Docstoc

penelitian tindakan kelas (DOC)

Document Sample
penelitian tindakan kelas (DOC) Powered By Docstoc
					                                     BAB III
                         METODOLOGI PENELITIAN


      Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena
penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian
ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu
teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
      Penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan
oleh para pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan
dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor) dalam mengumpulkan data
tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk
kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan
(Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2009 : 410).
      Penelitian tindakan menggabungkan kegiatan penelitian atau pengumpulan
data dengan pengguanaan hail penelitian atau pengumpulan data. Kegiatan ini
dilakukan secara timbal balik membentuk spiral : rencana, tindakan, pengamatan
dan refleksi.
      Asumsi yang mendasari pelaksanaan penelitian tindakan adalah bahwa orang
akan belajar dan mengembangkan pengetahuan :
1) Dalam pengalaman sendiri yang konkrit.
2) Melalui pengamatan dan refleksi dalam pengalaman tersebut.
3) Melalui pembentukan konsep abstrak dan generalisasi.
4) Dengan menguji implikasi konsep dalam situasi baru.
      Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru
sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini,
tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik
pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh
dalam proses perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Kehadiran pihak lain
dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.
      Penelitian   ini    mengacu      pada    perbaikan     pembelajaran     yang
berkesinambungan. Kart Lewin menggambarkan penelitian tindakan sebagai suatu
proses siklikal spiral, yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan.
      Stephen Kemmis mengembangkan bagan spiral penelitian tindakan yang juga
memasukkan     modelnya     lewin.   Model    Kemmis     meliputi   :   pengamatan,
perencanaan, tindakan pertama, monitoring, refleksi, berpikir ulang, evaluasi.
Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi; perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan
kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
   1. Tempat Penelitian
       Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan
       penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini
       bertempat di PPP. Al-Fattah II Al-Ikhlas Tambakberas Jombang.
   2. Waktu Penelitian
       Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat
       penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari
       s/d Maret 2009.
   3. Subyek Penelitian
       Subyek penelitian adalah santriwati PPP. Al-Fattah II Al-Ikhlas tahun
       pelajaran 2009-2010 (pengajian weton Bahasa Arab).


B. Rancangan Penelitian
        Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu proses dimana guru-
   dosen, dan siswa-mahasiswa menginginkan terjadinya perbaikan, peningkatan,
   dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran di kelas
   dapat ercapai secara optimal. (Prof. Dr. H. M. Djuhaidi Ghony, 2008 : 8)
        Dalam penelitian tindakan kelas ini ada beberapa karakteristik yang perlu
   dipahami oleh peneliti sehinga dapat membantunya dalam menyusun penelitian
   sendiri dengan lebih baik.
   Adapun karakteristiknya adalah sebagai berikut :
   1. Suatu fokus yang praktis
   2. Praktik kegiatan pendidik dan atau peneliti sendiri
   3. Kolaborasi
   4. Suatu proses dinamis
   5. Suatu perecanaan tindakan
   6. Berbagai pengalaman penelitian. (Prof. Dr. H. M. Djuhaidi Ghony, 2008 :
      20
       Sedangkan tujuan utama penelitian tindakan kelas demi perbaikan dan
   peningkatan layanan professional guru dalam menangani proses pembelajaran
   dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan. Lebih
   lanjut tujuan penelitian tindakan kelas ialah pengembangan kemajuan
   ketrampilan guru, dosen untuk menghadapi permasalahan aktual pembelajaran
   di kelas dan atau di sekolah. (Prof. Dr. H. M. Djuhaidi Ghony, 2008 : 29)
       Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan, maka
   penelitian ini menggunakan model penelitian dari Stephen Kemmis yaitu
   berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus
   meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan),
   reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang
   sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I
   dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.
       Observasi dibagi dalam 3 siklus yaitu siklus 1, 2 dan seterusnyam, dimana
   siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas
   satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan koreksi diakhir masing-masing
   putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan
   kebutuhan dan dirasa sudah cukup.


