Docstoc

seaweed

Document Sample
seaweed Powered By Docstoc
					             LAPORAN RESMI


     PRAKTIKUM BIOLOGI LAUT (BOTANI)
        RUMPUT LAUT ( SEA WEED )




                SIGIT K JATI
                 K2E009037




     PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
       JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUATAN
       UNVERSITAS DIPONEGORO
               SEMARANG
                   2010
                                         BAB I

                                  PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

         Rumput laut atau alga yang juga dikenal dengan nama seaweed merupakan
bagian terbesar dari tanaman laut. Perairan laut Indonesia dengan garis pantai sekitar
81.000 km diyakini memiliki potensi rumput laut yang sangat tinggi. Tercatat
sedikitnya ada 555 jenis rumput laut di perairan Indonesia, diantaranya ada 55 jenis
yang diketahui mempunyai nilai ekonomis tinggi, diantaranya Eucheuma sp.,
Gracilaria sp. dan Gelidium sp. Sejak zaman dulu rumput laut telah digunakan
manusia sebagai makanan dan obat-obatan.Rumput laut biasanya dapat ditemui di
perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut
alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati.

         Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-
faktor oseanografi (fisika, kimia dan pergerakan atau dinamika laut) serta jenis
substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari
sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya. Seperti umumnya pada alga jenis
lain, morfologi rumput laut jenis Glacilaria disebut thallus (jamak: thalli), yaitu tidak
memiliki perbedaan nyata antara akar, batang dan daunnya. Perkembangbiakannya
dilakukan dengan 2 cara yaitu secara kawin antara gamet jantan dan gamet betina
(generatif) serta tidak kawin melalui vegetatif, konjugatif dan penyebaran spora yang
terdapat pada kantong spora (carporspora, cystocarp).

         Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dikelompokkan menjadi 4
kelas (othmer, 1986 ; Anomin, 1977) yaitu : Rhodophyceae (ganggang merah),
Phaeophyceae (ganggang cokelat), Chlorophyceae (ganggang hijau), Cyanophyceae
(ganggang biru hijau). Beberapa jenis rumput yang bernilai ekonomi sejak dulu sudah
diperdagangkan yaitu Eucheuma sp., Hynea sp., Gracillaria sp., dan Gelidium sp.,
dari kelas Rhodophyceae serta Sargassum sp., dari kelas Phaeophyceae.

1.2 Tujuan Praktikum

     1. Praktikan dapat mempelajari dan mengetahui morfologi rumput laut.
     2. Praktikan dapat mengidentifikasi jenis-jenis rumput laut yang ada.
     3. Praktikan dapat membedakan jenis rumput laut berdasar spesiesnya.
     4. Praktikan dapat mengklasifikan jenis-jenis rumput laut.




1.3 Manfaat Praktikum

       Praktikan diharapkan mampu memahami dan dapat membedakan morfologi
dari tiap jenis rumput laut. Serta mampu mengklasifikaasikan jenis-jenis rumput laut
secara tepat.
                                       BAB II

                              TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Definisi

        Rumput laut merupakan salah satu tumbuhan atau ganggang atau alga yang
hidup di dasar perairan dengan keadaan yang tidak begitu keras,tidak berlumpur,
tempat terlindung dari arus dan ombak yang kuat dan di area tersebut masih
tergenang air pada pasang surut terendah antara 0,30 – 1 meter .(Sadhori, Naryo,1980
: 45)
        Alga adalah organisme berkloroplas yang dapat menghasilkan oksigen
melalui proses fotosintesis. Ukuran alga beragam dan beberapa micrometer sarnpai
beberapa meter panjangnya. Alga tersebar luas di alam dan dijumpai hanipir di segala
macam lingkungan yang terkena sinar matahari. (Pelczar dan Chan, 1986)
        Kebanyakan alga adalah organisme akuatik yang tumbuh pada air tawar atau
air laut. Beberapa jenis alga fotosintetik yang menggunakan CO sebagai sumber
karbon dapat tumbuh dengan baik di tempat gelap (lengan menggunankan senyawa
organik sebagai sumber karbon, jadi berubah dan metabolisme fotosintesis menjadi
metabolisme pernafasan dan perubahan yang bergantung pada keberadaan matahari
(Stanier et al, 1976).
        Alga menyimpan hasil kegiatan fotosintesis sebagal hasil bahan makanan
cadangan didalam selnya. Sebagal contoh adalah alga hijau yang dapat menyimpan
pati seperti pada tumbuhan tingkat tinggi (Pelezar dan Chan, I 986).

