Docstoc

IMPIAN SANG PEMIMPI

Document Sample
IMPIAN SANG PEMIMPI Powered By Docstoc
					                             IMPIAN SANG PEMIMPI


         Pada hakikatnya impian adalah motivasi dalam diri dengan kata lain
seseorang akan menjadi lebih aktif dan bersemangat dengan adanya impian.
Bukanlah karena pengangguran seseorang menjadi bermalas-malasan, melainkan
karena tiadanya impian yang dicita-citakan.
         Saya pernah membaca dalam sebuah novel yang dikarang oleh pemuda
jenius, yaitu Andrea Hirata. Dalam novel itu, saya mendapatkan beberapa kata
yang cukup lama saya berfikir karenanya, dimana dalam novel itu sang pemikir
bertutur : ”Bermimpilah karena mimpi-mimpimu akan dipeluk Tuhan”. Sebelum
saya mafhumi kata-kata ini, sejenak saya berfikir dalam hati ”benarkah setiap orang
yang kini menjadi tersohor, dulu bahkan sekarang adalah berdasarkan karena
impian ?”. Para cendekia-cendekia dan sesosok pemuda-pemuda yang kini selalu
disebut-sebut namanya, demi membenamkan syak wasangka dalam hati, dan tak
saya temukan jawabannya kecuali kebenarannyalah yang ada. Sebab dengan
adanya impian, seseorang takkan menjadi bermalas-malasa, justru ia akan menjadi
lebih aktif dan ambisi yang menggebu-gebu agar tujuannya (impian) lekas
didapatkan.
         Dan sejak saat itu, saya lantas berfikir, adakah cita-cita dalam diri saya ?
Adakah sebuah impian yang saya inginkan dan saya dapatkan ? Lantas jikalau saya
tiada bercita, kenapa saya harus di pesantren ? Dan kenapa juga saya harus menjadi
siswa, bahkan saya kini haarus menjadi mahasiswa pula ? Di samping itu pula, saya
teringat sebuah pertanyaan yang dilontarkan guru saya pada saya, dimana pada
waktu itu, saya duduk di kelas tiga ibtidaiyyah. Beliau bertanya : ”Cita-cita yang
bagaimanakah yang kau inginkan ?” Dengan lugunya saya menjawab ”Doktor”,
sebuah jawaban yang tanpa adanya keseriusan, lantaran saya hanya ikut-ikutan
teman.
         Namun kini telah saya sadari, betapa pentingnya sebuah cita-cita yang harus
tertancap dalam diri saya, dan dengan usaha yang bagaimana pula saya harus
meraih serta mendapatkan hal yang saya impikan.
         Sebagaimana kita ketahui, setiap individualisme manusia pastilah tersimpan
dalam benaknya sebuah keinginan. Namun keinginan di sini bukanlah yang
dimaksud cita-cita, sebab cita-cita hanyalah terfokus pada satu jalan atau satu
tujuan; semisal saya berkata ; saya ingin membeli mobil atau saya ingin memakan
sate sepuluh tusuk. Dengan memahami kata-kata ingin, bisa disimpulkan bahwa
suatu hal yang lumrah bila kita mempunyai keinginan dan hasrat, akan tetapi bila
saya berkata : aku bercita-cita menjadi ahli falsafah, maka untuk menjadi ahli
filsafat saya harus terjun di dunia filsafat dan yang berhubungan dengannya.
       Dari hari ke hari saya berfikir, mencari cita-cita dalam diri saya, mencari
satu impian yang saya usahakan lalu saya dapatkan. Namun tiada jua saya temukan,
kecuali hanya sebuah keinginan. Keinginan menjadi yang teratas, kenginan menjadi
yang terbaik bahkan keinginan menjadi seorang yang dicintai dan mencintai.
       Apakah itu pantas dikatakan cita-cita atau impian ? atau benarkah keinginan
itu adalah sebuah impian yang harus di cita-citakan ?
       Hidup di lingkungan pesantren tidaklah luput kita sebagai seorang santri
yang senantiasa seserawungan dengan para kyai, dimana dalam diri beliau, terdapat
suri tauladan yang bisa dijadikan pedoman. Artinya karakteristik beliau bisa
dijadikan suatu hal yang perlu kita tiru. Dan dengan menelaah kepribadian para
ulama, saya pernah berfikir berkeinginan menjadi salah satu diantara mereka atau
setidaknya mempunyai sebagian karakteristik mereka. Namun pemikiran saya tidak
terhenti sampai di situ, sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-
orang yang bagi agama, nusa dan bangsa, bahkan bagi seluruh umat manusia.
       Maka dari situlah saya temukan sebuah cita-cita yang kini telah saya
tancapkan dalam jiwa dan raga, dengan meneriakkan pada mereka (organ tubuhku)
bahwa : “telah ku temukan sebuah impian yang ku cita-citakan yang hal itu tiada
lain adalah cita-cita menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa bangsa, dan
seluruh umat manusia”. Amin...




                                                                 Oleh : Suminto

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:44
posted:7/16/2011
language:Indonesian
pages:2