Docstoc

Cedera Kepala

Document Sample
Cedera Kepala Powered By Docstoc
					Cedera Kepala
DEFINISI

Cedera Kepala adalah setiap trauma pada kepala yang menyebabkan cedera pada kulit kepala, tulang
tengkorak maupun otak.

Cedera kepala bisa dikelompokkan sebagai cedera kepala tertutup atau terbuka (penetrasi, luka tembus).
Pada cedera kepala tertutup, kepala menerima suatu dorongan tumpul karena membentur suatu benda.
Pada cedera kepala terbuka, suatu benda berkecepatan tinggi menembus tulang tengkorak dan masuk ke
dalam otak.

Cedera kepala dan komplikasinya merupakan penyebab dari sejumlah besar kematian akibat cedera pada
anak-anak.
Cedera kepala hebat juga bisa menyebabkan kerusakan yang serius pada otak yang sedang berkembang,
sehingga mempengaruhi perkembangan fisik, kecerdasan dan emosional anak dan menyebabkan cacat
jangka panjang.

Cedera kepala paling sering ditemukan pada anak-anak yang berumur kurang dari 1 tahun dan pada
remaja diatas 15 tahun, serta lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.
Setiap cedera kepala berpotensi menimbulkan akibat yang serius, karena itu setiap anak yang mengalami
cedera kepala sebaiknya diperiksa secara seksama.

PENYEBAB

Cedera kepala yang berat biasanya disebabkan oleh kecelakaan mobil dan motor.
Cedera kepala yang ringan terutam disebabkan karena anak terjatuh di dalam dan di sekitar rumah.

GEJALA

Tanda-tanda dan gejala cedera kepala bisa terjadi segera atau timbul secara bertahap selama beberapa
jam. Jika setelah kepalanya terbentur, seorang anak segera kembali bermain atau berlari-lari, maka
kemungkinan telah terjadi cedera ringan. Tetapi anak harus tetap diawasi secara ketat selama 24 jam
karena gejalanya mungkin saja baru timbul beberapa jam kemudian.

Cedera kepala ringan bisa menyebabkan muntah, pucat, rewel atau anak tampak mengantuk, tanpa
disertai penurunan kesadaran maupun tanda-tanda lain dari kerusakan otak.
Jika gejala terus berlanjut sampai lebih dari 6 jam atau jika gejala semakin memburuk, segera dilakukan
pemeriksaan lebih jauh untuk mengetahui apakah telah terjadi cedera kepala yang berat.

Gejala berikut menunjukkan adanya cedera kepala serius yang memerlukan penanganan medis segera:
- penurunan kesadaran
- perdarahan
- laju pernafasan menjadi lambat
- linglung
- kejang
- patah tulang tengkorak
- memar di wajah atau patah tulang wajah
- keluar cairan dari hidung, mulut atau telinga (baik cairan jernih maupun berwarna kemerahan)
- sakit kepala (hebat)
- hipotensi (tekanan darah rendah)
- tampak sangat mengantuk.
- rewel
- penurunan kesadaran
- perubahan perilaku/kepribadian
- gelisah
- bicara ngawur
- kaku kuduk
- pembengkakan pada daerah yang mengalami cedera
- penglihatan kabur
- luka pada kulit kepala
- perubahan pupil (bagian hitam mata).

Kontusio (gegar otak) adalah suatu penurunan kesadaran sementara yang terjadi segera setelah mengalami
cedera kepala.
Meskipun hanya berlangsung kurang dari 1 menit, gegar otak harus dievaluasi secara seksama. Anak
seringkali tidak dapat mengingat cedera yang telah terjadi maupun peristiwa yang terjadi sesaat sebelum
terjadinya cedera, tetapi tidak ditemukan gejala kerusakan otak lainnya.

Cedera kepala bisa menyebabkan memar atau robekan pada jaringan otak maupun pembuluh darah di
dalam atau di sekitar otak, sehingga terjadi perdarahan dan pembengkakan di dalam otak.
Cedera yang menyebar menyebabkan sel-sel otak membengkak sehingga tekanan di dalam tulang
tengkorak meningkat. Akibatnya anak kehilangan kekuatan maupun sensasinya, menjadi mengantuk atau
pingsan.
Gejala-gejala tersebut merupakan pertanda dari cedera otak yang berat, dan kemungkinan akan
menyebabkan kerusakan otak yang permanen sehingga anak perlu menjalani rehabilitasi.
Jika pembengkakan semakin memburuk, tekanan akan semakin meningkat sehingga jaringan otak yang
sehatpun akan tertekan dan menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian.
Pembengkakan otak dan akibatnya, biasanya terjadi dalam waktu 48-72 jam setelah terjadinya cedera.

Jika terjadi patah tulang tengkorak, maka cedera otak bisa lebih berat. Tetapi suatu cedera otak biasanya
terjadi tanpa patah tulang tengkorak, dan suatu patah tulang tengkorak seringkali terjadi tanpa adanya
cedera otak.
Patah tulang di bagian belakang atau pada dasar tengkorak biasanya menunjukkan adanya dorongan yang
kuat, karena bagian ini relatif tebal. Patah tulang ini tidak dapat dilihat pada foto rontgen maupun CT
scan, tetapi dapat terlihat dari gejala-gejalanya:
- dari hidung atau telinga keluar cairan serebrospinal (cairan bening dari sekeliling otak)
- penimbunan darah di belakang gendang telinga atau perdarahan dari telinga (jika gendang telinga telah
pecah)
- penimbunan darah di dalam sinus (hanya dapat dilihat dari foto rontgen).

