ASKEP HIV AIDS by zuperbayu

VIEWS: 4,867 PAGES: 40

									ASUHAN KEPERAWATAN
HIV/AIDS KOMPREHENSIF



           TIM
KLINIK VCT RSUD KEBUMEN
  ORGANISASI ASKEP HIV/AIDS
                   EVALUASI PELAKS.
                      TINDAKAN


     SOSIAL          PSIKOLOGIS             FISIK
(INTERAKSI SOS.)      (KOPING)         (IMUNOSUPRESIF)

                     MENYUSUN
   KATEGORI        RENC. TINDAKAN
                                        PRIORITAS MSL
   MASALAH
                     PENDEKATAN
                       SISTEM
 WAWANCARA                              PENILAIAN HSL
                      PEM. FISIK          DIAGNOSIS

                    PENGKAJIAN
 IMUNOLOGI                            KONSEP IMUNOLOGI
PADA HIV/AIDS       PATOFISIOLOGI          DASAR
                       HIV/AIDS
           KONSEP PENTING !
 Penurunan imunitas dipengaruhi oleh beberapa
    faktor, antara lain stressor biologis & stressor
    psikologis.
   Stres mempengaruhi derajat reaktivitas sistem
    endokrin & imun (peningkatan sekresi hormon
    adrenal: kortikosteroid & katekolamin)
   Masalah keperawatan pd pasien HIV/AIDS dpt
    dikelompokan menjadi 4= biologis, psikis, sosial, &
    ketergantungan.
   Peran Perawat= pemenuhan kebuth biologis,
    strategi koping, pemberian dukungan sosial, &
    dukungan spiritual.
   Prinsip askep: meningkatkan imunitas pasien
    HIV/AIDS melalui pemenuhan kebutuhan biologis,
    psikologis, sosial & spiritual.
           PENDAHULUAN
 TERCATAT DEP.KES JULI – SEPTEMBER 2008
  PENGIDAP HIV POSITIF DI INDONESIA = 4617
  ORANG; AIDS = 6987 ORANG (MEDIA INDONESIA,
  2006).
 HIV/AIDS MERUPAKAN PENYAKIT YG TAK DAPAT
  DISEMBUHKAN (BELUM DITEMUKAN OBATNYA).
 DIANGGAP AIB, TEKANAN PSIKOLOGIS BAGI
  PENDERITA & KELG. NYA.
 STRES PSIKOLOGIS SAMPAI TAHAP KELELAHAN
  (EXHAUSTED STAGE) MENIMBULKAN KEGAGALAN
  FUNGSI SISTEM IMUN, MEMPERCEPAT TJD AIDS;
  MENURUT ROSS (1997).
PENURUNAN RESPON IMUN SECARA
 SIGNIFIKAN PENDERITA HIV/AIDS
 AKTIVITAS APC (MAKROFAG)
 Th 1 (CD4)
 IFN gama.
 IL-2
 IMUNOGLOBULIN A,G, E & anti-HIV.
 JUMLAH CD4 MENCAPAI 180 sel/ul per
  tahun.
         PERAN PERAWAT
 DALAM PENANGANAN PASIEN HIV/AIDS

 PENGELOLAAN STRES ( mengarahkan &
  menfasilitasi agar pasien adaptasi kontruktif).
 MEMBERI DUKUNGAN SOSIAL (dukungan
  emosional, informasi, material).
  (Batuman,1990; Bear,1996; Folkman &
  Lazarus, 1988).
 MERAWAT PASIEN HIV/AIDS DENGAN
  MENERAPKAN MODEL ASUHAN
  KEPERAWATAN.
          MODEL/PENDEKATAN ASUHAN
               KEPERAWATAN

             STRATEGI                                         DUKUNGAN
              KOPING                                            SOSIAL
PE
NG
                               PASIEN HIV/AIDS =
KA                           RESPON IMUN MENURUN,
JI                            RESPON PSIKOLOGIS,
                                RESPON SOSIAL.
AN
S.D
EVA
LU
                             RESPON ADAPTIF
ASI

