Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

KAIDAH FIQH KE 31

VIEWS: 240 PAGES: 9

									                                      KAIDAH KE-31
                                      ‫النفل أوسع من الفرض‬
                 Sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan fardlu


A. PENDAHULUAN
           Setiap ritual ibadah yang kita lakukan itu memiliki klasifikasi tersendiri.
    Layaknya kebutuhan setiap individu manusia, ada yang disebut dengan
    kebutuhan primer (fardlu) ada pula kebutuhan sekunder (nafl). Oleh karenanya,
    sudah menjadi suatu keharusan bagi umat Nabi Muhammad SAW untuk selalu
    bersyukur kepada Allah SWT dengan melestarikan apa yang telah diajarkan
    oleh Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan penjelasan kepada
    umatnya tentang ibadah yang wajib dan yang tidak wajib. Sehingga pesan
    syariat dari sang pembuat Syar’i Allah SWT, dapat dipahami oleh seluruh
    umatnya.


B. DASAR KAIDAH
                                      ‫الىفل أوسع مه الفرض‬
              Ibadah sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan fardlu
           Secara leksikal, sunnah mempunyai makna mengajak ke arah sesuatu
    yang penting dan positif. Sedangkan dalam terminologi ushul fiqh, sunnah
    didefinisikan sebagai sesuatu yang pemberlakuannya dituntut oleh syari’at,
    namun tidak dengan penekanan yang tegas (ghayr jazim). Artinya, seseorang
    yang melakukannya akan mendapatkan pujian Allah swt. dan pahala-Nya, dan
    meninggalkannya tidak menimbulkan ancaman dosa dan siksa. 1
           Sedangkan fardlu adalah sesuatu yang dituntut pelaksanaannya oleh
    syara' secara tegas, sehingga akan menimbulkan siksa bila tidak dipenuhi dan
    mendapatkan pahala bila dikerjakan. Menurut mayoritas ulama (jumhur), fardlu
    mempunyai pengertian sinonim dengan wajib. 2



1
  Dr. Abd al-Karim Zidan, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, Mu'assasah al-Risalah, Beirut, Libanon, Cet.
  VII, 2001, h. 31
2
  Ibid., h. 38



                                               1
          Bila    dilihat   sepintas,   kaidah     ini   hanya    menyinggung       tentang
    perbandingan karakter antara aktivitas sunah dan fardlu. Padahal, menurut
    Syaikh Yasin AI-Fadani, aktivitas yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah
    segala aktivitas yang legal (legitimated) secara syar'i, baik wajib, sunah,
    maupun mubah.3


C. URAIAN UMUM
          Dari perbedaan definisi di atas, fardlu secara sederhana diartikan sebagai
    aktivitas yang harus dan mesti dikerjakan. Tidak boleh ditinggalkan tanpa ada
    alasan ('udzur) yang dibenarkan. Sedangkan sunah adalah aktivitas yang
    sebaiknya dilakukan demi memperoleh keistimewaan dan manfaat tertentu.
    Kalaupun tidak dikerjakan, tidak ada dampak negatif yang akan ditimbulkan.
    Sedangkan mubah malah lebih longgar lagi, baik dikerjakan ataupun tidak
    hukumnya sama saja.
          Dengan karakternya yang tidak diperintahkan secara ketat dan paten,
    sunah dan mubah menjadi lebih fleksibel aturannya. Jika dalam fardlu terdapat
    aturan yang cenderung ketat, dalam aktivitas sunah terkadang ada beberapa
    aturan yang tidak menjadi keharusan. Dengan demikian, ruang lingkup aktifitas
    sunah dan mubah lebih luas daripada area kewajiban.4 Beberapa sektor yang
    tidak dapat dirambah oleh aktivitas wajib, bisa secara permisif dijangkau oleh
    amaliah sunah. Dalam arti, terdapat beberapa hal yang dilarang diterapkan pada
    ibadah fardlu, namun dapat dilakukan dalam ibadah sunah.
          Shalat sunah, misalnya, boleh dilaksanakan tidak dengan berdiri 5 -meski
    sebenarnya mampu- dimana hal ini tidak dibenarkan dalam shalat fardlu selama
    masih mampu mengerjakannya dengan berdiri. Hal ini membuktikan bahwa
    aktivitas sunah dapat dikerjakan dengan metode yang lebih fleksibel
    dibandingkan fardlu. Ketentuan ini sesuai penegasan Nabi SAW. yang
    diriwayatkan Imam Bukhari;


3
  Abu al-Faydl Muhammad Yasin ibn `Isa al-Fadani, Al-Fawaid al-Janiyyah, Beirut: Dar al-Fikr,
  Cet. I, 1997, h. 565.
4
  Ibid.
5
  Baik dengan duduk atau dengan tidur miring.



