Docstoc

ANALISIS UNSUR INTRINSIK

Document Sample
ANALISIS UNSUR INTRINSIK Powered By Docstoc
					                                       BAB I

                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

            Sastra klasik yang berkembang di Indonesia sangatlah beragam dan memiliki

   ciri khas tertentu. Kisah yang disajikan juga bersifat kasuistik, karena pengarang

   merangkai cerita berdasarkan kehidupan sebenarnya.

            Dari kebanyakan novel yang kami baca, kami tidak menemukan ciri khas

   yang terdapat novel klasik. Kisah yang terdapat dalam novel klasik ini tidak mudah

   lenyap dalam pikiran kami, karena kisah yang terurai sangat mengena ke dalam batin

   kami, maka dari itu kami tertarik untuk menganalisis unsur intrinsik novel yang

   berjudul Salah Asuhan ini.



B. Tujuan

   -   Agar bisa menganalisis novel dengan baik.

   -   Mengetahui unsur intrinsik yang terdapat dalam novel.



C. Rumusan Masalah

   Apa saja unsur intrinsik novel ?




                                          1
                                       BAB II

                                 PEMBAHASAN



       Novel adalah salah satu jenis karya sastra berbentuk prosa yang tak lepas dari

unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik. Adapun unsur intrinsik novel

adalah sebagai berikut :

1. Tokoh dan Penokohan / Watak

   Tokoh : Pemegang peran dalam karya sastra yang diperikan segi-segi wataknya

             sehingga dapat dibedakan dari tokoh-tokoh yang lain (1988 : 954, KBBI)

   Penokohan / Watak : Sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan

                           perbuatannya. (1988 : 1149. KBBI)

         Adapun tokoh-tokoh dan perwatakannya dalam novel Salah Asuhan adalah

   sebagai berikut :

   1) Hanafi sebagai tokoh utama

       Watak : egois dan kebelanda-belandaan

       “Tapi Hanafi sekali-kali tidak mengindahkan segala kesenangan ibunya itu.” (SA
       : 29)
       “... karena bagi Hanafi bagi segala orang yang tidak pandai bahasa Belanda,
       tidaklah masuk bilangan” (SA : 29)

   2) Corrie sebagai mitra tokoh utama

       “Ya, Tuan Han, belum setahun istri tuan di rumah saya, rasanya ia sudah menjadi
       darah dagingku. Ah, hati sabar, pikiran tulus, alam luas, pendeknya
       berkumpullah segala sifat-sifat mulia pada perempuan itu” (SA : 210)

       Tapi akan lain pula dengan engkau Corrie! Papa kenal akan tabiatmu yang sangat
       gemar pada pergaulan (SA : 24)

       Bagiku Bumiputra tidak patut mendapat perindahan kecuali mamaku sendiri saja
       (SA : 25)

   3) Mariam (Ibu Hanafi) sebagai mitra tokoh utama

       Watak : sabar dan bijaksana

       Asal engkau padai membalas budi dengan budi, selamatlah engkau seumur
       hidupmu. Setiap hari engkau berkata bahwa ibumu orang kampung, orang bodoh,



                                          2
   tapi timbang-timbanglah segala kata-kata ibu dengan hati yang jernih, pikiran
   yang tenag, uji-ujilah salah benarnya (SA : 68)

4) Tuan Du Busse sebagai tokoh sampingan

   Watak : baik dan tulus

   Yang papa muliakan ialah budi dan batin orang. Warna kulit, kulit, turunan, uang
   dan harta, semua itu bagi papa tidak akan menambah atau mengurangi bungkal
   neraca dalam pergaulan. (SA : 23)

5) Rapiah sebagai tokoh sampingan

   Watak : sabar

   Mudah-mudahan Tuhan akan mengabulkan kehendakmu itu, Piah. Manusia yang
   sesabar dan seiman engkau ini tak akan luput daripada karunia Allah. (SA : 185)

6) Sutan Batuah, sebagai tokoh pembantu

   Watak : Dermawan

   Sutan Batuah, saudara tuaku seibu sebapa. Dari gajinya yang tidak seberapa
   sebulan, tetaplah ia menyisihkan tiap bulan, buat penambah uang yang mesti ibu
   kirimkan ke Betawi. Jika ibu kekurangan (SA : 32)

