PENELITIAN TINDAKAN KELAS - DOC

Document Sample
PENELITIAN TINDAKAN KELAS - DOC Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                              PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
        Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan
   kemampuan guru dalam mengelola kelas, terutama kemampuan guru dalam
   menggunakan berbagai macam metode yang dapat menciptakan suasana
   nyaman dan menyenangkan. Sehingga dapat meningkatkan minat dan
   mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran baik secara mandiri ataupun
   kelompok. Sejauh ini belajar Bahasa Arab masih kurang diminati masyarakat
   jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini karena pada
   umumnya Bahasa Arab tidak menggema dalam lingkungan kehidupan sehari-
   hari. Untuk itu perlu cara untuk menciptakan suasana yang nyaman dan
   menyenangkan    dalam    pembelajaran    yang   dapat   menarik   minat   dan
   meningkatkan kemahiran berbahasa siswa dalam proses belajar mengajar
   Bahasa Arab.
        Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang
   sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang
   membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan
   sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi
   pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah laku. (Drs. H. Hamdani
   Ihsan dan Drs. H. A. Fuad Ihsan, 2007 : 163)
        Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara
   efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar menuju tujuan pendidikan.
   (Drs. H. Hamdani Ihsan dan Drs. H. A. Fuad Ihsan, 2007 : 163)
        Adapun tujuan pembelajaran bahasa itu sendiri adalah agar siswa mampu
   memperoleh empat kemahiran yaitu menyimak atau mendengar (listening atau
   istima’); berbicara (speaking atau al-kalam); membaca (reading atau al-
   qira’ah); dan menulis (writing atau al-kitabah). (Drs. H. Ahmad Izzan, M. Ag,
   2009 : 76)
        Dari keempat kemahiran di atas yang dirasa paling sulit adalah kemahiran
   berbicara. Karena kemampuan berbicara apabila tidak dipraktekkan secara
   langsung dan apabila tidak menjadi adat bagi pelajar sangatlah sulit. Kemahiran
   ini dianggap sulit dikarenakan kurang efektifnya pembelajaran Bahasa Arab di
   dalam kelas serta kurang menariknya metode yang digunakan oleh guru dalam
   memberikan pelajaran.
         Salah satu metode yang dianggap paling efektif untuk meningkatkan
   kemampuan berbicara adalah metode bermain peran. Karena dengan bermain
   peran mampu mengarahkan siswa kepada pemakaian kalimat dan ungkapan
   yang baik. Pemakaian bentuk-bentuk formal dan informal, sekaligus memupuk
   keberanian siswa terutama dalam menghadapi pihak penonton. (Ahmad Fuad
   Effendy, 2005 : 122)
         Dari     permasalahan   di   atas   dapat   dijadikan   landasan    untuk
   dilaksanakannya penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini, peneliti
   mengambil judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab
   Melalui Metode Bermain Peran di Pengajian Wethon Bahasa Arab PPP. Al-
   Fattah II (Al-Ikhlas) Tambakberas Jombang”.


B. Identifikasi Masalah
         Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan
   masalah dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut :
   1. Proses pembelajaran Bahasa Arab ada di pengajian weton PPP. Al-Fattah II
      Tambakberas jombang kurang kondusif.
   2. Rendahnya minat belajar santri PPP. Al-Fattah II Tambakberas Jombang
      pada mata pelajaran Bahasa Arab.
   3. Pembelajaran Bahasa Arab di PPP. Al-Fattah II Tambakberas Jombang
      masih bersifat monoton.
   4. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang variatif dan inovatif
   5. Kurangnya kemampuan berbicara Bahasa Arab santri dalam proses belajar
      mengajar.
C. Pembatasan Masalah
         Penelitian ini berusaha mendiskripsikan pembelajaran Bahasa Arab
   dengan metode bermain peran. Oleh karena itu penelitian ini hanya membatasi
   masalah sebagai berikut :
   1. Masalah peningkatan minat belajar santri.
   2. Masalah kemampuan siswa hanya terbatas pada kemampuan berbicara.
   3. Masalah metode yang digunakan hanya terbatas pada metode bermain
      peran.


D. Rumusan Masalah
         Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, dapat
   dirumuskan sebagai berikut :
   1. Bagaimana metode bermain peran itu?
   2. Bagaimana meningkatkan minat belajar santri melalui model bermain peran
      pada pembelajaran Bahasa Arab di PPP. Al-Fattah II Tambakberas
      Jombang?
   3. Apakah metode bermain peran mampu meningkatkan kemampuan berbicara
      Bahasa Arab di pengajian wethon Bahasa Arab PPP. Al-Fattah II
      Tambakberas Jombang?


