Docstoc

ASKEP BPH

Document Sample
ASKEP BPH Powered By Docstoc
					                                                                                      1




                                      BAB I

                                KONSEP DASAR




A. Definisi

          Pembesaran prostat jinak atau lebih dikenal dengan Benigna Prostat

   Hipertrophy adalah kelenjar prostat yang mengalami perbesaran, memanjang ke

   atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi

   orifisium uretra (Brunner dan Suddarth, 2002 : 1625).        Sedangkan menurut

   Mansjoer (1999) pembesaran prostat jinak adalah pembesaran progresif dari

   kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan intriksi pada jalan urine.



B. Etiologi

          Penyebab pembesaran prostat jinak kemungkinan berkaitan dengan proses

   penuaan dan perubahan hormon (Price dan Wilson, 2006 : 1320).



C. Patofisiologi

          BPH atau Hiperplasia Prostat Jinak merupakan penyakit yang disebabkan

   oleh penuaan. Tanda klinis pembesaran prostat jinak biasanya muncul pada lebih

   dari 50% laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas. Hiperplasia prostatik adalah

   pertumbuhan nodul-nodul fibroadematosa majemuk dalam prostat. Pertumbuhan

   tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan
                                                                          2



tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa. Jaringan hiperplastik

terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma fibrosa dan otot polos yang

jumlahnya berbeda-beda. Prostat tersebut mengelilingi uretra, dan pembesaran

bagian periuretral akan menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra

pars prostatika yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung

kemih dan ini memerlukan intervensi untuk membuka jalan keluar urine (Price

dan Wilson, 2006 : 1320).




Pathway

                              Proses menua
                                                                                       3




                                Ketidakseimbangan hormon
                                 testosteron dan estrogen


                                    Pembesaran sel-sel


                                Penekanan daerah periuretral

                                  Obstruksi leher kandung
                                  kemih dan pars prostatika


                               Gangguan aliran urine (flow urine)

                           Gangguan pola eliminasi: retensi urine



        Prostatektomi                                               Menekan otot detrusor


     Kerusakan jaringan                                                      Nyeri


  Resiko infeksi           Perdarahan post operasi                     Penurunan persepsi
                                                                            kognitif


         Syok hipovolemik              Pembentukan                                Informasi tidak
                                                               Cemas
                                       bekuan darah                                   adekuat

      Kekurangan volume
            cairan                      Obstruksi kateter                              Kurang
                                                                                     pengetahuan

            Kelemahan                Perubahan pola eli-
                                     minasi: retensi urine

       Intoleransi aktivitas
D. Manifestasi Klinis dan Pemeriksaan Penunjang
                                                                               4



          Menurut Brunner dan Suddarth (2002) gejala-gejala yang dapat ditemukan

   pada penderita pembesaran prostat jinak meliputi: peningkatan frekuensi

   berkemih, nokturia, dorongan ingin berkemih (urgency), anyang-anyangan,

   abdomen tegang, volume urin menurun, harus mengejan saat berkemih

   (straining), aliran urin tidak lancar, dan urin terus menetes setelah berkemih

   (dribling).

   Pemeriksaan penunjang:

          Menurut Brunner dan Suddarth (2002) pemeriksaan yang dapat dilakukan

   untuk mendukung diagnosis ini, yaitu: urinalisis, urodinamis, dan pemeriksaan

   darah lengkap; sedangkan menurut Price dan Wilson (2006) meliputi: foto polos

   abdomen, pielografi intravena dan sistokopi.



E. Diagnosa Keperawatan

          Berdasarkan Doengoes (1999) dan Carpenito (2001) diagnosa keperawatan

   yang mungkin muncul, yaitu:

   1. Perubahan pola eliminasi urine: retensi urine berhubungan dengan obstruksi

      mekanikal: pembentukan pembekuan darah.

   2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pada area

      pembedahan.

   3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan.

   4. Nyeri (akut) berhubungan dengan refleks spasme otot kandung kemih.

   5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengenal atau minim

      sumber informasi.
                                                                                 5



   6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

   7. Cemas berhubungan dengan penurunan persepsi kognitif.



F. Fokus Intervensi

   1. Perubahan pola eliminasi urine: retensi urine berhubungan dengan obstruksi

      mekanikal: bekuan darah (Doengoes, 1999 : 679)

      Tujuan: jumlah urine normal tanpa retensi, dengan kriteria hasil: klien

                mampu mengosongkan kandung kemih setiap 2 – 4 jam dan klien

                buang air kecil 1500 cc/24 jam.

