Buku Usaha pengolahan Tuna Loin 05.indd

Document Sample
Buku Usaha pengolahan Tuna Loin 05.indd Powered By Docstoc
					  POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL




USAHA PENGOLAHAN
    TUNA LOIN
                           KATA PENGANTAR



       Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional
memiliki peran yang penting dan strategis. Namun demikian, UMKM masih memiliki
kendala, baik untuk mendapatkan pembiayaan maupun untuk mengembangkan
usahanya. Dari sisi pembiayaan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami
kesulitan untuk mendapatkan akses kredit dari bank, baik karena kendala teknis,
misalnya tidak mempunyai/tidak cukup agunan, maupun kendala non teknis,
misalnya keterbatasan akses informasi ke perbankan. Dari sisi pengembangan
usaha, pelaku UMKM masih memiliki keterbatasan informasi mengenai pola
pembiayaan untuk komoditas tertentu. Disisi lain, ternyata perbankan juga
membutuhkan informasi tentang komoditas yang potensial untuk dibiayai.

      Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka menyediakan rujukan bagi
perbankan untuk meningkatkan pembiayaan terhadap UMKM serta menyediakan
informasi dan pengetahuan bagi UMKM yang bermaksud mengembangkan
usahanya, maka menjadi kebutuhan untuk menyediakan informasi pola pembiayaan
untuk komoditi potensial tersebut dalam bentuk model/pola pembiayaan komoditas
(lending model). Sampai saat ini, Bank Indonesia telah menghasilkan 106 judul
buku pola pembiayaan komoditi pertanian, industri dan perdagangan dengan
sistem pembiayaan konvensional dan 26 judul dengan sistem syariah. Dalam
upaya menyebarluaskan lending model tersebut kepada masyarakat maka buku
pola pembiayaan ini telah dimasukan dalam website Sistem Informasi Terpadu
Pengembangan UKM (SI-PUK) yang terintegrasi dalam Data dan Informasi Bisnis
Indonesia (DIBI) dan dapat diakses melalui internet di alamat www.bi.go.id

     Dalam penyusunan buku pola pembiayaan ini, Bank Indonesia bekerjasama
dengan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (DKP) dan
memperoleh masukan dari banyak pihak antara lain dari Perbankan, lembaga/




                                                                             i
instansi terkait lainnya, asosiasi dan UMKM. Untuk itu, kami mengucapkan terima
kasih atas segala bantuan dan kerjasamanya selama ini.

      Bagi pembaca yang ingin memberikan kritik, saran dan masukan bagi
kesempurnaan buku ini atau ingin mengajukan pertanyaan terkait dengan buku
ini dapat menghubungi :

     Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
     Biro Pengembangan BPR dan UMKM
     Tim Penelitian dan Pengembangan Perkreditan dan UMKM
     Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta Pusat
     Telp. (021) 381 8922 atau 381.7794
     Fax (021) 351 8951

      Besar harapan kami bahwa buku ini dapat melengkapi informasi tentang
pola pembiayaan komoditi potensial bagi perbankan dan sekaligus memperluas
replikasi pembiayaan oleh UMKM pada komoditi tersebut.


                                                    Jakarta,   Desember 2009




ii     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
       RINGKASAN POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
              PENGOLAHAN TUNA LOIN


No        Unsur Pembiayaan                              Uraian
1    Jenis Usaha                 Pengolahan Tuna Loin
2    Lokasi Usaha                Desa Bontoa Lingkungan Tamarampu, Kecamatan
                                 Mandai, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan
3    Dana Yang digunakan         Investasi   = Rp. 44.970.000
                                 Modal Kerja = Rp. 149.852.591
                                 Total       = Rp 194.822.591
4    Sumber Dana
     a. Kredit                   Rp. 116.893.555
     b. Modal sendiri            Rp. 77.929.036
                                 Suku Bunga per tahun = 14 %
                                 Jangka Waktu         = 3 tahun
5    Periode Pembayaran Kredit   Pengusaha melakukan angsuran pokok dan angsuran
                                 bunga setiap bulan selama jangka waktu kredit
6    Kelayakan Usaha
     A Periode Proyek            3 tahun
     B Produk Utama              Tuna Loin
     C Skala Proyek              Pendapatan per tahun : Rp 1.308.000.000
     D Teknologi                 Sederhana untuk Proses Fillet
     E Pemasaran Produk          Unit Pengolahan Ikan lokal skala menengah sampai besar
                                 dan ekspor
7    Kriteria Kelayakan Usaha
         NPV                     Rp. 140.422.993
         Net B/C Ratio           1,72 kali
         IRR                     49,89%
         Pay Back Period         1,81 tahun
         BEP rata-rata           Per bulan = Rp. 33.334.811,70 (611,65 kg)
                                 Per tahun = Rp. 400.017.740,35 (7.330,78 kg)
        Penilaian                Layak dilaksanakan




                                                                                      iii
 8   Analisis sensitivitas
     (1) Kenaikan Biaya Variabel 5 %
           Analisis profitabilitas :
           NPV                        Rp. 17.928.960
           Net B/C Ratio              1,09 kali
           IRR                        18,77%
           Pay Back Period            2,7 tahun
           Penilaian                  Layak
     (2)   Kenaikan Biaya Variabel 6 %
           Analisis profitabilitas :
           NPV                        Rp. (6.569.847)
           Net B/C Ratio              0,97 kali
           IRR                        5,33%
           Pay Back Period            Lebih dari 3 tahun
           Penilaian                  Tidak Layak
     (3)   Penurunan Pendapatan 4 %
           Analisis profitabilitas :
           NPV                        Rp. 18.955.206
           Net B/C Ratio              1,10 kali
           IRR                        19,05%
           Pay Back Period            2,7 tahun
           Penilaian                  Layak
     (4)   Penurunan Pendapatan 5 %
           Analisis profitabilitas :
           NPV                        Rp. (11.411.741)
           Net B/C Ratio              0,94 kali
           IRR                        10,92%
           Pay Back Period            Lebih dari 3 tahun
           Penilaian                  Tidak Layak
     (5) Kombinasi Kenaikan Biaya Variabel 2 % dan Penurunan Pendapatan 2 %
           Analisis profitabilitas :
           NPV                        Rp. 30.691.486
           Net B/C Ratio              1,16 kali
           IRR                        22,13%
           Pay Back Period            2,6 tahun
           Penilaian                  Layak




iv    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
(6) Kombinasi Kenaikan Biaya Variabel 3 % dan Penurunan Pendapatan 3 %
    Analisis profitabilitas :
    NPV                        Rp. (24.174.267)
    Net B/C Ratio              0,88 kali
    IRR                        7,44%
    Pay Back Period            Lebih dari 3 tahun
    Penilaian                  Tidak Layak




                                                                         v
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
                                              DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR .....................................................................................            i
RINGKASAN ................................................................................................ iii
DAFTAR ISI .................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x
DAFTAR FOTO ............................................................................................. x
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii



BAB I       PENDAHULUAN                                                                                        1

BAB II      PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
            2.1. Profil Usaha .............................................................................     5
            2.2. Pola Pembiayaan ......................................................................        7

BAB III ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
        3.1. Aspek Pasar .............................................................................        9
            3.1.1. Permintaan .....................................................................           9
            3.1.2. Penawaran .....................................................................           11
            3.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar ............................                        11
        3.2. Aspek Pemasaran .....................................................................           13
            3.2.1. Harga ............................................................................        13
            3.2.2. Jalur Pemasaran Produk ..................................................                 13
            3.2.3. Kendala Pemasaran ........................................................                15




                                                                                                             vii
BAB IV ASPEK TEKNIS PRODUKSI
       4.1. Lokasi Usaha ............................................................................     17
       4.2. Fasilitasi Produk dan Peralatan .................................................             17
       4.3. Bahan Baku ............................................................................       20
       4.4. Tenaga Kerja ............................................................................     23
       4.5. Teknologi .................................................................................   23
       4.6. Proses Produksi ........................................................................      24
       4.7. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi .............................................                 31
       4.8. Produksi Optimum .................................................................            32
       4.9. Kendala Produksi ....................................................................         32

BAB V ASPEK KEUANGAN
       5.1. Pemilihan Pola Usaha ..............................................................           33
       5.2. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan .....................                            33
       5.3. Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan
            Biaya Operasional . ..................................................................        35
            5.3.1. Biaya Investasi ...............................................................        36
            5.3.2. Biaya Operasional .........................................................            37
       5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ............................                         38
       5.5. Produksi dan Pendapatan .......................................................               39
       5.6. Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Event Point .....................                          39
       5.7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek ..................................                     41
       5.8. Analisis Sensitivitas ..................................................................      42
            5.8.1. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Biaya Variabel
                   dan Pendapatan Tetap ..................................................                42
                    (a) Kenaikan Biaya Variabel 5%, Pendapatan Tetap .....                                42
                    (b) Kenaikan Biaya Variabel 6%, Pendapatan Tetap .....                                42
            5.8.2. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Pendapatan
                   dan Biaya Variabel Tetap ...............................................               43




viii      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                        (a) Penurunan Pendapatan sebesar 4%,
                            Biaya Variabel Tetap .................................................        43
                        (b) Penurunan Pendapatan sebesar 5%,
                            Biaya Variabel Tetap ..................................................       44
                  5.8.3.Analisis Sensitivitas Kombinasi
                        (a) Kenaikan Biaya Variabel sebesar 2%, Penurunan
                            Pendapatan 2% .......................................................         44
                        (b) Kenaikan Biaya Variabel sebesar 3%, Penurunan
                            Pendapatan 3% ........................................................        45

BAB VI ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN
       6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial ...................................................... 47
       6.2. Aspek Dampak Lingkungan .................................................... 48

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
        7.1. Kesimpulan .............................................................................. 49
        7.2. Saran ........................................................................................ 51




                                                                                                           ix
                                        DAFTAR GAMBAR


Gambar                                                                                                            Hal

1.1. Peta Wilayah Penangkapan Udang, Tuna dan Rumput Laut ................... 2
3.1. Skema Jalur Pemasaran Tuna Loin ......................................................... 14
4.1. Diagram Alir Proses Pengolahan Tuna Loin ............................................ 25


                                           DAFTAR FOTO

Foto                                                                                                              Hal

4.1.    Meja Potong dan Meja Trimming ........................................................                     18
4.2.    Pisau Fillet dan Pisau Trimming ............................................................               18
4.3.    Timbangan Digital ..............................................................................           18
4.4.    Blong Biru ...........................................................................................     18
4.5     Keranjang (basket) Biru ........................................................................           19
4.6.    Pisau Pemotong Plastik .........................................................................           19
4.7.    Sterofoam (Wadah Tuna Loin) .............................................................                  19
4.8.    Cutting Board (di atas meja), Basket Merah, Blong Biru .......................                             19
4.9.    Tuna Loin Grade A atau Grade Sashimi ...............................................                       21
4.10.   Tuna Loin Grade B ..............................................................................           22
4.11.   Tuna GG Masuk Ke ruang Penerimaan Barang ....................................                              27
4.12.   Dibuang Sirip ......................................................................................       27
4.13.   Proses Fillet .........................................................................................    27
4.14.   Proses Pemisahan Tulang ....................................................................               27
4.15.   Loin yang Masih Ada Daging Hitam ...................................................                       27
4.16.   Proses Buang Daging Hitam ……………………..………………………..                                                            28
4.17.   Tuna Loin Sudah Diberi Tagging (Tanda) .............................................                       28




x         POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
4.18.   Tuna Loin Masuk Ke Dalam Ruang Penerimaan ................................. . 28
4.19.   Proses Perapihan Loin dari Punggawa ............................................... .. 28
4.20.   Ruang Produksi ...................................................................................... 28
4.21.   Tuna Loin Di lap Dengan Tissue ........................................................... 28
4.22.   Tuna Loin Dibungkus Tissue .................................................................. 29
4.23.   Tuna Loin Dimasukkan Ke Kemasan Plastik ........................................ . 29
4.24.   Tuna Loin Dicelup Dalam Air Dingin .................................................. .. 29
4.25.   Proses Penimbangan Tuna Loin …….…….……………………………… 29
4.26.   Dimasukkan Dalam Sterofoam ………….……………………………….. 29
4.27.   Penyimpanan di Cold Storage ……………………………………………. 29
4.28.   Kemasan Tuna Loin Untuk di Ekspor …………………………………. ... 30
4.29.   Tuna Loin Siap di Ekspor …………………..……………………… .... …. 30
4.30.   Es Jelly Sagu …………………………….……………………………… … 30




                                                                                                            xi
                                         DAFTAR TABEL


Tabel                                                                                                       Hal

3.1. Data Realisasi Ekspor Tuna Sulawesi Selatan Periode 2004 – 2008 .....                                  10
4.1. Grade Tuna Loin Berdasarkan Ciri-Ciri Fisik ...................................... ..                  22
4.2. Prosentase Penyusutan Berat Daging Tuna Menurut Jenis
      Proses Produksi ............................................................. .....................   24
5.1. Asumsi-asumsi Untuk Analisis Keuangan .......................................... .                     34
5.2. Komposisi Biaya Investasi ...................................................................          36
5.3. Komposisi Biaya Operasional Dalam Rupiah .................................... ...                      37
5.4. Komponen dan Struktur Biaya Proyek .............................................. ..                   38
5.5. Proyeksi Produksi dan Pendapatan ……………………………………...                                                     39
5.6. Proyeksi Pendapatan dan Rugi Laba Usaha ………………………….....                                                40
5.7. Kelayakan Usaha Pengolahan Tuna Loin …………………...………… ..                                                 41
5.8. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan Biaya Variabel
      Sebesar 5% dengan Pendapatan Tetap … ..........................................                       42
5.9. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan Biaya Variabel
      Sebesar 6% dengan Pendapatan Tetap .............................................                      43
5.10. Analisis Sensitvitas Kelayakan Usaha Terhadap Penurunan Pendapatan
      sebesar 4% dengan Biaya Variabel Tetap ...........................................                    43
5.11. Analisis Sensitvitas Kelayakan Usaha Terhadap Penurunan Pendapatan
      sebesar 5% dengan Biaya Variabel Tetap ...........................................                    44
5.12. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan
      Biaya Variabel Sebesar 2% dan Penurunan Pendapatan Sebesar 2%...                                      45
5.13. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap
      Kenaikan Biaya Variabel Sebesar 3% dan Penurunan
      Pendapatan Sebesar 3% ....................................................................            45




xii       POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                 BAB I
                             PENDAHULUAN


       Selama berabad-abad ekstraksi sumberdaya ikan menjadi sumber ketahanan
pangan, penghidupan dan budaya masyarakat pesisir. Masyarakat dunia lebih
banyak mengkonsumsi ikan dari pada protein hewani lainnya. Kajian United
Nations Environment Programme (UNEP)/Badan Program Lingkungan Hidup
PBB menyatakan bahwa sekitar 2,6 milyar orang menggantungkan pemenuhan
proteinnya kepada konsumsi ikan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan merupakan
komoditas penting dunia (Tribawono, 2009).
       Salah satu komoditi perikanan yang memiliki potensi pasar dunia adalah ikan
tuna. Pertumbuhan produksi ikan tuna dalam kurun waktu 1989 – 2006 mencapai
4,74% per tahun dengan volume ekspor 5,21% per tahun. Bahkan nilai ekspor
tuna pada tahun 2008 menempati urutan kedua setelah udang. Total produksi
tuna secara nasional sampai Oktober 2008 mencapai 130.056 ton dengan nilai
sebesar 347,189 juta USD (Analisis Data Kelautan dan Perikanan, 2007).
       Peluang pasar ikan tuna cukup besar, baik ekspor maupun pasar lokal.
Sasaran ekspor tuna yang terbesar adalah Jepang. Biasanya tuna yang diekspor
ke Jepang adalah tuna yang masih segar untuk dibuat sashimi atau sushi. Kedua
terbesar setelah Jepang adalah Amerika, tetapi umumnya diekspor sudah dalam
bentuk kalengan. Di Indonesia sendiri, pasar tuna terdapat di kota-kota besar
khususnya Jawa atau kota yang memiliki banyak restauran Jepang. Selain kedua
negara tersebut, tuna juga memiliki peluang pasar yang besar di kawasan Timur
Tengah dan Eropa Timur.
       Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah potensi tuna di Indonesia
dengan nilai ekspor sampai dengan Juni 2009 yaitu sebesar 7.619.094,64 USD,
untuk tuna beku dan 282.087,10 USD untuk tuna segar atau masing-masing
memiliki volume ekspor sebesar 1.124.781,92 kg dan 31.450,10 kg (BPPMHP
Sulsel, 2009). Wilayah penangkapan tuna oleh nelayan di Sulawesi selatan



                                                                               1
 PENDAHULUAN


meliputi sekitar teluk Bone, selat Makassar dan pantai selatan (Palopo, Bone, Sinjai,
Bulukumba, Selayar, Barru, Pare-pare). Gambar 1.1. berikut ini menunjukkan
wilayah penangkapan tuna di Sulawesi Selatan.



