1 BAB II TEKNIK CETAK SABLON DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN

Document Sample
1 BAB II TEKNIK CETAK SABLON DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN Powered By Docstoc
					                                   BAB II

         TEKNIK CETAK SABLON DALAM MENINGKATKAN

                    KETERAMPILAN PSIKOMOTOR

   PADA MATA PELAJARAN KETERAMPILAN DI KELAS XI SLB/B



A. Pembelajaran Keterampilan Di Kelas XI SLB B

       Keterampilan merupakan ilmu teknologi terapan yang sangat penting dan

dibutuhkan dalam kehidupan manusia, karena manusia memerlukan keterampilan

sebagai alat untuk mengembangkan atau menggunakan pola pikir di dalam

kehidupannya.

       Mata pelajaran keterampilan disajikan kepada peserta didik agar kelak

mereka dapat mengembangkan kemampuan diri untuk berkreatifitas dengan cara

yang positif. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar keterampilan pada siswa

tunarungu ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan

kemampuan tersebut, selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan pola

berfikir dalam menuangkan ide atau gagasan yang mengikuti perkembangan

zaman sesuai dengan kebutuhan yang memiliki pangsa pasar yang diharapkan

dapat mendorong masyarakat untuk menjadi seorang wiraswasta yang berhasil.

       Ny. SA Bratanata (1975 : 107) mengemukakan : “Bahwa pendidikan

keterampilan bagi anak tunarungu sangat berguna dalam kehidupannya, baik itu

mengenai kehidupan sosial ekonominya maupun kepribadiannya”.

       Keterampilan juga bisa dijadikan peluang usaha jika dilihat dari sisi

perekonomian dengan dukungan ketekunan, kemauan kuat dan kerja keras. Selain


                                      1
itu keterampilan juga bisa memberikan alternatif ataupun solusi dalam kehidupan

pribadi, keluarga dan masyarakat luas.

        Dengan pendidikan keterampilanpun semua potensi yang ada pada anak

dapat tersalurkan atau dirubah untuk bertambah maju seperti mengenai sikap,

nilai, emosi, kesanggupan, kemauan dan intelektualnya.

        Mata pelajaran keterampilan berdasarkan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar SMALB/B bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan

sbb :

   1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan.

   2. menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan.

   3. menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan.

   4. menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam

        tingkat lokal, regional, maupun global.

        Sedangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar kelas XI SLB/B

adalah sbb:

                                     Tabel 2.1

   Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar semester 1 kelas XI SLB/B

         Standar Kompetensi                        Kompetensi Dasar
  Seni Rupa

  1. Mengevaluasi karya dan seni              Menilai    keunikan    gagasan,
     rupa.                                    teknik, dan bahan dalam karya
                                              seni rupa Nusantara.
                                              Menunjukan sikap apresiasif atas
                                              keunikan gagasan dan bahan
                                              dalam karya seni rupa Nusantara.

                                              Merancang/membuat karya seni
                                              kriya      tekstil    dengan

                                         2
                                              mempertimbangkan teknik dan
                                              corak seni rupa Nusantara.

  2. Mengevaluasi karya seni rupa            Menunjukan sikap apresiasif atas
                                             keunikan gagasan dan bahan
                                             dalam karya seni rupa Nusantara
                                             dan Mancanegara.
                                             Mampu berekspresi secara estetik
                                             dan kreatif dalam wujud karya
                                             seni grafis (printmaking)



B. Perkembangan Psikomotor

       Hasil belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu

kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain

secara eksplisit. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu,

namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik

lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang

menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif, dan ranah-

ranah tersebut selalu mengandung ranah afektif.

       Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di

dalamnya kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis,

mensintesis, dan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti

perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah psikomotor adalah ranah yang

berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari,

memukul, dan sebagainya.

       Untuk jenjang Pendidikan SMA, mata pelajaran yang banyak berhubungan

dengan ranah psikomotor adalah pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni

budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain, kegiatan

                                        3
belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di

aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu

juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan

dengan ranah psikomotor.

       Berkaitan dengan psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah

psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui

keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972)

menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah

mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–

reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan

tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.