Pada bayi, selaput yang menyelubungi otak bisa menonjol melalui celah pada patah tulang tengkorak dan
terjebak diantaranya, sehingga membentuk suatu kantung berisi cairan. Kantung ini terbentuk selama 3-6
minggu dan bisa merupakan pertanda awal dari adanya patah tulang tengkorak.

Pada patah tulang tengkorak depresi, satu atau beberapa pecahan tulang menekan otak sehingga terjadi
memar pada otak, yang bisa menyebabkan kejang.

Kejang terjadi pada sekitar 5% anak-anak berumur lebih dari 5 tahun dan 10% anak-anak berumur kurang
dari 5 tahun, selama minggu pertama setelah terjadinya cedera kepala yang serius.
Efek jangka panjang lebih sering terjadi jika kejang timbul 7 hari atau lebih setelah terjadinya cedera.

Suatu komplikasi yang serius tetapi relatif jarang terjadi adalah perdarahan diantara lapisan selaput yang
membungkus otak atau perdarahan di dalam otak:
# Hematoma epidural adalah suatu perdarahan diantara tulang tengkorak dan selaputnya/duramater.
Perdarahan ini terjadi akibat kerusakan pada arteri atau vena pada tulang tengkorak. Perdarahan
menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam otak sehingga lama-lama kesadaran anak akan menurun.
# Hematoma subdural adalah perdarahan dibawah duramater, biasanya disertai dengan cedera pada
jaringan otak. Gejalanya berupa rasa mengantuk sampai hilangnya kesadaran, hilangnya sensasi atau
kekuatan dan pergerakan abnormal (termasuk kejang).
# Hematoma intraventrikuler (perdarahan di dalam rongga internal/ventrikel), hematoma intraparenkimal
(perdarahan di dalam jaringan otak) maupun hematoma subaraknoid (perdarahan di dalam selaput
pembungkus otak), merupakan pertanda dari cedera kepala yang berat dan biasanya menyebabkan
kerusakan otak jangka panjang.

DIAGNOSA

Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan mendetil, meliputi tingkat kesadaran, pergerakan,
refleks, mata dan telinga, denyut nadi, tekanan darah dan laju pernafasan.

Pemeriksaan mata dititikberatkan kepada penentuan ukuran pupil dan reaksinya terhadap cahaya; bagian
dalam mata diperiksa dengan bantuan oftalmoskop untuk mengetahui adanya peningkatan tekanan di
dalam otak.

Pemeriksaan lainnya adalah CT scan dan rontgen kepala.

PENGOBATAN

Pada cedera kepala yang ringan, biasanya anak tidak perlu menjalani perawatan, tetapi orang tuanya di
rumah harus mengawasinya secara ketat dan segera membawanya kembali ke rumah sakit jika muntah
terjadi terus menerus dan kesadaran anak semakin menurun.
Jika anak dipulangkan dari rumah sakit pada malam hari, di rumah anak boleh tidur, tetapi orang tuanya
perlu membangunkan anak setiap 2-4 jam untuk memastikan bahwa kesadarannya normal.
Seorang anak yang mengalami cedera kepala perlu dirawat di rumah sakit jika:
- tampak sangat mengantuk
- pingsan, meskipun hanya sebentar
- mengalami perasaan/sensasi yang tidak biasa (misalnya mati rasa)
- terdapat kelainan pada kekuatan otot
- memiliki resiko tinggi keadaannya semakin memburuk.

Anak-anak yang mengalami patah tulang tengkorak tanpa disertai tanda/gejala dari cedera otak, tidak
selalu harus dirawat di rumah sakit. Tetapi , bayi yang mengalami patah tulang tengkorak, terutama patah
tulang depresi, harus selalu dirawat di rumah sakit.
Pada patah tulang depresi, mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk membuang/mengangkat pecahan
tulang dan mencegah cedera lebih lanjut pada otak.

Di rumah sakit dilakukan pengawasan ketat terhadap tingkat kesadaran, laju pernafasan, denyut jantung
serta tekanan darah anak.
Pemeriksaan pupil mata dan pemeriksaan terhadap adanya perubahan sensasi maupun kekuatan otot,
dilakukan sesering mungkin untuk mengetahui adanya peningkatan tekanan di dalam tulang tengkorak.

Kerusakan otak yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki, tetapi kerusakan lebih lanjut bisa dicegah
dengan cara mempertahankan kelancaran aliran darah yang mengandung cukup oksigen ke otak. Tekanan
di dalam otak dipertahankan senormal mungkin dengan cara mengatasi pembengkakan otak dan
mengurangi tekanan pada otak.
Pada hematoma epidural, harus dilakukan pembedahan darurat untuk mengeluarkan darah sehingga bisa
mencegah penekanan dan kerusakan otak.
Pada hematoma subdural, juga dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan darah. Mungkin juga akan
dipasang sebuah selang ke dalam salah satu ventrikel untuk mengalirkan cairan serebrospinal sehingga
tekanan di dalam otak berkurang.
Selain itu, untuk mengurangi tekanan di dalam otak, sebaiknya penderita tidur dengan posisi kepala lebih
tinggi dan diberikan obat-obatan seperti manitol atau furosemid.