E. Tujuan Penelitian
   1. Untuk mengetahui tentang metode bermain peran.
   2. Untuk meningkatkan minat belajar santri melalui metode bermain peran.
   3. Untuk mengetahui         apakah   mampu metode   bermain   peran   dalam
      meningkatkan kemapuan berbicara santri pada pembelajaran Bahasa Arab.


F. Manfaat Penelitian
         Adapun manfaat penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah sebagai
   berikut :
   a. Bagi Guru
      1. Guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya
          inovatif sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik
          pembelajaran serta bahan ajaran yang dipakainya.
      2. Meningkatkan kemampuan guru untuk memecahkan masalah yang
          muncul dari siswa.
      3. Membantu memberikan informasi peningkatan kamampuan siswa.
      4. Dapat meningkatkan minat guru untuk melakukan penelitian tindakan
          kelas.
          (Drs. Zainal Aqib, M.Pd, Drs. M. Maftuh, Sujak, S.Pd., M.Pd., Drs.
          Kawentar, 2009 : 32).
   b. Bagi Siswa
      1. Meningkatkan minat belajar santri pada mata pelajaran Bahasa Arab.
      2. meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Arab.
      3. Meningkatkan keberanian dalam mengekspresikan Bahasa Arab di
          dalam atau di luar pondok.
   c. Bagi Hazanah Ilmu Pengetahuan
           Dengan adanya penelitian tindakan kelas mampu mengembangkan
      hazanah keilmuan kita terutama dalam bidang pendidikan Bahasa Arab.


G. Hipotesis Tindakan
         Hipotesis dalam penelitian ini adalah keterampilan berbicara akan
   meningkat jika di berikan pembelajaran dengan metode bermain peran.


H. Penegasan Istilah
         Peniltian tindakan kelas ini berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan
   Berbicara Bahasa Arab Melalui Metode Bermain Peran (Role Playing) di
   Pengajian Wethon Bahasa Arab PPP. Al-Fattah II (Al-Ikhlas) Tambakberas
   Jombang”.
         Untuk menghindari salah pengertian mengenai istilah yang digunakan
   dalam penelitian ini, perlu adanya penegasan istilah sebagai berikut :
Upaya                : Usaha atau syarat       untuk menyampaikan (Pius
                      Abdillah, Drs. Anwar Syarifuddin : 462)
Meningkatkan         : Berasal dari kata dasar “tingkat” kemudian mendapat
                      imbuhan      me-kan      sehingga    menjadi       kata
                      meningkatkan yang artinya menaikkan (derajat atau
                      taraf), mempertinggi (DEPDIKBUD, 1993 : 1109)
Kemampuan            : Berasal dari kata dasar “mampu”, kemudian mendapat
                      imbuhan ke-an sehinga menjadi kata kemampuan
                      yang artinya kuasa, sanggup melakukan sesuatu;
                      dapat (Pius Abdillah, Drs. Anwar Syarifuddin : 213)
Berbicara            : Berasal dari kata dasar “bicara”, kemudian mendapat
                      imbuhan ber- sehingga menjadi kata berbicara yang
                      artinya mengungkapkan sesuatu secara lisan (Pius
                      Abdillah, Drs. Anwar Syarifuddin : 46)
Bahasa Arab          : Adalah sebuah bahasa yang berasal dari dialek
                      kabilah Quraisy yang kemudian dikembangkan dan
                      disempurnakan    dengan     unsur-unsur   dialek   dari
                      akbilah lainnya (Drs. H. Ahmad Izzan, M.Ag, 2009 :
                      16)
Metode               : Cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai
                      tujuan (Drs. Imansyah Alipandie : 72)
Metode bermain peran : Suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan
                      pada para siswa untuk mendramatisasikan sikap,
                      tingkah laku atau penghayatan sesorang seperti yang
                      dilakukannya dalam hubungan sosial sehari-hari
                      dalam masyarakat (Drs. Abu Ahmadi, Drs. Joko
                      Prasetya, 2005 : 80)
Wetonan              : Disebut juga bandongan atau halaqoh yang dimana
                      santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling
                      kyai atau dalam ruang (kelas) dan kyai menerangkan
                      pelajaran secara kuliah (Prof. Dr. H. M. Ridlwan
                      Nasir, MA, 2005 : 113)
                                      BAB II
                              KAJIAN PUSTAKA


