Docstoc

Lapsus DHF-Anak

Document Sample
Lapsus DHF-Anak Powered By Docstoc
					                              PENDAHULUAN



       Penyakit Dengue Hemorrhagic fever (DHF) merupakan masalah kesehatan

di Indonesia. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit

penyakit DHF, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah

tersebar luas. Laporan yang ada sampai saat ini penyakit DHF sudah menjadi

masalah yang endemis pada 122 daerah tingkat II, 605 daerah kecamatan dan

1800 desa/kelurahan di Indonesia. Sejak tahun 1968 angka kesakitan rata-rata

DHF di Indonesia terus meningkat dari 0,05% (1968) menjadi 14,9% (1997),

dengan angka kematian menurun dari 41,3% (1968) menjadi 2,3% (Maret 1998).

Namun demikian angka kematian DHF berat/Dengue Shock Syndrome (DSS)

masih tetap tinggi.1

       Data yang terkumpul dari tahun 1968-1993 menunjukkan DHF dilaporkan

terbanyak terjadi pada tahun 1973 sebanyak 10.189 pasien dengan usia pada

umumnya di bawah 15 tahun.2,3

       Penyakit DHF pertama kali terjadi di Filipina pada tahun 1953, yaitu pada

waktu terdapatnya epidemi demam yang menyerang anak disertai manifestasi dan

renjatan (syok). Pada tahun 1958, meletus epidemi penyakit serupa di Bangkok.

Setelah tahun 1958, penyakit ini dilaporkan berjangkit kembali di Filipina dan

tempat-tempat lain di Asia Tenggara. Di Indonesia, DHF pertama kali dicurigai

terjadi di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh

pada tahun 1970.2
        Di tahun 1970 terdapat 9 negara epidemik DHF, dan sekarang jumlah itu

meningkat 4 kali lipat di sejumlah negara-negara. Saat ini DHF telah menjadi

epidemik dibeberapa negara di Afrika, Amerika dan Asia, dimana merupakan

penyebab utama kematian anak-anak.3,4,5

        Sampai saat ini, dari sekian faktor yang mempengaruhi angka kematian

adalah kesukaran menduga penderita DHF mana yang akan mengalami renjatan,

renjatan berulang dan berakhir dengan kematian.5

        Dalam perjalanan penyakit DHF syok merupakan kejadian yang

terpenting, karena menimbulkan akibat yang luas dan fatal. Mekanisme yang

mendasari terjadinya syok tersebut adalah peningkatan permeabilitas pembuluh

darah, sehingga terjadi hipovolemik dengan curah jantung yang turun. Terjadinya

syok merupakan manifestasi mekanisme kompensasi tubuh terhadap kemungkinan

terjadinya gagal sirkulasi.3,4

        Berikut dilaporkan sebuah kasus DHF derajat I yang kemudian menjadi

DHF derajat III pada seorang anak perempuan berusia 5 tahun 6 bulan, yang

dirawat di Ruang Anak RSUD Ulin Banjarmasin.
                                 LAPORAN KASUS



I.    IDENTITAS

      1. Identitas penderita :

         Nama penderita                : An. SB

         Jenis Kelamin                 : Perempuan

         Tempat dan tanggal lahir : Banjarmasin

         Umur                          : 5 tahun 6 bulan

      2. Identitas orang tua/wali :

         Ayah :      Nama              : Tn. A

                     Pendidikan        : SD

                     Pekerjaan         : Swasta

                     Alamat            : Jl. Kuin Utara RT.5 No.33

         Ibu     :   Nama              : Ny. F

                     Pendidikan        : SD

                     Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga

                     Alamat            : Jl. Kuin Utara RT.5 No.33


II.   ANAMNESIS

      Kiriman dari                :-

      Dengan diagnosa             :-

      Aloanamnesa dengan          : Orang tua pasien

      Tanggal/jam                 : 31 Januari 2005/18.00 WITA

      1. Keluhan utama : Panas
2. Riwayat penyakit sekarang :

   Sejak + 3 hari sebelum masuk rumah sakit anak panas tinggi mendadak,

   panas turun bila diberi obat, dan naik lagi bila reaksi obat sudah habis.

   Panas tidak disertai menggigil, maupun kejang. Anak tidak mengeluh

   mual dan muntah, tidak ada batuk pilek serta tidak ada riwayat

   perdarahan sebelumnya. Anak juga tidak mengeluh nyeri sendi. Selama

   sakit nafsu makan anak menurun, tetapi anak mau minum, BAB dan

   BAK seperti biasa, tidak ada kelainan.

3. Riwayat penyakit dahulu :

   Anak tidak pernah masuk rumah sakit sebelumnya.

4. Riwayat kehamilan dan persalinan :

   Riwayat Antenatal     :

   Ibu rajin memeriksakan kehamilan ke bidan.

