Docstoc

Tahapan Perkembangan Anak Balita

Document Sample
Tahapan Perkembangan Anak Balita Powered By Docstoc
					Tahapan Perkembangan Anak Balita (0-59 bulan) dan Anak Pra-Sekolah (60-72 bulan)


Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM

Saturday, 06 February 2010 10:17



Orang tua, pengasuh dan pendidik perlu mengetahui tahapan perkembangan anak (anak
didik), apakah perkembangannya berlangsung normal atau ada penyimpangan. Bilamana
pendidik mencurigai anak didiknya mengalami penyimpangan perkembangan atau terlambat
berkembang dibandingkan dengan usianya maka dapat memberitahu orang tua agar segera
memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan sehingga dapat ditanggulangi secara dini.




Beberapa hal yang perlu diketahui tentang proses tumbuh kembang anak yaitu proses
pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung teratur, saling berkaitan dan
berkesinambungan. Secara umum ciri-ciri tumbuh kembang anak adalah:

Pertumbuhan dan perkembangan terjadi bersamaan dan berkorelasi. Misalnya: pertumbuhan
otak dan serabut syaraf anak akan disertai perubahan fungsi yaitu perkembangan
intelegensianya.

Perkembangan mempunyai pola yang teratur dan berurutan. Pertumbuhan dan perkembangan
pada tahap awal akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan tahap selanjutnya.
Misalnya: sebelum anak bisa berjalan, ia harus bisa berdiri dahulu.

Perkembangan fungsi organ tubuh mempunyai pola yang tetap yaitu: perkembangan lebih
dahulu terjadi pada daerah kepala kemudian menuju kearah bawah (kaudal), perkembangan
terjadi pada kemampuan gerak kasar terlebih dahulu, kemudian diikuti kemampuan gerak
halus.

Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan
proses dari dalam (intrinsik) yang terjadi dengan sendirinya sesuai bakat dan potensi anak.
Sedangkan proses belajar akan mengasah kemampuan anak sehingga anak memiliki
kemampuan menggunakan sumber dan potensi yang diwariskan pada anak.

Perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak
dari tahapan umum ketahapan spesifik yang terjadi secara teratur dan berkesinambungan.
Dengan demikian tahapan perkembangan seorang anak dapat diramalkan.
Tahapan perkembangan anak yang berusia 0-72 bulan sebagai berikut:




Usia 0-3 bulan:

Mengangkat kepala setinggi 45°

Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah

Melihat dan menatap wajah anda

Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh

Suka tertawa keras

Bereaksi terkejut terhadap suara keras

Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.

Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak




Usia 3-6 bulan:

Berbalik dari telungkup ke telentang

Mengangkat kepala setinggi 90°

Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil

Menggenggam pensil

Meraih benda yang ada dalam jangkauannya

Memegang tangannya sendiri

Berusaha memperluas pandangan
Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil

Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik

Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri




Usia 6-9 bulan:

Duduk sendiri (dalam sikap bersila)

Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan

Merangkak dan meraih mainan atau mendekati seseorang

Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya

Memungut dua benda, masing-masing tangan memegang satu benda pada saat yang
bersamaan

Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup

Bersuara tanpa arti seperti: mamama, bababa, dadada, tatata

Mencari mainan/benda yang dijatuhkan

Bermain tepuk tangan/cilukba

Bergembira dengan melempar benda

Makan kue sendiri




Usia 9-12 bulan:

Mengangkat badannya ke posisi berdiri

Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi

Dapat berjalan dengan dituntun

Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
Mengenggam erat pensil

Memasukkan benda ke mulut

Mengulang menirukan bunyi yang didengar

Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti

Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja

Bereaksi terhadap suara bisikan (perlahan)

Senang diajak bermain "CILUK BA"

Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal




Usia 12-18 bulan:

Berdiri sendiri tanpa berpegangan

Membungkuk untuk memungut mainan kemudian berdiri kembali

Berjalan mundur 5 langkah

Memanggil ayah dengan kata "papa", memanggil ibu dengan kata "mama".