                                             2
      ‫و مه صلى قائما فهى أفضل و مه صلى قاعدا فله وصف اجر القائ م و مه صلى وائما أي مضطجعا فله وصف اجر القاعد‬
      Barang siapa shalat dengan bediri, maka hal itu lebih utama. Barang siapa
        shalat dengan duduk, maka dia mendapat separuh pahala orang (shalat)
     dengan berdiri, dan barang siapa shalat dengan tidur (miring), maka berhak
                mendapatkan separuh pahala orang (shalat) dengan duduk6
           Imam Syafi’i mempersempit makna hadits di atas pada ketentuan shalat
    sunah, bukan shalat fardlu. Permasalahan ini diberi format yang lebih longgar,
    mengingat banyaknya jenis dan variasi shalat yang disunahkan. Kuantitasnya
    yang banyak, jika dibarengi dengan pensyaratan untuk berdiri, akan
    menjadikannya sebagai hal yang menyulitkan. Dan karena tuntutannya tidak
    terlalu longgar, maka akan timbul kecenderungan untuk mengabaikannya.
    Karena itu, menurut sebagian ulama, toleransi semacam ini tidak berlaku dalam
    shalat ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’.7 Sebab shalat semacam ini
    tergolong jarang dilaksanakan. 8


D. APLIKASI KAIDAH
           Beberapa permasalahan yang menjadi obyek aplikasi kaidah ini
    diantaranya dapat kita cermati dalam beberapa contoh berikut :
    1. Melakukan shalat sunah bagi orang yang sedang dalam perjalanan yang
        diperbolehkan (tidak mengandung kemaksiatan) dapat dilakukan tanpa
        menghadap ke kiblat. 9 Toleransi ini tidak berlaku dalam shalat fardlu. Lain
        halnya jika shalat sunah itu dikerjakan oleh orang yang tidak sedang
        bepergian, maka tetap disyaratkan menghadap kiblat.
    2. Dalam berpuasa, diwajibkan melakukan niat pada malam sebelumnya jika
        puasanya tergolong puasa fardlu, seperti puasa Ramadlan atau puasa
        nadzar. Sedangkan dalam puasa sunah tidak diharuskan berniat pada malam

6
   Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, ed. Dr. Musthafa Dib al Bugha, Shahih al-
  Bukhari, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, Beirut, 1/375, nomer hadits: 1065.
7
  Shalat yang dilakukan dalam rangka memohon pemberian siraman air hujan. Biasanya dilakukan
  jika terjadi kemarau panjang yang tidak pasti kapan akan berakhir.
8
  Ibid. dan Syaikh 'Abdullah bin Sa'id Muhammad 'Ubbadi al-Lahji al-Hadlrami al-Syakhawi, Idlah
  al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Surabaya, cetakan III, 1410 H, h. 86.
9
  Disyaratkan pula bahwa perjalanan tersebut harus memiliki tujuan yang pasti, bukan perjalanan
  yang tanpa arah tujuan. Lihat dalam. Sulaiman al-jamal, Hasyiyah aljamal 'ala Syarh al-Manhaj,
  I/312. dan Syaikh Yasin al-Fadani, Loc. cit.



