Docstoc

MANGROVE

Document Sample
MANGROVE Powered By Docstoc
					             LAPORAN RESMI


     PRAKTIKUM BIOLOGI LAUT (BOTANI)
               MANGROVE




                SIGIT K JATI
                 K2E009037




     PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
       JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUATAN
       UNVERSITAS DIPONEGORO
               SEMARANG
                   2010
                             BAB I
                          PNDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

      Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis
   khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara
   Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara
   kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia
   disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Banyak sumberdaya
   alam yang dimiliki Indonesia, salah satunya dalam bidang perairan. Perairan
   laut Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna.
   Demikian luas serta keragaman jasad– jasad hidup di dalam yang
   kesemuanya    membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling
   berkesinambungan.
      Menurut Mac Nae (1968), mangrove adalah kombinasi antara bahasa
   portugal “mangue” dan bahasa inggris “grove”. Menurut Kitamura et al
   (2003), kata mangrove berarti tumbuhan tropis dan komunitasnya yang
   tumbuh di daerah pasang surut, dimana daerah pasang surut adalah daerah
   yang mendapat pengaruh pasang surut dan terletak di sepanjang garis pantai,
   termasuk tepi laut, muara sungai, laguna dan tepi sungai.
      Menurut Kusmana (2002), pengertian mangrove adalah suatu komunitas
   tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas
   tersebut di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang
   secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat
   pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah. Ekosistem
   mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotic dan abiotik
   yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.
      Hampir semua bagian laut dihuni oleh biota laut, mulai dari pantai,
   permukaan laut sampai ke dasar laut. Kehidupan di laut yang penuh dengan
   misteri dan manfaatnya yang begitu besar bagi manusia membuat para ahli
   semakin tertarik untuk mempelajarinya. Antara lain dengan mempelajari
   sistem taksonomi, keanekaragaman bentuk, distribusi, sifat, maupun peranan
   biota laut itu sendiri.

        Tumbuh-tumbuhan yang hidup di laut juga beraneka macam, mulai dari
   tumbuhan tingkat rendah, yaitu jenis flora yang belum dapat dibedakan
   struktur akar, batang dan daunnya atau sering disebut dengan alga, hingga
   tumbuhan tingkat tinggi, seperti lamun dan mangrove. Tumbuh-tumbuhan
   tersebut mampu beradaptasi di lingkungannya masing-masing sehingga
   mereka dapat bertahan hidup di lingkungan laut dengan berbagai macam
   faktor yang mempengaruhinya.


1.2 Tujuan Praktikum

   1.     Mahasiswa dapat mengamati, mempelajari komponen-komponen
          ekologi yang terdapat pada ekosistem tumbuhan bakau (
          Mangrove ).
   2.     Mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui morfologi luar
          mangrove.
   3.     Mahasiswa dapat mengidentifikasi masing-masing rumput laut
          yang ada dengan bantuan buku identifikasi.
   4.     Mahasiswa dapat membedakan dan menunjukkan berbagai jenis
          rumput laut berdasarkan spesiesnya.




1.3 Manfaat Praktikum


        Setelah melakukan praktikum Botani Laut “tumbuhan bakau (
   Mangrove )”, mahasiswa diharapkan telah dapat memahami dan
   menjelaskan morfologi dan anatomi organisme-organisme tumbuhan
   bakau ( Mangrove ) serta mampu mengklasifikasi dalam susunan yang
   benar.
                                   BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Definisi tumbuhan bakau ( Mangrove )

            Kata mangrove berasal dari bahasa melayu mangi-mangi, yaitu nama
yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizophora sp). Nama-nama mangrove
diberikan kepada jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pantai atau goba-goba
yang menyesuaikan diri pada keadaan asin. Kadang-kadang kata mangrove juga
berarti suatu komunitas (mangrove). Sering kita jumpai kata manggal untuk
komunitas     mangrove   dan    untuk   mangrove     sebagai   jenis   tumbuh-
tumbuhan.(Romimohtarto dan juwana, 2001)
            Hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk
menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh
beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Bakau adalah tumbuhan daratan
berbunga yang mengisi kebali pinggiran laut. Sebutan bakau ditujukan untuk
semua individu tumbmhan, sedangkan mangal ditujukan bagi seluruh komunitas
atau asosiasi yang didominasi oleh tumbuhan ini. (Nybakken, 1992)
            Ekosistem mangrove didefinisikan sebagai mintakat pasut dan
mintakat supra-pasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba dan estuary yang
didominasi oleh halofita, yakni tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok dan
beradaptasi tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran,
bersama-sama dengan populasi tumbuh-tumbuhan dan hewan. (Nybakken, 1992)
            Ekosistem mangrove terdiri dari dua bagian, daratan dan bagian
perairan. Bagian perairan juga terdiri dari dua bagian yakni tawar dan laut.
Hamper semua tumbuha mangrove mempunyai kutikula yang tebal dan
menyimpan air. Hal ini dilakukan sebagai adaptasi terhadap lingkungan hidupnya
yaitun di air asin. Beberapa di antara tumbuhan mangrove mampu menyerap air
laut dan membuang garamnya melalui kelenjar pembuangan garam, seperti
Achantus ilicifolius dan Avicenia sp. Selain itu mangrove mempunyai sifat lain
seperti stomata yang membenam.
            Membanjirnya air pasang menggenangi substrat dan mempersukar
tumbuh-tumbuhan biasa untuk hidup di sini. Tetapi mangrove merah (Rhizopora
sp) mempunyai akar tunggang (prop root) untuk menunjang tegaknya pohon
mangrove tersebut. (Romimohtarto, 2001)
            Mangrove yang hidup di tanah yang miskin zat asam, sedangkan zat
asam dari tanah diperlukan untuk respirasi akar. Sebagai penyesuaian hidup
anaerobic, akar yang terkhususkan yang disebtu akar napas (pneumatophore)
tumbuh dipermukaan tanah. Untuk keperluan sama Bruguira spp mempunyai akar
lutut (knee root).
(Romimohtarto, 2001)
            Mangrove meliputi pohon-pohon dan srmak-semak terdiri dari 12
genera tumbuhan berbunga dalam 8 famili yang berbeda. Yang paling penting
atau dominin adalah genera Rhizopora, Avicennia, Bruguiera, Sonneratia. Daun-
daunnya kuat dan mengandung banyak air dan mempunyai jaringan internal
penyimpan air dan konsentrasi garamnya tinggi. (Nybakken, 1992)