Menumpuk dua buah kubus

Memasukkan kubus di kotak

Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara
yang menyenangkan atau menarik tangan ibu

Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing




Usia 18-24 bulan:

Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik

Berjalan tanpa terhuyung-huyung
Bertepuk tangan, melambai-lambai

Menumpuk empat buah kubus

Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk

Menggelindingkan bola kearah sasaran

Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti

Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga

Memegang cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri




Usia 24-36 bulan:

Jalan menaiki tangga sendiri

Dapat bermain dan menendang bola kecil

Mencoret-coret pensil pada kertas

Bicara dengan baik, menggunakan dua kata

Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta

Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih

Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu membawa suatu benda jika diminta

Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah

Melepas pakaiannya sendiri




Usia 36-48 bulan:

Berdiri pada satu kaki selama 2 detik

Melompat dengan kedua kaki diangkat

Mengayuh sepeda roda tiga
Menggambar garis lurus

Menumpuk 8 buah kubus

Mengenal 2-4 warna

Menyebut nama, umur, tempat.

Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan

Mendengarkan cerita

Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri

Bermain bersama ternan, mengikuti aturan permainan

Mengenakan sepatu sendiri

Mengenakan celana panjang, kemeja, baju




Usia 48-60 bulan:

Berdiri pada satu kaki selama 6 detik

Melompat dengan kedua kaki diangkat

Mengayuh sepeda roda tiga

Menggambar garis lurus

Menumpuk 8 buah kubus

Mengenal 2-4 warna

Menyebut nama, Usia, tempat

Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan

Mendengarkan cerita

Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri

Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan

Mengenakan sepatu sendiri

Mengenakan celana panjang, kemeja, baju
Usia 60-72 bulan:

Berjalan lurus

Berdiri dengan satu kaki selama 11 detik

Menggambar 6 bagian tubuh, menggambar orang lengkap

Menangkap bola kecil dengan kedua tangan

Menggambar segi empat

Mengerti arti lawan kata

Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih

Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya

Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10

Mengenal warna-warni

Mengungkapkan simpati

Mengikuti aturan permainan

Berpakaian sendiri tanpa dibantu




Sumber



Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.
Kebutuhan Dasar Anak agar Bertumbuh dan Berkembang Optimal

Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM

Monday, 21 December 2009 00:00



"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan
sukacita kepadamu." Kalimat ini merupakan kutipan dari Injil pada kitab Amsal 29:17. Anak
adalah aset yang paling berharga bagi keluarga dan negara. Agar anak kita bertumbuh dan
berkembang optimal sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas dan tangguh, kita
perlu mengetahui kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang optimal dan
memenuhinya sejak dini, sekarang juga, dan jangan ditunda-tunda.




Batasan Usia Anak



Berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989, Bagian 1 Pasal 1, yang dimaksud Anak
adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang
berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.




Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 1 ayat 1,
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan. Sedangkan menurut WHO, batasan usia anak antara 0-19 tahun.
Hak Anak

Ada 4 prinsip dasar hak anak yang terkandung di dalam Konvensi Hak Anak, yaitu:

Non-diskriminasi

Kepentingan yang terbaik bagi anak

Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

Penghargaan terhadap pendapat anak




Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan



Menurut prinsip dasar hak anak yang ke-3, anak mempunyai hak untuk bertumbuh dan
berkembang.



Bertumbuh berarti bertambahnya ukuran tubuh dan jumlah sel serta jaringan di antara sel-sel.
Indikator untuk mengetahui adanya pertumbuhan adalah: adanya pertambahan tinggi badan,
berat badan dan lingkar kepala.




Berkembang adalah bertambahnya struktur, fungsi dan kemampuan anak yang lebih
kompleks, meliputi kemampuan:

Sensori (kemampuan mendengar, melihat, meraba, merasa, mencium)

Gerakan (terdiri dari gerak kasar, halus, dan kompleks)

Berkomunikasi dan berinteraksi (tersenyum, menangis, bicara, dll)

Kognitif (kemampuan mengenal, membandingkan, mengingat, memecahkan masalah, dan
kecerdasan)
Bersosialisasi , kemandirian

Kreativitas

Moral dan spiritual

dan lain-lain.




Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara bersamaan (simultan). Perkembangan
merupakan hasil interaksi kematangan susunan syaraf pusat dengan organ tubuh yang
dipengaruhinya. Misal: kemampuan bicara merupakan hasil dari perkembangan sistem syaraf
yang mengendalikan proses bicara.