7) Nyonya Asisten Residen sebagai tokoh pembantu

   Watak : berani membela yang lemah

   Aku berkata kepadamu bukanlah sebagai nyonya asisten residen, nyonya sepmu,
   melainkan sebagai seorang perempuan yang merasa hati benar atas perbuatan
   seorang laki-laki yang mengaku tepelajar, terhadap kepada sesamanya
   perempuan. (SA : 77)

8) Tante Lien sebagai tokoh pembantu

   Watak : licik

   Rupanya Merrouw Han telah menjadi sahabat katib kepada tante Lien, yang
   masyhur namanya sebagai pemikat istri-istri orang. (SA : 159)

9) Nyonya Jansen sebagai tokoh pembantu

   Watak : dengki

   Corrie tahu, bahwa pangkal kebencian nyonya itu kepadanya tidak lain hanya iri
   hati (SA : 157)

10) Nyonya Pension sebagai tokoh pembantu

   Watak : baik hati




                                       3
      Corrrie memandang sejurus pada mata orang tua yang baik budi itu, dan
      percayalah ia, bahwa nyonya pensiun itu bersih sampai hati-hatinya (SA : 172)

   11) Tuan Chef sebagai tokoh pembantu

      Watak : Mata keranjang

      Tuan Chef berdiri di sebelahnya sambil berkata, “Bersedialah buat ke losmen.
      Marilah kita makan bersama-sama”. Sebelum Corrie menyahut tangannya sudah
      meraba jari-jari Corrie yang sedang menari di atas mesin itu (SA : 170)

   12) Piet sebagai tokoh pembantu

      Watak : setia kawan

      “Terima kasih, Piet! Benarlah engkau sahabat yang boleh diharapkan buat tempat
      bertanyakan jalan lurus” (SA : 198)

          Selain dari tokoh-tokoh itu, ada pula tokh-tokoh yang berperan sebagai

   pelengkap cerita, yaitu :

   1) Simmin sebagai pembantu Corrie

   2) Buyung, sebagai pembantu Hanafi

   3) Tuan direktur sebagai atasan corrie di tempat kerja

   4) Nyonya van Dammen sebagai penampung Corrie dan pemberi pekerjaan pada

      corrie

   5) Mina sebagai koki Corrie dan Hanafi

   6) Tuan dan Nyonya Brom sebagai administratur of Delings Bank

   7) Suze sebagai teman curhat Hanafi setelah ditinggal Corrie

   8) Dokter yang dipanggil untuk menyelamatkan nyawa Hanafi setelah peristiwa

      penelanan sublimat.



2. Alur

   Alur : Jalinan peristiwa di karya sastra untuk mencapai efek tertentu (pautannya

           dapat diwujudkan oleh hubungan tempoal / waktu dan oleh hubungan kausal

           / sebab akibat) (1988 : 914, KBBI)




                                          4
Alur dalam novel Salah Asuhan adalah alur maju, yakni dimulai dari persahabatan

antara Hanafi dan Corrie, lalu kisah cinta antara keduanya, hingga corrie meninggal

yang menyebabkan Hanafi menelan empat butir sublimat karena tak dapat hidup

tanpa Corrie.

Alurnya dapat dilihat dari judul tiap bab cerita, yakni :

I.          Dua orang sahabat

II.         Ayah dengan anak

III.        Bukan bunda salah mengandung

IV.         Dalam kebimbangan

V.          Dalam gelombang perasaan

VI.         Terbang membubung ke langit hijau

VII.        Ibu dengan anak

VIII.       Istri pemberian ibu

IX.         Durhaka pada ibubertemu kembali

X.          Bertemu kembali

XI.         Pertemuan jodoh

XII.        Istri pemberian ibunya

XIII.       Melepaskan kungkungan

XIV.        Hidup bersuka ria

XV.         Setelah menjadi suami istri

XVI.        Di dalam gelombang kehidupan

XVII.       Bercerai

XVIII.      Menempuh kehidupan batu

XIX.        Mertua dan menantu

XX.         Dari yang gelap kepada yang terang

XXI.        Tali percintaan

XXII.       Bertambah sempit alam rasanya




                                          5
   XXIII.      Setinggi-tinggi melambung jatuhnya ke tanah jua

   XXIV.       Membayar utang

   XXV.        Penutup



3. Latar

   Latar : Keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan di karya

            sastra (1988 : 501, KBBI)

   Latar dalam novel Salah Asuhan yang paling dominan adalah :

