RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SAW by z41n

VIEWS: 616 PAGES: 6

									                  RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SAW

A. Arab Sebelum Islam
          Dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa arab sebelum
   Islam, orang hanya membatasi pembicaraan hanya pada Jazirah Arab. Jazirah Arab
   terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Sebagian
   besar daerah Jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan
   memiliki keadaaan dan sifat yang berbeda-beda karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga
   bagian :
   1. Sahara Langit memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke
       barat.
   2. Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah timur
       sampai selatan Persia.
   3. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam
       bagaikan terbakar.
          Penduduk Sahara sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai
   gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna
   mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka kambing dan
   onta.
          Dapaun daerah pesisir, penduduk sudah hidup menetap dengan mata
   pencaharian bertani dan berniaga. Karena itu, meraka sempat membina berbagai
   macam budaya, bahkan kerajaan.
          Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi
   menjadi dua golongan besar, yaitu Qahthaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adaniyun
   (keturunan Ismail bin Ibrahim). Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan
   ‘Adaniyun, dan wilayah selatan didiami oleh golongan Qahthaniyun.
          Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya
   kesukua Badui. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Beberapa
   kelompok kabilah membentuk suku (tribe). Mereka sangat menekankan hubungan
   kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan
   bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka bereperang. Karena itu peperangan antar
   suku sering sekali terjadi. Sikap ini tampaknya telah menjadi tabiat yang mendarah
   daging dalam diri orang arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai
   wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai agama
   Islam lahir.
          Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak
   berkembang. Karena itu, bahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka
   didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Sejarah mereka hanya bisa
   diketahui dari dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam.
   Pengetahuan itu diperoleh melalui syair-syair yang beredar dikalangan perowi syair.
   Dengan begitu sejrah dan sifat masyarakat Badui Arab dapat diketahui, antara lain,
   bersemangat tinggi dalam mencai nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam, dan
   juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.
          Dengan kondisi alami yang seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat
   Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya terjaga, jauh lebih
   murni dari bangsa-bangsa lain.
          Lain halnya dengan penduduk negeri yang telah berbudaya dan mendiami
   pesisir jazirah Arab, sejarah mereka dapat diketahui lebih jelas. Mereka selalu
   mengalami perubahan sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang
   mengitarinya.
          Melihat bahasa dan hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan,
   tidak mungkin bangsa Arab tidak pernah memiliki peradaban yang tinggi, apalagi
   hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Yakni, bangsa Arab ikut
   memberi saham dalam peradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa
   Islam. Golongan Qahthaniyun, misalnya, pernah mendirikan kerajaan Saba’ dan
   kerajaan Himyar di Yaman, bagian selatan jazirah Arab. Kerajaan Saba’ inilah yang
   membangun bendungan Ma’arib, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber
   air untuk seluruh wilayah kerajaan. Setelah kerajaan mengalami kemunduran,
   muncul kerajaan Himyar menggantikannya. Kerajaan baru ini terkenal dengan
   kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarungi India, Cina, Somalia, dan
   Sumatera ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan
   dimonopoli Himyar.
          Terutama setelah bendungan Ma’arib runtuh, masa gemilang kerajaan Himyar
   sedikit demi sedikit memudar. Banyak bangunan roboh dibawa air dan sebagian
   besar penduduk mengungsi ke bagian utara jazirah. Meskipun demikian, karena
   daerahnya berada pada jalur perdagangan yang strategis dan tanahnya subur, daerah
   ini tetap menjadi incaran kerajaan besar Romawi dan Persia yang selalu bersaing
   untuk menguasainya.
          Setelah kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh
   kerajaan Romawi dan Persia. Pusat perdagangan Arab serentak kemudain beralih ke
   daerah Hijaz. Makkah pun mejadi masyhur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy.
   Kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka. Pedagangan menjadi semakin
   maju. Akan tetapi kemajuan Mekkah tidaklah sebanding dengan kemajuan yang
   pernah dicapai kerajaan-kerajaan Arab sebelumnya. Meskipun demikian, dengan
   Makkah menjadi pusat peradaban, bangsa Arab bagaikan memulai babakan baru
   dalam hal kebudayaan dan peradaban.
          Jadi, apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan
   pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju daripada
   kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui
   beberapa jalur; yang terpenting diantaranya adalah: (1) Melalui hubugan dagang
   dengan bangsa lain, (2) Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan,
   dan (3) Masuknya misi Yahudi dan Kristen.
          Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa
   Syiria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat
   pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat,
   banyak berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan
   Hirrah. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab,
   yang terpenting diantaranya adalah Yatsrib. Penduduk koloni ini terdiri dari orang-
   orang Yahudi dan orang-orang Arab yang menganut agama Yahudi.
          Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa
   Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya pada banyak
   dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung

B. Riwayat Hidup Nabi Muhammad: Dakwah dan Perjuangan
   1. Sebelum Masa Kenabian
            Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang
      kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Nabi Muhammad lahir dari keluarga
      terhormat yang relatif miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak Abdul Muthalib,
      seorang kepala suku Qurasy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah
      binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan nama Tahun
      Gajah (570 M), karena pada tahun itu pasukan Abrahah, gubernur kerajaan
      Habsyi (Ethiopia), dengan menunggang gajah menyerbu Makkah untuk
      menghancurkan Ka’bah.
            Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah,
      meningal dunia tiga bulan setelah dia menikahi Aminah. Muhammad kemudian
      diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyyah. Dalam asuhanyalah
      Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah itu, kurang lebih dua
   tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam tahun, dia
   menjadi yatim piatu.
         Setealah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung
   jawab merawat Muhammad. Namun, dua tahun kemudian Abdul Muthalib
   meninggal dunai karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada
   pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib, dia sangat disegani dan
   dihormati orang quraisy dan penduduk Makkah secara keseluruhan, tetapi dia
   miskin.
         Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing
   keluarganya dan kambing penduduk Makka, dan Nabi Muhammad ikut untuk
   pertama kali dalam kafilah dagang ke Syiria (Syam) dalam usia baru 12 tahun
   yang dipimpin oleh Abu Thalib. Di Bushra, sebelah selatan Syiria, ia bertemu
   dengan pendeta kristen bernama Bukhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda
   kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita kristen.
         Pada usia yang keduapuluh lima, Muhammad berangkat ke Syria
   membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama
   menjanda, Khadijah. Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah
   kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan perkawinan segera
   dilaksanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40
   tahun.
         Peristiwa penting yang memeprlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi
   pada saat usianya 35 tahun. Waktu itu bangunan Ka’bah rusak berat. Perbaikan
   Ka’bah dilaksanakan secara gotong royong. Para penduduk Makkah membantu
   pekerjaan itu secara suka rela. Tetapi pada saat terakhir, ketika pekerjaan tinggal
   mengangkat dan meletakkan hajar aswad di tempatnya semula, timbul
   perselisihan. Setiap suku merasa berhak melakukan tugas terakhir dan terhormat
   itu. Perselisihan semakin memuncak, namun akhirnya para pemimpin Quraisy
   sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa, akan
   dijadikan hakim untuk memutuskan perkara ini. Ternyata, orang yang pertama
   masuk itu adalah Muhammad. Ia pun dipercaya menjadi hakim. Ia lantas
   membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tengah, lalu
   meminta seluruh kepala suku memegang tepi kain itu dan mengangkatnya
   bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu, muhammad kemudian
   meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian, perselisihan
   dapat diselesaikan dengan bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan
   cara penyelesaian seperti itu.