       Buttler (1972) membagi hasil belajar psikomotor menjadi tiga, yaitu:

specific responding, motor chaining, rule using. Pada tingkat specific responding

peserta didik mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, (yang dapat didengar,

dilihat, atau diraba), atau melakukan keterampilan yang sifatnya tunggal, misalnya

memegang raket, memegang bed untuk tenis meja. Pada motor chaining peserta

didik sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi

satu keterampilan gabungan, misalnya memukul bola, menggergaji, menggunakan

jangka sorong, dll. Pada tingkat rule using peserta didik sudah dapat

menggunakan pengalamannya untuk melakukan keterampilan yang komplek,

misalnya bagaimana memukul bola secara tepat agar dengan tenaga yang sama

hasilnya lebih baik.




                                        4
       Menurut Mills (1977), pembelajaran keterampilan akan efektif bila

dilakukan dengan menggunakan prinsip belajar sambil mengerjakan (learning by

doing). Leighbody (1968) menjelaskan bahwa keterampilan yang dilatih melalui

praktik secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan atau otomatis dilakukan.

Sementara itu Goetz (1981) dalam penelitiannya melaporkan bahwa latihan yang

dilakukan berulang-ulang akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada

pemahiran keterampilan. Lebih lanjut dalam penelitian itu dilaporkan bahwa

pengulangan saja tidak cukup menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, namun

diperlukan umpan balik yang relevan yang berfungsi untuk memantapkan

kebiasaan. Sekali berkembang maka kebiasaan itu tidak pernah mati atau hilang.

Sementara itu, Gagne (1977) berpendapat bahwa kondisi yang dapat

mengoptimalkan hasil belajar keterampilan ada dua macam, yaitu kondisi internal

dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara (a)

mengingatkan kembali bagian dari keterampilan yang sudah dipelajari, dan (b)

mengingatkan prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasai.

Sementara itu untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan (a) instruksi verbal,

(b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik.

       Dalam melatihkan kemampuan psikomotor atau keterampilan gerak ada

beberapa langkah yang harus dilakukan agar pembelajaran mampu membuahkan

hasil yang optimal. Mills (1977) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam

mengajar praktik adalah (a) menentukan tujuan dalam bentuk perbuatan, (b)

menganalisis keterampilan secara rinci dan berurutan, (c) mendemonstrasikan

keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan memberikan perhatian


                                         5
pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang diperlukan untuk

menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar, (d) memberi kesempatan

kepada peserta didik untuk mencoba melakukan praktik dengan pengawasan dan

bimbingan, (e) memberikan penilaian terhadap usaha peserta didik.

          Edwardes (1981) menjelaskan bahwa proses pembelajaran praktik

mencakup tiga tahap, yaitu (a) penyajian dari pendidik, (b) kegiatan praktik

peserta didik, dan (c) penilaian hasil kerja peserta didik. Guru harus menjelaskan

kepada peserta didik kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan

tugas tertentu. Kompetensi kunci adalah kemampuan utama yang harus dimiliki

seseorang agar tugas atau pekerjaan dapat diselesaikan dengan cara benar dan

hasilnya optimal. Sebagai contoh, cara memegang rakel pada materi cetak sablon,

kompetensi kuncinya adalah kemampuan peserta didik memegang rakel pada

screen. Dengan cara ini, tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit namun hasilnya

optimal.



C. Teknik Cetak Sablon Dalam Mata Pelajaran Keterampilan

          Pelajaran keterampilan cetak sablon merupakan mata pelajaran yang

praktis, artinya keterampilan cetak sablon merupakan suatu mata pelajaran yang

tidak hanya dilakukan dengan teori saja karena keterampilan cetak sablon adalah

sebuah ilmu terapan yang mutlak dipraktekan secara kontinu, sehingga dengan

cepat atau lambat seseorang akan menjadi mahir dalam mempraktekan cetak

sablon.




                                        6
         Cetak sablon berasal dari kata screen printing yang apabila diartikan

secara harfiah yakni screen yang berarti saringan dan printing yang berarti

mencetak, jadi screen printing ialah mencetaka dengan menggunakan saringan.