                                                                              UDANG
                                                                    Luwu, Luwu Utara, Luwu
                                                                   Timur, Palopo, Wajo, Bone,
                                                                  Sinjai, Bulukumba, Bantaeng,
                                                                   Jeneponto, Takalar, Maros,
                                                                     Pangkep, Barru, Pinrang



                                                                              TUNA
                                                                Palopo, Bone, Sinjai, Bulukumba,
                                                                    Selayar, Barru, Pare-Pare



                                                                         RUMPUT LAUT
                                                                 E. Cottonii : Luwu, Wajo, Bone,
                                                                   Sinjai, Selayar, Bulukumba,
                                                                 Bantaeng, Jeneponto, Takalar,
                                                                 Makassar, Pangkep, Barru dan
                                                                              Pinrang
                                                                 Gracelaria : Luwu, Luwu Timur,
                                                                Luwu Utara, Palop, Bone, Pinran,
                                                                 Takalar, Bulukumba, wajo dan
                                                                               Sinjai




              Gambar 1.1. Peta Wilayah Penangkapan Udang, Tuna dan Rumput Laut




2      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                      Usaha Pengolahan Tuna Loin


       Dari data yang diperoleh di lokasi penelitian diketahui bahwa di kota
Makassar terdapat lebih dari 10 Unit Pengolahan Ikan (UPI) tuna, baik tuna beku
maupun segar. Ikan tuna yang diproduksi oleh UPI tersebut biasanya dalam bentuk
loin.
       Ada dua (2) macam UPI di Makassar, yaitu yang bersifat modern dan
konvensional (tradisional). Keduanya memiliki segmen pasar yang hampir sama.
UPI modern memasarkan sebagian besar produknya ke luar negeri (ekspor),
sedangkan yang konvensional di dalam dan luar negeri.
       Pola usaha pengolahan tuna di Makassar cukup menarik untuk diteliti,
karena memiliki ikatan yang kuat antara UPI modern dan konvensional (tradisional),
bahkan sampai ke nelayan. Nelayan secara rutin memasok bahan baku tuna ke UPI
konvensional, yang akan diteruskan oleh UPI konvensional ke UPI modern. UPI
konvensional umumnya dilakukan oleh nelayan pengumpul di lokasi pendaratan
ikan, yang disebut punggawa. Sedangkan UPI modern terjadi di rantai selanjutnya,
yaitu di tingkat perantara dan perusahaan pengolahan yang memiliki lisensi ekspor.
Nelayan dan punggawa mendapat bantuan modal usaha dari perantara, sehingga
kontinyuitas pasokan tuna lebih terjamin. Sebaliknya perantara menjamin pasar
dan harga bahan baku tuna.
       Melihat adanya potensi dan peluang pasar yang cukup baik dari usaha
pengolahan ikan tuna loin di Makassar dengan karakter pola usaha yang sudah
terbentuk, maka dirasa perlu dilakukan penelitian lending model atau pola
pembiayaannya. Selain itu, mengingat pengusaha-pengusaha kecil pengolahan
tuna loin tersebut belum tersentuh oleh perbankan. Diharapkan lending model ini
nantinya dapat menjadi acuan bagi pihak perbankan dalam proses pembiayaan
kepada usaha kecil pengolahan tuna loin.




                                                                               3
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
                           BAB II
             PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN



2.1. Profil Usaha

      Penyusunan pola pembiayaan usaha pengolahan tuna loin didasarkan
pada informasi yang didapatkan dari hasil survei lapangan terhadap pengusaha
pengolahan tuna loin di Desa Bontoa Lingkungan Tamarampu, Kecamatan Mandai,
Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
      Diketahui bahwa pola usaha pengolahan tuna loin di lokasi penelitian
terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu skala kecil yang dikelola oleh punggawa (nelayan
pengumpul), skala menengah yang dikelola oleh perantara dan skala besar oleh
Unit Pengolahan Ikan (UPI). Umumnya usaha pengolahan tuna loin oleh punggawa
dan perantara masih berupa usaha perorangan, sedangkan usaha pengolahan di
tingkat UPI sudah merupakan badan usaha yang memiliki lisensi ekspor.
      Para punggawa mengumpulkan tuna hasil tangkapan nelayan untuk diolah
menjadi loin, baik dalam bentuk skin on maupun skin less, yang kemudian dijual
ke perantara. Hasil olahan tuna loin dari punggawa tersebut setelah sampai di
tempat perantara akan disortir dan dikemas ulang (repackaging) sesuai kebutuhan
pasar. Selanjutnya tuna loin yang telah disortir dan repackaging tersebut dijual oleh
perantara ke pasar lokal serta ekspor. Pasar lokal yang dituju oleh perantara adalah
UPI. Sedangkan ekspor tuna loin yang dilakukan perantara biasanya menggunakan
atau meminjam badan usaha perusahaan lain yang sudah memiliki lisensi ekspor.
      Kerjasama yang saling menguntungkan sudah terbentuk cukup kuat antara
nelayan, punggawa dan perantara. Perantara selain berperan sebagai pemberi
dukungan modal kerja kepada punggawa dan nelayan, juga menjamin dan
mempermudah akses pasar serta pengendali harga ikan di pasar lokal. Timbal
baliknya punggawa berperan sebagai tenaga pengumpul ikan dari nelayan



                                                                                  5
 PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN


dan melakukan processing sesuai spesifikasi loin yang telah ditentukan oleh
perantara.
       Para punggawa ini tersebar di berbagai daerah pesisir Makassar dan
sekitarnya yang merupakan tempat sumber bahan baku ikan tuna, antara lain
kabupaten Bulu Kumba, Bone, Pare-pare, Palopo, Sulawesi Barat (Mamuju, Majene),
Gorontalo, Palu, Sangir, Kupang dan Irian. Kabupaten Pare-pare merupakan lokasi
sumber bahan baku yang terdekat, yaitu sekitar 100 km dari kabupaten Maros
(lokasi pengolahan perantara). Di tiap daerah terdapat 2 sampai 7 punggawa yang
dimiliki oleh perantara.
       Produksi tuna loin sangat dipengaruhi oleh hasil tangkapan ikan tuna. Ikan
tuna memiliki siklus terendah selama 7 bulan dalam setahun, yang artinya rata-
rata produksi tuna akan mengalami penurunan dalam 1 (satu) bulan selama 10
hari dalam waktu 7 bulan, dimana produksi efektifnya rata-rata 20 hari dalam 1
(satu) bulan. Sedangkan produksi maksimal terjadi selama 5 bulan dalam setahun.
Siklus produksi tuna tersebut mengikuti pergeseran bulan, sehingga siklus terendah
selama 7 bulan dan siklus maksimal selama 5 bulan selalu bergeser setiap bulannya
selama satu tahun. Siklus ini terjadi karena dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca).
Umumnya ikan tuna yang ditangkap oleh nelayan adalah jenis yellow fin dan big
eye, dengan perbandingan 98% yellow fin dan 2% big eye. Kedua jenis ikan
tuna tersebut sudah memiliki pasar ekspor ke negara Jepang, Amerika dan Eropa.
Namun sayangnya pengusaha kecil dan menengah tuna loin di Makassar hingga
saat ini baru bisa memanfaatkan peluang pasar di negara Jepang, karena untuk
menembus pasar di negara Amerika dan Eropa terbentur modal dan sertifikasi.
       Alasan pelaku usaha memilih usaha pengolahan tuna loin adalah karena
telah memiliki akses pasar, baik lokal maupun ekspor dengan harga yang cukup
baik serta adanya ketersediaan bahan baku ikan tuna yang kontinyu meskipun
jumlahnya kadang tidak menentu akibat pengaruh musim.
       Perkembangan usaha pengolahan tuna loin memberikan manfaat positif bagi
para nelayan khususnya dan masyarakat umumnya, karena selain sudah memiliki
pangsa pasar, usaha ini dapat menyerap banyak tenaga kerja mulai dari kegiatan




6      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                     Usaha Pengolahan Tuna Loin


penangkapan hingga processing di lokasi pengolahan. Usaha kecil pengolahan
tuna loin di Makassar sudah mengikuti kaidah-kaidah penanganan mutu dan
menggunakan sistem rantai dingin meskipun dengan teknologi yang sederhana.



2.2.   Pola Pembiayaan

      Pola pembiayaan usaha kecil pengolahan tuna loin di Makassar, pada
awalnya berasal sepenuhnya dari dana sendiri, dimana nelayan dan punggawa
mendapat dukungan modal kerja dari perantara. Modal kerja yang diberikan
perantara berupa dana untuk pembelian peralatan produksi dan pembelian bahan
baku ikan tuna.
      Pada tahun 2008, Salah satu Bank Swasta Nasional mulai tertarik untuk
membiayai usaha ini. Bank memberikan kredit secara umum kepada perantara
berupa modal kerja dan investasi, artinya tidak ada skema kredit khusus yang
diberikan kepada perantara. Kredit modal kerja ini oleh perantara digunakan untuk
memberi tambahan modal kepada punggawa dan nelayan.
      Dalam pemberian kredit, bank menetapkan beberapa kriteria meliputi
kelayakan usaha, jaminan dan kebutuhan usaha calon debitur. Kelayakan usaha
calon debitur diperoleh dengan melihat usahanya secara langsung maupun
informasi dari perusahaan sejenis, dan supplier. Bagi calon debiturnya yang telah
memanfaatkan jasa perbankan melalui bank tersebut akan dilihat track record
transaksi keuangannya.
      Sebagaimana diketahui bahwa bisnis di sektor perikanan ini oleh bank masih
dianggap sebagai bisnis yang beresiko tinggi, karena tergantung pada alam. Hal
ini berdampak pada porsi penyaluran kredit perbankan ke sektor ini yang relatif
masih kecil. Kredit kepada sektor perikanan ini lebih banyak diberikan kepada
pedagang perantara ikan tuna loin atau UPI. Untuk mengurangi resiko gagal bayar
dari debitur, bank selalu melakukan monitoring kepada debiturnya. Monitoring
oleh bank dilakukan secara pasif maupun aktif, dimana bank selalu melakukan




                                                                              7
 PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN


pemantauan terhadap outstanding debitur.
     Selain perbankan, Dinas Perikanan dan Kelautan telah menyalurkan dana
program yang diberikan dalam bentuk sarana pengolahan ikan seperti alat presto,
vacuum sealer, panic dan timbangan.




8      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                           BAB III
                 ASPEK PASAR DAN PEMASARAN


3.1. Aspek Pasar

    3.1.1.   Permintaan

           Tuna loin merupakan daging fillet ikan tuna yang umumnya
    dimafaatkan sebagai bahan makanan untuk sashimi, steak dan shabu-
    shabu. Sashimi merupakan jenis makanan Jepang berupa daging tuna (tuna
    loin) mentah. Sashimi disajikan dalam keadaan mentah dan didinginkan
    pada suhu 120C. Disamping itu, sashimi dihidangkan juga sebagai makanan
    pembuka pada susunan menu di restauran-restauran Jepang, biasanya
    disajikan dalam bentuk irisan tipis disertai kecap (shoyu), radis cincang
    (daikon) dan pasta (wasabi). Demikian juga halnya dengan steak dan shabu-
    shabu yang dikonsumsi menggunakan tambahan bumbu-bumbu. Oleh
    karena itu penanganan tuna loin harus benar-benar memperhatikan kualitas
    daging dan hygienitas-nya.
           Permintaan terhadap komoditi tuna loin cukup tinggi, bahkan pasokan
    saat ini belum dapat memenuhi permintaan negara-negara importir. Tuna loin
    di pasar lokal dijual ke Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang telah memiliki lisensi
    ekspor, restoran dan hotel. Negara-negara importir tuna loin diantaranya
    adalah Jepang, USA, Australia dan beberapa negara Eropa. Masing-masing
    negara importir tersebut memiliki kualifikasi dan standar mutu sendiri.
    Kualifikasi tuna loin yang diminta negara Jepang hanya grade A atau grade
    sashimi, sedangkan negara tujuan Amerika dan Eropa masih bisa menerima
    tuna loin grade B atau C. Perbedaannya bahwa kualifikasi daging tuna loin
    yang akan diekspor ke Amerika terlebih dahulu harus di-treatment dengan
    cara di-smoked, yaitu daging disuntik dengan karbonmonoksida sehingga




                                                                                9
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN


     warna menjadi lebih merah. Sedangkan pasar Eropa tidak menginginkan
     adanya treatment apapun terhadap daging tuna yang akan diekspor ke
     negaranya.
            Dari data produksi tuna loin salah satu UMKM (perantara) di kabupaten
     Maros yang merupakan mini plan Departemen Kelautan dan Perikanan
     diketahui bahwa rata-rata produksi tuna loin berkisar antara 4–15 ton per
     bulan. Jumlah tersebut sebenarnya masih belum memenuhi permintaan
     pasar luar negeri, mengingat semakin sulit mendapatkan bahan baku ikan
     tuna.
            Untuk mengetahui kecenderungan produksi tuna di Makassar dapat
     dilihat dari data realisasi ekspor tuna periode 5 (lima) tahun terakhir pada
     Tabel 3.1 di bawah ini :


                  Tabel 3.1. Data Realisasi Ekspor Tuna Sulawesi Selatan
                                   Periode 2004 - 2008

       No           Tahun                     Volume (Kg)      Nominal (USD)
        1            2004                     1.192.419,12      4.705.029,33
        2            2005                     1.499.605,44      7.080.069,32
        3            2006                     1.166.816,05      6.084.138,05
        4            2007                     1.714.930,57     12.677.022,51
        5            2008                     1.537.185,96     11.613.679,62
     Sumber : BPPMHP Sulawesi Selatan, 2009




           Data Kelautan dan Perikanan (2007) menunjukkan produksi tuna,
     cakalang dan tongkol nasional pada tahun 2007 jumlahnya mencapai
     888.000 ton dengan nilai Rp7,6 milyar dan mengalami peningkatan per
     tahun sebesar 7.7% dalam volume atau 18.11% dalam nominal USD sejak
     2002.




10    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                               Usaha Pengolahan Tuna Loin



3.1.2. Penawaran

      Sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab 3.1.1. bahwa penawaran
komoditi tuna loin memiliki pangsa pasar cukup luas, baik pasar dalam
negeri (lokal) maupun luar negeri (ekspor). Tuna loin yang tidak terjual ke
pasar ekspor masih bisa terjual di pasar lokal. Yang menjadi kendala dalam
produksi tuna loin adalah keterbatasan bahan baku ikan tuna, terutama dari
perairan sekitar Makassar. Hasil tangkapan tuna yang tidak menentu selain
dipengaruhi oleh musim, dimana terdapat 10 (sepuluh) hari siklus produksi
tuna terendah dalam 1 (satu) bulan, juga diduga telah terjadi overfishing.
Salah satu penyebab terjadinya overfishing diduga akibat peningkatan
jumlah armada kapal penangkap tuna. Jumlah produksi tuna masih bisa
ditingkatkan mengingat jumlah produksi saat ini belum bisa memenuhi
permintaan pasar, khususnya ekspor.
      Dalam mengatasi permasalahan overfishing telah dilakukan upaya-
upaya pelestarian sumberdaya ikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan
setempat melalui pembuatan Peraturan Daerah tentang penangkapan ikan
dengan alat tertentu, mengatur pembatasan nelayan dan pengawasan
kegiatannya serta memperluas areal penangkapan.