C. Alat Pengumpul Data
       Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang
   fungsinya adalah : (1) Untuk menentukan seberapa baik siswa telah meguasai
   bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) Untuk menentukan
   apakah sesuatu tujuan telah tercapai; (3) Untuk memperoleh nilai. (Suharsimi
   Arikunto, 2008 : 149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui
   ketuntasan belajar siswa secara indvidual maupun secara klasikal. Disamping
   itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga
   dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana PTK yang
   belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga
   digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat
   untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar
   mengajar.


D. Analisis Data
       Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga
   menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka
   digunakan analisis data kualitatif dan pada metode observasi digunakan data
   kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui keterampilan berbicara siswa
   dalam proses belaar mengajar sebagai berikut :
   1. Merekapitulasi hasil tes (praktek)
   2. Menentukan keterampilan berbicara siswa ini dengan menggunakan
      penilaian aspek-aspek kebahasaan yang meliputi pengucapan, penempatan
      tekanan nada dan irama, pilihan kata, pilihan ungkapan, susunan kalimat
      dan variasi yaitu siswa dikatakan mampu terampil dalam berbicara apabila
      siswa tersebut mampu memenuhi aspek-aspek tersebut dengan baik,
      sedangkan secara klasikal dikatakan terampil dalam berbicara apabila
      jumlah santri yang terampil secara individu mencapai 90%.
   3. Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama
      kegiatan belajar mengajar berlangsung.
                                   BAB IV
                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hubungan Pembelajaran Model Bermain Peran Dengan Keterampilan
  Berbicara
      Siswa dianggap terampil berbicara secara klasikal apabila dalam satu kelas
  tersebut mampu menguasai aspek-aspek kebahasaan sebesar 90% dari siswa
  yang ada dalam satu kelas tersebut.
  1. Siklus I
     a. Perencanaan
         1. Menyusun RPP
         2. Menyiapkan instrumen penelitian untuk guru dan siswa.
         3. Menyiapkan evaluasi pretes atau posttes.
         4. Menyiapkan sumber belajar yang berupa teks drama.
     b. Kegiatan dan Pelaksanaan
         1. Guru melakukan apesepsi, motivasi untuk mengarahkan siswa
              memasuki KD yang akan dibahas.
         2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
         3. Guru menjelaskan cara mendramatisasikan sebuah drama kemudian
              memberikan
         4. Guru membagi kelompok dalam 2 kelompok dengan anggota 7 siswa
              masing-masing kelompok.
         5. Siswa diberi kesempatan untuk membaca teks drama kemudian
              mempraktekkannya di depan kelas.
         6. Guru     menyuruh    kelompok    lain   untuk   memperhatikan   dan
              mendengarkan drama tersebut.
         7. Guru mempersilahkan kelompok kedua untuk mendramatisasikan
              drama tersebut.
         8. Setelah selesai guru mengomentari masing-masing kelompok dan
              mempersilakan santri untuk mengoreksi kesalahannya.
         9. Guru memberikan hadiah kepada kelompok terbaik.
       10. Guru membagikan angket dan memerintahkan santri untuk
          mengisinya.
   c. Pengamatan
       1. Observasi (kolaborasi) mengamati kegiatan guru pada saat
          pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan menggunakan
          instrumen pengamatan pembelajaran guru dan siswa.
       2. Guru mengevaluasi respon siswa selama pembelajaran dari angket
          yang diisi siswa.
       3. Guru mengevaluasi kegiatannya dengan menggunakan angket guru.
   d. Refleksi
       1. Pada siklus I terlihat dari masing-masing kelompok belum bisa
          mempraktekkan drama tersebut karena belum bisa menghayatinya
          sehingga drama tersebut belum berjalan dengan lancar.
       2. Siswa masih belum paham dengan maksud ceritanya sehingga belum
          bisa mempraktekkannya.
       3. Siswa masih belum bisa mengekspresikan drama tersebut .
       4. Siswa masih belum lancar dalam membaca bacaan teks tersebut.


