Docstoc

transfer belajar

Document Sample
transfer belajar Powered By Docstoc
					                                      BAB I
                                PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
       Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasil belajar pada masa lalu
   seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang.
   Inilah yang disebut transfer dalam belajar.
       Transfer dalam belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of
   learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu
   situasi ke situasi lainnya (Reber, 1988). Kata "pemindahan keterampilan" tidak
   berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena
   diganti dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi
   di atas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh
   keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan
   sesuatu lainnya.


B. Rumusan Masalah
   1. Apakah definisi dari Transfer Belajar?
   2. Apa saja ragam transfer belajar?
   3. Bagaimana proses terjadinya transfer positif dalam belajar? Moh.
      Sholahuddin, M.Pd.




                                         1
                                     BAB II
                                   PEMBAHASAN


A. Pengertian Transfer Belajar
        Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa Inggris “Transfer of learning”
   yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari mata pelajaran yang
   satu ke mata pelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar
   lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan
   bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun
   dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar yang diperoleh dan
   dapat dipindahkan tersebut dapat berupa pengetahuan (informasi verbal),
   kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dll. Bila hasil belajar
   (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu proses belajar
   yang kemudian maka dikatakan telah terjadi ransfer belajar yang disebut
   transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa untuk
   memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan atau
   pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang
   kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
        Peristiwa pemindahan pengaruh (transfer) sebagaimana tersebut di atas
   pada umumnya atau hampir selalu membawa dampak baik positif maupun
   negatif terhadap aktivitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran atau
   keterampilan lain. Sehingga, transfer dapat dibagi dua kategori, yakni transfer
   positif dan transfer negatif.
        Menurut Theory of Identical Element yang dikembangkan oleh E.L.
   Thorndike (lihat teori belajarnya dalam halaman 103), transfer positif biasanya
   terjadi bila ada kesamaan elemen antara materi yang, lama dengan materi yang
   baru. Contoh: seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah
   mempelajari statistika. Contoh lain yang lebih gamblang ialah kepandaian
   mengendarai sepeda membuat orang mudah belajar naik sepeda motor.
        Sebaliknya, orang yang sudah terbiasa mengetik dengan menggunakan dua
   jari, kalau belajar mengetik dengan sepuluh jari akan lebih banyak mengalami
   kesukaran daripada orang yang baru belajar mengetik. Pengalaman kesukaran



                                        2
   inilah yang disebut transfer negatif. Artinya, keterampilan yang, sebelumnya
   sudah dimiliki menjadi penghambat belajar keterampilan lainnya. Dapatkah
   teori E.L. Thorndike ini kita jadikan pedoman dalam memahami transfer belajar
   yang hakiki?
       Selanjutnya, menurut Gagne (baca: Gaenye) seorang education psycholo-
   gist (pakar psikologi pendidikan) yang masyhur, transfer dalam belajar dapat
   digolongkan ke dalam empat kategori.
   1. Transfer positif, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
      selanjutnya.
   2. Transfer negatif, yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar
      selanjutnya;
   3. Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
      pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi.
   4. Trasnfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
      pengetahuan/keterampilan yang sederajat.
       Penjelasan lebih lanjut mengenai aneka ragam transfer baik dari Thorndike
   maupun dari Robert M. Gagne tersebut adalah sebagai berikut.


B. Ragam Transfer Belajar
   1. Transfer positif
      Transfer positif dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila guru
      membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa
      tersebut belajar dalam situasi-situasi lainnya. Dalam hal ini, transfer positif
      menurut Barlow (1935) adalah learning in one situation helpful in other
      situations, yakni belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar
      dalam situasi-situasi lain.


   2. Transfer negatif
      Transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi
      tertentu       yang      memiliki       pengaruh       merusak        terhadap
      keterampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi lainnya.




                                          3
   Pengertian ini diambil dari Educational Psychology: The Teaching-
   Learning Process oleh Daniel Lenox Barlow (1985) yang menyatakan
   bahwa transfer negatif itu berarti, learning in one situation has a damaging
   effect in other situations (belajar dalam satu situasi memiliki efek yang
   merusak dalam situasi lain).
   Dengan demikian, pengaruh keterampilan atau pengetahuan yang telah
   dimiliki oleh siswa sendiri tak ada hubungannya dengan kesulitan yang
   dihadapi siswa tersebut ketika mempelajari pengetahuan atau keterampilan
   lainnya. Jadi, kesulitan belajar mengetik sepuluh jari seperti yang
   dicontohkan di atas belum tentu disebabkan oleh kebiasaan mengetik dua
   jari yang sebelumnya sudah dikuasai. Menghadapi kemungkinan terjadinya
   transfer negatif itu, yang penting bagi guru ialah menyadari dan sekaligus
   menghindarkan para siswanya dari situasi-situasi belajar tertentu yang
   diduga keras akan berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar para siswa
   tersebut pada masa yang akan datang.