      Intervensi:

      a. Kaji haluaran urin dan sistem kateter atau drainase

          Rasional: retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah,

                      dan spasme kandung kemih.

      b. Perhatikan waktu, jumlah berkemih, dan ukuran aliran setelah kateter

          dilepas     dan   perhatikan   keluhan    rasa   penuh   kandung   kemih:

          ketidakmampuan berkemih, urgency.

          Rasional: kateter biasanya dilepas 2 – 5 hari setelah bedah, tetapi

                      berkemih dapat berlanjut menjadi masalah untuk beberapa

                      waktu karena edema uretral dan kehilangan tonus.




      c. Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi dan batasi cairan pada

          malam hari, setelah kateter dilepaskan.
                                                                                6



      Rasional: mempertahankan hidrase adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran

                  urine dan penjadwalan masukan cairan menurunkan kebutuhan

                  berkemih atau gangguan tidur selama malam hari.

   d. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih setiap 2 – 4 jam.

      Rasional: keterbatasan berkemih untuk tiap 4 jam (bila ditoleransi)

                  meningkatkan tonus kandung kemih dan membantu latihan

                  ulang kandung kemih.



2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pada area

   pembedahan (Doengoes, 1999 : 681).

   Tujuan: kebutuhan cairan klien terpenuhi, dengan kriteria hasil: jumlah

             cairan yang masuk dan keluar seimbang, tanda vital stabil, membran

             mukosa lembab, dan menunjukkan tidak adanya perdarahan aktif.

   Intervensi:

   a. Awasi tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan

      tekanan darah, diaforesis, pucat, membran mukosa kering.

      Rasional: dehidrasi atau hipovolemia memerlukan intervensi cepat untuk

                  mencegah berlanjut ke syok.

   b. Awasi pemasukan dan pengeluaran cairan

      Rasional: indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggunaan dan

                  pada irigasi kandung kemih serta awasi pentingnya perkiraan

                  kehilangan darah dan secara akurat mengkaji haluaran urine.

   c. Observasi drainase kateter, perhatikan perdarahan berlebihan atau

      berlanjut
                                                                                7



       Rasional: perdarahan tidak umum terjadi selama 24 jam pertama tetapi

                 perlu pendekatan perineal dan perdarahan kontinu atau berat

                 atau berulangnya perdarahan aktif memerlukan intervensi atau

                 evaluasi medik.

   d. Dorong pemasukan cairan 3000 ml / hari kecuali bila ada kontraindikasi

       Rasional: membilas kandung kemih atau ginjal dari bakteri dan debris

                 tetapi dapat mengakibatkan intoksikasi cairan atau kelebihan

                 cairan bila tidak diawasi dengan ketat.



3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan.

   Tujuan: klien terhindar dari resiko infeksi, dengan kriteria hasil: tanda-tanda

             vital dalam batas normal meliputi tekanan darah 100/70 mmHg –

             140/90 mmHg, nadi 60 – 80 kali/menit, pernapasan 16 – 24

             kali/menit, suhu 360 – 375 0C; tidak ada tanda-tanda infeksi; klien

             mencapai waktu penyembuhan luka dengan sempurna.

   Intervensi:

   a. Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan

       pernapasan cepat, gelisah, peka, disorientasi

       Rasional: klien yang mengalami sistokopi dan/atau TUR prostat beresiko

                 untuk syok bedah atau septik sehubungan dengan instrumentasi.



   b. Pertahankan sistem kateter steril

       Rasional: mencegah pemasukan bakteri dan infeksi atau sepsis lanjut.
                                                                                 8



   c. Observasi drainase luka

      Rasional: adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko untuk

                 infeksi, yang diindikasikan dengan eritema, drainase purulen.

   d. Ganti balutan dengan teknik aseptik dan antiseptik, pembersihan dan

      pengeringan kulit sepanjang waktu.

      Rasional: balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media

                 untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi luka.

   e. Kolaborasi medis dengan pemberian antibiotik sesuai indikasi

      Rasional: mencegah terjadinya infeksi



4. Nyeri (akut) berhubungan dengan refleks spasme otot kandung kemih.

   Tujuan: nyeri berkurang atau terkontrol, dengan kriteria hasil: klien dapat

             mengontrol nyeri dengan menggunakan skala 1 – 10, klien tampak

             santai, klien menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan

             aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu.