3.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar


      Persaingan bisnis diantara para pengusaha tuna loin adalah terutama
dalam hal memperoleh bahan baku ikan tuna dari nelayan. Persaingan
mendapatkan bahan baku ini lebih terasa di tingkat punggawa (nelayan
pengumpul), karena selain bersaing dengan sesama punggawa juga terjadi
persaingan dengan pembeli dari luar daerah. Persaingan ini terjadi karena
setiap perantara mempunyai ikatan yang kuat dengan para punggawa dan
nelayannya masing-masing, dimana setiap punggawa memiliki beban moral



                                                                       11
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN


     dalam memenuhi pasokan ikan kepada masing-masing perantara yang telah
     memberinya modal kerja. Sebaliknya para perantara juga memiliki beban
     moral berupa komitmen kepada punggawa dan nelayan untuk menjamin
     pasar dan menstabilkan harga.
            Kemungkinan persaingan mendapatkan bahan baku tuna ini dapat
     diminimalisasi apabila jangkauan wilayah penangkapan tuna diperluas ke
     luar daerah. Untuk mencapai hal itu tentunya dibutuhkan modal yang lebih
     besar sebagai modal tambahan nelayan melaut.
            Persaingan pemasaran produk di dalam negeri (lokal) tidak terlihat
     signifikan, karena masing-masing pengusaha telah memiliki pasar sendiri,
     baik lokal maupun ekspor. Disamping itu pemenuhan terhadap permintaan
     pasar itu sendiri, khususnya ekspor masih belum terpenuhi. Persaingan
     pemasaran produk dirasakan secara nyata di pasar luar negeri dengan
     negara-negara pengekspor tuna seperti China, Thailand dan Vietnam. Grade
     dan harga tuna loin bisa saja berubah setelah produk tuna loin dari negara
     eksportir lain masuk di pasar lelang yang sama. Pada saat lelang dapat
     terjadi penurunan atau kenaikan grade. Grade tuna loin dapat turun apabila
     mutu produk tuna dari negara eksportir lain lebih baik dan sebaliknya.
     Tentunya hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi harga jual tuna
     di pasar luar negeri. Selain itu, musim juga bisa mempengaruhi pemasaran
     tuna di pasaran lokal. Apabila musim produksi sedang turun, maka dapat
     terjadi tuna loin grade rendah naik menjadi grade tertinggi. Oleh karena
     itu penanganan mutu produk dan perhitungan biaya produksi menjadi titik
     krusial untuk diperhatikan.




12    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                    Usaha Pengolahan Tuna Loin


3.2. Aspek Pemasaran

    3.2.1. Harga

           Harga jual tuna loin di pasaran terus mengalami peningkatan, sesuai
    dengan grade mutunya. Harga jual tuna loin di tingkat punggawa pada
    tahun 2000 sekitar Rp7.000,- per kg, saat ini bisa mencapai Rp67.000,- per
    kg (grade A), Rp57.000,- per kg (grade B) dan Rp46.000,- per kg (grade C)
    dan Rp24.000,- per kg (grade D). Perantara hanya mengambil selisih sekitar
    Rp1.000,- per kg dari harga jual di tingkat punggawa untuk pasar lokal dan
    sekitar 2 – 3 USD per kg untuk pasar ekspor.
           Sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab 3.1.3 bahwa grade mutu
    tuna loin di pasar luar negeri selain tergantung musim, juga dipengaruhi
    oleh mutu tuna loin yang masuk dari negara eksportir lain. Oleh karena itu
    grade dan harga jual di atas tidak bisa dijadikan standar pasti. Grade tuna
    dapat berubah tergantung keadaan pasar, sehingga mempengaruhi harga
    jual ikan.



    3.2.2.   Jalur Pemasaran Produk

           Penjualan tuna loin dilakukan sendiri oleh perantara, baik ke pasar
    lokal maupun ekspor. Penjualan tuna loin di pasar lokal dilakukan perantara
    ke UPI yang telah memiliki lisensi ekspor. Perantara sebenarnya juga memiliki
    jalur pemasaran ekspor tersendiri. Namun karena keterbatasan kepemilikan
    perizinan dan sertifikasi, maka penjualan tuna loin ke luar negeri oleh
    perantara dilakukan dengan cara meminjam bendera UPI yang memiliki
    lisensi ekspor. Pola pemasaran tuna loin mulai dari nelayan sampai ke tingkat
    UPI disajikan pada Gambar 3.1. sebagai berikut :




                                                                             13
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN



                                                     Unit Pengolahan
                                                        Ikan (UPI)
                                                                              Ekspor


                           Pengumpul lokal
       Nelayan                                        PERANTARA
                             (Punggawa)

                                                                           Pasar Lokal
                                                                         (Hotel, Restoran)


                                                         Pembeli
                                                       luar daerah

                 Langsung
                 Tidak Langsung


                           Gambar 3.1. Skema Jalur Pemasaran Tuna Loin


     Keterangan :

     a) Tuna hasil tangkapan nelayan dijual kepada Punggawa di tempat
        pendaratan ikan dan atau pembeli dari luar daerah. Punggawa disebut
        juga nelayan pengumpul, berperan sebagai pengumpul hasil tangkapan
        tuna dari nelayan untuk dijual kepada perantara.
        Tuna yang dipasok nelayan kepada punggawa dalam keadaan telah
        dibuang insang dan isi perutnya (gilled & gutted). Proses buang insang
        dan isi perut dilakukan nelayan ketika masih di tengah laut saat ikan
        tertangkap, lalu disimpan dalam sterofoam yang telah diberi es. Proses
        buang insang dan isi perut dimaksud untuk menjaga terjadinya penurunan
        mutu ikan.
        Proses produksi tuna loin dilakukan di tingkat punggawa, yang kemudian
        dipasok kepada perantara, dengan standar mutu yang telah ditentukan
        oleh perantara.
     b) Perantara adalah pengusaha yang membeli tuna loin dari punggawa
        sekaligus pemberi modal kepada punggawa dan nelayan yang berperan



14    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                               Usaha Pengolahan Tuna Loin


   sebagai penjamin pasar dan stabilisator harga. Selain memberikan modal
   kepada punggawa dan nelayan, perantara juga memberikan pengetahuan
   dan pendampingan tentang teknik-teknik penanganan ikan agar mutu
   ikan dapat terjaga sehingga dapat diterima di pasaran.
   Tuna loin yang berasal dari punggawa akan disortir, dibersihkan dan
   dikemas ulang (repackaging) di tempat pengolahan perantara. Pensortiran
   tuna loin yang dilakukan perantara didasarkan atas spesifikasi permintaan
   pasar.
   Sebelum dikirim ke pasaran, tuna loin yang telah disortir dan dikemas
   ulang oleh perantara disimpan sementara di cold storage pada suhu
   -20C
c) Nelayan terkadang juga menjual hasil tangkapannya kepada pembeli luar
   daerah apabila harga yang ditawarkan lebih tinggi. Transaksi jual beli
   hasil tangkapan oleh pembeli dari luar daerah biasanya terjadi di tengah
   laut dan bersifat musiman.
d) Perantara menjual tuna loin tersebut secara langsung ke UPI dan atau
   secara tidak langsung diekspor dengan meminjam bendera UPI yang
   memiliki lisensi ekspor. Tuna loin dari perantara akan diekspor langsung
   oleh UPI. Sedangkan penjualan ke hotel dan restoran dilakukan secara
   tidak langsung, karena orientasi pasar perantara maupun UPI adalah
   ekspor.



3.2.3. Kendala Pemasaran

       Kendala pemasaran tidak akan pernah terjadi di tingkat Punggawa
selama perantara dapat menjamin pasar dan harga ikan. Kendala pemasaran
justru terjadi di tingkat perantara, khususnya untuk pasar ekspor. Kendala
tersebut diantaranya adalah ketidakpastian grade dan harga di pasar lelang
dunia serta sertifikasi.




                                                                       15
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN


            Sebagaimana telah dipaparkan pada sub bab 3.1.3. bahwa penentuan
     grade dan harga ikan tuna di pasar ekspor tergantung dari musim dan
     kualitas tuna eksportir negara lain yang masuk ke pasar yang sama. Selain itu
     peraturan pemerintah mengenai sertifikat kelayakan pengolahan (SKP) dirasa
     terlalu berat bagi pengusaha tuna loin setingkat perantara karena terkait
     dengan modal kerja. SKP merupakan health sertificate untuk perusahaan
     yang memenuhi syarat untuk melakukan ekspor. SKP bertujuan untuk
     mengetahui sejauh mana perusahaan memenuhi persyaratan pengendalian
     mutu. Oleh karena itu, pemasaran yang dapat dilakukan perantara secara
     langsung masih terbatas memenuhi pasar ke Jepang. Sedangkan untuk
     ke USA dan negara-negara di Eropa masih menitipkan atau menggunakan
     bendera UPI yang telah memiliki lisensi ekspor dan sertifikasi.
            Mengingat ketidakpastian grade dan harga di pasar lelang dunia,
     maka penentuan selisih harga (profit) sebesar Rp1.000,- per kg di pasar lokal
     dan 2–3 USD per kg di pasar ekspor harus dapat meng-cover ketidakpastian
     tersebut. Ketidak pastian grade dan harga produk di pasar lelang dunia
     merupakan titik kritis usaha yang harus dicermati.
            Kendala sertifikasi bagi pengusaha tuna loin setingkat perantara juga
     harus dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah agar pengusaha kecil dapat
     memberi kontribusi terhadap pertambahan nilai ekspor perikanan dan
     tetap eksis. Kendala sertifikasi secara tidak langsung sangat mempengaruhi
     pendapatan pengusaha kecil tuna loin, karena pengusaha kecil ini harus
     mengeluarkan biaya tambahan berupa fee dan komisi sekitar 14% untuk
     kegiatan ekspor jika menggunakan perusahaan lain.




16    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                BAB IV
                        ASPEK TEKNIS PRODUKSI




4.1   Lokasi Usaha

      Lokasi usaha produksi tuna loin sebaiknya dilakukan pada lokasi sumber
bahan baku, mengingat sifat ikan yang mudah busuk. Akan tetapi untuk hal
tersebut tidak perlu dikhawatirkan, karena baik nelayan maupun pengusaha kecil
tuna loin di wilayah penelitian sudah menerapkan sistem rantai dingin dengan
baik.
      Persyaratan standar untuk lokasi usaha pengolahan tuna loin di wilayah
penelitian sudah terpenuhi dengan baik seperti tersedianya tenaga kerja, air bersih,
es, tempat produksi (processing), tempat penyimpanan hasil produksi, tempat
pembuangan limbah, kemudahan akses transportasi dan lain-lain.
      Demikian halnya untuk lokasi pengolahan di wilayah pengumpul (punggawa)
juga telah mengikuti persyaratan standart tempat pengolahan ikan, meskipun
dalam skala lebih kecil.



4.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan

      Mengingat produksi (processing) tuna loin hanya memerlukan teknologi
pengolahan secara sederhana, maka fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan
juga tidak terlalu rumit. Fasilitas dan peralatan minimal yang diperlukan dalam
pengolahan tuna loin skala kecil yang terdapat di tingkat punggawa meliputi :
a) Ruang proses (processing room), ukuran 6 x 10 m2
b) Meja potong stainless steel (1 buah)
c) Meja trimming stainless steel (1 buah)
d) Pisau fillet stainless steel (1 buah)



                                                                                17
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI


e)   Pisau trimming stainless steel (3 buah)
f)   Sterofoam kapasitas 80 kg AG 150 (10 buah)
g)   Cutting board ukuran 1 x 2 meter (1 lembar)
h)   Sepatu boot (4 pasang)
i)   Basket (keranjang) biru (4 buah)
j)   Basket (keranjang) merah (2 – 3 buah)
k)   Blong plastik (2 buah)
l)   Timbangan manual kapasitas 100 kg




         Foto 4.1. Meja Potong Stainless steel,            Foto 4.2. Pisau Fillet Stainless steel &
             Meja Trimming Stainless steel                    Pisau Trimming Stainless steel




            Foto 4.3. Timbangan Digital *)                         Foto 4.4. Blong Biru


     *) timbangan digital hanya terdapat di pengolahan tingkat perantara




18      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                            Usaha Pengolahan Tuna Loin




          Foto 4.5. Keranjang (Basket) Biru        Foto 4.6. Pisau Pemotong Plastik




                                                 Foto 4.8. Cutting Board (di atas meja),
         Foto 4.7. Sterofoam (wadah tuna loin)
                                                           Basket Merah, blong biru



      Meskipun usaha pengolahan tuna loin ini menggunakan teknologi
sederhana, namun tidak demikian dengan peralatan yang digunakannya. Peralatan
yang digunakan dalam usaha pengolahan ini cukup mahal dan spesifik. Sebagai
contoh pisau fillet stainless steel dan pisau trimming stainless steel yang tidak dijual
di pasar umum, harga masing-masing dapat mencapai sekitar Rp400.000,- dan
Rp450.000,- per buah.
      Persyaratan peralatan menurut Standart Nasional Indonesia (SNI) 01-
4104.3-2006 adalah semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam
penanganan dan pengolahan tuna loin beku mempunyai permukaan yang halus
dan rata, tidak mengelupas, tidak berkarat, tidak merupakan sumber cemaran
jasad renik, tidak retak dan mudah dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan
bersih, sebelum, selama dan sesudah digunakan.



                                                                                           19
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI


4.3. Bahan Baku

      Menurut SNI 01-4104.1-2006, istilah dan definisi tuna loin beku adalah
produk olahan hasil perikanan dengan bahan baku tuna segar atau beku yang
mengalami perlakuan sebagai berikut: penerimaan, penyiangan atau tanpa
penyiangan, pencucian, pembuatan loin, pengulitan dan perapihan, sortasi mutu,
pembungkusan (wrapping), pembekuan, penimbangan, pengepakan, pelabelan
dan penyimpanan. Untuk produksi tuna loin tidak dilakukan proses pembekuan,
hanya sampai proses pendinginan.
      Bahan baku tuna loin adalah ikan tuna segar yang harus memenuhi syarat
kesegaran, kebersihan dan kesehatan sesuai SNI 01-4104.2-2006. Bahan baku
yang memiliki karakteristik kesegaran menurut SNI 01-4104.2-2006 adalah sebagai
berikut:
a) Kenampakan : mata cerah, cemerlang
b) Bau : segar
c) Tekstur : elastis, padat dan kompak.
       Penanganan terhadap proses ikan tuna berbeda dengan komoditi hasil laut
lainnya. Bahan baku tuna tidak boleh dibersihkan dengan cara dicuci atau disiram
air, terutama dagingnya. Daging ikan tuna akan rusak apabila dicuci dengan air.
Untuk mencegah penurunan mutu tuna loin, maka setiap tahap proses produksi
tidak pernah terlepas dari sistem rantai dingin. Es yang digunakan dalam proses
produksi tidak langsung bersentuhan dengan daging tuna.
       Menurut SNI 01-0222-1995 bahan penolong dan bahan tambahan yang
digunakan tidak merusak, mengubah komposisi dan sifat khas tuna. Dalam hal ini
bahan penolong yang dipakai dalam proses produksi tuna loin adalah air dan es.
Air yang digunakan sebagai bahan penolong untuk kegiatan di unit pengolahan
memenuhi persyaratan kualitas air minum. Es yang digunakan dibuat dari air yang
memenuhi persyaratan sesuai SNI 01-4872.1-2006. Dalam penggunaannya, es
ditangani dan disimpan di tempat yang bersih agar terhindar dari kontaminasi.