Kejang biasanya diatasi dengan pemberian feniton.


PROGNOSIS

Pemulihan fungsi otak tergantung kepada beratnya cedera yang terjadi, umur anak, lamanya penurunan
kesadaran dan bagian otak yang terkena.
50% dari anak yang mengalami penurunan kesadaran selama lebih dari 24 jam, akan mengalami
komplikasi jangka panjang berupa kelainan fisik, kecerdasan dan emosi.
Kematian akibat cedera kepala berat lebih sering ditemukan pada bayi.

Anak-anak yang bertahan hidup seringkali harus menjalani rehabilitasi kecerdasan dan emosi.
Masalah yang biasa timbul selama masa pemulihan adalah hilangnya ingatan akan peristiwa yang terjadi
sesaat sebelum terjadinya cedera (amnesia retrograd), perubahan perilaku, ketidakstabilan emosi,
gangguan tidur dan penurunan tingkat kecerdasan.


SUMBER : Apotik online dan media informasi obat - penyakit :: m e d i c a s t o r e . c o m




Asuhan Keperawatan Cedera Kepala (Trauma Capitis)
a. Definisi

Cedera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis
pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan ( accelerasi – decelerasi ) yang merupakan
perubahan bentuk. Dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan
penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai
akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

Prinsip – prinsip pada trauma kepala:

Ø Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak, mempunyai daya elatisitas untuk mengatasi
adanya pukulan.

Ø Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur

Ø Berat/ringannya cedera tergantung pada:

1. Lokasi yang terpengaruh:

· Cedera kulit

· Cedera jaringan tulang

· Cedera jaringan otak

2. Keadaan kepala saat terjadi benturan

Ø Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial ( TIK )

Ø TIK dipertahankan oleh 3 komponen:

1. Volume darah / pembuluh darah ( ± 75 – 150 ml )

2. Volume jaringan otak ( ± 1200 – 1400 ml )
3. Volume LCS ( ± 75 – 150 ml )

Masalah yang timbul dari trauma kepala:




b. Tipe Trauma Kepala

Tipe/macam-macam trauma kepala antara lain:

   1. Trauma kepala terbuka

Kerusakan otak dpat terjadi bila tulang tengkorak mauk ke dalam jaringan otak dan melukai:

Ø Merobek durameter ® LCS merembes

Ø Saraf otak

Ø Jaringan otak

Gejala fraktur basis:

Ø Battle sign

Ø Hemotympanum

Ø Periorbital echymosis

Ø Rhinorrhoe

Ø Orthorrhoe

Ø Brill hematom

   2. Trauma kepala tertutup

a Komosio
· Cidera kepala ringan.

· Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali.

· Hilang kesadaran sementara, kurang dari 10 – 20 menit.

· Tanpa kerusakan otak permanen.

· Muncul gejala nyeri kepala, pusing, muntah.

· Disorientasi sementara.

· Tidak ada gejala sisa.

· MRS kurang 48 jam ® kontrol 24 jam pertama, observasi tanda-tanda vital.

· Tidak ada terapi khusus.

· Istirahat mutlak ® setelah keluhan hilang coba mobiliasi brtahap, duduk ® berdiri ® pulang.

· Setelah pulang ® kontrol, aktivitas sesuai, istirahat cukup, diet cukup.

b Kontosio

· Ada memar otak.

· Perdarahan kecil lokal/difusi ® gangguan lokal ® perdarahan.

· Gejala :

- Gangguan kesadaran lebih lama

- Kelainan neurologik positif, reflek patologik positif, lumpuh, konvulsi.

- Gejala TIK meningkat.

- Amnesia retrograd lebih nyata

c Hematom epidural

· Perdarahan antara tulang tengkorak dan durameter.

· Lokasi terering temporal dan frontal.

· Kategori talk and die.
· Sumber: pecahnya pembuluh darah meningen dan sinus venosus

· Gejala: manifestasinya adanya desak ruang

Penurunan kesadaran ringan saat kejadian ® periode Lucid (beberapa menit – beberapa jam ) ®
penurunan kesadaran hebat ® koma, serebrasi, dekortisasi, pupil dan isokor, nyeri kepala hebat,
reflek patologik positif.

d. Hematom subdural

· Perdarahan antara durameter dan archnoid.

· Biasanya pecah vena ® akut, subakut, kronis.

· Akut :

- Gejala 24 – 48 jam

- Sering brhubungan dengan cidera otak dan medulla oblongata.

- PTIK meningkat

- Sakit kepala, kantuk, reflek melambat, bingung, reflek pupil lambat.

· Sub akut

Berkembang 7 – 10 hari, kontosio agak berat, adanya gejala TIK meningkat ® kesadaran
menurun.

· Kronis :

- Ringan, 2 minggu 3-4 bulan

- Perdarahan kecil-kecil terkumpul pelan dan meluas.

- Gejala sakit kepala, letargi, kacau mental, kejang, disfgia.

e Hematom Intrakranial

· Perdarahan intraserebral ± 25 cc atau lebih

· Selalu diikuti oleh kontosio

· Penyebab: Fraktur depresi, penetrasi peluru, gerakan akselerasi – deselerasi mendadak.

