Docstoc

desain pembelajaran

Document Sample
desain pembelajaran Powered By Docstoc
					                                      BAB I
                              PENDAHULUAN


     Teknologi Pembelajaran tumbuh dari praktik pendidikan dan gerakan
komunikasi audio visual. Teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi
peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk
mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu
audio-visual. Teknologi pembelajaran merupakan gabungan dari tiga aliran yang
saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan
pendekatan sistem dalam pendidikan.
     Lima bidang garapan dari Teknologi Pembelajaran, yaitu: (1) design, (2)
development (pengembangan), (3) utilization (penggunaan), (4) management, dan
(5) evaluation. Kelima hal ini merupakan kawasan (domain) dari bidang Teknologi
Pembelajaran. Kelima hal tersebut harus dikuasai oleh untuk meningkatkan mutu
pembelajaran. Mengingat luasnya tentang kajian teknologi pembelajaran maka
dalam uraian ini akan dibahas tentang desain teknologi pembelajaran. Adapun
permasalahan yang akan dibahas adalah apa dan bagaimana mendesain teknologi
pembelajaran?




                                        1
                                         BAB II
                                   PEMBAHASAN




A. Desain Pesan Dalam Teknologi Pendidikan
         Dalam kawasan teknologi pendidikan terdapat lima kawasan yang menjadi
    bidang garapan penelitian. Kelima kawasan tersebut adalah (1) design, (2)
    development (pengembangan), (3) utilization (penggunaan), (4) management,
    dan (5) evaluation1. Salah satu dari unsur desain adalah desain pesan (massage
    design). Ilustrasi dari lima unsur dari kawasan teknologi pendidikan dapat
    dilihat pada Gambar 7.1.
         Pesan adalah informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat
    berupa ide, fakta, makna, dan data. Pandangan lain dikemukakan bahwa
    massage atau pesan pada dasarnya adalah hasil atau output dari encoding. Atau
    dengan kata lain pesan bentuknya bisa berupa kalimat pembicaraan lisan,
    tulisan,   gambar,    peta,   ataupun    tanda/impulse/sinyal     dan    sebagainya.2
    Selanjutnya untuk memudahkan pemahaman tentang apa yang dimaksud
    dengan pesan dicontohkan sebagai berikut.




                Ilustrasi unsur dari kawasan teknologi pendidikan
    -   Anda berbicara  isi pembicaraan adalah pesan
    -   Anda, menulis  hasil tulisan adalah pesan
    -   Anda melukis  hasil lukisan adalah pesan

1
  Atwi Suparman, Kawasan Riset dan Pengembangan Teknologi Pendidikan, makalah disampaikan
  pada seminar Nsional Teknologi Pendidikan (Jakarta: PPS UNJ, 2000), hlm. 4.
2
  AECT, Definisi Teknologi Pendidikan Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, (Jakarta:
  Rajawali, 1986), hlm. 9.



                                            2
           Dalam pandangan psikologi kognitif, seperti yang dikutip Fleming (1993)
      pesan disebutkan sebagai suatu tanda kata, gambar, isyarat yang timbul atau
      dihasilkan dengan tujuan dapat mengubah psikomotor, kesadaran, atau tingkah
      laku efektif dari seseorang atau lebih. 3
           Fisher (1986: 365) mengingatkan bahwa pesan dalam model mekanistis
      ditransformasikan pada titik-titik (saat-saat) penyandian dan pengalihan sandi
      sehingga pesan itu sendiri berupa pikiran atau ide berada pada suatu tempat
      dalam sistem jaringan syaraf (neurophysiological), dan sumber/penerima dan
      setelah penyandian terjadi dalam suatu situasi tatap muka, ditransformasikan ke
      dalam rangkaian getaran udara (gelombang suara) dan sinar cahaya yang
      terpantulkan. Alat pengalihan sandi pada sumber/penerima mentransformasikan
      fenomena energi fisik itu kembali ke dalam kata petunjuk paralinguistik, isyarat
      dan pikiran. Namun dalam bentuk energi fisik antara sumber/penerima, pesan
      itu bukanlah merupakan pikiran, bukan pula berupa kata-kata. Akan tetapi, ia
      merupakan seperangkat isyarat (signal) fisik.
           Devenger dan Matthews (1971 him. 12-14) seperti juga Cherry (dalam
      Fisher, 1986) membedakan antara pesan dan isyarat atas dasar bentuk fisik dan
      lokasinya, pada saluran, isyarat (signals) itu adalah peristiwa "fisiknya", dan
      pesan hanya terdapat pada saluran di dalam diri sumber/penerima. Selanjutnya
      Devenger dan Matthews (1971) meneruskan satu langkah lagi, bahwa dalam
      setiap peristiwa komunikatif, terdapat tiga buah pesan yang potensial. Pesan
      yang dikirimkan itu membentuk sari pesan; pesan yang diterima merupakan
      pesan yang kedua. Mereka secara jelas menyatakan bahwa kedua pesan itu
      tidak harus dipahami sebagai versi yang berbeda dan pesan yang sama,
      merupakan peristiwa yang secara keseluruhan berbeda.
           Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan dan atau diterima sewaktu tindakan
      komunikasi berlangsung. Pesan dapat dikirimkan baik melalui bahasa verbal
      maupun nonverbal. Pesan juga merupakan suatu wujud informasi yang
      mempunyai makna. Apabila pesan tidak bisa dipahami oleh penerima maka
      pesan yang dikirimkan tersebut tidak menjadi informasi. Akan tetapi perlu