                                                     3
        hari. Boleh dilakukan pagi harinya sepanjang belum lewat tengah hari.
        Sebab suatu pagi Nabi SAW. pernah bertanya kepada 'Aisyah ra.: "Apakah
        kamu memiliki persediaan sarapan pagi?"'Aisyah menjawab: "Tidak"
        Lantas Nabi bersabda: "Kalau begitu, hari ini aku akan berpuasa".
     3. Pada bulan Ramadlan atau ketika seseorang bernadzar untuk berpuasa, yang
        keduanya merupakan puasa wajib yang harus diselesaikan (tidak dibatalkan)
        hingga matahari terbenam.10 Sedangkan dalam puasa sunah tidak ada
        keharusan mengerjakannya. Bahkan jikapun ia telah bernadzar melakukan
        puasa, tidak berarti harus diselesaikan; dapat dibatalkan kapan saja.
        Sebagaimana telah disabdakan Nabi SAW. dalam hadits yang diriwayatkan
        al-Turmudzi :
                                    ‫المتطىع امير وفسه إن شاء افطر‬
        "Orang yang melakukan puasa sunah adalah penguasa dirinya, jika
        menghendaki puasa, maka bolah puasa, jika menghendaki batal, maka ia
        (bisa) membatalkannya"
     4. Tidak dibolehkan melakukan satu tayammum untuk beberapa kali shalat
        fardlu. Sedangkan shalat sunah dapat dikerjakan dengan media tayammum
        yang sudah dilakukan untuk shalat fardlu. Artinya, dengan sekali
        tayammum, boleh mengerjakan satu shalat fardlu dan beberapa shalat
        sunah. Imam Khatib memberi argumen, jika dalam shalat sunah diharuskan
        melakukan tayammum tiap kali akan dikerjakan, maka akan menjadikannya
        tidak dikerjakan atau menjadikannya sebagai sebuah kesulitan yang cukup
        berat, mengingat shalat sunah itu sangat beragam dan banyak sekali
        macamnya.11
     5. Dalam ibadah wajib yang dalam pelaksanaannya melibatkan materi dan
        fisik -seperti haji- serta tidak boleh diwakilkan bagi orang yang mampu
        melaksanakannya. Sedangkan ibadah haji sunah boleh diwakilkan,
        walaupun mampu dikerjakan sendiri, dan pahalanya -insya Allah- tetap


10
   Ketentuan ini juga berlaku pada shalat fardlu. Ketika telah dimulai pelaksanaannya, maka harus
  disempurnakan hingga selesai dan tidak boleh diputus di tengah jalan. Allah SWT. telah berfirman
  dalam Q.S. Muhammad: 33: "Dan janganlah kalian membatalkan amalan yang telah kalian
  kerjakan"
11
   Yasin al-Fadani, Loc. cit.



                                                 4
        diberikan kepada yang mewakilkan.12
     6. Tidak disyari’atkan tayammum untuk melakukan sholat sunnah menurut
        satu pendapat.
     7. Tidak disyari’atkan sujud syahwi dalam solat sunnah
     8. Orang yang lemah, maka tidak perlu mencari ganti untuk menggantikan haji
        sunnah, menurut satu pendapat.13


E. PENGECUALIAN
           Meskipun secara umum, ketentuan-ketentuan dalam ibadah sunah lebih
     lentur daripada ibadah fardlu, namun terdapat beberapa aktivitas sunah yang
     dianggap, lebih "sempit" ketentuannya dibanding yang fardlu. Konsep ini
     merujuk pada ketentuan. kaidah: "Hal-hal yang dibolehkan dalam kondisi
     darurat, pemenuhannya disesuaikan dengan kadar situasi darurat yang
     menyebabkannya"14 termasuk diantaranya adalah:
     1. Dalam kondisi terpaksa (darurat) dibolehkan memakan bangkai yang dalam
        kondisi normal diharamkan. Dalam konteks ini, memakan bangkai ditolerir
        sebatas yang wajib saja, sedangkan yang sunah tidak dibolehkan. 15
     2. Bagi orang yang tidak menemukan alat bersuci (baik air maupun debu yang
        suci), wajib melaksanakan shalat fardlu tanpa bersuci. Namun hal ini tidak
        dibenarkan dalam shalat sunah.
     3. Bagi orang yang tidak menjumpai sesuatu pun guna menutup aurat, ia
        diwajibkan melumuri tubuhnya dengan lumpur guna mendirikan shalat

