DENGUE HAEMORAGIC FEVER

Document Sample
DENGUE HAEMORAGIC FEVER Powered By Docstoc
					                          DENGUE HAEMORAGIC FEVER




A. Pengertian
DHF adalah penyakit demam berdarah akut dengan cirri-ciri demam, manifestasi perdarahan
dan mengakibatkan renjatan dan dapat juga menyebabkan kematian.
                                 (Mansjoer, 2002)
Demam darah dengue adalah suatu penyakit demam berat yang sering mematikan,
disebabkan oleh virus ditandai oleh peningkatan permiabilitas kapiler, selain hemostatis dan
pada kasus berat, sindrom shok kehilangan protein.
                                 (Nelson,1999)
Demam berdarah dengue adalah suatu infeksi arbovirus (arthropod-borneuirus) akut
ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes aeghepty.
                                 (Ilmu Kesehatan Anak, Universitas Indonesia)
DHF (dengue haemuragic fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejanis
virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk
Aedes aegepty (betina).
                                 (Christantie Effendi, 1995)


B. Etiologi
Penyebab DHF adalah virus dengue sejanis virus yang tergolong arbovirus.
Vektor : nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopictus
Cara penularan sering disebabkan oleh :
1. Kebiasaan masyarakat : menampung air tanpa ditutup
2. Sanitasi lingkungan yang kurang baik
3. Jarak rumah yang terlalu dekat atau kawasan padat penduduk karena jarak terbang
   nyamuk Aedes aegepty 40-100 m.
4. Aedes aegepty betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple biters) yaitu
   menggigit orang secara bergantian dalam waktu singkat
C. Patofisiologi
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma keruang ekstra seluler.
hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang
mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual nyeri otot, pegal-pegal
diseluruh tubuh, ruam/bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan
hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati
(hepatomegali) dan pembesaran limpa (splenomegali).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma,
terjad hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok).
Hemokonsentrasi    (peningkatan    hematokrit   >20%)     menunjukan    adanya    kebocoran
(perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian
cairan intravena. adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan
ditemukan adanya cairan yang tertimbun dirongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura,
dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infuse.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkayan jumlah trombosit menunjukan kebocoran
plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatannya dan
jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak
mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat
mengakibatkan kondisi penderita memburk bahkan bisa mengalami renjatan. jika
renjatan/hipovolemia berlangsung lama akan timbul anoksi jaringan, asidosis metabolik, dan
kematian apabila tidak iatasi dengan baik. gangguan hemostatis pada DHF menyangkut 3
faktor, yaitu : perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.


D. Manifestasi klinis
Manifestasinya bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan mas inkubasi 13-15 hari
penderita biasanya mengalami demam akut (suhu meningkat tiba-tiba) sering disertai
menggigil.
dengan adanya gejala –gejala klinis yang dapat menimbulkan terjadinya DHF seperti adanya
gejala perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis, hematom) dan perdarahan lain (epitaksis,
hematemesis, hematuri, dan melena) yang berdasarkan tingkat keparahan yang ditemui dari
hasil pemeriksaan darah lengkap. selain demam dan perdarahan yang merupakan cirri khas
DHF, gambaran klinis lainnya adalah:
1. keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek.
2. keluhan pada saluran pencernaan ; mual, muntah, tidak nafsu makan, sakit menelan,
   diare/konstipasi.
3. keluhan pada sistem tubuh lain:
       a. nyeri/sakit kepal
       b. nyeri pada otot, tulang dan sendi (break bone fever)
       c. nyeri abdomen, nyeri ulu hati
       d. pegal-pegal apda seluruh tubuh
       e. kemerahan pada kulit, kemerahan (flushing) pada muka
       f. pembengkakan pada mata, lakrimasi dan foto fobia, otot-otot sekitar mata sakit
           apabila disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal.
       g. trombosit < 500.000/ mm
4. Pada penderita DHF sering dijumpai pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening
   yang akan kembali normal pada masa penyembuhan.
5. Pada penderita yang mengalami renjatan :
       a. terdapat sianosis perifer, kulit terasa lembab dan dingin, terutama pada ujung jari
           dan bibir
       b. hipotensi, nadi cepat dan lemah
       c. renjatan terjadi pada saat demam ataupun pada waktu demamnya turun antara hari
           ke-3 dan ke-7


Patokan WHO untuk menegakan diagnosa DHF :
a. Demam tinggi mendadak dan teru-menerus selama 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan termasuk uji tourniquet (+) dan salah satu bentuk lain (petekie,
   purpura, ekimosis, epitaksis, hematemesis, melena)
c. Pembesaran hati
d. Renjatan ( nadi lemah, cepat disertai penurunan tekanan darah = systole < 80 mmHg dan
   diastole < 20 mmHg, disertai kulit tersa lembab dan dingin terutama pada hidung, jari
   tangan dan kaki, penderita gelisah, timbul sianosis sekitar mulut).
                                                   (Suriadi, 2001)