2.2 Klasifikasi tumbuhan bakau ( Mangrove )
            Klasifikasi dari mangrove menurut Dawes (1981) dan Bengen (2002)
adalah sebagai berikut :
        Kingdom            : Plantae
        Divisi              : Angiospermophyta
        Klas               : Dicotyledonae
                      Family                   : Avicenniaceae
                           Genus               : Avicennia
                      Family                   : Sonneratiaceae
                           Genus             : Sonneratia
                      Family                   : Rhizophoraceae
                               Genus           : Rhizophora
                               Genus           : Bruguiera
                                Genus            : Ceriops
                       Family              : Meliaceae
                                Genus            : Xylocarpus
                       Family              : Combretaceae
                                Genus            : Lumnitzera
                                Genus              : Conocarpus
                                Genus              : Laguncularia
                       Family              : Myrsinaceae
                                Genus              : Aegiceras
                       Family              : lumbaginaceae
                                Genus              : Aegiatilis
                       Family              : Chenopodiacea
                                Genus              : Suaeda


2.3 Karakteristik Tumbuhan bakau ( Mangrove )
            Karakteristik hutan mangrove dapat dilihat dari berbagai aspek seperti
floristik, iklim, temperatur, salinitas, curah hujan, geomorphologi, hidrologi dan
drainase.
            Secara umum, karakteristik habitat hutan mangrove digambarkan
sebagai berikut (Bengen, 2000):

               Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis
                tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir.
               Daerahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap
                hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang
                purnama.    Frekuensi genangan menentukan komposisi
                vegetasi hutan mangrove.
               Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.
               Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut
                yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin
                (hingga 38 permil).
           Menurut Walter (1971), ekosistem mangrove terutama didapatkan di 3
(tiga) wilayah iklim berikut ini: (1) Zona khatulistiwa antara ±10 LU dan 5-10
LS.; (2) Zona kering hujan tropika, zona sebelah utara dan selatan khatulistiwa,
sampai ±25-30 LU dan LS; (3) Wilayah yang beriklim sedang (ugahari) yang
pada musim dingin tidak terlalu dingin dan hanya tedapat di belahan batas
tertimur dari benua pada zona ini.

2.4. Pengertian Ekologi Mangrove

       Dilihat dari statusnya, suatu lingkungan hutan mangrove dapat bersifat
terbuka, terlindungi atau dapat berupa tepian sungai. Ketiganya mempunyai ciri
masing-masing yang perlu diperhatikan dalam penentuan lebar jalur hijau hutan
mangrove. Pada lingkungan mangrove terbuka, umumnya pantainya datar dan
landai serta berhadapan langsung dengan laut terbuka. Dalam keadaan seperti ini
lingkungan tersebut rawan terhadap gangguan ombak pada musim-musim angin
tertentu dan arus laut. Kondisi seperti in terhadap pada lingkungan hutan
mangrove berupa dataran tinggi dan sebagian kecil dataran pulau. Untuk
lingkungan terlindungi dilindungi dari pengaruh gelombang dan arus laut oleh
deretan pulau-pulau, atau lingkungan ini merupakan pantai sebuah teluk. Formasi
lingkungan ini menciptakan kondisi air tenang yang cocok untuk kehidupan hutan
mangrove. Kondisi seperti ini terdapat pada lingkungan hutan mangrove berupa
delta dataran lumpur dan dataran pulau.(……,1999)

       Secara umum komunitas hutan, termasuk hutan mangrove memiliki
karakteristik fisiognomi yaitu dinamakan sesuai dengan jenis yang dominan
berada di suatu kawasan. Misalnya di suatu kawasan hutan mangrove yang
dominan adalah jenis Rhizophora sp maka hutan tersebut dinamakan hutan
mangrove Rhizophora. (Soerianegara, 1998)

       Bentuk vegetasi dan komunitas mangrove terdiri dari 3 zone mangrove
berdasarkan distribusi, karakteristik biologi, kadar garam dan intensitas
penggenangan lahan yaitu:

2.4.1. Vegetasi Inti
       Secara lebih luas dalam mendefinisikan hutan mangrove sebaiknya
memperhatikan keberadaan lingkungannya termasuk sumberdaya yang ada.
Berkaitan dengan hal tersebut maka Saenger et al. 1983 mendefinisikan
sumberdaya mangrove sebagai :

1. Exclusive mangrove, yaitu satu atau lebih jenis pohon atau semak belukar yang
   hanya tumbuh di habitat mangrove

2. Non exclusive mangrove, yaitu setiap jenis tumbuhan yang tumbuh di habitat
   mangrove, dan keberadaannya tidak terbatas pada habitat mangrove saja

3. Biota, yaitu semua jenis biota yang berasosiasi dengan habitat mangrove

4. Proses (abrasi, sedimentasi), yaitu setiap proses yang berperan penting dalam
   menjaga atau memelihara keberadaan ekosistem mangrove. Keanekaragaman
   jenis ekosistem mangrove di Indonesia cukup tinggi

       Jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jumlah jenis mangrove di
Indonesia mencapai 89 yang terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis
perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis parasit (Nontji, 1987). Dari 35 jenis
pohon tersebut, yang umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia
sp,Sonneratia sp, Rizophora sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan
Excocaria sp.

       Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah zona intertidal yang
mampu bertahan terhadap pengaruh salinitas (garam), yang disebut tumbuhan
halophyta. Kebanyakan jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus yang
memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang dalam substrat/lahan mangrove
seperti kemampuan berkembang biak, toleransi terhadap kadar garam tinggi,
kemampuan bertahan terhadap perendaman oleh pasang surut, memiliki
pneumatophore atau akar napas, bersifat sukulentis dan kelenjar yang
mengeluarkan garam. Lima jenis mangrove paling utama adalah Rhizophora
mangle. L., R. harrisonii leechman (Rhizoporaceae), Pelliciera rhizophorae triana
dan Planchon (pelliceriaceae), Avicennia germinans L ( Avicenniaceae) dan
Laguncularia racemosa L. gaertn. (Combretaceae).

2.4.2. Vegetasi Marginal

       Jenis ini biasanya dihubungkan dengan mangrove yang berada di darat, di
rawa musiman, pantai dan/atau habitat mangrove marginal. Meskipun demikian
vegetasi ini tetap tergolong mangrove. Jenis Conocarpus erecta (combretaceae)
tidak ditemukan di dalam vegetasi mangrove biasa. Mora oleifera (triana), Duke
(leguminosae) jumlahnya berlimpah-limpah di selatan pantai pasifik, terutama di
semenanjung de osa, dimana mangrove ini berkembang dalam rawa musiman
salin (25 promil). Jenis yang lain adalah Annona glabra L. (Annonaceae),
Pterocarpus officinalis jacq. (Leguminosae), Hibiscus tiliaceus L. dan Pavonia
spicata killip (Malvaceae). Jenis pakis-pakisan seperti Acrostichum aureum L.
(Polipodiaceae) adalah yang sangat luas penyebarannya di dalam zone air payau
dan merupakan suatu ancaman terhadap semaian bibit untuk regenerasi.

2.4.3 Vegetasi fakultatif marginal

Carapa guianensis (Meliaceae) tumbuh berkembang di daerah dengan kadar
garam sekitar 10 promil. Jenis lain adalah Elaeis oleifera dan Raphia taedigera. Di
daerah zone inter-terrestrial dimana pengaruh iklim khatulistiwa semakin terasa
banyak ditumbuhi oleh Melaleuca leucadendron rawa ( e.g. selatan Vietnam).
Jenis ini banyak digunakan untuk pembangunan oleh manusia. Lugo dan
Snedaker (1974) mengidentifkasi dan menggolongkan mangrove menurut enam
jenis kelompok (komunitas) berdasar pada bentuk hutan, proses geologi dan
hidrologi. Masing-Masing jenis memiliki karakteristik satuan lingkungan seperti
jenis lahan dan kedalaman, kisaran kadar garam tanah/lahan, dan frekuensi
penggenangan. Masing-masing kelompok mempunyai karakteristik yang sama
dalam hal produksi primer, dekomposisi serasah dan ekspor karbon dengan
perbedaan dalam tingkat daur ulang nutrien, dan komponen penyusun kelompok.

2.5 Struktur Vegetasi Hutan Mangrove
          Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri dari
12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera,
Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda
dan Conocarpus) yang termasuk ke dalam delapan famili. (Bengen, 2000).
          Selanjutnya, menurut Bengen (2000) bahwa vegetasi hutan mangrove
di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, namun demikian hanya
terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling
tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati
penting/dominan yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizophoraceae
(Rhizophora,       Bruguiera     dan   Ceriops),   Sonneratiaceae   (Sonneratia),
Avicenniaceae (Avicennia) dan Meliaceae (Xylocarpus). (Bengen, 2000).

2.6 Habitat tumbuhan bakau ( Mangrove )

        Adaptasi terhadap Kadar Oksigen Rendah.
          Pohon Mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas :
                   bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya
                    Avicennia sp., Xylocarpus sp. dan Sonneratia sp.)
                   bertipe penyangga / tongkat yang mempunyai lentisel
                    (misalnya Rhizopora sp).
        Adaptasi terhadap kadar garam tinggi.
                   Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk
                    menyimpan garam.
                   Berdaun tebal dan kuat yang banyak mengandung air untuk
                    mengatur keseimbangan garam.
                   Daunnya memliki struktur stomata khusus untuk mengurangi
                    penguapan.
        Adaptasi Terhadap yang kurang stabil dan adanya pasang surut.
                   Mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensir dan
                    membentuk jaringan horizontal yang lebar. Disamping untuk
                    memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk
                    mengambil unsur hara dan menahan sedimen.
2.7 Rantai makanan di ekosistem hutan mangrove :