Hal-hal yang menentukan Kualitas Tumbuh Kembang Anak



Kualitas tumbuh kembang anak ditentukan oleh:

Faktor intrinsik, yaitu faktor-faktor bawaan sejak lahir (genetik - heredokonstitusional)

Faktor ekstrinsik, yaitu faktor-faktor sekeliling (lingkungan) yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak sejak di dalam kandungan hingga lahir dan bertumbuh-kembang menjadi
seorang anak.




Kebutuhan-kebutuhan Dasar Anak untuk Tumbuh Kembang yang Optimal



Meliputi 'Asuh, Asih, dan Asah' yaitu:



1. Kebutuhan Fisis-Biologis (ASUH):
Meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi, imunisasi, kebersihan tubuh &
lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, olahraga, bermain
dan beristirahat.



a. Nutrisi:

  - sejak anak di dalam rahim, ibu perlu memberikan nutrisi seimbang melalui konsumsi

    makanan yang bergizi.

  - Air Susu Ibu (ASI): nutrisi yang paling lengkap dan seimbang bagi bayi (terutama pada 6

    bulan pertama atau ASI Eksklusif)

  - Menu seimbang: protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, air



b. Imunisasi: anak perlu diberikan imunisasi dasar lengkap agar terlindung dari penyakit-
penyakit yang dapat

  dicegah dengan imunisasi.



c. Kebersihan: meliputi kebersihan makanan, minuman, udara, pakaian, rumah, sekolah,
tempat bermain



  dan transportasi.



d. Bermain, aktivitas fisik, tidur: anak perlu bermain, melakukan aktivitas fisik dan tidur
karena hal ini



  bermanfaat untuk:

   - merangsang hormon pertumbuhan, nafsu makan, merangsang metabolisme

    karbohidrat, lemak, dan protein

   - merangsang pertumbuhan otot dan tulang

   - merangsang perkembangan
e. Pelayanan Kesehatan: anak perlu dipantau/diperiksa kesehatannya secara teratur (bukan
kendaraan aja

  yang perlu diperiksa teratur, anak juga perlu).

   Contoh pelayanan kesehatan yang teratur pada anak Balita adalah: anak ditimbang minimal
8 kali setahun,



  dilakukan SDIDTK minimal 2 kali setahun dan diberikan kapsul Vitamin A dosis tinggi 2
kali setahun yaitu



  setiap bulan Februari dan Agustus. Tujuan pemantauan yang teratur untuk:

   - mendeteksi secara dini dan menanggulangi bila ada penyakit dan gangguan tumbuh-

    kembang

   - mencegah penyakit

   - memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.




2. Kebutuhan kasih sayang dan emosi (ASIH):




Anak memerlukan kasih sayang melalui hubungan yang erat, serasi dan selaras dengan
ibunya. Memberi kasih sayang akan sangat membantu tumbuh kembang fisik-mental dan
psikososial anak yang optimal. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (usia dini) bahkan
sejak anak masih di dalam kandungan, anak mutlak memerlukan ikatan yang menciptakan
rasa aman dan nyaman.

Untuk itu upayakan agar:

    - anak merasa dilindungi



    - memperhatikan minat, keinginan, dan pendapatnya
    - memberi contoh, tidak memaksa



    - membantu, mendorong/memotivasi

    - menghargai pendapat anak



    - mendidik dengan penuh kegembiraan melalui kegiatan bermain



    - melakukan koreksi dengan kegembiraan dan kasih sayang (bukan ancaman/hukuman).




3. Kebutuhan Stimulasi (ASAH):

Untuk memperoleh perkembangan yang optimal, anak perlu 'diasah' melalui kegiatan
stimulasi dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-
sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual.




Dasar perlunya stimulasi dini:



    - milyaran sel otak dibentuk sejak anak di dalam kandungan dan belum ada hubungan
antar sel otak (sinaps)




- orang tua perlu merangsang hubungan antar sel-sel otak



- bila ada rangsangan akan terbentuk hubungan-hubungan baru (sinaps)
- semakin sering di rangsang akan makin kuat hubungan antar sel-sel otak



- semakin banyak variasi maka hubungan antar se-sel otak semakin kompleks/luas



- merangsang otak kiri dan kanan secara seimbang untuk mengembangkan multipel

 inteligen dan kecerdasan yang lebih luas dan tinggi.

