ASKEP MORBILI JADI

Document Sample
ASKEP MORBILI JADI Powered By Docstoc
					ASUHAN KEPERAWATAN MORBILI
               PADA ANAK




                Disusun Oleh :


    Fitria Yulianti          0701092
    Heni Atmanti             0701096
    Iemas Kartika            0701098
    Joni Cahyono             0701047
    Lestari Restuningsih     0701105
    Mukhoerotul Annur        0701110
    Pujiwati                 0701117




       PRODI DIII KEPERAWATAN
   STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
                      2009
                                       MORBILI


A. Definisi
       Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
   yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang
   dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatann
   Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
   Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-
   gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,
   pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000).

B. Etiologi
       Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan
   darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini
   berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Cara
   penularan dengan droplet infeksi.


C. Epidemiologi :
       Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
   kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita
   morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6
   bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
   menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2
   bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili
   pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan
   kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang
   kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.

D. Patofisiologi :
       Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan
   dan masuk ke system retikulo endothelial, berklembang biak dan selanjutnya
   menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran
   pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi berupa
   bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam timbulnya
   ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler
   juga ikut berperan dalam eliminasi virus.


E. Manifestasi klinis
      Gejala-gejala yang timbul dibagi dalam 4 fase :
   1. Masa Inkubasi
              Fase inkubasi berlangsung sekitar 10-12 hari. Di fase ini agak sulit
      mendeteksi infeksinya karena gejalanya masih bersifat umum bahkan tidak
      terlihat sama sekali. Mungkin beberapa anak mengalami demam tetapi umumnya
      anak tidak merasakan perubahan apa-apa. Bercak-bercak merah yang merupakan
      ciri khas campak pun belum keluar.
              Yang perlu dilakukan: Jagalah keseimbangan gizi anak dengan baik agar
      daya tahan tubuhnya tetap tinggi. Misalnya dengan makan sayur, buah, serta
      menjaga kebugaran tubuhnya. Bila memang nantinya campak benar-benar
      menyerang kemungkinan terjadinya tidak akan terlalu parah.
   2. Fase Prodormal
              Adalah fase dimana gejala penyakit sudah mulai timbul seperti flu, batuk,
      pilek, dan demam. Mata anak pun akan tampak kemerah-merahan dan berair. Tak
      hanya itu, anak tidak bisa melihat dengan jelas ke arah cahaya karena merasa silau
      (photo phobia). Ciri lain, di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang
      akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. Satu-dua hari
      kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5° C. Di fase
      kedua bercak merah belum muncul.
              Yang perlu dilakukan: Segeralah memeriksakan anak ke dokter ketika flu,
      batuk, pilek, dan demam mulai muncul. Jangan sampai menunggu munculnya
      bercak-bercak merah karena anak butuh pertolongan secepatnya. Tindakan cepat
      sangat membantu untuk mengantisipasi beratnya penyakit.
3. Fase Makulopapuler
           Fase makulopapuler yakni keluarnya bercak merah yang sering diiringi
   demam tinggi antara 38-40,5°C. Awalnya, bercak ini hanya muncul di beberapa
   bagian tubuh saja, biasanya di belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan
   kaki. Untuk membedakan dengan penyakit lain, umumnya warna bercak campak
   akan sangat khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak
   terlalu kecil.
           Biasanya, bercak merah akan memenuhi seluruh tubuh dalam waktu satu
   minggu meskipun hal ini tergantung pula pada daya tahan tubuh masing-masing
   anak. Pada anak yang memiliki daya tahan tubuh baik umumnya bercak merahnya
   hanya pada beberapa bagian saja. Tetapi pada anak yang memiliki daya tahan
   tubuh lemah, bercak merahnya akan semakin banyak. Hal ini juga menunjukkan
   kalau campak yang diderita anak termasuk berat.
           Yang perlu dilakukan: Tetaplah mengonsultasikan segala sesuatunya pada
   dokter. Biasanya dokter akan mengusahakan agar bercak merah pada anak tidak
   sampai muncul di sekujur tubuh. Bila memang sekujur tubuhnya dipenuhi bercak,
   ini berarti campaknya cukup berat. Apalagi jika sudah muncul gejala komplikasi,
   maka konsultasikanlah ke dokter apakah anak perlu dirawat atau tidak.
           Sebagian masyarakat beranggapan bahwa semakin banyak bercak merah
   yang tampak semakin bagus karena berarti anak akan cepat sembuh. Pendapat ini
   keliru karena kita sebenarnya dituntut untuk lebih waspada. Tetapi bila diagnosis
   sudah ditegakkan, dan tak ada komplikasi, anak cukup dirawat di rumah.
4. Fase Penyembuhan
           Bila bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan
   sendirinya. Selanjutnya bercak merah akan berubah menjadi kehitaman dan
   bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau
   rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2
   minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak.
           Yang perlu dilakukan: Tetap berikan obat yang sudah diberikan oleh
   dokter sambil menjaga asupan makanan bergizi seimbang dan istirahat yang
   teratur. Jangan pernah beranggapan kalau bercak merah sudah berkurang dan
      gejalanya sudah hilang berarti virus campaknya sudah musnah. Kita tetap perlu
      melanjutkan pengobatan sampai anak benar-benar sembuh.


