SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH

Document Sample
SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH Powered By Docstoc
					                   SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH




I.   Definisi Ushul Fiqh
     Ushul Fiqh terdiri dari dua kata, kata ushul (‫ )أصّل‬dan kata fiqh (َ‫ .)اهفل‬Dilihat dari

     tata bahasa (Arab) rangkaian kata ushul dan fiqh tersebut dinamakan dengan
     tarkib idhafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian
     ushul bagi fiqh.
     Kata ushul (‫ )أصّل‬adalah bentuk jama’ dari kata ashl (‫ )األصل‬yang menurut

     bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain, atau bermakna
     fondasi sesuatu, baik bersifat materi maupun nonmateri. Sehingga ushul fiqh
     berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.
     Adapun menurut istilah (terminologi) memiliki beberapa pengertian, antara lain :
     1. Asl dapat berarti dalil (‫ )اهدهٖل‬atau landasan hukum seperti dalam ungkapan

        yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim :
              ...‫أصل ّجّة اهزنبث اهنخبة أ اهدهٖل عوٓ ّجّتِب اهنخبة كبل اهلل خعبهٓ ... ّ آخّا اهزنبث‬

        Ashl bagi yang diwajibkan zakat, yaitu Al-Kitab: Allah Ta‟ala berfirman: ...
        “dan tunaikanlah zakat!
     2. Dapat bermakna kaidah kulliyah (‫ ,)اهلبعدث اهنوٖج‬yaitu aturan/ketentuan umum,

        seperti dalam ungkapan sebagai berikut:
        ٓ‫إتبحج اهيٖخج هويطظر خالف األصل أٔ ٌخبهف هولبعدث اهنوٖج ّ ُٕ نل يٖخج حراى كبل خعبه‬

                                                                                                 ‫ر‬
                                                                              ... ‫ح ّيح عوٖنى اهيٖخج‬

        Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl,
        yakni dari ketentuan atau aturan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram;
        Allah Ta‟ala berfirman: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai...”
     3. Rajih (‫ )اهراجح‬yang berarti terkuat, seperti ungkapan para ahli ushul fiqh :



                                               1
                                  ‫االصل فٕ اهنالى اهحلٖلج‬

       Yang terkuat dari (kandungan) suatu ungkapan adalah arti hakikatnya.
4. Far‟u (‫ )اهفرع‬yang berarti suatu ungkapan para ahli ushul fiqh:

                                      ‫اهّهد فرع هالة‬

                            Anak adalah cabang dari ayah.
5. Mustashhab (‫ ,)اهيسخصحة‬artinya adalah memberlakukan hukum yang ada sejak

   semula selama tidak ada dalil yang mengubahnya. Misalnya seseorang yang
   telah berwudlu meragukan apakah ia masih suci atau sudah batal wudlunya.
   Tetapi ia merasa yakin betul belum melakukan sesuatu yang membatalkan
   wudlu. Atas dasar keyakinan ini, ia tetap dianggap suci (masih berwudlu).
Dari kelima pengertian ushul secara bahasa tersebut maka pengertian yang biasa
dipakai dalam ilmu ushul fiqh adalah dalil, yaitu dalil-dalil fiqh. Dengan melihat
pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui bahwa ushul fiqh sebagai
rangkaian dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh dan aturan-aturan/ketentuan-
ketentuan umum bagi fiqh.
Fiqh (َ‫ )اهفل‬menurut bahasa, berarti paham atau tahu, atau pemahaman yang

mendalam yang membutuhkan pengerahan potensi akal. Pengertian ini dapat
ditemukan dalam Surat Thaha ayat 27-28, yang berbunyi :
                             ٕ‫ّ احول علدث يً هسبٌٕ ٖفلِّا كّه‬

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka memahami perkataanku.
(QS. Thaha (20): 27-28)
Pengertian fiqh secara etimologi, juga ditemukan dalam sabda Rasulullah SAW :
                                        ‫ل‬
                             ًٖ‫يً ٖرد اهلل تَ خٖرا ٖف َِّ فٕ اهد‬

Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka Ia akan memberikan
pemahaman agama (yang mendalam). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad ibn
Hambal, At-Turmidzi, dan Ibn Majjah).