     Sumber: Ader,1991; Setyawan,1996; Putra,1999; Steward,1997.
          MODEL/PENDEKATAN ASH-KEP
     DG PARADIGMA PSIKONEUROIMUNOLOGI
 PUTRA:1999 = MELIBATKAN 3 BIDANG KAJIAN:
    PSIKOLOGI, NEUROLOGI, & IMUNOLOGI.
   R. ADER & C. HOLDER:1975 = DIAWALI DARI KONSEP
    IMUNOPATOBIOLOGIS & IMUNOPATOLOGIS
    (kerentanan individu thd infeksi & metastase, hal ini
    karena mengalami stress yg berakibat menurunkan
    ketahanan imunologis, serta munculnya kelainan
    mukosal yg merupakan respon imun yg melukai).
   SETYAWAN:1999 = HUB LATIHAN FISIK DG MODULASI
    RESPON IMUNITAS.
   SOLEH: 2000 = HUB SHOLAT TAHAJUD DG RESPON
    IMUNITAS.
   PSIKONEUROLOGI BERKEMBANG JADI SUATU ILMU
    PENGETAHUAN (SAINS).
 KONSEP PSIKONEUROIMUNOLOGI
     : PUTRA DKK;1992-1993
 LAT FISIK YG DILAKUKAN SCR TERATUR
  & DILAKUKAN DLM KONDISI
  MENYENANGKAN AKAN MENINGKATKAN
  RESPON IMUNITAS = peningkatan IgM, IgG,
  IgA, monosit, suset T4 (helper), estrogen,
  kortisol, testoteron, & ACTH.
 Perubahan pada hormon & neuropeptida yg
  melibatkan kondisi kejiwaan (stress) dalam
  mekanisme perubahan ketahanan tubuh.
 Kondisi kejiwaan = status emosi yang
  destruktif.
         STRESOR PSIKOLOGIS

 ADER: 1964 = percobaan pd binatang yg berproses belajar
  (kognisi) dg tidak mau minum sakarin karena akan mual/tak
  nyaman. Individu tak mau mengulangi aktivitas yg merugikan
  (Skinner: 1953 = behaviorism).
 DHABHAR & McEWEN: 2001 = stimulus (stresor) – persepsi stres
  – respon stres. Dibaca = stimulus menimbulkan proses
  pembelajaran di otak shg menghasilkan kognisi yg memodulasi
  imunitas.
 SIGEL: 1994 = stresor psikososial ( perpisahan dlm pernikahan,
  perbedaan rumah), stimulus fisik (rejatan listrik, rotasi kerja,
  suara bising).
 McCANCE;1996:SIGEL:1994;BIONDI:2001 = stres karena
  bencana alam, pekerjaan, pelajaran, beradaptasi dlm lingkungan
  baru, ujian, pembedahan/operasi, dll.
        PENGKAJIAN & MSL KEPERAWATAN

                                                                               MASALAH
     MASALAH FISIK             MASALAH PSIKIS       MASALAH SOSIAL         KETERGANTUNGAN

1. SITEM PERNAFASAN :         1. INTEGRITAS EGO     1. PERASAAN            Perasaan
dispneu, TBC, penemonia.      : perasaan tak        MINDER & TIDAK         membutuhkan
2. SISTEM PENCERNAAN          berdaya/ putus asa.   BERGUNA DI             pertolongan orang
: nausea, vomitting, diare,   2. FAKTOR STRES :     MASYARAKAT.            lain.
dysphagia, BB turun 10%/      baru/lama.            2. INTERAKSI
3 bulan.                      3. RESPON             SOSIAL : perasaan
3. SISTEM PERSARAFAN:         PSIKOLOGIS :          terisolasi/ ditolak.
letargi, nyeri sendi,         menyangkal, marah,
encepalopathy.                mudah
4. SISTEM INTEGUMEN :         tersinggung, &
edema karena kaposis          cemas.
sarcoma, lesi
kulit/mukosa, alergi.
5. LAIN LAIN : demam &
resiko menularkan.
    DIAGNOSIS KEPERAWATAN &
      MASALAH KOLABURATIF
       PADA PASIEN HIV/AIDS

 RESIKO INFEKSI SEKUNDER/ KOMPLIKASI.


 WASTING SYNDROME, SARKOMA KAPOSI,
  & LIMFOMA.