2.2 Jenis-jenis alga

        Tumbuhan alga merupakan tumbuhan tahun yang hidup di air, baik air tawar
maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tubuh alga menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar, tetapi sernua selnya
selalau jelas mempunyal inti dan plastida dan dalam plastidnya terdapat zat-zat warna
derivat kiorofil yaltu kiorofil a, b atau kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofil
terdapat pula zat-zat warna lain yang justru kadang-kadang lebih inenonjol dan
menyebabkan ketompok-kelompok ganggang tertentu diberi nama menurut warna
tadi.
         Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (berwama biru), fikosantin (berwarna
pirang), fikoeritrin (he merah). Disamping itu juga diternukan zat-7.at warna santofli
dan karoten. Alga dibedakan dalam 5 kelas yaitu:

        1) Myxophyceae (Alga hijau-biru)
        2) Chrysophyceae ( Alga keemasan)
        3) Chlorophyceae ( Alga hijau)
        4) Phaeophyceae ( Alga coklat)
        5) Rhodophyceae (Alga merah)

2.2.1    Myxophyceae (Alga hijau-biru)
         Kelas ini terdiri dari tumbuhan kecil yang kurang terorganisasi, beberapa di
antaranya terdiri dari tumbuhan bersel tunggal dan lainnya bersel banyak. Warna
tumbuhan ini disebabkan terdapatnya pigmen tambahan terlarut dalam air yang
dinamakan fikosianin. Di suatu kolam air tawar atau danau pernah terjadi kematian
missal jenis alga ini dari marga Anabaena sehingga pigmen yang dikandungnya
menyebabkan perairan berwarna biru tua. (Kasijan Romimohtarto dan Sri Juwana,
2009)
         Perkembang biakan alga ini dilakukan denngan pembelahan aseksual. Yang
terserhana adalah sel tumbuhan membelah menjadi 2 sel tumbuhan yang lebih kecil
ukurannya. Setelah tumbuh kemudian membelah menjadi 2 dan seterusnya. (Kasijan
Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009)
         Kelompok alga ini kurang penting di laut. Mereka lebih banyak terebar di air
tawar dan air payau.di perairan laut bersuhu hangat mereka pada saat-saat tertentu
menimbulkan gejala lendir. (Kasijan Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009)
2.2.2    Chrysophyceae ( Alga keemasan)
        Kelompok alga ini sangat heterogen. Banyak ketidaksesuaian antara pakar
taksonomi tumbuhan mengenai alga ini. Beberapa diantaranya oleh pakar
digolobgkan sebagi hewan, namun berbeda dengan hewan laut yang sebenarnya.
Kelompok alga ini mampu berfotosintesis.(Kasijan Romimohtarto dan Sri Juwana,
2009)
        Kebanyakan alga ini bersel tunggal tetapi hidup bergerombol. Meskipun
berklorofil, warna hijaunya tertutup oleh pigmen kuning dan coklat dan oleh tetesan
minyak yang tersimpan. Yang teramat menarik dari kelompok ini adalah diatom.
(Kasijan Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009)


2.2.3   Chlorophyceae ( Alga hijau)

        Ganggang hijau / Chlorohyta adalah salah satu klas dari ganggang
berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang hijau ada yang bersel tunggal
dan ada pula yang bersel banyak berupa benang, lembaran atau membentuk koloni
spesies ganggang hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi
ada pula yang menetap.
        Alga hijau merupakan kelompok terbesar dari vegetasi alga. Alga hijau
berbeda dengan devisi lainnya karena memiliki warna hijau yang jelas seperti
tumbuhan tingkat tnggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b lebih
dominan dibandingkan karoten dan xantofit.