   1. Rumah Hanafi di Solok

      Sebagai mimpi, laksana suatu kapal, timbullah segala sesuatu yang sudah
      terlampau pada kenang-kenangannya. Terpandanglah rumah dan halaman yang
      disolok. Nampaknya ibunya duduk bersimpuh di atas balai-balai yang ditutup
      oleh permadani di muka dapur. Menghadapi tempat sirihnya. Terdengar suara
      Rapiah yang sedang mencumbu anknya di muka balai-balai itu. Sedang Syafei
      nampak merangkak-rangkak di bawahnya. (SA : 188)

   2. Rumah Hanafi dan Corrie di Gang Ketapang

      “Pada keesokan harinya, petang-petang, datanglah ia ke tempat Corrie di Gunung
      Sari, lalu berkata setelah duduk “Rumah sudah dapat cor! Di Gang Ketapang
      letaknya gang besar, sewanya tujuh puluh” (SA : 141)

4. Tema

   Tema : dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar pengarang,

            mengubah sajak, dsb.) (1988 : 921, KBBI)

   Tema dari cerita ini adalah tentang salah asuhan. “Salah benar Ibu mengasuh Hanafi
   masa Dahulu, karena sedikit pun ia tidak diberi pelajaran agama, sedang dari kecil ia
   sudah mengasingkan diri dari pada pergaulan bangsanya. Mudah-mudahan anak
   yang seorang ini janganlah hendknya menurut jejak ayahnya” (SA : 184)

5. Amanat

   Amanat : Gagasan yang mendasari karya sastra pesan yang ingin disampaikan

             pengarang kepada pembaca atau pendengar. (1988 : 161, KBBI)

   Amanat yang tersirat dari cerita adalah, Kita tidak boleh salah mengasuh anak, agar

   fi’ilnya tidak buruk.

   “Janganlah salah hendaknya mengasuh yang seorang ini supaya fi’il ayahnya tidak
   menurun pula kepadanya” (SA : 185)



                                          6
6. Sudut Pandang (Point of View)

   Sudut Pandang : Cara / dari sudut pandang siapa pengarang mengisahkan suatu

                      cerita (catatan Bahasa Indonesia)

   Pada cerita ini, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dari

   keseluruhan cerita, pengarang tidak turut dalam bagian cerita.

7. Majas

   Majas : Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam mengarang karya sastra

               (catatan Bahasa Indonesia)

   Majas yang terdapat dalam cerita ini kebanyakan menggunakan perumpamaan,

   seperti :

   “Apa pula yang terasa di hari ibu, yang terkalang di mata, ceritakanlah. Gunung
   talangkah hendak meletus, padi di sawah dimakan tikus?” (SA : 30)
   “Tapi itu wajiblah ibu menyelesaikan mana yang kusut, menjernihkan mana yang
   keruh. Jika mamakmu telah mengganjur diri, supaya terang, jika engkau hendak
   menolak, supaya nyata. Jangan tegantung di tengah-engah, ibarat duri dalam daging.
   Bagai bisul mengandung nanah.” (SA : 33)
   “Ujung beras ku makanm Hanafi. Selama engkau sekolah di Betawi, dan mamakmu
   pun sudah hidup berdikit-dikit, buat seorang perempuan kampung, uang seratus
   sebulan itu boleh diumpamakan bagi menakik darah di kuku” (SA : 87)




                                            7
                                     BAB III

                                    PENUTUP

A. Kesimpulan

        Dari beberapa pembahasan unsur intrinsik novel yang telah diuraikan, dapat

  disimpulkan bahwa :

  1. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun yang terdapat dalam novel.

  2. Unsur intrinsik terbagi 8 macam, yaitu tokoh, alur, latar, tema, amanat, sudut

     pandang, majas, watak/penokohan.

  3. Tema dari novel ini adalah Salah Asuhan

  4. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju

  5. Sudut pandang yang disajikan oleh pengarang adalah sudut pandang orang

     ketiga, ini menunjukkan bahwa kisah yang terdapat dalam novel ini bukanlah

     kisah nyata yang dialami diri sendiri oleh pengarang.