 MENINGITIS, INFEKSI OPORTUNITIK (misal:
 kandidiasis, sitomegalovirus, herpes,
 pneumocystis carinii pnemonia).
    DIAGNOSIS KEPERAWATAN MENURUT
            NANDA TOKSONOMI II
       (North American Nursing Diagnosis)
1. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, kelelahan, efek
   samping pengobatan, demam, malnutrisi, gangguan
   pertukaran gas (sekunder thd infeksi paru atau
   keganasan).
2. Bersihan jalan nafas tak efektif b.d penurunan
   energi, kelelahan, infeksi paru, sekresi
   trakeobroncial, keganasan paru, pnemothoraks.
3. Kecemasan b.d prognosis yg tak jelas, persepsi ttg
   efek penyakit & pengobatan thd gaya hidup.
4. Gangguan gambaran diri b.d penyakit kronis, alopesia,
   penurunan BB & ggn seksual.
5. Ketegangan peran pemberi perawatan b.d keparahan
   penyakit, prognosis yg tak jelas, durasi perawatan yg
   diperlukan, keterbatasan sarana, kurangnya waktu
   santai/rekreasi, kompleksitas tugas.
6. Konfusi (akut/kronis) b.d infeksi ssp (toksoplasmosis),
   limfoma, infeksi sitomegalovirus & perkembangan HIV.
7. Koping keluarga tak efektif b.d kurang informasi/
   pemahaman thd informasi.
8. Koping individu tak efektif b.d kerentanan individu dlm
   situasi krisis.
9. Diare b.d pengobatan, diit atau infeksi.
10.Kurangnya aktivitas pengalihan b.d sering/ lamanya
   pengobatan medis, lamanya rawat inap atau bed rest.
11.Kelelahan b.d proses penyakit, kebutuhan psikologis
   & emosional yg sangat banyak.
12.Takut b.d ketidak berdayaan, ancaman kesejahteraan
   diri, kemungkinan terkucil, kemungkinan kematian.
13.Volume cairan kurang b.d asupan cairan kurang
   sekunder lesi oral tau diare.
14.Berduka disfungsional b.d kematian, perubahan gaya
   hidup, kehilangan fungsi tubuh, perub penampilan,
   ditinggal mati org yg terdekat.
15.Perubahan pemeliharaan rumah b.d sistem pendukung
  yg tak adequat, kurang pengetahuan, kurang akrab dg
  sumber sumber komunitas.
16.Keputusasaan b.d dg kondisi fisik berubah & prognosis
  yg buruk.
17.Resiko infeksi b.d imunodefisiensi seluler.
18.Resiko penyebaran infeksi dg faktor resiko cairan
  tubuh yg bersifat menular.
19.Resiko injury (jatuh) b.d kelelahan, kelemahan,
  perubahan kognitif, ensepalopathy, perubahan
  neuromuskuler.
20.Pengelolaan pengobatan yg tak efektif b.d
  kompleksitas bahan obat, kurang pengetahuan ttg
  penyakit, obat, sumber komunitas, depresi,malaise.
21.Ketidakseimbangan nutrisi (kurang) b.d kesulitan
  mengunyah, hilang nafsu makan, lesi oral/ esopagus,
  malabsorbsi GI, infeksi sal cerna (kandidiasis).
22.Nyeri akut b.d efek samping pengobatan,
  perkembangan penyakit, odem limfe, sakit kepala
  sekunder infeksi ssp, neuropati perifer, mialgia parah.
23.Ketidakberdayaan b.d penyakit terminal, bahan
  pengobatan, prognosis yg tak jelas.
24.Kurang perawatan diri b.d penurunan kekuatan atau
  kebingungan akut/kronis.
25.Harga diri rendah b.d penyakit kronis & krisis
  situasional.
26.Perubahan persepsi sensori (pendengaran/
  penglihatan) b.d kehilangan pendengaran sekunder
  efek pengobatan, kehilangan penglihatan akibat
  infeksi.
27.Pola seksual tak efektif b.d sekunder efek obat, takut
  penyebaran infeksi HIV.
28.Kerusakan integritas kulit b.d kerusakan mobilitas
  fisik, eksoriasi perineum sekunder akibat diare, lesi
  kandisiasis/herpes.
29.Perubahan pola tidur b.d nyeri, berkeringat dimalam
  hari, efek samping obat, kecemasan, depresi, putus
  obat (heroin, kokain).
30.Isolasi sosial b.d stigma, ketakutan orang lain
  tertular, ketakutan diri thd penyebaran HIV, moral,
  budaya, agama, penampilan fisik, ggn harga diri &
  gambaran diri.
31.Distress spiritual b.d tantangan sistem keyakinan &
  nilai serta tes keyakinan spiritual.
32.Resiko kekerasan thd diri sendiri (ide bunuh diri) b.d
  rasa putus asa.
  RESPON SPESIFIK PENDERITA
           HIV/AIDS
 RESPUN BIOLOGIS (IMUNITAS).
 RESPON ADAPTIF PSIKOLOGIS
  (PENERIMAAN DIRI).
 RESPON ADAPTIF SPIRITUAL.
 RESPON ADAPTIF SOSIAL.
   RESPON BIOLOGIS (IMUNITAS)
       PENDERITA HIV/AIDS
 Sel T = limfosit T-helper (limfosit CD4+) berubah
  kuantitas maupun kualitas.
 HIV yang melekat melalui reseptor CD4+ merubah
  susunan inti seluler = dari sinilah dimulainya kerusakan
  sitem imun oleh HIV.
 Virus HIV menginfeksi berbagai macam sel = monosit,
  makrofag, sel mikroglia otak, sel plasenta, sel kelenjar
  limfe, sel epitel usus, sel langerhans di kulit (Stewart,
  1997).
 Gejala klinis terlihat beberapa tahun stl terinfeksi HIV;
  sel CD4+ mengalami penurunan stl 2-10 th terinfeksi
  HIV.
     RESPON ADAPTIF PSIKOLOGIS