         Ganggang hijau merupakan golongan terbessar diantara ganggang dan
sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya hidup di air laut dan air
payau. Pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air
menjadi surut. Jenis yang hidup diair tawar, bersifat kosmopolit, terutama hidup di
tempat yang cahayanya cukup seperti kolam, danau, genangan air, Alga hijau
ditemukan pula pada lingkungan semi akuatik yaitu pada batu-batuan, tanah lembab
dan kulit batang pohon yang lembab. Beberapa anggotanya hidup di air mengapung
atau melayang, sebagian hidup sebagai plankton. Beberapa jenis ada yang hidup
melekat pada tumbuhan atau hewan.
       Alga hijau mempunyai susunan tubuh yang bervariasi baik dalam ukuran
maupun dalam bentuk dan susunanya. Ada Chlorophyta yang terdiri dari sel-sel kecil
yang merupakan koloni berbentuk benang yang bercabang-cabang atau tidak, ada
pula yang membentuk koloni yang menyerupai kormus tumbuhan tingkat tinggi. Dari
banyaknya variasi tersebut alga hijau dikelompokan sebagai berikut:
   1. Sel tunggal (uniseluler) dan motil, contoh: Chlamidomonas
   2. Sel Tunggal dan non motil, contoh: Chlorella
   3. Koloni senobium yaitu koloni yang mempunyai jumlah sel tertentu sehingga
       mempunyai bentuk yang relatif tetap, contoh: Volvox, Pandorina.
   4. Koloni tidak bertauran, contoh: Tetraspora
   5. Berbentuk - filamen tidak bercabang, contoh: Ulothrix, Oedogonium
   6. Filamen bercabang, contoh: Chladhopora, Pithopora
          Hetemtrikus, yaitu filamen bercabang yang bentuknya terbagi menjadi
           bagian yang rebah (prostrate) dan bagian yang tegak, contoh:
           Stigeoclonium
          Foliaceus atau parenkimatis, yaitu filamen yang pembelahan sel
           vegetatisnya terjadi lebih dari satu bidang, contoh: Ulva
          Tubular, yaitu talus yang memilik banyak inti tanpa sekat melintang,
           contoh: Caulerpa
Ada dua tipe pergerakan pada chlorophyta, yaitu:
       1. Pergerakan dengan flagela
       Flagela pada kelas chlorohyceae selalu bertipe whiplash (akronematik) dan
       sama panjang (isokon), kecuali pada bangsa oedogoniales, memiliki tipe
       stefanokon. Flagela dihubungkan dengan struktur yang sangat halus yang
       disebut aparatus neuromotor. Tiap flagela terdiri dari axonema yang tersusun
       oleh 9 dupklet mikrotubula mengelilingi bagian tengah terdapat 2 singlet
       mikrotubula. Struktur semacam ini dikenal sebagai susunan 9 + 2. Flagela
       tersebut dikelilingi oleh selubung plasma.
       2. Pergerakan dengan sekresi lendir
        Pada chlorophyta terjadi pergerakan yang disebabkan adanya stimulus cahaya
        yang di duga oleh adanya sekresi lendir melalui porus dinding sel pada bagian
        apikal dari sel. Selama pergerakan ke depan bagian kutub berayun dari satu
        sisi ke sisi yang lain sehingga lendir bagaian belakang seperti berkelok-kelok.
Perkembangbiakan pada chlorophyta terjadi dengan 3 cara yaitu:
        1. Secara vegetatif
          Perkembanganbiakan vegetatif pada chlorophyta dengan fragmentasi
          tubuhnya dan pebelahan sel.
        2. Secara seksual
           - Melalui konjugasi yaitu perkembangbiakan secara kawin contohnya
            spirogyra.
          - Isogami yaitu peleburan dua gamet yang bentuk dan ukurannya sama.
          - Anisogami yaitu peleburan dua gamet yang ukurannya tidak sama.
           - Oogami yaitu peleburan dua gamet yang satu kecil dan bergerak (sebagai
            sperma) yang lain besar tidak bergerak (sebagai sel telur)
          Beberapa contoh dari reproduksi sexual:
          - Isogami : Chlorococcum, Chlamydomonos, Hydrodictyon
          - Anisogami : Chlamydomonas, Ulva
          - Oogami : Chlamydomonas, Valva, Spirogya, Aedogonium
        3. Secara aseksual
          Perkembanganbiakan secara aseksual dapat terjadi dengan pembentukan:
          - Zoospora yaitu sel berflagel 2 contohnya Chlamydomonos
          - Aplanospora yaitu spora yang tidak bergerak contohnya Chlorococcum
          - Autospora yaitu aplanospora yang mirip dengan sel induk contohnya
            Chlorella