   Riwayat Natal         :

   Spontan/tidak spontan         : Spontan

   Nilai APGAR                   : Ibu tidak tahu

   Berat badan lahir             : Ibu lupa

   Panjang badan lahir           : Ibu lupa

   Lingkar kepala                : Ibu lupa

   Penolong                      : Bidan

   Tempat                        : Rumah


   Riwayat Neonatal      :

   Anak langsung menangis, kulit kemerahan, gerak aktif.
5. Riwayat perkembangan :

   Tiarap                       : 3 bulan

   Merangkak                    : Ibu lupa

   Duduk                        : Ibu lupa

   Berdiri                      : Ibu lupa

   Berjalan                     : Ibu lupa

   Saat ini                     : Anak sudah berjalan

6. Riwayat imunisasi :

        Nama                   Dasar                        Ulangan
                     (umur dalam hari/bulan)           (umur dalam bulan)
    BCG                        Ibu lupa                     Ibu lupa
    Polio                      Ibu lupa                     Ibu lupa
    Hepatitis B                Ibu lupa                     Ibu lupa
    DPT                        Ibu lupa                     Ibu lupa
    Campak                     Ibu lupa                     Ibu lupa



7. Makanan :

   Anak mendapatkan ASI sejak lahir sampai usia 1 tahun. Usia 4 bulan

   anak mendapat tambahan bubur SUN sampai usia 1 tahun. Setelah usia

   1 tahun anak mulai makan bubur saring sampai usia 1,5 tahun. Pada usia

   1,5-2 tahun anak makan nasi tim. Usia 2 tahun sampai sekarang anak

   makan nasi biasa, dengan frekuensi 3 kali sehari.
    8. Riwayat keluarga :
       Ikhtisar keturunan :




                                                       Siti Bulqis
                                                   (5 tahun 6 bulan)
       Susunan keluarga :

        No.          Nama               Umur           L/P       Keterangan
        1.    Ardiansyah                 40 th          L           Sehat
        2.    Fatmawati                  37 th          P           Sehat
        3.    Sufiannor                  19 th          L           Sehat
        4.    Rusina Hayati              18 th          P           Sehat
        5.    Abdul Hakim                15 th          L           Sehat
        6.    Siti Bulqis             5 th 6 bln        P       Sakit sekarang

    9. Riwayat sosial lingkungan :

       Anak tinggal di rumah kontrakan (rumah kayu) dengan ukuran 10 x 14

       cm bersama orang tua dan saudaranya (6 orang). Rumah memiliki 1

       kamar, dengan ventilasi dan cahaya matahari yang cukup. Untuk masak,

       mandi dan cuci menggunakan air sungai.


III. PEMERIKSAAN FISIK

    1. Keadaan umum                  : tampak sakit sedang

       Kesadaran                     : komposmentis

       GCS                           : 4-5-6

    2. Pengukuran :

       Tanda vital : Tensi           : 110/70 mmHg

                      Nadi           : 130 x/menit, kualitas cukup reguler
                  Suhu           : 39,2 oC

                  Respirasi      : 46 x/menit

   Berat badan                   : 14,5 kg       ( 77,9% standar BB/U)

   Tinggi badan                  : 105 cm        (94,1% standar PB-TB/U)

                                                 (84,8% standar BB/TB)

   Lingkar Lengan Atas (LLA) : 15 cm

   Lingkar kepala                : 51 cm

3. Kulit :   Warna               : Kemerahan

             Sianosis            : tidak ada

             Hemangiom           : tidak ada

             Turgor              : cepat kembali

             Kelembaban          : cukup

             Pucat               : tidak ada

4. Kepala : Bentuk               : mesosefali

             UUB                 : datar, sudah menutup

             UUK                 : datar, sudah menutup

   Rambut : Warna                : hitam

             Tebal/tipis         : tebal

             Jarang/tidak (distribusi) : tidak jarang

             Alopesia            : tidak ada

   Mata :    Palpebra            : tidak edema

             Alis & bulu mata : tidak mudah dicabut

             Konjungtiva         : tidak anemis
          Sklera              : tidak ikterik

          Produksi air mata : cukup

          Pupil : Diameter    : 2 mm/2 mm

                   Simetris   : isokor, normal

                   Reflek cahaya : +/+

          Kornea              : jernih

Telinga : Bentuk              : simetris

          Sekret              : tidak ada

          Serumen             : minimal

          Nyeri               : tidak ada

Hidung : Bentuk               : simetris

          Pernafasan cuping hidung : tidak ada

          Epistaksis          : tidak ada

          Sekret              : tidak ada

Mulut : Bentuk                : normal

          Bibir               : mukosa bibir basah, sianosis tidak ada

          Gusi                : - tidak mudah berdarah

                               - pembengkakan tidak ada

Lidah :   Bentuk              : normal

          Pucat/tidak         : tidak pucat

          Tremor/tidak        : tidak tremor

          Kotor/tidak         : tidak kotor

          Warna               : kemerahan
   Faring : Hiperemi            : tidak ada

              Edema             : tidak ada

              Membran/pseudomembran : (-)

