Docstoc

ASKEP Skizofrenia Hebefrenik

Document Sample
ASKEP Skizofrenia Hebefrenik Powered By Docstoc
					                                 LAPORAN PENDAHULUAN


A. Konsep Dasar Skizofrenia
   1.    Pengertian
           Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
           belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
           deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
           pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997;
           46).


   2.    Penyebab
        a. Keturunan
           Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri
           0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang
           tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar
           satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).


        b. Endokrin
           Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada
           waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium.,
           tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.


        c. Metabolisme
           Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat,
           ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan
           menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam
           menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat
           halusinogenik.


        d. Susunan saraf pusat
           Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon
           atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin
           disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu
           membuat sediaan.




                                                 1
e. Teori Adolf Meyer :
   Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang
   tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas
   pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior
   atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut
   Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi,
   sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut
   menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).


f. Teori Sigmund Freud
   Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab
   psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak
   bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase
   narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference)
   sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.


g. Eugen Bleuler
   Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu
   jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses
   berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi
   2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi,
   gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala
   katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).


h. Teori lain
   Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-
   macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi,
   tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan
   penyakit lain yang belum diketahui.


i. Ringkasan
   Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat
   dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang
   mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating
   factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak



                                         2
        menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit
        Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).


3.    Pembagian Skizofrenia
       Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama
       antara lain :
     a. Skizofrenia Simplek
        Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
        kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar
        ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-
        lahan.


     b. Skizofrenia Hebefrenia
        Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
        remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses
        berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double
        personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
        perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak
        sekali.


     c. Skizofrenia Katatonia
        Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
        didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau
        stupor katatonik.


     d. Skizofrenia Paranoid
        Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham
        sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya
        gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.


     e. Episode Skizofrenia akut
        Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan
        mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan
        seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-
        akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.



                                          3
     f. Skizofrenia Residual
        Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas
        adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
        serangan Skizofrenia.


     g. Skizofrenia Skizo Afektif
        Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga
        gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini
        cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul
        serangan lagi.


Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik
1.    Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;
      1.       Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized).
      2.       Tidak terdapat wamam yang sistemik
      3.       Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.


2.    Gejala Klinik
           Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
           -     Inkoherensi yang jelas
           -     Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.
           -     Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
           -     Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi
                 sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran
                 penyerta yang sering di jumpai.
           -     Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.
           -     Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.
           -     Berbagai perilaku tanpa tujuan.


           Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan –
           pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial
           terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.




                                                 4
Konsep Dasar Halusinasi
1.   Pengertian
       Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
       rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien
       memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau
       rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara.
       Padahal tidak ada orang yang bicara.


2.   Proses terjadinya halusinasi
       Fase pertama
              Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang
       memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan
       memikirkan hal – hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong
       sementara.


       Fase kedua
              Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi
       dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin
       orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.


       Fase ketiga.
              Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
       mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
       halusinasinya.


       Fase keempat
              Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi
       klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya,
       hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di
       lingkungan


     3. Tanda – tanda halusinasi
       Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang
       satu arah, menyerang tiba – tiba, arah gelisah.




                                          5
4. Jenis halusinasi
  a. Halusinasi dengar
      Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam
      tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.


  b. Halusinasi terlihat
      Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi
      klien yakin ada.


  c. Halusinasi penciuman
      Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain
      dan ada sumber.


  d. Halusinasi kecap
       Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.


  e. Halusinasi raba
       Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.




                                    6
PENGKAJIAN
         Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah
klien.
         Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor
predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan
kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian
lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan
spiritual. Isi pengkajian meliputi :
    1. Identitas klien
    2. Keluhan utama/alasan masuk
    3. Faktor predisposisi
    4. Dimensi fisik / biologis
    5. Dimensi psikososial
    6. Status mental
    7. Kebutuhan persiapan pulang
    8. Mekanisme koping
    9. Masalah psikososial dan lingkungan
    10. Aspek medik
         Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data
obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga
melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.
         Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah
keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah
masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah
(Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami
dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah :
Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama
adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien.
Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama.
Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah
utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek /
akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan
perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan



                                           7
ANALISA DATA
                            POHON MASALAH

                                                        Resiko tinggi
                                                       mencederai diri
                                                        & Orang lain




                                                          Perubahan
                                                           perilaku
                       Kerusakan Komunikasi Verbal        kekerasan