    TAHAPAN REAKSI PSIKOLOGIS PASIEN HIV ( STEWART,1997) :
1.   SHOCK (KAGET, GONCANGAN BATIN): merasa bersalah, marah
     & tak berdaya (takut, sedih)
2.   MENGUCILKAN DIRI: menutup diri, merasa tak berguna.
3.   MEMBUKA STATUS SECARA TERBATAS: ingin tahu reaksi
     orang lain (konfrontasi, penolakan)
4.   MENCARI ORANG LAIN YG HIV POSITIF: berbagi rasa, mencari
     dukungan sosial.
5.   STATUS KHUSUS : perbedaan menjadi hal yang istimewa.
6.   PERILAKU MEMENTINGKAN ORANG LAIN: kepuasan memberi
     dan berbagi.
7.   PENERIMAAN : integritas status positif HIV dg identitas diri.
     RESPON ADAPTIF PSIKOLOGIS
 TAHAPAN REAKSI PSIKOLOGIS PASIEN
     THD PENYAKIT ( Kubler ‘Ross,1974):
1.   PENGINGKARAN (DENIAL):
2.   KEMARAHAN (ANGER):
3.   SIKAP TAWAR MENAWAR (BARGAINING):
4.   DEPRESI:
5.   PENERIMAAN & PARTISIPASI:
 RESPON ADAPTIF SPIRITUAL
 KONSEP RONALDSON (2000) & KAUMAN
   + NIPAN (2003) = respon adaptif spiritual
   meliputi:
1. Harapan yang realistis.
2. Tabah dan sabar.
3. Pandai mengambil hikmah.
     RESPON ADAPTIF SOSIAL
  ASPEK SOSIAL MENURUT STEWART (1997)
   DIBEDAKAN MENJADI 3 HAL =
1. STIGMA SOSIAL (NEGATIF).
2. DESKRIMINASI THD ORANG YANG TERINVEKSI HIV
   (PENOLAKAN BEKERJA, TINGGAL SERUMAH).
3. TERJADI WAKTU YG LAMA THD RESPON
   PSIKOLOGIS (PENOLAKAN, MARAH MARAH, TAWAR
   MENAWAR, DEPRESI) SHG TERLAMBAT UPAYA
   PENCEGAHAN & PENGOBATAN. MEMBERI PELUANG
   PASIEN MENGONSUMSI OBAT TERLARANG UNTUK
   MENGHILANGKAN STRES.
  RESPON ADAPTIF SOSIAL