   Tonsil : Warna               : kemerahan

              Pembesaran        : tidak ada

              Abses/tidak       : tidak ada

              Membran/pseudomembran : (-)

5. Leher :

   Vena Jugularis : Pulsasi     : tidak terlihat

                      Tekanan   : tidak meningkat

   Pembesaran kelenjar leher    : tidak ada

   Kaku kuduk                   : tidak ada

   Masa                         : tidak ada

   Tortikolis                   : tidak ada

6. Thorak :

   a. Dinding dada/paru :

       Inspeksi : Bentuk        : simetris

                   Retraksi     : tidak ada

                   Dispnea      : tidak ada

                   Pernafasan   : thorakal

       Palpasi   : Fremitus fokal : simetris

       Perkusi : sonor/sonor

       Auskultasi : Suara Napas Dasar : Suara napas vesikuler
                      Suara Napas Tambahan : Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

   b. Jantung :

       Inspeksi : Iktus           : tidak terlihat

       Palpasi     : Apeks        : tidak teraba

                    Thrill        : tidak ada

       Perkusi : Batas kanan : ICS IV LPS dextra

                    Batas kiri    : ICS V LMK sinistra

                    Batas atas    : ICS II LPS dextra

       Auskultasi :

                    Frekuensi     : 130 x/menit

                    Suara dasar   : S1 dan S2 tunggal

                    Bising        : tidak ada

7. Abdomen

   Inspeksi      : Bentuk         : datar

   Palpasi       : Hati           : tidak teraba

                   Lien           : tidak teraba

                   Ginjal         : tidak teraba

                   Masa           : tidak ada

   Perkusi       : Timpani/pekak : timpani

                   Asites         : tidak ada

   Auskultasi                     : bising usus (+) normal

8. Ekstremitas :

   Umum                           : akral hangat, tidak edem, tidak parese
       Neurologis
      Tanda                 Lengan                           Tungkai
                  Kanan             Kiri            Kanan             Kiri
   Gerakan          normal        normal            normal           normal
   Tonus            normal        normal            normal           normal
   Trofi                -             -                -                -
   Klonus               -             -                -                -
   Refleks        BPR           BPR             BPR              BPR
                         = +           = +            = +              = +
   Fisiologis     TPR           TPR             TPR              TPR
   Refleks        Hoffman       Hoffman         Babinsky (-),    Babinsky (-),
   patologis      Tromner (-), Tromner (-),     Chaddok (-),     Chaddok (-),
                  Leri (-),     Leri (-),       Oppenheim (-)    Oppenheim (-)
                  Meyer (-)     Meyer (-)
   Sensibilitas     normal        normal             normal           normal
   Tanda
                       -             -                   -                 -
   meningeal


   9. Susunan saraf                : Nervi Craniales I – XII normal

  10. Genetalia                    : Perempuan dan tidak ada kelainan

  11. Anus                         : Ada dan tidak ada kelainan


IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM SEDERHANA

                  31 –1-2005                 2-2- 2005
                                                                   4 –2- 2005
 Pemeriksaan      Pukul 12.42
                                 Pukul 12.49      Pukul 23.45     Pukul 10.35
 Hb                  11,7 g%       11,8 g%            9,8 g%         11,5 g%
 Hct                  33,3%         34,2%             27,8 %          32,9%
 Leukosit           3.980/mm3    12.180/mm3         9.750/mm3      7.190/mm3
 Eritrosit                                              4,53           5,37
                  5,44 juta/mm3 5,54juta/mm3
                                                     juta/mm3       juta/mm3
 Trombosit        173.000/mm3    22.000/mm3        22.000/mm3     58.000/mm3
 Neutrofil           63,8%             -                  -           23,8%
 Lymphosit           20,1%          49,7%              49,7%          61,3%
 Monosit             15,6%           8,8%               8,8%          12,2%
 Eosinofil             0%            0,4%               0,4%           0,6%
 Basofil              0,5%             -                  -            2,1%
 LED              30 mm/jam I
                                         -               -             -
                  52 mm/jam II
     PEMERIKSAAN PENUNJANG :

     -   Tes Rumple Leed (31 Januari 2005) : +

     -   Foto thoraks (2 Februari 2005)     : Right canalicular pleural effusi

                                              Cavitas (-)


V.   RESUME

     Nama             : An. SB

     Jenis kelamin    : Perempuan

     Umur             : 5 tahun 6 bulan

     Berat badan      : 14,5 kg

     Keluhan utama : Panas

     Uraian           : Panas tinggi mendadak + 3 hari, remitten, menggigil (-),

                        mengigau (-). Kejang (-), mual muntah (-), batuk pilek

                        (-), riwayat perdarahan (-). Nafsu makan berkurang,

                        minum (+), BAB dan BAK normal.