2. Masa Kerasulan
         Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu memisahkan diri
   dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua Hira. Pada tanggal 17
   Ramadlan tahun 611 M, malaikat jibril muncul dihadapannya menyampaikan
   wahyu Allah yang pertama. Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti
   Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai Nabi. Dengan dakwah secara diam-diam
   ini belasan orang telah memeluk agama Islam.
         Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilakukan secara individual
   turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Setelah dakwah
   terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah
   rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut nabi, semakin keras tantangan
   dilancarkan kaum Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang
   mendorong orang Quraisy menentang seruan Islam itu. (1) Mereka tidak dapat
   membedakan antara kenabian dan kekuasaan, (2) Nabi Muhammad menyerukan
   persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya, (3) Para pemimpin Quraisy
   tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di
   akhirat, (4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berkar
pada bangsa Arab, (5) pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai
penghalang rezeki.
      Untuk kali berikutnya, mereka langsung kepada nabi Muhammad. Mereka
mengutus Utbah bin Rabiah, seorang ahli retorika untuk membujuk nabi. Mereka
menawarkan tahta, wanita dan harta asalkan Nabi Muhammad bersedia
menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak oleh Muhammad dengan
mengatakan: “demi Allah, biar pun mereka meletakkan matahari di tangan
kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini,
hingga agama ini menang atau akau binasa karenanya”.
      Setelah cara-cara diplomatik dan bujuk rayu yang dilakukan oleh kaum
Quraisy gagal, tindakan-tindakan kekerasan secara fisik yang sebelumnya sudah
dilaksanakan semakin ditingkatkan. Kekerasan yang dilakukan oleh penduduk
Mekkah terhadap kaum Muslimin itu, mendorong Nabi Muhammad untuk
mengungsikan sahabat-sahabatnya ke luar Mekkah. Pada tahun ke lima
kerasulannya, nabi menetapkan Habsyah (Ethiopia) sebagai negeri tempat
pengungsian, karena Negus (raja) negeri itu adalah seorang yang adil.
Rombongan pertama sejumlah sepuluh orang pria dan empat orang wanita.
Kemudian menyusul rombongan kedua sejumlah hampir seratus orang, dipimpin
oleh Ja’far ibn Abu Thalib. Usaha orang-orang Quraisy untuk menghalangi
hijrah ke Habsyah ini, termasuk membujuk Negus agar menolak kehadiaran umat
Islam di sana, gagal. Di samping itu, semakin kejam mereka memperlakukan
umat Islam, semakin banyak orang yang masuk agam ini. Bahkan, di tengah
meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk Islam. Hamzah dan
Umar ibn Khattab. Dengan masuk Islamnya dua tokoh besar ini posisi umat
Islam semakin kuat.
      Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy.
Mereka menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Muhammad yang
bersandar pada perlindungan Bani Hasyim. Dengan demikian, untuk
melumpuhkan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Muhammad mereka harus
melumpuhkan Bani Hasyim terlebih dahulu secara keseluruhan. Cara yang
ditempuh adalah pemboikotan. Mereka memutuskan segala bentuk hubungan
dengan suku ini. Tidak seorang penduduk Makkah pun diperkenankan
melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim.
      Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy
menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang
keterlaluan. Namun, tidak lama kemudian Abu Thalib, paman Nabi yang
merupakan perlindungan utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga
hari setelah itu, Khadijah, istri Nabi, meninggal dunia pula. Peristiwa itu terjadi
pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi
Muhammad SAW. Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah
mengisra’ dan memikrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian itu.
      Setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj, suatu perkembangan besarbagi
kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk
Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj,
masuk Islam dalam tiga gelombang. Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian.
Kedua, pada tahun keduabelas kenabian delegasi Yatsrib terdiri dari sepuluh
orang dari suku Khazraj dan dua orang suku Aus. Mereka meminta Nabi agar
berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala
ancaman. Nabi pun menyetujui usul yang mereka ajukan.
      Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara nabi
dan orang-orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap
kaum Muslimin. Hal ini membuat nabi segera memerintahkan para sahabatnya
untuk hijrah ke Yatsrib.
              Dalam perjalanan ke Yatsrib nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di
       Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib, nabi
       istirahat beberapa nari lamanya. Dia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di
       halaman rumah ini Nabi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertama yang
       dibangun Nabi, sebagai pusat peribadatan. Sementara itu, penduduk Yatsrib
       menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba.
       Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-elukan kadatangan
       Beliau dengan penuh kegembiraan. Sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama
       kota Yatsrib diubah menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi) atau sering pula
       disebut Madinatul Munawwarah (Kota yang bercahaya), karena dari sanalah
       sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