 KONSEP PEARLIN & ANESHENSE (1986)
   MELIPUTI =
1. EMOSI.
2. CEMAS.
3. INTERAKSI SOSIAL (GANGGUAN).
       INTERVENSI KEPERAWATAN
         PASIEN TERINFEKSI HIV
    ADA DUA HAL PENTING YANG HARUS DILAKUKAN
     PERAWAT:
1.   MENFASILITASI STRATEGI KOPING:
    Memfasilitasi penggunaan potensi diri.
    Teknik kognitif (bantu selesaikan msl, beri harapan yg
     realistis, diskusikan agar pasien bisa mengambil
     hikmah).
    Teknik Perilaku (ajarkan perilaku yg mendukung
     penyembuhan).
2.   MEMFASILITASI DUKUNGAN SOSIAL:
    Dukungan emosional (dihargai, dicintai, diperhatikan).
    Dukungan informasi (memfasilitasi agar menerima
     sakitnya).
    Dukungan material (kemudahan akses pelayanan
     kesh).
   A. ASKEP RESPON BIOLOGIS
         (ASPEK FISIK)

 MELIPUTI PERAWATAN:
1. UNIVERSAL PRECAUTIONS.
2. PENGOBATAN INFEKSI SEKUNDER &
   PEMBERIAN ANTIRETROVIRAL (ARV).
3. PEMBERIAN NUTRISI.
4. AKTIVITAS & ISTIRAHAT.
             1. PRINSIP
       UNIVERSAL PRECAUTIONS
 MENGHINDARI KONTAK LANGSUNG DG CAIRAN
    TUBUH (menggunakan alat pelindung).
   MENCUCI TANGAN (sebelum/sesudah tindakan).
   DEKONTAMINASI CAIRAN TUBUH.
   MEMAKAI ALAT KESEHATAN SEKALI PAKAI ATAU
    DISTERILISASI.
   MEMELIHARA KEBERSIHAN TEMPAT PELAYANAN
    KESEHATAN.
   MEMBUANG LIMBAH TERCEMAR BERBAGAI
    CAIRAN TUBUH SECARA BENAR & AMAN.
          2. PERAN PERAWAT
        DALAM PEMBERIAN ARV
 MENURUT WHO; 2002 = PENGGUNAAN ARV PADA
    ORANG DEWASA BISA DIMULAI, BILA:
   PEMERIKSAAN CD4: pada stadium IV tak
    diperhitungkan; pada stadium I,II,III bila Limfosit total
     < 200 /ul.
   PEMERIKSAAN CD4 TAK DILAKUKAN: pada stadium IV
    tak diperhitungkan; pada stadium I,II,III bila limfosit
    total <1000-1200/ul.
   PASIEN STADIUM III LANJUT, KAMBUH, ADA
    LUKA/INFEKSI DI MULUT.
   LIMFOSIT TOTAL <1000-1200/ul DENGAN TANDA
    TANDA HIV.
 CARA MEMILIH OBAT ARV

MEMPERTIMBANGKAN HASIL PEMERIKSAAN
CD4, VIRAL LOAD, & KEMAMPUAN PASIEN
MENGINGAT PENGGUNAAN OBATNYA.
YANG BAIK BERDASARKAN JADWAL KERJA
& POLA HIDUP.
YANG LEBIH MUDAH MENGINGAT,
SEWAKTU MAKAN.
EFEK SAMPING OBAT ARV