Herniasi ancaman nyata, adanya bekuan darah, edema local.
Karena adanya kompresi langsung pada batang otak → gejala pernapasan abnormal :

      Chyne stokes
      Hiperventilasi
      Apneu

2. Sistem Kardiovaskuler

      Trauma kepala → perubahn fungsi jantung : kontraksi, edema paru, tekanan vaskuler.
      Perubahan saraf otonom pada fungsi ventrikel : Disritmia, Fibrilasi, Takikardia.
      Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis → terjadi penurunan kontraktilitas
       ventrikel → curah jantung menurun → meningkatklan thanan ventrikel kiri → edema
       paru.

3. Sistem Metabolisme

      Trauma kepala → cenderung terjadi retensi Na, air, dan hilangnya sejumlah Nitrogen.
      Dalam kedaan stress fisiologis.
2.3 Patofisiologi

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan Oksigen dan Glukosa dapat terpenuhi. Energi
yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak
mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan
menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar
metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan
glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa
plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral.

Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses
metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat,
hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob.
Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.

Dalam keadaan normal cerebal blood flow (CBF) adalah 50–60 ml/menit/100gr jaringan otak,
yang merupakan 15 % dari cardiac output.

Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial,
perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah
perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel, takikardia.

Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan
tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persarafan
simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.
Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua:

1. Cedera kepala primer

Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acclerasi-decelerasi otak) yang menyebabkan
gangguan pada jaringan.

Pada cedera primer dapat terjadi:

· Gegar kepala ringan

· Memar otak
· Laserasi

2. Cedera kepala sekunder

Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti:

· Hipotensi sistemik

· Hipoksia

· Hiperkapnea

· Udema otak

· Komplikai pernapasan

· Infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain

2.4 Gejala klinis

1. Jika klien sadar ® sakit kepala berat

2. Muntah proyektil

3. Papil edema

4. Kesadaran makin menurun

5. Perubahan tipe kesadaran

6. Tekanan darah menurun, bradikardia

7. Anisokor

8. Suhu tubuh yng sulit dikendalikan.

2.5 Penatalaksanaan

Observasi dan pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum : Lemah, gelisah, cenderung untuk tidur

2. TTV : Suhu, nadi, tensi, RR, GCS

3. Body of system
a. Pernafasan ( B1 : Breathing )

Hidung : Kebersihan

Dada : Bentuk simetris kanan kiri, retraksi otot bantu pernafasan, ronchi

di seluruh lapangan paru, batuk produktif, irama pernafasan, nafas dangkal.

Inspeksi : Inspirasi dan ekspirasi pernafasan, frekuensi, irama, gerakan cuping hidung, terdengar
suara nafas tambahan bentuk dada, batuk

Palpasi : Pergerakan asimetris kanan dan kiri, taktil fremitus raba sama antara kanan dan kiri
dinding dada

Perkusi : Adanya suara-suara sonor pada kedua paru, suara redup pada batas paru dan hepar.

Auskultasi : Terdengar adanya suara vesikuler di kedua lapisan paru, suara ronchi dan weezing.

b. Kardiovaskuler ( B2 : Bleeding )

Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan kiri, denyut jantung pada ictus cordis 1 cm lateral medial (
5 ) Pulsasi jantung tampak..

Palpasi : Frekuensi nadi/HR, tekanan darah, suhu, perfusi dingin, berkeringat

Perkusi : Suara pekak

Auskultasi : Irama reguler, sistole/murmur, bendungan vena jugularis, oedema

c. Persyarafan ( B3 : Brain ) Kesadaran, GCS

Kepala : Bentuk ovale, wajah tampak mioring ke sisi kanan

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak icteric, pupil isokor, gerakan bola mata mampu
mengikuti perintah.

Mulut : Kesulitan menelan, kebersihan penumpukan ludah dan lendir, bibir tampak kering,
terdapat afasia.

Leher : Tampak pada daerah leher tidak terdapat pembesaran pada leher, tidak tampak
perbesaran vena jugularis, tidak terdapat kaku kuduk.

d. Perkemihan-eliminasi urine ( B4 : Bledder )

Inspeksi : Jumlah urine, warna urine, gangguan perkemihan tidak ada, pemeriksaan genitalia
eksternal, jamur, ulkus, lesi dan keganasan.
Palpasi : Pembesaran kelenjar inguinalis, nyeri tekan.

Perkusi : Nyeri pada perkusi pada daerah ginjal.

e. Pencernaan-eliminasi alvi ( B5 : Bowel )

Inspeksi : Mulut dan tenggorokan tampak kering, abdomen normal tidak ada kelainan, keluhan
nyeri, gangguan pencernaan ada, kembung kadang-kadang, terdapat diare, buang air besar
perhari.

Palpasi : Hepar tidak teraba, ginjal tidak teraba, anoreksia, tidak ada nyeri tekan.

Perkusi : Suara timpani pada abdomen, kembung ada suara pekak pada daerah hepar.

Auskultasi : Peristaltik lebih cepat.

Abdomen : Tidak terdapat asites, turgor menurun, peristaltik ususnormal.

Rektum : Rectal to see

f. Tulang-otot-integumen ( B6 : Bone )

Kemapuan pergerakan sendi : Kesakitan pada kaki saat gerak pasif, droop foot, kelemahan otot
pada ekstrimitas atas dan bawah.

Kulit : Warna kulit, tidak terdapat luka dekubitus, turgor baik, akral kulit.