20     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                              Usaha Pengolahan Tuna Loin


        Proses produksi tuna loin di tempat pengolahan perantara setelah ditimbang,
dilap dan dibungkus dengan tissue, kemudian dimasukkan ke dalam kantong
plastik. Pemakaian tissue bersifat temporer hanya selama produk disimpan di dalam
cold storage. Tissue yang digunakan adalah tissue yang tidak mudah menempel
dan tidak meninggalkan sisa pada daging tuna apabila dilepas. Tissue yang
dimaksud bukanlah tissue sembarangan, di Jepang disebut green tissue (tissue
hijau). Sayangnya di Indonesia belum ada tissue khusus semacam itu. Dalam hal
ini tissue berfungsi sebagai bahan penyerap apabila terjadi dehidrasi ketika produk
disimpan di dalam cold storage.
        Sebelum kemasan plastik yang berisi tuna loin diikat kencang, terlebih dahulu
harus di vacuum, yaitu mengeluarkan udara dalam plastik dengan mencelupkan
kemasan ke dalam blong yang berisi air dingin. Teknologi sederhana ini merupakan
alternatif penggunaan alat vacuum yang mahal harganya, hanya diterapkan di
tempat pengolahan perantara. Vacuum merupakan salah satu cara untuk menekan
pertumbuhan bakteri dalam daging tuna.
        Berikut ini adalah foto-foto tuna loin yang dipasok dari punggawa dengan
grade berbeda :




                         Foto 4.9. Tuna Loin Grade A atau Grade Sashimi




                                                                                     21
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI




                                  Foto 4.10. Tuna Loin Grade B



     Penentuan grade tuna loin dapat dilakukan secara visual (kasat mata),
sebagaimana disajikan pada Tabel 4.1. berikut :


               Tabel 4.1. Grade Tuna Loin Berdasarkan Ciri-ciri Fisik

  No         Grade                                  Ciri-Ciri Fisik
                      - warna merah cerah (tidak pucat)
                      - tidak ada yake (daging seperti terbakar) atau yake 0%
     1       A/B      - tekstur kenyal, elastis
                      - jaringan daging tidak terkoyak
                      - size minimal 4 kg
                      - warna merah kusam
                      - terdapat sedikit yake (daging seperti terbakar)
     2         C      - tekstur tidak begitu kenyal, tidak elastis
                      - jaringan daging sedikit terkoyak
                      - size minimal 2.6 kg up
                      - warna merah kusam
                      - terdapat yake (daging seperti terbakar)
     3         D      - tekstur tidak kenyal, tidak elastis
                      - jaringan daging terkoyak
                      - size minimal 1.5 kg up




22       POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                        Usaha Pengolahan Tuna Loin


      Keunikan komoditi tuna di pasar ekspor adalah bahwa grade tersebut di
atas dapat berubah-ubah mengikuti kondisi pasar dan musim. Terkadang grade
rendah dapat meningkat menjadi grade di atasnya di saat produksi tuna turun.



4.4. Tenaga Kerja

      Tenaga kerja yang terlibat dalam usaha pengolahan tuna loin skala kecil
minimal sebanyak 4 (empat) orang. Tenaga kerja yang digunakan bersifat tidak
tetap dengan upah sebesar Rp500.000,- per bulan per orang di tempat punggawa,
dan sebesar Rp750.000,- per bulan per orang di tempat perantara. Tenaga kerja
produksi di lokasi pengolahan punggawa biasanya melibatkan keluarga sendiri,
sedangkan di tempat perantara direkrut dari masyarakat setempat.
      Ketrampilan khusus yang diperlukan tenaga kerja dalam usaha pengolahan
tuna loin adalah keahlian melakukan fillet daging tuna, karena hasil fillet akan
mempengaruhi rendemen berat daging tuna yang dihasilkan.



4.5. Teknologi

        Dalam proses pengolahan tuna loin tidak menggunakan teknologi
pengolahan tertentu. Tuna loin adalah daging tuna segar yang diproduksi dari hasil
fillet ikan tuna utuh. Proses produksi tuna loin dilakukan dengan cara memotong
atau mengambil bagian daging tuna yang telah dibuang insang dan isi perutnya
dengan cara di fillet. Hasil fillet dapat berupa fillet skin on dan fillet skin less.
        Jenis-jenis proses produksi ikan tuna adalah sebagai berikut:
        a) Gilled & Gutted (GG)
             yaitu proses produksi ikan tuna utuh dengan membuang insang dan isi
             perut
        b) Fillet Skin On (Fillet SO)




                                                                                23
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI


             yaitu proses produksi ikan tuna GG menjadi irisan daging/tuna loin yang
             masih ada kulit
      c)     Fillet Skin Less (Fillet SL)
             yaitu proses produksi ikan tuna GG menjadi irisan daging/tuna loin yang
             tanpa kulit

     Masing-masing jenis proses produksi mempunyai tingkat penyusutan
berbeda terhadap daging tuna yang dihasilkan. Tabel 4.2. berikut ini menyajikan
prosentase penyusutan berat daging tuna yang dihasilkan sesuai jenis proses
produksinya.

                Tabel 4.2. Prosentase Penyusutan Berat Daging Tuna
                            Menurut Jenis Proses Produksi

 No                  Jenis Proses Produksi               Prosentase Penyusutan
  1        Whole          Gilled & Gutted (GG)                     12%
  2        Whole          Fillet Skin On (Fillet SO)               45%
  3        Whole          Fillet Skin Less (Fillet SL)             50%



4.6. Proses Produksi


     Proses produksi pengolahan tuna loin mulai penerimaan bahan baku sampai
dengan penyimpanan di cold storage dilakukan secara berantai mulai dari nelayan,
punggawa sampai ke perantara disajikan pada Gambar 4.1. berikut ini :




24     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                              Usaha Pengolahan Tuna Loin



Tahap Proses Produksi                            Tuna Whole         Tuna GG
di Nelayan                                    (proses buang insang dan isi perut)



Tahap Proses Produksi                          Tuna GG            Tuna Loin SO
di punggawa                                         (proses fillet skin on)



                                                RUANG PENERIMAAN
Tahap Proses Produksi
                                                   RAW MATERIAL
di perantara                             Penimbangan Raw Material Tuna Loin SO



                                                      RUANG PRODUKSI
                              >   Pembersihan dan pembungkusan tuna loin SO dengan tissue
                              >   Proses tuna loin SO menjadi tuna loin SL


                                               RUANG PACKING (PENGEMASAN)
                              >   Tuna loin SO dilap dengan tissue, masukkan dalam plastik,
                                  dicelup air dingin, ikat dan simpan dalam sterofoam yang sudah
                                  diberi es
                              >   Tuna loin SL dilap dengan tissue, masukkan dalam plastik,
                                  dicelup air dingin, ikat dan simpan dalam sterofoam


                                                  GUDANG PENYIMPANAN
                              Tuna loin SO dan SL dibawa ke gudang penyimpanan (cold storage)




                   Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Pengolahan Tuna Loin



Keterangan :

    Tuna hasil tangkapan
    Tuna hasil tangkapan nelayan merupakan bahan baku utama untuk produksi
    tuna loin. Jenis tuna yang banyak tertangkap dan diproses untuk loin




                                                                                             25
ASPEK TEKNIS PRODUKSI


     didominasi oleh tuna jenis Yellow Fin, dan sedikit untuk jenis Big Eye. Untuk
     mengurangi resiko penurunan mutu daging tuna selama di laut, setelah
     tuna tertangkap dan diangkat ke kapal/perahu, langsung dilakukan proses
     pembuangan insang dan isi perut oleh nelayan. Dalam hal ini nelayan telah
     dibekali teknik pembuangan insang dan isi perut oleh punggawa/perantara.
     Tuna dari nelayan telah diproses gilled & gutted (GG).

     Proses produksi di tempat Punggawa
     Setelah sampai di tempat punggawa, tuna ditimbang dan dicatat. Tuna GG
     dari nelayan tersebut dibuat loin yang masih ada kulit dengan cara di fillet
     (Fillet SO). Tuna loin yang masih ada kulit ini dikemas dalam plastik untuk
     selanjutnya dimasukkan dalam sterofoam yang telah diberi es dan siap dibawa
     ke tempat pengolahan (processing) perantara.

     Proses produksi di tempat Perantara
     Tuna loin diterima di tempat perantara di ruang penerimaan barang, disortir,
     ditimbang dan dicatat. Setelah itu dilanjutkan ke ruang produksi untuk
     dirapikan, di lap dan dibungkus dengan tissue, lalu diberi tanda (tagging).
     Tuna loin kemudian dikemas dalam plastik PE, dicelup dalam air dingin, diikat
     dan ditimbang untuk kemudian disimpan dalam cold storage. Dalam proses
     produksi ini dapat juga dilakukan proses fillet skinless (buang kulit) apabila
     ada permintaan pasar.




26      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                    Usaha Pengolahan Tuna Loin


     Foto-foto di bawah ini menggambarkan alur proses produksi tuna loin di
tempat punggawa dan perantara :

A. Tahap Proses Produksi di Punggawa




      Foto 4.11. Tuna GG masuk ke ruang
                                                               Foto 4.12. Dibuang sirip
              Penerimaan Barang




                                    Foto 4.13. Proses Fillet




                                                         Foto 4.15. Loin Yang Masih Ada
      Foto 4.14. Proses Pemisahan Tulang
                                                                  Daging Hitam




                                                                                           27
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI




       Foto 4.16. Proses Buang Daging Hitam      Foto 4.17. Tuna Loin Sudah Diberi
                                                          Tagging (tanda)




B. Tahap Proses Produksi di Perantara




           Foto 4.18. Tuna Loin Masuk
                                               4.19. Perapihan Hasil Loin di punggawa
         Ke dalam Foto Ruang Penerimaan




            Foto 4.20. Ruang Produksi         Foto 4.21. Tuna Loin Dilap dengan Tissue




28    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                     Usaha Pengolahan Tuna Loin




                                            Foto 4.23. Tuna Loin Dimasukkan
 Foto 4.22. Tuna Loin Dibungkus Tissue
                                                   ke Kemasan Plastik




  Foto 4.24. Tuna Loin Dicelup dalam     Foto 4.25. Proses Penimbangan Tuna Loin
              Air Dingin




Foto 4.26. Dimasukkan Dalam Sterofoam     Foto 4.27. Penyimpanan di Cold Storage




                                                                                   29
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI




     Foto 4.28. Kemasan Tuna Loin Untuk Ekspor          Foto 4.29. Tuna Loin Siap di Ekspor




      Teknologi sederhana yang juga diterapkan oleh perantara dalam kemasan
ekspor adalah pembuatan es jelly dari sagu. Es jelly sagu ini digunakan sebagai
pengganti dry ice yang biasa digunakan dalam kemasan ikan yang akan diekspor
agar tidak terjadi pembusukan (penurunan mutu). Penggunaan teknologi ini
dimaksud untuk menghemat biaya, karena penggunaan dry ice cukup mahal.
      Es jelly sagu terbuat dari campuran air dan sagu yang dibekukan dalam
freezer. Selain dapat menghemat biaya, teknik pendinginan ini juga ternyata cukup
baik karena jelly sagu tidak akan mencair seperti air yang dapat merusak komoditi
apabila es mencair. Foto 4.29. berikut ini adalah bentuk es jelly sagu yang dibuat
oleh perantara :




                                       Foto 4.2.9. Es Jelly Sagu




30     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                      Usaha Pengolahan Tuna Loin


4.7. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi

        Jumlah tuna loin yang diproduksi oleh punggawa dan perantara sangat
tergantung kepada jumlah pasokan atau hasil tangkapan nelayan dan kemampuan
modal perantara. Setiap punggawa mempunyai kapasitas produksi tuna loin rata-
rata sebesar 2.000 kg per bulan. Artinya pasokan ikan yang di-supply nelayan
kepada punggawa rata-rata setiap bulannya sekitar 3.636 kg. Rendemen ikan tuna
sampai menjadi loin skin on adalah sebesar 55%. Proses fillet pada produksi tuna
harus dilakukan oleh tenaga yang mempunyai keahlian khusus, karena kesalahan
dalam melakukan fillet loin dapat mempengaruhi rendemen tuna. Hal ini juga
menjadi menjadi titik kritis bagi usaha pengolahan tuna loin.
        Mutu produk tuna loin ditentukan antara lain: 1) Kesegaran dan tingkat
kecerahan warna daging 2) tekstur daging 3) Ada tidaknya yake pada daging,
yaitu daging seperti terbakar 4) Kekenyalan dan elastisitas tekstur daging 5)
Kekompakan jaringan daging serta 6) Ukuran (size). Informasi yang diperoleh
di lapang mengatakan bahwa tidak ada ketentuan persyaratan mutu secara
kuantitatif, penilaian mutu dilakukan secara visual. Klasifikasi mutu ini yang akan
menentukan grade tuna loin. Produksi tuna loin harus memenuhi persyaratan SNI
01-4104.2-2006 antara lain meliputi: jenis bahan baku, bentuk dan asal bahan
baku, mutu serta penyimpanan bahan baku.
        Menurut SNI 01-4104.2-2006, jenis bahan baku tuna loin yang digunakan
adalah tuna Madidihang (Yellowfin Tuna), Tuna Mata Besar (Big Eye Tuna), Tuna
Sirip Biru (Bluefin Tuna) dan Tuna Albakora. Bentuk bahan baku tuna loin berupa
ikan tuna segar yang sudah atau belum disiangi, dan berasal dari perairan yang
tidak tercemar. Mutu bahan baku tuna loin harus bersih, bebas dari setiap bau yang
menandakan pembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan pemalsuan, bebas
dari sifat-sifat alamiah lain yang dapat menurunkan mutu serta tidak membahayakan
kesehatan. Secara organoleptik bahan baku mempunyai karakteristik kesegaran
meliputi kenampakan mata cerah, cemerlang, bau segar serta tekstur elastis,
padat dan kompak. Apabila menunggu proses lebih lanjut, maka bahan baku




                                                                              31
 ASPEK TEKNIS PRODUKSI


tuna loin beku harus disimpan dalam ruang penyimpanan (cold storage) dengan
suhu maksimal -20 0C, saniter dan hygienis. Sedangkan untuk bahan baku tuna
loin segar disimpan dalam wadah yang baik dan tetap dipertahankan suhunya
dengan menggunakan es curah sehingga suhu pusat bahan baku mencapai suhu
maksimal 4,4 0C, saniter dan hygienis.
      Sebagaimana telah diuraikan pada sub bab 4.3. bahwa terdapat 4 grade
tuna loin yang penilaian mutunya didasarkan secara visual. Grade tersebut di atas
dapat berubah-ubah mengikuti kondisi pasar dan musim. Terkadang grade rendah
dapat meningkat menjadi grade di atasnya di saat produksi tuna turun, atau mutu
produk tuna loin yang masuk ke pasar lelang dunia kurang bagus. Ketidakpastian
standar mutu dan grade merupakan faktor kritis yang harus diperhatikan dalam
usaha pengolahan tuna loin ini.


4.8. Produksi Optimum

      Produksi tuna loin sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan baku. Bahan
baku tuna loin adalah ikan tuna segar yang tangkapannya tergantung musim
yang dipengaruhi oleh pergeseran bulan. Dalam satu tahun terjadi 7 (tujuh) bulan
penurunan produksi tuna, dan 5 bulan produksi maksimal. Artinya dalam setahun
terdapat 5 (lima) bulan produksi optimum, yaitu rata-rata sebesar 2.000 kg per
bulan.