   Intervensi:

   a. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (1 – 10)

      Rasional: nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih atau pasase

                 urine sekitar kateter menunjukkan spasme kandung kemih.

   b. Pertahankan potensi kateter dan sistem kateter

      Rasional: mempertahankan        fungsi    kateter    dan   drainase   sistem,

                 menurunkan resiko distensi atau spasme kandung kemih.

   c. Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml / hari sesuai toleransi
                                                                              9



      Rasional: menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan

                 konstan ke mukosa kandung kemih.

   d. Berikan tindakan kenyamanan (relaksasi, napas dalam)

      Rasional: menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian,

                 dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

   e. Kolaborasi medis dengan pemberian antispasmodik

      Rasional: merilekskan otot polos, untuk memberikan penurunan spasme

                 dan nyeri.



5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengenal atau minim

   sumber informasi.

   Tujuan: klien mengerti dan memahami akan proses penyakit, prognosis, dan

             pengobatan dengan kriteria hasil: klien melakukan prosedur yang

             perlu dengan benar, klien berpartisipasi dalam program pengobatan.

   Intervensi:

   a. Kaji ulang pengetahuan klien tentang proses penyakit, prognosis, dan

      pengobatan.

      Rasional: memberi pengetahuan dasar pada klien sehingga klien dapat

                 memilih informasi yang dibutuhkan.




   b. Beri penjelasan tentang proses penyakit, prognosis, dan pengobatan yang

      dialami klien
                                                                               10



       Rasional: dengan peningkatan pengetahuan diharapkan klien dapat

                 menjalin    kerja   sama   dan    berpartisipasi   dalam   proses

                 pengobatan.

   c. Beri motivasi pada klien

       Rasional: dengan motivasi klien akan tumbuh rasa ingin sembuh.

   d. Libatkan keluarga dalam perawatan

       Rasional: keluarga juga harus tahu dan mengerti tentang penyakit klien

                 sehingga dapat membantu perawatan klien.



6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

   Tujuan: intoleransi aktivitas klien berkurang, dengan kriteria hasil: klien

             mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleran

             aktivitas, dan klien melaporkan penurunan gejala-gejala intoleransi

             aktivitas.

   Intervensi:

   a. Kaji respon individu terhadap aktivitas

       Rasional: mengetahui tingkat kemampuan individu dalam pemenuhan

                 aktivitas sehari-hari.

   b. Bantu klien dalam memenuhi aktivitas kebutuhan sehari-hari dengan

       tingkat keterbatasan yang dimiliki klien.

       Rasional: pengeluaran energi agar lebih optimal

   c. Jelaskan pentingnya pembatasan energi

       Rasional: energi penting untuk membantu proses metabolisme tubuh.
                                                                            11



   d. Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien

      Rasional: klien dapat dukungan psikologi dari keluarga.



7. Cemas berhubungan dengan penurunan persepsi kognitif.

   Tujuan: cemas berkurang, dengan kriteria hasil: klien tampak santai dan

             mampu mengungkapkan rasa cemasnya, dan klien mampu

             menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam menangani

             cemas.

   Intervensi:

   a. Kaji tingkat cemas klien (ringan, sedang, berat, panik)

      Rasional: informasi memberikan data dasar untuk keefektifan intervensi.

   b. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan dan beri kesempatan untuk

      bertanya.

      Rasional: mengurangi cemas terhadap penanganan yang tidak diketahui.

   c. Berikan kenyamanan dan ketentraman hati klien (berbicara dengan

      perlahan dan tenang, perlihatkan rasa empati)

      Rasional: klien akan merasa mendapatkan perhatian dari perawat.

   d. Pertahankan lingkungan yang tenang tanpa stres

      Rasional: lingkungan yang tenang akan membuat emosi klien juga

                  menjadi tenang.
                                                                                12



                                     BAB II

                          RESUME KEPERAWATAN




A. Pengkajian Data

         Setelah dilakukan pengkajian pada tanggal 5 Juli 2006 didapatkan data

   sebagai berikut: nama klien Tn. S, umur 83 tahun, agama Islam, alamat Tegalsari

   Purworejo, tanggal masuk 25 Juni 2006, diagnosa medis Benigna Prostat

   Hipertrophy (BPH), nama penanggungjawab Tuan S, umur 40 tahun, pekerjaan

   perangkat desa.