1. Metode Bermain Peran (Role Playing, Sosiodrama)
   1.1 Pengertian Metode Bermain Drama
           Metode adalah cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan
      sesuatu (Pius A. Partanto, M. Dahlan Al-Barry : 461)
           Metode bermain peran adalah metode yang melibatkan interaksi
      antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Siswa
      melakukan peran masing sesuai dengan tokoh yang ia lakoni. Mereka
      berinteraksi sesama mereka melakukan peran terbuka. Metode ini dapat
      dipergunakan di dalam memperbaiki isi pelajaran yang baru. Mereka diberi
      kesempatan seluas-luasnya untuk memerankan sehingga menemukan
      kemungkinan      masalah     yang   akan    dihadapi   dalam   pelaksanaan
      sesungguhnya. Metode ini menuntuut guru untuk mencermati kekurangan
      dari peran yang diperankan siswa. (Drs. Abu Ahmadi, Drs. Joko Triprastyo,
      2005 : 85)
   1.2 Tujuan Penggunaan Metode Bermain Peran
      1. Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang menghadapi
         suatu situasi sosial tertentu.
      2. Menggambarkan bagaimana cara pemecahan suatu masalah sosial.
      3. Menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap sikap atau
         tingkah laku dalam situasi sosial tertentu.
      4. Memberikan pengalaman untuk menghayati situasi-situasi sosial tertetu.
      5. Memberikan kesempatan untuk meninjau suatu situasi sosial dari
         berbagai sudut pandang tertentu.
         (Drs. H. Abu Ahmadi, Drs. Joko Triprastyo; 2005 : 81)
      6. Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya
         mempunyai sifat malu dan takut terbiasa dan terbuka untuk
         menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
   7. Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa
      sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak,
      terutama yang berbakat barmain drama, lakon film dan sebagainya.
      (http://alhafidz84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-
      bermain-peran-role-playing-method)
1.3 Langkah-langkah Yang Ditempuh
   1. Bila sosiodrama baru ditetapkan dalam pengajaran, maka hendaknya
      guru menerangkannya terlebih dahulu teknik pelaksanaannya, dan
      menentukan diantara siswa yang tepat untuk memerankan lakon tertentu
      secara sederhana dimainkan di depan kelas.
   2. Menerapkan situasi dan masalah yang akan dimainkan dan perlu juga
      diceritakan jalannya peristiwa dan latar belakang cerita yang akan
      dipentaskan tersebut.
   3. Peraturan adegan dan persiapan mental dapat dilakukan sedemikian
      rupa.
   4. setelah sosiodrama itu dalam puncak klimaks maka guru dapat
      mengehentikan      jalannya   drama.   Hal   ini   dimaksudkan       agar
      kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat diselesaikan
      secara umum. Sehingga penonton ada kesempatan untuk berpendapat
      dan menilai sosiodrama yang dimainkan. Sosiodrama dapat pula
      dihentikan bila menemui jalan buntu.
   5. Guru dan siswa dapat memberikan komentar, kesimpulan atau berupa
      catatan jalannya sosiodrama untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya.
      (http://alhafidz84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-
      bermain-peran-role-playing-method)
1.4 Kebaikan dan Kelemahan Metode Bermain Peran
   a. Kebaikan
      1. Memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berperan aktif
         mendramatisasikan sesuatu masalah sosial yang sekaligus melatih
         keberanian serta kemampuannya melakukan suatu adegan di muka
         orang banyak.
         2. Suasana kelas sangat hidup karena perhatian para murid semakin
             tertarik melihat adegan-adegan seperti keadaan yang sesungguhnya.
         3. Para murid dapat mengahayati sesuatu peristiwa, sehingga mudah
             memahami,      membandingkan-bandingkan,        menganalisa    serta
             mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatannya sendiri.
         4. Anak-anak menjadi terlatih berpikir kritis dan sistematis.
      b. Kelamahan
         1. Metode ini membutuhkan ketekunan, kecermatan dan waktu cukup
             lama.
         2. Guru yang kurang kreatif biasanya sulit berperan menirukan sesuatu
             situasi sosial yang berarti pula metode ini baginya sangat tidak
             efektif.
         3. Ada kalanya para murid enggan memerankan suatu adegan karena
             merasa rendah diri atau malu.
         4. Apabila pelaksanaan dramatisasi gagak, maka guru tidak dapat
             mengambil sesuatu kesimpulan apapun yang berarti pula tujuan
             pengajaran tidak dapat tercapai.
             (Drs. Imansyah Alipandie : 97)
   1.5 Evaluasi Bermain Peran
      a. Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam
         kegiatan diskusi tetang keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapai dalam
         bermain peran.
      b. Guru menilai efektivitas dan keberhasilan bermain peran.
      c. Guru membuat bermain peran yang telah dilaksanakan dan telah dinilai
         tersebut dalam jurnal sekolah (kalau ada) atau pada buku catatan guru.
         (Prof. Dr. Oemar Hamalik, 2009 : 217)