2.2.4   Phaeophyceae ( Alga coklat)

        Ganggang coklat adalah salah satu ganggang yang tersusun atas zat warna
atau pigmentasinya. Phaeophyta (ganggang coklat) ini berwarna coklat karena
mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Ganggang
coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar
diantara semua ganggang ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai
makroskopik. Ganggang ini juga mempunyai jaringan transportasi air dan makanan
yang anolog dengan transportasi pada tumbuhan darat, kebanyakan bersifat autotrof.

       Tubuhnya selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen,
lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter,
terutama jenis-jenis yang hidup didaerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung
kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil. Set
vegetatif mengandung khloroplast berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita;
mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin.
Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose
dan asam alginat.

       Alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di laut yang agak dingin dan
sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam
akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran
besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain.
Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit.

       Alat gerak pada Phacophyta benepa jlagel yang terletak pada sel-sel
perkembangbiakan dan letaknya lateral. Berjumlah dua yang heterokon dan terdapat
di bagian samping badannya yang berbentuk pir atau sekoci. Pada waktu bergerak ada
yang panjang mempunyai rambut-rambut mengkilat menghadap kemuka dan yang
pendek menghadap ke belakang. Dekat dengan keluarga flogel terhadap bintik mata
yang berwarna kemerah-merahan.

Perkembangbiakan pada Phaeophyta dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

      Perkembangbiakan secara vegetatif dengan fragmentasi
      Perkembangbiakan secara sporik dengan membentuk spora
Dilihat dari sporangiumnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

       a. Pembentukan Unilokuler, dimiliki oleh anggota Phaeophyta yang
           uniseluler

      Terjadi dari sel terminal dengan cabang pendek yang membesar. Sporangia
      muda berbentuk bulat panjang atau bulat telur. Ukurannya lebih kecil dari sel
      semula. Inti tunggal mengalami pembelahan meioses kemudian diikuti
      pembelahan mitosis sehingga dihasilkan 32-64 inti. Selanjutnya terjadilah
      celah-celah yang membagi proteplas yang berinti satu. Masing-masing
      protoplas mengalami metamorfose membentuk zoospora perflagel dua yang
      terletak di bagian lateral dengan panjang flagel yang tidak sama. Flagel yang
      pendek diarahkan ke belakang, flagel yang panjang diarahkan kedepan.

      b. Pembentukan plurilokuler dimiliki oleh anggota phaeophyta yang
           multiseluler

      Berasal dari sel terminal yang pendek. Ukurannya relatif besar dan terjadi
      pembelahan tranversal secara berulang-ulang yang akhirnya dihasilkan 6-12
      sel.pembelahan vertikal dimulai dari deretan sel bagian tengah dan kemudian
      terbentuklah kubus yang letaknya teratur sebanyak 20-40 deretan. Protoplas
      pada masing-masing sel mengalami sultamorfosa menjadi zoospora yang
      memiliki 2 stagel. Diikuti dengan talus yang bersifat diploid dan terbentuklah
      sporangia yang bersifat unilokuler dan atau plorilokuler.

Perkembangbiakan secara gametik, gametangium dimiliki oleh sporangium yang
plurilokuler. Gamet akan membentuk zoogamet dengan cara:

   1. Isogami yaitu gamet yang bentuk dan ukurannya sama (belum dapat
      dibedakan mana jantan dan mana betina). Contoh: ulva
   2. Anisogami: gamet yang bentuk dan ukurannya tidak sama (gamet betina
        memiliki ukuran besar dan gamet jantan memiliki ukuran kecil). Contoh:
        codium
   3. Oogami: jenis anisogami dengan gamet jantan yang aktif. Contoh: volvox

2.2.5   Rhodophyceae (Alga merah)

        Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat
warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen
fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil.
Alga ini pada umumnya banyak sel (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya
antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran.

        Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai
pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah
sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan
usus.

        Sebagian besar alga merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika.
Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak
oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air payau. Alga merah yang banyak
ditemukan di laut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum
menyukai laut dangkal.

Alga merah berkembangbiak secara vegetatif dan generatif.

       Perkembangbiakan      vegetatif   ganggang    merah   berlangsung   dengan
        pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau talus
        ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi ganggang
        jantan atau betina yang sel-selnya haploid.
       Perkembangbiakan generatif ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel
        kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat
        perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan
        spermatium yang tak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut
        karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh
        spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh
        menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan
        meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi
        pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan
        gametofit

Menurut Aslan (1998:23-24) jenis rumput laut yang ada di Indonesia terdiri dari alga
hijau, alga coklat, dan alga merah. Alga hijau terdiri dari Ulva, Enteromorpha,
Caulerpa spp, alga coklat terdiri dari Sargassum, Harmophysa, Turbinaria spp.
Sedangkan alga merah terdiri dari Rhodymenia spp, Gigartina spp, Hypnea, Gelidium
spp, Gracilaria spp, dan Eucheuma spp.


2.2.5   morfologi
        Rumput laut merupakan makro alga yang hidup di laut yang tidak memiliki
akar, batang dan daun sejati dan pada umumnya hidup di dasar perairan dan
menempel pada substrat (benda lain). Fungsi dari akar, batang dan daun yang tidak
dimiliki oleh rumput laut tersebut digantikan dengan thallus. Karena tidak memiliki
akar, batang dan daun seperti umumnya pada tanaman, maka rumput laut
digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta).
        Bagian–bagian rumput laut secara umum terdiri dari holdfast yaitu bagian
dasar dari rumput laut yang berfungsi untuk menempel pada substrat dan thallus yaitu
bentuk-bentuk pertumbuhan rumput laut yang menyerupai percabangan. Tidak semua
rumput laut bisa diketahui memiliki holdfast atau tidak. Rumput laut memperoleh
atau menyerap makanannya melalui sel-sel yang terdapat pada thallusnya. Nutrisi
terbawa oleh arus air yang menerpa rumput laut akan diserap sehingga rumput laut
bisa tumbuh dan berkembangbiak. Perkembangbiakan rumput laut melalui dua cara
yaitu generatif dan vegetatif. Gambar bagian – bagian dari holdfast dan thallus dari
rumput laut dapat dilihat pada Gambar.




                               Morfologi rumput laut
2.2.6   habitat

        Penyebaran makro alga dibatasi oleh daerah litoral dan sub litoral dimana
masih terdapat sinar matahari yang cukup untuk dapat berlangsungnya proses
fotosintesa. Didaerah ini merupakan tempat yang cocok bagi kehidupan alga karena
terdiri atas batuan. Daerah intertidal pada pantai yang berbatu-batu mempunyai sifat
tertutup sesuai daerah alga merah atau alga coklat terutama alga dari genus facus alga
yang sering disebut rumput laut (seaweeds). Biasanya makro alga sedikit terdapat
diperairan yang dasarny berlumpur atau berpasir karena sangat terbatas benda keras
yang cukup kokoh untuk tempatnya melekat. Umumnya ditemukan melekat pada
terumbu karang, batuan, potongan karang, cangkang molusca, potongan kayu dan
sebagainya.

        Penyebaran dan pertumbuhan seaweeds disuatu perairan pantai sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor salinitas, intensitas cahaya matahari, dan turbiditas dan
juga tipe substrat dan kedalaman dasar laut adalah dua faktor penting yang
menentukan kehadiran suatu jenis alga bersel banyak kebanyakan melekat pada
batuan atau dasar yang keras diperairan dangkal. Alga ini melekat dengan
Menggunakan organ yang kuat memegang tetapi bukan akar dan sering kali
membentuk hutan yang luas (kelp beds) tepat dibawah garis air surut atau pasang
surut.