3
    Angling, Towers & Howard Levie, Visual Massage Design and Learning: The Role Static and
    Dynamic Illustrations, (New York: Indiana Universitas 1993), hlm. 755.



                                              3
   disadari bahwa suatu pesan bisa mempunyai makna yang berbeda bagi satu
   individu ke individu lain, karena pesan berkaitan erat dengan masalah
   penafsiran bagi yang menerimanya.


B. Karakteristik Siswa
       Sebagaimana diuraikan di atas bahwa karakteristik siswa merupakan salah
   satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefinisikan sebagai aspek-
   aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat,
   minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kernampuan berpikir, dan
   kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa
   akan amat berpengaruh dalarn pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan
   dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen
   strategi pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa.
       Sebenarnya, begitu banyak karakteristik yang bisa diidentifikasi dalam diri
   siswa yang dapat membawa penga.ruh pada pelaksanaan dan hasil pengajaran
   secara keseluruhan. Pada bagian ini, hanya akan diuraikan karakteristik yang
   berkaitan dengan kemampuan awal yang telah dipelajari yang berguna sebagai
   pijakan dalarn pemilihan strategi pengajaran yang optimal. Ini dilakukan karena
   kemampuan awal amat penting peranannya dalam meningkatkan kebermaknaan
   pengajaran, yang selanjutnya membawa dampak dalam memudahkan proses-
   proses internal yang berlangsung dalam diri siswa ketika belajar.
       Suatu teori pengajaran dapat dikatakan komprehensif apabila berurusan
   dengan bagaimana cara mengoptimalkan proses-proses internal ketika
   seseorang belajar: perolehan, pengorganisasian, serta pengungkapan kembali
   pengetahuan baru. Pada awal tahun 1960-an, Ausubel mengemukakan bahwa
   untuk mengoptimalkan perolehan, pengorganisasian, serta pengungkapan
   pengetahuan baru dapat dilakukan dengan membuat pengetahuan baru itu
   bermakna bagi si belajar, dan telah diterima secara luas oleh pengembang teori
   pengajaran, bahwa ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pada pengetahuan
   yang telah dimiliki siswa. Berpijak pada hasil pemikiran Ausubel ini, banyak
   orang pada masa sekarang ini telah secara keliru mengartikan bahwa untuk
   "membuat pengetahuan baru bermakna" hanya dapat dilakukan dengan