                                        2
Adapun menurut istilah (terminologi), sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid Al-
Jurjaniy, bahwa fiqh adalah :
                                                     ‫اهعوى تبألحنبى اهشرعٖج اهعيوٖج يً أدهخِب اهخفصٖوٖج‬

Ilmu tentang hukum-hukum syara‟ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang
terperinci.
Abdul Wahhab Khallaf menulis tentang definisi fiqh :
                                         ‫يجيّعج األ حنبى اهشرعٖج اهعيوٖج اهيسخفبدث يً أدهخِب اهخفصٖوٖج‬

Kumpulan hukum-hukum syara‟ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang
terperinci.
Adapun ilmu ushul fiqh menurut Abdul Wahhab Khallaf :
                                                                     ‫ص‬
       ‫اهعوى تبهلّاعد ّ اهتحّد اهخٕ ٖخّ ّل تِب إهٓ اسخفبدث األحنبى اهشرعٖ ج اهعيوٖج يً أدهخِب اهخفصٖوٖج‬

Ilmu      tentang        kaidah-kaidah         (aturan-aturan/ketentuan-ketentuan)                dan
pembahasan-pembahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-
hukum syara‟ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Muhammad Abu Zahrah menulis tentang pengertian ushul fiqh adalah :
                          ‫اهعوى تبهلّاعد اهخٓ خرسى اهيٌبُج إلسخٌتبظ األحنبى اهعيوٖج يً أدهخِب اهخفصٖوٖج‬

Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan untuk memperoleh
hukum-hukum syara‟ mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang terperinci.
Muhammad Abu Zahrah juga memberikan definisi ushul fiqh dengan ungkapan
yang lain, yaitu :
                                  ‫اهعوى تبهلّاعد ّ اهتحّد اهخٓ ٖخّصل تِب إهٓ اسخفبدث االحنبى اهشرعٖج‬

Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam)
cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara‟.
dalam mendefinisikan ushul fiqh sebagai satu bidang ilmu, terdapat dua definisi
yang dikemukakan ulama Syafi’iyah dan jumhur ulama.
1. Ulama Syafi’iyyah mendefinisikan ushul fiqh dengan :
                                        ‫يعرفج دالئل اهفلَ اجيبال ّ نٖفٖج اإلسخفبدث يٌِب ّ حبل اهيسخفٖد‬



                                               3
       Mengetahui dalil-dalil fiqh secra global dan cara menggunakannya serta
       mengetahui keadaan orang yang menggunakannya (mujtahid).
    2. Jumhur ulama ushul fiqh, yang terdiri dari ulama Hanafiyyah, Malikiyyah,
       dan Hanabilah, mendefinisikan ushul fiqh dengan :
                              ‫اهلّاعد اهخٓ ّٖصل اهتحد فِٖب اهٓ اسخٌتبظ األحنبى يً أدهخِب اهخفصٖوٖج‬

       Mengetahui kaidah-kaidah kulli (umum) yang dapat digunakan untuk
       mengistimbathkan hukum-hukum syara‟ yang bersifat amaliah melalui dalil-
       dalilnya yang rinci.


II. Hubungan Ushuk Fiqh dan Fiqh
    Hubungan ilmu Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti hubungan ilmu manthiq
    (logika) dengan filsafat, bahwa manthiq merupakan kaedah berfikir yang
    memelihara akal, agar tidak terjadi kerancuan dalam berfikir. Juga seperti
    hubungan ilmu nahwu dengan bahasa Arab, dimana ilmu nahwu merupakan
    gramatika yang menghindarkan kesalahan seseorang di dalam menulis dan
    mengucapkan bahasa Arab. Demikian juga ushul fiqh adalah merupakan kaidah
    yang memelihara fuqaha‟ (jamak dari faqih) agar tidak terjadi kesalahan di dalam
    mengistimbathkan (menggali) hukum.
    Di samping itu, fungsi ushul fiqh adalah membedakan antara istinbath yang benar
    dengan yang salah. Sebagaimana ilmu nahwu berfungsi untuk membedakan
    antara susunan bahasa yang benar dengan susunan bahasa yang salah. Dan ilmu
    manthiq untuk mengetahui argumentasi yang ilmiah serta kesimpulan yang ilmiah
    pula.