- stimulasi mental secara dini akan mengembangkan mental-psikososial anak seperti:

 kecerdasan, budi luhur, moral, agama dan etika, kepribadian, ketrampilan berbahasa,

 kemandirian, kreativitas, produktifitas, dst




Orang tua yang bijak akan menganut pola asuh demokratik, mengembangkan kecerdasan
emosional, kemandirian, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan dan moral-spiritual anak.



Dan jangan dilupakan, anak-anak yang berusia 0-72 bulan perlu diperiksa tumbuh
kembangnya secara teratur melalui kegiatan deteksi dini (skrining) untuk mengetahui sedini
mungkin adanya kelainan/penyimpangan tumbuh kembang serta melakukan intervensi dan
rujukan dini bila diperlukan. Ketersediaan pelayanan deteksi dini dapat ditanyakan di
Puskesmas, klinik tumbuh kembang dan Rumah Sakit di kota anda.




Referensi

Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa
pada tanggal 20 Nopember 1989
Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi, 2009, Materi prsentasi pada 'Pelatihan Program Kesehatan
Balita Bagi Penanggung Jawab Program Kesehatan Anak', Bogor, 2009, Stimulasi, Deteksi
dan Intervensi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita.




Pentingnya Stimulasi Pada Anak Usia Dini (AUD)

Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM

Monday, 03 May 2010 21:40



Bagi anda yang memiliki anak usia dini terutama batita (bawah tiga tahun), jangan sampai
terlambat untuk melakukan stimulasi dini pada anak anda, karena kesempatan ini hanya
datang satu kali dalam hidupnya yaitu pada golden period. Golden period adalah masa
keemasan atau sering disebut jendela kesempatan (window of opportunity) yaitu masa
pembelajaran dan pengkayaan, masa yang sangat peka bagi otak anak untuk menerima
berbagai rangsangan pertumbuhan dan perkembangan.




Apa yang disebut Stimulasi Anak Usia Dini?



Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang secara memadai kemampuan
dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Yang
disebut perangsangan yang memadai adalah perangsangan yang dilakukan dengan benar,
adekwat dan teratur, sesuai kelompok umur anak.




Batasan Anak Usia Dini



Anak Usia Dini adalah anak berusia 0-6 tahun. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa
batasan usia dini seorang anak adalah sejak di dalam kandungan sampai anak berusia 7 atau 8
tahun.




Kemampuan dasar apa saja yang perlu dirangsang?



Para ahli tumbuh kembang menekankan pada 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu
mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus,
kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan
kemandirian.




Kemampuan gerak kasar atau kemampuan motorik kasar adalah kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh dengan melibatkan otot-otot besar, misal: kemampuan berguling,
tengkurap, berdiri dan berjalan.




Kemampuan gerak halus atau kemampuan motorik halus adalah kemampuan anak melakukan
pergerakan bagian-bagian tubuh tertentu dengan melibatkan otot-otot kecil tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat, misal: menjepit dengan jari-jari, menulis, mengamati
sesuatu.




Kemampuan bicara dan bahasa adalah kemampuan anak mengungkapkan sesuatu melalui
berbicara dan berbahasa, memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, dst.




Kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) adalah kemampuan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya, dan kemandirian adalah
kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan pihak lain atau mandiri (makan dan minum
sendiri, memakai pakaian sendiri, dst).




Kemampuan dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif,
kreatifitas dan moral-spiritual.




Siapa saja yang boleh menyetimulasi anak?



Stimulasi AUD sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, pengganti
ibu, pengasuh, pendidik serta anggota keluarga lain. Mengapa harus orang-orang terdekat?
karena orang terdekat biasanya akan menunjukkan perilaku baik yang dilandasi kasih sayang.
Bagaimana cara terbaik menyetimulasi anak usia dini?

Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan stimulasi pada anak usia dini yang perlu
diterapkan yaitu:

Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.

Selalu tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang
terdekat dengannya.

Dunia anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak
bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.

Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.

Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap dan berkelanjutan sesuai
umur anak.

Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.

Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.




Berapa usia terbaik anak untuk dilakukan stimulasi?



Usia terbaik untuk melakukan stimulasi adalah hingga anak berusia 6 tahun. Hasil yang lebih
optimal akan didapat bila anak diberikan rangsangan tumbuh kembang ketika ia berusia 0-3
tahun bahkan sejak masih di dalam kandungan usia 4 bulan. Namun bukan berarti pemberian
stimulasi dihentikan setelah anak berusia 3 tahun, justru stimulasi harus dilanjutkan bahkan
diperbanyak variasinya pada anak usia 3-6 tahun. Beberapa ahli mengatakan, sampai anak
berusia 8 tahun masih baik untuk untuk dilakukan stimulasi.




