Docstoc

BAB III

Document Sample
BAB III Powered By Docstoc
					                                 BAB III

                          HASIL PENELITIAN



                         A.      Lokasi Desa Sepi

        Klaten mempunyai banyak objek wisata baik wisata alam maupun

wisata budaya. Salah satu objek wisata budaya yang ada di Klaten yaitu objek

wisata budaya yang ada di Kecamatan Cawas. Kecamatan Cawas sendiri

mempunyai luas wilayah 34,47 km2 dengan jumlah penduduk 64.740 jiwa.

Rata-rata pertumbuhan jumlah penduduknya 0,3 %. Sebagian besar

wilayahnya digunakan untuk pertanian dan penduduknya bermata pencaharian

sebagai petani.

        Batas wilayah Kecamatan Cawas

Sebelah utara      : Kecamatan Karangdowo

Sebelah selatan    : Kecamatan Bulu

Sebelah barat      : Kecamatan Bayat

Sebelah timur      : Kec. Weru Sukoharjo

        Kecamatan Cawas mempunyai 14 kelurahan, Desa Sepi termasuk

kedalam kelurahan Barepan. Desa ini terletak ± 1 km dari Kecamatan Cawas

ke arah timur, untuk menuju Kecamatan Cawas khususnya Desa Sepi, saat ini

sudah tersedia transportasi darat dari beberapa arah, yaitu:

1. Solo – Ceper – Pedan – Cawas           : ± 45 km

2. Weru (Sukoharjo) – Cawas               : ± 5 km

3. Kelir – Cawas                          : ± 10 km

4. Klaten – Bayat – Cawas                 : ± 15 km
                   B.      Petilasan Sunan Kalijogo

1. Sejarah perjalanan Sunan Kalijogo

          Pada zaman dahulu, di keraton Tuban ada seorang raden yang

   gagah dan tampan. Dia bernama Raden Said. Semasa remaja Raden Said

   berperilaku buruk. Dia dianggap sebagai anak nakal dan sering

   menyusahkan orang tuanya. Suatu hari bertemulah Raden Said dengan

   seorang kyai yaitu Sunan Bonang. Ternyata Sunan Bonang dapat

   meluruskan perilaku Raden Said yang bringas, Raden Said pun luluh dan

   menjadi murid Sunan Bonang.

          Setelah Raden Said masuk Islam, beliau diajarkan berbagai syariat

   Islam dan oleh Sunan Bonang diberi nama Kalijogo. Sunan Kalijogo lalu

   diutus Sunan Bonang mengembara dan dakwah Islam ke arah selatan.

   Sampailah Sunan Kalijogo di daerah Karangasem tepatnya di dusun

   Pancoran. Di dusun tersebut, beliau bertemu dengan seorang penduduk

   yang baru saja mengambil air di kali. Saat ini menjelang Isya’ dan Sunan

   Kalijogo meminta air kepada penduduk tadi untuk berwudlu. Tetapi orang

   tersebut tidak memperbolehkan karena memang daerah itu sedang

   kesulitan air dan harus ke tempat yang jauh untuk mendapat air. Sunan

   Kalijogo lalu meminta kemudahan kepada Tuhan untuk mendapat air.

   Beliau menancapkan tongkatnya dan setelah dicabut, air keluar dari tanah.

   Oleh sebab itu, dusun tersebut diberi nama Dusun Pancoran. Dari Dusun

   Pancoran, beliau berjalan ke arah utara.
       Hampir semalam berjalan, Sunan Kalijogo tiba di sebuah area

persawahan yang juga kekurangan air. Saat itu sudah tiba waktu sholat

Subuh dan beliau kesulitan mendapat air wudlu. Beliau pun berdoa kepada

Tuhan, lalu diberi petunjuk agar mencongkel tanah dengan tongkatnya.

Dari dalam tanah keluar air dan Sunan Kalijogo segera wudlu. Tetapi

dalam sholatnya, Sunan Kalijogo kurang konsentrasi karena terganggu

oleh ramainya petani yang sudah ada di sawah. Beliau membatalkan

sholatnya dan berkata, “Apakah keberadaanku di sini, hanya untuk

istirahat (dedukuh)? Semoga kelak di sini berdiri desa dukuh.”

