Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

PERANAN SUNAN DERAJAT

VIEWS: 517 PAGES: 9

									                                   BAB II

                 PERANAN SUNAN DERAJAT DALAM

                   MENYEBARKAN AGAMA ISLAM



A. Asal-Usul Sunan Derajat

          Raden Qosim yang dikenal dengan nama Sunan Derajat sebetulnya

   masih punya banyak nama yaitu Raden Imam, Sunan Mayang Madu, Raden

   Derajat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

          Dalam kisah sayyidina jumadul kubro yang masih keturunan empat

   orang: Maulana Ishaq, Maulana Ibrahim Assamarkandi, Maulana Sutami dan

   Maulana Abu Churairah. Mereka berkelana ke negeri timur untuk

   menyebarkan agama Islam dan tibalah mereka di negeri Campa, selanjutnya

   mengajak sang prabu Agung di negeri Campa untuk memeluk agama Islam.

          Tak disangka prabu tersebut mau masuk Islam dengan tulus serta

   ikhlas dari hati nurani yang paling dalam. Prabu Agung Negeri Campa

   berketurunan tiga orang yang tertua seorang putri bernama Retno Ayu

   Dwarawati mempunyai kelebihan bisa berubah rupa dalam sehari tiga kali.

   Putri Dwarawati kemudian diambil istri oleh prabu Brawijaya, Raja

   Majapahit. Keturunan yang kedua juga putri yang bernama Retno Ayu

   Asmarawati juga mempunyai kelebihan bisa berubah rupa dalam sehari

   sampai tujuh kali dan oleh ayahnya dijodohkan dengan Maulana Ibrahim

   Assamarkandi. Sedangkan keturunan ketiga adalah laki-laki yang bergelar

   Prabu Anom Negeri Campa.

          Dari perkawinan Maulana Ibrahim Assamarkandi dengan Retno Ayu
   Asmarawati dikaruniai dua orang putra laki-laki yaitu :

   1. Syaikh Ali Murtala, yang dikenal dengan nama Raden Suntri

   2. Sayyidina Rahmat atau Raden Rahmat yang terkenal dengan sebutan

      Sunan Ampel Surabaya, beliau kawin dengan Retno Ayu Manila putri

      Adipati Aryateja dari Tuban, selanjutnya dalam perkawinannya Sunan

      Ampel mempunyai beberapa orang putra-putri yaitu :

      1)     Nyai Ageng Mayura yang berkawin dengan Pangeran Karang

             Kemuning

      2)     Raden Mahdum Ibrahim yang terkenal dengan sebutan Sunan

             Bonang di Tuban

      3)     Raden Qosim atau Sunan Derajat,

      4)     Nyai Ageng Sluke, tidak punya putra tetapi mengambil anak

             angkat keponakannya sendiri yaitu : Raden Usman Haji yang

             terkenal dengan nama Sunan Ngudung dari Jipang Panahan

      5)     Nyai Ageng Wilis diambil menantu oleh Pedat Tondo

      6)     Nyai Ageng kota (hasil perkawinan Sunan Ampel dengan istri yang

             lain, putri dari Ki Ageng bungkul Surabaya) Nyai Ageng kota

             kemudian diambil istri oleh Sunan Giri di Gresik

           Setelah putra dan putrinya berumah tangga tak lama kemudian Sunan

   Ampel wafat yang bergelar sinuwun Ngaripin Asidik dimakamkan di Ampel

   Surabaya pada tahun 1397 Caka atau 1475 Masehi.



B. Sunan Derajat Ditolong Ikan Talang

           Sunan Derajat diberi tugas oleh ayahnya yakni Sunan Ampel untuk
berdakwah di daerah sebelah barat Gresik. Karena pada waktu itu belum ada

Seorang Ulama' pun yang berdakwah di daerah tersebut.

       Karena rasa ta'dhim seorang Raden Qosim, beliaupun berangkat

menuju ke tempat tujuan melalui jalan laut sambil mengendarai perahu.

Dalam perjalanan beliau, Allah telah memberikan cobaan kepada Sunan

Derajat yakni ketika Raden Qosim sedang asyik berlayar, tiba-tiba perahu

yang dikendarainya dihantam ombak yang sangat besar. Sehingga perahunya

terpelanting dan membentur batu karang sehingga perahu tersebut pecah dan

karam di dasar laut.

       Karena tawakalnya yang sungguh-sungguh pada Allah, maka

datanglah kepada beliau kebenaran janji Allah yang disebutkan dalam Al-

Qur'an Surat At Thalaq ayat 3 yang berbunyi :

                                                   ‫و من يتىكل على اهلل فهى حسبه‬

Artinya: Dan barang siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah

         akan memenuhinya.

       Dengan tawakkal beliau, Raden Qosim pun diselamatkan Allah SWT.

Dengan lantaran dari pertolongan seekor Ikan Talang.

       Tanpa disangka, seekor ikan talang besar datang kepadanya

kemudian Raden Qosimpun naik diatas punggung ikan tersebut dan jiwa

Raden Qosimpun terselamatkan dari ancaman badai besar laut tersebut.

       Raden Qosim telah dibawa ikan tersebut sampai ke tepi pantai

wilayah Jelag yang sekarang berganti dengan nama, desa Banjarwati atau

Banjaranyar yang berada di kecamatan Paciran kabupaten Lamongan.