4.9. Kendala Produksi

      Kendala produksi usaha perikanan umumnya adalah ketersediaan dan
kontinyuitas bahan baku ikan. Demikian halnya yang terjadi dalam proses produksi
pengolahan tuna loin. Ketersediaan dan kontinyuitas bahan baku tuna loin menjadi
faktor kritis ketika terjadi pergeseran bulan siklus terendah selama 7 bulan dalam
satu tahun akibat pengaruh musim. Proses produksi efektif berlangsung hanya 20
hari dalam 1 bulan selama siklus terendah.




32     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                               BAB V
                          ASPEK KEUANGAN


      Analisa aspek keuangan diperlukan untuk mengetahui kelayakan usaha
dari sisi keuangan, terutama kemampuan pengusaha untuk mengembalikan
kredit yang diperoleh dari bank. Analisa keuangan ini juga dapat dimanfaatkan
pengusaha dalam perencanaan dan pengelolaan usaha pengolahan tuna loin.



5.1. Pemilihan Pola Usaha

       Pola usaha yang dipilih adalah usaha pengolahan tuna loin dengan skala
kecil, dimana teknologi proses pembuatan loin tanpa alat/mesin yang bersifat
mekanis, sehingga tidak diperlukan biaya investasi yang besar, dengan kapasitas
produksi sebesar 2000 kg tuna loin per bulan. Ikatan kerjasama yang saling
menguntungkan antara nelayan, punggawa dan perantara telah membentuk
karakter pola usaha tuna loin di Makassar. Perantara memberi dukungan modal
kerja dan pengetahuan tentang teknik penanganan mutu ikan kepada punggawa
dan nelayan guna menjaga kontinuitas dan mutu bahan baku.
       Sebaliknya nelayan dan punggawa memasok bahan baku ikan sesuai
spesifikasi yang diminta perantara karena keterikatan dukungan modal dan
pengetahuan yang diberikan serta komitmen perantara untuk menjamin pasar dan
stabilitas harga ikan.



5.2. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan

      Untuk analisa kelayakan usaha pengolahan tuna loin diasumsikan bahwa
awal produksi adalah pada bulan Januari. Analisa kelayakan menggunakan asumsi
parameter teknologi proses produksi dan biaya sebagaimana disajikan pada Tabel



                                                                           33
 ASPEK KEUANGAN


5.1. dan Lampiran 1. Asumsi ini diperoleh berdasarkan kajian terhadap usaha
pengolahan tuna loin di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan serta informasi dari
pengusaha.

               Tabel 5.1. Asumsi-Asumsi Untuk Analisis Keuangan


  No                          Asumsi                        Satuan     Jumlah
  1    Periode Proyek                                        Tahun              3
  2    Bulan kerja dalam setahun                             Bulan           12
  3    Hari kerja dalam sebulan                               Hari           24
  4    Output, Produksi dan Harga *)
       a. Produksi Tuna Loin per bulan                        Kg          2.000
           - Grade A (30%)                                    Kg            600
          - Grade B (40%)                                     Kg            800
          - Grade C (20%)                                     Kg            400
          - Grade D (10%)                                     Kg            200
       b. Penjualan Harga Tuna Loin per Kg                   Rp/Kg
          - Grade A (30%)                                    Rp/Kg       67.000
         - Grade B (40%)                                     Rp/Kg       57.000
         - Grade C (20%)                                     Rp/Kg       46.000
         - Grade D (10%)                                     Rp/Kg       24.000
       c. Lama menunggu pendapatan                            Hari              -
       d. Hasil penjualan                                     Hari              -
       e. Rendeman hasil                                      %              55
  5    Tenaga Kerja *)                                       Orang              4
  6    Biaya Pemasaran dan transportasi per bulan           Rp/bulan   2.000.000
  7    Penggunaan input dan harga *)
       a. Input bahan baku tuna loin (whole GG)               Kg          3.636
          dalam sebulan
       b. Harga pembelian bahan baku tuna loin (whole GG)     Kg
           -   Grade A
           -   Grade B                                       Rp/Kg       28.000
           -   Grade C                                       Rp/Kg       26.000
           -   Grade D                                       Rp/Kg       20.000
                                                             Rp/Kg       12.000




34     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                      Usaha Pengolahan Tuna Loin



   8      Bahan Pembantu
          a. Kemasan plastik PE (1 kg plastik untuk 180 kg ikan)             Kg               12
          b. Es ( Rp200 ,- per kg ikan)
                                                                             Rp          400.000
   9      Suku bunga per tahun                                               %                14
   10     Proposal Modal
          a. Kredit                                                          %                60
          b. Modal sendiri                                                   %                40
   11     Jangka waktu kredit                                              Tahun               3
Keterangan *) rincian kebutuhan per bulan disajikan pada Lampiran 3




       Usaha ini diasumsikan dilakukan oleh punggawa (nelayan pengumpul) dengan
rata-rata produksi tuna loin per bulan sebesar 2.000 kg, dengan penggunaan
bahan baku rata-rata per bulan sebanyak 3.636 kg. Untuk kebutuhan produksi
sebesar 2.000 kg per bulan diasumsikan membutuhkan bahan pembantu berupa
plastik PE rata-rata 10 kg per bulan dan es sebesar Rp 400.000,- per bulan. Untuk
kapasitas produksi rata-rata 2.000 kg per bulan diasumsikan dibutuhkan tenaga
kerja 4 orang.
       Penentuan usia proyek adalah 3 (tiga) tahun, dengan proposal modal 60%
kredit dan 40% modal sendiri.



5.3. Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional

     Komponen biaya dibedakan menjadi dua, yaitu biaya investasi dan biaya
operasional (modal kerja). Biaya investasi adalah komponen biaya yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan dana awal kegiatan produksi yang meliputi peralatan
produksi dan bangunan. Biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan
dalam proses produksi, yang merupakan modal kerja.




                                                                                             35
ASPEK KEUANGAN



     5.3.1. Biaya Investasi


           Biaya investasi yang dibutuhkan pada tahap awal proses produksi
     pengolahan tuna loin adalah sebesar Rp44.970.000,-, masing-masing
     digunakan untuk bangunan ruang produksi sebesar Rp30.000.000,- dan
     peralatan produksi sebesar Rp14.970.000,-.
           Uraian komposisi untuk biaya investasi yang terdiri dari bangunan
     ruang produksi dan peralatannya disajikan pada Tabel 5.2.dan Lampiran 2.



                      Tabel 5.2. Komposisi Biaya Investasi

                                                              Harga
                                                  Umur
                                       Jumlah                   per       Jumlah
     No    Komponen Biaya     Satuan            Ekonomis
                                        Fisik                 satuan     Biaya (Rp)
                                                 (bulan)
                                                               (Rp)
      1   Alat Produksi dan
          Kemasan
          a. Meja potong       Unit      1         36        4.000.000    4.000.000
          b. Meja trimming     Unit      1         36        4.000.000    4.000.000
          c. Pisau Fillet
          d. Pisau trimming    Buah      1         24         480.000       480.000
          e. Sterofoam kap.    Buah      3         24         400.000     1.200.000
             80 Kg AG 50
          f. Cutting board,    Unit     10         6          125.000     1.250.000
              1x2m
          g. Sepatu boot
          h. Basket biru       Unit      1         36        1.600.000    1.600.000

          i. Basket merah
          j. Blong plastik    Pasang     4         12           65.000      260.000
          k. Timbangan kap.    Unit      1         24           70.000       70.000
              100 kg           Unit      3         24           70.000      210.000
                               Unit      2         24          200.000      400.000
                               Unit      1         36        1.500.000    1.500.000




36    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                          Usaha Pengolahan Tuna Loin



  2        Bangunan
           Ruang Proses*)        m2         60       10          500.000     30.000.000



           Jumlah                                                            44.970.000


Keterangan : *) Bangunan sangat sederhana




 5.3.2. Biaya Operasional

        Biaya operasional atau modal kerja dalam usaha pengolahan tuna
 loin ini meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Total biaya operasional
 rata-rata per bulan adalah Rp99.901.727,- atau dalam satu tahun sebesar
 Rp1.198.820.727,- dengan asumsi usaha ini sejak bulan pertama sudah
 beroperasi secara penuh dengan kapasitas 100%.
        Biaya operasional per tahun terdiri dari biaya variabel sebesar
 Rp1.055.240.727,- dan biaya tetap sebesar Rp143.580.000,-. Biaya variabel
 rata-rata per bulan sebesar Rp87.936.727,- dan biaya tetap rata-rata per
 bulan adalah Rp11.965.000,- (Tabel 5.3.). Rincian kebutuhan biaya variabel
 dan biaya tetap dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4.


                Tabel 5.3. Komposisi Biaya Operasional dalam Rupiah

                                                 Rata-rata
      No            Komponen Biaya                                     Pertahun
                                                 per bulan
      1      Biaya Tetap                            11.965.000              143.580.000
      2      Biaya Variabel                         87.936.727             1.055.240.727
             Jumlah Biaya Operasional               99.901.727             1.198.820.727




                                                                                    37
 ASPEK KEUANGAN


5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja

      Total kebutuhan biaya awal proyek untuk investasi adalah sebesar
Rp44.970.000,- dengan rincian sebesar Rp26.982.000,- atau 60% berasal dari
kredit bank, dengan jangka waktu pinjaman selama 3 tahun dan suku bunga
14% per tahun. Kebutuhan modal kerja rata-rata per bulan adalah sebesar
Rp99.901.727,-. Untuk kebutuhan investasi usaha ini diperlukan modal kerja
selama 1.5 bulan, yaitu sebesar Rp149.852.591,-. Modal kerja tersebut selain
digunakan untuk pembelian bahan baku ikan tuna dan operasional, juga sebagai
uang muka kepada nelayan untuk modal melaut yang diperkirakan selama 2
minggu sampai 1 bulan.
      Kebutuhan modal kerja tersebut sebesar 60% diperoleh dari kredit. Pada Tabel
5.4. berikut disajikan rincian kebutuhan proyek dan sumber pembiayaannya.


                   Tabel 5.4. Komponen dan Struktur Biaya Proyek

                                                                   Total Biaya
 No         Komponen Biaya Proyek            Prosentase
                                                                      (Rp)
  1   Biaya Investasi                                                  44.970.000
       a.   Kredit                              60%                    26.982.000
       b.   Modal sendiri                       40%                    17.988.000
  2   Biaya Modal Kerja                                               149.852.591
       a.   Kredit                              60%                    89.911.555
       b.   Modal sendiri                       40%                    59.941.036
  3    Total Biaya Proyek                                             194.822.591
       a.   Kredit                              60%                   116.893.555
       b.   Modal sendiri                       40%                    77.929.036



     Perhitungan angsuran pokok dan bunga kredit per bulan dapat dilihat pada
Lampiran 6 dan 7. Angsuran pokok dan bunga ini dibayarkan setiap bulan selama
jangka waktu kredit.




38     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                            Usaha Pengolahan Tuna Loin


5.5. Produksi dan Pendapatan

      Produksi tuna loin per bulan rata-rata sebanyak 2.000 kg, dengan komposisi
grade A sebanyak 600 kg (30%), grade B sebanyak 800 kg (40%), grade C
sebanyak 400 kg (20%) dan grade D sebanyak 200 kg (10%), dimana usaha ini
diproyeksikan untuk dapat berproduksi secara optimal mulai bulan pertama hingga
akhir sesuai umur proyek.
      Dengan harga rata-rata untuk grade A sebesar Rp67.000,- per kg, grade B
sebesar Rp57.000,- grade C sebesar Rp46.000,- dan grade D sebesar Rp24.000,-;
maka dapat diproyeksikan perolehan pendapatan untuk satu bulan produksi
sebesar Rp109.000.000,- atau sebesar Rp1.308.000.000,- per tahun. Tabel 5.5.
dan Lampiran 5 menampilkan Proyeksi Produksi dan Pendapatan Proyek.

                     Tabel 5.5. Proyeksi Produksi dan Pendapatan

                                Rata2                    Rata2 Nilai
                                          Rata2 Harga                   Nilai Penjualan 1
                              Produksi                  Penjualan per
 No         Produk                        Jual per Kg                         tahun
                              Per bulan                     bulan
                                              (Rp)                             (Rp)
                                 (Kg)                        (Rp)
  1    Tuna Loin Grade A           600         67.000      40.200.000        482.400.000
  2    Tuna Loin Grade B           800         57.000      45.600.000        547.200.000
  3    Tuna Loin Grade C           400         46.000      18.400.000        220.800.000
  4    Tuna Loin Grade D           200         24.000       4.800.000         57.600.000
                           Total                          109.000.000      1.308.000.000




5.6.   Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Event Point

      Hasil proyeksi rugi laba usaha menunjukkan bahwa usaha pengolahan
tuna loin telah menghasilkan laba (setelah pajak) pada tahun pertama sebesar
Rp144.503.739,- tahun kedua sebesar Rp149.140.516,- dan tahun ketiga sebesar
Rp153.777.294,- dimana rata-rata per tahun sebesar Rp149.140.516,25 dan rata-




                                                                                      39
 ASPEK KEUANGAN


rata per bulan sebesar Rp12.428.376,35, dengan nilai profit on sales rata-rata per
tahun sebesar 11,40 %.


                Tabel 5.6. Proyeksi Pendapatan dan Rugi Laba Usaha
                                                                              Rupiah
                                                     Tahun
 No             Uraian
                                      1                2                 3
  1   Penerimaan                  1.308.000.000    1.308.000.000     1.308.000.000
  2   Pengeluaran                 1.137.995.602    1.132.540.569     1.127.085.537
  3   Rugi/Laba sebelum pajak      170.004.398      175.459.431       180.914.463
  4   Pajak (15%)                    25.500.660      26.318.915        27.137.170
  5   Laba setelah pajak           144.503.739      149.140.516       153.777.294
  6   Profit on sales (%)                 11,05%           11,40%            11,76%
  7   BEP       : Rupiah           428.246.903      400.017.740       371.788.578
                  Grade A          157.940.601      147.529.479       137.118.356
                  Grade B          179.156.502      167.346.871       155.537.240
                  Grade C           72.291.220       67.525.930        62.760.641
                  Grade D           18.858.579       17.615.460        16.372.341
      BEP       : Kg                     7.858            7.340             6.822
                  Grade A                2.357            2.202             2.047
                  Grade B                3.143            2.936             2.729
                  Grade C                1.572            1.468             1.364
                  Grade D                  786              734               682


       Break Event Point (BEP) dihitung dengan membandingkan pengeluaran
untuk biaya tetap terhadap biaya variabel dan total penerimaan. BEP usaha ini
terjadi pada penjualan rata-rata per bulan sebesar Rp12.294.123,21 (grade A),
Rp13.945.572,60 (grade B), Rp5.627.160,87 (grade C) dan Rp1.467.955,01 (grade
D). Proyeksi rugi laba usaha disajikan pada Tabel 5.6 dan Lampiran 8.




40     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                        Usaha Pengolahan Tuna Loin


5.7. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek

       Aliran kas (cash flow) dibagi dalam dua aliran, yaitu arus masuk (cash inflow)
dan arus keluar (cash outflow). Arus masuk diperoleh dari penjualan tuna loin per
bulan selama setahun, sedangkan arus keluar meliputi biaya investasi, biaya variabel,
biaya tetap, angsuran pokok dan angsuran bunga serta pajak penghasilan.
       Evaluasi profitabilitas rencana usaha pengolahan tuna loin skala kecil
dilakukan dengan menilai kriteria kelayakan usaha, yaitu NPV (Net Present Value),
IRR (Internal Rate of Return) dan Net B/C Ratio (Net Benefit Cost Ratio). Berdasarkan
asumsi yang ada didapat NPV sebesar Rp140.422.993,-, IRR sebesar 49,89% dan
Net B/C Ratio 1,72 kali. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan tuna loin
ini layak untuk dilaksanakan, dengan Pay Back Period (PBP) selama 1,81 tahun.
Proyeksi arus kas untuk kelayakan usaha pengolahan tuna loin dapat dilihat pada
Tabel 5.7 dan Lampiran 9.