       Begitulah akhirnya saat ini ada sebuah desa di Kecamatan Cawas

yang diberi nama Dukuh dan mempunyai sumur tua peninggalan Sunan

Kalijogo.

       Karena sholat subuhnya terganggu, beliau berjalan ke arah timur.

Beliau menyusuri bibir sungai dan setelah menoleh ke tengah sungai. Di

sana ada sebuah batu karang dan beliau segera turun untuk sholat Subuh.

Dalam sholatnya, beliau merasa tenang dan khusyuk. Setelah selesai

Sunan Kalijogo berkata, “Di sini suasana tenang dan sepi, tidak ada

suasana yang mengganggu sholatku, semoga suatu saat nanti di sini

berdiri desa Sepi.”

       Oleh sebab itu, di tempat tersebut berdiri sebuah desa dengan

nama Dusun Sepi dan mempunyai peninggalan berupa petilasan tempat

sholat Sunan Kalijogo. (Wawancara dengan Bapak Warno Sudarso, Juru

Kunci Petilasan, 20 Juni 2006)
2. Kegiatan di dalam objek

   a. Sesirih (Semedi/Ngalap berkah)

          Masyarakat Jawa biasanya melakukan acara semedi pada malam

   Jumat Kliwon. Hal ini dikarenakan malam Jumat Kliwon dipercaya

   sebagai malam keramat. Tetapi berbeda dengan waktu semedi di Petilasan

   ini. Di sini tidak ditentukan kapan waktunya untuk bersemedi. Tidak ada

   hari khusus, hanya menungu kapan seseorang siap untuk bersemedi di

   petilasan tersebut. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum

   melakukan semedi. Diantaranya harus bersih/suci baik lahir maupun batin.

   Bersih secara lahir yaitu bersih badan dan pakaian dari segala bentuk

   najis. Biasanya seseorang diharuskan mandi besar dengan niat untuk

   menyucikan badan. Bersih secara batin yaitu bersih hati dan pikiran.

   Seseorang yang akan bersemedi tidak boleh mempunyai maksud yang

   buruk. Hati dan pikiran dicurahkan/difokuskan kepada Tuhan agar diberi

   petunjuk dan kemudahan dalam mencapai keinginan. Kedua hal ini

   biasanya diiringi dengan berpuasa minimal satu hari sebelum semedi.

          Saat bersemedi, hal yang dilakukan adalah berdiam diri serta

   menyebut nama Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya. Atau dengan

   mengamalkan bacaan-bacaan dari kitab suci Al Qur’an. Jika apa yang

   telah dilakukan di petilasan belum berhasil atau belum dikabulkan, maka

   ada satu pantangan yaitu tidak boleh menghujat tempat tersebut.
          Adapun benda sebagai piranti/alat bersemedi, yaitu:

   1. Kembang liman

       Yaitu bunga sebanyak 5 jenis, digunakan untuk wewangian dan

       ditaburkan di petilasan.

   2. Kemenyan (tidak mutlak)


   b. Sukuran (Kondangan)

          Acara ini biasanya dilakukan penduduk sekitar saat tanggal 1

   Muhharam. Acara ini umumnya diikuti oleh bapak-bapak/kepala rumah

   tangga. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada

   Tuhan yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya selama 1 tahun

   yang lalu. Selanjutnya masyarakat bersama-sama berdoa agar 1 tahun

   yang akan datang diberi limpahan rizki, rahmat dan dihindarkan dari

   musibah. Makanan yang dibawa untuk kondangan yaitu nasi tumpeng,

   lauk-pauk, buah-buahan dan hasil panen yang lain. Kondangan ini

   biasanya dipimpin tetua masyarakat. Setelah selesai, makanan dimakan

   bersama atau ada yang dibawa pulang.



3. Kerajinan Tenun Tradisional

          Kerajinan ini adalah sebagai objek wisata pendukung di

   Kecamatan Cawas. Lebih tepatnya kawasan industi tenun banyak terdapat

   di Dusun Bendungan Kecamatan Cawas. Letaknya ± 1 km ke arah timur

   dari Desa Sepi. Kerajinan ini masih menggunakan bahan dan alat yang

   sederhana namun cukup sulit untuk dipelajari pengoperasian alatnya.
        Alat dan bahan yang digunakan antara lain:

1) Benang (lawe)

2) Klethek, sebagai alat pemintal

3) Gilingan, sebagai alat pemintal

4) Erek, digunakan untuk menenun

5) Tostel, digunakan untuk menenun

Perangkat tostel sendiri, masih terdiri dari beberapa bagian, antara lain:

1) Teropong, digunakan untuk menjahit/menganyam.