III. Obyek dan Kajian Ushul Fiqh
    Jika berangkat dari definisi ushul fiqh yang dikemukakan ulama Syafi’iyah:
                                     ‫يعرفج دالئل اهفلَ اجيبال ّ نٖفٖج اإلسخفبدث يٌِب ّ حبل اهيسخفٖد‬




                                            4
 Mengetahui dalil-dalil fiqh secara global dan cara menggunakannya, sertra
 mengetahui keadaan orang yang menggunakannya (mujtahid).
 Maka yang menjadi objek kajian para ulama ushul fiqh adalah dalil-dalil yang
 bersifat ijmali (global), seperti kehujahan ijma‟ dan qiyas. Ushul fiqh juga
 membahas bagaimana cara meng-istinbath-kan hukum dari dalil-dalil, seperti
 kaidah mendahulukan hadits mutawatir dari hadits ahad dan mendahulukan nash
 dari dzahir. Dalam ushul fiqh dibahas juga syarat-syarat orang yang menggali
 hukum dari dalil.
 Untuk lebih terinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang dalil
   Objek kajian ilmu ushul fiqh adalah dalil syar‟i yang bersifat umum ditinjau
   dari segi ketetapan-ketetapan hukum yang bersifat umum. Seorang pakar ahli
   ushul fiqh membahas tentang qiyas dan ke-hujahan-nya, tentang dalil „amm
   yang membatasinya, dan tentang perintah (amr) dan dalalah-nya. Ahli ilmu
   ushul fiqh tidak akan membahas mengenai dalil-dalil juz‟iyyah, tidak pula
   mengenai hukum-hukum juz‟iyyah yang ditunjukinya; akan tetapi ia hanya
   membahas terhadap dalil kulli dan hukum kulli yang ditunjukinya, supaya ia
   dapat membuat kaidah-kaidah umum bagi pengertian berbagai dalil, agar
   diterapkan seorang faqih terhadap dalil-dalil juz‟iyyah untuk menghasilkan
   hukum yang rinci. Seorang faqih tidak membahas mengenai dalil kulli maupun
   hukum kulli yang ditunjukinya, akan tetapi ia hanya membahas mengenai dalil
   juz‟i dan hukum juz‟i yang ditunjukinya.
2. Pembahasan tentang hukum
   Pembahasan tentang hukum dalam ilmu ushul fiqh adalah secara umum, tidak
   dibahas secara terperinci hukum bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang
   hukum ini, meliputi pembahasan tentang macam-macam hukum dan syarat-
   syaratnya. Adapun yang menetapkan hukum (Al-hakim), orang yang dibebani
   hukum (Al-Mahkum „Alaih) dan syarat-syaratnya, ketetapan hukum (Al-




                                        5
      Mahkum bih) dan macam-mcamnya, dan perbuatan-perbuatan yang ditetapi
      hukum (Al-Mahkum fih) serta syarat-syaratnya.
   3. Pembahasan tentang kaidah
      Pembahasan tentang kaidah yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh
      hukum dari dalil-dalil-nya antara lain mengenai macam-macamnya, ke-hujjah-
      annya, dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.
   4. Pembahasan tentang ijtihad
      Dalam hal ini dibicarakan tentang macam-macamnya, syarat-syarat bagi orang
      yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kacamata
      ijtihad dan hukum melakukan ijtihad.
      Adapun Muhammad Az-Zuhaili menambahkan satu pokok kajian, yaitu :
   5. Mencarikan jalan keluar dari dalil-dalil yang secara zahir dianggap
      bertentangan, baik melalui al-jam‟u wa at-taufiq (pengkompromian dalil),
      tarjih (menguatkan salah satu dari dalil-dalil yang bertentangan), nasakh atau
      tasaqut ad-dalilain (pengguguran kedua dalil yang bertentangan). Misalnya
      pertentangan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits atau pertentangan hadits
      dengan pendapat akal.