                Tabel 5.7. Kelayakan Usaha Pengolahan Tuna Loin

                                                      Justifikasi
 No           Kriteria                Nilai                            Keterangan
                                                      Kelayakan
  1   NPV (14%)                 Rp. 140.422.993           >0              Layak
  2   IRR                           49,89%               > 14%            Layak
  3   Net B/C Ratio                   1,72                >1              Layak
  4   Pay Back Period (PBP)        1,81 tahun          < 3 tahun          Layak




                                                                                  41
 ASPEK KEUANGAN


5.8. Analisis Sensitivitas


     5.8.1. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Biaya Variabel dan
            Pendapatan Tetap

     (a) Kenaikan Biaya Variabel 5%, Pendapatan Tetap

         Hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya variabel sebesar 5%
         dengan pendapatan tetap didapat nilai NPV Rp17,928,960,-, IRR
         18,77% dan Net B/C Ratio 1,09 kali dengan masa pengembalian modal
         selama 2,7 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa usaha ini layak
         dilaksanakan dengan kenaikan biaya variabel 5%. Hasil analisis dapat
         dilihat pada Tabel 5.8. dan Lampiran 10.

           Tabel 5.8. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan
                   Biaya Variabel sebesar 5% dengan Pendapatan Tetap

                                                       Justifikasi
           No         Kriteria             Nilai                     Keterangan
                                                       Kelayakan
            1   NPV (14%)               Rp17,928,960      >0           Layak
            2   IRR                       18.77 %        > 14%         Layak
            3   Net B/C Ratio               1.09          >1           Layak
            4   Pay Back Period (PBP)       2.7        < 3 tahun       Layak




     (b) Kenaikan Biaya Variabel 6%, Pendapatan Tetap

         Hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya variabel sebesar 6%
         dengan pendapatan tetap didapat nilai NPV Rp(31.068.653,-), IRR
         5,53% dan Net B/C Ratio 0,84 kali dengan masa pengembalian modal
         selama lebih dari 3 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa usaha
         ini tidak layak dilaksanakan dengan kenaikan biaya variabel 6%. Hasil
         analisis dapat dilihat pada Tabel 5.9. dan Lampiran 11.



42     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                   Usaha Pengolahan Tuna Loin


     Tabel 5.9. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan
            Biaya Variabel Sebesar 6% dengan Pendapatan Tetap

                                                   Justifikasi
     No         Kriteria              Nilai                      Keterangan
                                                   Kelayakan
      1   NPV (14%)               Rp(31.068.653)       <0         Tidak layak
      2   IRR                        5,53%           < 14%        Tidak layak
      3   Net B/C Ratio               0,84             <1         Tidak layak
      4   Pay Back Period (PBP)     > 3 tahun       > 3 tahun     Tidak layak



5.8.2. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Pendapatan dan Biaya
       Variabel Tetap


(a) Penurunan Pendapatan sebesar 4%, Biaya Variabel Tetap

    Hasil analisis sensitivitas terhadap penurunan pendapatan sebesar 4%
    dengan biaya variabel tetap didapat nilai NPV Rp18.955.206,-, IRR
    19,05% dan Net B/C Ratio 1,10 kali dengan masa pengembalian modal
    selama 2,7 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa usaha ini masih
    dinilai layak dilaksanakan dengan penurunan pendapatan sebesar 4%
    dan biaya variabel tetap. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 5.10.
    dan Lampiran 12.


    Tabel 5.10. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Penurunan
             Pendapatan sebesar 4% dengan Biaya Variabel Tetap

                                                   Justifikasi
     No         Kriteria              Nilai                      Keterangan
                                                   Kelayakan
      1   NPV (14%)               Rp18.955.206         >0           Layak
      2   IRR                        19.05%           > 14%         Layak
      3   Net B/C Ratio               1,10             >1           Layak
      4   Pay Back Period (PBP)     2,7 tahun       < 3 tahun       Layak




                                                                            43
ASPEK KEUANGAN


     (b) Penurunan Pendapatan sebesar 5%, Biaya variabel Tetap

         Hasil analisis sensitivitas terhadap penurunan pendapatan sebesar 5%
         dengan biaya variabel tetap didapat nilai NPV Rp(11.411.741,-), IRR
         10.92% dan Net B/C Ratio 0,94 kali dengan masa pengembalian modal
         lebih dari 3 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa usaha ini
         masih menjadi tidak layak dilaksanakan dengan penurunan pendapatan
         sebesar 5% dan biaya variabel tetap. Hasil analisis dapat dilihat pada
         Tabel 5.11. dan Lampiran 13.

         Tabel 5.11. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Penurunan
                  Pendapatan sebesar 5% dengan Biaya Variabel Tetap

                                                         Justifikasi
          No          Kriteria              Nilai                       Keterangan
                                                         Kelayakan
           1    NPV (14%)               Rp(11.411.741)      <0           Tidak layak
           2    IRR                        10.92%          < 14%         Tidak layak
           3    Net B/C Ratio               0,94            <1           Tidak layak
           4    Pay Back Period (PBP)     > 3 tahun      > 3 tahun       Tidak layak




     5.8.3. Analisis Sensitivitas Kombinasi


     (a) Kenaikan Biaya Variabel sebesar 2%, Penurunan Pendapatan
         2%


         Hasil analisis sensitivitas kombinasi berupa kenaikan biaya variabel diiringi
         penurunan pendapatan masing-masing sebesar 2% didapat nilai NPV
         Rp30.691.486,- IRR 22.13% dan Net B/C Ratio 1,16 kali dengan masa
         pengembalian modal selama 2,6 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan
         bahwa usaha ini masih layak untuk dilaksanakan, dengan kenaikan




44    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                   Usaha Pengolahan Tuna Loin


   biaya variabel dan penurunan pendapatan masing-masing 2%. Hasil
   analisis dapat dilihat pada Tabel 5.12. dan Lampiran 14.

    Tabel 5.12. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap Kenaikan
         Biaya Variable 2% dan Penurunan Pendapatan sebesar 2%

                                                   Justifikasi
    No         Kriteria               Nilai                      Keterangan
                                                   Kelayakan
     1   NPV (14%)               Rp30.691.486          >0           Layak
     2   IRR                        22.13%           > 14%          Layak
     3   Net B/C Ratio                1,16             >1           Layak
     4   Pay Back Period (PBP)      2,6 tahun       < 3 tahun       Layak



(b) Kenaikan Biaya Variabel sebesar 3%, Penurunan Pendapatan
    3%


   Hasil analisis sensitivitas kombinasi berupa kenaikan biaya variabel
   3% diiringi penurunan pendapatan sebesar 3% didapat nilai NPV
   Rp(24.174.267,-), IRR 7.44% dan Net B/C Ratio 0,88 kali dengan masa
   pengembalian modal lebih dari 3 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan
   bahwa usaha ini menjadi tidak layak untuk dilaksanakan dengan
   kenaian biaya variabel dan penurunan pendapatan masing-masing 3%.
   Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 5.13. dan Lampiran 15

        Tabel 5.13. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha Terhadap
      Kenaikan Biaya Variabel sebesar 3% dan Penurunan Pendapatan
                                sebesar 3%

                                                   Justifikasi
    No         Kriteria               Nilai                      Keterangan
                                                   Kelayakan
     1   NPV (14%)               Rp (24.174.267)       <0         Tidak Layak
     2   IRR                         7.44%           < 14%        Tidak Layak
     3   Net B/C Ratio                0,88             <1         Tidak Layak
     4   Pay Back Period (PBP)     > 3 tahun        > 3 tahun     Tidak Layak




                                                                            45
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
                            BAB VI
                   ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN
                      DAMPAK LINGKUNGAN




6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial

      Kota Makassar merupakan sentra dari usaha perikanan di Sulawesi Selatan,
utamanya industri pengolahan ikan. Cukup banyak masyarakat kota Makassar yang
memiliki usaha pengolahan ikan. Usaha pengolahan tuna loin merupakan pilihan
usaha yang memiliki prospek cukup bagus di Makassar, karena harga jualnya yang
bagus dan permintaan pasarnya yang terus meningkat.
      Keberadaan dan pengembangan usaha pengolahan tuna loin memberi
dampak positif bagi wilayah di sekitarnya, karena membuka peluang kerja dan
meningkatkan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu adanya usaha pengolahan
tuna loin ini sangat mendorong pembangunan ekonomi di kota Makassar.
Satu unit usaha pengolahan tuna loin skala kecil (kapasitas produksi 2.000 kg)
dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 4 orang dengan upah Rp500.000,- s.d.
Rp1.000.000,- per orang per bulan. Nilai tambah riil yang diterima Pemerintah
Daerah setempat secara langsung ataupun tidak langsung dari kegiatan usaha
tersebut antara lain sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi
pengecekan hasil mutu tuna loin dan jasa pelabuhan.
      Dampak lain dari keberadaan usaha pengolahan tuna loin adalah adanya
jaminan stabilitas harga dan akses pasar, sehingga memberikan kepastian
pendapatan bagi nelayan.




                                                                              47
 ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN


6.2. Aspek Dampak Lingkungan


       Proses produksi usaha pengolahan tuna loin menghasilkan limbah padat dan
limbah cair. Limbah padat berupa kepala dan isi perut ikan serta daging remahan
(tetelan) sebagai sisa hasil proses produksi serta limbah cair berupa air pencucian
proses produksi dan ruang produksi. Akan tetapi kedua jenis limbah tersebut
tidak memberikan dampak negatif, mengingat proses pembuangan insang dan isi
perut dilakukan nelayan ketika di laut. Insang dan isi perut yang dibuang ke laut
dapat menjadi makanan bagi ikan-ikan predator. Sedangkan kepala, tulang dan
remahan (tetelan) daging ikan masih bisa dimanfaatkan dijual ke rumah makan.

      Dalam proses produksi tuna loin tidak dibutuhkan banyak air, karena dalam
prosesnya tuna dikeringkan dengan cara dilap dengan tissue. Air yang digunakan
hanya untuk proses pencelupan tuna loin dalam blong, mencuci peralatan proses
dan membersihkan ruang setelah selesai produksi. Oleh karena itu, air sisa proses
pengolahan tuna tidak menimbulkan bau menyengat atau menghasilkan polutan
berbahaya.




48     POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                   BAB VII
                      KESIMPULAN DAN SARAN


7.1. Kesimpulan

1.   Usaha pengolahan tuna loin mempunyai peran penting bagi peningkatan
     pendapatan masyarakat karena membuka peluang kerja bagi masyarakat.
     Usaha ini juga memberi kepastian pendapatan bagi nelayan dan pengumpul
     (punggawa) karena harga dan akses pasar tuna dapat dijamin oleh
     perantara.

2.   Kerjasama yang saling menguntungkan pada UKM pengolahan tuna loin di
     lokasi penelitian sudah terbentuk cukup kuat antara nelayan, punggawa dan
     perantara. Perantara selain berperan sebagai pemberi dukungan modal kerja
     kepada punggawa dan nelayan, juga menjamin dan mempermudah akses
     pasar serta pengendali harga ikan di pasar lokal. Timbal baliknya punggawa
     berperan sebagai tenaga pengumpul ikan dari nelayan dan melakukan
     processing sesuai spesifikasi loin yang telah ditentukan oleh perantara

3.   Faktor yang harus diperhatikan adalah menjaga ketersediaan dan kontinyuitas
     bahan baku tuna, mengingat adanya permintaan yang terus meningkat dan
     belum dapat terpenuhinya permintaan pasar. Ketersediaan dan kontinyuitas
     bahan baku tuna loin menjadi faktor kritis ketika terjadi pergeseran bulan
     siklus terendah selama 7 bulan akibat pengaruh faktor alam. Proses produksi
     efektif berlangsung hanya 20 hari dalam 1 bulan selama siklus terendah.

4.   Faktor kritis usaha ini juga terdapat dalam hal melakukan proses fillet serta
     menentukan spesifikasi mutu dan grade. Kesalahan melakukan fillet akan
     mempengaruhi randemen produksi tuna loin. Penentuan spesifikasi mutu
     dan grade dapat mempengaruhi harga ikan.




                                                                              49
 KESIMPULAN DAN SARAN


5.   Biaya investasi yang diperlukan untuk usaha pengolahan tuna loin ini sebesar
     Rp44.970.000,- dimana sebesar 60% atau Rp26.982.000,- dipenuhi dari
     kredit investasi dan sisanya 40% atau Rp17.988.000,- adalah modal sendiri.
     Sedangkan kebutuhan modal kerja rata-rata per bulan adalah sebesar
     Rp99.901.727,-. Diasumsikan modal awal produksi yang harus dipenuhi
     adalah untuk menutupi biaya operasional selama 1,5 bulan. Hal ini dihitung
     berdasarkan lama waktu nelayan melaut, dimana diasumsikan paling cepat
     2 minggu baru mendarat membawa hasil. Kebutuhan modal kerja untuk
     1,5 bulan adalah sebesar Rp149.852.591,- dimana 60% dari modal kerja
     merupakan kredit dari bank, dengan jangka waktu pinjaman selama 3 tahun
     dan suku bunga 14% per tahun.

6.   Berdasarkan asumsi yang ada didapat NPV sebesar Rp140.422.993,- dan
     Net B/C Ratio 1,72 kali. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan tuna
     loin ini layak untuk dilaksanakan, dengan masa pengembalian modal selama
     1,81 tahun.

7.   Hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya variabel sebesar 5% dengan
     pendapatan tetap didapat nilai NPV Rp17,928,960,- IRR 18,77% dan Net
     B/C Ratio 1,09 kali dengan selama 2,7 tahun. Hasil analisis ini menunjukkan
     bahwa usaha ini layak dilaksanakan dengan kenaikan biaya variabel 5%.

8.   Usaha pengolahan tuna loin menjadi tidak layak untuk dilaksanakan apabila
     terjadi kenaikan biaya variabel sampai dengan 6%. Hasil analisis sensitivitas
     terhadap kenaikan biaya variabel sebesar 6% dengan pendapatan tetap
     didapat nilai NPV Rp(31.068.653,-), IRR 5,33% dan Net B/C Ratio 0,84 kali
     dengan masa pengembalian modal selama lebih dari 3 tahun.

9.   Usaha pengolahan tuna loin masih layak untuk dilaksanakan meski
     terjadi penurunan pendapatan sampai dengan 4%, dengan NPV sebesar
     Rp18.955.206,- Net B/C Ratio 1.10 dengan PBP selama 2,7 tahun. Usaha
     tidak lagi layak dilaksanakan apabila terjadi penurunan pendapatan sampai




50    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                      Usaha Pengolahan Tuna Loin


      5%, dengan NPV sebesar Rp(11.411.741,-), Net B/C Ratio 0,94 kali dan PBP
      lebih dari 3 tahun.

10.   Usaha pengolahan tuna loin masih layak dilaksanakan meski terjadi kenaikan
      biaya variabel dan penurunan pendapatan masing-masing sampai dengan
      2%, dimana didapat nilai NPV Rp30.691.486,- Net B/C Ratio 1,16 kali dan
      PBP selama 2,6 tahun. Akan tetapi usaha ini menjadi tidak layak dilaksanakan
      ketika biaya variabel mengalami kenaikan dengan penurunan pendapatan
      masing-masing sampai 3%, didapat nilai NPV Rp(24.174.267,-) dan Net B/C
      Ratio 0,88 kali dengan masa pengembalian modal lebih dari 3 tahun.

11.   Dari perhitungan proyeksi rugi laba usaha diketahui bahwa usaha pengolahan
      tuna loin menghasilkan laba (setelah pajak) rata-rata per tahun sebesar
      Rp149.140.516,25 dan rata-rata per bulan sebesar Rp12.428.376,35,
      dengan nilai profit on sales rata-rata per tahun sebesar 11,40 %.

12.   Berdasarkan potensi bahan baku, pangsa pasar, tingkat teknologi serta aspek
      finansial, maka usaha pengolahan tuna loin ini layak untuk dibiayai.