         Tumbuhan alga merupakan tumbuhan tahun yang hidup di air, baik air tawar
maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tubuh alga menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar, tetapi sernua selnya
selalau jelas mempunyal inti dan plastida dan dalam plastidnya terdapat zat-zat warna
derivat kiorofil yaltu kiorofil a, b atau kedua-duanya. Selain derivat-derivat klorofil
terdapat pula zat-zat warna lain yang justru kadang-kadang lebih inenonjol dan
menyebabkan ketompok-kelompok ganggang tertentu diberi nama menurut warna
tadi.

         Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin (berwama biru), fikosantin (berwarna
pirang), fikoeritrin (he merah). Disamping itu juga diternukan zat-zat warna santofli
dan karoten.

Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan , dibedakan atas:

    a) Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan
    b) Ganggang Intertidal, yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan
         karena naik turun air akibat pasang surut
    c) Ganggang Subritorsal, yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air
    d) Ganggang Edafik, yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar
         perairan

2.2.7    manfaat alga
            1. Sebagai bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antihehmethes,
                antihypertensive agent, pengurang cholesterol, dilatory agent, dan
                insektisida.
            2. Karena kandungan gizinya yang tinggi, maka mampu meningkatkan
                system kerja hormonal, limfatik, dan juga saraf.
           3. Meningkatkan fungsi pertahanan tubuh, memperbaiki system kerja
              jantung dan pereddaran dara serta system pencernaan.
           4. Obat tradisional untuk batuk, asma, bronchitis, TBC, cacingan, sakit
              perut, demam, rematik, bahkan dipercaya dapat meningkatkan daya
              seksual
           5. Kandungan yodiumnya diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit
              gondok.
           6. Kandungan klorofil rumput laut bersifat antikarsinogenik, kandungan
              serat, selenium dan seng yang tinggi pada rumput laut dapat mereduksi
              estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat
              mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi rumput laut
              memperkecil resiko kanker bahkan mengobatinya.
           7. Kandungan vitamin C dan antioksidannya dapat melawan radikal
              bebas.
           8. Kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar,
              melancarkan penceranaan, meningkatkan kadar air dalam feses.


Beberapa jenis rumput laut yang terdapat di Indonesia dan memiliki
arti ekonomis penting adalah:
   1. Rumput laut penghasil agar-agar (agarophyte), yaitu Gracilaria, Gelidium,
       Gelidiopsis, dan Hypnea,
   2. Rumput laut penghasil karaginan (Carragenophyte), yaitu Eucheuma
       spinosum, Eucheuma cottonii, Eucheuma striatum,
   3. Rumput laut penghasil algin, yaitu Sargasum, Macrocystis, dan Lessonia.
                                       BAB III

                           MATERI DAN METODE



3.1   Waktu dan Tempat Praktikum
      Praktikum ini dilakukan pada :
              Hari/Tanggal :
              Pukul         : 13.30 -17.00 WIB
              Tempat        : Ruang Seminar Kelautan
                               Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
                               Universitas Diponegoro Semarang.


3.2   Alat dan Bahan
      3.2.1 Alat :
          Alat Tulis digunakan untuk menulis atau menggambar

           Kertas Bergaris digunakan untuk menggambar

          Penggaris digunakan untuk mengukur

           Buku identifikasi digunakan untuk membantu mengidentifikasi bahan
              sampel yang diamati
           Loyang digunakan untuk wadah sample yang diamati


      3.2.2   Bahan :
          -   Udotea argentea
          -   Halimeda macroloba
          -   Halimeda micronesica
          -   Caulerpa serrulata
          -   Sargassum duplicatum
          -   Caulerpa racemosa
          -   Padina australis
          -   Halimeda cylindreceae
          -   Dictyota bartayresiand
          -   Sargassum crasiforium