2. Teknik Pengajaran Kemahiran Berbicara
        Kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa
   yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa modern, termasuk Bahasa Arab.
   Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian,
  komunikasi timbal balik dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
  (Ahmad Fuad Effendy, 2005 : 112)
         Pada   hakikatnya,    kemahiran    berbicara     merupakan    kemahiran
  menggunakan bahasa rumit. Dalam hal ini, kemahiran ini dikaitkan dengan
  pengutaraan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang
  benar-tepat. Jadi, kemahiran bersangkut paut dengan masalah buah pikiran atau
  pemikiran tentang kemampuan mengatakan apa yang telah dipikirkan dan
  dirasakan dengan bahasa yang benar-tepat. Jadi, kemahiran berkaitan erat
  dengan sistem leksikal, gramatikal, semantik, dan tata bunyi. Semua
  kemampuan itu memerlukan persediaan kata dan kalimat tertentu yang cocok
  dengan situasi yang dikehendaki yang di dalamnya memerlukan banyak latihan
  uacapan dan pengutaraan lisan (ekspresi). (Drs. H. Ahmad Izaan, M.Ag., 2009 :
  138)


3. Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab Dengan Metode Bicara
  Lisan (Oral Method)
  3.1 Tahap-Tahap Latihan Berbicara
            Pada tahap-tahap permulaan, latihan berbicara dapat dikatakan serupa
     dengan     latihan   menyimak.   Dalam     latihan   menyimak     ada   tahap
     mendengarkan dan menirukan, latihan mendengarkan dan mienirukan ini
     merupakan gabungan antara latihan dasar untuk kemahiran menyimak dan
     kemahiran berbicara.
            Namun harus disadari bahwa tujuan akhir dari keduanya adalah
     berbeda. Tujuan akhir dari menyimak adalah kemauan memahami apa yang
     disimak. Sedangkan tujuan akhir latihan pengucapan adalah kemampuan
     ekspresi, yaitu mengemukakan ide atau pikiran pada orang lain. Keduanya
     merupakan syarat mutlak bagi sebuah komunikasi lisan yang efektif secara
     timbal balik.
            Berikut ini diberikan beberapa model latihan berbicara :
     a. Latihan Asosiasi dan Identifikasi
     b. Latihan Pola Kalimat (Pattern Practice)
     c. Latihan percakapan
   d. Bercerita
   e. Diskusi
   f. Wawancara
   g. Drama
   h. Berpidato (Ahmad Fuad Effendi. 2005: 114-122).