         Cetak sablon juga mempunyai arti lain, yakni kegiatan mencetak grafis

yang dilakukan secara manual oleh tenaga manusia, menurut Guntur Nusantara,
A.Md. Graf (2007 : 1) menyatakan bahwa : “Cetak sablon merupakan bagian dari
ilmu grafika terpan yang bersifat praktis, jika diuraikan secara verbal, cetak sablon
dapat diartikan sebagai kegiatan cetak mencetak grafis dengan menggunakan kain
gasa, biasa disebut screen, pada bidang yang menjadi sasaran cetak. Gambar yang
tercetak pada objek cetak akan sesuai dengan model atau klise yang terdapat pada
screen”
        Selain cetak sablon, ada teknik cetak lain, yakni cetak offset. Cetak offset

merupakan suatu sistem cetak yang menggunakan acuan berupa lembaran

alumunium yang dikenal dengan sebutan plat atau kertas yang disebut dengan

master. Sistem cetak ini menggunakan prinsip tolak-menolak antara air dan

minyak

         Apabila dibandingkan, cetak sablon dan cetak offset mempunyai kelebihan

dan kekurangan masing-masing. Hasil cetak mesin memiliki kecepatan, ketepatan

dan akurasi gambar yang cukup tinggi, sementara pada cetak sablon hasil

cetaknya sangat relatif, artinya sangat tergantung kepada tenaga manusia yang

mengerjakannya. Akan tetapi bukan berarti mencetak dengan menggunakan mesin

akan jauh lebih unggul, pasalnya ada beberapa pekerjaan cetak sablon yang tidak

dapat dilakukan oleh mesin yang artinya dikerjakan secara manual. Hal ini terjadi

karena offset hanya dapat mencetak pada bidang datar yang berbanding terbalik

dengan cetak sablon yang aplikasinya dapat diterapkan pada berbagai bidang

dengan syarat permukaan bidang tersebut rata.



                                         7
       Teknik cetak sablon yang akan dijadikan bahan penelitian adalah teknik

cetak sablon yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar kelas

XI yakni sebagai berikut :

1. Materi Proses 1

   a. Siswa dapat mengidentifikasi alat-alat dan bahan yang diperlukan selama

       proses cetak sablon, yang terdiri dari :

       1) Alat-alat cetak sablon : screen, rakel, meja sablon, catok screen,

            lakban kertas, treckpen, rapido, tinta AFDECK, kodak trees/kertas

            kalquur, gunting, cutter, kertas HVS, pensil, kaca bening 5 mm, busa,

            kain    hitam,    papan,     sprayer,    timer/pengatur   waktu,   hair

            dryer/pengering, lampu TL, lampu merah, kamar gelap dan penggaris.

       2) Bahan-bahan cetak sablon : kayu profile dan kain monyl (untuk

            membuat screen); obat afdruck yang terdiri dari kromatin, gelatin,

            teksol, diasol, super emulsion, super X dan ulano untuk membuat

            lapisan cetakan; cat sablon/tinta sablon, pigmen biasa/ terfin, orient,

            master, quaret, GL, PVC, daiyo dan aqua ink; pengencer/pelarut cta

            sablon M4, M3, terfin dan air biasa; bahan yang akan disablon, seperti

            : kain, kaos, kertas, plastik, kaca, kayu dan besi.

   b. Siswa dapat merancang/membuat gambar yang direncanakan dalam

       bentuk klise/negative film yang prosesnya terdiri dari :

       1)    Masing-masing peserta diberi tugas membuat gambar sesuai rencana

             pada kertas HVS dengan menggunakan pensil.




                                           8
   2)    Gambar dijiplak menggunakan kertas kalquur atau kertas film atau

         kodak trees dengan menggunakan tinta rafido atau tinta afdeck.

c. Proses pencetakan.

   1) Pertama siapakan screen pada meja sablon.

   2) Persipkan tinta atau cat, pengencer tinta atau cat, rakel, media yang

        akan dicetak.

   3) Lakukan pencetakan percobaan agar tidak terjadi kesalahan atau

        kegagalan pada proses pencetakan, misalnya tidak tepatnya posisi

        gambar pada media cetak, salah penggunaan cat, tidak sesuainya

        penggunaan screen dengan media cetak (misalnya screen untuk

        mencetak pada media kertas dipakai untuk media kain yang

        mengakibatkan    hasil   pencetakan    menjadi    kurang      maksimal.

        Pencetakan percobaan dilakukan pada bahan atau media yang sejanis

        dengan bahan yang akan dijadikan media cetak, misalnya bila media

        yang akan digunakan adalah kain, maka kita gunakan kain yang tidak

        terpakai untuk percobaan, setelah hasil percobaan berhasil maka

        lakukan pencetakan yang sebenarnya.

d. Proses penghapusan screen.

