kaidah fiqh

Document Sample
kaidah fiqh Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                              PENDAHULUAN


     Hamdan wa Syukran kami haturkan kepada Tuhan pencipta seluruh alam,
karena atas pertolongan dan inayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan pembahasan
Kaidah Aghlabiyyah tentang kaidah Al-Daf’u Aqwa min Al-Raf’I dan Al-Rukhashu la
Tunathu bi Al-Ma’ashi. Semoga sedikit ulasan dalam makalah ini dapat memberikan
manfaat. Amin…




                                      1
                                         BAB II
                                    PEMBAHASAN
                                    KAIDAH KE-13
                                    ‫الدفع أقوى من الرفع‬
                    Menolak Lebih Kuat Daripada Menghilangkan


      Dalam ilmu kedokteran sering kita mengenal istilah “mencegah lebih baik
daripada mengobati”. Atau dalam bahasa akademis dikenal jargon tidakan preventif
lebih baik daripada tindakan kuratif. Dua motto inilah yang hampir mendekati makna
substansial kaidah ini.
      Dalam tataran hukum praktis, air dua qullah dinilai mempunyai potensi untuk
“mempertahankan” dirinya dari unsur eksternal yang dapat menjadikannya najis.
Disamping itu, air yang sudah mencapai dua qullah telah disepakati kesuciannya.
Berbeda dengan air mesta‟mal (air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis)
yang diperbanyak kuantitasnya menjadi dua qullah, kesuciannya masih diperselisihkan
oleh ulama. Sebab dalam kasus pertama (air yang sejak semula berjumlah dua qullah)
memiliki potensi menolak (daf‟u) atau percampuran unsur eksternal. Sementara pada
kasus yang kedua (air musta‟mal yang ditambah hingga mencapai dua qullah), hanya
mempunyai potensi menghilangkan (kuratif; raf‟u). Padahal kedudukan daf‟u jelas
lebih kuat daripada raf‟u, disamping alasan lain, yaitu status suci yang tidak
diperselisihkan. (KH. Maimun Zubair : 2006. h : 153).
      Persoalan-persoalan yang terangkum dalam kaidah ini antara lain :
1. Perbedaan agama antara dua calon suami-istri adalah faktor yang menyebabkan
   keduanya terhalang (daf‟u) melangsungkan pernikahan. Namun bila faktor ini
   terjadi pada saat pernikahan sudah terjadi, misalnya salah satunya ada yang
   murtad, maka ikatan pernikahan diantara mereka tidak otomatis hilang (raf‟u),
   melainkan ditunda sampai masa „iddah sang istri habis.
2. Adanya air sebelum sholat bagi orang yang bertayammum adalah menjadi
   penghalang untuk masuk ke dalam sholat, sedang adanya air di tengah-tengah
   sholat atau setelah selesainya sholat adalah tidak membatalkan sholat, karena
   sholatnya telah gugur dengan memakai tayammum.
3. Orang yang berangkat bepergian sebelum masuk puasa, yakni sebelum terbitnya
   diperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalanan (‫ ,)دفع‬sedang bila saat berangkat
   aia telah melaksanakan berpuasa, maka tidak diperbolehkan berbuaka di
   perjalanan, sebab berbuka di perjalanan baginya sama dengan ‫ ,رفع‬padahal status
   ini tidak lebih kuat dari pada ‫.دفع‬




                                            2
                                    KAIDAH KE-14
                                  ‫الرخص ال تناط بالمعاصي‬
             Keringanan Hukum Tidak Digantungkan Pada Kemaksiatan


      Beberapa rukhshoh itu tidak bisa dihubungkan dengan beberapa maksiat, oleh
karena itu orang yang bermaksiat tidak boleh melakukan rukhshoh.


      Definisi Rukhshoh :
                     ‫الزخصة هي الحكن الوتغيز هن صعوبة إلي سهولة لعذر هع قيام سبب الحكن األصلي‬
      Rukhshoh adalah hukum yang berubah dari berat menjadi ringan, karena ada
udzur beserta masih adanya hukum yang asli. (KH. Yahya Husnan : 2009, h : 154)


      Macam-macam Rukhshoh :
      Dr. Abd. Al-Karim Zaidan dalam Al-Wajiz mengungkapkan, rukhshoh dapat
dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Diperbolehkan     melakukan     hal-hal    yang    haram     dalam    keadaan     darurat,
   sebagaimana diperbolehkannya mengucapkan kalimat kufur ketika terancam akan
   dibunuh, jika tidak mengucapkan kalimat itu.
2. Boleh meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan puasa ramadlan bagi
   musafir atau orang sakit untuk menghilangkan madlorot.
3. Disahkannya sebagian akad yang menjadi kebutuhan masyarakat umum, seperti
   akad salam.
      Imam As-Subki menambahkan pelaksanaan rukhshoh yang termasuk dalam
golongan khilaful aula, seperti orang musafir yang berbuka puasa padahal kondisinya
memungkinkan untuk berpuasa. Dan rukhshoh yang wajib dilaksanakan seperti
memakan bangkai dalam keadaan dlorurot. (KH. Yahya Husnan, 2009 : 155)


      Contoh Kaidah :
1. Orang yang bepergian dengan tujuan maksiat, maka ia tidak boleh mengqoshor,
   menjama‟ sholat, tidak boleh meninggalkan sholat jum‟at, tidak boleh
   meninggalkan puasa di bulan Romadlon.
2. Orang yang melakukan istijmar (istinja‟) dengan memakai barang-barang yang
   dimuliakan, maka belum diangga cukup.