3.3. Metode/cara kerja
    Mengamati bahan sample rumput laut meliputi ciri-ciri dan morfologinya.
    Menggambar bahan sample rumput laut yang diamati, mencatat dan
      mengukur hal-hal yang perlu diukur.
    Mengidentifikasi jenis-jenisnya dan menentukan klasifikasinya.
    Mencatat sebagai laporan sementara
                              BAB IV
                       HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
             Gambar         Taksonomi Ciri-ciri umum
4.2 Pembahasan
4.2.1   Udotea argentea
   Spesifikasi:
   Ciri-ciri umum. Penampakannya alga ini hampir sama dengan U.flabellum hanya
   lembaran-lembaran thallinya agak melengkung dan berbentuk menyerupai buah
   pear atau bentuk ginjal.
   Sebaran:
   Membentuk komunitas bersama dengan Udotea lainnya dan Halimeda, terutama
   di perairan laut sekitar Sulawesi. Habitat. Hidup di zona pasang surut yang
   berdasar pasir bercampur Lumpur. Sering membentuk koloni. Merupakan alga
   asosiasi oada padang lamun.
4.2.2   Halimeda macroloba
   Spesifikasi:
   Ciri-ciri umum. Alga tegak, agak rimbun, warna hijau pudar keputihan, tinggi
   mencapai 16 cm, menanamkan diri dalam substart dengan serabut rhizoid yang
   berbentuk seperti umbi. Thalli berupa segmen-segmen dengan kalsifikasi ringan
   hingga sedang.
   Sebaran:
   Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah yang berdasar pasir bercampur
   sedikit lumpur. Sering ditemukan tumbuh disela-sela padang lamun. Sebaran.
   Alga tropis asli, banyak tersebar diperairan kepulauan Nusantara.
4.2.3   Halimeda micronesica
   Spesifikasi:
   Pertumbuhan thalli kompak, menjalar tinggi mencapai 10 cm. Percabangan utama
   trichotomus, segment lebar 7 mm, panjang 5 mm, berbentuk subcuneate atau
   discoidal. Basal segment lebar 7 mm, panjang 5 mm, berbentuk ginjal, kadang-
   kadang berbentuk silinder.
   Sebaran:
   Tumbuh pada substrat karang batu menempel diantara sela-sela karang hidup>
   Keberadaannya di daerah tubir dengan kedalaman 5-50 m terutama pantai
   berkarang dapat dijumpai di perairan laut Indonesia kawasan tengah dan timur.
4.2.4    Caulerpa serrulata
   Spesifikasi:
   Ciri-ciri umum. Asimilator tumbuh tegak atau kadang rebah, warna hijau, tinggi
   antara 5-8 cm. Sumbu tegak dekat pangkal silindris, ke arah atas semakin
   memipih, seringkali menhadi terpuntir atau mirip spiral, atau kadang tetap tegak.
   Sebaran:
   Habitat. Banyak ditemukan di zona pasang surut yang selalu teren-dam air hingga
   di zona subtidal. Tumbuh baik di substrat pasir mau-pun menempel di sela-sela
   batu karang. Juga sering sebagai alga asosiasi pada padang Halimeda opuntia.
4.2.5    Sargassum duplicatum
   Spesifikasi:
   Thalli bulat pada batang utama dan agak gepeng pada percabangan, permukaan
   halus atau licin. Percabangan dichotomous dengan daun bulat lonjong, pinggir
   bergerigi, tebal dan duplikasi (double edged). Vesicle melekat pada batang daun,
   bulat telur atau elip.
   Sebaran:
   Tumbuh menempel pada batu di daerah terumbu terutama di bagian pinggir luar
   rataan terumbu yang sering terkena ombak. Sebaran, pantai Selatan Jawa,
   Maluku.
4.2.6    Caulerpa racemosa
   Spesifikasi:
   Thallus memiliki stolon agak besar (diameter 2,5 mm) dengan perakaran yang
   relatif panjang dan interval berjauhan (jarang). Ramuli silindris dengan memiliki
   bulatan-bulatan ujung merata dan bertangkai panjang. Panjang ramuli mencapai 5
   cm.
   Sebaran:
   Tumbuh di berbagai substrat dengan sebaran yang meluas.
4.2.7   Padina australis
   Spesifikasi:
   Ciri-ciri umum. Bentuk thalli seperti kipas membentuk segment-segment
   lembaran tipis (lobus) dengan garis-garis berambut radial dan perkampuran di
   bagian permukaan daun. Warna coklat kekuning-kuningan atau kadang kadang
   memutih karena terdapat perkapuran.
   Sebaran:
   Habitat. Sebaran. Alga tersebar luas di perairan Pasifik selatan dan perairan
   Samodera Hindia. Mudah ditemukan di perairan Indonesia.
4.2.8   Halimeda cylindracea
   Spesifikasi:
   Ciri-ciri umum. Alga tegak, rimbun, warna hijau keputihan, tinggi mencapai 20
   cm, alat pelekat berupa rhizoid yang padat dengan pasir, berbentuk seperti umbi.
   Thalli tersusun oleh segmen-segmen silindrid pendek, seperti manik-manik,
   diameter sekitar 1,5 cm.
   Sebaran:
   Habitat. Hidup di zona pasang surut yang berdasar pasir bercampur Lumpur
   halus. Sering berasosiasi dengan kelompok Halimeda lainnya. Sering pula hidup
   disela-sela padang lamun. Sebaran. Asli alga tropis. Mudah ditemukan disebagian
   besar perairan hangat.
4.2.9   Dyctyota bartayresiand