F. Komplikasi
    - Otitis media akut
    - Pneumonia / bronkopneumoni
    - Encefalitis
    - Bronkiolitis
    - Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis
G. Pencegahan
   1. Mencegah Penularan Penyakit Campak
              Cara yang paling efektif untuk mencegah anak dari penyakit campak
      adalah dengan memberikan imunisasi campak. Jika setelah mendapat imunisasi,
      anak terserang campak, maka perjalanan penyakit akan jauh lebih ringan.
      Imunisasi campak ini dapat diberikan sebagai imunisasi tunggal campak, atau
      dengan memberikan imunisasi MMR. Selalu menjaga kebersihan dengan selalu
      mencuci tangan anak sebelum makan. Jika anak belum waktunya menerima
      imunisasi campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi
      campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang
      lain yang sedang demam
   2. Imunisasi Aktif
              Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang
      telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain
      Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa
      perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin
      tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung
      lama.
              Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai
      mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin
      tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15
      bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena
     masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara
     endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.
  3. Imunisasi Pasif
            Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum
     stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin
     plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk
     pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum
     imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5
     hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.

H. Pengobatan
     Hal lain yang perlu diperhatikan :
  1. Jangan melakukan pengobatan menurut aturan sendiri tetapi harus berdasarkan
     petunjuk dokter. Bila memang harus mengonsumsi obat 3 kali sehari maka harus
     dilakukan dengan baik. Bila ada gejala lain yang timbul, misalnya kejang-kejang
     atau sesak napas, segeralah berkonsultasi pada dokter.
  2. Sebaiknya berikan makanan yang mudah dicerna seperti bubur nasi. Hal ini untuk
     menghindari terjangkitnya infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau
     lainnya. Dianjurkan untuk memberikan makanan yang mudah dicerna selama
     sebulan kemudian sampai kondisinya benar-benar pulih.
  3. Karena mudah menular lewat udara, sebaiknya anak campak dirawat di kamar
     sendiri agar tidak menularkan penyakitnya. Namun perlu diingat, jangan sampai
     terkesan kalau anak diisolasi, berikan mainan yang dapat menghibur agar dia
     tidak bosan.
  4. Setiap anak yang sedang sakit butuh istirahat yang cukup. Anak campak pun
     demikian, berikan waktu beristirahat secara maksimal.
  5. Jangan biarkan bayi yang belum mendapat imunisasi campak berdekatan dengan
     penderita campak sampai penyakitnya benar-benar sembuh. Sangat mungkin virus
     campak akan menulari bayi.
  6. Jaga tubuh anak agar tetap bersih sehingga dia tetap merasa nyaman. Boleh saja
     anak dimandikan atau dilap seluruh tubuhnya. Pendapat yang mengatakan kalau
      anak campak tidak boleh dimandikan adalah keliru karena bila tubuhnya kotor
      dan berkeringat akan menimbulkan rasa lengket dan gatal luar biasa. Dorongan
      menggaruk kulit yang gatal bisa menimbulkan infeksi berupa bisul-bisul kecil
      bernanah. Gunakan sabun bayi yang tak terlalu merangsang kulit dan gosoklah
      kulitnya perlahan. Sehabis mandi, keringkan dan taburi dengan bedak salycyl talc.
   7. Selama anak sakit dan dalam pemulihan sebaiknya kita memisahkan peralatan
      makan dan mandinya, seperti piring, gelas, sendok, handuk, sprai dan pakaiannya.
      Hal ini untuk menghindari terjadinya penularan lewat kontak tak langsung.
   8. Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam
      tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin
      diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu
      dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.