12
   lbadah yang hanya menggunakan harta saja, seperti zakat dan sedekah, boleh diwakilkan kepada
  orang lain dalam keadaan apapun. Sedangkan ibadah yang hanya menggunakan fisik saja, seperti
  shalat atau puasa, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, sebab yang menjadi tuntutan adalah
  upaya fisik dalam mengerjakannya. Dan itu, tentu saja tidak dapat diwakilkan. lbadah haji
  merupakan salah satu contoh ibadah yang pelaksanaannya membutuhkan kesiapan pendanaan dan
  kesiapan fisik. Bagi orang yang mampu -secara fisik maupun materiil- mestinya tidak dapat
  diwakilkan, karena unsur usaha fisiknya tak terwakili. Namun hal ini hanya diberlakukan pada
  ibadah yang wajib saja. Telaah kembali dalam Abu al-Husain 'Ali bin Abi Bakr bin Abd al-jalil al-
  Marghinani, Al-Hidayah syarh al-Bidayah, Beirut : AI-Maktabah al-Islamiyah, I/183.
13
    Team El Mard, As Tsamarat Al Mardliyyah Fil Qawaid Al Fiqhiyyah Bi Syarhi Al Faroidl
  Bahiyah, Jombang : PPP. Al Mardliyyah Bahrul Ulum, h. 165.
14
   Ungkapan aslinya berbunyi "Ma jaza li al-dlarurah yuqaddaru biqadriha ". Teliti kembali dalam
  kaidah kubra ketiga.
15
   Dalam kondisi terpaksa, dibolehkan memakan bangkai sebatas hal yang wajib dilakukan, yaitu
  mempertahankan nafas kehidupan. Selebihnya tidak lagi wajib, seperti makan bangkai guna
  memulihkan stamina yang loyo. Maka toleransi untuk memakan barang haram semacam ini
  terbatas pada kadar yang dapat memenuhi kewajiban, yakni keharusan mempertahankan hidup.



                                                5
        fardlu. Melumuri tubuh dengan lumpur ini tidak boleh dilakukan untuk
        shalat sunah.
     4. Tidak dimakruhkan mendirikan shalat fardlu dengan menahan hadats jika
        waktu shalat sangat sempit.16 Sedangkan dalam shalat sunah hal ini tetap
        dimakruhkan, meski waktunya sempit.
     5. Orang yang sedang junub (berhadats besar), jika tidak menemukan peranti
        untuk bersuci, maka tetap berkewajiban shalat, namun dalam shalat ia hanya
        dibolehkan membaca becaan yang wajib saja, yaitu fatihah.
     6. Tayammum, menurut pendapat yang lemah, tidak boleh digunakan untuk
        melaksanakan shalat sunah. Begitu pula sujud sahwi tidak dilakukan untuk
        mengganti aktivitas setiap sunah yang terlupa. 17 Sujud sahwi hanya
        dikerjakan saat seseorang lupa mengerjakan sunah ab’adl.


F. PENUTUP
           Demikian pembahasan kaidah yang ke-31 ini dengan harapan semoga kita
     semua selalu mendapatkan kefahaman dan ilmu yang bermanfaat, Amin…
                                    Wallahu A’lam Bi Al-Showab




16
   Menahan diri ketika dalam keadaan merasa sangat meinginginkan 'sesuatu' (hajat). Baik berupa
  keinginan untuk kencing, buang air besar, maupun membuang "angin" dari perut. Ketika waktu
  shalat masih longgar, hal-hal ini makruh untuk ditahan. Imam Muslim telah meriwayatkan sebuah
  hadits Nabi SAW: "Tidaklah sempurna shalat yang dikerjakan, ketika didekatnya tersedia jamuan
  makan dan ketika dalam keadaan menahan hajat.
17
   Lihat dalam Jalal al-Din Abd al-Rahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair, ed.
  Muhammad al-Mu’tashim Billah, Dar al-Kitab al-‘Arabi, cet. IV, 1998, h. 286 dan Muhammad
  Yasin al-Fadani, Al-Fawa’id al-Janiyyah, Op. cit., h. 566.



                                              6
                             DAFTAR PUSTAKA


Manshur, Khusnan, H.M., Yahya. Tsamaratul Mardliyyah. Jombang: Pustaka Al-
     Muhibbin. 2009.
Haq, Abdul. Formulasi Nalar Fiqih II. Surabaya : Khalista. 2006
Achmad, KH. Djamaluddin. Al-Inayah. Jombang : Pustaka Al-Muhibbin. 2006.




                                       7
                      ‫النفل أوسع من الفرض‬


  Disusun untuk memenuhi tugas presentasi mata kuliah Kaidah Fiqih II




                         Dosen Pembimbing :
                    KH. Abdul Wahab Kholil, M.A.




                                Oleh :
                         Sugiman Sasdiantoro




SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
               TAMBAKBERAS JOMBANG
                                2010
                                                    DAFTAR ISI




Halaman judul ..................................................................................................        i
Daftar isi ..........................................................................................................   ii
A. Pendahuluan ...............................................................................................          1
B. Dasar Kaidah ..............................................................................................          1
C. Uraian Umum ............................................................................................             2
D. Aplikasi Kaidah .........................................................................................            3
E. Pengecualian ..............................................................................................          5
F. Penutup ......................................................................................................       6
Daftar Pustaka...................................................................................................       7




                                                              ii

								
To top