4.2.10 Sargassum crasiforium
    Spesifikasi:
    Thalli agak gepeng, licin, tetapi batang utama bulat agak kasar, holdfast cakram
    menggaruk. Cabang pertama timbul pada bagian pangkal sekitar 1 cm dari
    holdfast. Percabangan berselang-seling teratur. Daun oval atau memanjang, 40 x
    10 mm, urat tengah daun.
Sebaran:
Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel
pada batu karang atau substrat keras lainnya. Sering membentuk koloni dan
berasosiasi dengan kelompok Sargassum dan Turbinaria. Sebaran. Kosmopolitan
di perairan tropis.
                                         BAB V
                                     PENUTUP


5.1 Kesimpulan
   Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan :

   1. Sea weed (rumput laut) merupakan tumbuhan tingkat rendah yang belum bisa
      dikatakan sebagai tumbuhan yang sebenarnya karena antara akar, daun, dan
      batang belum jelas.
   2. Flora yang mendominasi dan menjadi produsen primer pada daerah pesisir dan
      laut salah satunya adalah rumput laut (sea weed).
   3. Berdasarkan       kandungan    figmen-figmen       yang     dikandungnya      alga
      dikelompokkan jadi empat kelas utama yaitu sebagai berikut :
     -Alga Merah        (Rhodophyceae)
     -Alga Coklat       (Phaeophyceae)
     -Alga Hijau Biru (Myxopyceae)
     -Alga Hijau         (Chlorophyceae).
   4. Taburan rumput laut di suatu habitat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di
      antara faktor-faktor tersebut ialah cahaya, suhu, saliniti, interaksi di antara
      hewan dan tumbuhan serta ombak dan arus.
   5. Habitat rumput laut adalah di sekitar pantai, di perairan laut serta di dalam laut.
      Ini termasuk juga kawasan yang berpasir, berbatu karang, berlumpur dan juga
      terdapat pada kulit kerang, pada kayu, pukat serta tumbuh atas rumput laut lain
      sebagai epifit.


5.2 Saran
    1. Asisten seharusnya membantu praktikan saat identifikasi agar saat
      mengidentifikasi tidak terjadi kesalahan.
    2. Pembagian waktu dengan praktikum lain tidak seimbang sehingga praktikum
      tidak maksimal
    3. Seharusnya pada saat pratikum, buku ngidenfikasinya harus ada banyak
       supaya tidak tejadi sling menunggu.
    4. Bahan yang ada sudah cukup lengkap, tetapi sudah tidak segar lagi.
       Seperti seaweed nya sudah tidak berbentuk


                              DAFTAR PUSTAKA



Bold, H.C. and M.J. Wynne 1980. Introduktion to the alga. Structure and
      reproduction. Prentice-Hall, INC., Englewood Cliffs, New Jersey 07632 :
      706 pp

Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan

Nybakken,J. W. 1992 . Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia : Jakarta
Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang
       Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. Jakarta.
Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2009. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang
       Biota Laut. Djambatan. Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1249
posted:7/13/2011
language:Indonesian
pages:28
sky walker sky walker http://
About