           Tumbuhan mangrove sebagaimana tumbuhan lainnya mengkonversi
cahaya matahari dan zat hara (nutrien) menjadi jaringan tumbuhan (bahan
organik) melalui proses fotosintesis.
           Tumbuhan menrupakan sumber makanan potensial, dalam berbagai
bentuk, bagi semua biota yang hidup di ekosistem hutan mangrove. Berbeda
dengan ekosistem pesisir lainnya, komponen dasar dari rantai makanan di
ekosistem hutan mangrove bukanlah hutan mangrove itu sendiri, tapi serasah yang
berasal dari tumbuhan mangrove (daun, ranting, buah, batang dsb). (Nontji, 1987).
           Sebagian besar mangrove didekomposisi oleh bankteri fungsi menjadi
zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton,
algae atau tumbuhan mangrove itu sendiri dalam proses fotosintesis, sebagian lagi
partikel serasah (detritus) dimanfaatkan oleh ikan, udang dan kepiting sebagai
makanannya. Proses makan-memakan dalam berbagai kategori dan tingkatan
biota membentuk jala makanan. ( Romimohtarto, 2001 )

2.8 Fungsi dan manfaat hutan magrove :

    Sebagai peredam gelombang dan angin badai pelindung abrasi, penahan
       dan perangkap sedimen.
    Penghasil sejumlah besar detritus dari daun dan batang pohon mangrove.
    Daerah Asuhan (nursery grounds), daerah mencari makanan (feeding
       grounds) dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan,
       udang dan biota laut lainnya.
    Penghasil kayu untuk bahan konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang dan
       bahan baku kertas .
    Pemasok larva ikan, udang dan biota laut lainnya.
    Sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet,
       buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik
    Sebagai tempat pariwisata. ( Romimohtarto, 2001 )

2.9 Faktor-Faktor     Ekologi    Yang   Mempengaruhi       Pertumbuhan
   Mangrove
   2.9.1 Fisiogravi Pantai

       Fisiografi pantai dapat mempengaruhi komposisi, distribusi spesies dan
lebar hutan mangrove. Pada pantai yang landai, komposisi ekosistem mangrove
lebih beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal. Hal ini disebabkan
karena pantai landai menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya
mangrove sehingga distribusi spesies menjadi semakin luas dan lebar. Pada pantai
yang terjal komposisi, distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena
kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh (Santoso, 2000)

2.9.2 Pasang

       Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat menentukan zonasi
tumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.
Secara rinci pengaruh pasang terhadap pertumbuhan mangrove dijelaskan sebagai
berikut:

      Lama pasang

1. Lama terjadinya pasang di kawasan mangrove dapat mempengaruhi perubahan
   salinitas air dimana salinitas akan meningkat pada saat pasang dan sebaliknya
   akan menurun pada saat air laut surut

2. Perubahan salinitas yang terjadi sebagai akibat lama terjadinya pasang
   merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi distribusi spesies secara
   horizontal.

3. Perpindahan massa air antara air tawar dengan air laut mempengaruhi distribusi
   vertikal organisme

      Durasi pasang

1. Struktur dan kesuburan mangrove di suatu kawasan yang memiliki jenis pasang
   diurnal, semi diurnal, dan campuran akan berbeda.
2. Komposisi spesies dan distribusi areal yang digenangi berbeda menurut durasi
   pasang atau frekuensi penggenangan. Misalnya : penggenagan sepanjang
   waktu maka jenis yang dominan adalah Rhizophora mucronata dan jenis
   Bruguiera serta Xylocarpus kadang-kadang ada.

      Rentang pasang (tinggi pasang):

       Akar tunjang yang dimiliki Rhizophora apiculata menjadi lebih tinggi
pada lokasi yang memiliki pasang yang tinggi dan sebaliknya Pneumatophora
Sonneratia sp menjadi lebih kuat dan panjang pada lokasi yang memiliki pasang
yang tinggi. (Indriyanto, 2006)

2.9.3. Gelombang dan Arus

1. Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove.
   Pada lokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang cukup besar
   biasanya hutan mangrove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan
   luasan hutan.

2. Gelombang dan arus juga berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies
   misalnya buah atau semai Rhizophora terbawa gelombang dan arus sampai
   menemukan substrat yang sesuai untuk menancap dan akhirnya tumbuh.

3. Gelombang dan arus berpengaruh tidak langsung terhadap sedimentasi pantai
   dan pembentukan padatan-padatan pasir di muara sungai. Terjadinya
   sedimentasi dan padatan-padatan pasir ini merupakan substrat yang baik untuk
   menunjang pertumbuhan mangrove

4. Gelombang dan arus mempengaruhi daya tahan organisme akuatik melalui
   transportasi nutrien-nutrien penting dari mangrove ke laut. Nutrien-nutrien
   yang berasal dari hasil dekomposisi serasah maupun yang berasal dari runoff
   daratan dan terjebak di hutan mangrove akan terbawa oleh arus dan
   gelombang ke laut pada saat surut.

2.9.4. Iklim
         Parameter yang utama dalam iklim adalah Suhu udara, Angin, dan Curah
hujan. bagi hutan mangrove di Indonesia, angin dan suhu udara barangkali tidak
besar pengaruhnya terhadap kehidupan hutan mangrove karena variasi geografis
maupun musimannya tidak besar. Dengan demikian parameter iklim yang cukup
besar pengaruhnya hanyalah curah hujan.

         Pada umumnya hutan mangrove tumbuh dengan baik di daerah yang
beriklim basah seperti Pantai Timur Sumatera, Pantai Selatan Kalimantan, Pantai
Selatan Irian. Namun mangrove juga dapat tumbuh pada pantai-pantai beriklim
kering seperti Nusa Tenggara Timur, Bali walaupun pertumbuhannya lambat.