 Gangguan pola tidur


                       Perubahan persepsi sensori :      Perubahan
                         Halusinasi pendengaran          proses fikir



                                                       Sidroma defisit
                       Isolasi sosial : menarik diri
                                                       perawatan diri




 Koping keluarga             Harga diri rendah         Koping individu
   tak efektif                                           tak efektif



                                   Stressor




                                      8
                                                                                                 9



DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
           DIAGNOSA
NO                                       RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
       KEPERAWATAN
1    Resiko     mencederai   diri   Tujuan Umum :
     sendiri dan atau orang         Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain /
     lain/lingkungan berhubungan    lingkungan.
     dengan perubahan persepsi      Tujuan khusus :
     sensori/halusinasi             1. Klien dapat hubungan saling percaya :
                                        a. Bina hubungan saling percaya
                                            - Salam terapeutik
                                            - Perkenalan diri
                                             - Jelaskan tujuan interaksi
                                             - Ciptakan lingkungan yang tenang
                                             - Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan
                                                (topik, waktu dan tempat berbicara).
                                        b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
                                            perasaannya.
                                        c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

                                    2.   Klien dapat mengenal halusinasinya
                                         a. Lakukan kontak sering dan singkat
                                            rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan
                                            halusinasinya.

                                         b.   Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan
                                              halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus,
                                              memandang kesekitarnya seolah – olah ada teman
                                              bicara.

                                         c.   Bantu klien untuk mengenal halusinasinya;
                                              - Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang
                                                   dikatakan ?
                                              - Katakan bahwa perawat percaya klien
                                                   mendengarnya.
                                              - Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti
                                                  klien.
                                              - Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.

                                         d.   Diskusikan dengan klien tentang ;
                                              - Situasi yang dapat menimbulkan / tidak
                                                  menimbulkan halusinasi.
                                              - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,
                                                  siang sore, malam atau bila sendiri atau bila
                                                  jengkel / sedih).

                                         e.Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan
                                            bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang)
                                            dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.
                                    3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
                                       a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang
                                           dilakukan           bila       terjadi         halusinasi
                                           (tidur/marah/menyibukkan diri)
                                       b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila
                                           bermanfaat beri pujian.
                                       c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol
                                            timbulnya halusinasi :
                                            - Katakan “saya tidak mau dengan kamu” (pada
                                                 halusinasi).
                                            - Menemui orang lain (perawat / teman / anggota
                                                 keluarga untuk bercakap – cakap . mengatakan
                                                 halusinaasinya.
                                                                                              10



                                            -    Membuat jadwal kegiatan sehari – hari agar
                                                halusinasi tidak sempat muncul.
                                            - Meminta orang lain (perawat / teman anggota
                                                keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.
                                       d.   Bantu klien memilih dan melatih cara memutus /
                                            mengontrol halusinasi secara bertahap.
                                       e.   Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah
                                            dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil.
                                       f.   Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas
                                            kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).

                                  4.   Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol
                                       halusinasinya :
                                       a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami
                                           halusinasi.
                                       b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung /
                                           pada saat kunjungan rumah)
                                            - Gejala halusinasinya yang dialami klien
                                            - Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga
                                                 untuk memutus halusinasi
                                            - Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi
                                                di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,
                                                makan bersama, berpergian bersama
                                            - Berikan informasi waktu follow up atau kapan
                                                perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol
                                                dan resiko mencederai orang lain.

                                  5.   Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :
                                       a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis,
                                           frekuensi dan manfaat obat.
                                       b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat
                                           merasakan manfaatnya.
                                       c. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat
                                            tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.
                                       d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi.
                                       e. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5
                                            (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)

2   Kerusakan komunikasi verbal   Tujuan Umum :
    berhubungan         dengan    Klien dapat melakukan komunikasi verbal
    perubahan   proses    pikir   Tujuan Khusus :
    (waham).                      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
                                      a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.

                                       b.   Jangan membantah dan mendukung waham klien.
                                             - Katakan perawat menerima : saya menerima
                                                keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.
                                             - Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi
                                                saya untuk mempercayainya disertai ekspresi
                                                ragu dan empati.
                                             - Tidak membicarakan isi waham klien.

                                       c.   Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan
                                            terlindung.
                                            - Gunakan keterbukaan dan kejujuran
                                            - Jangan tinggalkan klien sendirian
                                            - Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak
                                                  sendirian.