3. Transfer vertikal
   Transfer vertikal (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila
   pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa
   tersebut dalam menguasai pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi atau
   rumit. Misalnya, seorang siswa SD yang telah menguasai prinsip
   penjumlahan dan pengurangan pada waktu menduduki kelas II akan mudah
   mempelajari perkalian pada waktu dia menduduki kelas III. Sehubungan
   dengan hal ini, penguasaan materi pelajaran kelas II merupakan prerequisite
   (prasyarat) untuk mempelajari materi pelajaran kelas III.
   Agar memperoleh transfer vertikal, guru sangat dianjurkan unjuk
   menjelaskan kepada para siswa secara eksplisit mengenai faidah materi
   yang sedang diajarkannya bagi kegiatan belajar materi lainnya yang lebih
   kompleks. Upaya ini penting sebab kalau siswa tidak memiliki alasan yang
   benar mengapa ia harus mempelajari materi yang sedang diajarkan gurunya
   itu (antara lain untuk transfer vertikal), mungkin ia tak akan mampu
   memanfaatkan materi tadi untuk mempelajari materi lainnya yang lebih



                                     4
      rumit. Padahal, learning in one situation allows mastery of more complex
      skills in other situations (red : belajar dalam satu situasi memungkinkan
      penguasaan keterampilan yang lebih kompleks dalam situasi lain) (Barlow,
      1985) yang berarti bahwa belajar dalam suatu situasi memungkinkan siswa
      menguasai keterampilan-keterampilan yang lebih rumit dalam situasi yang
      lain.


   4. Transfer lateral
      Transfer lateral (ke arah samping) dapat terjadi dalam diri seorang siswa
      apabila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk
      mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain.
      Dalam hal ini, perubahan waktu dan tempat tidak mengurangi mutu hasil
      belajar siswa tersebut.
      Contoh: seorang lulusan STM yang telah menguasai teknologi "X" dari
      sekolahnya dapat menjalankan mesin tersebut di tempat kerjanya. Di
      samping itu, ia juga mampu mengikuti pelatihan menggunakan teknologi
      mesin-mesin lainnya yang mengandung elemen dan kerumitan yang kurang
      lebih sama dengan mesin “X” tadi. Alhasil, transfer lateral itu dapat
      dikatakan sebagai gejala wajar yang memang sangat diharapkan baik oleh
      pihak pengajar maupun pihak pelajar. Namun, idealnya hasil belajar siswa
      tidak hanya dapat digunakan dalam konteks kehidupan yang sama rumitnya
      dengan belajar, tetapi juga dapat digunakan dalam konteks kehidupan yang
      lebih kompleks dan penuh persaingan.


C. Terjadinya Transfer Positif dalam Belajar
         Di atas telah penyusun uraikan secukupnya mengenai arti transfer positif
   dan signifikansinya bagi kegiatan belajar siswa. Namun, bagimanakah
   sebenarnya transfer positif itu terjadi dalam diri siswa? Benarkah siswa akan
   mudah mempelajari materi "Y" karena mengandung unsur yang identik dengan
   materi "X" yang telah dikuasainya?
         Transfer positif, seperti yang telah diutarakan di muka, akan mudah
   terjadi pada diri seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip



                                         5
dengan situasi sehari-hari yang akan ditempati siswa tersebut kelak dalam
mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah ia pelajari di
sekolah. Transfer positif dalam pengertian seperti inilah sebenarnya yang perlu
diperhatikan guru, mengingat tujuan pendidikan secara umum adalah
terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas inilah yang didapat
dari lingkungan pendidikan untuk digunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
      Oleh sebab itu, setiap lembaga kependidikan terutama jenjang pendidikan
menengah, perlu menyediakan kemudahan-kemudahan belajar, seperti alat-alat
dan ruang kerja yang akan ditempati siswa kelak setelah lulus. Apabila cara ini
sulit ditempuh, alternatif lain dapat diambil umpamanya on the job training,
yaitu mengadakan praktik lapangan di tempat-tempat kerja seperti kantor,
sekolah, pabrik, kebun, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan jurusan dan
keahlian yang dimiliknya.
      Sementara itu, menurut teori yang dikembangkan Thorndike, seperti yang
telah penyusun singgung di muka, transfer positif hanya akan terjadi apabila
dua materi pelajaran memiliki kesamaan unsur. Teori kesamaan unsur ini telah
memberi pengaruh besar terhadap pola pengembangan kurikulum di Amerika
Serikat beberapa puluh tahun yang lalu (Cross, 1974).
      Hal-hal lain seperti kesamaan situasi dan benda-benda yang digunakan
untuk belajar sebagaimana tersebut dalam teori Gagne, tidak dianggap
berpengaruh. Untuk memperkuat asumsinya, Thorndike memberi contoh, jika
anda telah memecahkan masalah geometri (ilmu ukur) yang mengandung
sejumlah huruf tertentu sebagai petunjuk, maka ... you would not be able to
transfer a geometry problem with a different set of letter (Anderson, 1990),
anda tak akan dapat mentransfer kemampuan memecahkan masalah geometri
itu untuk memecahkan masalah geometri lainnya yang menggunakan huruf
yang berbeda.
      Dalam perspektif psikologi kognitif masa kini, mekanisme transfer positif
ala Thorndike yang telah terlanjur diyakini banyak pakar itu ternyata hanya
isapan jempo1 belaka. Singley & Anderson (1989) dan Anderson (1990)
misalnya, sangat meragukan teori yang menganggap transfer sebagai peristiwa
spontan dan mekanis (asal ada kesamaan elemen) seperti yang diyakini orang



                                     6
selama ini. Keraguan itu timbul karena ahli kognitif (cognitivitists) telah
banyak menemukan peristiwa transfer positif yang sangat mencolok antara
kedua keterampilan yang memiliki unsur yang sangat berbeda, namun memiliki
struktur logika yang sama.
        Berdasarkan hasil-hasil riset kognitif antara lain seperti di atas, Anderson
(1990) yakin bahwa transfer positif hanya akan terjadi pada diri seorang siswa
apabila dua wilayah pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari siswa
tersebut menggunakan dua fakta dan pola yang sama, dan membuahkan hasil
yang sama pula. Dengan kata lain, dua domain pengetahuan tersebut merupakan
sebuah pengetahuan yang sama.
        Jadi, orang yang menduga bahwa seorang siswa yang telah pandai mem-
baca Al-Qur'an akan secara otomatis mudah belajar bahasa Arab karena ada
kesamaan elemen (sama-sama bertulisan Arab) perlu dipertanyakan. Tetapi,
seorang siswa yang pandai dalam seni baca Al-Qur'an (qori) sangat mungkin
dia mudah belajar tarik suara (menyanyi), karena dalam dua wilayah
keterampilan itu terdapat kesamaan struktur logika, yakni logika seni. Demikian
pula halnya dengan siswa yang sudah menguasai bahasa dan sastra Indonesia, ia
mungkin akan mudah menjadi seorang pengarang. Sekali lagi, mudahnya siswa
tersebut menjadi pengarang bukan karena adanya kesamaan elemen, melainkan
karena antara penguasaan bahasa dan sastra dengan aktivitas mengarang itu
terdapat "benang merah" yang muncul dari struktur logika pengetahuan yang
sama.
        Sesungguhnya     transfer   itu   merupakan   peristiwa   kognitif   (ranah
cipta/akal) yang terjadi karena belajar. Jadi, belajar dalam hal ini seyogianya
dipandang sebagai keadaan sebelum transfer atau prasyarat adanya transfer.
Dengan demikian, anggapan bahwa transfer itu spontan dan mekanis (seperti
mesin atau robot) sebenarnya berlawanan dengan hakikat belajar itu sendiri,
yakni perbuatan siswa yang sedikit atau banyak selalu melibatkan aktivitas
ranah kognitif.
        Bagimana pula halnya dengan transfer negatif yang sering dikhawatirkan
orang itu? Transfer negatif, menurut Anderson (1990) dan Lawson (1991) tak
perlu dirisaukan lantaran sangat jarang terjadi. Kesulitan belajar siswa yang