     Pemeriksaan Fisik :

     Keadaan umum : Tampak sakit sedang

     Kesadaran        : Komposmentis              GCS : 4-5-6

     Tensi            : 110/70 mm/Hg

     Denyut Nadi      : 130 kali/menit

     Pernafasan       : 42 kali/menit

     Suhu             : 39,2 oC

     Kulit            : Turgor cepat kembali, kelembaban cukup

     Kepala           : UUB dan UUK sudah menutup, datar
   Mata             : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, produksi

                       air mata cukup, palpebra tidak edem

   Telinga          : Simeris, sekret (-), serumen minimal

   Mulut            : Sianosis (-), mukosa bibir basah

   Thorak/paru      : Retraksi (-), suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing

                       (-/-)

   Jantung          : S1 dan S2 tunggal

   Abdomen          : datar, hati dan limfa tidak teraba, bising usus (+) normal

   Ekstremitas      : Akral hangat, edem dan parese tidak ada

   Susunan saraf    : Dalam batas normal

   Genitalia        : Perempuan, tidak ada kelainan

   Anus             : Ada, tidak ada kelainan


VI. DIAGNOSIS

   1. Diagnosa banding         : DHF grade I

                                Demam Chikungunya

                                Morbili

   2. Diagnosa kerja           : DHF grade I

   3. Status gizi              : Gizi baik (Standar WHO-NCHS 80%)


VII. PENATALAKSANAAN

   1. IVFD RL 15 tetes/menit

   2. Injeksi ampisilin 3 x 3500 mg iv

   3. Parasetamol syrup 3 x 1 cth
VIII. USULAN PEMERIKSAAN

     1. Isolasi virus

     2. Pemeriksaan serologis


IX. PROGNOSIS

     Quo ad vitam           : Dubia ad bonam

     Quo ad functionam      : Dubia ad bonam

     Quo ad sanationam      : Dubia ad bonam


X.   PENCEGAHAN

     1. Sanitasi dan hygiene lingkungan

     2. Memberantas sarang nyamuk

     3. Hindari gigitan nyamuk (seperti memakai kelambu saat tidur,

        menggunakan obat nyamuk)

     4. Mengisolasikan pasien yang menderita demam berdarah untuk

        sedikitnya 5 hari

     5. Tidak bepergian ke daerah epidemik DHF
XI. FOLLOW UP

Lembar Follow up tanggal 1 – 5 Februari 2005

               TANGGAL                 1        2       3        4       5
                Subyektif
- Panas                                -        -       -        -       -
- Mual                                 -        -       -        -       -
- Muntah                               -        -       -        -       -
- Lemah                                +        +       +        +       -
- Sesak                                -        +       +        <       -
- Kejang                               -        -       -        -       -
- Melena                               -        -       -        -       -
- Epistaksis                           -        -       -        -       -
- BAK                                  +        +     400 cc   500 cc    +
- BAB                                  +        -       -        -       -
              Tanda Vital
- HR (x/menit)                        100       80      88       96      90
- RR (x/menit)                         25       44      45       46      28
- T (°C)                              37,5     36,5    36,5      36     37,4
- BB (kg)                             14,5     14,5    14,5     14,5    14,5
               Obyektif
- Lidah kotor                          -        -       -        -       -
- Anemis                               -        +       -        -       -
- Pernapasan cuping hidung             -        +       +        +       -
- Retraksi                             -        -       -        +       -
               Assesment
- DHF Garade I                         +        -       -        -       -
- DHF Grade III                        -        +       +        +       -
               Planning
- IVFD RL 15 tetes/menit               +        +       +        -       -
- IVFD RL 12 tetes/menit               -        -       -        +       +
- IVFD Dextran 8 tetes/menit           -        +       -        -       -
- Tranfusi Plasma                      -        -       +        -       -
- IVFDDextran 10 tetes                 -        -       +        -       -
- Inj. Ampicilin 3 x 350 mg iv         +        +       +        +       +
- Po. Paracetamol syrup 3 x 1 ½ cth    +        +       +        +       +
- Diet nasi rendah serat               -        +       -        -       -
- O2 2 liter/menit                     -        +       +        +       -
XII. OBSERVASI

              TD         Nadi             RR       Suhu
            (mmHg)     (x/menit)       (x/menit)   (oC)
 2-2-2005    90/60     103 lemah          40       36,3     Akral dingin
   14.00
   16.00     90/60                        40               Akral hangat
   18.00    100/60   118 kuat angkat      44       36,4    Akral hangat
   20.00    100/60   100 kuat angkat      42       36,5    Akral hangat
   22.00     90/60         90             44       36,9
   24.00    100/60         88             48        37
 3-2-2005   100/60         88             44       36,8   Transfusi plasma
   02.00
   06.30    100/60         84             44       36,4
   07.30    100/60         88             45       36,4   BAK 400 cc/10
                                                          jam = 40 cc/jam
  09.00                    96             44       36,4     Akral hangat
  20.15                    88             52       35,5
                                     DISKUSI