Stimulasi merupakan hak anak



Hak-hak anak sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, Konvensi Hak Anak, dan
undang-undang lain tentang kesejahteraan dan perlindungan anak yang berlaku. Orang tua,
wali, pendidik, dan pengasuh perlu menyadari hak-hak yang melekat pada anak, yaitu:
Tidak dibeda-bedakan (non-diskriminasi)

Hak untuk memperoleh yang terbaik

Hak untuk bertahan hidup, bertumbuh dan berkembang

Hak untuk dihargai pendapatnya



Oleh karena itu merupakan kewajiban orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak
dan anak berhak mendapatkan yang terbaik termasuk urusan tumbuh-kembangnya.
Memberikan yang terbaik berarti orang tua harus memenuhi kebutuhan dasar anak yaitu
kebutuhan fisik-biologis (Asuh), kasih sayang (Asih) dan stimulasi (Asah) melalui kegiatan
SDIDTK.




Mengapa stimulasi perlu dilakukan sejak usia anak sangat dini?



Stimulasi pada usia 0-3 tahun



Sel otak (neuron) anak terbentuk ketika anak (janin) masih di dalam kandungan usia 4 sampai
7 bulan. Pada usia janin empat setengah bulan, sel-sel otak yang terbentuk akan menempati
tempat yang tepat di otak. Ketika bayi lahir, dia sudah membawa bermilyar-milyar neuron,
tetapi neuron-neuron ini belum saling berhubungan satu sama lain kecuali beberapa neuron
yang mengatur denyut jantung, pernafasan, kedipan mata dan gerakan kasar tertentu.




            Gambar Sel otak (neuron).                            Gambar Hubungan 2 neuron
melalui sinaps.
Sel neuron berbeda dengan sel-sel lain dalam tubuh manusia karena sel neuron memiliki
cabang-cabang khusus yang disebut axon dan dendrit. Fungsi axon adalah menyalurkan
sinyal-sinyal elektrokimia yang berasal dari neuron lain melalui hubungan yang disebut
sinaps. Sinaps menghubungkan neuron dengan neuron lain melalui kaki yang disebut dendrit.
Komunikasi antar neuron terjadi dalam bentuk neurotransmitter yaitu molekul kimia yang
dikeluarkan sinaps. Neurotransmitter membawa sinyal-sinyal elektrokimia melalui sinaps,
sinaps menyalurkan dan menggetarkan neuron penerima dengan stimulus listrik.




Rangsangan (stimulasi) pada AUD melalui pancaindera akan merangsang pembentukan
sinaps-sinaps sehingga dua atau lebih neuron akan saling berhubungan. Bila dua atau lebih
neuron berhubungan melalui sinaps maka neuron-neuron tersebut aktif menghantarkan
sinyal-sinyal elektrik pada saat yang bersamaan bila mendapat rangsangan sensorik. Neuron-
neuron yang sering menghantarkan sinyal elektrik akan semakin kuat hubungannya satu
dengan lainnya karena sering digunakan, disamping itu neuron-neuron akan saling
berkoordinasi satu dengan lainnya sesuai dengan fungsinya. Sebaliknya, bila tidak ada atau
kurang mendapat rangsangan maka sinaps-sinaps tidak terbentuk atau sinaps sudah terbentuk
tetapi jarang dialiri aliran listrik karena neuron jarang mendapat rangsangan maka sinaps-
sinaps akan mati atau terpangkas. Oleh karena itu neuron-neuron perlu dikejutkan dengan
aliran listrik yang sama dan teratur dengan cara memberikan rangsangan yang sama secara
teratur dan berkelanjutan agar sambungan antar neuron semakin kuat, kompleks dan menetap
hingga anak menjadi dewasa.