   1) Larutkan soda api, kaporit, dengan air bersih, dengan perbandingan

        1:0,5:1.

   2) Setelah campuran tersebut larut, laburkan cairan tersebut kepermukaan

        screen bagian luar dan dalam secara merata selama 30 menit dengan

        menggunakan sikat yang terbuat dari nylon atau sikat bekas.


                                    9
      3) Setelah screen didiamkan selama 30 menit lalu basuh dengan air bersih

          dengan cara disemprot. Jika emulsi atau lapisan obat afdruck telah

          terlepas berarti screen dalam keadaan kosong.

      4) Lalu keringkan dengan cara di lap dan dipanaskan dengan temperatur

          sedang agar screen tidak rusak.

2. Materi Proses 2

   a. Siswa dapat mengerjakan cara pembuatan teknik cetak sablon pada proses

      penyemiran sampai dengan proses penimbulan gambar. Proses tersebut

      terdiri dari :

      1) Membuat cetakan, pertama membuat bingkai kayu dengan panjang

          yang disesuaikan dengan gambar, tinggi 4 cm dan lebar 3 cm, besar

          cetakan yang dibuat disesuaikan dengan gambar yang telah dibuat.

      2) Penyemiran screen. Siapkan obat afdruck, penggaris, screen yang akan

          digunakan dan desain gambar. Lakukan penyemiran atau pelaburan

          screen ditempat teduh, setelah penyemiran dilakukan, screen harus

          segera dibawa kekamar gelap untuk proses pengeringan.

      3) Proses pengeringan. Siapkan pengering (hair dryer atau kompor),

          papan biasa yang sudah dilapisi kain hitam, kaca bening 5 mm, desain

          gambar (klise atau negative film), kain penutup dan pengatur waktu.

          Lakukan pengeringan screen dikamar gelap dengan menggunakan

          kompor berapi biru atau dengan menggunakan hair dryer. Gunakan

          kompor dengan api biru yang sebelumnya dilapisi dengan plat seng,

          hal ini dimaksudkan agar panas api tidak langsung mengenai kain


                                      10
   monyl. Bila menggunakan hair dryer arahkan hair dyer secara merata

   kepada seluruh bagian screen dengan menggunakan suhu yang panas

   (letakan hair dryer + 10 cm dari permukaan screen). Setelah

   pengeringan dilakukan, maka lakukanlah penyinaran.

4) Penyinaran. Sebelum dilakukan penyinaran kita harus mempersiapkan

   kain penutup, kaca, desain gambar, screen, busa, papan yang disusun

   secara vertikal, dimana papan berada pada posisi paling bawah, lalu

   busa, screen, desain gambar, kaca dan kain hitam sebagai penutup

   bagian gambar yang akan dan sudah disinari. Lama penyinaran dengan

   cahaya matahari adalah 30 detik tetapi bila kita melakukan penyinaran

   dengan menggunakan cahaya lampu TL (Neon) penyinaran dilakukan

   selama 7-8 menit.Contoh :

                               Gambar 2.1

                 Proses Penyinaran Tahap Pertama


                   Sumber cahaya matahari/lampu TL




                                Kain Penutup

                                     Kaca

                               Desain Gambar

                                     Screen


                                     Busa

                                     Papan


                                11
                     Gambar 2.2

  Proses Penyinaran Tahap Kedua Kain penutup dibuka

            Sumber cahaya matahari/lampu TL




                            Kaca


                      Desain Gambar

                            Screen


                            Busa

                            Papan



                     Gambar 2.3

            Proses Penyinaran Tahap Ketiga

Tutupkan kembali kain hitam setelah dilakuka penyinaran

            Sumber cahaya matahari/lampu TL




                       Kain Penutup

                            Kaca


                      Desain Gambar


                            Screen

                            Busa

                            Papan


                       12
       5) Proses penimbulan gambar pada screen. Setelah dilakukan penyinaran

          pisahkan screen dari kain penutup, kaca, desain gambar, busa dan

          papan. Proses berikutnya bawa screen ketempat teduh (terlindung dari

          cahaya kuat) lalu semprot screen dengan menggunakan sprayer dengan

          teliti, setelah gambar timbul(menjadi sebuah pola cetakan sesuai

          rencana) lalu keringkan screen dengan menggunakan kain halus yang

          menyerap air, hal ini dilakukan agar tidak ada air yang masih menutupi

          pori-pori cetakan pada screen langkah selanjutnya keringkan kembali

          dengan cara dijemur atau dipanaskan agar screen benar-benar kering.