I. Pemeriksaan Diagnostik
      Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni. Dalam sputum,
   sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang
   khas. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan
   complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3
   hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.


J. Penatalaksanaan Teraupetik
   1. Pemberian vitamin A
   2. Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
   3. Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
   4. Pemberian obat batuk dan sedativum
                              ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
   1. Identitas diri :
   2. Riwayat Imunisasi
   3. Kontak dengan orang yang terinfeksi
   4. Pemeriksaan Fisik :
       a. Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
       b. Kepala : sakit kepala
       c. Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung
           (pada stad eripsi ).
       d. Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
       e. Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada
           leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas
           (demam).
       f. Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum
       g. Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi. Pola
           Defekasi : BAK, BAB, Diare
       h. Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
   5. Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
B. Diagnosa Keperawatan
   Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Morbili adalah
   1. Gangguan rasa nyaman : hipertermi b.d proses inflamasi
   2. Resiko kekurangan volume cairan tubuh b.d kehilangan sekunder terhadap
       demam
   3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : Asupan makanan yang kurang
C. Intervensi Keperawatan
   1. Dx. Keperawatan 1
       a. Tujuan :
           -   Suhu tubuh normal dalam jangka waktu...
       b. Kriteria Hasil :
      -   Suhu tubuh 36,6 – 37,40C
      -   Bibir lembab
      -   Nadi normal
      -   Kulit tidak teraba panas
      -   Tidak ada gangguan neurologis ( kejang )
   c. Rencana Tindakan :
      Intervensi :
      -   Monitor perubahan suhu tubuh,denyutan nadi
      -   Lakukan tindakan yang dapat menurunkan suhu tubuh seperti lakukan
          kompres, berikan pakaian tipis dalam proses penguapan.
      -   Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan
      -   Libatkan keluarga dalam perawatan dan ajarkan cara menurunkan suhu
          dan mengevaluasi perubahan suhu tubuh
2. Dx. Keperawatan 2
   a. Tujuan :
      Tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh dalam jangka waktu ….
   b. Kriteria Hasil :
      -   Turgor baik
      -   Produksi urine …cc/jam <0,5 – 1 cc/kg BB/jam
      -   Kulit lembab dan mukosa mulut lembab
      -   TTV dalam batas normal
      -   Cairan masuk dan keluar seimbang
      -   Tidak haus
   c. Rencana Tindakan :
      -   Observasi penyebab kekurangan cairan : muntah, diare, kesulitan menelan,
          kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan
      -   Observasi tanda – tanda dehidrasi
      -   Observasi keadaan turgon kulit, kelembaban,membran mukosa
      -
          terjadi secara mendadak, ukur produksi urine setiap jam, berat jenis dan
      -   Catat dan ukur jumlah dan jenis cairan masuk dan keluar per….
      -   Perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah edema
          paru, dispneu, bila pasien terpasang infus
      -   Timbang BB setiap hari
      -   Pertahankan bedrest selama fase akut
      -
          mengatasi kurang cairan
      -   Kolaborasi :
             Pemberian cairan parenteral sesuai indikasi
             Pemberian obat sesuai indikasi
             Observasi kadar elektronik, Hb,Ht
3. Dx. Keperawatan 3
   a. Tujuan :
      Pasien dapat memperbaiki status gizi (nutrisi ) dalam jangka waktu
   b. Kriteria Hasil :
      -   BB meningkat
      -   Mual berkurang / hilang, tidak ada muntah
      -   Pasien menghabiskan makan 1 porsi
      -   Nafsu makan meningkat
      -   Tidak ada tanda – tanda malnutrisi
      -   Nilai Hb, Protein dalam batas normal
   c. Rencana Tindakan :
      -   Berikan diet TKTP atau nutrisi yang adekuat
      -   Berikan sari buah yang banyak mengandung air
      -   Berikan susu atau makanan dalam keadaan hangat
      -   Berikan makan sedikit tapi sering hingga jumlah asupan terpenuhi
      -   Berikan nutrisi dlam bentuk makanan lunak untuk membantu nafsu makan
      -   Memonitor perubahan BB, adanya bising usus, dan status gizi
                                   DAFTAR PUSTAKA


Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1991. Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2.Jakarta: FKUI.
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak vol 2. Jakarta : EGC.
http://www.foxitsoftware.com.
http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/11/askep-morbili/
http://zasmiarel.wordpress.com/2008/10/17/penyakit-tampak-campak-pada-bayi-dan-
      anak/

http://www.anakku.net/content/campak

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:900
posted:7/15/2011
language:Indonesian
pages:11