3.2 Aspek-aspek yang dinilai dalam kegiatan berbicara
         Adapun    aspek-aspek yang dinilai       dalam   kegiatan   berbicara,
   sebagaimana disarankan oleh para ahli adalah sebagai berikut :
   a. Aspek kebahasaan
       Pengucapan (makhroj)
       Penempatan tekanan (mad, syiddah)
       Nada dan irama
       Pilihan kata
       Pilihan ungkapan
       Susunan kalimat
       Variasi
   b. Aspek non kebahasaan
       Kelancaran Penguasaan topik
       Keterampilan
       Penalaran
       Keberanian
       Kelincahan
       Ketertiban Kerajinan
       Kerjasama (Ahmad Fuad Effendi, 2005: 125).
3.3 Penting Yang Harus Diperhatikan Guru
         Mengakhiri uraian tentang latihan kemahiran berbicara, terdapat hal-
   hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru bahasa arab, antara lain:
   a. Dalam melatih percakapan, guru hendaknya memberikan contoh
      percakapan lebih dahulu dengan intonasi dan ekspresi yang benar-benar
   menggambarkan pengertian secara tepat. Dalam percakapan ini jangan
   dilupakan aspek budaya orang arab yang sudah lazim dalam percakapan
   dan dianggap sebagai sopan santun dalam pergaulan.
b. Dalam percakapan bebas hendaknya guru memberikan perhatian khusus
   kepada siswa yang pemalu. Berikan dorongan kepada mereka untuk
   tampil dan berbicara. Juga harus dihindari monopoli oleh beberapa
   siswa saja.
c. Dalam mengikuti percakapan atau pembicaraan siswa, sebaiknya guru
   bersabar untuk tidak terburu-buru memberikan pembetulan setiap kali
   siswa berbuat salah. Tunggulah sampai seorang siswa sampai selesai
   berbicara atau bahkan sampai seluruh kegiatan selesai. Sebab hal itu di
   samping bisa mengganggu jalannya kegiatan juga mempengaruhi
   keberanian siswa.
d. Susunan       kelas   hendaknya   diubah   sedemikian   rupa   sehingga
   memungkinkan partisipasi seluruh anggota kelas dalam kegiatan.
   Buatlah berbentuk lingkaran, tapal kuda, atau setengah lingkaran. Sekali
   waktu kegiatan percakapan bisa di lakukan di tempat terbuka di luar
   kelas.
e. Azaz-azaz keefektifan berbicara mencakup unsur-unsur kebahasaan dan
   non kebahasaan yang secara rinci telah di bahas sebelumnya (Ahmad
   Fuad Effendi, 2005: 126).
                       LAPORAN
             PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA ARAB
    MELALUI METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING)
          DI PENGAJIAN WETHON BAHASA ARAB
              PPP. AL-FATTAH II AL-IKHLAS
                    TAMBAKBERAS
                       JOMBANG




                          Oleh :
                    YETI FARIKHAH
                 NIMKO : 2008.126.020.043


                   Dosen Pembimbing :
               Bpk. Moh. Sholahuddin, M.Pd.




     PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA)
      SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
               TAMBAKBERAS JOMBANG
                          2010
                            HALAMAN PENGESAHAN
                 LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS




1. Judul                : Upaya meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab
                            melalui metode bermain peran (role playing) di pengajian
                            wethon bahasa arab PPP. Al-Fattah II Al-Ikhlas
                            Tambakberas Jombang
2. Identitas Peneliti   :
   a. Nama Lengkap : Yeti Farikhah
   b. Jenis Kelamin     : Perempuan
   c. Asal Sekolah      : Sekolah     Tinggi   Islam    Bani    Fattah   (STIBAFA)
                            Tambakberas Jombang
   d. Alamat Sekolah : Jln. KH. Wahab Hasbullah No. 120 A Tambakberas Gg.
                            II Jombang Telp. (0321) 855530
   e. Alamat Rumah : Candimulyo, Kebumen Jawa Tengah
3. Lama Penelitian      : 3 bulan (Januari sampai dengan Maret 2010)




   Mengetahui,
   Dosen Pembimbing                                          Peneliti




   Moh. Sholahuddin, M.Pd.                                   Yeti Farikhah
                             KATA PENGANTAR




       Puji syukru kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya kepada penulis sehingga Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran
Bahasa Arab dengan judul “Upaya meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa
Arab santri melalui metode Bermain Peran (Role Playing) di pengajian wethon
Bahasa Arab PPP. Al-Fattah II (Al-Ikhlas) Tambakberas Jombang” telah selesai
sesuai dengan recana melalui laporan ini, kami sampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak KH. Abdul Kholiq Hasan, M.Hi. selaku ketua Sekolah Tinggi Islam Bani
   Fattah (STIBAFA)
2. Bapak M. Asrori Ma’shum, M.Pd.I selaku Ketua Program Studi Bahasa Arab
   Sekolah Tinggi Islam Bani Fattah (STIBAFA)
3. Hj. Lathifah Hidayaty selaku pengasuh PPP. Al-Fattah II (Al-Ikhlas)
   Tambakberas Jombang
4. Bapak Moh. Sholahuddin, M.Pd. selaku dosen pembimbing dalam penelitian
   tindakan kelas yang selalu memberikan bimbingan dan pengarahan.
5. Pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan penelitian ini.


       Untuk memperbaiki dalam penyusunan penelitian tindakan kelas ini, saran
dan kritik yang konstruktif sangat diperlukan untuk menyempurnakannya. Mudah-
mudahan laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.


                                                      Jombang, 21 April 2010
                                                              Peneliti




                                                           Yeti Farikhah