2. Siklus II
   a. Perencanaan
       1. Menyusun RPP
       2. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu instrumen pembelajaran guru
          dan siswa, angket guru dan siswa.
       3. Menyiapkan sumber belajar berupa teks drama
       4. Menyiapkan evaluasi pretes atau posttes.
       5. Membentuk kelompok dalam kelas.
       6. Guru sudah memberi tugas untuk membaca dan mempraktekkan teks
          drama.
   b. Kegiatan dan Pelaksanaan
       1. Guru melakukan apresiasi dan motivasi untuk mengarahkan siswa
          memasuki KD yang akan dibahas.
       2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
       3. Guru menjelaskan langkah-langkah memainkannya
       4. Masing-masing kelompok diberi kesempatan menampilkan drama
           yang telah disiapkan
       5. Guru memotivasi dua kelompok tersebut.
       6. Siswa dipersilahkan berkumpul pada kelompok masing-masing
           untuk mendengarkan komentar guru.
       7. Siswa diberi kesempatan untuk mengoreksi kekurangan masing-
           masing kelompok.
       8. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik.
       9. Guru membagikan angket dan           memerintahkan santri untuk
           mengisinya.
   c. Pengamatan
       1. Observasi (kolaborasi) mengamati kegiatan guru pada saat
           pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan menggunakan
           instrumen pengamatan pembelajaran guru dan siswa.
       2. Guru mengevaluasi respon siswa selama pembelajaran dari angket
           yang diisi siswa.
       3. Guru mengevaluasi kegiatannya dengan menggunakan angket guru.
   d. Refleksi
       1. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah mulai
           meningkat karena mereka mulai memahami meksudnya dan mampu
           mengekspresikannya.
       2. kelancaran, nada dan irama dalam membaca teks drama masih
           kurang terlihat pada waktu tampil masih ada siswa yang tersendat-
           sendat. Dan keterampilan berbicara hanya mencapai 50%.


3. Siklus III
   a. Perencanaan
       1. Menyusun RPP
       2. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu instrumen pembelajaran guru
           dan siswa, angket guru dan siswa.
       3. Menyiapkan sumber belajar berupa naskah drama
   4. Menyiapkan evaluasi pretes atau posttes.
   5. Membentuk kelompok dalam kelas.
   6. Guru sudah memberi tugas untuk membaca, memahami dan
      mempraktekkan drama.
b. Kegiatan dan Pelaksanaan
   1. Guru melakukan apersepsi dan motivasi untuk mengarahkan siswa
      memasuki KD yang akan dibahas.
   2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
   3. Guru menjelaskan materi serta langkah-langkahnya
   4. Masing-masing       kelompok   diberi   kesempatan   menampilkan
      dramanya
   5. Guru memotivasi siswa untuk berpartisipasi bekerja dengan
      kelompok masing-masing.
   6. Guru mengamati masing-masing kelompok dan memberikan
      komentar.
   7. Siswa diberi kesempatan untuk mengoreksi kesalahannya.
   8. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik.
   9. Guru membagikan angket dan memerintahkan santri untuk
      mengisinya.
c. Pengamatan
   1. Observasi (kolaborasi) mengamati kegiatan guru pada saat
      pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan menggunakan
      instrumen pengamatan pembelajaran guru dan siswa.
   2. Guru mengevaluasi respon siswa selama pembelajaran dari angket
      yang diisi siswa.
   3. Guru mengevaluasi kegiatannya dengan menggunakan angket guru.
d. Refleksi
   1. Pada siklus ke-3 terjadi kemajuan yang sangat signifikan.
      Ketrampilan berbicara siswa sudah terlihat jelas dilihat dari
      penguasaan aspek-aspek kebahasaannya.
   2. Dari siklus ke-3 dapat disimpulkan bahwa siswa mencapai kira-kira
      90% dari satu kelas sudah mampu memahami teks drama dan
            mampu mempraktekkannya sehingga kegiatan tidak dilanjutkan pada
            siklus berikutnya.
        3. Dilihat dari hasil pengamatan guru bahwa sudah mulai aktif dalam
            proses belajar mengajar.