Definisi

       Penyakit demam berdarah dengue (DHF) adalah penyakit infeksi virus

akut menular yang biasanya menyerang bayi dan anak-anak, disebabkan oleh

virus dengue, ditandai dengan gejala klinik yang khas berupa demam tinggi

mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan

dan kematian.6,7


Etiologi

       Virus dengue tergolong dalam famili Flaviviridae, termasuk ke dalam

kelompok arbovirus B. Dikenal 4 serotipe virus dengue yang tidak saling

mempunyai imunitas silang. Virus dengue serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan melalui

vektor nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan

beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan

salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe

bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe yang lain.3,5,7,8

       Virus dengue berbentuk batang, yang berukuran kecil sekali yaitu sekitar

35-45 nm, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan

natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70oC.1,9


Faktor risiko

       Faktor risiko DHF meliputi anak usia di bawah 15 tahun, status imun, jenis

serotipe virus DHF, predisposisi genetik, serta orang-orang yang tinggal di
lingkungan yang kumuh dan lembab. Seseorang yang sebelumnya pernah

terinfeksi satu atau lebih jenis virus dengue, maka mempunyai risiko tinggi

menjadi DHF jika terinfeksi kembali.5,10,11


Patogenesis dan Patofisiologi

       Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. Setelah

itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih 4 hari, dimana virus

melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh. Apabila jumlah virus sudah cukup

maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia), dan akan timbul gejala

panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh, maka tubuh akan memberi

reaksi. Reaksi yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat infeksi

berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan. Berdasarkan hal ini timbullah

yang disebut the secondary heterologous infection. Reinfeksi ini akan

menyebabkan reaksi amnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi

kompleks antigen antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi.7,9,12

       Kompleks virus-antibodi dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem

komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepaskan C3a dan C5a, dua peptida

yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai

faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya

plasma melalui endotel dinding itu. Disseminated intravascular coagulation

(DIC) disamping trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya

faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan

faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan gastrointestinal

pada DHF.7,9,12,13
        Fenomen patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan

membedakan demam dengue dengan demam berdarah dengue ialah meningginya

permeabilitas dinding kapiler karena penglepasan zat anafilatoksin, histamin dan

serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan

intravaskuler. Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma, terjadinya

hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.7,12,13


Manifestasi Klinis

        Manifestasi        klinis   infeksi   virus   dengue   bervariasi,   mulai   dari

asimptomatik, penyakit paling ringan, demam dengue, demam berdarah dengue,

sampai dengan sindrom syok dengue. Masa inkubasi dengue antara 3-14 hari,

rata-rata 4-6 hari. 8,10

        Gejala klinis yang ditunjukkan antara lain : 1,6,10,11,13,14,15

1. Demam

    Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi

    (dapat mencapai 39-40oC) dan dapat disertai dengan menggigil. Demam ini

    hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali

    dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak,

    dimana anak tampak lemah.

2. Nyeri seluruh tubuh

    Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri

    punggung dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila

    digerakkan.
3. Ruam

    Ruam dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing yaitu berupa

    kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada; yang disebabkan oleh kongesti

    pembuluh darah di bawah kulit. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit,

    berupa bercak-bercak merah kecil.

4. Perdarahan

    Gejala perdarahan pada pasien DHF mulai tampak pada hari ke-3 sampai ke-4

    berupa petekie, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan epistaksis. Jika

    tidak mendapat pengobatan segera, maka pembuluh darah akan menjadi

    kolaps, dan menyebabkan syok, disebut dengan dengue syok sindrom (DSS).

    Sindrom ini sering fatal.

5. Gejala lain yang dapat ditemukan antara lain : kelainan yang mungkin terjadi

    pada sistem retikuloendotelial, seperti pembesaran kelenjar getah bening, hati

    dan limpa; lidah sering kotor dan kadang-kadang pasien sukar buang air besar,

    mual, muntah, batuk ringan.

        Pada penderita DHF yang disertai renjatan, setelah demam berlangsung

selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk. Hal ini

biasanya terjadi pada saat atau setelah demam menurun yaitu di antara hari ke-3

dan ke-7 sakit.7,9

        Pada sebagian besar penderita ditemukan tanda kegagalan peredaran

darah, kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut dan nadi menjadi

cepat dan lembut. Penderita kelihatan lesu, gelisah dan secara cepat masuk dalam

fase kritis renjatan. Penderita seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat
sebelum renjatan timbul. Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang

dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah.7,9,12


Klasifkasi Klinis

        WHO (1975) membagi derajat penyakit DHF dalam 4 derajat, yaitu

sebagai berikut :7,9,12

-   Derajat I (ringan) : Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinis yang

                           tidak khas, dengan manifestasi perdarahan teringan,

                           yaitu uji Tourniquet positif.

-   Derajat II (sedang) : Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau

                           perdarahan lain.

-   Derajat III           : Ditemukannya      tanda-tanda   dini    renjatan   berupa

                           kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan

                           nadi menurun (kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi

                           disertai kulit yang dingin, lembab dan penderita menjadi

                           gelisah.

-   Derajat IV            : Ditemukan DSS dengan nadi yang tidak dapat diraba dan

                           tekanan darah yang tidak dapat diukur.