         Khusus dalam masalah penentuan lebar jalur hijau hutan mangrove,
pertama yang harus diperhatikan adalah kondisi lingkungan hutan mangrove dan
status lingkungan kemudian baru substrat pembentuk, hidrologi, iklim dan
peruntukkan lingkungan ( konversi lahan ). Menurut Haeruman H JS, 1986, lebar
jalur hijau hutan mangrove, ditetapkan berbeda untuk keperluan suaka alam, hutan
mangrove produksi dan hutan mangrove untuk keperluan perlindungan pantai dan
estetika.

         Menurut Keputusan Presiden No: 32 tahun 1990, kriteria kawasan pantai
berhutan bakau ( kawasan lindung ) adalah minimal 130 kali nilai rata-rata
perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut
terendah ke arah darat. Rumusan ini baru memperhatikan status lingkungan
mangrove yang terbuka ( seperti: lingkungan hutan mangrove dataran pantai ),
karena penelitiannya baru dilaksanakan pada satu lokasi yaitu daerah S. Saleh,
Sumatera Selatan yang dikenal dengan status lingkungan terbuka, karena pada
musim-musim angin tertentu, daerah ini ombak dan anginnya cukup kuat,
sehingga apabila daerah ini dikonversi maka akan terjadi abrasi pantai yang cukup
besar, seperti yang terjadi di daerah bagian timur pantai Lampung dan Sumatera
Selatan serta pantai utara Jawa yang dibuat tambak tanpa mempedulikan jalur
hijau.

         Pengaturan lebar jalur hijau untuk daerah terlindungi oleh pengaruh ombak
dan angin ( seperti delta, dataran lumpur dan pulau ), yang pemanfaatannya sering
diperuntukkan untuk pengusahaan hutan ( Hutan Mangrove Produksi ), diatur
dalam Pedoman Sistem Silvikultur Hutan Payau No. 60 tahun 1978, dimana jalur
hijau ditetapkan 50 meter dari tepi hutan yang menghadap ke laut dan 10 meter
dari tepi hutan yang menghadap ke sungai (“ sungai pasang surut “ ). Cara
penentuan lebar jalur hijau tersebut diatas cukup realistis, karena sudah
mempertimbangkan lingkungan hidup hutan mangrove dan status lingkungan
serta kondisi hidrologi, sementara substrat pembentuk dan iklim sangat sulit
dijadikan parameter penentu.

         Pemanasan global akibat perubahan iklim selain menaikkan permukaan air
laut akibat pemuaian volume air dan pencairan salju, juga menaikkan suhu air
laut. Hal itu akan berpengaruh terhadap interaksi laut dan atmosfer, yang
selanjutnya akan mempengaruhi perubahan iklim.

         Perbedaan temperatur antara udara diatas daratan dan lautan menimbulkan
angin sepanjang garis pantai y ang kuat. Sedangkan perbedaan temperatur air laut
dan di dasar laut akan menimbulkan arus keatas (up willing). Bila h al ini terjadi
dengan intensitas yang tinggi diduga akan menambah frekuensi peristiwa siklon
tropis yang disertai perluasan wilayahnya. Suhu permukaan air laut yang tinggi
kemungkinan meningkatkan terjadinya El Nino y ang mengakibatkan. Wibowo,
(1990)

         Mempengaruhi perkembangan tumbuhan dan perubahan faktor fisik
(substrat dan air). Pengaruh iklim terhadap pertimbuhan mangrove melalui
cahaya, curah hujan, suhu, dan angin. Penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut
adalah sebagai berikut:

1. Cahaya

   Cahaya berpengaruh terhadap proses fotosintesis, respirasi, fisiologi, dan
     struktur fisik mangrove
   Intensitas, kualitas, lama (mangrove adalah tumbuhan long day plants yang
     membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi sehingga sesuai untuk hidup di
     daerah tropis) pencahayaan mempengaruhi pertumbuhan mangrove

   Laju pertumbuhan tahunan mangrove yang berada di bawah naungan sinar
     matahari lebih kecil dan sedangkan laju kematian adalah sebaliknya

   Cahaya berpengaruh terhadap perbungaan dan germinasi dimana tumbuhan
     yang berada di luar kelompok (gerombol) akan menghasilkan lebih banyak
     bunga karena mendapat sinar matahari lebih banyak daripada tumbuhan yang
     berada di dalam gerombol.

2. Curah hujan

   Jumlah, lama, dan distribusi hujan mempengaruhi perkembangan tumbuhan
     mangrove

 Curah   hujan yang terjadi mempengaruhi kondisi udara, suhu air, salinitas air dan
     tanah

 Curah   hujan optimum pada suatu lokasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
     mangrove adalah yang berada pada kisaran 1500-3000 mm/tahun

3. Suhu

 Suhu   berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi)

   Produksi daun baru Avicennia marina terjadi pada suhu 18-20C dan jika suhu
     lebih tinggi maka produksi menjadi berkurang

 Rhizophora    stylosa, Ceriops, Excocaria, Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu
     26-28C

   Bruguiera tumbuah optimal pada suhu 27C, dan Xylocarpus tumbuh optimal
     pada suhu 21-26C
4. Angin

 Angin   mempengaruhi terjadinya gelombang dan arus

   Angin merupakan agen polinasi dan diseminasi biji sehingga membantu
     terjadinya proses reproduksi tumbuhan mangrove.
                              BAB III
                  MATERI DAN METODE