  6. Inti dari cerita ini adalah dampak dari salah asuhan

  7. Konflik yang terjadi disebabkan anggapan banyak orang pada kipling seorang

     pujangga inggris yang berbunyi “Timur tinggal Timur, Barat tinggal Barat, dan

     tidaklah keduanya akan menjadi satu”



B. Saran

  1. Kepada pembaca, kami menyarankan agar gemar membaca sastra-sastra klasik.

  2. Hendaknya kita mencintai budaya sendiri, tanpa meniru-niru budaya bangsa lain.

  3. Sebaiknya kita jangan membeda-bedakan teman karena statusnya, bangsanya,

     keturunannya.




                                          8
                   ANALISIS
         UNSUR INTRINSIK NOVEL
             SALAH ASUHAN
                 Karya : Abdoel Moeis


              Karya Ilmiah Ini Disusun

Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia




                        Oleh :

               1. Etikah Muhammad

               2. Lia Silviana Dewi

               3. Mujtahidatul Ilmi Fajriah

               4. Muti’ah Robi’ah al Adawiyah



                    Pembimbing :

              Dra. Hj. Sa’adatul Athiyah



  MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI
        TAMBAKBERAS JOMBANG
      TAHUN PELAJARAN 2010/2011
                                KATA PENGANTAR



        Alhamdulillah robbil alamin, puji syukur ke hadirat Allah yang telah

melimphkan rahmat dan kasih sayangNya yang tak pernah putus pada kita. Sehingga

dengan rodhoNya, kami dapat menyelesaikan tugas analisis novel yang berjudul

SALAH ASUHAN buah karya Abdul Moeis ini.

Kami pun sangat terpuaku akan penyajian kisah yang bersifat kasuistik dan bahasanya

yang terurai indah, sistematis, dan asing bagi kami. Namun itu semua merupakan suatu

tantangan tersendiri bagi kami untuk berusaha semaksimal mungin dalam mengerjakan

tugas ini.

        Kami menyadari bahwa karya ilmiah yang kami buat ini jauh dari sempurna.

Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca akan kami terima demi perbaikan-

perbaikan di waktu mendatang.

        Dan untuk semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak

langsung, terutama pada Ibu Hj. Sa’adatul Athiyah kami ucapkan terima kasih atas

bimbingan dan kritikan yang membuat kami terpacu untuk terus berusaha menjadi yang

terbaik, jazakumullah khoiron jaza.




                                                         Jombang, 23 Agustus 2010




                                                                  Penulis




                                         ii
                                                         DAFTAR ISI



Halaman Judul ........................................................................................................          i

Kata Pengantar ........................................................................................................        ii

Daftar Isi .................................................................................................................   iii

Sinopsis ...................................................................................................................   iv



BAB I         : PENDAHULUAN ...............................................................................                     1

                 A. Latar Belakang ...............................................................................              1

                 B. Tujuan .............................................................................................        1

                 C. Rumusan Masalah ..........................................................................                  1



BAB II : PEMBAHASAN ..................................................................................                          2

                 A. Unsur Intrinsik ................................................................................            2

                       1. Tokoh dan Penokohan / Watak ................................................                          2

                       2. Alur ..........................................................................................       4

                       3. Latar .........................................................................................       5

                       4. Tema .........................................................................................        5

                       5. Amanat .....................................................................................          5

                       6. Sudut Pandang ..........................................................................              6

                       7. Majas ........................................................................................        6



BAB III : PENUTUP ............................................................................................                  7

                 A. Kesimpulan ....................................................................................             7

                 B. Saran ..............................................................................................        7



DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................