Diagnosis

        Berdasarkan pedoman WHO (1997) diagnosis kerja DHF dapat ditegakkan

bila ditemukan 2 gejala klinik disertai salah satu hasil laboratorium (terutama

kenaikan hematokrit) dibawah ini.3,7,9,12
Klinis :

    1. Demam tinggi yang bersifat akut dan terus-menerus selama 2-7 hari.

    2. Adanya manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji torniquet

           positif dan salah satu bentuk lain (petekia, purpura, ekimosis, epistaksis,

           dan perdarahan gusi), hematemesis dan atau melena.

    3. Pembesaran hati

    4. Renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi

           menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun

           (tekanan sistol menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang

           teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki,

           penderita menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.

Laboratorium :

    1. Trombositopenia (< 100.000/ul).

    2. Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20% diatas nilai rata-rata hematokrit

           penduduk menurut umur dan kelamin).

           Dalam pengamatan klinik tidak semua kriteria WHO tersebut dipenuhi.

Hemokonsentrasi baru dapat dinilai setelah pemeriksaan serial hematokrit,

sehingga pada saat penderita datang pertama kali belum dapat ditentukan ada

tidaknya hemokonsentrasi.12


Diagnosis Banding

           Pada awal penyakit, diagnosis banding mencakup demam typhoid,

morbili, influenza, hepatitis, demam chikungunya, leptospirosis, dan malaria.

Adanya trombositopenia yang jelas disertai hemokonsentrasi membedakan DHF
dari penyakit lain. Diagnosis banding lain adalah sepsis, meningitis meningokok,

ITP, leukemia, dan anemia aplastik.3,13


Prognosis

        Kematian oleh demam dengue hampir tidak ada, sebaliknya pada

DHF/DSS mortalitasnya cukup tinggi. Secara umum keberhasilan penanganan

syok bergantung pada beratnya penyakit, lamanya syok berlangsung, fungsi organ

vital sebelumnya, dan reversibilitas.15


Komplikasi 15

-   Manifestasi neurologis seperti kejang, ensefalitis atau encephalopathy,

    neuropathies, sindrom Guillain-Barr, dan transverse myelitis.

-   Kerusakan hati berupa hipoperfusi hati

-   Overhidrasi


Penatalaksanaan

        Penatalaksanaan DHF tanpa penyuit antara lain :3,7,9,16

1. Tirah baring

2. Makanan lunak. Bila belum ada nafsu makan dianjurkan minum banyak 1,5-2

    liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula atau sirop) atau air tawar ditambah

    dengan garam saja.

3. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberikan

    kompres es di kepala, ketiak, dan inguinal. Antipiretik sebaiknya dari

    golongan asetaminofen, eukinin, atau dipiron.

4. Antibiotik diberikan bila terdapat kekawatiran infeksi sekunder.
       Penatalaksanaan untuk DHF dengan renjatan antara lain :3,7,9,16

1. Bila terdapat tanda-tanda dini renjatan, infus harus dipersiapkan dan terpasang

   pada pasien. Observasi meliputi pemeriksaan tiap jam terhadap keadaan

   umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan; serta Hb dan hematokrit

   setiap 4-6 jam pada hari pertama pengamatan, selanjutnya tiap 24 jam.

2. Terapi untuk DSS bertujuan utama untuk mengembalikan volume cairan

   intravaskuler ke tingkat normal. Jenis cairan yang dapat diberikan dapat

   berupa NaCl faali, laktat Ringer atau bila terdapat renjatan yang berat dapat

   dipakai plasma.

3. Pada awal terapi diberikan RL secara diguyur, bila perlu dengan semprit

   dimasukkan secara paksa 100-200 ml dilanjutkan dengan 20 ml/kgBB dengan

   tetesan cepat 10 ml/kgBB/jam. Pada syok berat yang tidak memberikan

   respon, diberikan plasma atau ekspander plasma 20-30 ml/kgBB dengan

   tetesan 10-20 ml/kgBB/jam. Bila syok teratasi, kecepatan tetesan dikurangi

   menjadi 10 ml/kgBB/jam. Nilai hematokrit penting untuk pedoman pemberian

   cairan (1,3,8).

       Dalam masa penyembuhan, cairan dari ruang ekstravaskuler akan

direabsorbsi kembali ke dalam ruang vaskuler, dalam keadaan ini hendaknya

pemberian cairan dilakukan secara berhati-hati. Penting sekali untuk diketahui

bahwa menurunnya nilai hemoglobin dan hematokrit pada masa ini tidak diartikan

sebagai tanda terjadinya perdarahan gastrointestinal. Evaluasi klinis, nadi

(amplitudo dan frekuensi), tekanan darah, pernapasan, suhu dan pengeluaran urin

dilakukan lebih sering.7
        Indikasi pemberian transfusi darah ialah pada penderita dengan