B. Pembahasan
  1. Keterampilan Bebicara
          Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model bermain peran
     mampu meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. Hal ini
     dapat dilihat dari semakin lancarnya siswa dalam mengucapkan setiap
     kalimat yang terdapat dalam drama tersebut (keterampilan berbicara
     meningkat dari siklus I, II dan III) yaitu masing-masing 25%, 50%, 90%.
     Pada siklus III keterampilan berbicara siswa secara klasikal telah tercapai.


  2. Kemampun Guru dalam mengelola model pembelajaran
          Berdasarkan analisis data, diperoleh siswa mampu memahami dan
     mempraktekkan drama yang telah diberikan dan dijelaskan oleh guru.
     Dengan memberikan contoh siswa mampu mempraktekkannya secara
     kelompok. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan keterampilan
     berbicara bahasa Arab siswa melalui model bermain peran. Dan itu terlihat
     dari setiap siklus yang terus meningkat.


  3. Aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran
          Berdasarkan analisis data, diperoleh bahwa aktivitas siswa sangat aktif
     dan antusias terhadap pelajaran bahasa Arab itu. Meskipun awalnya mereka
     mengalami kesulitan tapi karena adanya motivasi guru yang selalu memberi
     semangat untuk terus berlatih akhirnya mereka mampu menguasai aspek-
     aspek kebahasaan sesuai dengan apa yang telah ditargetkan oleh gurunya
     sehingga mereka mampu berbahasa arab dengan lancar.
          Sedang aktifitas guru selama dalam pembelajaran telah memuaskan
     yaitu dari awal pembelajaran guru selalu memberi motivasi, kemudian
     memberikan penjelasan tentang langkah-langkah mendramatisasikan sebuah
drama berbahasa arab dengan baik. Selain itu juga guru selalu membimbing
dan mengamati siswa pada setiap proses belajar mengajar, menjelaskan
kalimat sulit, dan memberikan umpan balik / reevaluasi dalam setiap
pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari prosentasi aktivasi guru yang cukup
besar.
     Untuk mengetahui lebih jelas perubahan dari siklus ke siklusnya dapat
dilihat dalam tabel berikut :
                                      BAB V
                           KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
       Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama 3 siklus, hasil
  seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan
  sebagai berikut :
  1. Metode bermain peran adalah suatu cara mengajar yang memberikan
     kesempatan pada para siswa untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku,
     atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukannya dalam hubungan
     sosial sehari-hari dalam masyarakat.
  2. Metode bermain peran dapat meningkatkan minat belajar siswa dengan cara
     memberikan contoh bagaimana mendramatisasikan sebuah cerita dan
     memberikan kesempatan kepada mereka untuk berperan aktif dalam drama
     tersebut.
  3. Metode bermain peran mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa
     yang ditandai dengan semakin meningkatnya prosentase siswa dalam hal
     penguasaan aspek-aspek kebahasaan yaitu siklus I (25%), siklus II (50%),
     dan siklus III (90%).


B. Saran
       Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar
  keterampilan berbicara bahasa Arab dapat berjalan dengan lancar, maka
  disampaikan saran sebagai berikut :
  1. Untuk       melatih   keterampilan    berbicara     bahasa    Arab   perlu   model
     pembelajaran yang dalam proses berbasis pengucapan yang mungkin dapat
     membantu         kelancaran   dalam    berbicara.     Perlu    diterapkan    model
     pembelajaran bermain peran karena dalam bermain peran aspek-aspek
     kebahasaan dapat dikuasai oleh para siswa, terutama dalam hal pengucapan.
  2. Dalam rangka meningkatkan keterampilan berbahasa, guru hendaknya
     sering melatih siswa dalam berbahasa dengan berbagai metode yang
   dikuasai oleh seorang guru dan dapat membantu siswa mencapai
   keterampilan berbahasa secara optimal.
3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya
   dilakukan di PPP. Al-Fattah II Al-Ikhlas tahun pelajaran 2009/2010.
4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan
   agar diperoleh hasil yang lebih baik.
                              DAFTAR PUSTAKA