7.2. Saran



1.    Untuk pengembangan usaha pengolahan tuna loin, khususnya bagi UKM,
      diperlukan dukungan dari berbagai pihak terkait, baik pemerintah dalam hal
      regulasi dan kemudahan sertifikasi ekspor serta lembaga keuangan untuk
      permodalan

2.    Jaminan kontinyuitas sumberdaya tuna harus menjadi perhatian mengingat
      permintaan akan komoditi tuna terus meningkat

3.    Pemantauan dan bimbingan teknik penanganan mutu ikan terhadap UKM
      tuna loin sangat diperlukan mengingat adanya persaingan pasar luar negeri



                                                                              51
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
LAMPIRAN
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
                                                               Usaha Pengolahan Tuna Loin


              Lampiran 1 Asumsi-Asumsi Untuk Analisa Keuangan

No                              Asumsi                               Satuan      Jumlah
1    Periode Proyek                                                   tahun               3
2    Bulan kerja dalam setahun                                        bulan            12
3    Hari kerja dalam sebulan                                         hari             24
4    Output, Produksi dan Harga
     a. Produksi Tuna Loin per bulan                                   kg           2,000
      - Grade A (30%)                                                  kg             600
      - Grade B (40%)                                                  kg             800
      - Grade C (20%)                                                  kg             400
      - Grade D (10%)                                                  kg             200
     b. Penjulan harga Tuna Loin/kg                                   Rp/kg
      - Grade A                                                       Rp/kg        67,000
      - Grade B                                                       Rp/kg        57,000
      - Grade C                                                       Rp/kg        46,000
      - Grade D                                                       Rp/kg        24,000
     c. Lama menunggu pendapatan                                      hari                -
     d. Lama menunggu pendapatan                                      hari                -
     e. Rendemen hasil                                                 %               55
5    Tenaga kerja                                                     orang               4
6    Biaya Pemasaran dan Transportasi                               per bulan    2.000.000
7    Penggunaan input dan harga
     a. input bahan baku tuna loin (whole GG) dalam se bulan           kg           3,636
     b. harga pembelian bahan baku tuna loin (whole GG)
      - Grade A                                                       Rp/kg        28,000
      - Grade B                                                       Rp/kg        26,000
      - Grade C                                                       Rp/kg        20,000
      - Grade D                                                       Rp/kg        12,000
8    Bahan Pembantu
     a. Kemasan plastik PE (1 kg plastik untuk 180 kg ikan)            kg              12
     b. Es (Rp 200/kg ikan)                                            Rp         400,000




                                                                                      55
LAMPIRAN



 9   Suku bunga per tahun            %      14
10   Proposal Modal
     a. Kredit                       %      60
     b. Modal Sendiri                %      40
11   Jangka waktu kredit            tahun    3




56    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                               Lampiran 2. Biaya Investasi



                                                         Harga
                                                                    Jumlah        Umur        Nilai      Nilai
                                               Jumlah      per
     No      Komponen Biaya           Satuan                         Biaya      Ekonomis   Penyusutan    Sisa
                                                Fisik    Satuan
                                                                      Rp         (tahun)       Rp         Rp
                                                           Rp
     1    Alat Produksi dan Pengemas
          a. Meja potong stainless     unit       1     4,000,000   4,000,000      3         1,333,333           0
             steel
          b. Meja trimming             unit       1     4,000,000   4,000,000      3         1,333,333           0
             stainless steel
          c. Pisau fillet stainless    buah       1       480,000    480,000
             steel
          d. Pisau trimming            buah       3       400,000   1,200,000      2          600,000    600,000
             stainless steel
          e. Sterofoam kapasitas       unit      10       125,000   1,250,000      2          625,000    625,000
             80 kg AG 50
          f. Cutting board ukuran      unit       1     1,600,000   1,600,000      3          533,333            0
             1 x 2 meter
          g. Sepatu boot              pasang      4        65,000    260,000       1          260,000            0
          h. Basket (keranjang)        unit       1        70,000     70,000       2           35,000     35,000
             biru
          i. Basket (keranjang)        unit       3        70,000    210,000       2          105,000    105,000
             merah
          j. Blong plastik             unit       2       200,000    400,000       2          200,000    200,000
          k. Timbangan kapasitas       unit       1     1,500,000   1,500,000      3          500,000            0
             100 kg
                                                                                                                     Usaha Pengolahan Tuna Loin




57
                               2     Bangunan




58
                                     Ruang Proses*)               m2         60   500,000      30,000,000   10   3,000,000   6,000,000
                                                             Jumlah                            44,970,000        8,525,000   7,565,000
                                                                                                                                         LAMPIRAN




                                                                                                Jumlah
                                           Sumber dana investasi dari *) :        Share Dana    Nominal
                                                                                                  (Rp)
                               a. Kredit                                          60%          26,982,000
                               b. Dana sendiri                                    40%          17,988,000
                              * Bangunan Sangat Sederhana




POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                  Lampiran 3. Biaya Produksi

     a. Biaya Variabel
                                                                               Biaya per     Jumlah biaya    Jumlah biaya
      No              Struktur biaya             Satuan       Jumlah Fisik      satuan         1 bulan         1 tahun
                                                                                  Rp              Rp              Rp
       1   Bahan Baku Tuna Loin (Whole GG)
           Total (kg/bulan)                        kg            3,636                         87,272,727    1,047,272,727
           a. Grade A (30%)                        kg            1,091              28,000     30,545,455     366,545,455
           b. Grade B (40%)                        kg            1,455              26,000     37,818,182     453,818,182
           c. Grade C (20%)                        kg             727               20,000     14,545,455     174,545,455
           d. Grade D (10%)                        kg             364               12,000      4,363,636      52,363,636
       2   Bahan Pembantu                                                                                               0
           a. Kemasan (Plastik PE)                 Kg             12                22,000        264,000       3,168,000
           b. Es                                   Rp                              400,000      400,000.0       4,800,000
                                       Total Biaya Variabel                                    87,936,727    1,055,240,727



     a. Biaya Tetap

                                                                             Biaya Per Unit  Total Biaya      Total Biaya
      No                  Uraian                 Satuan       Jumlah Fisik
                                                                                  (Rp)      per Bulan (Rp)   1 Tahun (Rp)
       1   Tenaga Kerja                          Orang             4               500,000      2,000,000      24,000,000
       2   Listrik                                 1               1               200,000        200,000       2,400,000
       3   Air                                     1               1               200,000        200,000       2,400,000
       4   Transportasi dan Pemasaran                                                           2,000,000      24,000,000
       5   Penyusutan                              1               1             8,525,000     7,565,000.0     90,780,000
                                                                                                                             Usaha Pengolahan Tuna Loin




59
                                        Total Biaya Tetap                                      11,965,000     143,580,000
                                                                   Biaya Pemasaran




60
                                                               Jml                    Biaya Per     Biaya 1 bulan    Biaya Per
                              No            Struktur Biaya                Fisik
                                                             Satuan                  Satuan (Rp)        (Rp)        Tahun (Rp)
                                                                                                                                 LAMPIRAN




                              1    Tenaga Kerja                1          Org           2,000,000        0              -
                              2    Transportasi                                                          0              -
                              3    Biaya Lain-lain                                                       0              -




POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                      Usaha Pengolahan Tuna Loin


                            Lampiran 4. Kebutuhan Modal Kerja

                                                                          Biaya            Biaya
 No                          Struktur Biaya                            Per 1 Bulan       Per Tahun
                                                                           (Rp)             (Rp)
  1    Biaya Produksi                                                  99.901.727       1,115,605,727
  2    Biaya Pemasaran                                                       -                -
  3    Jumlah Modal Kerja                                              99,901,727       1,115,605,727
  4    Modal Kerja 1,5 bulan                                          149,852,591
 Sumber dana modal kerja dari *) :
 a. Kredit                                                   60%                 89,911,555
 b. Dana sendiri                                             40%                 59,941,036
* Modal kerja yang diperlukan adalah sama dengan biaya operasional dan over head cost
  untuk satu setengah bulan pertama



                     Lampiran 5. Proyeksi produksi dan pendapatan

                                                         Harga        Penjualan 1       Penjualan 1
 NO            Produk            Volume        Unit
                                                        Jual (Rp)      bulan (Rp)       tahun (Rp)
   1    Tuna Loin Grade A           600          Kg        67,000       40,200,000        482,400,000
   2    Tuna Loin Grade B           800          Kg        57,000       45,600,000        547,200,000
   3    Tuna Loin Grade C           400          Kg        46,000       18,400,000        220,800,000
   4    Tuna Loin Grade D           200          Kg        24,000         4,800,000        57,600,000
             TOTAL                 2,000                               109,000,000      1,308,000,000




                                                                                                  61
 LAMPIRAN


                         Lampiran 6. Angsuran Kredit Investasi
Bunga 14%                                                                           Rupiah
                          Angsuran
 Periode      Kredit                    Bunga        Total      Saldo Awal    Saldo Akhir
                           Tetap
 Tahun-0    26,982,000                                          26,982,000     26,982,000
 Bulan -1                    749,500    314,790     1,064,290   26,982,000     26,232,500
 Bulan -2                    749,500    306,046     1,055,546   26,232,500     25,483,000
 Bulan -3                    749,500    297,302     1,046,802   25,483,000     24,733,500
 Bulan -4                    749,500    288,558     1,038,058   24,733,500     23,984,000
 Bulan -5                    749,500    279,813     1,029,313   23,984,000     23,234,500
 Bulan -6                    749,500    271,069     1,020,569   23,234,500     22,485,000
 Bulan -7                    749,500    262,325     1,011,825   22,485,000     21,735,500
 Bulan -8                    749,500    253,581     1,003,081   21,735,500     20,986,000
 Bulan -9                    749,500    244,837      994,337    20,986,000     20,236,500
Bulan -10                    749,500    236,093      985,593    20,236,500     19,487,000
Bulan -11                    749,500    227,348      976,848    19,487,000     18,737,500
Bulan -12                    749,500    218,604      968,104    18,737,500     17,988,000
 Tahun-1                   8,994,000   3,200,365   12,194,365
 Bulan -1                    749,500    209,860      959,360    17,988,000     17,238,500
 Bulan -2                    749,500    201,116      950,616    17,238,500     16,489,000
 Bulan -3                    749,500    192,372      941,872    16,489,000     15,739,500
 Bulan -4                    749,500    183,628      933,128    15,739,500     14,990,000
 Bulan -5                    749,500    174,883      924,383    14,990,000     14,240,500
 Bulan -6                    749,500    166,139      915,639    14,240,500     13,491,000
 Bulan -7                    749,500    157,395      906,895    13,491,000     12,741,500
 Bulan -8                    749,500    148,651      898,151    12,741,500     11,992,000
 Bulan -9                    749,500    139,907      889,407    11,992,000     11,242,500
Bulan -10                    749,500    131,163      880,663    11,242,500     10,493,000
Bulan -11                    749,500    122,418      871,918    10,493,000      9,743,500
Bulan -12                    749,500    113,674      863,174      9,743,500     8,994,000




62      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                        Usaha Pengolahan Tuna Loin

                                                                               Rupiah
                     Angsuran
Periode     Kredit                 Bunga        Total      Saldo Awal    Saldo Akhir
                      Tetap
Tahun-2               8,994,000   1,941,205   10,935,205
Bulan -1               749,500     104,930      854,430      8,994,000     8,244,500
Bulan -2               749,500      96,186      845,686      8,244,500     7,495,000
Bulan -3               749,500      87,442      836,942      7,495,000     6,745,500
Bulan -4               749,500      78,698      828,198      6,745,500     5,996,000
Bulan -5               749,500      69,953      819,453      5,996,000     5,246,500
Bulan -6               749,500      61,209      810,709      5,246,500     4,497,000
Bulan -7               749,500      52,465      801,965      4,497,000     3,747,500
Bulan -8               749,500      43,721      793,221      3,747,500     2,998,000
Bulan -9               749,500      34,977      784,477      2,998,000     2,248,500
Bulan -10              749,500      26,233      775,733      2,248,500     1,499,000
Bulan -11              749,500      17,488      766,988      1,499,000      749,500
Bulan -12              749,500       8,744      758,244        749,500             -
Tahun-3               8,994,000    682,045     9,676,045




                                                                                 63
 LAMPIRAN


                       Lampiran 7. Angsuran Kredit Modal Kerja
Bunga 14%                                                                           Rupiah
                          Angsuran
 Periode      Kredit                    Bunga         Total      Saldo Awal   Saldo Akhir
                           Tetap
 Tahun-0    89,911,555                                           89,911,555    89,911,555
 Bulan -1                  2,497,543    1,048,968    3,546,511   89,911,555    87,414,011
 Bulan -2                  2,497,543    1,019,830    3,517,373   87,414,011    84,916,468
 Bulan -3                  2,497,543     990,692     3,488,235   84,916,468    82,418,925
 Bulan -4                  2,497,543     961,554     3,459,097   82,418,925    79,921,382
 Bulan -5                  2,497,543     932,416     3,429,959   79,921,382    77,423,839
 Bulan -6                  2,497,543     903,278     3,400,821   77,423,839    74,926,295
 Bulan -7                  2,497,543     874,140     3,371,683   74,926,295    72,428,752
 Bulan -8                  2,497,543     845,002     3,342,545   72,428,752    69,931,209
 Bulan -9                  2,497,543     815,864     3,313,407   69,931,209    67,433,666
Bulan -10                  2,497,543     786,726     3,284,269   67,433,666    64,936,123
Bulan -11                  2,497,543     757,588     3,255,131   64,936,123    62,438,580
Bulan -12                  2,497,543     728,450     3,225,993   62,438,580    59,941,036
 Tahun-1                  29,970,518   10,664,509   40,635,028
 Bulan -1                  2,497,543     699,312     3,196,855   59,941,036    57,443,493
 Bulan -2                  2,497,543     670,174     3,167,717   57,443,493    54,945,950
 Bulan -3                  2,497,543     641,036     3,138,579   54,945,950    52,448,407
 Bulan -4                  2,497,543     611,898     3,109,441   52,448,407    49,950,864
 Bulan -5                  2,497,543     582,760     3,080,303   49,950,864    47,453,320
 Bulan -6                  2,497,543     553,622     3,051,165   47,453,320    44,955,777
 Bulan -7                  2,497,543     524,484     3,022,027   44,955,777    42,458,234
 Bulan -8                  2,497,543     495,346     2,992,889   42,458,234    39,960,691
 Bulan -9                  2,497,543     466,208     2,963,751   39,960,691    37,463,148
Bulan -10                  2,497,543     437,070     2,934,613   37,463,148    34,965,605
Bulan -11                  2,497,543     407,932     2,905,475   34,965,605    32,468,061
Bulan -12                  2,497,543     378,794     2,876,337   32,468,061    29,970,518




64      POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                          Usaha Pengolahan Tuna Loin

                                                                                    Rupiah
                       Angsuran
Periode     Kredit                     Bunga        Total       Saldo Awal    Saldo Akhir
                        Tetap
Tahun-2                29,970,518     6,468,637   36,439,155
Bulan -1                2,497,543       349,656    2,847,199     29,970,518    27,472,975
Bulan -2                2,497,543       320,518    2,818,061     27,472,975    24,975,432
Bulan -3                2,497,543       291,380    2,788,923     24,975,432    22,477,889
Bulan -4                2,497,543       262,242    2,759,785     22,477,889    19,980,345
Bulan -5                2,497,543       233,104    2,730,647     19,980,345    17,482,802
Bulan -6                2,497,543       203,966    2,701,509     17,482,802    14,985,259
Bulan -7                2,497,543       174,828    2,672,371     14,985,259    12,487,716
Bulan -8                2,497,543       145,690    2,643,233     12,487,716     9,990,173
Bulan -9                2,497,543       116,552    2,614,095      9,990,173     7,492,630
Bulan -10               2,497,543        87,414    2,584,957      7,492,630     4,995,086
Bulan -11               2,497,543        58,276    2,555,819      4,995,086     2,497,543
Bulan -12               2,497,543        29,138    2,526,681      2,497,543            (0)
Tahun-3                29,970,518     2,272,764   32,243,282