2) Bom, digunakan sebagai wadah benang pintal.

3) Gun, digunakan sebagai pemisah helai benang.

Kegiatan menenun itu sendiri mempunyai sebutan yaitu ngeklos.

        Hasil dari tenunan berupa kain yang lebarnya 1 m. Warna dasar

biasanya putih dengan garis warna-warni sesuai keinginan. Kain hasil

tenunan digunakan untuk kain lap dan ada pula yang dibuat selendang.

Produksi per hari berkisar antara 15 – 20 m. Untuk penjualan biasanya

dijemput distributor dengan harga jual Rp 1.500 per meter. Dari

distributor, kemudian dipasarkan kembali ke kota diantaranya Solo,

Semarang, dan Yogyakarta. (Wawancara dengan Ibu Ngadiyem, pengrajin

tenun, 20 Juni 2006)
                 C.     Potensi Petilasan Sunan Kalijogo

1. Atraksi

             Di objek ini biasanya ramai dikunjungi pengunjung pada tanggal 1

   Muharam. Kegiatan yang dilakukan adalah ngalap berkah atau memohon

   dan berdoa kepada Tuhan agar dilimpahkan rahmatNya. Selain itu

   pengunjung juga dapat melihat keunikan batu petilasan Sunan Kalijogo

   yang membentuk cekungan saat digunakan sholat.

2. Aksesibilitas

             Untuk menuju objek petilasan Sunan Kalijogo sangat mudah,

   selain dapat ditempuh dengan bus, bisa juga dengan sepeda motor atau

   mobil pribadi. Jika ditempuh dengan bus, ada beberapa jalur yang dapat

   ditempuh, yaitu Gunung Kidul – Kelir – Cawas, Solo – Trucuk – Pedan –

   Cawas, dan Klaten – Bayat – Cawas.

3. Amenitas

   a. Fasilitas

                Fasilitas yang ada di petilasan Sunan Kalijogo belum

       memadai. Fasilitas yang kini ada yaitu masjid, sementara fasilitas

       pendukung yang lain belum tersedia.

   b. Kondisi

                Kondisi objek saat ini kurang begitu baik. Dilihat dari segi

       kebersihan, lokasi di dalam petilasan ada rumput liar yang tumbuh.

       Selain itu, jalan aspal dari arah Karangdowo dan Sukoharjo saat ini

       rusak berat. Jaringan listrik dan air di sini sudah cukup baik.
     4. Aktifitas

                Aktifitas yang biasa dilakukan pengunjung baik pada tanggal 1

        Muharam atau tidak adalah ngalab berkah. Di sana pengunjung juga dapat

        melihat kegiatan atau ritual yang dilakukan pengunjung lain.



                           D.     Usaha Pengelolaan

     1. Peran Masyarakat

                Objek wisata petilasan Sunan Kalijogo selama ini dikelola oleh

        masyarakat   sekitar.   Selama   ini,   masyarakat   bekerjasama   untuk

        melestarikan objek tersebut. Usaha pelestarian dan pengelolaan antara

        lain: merenovasi pagar pembatas, membersihkan lokasi objek dan

        memperindah kondisi objek.



E.      Kendala yang Dihadapi

            Sebagai objek wisata yang dikelola masyarakat, tentu mempunyai

     banyak kekurangan yang dihadapi. Kendala dalam pengelolaan antara lain:

     1. Pariwisata

                Menurut Warto Sudarso (Juru Kunci Petilasan), selama ini pihak

        DIPARTA Klaten belum memperhatikan kelangsungan objek. Secara

        langsung Dinas Pariwisata belum melihat kondisi objek dan belum

        meninjau perkembangannya.
2. Masyarakat

          Berbagai kekurangan dan kendala yang dihadapi masyarakat yaitu

   tidak adanya sumber dana pengelolaan. Selama ini dana yang digunakan

   adalah hasil iuran warga. Hal inilah yang harus mendapat perhatian, demi

   kelangsungan objek wisata petilasan Sunan Kalijogo.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:76
posted:7/7/2011
language:Indonesian
pages:9