3.1   Waktu dan Tempat Praktikum
      Praktikum ini dilakukan pada :
              Hari/Tanggal     : Jumat,29 Mei 2010
              Pukul            : 13.00 WIB – 17.00 WIB
              Tempat           : Ruang Seminar Jurusan Ilmu Kelautan
                                 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
                                 UNDIP Semarang


3.2   Alat dan Bahan


          3.2.1        Alat


           Alat Tulis digunakan untuk menulis atau menggambar
           Kertas Bergaris digunakan untuk menggambar
           Penggaris digunakan untuk mengukur
           Buku identifikasi digunakan untuk membantu
             mengidentifikasi bahan sampel yang diamati


          3.2.2        Bahan


      -   Avicennia marina
      -   Excoeccaria agallocha
      -   Rhizopora mucronata
      -   Rhizopora apiculata
      -   Lumnitzera racemosa
      -   Aegiceras corniculatu
      -   Ceryops tagal
      -   Bruguiera cylindrica
      -   Terminalia catappa
      -   Sesurium pertulatastrum
      -   Hibiscus tiliaceus
      -   Thespesia populnea


3.3   Metode / Cara Kerja


           Mengamati bahan sample mangrove meliputi ciri-ciri dan
             morfologinya.
           Menggambar bahan sample mangrove yang diamati,
             mencatat dan mengukur hal-hal yang perlu diukur.
           Mengidentifikasi jenis-jenisnya dan menentukan
             klasifikasinya.
           Mencatat sebagai laporan sementara.
                              BAB IV
                       HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan

GAMBAR                        TAKSONOMI                            CIRI-CIRI UMUM
                                                                      Bentuk daun elips
                              Kingdom : Plantae                        Susunan daun tunggal
                              Divisi     : Angiospermophyta             atau bersilangan
                              Klas       : Dicotyledonae               Akar     nafas     seperti
                              Family     : Avicenniaceae                pensil
                              Genus      : Avicennia                   Panjang 5-9 cm
                              Spesies    : Avicennia lanata            Warna daun hijau
                                                                       Permukaan          bawah
                                                                        daun             berbulu,
                                                                        kekuning-kuningan,
                                                                        spesiespioner




                                                                    Bentuk daun lanset,
                               Kingdom : Plantae                       berduri (duri terletak
                               Divisi    : Angiospermophyta            dibagian tepi daun)
                               Klas      : Dicotyledonae            Tinggi mencapai 1,5 m
                               Family    : Acanthaceae              Bunga terletak di ujung,
                               Genus     : Acanthus                    mahkota berwarna biru
                               Spesies   : Acanthus ilicifolicus       terang atau ungu
                                                                    Warna daun hijau
                                Daun berbentuk elips,
Kingdom : Plantae                 ujung runcing hingga
Divisi    : Angiospermophyta      membundar
Klas      : Dicotyledonae       Susunan tunggal,
Family    : Avicenniaceae         bersilangan
Genus     : Avicennia           Tinggi mencapai 12 m
Spesies   : Avicennia marina    Akar nafas seperti
                                  pensil
                                Kulit kayu halus,
                                  kelabu, hijau loreng

                                Bentuk daun perdu
Kingdom : Plantae               Tidak memiliki akar
Divisi    : Angiospermophyta      udara
Klas      : Dicotyledonae       Susunan daun tunggal,
Family    : Rhizopora             berseling
Genus     : Excoeccaria         Warna daun hijau
Spesies   : Excoeccaria         Memilki buah diujung
          agallocha               daun
Kingdom : Plantae                    Daun bersilang susunan
Divisi    : Angisopermophyta          tunggal
Klas      : Dicotyledonae            Ujung daun meruncing
Family    : Rhizopora                Bunga tersusun dua-dua,
Genus     : Rhizopora                 bergantung diketiak
Spesies   : Rhizopora mucronata       daun
                                     Warna daun hijau




Kingdom : Plantae                    Susunan daun tunggal,
Divisi    : Angiospermophyta          bersilangan
Klas      : Dicotyledonae            Tinggi pohon mencapai
Family    : Sonneratiaceae            16 m
Genus     : Sonneratia               Bentuk akar nafas,
Spesies   : Sonneratia caseolaris     berbentuk kerucut
                                     Bentuk jorong sampai
                                      oblong
                                     Kulit kayu halus

Kingdom : Plantae                    Memiliki perakaran
Divisi    : Angiospermophyta           tunggang
Klas      : Dicotyledonae            Ukuran pohon setinggi
Family    : Rhizophoraceae             25 m
Genus     : Rhizophora               Daun tunggal bersilang,
Spesies   : Rhizophora apiculata       elips, meruncing
                                     Tonjolan gigi bintik-
                                       bintik hitam
                                     Bijinya vivivar
Kingdom : Plantae                  Daun agak tebal
Divisi    : Angiospermophyta         berdaging, keras/kaku,
Klas      : Dicotyledonae            dan berumpun
Family    : Combretaceae           Panjang tangkai daun
Genus     : Lumnitzera               10 mm
Spesies   : Lumnitzera racemosa    Buah berbentuk
                                     lembung/elips
                                   Bunga biseksual, tanpa
                                     ganggang,berwarna
                                     putih cerah
                                   Ekologi : tumbuh
                                     disepanjang tepi
                                     vegetasi mangrove