         Riwayat penyakit sekarang: keluhan utama yang dirasakan klien saat

   dilakukan pengkajian adalah sakit pada luka post operasi dan perut bagian kiri

   bawah yang menjalar sampai ke kaki sehingga kaki terasa kaku dan sakit. Pada

   malam tanggal 24 Juni 2006 klien mengeluh tidak bisa buang air kecil dan

   pinggang terasa sakit, karena hal ini tidak kunjung mereda. Tanggal 25 Juni 2006

   klien dibawa ke Rumah Sakit Umum Saras Husada Purworejo oleh keluarganya.

         Riwayat kesehatan lampau: klien mengatakan kurang lebih lima bulan yang

   lalu opname di Rumah Sakit Umum Saras Husada Purworejo dengan penyakit

   yang sama tetapi belum dilakukan operasi.

         Riwayat kesehatan keluarga: keluarga klien tidak ada yang menderita

   penyakit yang sama ataupun penyakit yang menurun dan menular.



   Genogram:
                                                                                13




Keterangan:

              : laki-laki

              : perempuan

              : klien

-------       : tinggal dalam satu rumah

              : laki-laki meninggal

              : perempuan meninggal



          Pada pengkajian pola fungsional Gordon didapatkan data maladaptif

sebagai berikut: pada pola aktivitas dan latihan, klien bed rest sehingga semua

aktivitas dan pemenuhan kebutuhan dibantu oleh anaknya yaitu makan, ganti

pakaian, buang air besar. Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan, ditemukan data

maladaptif yaitu: pada abdomen tampak balutan luka post operasi dengan drain

perdarahan dan kateter, terdapat rasa sakit di sekitar luka terutama di bagian kiri

bawah yang menjalar sampai ke kaki dan menyebabkan kaki kiri menjadi sakit

dan terasa kaku serta berat. Pemeriksaan laboratorium yang juga maladaptif

adalah lekosit 13.400 U/L.
                                                                                 14



         Program terapi yang diberikan pada tanggal 5 Juli 2006 adalah

   ciprofloxacin 500 mg dengan dosis 3 x 1 per oral, dan asam mefenamat 500 mg

   dengan dosis 3 x 1 per oral.



B. Analisa Data

    No      Tgl/jam                 Data Fokus                Problem         Etiologi
     1       Rabu        Data subyektif : -                 Resiko         Kerusakan
          5 Juli 2006    Data obyektif :                    infeksi        jaringan
          09.30 WIB      Pada abdomen klien tampak
                         balutan luka post operasi dan
                         terpasang drain perdarahan dan
                         kateter
                         Lekosit 13.400 U/L
                         Suhu 374 0C
                         Tekanan darah 150/90 mmHg
                         Nadi 84 kali/menit
                         Pernapasan 20 kali/menit


     2    5 Juli 2006    Data subyektif :                   Nyeri (akut)   Kerusakan
          09.30 WIB      Klien mengatakan sakit pada                       jaringan
                         perut bagian kiri bawah dan
                         menjalar sampai ke kaki kiri
                         Data obyektif :
                         Karakteristik nyeri
                         Paliatif : meringis
                         Quality: snut-snut
                         Region : perut kiri bagian bawah
                         Scala : 5 (skala numerik)
                         Time : saat kaki digerakkan
                                                                                   15




     3    5 Juli 2006   Data subyektif :                     Intoleransi   Kelemahan
          09.30 WIB     Klien mengatakan saat makan, aktivitas             fisik
                        buang   air   besar,   dan   ganti
                        pakaian dibantu oleh anaknya
                        Data obyektif :
                        Klien bed rest, klien tampak
                        terbaring di tempat tidur saja dan
                        juga terlihat lemah



C. Diagnosa Keperawatan

         Berdasarkan analisa data muncul diagnosa keperawatan sebagai berikut dan

   ini disusun menurut prioritas masalah: nyeri (akut) berhubungan dengan

   kerusakan jaringan, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik,

   dan resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan.