                                  2.   Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki
                                       a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien
                                           yang realitas.
                                       b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki
                                           pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
                                                                                             11



                                       c.   Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari –
                                             hari)
                                       d.   Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan
                                             sampai waham tidak ada.

                                  3.    Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak
                                       terpenuhi :
                                       a. Observasi kebutuhan klien sehari – hari.
                                       b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik
                                            selama di rumah / di RS.
                                       c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan
                                             timbulnya waham.
                                       d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan
                                             klien (buat jadwal aktivitas klien).

                                  4.   Klien dapat berhubungan dengan realitas :
                                       a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri
                                           orang lain, tempat, waktu)
                                       b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok:
                                           orientasi realitas
                                       c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang
                                            dilakukan klien.

                                  5.   Klien dapat dukungan keluarga :
                                       a. Gejala waham.
                                       b. Cara merawatnya.
                                       c. Lingkungan keluarga.

                                  6.    Klien dapat menggunakan obat dengan benar
                                       -    Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat,
                                            dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat
                                            penghentian.
                                       -    Diskusikan perasaan klien setelah minum obat
                                       -    Berikan obat dengan prinsip 5 tepat

3   Difisit     perawatan  diri   Tujuan Umum :
    berhubungan dengan koping     Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri
    individu tidak efektif        menjadi adekuat
                                  Tujuan Khusus :
                                  1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri
                                      a. Dorong klien mengungkakan perasaan tentang
                                          keadaan dan kebersihan dirinya.
                                      b. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan
                                          empati.
                                      c. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan
                                           perasaan tentang kebersihan dirinya.
                                      d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri
                                      e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.

                                  2.   Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan
                                       kebersihan dirinya.
                                       a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang
                                           kebutuhan perawatan diri klien
                                       b. Diskusikan dengan keluarga
                                       c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi
                                            kebutuhan perawatan diri klien.
                                       d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan
                                            keluaga
                                                                                               12



4   Isolasi sosial : menarik diri   Tujuan Umum :
    berhubungan dengan harga        Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap
    diri rendah.                    Tujuan Khusus :
                                    1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
                                        perawat
                                        a. Bina hubungan saling percaya
                                             - Salam terapeutik
                                             - Perkenalan diri
                                             - Jelaskan tujuan interaksi
                                             - Ciptakan lingkungan yang tenang
                                             - Bina kontrak yang jelas (topik, waktu, tempak).
                                        b. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
                                            tentang penyakit yang diderita
                                        c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
                                        d. Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang
                                             berharga dan bertanggung jawab Serta mampu
                                             menolong dirinya sendiri.

                                    2.   Klien dapat mengindetifikasi kemampuan dan aspek
                                         positf yang memiliki

                                         a.   Diskusikan kemampuan dan aspek yang di miliki
                                              klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih
                                              berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki
                                              oleh klien, aspek positif (keluarga, lingkungan) yang
                                              dimiliki    klien.  Bila      klien    tidak  mampu
                                              mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat memberi
                                              pujian terhadap aspek positif klien.

                                         b.   Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian
                                              negatif. Utamakan memberikan pujian yang realistis.


                                    3.   Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
                                         a. Diskusikan selama sakit
                                              Misal : penampilan klien dalam “self care”, latihan
                                              fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan
                                              gangguan fisik yang dialami klien.
                                         b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan
                                             penggunaanya setelah plan sesuai dengan kondisi
                                             sakit klien.

                                    4.   Klien dapat menetapkan / merencakan kegiatan sesuai
                                         kemampuan yang dimiliki :
                                         a. Rencanakan bersama klien aktivitas bersama klien
                                             aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
                                             kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan
                                             bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan
                                             bantuan total.
                                         b. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi kondisi
                                             klien
                                         c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh
                                              klien    lakukan  (kadang    klien   takut   me
                                              laksanakannya).

                                    5.   Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan
                                          kemampuan.
                                          a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba
                                              kegiatan yang telah direncanakan
                                          b. Beri pujian atas keberhasilan klien
                                          c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
                                                      13



6.   Klien dapat menfaatkan sistem pendukung yang ada
     a. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang
         cara merawat klien harga diri rendah
     b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien
         dirawat
     c. Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:921
posted:7/15/2011
language:Indonesian
pages:13