Merangsang AUD melalui perangsangan neuron-neuron dapat diibaratkan seperti kegiatan
pemahat yang memahat ukiran kayu. Melalui kegiatan memahat akan terbentuk suatu pola
tertentu sehingga kayu yang tadinya polos akan berbentuk ukiran/pahatan yang dapat
dimengerti. Dilain sisi, melalui kegiatan memahat akan disingkirkan sebagian kayu yang
tidak diperlukan. Ilustrasi ini diterjemahkan, neuron-neuron dan sinaps-sinaps yang
digunakan akan membentuk hubungan antar neuron melalui sinaps-sinaps menjadi suatu
pola/patron, sebaliknya neuron-neuron yang tidak digunakan akan dipangkas, dan neuron-
neuron dengan sinaps-sinapsnya yang jarang digunakan juga akan dipangkas. Setelah
hubungan antar neuron dan sinaps-sinaps terbentuk maka harus sering dirangsang dengan
cara tertentu dan teratur sehingga akan menghasilkan hubungan antar neuron dan sinaps-
sinaps yang kompleks, saling berkoordinasi, semakin kuat dan akhirnya menjadi hubungan
yang permanen. Para ahli mengatakan bahwa fase perontokan sinaps-sinaps yang tidak
terpakai akan terjadi secara besar-besaran pada usia anak 3 tahun, oleh karena itu
perangsangan terbaik dilakukan sebelum anak berusia 3 tahun.




Gambar Perbandingan kepadatan sel-sel otak pada saat anak lahir, usia 6 tahun dan usia 15
tahun.




Jumlah neuron yang ada (100-200 milyar neuron) tidak mengalami perubahan setelah anak
lahir. Pertumbuhan hanya terjadi pada dendrit-dendrit dan sinaps-sinaps yang mengalami
interaksi sehingga menjadi lebih rimbun menyerupai cabang-cabang pohon yang rindang
(lihat gambar kepadatan sel otak). Pada anak usia 3 tahun yang telah mendapatkan stimulasi
yang wajar, pada setiap 1 neuron sudah memiliki 15.000 sinaps, dengan terjadinya
perontokan sebagian sinaps maka total seluruh neuron telah membentuk sekitar 1.000 triliun
sinaps. Jumlah sinaps ini dua kali lebih banyak daripada jumlah sinaps yang dimiliki orang
dewasa. Dapat dimengerti hal ini karena masih memungkinkan adanya sinaps-sinaps yang
akan rontok kemudian karena tidak terpakai dalam proses anak menuju kedewasaan.




Stimulasi pada usia 3-6 tahun



Para peneliti telah menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan untuk
mengetahui, mengukur dan membandingkan bagaimana perubahan dan pertumbuhan otak
anak usia 6 tahun yang diberikan stimulasi yang memadai dengan otak anak yang kurang
diberikan stimulasi yang memadai. Hasil MRI tersebut menunjukkan bahwa terjadi
pertumbuhan yang pesat pada area otak yang mengatur dalam mempelajari perilaku baru dan
kemampuan ketrampilan baru pada usia anak 3-6 tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya
melakukan stimulasi untuk mendorong pemikiran yang kompleks dengan cara
memperkenalkan permainan dan ketrampilan baru pada anak usia 3-6 tahun.
Gambar

Perbandingan hasil pemeriksaan MRI pada otak anak usia 6 tahun yang sering mendapat
stimulasi memadai (kiri)

dan otak anak usia 6 tahun yang kurang mendapat stimulasi yang memadai (kanan).




Kesimpulan



Usia terbaik untuk melakukan stimulasi pada anak adalah sedini mungkin. Hasil yang optimal
akan didapat bila anak sudah diberikan rangsangan tumbuh kembang saat ia masih di dalam
kandungan usia 4 bulan dan setelah lahir hingga ia berusia 6 tahun. Namun pemberian
rangsangan tumbuh kembang pelu dilanjutkan setelah anak berusia 6 tahun hingga usia 8
tahun.




(Selanjutnya nantikan cara-cara melakukan stimulasi pada AUD)




Referensi

http://www-mobile.ecs.soton.ac.uk/comms/neuron_cell.jpg, diakses 5 Mei 2010.
http://www.dmacc.edu/instructors/rbwollaston/Nervous_system/motor_neuron.gif, diakses 5
Mei 2010.

Staf Ahli Meneg PPN Bidang SDM dan Kemiskinan, Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional-BAPPENAS, 2006, Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini
Yang Holistik dan Terintegrasi.

Departemen Kesehatan RI, 2009, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

http://www.catchcoalition.ca/trellis/Learning_about_the_Brain

http://ripon.ripon.k12.wi.us/bpmc/library_blog.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:798
posted:7/7/2011
language:Indonesian
pages:23