D. Rencana Keperawatan

         Adapun rencana asuhan keperawatan untuk diagnosa keperawatan yang

   pertama, yaitu: nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan jaringan untuk tujuan

   dan kriteria hasil diharapkan setelah dilakukan tindakan atau asuhan keperawatan

   selama dua jam nyeri berkurang dengan skala 1 – 3 (skala numerik) dan klien

   tampak santai, kemudian perencanaan yang dilakukan pada tanggal 5 Juli 2006

   pukul 10.00 WIB adalah kaji karakteristik nyeri dengan rasionalisasi untuk

   mengetahui kualitas nyeri. Kaji tanda-tanda vital, rasionalisasi untuk mengetahui

   keadaan umum klien. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi dengan rasionalisasi

   untuk menurunkan tegangan otot serta meningkatkan kemampuan koping dan
                                                                              16



kenyamanan. Kolaborasi medis dengan pemberian analgetik atau antispasmodik

rasionalisasi untuk merilekskan otot polos dan untuk menurunkan spasme serta

nyeri.

         Rencana asuhan keperawatan untuk diagnosa yang kedua;        tujuan dan

kriteria hasil yang diharapkan adalah setelah dilakukan tindakan selama setengah

jam intoleransi aktivitas klien berkurang dan ditunjukkan dengan klien

memperlihatkan peningkatan toleransi aktivitas.     Perencanaan yang dilakukan

pada tanggal 5 Juli 2006 pukul 10.00 WIB adalah kaji tanda-tanda vital,

rasionalisasi untuk mengetahui keadaan umum klien. Beri motivasi dan support

klien dengan rasionalisasi untuk meningkatkan kepercayaan diri klien. Bantu

penuhi aktivitas klien secara bertahap dengan rasionalisasi untuk memenuhi

kebutuhan aktivitas klien. Libatkan keluarga dalam penuhi perawatan diri klien,

rasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.

         Untuk diagnosa yang ketiga, yaitu resiko infeksi berhubungan dengan

kerusakan jaringan adalah tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan yaitu setelah

dilakukan tindakan keperawatan selama dua jam tanda-tanda infeksi tidak muncul

dan suhu tubuh dalam batas normal. Perencanaan yang dilakukan pada tanggal 5

Juli 2006 pukul 10.00 WIB adalah kaji tanda-tanda vital terutama suhu tubuh,

rasionalisasi untuk peningkatan suhu tubuh dapat menunjukkan tanda-tanda

infeksi. Kaji tanda-tanda infeksi, rasionalisasi untuk mengetahui adanya infeksi

lebih dini.     Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik, rasionalisasi

mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Kolaborasi medis dengan pemberian

ciprofloxacin 3 x 500 mg, rasionalisasi untuk mencegah terjadinya infeksi.
                                                                               17




E. Tindakan Keperawatan

        Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 Juli 2006 pukul 10.15

   WIB untuk diagnosa pertama nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan

   jaringan adalah mengkaji tanda-tanda vital, dengan hasil tekanan darah 150/90

   mmHg, nadi 80 kali/menit, suhu 365           0
                                                C.   Mengkaji karakteristik nyeri,

   mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi, dan yang terakhir adalah melakukan

   kolaborasi medis dengan pemberian asam mefenamat 500 mg.

        Untuk diagnosa keperawatan yang kedua intoleransi aktivitas berhubungan

   dengan kelemahan fisik tindakan keperawatan pada tanggal 5 Juli 2006 pukul

   10.30 WIB yaitu: mengkaji tanda-tanda vital, memberikan support dan motivasi

   pada klien, membantu klien mengganti baju, dan melibatkan keluarga dalam

   pemenuhan perawatan diri klien.

        Diagnosa keperawatan yang ketiga resiko infeksi berhubungan dengan

   kerusakan jaringan, tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 Juli

   2006 pukul 10.40 WIB adalah mengkaji tanda-tanda infeksi, melakukan

   perawatan luka dengan teknik antiseptik, dan melakukan kolaborasi medis dengan

   pemberian antibiotik ciprofloxacin 500 mg.




F. Evaluasi

        Setelah dilakukan tindakan keperawatan untuk diagnosa nyeri (akut)

   berhubungan dengan kerusakan jaringan kemudian pada tanggal 5 Juli 2006 pukul

   12.15 WIB dilakukan evaluasi dan didapatkan data subyektif: klien mengatakan
                                                                                18



sakit pada perut kiri bawah masih terasa dan juga masih menjalar sampai ke kaki

kiri. Data obyektif: klien tampak lebih santai, tetapi masih terasa snut-snut di

perut kiri bawah saat kaki digerakkan.       Dari data-data tersebut dapat dibuat

analisa bahwa masalah belum teratasi dan penulis membuat perencanaan:

anjurkan klien untuk lebih fokus dalam melakukan keterampilan relaksasi dan

distraksi.