      Ada tiga istilah tentang maksiat dengan perjalanan, yaitu :
1. ‫( الوعصية بالسفز‬maksiat sebab bepergian)




                                              3
   Yaitu seorang musafir yang bermaksiat disebabkan perjalanan yang dilakukannya.
   Contoh : ia melakuakn perjalanan dengan tujuan mencuri maka musafir seperti ini
   tidak mendapatkan rukhshoh.
2. ‫( الوعصية في السفز‬maksiat di dalam perjalanan)
   Yaitu musafir yang bertujuan baik, kemudian di perjalanan ada dorongan
   melakukan kemaksiatan.
   Contoh : musafir yang bertujuan melakukan ibadah haji, namun di tengah jalan
   mencuri barang orang lain. Musafir ini tetap diperbolehkan melaksanakan
   rukhshoh.
3. ‫( الوعصية بالسفز في السفز‬maksiat sebab bepergian di dalam bepergian)
   Yaitu musafir yang pada mulanya perjalanan yang dilakukan punya tujuan baik,
   namun di tengah perjalanan itu niatnya berubah.
   Contoh : Perjalanan yang asalnya bertujuan untuk silaturrahim, kemudian di
   tengah perjalanan niatnya berubah menjadi tujuan mencuri. Menurut pendapat
   yang ashoh ia tidak boleh melakukan rukhshoh ketika niatnya sudah berubah
   untuk maksiat.


      Anak Kecil yang Melakukan Maksiat
      Anak-anak pun ternyata dapat melakukan perbuatan melanggar agama. Namun
maksiat yang dilakukan oleh seorang bocah yang belum terbebani kewajiban agama,
tidak diartikan sebagai maksiat yang sebenarnya. Fiqh menyebutnya sebagai maksiat
secara lahir (shurotan) atau dengan kata lain bentuknya saja perbuatan itu maksiat,
tapi pada dasarnya bukan. Walaupun demikian Syekh Zakaria berpendapat seorang
bocah yang melakukan maksiat tidak boleh melakukan rukhshoh walaupun ia tidak
berdosa.




                                           4
                                    BAB III
                                   PENUTUP


     Dari keterangan di atas dapat kita tarik benang merah pada pembahasan pertama
bahwasannya kedudukan daf’u jelas lebih kuat daripada raf’u yang mana bahwa air
dua qullah memiliki potensi menolak atas percampuran eksternal, sementara air
musta‟mal yang ditambahi hingga mencapai dua qullah hanya memiliki potensi
menghilangkan.
     Dan pada pembahasan berikutnya rukhshoh akan sangat bergantung pada faktor
yang mendorong timbulnya keharusan untuk melaksanakannya. Maka apabila faktor
yang melatarbelakangi rukhshoh tersebut perbuatan yang haram, maka rukhshoh tidak
dapat diwujudkan.
     Semoga secuil goresan pena dalam makalah ini dapat menjadikan manfaat dan
barokah. Apabila banyak ditemukan kesalahan dalam penulisan dan penyampaian
kami mohon maaf.
                         Wa Allah Al-A’lam bi Al-Showab




                                        5
                             DAFTAR PUSTAKA


Haq, Abdul dkk., Formulasi Nalar Fiqh : Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, Surabaya :
     Khalista. 2006.
Husnan, H.M. Yahya, Al Tsamaroh Al Mardliyyah, Pustaka Al-Muhibbin. 2009.




                                       6
            KAIDAH AGHLABIYYAH
     AL-DAF’U AQWA MIN AL-RAF’I DAN
  AL-RUKHSHOH LA TUNATHU BI AL-MA’ASHI



       Diajukan dalam diskusi mata kuliah Kaidah Fiqh




                     Dosen Pengampu :
                   KH. Abdul Wahab, Lc.




                           Oleh :
                      Nikmatul Izzah




SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
           TAMBAKBERAS JOMBANG
                           2010




                             7
                                              DAFTAR ISI




BAB I     PENDAHULUAN ................................................................................            1
BAB II    PEMBAHASAN....................................................................................          2
          KAIDAH KE-13 ‫.......................................................... الدفع أقوى هن الزفع‬             2
          KAIDAH KE-14 ‫.................................................. الزخص ال تناط بالوعاصي‬                  3
BAB III   PENUTUP ............................................................................................    5
          Daftar Pustaka ......................................................................................   6




                                                       8

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:499
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:8