   E. Pathways


                           Infeksi virus dengue


Kompleks virus-antibody                            Depresi sumsum tulang


Aktivasi komplemen                                Perdarahan; tromnositopenia


Antihistamin dilepaskan


Permeabilitas membran


Kebocoran plasma


    Hipovolemik


Renjatan hipovolemik


Asidosis metabolik




   F. Klasifikasi DHF
   DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit secara klinis dibagi menjadi :
                                                       (WHO, 1986)
1. Derajat I : demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan, uji tourniquet (+),
   trombositopenia dan hemakonsentrasi.
2. Derjat II : derajat I disertai perdarahan pada kulit/tempat lain
3. Derajat III :   ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat, lemah, TD menurun,
   gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari (tanda-tanda dini renjatan)
4. Derajat IV : renjatan berat : denyut nadi tak terasa dan TD tidak dapat diukur.
                                                 (Suriadi, 2001)
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Darah
          Trombositopenia (N pria = 40-48 nol %
          Masa pembekuan normal (10-15)
          nasa perdarahan memanjang (N=1-3)
          Kimia darah = hiponatremia, hipoproteinemia, hipokalemia
          SGOT, SGPT meningkat (N < 12 u/i)
          ureum meningkat
2. Urine
Albuminurial ringan
3. Sumsum tulang
Awal hiposeluler kemudian menjadi hiperseluler pada hari ke 5dengan gangguan maturasi.
hari ke 10 biasanya kebali normal.
4. Pemeriksaan serologi
dilakukan pengukuran titer antibody pasien dengan cara haema glutination inhibition tes (HI
tes) atau dengan uji pengikatan complement (Complement fixation tes / CFT ) diambil darah
vena 3-5 ml
5. Foto thorak
Mungkin dijumpai pleural efusion
6. USG
hematomegali, splenomegali
H. Penatalaksanaan
penatalaksanaan penderita DHF adalah :
       1. Tirah baring
      2. Diet makanan lunak
      3. Minum banyak ( 2-2,5 liter/24 jam ). dapat berupa susu, teh manis, sirup dan beri
         penderita oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi
         penderita DHF
      4. Pemberian cairan IV.biasanya RL dan NaCl. RL adalah cairan yang paling sering
         digunakan, mengandung 130 mEq/ltr. K+4 mEq/ltr, konektor basa 28 mEq/ltr. Ce
         109 mEq/ltr, Ce 109 meq/ltr, dan Ca++ 3 mEq/ltr
      5. Monitor TTV tiap 3 jam. Jika kondisi memburuk, observasi ketat tiap jam
      6. Periksa Hb, Ht dan trombosit tiap hari
      7. Pemberian obat antipiretik
      Sebaiknya dari golongan asetaminofel (kolaborasi dengan dokter) juga pemberian
      komplek dingin
      8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
      9. Pemberian antibiotika
      10. Bila terdapat kekhawatiran infeksi sekunder ( kolaborasi dengan dokter)
      11. Monitor tanda – tanda dini renjatan = KU, perubahan TD, hasil pemeriksaan
         laboratorium yang memburuk
      12. BIla timbul kejang dapat diberikan diazepam


I. Komplikasi
      1. Mengakibatkan perdarahan pada semua anggota tubuh seperti perdarahan ginjal,
         otak, jantung, paru, limpa, dan hati. Sehingga tubuh kehabisan darah dan cairan
         serta menyebabkan kematian.
      2. Ensepalopati
      3. Gangguan kesadaran yang disertai kejang
      4. Disorientasi, prognosa buruk




J. Proses keperawatan
   1. Pengkajian
         a. Kaji Air way, Breathing, Circulation, Disability
      b. Biodata klien dan keluarga
      c. Riwayat kesehatan sekarang
          Biasanya pasien demam, lemah, sakit kepala, anemia, nyeri ulu hati, dan nyeri
          otot
      d. Riwayat kesehatan dahulu
      e. Riwayat kesehatan keluarga
      f. Pemeriksaan fisik : TTV, head to toe, KU, kesadaran
      g. Pemeriksaan Diagnostik


2. diagnosa keperawatan
      a. Kekurangan volume cairan b.d peningkatan permeabilitas dinding PD,
          perdarahan
      b. Hipertermia b.d proses infeksi virus (viremia)
      c. perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme,
          anoreksia, mual,muntah, intake inadekuat
      d. Nyeri akut b.d agen cidera biologis