                                        4
mengaitkannya dengan pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate
knowledge) yang telah dimiliki oleh si belajar. Itu pun hanya dalam konteks isi
pengajaran yang sedang dipelajari kini diakui bahwa itu bukan satu-satunya
cara, Ausubel (1968) sendiri telah menunjukkan ketika ia memperluas teorinya,
dan subsumption theory, menjadi assimilation theory, ia memasukkan jenis
kemampuan lain untuk membuat pengajaran menjadi bermakna. Advance
organizer dapat dipakai untuk membuat belajar menjadi bermakna dengan
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang setingkat (yang
telah dimiliki oleh si belajar) di luar isi pengajaran yang akan dibicarakan. Cara
lain, yang sering diabaikan dalam literatur adalah mengaitkan pengetahuan baru
dengan specific sensoiry events yang tersimpan dalam experiential data base.
Sensory events diacukan oleh teoritikus pengajaran sebagai instances dan
experiential data base serupa dengan apa yang diacukan oleh Lindsay dan
Norman (1977) sebagai sensory-motor data base. Mengaitkan pengetahuan baru
dengan experiential data base telah menjadi cara yang umum digunakan untuk
membuat pengetahuan baru menjadi bermakna ketika masa awal pengembangan
teori-teori pengajaran kognitif.
     Tampak sekali, bahwa peneliti dan pengembang teori pengajaran telah
memperkenalkan cara-cara yang berbeda untuk membuat pengetahuan baru
menjadi bermakna, yaitu dengan mengaitkannya pada jenis kemampuan yang
berbeda. Bagian ini akan menguraikan jenis-jenis kemampuan awal ini, yang
dapat digunakan untuk memudahkan perolehan, pengorganisasian dan
pengungkapan kembali pengetahuan baru. Atau, bila menggunakan konsepsi
psikologi kognitif, untuk memudahkan proses penyandian, penyimpanan, dan
pengungkapan informasi baru.
     Reigeluth, (1983b) mengidentifikasi 7 (tujuh) jenis kemampuan awal yang
dapat   dipakai   untuk    memudahkan             perolehan,    pengorganisasian,   dan
pengungkapan kembali pengetahuan baru. Ketujuh jenis kemampuan awal ini
adalah sebagai berikut.
1) Pengetahuan     bermakna        tidak       terorganisasi   (arbitrarily   meaningful
   knowledge), sebagai tempat mengaitkan pengetahuan hafalan (yang tidak
   bermakna) untuk memudahkan retensi.



                                           5
2) Pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang mengaitkan pengetahuan
   baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada di luar isi
   yang sedang dibicarakan.
3) Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge), yang
   dapat berfungsi sebagai kerangka cantolan bagi pengetahuan baru.
4) Pengetahuan setingkat (coordinate knowledge), yang dapat memenuhi
   fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif dan/atau komparatif.
5) Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang
   berfungsi untuk mengkonkretkan pengetahuan baru atau juga penyediaan
   contoh-contoh.
6) Pengetahuan pengalaman (experiential knowledge), yang memiliki fungsi
   sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah, yaitu untuk
   mengkonkretkan dan menyediakan contoh-contoh bagi pengetahuan baru.
7) Strategi   kognitif (cognitive strategy), yang menyediakan cara-cara
   mengolah pengetahuan baru, mulai dan penyandian, penyimpanan, sampai
   pada pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam
   ingatan.
     Ketujuh jenis kemampuan awal ini dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu
kemampuan yang berkaitan dengan :
(a) pengetahuan yang akan diajarkan,
(b) pengetahuan yang berada di luar pengetahuan yang akan dibicarakan, dan
(c) pengetahuan mengenai keterampilan generik (generic skills).
     Klasifikasi pertama, yang berkaitan dengan pengetahuan yang akan
diajarkan, meliputi pengetahuan tingkat lebih tinggi, pengetahuan setingkat,
pengetahuan tingkat lebih rendah, dan pengetahuan pengalaman. Klasifikasi
kedua, yang berkaitan dengan pengetahuan yang berada di luar pengetahuan
yang akan dibicarakan, meliputi pengetahuan bermakna tidak terorganisasi dan
pengetahuan analogis. Klasifikasi ketiga, yang berkaitan dengan pengetahuan
tentang keterampilan generik, hanya meliputi strategi kognitif.
     Apabila dilihat dari tingkat penguasaannya, kemampuan awal bisa
diklasifikasi menjadi 3 (tiga), yaitu
a) kemampuan awal siap pakai;