D. Konsep Dasar Tunarungu

       Definisi anak tunarungu menurut Donal F. Moores adalah orang yang

kehilangan kemampuan mendengarkan pada tingkat 70 dB atau lebih sehingga

tidak mengerti atau memahami pembicaraan orang lain dengan atau melalui

pendengarannya sendiri tanpa menggunakan alat bantu dengar.

       Untuk memperjelas tentang anak tunarungu perlu ditunjang oleh teori-teori

sebagai berikut : Bandi Delphie (2006 : 102) yang dikutip dari Gregory S. et al.

(1998:45-47) pengertian hendaya pendengaran adalah seseorang yang mengalami

kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebagian atau seluruhnya,

diakibatkan tidak berfungsinya sebagian atau seluruh indera pendengaran.

       Ketunarunguan pada seseorang memunculkan dampak luas yang akan

menjadi gangguan pada kehidupan diri yang bersangkutan. Arthur Borthroyd

(1961) dalam buku Edja Sadjaah menjelaskan berbagai dampak yang ditimbulkan


                                       13
sebagai akibat ketunarunguan mempengaruhi dalam hal : masalah persepsi auditif,

masalah bahasa, dan komunikasi, masalah intelektual dan kognitif, masalah

pendidikan,, masalah sosial, bahkan masalah vokasional. Selain itu ketunarunguan

berdampak luas dan komplek terhadap anak dan keluarganya bahkan akan

mempengaruhi sikap-sikap masyarakatnya.

       Pakar    pendidikan   anak   tunarungu   seperti   Daniel   Ling    (1976)

mengemukakan bahwa ketunarunguan memberikan dampak inti yang diderita

oleh yang bersangkutan yaitu gangguan/hambatan perkembangan bahasa.

Hambatan perkembangan bahasa memunculkan dampak-dampak lain yang sangat

komplek lainnya seperti aspek pendidikan, hambatan emosi-sosial, perkembangan

intelegensi dan akhirnya hambatan dalam aspek kepribadian. Artinya dampak inti

yang diderita menimbulkan/mengait pada dampak lain yang mengganggu

kehidupannya.

       Selanjutnya dilihat dari kemampuan intelektual merekapun memiliki

potensi yang relatif sama, yaitu ada yang pintar, sedang-sedang saja dan kurang

pintar. Disayangkan bahwa kelainan yang ada padanya tidak diketahui oleh orang

dekatnya karena tidak nampak sehingga tidak terabaikan. Biasanya sikap dan

perilaku acuh tak acuh/tak menurut perintah dan oleh orang lain sering disalah

tafsirkan, menyebabkan orang didekatnya sering merasa jengkel dan marah.

       Ahli psikologi berpendapat bahwa anak gangguan pendengaran memiliki

intelegensi yang kemampuan potensinya tidak jauh berbeda dengan intelegensi

anak pada umumnya. Kemampuan fungsionalnya kurang mendapat kesempatan

dan upaya yang tidak optimal. Sedangkan ahli lain seperti Mmac Kone dkk (1993)


                                      14
dalam Edja Sadjaah (1995), menjelaskan bahwa rendahnya hasil tes intelegensi

anak gangguan pendengaran disebabkan oleh gangguan bicaranya, oleh karena

melalui tes non verbal hasilnya mendekati skor anak normal, maka semakin tinggi

pula gangguan bahasa/bicara anak gangguan pendengaran yang selanjutnnya

membawa dampak terhadap hasil-hasil/prestasi akademiknya.

       Selanjutnya ahli lain seperti Pintner dalam Edja Sadjaah, melengkapi

bahwa kemampuan intelegensi gangguan pendengaran dalam hal kemapuan

motorik; bidang mekanikal; intelegensi konkrit tidak mendapat hambatan yang

berarti bahwa anak gangguan pendengaran memiliki kemampuan intelegensi non-

verbal hendaknya mendapat kesempatan yang banyak agar hambatan dalam aspek

kognisi ini masih bisa diupayakan.