      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, pada tanggal 5

Juli 2006 pukul 11.00 WIB dilakukan evaluasi dan didapatkan data subyektif:

klien mengatakan setelah ganti baju terasa lebih enak dan nyaman, klien

mengatakan anaknya sudah memandikan klien setiap pagi, dan klien mengatakan

akan mencoba untuk duduk sambil bersandar dengan bantal. Klien mengatakan

lebih sehat dan kuat. Data obyektif: klien tampak duduk sebentar kemudian

tiduran kembali. Dari kedua data di atas dapat dibuat analisa masalah teratasi

sebagian dan penulis membuat perencanaan: berikan motivasi dan support klien,

bantu memenuhi kebutuhan klien, dan kaji tingkat intoleransi aktivitas dari klien.

      Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada tanggal 5 Juli 2006 untuk

diagnosa resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada tanggal

yang sama dan pada pukul 10.40 WIB dilakukan evaluasi dan didapatkan data

obyektif: tanda-tanda infeksi tidak muncul, suhu tubuh klien 365 0C, balutan

tampak bersih dan kering. Dari data tersebut didapatkan analisa masalah sudah

teratasi dan penulis membuat perencanaan yaitu untuk tetap mempertahankan

intervensi-intervensi yang sudah dilaksanakan.



                                   BAB III

                               PEMBAHASAN
                                                                                19




     Dalam bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada Tn. S

dengan Benigna Prostat Hipertrophy atau BPH di Ruang Teratai Rumah Sakit Umum

Saras Husada Purworejo.

A. Diagnosa keperawatan yang muncul sebagai berikut:

   1. Nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan jaringan

            Pengertian nyeri (akut) adalah keadaan dimana individu mengalami dan

      melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak

      menyenangkan selama enam bulan atau kurang (Carpenito, 2001:45).

      Sedangkan menurut NANDA (2001:93) nyeri adalah perasaan tidak

      menyenangkan dan pengalaman emosional timbul dari kerusakan jaringan

      aktual atau potensial atau menjelaskan tentang beberapa kerusakan, terjadi

      secara mendadak atau lambat pada berbagai intensitas dari ringan sampai

      berat dengan antisipasi atau prediksi akhir dan lamanya kurang dari enam

      bulan.

            Batasan karakteristik (Siman, Nolan dan Bauman, 1995) mayor (80% -

      100%) adalah komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri yang

      dideskripsikan. Batas minor (60% - 70%) antara lain mengatupkan rahang

      atau pergelangan tangan, perubahan kemampuan untuk melanjutkan aktivitas

      sebelumnya, agitasi, ansietas, ketidakaktifan fisik atau imobilitas, peka

      rangsang, menggosok nyeri dan menarik bila disentuh.

            Masalah nyeri (akut) yang terjadi pada klien dikarenakan kerusakan

      jaringan akibat tindakan operasi. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Brunner dan
                                                                            20



Suddarth (1999) yaitu nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau

cidera telah terjadi.

      Nyeri     (akut)   dapat   timbul   karena   kerusakan   jaringan   yang

mengakibatkan sejumlah substansi yang mempengaruhi sensitivitas ujung-

ujung saraf atau reseptor nyeri dilepaskan ke jaringan ekstraseluler (Brunner

dan Suddarth, 1999:215).

      Apabila masalah ini tidak diatasi maka dapat mengganggu kenyamanan

klien serta aktivitas klien, selain itu nyeri akan semakin berat dan akan

merangsang terjadinya perubahan hemodinamika yaitu: tekanan darah, nadi,

dan frekuensi pernapasan akan meningkat.

      Data yang diperoleh pada saat pengkajian yang mendukung

ditegakkannya diagnosa ini adalah klien mengatakan sakit pada perut kiri

bawah dan menjalar sampai ke kaki, saat kaki kirinya digerakkan terasa sakit

dan kaku selain itu wajah klien tampak meringis. Skala nyeri 5 (numerik).