3. Intervensi keperawatan
      a. DI :
                 1) Kaji turgor kulit
                 2) Kaji warna, jumlah, dan frekwensi kehilangan cairan
                 3) Pantau perdarahan (missal : periksa semua sekresi dari adanya darah
                    nyata atau samar)
                 4) Lakukan pemeriksaan laboratorium untuk memantau hasil yang
                    relevan dengan keseimbangan cairan (misalnya kadar hematokrit,
                    BUN, albumin, protein, dan BJ urine)
                 5) Anjurkan pada pasien untuk banyak minum
                 6) Monitor balance cairan
                 7) Kolaborasi pemberian cairan perenteral
             8) Ukur TTV : pantau peningkatan TD tibs-tiba, gelisah, batuk, dispneu,
                sputum banyak


   b. DII
             1) Kaji saat terjadinya demam serta karakteristik maupun pola demam
                DHF dimulai dari demam tinggi, terus menerus berlangsung 2-7 hari
             2) Observasi TTV
             3) Bantu dan ajarkan kompres dengan air biasa
             4) Beri cairan oral bila pasien bisa minum
             5) Jelaskan pada pasien dan keluarga penyebab demam
             6) Kolaborasi pemberian antipiretik


   c. DIII
1) Kaji keluhan mual,nyeri menelan, dan muntah
2) Beri makanan yang mudah ditelan dan hidangkan selagi hangat
3) Anjurkan makan sedikit tapi sering
4) Timbang berat badan
5) Anjurkan pasien minum susu
6) Kolaborasi pemberian antiemetik
   d. DIV
        1) Kaji PQRST nyeri
        2) Beri posisi yang nyaman, lingkungan yang tenang
        3) Ajarkan tehnik nafas dalam
        4) Berikan kesempatan pada pasien untuk berinterakasi dengan keluarga
              atau teman
        5) Ajarkan pada pasien dan keluarga tehnik masase untuk mengurangi
              nyeri
        6) Kolaborasi pemberian analgetik
        DAFTAR PUSTAKA
Behrman. E Richard Kliegman.M. Robert, Arvin.M. Ann.1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson
           Volume 2.Jakarta : EGC
Doenges,      M.E,    Moorhouse,     M.F   &   Geissier,   A.C.2000.   Rencana   Asuhan
           Keperawatan.Jakarta:EGC
Hidayat.A.Aziz Alimul.2006.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Edisi 1.Jakarta: Salemba
           Medika
Staf Pengajar Ilmu Universitas Indonesia.1986.Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta:
           Infomedika Jakarta
Wilkinson, Judith M.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Jakarta:EGC




                                   RESUME KEPERAWATAN
Nama Pasien             : Ny. S
Umur                    : 30 th
Jenis Kelamin           : perempuan
Alamat                  : gang mangga kebumen
Tanggal Pengkajian      : 10 Maret 2010


   I.       Pengkajian Primer
            1. Airway
                 Tidak ada sumbatan jalan nafas, tidak terdapat darah maupun secret dijalan nafas,
                 ditunjukan dengan pasien dapat menjawab pertanyaan perawat walau dengan
                 nafas terengah-engah dan gelisah.
            2. Breathing
                 klien mengatakan sesak nafas. RR:34x/menit, tidak ada nyeri dada, tidak ada
                 bunyi nafas tambahan, tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan, nafas pendek.
            3. Circulation
                 Nadi teraba, N: 84x/menit, TD:130/85 mmHg, konjungtiva anemis, tidak terdapat
                 perdarahan, ekstremitas teraba hangat, CRT < 2detik, muka pucat.


   II.      Pengkajian Sekunder
   Tingkat Kesadaran : compos mentis, GCS : E4 V5 M6
   Tanda vital :
   TD : 130/85 mmHg
   N : 84x/menit
   S : 38,30 C
   RR : 34x/menit
   Riwayat Kesehatan Sekarang
         Pasien datang ke IGD RSUD KEBUMEN pada tanggal 10 maret 2010 pukul 19.30
   dengan keluhan sesak nafas, demam, panas dingin hari ke 3, sakit pada perut, mual, jika
   makan langsung muntah. TD : 130/85 mmHg, N : 84x/menit, S : 38,30 C, RR : 34x/menit,
   rempelet test (+), terapy yang diberikan O2 4lt, infuse RL 20 tpm
Riwayat Kesehatan Dahulu
    Pasien sebelumnya belum pernah dirawat di RS, pasien mengatakan belum pernah
mengalami sakit yang sama seperti yang sedang dialami sekarang.