C. Pembentukan Negara Madinah
          Setelah tiba dan diterima penduduk yastrib (madinah), nabi resmi menjadi
   pemimpin penduduk kota itu. babak baru dalam sejarah islam pun dimulai.ajaran
   Islamyang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi
   muhammad mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga
   sebagai kepala negara.
          Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera
   meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan
   masjid, selain untuk tempat salat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan
   jiwa mereka.
          Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, persaudaraan sesama Muslim.
   Nabi mempersaudarakan antara golongan Muhajirin, orang-orang hijrah dari
   Makkah ke Madinah, dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan
   ikut membantu kaum Muhajirin tersebut.
          Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak
   beragama Islam.
          Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah kuat.
   Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Makkah dan musuh-
   musuh Islam lainnya menjadi risau. Kerisauan ini akan mendorong orang-orang
   Quraisy berbuat apa saja. Nabi sebagai kepala pemerintahan mengatur siasar dan
   membentuk pasukan tentara. Umat Islam diizinkan berperang dengan dua alasan :
   (1) untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya dan (2) menjaga
   keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-
   orang yang menghalang-halanginya.
          Perang pertama yang sangat menentukan masa depan negara Islam ini adalah
   Perang Badar, perang antara kaum Muslimin dengan msyrik Quraisy. Pada tanggal 8
   ramadhan tahun ke 2 Hijriah, nabi selama 305 orang muslim bergerak keluar kota
   membawa perlengkapan yang sederhana. Di daerah Badar. Pasukan nabi bertemu
   dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 sampai 1000 orang nabi sendiri
   yang memegang komando. Dalam perang ini kaum muslimin keluar sebagai
   pemenang.
          Tidak lama setelah perang tersebut, nabi menandatangani sebuah piagam
   perjanjian dengan beberapa suku Badui yang kuat. Suku Badui ini ingin sekali
   menjalin hubungan dengan nabi setelah melihat kekuatan nabi semakin meningkat.
          Bagi kaum Quraisy Makkah, kekalahan mereka dalam perang Badar
   merupakan pukulan berat. Mereka bersumpah akan membalas dendam. Pada tahun
   ke-3 H, mereka berangkat menuju Madinah membawa tidak kurang dari 3000
   pasukan berkendaraan unta, 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid ibn
   Walid, 700 orang di antara mereka memakai baju besi. Muhammad menyongsong
   kedatangan mereka dengan pasukan sekitar seribu orang.
          Pada tahun ke-6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, nabi memimpin
   sekitar seribu kaum Muslimin berangkat ke Makkah bukan untuk berperang,
melainkan untuk melakukan ibadah Umrah. Sebelum tiba di Makkah, mereka
berkemah di Hudaibiyah. Penduduk Makkah tidak mengizinkan mereka masuk kota.
Akhirnya, diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyyah.
        Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka’bah dan menguasai
Makkah sudah makin terbuka. Ada dua faktor pokok yang mendorong kebijaksanaan
ini : pertama, Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dalam Islam, Islam bisa
tersebar keluar. Kedua, apabila suku nabi sendiri dapat diislamkan, Islam akan
memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai
kekuasaan dan pengaruh yang besar. Setahun kemudian, ibadah haji ditunaikan
sesuai dengan rencana.
        Selama dua tahun perjanjian Hudaibiyyah berlangsung, dakwah Islam sudah
menjangkau seluruh jazirah Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir
seluruh jazirah Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan, menggabngkan diri
dalam Islam. Perjanjian Hudaibiyyah ternyata menjadi senjata bagi umat Islam untuk
memperkuat dirinya. Oleh karena itu, secara sepihak orang-orang kafir Quraisy
membatalkan perjanjian tersebut. Melihat kenyataan ini, rasulullah segera bertolak
ke Makkah dengan sepuluh ribu orang tentara untuk melawan mereka. Nabi
Muhammad tidak mengalami kesukaran apa-apa dan memasuki kota Makkah tanpa
perlawanan. Beliau tampil sebagai pemenang.
        Sekalipun Makkah dapat dikalahkan, masih ada dua suku Arab yang masih
menentang, yaitu Bani Tsaqif di taif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah.
Kedua suku ini berkomplot membentuk pasukan untuk memerangi Islam. Mereka
ingin menuntut bela atas berhala-berhala mereka yang diruntuhkan nabi dan umat
Islam di Ka’bah. Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tentara menuju Hunain untuk
menghadapi mereka. Pasukan ini dipimpin langsung oleh beliau sehingga umat Islam
memenangkan pertempuran dalam waktu yang tidak terlalu lama.
        Dengan ditaklukkannya Bani Tsaqif dan Bani Hawazin, seluruh Jazirah Arab
berada di bawah kepemimpinan nabi dan pada tahun ke-9 dan 10 H (630-6320 M)
banyak suku dari berbagai pelosok Arab mengutus delegasinya kepada Nabi
Muhammad menyatakan ketundukan mereka. Masuknya orang Makkah dalam
agama Islam rupanya mempunyai pengaruh yang amat besar pada penduduk padang
pasir yang liar itu.
        Setelah itu, Nabi Muhammad segera kembali ke Madinah. Beliau mengatur
organisasi masyarakat kabilah yang telah memeluk agama Islam. Petugas keagamaan
dan para dai dikirim ke berbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan ajaran-
ajaran Islam, mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan setelah itu, nabi
menderita sakit demam. Tenaganya dengan cepat berkurang. Pada hari Senin,
Tanggal 12 Rabiul Awal 11 H / 8 Juni 632 M., Nabi Muhammad SAW wafat di
rumah istrinya Aisyah.
        Dari perjalanan sejarah nabi ini, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad
SAW., disamping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin
politik, dan administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi
pemimpin politik, beliau berhasil menundukkan seluruh jazirah Arab ke dalam
kekuasannya.

								
To top