ALKI (DOC)

Document Sample
ALKI (DOC) Powered By Docstoc
					                                                                              Sigit K Jati
                                                                              K2E009037

                           TUGAS OSEANOGRAFI FISIKA



Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)

        ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia adalah suatu alur laut di wilayah perairan
Indonesia yang dapat dilewati oleh kapal dan pesawat udara asing secara terus menerus dan
langsung serta secepat mungkin yang telah ditetapkan berdasarkan Hukum Laut Internasional
/UNCLOS 1982.
        Sejarah ALKI. Pada tanggal 19 Mei 1998 Sidang Pleno MSC-69 IMO secara resmi
telah menerima (adopt) tiga ALKI yang diusulkan oleh Indonesia (41 tahun setelah Deklarasi
Konsepsi Negara Kepulauan/Wawasan nusantara pada tahun 1957), dengan beberapa catatan.
Dalam kaitan ini Indonesia adalah Negara Kepulauan/Nusantara pertama yang telah mulai
mengusulkan penetapan alur-alur laut kepulauannya sesuai dengan ketentuan Konvensi
Hukum Laut 1982.
        Sesuai dengan UU no 6 tahun 1996 tentang perairan Indonesia dan PP No 36 thn
2002 bahwa Indonesia memiliki 3 ALKI yaitu ALKI I (dibagian utara bercabang menuju
Singapura (IA) dan menuju laut Cina selatan, ALKI II melalui selat lombok menuju laut
Sulawesi dan ALKI III yang dibagian selatan bercabang tiga menjadi ALKI III-A (sekitar
perairan Laut Sawu/Ombai Kupang), III-B, III-C (Sebelah timur Timor Leste )dan III-D
(sekitar perairan Aru) dan yang dibagian utara bercabang menuju Laut Sulawesi (III-
E)/Utara Sulawesi dan Samudra Pasifik.

Arus Lintas Indonesia (ARLINDO)

        Kepulauan Indonesia merupakan wilayah yang dilalui oleh sirkulasi permukaan
termohalin dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia. Massa air yang melalui perairan
Indonesia dan bergerak dari Samudera pasifik menuju Samudera Hindia dikenal sebagai Arus
Lintas Indonesia (Arlindo). Fenomena Arlindo sangat menarik perhatian ilmuwan kelautan
seluruh dunia dan kini mulai banyak diteliti. Salah satu riset internasional tentang Arlindo
adalah proyek International Nusantara Stratification and Transport (INSTANT) yang
merupakan joint research lima negara yaitu Indonesia, Australia, Amerika Serikat, Perancis
dan Belanda. Salah satu tujuan proyek yang dimulai sejak Agustus 2003 dan kontinyu selama
3 tahun ini adalah mengukur besar dan kedalaman distribusi bocoran massa air yang berasal
dari daerah ekuator barat
        Samudera Pasifik menuju selatan Samudera Hindia yang melalui perairan Indonesia.
Pengukuran utamanya dilakukan di lima titik yaitu Selat Makassar, Selat Lombok, Celah
Lifamatola (Laut Seram), Selat Ombai dan Celah Timor. Dari hasil pengukuran diperoleh
rata-rata volume aliran massa air Arlindo mencapai 11 Sverdrup (1 Sv = 1 juta m3/detik).
Berapa besar massa air ini? Coba bayangkan jika luas Teluk Jakarta sekitar 514 km dengan
kedalaman rata-rata 15 m, maka volume Teluk Jakarta adalah 7,71 juta m3. Hanya
dibutuhkan waktu kurang dari 1 detik massa air Arlindo untuk memenuhi Teluk Jakarta!