Pemeriksaan Fisik
Kepala : mesocepal, tidak ada lesi, rambut ikal, hitam, bersih.
Muka : pupil isokor 3mm/3mm, konjungtiva anemis, sklera unikterik, tidak ada lesi
Hidung : terpasang O2 4lt, tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada polip, tidak ada secret.
Telinga : fungsi pendengaran baik, sedikit serumen
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran JVP.
Dada : tidak ada lesi, tidak terdapat nyeri, kembang kempis simetris,tidak ada penggunaan
          otot bantu pernafasan.
Punggung : tidak ada lesi
Abdomen : ada nyeri tekan, tidak ada lesi, peristaltic (+)
Pelvis : tidak ada lesi
Ekstremitas
dikedua ekstremitas atas maupun bawah tidak ada lesi, tidak ada edema, CRT < 2detik, dapat
bergerak dengan bebas dan maksimal, kecuali tangan kanan karena terpasang infus RL
20tpm.


Program Terapy
Cefotaxim                   2 x 1gr
Paracetamol                 3 x 500 mg tab
Metoklopramid               2 x 1ampul
Inpepra                     3 x II cth k/p
Inj. ranitidine             2 x 1 ampul
Imunos                      1 x 1 tab
Infus RL 20tpm
O2 4lt/menit
Rempeled test (+)
Diagnosa medis : DHF
   Analisa data
Hari/Tanggal/Jam Data Fokus                           Problem                        Etiologi
Rabu, 10 maret DS : pasien mengatakan Ketidakefektifan jalan Nyeri
2010 jam 19.30     sesak nnafas                       nafas
                   DO : muka pucat, pasien
                   terlihat      gelisah,     klien
                   bicara dengan terengah-
                   engah.     RR:     34x/menit,
                   nafas pendek


Intervensi Keperawatan
Hari/Tanggal/Jam                Tujuan dan KH                       Intervensi Keperawatan          Ttd
Rabu, 10 maret Setelah            dilakukan         tindakan       Kaji pola nafas pasien
2010 jam 19.30     keperawatan selama 1x30 menit                   kaji                 adanya
                   diharapkan       pola    nafas     efektif       sianosis/pucat
                   dengan indikator / KH:                          auskultasi bunyi nafas
                    Indikator               awal tujuan            pantau kepatenan jalan
                   1.Kedalaman              2         5             nafas
                     inspirasi       dan                           posisikan pasien semi
                     kemudahan                                      fowler
                     bernafas                                      intruksikan pada pasien
                   2.Ekspansi       dada                            dan      keluarga     untuk
                     simetris               3         5             memberitahu          perawat
                   3.Tidak            ada                           saat                  terjadi
                     penggunaan alat                                ketidakefektifan        pola
                     Bantu                  5         5             pernafasan.
                   4.Bunyi          nafas                          kolaborasi       pemberian
                     tambahan tidak                                 obat         nyeri    untuk
                     ada.                                           mengoptimalkan          pola
                   5.Nafas        pendek 5            5             pernafasan
                         tidak ada                           kolaborasi pemberian O2




                                           2      5




Implementasi
Hari/Tanggal/Jam                 Implementasi                    Respon pasien           ttd


Rabu,      10   maret    mengkaji pola nafas pasien     RR: 34x/menit
2010 jam 19.30           posisikan    pasien     semi Posisi semi fowler
                          fowler
                         mengkaji              adanya Wajah pasien pucat
                          sianosis/pucat
                         mengauskultasi bunyi nafas     Bunyi nafas vesikuler

                         memberikan terapy O2          Pasien      terpasang    O2
                                                        4lt/menit

                         mengukur TTV                   TD : 130/85 mmHg,
                                                         N : 84x/menit,
                                                         S : 38,30 C, RR : 34x/menit
                                                         Infuse RL 20tpm terpasang
                         memasang infuse RL 20tpm
                                                         ditangan kanan




Evaluasi
Hari/Tanggal/Jam                                 SOAP                                  ttd
Rabu, 10 maret S : pasien mengatakan sudah sedikit mendingan tapi masih
2010 jam 19.45            merasa sesak.
                    O : pasien masih tampak gelisah
                          Muka masih pucat
    Pasien terpasang O2
    RR : 30 x/menit
    Posisi pasien semi fowler
A : masalah ketidakefektifan pola nafas belum teratasi
    dengan indicator:
 Indikator                             awal   tujuan   akhir
1.Kedalaman         inspirasi   dan     2       5       4
  kemudahan bernafas.
2.Ekspansi dada simetris.               3       5       3
3.Tidak      ada   penggunaan   alat    5       5       5
  Bantu
4.Bunyi nafas tambahan tidak            5       5       5
  ada.
5.Nafas pendek tidak ada                2       5       4


P : lanjutkan intervensi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:279
posted:7/15/2011
language:Malay
pages:14