                                                                                    Rupiah
                Angsuran      Angsuran           Total
   Tahun                                                       Saldo Awal     Saldo Akhir
                 Pokok         Bunga           Angsuran
                                                               116,893,555    116,893,555
      1          38,964,518    13,864,874      52,829,393      116,893,555     77,929,036
      2          38,964,518       8,409,842    47,374,360       77,929,036     38,964,518
      3          38,964,518       2,954,809    41,919,327       38,964,518               0




                                                                                    65
LAMPIRAN


                         Lampiran 8. Proyeksi Rugi laba Usaha
                                                                                 Rupiah
                                                         Tahun
No                Uraian
                                          1                2                3
 A   Penerimaan
       Total Penerimaan               1,308,000,000    1,308,000,000    1,308,000,000
 B   Pengeluaran
     i. Biaya Variabel                1,055,240,727    1,055,240,727    1,055,240,727
     ii. Biaya Tetap                    60,365,000       60,365,000       60,365,000
     iii. Depresiasi                     8,525,000        8,525,000        8,525,000
     iv. Angsuran Bunga                 13,864,874        8,409,842        2,954,809
       Total Pengeluaran              1,137,995,602    1,132,540,569    1,127,085,537
 C   R/L Sebelum Pajak                 170,004,398      175,459,431      180,914,463
 F   Pajak (15%)                        25,500,660       26,318,915       27,137,170
 G   Laba Setelah Pajak                144,503,739      149,140,516      153,777,294
 H   Profit on Sales                          11.05%           11.40%           11.76%
 I   BEP: Rupiah                       428,246,903      400,017,740      371,788,578
         Grade A                       157,940,601      147,529,479      137,118,356
         Grade B                       179,156,502      167,346,871      155,537,240
         Grade C                        72,291,220       67,525,930       62,760,641
         Grade D                        18,858,579       17,615,460       16,372,341
     BEP: KG                                   7,858            7,340            6,822
         Grade A                               2,357            2,202            2,047
         Grade B                               3,143            2,936            2,729
         Grade C                               1,572            1,468            1,364
         Grade D                                 786              734              682




66    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                    Usaha Pengolahan Tuna Loin


                              Lampiran 9. Proyeksi Arus Kas
                                                                                                Rupiah
                                                               Tahun
No            Uraian
                                     0                 1                  2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                           1,308,000,000     1,308,000,000      1,308,000,000
     2. Kredit
        a. Investasi              26,982,000
        b. Modal Kerja            89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi              17,988,000
        b. Modal Kerja            59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                                 7,565,000
     Total Arus Masuk            194,822,591      1,308,000,000     1,308,000,000      1,315,565,000
     Arus Masuk unt
                                     -            1,248,058,964     1,308,000,000      1,315,565,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi          44,970,000           260,000           3,390,000          260,000
      2. Biaya Variabel          149,852,591      1,055,240,727     1,055,240,727      1,055,240,727
      3. Biaya Tetap                                60,365,000          60,365,000       60,365,000
      4. Angsuran Pokok                             38,964,518          38,964,518       38,964,518
      5. Angsuran Bunga                             13,864,874           8,409,842        2,954,809
      6. Pajak                                      25,500,660          26,318,915       27,137,170
     Total Arus Keluar           194,822,591      1,194,195,780     1,192,689,002      1,184,922,224
     Arus Keluar unt
                                 194,822,591      1,141,366,387     1,145,314,642      1,143,002,897
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)               -             113,804,220         115,310,998      130,642,776
D    CASH FLOW UNTUK
                               (194,822,591)       106,692,577         162,685,358      172,562,103
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)              1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
      Present Value             (194,822,591)       93,589,979         125,181,100      116,474,504
E     CUMMULATIVE              (194,822,591)      (101,232,611)         23,948,489      140,422,993




                                                                                                  67
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)            140,422,993
     IRR                      49.89%
     Net B/C                     1.72   bulan
     PBP                         1.81   tahun




68    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                   Usaha Pengolahan Tuna Loin


     Lampiran 10. Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel Sebesar 5.0%


                                                                                               Rupiah
                                                              Tahun
No             Uraian
                                    0                 1                  2                 3
A      Arus Masuk
      1. Total Penjualan                         1,308,000,000     1,308,000,000      1,308,000,000
      2. Kredit
         a. Investasi            26,982,000
         b. Modal Kerja          89,911,555
      3. Modal Sendiri
         a. Investasi            17,988,000
         b. Modal Kerja          59,941,036
      4. Nilai Sisa Proyek                                                                7,565,000
      Total Arus Masuk          194,822,591      1,308,000,000     1,308,000,000      1,315,565,000
      Arus Masuk unt
                                    -            1,248,058,964     1,308,000,000      1,315,565,000
      Menghitung IRR
B      Arus Keluar
       1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000           3,390,000          260,000
       2. Biaya Variabel        149,852,591      1,108,002,764     1,108,002,764      1,108,002,764
       3. Biaya Tetap                              60,365,000          60,365,000        60,365,000
       4. Angsuran Pokok                           38,964,518          38,964,518        38,964,518
       5. Angsuran Bunga                           13,864,874           8,409,842         2,954,809
       6. Pajak                                    25,500,660          26,318,915        27,137,170
      Total Arus Keluar         194,822,591      1,246,957,816     1,245,451,038      1,237,684,261
      Arus Keluar unt
                                194,822,591      1,194,128,423     1,198,076,678      1,195,764,933
      Menghitung IRR
C     Arus Bersih (NCF)                    (0)     61,042,184          62,548,962        77,880,739
D     CASH FLOW UNTUK
                               (194,822,591)       53,930,540         109,923,322       119,800,067
      MENGHITUNG IRR
       Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
       Present Value           (194,822,591)       47,307,491          84,582,427        80,861,633
E      CUMMULATIVE             (194,822,591)     (147,515,100)       (62,932,673)        17,928,960
No             Uraian                               Tahun




                                                                                                 69
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)             17,928,960
     IRR                      18.77%
     Net B/C                     1.09
     PBP                            2.7   tahun
                                 32.9     bulan




70    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                  Usaha Pengolahan Tuna Loin


         Lampiran 11. Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel 6%


                                                                                              Rupiah
                                                            Tahun
No            Uraian
                                  0                  1                  2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                         1,308,000,000      1,308,000,000     1,308,000,000
     2. Kredit
        a. Investasi            26,982,000
        b. Modal Kerja          89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi            17,988,000
        b. Modal Kerja          59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                               7,565,000
     Total Arus Masuk          194,822,591      1,308,000,000      1,308,000,000     1,315,565,000
     Arus Masuk unt
                                   -            1,248,058,964      1,308,000,000     1,315,565,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000           3,390,000          260,000
      2. Biaya Variabel        149,852,591      1,129,107,578      1,129,107,578     1,129,107,578
      3. Biaya Tetap                              60,365,000          60,365,000       60,365,000
      4. Angsuran Pokok                           38,964,518          38,964,518       38,964,518
      5. Angsuran Bunga                           13,864,874           8,409,842        2,954,809
      6. Pajak                                    25,500,660          26,318,915       27,137,170
     Total Arus Keluar         194,822,591      1,268,062,631      1,266,555,853     1,258,789,075
     Arus Keluar unt
                               194,822,591      1,215,233,238      1,219,181,493     1,216,869,748
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)                    (0)     39,937,369          41,444,147       56,775,925
D    CASH FLOW UNTUK
                              (194,822,591)       32,825,726          88,818,507       98,695,252
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
      Present Value           (194,822,591)       28,794,496          68,342,957       66,616,484
E     CUMMULATIVE             (194,822,591)     (166,028,095)       (97,685,138)      (31,068,653)




                                                                                               71
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)          Rp(31,068,653)
     IRR                        5.53%
     Net B/C                        0.84
     PBP                   lebih dari 3    tahun
                          Lebih dari 60    bulan




72    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                  Usaha Pengolahan Tuna Loin


          Lampiran 12. Analisis Sensitivitas Penurunan Pendapatan 4%


                                                                                              Rupiah
                                                             Tahun
No            Uraian
                                   0                 1                  2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                         1,255,680,000     1,255,680,000      1,255,680,000
     2. Kredit
        a. Investasi            26,982,000
        b. Modal Kerja          89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi            17,988,000
        b. Modal Kerja          59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                               7,565,000
     Total Arus Masuk          194,822,591      1,255,680,000     1,255,680,000      1,263,245,000
     Arus Masuk unt                         -   1,195,738,964     1,255,680,000      1,263,245,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000           3,390,000          260,000
      2. Biaya Variabel        149,852,591      1,055,240,727     1,055,240,727      1,055,240,727
      3. Biaya Tetap                              60,365,000          60,365,000       60,365,000
      4. Angsuran Pokok                           38,964,518          38,964,518       38,964,518
      5. Angsuran Bunga                           13,864,874           8,409,842        2,954,809
      6. Pajak                                    25,500,660          26,318,915       27,137,170
     Total Arus Keluar         194,822,591      1,194,195,780     1,192,689,002      1,184,922,224
     Arus Keluar unt
                               194,822,591      1,141,366,387     1,145,314,642      1,143,002,897
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)                      -     61,484,220          62,990,998       78,322,776
D    CASH FLOW UNTUK
                              (194,822,591)       54,372,577         110,365,358      120,242,103
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
      Present Value           (194,822,591)       47,695,243          84,922,559       81,159,995
E     CUMMULATIVE             (194,822,591)     (147,127,348)       (62,204,789)       18,955,206




                                                                                                73
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)           Rp18,955,206
     IRR                      19.05%
     Net B/C                     1.10
     PBP                            2.7   tahun
                                 32.8     bulan




74    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                  Usaha Pengolahan Tuna Loin


         Lampiran 13. Analisis Sensitivitas Penurunan Pendapatan 5%

                                                                                              Rupiah
                                                             Tahun
No            Uraian
                                   0                 1                  2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                         1,242,600,000     1,242,600,000      1,242,600,000
     2. Kredit
        a. Investasi            26,982,000
        b. Modal Kerja          89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi            17,988,000
        b. Modal Kerja          59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                               7,565,000
     Total Arus Masuk          194,822,591      1,242,600,000     1,242,600,000      1,250,165,000
     Arus Masuk unt
                                            -   1,182,658,964     1,242,600,000      1,250,165,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000          3,390,000           260,000
      2. Biaya Variabel        149,852,591      1,055,240,727     1,055,240,727      1,055,240,727
      3. Biaya Tetap                              60,365,000         60,365,000        60,365,000
      4. Angsuran Pokok                           38,964,518         38,964,518        38,964,518
      5. Angsuran Bunga                           13,864,874          8,409,842         2,954,809
      6. Pajak                                    25,500,660         26,318,915        27,137,170
     Total Arus Keluar         194,822,591      1,194,195,780     1,192,689,002      1,184,922,224
     Arus Keluar unt
                               194,822,591      1,141,366,387     1,145,314,642      1,143,002,897
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)                      -     48,404,220         49,910,998        65,242,776
D    CASH FLOW UNTUK
                              (194,822,591)       41,292,577         97,285,358       107,162,103
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
      Present Value           (194,822,591)       36,221,558         74,857,924        72,331,367
E     CUMMULATIVE             (194,822,591)     (158,601,032)       (83,743,108)      (11,411,741)




                                                                                                75
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)            (11,411,741)
     IRR                      10.92%
     Net B/C                     0.94
     PBP                  Lebih dari 3   tahun
                         Lebih dari 60   bulan




76    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                  Usaha Pengolahan Tuna Loin


         Lampiran 14. Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel 2%
                      dan Penurunan Pendapatan 2%
                                                                                              Rupiah
                                                             Tahun
No            Uraian
                                   0                 1                  2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                         1,281,840,000     1,281,840,000      1,281,840,000
     2. Kredit
        a. Investasi            26,982,000
        b. Modal Kerja          89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi            17,988,000
        b. Modal Kerja          59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                               7,565,000
     Total Arus Masuk          194,822,591      1,281,840,000     1,281,840,000      1,289,405,000
     Arus Masuk unt
                                            -   1,221,898,964     1,281,840,000      1,289,405,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000           3,390,000          260,000
      2. Biaya Variabel        149,852,591      1,076,345,542     1,076,345,542      1,076,345,542
      3. Biaya Tetap                              60,365,000          60,365,000       60,365,000
      4. Angsuran Pokok                           38,964,518          38,964,518       38,964,518
      5. Angsuran Bunga                           13,864,874           8,409,842        2,954,809
      6. Pajak                                    25,500,660          26,318,915       27,137,170
     Total Arus Keluar         194,822,591      1,215,300,594     1,213,793,816      1,206,027,039
     Arus Keluar unt
                               194,822,591      1,162,471,202     1,166,419,456      1,164,107,711
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)                      -     66,539,406          68,046,184       83,377,961
D    CASH FLOW UNTUK
                              (194,822,591)       59,427,762         115,420,544      125,297,289
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772             0.7695            0.6750
      Present Value           (194,822,591)       52,129,616          88,812,360       84,572,101
E     CUMMULATIVE             (194,822,591)     (142,692,975)       (53,880,615)       30,691,486




                                                                                                77
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)           Rp30,691,486
     IRR                      22.13%
     Net B/C                     1.16
     PBP                            2.6   tahun
                                 31.6     bulan




78    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
                                                                  Usaha Pengolahan Tuna Loin


          Lampiran 15 Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Variabel 3%
                      dan Penurunan Pendapatan 3%
                                                                                               Rupiah
                                                             Tahun
No            Uraian
                                   0                 1                   2                 3
A     Arus Masuk
     1. Total Penjualan                         1,268,760,000      1,268,760,000      1,268,760,000
     2. Kredit
        a. Investasi            26,982,000
        b. Modal Kerja          89,911,555
     3. Modal Sendiri
        a. Investasi            17,988,000
        b. Modal Kerja          59,941,036
     4. Nilai Sisa Proyek                                                                7,565,000
     Total Arus Masuk          194,822,591      1,268,760,000      1,268,760,000      1,276,325,000
     Arus Masuk unt
                                   -            1,208,818,964      1,268,760,000      1,276,325,000
     Menghitung IRR
B     Arus Keluar
      1. Biaya Investasi        44,970,000           260,000           3,390,000           260,000
      2. Biaya Variabel        149,852,591      1,086,897,949      1,086,897,949      1,086,897,949
      3. Biaya Tetap                              60,365,000          60,365,000        60,365,000
      4. Angsuran Pokok                           38,964,518          38,964,518        38,964,518
      5. Angsuran Bunga                           13,864,874           8,409,842         2,954,809
      6. Pajak                                    25,500,660          26,318,915        27,137,170
     Total Arus Keluar         194,822,591      1,225,853,001      1,224,346,224      1,216,579,446
     Arus Keluar unt
                               194,822,591      1,173,023,609      1,176,971,864      1,174,660,119
     Menghitung IRR
C    Arus Bersih (NCF)                      -     42,906,999          44,413,776        59,745,554
D    CASH FLOW UNTUK
                              (194,822,591)       35,795,355          91,788,136       101,664,881
     MENGHITUNG IRR
      Discount Factor (14%)            1.0000            0.8772              0.7695            0.6750
      Present Value           (194,822,591)       31,399,434          70,627,990        68,620,899
E     CUMMULATIVE             (194,822,591)     (163,423,157)        (92,795,167)      (24,174,267)




                                                                                                 79
LAMPIRAN



 F   ANALISIS
     KELAYAKAN USAHA
     NPV (14%)          Rp(24,174,267)
     IRR                        7.44%
     Net B/C                      0.88
     PBP                  Lebih dari 3   tahun
                         Lebih dari 60   bulan




80    POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:315
posted:7/7/2011
language:Indonesian
pages:96