Docstoc

puasa asyura

Document Sample
puasa asyura Powered By Docstoc
					                               PENDAHULUAN


      Di dalam syari‟at Islam Allah memerintahkan seoang mukallaf untuk berpuasa.
Di dalam puasa terdapat 2 kriteria yaitu wajib dan sunnah dikatakan wajib
dikarenakan terdapat nash-nash yang mengindikasikan kewajiban tersebut. Yang
kedua adalah sunnah yakni puasa yang dianjurkan oleh nabi yang digali melalui
hadist-hadist.
      Dalam kesempatan saya ini saya mencoba mengurai pembahasan puasa sunnah
yang terkhusus pada puasa „Asyuro‟. Semoga dengan adanya tulisan ini kita dapat
mengambil manfaatnya.
                                     PEMBAHASAN


                                                                               866

                                           J                                  J

                                          1
                                                               1

Artinya :
          “Aisyah berkata : bangsa quraisy biasa di zaman jahiliyyah bepuasa pada
          hari asyura’ sehingga ada kewajiban bulan romadlon. Lalu nabi berkata :
          siapa yang akan berpuasa maka puasalah dan yang tidak maka boleh
          berbuka”


Perbandingan hadits dari kitab-kitab lain


                                                                              1002

                                                                   J

                                                        2
                                                            2951       1002



                                                                       2219 221

                                 J

                            3




                 J                                                                11

      J                                   J




1
  Muhammad Fuad Abdul Baqi, Lu’lu’ wa Al Marjan, hal.
2
  Imam Bukhori, Shohih Bukhori
3
  Imam Nawawi, Shohih Muslim bi Syarh An-Nawawi, hal.
                                                                                  4



Dipandang dari segi sanad
        Dari ketiga hadits di atas dipandang sekilas dari sanadnya sudah jelas bebeda
namun banak ulama‟ mengakui bahwa ketiga perowi yang meriwayatkan hadits
tersebut diyakini sebagai perowi-perowi yang tsiqah.
        Dikarenakan juga kedudukan sanad dalam hadits sangat penting, karena hadits
yang diperoleh / diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan
sanad suatu periwayatan hadits dapat di ketahui mana yang dapat diterima ataupun
yang ditolak dan mana hadits shohih dan tidak5.
        Berikut diagram sanad yang ditempuh oleh sang perowi :6

                                      Nabi

                                  Ibnu Umar

                                     Nafi‟

                                Malik bin Anas



    Abdullah bin Yusuf      Al-Qa‟nabi          Yahya bin Yahya       Qutaibah bin Said



      Imam Bukhori                                Imam Muslim

        Dilihat dari diagram di atas antara imam Malik, imam Bukhari, dan imam
Muslim masih dalam qurun yang terbilang dekat dengan nabi maka dari itu
kemungkinan kecil dari perowi tersebut haditsnya yang ditolak.


Dipandang dari segi matan
        Dilihat dari matannya sendiri nabi memerintahkan untuk puasa di hari asyura‟.
Dalam ilmu ushul fiqh terdapat qaidah “ketika ada suatu perintah menggunakan




4
  Jalaluddin bin Abdirrohman As-Suyuthi, Tanwirul Hawalik Syarh ‘Ala Muwaththo’ Imam Malik.
  Hal.
5
  Drs. H. Muhammad Ahmad – Drs. H. Mudzakir, Ulumul Hadits, hal. 54.
6
  Joynboll, common link
lafadz     maka perintah itu wajib dilakukan”7. Namun di situ terdapat dalalah yang

mana seseorang boleh melakukannya dan boleh untuk meninggalkannya.
       Dan kesemua redaksi matan hadits di atas sangat berbeda namun ada tambahan-
tambahan lafadz yang mana untuk menerangkan kondisi Nabi pada saat itu.