Kingdom : Plantae                  Daun mahkota 5 buah
Divisi    : Angiospermophyta       Daun berkulit, terang,
Klas      : Dicotyledonae            berwarna hijau
Family    : Combretaceae             mengkilat pada bagian
Genus     : Aegiceras                atas dan hijua pucat
Spesies : Aegiceras                  dibagian bawah
corniculatum
                                   Buah berwarna hijau
                                   Ekologi : memiliki
                                     toleransi yang tinggi
                                     terhadap salinitas,
                                     tanah, dan cahaya yang
                                     beragam
Kingdom : Plantae                   Bentuk      daun       telur
Divisi    : Angiospermophyta          sungsang
Klas      : Dicotyledonae           Akar banir berasal dari
Family    : Rhizophoraceae            seperti akar tunjang
Genus     : Ceryops                 Susunan daun tunggal,
Spesies   : Ceryops decandia          bersilangan
                                    Ujung                daun
                                      membundar
                                    Warna bunga hipokotil,
                                      hijau hingga coklat
                                    Rangkaian            daun
                                      tersusun rapat diketiak
                                      daun

Kingdom : Plantae                   Bentuk pohon tinggi
Divisi    : Angiospermophyta        Susunan daun tunggal,
Klas      : Dicotyledonae             bersilangan
Family    : Rhizophoraceae          Bentuk daun elips,
Genus     : Bruguiera                 ujung meruncing
Spesies   : Bruguiera cylindrica    Buah berwarna hijau
                                      hingga hijau keunguan
                                      dengan permukaan
                                      halus
                                    Kulit kayu kelabu,
                                      relative halus
                                    Bunga kecil, cuping
                                      kelopok, bunga kokoh
                                       Kingdom : Plantae                  Tipe biji spora
                                       Divisi     : Angiospermophyta      Akar tidak ada akar
                                       Klas       : Dicotyledonae           udara
                                       Family    : Rhizophoraceae         Daun paku, panjang
                                       Genus     : Aerostichum              helai daun lebih dari 1
                                       Spesies   : Aerostichum aureum       m
                                                                          Bentuk semak




4.2 Pembahasan

   4.2.1 Avicenia lanata
        Avicenia lanata merupakan divisi dari Angiospermophyta. Mempunyai
        susunan daun tunggal atau berilangan, bentuk elips, ujung daun
        membundar hingga runcing, ukuran panjang 5-9 cm, tipe biji
        kriptovivipari,. Memiliki akar nafas seperti pensil. Kulit kayu gelap,
        coklat hingga hitam, seperti kulit ikan hiu. Permukaan bawah daun
        berbulu, kekuning-kuningan, spesies pioner. ( Romimohtarto, 2001 )


   4.2.2 Acanthus ilicifolicus
        Acanthus    ilicifolicus    merupakan     divisi   dari   Angiospermophyta.
        Mempunyai      susunan daun tunggal, bersilangan, panjang 5-15 cm,
        berbentuk lanset, berduri ( duri terletak dibagian tepi daun ). Hidup
        disemak-semak, tinggi pohon mencapai 1,5 m. memiliki bunga butir
        dengan panjang 10-20 cm, diujung mahkota berwarna biru terang atau
        ungu. ( Romimohtarto, 2001 )


   4.2.3 Avicennia marina
        Avicennia    marina        merupakan     divisi    dari   Angiospermophyta.
        Mempunyai susunan daun tungggal, bersilangan. Bentuk daun elips,
        diujung daun runcing hingga membundar. Tinggi pohon mencapai 12 m,
    akar nafas seperti pensil. Kulit kayu halus, kelabu, dan hjau loreng, buah
    seperti kacang, spesies pioner. ( Romimohtarto, 2001 )


4.2.4 Excoeccaria agallocha
    Excoeccaria agallocha merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Mempunyai daun yang eliptical dan ujung daun acute serta susunan daun
    tunggal, berseling. Bunga dari mangrove ini berbentuk silinder panjang
    yang tumbuh di ketiak daun, penampakan tumbuhan ini berupa pohon.
    Bentuk daun elips, diujung daun meruncing. Tidak memiliki akar udara.
     ( Romimohtarto, 2001 )


4.2.5 Rhizopora mucronata
     Rhizopora mucronata merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Diantara mangrove yang lain mangrove jenis ini yang paling banyak
    tumbuh di Indonesia. Tumbuhan ini biasanya berkembang pada sedimen
    dan pasang purnama yang tinggi. Memiliki susunan daun tunggal,
    berseling. Bentuk daun elips dan ujung daun meruncing. Tipe perakaran
    akar tunjang,tipe perakaran ini dapat tumbuh besar dan berhubungan
    dengan batamg yang ada di atas permukaan air dan substrat,dari pokok
    batang akan keluar akar yang tumbuh ke arah substrat .(Nybakken,1988)


4.2.6 Sonneratia caseolaris
    Sonneratia caseolaris merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Daunnya obovate dengan ujung daun rounded dan susunan daun
    opposite.kenampakan berupa pohon dengan jenis akar pneumatophore
    bunga merupakan bunga bunga soliter. Tinggi pohon mencapai 16 m.
    Memiliki akar nafas, berbentuk kerucut, tinggi dapat mencapai 1 m.
    Ujung membundar dengan membengkok tajam yang menonjol.
    (Nybakken,1988)


4.2.7 Rhizopora apiculata
           Rhizopora apiculata merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Bentuk daunnya elips dengan ujung daun meruncing. Daun mempunyai
    panjang maksimum, benang sari pendek. Daun lebih besar dari
    Rhizophora stylosa. Bijinya vivipar, mempunyai perakaran tunggang,
    panjang ukuranpohon setinggi 25m. ( Romimohtarto, 2001 )