perdarahan gastrointestinal hebat (hematemesis dan melena), dan pada penderita

DSS yang pada pemeriksaan berkala menunjukkan penurunan kadar Hb dan

Hematokrit.7


PEMBAHASAN

        Pada kasus ini, seorang anak umur 5 tahun 6 bulan dirawat pada tanggal

31 Januari 2005 dengan keluhan panas yang bersifat akut dan terus menerus

selama 3 hari. Pada pemeriksaan anak tampak sakit sedang, kompos mentis, suhu

tubuh 39,2oC, dan nadinya 130 kali/menit, serta didapatkan uji tornikuet positif.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan nilai hematokrit 33,3%, dan nilai laju

endap darah yang memanjang; dimana ini menunjukkan adanya hemokonsentrasi,

dan gangguan perdarahan. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, serta

pemeriksaan penunjang tersebut, maka anak didiagnosa DHF derajat I, yaitu DHF

derajat ringan dimana terdapat gejala demam yang merupakan gejala awal karena

viremia, disertai gejala yang tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan

ialah uji tornikuet positif.

        Diagnosa banding pada kasus ini yang paling mendekati adalah demam

chikungunya dan morbili. Diagnosa banding demam chikungunya dapat

disingkirkan dengan melihat anamnesa pasien yaitu anak tidak mengeluhkan

adanya nyeri sendi. Berdasarkan pemeriksaan fisik tidak ada injeksi konjungtiva

serta kurang lebih pada hari ke 5, anak syok yang ditandai dengan akral dingin,

tekanan darah turun anak lemah nadi cepat dan lemah. Sedangkan pada demam

chikungunya, sering ditemukan injeksi konjungtiva, nyeri pada sendi serta tidak
ditemukan renjatan.(12) Sedangkan diagnosa banding untuk morbili dapat

disingkirkan karena pada morbili tidak terjadi renjatan.

       Dalam perjalanan penyakit DHF, syok merupakan kejadian yang

terpenting karena menimbulkan akibat yang luas dan fatal. Terjadinya syok

merupakan manifestasi mekanisme kompensasi tubuh terhadap kemungkinan

terjadinya gagal sirkulasi. Mekanisme yang mendasari terjadinya syok tersebut

adalah peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga terjadi hipovolemik

dengan curah jantung yang turun.12

       Syok biasanya terjadi pada saat demam atau setelah demam menurun yaitu

antara hari ke-3 dan ke-7 sakit. Pada kasus ini anak jatuh pada keadaan syok pada

hari ke-5 anak sakit (tanggal 2 Februari 2005). Pada pemeriksaan fisik ditemukan

keadaan umum anak memburuk, anak tampak lemah, nadi cepat dan lemah,

tekanan darah menurun disertai akral yang teraba dingin.

       Berdasarkan pada tanda-tanda tersebut maka anak di diagnosa DHF derajat

III. Diagnosa tersebut didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorium dan

radiologis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya trombositopeni

(25.000/mm3) dan hematokrit yang meningkat (34,2%). Trombositopeni

disebabkan karena meningkatnya destruksi trombosit akibat meningkatnya

megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit.

Meningkatnya hematokrit pada pasien dengan renjatan menimbulkan dugaan

bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler

melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma

dan meningginya nilai hematokrit.12
       Pada pemeriksaan foto thotax didapatkan adanya efusi pleura yang

mendukung diagnosa DHF. Efusi pleura disebabkan oleh meningginya

permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin, dan

serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan

intraseluler, sehingga plasma merembes selama perjalanan penyakitnya, dan

mencapai puncaknya saat renjatan, yaitu terjadinya bendungan cairan di rongga

pleura menyebabkan efusi pleura. Pada kasus ini efusi pleura menyebabkan

terjadinya gangguan pernapasan pada anak, yang ditandai dengan adanya

pernapasan cuping hidung dan pernapasan dada yang tidak simetris.

       Penatalaksanaan DHF bersifat suportif simptomatik dengan tujuan

memperbaiki sirkulasi dan mencegah timbulnya DIC dan renjatan. Pada kasus ini,

sebelum terjadinya renjatan, penatalaksanaan pada pasien ini adalah tirah baring,

diet lunak, pemberian parasetamol sebagai antipiretik, dan antibiotik ampisilin

untuk mencegah infeksi sekunder.

       Pada saat terjadinya renjatan, dilakukan observasi terhadap keadaan umum

setiap jam, dilakukan pemasangan respirator untuk memperbaiki hipokseminya,

karena dasar patofisiologi syok adalah terjadinya hipoperfusi. Pada saat syok

diberikan infus 2 jalur berupa cairan RL 10 tetes/menit dan Dextran 8

tetes/menit.Serta pemberian tranfusi plasma 10 ml/kgbb/jam. Setelah keadaan

tanda vital penderita baik, dilanjutkan dengan pemberian cairan maintenance 15

tetes/menit. Cairan awal terapi dipilih RL yang merupakan cairan kristaloid

bersifat isotonik dan efektif meningkatkan isi intravaskuler dan didistribusikan ke

dalam kompartemen ekstraseluler. Cairan koloid, seperti dextran berfungsi
sebagai pompa intravaskuler, karena mempunyai tekanan osmotik yang tinggi dan

tetap berada dalam intravaskuler untuk waktu yang lama. Pada kasus ini syok

belum teratasi dengan RL, sehingga pasien diberi plasma. Prinsip pemberian

cairan tersebut adalah untuk mengembalikan volume cairan intravaskular ke

tingkat yang normal.