         Massa air Arlindo telah memperkaya keanekaragaman hayati laut Indonesia karena
menjadi tempat berkumpulnya khazanah hayati dua samudera besar. Banyak jenis karang
yang menjadi ciri khas Samudera Pasifik atau Samudera Hindia ditemukan di perairan kita.
Perairan Indonesia menjadi salah satu jalur ruaya (migrasi) ikan pelagis besar yang bernilai
ekonomis penting. Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil kita merupakan daerah pemijahan
dan pengasuhan ikan-ikan yang kemudian melewati masa dewasanya di kedua Samudera
tersebut.
         Peran ekologis inilah yang membuat negara-negara penghasil ikan utama dunia sangat
berkepentingan dengan kelestarian ekosistem pesisir dan laut kita sehingga berbagai macam
inisiatif konservasi regional dirancang, seperti Coral Triangle Iniciatives (CTI). Variabilitas
Arlindo mempengaruhi kedalaman termoklin dan kekuatan upwelling/downelling, seperti di
Selat Makassar, selatan Jawa hingga Nusatenggara dan pantai barat Sumatera yang sangat
penting bagi produktifitas perairan dan hasil perikanan nasional.
         Sumber air yang dibawa oleh Arlindo berasal dari Lautan Pasifik bagian utara dan
selatan. Perairan Selat Makasar dan Laut Flores lebih banyak dipengaruhi oleh massa air laut
Pasifik Utara sedangkan Laut Seram dan Halmahera lebih banyak dipengaruhi oleh massa air
dari Pasifik Selatan. Gordon et al. (1994) mengatakan bahwa massa air Pasifik masuk
kepulauan Indonesia melalui 2 (dua) jalur utama, yaitu:
    1. Jalur barat dimana massa air masuk melalui Laut Sulawesi dan Basin Makasar.
       Sebagian massa air akan mengalir melalui Selat Lombok dan berakhir di Lautan
       Hindia sedangkan sebagian lagi dibelokan ke arah timur terus ke Laut Flores hingga
       Laut Banda dan kemudian keluar ke Lautan Hindia melalui Laut Timor.
    2. Jalur timur dimana massa air masuk melalui Laut Halmahera dan Laut Maluku terus
       ke Laut Banda. Dari Laut Banda, menurut Gordon (1986) dan Gordon et al.,(1994)
       massa air akan mengalir mengikuti 2 (dua) rute. Rute utara Pulau Timor melalui Selat
       Ombai, antara Pulau Alor dan Pulau Timor, masuk ke Laut Sawu dan Selat Rote,
       sedangkan rute selatan Pulau Timor melalui Basin Timor dan Selat Timor, antara
       Pulau Rote dan paparan benua Australia.

        Selama musim dingin, angin bertiup dari Barat Laut menyebabkan massa air
bersalinitas rendah dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa bergerak ke tenggara memasuki
jalur Arlindo. Memasuki musim panas, angin berbalik arah dan mengembalikan massa air
tadi ke tempatnya semula. Di selat Makassar, angin berperan lain dengan mendorong Arlindo
berlawanan arah dari arusnya (ke utara; Arlindo dari selatan). Sepanjang musim panas,
Arlindo terkuat adalah dari kedalaman 0-100m.
        Sementara karena proses di atas tadi, sepanjang musim dingin arlindo 'terganggu' oleh
massa air yg lebih tawar (salinitas rendah). Massa air ini berdaya apung lebih, sehingga
'menekan' Arlindo yg lebih asin ke kedalaman di 100m dan melemah. Perubahan pada
Arlindo ini sangat mempengaruhi cuaca; ketika massa air hangat mengalir dari Pasifik ke
Hindia, menyebabkan tingginya curah hujan di sepanjang pesisir karena banyaknya
penguapan. Ketika penguapan ini terbawa ke pesisir, terjadi peningkatan massa air tawar di
Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Tambahan air tawar ini lalu memasuki jalur Arlindo,
menyebabkan arus yang lebih dingin dan kurang bahang masuk ke Hindia. Pada akhirnya ini
mengurangi curah hujan, mengurangi tingkat air tawar Arlindo dan kembali pada kondisi
semula.



Sumber :

http://www.marine.csiro.au/~cow074/instantdata.htm
http://io.ppijepang.org/v2/index.php?option=com_k2&view=item&id=120:indonesia-
mengapa-laut-kita-istimewa-untuk-interaksi-laut-atmosfer?
http://firmans08.wordpress.com/2010/03/13/pengaruh-dan-hubungan-arlindo-arus-lintas-
indonesia-dengan-karakteristik-massa-air/
http://www.indonesiapusaka.info/alur-laut-kepulauan-indonesia-alki/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1012
posted:7/13/2011
language:Indonesian
pages:3
sky walker sky walker http://
About