IV. Sejarah dan Perkembangan Ushul Fiqh
    Dalam A History of Islamic Law, NJ. Coulson menyatakan bahwa ushul fiqh
    dibukukan pada abad ke-3 H atau pada masa awal Imam Syafi’i (w. 204 H) dan ia
    dianggap sebagai perintis atau bapak yurisprudensi dalam Islam bukan berarti
    masa-masa sebelumnya tidak ada upaya-upaya istinbath ataupun         pemikiran-
    pemikiran hukum Islam.
    Secara garis besar Asafri Jaya Bakri menguraikan sejarah perkembangan ushul
    fiqh dibagi dalam dua tahap besar, yaitu (1) Benih pemikiran ushul fiqh sebelum
    dibukukan, dam (2) Pembukuan ushuk fiqh.




                                        6
1. Benih pemikiran ushul fiqh sebelum dibukukan
   Pada masa Nabi, aktivitas ijtihad sangat dianjurkan oleh Nabi. Hadits tentang
   pengutusan Mu’adz Ibn Jabbal ke Yaman sebagai qadli, dalam peristiwa itu
   Nabi bersabda :
   ‫نٖف خلطٓ إذا عرض هم كطبء؟ كبل أكطٓ تنخبة اهلل، كبل فإً هى خجد فٕ نخبة اهلل؟ كبل فتسٌج‬

   ٓ‫رسّل اهلل، كبل فإً هى خجد فٕ سٌج رسّل اهلل؟ كبل أجخِد رأٔ ّ ال أهّ. فطرة رسّل اهلل عو‬

                         ‫صدرٍ ّ كبل اهحيد هلل اهذْ ّفق رسّل رسّل اهلل نيب ٖرطٓ رسّل اهلل‬

   Bagaimana engkau (Mu‟adz) mengambil sutau keputusan hukum terhadap
   permasalahan hukum yang diajukan kepadamu? Jawab Mu‟adz: Saya akan
   mengambil suatu keputusan hukum berdasarkan Kitab Allah (Al-Qur‟an).
   Kalau kamu tidak mendapatkannya dalam Kitab Allah? Jawab Mu‟adz, saya
   akan mengambil putusan berdasarkan atas sunnah Rasulullah. Tanya Nabi,
   jika tidak engkau temukan dalam sunnah? Jawab Mu‟adz, saya akan
   berijtihad dan saya tidak akan menyimpang. Lalu Rasulullah SAW menepuk
   dada Mu‟adz seraya mengatakan segala puji bagi Allah yang telah memberi
   taufiq Rasulnya pada sesuatu yang diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya.
   Melakukan ijtihad mendapatkan legalitas sebagai upaya manusia mencari
   solusi permasalahan yang dijumpainya. Rasul bersabda: ‫اٌخى أعوى تأيّردٌٖبنى‬

   (kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu). Selain ijtihad, Nabi sendiri
   pada dasarnya memberikan isyarat terhadap kebolehan melakukan ijtihad
   setidak-tidaknya     dalam     bentuk     qiyas.    Sebagaimana       hadits    yang
   menggambarkan upaya qiyas yang dilakukan oleh Nabi ketika seorang sahabat
   datang kepada Nabi menanyakan tentang keharusan penunaian kewajiban
   ibadah haji bapaknya yang sedang sakit. Nabi menegaskan keharusan
   penunaiannya dengan melakukan peng-qiyas-an terhadap pembayaran utang
   antara sesama manusia. Selengkapnya hadits ini berbunyi:




                                        7
‫جبءخَ إيرأث خذعيٖج فلبهح ٖب رسّل اهلل إً أتٕ أدرنخَ فرٖطج اهحج ّ هً ٖحج، ّ ُّ ال ٖسخيسم‬