Penjelasan Lafadz
       Kesemua hadits di atas tidak banyak terdapat lafadz-lafadz yang perlu
dijelaskan. Namun ulama‟ hanya bertentangan soal penamaan dan nahwunya, misal,
kata            menurut Ibnu Munir, lafadz Asyuro‟ yaitu isytiqaq (pengasalan kata) dan

juga tasmiyyah (penamaan)8. Dari segi nahwunya imam qurthubi berpendapat bahwa
lafadz Asyura‟ itu mengambil dari sighat mubalaghahnya lafadz Asyirah9, namun
berbeda dengan pendapatnya Abu Mansur al-Jawaliqi, ia mengatakan bahwa tidak
pernah mendengar dari wazan                kecuali lafadz           ,       dan    dari

lafadz      ,       ,    .10


Sejarah Puasa Asyura’
       Di dalam hari asyura‟ banyak cerita yang terkandung di dalamnya dan dari
situlah mungkin hari asyura‟ sangat utama lebih-lebih di sunnahkan untuk puasa.
Diantaranya, dahulu orang quraisy pernah berbuat dosa besar di zaman jahiliyyah dan
mereka di suruh puasa hari asyura‟ untuk meleburnya 11. Dari cerita di atas dan atas
dasar redaksi hadits yang lain menggambarkan bahwa puasa asyura‟ sudah ada sejak
puasa romadlon belum diwajibkan.
       Namun ada beberapa kalangan yang musykil bilamana kesunahan atau perintah
Nabi untuk puasa asyura‟ tersebut disandarkan pada orang-orang jahiliyyah (dalam
suatu redaksi menyebutkan orang0orang yahudi) melakukannnya.12
       Imam Mazari berkomentar bisa saja peristiwa itu terjadi atas dasar Allah
menurunkan wahyu atas kebenaran itu dan bisa juga dilihat dari haditsnya yang
sanadnya sudah mencapai taraf mutawatir13.



7
  K.H. M. Djamaluddin Ahmad, Miftah Al-Wushul, Pustaka Muhibbin, hal. 16.
8
  Jalaluddin bin Abdirrohman As-Suyuthi, op.cit., Hal.
9
  Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Nail al-Author, jilid II hal. 311.
10
   Jalaluddin bin Abdirrohman As-Suyuthi, op.cit., Hal.
11
   Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, op.cit., jilid II hal. 313.
12
   Ibid., hal. 312.
13
   Ibid., hal. 312.
Pertentangan Ulama Madzhab
      Ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa hari Asyura‟. Imam Abu
Hanifah mengatakan bahwa puasa Asyura‟ itu wajib.14
      Akan tetapi menurut Ashab Syafi‟i terdapat dua pendapat yang terkenal.
Pendapat yang pertama, sebelum puasa itu disyari‟atkan Puasa Asyura‟ itu tidak
diwajibkan melainkan sangat disenangi, namun setelah puasa Romadlon itu
diwajibkan maka puasa Asyura‟ itu hanya disunnahkan. Pendapat yang kedua
mengatakan wajib seperti Imam Abu Hanifah, dan perbedaan hilaf itu sudah jelas
dalam persyaratan niat. Puasa yang wajib itu niatnya dilakukan semenjak malam hari
tetapi Imam Abu Hanifah tidak mensyaratkannya15.
      Diberitahukan pada permulaan hari asyura‟ orang-orang tidak melakukan
puasa, kemudian diperintahkan dengan niat siang hari dan tidak diperintahkan untuk
mengqodlo‟ya ketika meninggalkan16. Dan Ashhab Syafi‟I bahwa puasa asyura‟ itu
disunnahkan maka dari itu boleh meletakkan niat disiang hari, kemudian Imam Abu
Hanifah mengatakan bahwasannya perintah untuk puasa berarti perintah dalam arti
ekwajiban dengan argumen                                            .17




14
   Imam Nawawi, Shohih Muslim bi Syarh An-Nawawi, hal.
15
   Ibid. hal.
16
   Ibid., hal.
17
   Ibid., hal.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:36
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:5