ASKEP Morbili by zuperbayu

VIEWS: 162 PAGES: 5

									                                    MORBILI




Definisi :
       Penyakit infeksi virus akut menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu :
a. Stadium Kataral
b. Stadium Erupsi, dan
c. Stadium Konvalesensi


Etiologi :
       Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan
darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini
berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.
       Cara penularan dengan droplet infeksi.


Epidemiologi :
       Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita
morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6
bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2
bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili
pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan
kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang
kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
Patofisiologi :
                              Droplet Infection (virus masuk)


                               Berkembang biak dalam RES


                              Keluar dari RES keluar sirkulasi
                  Pirogen :                      Mengendap pada organ-organ yang
-   pengaruhi termostat dalam hipotalamus        secara embriologis berasal dari ektoderm
      Titik setel termostat meningkat            seperti pada :


         Suhu tubuh meningkat                    -   Mukosa mulut
-   pengaruhi nervus vagus  pusat               infiltrasi sel-sel radang mononuklear pada
    muntah di medula oblongata.                  kelenjar sub mukosa mulut
-   muntah
-   anorexia                                     Koplik`s spot
-   malaise                                      -   Kulit
                                                 Ploriferasi sel-sel endotel kalpiler di dalam
                                                 korium
                                                 Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang
                                                 eritrsit dalam epidermis
                                                 Rash/ ruam kulit
                                                 Konjunctiva
                                                 terjadi reaksi peradangan umum


                                                 Konjuctivitis


                                                 Fotofobia
                                                 -   mukosa nasofaring dan broncus


                                                 infiltrasi sel-sel sub epitel dan sel raksasa
                                                 berinti banyak




                                                 Reaksi peradangan secara umum


                                                 Pembentukan      eksudat    serosa   disertai
                                             proliferasi sel monokuler dan sejumlah
                                             kecil pori morfonuklear


                                             Coriza/ pilek, cough/ batuk


                                             Sal. Cerna


                                             Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada
                                             usus buntu  mukosa usus teriritasi 
                                             kecepatan sekresi bertambah  pergerakan
                                             usus meningkat  diare




Manifestasi klinis
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian
timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium
1. Stadium kataral (prodormal)
   Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa
   hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis.
   Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul
   bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai.
   Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh
   eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah,
   tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski
   jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-
   langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan
   cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat
   karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni.
   Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
2. Stadium erupsi
   Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum
   durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula
   disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga
   dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
   Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka
   bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan
   didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai
    diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles”
    yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus
    digestivus.
3. Stadium konvalesensi
    Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
    yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering
    ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala
    patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau
    eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai
    menjadi normal kecuali bila ada komplikasi


Diagnosa banding
Ruam kulit pada campak harus dibedakan dari :
-   Eksantema subitum               - toxoplasmosis
-   Rubela                          - meningokoksemia
-   Infeksi virus ekho              -   demam skarlatina
-   Virus koksaki                   - penyakit riketsia
-   Virus adeno                     - penyakit serum
-   Mononukleosus infeksiosa        - alergi obat




Komplikasi
-   Otitis media akut
-   Pneumonia / bronkopneumoni
-   Encefalitis


Pencegahan
1. Imunusasi aktif
    Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah
    dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston
    B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa
    perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin
    tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung
    lama.
    Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang
    8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat
   dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan
   diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada
   antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis,
   imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.
2. Imunusasi pasif
   Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium
   penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang
   dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau
   melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin
   dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah
   pemaparan atau sesegera mungkin.


Pengobatan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi.
Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan
humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik
mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.


Referensi
1. Ilmu kesehatan anak, Nelson.
2. Kapita selekta kedokteran, edisi 3, jilid II, Media Aesculapius FKUI.

								
To top