Seketika itu juga Raden Qosim sujud syukur sebagai tanda terima kasih pada
Allah yang telah menyelamatkan jiwa dan raganya.

      Sehingga, sampai sekarang ikan sejenis yang pernah menyelamatkan

Raden Qosim tersebut pun dianggap, sebagai Ikan Keramat, dan Raden

Qosim melarang semua pengikutnya untuk memakan ikan keramat tersebut.
C. Nasab Sunan Drajat

        Raja Agung Cempa


       Rwetno Ayu Dwarawati          x            Prabu Kertabumi Raja Majapahit


       Renno Ayu Asmarawati         x             Maulana Ibrahim Assamarkandi


                               Sunan Ampel


                               Sunan Drajat


                                  R. Arif


                                R. Permadi


                                 R. Sidiq


                                R. Benter


                                 R. Getiri


                              R. Gondopuro


                              R. Abdul Arifin


                                R. Husain


                                              RA. Sudarmi Gondowondonoto

           RA. Sumaryam                          R. Permadi Gondo Atmojo

           RA. Sumiyati                         R. Muhammad Danu Kusuma

                                                   RA. Rubinti

                                                 R. Slamet Danu Kusuma

                                                      RA. Kusmiati

                                                    Hidayat Iksan MR
D. Nasab Sunan Derajat dari Ayah

1. Nabi Muhammad SAW               2. Sayyidina Fatimah



4. Ali Zainal Abidin               3. Sayyidina Husain



5. Muhammad Al Baqir               6. Ja’far Shodiq



8. Muhammad                        7. Ali



9. Isa                             10. Ahmad Munajir



12. Alwi                           11. Ubaidullah



13. Muhammad                       14. Alwi



16. Muhammad                       15. Ali Al Kholiq



17. Alwi                           18. Abdul Malik



20. Ahmad Jamaluddin               19. Abdullah Khan



21 Jamaluddin Al Akbar             22. Ibrahim



24. Raden Qosim (Sunan Drajat)     23. Raden Ahmad Rahmatullah
                                       (Sunan Ampel)
E. Ajaran Sunan Derajat

          Diantara ajaran Sunan Derajat yang terkenal untuk menganjurkan

   orang agar berjiwa sosial antara lain :

      Menehono teken marang wongkang wuto,

      Menehono mangan marang wongkang luwe,

      Menehono busono marang wongkang mudo,

      Menehono ngiyup marang wongkang kudanan,

          Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ialah :

      Berikanlah tongkat kepada orang yang buta,

      Berikanlah makan kepada orang yang lapar,

      Berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang,

      Berikanlah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.

          Ajaran tersebut sangat supel artinya siapa saja bisa melakukannya

   termasuk juga orang awam. Namun bila dikupas lebih lanjut maka ajaran

   tersebut mempunyai makna yang sangat dalam, terutama bagi mereka yang

   berilmu tinggi yaitu :

      Berilah petunjuk (ilmu) kepada orang yang bodoh,

      Sejahterakan kehidupan rakyat yang miskin (kurang makan),

      Ajarkanlah budi pekerti kepada orang yang tidak tahu malu atau belum

       mempunyai budaya tinggi,

      Berikanlah perlindungan kepada orang-orang yang menderita.

          Itulah ajaran Sunan Derajat yang sangat terkenal dikalangan rakyat.
F. Asal Mula Julukan Sunan Derajat

          Di desa Banjarwati itulah Raden Qosim mendirikan sekolah

   keagamaan atau yang sering di sebut juga, dengan pesantren. Dengan

   kestrategisan lokasi yang di pilih Raden Kosim, sehingga dalam waktu yang

   singkat, beliau sudah bisa mempunyai pengikut dalam jumlah yang sangat

   banyak.

          Setahun kemudian, di desa Banjarwati. Raden Qosim mendapat ilham

   agar pindah di daerah sebelah selatan kira-kira sejauh satu kilo meter di

   selatan desa Banjarwati. Disana beliau mendirikan mushola atau surau yang

   sekaligus di gunakan untuk tempat berdakwah.

          Selama 3 tahun beliau tinggal di desa tersebut kemudian beliau

   mendapat ilham lagi agar pindah ke suatu bukit yang sering di sebut dengan

   "dhalem dhuwur" artinya rumah yang letaknya, di bukit atau di atas. Dan

   sekarang di sana di bangun sebuah museum yang cukup megah.

          Di daerah tersebut, Raden Qosim menyebarkan agama dengan

   menggunakan gamelan. Sampai sekarang, perangkat gamelan itu masih

   tersimpan rapi di museum yang ada di dekat makam beliau hal ini sebagai

   bukti bahwa Raden Qosim memang sangat ahli dalam memainkan gamelan.

          Beliau mendapat julukan Sunan Derajat karena dalam penyebaran

   agamanya beliau berada di perbukitan yang letaknya berada di desa Derajat.

          Raden Qosim memang sangat terkenal. Sebagai Waliyullah yang

   berjiwa sosial sampai-sampai beliau tidak memperdulikan bahwa yang akan

   mendapatkan kebaikanya itu orang islam ataukah orang non islam.

          Ketika beliau wafat dimakamkan di desa Derajat kecamatan Paciran
kabupaten Lamongan yang letaknya berada di sebelah timur Wisata Bahari

Lamongan, kira-kira sekitar 15 km.

								
To top