                                        6
b) kemampuan awal siap ulang;
c) kemampuan awal pengenalan.
    Kemampuan awal siap pakai mengacu kepada kemampuan yang manapun
dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth, yang benar-benar
telah dikuasai oleh siswa (atau telah menjadi miliknya), dan dapat dipakai
kapan saja, serta dalam situasi apa pun.
    Kemampuan awal siap ulang mengacu kepada kemampuan yang manapun
dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth, yang sudah pernah
dipelajari siswa, namun belum dikuasal sepenuhnya atau belum siap dipakai
ketika diperlukan. Karena belum menjadi miliknya, siswa masih amat
tergantung pada adanya sumber-sumber yang sesuai (biasanya buku teks) untuk
dapat menggunakan kemampuan ini.
    Kemampuan awal pengenalan mengacu kepada kemampuan yang
manapun dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth, yang
baru dikenal. Mungkin karena baru pertama kali dipelajari oleh siswa sehingga
perlu diulangi beberapa kali agar menjadi siap pakai. Kemampuan awal ini,
disamping masih amat tergantung pada tersedianya sumber-sumber, juga
seringkali memang belum dikuasai.
    Tiap-tiap kemampuan awal yang diidentifikasi oleh Reigeluth, dapat
dimasukkan ke dalam ketiga klasifikasi ini. Suatu kemampuan awal untuk
seorang siswa mungkin baru mencapai tingkat pengenalan, sedangkan bagi
siswa lain, untuk kemampuan awal yang sama, sudah mencapai siap ulang atau
siap pakai. Oleh karena itu, setiap kemampuan awal bisa bervariasi tingkat
penguasaannya dan seorang siswa ke siswa lain. Inilah yang utama harus
diperhatikan oleh perancang pengajaran. Mana dari sejumlah kemampuan awal
yang dapat memudahkan belajar sudah termasuk siap pakai, siap ulang,
pengenalan, dan untuk siswa yang mana. Bagaimanapun juga, kemampuan awal
yang siap pakai paling penting peranannya sebagai pertimbangan dalam
pengembangan rancangan pengajaran, khususnya pemilihan strategi pengajaran.
Bagian terpenting dari kemampuan awal jenis ini adalah konsep, prosedur, serta
prinsip yang mendasari disiplin ilmu yang sedang dipelajari. Umpamanya,
konsep "kemampuan awal" harus menjadi pengetahuan siap pakai bagi



                                      7
mahasiswa program studi teknologi pendidikan , seperti halnya "prinsip-prinsip
ekonomi" menjadi pengetahuan siap pakai bagi mahasiswa jurusan ekonomi.
Termasuk pula pengetahuan faktual yang sifatnya hafalan belaka. Nama
"Skinner" harus menjadi pengetahuan siap pakai bagi mahasiswa jurusan
teknologi   pengajaran, seperti halnya, nama "Picasso" harus menjadi
pengetahuan siap pakai bagi mahasiswa jurusan seni rupa.




                                    8
                                      BAB III
                                  KESIMPULAN




      Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk
menciptakan strategi dan produk. Kawasan desain paling tidak meliputi empat
cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu : (1) desain sistem pembelajaran; (2)
desain pesan; (3) strategi pembelajaran; (4) karakteristik pembelajar.




                                          9
                           DAFTAR PUSTAKA




Uno, Hamzah B., Perencanaan Pembelajaran, 2008, Jakarta : PT. Bumi Aksara
Suparman, Atwi, Kawasan Riset dan Pengembangan Teknologi Pendidikan, 2000,
     Jakarta: PPS UNJ
AECT, Definisi Teknologi Pendidikan Satuan Tugas Definisi dan Terminologi
     AECT, 1986, Jakarta: Rajawali




                                     10
 DESAIN PESAN DAN KARAKTERISTIK SISWA


       Makalah ini diajukan dalam diskusi mata kuliah
          Perencanaan Pembelajaran Bahasa Arab


                    Dosen Pengampu :
               M. Asrori Ma’shum, M. Pd.I




                           Oleh :
                        Mas Andik
                      Mas’ud Yazid
                         M. Rifa’i


                      PRODI PBA
SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH (STIBAFA)
           TAMBAKBERAS JOMBANG
                       2009 – 2010
                                                    DAFTAR ISI




Halaman Judul ...................................................................................................         i
Daftar Isi ............................................................................................................   ii
BAB I : PENDAHULUAN ..............................................................................                        1


BAB II : PEMBAHASAN .................................................................................                     2
              A. Desain Pesan Dalam Teknologi Pendidikan ..................................                               2
              B. Karakteristik Siswa ........................................................................             4


BAB III : KESIMPULAN .................................................................................                    9
Daftar Pustaka .................................................................................................... 10




                                                              ii

				
DOCUMENT INFO