensi/refluks).
   Anjurkan pasien untuk minum/masukan cairan (2-4 liter/hr)
    termasuk juice yang mengandung asam askorbat (contoh :
    krenberi).
    ras : Membantu mempertahankan fungsi ginjal, mencegah
    infeksi dan pembentukan batu. Catatan : cairan dibatasi
    hanya untuk beberapa saat selama fase awal kateterisasi
    intermitten.
   Mulailah latihan kandung kemih jika diperlukan, contoh
    dengan pemberian cairan diantara beberapa jam, lakukan
    stimulasi digital pada bagian tubuh yg sensitif, kontraksi
    otot abdomen, manuver crede.
    Ras : waktu dan jenis latihan kandung kemih tergantung
    pada tipe trauma (UMN atau LMN). Catatan : manuver
    crede harus digunakan dengan hati-hati karena dapat
    menyebabkan disrefleksia autonomik.
   Bersihkan daerah perineum dan jaga agar tetap kering,
    lakukan perawatan kateter jika perlu.
    Ras : menurunkan resiko terjadinya iritasi kulit/kerusakan
    kulit atau infeksi keatas menuju ginjal.
    Kolaborasi :
   jangan biarkan kandung kemih penuh. Jika awalnya
    memakai kateter mulai melakukan program kateterisasi
    secara intermitten jika diperliukan.
    Ras : kateter folley digunakan selama fase akut untuk
    mencegah retensi urine dan untuk memantau haluaran.
    Kateter intermitten digunakn untuk mengurangi
    komplikasi yang biasanya berhubungan dengan
    penggunaan kateter yang lama, kateter suprapubik
    dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama.
   Pantau BUN, kreatinin, SDP.
    Ras : menggambarkan fungsi ginjal, dan
    mengidentifikasi komplikasi.
   Berikan pengobatan sesuai indikasi, seperti vitamin dan
    atau antiseptik urinarius, contohnya methenamin
    mandelate (mandelamine).
    Ras : mempertahahnkan lingkungan asam dan
    menghambat pertumbuhan bakteri (kuman).
5. inkontinentia usus/konstipasi b.d gangguan persarafan
     usus dan rektum.
     Intervensi :
    Mandiri :
   auskultasi bising usus, catat lokasi dan
    karakteristiknya.
    Ras : bising usus mungkin tidak ada selama syok
    spinal. Hilangnya bising menandakan adanya paralitik
    ileus.
   Observasi adanya distensi abdomen jika bising usus
    tidak ada atau berkurang.
    ras : Hilangnya peristaltik (karena gangguan syaraf)
    melumpuhkan usus, membuat distensi ilieus dan usus.
    Catatan : distensi usus berlebihan menyokong
    terbentuknya disrefleksi otonom segera setelah syok
    spinal sembuh.
   Catat frekuensi, karakteristik dan jumlah feses.
    Ras : mengidentifikasikan derajat gangguan/disfungsi
    dan kemungkinan bantuan yang diperlukan.
   Lakukan latihan defekasi secara teratur.
    Ras : program untuk seumur hidup ini perlu
    untuk secara rutin mengeluarkan feses dan
    biasanya termasuk stimuli manual, minum jus
    dan/atau cairan hangat dan menggunakan
    pelunak feses/supositoria pada interval
    tertentu. Kemampuan mengontrol pengeluaran
    feses penting untuk kemandirian fisik pasien
    dan penerimaan sosial.
   Anjurkan pasien untuk makan makanan yang
    sehat dan yang termasuk makanan berserat
    dan padat/kasar dan pemasukan cairan yang
    lebih banyak (minimal 2000 ml/hr), termasuk
    juice/sari buah.
    Ras : meningkatkan konsistensi feses untuk
    dapat melewati usus dengan mudah.
    Kolaborasi :
   konsultasikan dengan ahli gizi/tim dari nutrisi.
    Ras : membantu merencanakan makanan yang
    disesuaikan dengan kebutuhan individu dan fungsi
    pencernaan/eliminasinya.
   Masukkan selang rektal jika diperlukan.
    Ras : mengurangi distensi usus yang meningkatkan
    respons otonom.
   Berikan obat sesuai indikasi :
    pelunak feses, laksatif, supositoria, enema.
    Ras : menstimulasi peristaltik dan pengeluaran feses
    secara rutin.
    Antasida, simetidin (tagamet), ranitidin (zantac).
    Ras : mengurangi atau menetralisir asam lambung untuk
    mencegah iritasi lambung atau resiko tinggi terjadinya
    perdarahan.
6. resti thd kerusakan integritas kulit b.d kehilangan sensasi/sensori dan
     immobilitas.
     Intervensi :
     Mandiri :
    inspeksi seluruh area kulit, catat pengisian kapiler, adanya
     kemerahan, pembengkakan. Berikanperhatian khusus pada daerah
     belakang kepala, kulit di daerah kaus kaki atau pada lekukan
     dimana kulit sering tersentuh/tertekan.
     Ras : kulit biasanya cenderung rusak karena perubahan sirkulasi
     perifer, ketidakmampuan untuk merasakan tekanan, immobilisasi,
     gangguan pengaturan suhu.
    Lakukan masase dan lubrikasi pada kulit dengan losion/minyak.
     Lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa, wool, matras
     egg crate pada daerah tumit/sikut. Gunakan pengeras kulit khusus,
     seperti tinktur benzoin, karaya, krim sween.
     Ras : meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit.
     Mengurangi terjadinya ulserasi. Pasien-pasien quadriplegia dan
     paraprese memerlukan perlindungan seumur hidupnya terhadap
     kemungkinan terjadinya dekubitus yang dapat menyebabkan
     nekrosis dan sepsis jaringan yang terus berkembang.
   Lakukan perubahan posisi sesering mungkin di tempat tidur
    atatupun sewaktu duduk. Ltakkan pasien dalam posisi
    telungkup secara periodik.
    Ras : meningkatkan sirkulasi pada kulit dan menguramgi
    tekanan pada daerah tulang yang menonjol.
   Bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah-daerah
    dengan kelembaban tinggi seperti perineum. Rawat atau
    hindari daerah-daerah garis ujung brace/halo vest.
    Ras : kulit yang bersih dan kering tidak akan cenderung
    mengalami eksoriasi/kerusakan.
   Jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan-
    lipatan dan kotoran.
    Ras : mengurangi/mencegah adanya iritasi pada kulit.
    Kolaborasi :
   Berikan terapi kinetik atau matras, berikan tekanan sesuai
    kebutuhan.
    Ras : meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan
    menurunkan tekanan pada kulit, mengurangi kerusakan
    kulit.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1006
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:28