                                          7
selama ini diduga terjadi karena adanya transfer negatif, sebenarnya masih
memerlukan pertelitian lebih lanjut. Sebab, sementara ini gangguan konflik
(interference) antar-ingatan fakta dalam memori manusia hampir tak pernah
terjadi atau mengganggu perolehan keterampilan baru. Alhasil, kesulitan belajar
yang dialami siswa mungkin disebabkan oleh faktor-faktor lain.
      Sebagai catatan akhir pembahasan ini, perlu kami utarakan beberapa
contoh peristiwa belajar yang secara lahiriah tampak seperti transfer tetapi
sesungguhnya bukan. Contoh-contoh ini penting untuk diketahui agar siswa dan
guru tidak terkecoh oleh timbulnya sesuatu yang baru dan baik sebagai sesuatu
yang sedang diharapkan, yakni transfer positif.
      Pertama, seorang siswa yang telah berkemampuan menulis dengan
menggunakan tangan kanan, lalu suatu saat dia mampu juga menulis dengan
tangan kirinya. Kejadian seperti ini sama halnya dengan kemampuan seorang
siswa memantul-mantulkan bola dengan tangan kanannya, kemudian ternyata
siswa itu mampu juga memantul-mantulkan bola dengan tangan kirinya
walaupun tanpa latihan khusus. Peristiwa-peristiwa seperti ini tampaknya
seperti transfer karena kemampuan tangan kanan seakan-akan memberi
pengaruh pada munculnya kemampuan tangan kirinya, padahal bukan transfer.
Peritiwa-peristiwa tadi hanya merupakan bukti bahwa perilaku belajar itu
bersifat organik yakni melibatkan keseluruhan organ-organ tubuh, termasuk
organ otak, meskipun siswa tadi tidak tampak memikirkan bagaimana cara
memantulkan bola dengan tangan kirinya. Peristiwa yang tampak seperti
transfer tadi juga lazim disebut cross edification, yakni pendidikan silang
(Winkal, 1991).
      Kedua, seorang anak SD yang mengenal huruf "u" dalam kata "gula"
suatu saat dapat pula mengenal huruf tersebut dalam kata "guru" atau "madu"
dan sebagainya. Seorang siswa SMP yang telah menguasai sebuah rumus dalam
matematika, kemudian mampu menyelesaikan soal-soal matematika yang
berhubungan dengan rumus yang telah dikuasainya itu. Kasus yang terjadi pada
anak SD tadi bukan transfer, melainkan peristiwa penerapan hasil belajar
perseptual belaka. Sedangkan kasus siswa SMP itu merupakan kasus penerapan
kemampuan yang telah ia peroleh sebelumnya. Jadi, keduanya bukan transfer.



                                      8
                                    BAB III
                                   PENUTUP


     Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa transfer belajar adalah
pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari mata pelajaran yang satu ke mata
pelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah.
Peristiwa pemindahan pengaruh (transfer) pada umumnya membawa dampak
positif maupun negatif terhadap aktivitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran
atau keterampilan lain.
     Secara terperinci transfer dalam belajar dapat dibagi menjadi empat macam
yaitu :
1. Transfer positif, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
    selanjutnya.
2. Transfer negatif, yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar
    selanjutnya;
3. Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
    pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi.
4. Trasnfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar
    pengetahuan/keterampilan yang sederajat.




                                        9
            TRANSFER DALAM BELAJAR


Makalah ini diajukan dalam diskusi mata kuliah Psikologi Pendidikan


                        Dosen Pengampu :
                    Moh. Sholahuddin, M.Pd.




                              Oleh :
                             M. Rifa’i
                            Mas Andik




                         PRODI PBA
SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
               TAMBAKBERAS JOMBANG
                          2009 – 2010
                                                    DAFTAR ISI




Halaman Judul ...................................................................................................         i
Daftar Isi ............................................................................................................   ii
BAB I : PENDAHULUAN ..............................................................................                        1
              A. Latar Belakang ..............................................................................            1
              B. Rumusan Masalah ..........................................................................               1


BAB II : PEMBAHASAN .................................................................................                     2
              A. Pengertian Transfer Belajar ...........................................................                  2
              B. Ragam Transfer Belajar .................................................................                 3
              C. Terjadinya Transfer Positif dalam Belajar .....................................                          5


BAB III : PENUTUP ..........................................................................................              9
Daftar Pustaka .................................................................................................... 10




                                                              ii

				
DOCUMENT INFO