4.2.8   Lumnitzera racemosa
            Lumnitzera racemosa merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Memiliki susunan daun agak tebal berdaging, keras atau kaku, dan
    berumpun pada ujung dahan. Panjang tangkai 10 mm. Mempunyai daun
    yang eliptical dengan ujung daun emarginate dan susunan daun selang –
    seling,kenampakan berupa belukar. Kulit kayu berwarna coklat
    kemerahan, memiliki celah/retakan. Buah berbentuk tembung/ elips.
    Tumbuh disepanjang tepi vegetasi mangrove. ( Romimohtarto, 2001 )


4.2.9   Aegiceras corniculatum
        Aegiceras corniculatum merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Memiliki daun berkulit terang, berwarna hijau mengkilat pada bagian
    atas dan hijau pucat dibagian bawah. Daun mahkota berjumlah 5 buah.
    Buah berwarna hijau. Daun bulat dan memanjang dan elips dengan
    panjang daun sekitar 5 cm, bagian tas daun berwarna hijau tua dan
    bagian bawahnya berwarna hijau tua. Tipe perakaran yaitu akar lutut,
    dimana akar ini tumbuh ke samping meliuk – liuk, sehingga membentuk
    lengkungan – lengkungan yang akan menonjol di atas permukaan
    substrat. Hidup terhadap salinitas tinggi dan cahaya yang beragam.
    (Nybakken,1988)


4.2.10 Ceryops decandia
            Ceryops decandia merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Daunnya bulat agak elips dan ujungnya meruncing, panjang daun sekitar
    4 – 6 cm dan lebarnya sekitar 2 – 5 cm. Tulang daun menyirip dengan
    bagian atas daun halus berwarna hijau dan bagian bawah daun berwarna
    coklat. Tipe perakaran akar nafas dimana pada bagian tertentu terdapat
    cabang pendek berupa tonjolan tumpul yang mencuat ke atas sampai
    muncul ke permukaan substrat. Diantara tonjolan tadi terdapat tonjolan
    lain yang arahnya ke bawah, tonjolan ini berfungsi untuk mencari zat
    hara.( Romimohtarto,2001 )


4.2.11 Bruguiera cylindrica
           Bruguiera cylindrica merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Permukaan daunnya halus dan serabutnya hampir tak dijumpai. Buahnya
    pendek dan kecil,mudah menyebar. Mempunyai perakaran lutut,tipe akar
    ini tumbuh ke samping sehingga membentuk lengkungan yang akan
    menonjol di atas permukaan air dimana puncak lengkungan tersebut
    mengarah ke bawah di mana pada bagian bawahnya akan tumbuh cabang
    kecil. Susuna daun tunggal, berselingan, bentuk elips, ujung daun
    meruncing. Buah berwarna hijau hingga keunguan dengan permukaan
    halus.( Romimohtarto, 2001)


4.2.12 Aerostichum aureum
           Aerostichum aureum merupakan divisi dari Angiospermophyta.
    Susuna daun tunggal, berselingan, bentuk elips, ujung daun meruncing.
    Bentuka daun paku, panjang helai daun lebih dari 1 m, tipe biji spora.
    Mangrove ini hidup di semak-semak. Daun muda berwarna merah.
    ( Romimohtarto, 2001 )
                                      BAB V

                                    PENUTUP

5.1 Kesimpulan

   Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan :

   1. Tumbuhan bakau ( Mangrove ) merupakan tumbuhan daratan berbunga
      yang mengisi kebali pinggiran laut. Sebutan bakau ditujukan untuk semua
      individu tumbmhan, sedangkan mangal ditujukan bagi seluruh komunitas
      atau asosiasi yang didominasi oleh tumbuhan ini.

   2. Flora yang mendominasi dan menjadi produsen primer pada daerah pesisir
      dan laut salah satunya adalah tumbuhan bakau ( Mangrove ).

   3. Adapun fungsi dari tumbuhan bakau ( Mangrove ) yang paling utama
      adalah Sebagai peredam gelombang dan angin badai pelindung abrasi,
      penahan dan perangkap sedimen.

   4. Habitat tumbuahan bakau ( Mangrove ) adalah Adaptasi terhadap Kadar
      Oksigen Rendah, Adaptasi terhadap kadar garam tinggi, Adaptasi
      Terhadap yang kurang stabil dan adanya pasang surut.

   5. Beberapa jenis Mangrove yang ditemukan di laut, seperti : Thespesia
      populnea, Sonneratia alba, Spinifex litoreus, Excoeccaria agallocha,
      Rhizopora apiculata, Lumnitzera racemosa, Aegiceras corniculatum,
      Ceryops decandia.

5.2 Saran

   1. Para asisten harus banyak membantu praktikan terutama saat identifikasi
      agar saat mengidentifikasi tidak salah-salah terus.
   2. Kelengkapan alat sebaiknya dilengkapi agar ilmu yang didapat lebih
      sempurna.
   3. Waktu praktikum sebaiknya ditambah agar lebih maksimal.
                                DAFTAR PUSTAKA

.
Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat
       Kajian     Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.
Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan

Nybaken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.
Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan
       Tentang Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI.
       Jakarta.
http://kesemat.blogspot.com/.

http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_Bakau/.

http://www.gudangreferensi.com/.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1509
posted:7/13/2011
language:Indonesian
pages:30
sky walker sky walker http://
About