       Mengigat bahwa kebocoran plasma dapat berlangsung 24-48 jam, maka

pemberian cairan intravena dipertahankan walaupun tanda-tanda vital telah

menunjukkan perbaikan. Karena hematokrit merupakan indeks yang dapat

dipercaya dalam menentukan kebocoran plasma, maka pemeriksaan hematokrit

perlu dilakukan secara periodik. Kecepatan pemberian cairan selanjutnya

disesuaikan dengan gejala klinis vital dan nilai hematokrit. Pemasukan cairan

setiap hari dihitung. Keseimbangan cairan dikoreksi. Dijaga agar jumlah urin

tidak kurang dari 1 ml/kgBB/jam.

       Pasien dapat dipulangkan apabila : tidak demam selama 24 jam tanpa

antipiretik, nafsu makan baik, tampak perbaikan secara klinis, tiga hari setelah

syok teratasai, hematokrit stabil, jumlah trombosit >50.000/mmk, dan tidak

dijumpai distress pernapasan.16 Pada kasus ini pasien dipulangkan pada hari ke-6

perawatan di rumah sakit karena telah memenuhi kriteria tersebut di atas.

       Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam karena pasien berobat

lebih cepat, sehingga diagnosis lebih cepat ditegakkan dan pengobatan dilakukan

dengan tepat.
                                   PENUTUP


       Telah dilaporkan sebuah kasus demam berdarah dengue pada seorang

anak perempuan berusia 5 tahun 6 bulan dengan berat badan 14,5 kg dan tinggi

105 cm yang dirawat di Ruang Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Diagnosis demam

berdarah dengue berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan

penunjang. Anak pulang atas ijin dokter setelah 5 hari dirawat.
                           DAFTAR PUSTAKA



1. Darmowandowo W. Demam Berdarah Dengue, (online) (http://www.
   Pediatrik.com/ilmiah_popular/demam_berdarah.htm, diakses 11 Februari
   2005).

2. Pinheiro F dan Corber S. Global Situation og Dengue and Dengue
   Hemorraghic Fever, and Its Emergence in The Americas. (online)
   (http://www.who.int/emc/diseases/ebola/denguearticle.pdf, diakses
   20 Februari 2005)

3. Shepherd S. Dengue Fever 2002. (online) (http://www.emedicine.com/
   med/topic528.htm, diakses 20 Februari 2005)

4. Anonim. Dengue/dengue haemorrhagic fever. (online) (http://www.who.
   int/csr/disease/dengue/en/, diakses 20 Februari 2005)

5. Gubler D and Clark, G. Dengue/Dengue Hemorraghic Fever : The Emergence
   of a Global Health Problem. (online) (http://www.emergency.com/
   dnguefv.htm, diakses 20 Februari 2005)

6. Anonim. Dengue Hemorrhagic Fever. (online) (http://ww.doh.gov.ph/dvisory/
   denguer.htm, diakses 20 Februari 2005)

7. Hasan R, Alatas H,ed. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta : Bagian
   Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1997.

8. Sudradjat, SB. Demam Berdarah Dengue (DBD). (online) (http://www.
   geocities. com/mitra_sejati_2000/dbd.html, diakses 20 Februari 2005).

9. Hendarwanto. Dengue. Dalam :Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta : Balai
   Penerbit FKUI, 1998.

10. Anonim. Dengue. (online) (http://www.astdhpphe.org/infect/dengue.html,
    diakses 20 Februari 2005)

11. Anonim. Demam Berdarah dan Penularannya. (online) (http://www.ppmplp.
    depkes.go.id/detil.asp?m=4&s=3&i=24, diakses 20 Februari 2005).

12. Sumarmo, Sunaryo, Poorwo, Soedarmo. Demam Berdarah (Dengue) pada
    Anak. Jakarta : UI-Press, 1988

13. Isnar H. Dengue 2003. (online) (http://www.emedicine.com/ped/topic559.htm
    diakses 20 Februari 2005).
14. Shah I. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. (online)
    (http://www.pediatriconcall.com/fordoctor/DiseasesandCondition/dengue.asp,
    diakses 20 Februari 2005).

15. Levy D. Dengue Hemorrhagic Fever. (online) (http://www.nlm.nih.gov/
    medlineplus/ency/article/001373.htm, diakses 20 Februari 2005).

16. Mansjoe A, Triyanti, Savitri R, Warhani WI, Setiowulan W, ed. Demam
    Berdarah Dengue. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran jilid 1. Jakarta : Media
    Auesculapius, FKUI, 2000.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:940
posted:7/6/2011
language:Indonesian
pages:31