      Rasionalisasi tindakan yang dilakukan adalah mengkaji karakteristik

nyeri untuk mengetahui kualitas nyeri. Tindakan kedua adalah mengkaji

tanda-tanda vital untuk mengetahui keadaan umum klien. Tindakan ketiga

adalah mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri

(menurunkan      tegangan   otot, meningkatkan     kemampuan     koping     dan

kenyamanan). Tindakan yang terakhir adalah melakukan kolaborasi dengan

dokter yaitu memberikan obat asam mefenamat 500 mg untuk mengurangi

nyeri (merilekskan otot polos, untuk memberikan penurunan spasme dan

nyeri).
                                                                               21



         Setelah dilakukan tindakan keperawatan perkembangan terakhir yang

   didapat masalah belum teratasi, hal ini dibuktikan klien mengatakan rasa sakit

   di perut kiri bawah sampai kaki kiri masih terasa.



2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

         Menurut Carpenito (2001) intoleransi aktivitas adalah penurunan dalam

   kapasitas fisiologis seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat yang

   diinginkan atau yang dibutuhkan. Sedangkan menurut NANDA (2001)

   intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan tenaga secara fisik dan psikologi

   untuk memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari.

         Batasan karakteristik (Magnan, 1995) mayor (harus terdapat satu atau

   lebih) adalah selama aktivitas kelemahan, pusing, dispnea; tiga menit setelah

   aktivitas pusing, keletihan, frekuensi lebih dari 24 kali/menit, frekuensi nadi

   lebih tinggi dari 95 kali/menit. Batasan minor (mungkin terdapat) adalah

   pucat, konfusi, vertigo.

         Masalah ini dapat muncul karena ketidakmampuan klien dalam

   melakukan aktivitas sehari-hari secara normal.

         Klien dengan nyeri hebat dan stress tidak mampu untuk napas dalam

   dan mengalami peningkatan nyeri sehingga mengakibatkan toleransi aktivitas

   menurun (Brunner dan Suddarth, 1999:214).

         Rasional tindakan yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital untuk

   mengetahui keadaan umum klien. Tindakan kedua adalah memotivasi dan

   memberi dorongan pada klien untuk meningkatkan kepercayaan diri klien.
                                                                             22



   Tindakan ketiga adalah membantu memenuhi kebutuhan aktivitas klien secara

   bertahap untuk memenuhi kebutuhan aktivitas klien.        Tindakan keempat

   adalah melibatkan keluarga dalam memenuhi perawatan diri klien untuk

   memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.

         Setelah dilakukan tindakan keperawatan perkembangan terakhir

   masalah teratasi sebagian, hal ini dibuktikan dengan klien mengatakan lebih

   sehat dan kuat, setiap pagi dimandikan oleh anaknya.



3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan

        Pengertian resiko infeksi adalah dimana seorang individu beresiko

   terserang oleh agen patogenik atau oportunistik (virus, jamur, protozoa, atau

   parasit lain) dari sumber-sumber eksternal, sumber-sumber endogen atau

   eksogen. Sedangkan menurut NANDA (2001:79) resiko infeksi adalah suatu

   resiko tinggi invasi organisme patogen ke dalam tubuh.

        Adanya luka bekas prostatektomi yang belum sembuh memungkinkan

   sebagai pintu masuknya kuman ke dalam tubuh dengan cara mengeluarkan

   eksotoksin, mengeluarkan zat toksik terhadap dinding sel dan menimbulkan

   efek imunopatologik. Eksotoksin dapat berefek lokal maupun sistemik. Efek

   imunopatologik dapat berupa reaksi anafilaksis sitotoksitas akibat antibodi

   dan hipersensitivitas komplek imun yang dapat mengakibatkan kerusakan

   jaringan, perdarahan dan nekrosis (Sjamsuhidajat dan Jong, 1997:5).
                                                                                   23



           Masalah ini bukan menjadi prioritas utama karena baru merupakan

      resiko, resiko dapat terjadi dan tidak terjadi. Tetapi apabila masalah ini tidak

      diatasi akan menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih parah.

           Rasional tindakan yang dilakukan adalah mengkaji tanda-tanda vital,

      terutama suhu tubuh karena peningkatan suhu tubuh dapat menunjukkan

      tanda-tanda infeksi. Tindakan kedua adalah mengkaji tanda-tanda infeksi

      untuk mengetahui adanya infeksi lebih dini.       Tindakan ketiga melakukan

      perawatan luka dengan teknik aseptik untuk mencegah terjadinya infeksi

      nosokomial. Tindakan keempat adalah melakukan kolaborasi dengan dokter

      yaitu memberikan ciprofloxacin 500 mg untuk mencegah terjadinya infeksi.