                                                                  iii
                                    SINOPSIS



      Hanafi, pemuda pribumi warga solok yang bergaya kebarat-baratan bahkan
memandang rendah bangsanya sendiri telah jatuh cinta pada sahabatnya, corrie, gadis
bangsa barat yang amat cantik parasnya. Mereka berdua selalu memperdebatkan adat
barat dan timur yang bertentangan pada setiap percakapan mereka. Tetapi Corrie terlalu
gengsi mengungkapkan cintanya pada Hanafi, meski akhirnya Corrie menerima cinta
Hanafi.
      Tuan du Bussee ayah Corrie, seorang prancis yang sudag pensiun dari jabatan
arsitek, menasehati Corrie tentang pernikahan campuran antara orang Eropa dan Bumi
Putra bahkan nasehat itu mengarah kepada ketidaksetujuan pernikahan antara orang
eropa dan Bumiputra. Nasehat panjang lebar itu Ia sampaikan saat corrie meminta
pendapatnya.
      Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi sekolah orang-orang Belanda.
Hingga dewasa ia bergaya seperti orang Belanda. Ibunya sedih melihat tingkah Hanafi
yang selalu mencemooh orang dan adat Melayu. Saudara tua ibunya, guru kepala di
Bonjol merasa rugi menyekolahkan Hanafi dan datang hendak menjadikan Hanafi
menantunya, tetapi sia-sia. Ibunya ingin Hanafi menikahi Rapiah, Sepupunya untuk
membalas jasa Pamannya yang telah menyekolahkan Hanafi hingga tinggi.
      Dua tahun kemudian, Hanafi memperistri Rapiah, snelum Ia sendiri setuju dengan
ibunya. Acara pernikahan itu hampir saja batal karena Hanafi menolak dengan menikah
dengan dengan cara minangkabau, ia lebih memilih cara orang barat.
      Dua tahun berumah tangga, Hanafi selalu berperilaku buruk pada Rapiah. Tetapi
Rapiah tabah mempunyai suami seperti Hanafi. Banyak orang bilang, kesabarannya
sejajar dengan ulama, karena tak pernah sekalipun ia menentang suaminya, meskipun
Hanafi mencaci bahkan menamparnya, Rapiah hanya menunduk dan menangis. Hingga
akhirnya Rapiah melahirkan Syafei, anak Hanafi.
      Suatu ketika Hanafipergi ke Betawi, ia pergi berobat ke sana karena tangannya
digigit anjing gila, pada waktu Rapiah dan ibunya mengantar Hanafi ke pelabuhan
ibunya terus menangis, mengasihi Hanafi yang telah durhaka kepadanya hingga
keadaannya menjadi seperti itu.
      Di Betawi, Hanafi bertemu dengan Corrie, kekasih lamanya yang bersekolah di
sana, tetapi putus karena ayah Corrie wafat. Akhirnya, Hanafi memutuskan menjadi
“orang” Belanda dan menikahi corrie serta menceraikan Rapiah.
      Rapiah dan ibu Hanafi hanya bisa menangis membaca surat dai Hanafi akan
keputusannya menceraikan Rapiah. Sedangkan Hanafi dan Corrie hidup bersuka cita
setelah mereka menikah. Tetapi kebahagiaan itu berlangsung sesaat karena perlahan-
lahan mereka berdua dijauhi dari pergaulan, sebab dianggap melanggar aturan. Puncak
dari masalah rumah tangga mereka adalah ketika corrie sering didatangi oleh Tante Lien,
seorang penjual perempuan yang suka mengadu domba.
      Perceraian antara Hanafi dengan Corrie hanya karena Hanafi melihat bekas putung
rokok di rumahnya dan anting berlian baru yang di pakai Corrie, hanafi menyangka
Corrie berselingkuh, padahalitu puntung rokok Tante Lien dan anting Corrie dibeli dari
Tante Lien.
      Setelah bercerai Hanafi memutuskan untuk menginap di rumah temannya yang
berbangsa. Karena rumahnya dijual, sedangkan Corrie perge ke Semarang untuk
melupakan segala yang telah terjadi.
      Sementara itu, di Minangkabau, ibu Hanafi dan Rapiah tetap tinggal bersama
karena mereka terlanjur saling mengasihi. Hanafi akhirnya mengetahui kesalah-pahaman
antara Corrie dengan dirinya. Ia pun ke Rumah Sakit Paderi Semarang, karena Corrie
mengidap penyakit kolera dan dirawat di sana.




                                          iv
      Belum setengah jam ia menjenguk, corrie telah meninggal dan hanya berbicara
beberapa kata saja kepada Hanafi. Hanafi stres, dia pulang kekampung halamannya. Ia
sempat bertemu dengan anaknya dan Rapiah di pekan malam, tetapi Rapiah terburu-buru
pergi membawa Syafei.
      Hanafi sempat juga berbincang-bincang dengan ibunya di rumah makan
Belantung. Ibunya hanya menasehati, sedangkan Hanafi menyesal dan meminta maaf
pada ibunya.
      Cinta Hanafi sangat besar pada Corrie, tanpa Corrie alam terasa sempit baginya.
Akhirnya Hanafi bunuh diri dengan menelan banyak sublimat. Sebelum kejadian itu
Hanafi sempat memohon pada ibunya agar Syafei jangan sampai salah asuhan seperti
dirinya.




                                         v

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:8122
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:13