Pola aktivitas sehari-hari

    1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat; kebiasaan merokok, riwayat peminum
        alkohol, kesibukan, olah raga.
    2. Pola nutrisi dan metabolisme; makan teratur, minum perhari, kesulitan menelan, diet
        khusus, BB, postur tubuh, tinggi badan.
    3. Pola eliminasi; BAB dengan jumlah feses, warna feses dan khas, BAK dengan jumlah
        urine, warna urine dengan kejernihan, pada eliminasi alvi, relative tidak ada gangguan
        buang air.
    4. Pola tidur dan istirahat; kebiasaan sehari-hari tidur dengan suasana tenang
    5. Pola aktivitas dan latihan; aktivitas sehari-hari bekerja
    6. Pola hubungan dan peran; hubungan dengan orang lain dan keluarga, kooperatif dengan
        sesamanya.
    7. Pola sensori dan kognitif; mampu melihat dan mendengar serta meraba, disorientasi,
        reflek.
    8. Pola persepsi dan konsep diri; melakukan kebiasaan bekerja terlalu keras, senang ngobrol
        dan berkumpul.
    9. Pola seksual dan reproduksi
    10. Pola mekanisme/pola penanggulangan stres dan koping; keluhan tentang penyakit.
   11. Pola tata nilai dan kepercayaan; adnya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi
       tubuh.
   12. Personal higiene; kebiasaan mandi/hari, gosok gigi/hari, dan cuci rambut/minggu.
   13. Ketergantungan; ketergantungan terhadap orang lain terutama keluarga.
   14. Aspek psikologis; cemas akan penyakit, merasa terasing,dan sedikit stres.
   15. Aspek sosial/interaksi; hubungan antar keluarga, teman kerja, maupun masyarakat
       disekitar tempat tinggal.
   16. Aspek spiritual; ajaran agama, dijalankan setiap saat, mengukui kegiatan agama,
       pemenuhan kebutuhan spiritualnya.

Pemeriksaan Diagnostik:

      CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan ukuran
       ventrikuler, pergeseran jaringan otak.
      Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan
       otak akibat edema, perdarahan, trauma.
      X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis
       (perdarahan / edema), fragmen tulang.
      Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi
       peningkatan tekanan intrakranial.
      Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan
       tekanan intrakranial.

Prioritas perawatan:

1. Memaksimalkan perfusi/fungsi otak

2. Mencegah komplikasi

3. Pengaturan fungsi secara optimal/mengembalikan ke fungsi normal.

4. Mendukung proses pemulihan koping klien/keluarga

5. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan rehabilitasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN:

1. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi,
hematoma); edema cerebral; penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung)

2. Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera
pada pusat pernapasan otak). Kerusakan persepsi atau kognitif. Obstruksi trakeobronkhial.

3. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan transmisi dan/atau integrasi
(trauma atau defisit neurologis).
4. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis; konflik psikologis.

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif. Penurunan
kekuatan/tahanan. Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan, misal: tirah baring, imobilisasi.

6. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma, kulit rusak, prosedur
invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh. Kekurangan nutrisi. Respon inflamasi tertekan
(penggunaan steroid). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS)

7. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Kelemahan otot
yang diperlukan untuk mengunyah, menelan. Status hipermetabolik.

8. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan transisi dan krisis situasional. Ketidak pastian
tentang hasil/harapan.

9. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang pemajanan, tidak mengenal informasi. Kurang mengingat/keterbatasan kognitif.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah
(hemoragi, hematoma); edema cerebral; penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia,
disritmia jantung)

Tujuan:

       Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi, dan fungsi
        motorik/sensorik.

Kriteria hasil:

       Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK

Rencana Tindakan :

1. Tentukan faktor-faktor yg menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial
peningkatan TIK.

2. Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar GCS.

3. Evaluasi keadaan pupil, ukuran, kesamaan antara kiri dan kanan, reaksi terhadap cahaya.

4. Pantau tanda-tanda vital: TD, nadi, frekuensi nafas, suhu.

5. Pantau intake dan out put, turgor kulit dan membran mukosa.
6. Turunkan stimulasi eksternal dan berikan kenyamanan, seperti lingkungan yang tenang.

7. Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk, muntah, mengejan.

8. Tinggikan kepala pasien 15-45 derajad sesuai indikasi/yang dapat ditoleransi.

9. Batasi pemberian cairan sesuai indikasi.

10. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

11. Berikan obat sesuai indikasi, misal: diuretik, steroid, antikonvulsan, analgetik, sedatif,
antipiretik.

2) Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
(cedera pada pusat pernapasan otak). Kerusakan persepsi atau kognitif. Obstruksi
trakeobronkhial.

Tujuan:

· mempertahankan pola pernapasan efektif.

Kriteria evaluasi:

· bebas sianosis, GDA dalam batas normal

Rencana tindakan :

1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan. Catat ketidakteraturan pernapasan.

2. Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi
jalan napas sendiri. Pasang jalan napas sesuai indikasi.

3. Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miirng sesuai indikasi.

4. Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien sadar.

5. Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari 10-15 detik. Catat karakter,
warna dan kekeruhan dari sekret.

6. Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang tidak
normal misal: ronkhi, wheezing, krekel.

7. Pantau analisa gas darah, tekanan oksimetri

8. Lakukan rontgen thoraks ulang.
9. Berikan oksigenasi.

10. Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi.

3) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma, kulit rusak,
prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh. Kekurangan nutrisi. Respon
inflamasi tertekan (penggunaan steroid). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran
CSS)

Tujuan:

Mempertahankan normotermia, bebas tanda-tanda infeksi.

Kriteria evaluasi:

Mencapai penyembuhan luka tepat waktu.

Rencana tindakan :

1. Berikan perawatan aseptik dan antiseptik, pertahankan tehnik cuci tangan yang baik.

2. Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan, daerah yang terpasang alat invasi, catat
karakteristik dari drainase dan adanya inflamasi.

3. Pantau suhu tubuh secara teratur, catat adanya demam, menggigil, diaforesis dan perubahan
fungsi mental (penurunan kesadaran).

4. Anjurkan untuk melakukan napas dalam, latihan pengeluaran sekret paru secara terus
menerus. Observasi karakteristik sputum.

5. Berikan antibiotik sesuai indikasi

4) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif.
Penurunan kekuatan/tahanan. Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan, misal: tirah
baring, imobilisasi.

Tujuan :Klien merasa nyaman.

Kriteria hasil :

Klien akan melaporkan peningkatan kekuatan/ tahanan dan menyebutkan makanan yang harus
dihindari.

Rencana tindakan :
1. Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dengan bantalan penghangat diatas
abdomen.

R/ tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi tenaga selama perawatan dan
saat klien lemah.

2. Singkirkan pemandangan yang tidak menyenagkan dan bau yang tidak sedap dari lingkungan
klien.

R/ pemandangan yang tidak menyenagkan atau bau yang tidak sedap merangsang pusat muntah.

3. Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (misal :teh encer, air jahe, agar-
agar, air) 30-60 ml tiap ½ -2 jam.

R/ cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan terdesak area gastrik dan dengan demikian
tidak memperberat gejala.

4. Instruksikan klien untuk menghindari hal ini :

   Cairan yang panas dan dingin

   Makanan yang mengandung serat dan lemak (misal; susu, buah)

   Kafein

R/ Cairan yang dingin merangsang kram abdomen; cairan panas merangsang peristaltik; lemak
juga merangsang peristaltik dan kafein merangsang motilitas usus.

5. Lindungi area perianal dari iritasi

R/ sering BAB dengan penigkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal.

5) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran).
Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan. Status hipermetabolik.

Tujuan :

· Intake nutrisi meningkat.

· Keseimbangan cairan dan elektrolit.

· Berat badan stabil.

· Torgor kulit dan membran mukosa membaik.
· Membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi diberikan per oral.

· Keluarga mampu menyebutkan pantangan yang tidak boleh dimakan, yaitu makan rendah
garam dan rendah lemak.

Kriteria hasil :

Klien dapat mengatakan kondisinya sudah mulai membaik dan tidak lemas lagi. Klien diberikan
rentang skala (1-10).

1. Mengkaji keadaan nutrisi untuk mengetahui intake nutrisi klien.

2. Kaji faktor penyebab perubahan nutrisi (klien tidak nafsu makan, klien kurang makan
makanan yang bergizi, keadaan klien lemah dan banyak mengeluarkan keringat).

3. Kolaborasi dengan tim gizi tentang pemberian mekanan yang sesuai dengan program diet
(rendah garam dan rendah lemak).

4. Membantu keluarga dalam memberikan asupan makanan peroral dan menyarankan klien
untuk menghindari makanan yang berpantangan dengan penyakitnya.

5. Membantu memberikan vitamin dan mineral sesuai program.

6. Kolaborasi dengan Tim dokter dalam pemberian Transfusi Infus RD 5% 1500 cc/24 jam dan
NaCl.



                                         | KLIK DISINI |

                       Untuk download Artikel ini dalam format Ms Wor

Browse: Home / For Parents, Guidelines / Trauma Kepala


Trauma Kepala

By admin2 on January 11, 2010

TRAUMA KEPALA

9/23/2008

Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab trauma kepala ini
antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena
kecelakaan.
Pemeriksaan
Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal, pernapasan dan sirkulasi anak
dalam keadaan aman.
Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU. Gunakan penekanan pada
supraorbital yang cukup keras sebagai rangsang nyeri.

A Alert (sadar)
V Responds to voice (berespon terhadap suara)
P Responds to pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully
Non-purposefully

Withdrawal/flexor response
Extensor response

U Unresponsive (tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-tanda neurologis fokal
lainnya.
Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:

      Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
      Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan, nyeri, Battles
      Mata – ukuran pupil, ekualitas dan reaktivitas, funduskopi
      Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
      Hidung – deformitas, pembengkakan, perdarahan, kebocoran LCS
      Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak
      Patah tulang wajah
      Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks dan kelemahan sesisi
      Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
      Pertimbangkan kemungkinan adanya trauma non-kecelakaan selama secondary survey
       terutama pada bayi dengan trauma kepala
       Trauma lain

Dapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian kecelakaan. Secara spesifik tentukan:

      Waktu, mekanisme, dan keadaan trauma
      Hilangnya kesadaran dan durasinya
      Mual dan muntah
      Kondisi klinis sebelum dibawa ke dokter – stabil, memburuk, membaik
       Luka-luka lainnya

Derajat Kesadaran – Glasgow coma scale (GCS)

Mata membuka        Respon Verbal
                        (modifikasi untuk anak kecil dengan tulisan merah)