           Setelah dilakukan tindakan keperawatan perkembangan terakhir yang

      didapat masalah teratasi, hal ini dibuktikan dengan suhu tubuh klien 365 0C,

      tanda-tanda infeksi tidak muncul.



B. Diagnosa yang Tidak Muncul

   1. Cemas berhubungan dengan penurunan persepsi kognitif

           Pengertian cemas adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau

      kelompok mengalami suatu perasaan gangguan fisiologis atau emosional yang

      berhubungan dengan suatu sumber yang dapat diidentifikasi yang dirasakan

      sebagai bahaya (Carpenito, 2001:9).

           Masalah ini tidak muncul karena pada data tidak ada data-data yang

      mengarah ke diagnosa keperawatan cemas.         Adapun batasan karakteristik

      mayor antara lain: perasaan takut yang tidak jelas, takut yang tiba-tiba,
                                                                               24



   kekhawatiran, perilaku yang menghindar, penyempitan fokus terhadap bahaya.

   Batasan minor antara lain: pengungkapan verbal tentang panik, obsesi,

   perilaku kerja: menangis, mengerang, terlalu waspada (Carpenito, 2001:9).



2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pada area

   pembedahan

        Pengertian kekurangan volume cairan adalah dimana seorang individu

   yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko mengalami dehidrasi

   vaskuler, intersisial atau intravaskular (Carpenito, 2001:139).   Sedangkan

   menurut NANDA (2001) hal ini berhubungan dengan dehidrasi kekurangan

   cairan tanpa kekurangan sodium.

        Batasan karakteristik yang harus dipenuhi untuk menegakkan diagnosa

   ini adalah kelelahan, turgor kulit berkurang, lidah kering, peningkatan nadi

   dan tekanan darah, penurunan urin output, peningkatan suhu tubuh, dan

   perubahan status mental.

        Pada saat penulis melakukan pengkajian didapat data tekanan darah

   150/90 mmHg, nadi 84 kali/menit suhu 374 0C, pernapasan 20 kali/menit,

   turgor kulit baik, drain perdarahan kosong, pada balutan luka tampak kering

   dan tidak terjadi perdarahan.

        Berdasarkan data-data di atas maka penulis tidak menegakkan diagnosa

   kekurangan volume cairan.
                                                                            25



3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengenal atau minim

   sumber informasi

        Pengertian kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang

   individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau

   rencana pengobatan (Carpenito, 2001:223).

        Batasan mayor (harus terdapat satu, atau lebih) yaitu mengungkapkan

   kurang   pengetahuan    atau   keterampilan-keterampilan   atau   permintaan

   informasi, mengekspresikan suatu ketidakakuratan persepsi status kesehatan,

   melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang

   diinginkan. Batasan minor (mungkin terdapat) antara lain kurang integrasi

   tentang rencana pengobatan ke dalam aktivitas sehari-hari, memperlihatkan

   atau mengekspresikan perubahan psikologis (misal: ansietas, depresi)

   mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.

        Penulis tidak mengangkat diagnosa kurang pengetahuan karena

   meskipun klien lulusan Sekolah Dasar tetapi mempunyai tetangga yang

   bekerja di bidang kesehatan yang pada opname sebelumnya memberikan

   penyuluhan kesehatan tentang penyakitnya.



4. Perubahan pola eliminasi urine: retensi urine berhubungan dengan obstruksi

   mekanikal: pembentukan bekuan darah.

        Pengertian perubahan pola eliminasi urine adalah keadaan dimana

   seorang individu mengalami atau beresiko mengalami disfungsi eliminasi

   urine (Carpenito, 2001:415).
                                                                         26



     Batasan karakteristik mayor (harus terdapat, satu atau lebih) adalah

melaporkan atau mengalami masalah – masalah eliminasi urine, seperti:

dorongan berkemih, sering berkemih, keragu-raguan, nokturia, enuresis,

menetes, distensi kandung kemih, inkotinen, volume urine residu yang banyak

(Carpenito, 2001:415).

     Penulis tidak menegakkan diagnosa perubahan pola eliminasi urine:

retensi urine karena pada pengkajian didapatkan data jumlah input dan output

cairan irigasi seimbang dan ini membuktikan bahwa pada pola eliminasi

lancar dan tidak terjadi sumbatan atau retensi urine.

				
DOCUMENT INFO