Aqib, Zainal, M. Maftuh, Sujak, Kawentar, 2009, Penelitian Tindakan Kelas,
      Bandung : CV. YRAMA WIDYA.
Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta.
Ghony, Djunaidi, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Malang : UIN-Malang Press.
Arikunto, Suharsimi, 2008, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT. Bumi
      Aksara.
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2009, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : PT.
      Rosda Karya.
Ihsan, Ahmadi dan H. A. Fuad Ihsan, 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung :
      PT. Pustaka Setia.
A. Partanto, Pius dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya :
      Arkola
Hamalik, Oemar, 2009, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Ahmadi, Abu dan Drs. Joko Tri Prasetya, 2005, Strategi Belajar Mengajar,
      Bandung : PT. Pustaka Setia.
Izzan, Ahmad, 2009, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung :
      Humaniora.
Effendy, Ahmad Fuad, 2005, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang :
      Misykat.
Alipandie, Imansyah, 1984, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Surabaya : Usaha
      Nasional.
Nashir Ridlwan, 2005, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Yogyakarta :
      Pustaka Pelajar.
http://hafidz84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-bermain-peran-
      role-playing-method.
                                      ABSTRAK




    Yeti Farikhah,


    Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang ada di Indonesia yang
berfungsi sebagai bahasa agama, ilmu pengetahuan dan alat komunikasi. Beberapa
sekolah telah mengembangkan bermain peran sebagai bagian dari proses
pembelajaran Bahasa Arab. Pembelajaran Bahasa Arab dengan teknik bermain
peran sangat membantu siswa dalam melatih keterampilan berbicara secara optimal
karena dalam teknik tersebut sangat dibutuhkan modal pengucpan yang jelas
sehingga dapat dipahami apa yang diucapkan.
    Lokasi yang dipilih sebagai ajang penelitian tindakan kelas ini adalah PPP. Al-
Ikhlas yang berlokasi di Jln. KH. Wahab Hasbullah Gg. III Tambakberas Jombang.
Adapun jumlah santri di kelas sebanyak 14 orang. Dalam pengajaran Bahasa Arab
dengan menggunaan teknik bermain peran adalah model pebelajaran yang baru
bagi santri di pondok tersebut, sehingga mereka sangat semangat ketika
melakukannya.
    Tujuan diadakan penelitian ini adalah : (1) Untuk mendeskripsikan model
pembelajaran Bahasa Arab dengan teknik bermain peran; (2) Untuk mengetahui
minat   belajar   santri   terhadap   mata   pelajaran   Bahasa   Arab   (3)   Untuk
mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara Bahasa Arab melalui model
bermain peran.
    Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas dengan
beberapa siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan yaitu (1) perencanaan; (2)
pelaksanaan; (3) observasi (pengamatan); (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah
santri PPP. Al-Ikhlas Tambakberas Jombang. Data dalam penelitian ini yaitu data
kualitatif berupa tabel hasil pengamatan kegiatan santri pada saat KBM. Adapun
teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu (1) Angket (2) Observasi.
    Hasil dari penelitian ini adalah : (1) Teknik bermain peran di PPP. Al-Ikhlas di
perankan langsung oleh para santri yang mendramatisasikan sebuah drama. (2)
Teknik bermain peran di PPP. Al-Ikhlas sangat membantu meningkatkan
keterampilan berbicara bahasa Arab santri; (3) Minat dan motivasi siswa dalam
pembelajaran bahasa Arab dengan teknik bermian peran sangat meningkat.
Berdasarkan   penelitian   ini,   dapat   disarankan   agar   dalam   meningkatkan
keterampilan berbicara bahasa Arab santri perlu dilakukan model pembelajaran
yang menggunakan modal utama pengucapannya.

				
DOCUMENT INFO