JANGKA PENDEK: mual, muntah, sakit
kepala, diare, & insomnia. Terjadi segera &
berkurang beberapa minggu stl minum obat.
JANGKA PANJANG: belum banyak diketahui.
PADA WANITA: lebih berat dari laki laki (
kadang diberi ARV dosis kecil), menstruasi
lebih berat, panjang & sakit, tidak menstruasi.
 KEPATUHAN MINUM OBAT
     MEMBANTU MENCEGAH RESISTENSI.
     KIAT PENTING UNTUK MENGINGAT
     MINUM OBAT:
1.   MINUM SAAT YG SAMA SETIAP HARI.
2.   SELALU TERSEDIA OBAT DI TEMPAT
     PASIEN BIASA BERADA.
3.   BAWA OBAT KEMANAPUN,
4.   PENGGUNAAN ALAT (JAM, ALARM HP,
     DLL).
      3. PEMBERIAN NUTRISI
 MEMBUTUHKAN VITAMIN & MINERAL DALAM
  JUMLAH YANG LEBIH BANYAK.
 SEBAGIAN BESAR ODHA AKAN MENGALAMI
  DEFISIENSI VITAMIN & MINERAL (New Mexico
  AIDS Infonet, 2004 & Falma Foundation, 2004).
 HIV menurunkan nafsu makan & ggn penyerapan
  nutrien karena cadangan vitamin & mineral dlm
  tubuh ODHA menurun (sejak stadium dini) atau
  habis.
 ODHA perlu mengkonsumsi makanan dlm jml tinggi
  + suplemen + nutrisi tambahan.
   4. AKTIVITAS & ISTIRAHAT
 MANFAAT OLAH RAGA THD IMUNITAS:
 Pada keadaan akut akan berefek negatif.
 Bila dilakukan secara teratur, menghasilkan perub.
  jaringan, sel, & protein pada sistem imun yg
  menyehatkan (Simon dalam Ader 1991).
 MANFAAT LATIHAN FISIK THD TUBUH (ADER”91):
 Perubahan sistem sirkulasi (COP meningkat).
 Sistem pulmoner (pertukaran & pengangkutan O2
  oleh otot meningkat).
 Metabolisme an aerob tubuh meningkat.
     B. ASKEP RESPON PSIKOLOGIS
          (ASPEK PSIKOLOGIS).
    MELIPUTI PERAWATAN/ FASILITASI (MOOS; 1984 YG
     DIKUTIP BRUNNER & SUDDARTH; 2000):
1.   STRATEGI KOPING (CARA PENYELESAIAN MASALAH:
     penyangkalan, menyalahkan diri, pasrah).
2.   MENCARI INFORMASI: mengumpulkan info, menggunakan
     sumber scr efektif.
3.   MEMINTA DUKUNGAN EMOSIONAL: keluarga, sahabat, &
     tim kesehatan.
4.   PEMBELAJARAN PERAWATAN DIRI: memelihara harga diri.
5.   MENETAPKAN TUJUAN KONKRET: menjaga motivasi &
     mengurangi rasa tak berdaya.
6.   MENGULANGI HASIL ALTERNATIF: meningkatkan rasa
     percaya diri.
7.   MENEMUKAN MAKNA DARI PENYAKIT: mencari hikmah
     positif dari sakitnya.
   TEKNIK KOPING POSITIF

 PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA
  PSIKOLOGIS (POTENSI DIRI): pikiran yg
  positif ttg dirinya, mengontrol diri sendiri.
 RASIONALISASI (TEKNIK KOGNITIF): upaya
  memahami arti/makna stress.
 TEKNIK PERILAKU: melalui kegiatan yg
  bermanfaat dlm penyembuhannya.
    C. ASKEP RESPON SOSIAL
 KONSEP DUKUNGAN SOSIAL: yang paling penting
  keluarga, hub perkawinan, atau teman akrab (Rodin
  & Salovey; 1989).
 PENGERTIAN DUKUNGAN SOSIAL: dukungan
  emosional, mendorong mengungkap kan perasaan,
  memberi nasihat/info, pemberian bantuan material
  (Riter; 1988).
 JENIS DUKUNGAN SOSIAL: dukungan emosional
  (diperhatikan, dicintai, dihargai); dukungan kognitif
  (informasi, pengetahuan, nasihat); dukungan
  material (pelayanan, barang) (House dalam
  DEPKES; 2002).
    D. ASKEP RESPON SPIRITUAL

 DITEKANKAN PD PENERIMAAN TENTANG
   PENYAKITNYA (RONALDSON, 2000):
1. Menguatkan harapan yg realistis (meskipun
   perubahan yg sedikit).
2. Pandai mengambil hikmah (berpikir positif).
3. Ketabahan hati (Albaqoroh; 2:286 = alloh tak akan
   memberikan cobaan kepada umat-Nya, melebihi
   kemampuannya).
TIM KLINIK VCT RSUD KABUPATEN
KEBUMEN

								
To top