                        Orientasi baik
Spontan             4                                             5
                        Kata-kata yang tepat, senyum

                        Bingung
Dengan suara        3                                             4
                        Menangis tetapi dapat ditenangkan

                        Kata-kata yang tidak tepat
Terhadap nyeri      2                                             3
                        Terus-menerus rewel

                        Kata-kata yang tidak dapat dimengerti
Tidak ada           1                                             2
                        Lelah dan gelisah

                        Tidak ada
                                                                  1
                        Tidak ada

Respon motorik

Menuruti perintah                                                            6

Melokalisasi rangsang                                                        5

Menarik dari rangsang                                                        4

Fleksi abnormal                                                              3

Ekstensi                                                                     2

Tidak ada respon                                                             1


Tatalaksana
Trauma kepala ringan:

      Tidak kehilangan kesadaran
      Satu kali atau tidak ada muntah
      Stabil dan sadar
      Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala
      Pemeriksaan lainnya normal

Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian dirawat oleh orang tuanya.
Jika terdapat keraguan apakah telah terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap telah terjadi
dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua mendapatkan instruksi yang
jelas mengenai tatalaksana anak mereka di rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit
jika anak:

      menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
      menjadi bingung
      mengalami kejang
      timbul sakit kepala menetap
      berulang kali muntah
      keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:

      Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian
      Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk
      Dua atau lebih episode muntah
      Sakit kepala persisten
      Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma
      Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di kulit kepala
      Pemeriksaan lainnya normal

Jika berdasarkan anamnesis dari keluarga atau petugas ambulans, anak tidak mengalami
penurunan secara neurologis maka anak dapat diobservasi di IGD selama 4 jam dengan observasi
tiap 30 menit (kesadaran, nadi, frekuensi napas, tekanan darah, pupil, dan kekuatan motorik).
Anak dapat dipulangkan jika terdapat perbaikan selama 4 jam menjadi dalam keadaan sadar dan
tidak terdapat muntah. Sakit kepala persisten, hematoma yang besar, atau luka penetrasi dapat
membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Jika anak masih mengantuk atau muntah atau bila
terdapat perburukan selama 4 jam, diskusikan dengan ahli bedah saraf untuk rawat inap dan
penyelidikan lebih lanjut.

Trauma kepala berat:

      Kehilangan kesadaran dalam waktu lama
      Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif
      Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga
      Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi)
      Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
           o Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor
           o Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi
      Trauma kepala yang berpenetrasi
      Kejang (selain Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma)

Tatalaksana awal trauma kepala berat:

Mencegah kerusakan otak sekunder dengan mempertahankan jalan napas yang paten, ventilasi
dan oksigenasi adekuat, dan menghindari hipotensi.
Imobilisasi tulang servikal harus dipertahankan bahkan apabila foto lateral tulang servikal
normal.
Pastikan intervensi bedah sarah dan ICU sejak dini.
Dengan konsultasi bersama ahli bedah saraf pertimbangkan untuk menurunkan tekanan
intrakranial:

      Naikkan kepala 20-30° (hanya setelah syok dikoreksi)
      Ventilasi sampai pCO2 35mmHg
      Pertimbangan pemberian mannitol 0.5-1g/kg IV
      Pastikan tekanan darah adekuat

Kontrol kejang.
Lakukan CT scan kepala segera.

Berdasarkan National Institute for Health and Clinical Excellence, CT scan kepala dilakukan jika
terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:

      Kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit
      Tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah trauma dan berlangsung lebih dari 5
       menit
      Mengantuk yang tidak lazim
      Mual tiga kali atau lebih sejak trauma
      Kemungkinan kerusakan yang timbul perlahan
      Kejang setelah trauma (jika anak tidak menderita epilepsi)
      GCS kurang dari 14 atau kurang dari 15 untuk bayi kurang dari 1 tahun, ketika pertama kali
       diperiksa di IGD
      Tanda-tanda yang menunjukkan tengkorak menekan otak
      Tanda-tanda fraktur basis cranii (misal, mata panda’)
      Luka lecet, bengkak, atau robekan di kepala >5cm pada bayi di bawah 1 tahun
      Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi
      Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter
      Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA

Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk diketahui apakah hal itu
merupakan masalah yang serius atau tidak. Jika anak Anda terbentur di kepala, sebaiknya Anda
menemui dokter. Trauma kepala adalah benturan apa pun yang mengenai kepala yang
menyebabkan benjol, luka lecet, robekan, atau luka yang lebih parah pada kepala anak.
Kebanyakan trauma kepala bukan merupakan hal yang serius dan hanya menimbulkan benjol
atau luka lecet. Namun terkadang trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.

Cari bantuan medis segera jika :

Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan
mobil.
Anak Anda kehilangan kesadaran.
Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya
Gejala dan Tanda
Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya trauma tersebut. Trauma
kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat.

Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:

      Tidak sadar lebih dari 30 detik.
      Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
      Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan, seperti lebar pupil yang tidak sama,
       kelemahan lengan dan kaki.
      Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
      Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika trauma terjadi.
      Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda mengalami trauma kepala berat.

Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:

      Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
      Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
      Muntah 2 kali atau lebih.
      Sakit kepala.
      Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah trauma .
      Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang besar di kepala.

Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama paling sedikit 4 jam
setelah trauma kepala sedang.

Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:

      Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
      Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
      Mungkin muntah, namun hanya sekali.
      Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya.
      Selain itu normal.

Tatalaksana untuk trauma kepala ringan
Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya. Sebagian besar benturan
ringan hanya menyebabkan luka lecet dan nyeri sebentar.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma untuk membantu
mengurangi bengkak.
Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5 menit. Luka robek di kepala
sering berdarah banyak.

Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:

Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kela. Berikan parasetamol tiap 4-6 jam jika
diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah berkelanjutan,
bawalah ke dokter.
Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa mengantuk. Anda tidak
perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia ingin tidur. Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1
jam untuk memeriksa kondisinya dan reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya. Anda sebaiknya
melakukan ini sampai ia tak lagi mengantuk dan telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa
pertanyaan yang dapat Anda ajukan:

      Apakah ia mengetahui namanya?
      Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya?
      Apakah ia mengetahui hari apa hari ini?
      Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak sesuai? Misalnya mengambil sebuah
       mainan. Apakah ia tampak interaktif dan tidak terlalu rewel?

Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke gawat darurat terdekat
atau hubungi ambulans.
Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya atau bila nyeri tidak hilang,
pergilah ke dokter.

Follow up
Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir untuk dideteksi pada
awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang tua mungkin melihat adanya:

      Rewel
      Mood yang berganti-ganti
      Kelelahan
      Masalah konsentrasi
      Perubahan perilaku

Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda tersebut.

Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda
mengalami/memiliki:

      Perilaku yang tidak lazim
      Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang dengan parasetamol (rewel pada bayi)
      Muntah berulang kali
      Keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung.
      Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki
      Sulit bangun
      Sulit untuk tetap terjaga
      Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun

Hal-hal yang harus diingat
Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk membantu mengurangi
bengkak.
Algoritme Evaluasi dan Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala (Berdasarkan
American Academy of Pediatrics dan American of Family Physician)

Keterangan

(A) Parameter ini ditujukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan yang
sebelumnya sehat secara neurologis yang memiliki status mental normal, tanpa kelainan
neurologis fokal (termasuk funduskopi), dan tidak terdapat tanda fisik fraktur tengkorak (seperti
hemotimpanum, Battle’s sign).

(B) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang
kompeten dianjurkan untuk anak dengan trauma kepala tertutup ringan tanpa kehilangan
kesadaran.

(C) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang
kompeten mungkin dilakukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan
dengan kehilangan kesadaran.

(D) CT scan bersama dengan observasi dapat dilakukan untuk evaluasi dan tatalaksana awal
dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran singkat.

(E) Jika pencitraan diperlukan oleh dokter dan jika baik CT scan dan foto Roentgen kepala
tersedia, CT scan merupakan modalitas pilihan, karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih
baik. Apabila tidak terdapat CT scan, foto Roentgen kepala dapat membantu dokter untuk
mengetahui adanya resiko kerusakan intrakranial. Namun fraktur tengkorak dapat dideteksi pada
foto kepala tanpa adanya jejas intrakranial dan kadang-kadang terdapat kerusakan intrakranial
meskipun tidak terdapat fraktur tengkorak pada foto kepala. Apakah adanya kerusakan
intrakranial berdasarkan hasil pada foto kepala cukup untuk merubah strategi penanganan
bergantung keinginan dokter dan keluarga.

(F) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif
daripada CT dalam mendiagnosis lesi intrakranial tertentu. Namun, saat ini tidak terdapat
perbedaan antara CT dan MRI dalam mendiagnosis trauma dan perdarahan intrakranial akut
yang secara klinis signifikan yang membutuhkan intervensi bedah saraf. CT lebih cepat dan lebih
mudah dibanding MRI dan biaya CT lebih murah daripada MRI.

(G) Pasien yang secara neurologis normal dengan CT scan yang normal memiliki resiko yang
sangat rendah untuk terjadinya perburukan. Pasien dapat dipulangkan untuk observasi oleh orang
yang dapat dipercata jika CT scan setelah trauma normal. Keputusan untuk melakukan observasi
di rumah diambil dengan mempertimbangkan kemungkinan anak harus kembali ke rumah sakit
dan besarnya tingkat kepercayaan pada orang tua atau orang yang akan melakukan observasi.
Observasi dapat pula dilakukan di klinik, tempat praktek, IGD, atau rumah sakit tergantung
keinginan dokter dan orang tua.

(H) Jika CT scan menunjukkan adanya kelainan, tergantung kelainan tersebut apakah akan
dirujuk atau tidak dan jika perlu konsultasi dengan subspesialis yang sesuai.
(I) Jika status neurologis anak memburuk selama observasi, dilakukan pemeriksaan neurologis
menyeluruh, bersamaan dengan CT scan segera setelah kondisi pasien stabil. Jika pada
pengulangan CT scan menunjukkan kelainan patologis intrakranial baru, diperlukan konsultasi
dengan subspesialis.
Referensi :

1. American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement. The Management of
minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari www.aap.org

2. American Academy of Family Physicians Commission on Clinical Polices and Research. The
Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari www.aafp.org

3. Royal Childrens Hospital. Clinical practice guidelines: Head injury. Diakses dari
www.rch.au.org
4. Royal Childrens Hospital. Kids health info for parents: Head injury. Updated June 26, 2006.
Diakses dari www.rch.au.org.

dr. Veda

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2260
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:29