                                                 ‫و‬
َ‫عوٓ اهراحوج هيرطَ أفأحج عٌَ، فلبل صّٓ اهلل عوَٖ ّ سوى أرٖح هّ نبً عوٓ أتٖم دًٖ اكطٖخ‬

                                                  ٕ‫عٌَ كبهح ٌعى كبل فدًٖ اهلل احق أً ٖلط‬

Seorang wanita namanya Khusa‟miah datang kepada Nabi dan bertanya? Ya
Rasulullah! Ayah saya seharusnya telah menunaikan kewajiban ibadah haji,
dia tidak kuat duduk di atas kendaraan karena sakit. Apakah saya harus
melakukan haji untuknya? Jawab Rasulullah dengan bertanya bagaimana
pendapatnu jika ayahmu mempunyai utang? Apakah engkau harus
membayar? Perempuan itu menjawab:Ya, Nabi berkata utang kepada Allah
lebih utama untuk dibayar.
Setalah Nabi wafat, penerapan aspek-aspek ushl fiqh di masa sahabat dan
tabi‟in semakin tampak. Penerapan aspek-aspek yang berkaitan langsung
dengan nash Al-Qur’an. Misalnya pemikiran sahabat Abdullah ibn Mas’ud
yang menerapkan nasikh mansukh dalam pemecahan permasalahan hukum.
Bertolak dari nasikh mansukh ini, ia berpendapat bahwa iddah perempuan
hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sampai ia melahirkan anaknya,
sebab QS. Ath-Thalaq (65): 4 diturunkan setelah QS. Al-Baqarah (2): 234
yang menjelaskan iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya itu tidak
dalam keadaan hamil adalah empat bulan sepuluh hari.
Contoh lain aspek ushul fiqh dalam bentuk qiyas adalah keputusan Abu Bakar
untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Walaupun
mendapat bantahan dari Umar ibn Khattab dan sahabat yang lain yang
mendasarkan pendapat mereka dengan berkata bahwa haram hukumnya
membunuh orang-orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Namun Abu Bakar menolak pendapat merela dengan berkata bahwa saya akan
memerangi orang-orang yang membedakan antara salat dan zakat. Abu Bakar
dalam kaitan ini meng-qiyas-kan zakat dengan shalat.




                                      8
2. Pembukuan ushul fiqh
   Dalam tarikh Islam ditemukan perbedaan pendapat tentang siapa yang
   pertama kali menyusun kaidah-kaidah ushul fiqh. Kalangan pendukung Imam
   Abu Hanifah berpendapat bahwa yang pertama kali menyusun kitab ushul fiqh
   adalah Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan. Menurut mereka,
   Imam Abu Hanifah yang pertama-tama menjelaskan metode istinbath dalam
   bukunya Ar-Ra‟yu, sedangkan Abu Yusuf, sebagai penyusun kitab ushul fiqh
   dalam madzhab Hanafi.
   Golongan malikiyah mengakui bahwa Imam Malik adalah orang yang pertama
   berbicara tentang ushul fiqh. Namun mereka tidak menganggap Imam Malik
   sebagai penyusun pertama kali kitab ushul fiqh. Di kalangan Syi’ah Imamiyah
   muncul pendapat bahwa yang pertama menyusun kitab ushul fiqh adalah
   Muhammad Al-Baqir ibn Ali ibn Zain Al-Abidin, yang dilanjutkan oleh
   putranya Imam Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq. Menurut Assad Haidar
   bahwa Imam Baqir adalah pewletak dasar ushul fiqh, sedangkan orang yang
   pertama menyusun adalah Hisyam ibn Hakam dengan kitabnya Al-Ahfaz dan
   Yunus ibn Abd Ar-Rahman yang menulis Ikhtilaf Al-Hadits wa Masail.
   Berbeda pula dengan golongan Syafi’iyyah yang berpendapat bahwa yang
   menyusun kitab ushul fiqh pertama kali adalah Muhammad Ibn Idris Asy-
   Syafi’i (w. 204 H). Menurut Al-Allamah Jamaluddin Al-Asnawi bahwa
   mereka mengakui Imam Syafi’i sebagai tokoh besar yang pertama menyusun
   buku ushul fiqh dengan karya monumentalnya Ar-Risalah.
   Terlepas dari berbagai pendapat yang ada, jika karya ushul fiqh yang menjadi
   kriteria dalam menentukan penulisan dan penyusunan awal ilmu ushul fiqh
   ini, maka kitab ushul fiqh Ar-Risalah, karya Imam Syafi’i ini dapat disebut
   sebagai penulisan pertamanya. Mengutip pendapat Jamaluddin As-Sayuthi,
   disepakati bahwa Imam Syafi’i adalah peletak dasar ilmu Ushul Fiqh, karena
   ia melakukan pengkajian dan penulisan tersendiri. Hal ini terjadi pada akhir
   abad ke-2 H dan awal abad ke-3 H.