       Telah diungkapkan bahwa anak tunarungu mengalami hambatan dalam

perkembangan bahasa/bicaranya sebagai akibat kerusakan atau tidak berfungsinya

sebagian seluruhnya alat pendengarannya, sehingga menyebabkan kekurangan

atau kehilangan dalam kemampuan mendengar. Kemudian untuk mencapai

peningkatan kemampuan mendengar bagi anak yang masih mempunyai sisa

pendengaran, maka perlu dibantu dengan penggunaan Alat Bantu Dengar (ABD),

dimana kemampuan daya dengar ukurannya dihitung dalam dB (Decibell) sesuai

ukuran yang diamaksud oleh penciptanya Graham Bell. Dengan demikian terdapat

penggolongan klasifikasi anak tunarungu dalam derajat kecacatannya atau

kehilangan kemampuan daya dengar.

       Menurut Empu Driyanto, Thufiq Boesoeri, Tatang S (1981 : 3), klasifikasi

anak tunarungu sebagai berikut :


                                      15
   1. Cacat dengar ringan (Mild Hearing Loss), yaitu derajat cacat dengar

       dengan hitungan dB antara 26 dB – 40 dB. Dalam kondisi anak mengalami

       sedikit kerusakan untuk mendengar suara bisik.

   2. Kelompok cacat dengar dengan derajat antara 41 dB – 55 dB, dalam

       kelompok ini anak mengalami kesulitan dalam penerimaan pembicaraan

       normal, terutama nada-nada tinggi, sehingga perlu menggunakan Alat

       Bantu Dengar.

   3. Cacat dengar sedang berat (Moderate Severe Hearing Loss), yaitu

       kelompok cacat dengar dengan derajat antara 56 dB – 70 dB. Dengan

       kondisi ini anak sudah mulai kesulitan dalam menangkap pembicaraan

       keras, Pemakaian Alat Bantu Dengar akan sangat membantu.

   4. Cacat dengar berat (Severe Hearing Loss), yaitu kelompok cacat dengar

       dengan derajat antara 71 dB – 90 dB. Anak hanya mengerti teriakan atau

       pembicaraan yang diperkeras pada jarak yang dekat sekali, pengalaman

       mendengar sangat kurang karena untuk merangsang bunyi sangat sukar

       dan penggunaan Alat Bantu Dengar sangat diperlukan.

   5. Cacat dengar terberat (Profonund Hearing Loss), yaitu kelompok cacat

       dengar dengan derajat diatas 91 dB. Dalam kondisi ini sama sekali tidak

       dapat mengerti pembicaraan orang lain sekeras apapun, walaupun

       rangsang suara sangat diperlukan.

       Untuk lebih jelas tingkat derajat ketunarunguan Merry Hyde menguraikan

segagai berikut :




                                      16
                            Tabel 2.2

                    Tingkat Ketunarunguan

   Rata-rata
  Kehilangan         Tingkat            Kemampuan Untuk Memahami
Pendengaran dB    Ketunarunguan                   Percakapan
   20 – 40        Ringan (MILD)         - Tidak selalu bereaksi bila
                                          disapa
                                        - Mengalami kesulitan dalam
                                          melangsungkan percakapan.
   40 – 65       Sedang (Moderete)      - Mengalami kesulitan dalam
                                          melangsungkan percakapan
                                          bila tidak menatap wajah
                                          lawan bicara.
                                        - Mengalami kesukaran untuk
                                          menangkap suara pada jarak
                                          jauh.
                                        - Mengalami kesukaran untuk
                                          mendengar            dalam
                                          lingkungan bising.
                                        - Pemakaian       ABM    akan
                                          bermanfaat.
   65 – 95         Berat (Severe)       - Akan sedikit memahami
                                          percakapan bila menatap
                                          wajah lawan bicara yang
                                          bersuara keras.
                                        - Kemampuan             untuk
                                          menangkap percakapan yang
                                          wajar sehari-hari hampir
                                          tidak mungkin.
    95 +         Sangat Berat/nyata     - Tidak              mungkin
                                          melangsungkan percakapan
                                          wajar sehari-hari.
                                        - Pemakaian ABM masih akan
                                          bermanfaat
                                        - Sama sekali bergantung pada
                                          penglihatan.




                                17

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:395
posted:7/7/2011
language:Indonesian
pages:17