                                    9
V.    Kitab-Kitab Ushul Fiqh dari Berbagai Aliran dan Madzhab
      Setelah Ar-Risalah, muncullah berbagai karya para ulama dalam ilmu ushul fiqh,
      di antaranya:

     1. Shadaqah Al-Hanafi (wafat th 221 H).

     2. An-Nasikh Wal-Mansukh karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).

     3. Al-Ijma’, Ibthal At-Taqlid, Ibthal Al-Qiyas, dan buku lain karya Dawud bin Ali
        Az-Zhahiri (200-270 H).

     4. Al-Mu’tamad karya Abul-Husain Muhammad bin Ali Al-Bashri Al-mu’taziliy
        Asy-Syafi’i (wafat th 436H).

     5. Al-Burhan karya Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini/Imamul-
        haramain (410-478 H).

     6. Al-Mustashfa karya Imam Al-Ghazali Muhammad bin Muhammad (wafat 505
        H).

     7. Al-Mahshul karya Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razy (wafat 606 H).

     8. Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam karya Saifuddin Ali bin Abi Ali Al-Amidi (wafat
        631 H).

     9. Ushul Al-Karkhi karya Ubaidullah bin Al-Husain Al-Karkhi (wafat 340 H).

     10. Ushul Al-jashash karya Abu Bakar Al-Jashash (wafat 370 H).

     11. Ushul as-Sarakhsi karya Muhammad bin Ahmad As-Sarakhsi (wafat 490 H).

     12. Kanz Al-Wushul Ila ma’rifat Al-Ushul karya Ali bin Muhammad Al-Bazdawi
        (wafat 482 H).




                                          10
13. Badi’un-Nizham karya Muzhaffaruddin Ahmad bin Ali As-Sa’ati Al-hanafi
   (wafat 694 H).

14. At-Tahrir karya Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid yang dikenal
   dengan Ibnul Hammam (wafat 861 H).

15. Jam’ul-jawami’ karya Abdul Wahab bin Ali As Subki (wafat 771 H).

16. Al-Muwafaqat karya Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Al-gharnathi yang dikenal
   dengan nama Asy-Syathibi (wafat 790 H).

17. Irsyadul-fuhul Ila Tahqiq ‘Ilm Al-Ushul karya Muhammad bin Ali bin
   Muhammad Asy-Syaukani (wafat 1255 H).




                                    11
    SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH

      Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
                     Ushul Fiqh Semester II


                      Dosen Pembimbing :
                  H. Saiful Hidayat, Lc. M.Hi




                             Oleh :
                         Erik Wahyudi
                        Yorgie Perkasa
                         M. Ubaidillah




SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
            TAMBAKBERAS JOMBANG
                         2009/2010
                                                       DAFTAR ISI


Halaman Judul .......................................................................................................          i
Daftar Isi ................................................................................................................   ii
I.     Definisi Ushul Fiqh ........................................................................................            1
II.    Hubungan Ushul Fiqh dan Fiqh .....................................................................                      4
III. Obyek dan Kajian Ushul Fiqh ........................................................................                      4
IV. Sejarah dan Perkembangan Ushul Fiqh ..........................................................                             6
V.     Kitab-Kitab Ushul Fiqh dari Berbagai Aliran dan Madzhab ..........................                                     10




                                                                ii

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4077
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:13